Liebster Challenge

liebsterawardlogo

First of all, because it seems that any blogger who accepts Liebster Challenge always puts the magic words “I don’t know”. So this is also my confession, or a pattern I should follow in responding this challenge: I don’t know “babar blast” about this Liebster thing. Since I got this challenge from my good friend and not from anonymous person who asks me for a date or a business plan :p  therefore it’s my honor to accept it.  🙂

The one who gave me this challenge was Mas Galih / Brother Maximillian / Ukhti Aisyah Baraja. Thanks Mate for getting me involved into this! :-&

Here’s the rule of the game ( I copy this from his / her blog ):

  1. Acknowledge and accept the Liebster Award by leaving a comment on the blog, that nominated you.
  2. Copy and paste the Liebster logo onto your blog.
  3. Link back to the blogger who nominated you.
  4. Answer the 11 questions put to you by the person who nominated you.
  5. List 11 random facts about yourself.
  6. Nominate and link to 3—11 other blogs you enjoy that have less than 3000 followers.
  7. List 11 questions for your Liebster Award nominees on your blog.
  8. Inform your nominees by leaving a comment on their blog.

The questions given and my answers are these:

  1. Bruce Wayne the Batman, or Tony Stark the Iron Man?
    • I choose Bruce Wayne the Batman. Batman is cool. Iron Man? Yaik, you can’t stand the smell of his chest right? The battery thing ….
  2. Believe the non existence of God or the God doesn’t care mankind’s belief?
    • I believe the existence of God and I do believe that God cares mankind’s belief that’s why God sent the prophets. This is what I believe.  O:)
  3. Joining the crowd of religious non spiritualist, or alone as spiritualist unreligious?
    • Again, I modify the options given from the question. My answer is: I love to join the crowd of religious spiritualists.
  4. Being nice as common sense moral standard, or behaving nice as adaptive behavior? ( human interaction)
    • For this question, the two options given are acceptable.
  5. Espresso with sugar or Cappu[c]cino no sugar?
    • Tho I am a coffee lover, the options given are not reflecting my faves. But if I have to choose between two kind of coffee I love; Kapal Api Special or Coffee Latte both with sugar, I choose Kapal Api Special with sugar. It tastes better than Coffee Latte.
  6. Human genocide by mass poisoning or nuclear bombing?
    • It’s a hard question. I don’t like killing. I don’t like unnecessary killing. Tho I do believe that in some cases war and capital punishment are necessary. Genocide? I don’t like the question so I won’t answer it. :p
  7. Land Rover Defender or Jeep Wrangler?
    • Both are okay. But to be honest, I really love small cars from Mercedes-Benz.
  8. Christina Hendricks or Gwynet[h] Paltrow?
    • Well, …
  9. German Shepherd canine or Thoroughbred horse?
    • German Shepherds are okay, any kind of horse is lovely. Both, I should say.
  10. Reducing earth human population or finding another livable planet?
    • I shall say finding another planet to live is better to try than reducing  the population of human on earth as some lunatics have always wanted.
  11. Dan Brown’s or Nassem Nicholas Taleb’s?
    • It’s gotta to be Dan Brown’s. He writes about new perspectives (or facts) on the history of religion and does not talk about randomness and probability.

Here are 11 random facts about myself:

  1. I love Allah. I love Muhammad pbuh. I love my mom and dad. I love my family. I love people.
  2. Bad things in the past. I was a heavy smoker. I used to smoke Dji Sam Soe, Djarum 76, or Gudang Garam Surya. Trying to stop smoking was not easy. I managed to quit smoking totally 3 years ago. I used to drink beers; used to. I also used to gamble pretty much: domino kiu-kiu and PES.
  3. I have a hyperhidrosis. It’s a medical condition where one cannot control his body temperature and has hyperactive sweat glands.
  4. I love science and history of mankind.
  5. I love gaming on consoles. I really cheer the golden era of NES. The born of NES changed the history of mankind, I believe so. And so did the introduction of PlayStation with its Winning Eleven – Pro Evolution Soccer Series.
  6. My favorite food are Mie Ayam (Javanese-style Chicken Noodle; Street Food), Mie Bangka, Mie Goreng Jawa, Mie Godok Demak, Indomie Goreng, Nasi Bungkus HIK (Solo-Jogja-Klaten-Karanganyar-Sukoharjo-Boyolali-Sragen-Wonogiri), Bakso Arema Malang, Batagor, Nasi Goreng Pedas, Tongseng, Soto Solo, Soto Koya, Soto Surabaya, Tunuman (Garang Asem-like; Demak’s style), Nasi Brongkos (Sukorejo, Weleri, Kendal), Botok Solo, Garang Asem Solo-Jogja, Timlo Solo.
  7. My favorite drinks besides Kapal Api Special are Javanese Tea, Malaysian Teh Tarik, and warm milk with no sugar added.
  8. I am not really fond of Durian, Pete (Parkia Speciosa; Bitter Bean), Prawn, and Jengkol (Dogfruit) although I can eat Pete in Nasi Goreng , Tunuman, or Botok and really love prawn when it is deep fried or in Gimbal Semarang, Rempeyek Udang, Botok, Tunuman, and Garang Asem.
  9. I love Javanese massage and Javanese Kerokan (or Javanese-style Gua Sha). I can do kerokan also, d’ya wanna try?
  10. I love petrichor, the smell of soil after rain.
  11. I love Indonesia.

Next, I have to choose 3- 11 blogger with less than 3000 followers. I would love to pick blogs by Rusdi Mathari, Tarli Nugroho, Zen RS, and Juman Rofarif.

  1. Rusdi’s blog is awesome. I love the way he writes. He also has a good sense of humor. Some people try to be funny in their writings but most of them fail. Rusdi’s tone in his writing is mature yet sometimes funny that I love reading every piece from him. Let’s not forget that Rusdi can write almost anything and about everything.
  2. A blog from Tarli Nugroho, Melanjutkan Indonesia, is also worth a visit. Tarli writes about Indonesian culture, economy, history, and politics.
  3. Zen RS writes mostly about social phenomena. I like some of his writings although I don’t always agree with his point of view. :p
  4. Juman’s blog is contemplating. Juman writes about Islam and moslem. Kinda like it. He gives me different perspective yet enriching about Islam.

Here are the 11 questions need to be answered by the nominees:

  1. Tan Malaka, Soekarno, Syahrir, Hatta, or Soeharto?
  2. How do you find Indomie Goreng, too spicy or too salty?
  3. How do you feel about circumcision, an inevitable-must or a must-for-pleasure?
  4. Blogging or walking?
  5. From these movies, Fight Club, Life is Beautiful, Harry Potter, The Lord of the Ring, Ju-On, and Ada Apa dengan Cinta, which one is the best?
  6. Zainuddin MZ, Aa Gym, or Felix Siauw?
  7. Mandela, Gandhi, Dalai Lama, Malcolm-X, or Martin Luther King Jr.?
  8. Koes Plus, Ebiet G. Ade, or Bimbo?
  9. Has nothin’ to do whether you are (were) smoker or not, which one you prefer, smoker or non-smoker?
  10. Dine In (Have Here, Ngiras) or Take Away (Mbungkus)?
  11. Have breakfast or brunch?

Be waiting for your answers, Mate!

Hoax, Para Monyet, dan Wartawan

Berikut adalah tulisan Rusdi Mathari yang terbit di blog miliknya Rusdi Goblog – Karena Jurnalistik Bukan Monopoli Wartawan pada tanggal 12 Februari 2014. Rusdi adalah seorang wartawan yang tinggal di Jakarta. Penerbitan ulang pada blog ini dengan disertai komentar pada endnotes [dan sedikit adaptasi] telah mendapat ijin darinya.

____________________________________________________

Rusdi Mathari Hoax Para Monyet dan WartawanSeorang wartawan[1] menjuluki mereka yang suka menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya sebagai the clicking monkeys, tapi celakanya para wartawan sering menjadi kumpulan monyet semacam itu. Mereka menulis apa saja yang dipungut dari sumber apa saja dan tidak jelas. Sebagian menulis tanpa malu dengan tak mencantumkan asal-usul sumbernya.

Teringatlah kita pada The Hoax. The Hoax adalah nama sebuah judul film drama yang dibuat 2005. Film itu berkisah tentang kisah hidup Clifford Michael Irving, reporter investigasi yang cukup terkenal di Amerika Serikat. Dia juga menulis beberapa buku. Antara lain biografi Howard Hughes, salah satu orang kaya di Amerika.

Buku itulah yang kemudian diangkat ke layar lebar meski belakangan diketahui, banyak yang ditulis oleh Irving di bukunya dihilangkan atau diubah dan tidak muncul di The Hoax.  Irving kesal dan menganggap film itu penuh kebohongan. Dia kemudian meminta agar namanya tidak dimunculkan di kredit film. The Hoax sejak itu menjadi terkenal. Bukan karena menarik untuk ditonton melainkan karena menjadi istilah baru untuk menyebut suatu kebohongan.

Sejak semalam media di Indonesia ramai memberitakan kabar tentang PM Singapura Lee Hsien Loong yang memutuskan untuk tidak berteman dengan Presiden SBY di Facebook. Lee dikabarkan juga menghilangkan tag foto SBY di album foto di Facebook-nya. Berita yang dikutip dari newnation.sg, media Singapura itu, mulanya hanya dikutip oleh satu media lalu seperti biasanya, media di sini beramai-ramai mengekor karena takut dianggap ketinggalan isu.

Sayangnya, berita itu adalah berita yang tak jelas kebenarannya. Tak ada verifikasi dari wartawan yang mengutip: apakah akun Lee di Facebook adalah benar miliknya, begitu juga dengan akun SBY. Kompas.com yang juga menyebarkan berita itu, pagi ini meralatnya dan menyebut akun SBY di Facebook yang dimaksud adalah halaman para pendukung [fanpage]. Artinya bukan akun pribadi SBY.

Berita semacam itu akan tetapi telanjur direspons publik kelas menengah ngehek di media sosial dengan berbagai reaksi di tengah [konon] memanasnya isu hubungan Singapura-Indonesia. Mereka yang mendaku melek informasi dan teknologi itu, rupanya lebih suka membaca judul berita dan tak merasa perlu untuk bercapek-capek mengecek kebenarannya; lalu menyebarkannya di media sosial agar dianggap paling awal tahu tentang sebuah informasi.

Beberapa hari sebelum isu soal Lee, SBY dan Facebook-nya itu, juga muncul berita berjudul “USA Takut Gempur NKRI. Ini Alasannya” di theglobal-review.com. Tulisan itu memuat pernyataan tiga jenderal di sebuah acara dialog yang kabarnya disiarkan oleh TV ABC 13 Texas tentang kekuatan militer Indonesia. Tulisan dari theglobal-review.com kemudian diunggah ke Facebook dan Twitter dengan berbagai komentar. Saya ikut membacanya, tapi tidak percaya dengan isi tulisan karena beberapa alasan jurnalistik.

Pertama, karena sejak awal tulisan tidak disebutkan kapan peristiwa dialog di TV ABC 13 Texas berlangsung. Kedua, theglobal-review.com tidak mencantumkan sumber tulisannya. Ketiga, saya sudah berusaha mencari tahu dengan mengakses situs TV ABC 13 Texas, tapi belum menemukan acara yang dimaksud oleh tulisan itu.

Saya ingat, sebelum muncul di theglobal-review.com, saya pernah membaca tulisan itu  di salah satu akun Facebook seorang teman. Teman itu meneruskan tulisan yang muncul di halaman pendukung Power of Islamosphere, dan saya kira wartawan theglobal-review.com memungut apa adanya [copy paste] dari sana dan tanpa malu tidak mencantumkan sumber aslinya. Mereka tampaknya bukan saja malas tapi juga tak beretika.

Desember 2011, pernah juga muncul berita tentang ulama yang melarang perempuan makan pisang karena katanya dikuatirkan akan membuat mereka terangsang secara seksual. Berita yang kali pertama dimuat oleh Bikya Masr, sebuah media online dari Mesir itu dilahap oleh Tempo.co yang dicomot dari Daily Mirror, koran gosip dari London; dan berdasarkan berita yang ditulis oleh Tempo.co itu, pengguna media sosial kemudian menjadikannya bahan olok-olok.

Saya tidak tertarik dengan berita itu, hingga Made Tony Supriatma men-tag saya di Facebook tentang kebohongan berita perempuan dilarang memakan pisang itu. Dia awalnya hanya mendengar dari radio di Amerika yang mengundang Rush Limbaugh, konservatif republikan dalam sebuah talkshow. Di acara itulah, Limbaugh mengoceh tentang seorang ulama yang melarang kaum perempuan menyentuh buah pisang sembari dengan girang membuat ejekan-ejekan.

Sambil mengesankan berita itu benar, Limbaugh menyebutkan sumber beritanya berasal dari Bikya Masr. Berita itu lalu disiarkan oleh FoxNews, jaringan TV berita terbesar di Amerika yang dimiliki oleh konglomerat media Rupert Murdoch, yang dikenal konservatif dan sangat bias.

Made mencoba mencari tahu kebenaran berita itu, dan dia sampai pada kesimpulan: sumber berita tentang pisang itu tidak jelas sama sekali. Celakanya, berita itu telanjur disebarkanluaskan-ulang oleh media-media konservatif [menurut Made memang sangat anti terhadap Islam] untuk memajukan agenda anti-Islam mereka, kendati Bikya Masr belakangan mengakui keteledoran mereka.

Di Facebook, Made yang tinggal di Amerika mengkritik dan menyayangkan media sekelas Tempo tidak melakukan kontrol jurnalistik yang ketat dan lebih tertarik pada gosip.  “… berita ini adalah slander terhadap Islam dan umat Islam. Untuk saya, persoalannya menjadi mendesak karena media Indonesia sendiri memuatnya. Sangat tidak sehat untuk jurnalisme dan untuk hubungan sosial di Indonesia.” Begitulah kata Made dan tidak lupa dia menyertakan tautan tulisan di addictinginfo.org[2] yang membantah kebohongan berita  yang disebarkan oleh FoxNews.[3][4]

November tahun lalu menyusul isu “Jilbab Hitam” yang antara lain mempersoalkan kelakuan wartawan Tempo, Daru Priyambodo, Pemimpin Redaksi Tempo.co menulis artikel menarik berjudul “The Clicking Monkeys.” Menurut [teman] Daru: the clicking monkeys adalah julukan untuk orang yang dengan riang gembira mengklik telepon selulernya untuk menyebarluaskan hoax ke sana-kemari, me-retweet, atau mem-posting ulang di media sosial. Mereka seperti kumpulan monyet riuh saling melempar buah busuk di hutan. Agar tidak ketahuan lugu, biasanya mereka menambahkan kata seperti: “Apa iya benar info ini?” atau “Saya hanya retweet lhoo.”

Saya sepakat dengan Daru, tapi di sini, mereka yang disebut sebagai the clicking monkeys celakanya justru banyak berasal dari kalangan wartawan.[5] Mereka itulah wartawan pemalas, yang atas nama roda industri pemberitaan dan kebebasan pers, memungut informasi apa saja tanpa perlu mengukurnya dengan standar dan etika jurnalistik lalu mengemasnya menjadi berita dan menyebarkannya tanpa malu.

Maka tidak perlu heran, bila orang seperti Benedict Anderson, profesor di Universitas Cornell yang menulis banyak buku tentang Indonesia pun, mengaku frustasi membaca media-media terbitan Indonesia; dan keprihatinannya itu tentulah bukan hoax.

========================================

Endnotes

[1] Yang dimaksud oleh Rusdi Mathari di sini adalah teman dari Daru Priyambodo. Di dalam tulisan di kolom tempo.co dengan judul “The Clicking Monkeys”, Daru bercerita bahwa ia memiliki teman yang menjuluki para penyebar berita hoax yang lugu dengan sebutan clicking monkey.

Di dalam tulisannya, Daru berbicara mengenai hoax yang tersebar lewat media sosial lewat para monyet yang secara lugu meng-klikbagi-kan berita yang secara sepintas sahih namun sebenarnya berisi info palsu dan kadang malah membahayakan banyak orang.

[2] Jika tertarik mengenai hoax-hoax yang pernah berseliweran di media massa (koran dan majalah) resmi dan media sosial maka silakan kunjungi juga situs hoaxes.org atau hoax-slayer.com.

[3] Publikasi atau penciptaan hoax juga merambah tidak hanya lewat media massa aras utama namun juga terjadi pada Wikipedia dan film-film Hollywood.

Saya masih ingat bahwa salah satu teman dari teman saya pernah menautbagikan sebuah artikel hoax dari Wikipedia dengan judul “ABC Orbais”. Di dalam artikel yang agitatif, provokatif, dan nirreferensi ini dikisahkan mengenai segala tindak politis salah satu kubu di parlemen di Indonesia mengusung agenda terselubung mengembalikan kekuasaan Orde Baru. Ironisnya, ia masih saja bersikeras mengenai keakuratan dan kevalidan artikel hoax itu ketika saya tegur. Ia nampaknya berkeyakinan bahwa Wikipedia tidak mungkin mengandung hoax karena Wikipedia sudah punya ‘nama besar’. Teman saya lupa bahwa Wikipedia hingga kini memang mempunyai masalah di dalam kesahihan artikelnya sebagaimana Tom Simonite mengulasnya secara apik. Wikipedia adalah ensiklopedia terbuka yang mengandalkan ‘voluntary labor’ dari crowded and leaderless contributors sehingga malah menjadikannya rawan artikel yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Simonite menyebut artikel seperti itu sebagai bentuk vandalisme. Inilah sebab mengapa tulisan ilmiah atau akademik mengharamkan pemakaian Wikipedia sebagai referensi.

Dan tentang artikel itu ada kejadian lucu. Selepas pada tanggal 4 Oktober 2014 tulisan “ABC Orbais” ditendang keluar dari Wikipedia, pada tanggal 5 Oktober 2014 tulisan yang sama muncul di blog gratisan WordPress.

Kisah mengenai bagaimana Wikipedia bisa juga menjadi ajang penyebar hoax dapat juga dibaca dalam artikel tentang ‘Bicholim Conflict’ yang bertahan nangkring di Wikipedia selama lima tahun sebelum akhirnya terketahui sebagai hoax.

Film bisa juga menyebarkan narasi yang tidak pas dan kadang memutarbalikkan fakta dari apa yang sebenarnya terjadi. Film telah lazim menjadi semacam alat propaganda; penyebar hoax. Tulisan mengenai bagaimana film menjadi alat penyebar kebohongan (hoax) dapat misalnya dibaca pada tulisan Lynda M. Martin yang menyorot putar balik fakta tragedi kemanusiaan di Somalia dalam film Black Hawk Down, artikel Shibli Zaman yang menyingkap bagaimana kisah pembunuhan Dracula digambarkan dengan sangat menyesatkan di dalam film Dracula Untold, dan bagaimana film Zero Dark Thirty yang bercerita mengenai kisah pembunuhan Osama bin Laden oleh anggota Navy Seal Team 6 yang dimulakan oleh artikel ‘suangat’ panjang hasil wawancara seorang wartawan dengan The Shooter (pseudonim) dalam majalah Esquire dan lalu dilengkapi dengan sumber-sumber lain ternyata mengalami masalah konsistensi sebagaimana disingkap oleh Rupert Cornwell dalam independent.co.uk.

[4] Menarik juga bagaimana berita hoax sangat sering terjadi bahkan di Amerika Serikat. Berita-berita hoax ini kerap sengaja dibuat oleh media massa resmi dengan tujuan memuluskan manuver atau kebijakan politis sebagaimana dibahas oleh Charles C. W. Cooke di dalam artikel yang berjudul “Lying about School Shootings”.

[tambahan 21 Juli 2015]

Begitu juga mengenai agenda politik dan stigma mengenai kebijakan penanganan virus Ebola di sebuah surat kabar besar di Amerika Serikat sebagaimana dikuak oleh dua orang akademisi yang concern terhadap isu-isu stigmatisasi dalam artikel berjudul “The Long and Ugly Tradition of Treating Africa as a Dirty, Diseased Place.”.

[5] Fenomena wartawan yang [sengaja?] tidak jeli di dalam mewartakan sesuatu misalnya dapat dilihat pada tulisan Tarli Nugroho yang berjudul “Menunggu Penjelasan ‘Koran Tempo’” yang mempertanyakan bagaimana Koran Tempo dan lalu diterbit ulang di tempo.co telah dengan ‘ceroboh’ memberitakan ‘pengakuan salah satu anggota Tim Mawar’ sehingga menampilkan betapa tidak elegannya rekam jejak salah satu kandidat dalam Pilpres 2014 (bdk. Rusdi Mathari, “Obor Rakyat, Kuasi Berita dan Bintang Porno”).

Tulisan lain yang menyorot bagaimana Tribun News dan Kompas.com telah membuat pemberitaan mengenai tes keperawanan bagi siswi SMA di Prabumulih menjadi ganjil dan malah membuat sensasi yang tidak pas dengan kenyataan dapat disimak dari situs melekmedia.org dengan judul “Di balik Pemberitaan Wacana Tes Keperawanan”.

Masih mengenai bagaimana wartawan tidak pas di dalam memberitakan sesuatu, dapat misalnya disimak bagaimana Beasiswa LPDP dibuat tampak ‘kemaruk’ oleh sebuah tulisan wartawan The Jakarta Post dapat diikuti lewat tulisan Dipa Nugraha yang berjudul “Saga di dalam Polemik LPDP”. Begitu juga misalnya bagaimana surat kabar yang sama memberitakan berita yang serampangan mengenai latihan kapal perang China sebagaimana dibongkar oleh Rory Medcalf di the interpreter dengan artikel berjudul “China’s naval exercise: …”.

Menarik juga bagaimana Rusdi Mathari juga membongkar mitos, atau hoax, tentang salah satu kandidat dalam Pilpres 2014 yang dulu diberitakan berasal dari keluarga miskin dan bahkan pernah digusur rumahnya sebanyak empat kali sebagaimana tempo.co mengutipnya dari Luhut Binsar Panjaitan.

Rusdi Mathari lewat tulisan dengan judul “Solo dan Manusia yang Berubah” menunjukkan bahwa ada sisi-sisi yang tidak tepat dari reportase tentang Jokowi dalam tempo.co itu. Tentu saja Rusdi mengemasnya dengan telusuran yang memadai dan objektif tentang bagaimana Jokowi telah merubah Solo serta sisipan mengenai kisah [seorang?] manusia yang telah berubah.

Contoh lain mengenai berita ngawur dari media massa “besar” daring contohnya juga diulas dalam sebuah artikel oleh Adie Sachs dengan judul “Berita Palsu Tempo Jadi HL Kompasiana, PDIP Tidak Klaim”.

[tambahan 21 Juli 2015]

Contoh lain dari bagaimana media massa bisa sangat terlibat di dalam propaganda ketika konflik terjadi misalnya dapat dibaca pada analisis Victor Mambor mengenai opini rasis terhadap masyarakat asli Papua di dalam artikel berjudul “Media Massa, Rasisme Struktural, dan Legitimasi Kekerasan di Papua” serta ulasan IndonesianHoaxes mengenai ISIS yang doyan makan manusia di dalam tulisan yang berjudul “ISIS Bunuh Sandera Lalu Sajikan Dagingnya untuk Sang Ibu!”.

Demokrasi, Kebudayaan, dan Sikap Otonom: Surat Kepada Kawan

Tulisan ini adalah karya Tarli Nugroho, Peneliti di Mubyarto Institute Yogyakarta. Pertama terbit di blog milik Tarli Nugroho, Melanjutkan Indonesia pada tanggal 30 April 2014. Publikasi ulang dalam blog ini telah mendapat ijin darinya.

_____________________________________________

Diambil dari 'Melanjutkan Indonesia' 30 April 2014, Tarli Nugroho

Kawan, masalah kita dengan demokrasi, bukanlah soal asli atau asing, tradisional atau modern, apalagi Timur atau Barat, sebagaimana yang sering kau risaukan. Kita tahu, kubisme Picasso mengambil inspirasi dari seni lukis tradisional Afrika, puisi Sutardji mencuri mantera Melayu, dan bunyi parikan Sunda kuat mewarnai syair-syair Hartojo Andangdjaja. Apakah kubisme menjadi palsu hanya karena ia memindai bentuk seni yang sudah menjadi tradisi sebuah suku di Afrika sejak masa yang lebih silam?! Mana yang asli menurutmu, mantera Melayu atau permainan bunyi puisi Sutardji?! Mana yang tradisional dan modern, bunyi parikan atau syair Hartojo?!

Sejauh yang berkaitan dengan penciptaan, menurut saya, pertanyaan mengenai asal-usul memang tak lagi relevan. Sebuah penciptaan hanya harus berhadapan dengan pertanyaan mengenai otonomi: sejauh mana si pengarang, atau si perupa, atau si pemikir, mampu bersikap otonom dalam proses kreatifnya. Sebab tanpa otonomi tidak akan pernah lahir kreativitas. Kreativitas inilah yang membuat “tiruan” tak lagi sama dengan “aslinya”; dan sekaligus menjadi ukuran apakah “sang tiruan” layak disebut sebagai “asli yang lain”. Kubisme, melalui otonomi-kreatif Picasso, sama aslinya dengan bentuk seni rupa yang ditirunya. Sehingga, lagi-lagi (seperti biasa) meminjam Borges, setiap pengutip Shakespeare, dalam batas tertentu, adalah Shakespeare (yang lain). Bahkan, Berger, dalam Capitalist Revolution (1986), dengan yakin menyebut bahwa kapitalisme di Asia Timur bukanlah merupakan “perluasan” kapitalisme Barat, karena keduanya melibatkan kebudayaan yang berbeda yang masing-masing berkembang secara otonom.

Dan seperti halnya Berger, Thurow dalam beberapa bukunya yang mengkaji berbagai corak kapitalisme (misalnya Head to Head: The Coming Economic Battle among Japan, Europe, and America; dan Zero-Sum Society), akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa masing-masing bentuk kapitalisme yang ada, yang diwakili oleh model Amerika, Eropa (Jerman), dan Jepang, tadi tidak lagi merupakan satu bangunan yang sama, melainkan telah menjadi perkampungan otonom yang berbeda.

Ini juga yang membuat kenapa komunisme Cina tidak rontok seperti halnya komunisme Soviet. Karena keduanya tak lagi sama. Di Cina, komunisme berhasil “didomestifikasi” dengan tradisi agraris dan filsafat konfusian. Di sini kita menyaksikan bahwa gagasan baru bisa diserap dari manapun, tapi pada akhirnya dia harus tumbuh dengan cara seturut otonomi kebudayaan yang mengadaftasinya. Bukan kebetulan jika Soedjatmoko, yang pernah berucap bahwa ide punya kaki, dalam sebuah tulisannya mendudukkan otonomi (dimana Koko menyebutnya sebagai “mempertahankan identitas”) sebagai “kebutuhan asasi kebudayaan”. Otonomi bertanggung jawab untuk menjauhkan penciptaan dari keterdominasian, sebuah kondisi yang hanya akan menciptakan pengikut yang sekadar membebek, atau–jika tidak–paling jauh hanya akan menghasilkan mimikri yang kenes.

Pertanyaannya kemudian, apakah pilihan kita atas demokrasi-liberal (istilah ini harus ditekankan, karena pengertian demokrasi tidaklah tunggal) lahir dari sikap otonom? Saya selalu yakin jika jawabannya adalah tidak. Bahkan, jika kita membaca lagi tulisan asli yang menimbulkan percekcokan kita ini, pertanyaan yang bermaksud untuk menggugat keabsahan demokrasi pun masih saja mengandaikan adanya sebuah “model”.

2.Diambil dari 'Melanjutkan Indonesia' 30 April 2014, Tarli Nugroho

Oleh karena itu, saya tidak terkejut, misalnya, ketika dalam sebuah pentas wicara di televisi beberapa tahun lalu, Jeffrie Geovanie, menyebut bahwa sebaiknya kita tidak usah separo-separo meniru demokrasi Amerika. Baginya, demokrasi liberal itu seperti software, ia bisa di-install di komputer manapun, entah itu buatan IBM, Dell, atau komputer jangkrik rakitan glodok. Bagi Jeffrie, bangun tata negara dan tata sosial hanyalah soal peniruan dan pemilihan model belaka. Apa yang disampaikan Jeffrie paling tidak memberi kita dua referensi. Pertama, itu adalah ucapan paling sembrono dari seseorang yang diposisikan sebagai kaum terpelajar. Dan kedua, ucapan itu membuktikan kalau praktik tata negara kita saat ini memang sekadar mencangkok, alias adopteren, yaitu peniruan bulat-bulat dari praktik dan pengalaman negara lain. (Kosakata Belanda membedakan ‘adopteren‘ dengan ‘adapteren‘, dimana yang terakhir bermakna meniru dengan melakukan perubahan, sehingga produk akhirnya bisa dianggap baru sama sekali)

Tentu saja kita bisa dan boleh mengambil inspirasi dari kemajuan praktik demokrasi di Amerika, atau di negara lain manapun. Tapi, jangan lupa, tujuan yang sama tidak selalu bisa dikerjakan dengan jalan yang sama di ruang dan waktu yang belainan. Persis di sini sikap otonom dan kreativitas dibutuhkan, atau apa yang disebut seorang kawan kita sebagai “peran inovatif yg kontekstual dari aktor yg menciptanya”.

Bukan tujuan dari tanggapan ini untuk menggugat keabsahan “norma demokrasi” ataupun mendukungnya, kawan. Kegelisahan mengenai praktik demokrasi, dengan sampel prosesi pemilu yang lalu, terlalu jauh untuk dihubungkan secara langsung sebagai cacat dari “norma demokrasi” yang diandaikan menjadi hulunya. Bagaimanapun, demokrasi adalah sebuah proyek untuk menciptakan tatanan sosial dimana, setidaknya menurut Plato, kewarasan bisa menjinakkan naluri kebinatangan manusia, dan bukan sebaliknya. Jika inti demokrasi adalah gagasan mengenai tatanan yang dibangun oleh kewarasan, maka kebrengsekan pemilu lalu, alih-alih menunjukkan kegagalan demokrasi, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai “penyimpangan demokrasi dengan membajak bendera demokrasi”.

Kenapa disebut penyimpangan demokrasi? Karena pesta pemungutan suara itu dikerjakan tidak dalam kerangka menghadirkan order, tatanan. Ia hanyalah pesta para kawanan (herd) yang sepenuhnya anarkis. Bahkan anarki sepertinya merupakan istilah yang lebih tepat (daripada demokrasi) untuk menggambarkan praktik statecraft kita itu; atau, lebih tepatnya lagi: “anarki dengan pemungutan suara”. Ketika kita gagal menjawab dengan tegas pertanyaan mengenai apakah sistem pemerintahan kita berkelamin presidensial atau parlementer, atau semi-presidensil (jika konsep ini diterima), persis di situ gagasan mengenai tatanan telah absen, dan kita patut meragukan jika yang sedang dipraktikkan adalah demokrasi.

Jika kita membaca perundang-undangan politik pasca-Reformasi, misalnya, termasuk amandemen empat kali atas UUD ’45, kita tidak akan menemukan gagasan mengenai apa yang disebut dengan struktur, bangun, tatanan, order, dalam seluruh produk perundangan itu. Sehingga bisa dikatakan, desain politik kita adalah desain-tanpa-desain (bahkan cenderung anti-desain). Ia sepenuhnya merayakan anarki, persis seperti yang dipertontonkan oleh seluruh proses pemilu sejauh ini. Banyak orang latah menyebutnya demokrasi, padahal yang sesungguhnya terjadi adalah media-krasi dan korporatokrasi, dimana yang berdaulat adalah segerombolan “Mafia Ohio” (hampir semua pentolan lembaga konsultan politik dan lembaga survei politik adalah alumni Ohio State University) yang bersekongkol dengan kaum pengusaha.

Lantas apa selanjutnya, membatalkan demokrasi?! Gagasan itu, bahkan dengan menyadari bahwa sebagai sebuah modus berpolitik demokrasi juga tidak lepas dari kekurangan, tetap saja terlalu prematur. Bukankah kita tidak perlu mengganti lemari pakaian di rumah hanya karena baju kita bau?!

Sampai di sini, pertanyaan kita mestinya adalah bagaimana menghadirkan kembali tatanan dalam praktik politik kita. Ada perlunya kita merenungkan kembali konsep “Ratu-Adil” yang populer di masyarakat Jawa. Hanya saja, jika kita masih membayangkan “Ratu-Adil” sebagai persona, dan bukan gagasan mengenai sistem, pertanyaan itu sepertinya tidak akan terjawab. Di sinilah repotnya. Kita kadung menganggap “Ratu-Adil” adalah mitos dalam pengertian yang inferior. Padahal, persis di sana, ketika mitos tetap dimaknai sebagai mitos, kita telah jatuh sebagai si tertakluk (dari rasionalisme Eropa) yang kehilangan otonomi untuk melakukan reinterpretasi-imajinatif atas warisan kebudayaan ibu kita sendiri. Ketiadaan sikap otonom dan imajinatif itulah yang telah membuat kita kehilangan khazanah warisan sendiri, dan kehilangan itu pada akhirnya membuat kita harus mengemis ke Barat dan ke Timur-Tengah untuk mencari jawab atas persoalan-persoalan yang kita hadapi.

Jadi, masalah kita bukanlah demokrasi, kawan. Masalah kita adalah otonomi. Kita bukan individu dan bangsa yang otonom lagi. Kita tidak lagi menciptakan pilihan, melainkan hanya sekadar memilih apa yang telah diciptakan orang lain; sekadar menjadi resipien, dan bukannya produsen. Demokrasi tanpa sikap otonom hanya akan menghasilkan dunia yang tunggang-langgang.

Tabik.