ISIS, Etika Berkewarganegaraan, dan Pancasila

Terima kasih kepada harian Joglosemar yang menerbitkan tulisan saya pada edisi 14 Agustus 2014 halaman 8.

Versi daringnya dapat diakses lewat tautan ini.

Tulisan yang terbit di dalam blog ini merupakan bentuk rekuperasi dari tulisan yang sudah terbit di harian Joglosemar tersebut.

Dipa Nugraha - Pancasila

_____________________________________________

Ketika di masa sekarang isu mengenai ISIS sedang merebak dan ada semacam kegamangan mendudukkan isu dukungan terhadap ISIS di dalam konteks berkewarganegaraan, perlulah kita mengingat kembali fragmen sejarah pembentukan negara kita ini. Berbicara mengenai mengingat kembali sejarah maka istilah ciptaan Soekarno di dalam pidato pembelaan dirinya menjelang kejatuhan kekuasaannya, Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), patut untuk dijadikan titik mula penyadaran. Mengingat kembali sejarah adalah penting karena dengan demikian kita akan memahami segala sesuatu dengan lebih arif.

Achmad Soekarno dan juga Muhammad Yamin pada awal pendirian negara Indonesia sudah memberi dasar yang bagus bagi rechtsideologie Indonesia. Rechtsideologie ini kita kenal sekarang dengan sebutan Pancasila. Meskipun kebanyakan orang mengaitkan Pancasila hanya dengan satu nama saja yaitu Soekarno, sejatinya kelahiran Pancasila layak diatribusikan kepada dua orang tokoh kemerdekaan kita. Mereka adalah Soekarno dan Yamin. Benar bahwa Soekarno yang kemudian menyatakan di dalam pidatonya mengenai lima dasar yang dipakai sebagai Pancasila namun Yamin-lah yang mengusulkan kepada Soekarno untuk menamainya lima dasar yang hendak diajukannya sebagai Pancasila dan bukan Pancadharma. Tidak hanya itu. Konsistensi konsep lima dasar yang diajukan Yamin-lah yang lebih menyerupai lima sila Pancasila yang menjadi dasar negara kita sekarang dan bukan seperti apa yang awalnya digaungkan oleh Soekarno.

Ideologi negara ini merupakan dasar dalam kita berkehidupan berbangsa dan bernegara, sebuah beginsel. Pancasila adalah juga beginsel atau dasar bernegara bagi nilai-nilai dan kompromi yang disepakati bersama pada awal pendirian negara kita. Kompromi ini bukan hanya dipertimbangkan dalam konteks kemajemukan suku dan agama saja namun juga ide-ide lain yang muncul mengenai dasar pendirian negara yang kala itu sedang hangat mengemuka di antara tokoh-tokoh pendiri negara Indonesia. Pancasila muncul di kala polemik mengenai dasar negara menyeruak di antara bapak pendiri bangsa kita. Para pendiri bangsa kita sadar bahwa kemajemukan yang luar biasa dimiliki oleh bangsa Indonesia menjadi sesuatu yang tidak boleh dinafikan. Dibutuhkan sesuatu yang mengikat bersama dalam suatu kesatuan: sebuah perjanjian.

Lalu di manakah mendudukkan sejarah pencetusan dasar pendirian negara kita dengan isu mengenai ISIS? Benar bahwa bagi mereka yang beragama Islam dan atau tertarik dengan “salah satu” ide bernegara di dalam Islam maka proklamasi berdirinya ISIS menjadi euforia tersendiri selepas tumbangnya kekhalifahan Turki di tahun 1924. Negara Islam ISIS atau Islamic State in Iraq and al-Sham didirikan 29 Juni 2014 dengan klaim wilayah dari Diyala di sebelah Timur Irak hingga Aleppo di sebelah utara Syiria. Negara baru ini menyatakan diri sebagai negara kekhalifahan dengan pemimpin negaranya bernama Abu Bakar al-Baghdadi.

Akan tetapi sebelum serampangan dan gegabah memberi dukungan pada ISIS akan lebih arif kiranya jikalau kita menyandingkan fragmen sejarah Indonesia mengenai perumusan Pancasila dan bagaimana ISIS dimaklumatkan. ISIS berdiri dalam kondisi carut marutnya negara Irak dan Suriah. Irak selepas ditinggal secara gradual oleh Amerika Serikat memang mengalami perpecahan yang tidak terhindarkan antara Sunni, Syiah, dan separatisme Kurdi. Dalam pada itu, Suriah –negara yang berbatasan langsung dengan Irak– juga sedang mengalami peperangan antara pasukan rezim Bashar Assaad dengan para pemberontak. Kondisi negara Irak yang carut marut dan penuh konflik serta digabung dari semangat tinggi para pejuang yang berontak terhadap rezim keji Asaad di Suriah dapat melahirkan ekstremisme dan radikalisme; bentuk lain dari idealisme yang terlalu menggebu-gebu. Mungkin ini yang terjadi pada kemunculan ISIS di Irak dan sebagian Suriah.

Mehdi Hasan, seorang kolumnis dan debater mengenai isu Islam dan Islamophobia di Inggris, mewanti-wanti agar semua orang -dan bukan hanya orang Islam- untuk berpikir jernih di dalam merespon fenomena ISIS dan ide pembangkitan kembali negara kekhalifahan.

Mehdi Hasan (2014) menampilkan empat isu yang menarik. Pertama Mehdi Hasan menyoroti mengenai argumen akan ada atau tidaknya sandaran yang jelas mengenai urgensi berdirinya negara Islam. Penerapan hukum Islam di dalam sebuah negara berbeda dengan ‘adanya negara Islam’. Mehdi Hasan berpendapat secara personal bahwa definisi mengenai negara Islam sendiri tidaklah ditemukan persamaan pendapat yang menjadi aras utama di antara para ulama.

Bahkan Mehdi Hasan menunjukkan bagian dari sejarah kekhalifahan pada abad kesepuluh dan kesebelas. Saat itu dunia Islam terbagi menjadi tiga kekhalifahan yaitu kekhalifahan Abbasiyah (Sunni), Umayyah (Sunni), dan Fatimiyah (Syiah). Ketiga kekhalifahan ini saling berseteru sehingga pertanyaan lantas diajukan mengenai model kekhalifahan model manakah yang pas disebut sebagai bentuk sejati negara kekhalifahan.

Selanjutnya Mehdi Hasan berargumen bahwa penerapan hukum Islam dan atau kehidupan Islami di dalam suatu negara tidaklah harus membutuhkan negara Islam. Ia memberikan contoh bagaimana di Inggris, meskipun Islamophobia mulai mewabah, praktik keberagamaan yang Islami mendapat tempat dan syariah memiliki kans diakomodasi di dalam undang-undang.

Hal ketiga yang diajukan Mehdi Hasan adalah resistensi di dalam internal kaum Muslim mengenai konsep mengenai negara Islam yang semodel ISIS. Hal terakhir yang diungkapkan oleh Mehdi Hasan mengenai ISIS adalah kekalisan di dalam internal kaum Muslim mengenai politisasi Islam lewat cara kekerasan. Cara kekerasan di dalam pembentukan negara Islam di era modern ini telah menunjukkan kegagalan sebagaimana ia merujuk kepada kisah Afghanistan, Mesir, dan Iran. Negara Islam yang muncul dari kekerasan seperti ini memang berhasil berdiri namun selepas senjata diletakkan, problem yang lebih serius muncul. Tidaklah mudah memadukan perbedaan-perbedaan yang ada mengenai tafsiran bagaimana negara Islam yang baru berdiri untuk diatur. Negara Islam yang berdiri lewat jalur kekerasan malah kemudian berpotensi memunculkan opresi sekte atau mahzab mayoritas kepada mereka yang minoritas.

Kombatan ISIS (Credit: motherjones.com)

Kombatan ISIS
(Credit: motherjones.com)

Lebih lanjut Mehdi Hasan menampilkan realita lain mengenai isu negara kekhalifahan. Keterputusan sejarah antara muslim yang hidup di abad 21 dengan negara kekhalifahan terakhir menjadikan ide mengenai kekhalifahan hanya matang di teori dan (cenderung) gagal di praktik. Muslim tidak (atau belum) memiliki “rujukan yang padu” mengenai ide kekhalifahan dan bagaimana menerapkannya di masa sekarang sebagaimana umbar Mehdi Hasan. ISIS yang menyatakan diri sebagai bentuk bangun ulang kekhalifahan ditentang oleh aras utama ulama Muslim. Lihat misalnya nasehat Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badr delusi kekhalifahan yang ditawarkan ISIS serta bagaimana Majelis Ulama Indonesia memfatwakan penentangannya.

Layak pula catatan ditambahkan dari apa yang diutarakan Mehdi Hasan bahwa ISIS membunuh muslim yang berbeda mahzab, membunuh mereka yang berbeda agama, serta membuat kaum Nasrani di Irak terpaksa meninggalkan kampung halaman. ISIS menebar teror dan bukan kasih sayang serta tidak merujuk kepada sejarah bahwa panutan utama umat Muslim, Muhammad saw., dahulu pernah menuliskan sebuah surat mengenai perlindungan beragama dan berkehidupan normal kepada kaum Nasrani sebagaimana surat ini masih tersimpan di museum Topkapi Istanbul. Ada yang salah dengan apa yang dilakukan oleh ISIS. Mereka nampaknya melupakan sejarah.

Berbicara mengenai Indonesia, tidak berlebihan pula kiranya jika kita menukil pemikiran yang diungkapkan Tariq Ramadan (2014) di dalam sebuah acara gelar wicara. Cucu dari Hassan al Banna pendiri Persaudaraan Muslim ini menyatakan bahwa di dalam etika kehidupan berkewarganegaraan diperlukan pemahaman akan dua hal. Dua hal tersebut adalah hak dan kewajiban sebagai warga negara dan yang kedua adalah rasa memiliki; semacam tahu diri di mana ia berkewarganegaraan. Tahu diri bagi Tariq Ramadan melibatkan patuh hukum, bersedia menggunakan bahasa yang resmi dipakai, dan setia kepada negara. Tahu diri ini tentu saja membutuhkan pemahaman mengenai sejarah negara tempat ia berkewarganegaraan.

Tariq Ramadan (Credit: frontpagemag.com)

Tariq Ramadan (Credit: frontpagemag.com)

Hal lain yang juga menarik dari perbincangan dengan Tariq Ramadan adalah ketika berbicara tentang bentuk negara. Ini menarik untuk dimasukkan ke dalam tulisan ini karena selain isu ISIS, ide sekulerisme di Indonesia sekarang ini mulai kembali merebak di ranah publik. Khusus tentang ide sekulerisasi negara, Tariq Ramadan mengatakan agar setiap orang tidak berpikiran bahwa bentuk negara sekuler sebagai sesuatu yang selalu ideal.

Tariq Ramadan memberi penjelasan bahwa negara sekuler di dalam praktiknya bisa menjadi berbentuk sekuler otoritarian. Ia menyebut bahwa beberapa negara sekuler seperti China, Rusia, dan Perancis menjadikan sekulerisme menjadi serupa agama dogmatis baru yang justru menggencet mereka yang hendak mempraktikkan ajaran agamanya.

Fenomena ISIS, lepas dari khayalan serta euforia semu yang muncul, justru memiliki hikmah bagi kita di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lewat fenomena ISIS-lah kita –baik Muslim maupun yang bukan Muslim– di Indonesia lantas layak untuk menengok kembali sejarah bagaimana kisah Madinah dan bagaimana lahirnya Pancasila. Lalu kita akan menjadi lebih arif di dalam melihat fenomena ISIS. Kita dapat menakar secara lebih pas pada apa yang (telah) kita punya lewat mengingat kembali sejarah bernegaranya kita. Pada titik pemahaman seperti inilah, kita mungkin terngiang-ngiang wasiat Soekarno mengenai Jas Merah.

Tidakkah bisa misalnya kita merujukkan kepada “salah satu ide” bernegara di dalam sejarah Islam ketika Muhammad saw. membuat semacam beginsel antara kaum Muhajirin, Ansar, [Nasrani,*]Yahudi lewat Piagam Madinah. Bahwa kemudian beliau saw. kemudian kembali ke Mekah sebagai pemenang kemudian mewariskan “bentuk lain dari kehidupan bernegara” yang kemudian diteruskan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan seterusnya adalah progresi dari sejarah Islam tidaklah kemudian menjadikan ide bernegara melupakan atau menilapkan adanya periode Madinah.

Kita tidak butuh negara serupa ISIS [yang dibangun dengan kekejian]** sebagaimana kita tidak butuh sekulerisasi di dalam kehidupan bernegara. Kita memiliki pengikat di dalam kemajemukan kita dan ia bernama Pancasila. Ketika Tariq Ramadan memimpikan sebuah negara yang memberikan ruang bagi setiap pemeluk agama untuk mempraktikkan ajaran agamanya secara bebas tanpa adanya diskriminasi –sebuah Piagam Madinah, atau Millet System*** di kekhalifahan Turki- maka mungkin kita dapat melihatnya telah ada di dalam Pancasila.

Marilah tidak melupakan sejarah. Para pendiri negara kita mengerti benar mengenai kemajemukan bangsa Indonesia. Oleh sebab itulah mereka berpikir keras mengenai sebuah dasar yang kokoh –sebuah perjanjian untuk hidup bersama- bagi kemajemukan kita sehingga muncullah Pancasila. Ya, Pancasila adalah beginsel bagi keindonesiaan kita. Jadi lupakanlah delusi yang ditawarkan oleh ISIS dan jadilah warga negara Indonesia yang tahu etika berkewarganegaraan. Wallahu’alam.

___________________________________________

Postscript:

* Versi cetak dan daring tulisan ini di harian Joglosemar mengenai pemasukan kaum Nasrani di dalam konteks Piagam Madinah yang kemudian terketahui sebagai kurang tepat maka saya adakan rekuperasi lewat terbitan di blog ini.

Di dalam Madinah saat itu fokus perjanjian adalah kaum muslim Muhajirin maupun Anshar dengan suku-suku Yahudi maka di dalam versi rekuperasi ini saya tambahkan mengenai surat Rasulullah saw. mengenai perlindungan kepada kaum Nasrani.

** Perlu dijadikan catatan tambahan yang penting bahwa tema tulisan ini bukan mengenai ‘delusi kekhalifahan’ namun ‘delusi yang ditawarkan ISIS’. Walapun demikian, di dalam perang narasi dan pemelintiran fakta sebagaimana gegap sekali terjadi di era sekarang ini maka ada baiknya juga membandingkan argumen dan bantahan terhadap kekejaman ISIS yang digaungkan oleh media massa aras utama.

Ada dua situs pro-ISIS yang saya temukan dan silakan dibandingkan dengan narasi aras utama. Link situs tersebut adalah ini dan ini. Tidak luput pula ketika membandingkan dengan pertanyaan dasar mengenai kemungkinan lain dari berbagai macam purbasangka mengenai ISIS dengan menelisiknya lewat tulisan Yvonne Ridley yang berjudul “Who is behind ISIS?” serta kemudian hasil wawancara Yvonne Ridley dengan Komandan Brigade Ahrar Al-Sham, Shaikh Hassan Abboud sebelum beliau meninggal dalam artikel berjudul “Exclusive: Shaikh Hassan Abboud’s final interview”.

*** Mengenai Millet System bisa dibaca pada tulisan Bekir Aksoy yang berjudul “The Status of Dhimmis in The Ottoman Empire” yang terbit pada The Fountain Magazine, Issue 40 / October – December 2002. Sebagai tambahan pemerluas referensi mengenai Millet System yang merujuk pada aturan mengenai Dhimmi di dalam Islam, dapat dibaca makalah yang ditulis oleh Bazzam Zawadi yang berjudul “The Status of Non-Muslims in the Islamic State”.

________________________________

Pada saat Pancasila bermetamorfosis menjadi ‘ideologi’ maka bisa muncul Pancasilais-pancasilais yang fanatik. Selubung ‘bisa melingkupi semua’ dalam keadaan tertentu bisa memanifestasi di dalam bentuk penyeragaman dan saat penyeragaman diberlakukan maka kadang bisa muncul radikalisme dan kekerasan. Di sinilah muncul paradoks dari memayungi perbedaan yang ada berubah menjadi sesuatu yang rigid dan resisten terhadap perbedaan.

Selanjutnya perspektif atas Pancasila dalam konteks berkenegaraan Indonesia bisa sangat luas sekali: apakah sebagai ideologi dan lalu sebagai way of life atau weltanschauung (worldview), apakah hanya sebagai rechtideologie dan beginsel (sebuah ‘pengikat’ berkenegaraan) yang tidak boleh diselisihi ataukah ia temporer saja, apakah hanya sebagai sebuah idee berkenegaraan yang dinamis bentuk dan atau penafsirannya, atau apakah statis (disakralkan) dan seterusnya dan seterusnya.

Tulisan ini mengalami rekuperasi dan berkembang berkat diskusi saya dengan Noor Huda Ismail (pemerhati isu-isu Islam dan Terorisme) pada jumpa kami di Melbourne, Ustad Muhammad Edwards (peminat isu-isu Islam, Kekerasan, dan Permainan Narasi di Media Massa), dan Pak Haji Bambang Widi Pratolo (peminat isu-isu Islam dan Pendidikan).

Creative Commons License
ISIS, Etika Berkewarganegaraan, dan Pancasila by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Angka

Walter Sparrow menjalani kehidupan delusional. Bisa jadi beberapa dari kita juga terperangkap pada situasi yang sama. Di dalam film The Number 23[i], Sparrow yang diperankan oleh Jim Carrey percaya bahwa novel yang dibelikan istrinya sebagai hadiah ulang tahunnya mengisahkan dan menujumkan tentang kisah hidupnya. Ia, pelan namun pasti, mulai menemukan hal-hal yang berada di sekelilingnya memiliki unsur angka 23.

Bisa jadi kita juga mengalami keadaan yang mirip, menjalani keyakinan yang senada, dan hidup dengan fantasi yang serupa. Misalnya saat kita mendapat angka 13. Kita mulai meracau dan bergolak di dalam benak bahwa kita bakal mengalami nasib yang sial. Mitos tentang angka 13 sebagai angka sial tak lepas dari mitos yang terbangun sejak 1700 SM dari tidak disebutnya angka 13 di dalam Codex Hammurabi kemudian dikokohkan dengan mitos yang timbul dari kisah tragis dari Perjamuan Terakhir: Yesus (p.b.u.h) dan 12 muridnya[ii],[iii][iv].

Lebih lanjut mengenai kisah angka 13 adalah pengkhususan kepada Jumat tanggal 13 sebagaimana budaya Barat memakunya sebagai hari sial. Jumat tanggal 13 dianggap sebagai hari sial dapat dirunut pada sejarah kekristenan. Pada hari Jumat tanggal 13 bulan Oktober 1307, raja Philip IV dari Perancis yang bermufakat dengan Paus Clement V mengeluarkan perintah penahanan Knights Templar – Para Ksatria Pelindung Yerusalem. Tuduhan yang dijatuhkan kepada ratusan anggota Knights Templar adalah bermacam-macam mulai dari bidah, sodomi, hingga penyalahgunaan kewenangan[v]. Ratusan anggota Knights Templar ini disiksa dan juga sebagian mati dibakar hidup-hidup[vi].

Fobia terhadap angka 13 berlanjut hingga sekarang. Seiring dengan diseminasi hegemoni budaya Barat lewat globalisasi, mitos tentang sial angka 13 ini menyebar ke seluruh dunia. Beberapa gedung di segala penjuru dunia tidak memiliki lantai 13 karena angka ini dianggap membawa sial[vii]. Meskipun demikian, di beberapa negara nampaknya ada pengecualian mengenai sial angka 13 juga Jumat tanggal 13.

Di Indonesia seluruh ‘paket elemen budaya’ Jumat tanggal 13 tidak seluruhnya diserap. Tidak terserapnya seluruh paket ‘keyakinan’ ini mungkin dikarenakan Indonesia sudah memiliki ‘takhayul’ sendiri mengenai hari yaitu (malam) Jumat Kliwon[viii]. Di China, mitos angka 13 tidak laku. China memiliki mitos tentang angka 4 sebagai angka sial. Di dalam budaya China, uniknya angka 13 justru menjadi angka aman. Walau demikian, terdapat fenomena serupa mengenai bangunan beringkat dan mitos angka sial sebagaimana terjadi di Barat. Beberapa gedung tinggi di China tidak memiliki lantai 4 dengan alasan yang sama: mitos mendatangkan sial[ix].

Kisah mengenai fobia terhadap angka 13 dan juga Jumat tanggal 13 di budaya Barat telah menjadi sebuah studi yang serius. Donald Dossey, ahli fobia terkenal, bahkan membuat kajian di Amerika Serikat mengenai paraskevidekatriaphobia atau friggatriskaidekaphobia. Dua istilah yang membuat malas ketik ulang ini adalah fobia yang berkenaan dengan ketakutan terhadap Jumat tanggal 13. Paraskevi adalah bahasa Yunani untuk Jumat sedangkan frigga adalah sebutan bagi dewa yang merujuk pada penamaan Friday (Jumat) dan dekatria atau triskaideka adalah angka 13.

Berdasar studi Dossey, ditemukan banyak sekali orang Amerika Serikat yang memiliki fobia terhadap Jumat tanggal 13. Angkanya sungguh mencengangkan. Di jaman modern ini masih terdapat 21 juta orang Amerika Serikat yang percaya takhayul sial di hari Jumat tanggal 13. ‘Kepercayaan’ ini bahkan sampai pada kondisi ekstreme. Berdasar temuan Dossey, banyak di antara warga Amerika Serikat membolos bekerja, tidak berani keluar membeli makanan, dan seterusnya dan seterusnya jika bertemu dengan Jumat tanggal 13[x],[xi].

Studi serius tentang takhayul Jumat tanggal 13 di dalam masyarakat modern tidak hanya dilakukan di Amerikat Serikat. Fenomena fobia Jumat tanggal 13 membuat empat orang praktisi-akademisi di bidang Public Health di UK mengadakan penelitian. Hasil penelitian mereka lalu diterbitkan di dalam British Medical Journal. Scanlon dan ketiga rekannya meneliti apakah ‘keyakinan’ mengenai Jumat tanggal 13 memiliki dampak buruk bagi kesehatan dan perilaku masyarakat UK. Paper mereka ini mereka beri judul “Is Friday the 13th bad for your health?[xii]. Rekomendasi dari temuan mereka adalah sungguh menarik, atau mungkin lucu, atau mungkin keduanya: pada hari Jumat tanggal 13 disarankan bagi warga UK untuk tetap tinggal di rumah.

Perkara angka memang bisa membuat runyam. Bukan hanya membuat orang menjadi irasional, angka juga bisa membuat kisruh di dalam urusan klaim-mengklaim. Mungkin ada keyakinan semu bahwa angka bersifat netral atau objektif. Atau dalam kasus serupa yang lain, angka dapat dipakai untuk menjustifikasi keberterimaan mayoritas di dalam sebuah klaim: angka yang terbanyak adalah yang benar.

Bicara mengenai klaim dengan angka maka tidak salah apabila kita menengok buku tulisan Darrell Huff, How to Lie with Statistics[xiii]. Di dalam bukunya ini, Huff seolah-olah menandaskan bagaimana klaim kebenaran lewat angka statistik adalah sebuah permainan distorsi realitas yang bisa berbahaya. Huff tidaklah tidak menulis buku itu tanpa argumen yang sahih sebab kemudian buku itu mendapatkan kesepadanan dengan tulisan Mark Twain yang ia nisbahkan kepada ucapan Perdana Menteri Inggris Benjamin Disraeli. Twain meriwayatkan bahwa ia kerap galau jika berhadapan dengan angka-angka. Twain kemudian mengutip ucapan Disraeli mengenai adanya tiga macam kebohongan: kebohongan [kecil], kebohongan sialan [besar], dan statistik [angka][xiv].

Kasus manipulasi angka yang kontroversial adalah kisah otak-atik angka hitung statistik di dalam The China Study. The China Study adalah hasil riset T. Colin Campbell di China mengenai imbas negatif konsumsi produk ternak (susu, daging) bagi kesehatan. Campbell menyimpulkan “lewat angka-angka statistiknya” bahwa penghindaran terhadap produk ternak adalah baik bagi kesehatan manusia[xv].

Kesimpulan yang ditelurkan oleh Campbell mendapatkan banyak sanggahan. Chris Masterjohn, Denise Minger, dan Loren Cordain menunjukkan bagaimana Campbell gegabah dan cenderung manipulatif di dalam membuat kesimpulan dari angka-angka yang dia temukan di lapangan. Tuduhan yang diberikan kepada Campbell -dan memang terbuktikan- adalah adanya manipulasi angka-angka statistik. Campbell juga disindir mengenai ketidakpresisian parameter asumsi yang ia pakai di dalam mengumpulkan angka-angka yang ia butuhkan di dalam membuktikan hipotesisnya[xvi],[xvii],[xviii].

Besarnya jumlah angka dukungan yang digunakan sebagai klaim sebuah kebenaran juga bisa bikin runyam. Mengenai hal ini, patut pula misalnya merujuk kepada ucapan Tariq Ramadan di dalam diskursus mengenai cita-cita muslim dalam menanggapi isu demokrasi dan hidup bersama di masyarakat Barat. Selintas, Tariq Ramadan seakan-akan sekuler namun sejatinya ia tidaklah demikian. Sebagai pendahuluan awal, layaklah mencermati perkataan Tariq mengenai refutasinya tentang kebenaran lewat pendapat dengan angka pendukung terbanyak.

Tariq tahu bahwa politik tidak bisa dilepaskan dari etika dan etika selalu terkait dengan agama[xix]. Di dalam tradisi suara (dengan angka) terbanyak diyakini sebagai sesuatu yang mempunyai jalur legal untuk disebut sebagai kebenaran, problem dapat timbul dan memang potensial untuk selalu muncul di dalam adaptasi setiap muslim. Tariq dalam posisi firm untuk menyatakan bahwa basis yang ia perjuangkan adalah nilai dan etika yang bersandar pada apa yang tertera di dalam skriptur dan bukan serta -merta ikut mengaminkan apa yang dipegang oleh kebanyakan orang: ‘kebenaran karena angka pendukung yang besar”. Juga perlu dipahami bahwa Tariq tidak lantas memencilkan diri atau mungkin berontak kepada kesepakatan yang dimenangkan oleh ‘pendapat dengan angka pendukung terbanyak’ jikasanya berbeda atau kontradiktori dengan skriptur. Pada keadaan seperti ini, Tariq belajar beradaptasi dengannya.

Juga menarik untuk mempelajari apa yang diajukan oleh Paul Treanor di dalam tulisannya “Why Democracy is Wrong”. Tulisan Paul ini boleh juga dijadikan referensi mengenai bagaimana keputusan dan cara pandang yang ‘terlalu’ menyandarkan kepada angka (suara) terbanyak adalah tragis. Mematok sesuatu sebagai baik berdasarkan angka terbanyak pendukung kadang menjerembabkan manusia untuk melacurkan kemanusiaannya[xx]. Di dalam prolog tulisannya, Paul memberikan contoh bagaimana sebuah negara urung mengirimkan bantuan kemanusiaan gara-gara ide pengiriman bantuan tidak mendapatkan angka terbanyak.

Angka (Credit: radiolab.org)

Angka (Credit: radiolab.org)

Klaim kebenaran berdasarkan superioritas manusia lewat jalur angka dukungan terbanyak adalah sesuatu yang sahih juga bermasalah sebab ia menjadi sesuatu yang sangat labil, begitu menurut Idries de Vries[xxi]. Ide pancang kebenaran lewat angka terbanyak adalah menggelisahkan. Kejadian terkini tentang ini terjadi di dalam denominasi kristen Presbyterian pada tafsir istilah perkawinan. Voting diadakan untuk meratifikasi definisi perkawinan yang ada di dalam skriptur. Hasilnya adalah sebuah definisi baru mengenai perkawinan: asalkan dua orang, meskipun sejenis, tetaplah sah secara skriptur untuk diberkati sebagai perkawinan[xxii].

Kepercayaan kepada angka dukungan terbesar sebagai benar sejatinya menjadi catatan kegelisahan masyarakat post-secular. Mengapa bisa demikian? Sebab di dalam konteks pembenaran sesuatu dilandasi dukungan angka yang terbesar maka hal apapun yang –bahkan berseberangan dengan skriptur dan old wisdom and values– adalah menjadi sah dan legit. Hal inilah yang direnungkan oleh Jurgen Habermas di dalam menyikapi kegamangan mengenai nilai apakah yang bisa dijadikan pegangan bagi kontestasi ide dalam demokrasi yang paling sekuler sekalipun, dalam sebuah masyarakat post-secular[xxiii].

Apapun, klaim menggunakan angka bisa sangat berbahaya – jika dimanipulasi, disalahgunakan, disalahpahamkan, atau disalahyakini. Menggiring awam menggunakan angka bisa berpotensi menimbulkan kerusakan sebab tidak semua paham tentang angka dan makna di balik suatu angka: survei dan statistik. Pun, menyalahgunakan banyaknya jumlah angka pendukung sebagai modal menekan mereka yang jumlah angka pendukungnya sedikit sebagaimana terjadi pada majoritarianisme juga sesuatu yang berbahaya.

Angka memang bisa dijadikan landasan membuat keputusan namun terkadang tidaklah pas untuk menyandarkan diri hanya kepada angka di dalam membuat keputusan. Ambil contoh, tidaklah pas misalnya mencari pertolongan dari Tuhan lewat mandi di tujuh mata air atau sumur di tengah malam oleh sebab pitulungan (Jw. = pertolongan) mempunyai bunyi sama dengan pitu (Jw. = tujuh). Ujung-ujungnya malah masuk angin. Atau bisa juga berkelakar bahwa pitulungan memang datang kemudian dalam bentuk kerokan.

Ambil contoh lain, tidaklah pas semisal membuat klaim bahwa pasti Tuhan sudah memberi tanda mengenai kemenangan sepasang kandidat capres dan cawapres gara-gara angka yang keluar dari sebuah pertandingan sepakbola pada hari pemungutan suara seakan-akan meramalkan demikian.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa pemungutan suara pilpres 2014 di Indonesia barusan diselenggarakan pada tanggal 9 Juli 2014. Pada hari itu, angka hasil pertandingan Brasil melawan Jerman adalah 1-7. Beberapa orang misalnya mengaitkan dua hal tersebut sebagai sebuah tanda dari Tuhan. Ada yang menyebut bahwa angka 1-7 adalah tanda bahwa 7okow1, salah satu kandidat, akan memenangkan pilpres karena di dalam namanya ada angka 7 dan 1. Ada juga yang mengaitkannya dengan bakal menangnya kandidat nomor 1, atau Prabowo, karena diyakini bahwa presiden ke-7 Indonesia adalah yang berlabel urut 1. Juga ada yang mengaitkan angka 1-7 sebagai keniscayaan kemenangan Prabowo, salah satu kandidat, gara-gara 17 adalah tanggal kelahiran Prabowo dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Praktik yang demikian itu tidaklah tepat karena kemudian menjadikan seseorang terjerembab kepada takhayul. Bahkan semisal hasil nujuman lewat angka ini terbuktikan pun, adalah tidak pas memegangi keyakinan yang demikian. Ada drawbacks-nya.

Bagi sebagian agama, berpercaya membuat keputusan pada yang demikian adalah buruk: mencederai iman. Sejatinya ada pesan yang dalam mengenai berpantang mengikuti nujuman-nujuman seperti ini: biar bekerja dengan akal bukan mengkorelasikan sesuatu yang absurd, agar menjadi insan yang memakai akal di dalam membuat perhitungan tindakan. Menurut skriptur, bekerja keras memakai akal dalam mewujudkan sesuatu tentu tanpa melupakan doa adalah ciri khas manusia beriman. Atau dengan kata lain: tidak terjebak kepada numerologi sebagaimana kisah Walter Sparrow.

Sparrow terjebak di dalam keyakinannya mengenai angka. Saat ia mendapati bahwa satu angka kebetulan sesuai menujumkan sesuatu. Ketika Sparrow mempercayainya maka bencana pun mulai terjadi atas hidupnya. Ia hidup di dalam bayang-bayang angka 23. Kehidupan yang seperti ini sungguh bukanlah kehidupan manusia sesungguhnya. Sparrow lupa bahwa setiap angka bisa muncul kapan saja. Ia juga khilaf mendapati bahwa angka sama yang terus saja muncul dalam hidupnya adalah ‘realitas yang dibangunnya sendiri’ dengan mengesampingkan angka-angka lain yang keluar, yang berseliweran di sekitarnya dalam kehidupannya.

Lagian, balik lagi ke soal angka 13, bukankah di final Piala Dunia 2014 justru Jerman yang menampilkan pemain dengan nomor punggung 13-lah yang mengalahkan Argentina yang tidak memainkan pemain no 13-nya? Jangan lupa juga bahwa legenda Liga Inggris, pemain yang beruntung karena memiliki tendangan yang keras, kepala yang produktif, dan jumlah gol yang menjadi rekor Liga Inggris, Alan Shearer, juga seseorang yang lahir pada tanggal 13!

Demikian.

Creative Commons License Angka by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

======================

Bagian penutup tulisan mengenai hasil final Piala Dunia 2014 ditambahkan pada tanggal 2 Oktober 2014 (cf. FIFA. 13 Juli 2014. “Match Report”)

End Notes

[i] Joel Schumacher. 2007. The Number 23. USA: New Line Cinema

[ii] Julia Greenberg. 13 Januari 2012. Friday the 13th: History, Origins, Myths, and Superstitions of the Unlucky Day. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.ibtimes.com/friday-13th-history-origins-myths-superstitions-unlucky-day-395108

[iii] Claire Suddath. 13 Februari 2009. A Brief History of Friday the 13th. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://content.time.com/time/nation/article/0,8599,1879288,00.html

[iv] Ciaran O’Keeffe. 13 September 2013. Friday the 13th: Where does our fear of this ‘unlucky’ day really come from?. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.mirror.co.uk/news/weird-news/friday-13th-fear-unlucky-day-2270760

[v] Ciaran O’Keeffe, Ibid.

[vi] Stephen Howarth. 1982. The Knights Templar. New York: Barnes and Noble. hlm. 11-14, 261, 323.

[vii] Lihat endnote 3

[viii] Selintas mungkin ada kemiripan kata Jumat di dalam kedua mitos ini: mitos Barat dan mitos Indonesia. Jika kita kaji lebih jeli maka akan kita dapati perbedaan antara malam Jumat dengan hari Jumat. Pada malam Jumat, takhayul dimulai sejak Kamis malam dan berakhir pada Jumat subuh. Pada mitos Barat, konsep ‘hari sial’ dimulai pada hari Jumat dan bukan pada Kamis malam.

[ix] David Makofsky (ed. S. Forsyth). 2012. Bad Luck Numbers in China. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.brighthubeducation.com/learning-chinese/72881-superstitions-and-bad-luck-relating-to-numbers-in-china/

[x] David Emery. Why Friday the 13th Is Unlucky, Paraskevidekatriaphobia: Friday the 13th Origins, History, and Folklore. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://urbanlegends.about.com/cs/historical/a/friday_the_13th.htm [xi] lihat endnote 2

[xii] Scanlon TJ et.al. 1993. Is Friday the 13th bad for your health?. BMJ. 1993 Dec 18-25;307(6919):1584-6

[xiii] Darrell Huff. 1954. How to Lie with Statistics. New York: W.W. Norton & Company Inc.

[xiv] Mark Twain (ed. Michael J. Kiskis). 1990. Mark Twain’s Own Autobiography: The Chapters from The North American Review (Wisconsin Studies in American Autobiography). Madison, Wis: University of Wisconsin Press.

[xv] T. Colin Campbell (with Thomas M. Campbell II). 2004. The China Study: Stratling Implications for Diet, Weight Loss, and Long-term Health. Dallas: BenBella Books.

[xvi] Chris Masterjohn. n.d. The Truth about The China Study. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.cholesterol-and-health.com/China-Study.html

[xvii] Denise Minger. 7 Juli 2010. The China Study: Fact or Fallacy?. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://rawfoodsos.com/2010/07/07/the-china-study-fact-or-fallac/

[xviii] Loren Cordain (dalam Chris Kresser). n.d. Rest in peace, China Study. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://chriskresser.com/rest-in-peace-china-study

[xix] Tariq Ramadan, Yasmin Alibhai-Brown, Anas Altikriti, Alan Johnson (intv. Mehdi Hasan). 3 April 2014 (transkrip). Head to Head – Has political Islam failed?. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.aljazeera.com/programmes/headtohead/2014/03/transcript-tariq-ramadan-201432820219269232.html

[xx] Paul Treanor. 13 Mei 2006. Why Democracy is Wrong. Web. Diakses dari:

http://web.inter.nl.net/users/Paul.Treanor/democracy.html

[xxi] Idries de Vries. 27 Februari 2012. A Critique of Natural Law Theory. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.newcivilisation.com/home/2358/ideas-philosophy/a-critique-of-natural-law-theory/

[xxii] Gene Veith. 20 Juni 2014. “Presbyterians (USA) vote to allow gay marriages”. Web. Diakses dari:

http://www.patheos.com/blogs/geneveith/2014/06/presbyterians-usa-vote-to-allow-gay-marriages/

[xxiii] Jurgen Habermas. 18 Juni 2008. Notes on a post-secular society Pertama terbit di Jerman dalam Blätter für deutsche und internationale Politik, April 2008 dan awalnya ditulis sebagai materi kuliah tanggal 15 Maret 2007 di the Nexus Institute of the University of Tilberg, Netherlands. Web. Diakses dari:

http://www.signandsight.com/features/1714.html