Belajar dari Kisah dan Narasi Erich von Däniken

Istilah yang dipakai oleh kubu Prabowo di dalam menggugat hasil Pilpres 2014 terhadap kemenangan Jokowi sungguhlah menarik. Istilah ini menarik bukan dalam konteks siapa yang berbohong dan siapa yang jujur dalam polemik kemenangan Jokowi namun istilah yang disingkat sebagai TSM ini melambungkan ingatan saya akan kisah dan narasi Erich von Däniken.

Di dalam tulisan ini saya membedakan istilah ‘kisah’ dengan ‘narasi’. Istilah ‘kisah’ saya nisbatkan kepada sepak terjang Erich von Däniken dan para penyokongnya di dalam menciptakan dan menguatkan kebohongan mengenai kunjungan ‘astronaut dari luar angkasa’ atau ancient aliens. Sedangkan istilah ‘narasi’ saya sematkan kepada isi atau content kebohongan cerita mengenai ‘astronaut dari luar’.

Lincoln pernah berkata bahwa kita bisa menipu semua orang dalam beberapa kesempatan dan kita juga bisa menipu kebanyakan orang dalam jangka waktu yang lama. Meskipun demikian, kita tidak bisa selamanya menipu semua orang sebab kelak akan ada sebagian orang yang dapat menyibak sebuah kebohongan.[i]Apa yang diucapkan oleh Lincoln mengena benar dengan apa yang digembar-gemborkan oleh Däniken lewat narasi Ancient Aliens-nya.

Namun sebelum memberangus narasi Däniken, ada hal yang dapat dipetik dari saga ini. Kisah Däniken mengajarkan kepada kita bahwa sebuah kebohongan dapat dipercayai banyak orang dan tahan lama jika dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif.

Saya adalah korban dari narasi Erich von Däniken yang dikoarkan lewat buku yang berjudul Nenek Moyang Kita Dikunjungi Astronaut Bintang Lain? yang terbit di tahun 70.[ii] Buku ini adalah terjemahan dari buku best-seller internasional dengan judul Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past yang terbit di tahun 1968.

/amartapura.com/

/amartapura.com/

Erich von Däniken, yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang arkeologi dan astronomi, lewat buku Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past berhipotesis bahwa nenek moyang kita pernah dikunjungi oleh astronot dari luar (alien, makhluk ekstraterestrial) sehingga mengalami lesatan kemajuan peradaban. Di dalam hipotesisnya yang ia tuturkan dalam bentuk dongeng, ia tak lupa menampilkan foto situs-situs peradaban kuno di seluruh dunia sehingga makin terdengar masuk akal-lah hipotesis yang ia ajukan.

Däniken sendiri sebenarnya tidak menulis buku itu secara terstruktur dan sistematis sebagaimana tercetak menjadi buku yang laris manis dengan nilai penjualan lebih dari 10 juta kopi[iii]di seluruh dunia itu. Narasi yang tersusun baik dan sistematis dapat tercipta berkat bantuan Wilhelm Roggersdorf yang di dalam cetakan buku itu tertera sebagai editor buku. Roggersdorf-lah yang membuang bagian-bagian tertentu dari draft awal Däniken yang dirasa bakal membuat narasi menjadi tidak pas.

Bagaimana buku Däniken menjadi buku yang laris manis tidaklah lepas dari momentum rilis yang pas. Saat itu dunia sedang dimabukkan oleh keberhasilan orkestrasi pendaratan manusia di bulan.

Pendaratan manusia di bulan sendiri hingga kini tetap menuai kontroversi. Kaum skeptik moon landing hingga sekarang masih saja tidak percaya adanya manusia yang berhasil mendarat di bulan selain hanyalah sebagai akal-akalan pemerintah Amerika Serikat di dalam memenangkan ‘pertarungan’ penguasaan luar angkasa melawan Uni Soviet.[iv]Kaum skeptik ini masih meragukan kebenaran pendaratan manusia di bulan meskipun NASA sudah menampik tuduhan pembohongan publik itu dengan menunjukkan bukti-bukti semisal bahwa bekas pendaratan manusia di bulan bisa dicek lewat teropong canggih yang kita miliki sekarang ini.

Kembali kepada nama Erich von Däniken. Jauh sebelum hipotesis Erich von Däniken, ada nama yang pantas disebut di dalam kronologi bagaimana buku Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past menjadi sebuah best-seller dunia. Ia adalah Harry Martinson, seorang penyair Swedia. Harry Martinson pada tahun 1956 menerbitkan puisi panjang mengenai manusia dan petualangan luar angkasa dengan judul Aniara.

Sajak panjang Martinson, Aniara, menyuarakan harapan terhadap superioritas teknologi namun juga ada nada pesimisme di sana. Mungkin karyanya ini merupakan cerminan terhadap masa kecilnya yang pahit serta pengalamannya di dua perang terbesar umat manusia (Perang Dunia I dan II) dan ditambah nuansa kehidupan Eropa yang terbalut suasana Perang Dingin.

Aniara bercerita bahwa kemajuan teknologi manusia sudah begitu luar biasa sehingga ada pikiran untuk mencari planet lain untuk memulai kehidupan yang baru. Aniara tidak memiliki akhir bahagia sebab akhirnya petualangan umat  manusia di dalam mencari planet untuk memulai kehidupan dari awal ini berakhir tragis. Pesawat yang hendak mencari planet tempat tinggal yang baru –didera ketidakpastian sebab dalam perjalanan ada kabar bahwa bumi hancur– awaknya menghancurkan diri sendiri lewat perilaku liar dan lalu semuanya mati. Tidak ada manusia tersisa. Pesimisme memang nampak sekali.

Imajinasi Martinson sebelumnya mungkin kena pengaruh Ernst Kapp di dalam buku Grundlinien einer Philosophie der Technik (1877) mengenai filosofi teknologi di dalam berkehidupan. Teknologi –dan bukan dunia spiritualis mistis– yang dianggap akan bisa menyelamatkan manusia. Walaupun demikian, teknologi juga punya potensi menghancurkan manusia. Persis seperti Aniara-nya Martinson.

Kisah di dalam imajinasi Martinson mengingatkan kita pada cerita garapan Jon Spaihts dan Damon Lindelof yang dibesut sutradara Ridley Scott menjadi film yang berjudul Prometheus (2012).

Prometheus berkisah tentang adanya temuan arkeologis yang mengabarkan tentang nenek moyang umat manusia di planet antah berantah yang memiliki kecanggihan teknologi. Di dalam film ini, ada semacam keyakinan bahwa kecanggihan teknologi  yang dimiliki sesepuh umat manusia ini akan mampu membuat manusia jadi abadi. Tidak ada akhir kisah bahagia dalam film ini, mungkin mengekor kisah Aniara. Bila pun pada awalnya ada semacam harapan penemuan asal usul kemanusiaan dan optimisme akan hidup abadi, awak pesawat luar angkasa Prometheus kemudian hanyalah menemukan kengerian dan lalu kematian.

Kembali pada kisah Martinson yang dapat dianggap memberi salah satu peletak pondasi bagi kesuksesan narasi Ancient Aliens ala Erich von Däniken.

Aniara gubahan Martinson tidaklah muncul begitu saja. Masyarakat Barat pada tahun-tahun ditulisnya Aniara memang menghadapi keraguan atas keyakinan mereka. Bagi mereka agama dan nilai-nilai lama yang telah pernah mereka yakini seakan-akan gagal menjaga keberlangsungan kemanusiaan. Mungkin itulah sebab Martinson mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Ada semacam ‘jalan buntu’ dari optimisme keunggulan manusia lewat teknologi yang sebelumnya ia pegang. Mirip Aniara-nya, ada ironi di sana.

Masyarakat Barat di awal abad 20 dilanda kegalauan akan eksistensi kemanusiaan mereka. Perang Dunia I dan II seakan-akan meluluhlantakkan kepercayaan mereka terhadap agama dan nilai-nilai lama. Prolog dari kepedihan yang ditimbulkan oleh Perang Dunia sudah diperparah lewat menguatnya pengaruh psikoanalisis lewat tokohnya Sigmund Freud. Freud pada awal abad 20 memang berhasil menjungkalkan keyakinan masyarakat Barat terhadap agama dan di sisi lain sebuah semangat menciptakan jalan baru menuju kebahagiaan manusia.

Namun banyak orang yang tidak tahu kisah sebenarnya dari kehidupan Sigmund Freud. Freud yang dipercayai menciptakan semacam utopia baru akan pendefinisian ulang keberadaan manusia dus penawar akan eksistensi manusia sejatinya tidak sebahagia dan sehebat yang selalu dikisahkan orang-orang.

Banyak orang tidak tahu bahwa Freud tidak selalu berhasil menangani pasiennya[v] sebagaimana ia juga tidak berhasil mengatasi libidonya,[vi] pikiran falosentrisnya,[vii] kecanduannya untuk harus merokok (diamsalkan olehnya serupa pengganti masturbasi?), dan kebutuhannya akan kokain –entah untuk mengurangi sakit atas kanker di rahangnya[viii] atau memang ia belum menemukan kedamaian atas pikiran kesadaran dan ketidaksadarannya.[ix]Ada ironi di dalam jalan pencarian kebahagiaan yang ditawarkan Freud.

Masa itu memang masa yang penuh ketidakpastian bagi masyarakat Eropa. Wilayah mereka luluh lantak karena perang sedangkan agama mereka juga luluh lantak oleh arus pemikiran yang membongkar kesakralan agama yang sedang mencuat saat itu.[x] Darwinisme menguat bersamaan dengan kejayaan psikoanalisis Freudian. Ilmu pengetahuan yang di tataran praktisnya melahirkan teknologi memberikan semacam utopia bagi kegalauan manusia: sebuah agama baru – juru selamat baru atas potensi kehancuran manusia.

Däniken boleh dibilang ‘beruntung’ bukan hanya mendapatkan momen yang pas bagi terbit bukunya namun juga ia mendapatkan bantuan editor yang mendandani total penulisan draft dari bukunya itu. Tambahan pula, karya Däniken bisa menjadi sukses karena publik sudah siap mengapresiasi sebuah ide: hipotesis maupun imajinasi. Tidak ada resepsi yang massal kecuali sudah adanya bag of presuppositions dari publik. Inilah yang terjadi pada kisah kesuksesan buku karangan Däniken. Däniken tidak dilihat lagi sebagai mantan pencuri dan penipu namun dianggap seorang revolusioner dengan hipotesis yang memiliki nada tidak terlalu sumbang dengan ‘apa yang diingini’ publik saat itu: pelengkap narasi mengenai utopia.

Däniken di dalam bukunya bercerita bahwa nenek moyang kita memiliki peradaban yang luar biasa dan lebih maju teknologinya dibandingkan kita saat ini dan kemudian hancur karena berperang satu sama lain. Däniken di dalam hipotesisnya mengajak orang untuk percaya bahwa kemajuan yang telah dicapai nenek moyang kita dahulu adalah berkat kunjungan dari astronaut dari luar angkasa. Däniken membangun narasi bahwa dahulu nenek moyang kita hanyalah makhluk primitif yang kemudian mendapat kunjungan makhluk putih terang yang turun dari langit dan kemudian mengalami revolusi pengetahuan dan teknologi.

Däniken menunjukkan bukti-bukti pendukung hipotesisinya mengenai revolusi pengetahuan dan teknologi atas diri nenek moyang kita dahulu lewat dongeng argumentatif logis yang seakan-akan valid mengenai kebudayaan Puma Punku, Piramida Mesir, Kebudayaan Inca, Jet Tolima, Garis-garis Nazca, Relief Roket Pacal, Kisah Biblikal Penampakan Yehezkiel, Perang Nuklir di dalam Epos Mahabarata, Patung Gigantik di Pulau Paskah, Situs Baalbek di sebelah timur Lebanon, Bola Lampu bangsa Mesir Kuno. Sekali lagi, kunci pemerdaya awam dalam narasi versi Däniken adalah disusunnya dalam struktur yang halus dan sistematis.

Apa yang diutarakan Däniken seakan memberi pelengkap bagi awam atas keping puzzle yang dicari dari hipotesis[xi] Darwin bahwa nenek moyang kita dulu adalah makhluk primitif sebangsa kera[xii]yang kemudian berkembang menjadi makhluk berpengetahuan. Däniken hanyalah menambahkan bagian dari teori Darwin -atau mengajukan dongeng yang agak sedikit berbeda- bahwa [r]evolusi ubah bentuk dan kemajuan peradaban nenek moyang kita tadi terjadi karena ada campur tangan astronaut dari luar angkasa.

Däniken memang ‘penipu yang beruntung’. Ia menjadi milyader gara-gara bukunya itu serta menginspirasi beberapa acara televisi semisal X-Files dan juga film serupa Prometheus. Däniken semakin ‘berjaya’ sebab stasiun televisi History Channel dan H2 dengan memasifkan pengaruh Däniken lewat seri dokumenter berjudul Ancient Aliens. Däniken mendapatkan penyokong narasi sehingga narasinya memiliki pengaruh yang masif. Jadilah semacam simbiosis antara Däniken dan penyokong-penyokong diseminasi narasi ini: sama-sama mendapat keuntungan finansial.

Dulu saya juga sempat berpercaya pada hipotesis yang diajukan oleh Däniken. Kala itu muncul imajinasi mengenai bila saja saya bisa bertemu dengan UFO[xiii] dan alien (atau makhluk ekstraterestrial – astronaut dari luar angkasa). Sebuah imajinasi yang ‘saat itu’ bagi saya merupakan sesuatu yang masuk di akal sebab presuposisi[xiv] saya mengenai realitas telah dicelupi narasi dari buku karya Däniken.

Narasi yang ditampilkan di dalam hipotesis Däniken terasa masuk di akal bagi saya saat itu bukan hanya disebabkan pengemasan kebohongannya yang terstruktur dan sistematis namun juga karena disokong oleh beberapa media massa sehingga berdampak masif di dalam pembangunan ‘realitas’. Dalam perjalanan waktu, kemudian saya sadari bahwa Däniken ternyata adalah pembohong yang lihai.[xv]

Chris White di dalam film refutasi berjudul Ancient Aliens Debunked (2012)[xvi] mematahkan narasi semu yang didongengkan oleh Däniken. Bukan hanya Chris White saja yang membongkar habis kebohongan narasi Däniken, sebut saja nama lain semisal Jason Colavito[xvii] – seorang antropolog lulusan Ithaca College, New York.

Benar kata Lincoln bahwa kebohongan yang disusun serapi mungkin suatu ketika akan terbantahkan oleh beberapa orang yang paham duduk perkara sebenarnya. Lepas dari benarnya kata Lincoln,[xviii] narasi Däniken mengenai astronaut dari luar angkasa yang mengunjungi nenek moyang kita mungkin akan terus bertahan di dalam pop culture kita sebagai sebuah pseudoscience bagi sebagian orang dan bagi sebagian lainnya akan diterima dan diyakini sebagai hasil kerja science. Narasi ini tidak akan mudah hilang sebab beberapa orang yang percaya menjadikannya sebagai sebuah ‘agama’ (atau cult) dan sesuatu yang membuat orang teguh berpercaya bisa berarti ladang bisnis yang tiada habis. Lagi-lagi kita berbicara mengenai ironi manusia: uang bisa mengabaikan penampilan kebenaran. Narasi ini akan bertahan sebab menjanjikan uang yang luar biasa besar.[xix]

Sebenarnya, ada hikmah yang bisa ditarik dari narasi kibul-kibulan Däniken. Menurut narasi ini, kita sekarang hanya dapat menyaksikan sisa-sisa peninggalan kehebatan pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi nenek moyang kita tanpa terwarisi ilmu pengetahuan disebabkan bencana yang diciptakan oleh nenek moyang kita sendiri: kerakusan, keinginan untuk jaya, dan lalu saling berperang menghancurkan peradaban yang telah mereka miliki. Lalu ada keterputusan peradaban dan sambung kemajuan ilmu pengetahuan. Sekali lagi, ada ironi di sana. Bahwa kehancuran manusia yang sudah maju teknologinya bisa saja terjadi dan potensinya malah semakin besar jika kerakusan tidak juga hilang dari dalam diri manusia.

Lalu samar-samar bersama closing tulisan ini terdengar lagu dari R.E.M. berjudul “Man on the Moon” (1992) yang berdendang tentang kegalauan yang muncul dari kebisingan narasi yang saling bentrok dalam benak mengenai benar tidaknya kisah pendaratan manusia di bulan, juga hal-hal lain. Di situlah mungkin seninya menjalani kehidupan sebagaimana Michael Stipe hendak katakan. Jika hendak merangkai kalimat lain dapatlah kita sederhanakan bahwa narasi-narasi yang ada adalah gabungan dari impian, kerakusan, manipulasi, utopia, atau persetan dengan itu semua: sebuah tontonan yang tidak perlu untuk dipusingkan. Bahkan arkeolog serius, seperti Kristina Killgrove, sudah mewanti-wanti mengenai kecenderungan yang buruk kebanyakan dari kita untuk suka pada narasi sensasional mengenai bantuan makhluk alien dari planet lain atas kehebatan peradaban kuno nenek moyang kita. Sadar bahwa hal buruk ini dimanfaatkan oleh beberapa arkeolog  gadungan di dalam menjual karya fiksi yang didaku sebagai ilmiah akan membuat kita lebih cerdas di dalam menerima narasi yang berseliweran dan disodorkan kepada kita walaupun seolah-olah nampak ilmiah. Inilah mungkin hikmah lain dari memahami kisah dan narasi milik Däniken.

Lagian, bukankah setan (yang nampak ataupun tidak, yang menampakkan ujud asli atau menyaru, yang berasal dari golongan manusia atau jin) akan selalu berusaha membisikkan hal-hal yang menggoyahkan keteguhan dan bikin was-was adalah nyata ada (cf. QS 114: 6)?

Creative Commons License Belajar dari Kisah dan Narasi Erich von Däniken by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

==============================

Endnotes

[i] “It is true that you may fool all of the people some of the time; you can even fool some of the people all of the time; but you can’t fool all of the people all of the time.”

[ii] Erich von Däniken. 1970. Nenek Moyang Kita Dikunjungi Astronaut Bintang Lain?. Penerbit Arth. 237 halaman.

[iii] Data per Agustus 2014. Baca juga tulisan Paul F. Hoye dan Paul Lunde dengan judul “Piri Reis and the Hapgood Hypotheses” (Aramco World Magazine, Vol. 31, Number 1, January/February 1980) yang menjabarkan bagaimana narasi UFC (Unidentified Flying Chariots) oleh Däniken yang salah satu pilarnya dibangun dengan temuan peta Piri Reis adalah murni dongeng fiksi non-faktual.

[iv] Bill Kaysing adalah orang pertama yang menuduh bahwa NASA mengakali orang di seluruh dunia mengenai pendaratan manusia di bulan lewat bukunya We Never Went to the Moon: America’s Thirty Billion Dollars Swindle yang terbit di tahun 1974. Kemudian ada nama Marcus Allen yang bersikeras bahwa masalah yang dimiliki NASA dalam mengirimkan manusia di bulan dan lalu kembali dalam keadaan selamat adalah tidak semudah mengirimkan pesawat tanpa awak untuk mendarat di bulan.

Tuduhan pemalsuan pendaratan manusia di bulan mendapat dukungan yang kuat dari publik ketika jaringan televisi Fox menayangkan acara “Conspiracy Theory: Did We Land on the Moon?” pada tahun 2001.

Keraguan publik akan otentisitas pendaratan manusia di bulan agak sedikit menyurut manakala di tahun 2004 Martin Hendry dan Ken Skeldon dari University of Glasgow memberikan ceramah yang membantah tuduhan kebohongan yang dilakukan oleh NASA di dalam orkestrasi pendaratan manusia di bulan setelah sebelumnya NASA pada 14 Februari 2001 tetap bersikeras lewat sebuah maklumat bahwa pendaratan manusia di bulan adalah bukan tipu muslihat.

Beberapa skeptis hingga kini masih saja tidak percaya adanya kemungkinan manusia benar-benar mendarat di bulan di tahun 1969. Kaum skeptik menyorot bahwa pendaratan manusia di bulan dan juga mengembalikannya dengan selamat [ingat: keraguan bukan pada pendaratan pesawat atau robot di bulan] kecil kemungkinan dapat terjadinya hal demikian menimbang pada banyak faktor.

Meskipun demikian, tuduhan yang berisi keraguan mengenai kebenaran pendaratan manusia di bulan mendapat pukulan yang berat oleh pendapat-pendapat dari Peter Bassett, celotehan Glenn Beck, argumen dari editor dan jurnalis The Telegraph Richard Holt, serta munculnya film dokumenter pada tahun 2003 yang agak menyudutkan kaum skeptik pendaratan manusia di bulan berjudul “The Truth Behind the Moon Landings: Stranger than Fiction.”

Kemudian muncul hal yang mengejutkan dan kembali menyudutkan kebenaran Moon Landing. Batu yang diperoleh dari perjalanan Moon Landing Neil Armstrong pada tahun 1969 terbukti palsu.

Dari sisi politik dan sejarah perlombaan pengarungan luar angkasa, pendaratan manusia di bulan adalah sesuatu yang historis-faktual dan dapat ‘dibuktikan’ secara ilmiah.

Ketika tahun 60-an dalam suasana Perang Dingin Amerika Serikat kalah bertubi-tubi dengan Uni Soviet berkenaan dengan kemajuan penjelajahan ke luar angkasa, program penggegasan pendaratan manusia di bulan oleh J.F.K merupakan krusial bagi kemenangan perebutan supremasi. Argumen paling kuat mengenai urgensi Amerika Serikat memenangkan Perang Dingin lewat kemenangan penguasaan lomba pengarungan luar angkasa dapat dirujukkan kepada video dokumenter karya Bart Sibrel berjudul “A Funny Thing Happened on the Way to the Moon” (2001).

Uni Soviet melesat duluan meninggalkan Amerika Serikat namun Uni Sovet kemudian berhasil disalip oleh Amerika Serikat karena kegagalan pengembangan roket pendorong N-1.

Kegagalan tersebut disebabkan oleh banyak faktor di antaranya ketidakmelimpahan dukungan finansial pemerintah Uni Soviet, tidak terpisahnya program militer dengan program keluarangkasaan sehingga ada kekisruhan budgetting, pengembangan pesawat luar angkasa yang lebih canggih ditangani biro yang berbeda dan saling bersaing, kematian pemimpin program luar angkasa uni Soviet (Korolev), dan ada sedikit perbedaan prioritas di pucuk pimpinan Uni Soviet antara pengembangan senjata rudal antarbenua untuk supremasi militer dengan keperkasaan lewat keberhasilan kemampuan penjelajahan luar angkasa (cf. Leonard David, Marcus Lindroos, Dwayne A. Day, Charles P. Vick, Andrew Chaikin).

Walaupun demikian, ada juga yang menganggap bahwa Uni Soviet juga manipulatif di dalam keberhasilan Vostok 1 dengan kosmonot Yuri Gagarin sebagai bagian dari memenangkan Perang Dingin lewat propaganda keberhasilan menempatkan manusia pertama di luar angkasa (cf. David Percy & Mary Bennett, 2001, Dark Moon: Apollo and the Whistle-Blowers via Mary Bennett, “What Happened on the Moon? An Investigation into Apollo”, 2000).

Kian menarik, perspektif mengenai manipulasi Uni Soviet di dalam keberhasilan Vostok 1 terbantahkan misalnya lewat tulisan dari situs NASA dan tulisan tentang beberapa hal mengenai Vostok 1 dari James Oberg.

Pencapaian Amerika Serikat dengan mendaratkan manusia di bulan berhasil didiseminasikan secara kuat lewat kalimat berulang-ulang semisal “we choose to go to the moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard” dalam pidato J.F.K dan ucapan oleh astronaut Neil Armstrong “That’s one small step for [a] man [is] one giant leap for mankind.”

Dengan repetisi kekuatan narasi pendaratan manusia di bulan saat itu [bahkan hingga kini] berhasil meminggirkan kejayaan Uni Soviet yang sejatinya telah berturut-turut pada tahun 60-an mencatatkan pencapaian hebat di dalam pengembangan program luar angkasanya.

Amerika Serikat-lah yang berhasil ‘menggoreng’ pendaratan manusia di bulan dengan jargon bombastis sehingga tercangkok kesadaran kolektif di publik bahwa Amerika Serikat-lah yang memenangkan periode perlombaan pengarungan luar angkasa di masa Perang Dingin.

Kunci pencurian momen kemenangan narasi bahwa Amerika Serikat-lah yang paling jagoan dibandingkan Uni Soviet adalah pidato J.F.K mengenai “memilih proyek yang susah [dan bukan yang gampang sebagaimana ‘sebenarnya telah berhasil duluan’ dilakukan Uni Soviet di dalam pengarungan luar angkasa] yaitu mendaratkan manusia di bulan” yang diputar ulang terus menerus.

Meskipun kisah pendaratan manusia di bulan bisa dikaitkan dengan diskursus propaganda perang psikologis pada Perang Dingin, namun secara ilmiah perkembangan terbaru dari usaha-usaha peraguan terhadap kisah pendaratan manusia di bulan mengalami pukulan balik ketika Robert A. Braeunig membuat tulisan analitis mengenai kemungkinan pendaratan manusia di bulan mulai dari perhitungan trajektori translunar juga bagaimana sabuk Van Allen bisa dihindari oleh Apollo 11.

[v] Malah jika kita jeli pada kisah Freud, Freud hanya menampilkan sedikit sekali kasus yang berhasil ia tangani dari ‘kemungkinan’ banyak kasus yang gagal ia tangani atau malah ia buat tambah buruk keadaannya namun tidak ia ceritakan kepada publik kecuali kasus Dora dan Wolf Man.

Ada juga yang berpendapat bahwa bagaimana sejatinya psikoanalisis Freudian adalah aktivitas  pencangkokan ‘kenyataan’ bawah sadar lewat sesi terapi kepada para pasiennya. ‘Kenyataan’ bawah sadar yang seakan-akan digali dari bawah sadar seseorang kerapkali adalah sesuatu yang secara random bisa terjadi pada siapapun (cf. Frederick Crews (ed.), Unauthorized Freud: Doubters Confront a Legend). Pasien digarap untuk menemukan solusi dengan melihat ‘kesalahan’ ada pada diri sendiri di dalam menginterpretasi orang lain di dalam perjalanan hidupnya. Cara seperti ini ada yang menyebutnya serupa pseudoscience.

Sebagai perkenalan dengan penjelasan mengapa Freud dianggap hanya bermain-main dengan metanarasi bawah sadar manusia adalah bisa diacu pada tulisan Peter Gay dengan judul Freud: A Life for Our Time, esai dari Frank Cioffi dengan judul “Freud and the Idea of a Pseudo-Science”, buku karya Frank Cioffi dengan judul Freud and the Question of Pseudoscience, dan tulisan pedas namun cerdas dari Florence Rush di jurnal Feminism and Psychology (1996, 6: 260) dengan judul “The Freudian Coverup”.

Alasan Sigmund Freud tetap menjadi tonggak bagi ilmu psikologi adalah sumbangsih Sigmund Freud di dalam ilmu psikologi (khususnya psikoanalisis) dalam menggairahkan kembali kajian ilmu psikologi yang waktu itu tidak mengalami perkembangan yang berarti. Namun perlu dicatat bahwa dari segi kevalidan metodologi yang Freud jabarkan di dalam tulisan-tulisannya adalah pseudoscience saja (cf. Frank J. Sulloway. 2007. “Psychoanalysis and Pseudoscience: Frank J. Sullivan Revisits Freud and His Legacy” dalam T. Dufresne (ed.). Against Freud: Critics Talk Back. (hlm. 48-69). Stanford, CA: Stanford University Press). 

Film dokumenter yang membahas perjalanan Sigmund Freud dan teori psikoanalisis-nya dapat disaksikan lewat Freud Under Analysis – PBS Nova” (1987).

[vi] Freud menyembunyikan perselingkuhannya –yang kemudian akhirnya diketahui publik– dengan Minna Bernays.

[vii] Freud dibabat kaum feminis mengenai ini (cf. buku karya Kate Millet dengan judul Sexual Politics).

[viii] Freud memang akhirnya mati menderita karena kanker rahang atas mulutnya.

[ix] Bahkan ada yang berpendapat bahwa beberapa teori psikoanalisisnya adalah produk dari pengalamannya di dalam mengkonsumsi kokain (cf. Jürgen vom Scheidt, Psyche XXVII, 1973. “Sigmund Freud and Cocaine”, hlm. 385-430).

[x] Misalnya lewat revivalisasi buah pikiran Darwin dan ‘kejayaan’ psikoanalisis Freudian.

[xi] Hipotesis yang diajukan Darwin mengenai Random Mutation dan Natural Selection sejatinya telah ‘mulai’ mendapat keraguan dari misalnya Eric Bapteste (ahli biologi evolusi dari Pierre and Marie Currie University) dan Michael Rose (ahli biologi evolusi dari University of California) mengenai bagan ‘tree of life’ yang dianggap mewakili narasi hipotesis evolusi. Keraguan atas hipotesis yang diajukan oleh Darwin sebenarnya juga telah diungkapkan sendiri oleh Darwin (cf. Stephen C. Meyer, Darwin’s Doubt). Patut pula untuk dipahami bahwa di masyarakat Barat modern, tentangan terhadap ‘teori’ Darwin telah mulai berkembang sebagaimana gerakan kaum Creationist dan di luar kaum Creationist muncul juga banyak ilmuwan skeptis yang mulai meninggalkan ‘teori’ Darwin sebab mulai runtuhnya argumen pendukung kesahihan ‘teori’ Darwin (cf. John West (Center for Science and Culture), dll.).

Jika tertarik mempelajari bagaimana teori evolusi mengalami banyak sanggahan dari temuan dan argumentasi ilmiah maka buku semisal Evolution: A Theory in Crisis karya Michael Denton dapat diacu. Artikel mengenai bagaimana kacaunya teori Darwin di hadapan temuan ilmiah terbaru sehingga teori Darwin harus dimodifikasi agar sesuai dengan temuan-temuan terbaru misalnya dapat dirujuk pada pengaitan microevolution dengan macroevolution karya ilmiah David N. Reznick dan Robert E. Ricklefs yang berjudul “Darwin’s Bridge between Microevolution and Macroevolution” dalam jurnal Nature, 12 Februari 2009, volume 457, hlm 837-842.

Secara umum, hipotesis Darwin mengenai evolusi mengalami evolusi yang luar biasa dan terus menerus berubah mengikuti perkembangan temuan ilmu pengetahuan terbaru. Perubahan yang terus menerus dari ‘teori’ evolusi inilah yang menyebabkan jumlah skeptik ‘teori’ evolusi kian bertambah seperti misal dapat dibaca lewat artikel karya tulis John Michael Fischer yang berjudul “Debunking Evolution: Problems between the Theory and Reality; the False Science of Evolution” atau tulisan yang ringan [sebagai pengantar] namun dalam perspektif Islam dapat dirujuk pada tulisan Zameelur Rahman yang berjudul “The Theory of Biological Evolution and Islam”.

Agak sedikit melebar dari isu ini, Sören Lövtrup bersikeras bahwa Lamarck-lah yang lebih tepat disebut sebagai peletak dasar teori evolusi di dalam bukunya yang berjudul Darwinism: The Refutation of A Myth.

Dapat pula ditambahkan bahwa hipotesis evolusi Darwin turut ambil peranan besar bagi Freud dalam mengembangkan psikoanalisis Freudian. Ritvo membuktikan pengaruh besar Darwin kepada Freud dengan bukti-bukti bahwa Freud memuji-muji Darwin begitu tingginya sebagai ‘the great Darwin’ dan beberapa kali Freud merujuk kepada hipotesis evolusi Darwin di dalam tulisannya (cf. Lucille B. Ritvo, Psychoanalytic Quarterly. 1974. “The Impact of Darwin on Freud”. 43: 177-192).

[xii] Sebangsa kera namun bukan kera. Di dalam hipotesis Darwin, manusia berkembang evolutif dari makhluk sebangsa kera sehingga menjadi manusia modern seperti sekarang.

[xiii] Kisah mengenai UFO haruslah dipahami sebagai fenomena yang unik. Ada beberapa hipotesis yang muncul mengenai UFO mulai dari ‘cangkokan’ bawah sadar mengenai ilusi adanya astronaut dari luar angkasa hingga segala penampakan yang tidak teridentifikasi dianggap sebagai penampakan makhluk terestrial sebagaimana pernah terjadi dengan ilusi optik fotografis mengenai flying rods. Pada kasus-kasus lain, laporan mengenai UFO adalah kemudian terbuktikan sebagai kesalahan penglihatan atas menara suar, flares, balon udara, pesawat jenis baru yang merupakan eksperimen rahasia militer, pesawat yang tidak lazim (drone) yang teridentifikasi di laporan-laporan awal para saksi mata sebagai ‘pesawat alien’.

Catatan lain yang menarik tentang kemungkinan adanya planet lain yang layak huni serupa bumi dan kemungkinan makhluk selain manusia di alam semesta ini  adalah penafsiran teks Quran surat 42 ayat 29 sebagaimana didapati pada tafsir Muhammad Asad (Muhammad Asad. 2003. The Message of the Quran. London: The Book Foundation. hlm. 449) dan secara implisit mungkin bisa juga dirujuk pada Yusuf Ali (Abdullah Yusuf Ali. 1938. The Quran: Text, Translation, and Commentary. Beirut: ad-Dar al-‘Arabiyah. hlm. 1314). Namun tafsir Muhammad Asad sedikit bermasalah karena ulama menganggap tafsiran karangannya banyak mengandung hal-hal karangannya sendiri (cf. Khaleel Muhammad. 2005. “Accessing English Translations of the Qur’an”. Middle East Quarterly, Spring 2005, Volume XII, No 2, hlm. 58-71; Fatwa Komite Tetap Lembaga Pusat Fatwa dan Riset Ilmiah, Jilid Ketiga, Nomor Bagian 3, hlm. 294) sebagaimana hal yang sama terdapati pada tafsir edisi awal Yusuf Ali (cf. Fatwa Darul IFTA Fatwa 857/57).

Ada juga sebagian lain yang menisbatkan fenomena UFO ini kepada Jin sebagaimana fatwa Muhammad Ibn Adam dari Darul Iftaa, Leicester, UK. Fatwa mengenai fenomena UFO sebagai pengalaman kontak bukan dengan makhluk ekstraterestrial namun dengan makhluk ekstradimensional (sebangsa Jin) dapat dibandingkan dengan hipotesis yang diajukan Gordon Creighton dalam tulisan yang berjudul “The True Nature of the ‘UFO Entities'”Flying Saucer Review, Vol. 29, No 5 atau hipotesis Jacques Vallee dalam buku yang berjudul Dimensions: A Case Book of Alien Contact .

Bantahan fenomena UFO sebagai penampakan entitas dari luar bumi (ekstraterestrial) juga dapat dirujuk pada tulisan lain Jacques Vallee yang terbit di Journal of Scientific Exploration, Vol 4, No 1 dengan judul “Five Arguments Against the Extraterrestrial Theory [Origin of Unidentified Flying Objects].”

Bagi muslim, sikap berhati-hati dalam isu ini adalah penting sebagaimana sudah diingatkan di dalam surat 3 ayat 7 dan surat 49 ayat 6.  Sesuatu yang samar dapatlah menjadi alat pengelabuhan dan fitnah di antara manusia. Wallahu’alam.

Pengantar mengenai kehati-hatian pada isu serupa ini misal merujuk kepada esai ilmiah oleh Barry R. Harker dengan judul “Artificial Life: The Revival of Mysticism in Science” dan esai dari Ibnu Taimiyah yang diterjemahkan oleh Dr. Abu Ameenah Bilal Philips dengan judul “Demonic Visions” dari kitab Eedah ad-Dalaalah fee ‘Umoom ar-Risalah, volume 19 Majmoo’ Al-Fataawaa atau volume 35 dari Majmoo’ Al-Fataawaa dan tulisan Ibnu Taymeeyah, Al-Furqaan Bayna Awliyaa ar-Rahmaan wa Awliyaa ash-Shaytaan yang berbicara mengenai ‘penampakan Jin’.

Dalam konteks mencoba bersikap hati-hati mengenai fenomena ini, istilah UFO sendiri adalah istilah yang sebenarnya sudah sesuai. UFO adalah singkatan dari Unidentified Flying Object atau Objek Terbang tidak Dikenal. Ada istilah lain selain UFO yang juga mulai populer. Istilah lain tersebut adalah USO (Unidentified Submerged Object atau Objek Menyelup tidak Dikenal).

Baik UFO maupun USO mempunyai kata kunci ‘tidak Dikenal’. Penggunaan istilah tidak dikenal merupakan pilihan yang berhati-hati di dalam mendefinisikan sesuatu yang masih samar kepastian deskripsiannya.

Berkaca pada itu semua, problem yang dimiliki publik atas isu ini adalah:

1. Tercipta kesadaran bawah sadar kolektif bahwa memang ada alien yang bentuknya dan teknologinya demikian dan demikian dari diseminasi fakta delusional yang bersumber dari pseudoscience Däniken.

Nama lain yang dapat disebut memperkuat narasi Däniken selain Mortinson adalah Kenneth Arnold lewat kesaksiannya yang bombastis akan flying saucer di beberapa media massa.

Turut ambil peran di dalam penciptaan cultural expectation adalah majalah FATE yang diterbitkan Raymond A. Palmer. Majalah ini  berhasil menciptakan sensansi pop culture dan kemudian membentuk imajinasi publik mengenai UFO. Di Amerika Serikat, pembangunan imajinasi publik turut pula diramaikan oleh peran contactee movement yang diprovokasi oleh George Adamski lewat buku Flying Saucers Have Landed (1953).

Di dalam kajian budaya, kesadaran bawah sadar kolektif yang mereferensikan segala penampakan tidak terjelaskan sebagai UFO (yang alien-is) disebut sebagai cultural expectation [on terrestrial beings] (cf. “Where Are All the UFO’s”, 1996). Kesadaran ini dipupuk lewat konsistensi gempuran narasi mengenai UFO dan alien lewat media massa dan produk-produk pop culture.

2. Setiap kali ada fenomena yang ‘tidak terjelaskan’ dengan mudah oleh awam atau ‘belum terjelaskan’ maka awam akan  membuat kesimpulan sebagai “selalu fenomena UFO (yang alien-is).”

Istilah UFO yang mulanya merujuk kepada unidentified sebagai kata kuncinya menjadi kabur karena awam sudah terjejali akan konsep yang mencekoki mereka mengenai UFO adalah selalu terkait dengan alien.

Jikalau awam bersabar di dalam penyibakan fenomena yang ‘belum dikenal’ oleh ilmuwan yang kompeten dan serius maka awam akan mendapati penjelasan yang masuk akal dan ilmiah (solidly proven and scientifically validated) tentangnya.

Banyak fenomena di semesta alam yang masih misterius bagi ilmuwan hingga saat ini dan belum terjelaskan secara padu oleh para ilmuwan sebagaimana ledakan Tunguska dan cahaya di atas bukit Hessdalen. Semua butuh waktu sebelum ditemukan penjelasan ilmiahnya. Kerap hal-hal baru butuh waktu untuk pengkajian dan pemunculan kesimpulan. Perhatikan sejarah kasus flying rods (cf. History Channel – “Monster Quest – Unidentified Flying Creatures”, 2008), Alien skulls of Peru yang menjadi dasar buku karya Steven Greer, Hidden Truth, Forbiden Knowledge (2006) lalu menjadi film dokumenter “Sirius”, 2013 (cf. Sean Patterson, 2013), crystal skulls yang menjadi inspirasi film “Indiana Jones and The Kingdom of the Crystal Skulls,” 2008 (cf. Chris White – “Ancient Aliens Debunked”, 2012), dll.

Mengenai pendapat skeptis mengenai isu UFO yang telah menjadi bisnis manipulatif serta dipenuhi dengan kesaksian-kesaksian palsu dapat dirujuk misalnya kepada  pendapat dari Richard Feynman, Robert Sheaffer,  Sharon Hill, Steve RoseJohn Franch, studi mengenai Heaven’s Gate oleh Paul Kurtz dan situs penjelas mengenai circle crop semisal circlemakers.org dan film dokumenter “UFOs Under Investigation – UFOs, Lies & Videotape” (2004).

Mengenai fenomena-fenomena yang natural namun belum terjelaskan menjadi selalu dimaknai sebagai UFO (yang pasti alien-is) karena secara bawah sadar awam telah tercemari imaji dan narasi mengenai UFO dapat dirujuk kepada film dokumenter “Where Are All the UFO’s” (1996). Di dalam film ini diturutkan bagaimana laporan penampakan UFO berubah-ubah sesuai dengan kemajuan teknologi manusia. Berubahnya laporan penampakan UFO yang semakin modern -jauh modern dari teknologi manusia terkini- muncul sebab sudah ada narasi yang tercangkokkan di alam bawah sadar bahwa alien selalu berteknologi ‘lebih’ canggih dari teknologi manusia terkini.

Oleh sebab itulah di dalam film itu dicetuskanlah istilah cultural expectation. Di dalam tulisan lain mengenai fenomena UFO sebagai fenomena yang bersifat ekspektasi budaya, Steven Novella dalam “UFOs: The Psychocultural Hypothesis” (2000) menyebut perubahan laporan ‘saksi-saksi’ akan fenomena ‘objek’ UFO sepanjang sejarah sebagai bentuk fenomena psikokultural.

Lain dengan telisik mengenai evolusi pelaporan UFO sepanjang sejarah, Kimberley Ball di dalam esai sebagai bagian dari disertasi-nya mengenai folklore dengan judul “UFO Abduction Narratives and the Technology of Tradition” (2010, Cultural Analysis, Vol. 9, 2010) menyorot bagaimana laporan atau narasi mengenai kontak para saksi dengan alien sebagai bentuk modernisasi folklore.

3. Menarik juga jikalau merunut kepada kisah yang diletupkan oleh Däniken bersokongan dengan diseminasi narasi mengenai ancaman dari alien.

Ketika Amerika Serikat telah unggul di dalam perlombaan menguasai luar angkasa melawan Uni Soviet maka potensi penciptaan narasi keunggulan lain yang dimiliki Amerika Serikat di dalam ‘penguasaan’ data tentang makhluk ekstraterestrial atau alien juga signifikan dalam mengontrol kepatuhan publik (Bandingkan juga narasi yang beredar di internet mengenai ide perdamaian dunia lewat penciptaan ‘musuh bersama’ dan Amerika Serikat bisa potensial memimpin menangkal musuh dalam bentuk alien sebagaimana pernah digaungkan oleh Ronald Reagan, presiden Amerika Serikat, dan juga lewat kisah-kisah yang dinisbatkan kepada presiden Amerika Serikat lainnya namun dibabat oleh Jason Colavito dalam tulisannya “Review of Hangar 1: UFO Files S01E01 ‘Presidential Encounters'”).

Publik dengan demikian merasa selalu dalam gelimang galau benak tentang ‘banyak sekali ancaman,’ ‘banyak sekali ketidaktahuan,’ ‘konspirasi dan cover-up,’ dan kebingungan-kebingungan dari kontradiksi yang ada.

Di dalam propaganda politik ada istilah yang disingkat menjadi FUD. FUD atau Fear, Uncertainty, and Doubt yang disebarkan kepada publik akan membuat publik mudah dikontrol dan diarahkan. Kisah yang menarik mengenai pemakaian FUD di dalam memanipulasi publik misalnya dapat dirujuk kepada penggegapgempitaan narasi mengenai ‘perlunya’ Saddam Hussein dijungkalkan (cf. CBC “The Fifth Estate – The Lies that Led to the War”, 2007).

Metanarasi bahwa bumi ‘bisa jadi’ terancam dari aliens yang menyerang dan lalu menguasai umat manusia -dalam propaganda hegemoni Amerika Serikat- akan menguntungkan jika digaungkan terus-menerus lewat pop culture. Faktual atau tidak bukanlah sesuatu yang penting sebab yang penting adalah tercapainya agenda dan terjaganya hegemoni.

Hal  ini akan menciptakan FUD bahwa ada semacam ‘potensi musuh bersama’ terhadap umat manusia yang ‘tidak teridentifikasi jelas’ seperti apanya. Ini menempatkan sebuah ‘cangkokan’ pemahaman bawah sadar bahwa juru selamat yang ada tersisa adalah pengetahuan dan kekuatan [yang dimiliki Amerika Serikat].

FUD-lah yang membuat publik di alam bawah sadarnya selalu merasa takut, tidak pasti, dan ragu mengenai banyak hal. Dalam keadaan seperti inilah, siapapun yang menyodorkan narasi sama secara terus-menerus secara TSM yang akan pelan-pelan menjadi keyakinan publik.

Tulisan ilmiah mengenai gubrak gedubrak ‘teori konspirasi’ adalah semacam perang permainan pikiran dan malah sebuah racun psikologis di antara pilihan percaya atau tidak percaya dapat dirujuk kepada tulisan ilmiah tiga akademisi dari University of Kent, Canterbury, UK (M.J. Wood, K.M. Douglas, R.M. Sutton) yang terbit di jurnal Social Psychological and Personality Science di bulan Januari 2012 dengan judul “Dead and Alive: Beliefs in Contradictory Conspiracy Theories.

[xiv] Semacam referensi pengetahuan yang mendasari konstruk kepada pemahaman atas pengetahuan berikutnya.

[xv] Ini juga sebuah ironi dari tidak telitinya saya membaca sejarah sepak terjang Däniken sebelum menjadi penulis Chariots of the Gods? Unsolved Mysteries of the Past. Padahal di dalam buku terjemahan yang diterbitkan oleh Penerbit Arth sudah diberikan riwayat singkat rekam jejak Däniken yang selain pernah ditahan karena pencurian ia juga lebih dari sekali tertuduh sebagai seorang penipu sebelum akhirnya menerbitkan buku best-sellernya itu.

[xvi] Film ini dapat juga disaksikan lewat jejaring sosial berbagi video YouTube.

[xvii] Colavito memiliki situs resmi yang ia dedikasikan sebagian besarnya untuk menyanggah keyakinan pendukung Ancient Aliens yang telah menjadi semacam cult – keyakinan. Silakan kunjungi situsnya lewat link ini.

[xviii] Inilah ironi dan paradoks dari kehidupan di mana Barat dan Timur sudah menjadi sebuah kampung kecil. Ketersambungan Barat dan Timur lewat televisi dan dunia maya berimplikasi juga pada makin masifnya pengaruh ‘penguasa’ media massa mainstream di dalam membentuk realitas dan juga persepsi publik (atau orang kebanyakan) akan suatu hal. Walaupun demikian, di sisi lain makin tersambungnya Barat dan Timur juga memiliki hal positif dengan makin melimpah-ruah dan terbukanya akses terhadap ‘narasi-narasi’ marjinal yang tidak mendapat tempat di media massa mainstream. Makin pendeknya jarak Barat dan Timur berarti tukar menukar informasi yang sifatnya apokrifa (disingkirkan dari khazanah awam) menjadi dimungkinkan. Tulisan ini adalah manifestasi dari kompilasi beberapa tulisan apokrifa, ‘yang dipinggirkan dari bacaan publik karena tidak menguntungkan narasi besar hegemonik’.

[xix] Menarik berbicara mengenai narasi Däniken ini dalam potensinya mengeruk uang. Tidak berhenti di dalam masalah mendatangakan keuntungan saja, narasi Däniken yang mendasari ‘teori’  Ancient Aliens juga menguntungkan secara politis bagi pembentukan narasi kedigdayaan Amerika Serikat. Sering sekali lepas dari perhatian bahwa di dalam layers of naration mengenai alien selalu ditampilkan ‘cangkokan informasi’ terus-menerus secara TSM bahwa Amerika Serikat-lah penguasa informasi tentang aliens dan hanya Amerika Serikat-lah yang tahu bagaimana berhadapan dengan para aliens.

Bandingkan juga misalnya dengan narasi mengenai holocaust yang disindir oleh Norman G. Finkelstein, seorang akademisi Yahudi anti Zionisme,  di dalam bukunya yang berjudul The Holocaust Industry (2000) yang terus menerus secara TSM digaungkan bahwa ‘hanya Yahudi saja yang menjadi korban dan atau korban terbesar dari Perang Dunia II [lewat NAZI]’ karena berpotensi mendatangkan keuntungan secara politis bagi agenda Zionisme.

Hilangnya Kemanusiaan Kita?

Sebuah terjemahan dari tulisan Joan Fleming. Joan adalah penyair dan esais dari New Zealand yang sedang menyelesaikan Ph.D.-nya dengan fokus kajian etnopoetika penduduk pribumi Australia di Monash University. Terjemahan di bawah ini berasal dari salah satu esainya yang judul aslinya adalah “Congealed in a bureau and reduced to a function” yang teks aslinya dapat dinikmati lewat link ini. Terjemahan dan penerbitan di blog ini telah mendapatkan ijin darinya.

=====================

Sudah tidak jamannya lagi di dalam kajian sastra untuk berbicara mengenai universalitas segala sesuatu. Human Nature[1], Totality[2], dan Truth[3]di dalam kajian sastra telah lama dinistakan. Namun pertanyaan yang patut diajukan adalah apakah istilah-istilah tersebut telah benar-benar mengalami pengendapan, pembongkaran, dan karenanya menjadi tidak berguna lagi? Apakah aliran post-strukturalisme[4] dan non-esensialisme[5] telah membuat kita jauh melampaui pengertian a priori[6] mengenai sifat kodrati manusia yang diterima secara umum dan universal?

Stanley Diamond menyadari bahwa antropologi sejatinya adalah pencarian untuk memulihkan apa yang hilang dari masyarakat Barat. Diamond adalah seorang penyair, antropologis yang radikal namun sangat cerdas, dan juga pionir dalam memberikan kejelasan mengenai istilah “primitif”. Di dalam esai bertahun 1968 dengan judul “The Search for the Primitive”, Diamond khawatir bahwa reduksi sejarah manusia menjadi hanya sejarah alam yang mengutamakan pada linieritas dan kemajuan sejarah akan berdampak pada pandangan mekanistis terhadap masa depan manusia: sebuah masa depan di mana laki-laki dan perempuan “dipadatkan dalam suatu unit administratif dan kemudian dinistakan hanya menuruti fungsinya saja bagi kontribusinya terhadap lancar jalannya sebuah sistem”[7]. Apa yang disebut Diamond sebagai masa depan adalah satu waktu yang sedang kita alami sekarang ini: dunia yang cenderung pragmatis, sekuler, gerak laju ditentukan oleh arah pasar, dan mulai meninggalkan hal-hal yang sifatnya magis.

Diamond merujukkan pemikirannya kepada Levi-Strauss yang mempercayai bahwa antropologi mungkin berkembang dalam rangka sebuah pencarian tentang alternatif terhadap kondisi modern sebagai suatu “ekspresi penyesalan terhadap penakhlukan ideologis dan teknis oleh dunia Barat terhadap seluruh permukaan bumi. Orang Barat di dalam dirinya bergolak hidup dalam satu budaya yang awalnya mereka gunakan sebagai alat untuk menguasai budaya lain”. Etnopoetika, bidang yang aku jadikan tema untuk riset Ph.D., digerakkan oleh dorongan yang sama: sebuah pencarian akan tradisi poetika alternatif dan kemungkinan varian lain di dalam seni sajak oral maupun ritual dari orang-orang pribumi jajahan[8].

Sudahlah jelas bahwa pencarian akan warisan poetika dalam suatu budaya yang dijajah dan terancam punah adalah sesuatu yang problematis, dan dapat saja dikatakan bermuatan politis. Riset model seperti ini dapat menimbulkan beraneka macam pertanyaan yang tidak nyaman untuk diajukan semisal: Apakah riset ini adalah cara lain orang-orang kulit putih mengambil sesuatu dari kami, penduduk pribumi, setelah mereka sebelumnya telah berhasil merampas tanah dan juga menghancurkan cara hidup kami? Apakah etika yang menjadi dasar penyair etno kulit putih dalam membuat poetika pribumi menjadi ‘suatu objek kajian’?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah penting untuk dijadikan pertimbangan di dalam risetku. Lepas dari kekhawatiran yang muncul, aku percaya bahwa penduduk pribumi tidak akan mengacaukan proyek risetku di dalam pencarian pemahaman akan khazanah alternatif tentang bagaimana melihat, mempercayai, menjadi, dan membuat sajak menurut cara mereka.

Di Australia, salah satu narasi yang sedang mencuat adalah bagaimana kebijakan pemerintah [kulit putih] dapat mengubah “masalah suku Aborigin” di bidang pendidikan, pemukiman, dan kesehatan. Banyak sekali jargon-jargon retoris yang dipakai di dalam cita-cita “menutup kesenjangan [antara kulit putih dengan suku Aborigin]” lewat pemaksaan pendidikan terhadap anak-anak suku Aborigin menurut tujuan pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah Australia.

Saat aku mengunjungi Yuendumu[9] pada tahun 2008, aku mendapat kabar bahwa kurikulum sekolah yang diambil dari daerah makmur perkotaan Adelaide dipaksaterapkan ke sekolah di Yuendumu. Kurikulum ini dipaksaterapkan tanpa adanya perubahan pada kurikulum tersebut dan juga pemahaman akan kebutuhan serta harapan komunitas Yuendumu.

Sebuah surat terbuka dari komunitas Yuendumu pada tahun 2012 memperkarakan dihapuskannya program bilingual[10] dari pembelajaran di sekolah-sekolah dan pemberlakuan denda kepada orang tua Aborigin yang tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka.

Para orang tua dari suku Aborigin ini menyatakan di dalam surat terbuka mereka bahwa “kedua bahasa baik bahasa Aborigin maupun bahasa Inggris bagi kami adalah sama pentingnya namun kami ingin agar anak-anak kami tetap dapat menjaga bahasa Warlpiri[11]dan belajar untuk dapat membaca pertama kali dalam bahasa Warlpiri dan bukan dalam bahasa Inggris. Jikalau mereka belajar segala sesuatu dengan bahasa Inggris sebagai bahasa utama maka bahasa Warlpiri akan melemah dan anak-anak kami ini akan kesulitan memahami ucapan orang-orang tua mereka yang berbicara dengan bahasa Warlpiri. Ini membuat kami sedih dan ini membuat anak-anak kami sedih dan hilang akar dan arah sejarah”. Model pemaksaan penyeragaman pendidikan yang dilakukan pemerintah Australia kepada suku-suku Aborigin seperti inilah yang masih mencerminkan pola pikir kolonialis.

Pertanyaan mengenai bagaimana membuat orang-orang dari suku Aborigin dapat menyerupai “kita”[12] selalu saja diajukan. Kebalikannya, kita – orang kulit putih – jarang sekali bertanya bagaimanakah ‘mainstream Australia’[13] dapat belajar, melihat, mewarisi, dan juga memahami komunitas-komunitas suku Aborigin yang ada di Australia.

Pekan kemarin saat aku mengunjungi tempat layanan kesehatan, wanita yang membantuku mengisi formulir mengarahkan juga membenarkanku untuk mencentang “No” pada sebuah pertanyaan di dalam formulir itu yang bunyinya: “Apakah Anda keturunan Aborigin atau penduduk asli gugus kepulauan Torres?”. Wanita tersebut nyeletuk: “kamu dilahirkan di luar negeri, sehingga jelaslah benar bahwa kamu mencentangnya pada kotak No”. Aku menimpali celetuknya dengan balik bertanya apakah dimungkinkan bagi seorang keturunan Aborigin untuk terlahir di luar negeri. Jawaban wanita tadi adalah: “tak banyak dari mereka yang terlahir di luar negeri” lalu aku mendengar ia mengatakan dengan lirih “pergi ke luar negeri adalah pergi ke tempat yang jauh dari rumah mereka”.

Menarik untuk dijadikan renungan bahwa di jaman di mana krisis lingkungan global terjadi seperti sekarang ini, kita orang kulit putih, telah berubah menjadi suatu masyarakat yang mencibir keengganan sekumpulan orang untuk meninggalkan tanah yang mereka percayai dan rasai terkait erat dengan nenek moyang dan para kerabat. Tanpa kita sadari, orang-orang seperti mereka-lah yang justru mencintai lingkungan lebih dari kita namun anehnya malah kita jadikan cibiran.

Pertanyaan utama yang diajukan oleh Diamond di dalam esainya adalah kekhawatiran yang selama ini tidak disinggung di dalam kajian akademik: Bagian manakah yang telah sirna dari kemanusiaan kita? Lalu bagaimana dan mengapa kita kehilangan bagian kemanusiaan itu? Dapatkah kita merebutnya kembali?

Aku sangat yakin bahwa kajian etnopoetika, dengan segala tikung selibat poskolonial, dapat memandu kita dalam berpikir untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

=====================

Endnotes

[1] Human nature = sifat, karakter, insting dasar atau kodrati manusia

[2] Totality atau Totalitas adalah suatu cara melihat realitas sebagai suatu keutuhan berdasar diskursus ala Friedrich Hegel. Totalitas adalah hasil dari momen-momen yang bertautan pada saat tertentu. Truth terletak pada totalitas dan bukan pada tiap momen yang ada. Tiap momen adalah hanya sebagian dari truth.

Setiap periode masa tertentu terdapat truth masing-masing. Truth yang disusun dari proposisi-proposisi tertentu pada suatu masa hanyalah memiliki kebenaran pada masa itu saja sebab perbedaan masa akan membuat perbedaan truth.

[3] Truth dengan T besar, atau Kebenaran dengan K besar, adalah tema yang menjadi sentral di dalam diskusi filsafat, sastra, dan budaya. Apakah Kebenaran itu jikalau setiap orang memiliki referen masing-masing dan juga kondisi yang berbeda-beda?

[4] Penjelasan mengenai post-strukturalisme yang paling gampang dicerna adalah sebagaimana diutarakan oleh Roger Jones, n.d., “Post Structuralism” sebagai berikut:

Pada pertengahan abad 20, terdapat beberapa teori struktural mengenai eksistensi manusia. Di dalam studi bahasa (linguistik), Ferdinand de Saussure menyatakan bahwa makna haruslah digali dari struktur padu padan yang ada di dalam seluruh kalimat dan bukan hanya menyandarkan pada analisis tiap kata yang ada dalam satu kalimat. Bagi Karl Marx, eksistensi manusia adalah dapat dipahami berdasarkan analisis pada struktur ekonomi yang berlaku di masyarakat. Sedangkan bagi Sigmund Freud, struktur kejiwaan manusia dapat dijelaskan lewat kondisi bawah sadarnya.

Pada tahun 60an, gerakan strukturalis yang bermarkas di Perancis, mencoba mensintesiskan ide dari Saussure, Marx, dan Freud tadi. Gerakan ini juga tidak sepakat dengan pandangan kaum eksistensialis yang mengemuka saat itu bahwa manusia menjadi dirinya karena dirinya sendirilah yang menentukan bagaimana ia menjadi manusia. Bagi kaum strukturalis, tiap individu dibentuk lewat struktur-struktur linguistik, sosiologis, dan psikologis di luar kendalinya namun dapat diselidiki lewat metode penelitian tertentu.

Semula disebut sebagai bagian dari kaum strukturalis, dalam perkembangan pemikirannya Michel Foucault kemudian berubah sebagai tokoh terkemuka dari gerakan post-strukturalis. Foucault sepakat dengan kaum strukturalis bahwa bahasa dan masyarakat diatur oleh sistem-sistem, aturan-aturan.

Meskipun demikian, Foucault tidak sepakat kepada kaum strukturalis pada dua hal. Pertama dia tidak sepakat mengenai struktur yang pasti untuk dapat dipakai menjelaskan kondisi manusia. Berikutnya adalah, Foucault meyakini kemustahilan berlepas diri dari sebuah wacana-wacana yang membebat seseorang peneliti dan lalu meneliti sesuatu dengan objektivitas yang puritan.

Filosof lain, Jacques Derrida, mengembangkan dekonstruksi sebagai suatu teknik menyibak kemultitafsiran suatu teks. Derrida, terkena pengaruh pemikiran Heidegger dan Nietzche, menyatakan bahwa segala macam teks mempunyai ambiguitas dan oleh karenanyalah kemungkinan menyelesaikan tafsir atas teks dan membuat tafsiran yang lengkap dari suatu teks menjadi pekerjaan yang musykil.

Kedua aliran pemikiran ini, post-strukturalisme dan dekonstruksi, dapat dianggap sebagai formulasi teoretis sebagai jawaban atas kondisi post-modern. Modernitas mencoba menjelaskan segala sesuatu-nya secara rasional, empiris, dan objektif. Modernitas mengasumsikan bahwa ada truth yang dapat disingkap dan ada suatu cara untuk memperoleh jawaban-jawaban atas kondisi manusia. Post-modernisme justru menegasikan adanya kepastian akan hal ini dan juga meragukan superioritas rasionalitas manusia. Rasionalitas dianggap hanya sebagai bentuk pemahaman yang sifatnya historis.

Bahasan di dalam post-modernisme adalah mengenai ‘ketiadaan cara yang benar-benar rasional’ untuk mengevaluasi sebuah pilihan yang berkaitan dengan penilaian akan truth, moralitas, pengalaman estetika, atau objektivitas.

Sembari kaum post-modernis membongkar hierarki pemikiran-pemikiran yang sebelumnya ada, bentuk pemikiran baru mengenai pemahaman yang muncul ke permukaan: gabungan dari pemikiran-pemikiran akan bermetamorfosis, tikung selempang, dan berkembang sebebas-bebasnya dan masa depanlah yang akan menentukan hasil dari interaksi antarpemikiran ini.

[5] Non-essensialisme atau anti-essensialisme adalah aliran pemikiran yang menolak cara pandang kaum essensialis.

Kaum essensialis berpandangan bahwa dunia mengandung jenis-jenis peng-kelas-an segala sesuatu secara alami yang kodrat (nature)-nya ditentukan pada esensi yang tidak dapat diamati (Medin 1989; Medin & Ortony 1989; Gelman, Coley, & Gottfried 1994 semua via H. Clark Barret, “On the Functional Origins of Essentialism”, Mind & Society, 3, Vol. 2, 2001, pp. 1-30).

Esensialis melihat setiap objek di dunia “memiliki esensi-esensi atau sifat kodrati yang membuatnya sebagaimana mereka mengada sebagaimana diri mereka” (Medin, 1989 via H. Clark Barret, “On the Functional Origins of Essentialism”, Mind & Society, 3, Vol. 2, 2001, pp. 1-30) dan esensialis juga memperlakukan setiap objek yang ada di dunia sebagaimana tiap objek tersebut memiliki aneka properti (atau lekatan atau atribut esensial atau karakteristik) sebagai hasil dari esensi tiap objek itu (Barret, 2001: 3).

Contoh dari pola pikir essensialis adalah sebagai berikut (Richard Twine. n.d. “What is Essentialism?”): laki-laki diyakini lebih agresif dibandingkan perempuan karena adanya perbedaan hormonal di antara kedua seks ini. Implikasi dari pandangan ini adalah ‘perilaku oleh’ dan ‘perlakuan yang berbeda atas’ kedua seks.

[6] A priori adalah pengetahuan yang tidak perlu pembuktian atau argumen empiris lagi karena bersumber dari pengetahuan umum yang sudah ada.

[7] Joan Fleming di dalam tulisannya ini mengutip frase dari Diamond: “[men and women are] congealed in a bureau and reduced to a function” atau “[laki-laki dan perempuan] dipadatkan dalam suatu unit administratif dan kemudian dinistakan hanya menuruti fungsinya saja [bagi kontribusinya terhadap lancar jalannya sebuah sistem]”. Untuk menelusuri lebih jauh gaya berpikir kaum fungsionalis, pengenalan singkat tentangnya dapat dibaca lewat tulisan Ashley Crossman.

[8] Barat = white people = kaum kolonial = kaum penjajah

[9] Yuendumu terletak di pinggir padang pasir Tanami, 300 km ke arah barat laut Alice Spring. Yuendumu yang letaknya terpencil adalah salah satu dari komunitas pemukiman suku Aborigin yang terbesar di wilayah tengah Australia.

[10] Bilingual = bahasa Aborigin dan bahasa Inggris (bahasa orang kulit putih)

[11] Warlpiri adalah salah satu bahasa dari suku Aborigin. Bahasa-bahasa lain yang dipakai suku Aborigin misalnya adalah Arrernte, Warumungu, Jaru. Komunitas Aborigin di Yuendumu memakai bahasa Warlpiri sebagai bahasa utama.

[12] Maksudnya adalah “kulit putih”

[13] Mainstream Australia = kulit putih Australia

Sastra dan Psikologi

Sebenarnya, sastra dan psikologi adalah dua hal yang berbeda. Psikologi adalah ilmu tentang perilaku (Kendler, 1963: 2) dan bukan hanya studi ilmiah perilaku namun juga pikiran (Kassin, 2008: 1). Sedangkan definisi yang lebih lengkap diberikan oleh Kagan dan Haveman. Mereka mendefinisikan psikologi sebagai:

Psychology is the science that systemically studies and attempts to explain observable behavior and its relationship (1) to the unseen process, mental and physical that go on inside the organism, and (2) to external events in the environment (1976: 8).

Sebagai simpulan, psikologi adalah ilmu yang berusaha mencari jawaban atas problematika jiwa (psyche) dan atau mencari gambaran tentang bagaimana pikiran (mind, mental, attitude) manusia dapat mempengaruhi perilaku atau respon manusia.

Lalu bagaimanakah 2 hal yang berbeda, psikologi dan sastra, bisa saling bertaut?  Sudah merupakan kemahfuman bahwa sastra adalah representasi kehidupan manusia. Dan oleh sebab itulah maka psikologi, sebagai sebuah ilmu yang “menganalisis” manusia seperti telah diterangkan di atas, masuk ke dalam studi sastra.  Wellek dan Warren (1970: 81) menjabarkan tentang bagaimana psikologi dapat diterapkan di dalam studi sastra. Ada empat hal yang menjadi perhatian yaitu: studi tipe karakter psikologis seorang pengarang, studi tentang proses penciptaan suatu karya, studi mengenai tipe atau teori psikologi yang muncul di dalam karya, dan yang terakhir adalah efek suatu karya terhadap penikmatnya. Sekarang menjadi jelaslah sudah bagaimana ilmu psikologi dapat masuk di dalam studi sastra.

Sebenarnya, studi sastra dengan pendekatan psikologi disulut oleh Freud dengan pernyataan bahwa:

The artist is originally a man who turns from reality because he cannot come to terms with the demand for the renunciation of instinctual satisfaction as it is first made, and who then in phantasy-life allows full play to his erotic and ambitious wishes. But he finds a way of return from this world of phantasy back to reality; with his special gifts, he moulds his phantasies into a new kind of reality, and men concede them a justification as valuable reflection of actual life. Thus by a certain path he actually becomes the hero, king, creator, favourite he desired to be, without the circuitous path of creating real alterations in the outer world (dalam Wellek dan Warren, 1970: 82).

Dengan kata lain, Freud menyatakan bahwa setiap penyair adalah “pelamun” yang lari dari kenyataan hidup. Menurut Freud, kreativitas adalah bentuk dari pelarian terhadap apa yang dialami seorang pengarang. Jadi kesimpulan tentang kepribadian pengarang dapat diperoleh lewat studi atas beberapa karya pengarang (Hardjana, 1994: 63 – 64) karena, masih menurut Freud, “setiap karya sastra adalah sebuah museum alam bawah sadar, suatu bentuk kontemplasi dari alam bawah sadar lewat sesuatu yang mungkin diejawantahkan” (dalam Thorpe ed., 1967: 75). Dan bentuk pengejawantahan tersebut bukan melalui hal yang bersifat destruktif namun kepada sesuatu pelarian total dari represi dan bahwa keajegan pola pada karya-karya suatu pengarang merupakan proyeksi mental atau jiwa seorang pengarang. Sebagai misal, studi terhadap karya-karya Iwan Simatupang dapat atau tidak jika dikaitkan dengan bentuk escapism kematian istri tercinta dan kemudian dari studi tersebut dapatlah dibentuk suatu analisis kepribadian Iwan Simatupang. Absurditas sebagai suasana yang muncul di dalam karya-karyanya akan dapat menampilkan suatu kesimpulan tentang bagaimana keadaan jiwa Iwan Simatupang. Sedang pada kajian sastra pop, sebagai misal, lirik lagu-lagu Ahmad Dhani dapatlah dijadikan objek mengenai proyeksi jiwa Ahmad Dhani yang dipenuhi “cinta mati”, “cinta bertepuk sebelah tangan”, dan “cinta yang harus membunuh saingan”.

Ketika berbicara tentang studi terhadap proses kreatif suatu karya, perlu diingat teori psikoanalisis menyatakan secara gamblang bahwa kelahiran suatu karya tidaklah hanya melulu karena kebutuhan seseorang untuk melarikan diri dari kenyataan. Bahan yang dimiliki seseorang di alam bawah sadarnya masih membutuhkan proses kreatif; pengelolaan dan penciptaan (Crews dalam Thorpe ed., 1967: 85). Analisis terhadap proses kreatif membutuhkan pengetahuan tentang riwayat hidup dan dokumen-dokumen pribadi seorang pengarang yang relevan dengan kelahiran suatu karya. Tolok ukur studi adalah kombinasi antara pikiran sadar dan bawah sadar. Pertanyaan yang bisa dicarijawabnya adalah keadaan mental yang bagaimana yang dialami seorang pengarang dan alasan logis seperti apakah sehingga dapat muncul sebuah karya atau dapatlah dikatakan bahwa kajian ini berusaha menggambarkan persepsi pengarang terhadap realitas yang dialaminya. Analisis model ini berusaha membedah bagaimana seorang pengarang “merespon dan mentransfer” personalisasi dunia nyata ke dalam dunia fiksi[i].

Sajak “Senja di Pelabuhan Kecil”[ii] dapatlah dijadikan objek kajian psikoanalisis tentang keadaan mental dan proses kreatif Chairil Anwar pada saat sajak diciptakan. Proyeksi muram, diksi yang membuat sesak, pengetahuan akan cinta Chairil Anwar yang tertolak oleh Sri Ajati dan keadaan sekitar Chairil Anwar pada saat itu dapatlah menjadi fokus di dalam analisis sajak tersebut. Analisis model ini yang telah berhasil dilakukan dapat kita baca misalnya pada kajian Bushra Naz (2011) ketika membedah karya Franz Kafka, The Hunger Artist[iii] dan Asep Supriadi (2006)[iv] manakala menghadapi karya Habiburrahman El-Shirazy “Ayat-ayat Cinta”[v]. Buku yang bagus untuk mulai mengelindani analisis model ini adalah Proses Kreatif (1983) buah tulis Brewster Ghiselin.

Bentuk lain aplikasi teori psikologi di dalam sastra adalah studi mengenai tipe kepribadian atau teori psikologi yang muncul di dalam sebuah karya sastra dengan menggunakan karakter di dalam sebuah karya sebagai objek kajian. Dus, kajian model ini dapat dikatakan bersifat intrinsik. Teori-teori psikologi dipakai di dalam menganalisis keadaan jiwa seorang karakter. Sebagai misal, di dalam cerita pendek Edgar Allan Poe “The Fall of The House of Usher”[vi] dapatlah digunakan analisis kelainan jiwa psikoneurotik berdasar teori psikologi George W. Kisker terhadap karakter Roderick Usher seperti dilakukan Sri Rahayu (2002). Contoh lain adalah penggunaan model motivasi hirarki 6 tingkat Abraham Maslow terhadap karakter Clyde Griffiths di dalam novel masterpiece-nya Theodore Dreiser “An American Tragedy”[vii] atau bisa juga analisis karakter tersebut dilakukan dengan mengkaji konflik batin tokoh Clyde Griffiths dengan model konflik struktural batin ala Sigmund Freud; id, ego, dan superego. Teori psikologi Sigmund Freud ini juga bisa dipakai di dalam analisis kepribadian karakter-karakter yang ada di dalam karya Stephen Crane “The Open Boat”[viii]. Sedangkan contoh yang lain adalah semisal penggunaan teori mimpi Jung di dalam menganalisis mimpi Santiago di dalam “The Old Man and The Sea”[ix] sehingga dapat dibentuk gambaran mengenai kepribadian Santiago yang utuh.

Saat berbicara studi psikologi terhadap karya sastra bilamana dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap pembaca, maka operasionalisasi studi dapat dilakukan dengan analisis terhadap perubahan sikap dan atau perilaku yang terjadi setelah pembaca menikmati sebuah karya sastra. Contoh analisis model ini adalah karya Harriet Beecher Stowe “Uncle Tom’s Cabin”[x]. Novel ini mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap pembacanya sehingga sejarah Amerika mengalami perubahan (Kaufman, 2006: 18). “Uncle Tom’s Cabin” berhasil mengubah pandangan sebagian besar orang Amerika pada saat itu mengenai definisi baik dan buruk perbudakan sehingga muncul gerakan abolitionist. Contoh lain aplikasi studi psikologi pada hubungan karya sastra dengan pembacanya adalah misalnya analisis terhadap karya Habiburrahman El-Shirazy “Ayat-ayat Cinta” dengan sebuah hipotesis apakah karya ini berhasil mengubah persepsi psikologis masyarakat Indonesia mengenai poligami sebagaimana dengan kajian yang berbeda[xi] Sukirno (dalam Efendi (ed.), 2008: 265) menyimpulkan sebuah klaim mengenai kesuksesan novel “Ayat-ayat Cinta” di dalam mencelupi persepsi psikologis masyarakat dunia [dan tentu saja masyarakat Indonesia] tentang kebaikan poligami di dalam Islam dan atau kebaikan ajaran Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Crews, Frederick C.  1967. “Literature and Psychology” dalam Relations of Literary StudyEssays on Interdisciplinary Contributions. Thorpe, James (ed.).  New York: Modern Language Association of America.

Efendi, Anwar (ed.). 2008. “Karakteristik Wacana Habiburrahman El Shirazy dalam Novel Ayat-ayat Cinta: Kajian Analisis Wacana Kritis” dalam Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Ghiselin, Brewster. 1983. Proses Kreatif terjemahan Wasid Soewarto dari judul asli The Creative Process. Jakarta: Penerbit Gunung Jati.

Goldmann, Lucien. 1975. “The Genetic Structuralist Method in the History of Literature” di dalamTowards a Sociology of the Novel terjemahan Alan Sheridan dari judul asli Pour une sociologie du roman. London: Tavistock Publications.

Hardjana, André. 1994. Kritik Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kagan, Jerome dan Ernest Haveman. 1976. Psychology: An Introduction third edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Kassin, Saul. 2008. “Psychology.” Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation.

Kaufman, Will. 2006. The Civil War in American Culture. UK: Edinburgh University Press.

Kendler, Howard. 1951. Basic Psychology. California: Santa Barbara University.

Naz, Bushra. 2011. “Hope of Death as The Possibility of Life: A Psychosemiotic Reading of Franz Kafka’s The Hunger Artist as the Narrative of Existence into Non Being” dalam Pakistan Journal of Social Sciences (PJSS), Vol. 31, No. 1 (June 2011), hlm. 65-77.

Rahayu, Sri. 2002. Psychoneurotic Disorder in Roderick Usher in “The Fall of The House of Usher” by Edgar Allan Poe (Psychological Analysis) sebuah Skripsi. Surakarta: FKIP Universitas Sebelas Maret.

Supriadi, Asep. 2006. Transformasi Nilai-nilai Ajaran Islam dalam “Ayat-ayat Cinta” Karya Habiburrahman El-Shirazy: Kajian Interteks, sebuah Thesis. Semarang: Universitas Diponegoro.

Wellek, René dan Austin Warren. 1970. Theory of Literature 3rd Edition. New York: Harcourt, Brace & World, Inc.


[i] Kajian model ini bertumpang tindih dengan pendekatan Strukturalisme Genetik ala Lucien Goldmann (bdk. Goldmann, 1975: 156-171).

[ii] Sajak karya Chairil Anwar yang ditulis pada tahun 1946.

[iii] Cerita pendek yang terkenal dari Franz Kafka, terbit pertama kali di Die Neue Rundschau tahun 1922. Judul asli cerpen ini adalah Ein Hungerkünstler.

[iv] Meskipun Asep Supriadi tidak menggunakan kajian psikologi di dalam analisisnya terhadap novel Ayat-ayat Cinta, namun ketika melalui pisau Intertekstualitas (Kajian Hipogramatika) Asep Supriadi menyatakan novel ini adalah hasil “resepsi aktif Habiburrahman El-Shirazy terhadap pembacaan teks-teks [Quran dan Hadist]” sehingga pandangan penulis terhadap isu poligami tercermin di dalam novelnya, maka ia bisa juga dikatakan sudah melangkah ke model analisis psikologi (cf. Supriadi, 2006: xi).

[v] Novel Ayat-ayat Cinta terbit pertama kali tahun 2004 dan diterbitkan oleh Basmala & Republika.

[vi] Cerita pendek karya Edgar Allan Poe. Terbit pertama kali September 1839 di majalah Burton’s Gentleman’s Magazine. Cerita ini kemudian terbit tahun 1840 di dalam kumpulan karya Edgar Allan Poe berjudul Tales of the Grotesque and Arabesque.

[vii] Sebuah novel, terbit pertama kali tahun 1925, penerbit: Boni & Liveright.

[viii] Cerita pendek, terbit pertama kali 1897 di Scribner’s Magazine, lalu masuk di dalam kumpulan cerita pendek karya Stephen Crane pada tahun berikutnya, 1898, berjudul The Open Boat and Other Tales of Adventure, penerbit: Doubleday & McClure.

[ix] Sebuah novella yang ditulis oleh Ernest Hemingway pada tahun 1951 dan diterbitkan oleh Charles Scribner’s Son pada tahun 1952.

[x] Terbit 1852, penerbit: John P. Jewett and Company. Novel ini diyakini oleh Will Kaufman sebagai penyulut Perang Saudara di Amerika pada tahun 1861-1865 (Kaufman, 2006: 18).

[xi] Dikatakan berbeda sebab Sukirno mengkaji novel “Ayat-ayat Cinta” dengan analisis wacana. Justru yang menjadi pertanyaan dan belum dijawab oleh Sukirno adalah mengenai tolok ukur keberhasilan wacana yang disampaikan oleh novel “Ayat-ayat Cinta” mengenai kebaikan ajaran Islam terhadap para pembacanya: Apakah berdasar jumlah cetak ulang novel tersebut dan sukses besar ketika diangkat ke layar lebar? Ataukah “hanya” karena novel tersebut sudah menepati karakteristik wacana kritis sehingga dikatakan berhasil? (bdk. Sukirno dalam Efendi, 2008).

Creative Commons License
Sastra dan Psikologi by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.