Perubahan

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Kecuali waktu tak bergeming, jarum jam tidak beranjak, maka tak ada perubahan terjadi. Dus, perubahan tak bisa dihindari.

Perubahan bisa menakutkan namun bisa juga menyenangkan dan atau mencerahkan. Jikasanya perubahan selalu berarti menyenangkan dan atau mencerahkan pastilah tidak ada yang ribut akannya.

Saat perubahan telah dipahami dengan proses yang terikat dengan bergeraknya waktu maka perubahan adalah proses menuju keadaan di masa mendatang. Syahdan, terdapatlah ucapan yang penuh hikmah bahwa keadaan di masa mendatang yang lebih baik disebutlah keadaan tersebut sebagai sebuah keberuntungan. Sebaliknya, keadaan di masa mendatang yang berkurang kebaikan disebutlah sebagai kerugian. Benarlah isi dari perkataan ini. Oleh sebab perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan melibatkan banyak faktor karena itulah dipakai istilah keberuntungan bagi keadaan di masa mendatang yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.

pic credit: inceif.org

Perubahan (pic credit: inceif.org)

Walaupun semua tahu bahwa perubahan adalah sebuah hal yang niscaya, beberapa orang kalis dengan perubahan. Kekalisan terhadap perubahan bisa dikarenakan ia berada dalam posisi yang nyaman; tidak ada beban dan konflik. Pada beberapa orang lainnya, kekalisan terhadap perubahan bisa terjadi karena ia tidak pernah melihat hidup atau berusaha melihat hidup penuh dengan hikmah kebijaksanaan.

Mari kita tengok kisah Bruce Hornsby. Bruce saat menulis “The Way It Is” sebenarnya sudah melihat ketimpangan yang ada di sekitarnya. Ia melihat dan menuliskannya dalam sebuah dendang yang melankolis. Masalahnya adalah ia bukan berasal dari kelompok marjinal. Ia kulit putih dan berasal dari keluarga kaya. Bapaknya seorang jaksa dan juga pengembang lahan yasan. Benar bahwa Bruce kecil dididik di dalam keluarga relijius sehingga ia lebih bisa merasakan ketimpangan namun sebagaimana Kartini melihat ketimpangan yang ada sebagai perlunya kebijakan yang lebih baik oleh Belanda di dalam “mengurus” pribumi saja dan bukan perlunya Belanda sebagai biang kesengsaraan dan harus segera angkat kaki, Bruce dengan ragu-ragu dan suara lamat-lamat menyuarakan perlunya perubahan demi kemanusiaan dan perbaikan hidup kelompok marjinal. Bukankah Kartini yang sejak kakeknya sudah mendapatkan peluk mesra dan keistimewaan dari Belanda juga tidak terlalu radikal di dalam menyuarakan perubahan? Mungkin semua akan berbeda jika Bruce atau Kartini berasal dan besar dalam keluarga dan kehidupan yang marjinal.

Meskipun demikian, bukan berarti Bruce dan Kartini tidak kemudian disebut tidak kasih inspirasi bagi perubahan yang lebih besar. Kadang, atau malah sering, suara lamat-lamat bisa menginspirasi perubahan yang lebih radikal. Dendangnya Bruce dipakai oleh 2Pac Shakur untuk membuat dendang yang lebih ganas dan trengginas lewat “Changes” sepenaka konon Kartini berubah menjadi ikon perempuan yang radikal [dan bukan lamat bersuara] ketika imajinya dipoles dengan propaganda oleh Gerwani di tahun 50-an atau kalau kini direka ulang oleh kaum feminis liberal. Bicara perekayasaan imaji sebuah tokoh menjadi lunak, moderat, radikal, murah hati, atau keji maka siapapun bisa bicara mengenai bagian mana dari semua pernyataan atau fragmen hidup dari sebuah tokoh hendak dicuplik untuk dibuatkan narasi yang khusus. Yang beginian memang terkait dengan agenda dan sifatnya politis.

Si Fulan yang memimpin penumpasan gerombolan pemberontak bisa saja disebut sebagai seseorang yang pahlawan namun bisa saja disebut sebagai penjahat kemanusiaan. Semua tergantung bagaimana narasi mengenai si Fulan ini dianyam. Penganyaman narasi tidak pernah tidak netral. Sebuah cerita yang baik, sebuah narasi, membutuhkan pahlawan dan penjahat bukan? Jika penganyam narasi meletakkan semua menjadi pahlawan, lalu bagaimana jalan cerita menjadi plausible dan enak diceritakan? Jika tidak ada pahlawan untuk dihurakan dan diperingati dan penjahat untuk dikutuksumpahi, bagaimana dongeng sebelum tidur bisa memberikan propaganda kepada bocah-bocah yang bakal meneruskan kehidupan dan impian situa-tua akan keadaan di masa depan atau mungkin membalaskan dendam atas kekalahan para pecundang?

Ah, kalau yang beginian, kita akan teringat kepada Rashomon! Ya, Rashomon mengajari kita bagaimana sebuah peristiwa bisa diceritakan sesuai “kebutuhan” penganyam cerita atau penyebar cerita. Tentu, semua memiliki argumen masing-masing atas versi cerita yang mereka buat atau sebarkan.

Piye Kabare Le (pic credit ModDB Community)

Piye Kabare? Bukan salah dan bodoh sopir truk jika ia mempunyai versi sendiri mengenai kebaikan dan kemajuan di masa pemerintahan Soeharto dibandingkan keadaan di masa pemerintahan Jokowi (pic credit ModDB Community)

Kembali kepada 2Pac. 2Pac tahu bagaimana hidup dan kehidupan kelompok marjinal. Ia mengalami kehidupan yang sangat keras dan solid serta gilanya persaudaraan thug. Itu jika kita sempat mentrenyuhi “Life Goes On.” Bukankah ia begitu radikal sehingga bisa memimpikan surga bagi kaumnya; marjinal dan thug?

Perubahan adalah niscaya; entah berjalan dengan pelan atau cepat atau berjalan dengan moderat atau radikal. Lepas dari itu, saat mengatakan perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari sedang di sisi lain ia berada di masa akan datang, cara setiap orang melihat perubahan atau menginginkan bagaimana perubahan dilakoni berbeda-beda tergantung pada keadaan masing-masing. Kisah Bruce dengan 2Pac adalah sebuah contoh bagaimana keinginan perubahan pada fenomena yang sama; pada tragedi yang sama, diniatkan berjalan dengan cara berbeda. Atau dalam konteks yang lebih umum, perubahan yang tak terelakkan kerap diinginkan dengan cara yang berbeda tergantung keadaan masing-masing.

Lain lagi dengan perubahan bagi mereka yang hidup dengan tidak arif melihat dan menyikapinya. Bagi yang bijak melihat bagaimana perubahan bisa dan memang diinginkan berbeda sesuai dengan keadaan masing-masing, mereka akan meraih jalur kompromi. Jalur kompromi bisa mengakomodasi perubahan yang dinginkan secara berbeda tiap orang sehingga minim kekalisan dan konflik. Mereka yang tidak arif menginginkan bagaimana perubahan terjadi, biasanya karena terlalu bernafsu, egois, dan atau delusional. Yang muncul dari keinginan yang seperti ini biasanya chaos atau penindasan baik di dalam proses maupun di dalam “hasil sementara” dari titik yang hendak dicapai dan disebut sebagai keadaan yang berubah itu.

Ah, mereka yang rakus, gelap mata, dan atau delusional!

Dan perubahan karena melibatkan begitu banyak faktor di dalam perjalanannya, membuat ia menjadi sesuatu yang tidak pasti. Sesuatu yang tidak pasti, konon membuat manusia menjadi takut, cautious, khawatir, atau ketar-ketir. Di satu sisi hal ini baik karena ketidakpastian membuat manusia menjadi lebih matang dan berhati-hati membuat langkah dan terkondisikan merancang cita-cita namun di sisi lain -bagi yang religius- kian mengukuhkan betapa lemahnya manusia di dalam kompleksnya kehidupan dan betapa Tuhan hanyalah satu-satunya tempat bersandar atas segala ketidakpastian.

Dan takut, dan takut memang manusiawi. Itu mengingatkan kita pada kisah Stevie Nicks saat ia berada pada cabang penentu langkah besar di dalam hidupnya. Ia berada pada pilihan serupa Robert Frost yang terpaku sejenak berkontemplasi adakah ia hendak meneruskan usaha perkebunan milik bapaknya atau ke kota menjadi penyair dan mungkin bisa berkecukupan dan terkenal. Dua pilihan yang berat. Ia merasa tak punya hasrat berjamahan dengan pohon perkebunan dan lebih bersuka dengan sajak-sajak mengenai alam. Robert adalah pribadi imajinatif dan bukan seseorang yang bekerja di kebun yang mungkin membosankan. Ia bukan Saleh-nya Ratna di Layar Terkembang. Ia adalah si Robert! Maka muncullah The Road Not Taken.

Ya, Stevie muda berada pada keadaan itu. Saat itu ia dalam keadaan bimbang apakah akan meneruskan cita cintanya akan dendang kelu ataukah akan berubah haluan. Bapaknya memberikan dia pilihan akankah berterusan seperti itu atau lebih baik kuliah. Ia berkontemplasi dan muncullah Landslide. Stevie menetapi hati bahwa ia harus berani menerima perubahan. Benar, segala perubahan adalah menakutkan namun ia tak bisa ditolak. Waktu berjalan dan usia bertambah, begitulah bagaimana perubahan tak bisa dicegah.

Saat seperti itulah ketika sebuah kisah Zen bisa meneduhkan hati yang sedang galau akan perubahan. Alkisah, seorang ksatria tertangkap oleh musuh dan dimasukkan ke dalam jeruji penjara. Ia tak bisa tidur dan gelisah karena yang ada di dalam pikirannya adalah bahwa esok pagi ia akan disiksa dan lalu dibunuh. Seorang guru Zen melihat itu dan bertanya padanya mengapakah ia terlihat gelisah. Ksatria tadi menceritakan sumber kegelisahannya. Ia gelisah sebab ia tidak tahu apa yang bakal terjadi esok hari: apakah ia akan disiksa dan lalu dimatikan ataukah ia akan diampuni dan hanya dipenjara sebagai alat tukar tawanan kelak ataukah … Guru Zen menenangkan ksatria tadi dengan mengatakan bahwa “besok adalah ilusi, yang real adalah waktu kini”. Mendengar nasehat itu, ksatria tadi hilang gelisah dan bisa tidur pulas.

Bukan kemudian kisah Zen yang berjudul “The Present Moment” tadi membuat kita menganggap besok itu adalah ilusi yang tidak penting. Bukan itu pesan dari kisah Zen itu. Mempersiapkan segala sesuatu buat besok hari adalah penting namun terlalu gelisah dengan apa yang terjadi pada besok hari justru bisa merusak apa yang sedang kita hadapi. Justru yang sedang kita hadapi adalah yang nyata. Ia menjadi bagian dari keadaan yang bakal terjadi masa mendatang oleh sebab itu jangan gelisah akan masa datang merusak sesuatu yang kini. Sangat tidak lucu jikalau seorang ksatria menghadapi siksaan atau hukuman mati dalam keadaan kurang tidur dan otot kaku karena begadang penuh ketegangan. Toh, belum tentu ia dimatikan besok bukan? Kurang lebih seperti itu.

Jadi, sampai dimana kita tadi? Oh, di sini. Benar begitu, di sini kita nikmati kini dan rencanakan sesuatu yang nanti.

Rujukan

2Pac Shakur. 1996. “Life Goes On.” All Eyez on Me music album. Death Row, Interscope. CAn-Am Studio, LA

2Pac Shakur. 1998. “Changes.” Greatest Hits music album. Death Row, Interscope, Amaru.

Akira Kurosawa. 1950. “Rashomon”. movie. Daiei Film Co. Ltd.

Bruce Hornsby. 1986. “The Way It Is”. The Way It Is music album. RCA – Studio D, Sausalito, CA.

Robert Frost. 1916. “The Road Not Taken.” Mountain Interval. New York: Henry Holt and Co.

Stevie Nicks. 1975. “Landslide.” Fleetwood Mac music album. Reprise Records.

Sutan Takdir Alisjahbana. 1936. Layar Terkembang. Jakarta: Balai Pustaka.

“The Present Moment.” comp. by John Suler. Zen Stories to Tell Your Neighbours. http://users.rider.edu/~suler/zenstory/present.html

 

 

All I Want Is Everything

What will you recall when you read the title? You may find yourself remembering one of Def Leppard’s songs “All I Want Is Everything”. Thus by doing so, you make my point here.  Though this song from Def Leppard is actually about a man living with HIV/AIDS (All I Want Is Everything(Def Leppard Song), Wikipedia) but as we all know that the generation of meaning of a work of art may be different from the author’s intended meaning. That is why I talk about this song from my personal perspective, my point of view.

Listening this song may bring us into three good movies entitled “The Lost Bladesman”, “Bruce Almighty”, and “The Butterfly Effect”. As the song gives you a question: “All I want is everything, am I asking too much?”, another question comes ahead: can we get everything in our life? You may answer the questions quite easily. But, here is my reply.

Yes, you are asking too much and being fool when you want to have everything. And frankly, you cannot have everything because it will not happen in reality. You have to choose and let go some things. Wanting everything will make you suffer. I can take this into a dialogue from “The Lost Bladesman” between a general and a monk. The monk tells the general to live on the heaven path and not to live in a hell. The general will continue to live in hell if he wants everything. If everyone wants everything and does not limit himself, everyone will always excuse himself from deviating the correct path. This uncontrolled-minds will make unpeaceful world.

Imagine when everyone has everything they want. The world will stop; it collapses. When one has everything, he will not need others. There will be no love and compassion. We enjoy and live this world because of others. We are proud of ourselves because we are needed by others; our being is appreciated. Thus we really experience this world colorfully. This great design of the world was and is created by God to give us the chance to experience this world meaningfully. “Bruce Almighty” teaches us what happens when everyone gets what they want. Have you ever really thought what happens if you want everyone has the same faith as yours? Have you ever imagined if everyone wants to be beautiful and they get it. I know this may sound goofy for you, but how can you see the colors of the world when you see all things have no defect? How can you say that you are a true-believer when you have no one to address as a non-believer? Will you call someone as beautiful one when everyone is beautiful?

What makes this reply correlate to “The Butterfly Effect” is a lesson from the movie. We may fail, be lack of something, and not have something in our life. However, this condition essentially lets other happenings which involve others occur. The plot of your life needs others. How can we need each other if everyone has no flaw and imperfection?

Don’t you think it will be a catastrophe to have no one to talk to; a talk about your failure and misfortune that connects your heart to whom you talk to? Don’t you think it will be so difficult to make a talk without any story of failure or your fear of being failure? So forgive your failure, enjoy your lackness, and appreciate others’ lackness and “perfectness” because you need them to make you and others exist in this colorful world; or are you now singing Duran Duran’s “Planet Earth”?

So, where was I? Ouch, talking about Def Leppard’s song “All I Want Is Everything”, wasn’t I? In conclusion, let me put this way. According to this song, it is obvious that you’ve got to remove the want to have everything, you’ve got to take this and let loose that, vice versa. This will make your life plot flow. Don’t regret it because after all every choice has its effect and lost. You cannot have everything as you cannot win everything. When you start to regret something, remember that this is life “Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar” (Chairil Anwar, 1993: 41). It is natural to contemplate “what if” like Frost’s “The Road Not Taken” but can you draw precisely and deal the other consequences that may come from choosing the other choice you didn’t take?

REFERENCES

All I Want Is Everything (Def Leppard Song). 7 September 2009. Retrieved 19 December 2011 from Wikipedia:

http://en.wikipedia.org/wiki/All_I_Want_Is_Everything_(Def_Leppard_song)

Anthony Rullen et al. (Producers) & Eric Bress and J. Mackye Gruber (Directors). 23 January 2004. The Butterfly Effect[motion picture]. USA: New Line Cinema.

Anwar, Chairil. 1993. “Tuti Artic” in Deru Campur Debu. Jakarta: Dian Rakyat.

Duran Duran. 1981. Planet Earth. On Duran Duran [7″ and 12″ vinyl singles]. London, UK: Red Bus Studios.

Elliot, Joe. 1996. All I Want Is Everything [recorded by Def Leppard]. On Slang [CD]. Ireland: Fine Bow Lane Studios.

Frost, Robert. 1920. “The Road Not Taken” in Mountain Interval. New York: Henry Holt and Company.

Leung Ting (Producer) & Alan Mak and Felix Chong (Directors). 28 April 2011. The Lost Bladesman [motion picture]. Hongkong: Easternlight Films.

Tom Shadyac et al. (Producers) & Tom Shadyac (Director). 23 May 2003. Bruce Almighty [motion picture]. USA: Universal Pictures.

Creative Commons License
All I Want Is Everything by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.
Based on a work at dipanugraha.blog.com.

Sastra dan Dekonstruksi

Dekonstruksi adalah suatu istilah yang kerap dikaitkan dengan Jacques Derrida meskipun Derrida sendiri agak ogah-ogahan dengan istilah tersebut (bdk. Zehfuss dalam Edkins dan Williams ed., 2010: 182) dan menyesal karena dianggap “menetapkan” takdir makna istilah dekonstruksi sebagaimana diamini orang-orang (Lawlor, 2006). Dekonstruksi sebagai suatu bentuk filosofi dianggap sesuatu yang radikal, ia menantang aliran filsafat yang sudah mapan (mis. Fenomenologi ala Husserl maupun Heidegger dan Strukturalisme ala Saussure), bikin masuk angin teolog (mis. karena tulisannya tentang Messianisme dan Abraham), buat geleng kepala namun salut sejarawan (karena tulisan sejarah selalu terbuka untuk diedit), tak ketinggalan setidaknya bikin kembung kalangan akademisi filsafat namun justru oleh sebagian orang dianggap menginspirasi gerakan sayap kiri, feminisme, skeptisme, dan poskolonialisme (cf. Sterne, 2004 dan Reynolds, 2010). Inti dari pemikiran Derrida lewat dekonstruksi adalah pengunjukan bahwa bagaimana bahasa telah memberi batasan dan kondisi bagi pikiran. Derrida mendobrak batasan tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada meaning dan hirarki di dalam bahasa yang diyakini tetap sebagai tetap melainkan terus berubah dan tidak tertentukan (undecidables) (Dorbolo, 2004).

Derrida berpendapat bahwa pemikiran Barat disusun oleh dikotomi oposisi biner dan ia menyebutnya sebagai ”metafisika kehadiran” atau dapat juga disebut sebagai “metafisika”. Dua penyusun oposisi biner ini bersifat saling berlawanan dan eksklusif satu sama lain namun ko-eksisten. Kata “siang” berlawanan dengan “malam”, kata “siang” tidak bisa menggantikan kata “malam” karena keduanya eksklusif dalam kediriannya, dan kata “siang” tidak signifikan jika tidak ada pembandingnya, yaitu kata “malam” (bdk. Lao Tzu, 1995). Lebih jauh lagi, Derrida melihat di dalam pemikiran Barat sejak jaman Plato bahwa di dalam oposisi biner tersebut ada peletakan tatanan hierarkis atasnya. Derrida melihat bahwa meskipun ko-eksisten namun salah satu istilah atau kata tersebut dianggap mempunyai derajat yang lebih tinggi dibanding lainnya; “siang” lebih bagus daripada “malam”, “kehadiran” lebih baik daripada “absen”, ”positif” lebih duluan daripada ”negatif”, dan bahwa “ujaran” lebih unggul daripada “tulisan” (Reynolds, 2010).

Perlu untuk dicatat, bahwa salah satu strategi dari dekonstruksi adalah pembalikan posisi dari hirarki oposisi biner (Reynolds, 2010). Derrida di dalam bukunya Of Grammatology mengkritisi keadaan pemikiran yang menyatakan bahwa ”ujaran” lebih baik daripada ”tulisan”. Ada dikatakan bahwa “tulisan” adalah bentuk representasi yang nilainya lebih rendah bila dibandingkan dengan “ujaran” karena apa yang dikatakan lewat “ujaran” merupakan keluaran yang langsung dari tubuh sehingga dianggap lebih dekat dengan pikiran asli (Selden dkk., 1997: 171-172) dan ”ujaran” sebagai simbolisasi realitas yang pertama menurut pemikiran strukturalis dikatakan lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan ”tulisan” yang merupakan simbolisasi dari ”ujaran” (Reynolds, 2010). Perlu diketahui bahwa pada pemikiran strukturalis, dikatakan bahwa kita hanya “mengalami realitas” namun tidak akan bisa mengetahui realitas-di-dalam-kesejatiannya. Untuk melihat realitas kita harus menggunakan simbol, kode, atau tanda. Simbol, kode, atau tanda bukanlah realitas namun “pengalaman akan realitas” terpaksa kita representasikan ke dalam bentuk simbol, kode, atau tanda agar realitas tadi menjadi diketahui. Dengan melakukan demikian maka pengertian memahami realitas adalah “mengetahui realitas lewat tanda dan sistem tanda”. Jikalau intensi representasi realitas yang harus ditransferkan muncul ”ujaran”, maka berdasar pemikiran strukturalis, ”tulisan” adalah bentuk derivasi kedua dari representasi akan realitas. Jadi urutannya adalah ”realitas” –> ”ujaran” –> ”tulisan”. Pemikiran demikian lalu menempatkan ”tulisan” jauh ketepatan dan kesesuaiannya dibandingkan ”ujaran” di dalam merepresentasikan realitas. Karena ”tulisan” merupakan simbolisasi dari simbol yang sudah lebih duluan (”ujaran”) (Lye, 1998; Reynolds, 2010). Argumen Derrida menentang pendapat tersebut. Derrida setuju hanya pada bagian bahwa baik ”ujaran” maupun ”tulisan” merupakan sistem tanda dan bukan realitas itu sendiri. Namun ia mempertanyakan pernyataan dari kaum strukturalis, khususnya tesis Saussure, yang menyatakan “the arbitrariness of the sign”. Jika tidak ada kaitan antara tanda dan yang ditandai maka ”ujaran” (yang merupakan sistem tanda) tidaklah bisa dikatakan lebih baik daripada ”tulisan”.

Derrida juga memunculkan istilah différance. Différance berasal dari bahasa Perancis yang mempunyai arti to differ (membedakan) dan to defer (menunda).  Sebagai contoh: ambil sign “mobil”. “Mobil” merepresentasikan “kehadiran” sesuatu itu di dalam “ketidakhadirannya”. Ketika sesuatu itu tidak dapat ditunjukkan, maka kita akan “menelusuri jalan memutar dari sign itu” (Derrida, 1982: 9). Kata “mobil” sebenarnya bukan mobil itu sendiri sehingga dapatlah dikatakan bahwa sign menunda “kehadiran” dan membedakan “kehadiran” dirinya dengan “kehadiran yang tidak hadir”. Ide mengenai différance mempertanyakan otorita “kehadiran” (Zehfuss, 2002: 200) sebab ketika sign dimunculkan maka timbul masalah lain. Sebuah sign di dalam suatu teks tidaklah bisa dikontrol oleh pencipta teks. Berdasar “the arbitrariness of the sign”, sebuah sign bisa merujuk kepada sesuatu yang berbeda dengan maksud dari pemuncul sign tersebut di dalam teks. Tidak ada jaminan bahwa rujukan yang sama atas sign itu bakal dimiliki oleh reseptor teks.

Ia juga menyatakan bahwa makna adalah sesuatu yang sangat labil. Pengertian-pengertian identifikasi dalam bentuk istilah-istilah semisal “perempuan” adalah sebuah fiksi yang menandai penetapan makna yang sifatnya sementara saja, parsial, dan arbitrer (Barker, 2005: 477). Dus memungkinkan pula kepada kita untuk “terus” mendeskripsikan ulang apa yang dikotakkan di dalam definisi istilah “perempuan” dalam suatu proses inversion (pembalikan posisi marjinalnya dihadapkan dengan “laki-laki”), displacement (penukaran letak pusat-nya menjadi “perempuan”), argumentasi kontra supplement (bahwa salah satu istilah dari oposisi biner adalah pelengkap dari istilah lainnya) (cf. Reynolds, 2010).

Derrida (dalam Selden dkk., 1997: 174) menunjukkan bahwa pembacaan terhadap tulisan atau teks berkisar pada tiga karakteristik:

  1. Teks adalah tanda yang dapat direproduksi di dalam ketidakhadiran tidak hanya pencipta teks di dalam konteks khusus, namun bahkan dalam ketidakhadiran referen.
  2. Teks dapat menunjukkan “konteks riil” dan dapat dibaca di dalam konteks yang berbeda meskipun berbeda dengan maksud pencipta teks. Rangkaian tanda yang ada di dalam teks dapat dibangunkan sebuah wacana di dalam konteks yang berbeda (sebagaimana terjadi di dalam kutipan).
  3. Teks menjadi sesuatu yang rentan “peruangan” dalam artian dua hal: (1) Teks telah terpisah dari teks-teks lain di dalam rangkaian yang khusus, (2) Teks terpisah dari “referen aktual” (sebab teks hanya dapat merujuk kepada sesuatu yang sebenarnya tidak hadir di dalam dirinya).

Secara umum, dekonstruksi dapat diartikan sebagai cara pembacaan teks yang “bukan metode atau alat yang bisa diterapkan pada sesuatu dari luar sana … [namun] adalah sesuatu yang  terjadi dan sedang terjadi di dalam” (Derrida dalam Caputo, 1997: 9). Dekonstruksi, sebagai pemikiran Derrida, juga kerap disebut sebagai filosofi hesitasi (Reynolds, 2010) karena setiap pilihan yang kita ambil, selalu tidak bisa kita justifikasikan (cf. Derrida, 1995: 70). Namun dekonstruksi bukanlah penghancuran makna teks dan tidak:

berlangsung melalui kecurigaan acak atau subversi manasuka, melainkan dengan cara menarik keluar dengan hati-hati kekuatan-kekuatan signifikansi yang saling berperang di dalam teks (Johson dalam Barry, 2010: 83)

serta dapat:

menuju ke suatu hubungan tertentu, yang tidak tertangkap oleh penulis, antara apa yang ia maksudkan dan apa yang tidak ia maksudkan pada pola-pola bahasa yang ia pakai … membuat yang kasatmata menjadi terlihat (Derrida dalam Barry, 2010: 83)

sebab setiap teks:

dapat dianggap mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang tampaknya ia katakan … teks dapat dianggap membawa signifikansi majemuk atau mengatakan banyak hal-hal yang berlainan, yang secara fundamental menegasi, menyangkal, atau mensubversi apa yang oleh kritik bisa disebut akan makna ‘stabil’ tunggal. … sebuah teks dapat mengkhianati dirinya sendiri (J.A. Cuddon dalam Barry, 2010: 83).

Sehingga penerapan dekonstruksi terhadap suatu teks, atau dalam konteks tulisan ini adalah teks sastra, dapatlah berorientasi sebagai berikut (Culler dalam Lye, 2008; Barry, 2010: 85):

  1. Penyingkapan ketaksadaran tekstual, bahwa makna yang diungkapkan mungkin berbeda dengan makna di permukaan. Atau dengan kata lain, membaca teks dalam rangka mencari bentuk pengkhianatan teks terhadap dirinya sendiri. Contoh pembacaan dekonstruktif ini dapat kita temukan pada karya Chairil Anwar “Aku”. Sajak “Aku” atau kadang disebut berjudul “Semangat” bukanlah bentuk sajak perjuangan yang tak kenal takut. Teks sajak “Aku” pada bagian akhir ada baris yang berkata: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Justru baris ini menjadi signifikan, karena dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa si aku menyesal telah tidak peduli akan peluru yang menembus kulitnya. Ia menyesal dan ingin hidup lebih lama lagi. Jadi sajak ini bukan bentuk kematian yang gagah berani; yang patriotik; yang sonder rajuk justru malah suatu penyesalan si aku karena telah terlalu gegabah sehingga kematian yang sebentar lagi datang membuatnya takut.
  2. Pencarian kata-kata yang sudah mati (atau sekarat) signifikansinya yang kontradiktif kemudian dikedepankan sehingga dapat membawa makna krusial bagi keseluruhan teks.
  3. Penunjukkan bahwa teks disifatkan oleh ciri ketidakpaduannya dan bukan keterpaduannya. Contoh pembacaan dekonstruktif ini dilakukan oleh Katrin Bandel (2006: 143-163) atas karya Djenar Maesa Ayu “Nayla” yang dapat dikatakan sebagai karya yang dibuat dengan benturan plot yang tidak logis dus suatu bentuk ketergopohan pencipta teks.
  4. Penunjukkan fragmen tertentu sebagai pusat analisis sehingga mustahil terjadi univokal pembacaan; yang terjadi adalah multiplisitas makna. Contoh yang bagus tentang ini adalah sajak Robert Frost “The Road Not Taken”. Pada bagian: And that has made all the difference, tidak bisa ditentukan dengan jelas apakah si traveller menyesal dengan pilihan yang telah dibuatnya atau tidak. Klaim bahwa yang benar adalah si traveller menyesalkan pilihan yang telah dibuatnya sebagai satu-satunya makna yang sah adalah labil vice versa.
  5. Pencarian pergeseran, patahan, retakan di dalam teks dan membuktikannya sebagai bentuk yang sengaja direpresi, dihapus, dilewati oleh teks.
  6. Pembuktian bahwa teks memiliki makna berbeda daripada interpretasi yang diterima sebagai benar atau primer. Contoh yang bagus adalah pembacaan dekonstruktif interpretasi primer terhadap novel karya Marah Rusli “Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)” oleh Aziz Abdul Ngashim (2010). Ngashim menunjukkan bahwa interpretasi primer selalu mengatakan bahwa Sitti Nurbaya adalah korban kawin paksa oleh orang tuanya. Di dalam tulisannya, Ngashim menggoncang interpretasi tersebut dus menyatakan bahwa justru Sitti Nurbaya mengorbankan dirinya sehingga dinikahi Datuk Meringgih agar bapaknya tidak dipenjara setelah gagal membayar utang. Ngashim lewat tulisannya juga menggugat sebuah keberterimaan umum bahwa kawin (di)paksa oleh orang tua adalah serupa kisah Sitti Nurbaya dan blunder umum tersebut berarti memfitnah ayah Sitti Nurbaya (yaitu Baginda Sulaiman) serta memelencengkan bentuk rela berkorban dan bakti orang tua sebagaimana diteladankan oleh Sitti Nurbaya.
  7. Pemfokusan bahwa sesuatu yang marjinal di dalam teks, semisal karakter non-utama, justru merupakan ‘pusat’ atau sesuatu yang ‘mengontrol’  seluruh makna teks. Contoh yang bagus adalah semisal pembacaan dekonstruktif terhadap novel “Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)”. Proposisi yang bisa dimunculkan adalah pergeseran status tokoh di dalam novel tersebut. Jika terketahui bahwa novel ini memiliki latar sosio-historis pemberontakan rakyat Padang terhadap Belanda karena kebijakan pajak. Maka pembacaan Faruk (1999: 48-49) yang menyatakan bahwa Samsul Bahri sebagai tokoh utama adalah bermasalah. Bagaimana tidak? Samsul Bahri-lah yang berada di pihak Belanda ketika terjadi pertempuran dengan rakyat Padang. Pun juga Samsul Bahri pula yang mengganggu istri Datuk Meringgih dengan berciuman di malam hari di salah satu fragmen novel tersebut. Datuk Meringgih adalah pahlawan (hero) sesungguhnya karena sokongannya kepada perjuangan melawan Belanda lepas dari cara liciknya mendapatkan Sitti Nurbaya sedangkan Samsul Bahri adalah pengkhianat negara dan perusak perkawinan orang sehingga lebih layak dia disebut sebagai penjahat (villain).

DAFTAR PUSTAKA

Bandel, Katrin. 2006.  “Nayla, Potret Sang Pengarang Perempuan sebagai Selebriti” dalam Sastra, Perempuan, dan Seks. Yogyakarta: Jalasutra.

Barker, Carlos. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktik, terjemahan Tim KUNCI Cultural Studies Center. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

Barry, Peter. 2010. Beginning Theory, Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya terjemahan Harviyah Widiawati dan Evi Setyarini. Yogyakarta: Jalasutra.

Caputo, John D. 1997. Deconstruction in a Nutshell: A Conversation with Jacques Derrida. New York: Fordham University Press.

Derrida, Jacques. 1981. Positions, terjemahan Alan Bass.  London: Athlone Press.

_____________. 1982. Margins of Philosophy, terjemahan Alan Bass.  Chicago: The University of Chicago Press.

_____________. 1995. The Gift of Death, terjemahan Wills. Chicago: University of Chicago Press.

Dorbolo, Jon. 2004. Jacques Derrida: Duality, Hierarchy, Priority. Diakses pada Kamis, 16 Juni 2011 pukul 6:59 WIB dari alamat laman:

http://oregonstate.edu/instruct/phl201/modules/Philosophers/Derrida/derrida_duality.htm

Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lawlor, Leonard. Wed 22 Nov, 2006. Jacques Derrida. Diakses pada Kamis, 16 Juni 2011 pukul 6:54 dari alamat laman:

http://plato.stanford.edu/archives/win2006/entries/derrida/

Lye, John. 30 April 2008. Deconstruction: Some Assumptions. Diakses pada Selasa, 7 Juni 2011 pukul 13:37 WIB dari alamat laman:

http://www.jeeves.brocku.ca/english/courses/4F70/deconstruction.php

Ngashim, Aziz Abdul. 2010. Jangan Fitnah Siti Nurbaya. Diakses pada Senin, 7 Juni 2011 pukul 11:45 WIB dari alamat laman:

http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/28/jangan-fitnah-siti-nurbaya/-12

Reynolds, Jack. 2010. Jacques Derrida (1930 – 2004). Diakses pada Kamis, 9 Juni 2011 pukul 16:40 WIB dari laman:

http://www.iep.utm.edu/derrida/


Selden, Raman; Peter Widdowson; dan Peter Brooker. 1997. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory Fourth Edition.  Hertfordshire: Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf.

Sterne, Jonathan. 2004. Some Simple Thoughts on Jacques Derrida (1930-2004) diakses 16 Juni 2011 pukul 6:31 WIB dari alamat laman:

http://bad.eserver.org/editors/2004/thoughts_on_jacques_derrida.html

Tzu, Lao. 20 Juli 1995. Tao Te Ching a translation by S. Mitchell. Dibaca 1 April 2011 pukul 10:30 WIB dari alamat laman:

http://academic.brooklyn.cuny.edu/core9/phalsall/texts/taote-v3.html


Zehfuss, Maja. 2002. Constructivism in International Relations: The Politics of Reality. Cambridge: Cambridge University Press.

__________. 2010. “Jacques Derrida” dalam Teori-teori Kritis Menantang Pandangan Utama Studi Politik Internasional, Edkins dan Williams ed. terjemahan Teguh Wahyu Utomo. Yogyakarta: Pustaka Baca!

Creative Commons License
Sastra dan Dekonstruksi by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.