Saga di dalam Polemik LPDP

Logo LPDP

LogoTheJakartaPost

Sebut saja namanya Susi. Begitulah sebuah artikel berita di The Jakarta Post memilih nama alias dalam reportase mengenai polemik LPDP di DPR.[1] Barangkali nama Bunga, Mawar, atau Melati tidak pada tempatnya dijadikan pseudonim dalam pewartaan polemik LPDP di DPR. Biasanya nama-nama yang berbau bunga di dalam budaya bahasa jurnalistik di Indonesia sering dijadikan sebagai nama alias untuk ‘korban yang tidak berdaya.’[2][3]Jadi dipilihlah nama Susi sebab ia dalam berita itu tidak hendak ditampilkan di hadapan sidang pembaca sebagai korban.

Namun Susi sebagai narasumber yang di-pseudonim-kan di sini bisa jadi merupakan seorang yang pendapatnya dikutip dalam alur pengemasan yang tidak pas. Ada yang ganjil di sana. Susi muncul di bagian penutup berita dengan kutipan pernyataan yang seakan-akan memperkuat recokan DPR bahwa LPDP bermasalah. Di DPR, seperti disampaikan di dalam artikel yang sama, sedang berkembang wacana bahwa LPDP harus diawasi pemakaian anggarannya dan ditahan dulu ajuan tambahan anggarannya.

Susi di dalam berita itu mengaku takut ketahuan bahwa ia dari kalangan berada. Lewat pernyataan Susi seolah-olah ditunjukkan bahwa LPDP tidak cermat mengadakan seleksi kelayakan penerima beasiswa; ada yang lolos screening padahal tidak layak. Kesan tidak tepat yang diberikan artikel itu adalah beasiswa LPDP tidak bisa didapatkan mereka yang kaya sehingga lolosnya Susi yang kaya dalam lapis tahapan seleksi beasiswa LPDP adalah jadi salah satu bukti lemahnya sistem seleksi yang dipunyai LPDP. Ujung-ujungnya adalah makin kuat dalil yang mengatakan bahwa LPDP perlu (lebih) diawasi.

Namun bagaimana bila Susi mengeluarkan pernyataan khawatir ketahuan tentang kondisi keluarganya yang kaya sebab dipancing oleh sebuah pertanyaan semisal: “Tahukah Mbak Susi bahwa beasiswa [LPDP] tidak diperuntukkan bagi yang mampu sedangkan Mbak Susi adalah dari keluarga berada?”. Jika memang demikian adanya, berarti penulis artikel itu – si wartawan- memang persis mengutip apa yang diujarkan Susi yang polos namun penulis artikel sengaja tidak menempatkannya dalam konteks yang pas. Sejak semula, jika kasusnya seperti ini, ia memang memasang perangkap.

Masalah yang banyak orang tak sadari di dalam kerja jurnalistik yang selalu digempitakan sebagai kerja independen adalah gaya pengemasan berita yang kadang terbukti tidak fair; mencenderungkan keberpihakan kepada salah satu pihak dan menyudutkan pihak lain. Parenti, seorang pengamat politik dan media massa yang karya tulisnya sudah diterjemahkan ke dalam 15 bahasa lebih, menyebut salah satu mode pengemasan ketidakimbangan sebuah liputan dilakukan lewat cara framing.[4]Framing dapat secara bebas diterjemahkan sebagai pembengkokan kebenaran yang dilaporkan dengan cara mendesain sebuah karya jurnalistik yang mengarahkan pembaca pada suatu kesimpulan yang diinginkan pihak tertentu.

Selain menariknya nama Susi sebagai pseudonim, menarik juga bilamana memperhatikan judul berita mengenai maklumat DPR kepada LPDP dimulai dengan kata costly. Paduan judul, costly, dan paragraf penutup, jawaban Susi, dalam artikel tersebut adalah sebuah kohesi di dalam framing yang bagus. Keduanya padu dengan maksud menggiring kesimpulan kepada para pembaca bahwa LPDP adalah lembaga pengelola beasiswa yang boros dan ceroboh atau sembarangan menyeleksi orang karena orang kaya seperti Susi bisa mendapat beasiswa.

Pada bagian lain dalam artikel itu juga disinggung adanya anggapan dari anggota DPR mengenai bagaimana LPDP memapak kesempatan pemerolehan beasiswa bagi pelamar dari daerah timur bersebab ada kesenjangan kompetensi berbahasa Inggris antara pelamar dari daerah barat Indonesia dengan daerah timur. Meskipun artikel tersebut menyusupkan sejarah mula berdirinya LPDP dan juga sedikit visi yang diemban LPDP yaitu mencetak generasi Indonesia di masa depan yang berkualifikasi dan berkompetensi tinggi namun bagian-bagian ini tertutupi oleh gugatan-gugatan mengenai ‘bagaimana alokasi dana dari pemerintah seharusnya ditujukan bagi pembangunan infrastruktur’ dibentrokkan dengan ‘nominal angka fantastis uang yang dikelola oleh LPDP yang seolah-olah tiada pengawasan’.

Di surat kabar daring yang lain malah ada usulan mengenai nominal angka fantastis yang sudah dimiliki oleh LPDP tidak layak untuk dimintakan tambah anggaran di proyeksi alokasi anggaran berikutnya. Dalam berita ini secara spesifik disebutkan bahwa rencana ajuan tambah anggaran yang memang dibutuhkan LPDP diusulkan agar dialihkan saja untuk mendukung kartu Indonesia Pintar.[5]

Ada yang tidak pas dari reportase seperti itu. Jikalau hendak membaca bagaimana dan mengapa LPDP dimulakan maka tulisan dari Joni Kho,[6] LPDPPK6,[7] Dahlia Ervina,[8] dan Aulia Sukma Hutama[9] dapat memberi imbangan pemahaman. Negara Indonesia sebenarnya sedang mengalami ‘masalah’ ketercukupan di bidang sumber daya manusia ketika dalam kurun waktu mendatang persaingan sumber daya yang mumpuni kian ketat dan jadi sebuah keniscayaan. Banyak ekonom yang meramalkan bahwa Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi besar di tahun-tahun mendatang karena memiliki potensi yang banyak kecuali masih minimnya jumlah intelektual sebagaimana terjadi sekarang ini.[10] Indonesia butuh akselerasi jumlah sumber daya intelektual dan LPDP hadir sebagai bagian dari solusi atas ‘masalah’, atau istilahnya barrier to competitiveness,[11] ini.

Apa yang dilakukan oleh LPDP serupa dengan apa yang dilakukan oleh beberapa negara yang telah maju semisal Jepang dan Rusia. Jepang, sebelum jadi negara dengan sumber daya manusia intelektual yang melimpah seperti sekarang ini, telah mulai membangun pondasinya lewat Perombakan Total Bangsa dan Negara[12] di jaman Meiji.[13] Warisan dari Restorasi Meiji itu adalah keunggulan bersaing bangsa Jepang yang tinggi sebagaimana kita semua ketahui.

Begitu juga dengan Rusia. Rusia kini sedang mempercepat laju peningkatan kualitas sumber daya manusia-nya dengan mengirimkan putra-putri terbaiknya ke universitas-universitas terbaik di seluruh penjuru dunia.[14]Rusia sedang aktif mengirimkan mahasiswa-mahasiswa cerdasnya ke 150 universitas terbaik di 25 negara dengan alokasi dana 4 milyar rubel atau 118 juta dolar. Rusia tahu bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah krusial dan butuh biaya demi keluaran yang sepadan.[15]

Tidak hanya itu saja. Apa yang sedang dilakukan oleh Rusia mirip dengan pengiriman mahasiswa yang dilakukan Jepang di jaman Meiji. Di jaman Meiji mahasiswa yang telah lulus kemudian direkrut menjadi pegawai negara sedangkan di Rusia mahasiswa yang telah lulus dari studi luar negerinya diwajibkan bekerja di perusahaan milik Rusia dengan durasi tertentu.[16]Ide yang demikian justru luar biasa sebab rekrutan yang dipekerjakan sebagai pegawai negara sebagian besarnya adalah pemuda-pemudi intelek dan modern sebagai sebab dimulainya transformasi Jepang menjadi negara maju[17]dan bagaimana Rusia antisipatif terhadap kompetisi global di bidang sumber daya manusia dan ekonomi.[18]

Langkah yang ditempuh kedua negara tersebut di dalam memanfaatkan output dari proyek pengiriman mahasiswa ke luar negeri juga patut dicontoh. Jepang di masa lalu dan Rusia saat ini merekrut pemuda-pemudi lulusan program tersebut.[19] Ini bisa menjawab kekhawatiran terhadap membludaknya ketersediaan tenaga kerja intelektual pada tahun-tahun mendatang seperti dikhawatirkan Aviliani,[20] kemungkinan kisruh rekrutmen CPNS lewat jalur uji kompetensi ‘instan’,[21] serta kekhawatiran tiada lapangan pekerjaan bagi para pemuda-pemudi intelektual potensial lulusan luar negeri sebagaimana dialami oleh Bagus Nugroho, Alex Senaputra, dan Dominggus Elcid Li.[22][23]

Oleh sebab itulah dapat dikatakan bahwa kerja jurnalistik mengenai LPDP di The Jakarta Post tidaklah kondusif bagi penguatan pemahaman publik terhadap urgensi LPDP bagi bangsa Indonesia. Boros anggaran, meski dinisbatkan kepada gugatan DPR terhadap penambahan alokasi dana bagi LPDP, dengan kisah Susi adalah bentuk framing. Pembaca seakan-akan diberi informasi, yang menjebak, bahwa beasiswa LPDP adalah ditujukan kepada warga negara Indonesia yang tidak mampu. Kita semua tahu bahwa LPDP berbeda dengan program bantuan pendidikan milik pemerintah semisal Bidik Misi[24] yang ditujukan kepada anak bangsa yang kurang mampu.[25] Pemahaman awam tentang beasiswa di dalam artikel The Jakarta Post itu seakan-akan diarahkan kepada definisi bahwa beasiswa adalah segala sponsor biaya pendidikan kepada seseorang yang cerdas namun tidak mampu dan orang yang kaya adalah haram mendapat beasiswa. Dus, seolah-olah kisah Susi sengaja dimunculkan untuk menimbulkan kesan adanya kecolongan di dalam sistem seleksi beasiswa LPDP dalam merekrut awardee yang layak berangkat studi. Repotnya nanti ketika persepsi publik terhadap LPDP adalah buruk, bisa saja segala perlakuan dan tudingan kasar terhadap LPDP adalah terjustifikasi.

Beberapa hal yang luput (atau sengaja luput?) dari liputan The Jakarta Post itu adalah bagaimana LPDP memang diperuntukkan untuk warga negara Indonesia yang memenuhi syarat ketat sebagaimana ditentukan oleh LPDP.[26] Syarat yang ketat dan seleksi berlapis memang diperlukan justru dalam rangka mencegah beasiswa diberikan kepada mereka yang tidak potensial dan menipiskan peluang terjadinya titipan.[27] Seumpama masih ada keraguan mengenai tipisnya peluang titipan di dalam seleksi beasiswa LPDP, selain lewat filter IPK yang bagus dan nilai bahasa Inggris berdasar sertifikasi resmi internasional yang tinggi serta sesi wawancara yang dilakukan oleh persona-persona profesional tidak terafiliasi secara struktural dengan LPDP, LPDP juga hanya akan menerbitkan surat penjaminan sokongan biaya studi (LoG atau Letter of Guarantee) ketika seorang kandidat sudah memiliki surat bukti diterima tanpa syarat ([Unconditional] Letter of Acceptance) di universitas top secara akademik baik di dalam maupun di luar negeri.[28][29][30][31][32][33] Jadi peluang terjadinya ‘kebocoran’ di dalam seleksi sangatlah kecil.

Bahkan LPDP juga tidak menafikan bilapun ada permintaan pemberian kemudahan syarat karena ada duga[34] ketimpangan penguasaan bahasa Inggris antara pemuda pemudi barat dengan timur Indonesia, sebagaimana artikel di dalam The Jakarta Post menisbatkannya kepada gugatan DPR, maka dari dulu LPDP sudah memiliki paket Beasiswa Afirmasi yang memberikan kemudahan syarat pendaftaran kepada anak bangsa dari daerah-daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).[35]

Mungkin niatan artikel tersebut tidak salah jika ide yang diusung di dalam pemberitaan itu adalah mengenai pengokohan sistem monitoring dan evaluation yang sudah dimiliki oleh LPDP sekarang ini dan gagasan lain mengenai kebutuhan (tambahan?) auditor eksternal[36] yang secara rutin mengontrol kinerja LPDP. Menjadi cantik juga jika pewarta memberikan usulan mengenai kontrak kerja bakti negeri kepada awardee serupa yang pernah dilakukan Jepang dan sedang dijalankan Rusia. Akan tetapi menjadi tidak benar jika pemberitaan mengenai LPDP sengaja dibuat seperti itu karena terkait dengan ‘sisa sesak’ keterpaksaan salah satu institusi negara mengalihkan kewenangan pengelolaan sebagian beasiswa kepada LPDP setelah ada carut marut.[37] Serta menjadi sangat keterlaluan jika pemberitaan framing itu terkait dengan manuver politik anggaran salah satu partai pemenang pemilu yang konon masih bingung mencari sumber dana dan membutuhkan koretan dana dari titik-titik pengalokasian yang bisa dikurangi terhadap kebutuhan realisasi janji kampanye Pilpres 2014 kemarin.[38] Semoga bukan karena itu.

Atau memang begitukah permainan politik di Indonesia dijalankan dan bagaimana media massa berpat-gulipat di dalamnya? Bilamana dugaan itu benar, akankah sebab-sebab itu kemudian sepadan dengan perecokan terhadap usaha pemercepatan laju peningkatan kompetensi anak bangsa yang telah sedang dilakukan oleh LPDP untuk kemajuan Indonesia dan dulu secara cerdas digagas oleh Sri Mulyani?[39] Bukankah apa yang dilakukan oleh LPDP adalah demi kemajuan kita semua?

Masih tersisa pertanyaan-pertanyaan yang justru mengganjal namun penting diajukan: “Susi ceritakan pada kami semua pertanyaan apa saja yang dulu disodorkan padamu? Susi, sudah tahukah engkau bahwa nama aliasmu –yang bukan Mawar atau Melati– tetap saja di dalam artikel koran itu adalah sebagai korban penyalahgunaan kutipan?”

* Tulisan ini sebelumnya telah disebarbagikan lewat media sosial lebih dari 90-an akun dan diakses oleh lebih dari 1000 orang. Karena ada pengeditan pada alamat tautan maka penanda jumlah sebarbagi tidak menunjukkan angka tersebut kecuali hanya sedikit yang menyebarbagi selepas perubahan alamat tautan. Tulisan ini juga terpampang di salah satu thread grup Facebook “Beasiswa LPDP 2013” sejak 26 September 2014.
** Kisah Jepang (di masa lalu) dan Rusia (baru saja) ternyata juga dilakukan oleh Vietnam. Saya mendapati info mengenai ini dari teman Ph.D., Lihn Nguyen, lewat presentasinya di grup kecil diskusi lintas disiplin ilmu di Monash University. Vietnam sudah ancang-ancang mencanangkan menuai buah dari pengiriman anak negeri ke luar negeri pada tahun 2020. Programnya sendiri didesain sejak 2005 dan lalu dimatangkan pada tahun 2008 lewat resolusi 14/2005/NQ-CP.

==========================

Endnotes

[1] Satria Sambijantoro. 19 September 2014. “Costly LPDP Scholarship should be reviewed, House demands”. The Jakarta Post. Diakses 22 September 2014 dari:

http://www.thejakartapost.com/news/2014/09/19/costly-lpdp-scholarship-should-be-reviewed-house-demands.html

[2] Bandung Mawardi. 1 Juli 2014. “Mawar”. Blog. Diakses 23 September 2014 dari:

https://bandungmawardi.wordpress.com/tag/mawar/

[3] Kebetulan penulis artikel ‘Saga di dalam Polemik LPDP’ ini kini sedang mengadakan riset Ph.D. di Monash University dengan fokus kajian polemik istilah ‘Sastrawangi’ di blantika sastra Indonesia di bawah arahan Dr. Sarah McDonald dan Prof. Harry Aveling dengan beasiswa dari LPDP. Kajian yang sedang digarap meliputi asal muasal istilah Sastrawangi. Temuan awal ihwal istilah ini berkelindan dengan pseudonim ‘bunga-bungaan = wangi’.

[4] Michael Parenti. Mei 2001. “Monopoly Media Manipulation”. Web. Diakses 22 September 2014 dari:

http://www.michaelparenti.org/MonopolyMedia.html

Pada tulisan Parenti ini tidak spesifik disebutkan sub moda dari framing namun pada kasus ‘sengaja (?)’ salah menempatkan kutipan ucapan Susi pada konteks yang diingini moda framing ini disebut dengan fallacy of attribution.

[5] Moch Wahyudi. 18 September 2014. “DPR Gugat Dana Abadi Pendidikan LPDP Kemenkeu”. Merdeka. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.merdeka.com/uang/dpr-gugat-dana-abadi-pendidikan-lpdp-kemenkeu.html

[6] Joni Kho. 26 Juni 2013. “Apa, Mengapa, dan Bagaimana LPDP – Eko Prasetyo (Direktur LPDP)”. Blog. Diakses 23 September 2014 dari:

http://jonivendi66.blogspot.com.au/2013/06/apa-mengapa-dan-bagaimana-lpdp_26.html

[7] LPDPPK6. 2 Oktober 2013. “Pengenalan LPDP: Peningkatan SDM Bangsa (Materi I Hari I)”. Blog. Diakses 23 September 2014 dari:

https://lpdp6.wordpress.com/2013/10/02/pengenalan-lpdp-peningkatan-sdm-bangsa-materi-1-hari-1/

[8] Dahlia Ervina. 26 Juni 2013. “Hari I Program Kepemimpinan Calon Penerima Beasiswa LPDP”. Blog. Diakses 23 September 2014 dari:

http://dahliaervina.blogspot.com.au/2013/06/hari-i-program-kepemimpinan-calon.html

[9] Aulia Sukma Hutama. 26 Juni 2013. “Apa, Mengapa dan Bagaimana LPDP”. Blog. Diakses 23 September 2014 dari:

http://auliahutama.blogspot.com.au/2013/06/apa-mengapa-dan-bagaimana-lpdp.html

[10] Lihat misalnya tulisan Aulia Sukma Hutama, ibid.

[11] Tantangan yang dimiliki Indonesia di masa-masa mendatang serta solusinya sebagian sudah diungkap oleh Zamroni Salim namun ia tidak menyebutkan faktor pemerkuat lain dari usaha yang telah dan sebaiknya akan dilakukan oleh pemerintah terhadap keadaan tersebut yakni akselerasi kualitas sumber daya manusia sebagaimana dilakukan LPDP (lih. Zamroni Salim. 2011. “Indonesia in the G20: Benefits and Challenges amidst National Interests and Priorities”. Web. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.kas.de/upload/dokumente/2011/10/G20_E-Book/chapter_10.pdf

[12] bukan hanya ‘mental’-nya saja namun segala aspek dirombak. Rujukan mengenai perombakan total yang seperti apa dilakukan di jaman Meiji dapat disimak lewat tulisan James Huffman.

James Huffman. 2003. “The Meiji Restoration Era, 1868-1889”. Journey Through Japan. Web. Diakses 23 September 2014 dari:

http://aboutjapan.japansociety.org/content.cfm/the_meiji_restoration_era_1868-1889

[13] Ian Ruxton. 21 Desember 2011. “Japanese Students sent Overseas in the Meiji Era (1868-1912)”, Relay Lecture. Web. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.dhs.kyutech.ac.jp/~ruxton/Japanese_Students_sent_Overseas_in_the_Meiji_Era.pdf

[14] Fitra Jaya. 22 September 2014. “Menarik untuk disimak model pengembangan di Rusia”. Facebook post. Diakses 23 September 2014 dari:

https://www.facebook.com/groups/547296555370058/permalink/554059944693719/

[15] Tatiana Shilovskaya. 24 Juni 2014. “Russians will be able to study abroad for free”. Russia Beyond The Headlines. Diakses 23 September 2014 dari:

http://rbth.com/news/2014/06/24/russians_will_be_able_to_study_abroad_for_free_37681.html

[16] ibid

[17] Bandingkan juga misalnya dengan ulasan F.G. Notehelfer terhadap buku Ardath W. Burks (F.G. Notehelfer. 1986. “The Modernizers: Overseas Students, Foreign Employees, and Meiji Japan by Ardath W. Burks” review. Journal of Japanese Studies. Vol. 12, No. 1 (Winter, 1986). hlm. 204-211).

[18] Tatiana Shilovskaya, Loc cit.

[19] LPDP selain mensponsori pemuda-pemudi potensial untuk studi S2 dan S3 di universitas-universitas terbaik di dunia juga memberikan dukungan biaya pendidikan kepada pemuda-pemudi potensial untuk studi di universitas-universitas terbaik di Indonesia.

[20] dalam Septian Deny. 1 September 2014. “Pengangguran Intelek akan Banjiri RI di 2020”. Liputan 6. Diakses 23 September 2014 dari:

http://bisnis.liputan6.com/read/2099460/pengangguran-intelek-akan-banjiri-ri-di-2020

Perhatikan juga bahwa ide Aviliani mengenai sertifikasi pekerja juga patut dipertimbangkan.

[21] Abdul Rouf, Tritus Julan, dan Arif Ardliyanto. 14 November 2013. “Rekrutmen PNS Daerah Kisruh”. Koran Sindo. Diakses 23 September 2014 dari:

http://m.koran-sindo.com/node/334326

[22] L. Sastra Wijaya. 12 Agustus 2014. “Lamaran Kerja Doktor Indonesia Lulusan Australia Ditolak”. Radio Australia. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2014-08-12/lamaran-kerja-doktor-indonesia-lulusan-australia-ditolak/1355636

[23] Jonatan A. Lassa. 4 Mei 2014. “Ditolak Undana, Diterima Harvard”. Satu Timor. Diakses 23 September 2014 dari:

http://satutimor.com/undana-tolak-harvard-terima.php

[24] Bidik Misi tidaklah tepat disebut beasiswa karena lebih tepatnya disebut Bantuan Biaya Pendidikan, sebuah definisi yang beda tipis sebenarnya. Mengenai LPDP sendiri memang sejak semula diniatkan untuk menyokong studi pemuda pemudi terbaik tanpa melihat status ekonominya.

Bidik Misi DIKTI. “Apakah Bidik Misi Dikti itu? Kenapa bukan disebut Beasiswa?”. Diakses 23 September 2014 dari: http://bidikmisi.dikti.go.id/petunjuk/3

LPDP. “Beasiswa”. Diakses 23 September 2014 dari: http://www.lpdp.depkeu.go.id/beasiswa/

[25] Bandingkan inisiatif pemilahan alokasi dana pemerintah yang digagas oleh SBY untuk LPDP dengan yang diniatkan oleh DPR terhadap rencana tambah alokasi dana bagi LPDP yang bersiap diri mencari anggaran bagi pemerintahan mendatang untuk realisasi janji program Kartu Pintar.

Rizki Puspita Sari. 2 April 2014. “Beasiswa S2 dan S3, Pemerintah Anggarkan Rp 500M”. Tempo.co. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.tempo.co/read/news/2014/04/02/173567176/Beasiswa-S-2-dan-S-3-Pemerintah-Anggarkan-Rp-500-M

Moch Wahyudi. 18 September 2014. “DPR Gugat Dana Abadi Pendidikan LPDP Kemenkeu”. Merdeka. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.merdeka.com/uang/dpr-gugat-dana-abadi-pendidikan-lpdp-kemenkeu.html

[26] LPDP. “Persyaratan Umum”. Diakses 23 September dari:

http://www.beasiswalpdp.org/PersyaratanPendaftaran-BeasiswaMagisterDoktor-1.html

LPDP. “Persyaratan Khusus”. Diakses 23 September dari:

http://www.beasiswalpdp.org/PersyaratanPendaftaran-BeasiswaMagisterDoktor-2.html

[27] pada beasiswa Pendidikan dan Presidential

[28] LDPD. “Pertanyaan Umum”. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.lpdp.depkeu.go.id/pertanyaan-umum/

[29] Asep Muhammad Saepul Islam. 15 Agustus 2014. “Pilihan Terbaik Itu Bernama BPI-LPDP (Bag. 1)”. Blog. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.mangamsi.com/hikmah/pilihan-terbaik-itu-bernama-bpi-lpdp-bag-1.html

[30] Aulia Sukma Hutama. 16 Juli 2013. “Road to LPDP”. Blog. Diakses 23 September 2014 dari:

http://auliahutama.blogspot.com.au/2013/07/road-to-lpdp.html

[31] Mutiara Febryani & Sjaikhurrizal El Muttaqien. 30 Mei 2014. “Akhir sebuah penantian, Awal perjalanan baru [Beasiswa LPDP]”. Blog. Diakses 23 September 2014 dari:

http://elmuttaqiensfamily.wordpress.com/2014/05/30/akhir-sebuah-penantian-awal-perjalanan-baru-beasiswa-lpdp/

[32] Tri Hanifawati. 21 November 2013. “Tips Lolos Seleksi Beasiswa LPDP“. Blog. Diakses 23 September 2014 dari:

http://trihanifa.blogspot.com.au/2013/11/tips-lolos-seleksi-beasiswa-lpdp.html

[33] Ridwan Aji Budi Prasetyo. 17 Januari 2014.“Beasiswa LPDP: F.A.Q.”. Blog. Diakses 23 September 2014 dari:

http://ridwanologi.wordpress.com/2014/01/17/beasiswa-lpdp-f-a-q/

[34] Sebenarnya adanya duga ini malah menunjukkan bahwa hingga kini belum begitu berhasilnya usaha keras standardisasi pendidikan dan patut menjadi keprihatinan kita semua.

[35] LPDP. “Beasiswa Afirmasi”. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.lpdp.depkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-afirmasi/

[36] LPDP. “Laporan Keuangan” . Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.lpdp.depkeu.go.id/profil/laporan-keuangan/

[37] Unggul Sagena. 11 September 2014. “Integrasi Beasiswa Dikti dengan LPDP: Buntut Carut-marut?“. Blog Kompasiana. Diakses 23 September 2014 dari:

http://edukasi.kompasiana.com/2014/09/11/integrasi-beasiswa-dikti-dengan-lpdp-buntut-carut-marut–673893.html

[38] Ardyan Mohamad. 22 September 2014. “Jokowi terancam minim modal, PDIP serang politik anggaran SBY”. Merdeka.com. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.merdeka.com/uang/jokowi-terancam-minim-modal-pdip-serang-politik-anggaran-sby.html

Moch Wahyudi. 18 September 2014. “DPR Gugat Dana Abadi Pendidikan LPDP Kemenkeu”. Merdeka.com. Diakses 23 September 2014 dari:

http://www.merdeka.com/uang/dpr-gugat-dana-abadi-pendidikan-lpdp-kemenkeu.html

Moch Wahyudi. 20 September 2014. “Kemenkeu Harap Usulan Tambahan Dana Abadi Pendidikan Tak Dihapus”. Merdeka.com. Diakses dari:

http://www.merdeka.com/uang/kemenkeu-harap-usulan-tambahan-dana-abadi-pendidikan-tak-dihapus.html

[39] Dion Kristadi. 10 Desember 2013. “Materi Sesi 2, Selasa 10-12-2013 ‘What, Why, & How LPDP’ oleh Bpk. Mokhammad Mahdum”. Chirpstory. Diakses 23 September 2014 dari:

http://chirpstory.com/li/176066

Creative Commons License
Saga di dalam Polemik LPDP by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Surat-surat dalam Pilpres 2014 dan Bagian yang Mungkin Terlewatkan

Pilpres 2014 sudah usai dan kemenangan sudah resmi menjadi milik Jokowi dan Jusuf Kalla. Pilpres 2014 adalah pilpres yang menarik karena selain mempertontonkan persaingan yang sengit hingga berujung ke gugatan keabsahan di Mahkamah Konstitusi juga sempat menampilkan peperangan yang luar biasa di media massa (televisi dan surat kabar cetak maupun daring) dan media sosial (mis. Facebook dan Twitter) serta terbitan pribadi lewat blog di dunia maya di antara pendukung kedua kubu pasangan kandidat capres-cawapres.

Bicara surat-surat terbuka yang beredar di dunia maya saat kampanye Pilpres 2014 berlangsung, sebutlah nama-nama semisal Tasniem Fauzia, Achmad Room Fitrianto, Dian Paramita, dan Dipa Nugraha. Keempat nama ini terlibat di dalam runtut surat terbuka di dunia maya. Semua dimulai dengan surat terbuka Tasniem Fauzia kepada Jokowi dan kemudian berturut-turut muncul surat [tanggapan] terbuka bersahutan yang ditulis oleh nama-nama lainnya.

Tasniem Fauzia (Credit: lintas.me)

Tasniem Fauzia (Credit: lintas.me)

Antara surat tanggapan terbuka tulisan Achmad Room Fitrianto dengan surat yang dikarang oleh Dian Paramita terhadap surat terbuka Tasniem Fauzia, yang paling menarik adalah surat tanggapan terbuka Dian Paramita.  Surat tanggapan milik Dian Paramita berjudul Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia.[1] Di dalam surat tanggapan ini, Dian Paramita menyerang balik Tasniem Fauzia yang sebelumnya ‘menyerang’ Jokowi lewat Facebook dengan menuliskan surat terbuka[2][3] berisi gugatan kepada Jokowi karena maju sebagai kandidat capres di dalam Pilpres 2014 dalam posisi masih ‘berhutang’ kepada warga DKI Jakarta untuk mememenuhi janji-janji yang pernah diucapkan Jokowi dalam kampanye Pilkada DKI Jakarta 2012.

Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia yang ditulis oleh Dian Paramita sedikit tricky karena ditutup dengan postscript ‘Surat ini tak perlu dibalas.’ Oleh sebab itulah saya memilih istilah ‘Kesan (bukan Balasan)’ dalam merespon surat tanggapan terbuka Dian Paramita atas surat terbuka Tasniem Fauzia sebagaimana nanti dapat dibaca pada akhir tulisan ini.

Hal menarik lain dari surat terbuka Dian Paramita adalah bagaimana ia mencantumkan tiga orang saksi untuk mendukung argumennya dalam pembantah menanggapi surat terbuka Tasniem Fauzia. Sejatinya, selama kampanye Pilpres 2014, kedua belah kubu pendukung Prabowo-Subianto maupun Jokowi-JK saling mengedarkan cerita dari saksi-saksi yang mengatakan betapa humble, egaliter, dan baiknya Prabowo atau Jokowi. Merujuk hanya pada Surat Terbuka Dian Paramita saja akan menghilangkan betapa ramai dan sesaknya cerita dari saksi-saksi mengenai kebaikan Prabowo maupun Jokowi lewat media sosial.

Kisah pilpres 2014 adalah unik karena seakan-akan pertarungan mengerucut hanya pada dua karakter yaitu Prabowo dan Jokowi dan hampir tidak membilah bagaimana profil, sejarah, dan kompetensi Hatta dan JK.

Tidak hanya itu. Pertarungan di Pilpres 2014 juga unik karena beberapa media massa tampak berpihak alias tidak proporsional di dalam menampilkan kedua kandidat yang bersaing, Prabowo dan Jokowi. Goenawan Mohamad yang merupakan jurnalis senior dan pegiat sastra budaya menambah seru atmosfer pertarungan pilpres 2014 ketika melontarkan pernyataan bahwa media [massa] di dalam pemberitaannya [tentang kandidat yang bertarung di dalam pilpres] tidak harus netral.[4]

Lebih menarik lagi adalah posisi Goenawan Mohamad di media sosial Twitter yang secara terang-terangan mendukung Jokowi. Goenawan Mohamad juga tambah mengompori suhu yang sudah gerah di dalam Pilpres 2014 ketika dengan eksposif mengundurkan diri dari PAN karena PAN mendukung Prabowo.[5][6]

Lalu apa kaitannya surat terbuka Tasniem Fauzia kepada Jokowi, surat tanggapan Achmad Room Fitrianto dan kemudian surat milik Dian Paramita kepada Tasniem Fauzia dengan Goenawan Mohamad?

Jikalau pernyataan Goenawan Mohamad, pendiri dan editor TEMPO, mengenai keberpihakannya di dalam kampanye Pilpres 2014 dapat juga diatribusikan sama dengan sikap Kompas maka tidaklah mengherankan jika Kompas begitu gesit di dalam mengolah berita surat tanggapan Achmad Room Fitrianto dan Dian Paramita dalam menyerang balik Tasniem Fauzia yang sebelumnya agak memojokkan Jokowi dan mengabaikan runtut kronologi penting lain bahwa surat Achmad Room Fitrianto dan Dian Paramita juga mendapat bantahan balik.

Goenawan Mohamad (Credit: Tempo/Panca Syurkani)

Goenawan Mohamad (Credit: Tempo/Panca Syurkani)

Dugaan ini bersesuaian dengan apa yang diyakini Munarman. Munarman mempercayai adanya koneksi tidak langsung yang telah berlangsung lama antara PK Ojong (Kompas) dengan Goenawan Mohamad (Tempo).[7] Jadi masuk akallah untuk diasumsikan adanya penyengajaan peliputan surat tanggapan terbuka yang ditulis Achmad Room Fitrianto dan Dian Paramita yang menyerang balik Surat Terbuka Tasniem Fauzia dalam kanal berita Kompas[8] sedangkan bantahan atas bantahan Surat Terbuka Achmad Room Fitrianto dan Dian Paramita luput dari liputan Kompas. Padahal surat-surat terbuka ini menjadi salah satu poin penting di dalam pembentukan opini mengenai Jokowi dan mereka yang menentang Jokowi untuk menjadi presiden Indonesia berikutnya.

Bukan hanya mengenai pemberitaan tentang surat terbuka dan surat tanggapan terbuka saja. Fadli Zon yang merupakan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ikut mengeluhkan bagaimana dua media massa besar di Indonesia, Tempo dan Kompas, menuding keberpihakan kepada hanya salah satu kandidat capres-cawapres dan cenderung mem-frame para pembaca untuk tidak memilih Prabowo[9]meskipun kemudian dibantah oleh Eko Maryadi dari Aliansi Jurnalis Independen,[10] sebuah aliansi wartawan independen yang sejarah berdirinya terkait dengan Tempo.[11]

Keadaan di dalam pilpres 2014 kian panas karena stasiun televisi juga dianggap berlaku demikian. Mantan komisioner KPI, Dadang Rahmat, menganggap bahwa independensi media massa [televisi] memang patut dipertanyakan ketika pemilik stasiun televisi terafiliasi dan aktif di dalam partai peserta pemilu [Pilpres 2014] sebagaimana sudah pernah terjadi pada saat Pileg 2014.[12] MetroTV yang dimiliki Surya Paloh terlihat kuantitas pemberitaannya cenderung ke Jokowi-JK sebab Surya Paloh berasal dari Partai Nasdem, partai pengusung Jokowi-JK, sedangkan TVOne yang dimiliki oleh Aburizal Bakrie (Partai Golkar) dan tiga stasiun televisi lainnya (RCTI, Global TV, MNC TV) yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo (Partai Hanura) nampak jumlah tayangan kepada pasangan Prabowo-Hatta lebih banyak sebab Partai Golkar dan Hanura masuk di dalam koalisi partai pendukung pasangan Prabowo-Hatta.[13]

Di media sosial yang terkemuka di Indonesia, Facebook dan Twitter, juga terjadi kampanye besar-besaran atas kedua pasangan capres-cawapres yang saling bersaing dalam Pilpres 2014. Uniknya, sekali lagi sebagaimana telah disampaikan di atas, ‘peperangan’ hanya mengerucut atas dua nama saja: Prabowo vs. Jokowi. Hatta Rajasa dan Jusuf Kalla seolah-olah tidak dianggap penting di dalam pertarungan Pilpres 2014.

Jika kita berbicara endorser kampanye Pilpres 2014, nama-nama serupa Tasniem Fauzia, Sidrotun Naim, Nanik S Deyang, Jonru Ginting, Prayudhi Azwar, Dipa Nugraha, dan Pius Lustrilanang nampak mendukung pasangan nomor urut satu (Prabowo-Hatta) sedangkan nama-nama seperti Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Dian Paramita, Achmad Room Fitrianto, Dadan Hamdani, Ponco Budi, Kartika Djoemadi mendukung pasangan nomor urut dua (Jokowi-JK). Para penggiring suara di dalam kampanye Pilpres 2014 ini melengkapi kampanye yang dilakukan oleh Prabowo lewat laman fans page Facebook “Prabowo Subianto” dan akun Twitter @Prabowo08 serta Jokowi lewat laman fans page Facebook “Joko Widodo” dan akun Twitter @jokowi_do2.[14]Peperangan penggiringan opini lewat media sosial turut membuat pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing dari Universitas Pelita Harapan turut berkomentar mengenai kemungkinan adanya akun-akun ganda bayaran yang sengaja didesain untuk menciptakan kemenangan di dunia maya oleh pasangan Jokowi-JK meskipun Emrus Sihombing hingga kini belum bisa menunjukkan bukti akan adanya akun-akun ganda bayaran tersebut.[15]Hal senada juga sebelumnya diutarakan oleh Fadli Zon dengan menyebut adanya Pasukan Nasi Bungkus (Panasbung) lewat puisinya dengan judul Pasukan Nasi Bungkus sebagai pasukan bayaran kandidat Jokowi-JK di dunia maya[16] meski juga telah dibantah dengan keras akan keberadaannya oleh Anies Baswedan (juru bicara pasangan Jokowi-JK)[17] dan Dadan Hamdani serta Ponco Budi dari Jokowi Lovers (Jokowers).[18]

Akun Twitter Resmi Prabowo Subianto dan Joko Widodo saat Kampanye Pilpres 2014 (Credit: rappler.com)

Akun Twitter Resmi Prabowo Subianto dan Joko Widodo saat Kampanye Pilpres 2014 (Credit: rappler.com)

Pada tanggal 22 Juli 2014 akhirnya KPU mengumumkan Jokowi-JK sebagai pemenang Pilpres 2014 dengan kemenangan berselisih 6,3 % dari pasangan Prabowo-Hatta.[19]Pasangan Prabowo-Hatta yang memohon KPU menunda pengumuman hasil Pilpres 2014 ditolak oleh KPU. KPU menolak penundaan pengumuman hasil pilpres 2014 disebabkan KPU tidak melihat adanya alasan yang cukup kuat di dalam pengajuan penundaan sebagaimana diungkap oleh Hadar Nafis Gumay, Komisioner KPU.[20]Pantang menyerah, kubu Prabowo-Hatta menggugat hasil pilpres 2014 yang dimenangkan oleh kubu Jokowi-JK ke Mahkamah Konstitusi dengan menyorot adanya keganjilan pada tingginya tingkat pengguna hak pilih pada Daftar Pemilih Khusus Tambahan (DPKTb) di beberapa daerah di pulau Jawa[21] serta tudingan pelanggaran yang dilakukan secara Terstruktur, Sistemastis, dan Massif di sembilan kabupaten di Provinsi Papua Barat oleh oknum pejabat-pejabat daerah dan kepala-kepala suku[22]meskipun akhirnya dimentahkan oleh Mahkamah Konstitusi.[23]

Berkutat dengan polemik yang muncul di dalam kampanye Pilpres 2014 yaitu ‘surat-suratan terbuka’ dan lalu berlanjut pada tolak gugatan Prabowo-Hatta di Mahkamah Konstitusi, bolehkah misalnya menelisik bagian yang mungkin terlewatkan dari saga kampanye Pilpres 2014?

Kisah pertarungan Prabowo-Hatta vs. Jokowi-JK sungguh menarik bukan hanya bagaimana medan pertarungan di media massa maupun di media sosial ‘seolah-olah’ hanya menampilkan Prabowo dan Jokowi saja namun juga bagaimana Jokowi dapat berani ‘menantang’ Prabowo di dalam Pilpres 2014 setelah sebelumnya berulang kali menyatakan secara lantang ‘tidak memikirkan pencapresan’.[24]Lebih dari itu, bagaimana lanskap politik Indonesia menjelang pilpres 2014 dipenuhi dengan intrik (baca: strategi) politik yang pelik dengan pengguguran sepihak perjanjian Batu Tulis oleh Megawati (Ketum PDIP) yang diteken pada 16 Mei 2009 yang sedianya mengikat kesepakatan berjuang seiya sekata antara Gerindra (Prabowo) dan PDIP (Megawati) dalam pemilu 2014[25] dan masih nampak solid di dalam Pilkada Jakarta 2012 namun berantakan saat pilpres 2014.[26]Lebih dan lebih dari itu, pilpres 2014 juga mempertontonkan bagaimana Jokowi yang diajukan, dibantu, dan dibela habis-habisan oleh Prabowo saat maju sebagai calon kandidat gubernur di dalam pilkada DKI Jakarta 2012 bahkan saat diserang isu SARA[27]hingga akhirnya berhasil menjadi Gubernur DKI Jakarta kemudian melawan mentor dan suporter teguhnya di dalam Pilpres 2014 … dan anehnya, Jokowi kembali menang juga dibumbui dengan drama sebagai kandidat yang teraniaya lewat fitnah beraroma SARA.

Kebetulan di dalam Politik; Kemiripan Kemenangan Jokowi dengan Obama: sebaran Hope, serangan isu SARA,  diserang figur Istri, pemaksimalan Media Sosial, benang merah kesamaan Konsultan Marketing Politik (Credit: The Library of Congress Collection)

Kebetulan di dalam Politik; Kemiripan Kemenangan Jokowi dengan Obama: sebaran Hope, serangan isu SARA, diserang figur Istri, pemaksimalan Media Sosial, benang merah kesamaan Konsultan Marketing Politik (Credit: The Library of Congress Collection)

Siapakah yang begitu kuat bermain di dalam mengerucutkan medan perang hanya kepada Prabowo dan Jokowi saja? Siapakah yang kuat dan mampu mengagitasi Megawati di dalam ingkar menetapi perjanjian Batu Tulis serta membelokkan niat awal Jokowi untuk fokus hanya dan hanya untuk mengurusi Jakarta sebagaimana dikatakan berulang-ulang olehnya di dalam kampanye Pilkada DKI Jakarta untuk masa periode 2012-2017? Siapakah yang mendesain, bermain, dan memancing-mancing publik awam dengan isu-isu SARA sehingga terulang kemenangan Jokowi di pilpres 2014 selepas sebelumnya berjaya di pilkada DKI 2012? Adakah tudingan bahwa isu SARA terhadap Jokowi ditimpakan kepada pemeluk salah satu agama di Indonesia padahal di dalam semua madzhab (aliran pemikiran, school) di dalam agama itu perkara ‘takfir’ sebagaimana ditembakkan kepada Jokowi adalah sesuatu yang sangat berat hukumnya? Siapakah dalang dari orkestrasi halus namun canggih ini?

Well bagaimanapun ucapan selamat kepada Bapak Jokowi dan Bapak Jusuf Kalla layak diberikan. Semoga rakyat makmur sejahtera di bawah pimpinan Bapak berdua. Amin.

Tadi sudah dinyatakan bahwa tulisan ini akan menampilkan kesan saya atas Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia yang ditulis Dian Paramita. Dengan sedikit penambahan dan edit berikut adalah kesan saya yang sebelumnya pernah terpublikasikan di media warga Kompasiana:[28]

Saya pribadi terkagum-kagum kepada Dian Paramita yang mengingat hal-hal kecil -fragmen- pertemanan yang bukan karib dengan kakak kelas di waktu SMP sewaktu membaca ‘Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia’. Dibutuhkan ingatan yang kuat untuk mengingat bagian-bagian kecil dari kenangan masa lalu. Sungguh mengagumkan dan saya bisa menyimpulkan bahwa Dian Paramita pastilah memiliki nilai ujian yang sangat tinggi terkait dengan pelajaran yang core-nya adalah hapalan.

Sebagai pengagum Tasniem yang luar biasa sehingga perasaan kagum menjadi berkeping-keping tatkala ada perbedaan pandangan politik maka saya penasaran apakah Dian Paramita (Selanjutnya saya panggil Mita. Karena saya merasa belum pernah mengenalnya untuk tahu persis nama panggilan yang pas maka saya gunakan nama panggilan Mita merujuk pada nama panggilan yang Dian Paramita akukan: Mimit = Mita) sebelumnya mengikuti Facebook dan Twitter Tasniem. Jika memang ia adalah pengagum berat sehingga seakan-akan hapal setiap fragmen bersama Tasniem pastilah wajar jikalau saya menyimpulkan bahwa Mita pernah menjadi follower media sosial Tasniem. Saya penasaran apakah kekecewaan yang dramatikal darinya membuatnya tidak mengikuti lagi Tasniem di media sosial. Entah apakah rasa penasaran ini akan terjawab!

Kekecewaan yang timbul dari perasaan terlalu kagum memang bisa menyesakkan. Itu saya pahami. Namun pada orang yang terlalu kagum secara normal tidak akan menarik diri dari perasaan kagum pada pukulan pertama. Mereka yang terluka karena dikecewakan oleh cinta yang terlalu, kagum yang terlalu pastilah akan menyangkal perselisihan komitmen mengenai sesuatu. Ada ketidakpercayaan bahwa itu terjadi. Ada perasaan ragu-ragu apakah yang dikagumi telah berubah dari kenangan yang telah terbangun. Pun ketika didapati ada perubahan pada sosok yang dikagumi, pastilah proses penyangkalan terjadi: “Tidak, ia bukan orang yang kuanggap dulu aku kenal”. Respon yang terlalu cepat terhadap kenangan kekaguman yang telah bertahun-tahun terbina tidaklah kemudian dalam waktu kurang dalam seminggu menjadi pemicu kegetiran dan kekecewaan. Kecuali memang ada yang salah dengan rasa kagum itu.

Kesan saya atas pembacaan terhadap ‘Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia’ ini saya torehkan dengan mengikuti struktur yang Mita pakai. Saya mengikuti struktur tersebut agar kesan saya ini dapat runtut mengikuti alur teks surat karangan Mita. Mita sendiri membagi surat terbuka karangannya menjadi beberapa bagian setelah pada bagian awal suratnya ia menceritakan sebuah prolog mengenai kekagumannya terhadap Tasniem Fauzia yang hancur gara-gara berbeda pandangan politik. Selepas prolog itu, Mita memulainya dengan ‘sumpah jabatan Jokowi’ dan seterusnya dan seterusnya.

Sumpah Jabatan Jokowi

Berbicara mengenai sumpah jabatan Jokowi menjadi gubernur Jakarta dan janji kepada rakyat Jakarta yang menjadi sorotan kritis Mita kepada Tasniem mungkin harus dicermati sekali lagi oleh Mita kalimat yang dituliskan Tasniem di dalam surat terbukanya.

Ketika Mita hanya menyorot kepada teks sumpah saja di dalam pelantikan Jokowi menjadi Gubernur DKI maka Mita telah melupakan bagian dari kampanye Jokowi yang berjanji -bukan bersumpah- kepada masyarakat Jakarta untuk menyelesaikan [atau membereskan] kerjanya untuk 5 tahun masa periode menjabat. Secara eksplisit, Jokowi tidak hanya sekali saja berjanji kepada masyarakat Jakarta mengenai ini sebagaimana dapat dilihat di video YouTube ini.

Saya justru malah bertanya-tanya apakah Mita benar-benar membaca surat terbuka Tasniem.

Saya mungkin bisa memahami bagaimana Mita kurang cermat membaca surat terbuka Tasniem sebab Mita hanya menggunakan waktu empat hari di dalam merenungkan kekecewaan yang ia yakini ia dapati dari seseorang yang memiliki pandangan politik berbeda dengannya untuk kemudian menuliskan surat terbuka sebagai jawaban terhadap surat terbuka Tasniem. Namun jika diminta untuk menyimpulkan, jujur, saya masih belum memahami kekecewaannya.

Dalam konstruk pemahaman Mita akan sejarah Prabowo di dalam kasus penculikan 1998, terlihat bahwa Mita menyimpulkan kasus itu belum selesai sebab penanggung jawab utama pada kasus itu dan narasi mengenai kasus itu juga simpang siur. Adakah Mita sudah membaca berbagai versi yang beredar mengenai kasus penculikan 1998? Jikapun Mita belum membaca berbagai versi yang beredar mengenai kisah itu seyogyanya Mita mulai membaca tulisan Pius Lustrilanang ini, atau memperhatikan pemaparan dari Prayudhi Azwar ini, atau misalnya juga merujuk kepada penyataan presiden kita lewat juru bicara kepresidenan Julian Pasha lewat berita ini. Jika Mita juga belum lega dengan narasi yang beredar mengenai kasus penculikan 1998, apalagi mengenai 13 orang yang hilang belum kembali, Mita bisa saja membaca pernyataan Andi Arief yang merupakan seorang aktivis 1998 dan juga kehilangan kawannya Widji Thukul lewat tautan ini.

Setelah membaca pernyataan, kisah, dan kesaksian tersebut semoga Mita dapat membantu penyebaran kekompleksan peristiwa 1998. Sejarah yang getir dan layak disematkan keyakinan bahwa ada intrik yang terlalu ruwet mengenai kisah pahit itu. Bahkan keruwetan mengenai pemberhentian dengan hormat atas diri Prabowo yang menjadi polemik juga telah dijelaskan oleh Marwah Daud Ibrahim lewat surat nomor 62/ABRI/1998 yang beritanya dapat disimak di sini.

Ditakuti vs Disegani

Membaca surat terbuka Mita mengenai pengamsalan memilih pemimpin dalam frame ditakuti atau yang disegani dengan merujuk kepada grup band The Moffats, band asing asal Kanada adalah menarik. Tambahan pula, Mita menggunakan argumen tambahan mengenai pemilihan pemimpin yang ditakuti atau yang disegani berdasar pengamatan dan penyimpulannya bahwa jaman sekarang adalah jaman yang ramah. Saya jadi bertanya-tanya ketika membaca surat terbuka Mita. Adakah ia menunjukkan definisi yang jelas pemimpin yang model apakah yang disegani itu?

Jikalau ia masih merasa bahwa dunia yang ia tinggali adalah dunia yang selalu damai dan semua masalah antarnegara selalu bisa diselesaikan dengan jalur diplomasi. Beruntunglah ia melihat keadaan seperti itu. Namun Mita menjadi tidak pas untuk melupakan bahwa perang masih sedang terjadi di bagian lain di dunia ini. Ini artinya di jaman sekarang permasalahan antarnegara masih saja ada yang menyelesaikannya lewat jalur perang bahkan di dalam konteks berdiplomasipun semangat kekeluargaan tidaklah cukup. Disadari atau tidak, diplomasi dilakukan oleh negara-negara di dunia dengan menggunakan pendekatan lobi, embargo, sadap menyadap, gertak sambal, dan kadang berdiplomasi sembari unjuk kekuatan perang. Mungkin terdengar tidak nyaman di telinga kita akan tetapi kadang keseganan timbul dari adanya posisi tawar yang berhasil diunjukkan.

Sukarno, Agitasi, dan Harga Diri di depan Bangsa-bangsa Lain (Credit: LIFE)

Sukarno, Agitasi, dan Harga Diri di depan Bangsa-bangsa Lain (Credit: LIFE)

Menyepadankan negara kita yang republik demokratis dan berdasar Pancasila dengan negara Korea Utara adalah sesuatu yang tidak dapat saya pahami. Sepanjang pengetahuan saya yang terbatas, Korea Utara adalah negara republik sosialis komunis. Pergantian kepala negara-nya saja terjadi lewat proses yang tidak demokratis. Mengenai ketidakmampuan PBB untuk masuk ke dalam Korea Utara adalah karena peran China sebagai penyokong utama pemerintahan Kim Jong Un di Korea Utara dalam ‘mengurangi’ kegaduhan yang kadang diciptakan oleh Amerika Serikat dalam isu-isu seperti ini untuk dapat mulus dibawa ke PBB. Jikalau Mita tertarik untuk membaca mengenai kekompleksan kisah China dan peran PBB di Korea Utara maka silakan dibaca misalnya pada berita berikut ini.

Jadi jika hendak berkaca pada situasi dunia sekarang ini maka memilih pemimpin yang disegani karena paham bagaimana menaikkan posisi tawar yang dapat diunjukkan kepada negara lain dan paham geopolitik dunia adalah penting. Hal ini bukan berarti negara kita diarahkan untuk menjadi sebuah negara yang ‘suka bikin rame’ namun kompetensi tersebut harus dimiliki oleh pemimpin sebuah negara dengan kekayaan alam (potensi SDA) dan jumlah penduduk (potensi SDM) yang luar biasa ini.

Jokowi dan Bangsa Asing

Menuruti pemahaman terbatas saya mengenai diakui, disegani, dan menginspirasi maka fenomena Jokowi sebagaimana dilihat oleh Mita lewat pembelaan daftar 50 pemimpin terbaik di dunia adalah terasa tidak pas jikalau Mita menerima daftar itu tanpa mempertanyakan tolok ukur yang dipakai Fortune. Tahukah Mita bahwa di dalam daftar yang memasukkan nama Jokowi itu sebagai ‘pemimpin dunia’ juga memasukkan nama Angelina Jolie (aktris ‘berani dan kontroversial’ meskipun filantropis Hollywood, di posisi 21) dan Derek Jeter (pemain baseball dari klub NY Yankees, di posisi 11)? Tahukah Mita bahwa perankingan itu juga dipandang sebelah mata oleh Justin Terranova dari New York Post dalam tulisannya lewat link ini dan juga agak dilecehkan oleh Andrew Marchand dari ESPN New York dalam reportasenya lewat link ini? Tidakkah ini sebuah pembodohan yang atraktif ketika di dalam daftar tersebut tidak dicantumkannya presiden Jose ‘Pepe’ Mujica dari Uruguay yang hidup sangat sederhana dan mendedikasikan hidupnya untuk rakyat Uruguay dan malahan mencantumkan Angelina Jolie dan Derek Jeter dalam daftar serta juga memasukkan Joko Widodo di dalam daftar dengan ranking 37? Bukankah agak ganjil ketika pencantuman Joko Widodo di dalam daftar yang dirilis tanggal 20 Maret 2014 menafikan Mujica yang sudah bertugas menjabat sebagai Presiden sejak 2010 dibandingkan ‘brand’ Joko Widodo yang relatif baru fenomenal ketika berada di DKI Jakarta tahun 2012? Mengapa momen pencantuman Jokowi di dalam daftar tersebut ‘kebetulan’ pas untuk menggenapi pretext kampanye Pilpres Jokowi?

The New Face of Indonesian Democracy [?] (Credit: Adam Ferguson for TIME)

The New Face of Indonesian Democracy [?] (Credit: Adam Ferguson for TIME)

Nama lain yang disebut Mita adalah Dalai Lama. Dalai Lama adalah pemimpin umat Budha Tibet dalam pengasingan. Dalai Lama terpaksa melarikan diri dari negaranya saat China ‘menganeksasi’ Tibet. Ia adalah pemimpin rakyat Tibet yang inspirasional dan kita tidak mungkin mengingkarinya. Namun masalahnya adalah pendekatan pasifis yang digunakan Dalai Lama terbukti kurang kuat di dalam mengimbangi kekuatan politik dan militer China. Tibet hingga kini masih saja di bawah kekuasaan China. Perlu pula diketahui bahwa Dalai Lama sebenarnya juga ‘bermasalah’ karena dituduh sekte Dorje Shugden dari agama Budha Tibet sebagai pemimpin yang menutup mata atau malah terlibat di dalam pengekangan kebebasan beragama sekte tersebut sebagaimana dapat disimak misalnya lewat laman ini. Tidak berhenti sampai di situ saja. Michael Parenti, seorang pengamat politik internasional yang sangat disegani, menunjukkan bahwa Dalai Lama telah sejak lama menjadi semacam ‘boneka’ justifikator dari segala kegilaan yang dilakukan oleh dunia Barat di dalam petualangan lewat jalur peperangan di Afghanistan dan Irak. Ada semacam mitos di dalam kisah Dalai Lama, menurut penuturan Parenti, yang banyak orang tidak sadari. Silakan cek bukti-bukti yang diajukan oleh Parenti sebagai pendukung tuturannya lewat situs ini atau bisa juga dirujuk langsung pada situs Shugden Buddhist ini dan ini.

Demonstrasi Komunitas Shugden Buddhist (Credit: Kelsang Pagpa)

Demonstrasi Komunitas Shugden Buddhist (Credit: Kelsang Pagpa)

Jikapun hendak juga mengambil Bill Clinton sebagai teladan kepemimpinan maka ada sedikit dilema memang. Bill Clinton memang mantan presiden Amerika Serikat yang cerdas dan termasuk hebat di dalam kebijakan ekonominya. Akan tetapi perlu juga kita ketahui bahwa Bill Clinton adalah seorang presiden yang mengalami impeachment pada 19 Desember 1998 karena penyalahgunaan kekuasaan.

Credit: DSK, AFP, Getty Images

Credit: DSK, AFP, Getty Images

Lebih lanjut, saat Mita hendak merujuk Aung San Suu Kyi sebagai 50 pemimpin terbaik dunia di dalam majalah Fortune maka problem juga muncul. Suu Kyi harus diakui adalah pejuang dan pemimpin usaha demokratisasi di Myanmar yang memiliki daya tahan luar biasa. Anak jenderal militer Myanmar Aung San ini tabah di dalam menghadapi tekanan junta militer yang berkuasa di Myanmar. Ia wanita yang hebat. Meskipun demikian, Suu Kyi bukan tanpa cela. Suu Kyi terlihat tidak terlalu vokal ketika pembantaian terhadap muslim di Rohingya terjadi. Mita dapat merujuk kepada misalnya berita ini dan tulisan Mohamed Hassan ini.

Credit: Demotix collective

Credit: Demotix collective

Jadi patut menjadi kekhawatiran kita bersama, sebagaimana Tasniem khawatir dan Mita-pun mungkin layak untuk khawatir, bagaimanakah memvalidasi tolok ukur pemimpin yang baik dan disegani ala majalah Fortune yang bukan menurut perspektif Barat?

Jokowi Mampu?

Saya agak berkernyit ketika membaca surat terbuka Mita mengenai penimbulan kesan bahwa Tasniem seolah-olah melihat bahwa Jokowi dipaksa oleh Megawati untuk menjadi capres tanpa rujukan yang jelas. Saya kemudian membaca ulang surat terbuka milik Tasniem yang ditujukan kepada Jokowi dan mendapati istilah yang dipakai oleh Tasniem adalah “pengaruh” dan “keterikatan yang sangat besar dengan beliau [Megawati]” serta dugaan Tasniem mengenai “beliau [Megawati] menyuruh Anda [Jokowi] sebagai capres” adalah kesimpulan yang dibangun oleh Tasniem setelah mencermati adanya ‘perintah’ Megawati kepada Jokowi sebagaimana dapat Mita baca dari berita Kompas tanggal 5 April ini. Adakah salah jikalau Tasniem melakukannya lewat to read between the lines?

Mengenai kompetensi kandidat lain di dalam memimpin yang disinggung oleh Mita, saya cenderung tidak sepakat. Bagaimana mungkin mantan perwira tinggi militer dianggap tidak memiliki kompetensi memimpin?

Blusukan Jokowi

Mengenai blusukan Jokowi saya tidak bersepakat pada surat terbuka Tasniem maupun Mita. Saya lebih suka merujuk kepada pendapat saya mengenai blusukan ini serupa respon saya atas surat balasan Achmad Room Fitrianto sebagaimana Mita bisa baca di sini.

Dana dan Kebocoran

Mengenai argumen Mita akan bagaimana Jokowi dan JK kelak akan memperoleh dana untuk semua program Jokowi-JK sudahlah tepat. Biarlah Jokowi dan JK menjelaskan bagaimana mereka akan memperoleh dana atas semua program yang dijanjikan … yang hingga saat ini juga belum diungkapkan.

Menyinggung kesepakatan Mita mengenai adanya perdebatan mengenai kebocoran itu yang dikatakannya berasal dari klarifikasi Abraham Samad dan seakan-akan Mita mengarahkan perdebatan tentang kebocoran ini tidak ada kaitannya kecuali hanya dengan ‘pengusaha yang tidak membayar pajak dan banyaknya produk impor yang masuk’. Padahal jikalau Mita benar-benar jeli membaca pernyataan Abraham Samad mengenai, okelah, potensi pendapatan yang bocor itu maka Mita akan mendapati bahwa Abraham Samad di Rakernas PDI Perjuangan di Hotel Ecopark, Ancol, Jakarta (7/9/2013) sebagaimana diberitakan oleh Kompas adalah juga terkait dengan hal-hal lain selain ‘pengusaha yang tidak membayar pajak dan banyaknya produk impor yang masuk’.

Abraham Samad, di dalam berita ini, menyorot potensi pendapatan yang bocor ini juga meliputi kepemilikan 70% oleh asing 45 blok minyak dan gas yang ada di Indonesia. Bahkan Samad waktu itu mendorong nasionalisasi semua blok migas dan potensi sumber daya alam Indonesia. Angka potensi pendapatan yang bocor sebagaimana dikatakan Samad terkait dengan ‘hanya’ 45 blok migas yang ada saat itu adalah 7200 – 20.000 triliun. Perlu dicermati pula bahwa pada saat Samad menyatakan itu, ada rencana pembukaan 144 sumur migas yang baru di Indonesia. Oleh sebab itulah, angka potensi pendapatan yang bocor sebagaimana didengungkan oleh Prabowo-Hatta untuk bisa direngkuh adalah angka potensial yang moderat jika dibandingkan dengan angka fantastis Samad dengan hanya 45 blok migas.

Bertanya pada Hati Nurani dan Juga Akal

Sejujurnya saya terus menerus berkernyit dengan beberapa argumen yang diajukan Mita penggemar berat The Moffats lewat “Surat Terbuka untuk Tasniem” karangannya itu.

Penutup suratnya untuk Tasniem tersebut menampilkan kekhawatiran yang dinisbatkan kepada Tasniem padahal Tasniem tidak menyinggung tentang itu. Mita menganggap Tasniem ‘mengkhawatiri’ Jakarta dipimpin oleh Ahok padahal tidak tertulis hal demikian di dalam surat terbuka Tasniem untuk Jokowi.

Di dalam penutup suratnya untuk Tasniem, Mita kembali lagi mengulik kisah 13 orang aktivis yang masih hilang sebagai kesalahan Prabowo. Pun, Mita harus menyadari bahwa pelemparan tanggung jawab masih hilangnya 13 orang aktivis sebagai salah Prabowo adalah tidak berdasar karena dari kesaksian dan penuturan beberapa orang saksi hidup, 13 orang yang hilang tidak ada kaitannya dengan Tim Mawar di bawah komando Prabowo.

Saya sepakat dengan kepedulian Mita, dan juga Tasniem, mengenai masa depan bangsa ini sebagaimana tercermin di dalam korespondensi ‘imajiner’ mereka. Saya apresiatif terhadap kepedulian mereka mengenai kepada siapa bakal dijatuhkan pilihan yang pas untuk menjadi presiden.

Saya setuju bahwa bangsa ini butuh pemimpin yang tahu potensi kejayaannya. Benar bahwa bangsa ini rindu pemimpin yang mampu membawa bangsa ini disegani oleh bangsa-bangsa lain. Saya sepakat dengan Mita bahwa kita memang sedang ‘bertaruh’ mengenai masa depan anak cucu kita nanti.

Ada hal krusial yang patut diajukan kepada Mita: Apakah ia saat menulis Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia memakai hati yang tidak emosional dan pikiran yang jernih?

Kesan saya terhadap Surat Terbuka karangan Mita atas Surat Terbuka Tasniem

Clayton, 3 Juli 2014

Dipa Nugraha

PS: Kesan ini boleh dibalas atau disanggah

Creative Commons License Surat-surat dalam Pemilu 2014 dan Bagian yang Mungkin Terlewatkan by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

========================================

Endnotes

[1] Dian Paramita. 30 Juni 2014. “Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://www.dianparamita.com/blog/surat-terbuka-untuk-tasniem-fauzia

Berikut ini isi suratnya:

Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia

June 30, 2014

Yang Terhormat Mbak Tasniem Fauzia,

yang dulu sangat saya kagumi sebagai kakak kelas di SMP 5 Yogyakarta.

Mungkin Mbak lupa siapa saya. Panggilan saya Mimit. Saat saya kelas 1 dan Mbak Tasniem kelas 3, kita mendapat kursi bersebelahan untuk mengikuti ulangan umum. Saya ingat betul, Mbak selalu meminjam pensil saya, lalu pulpen saya, lalu penghapus saya, kemudian Mbak berbisik, “sorry ya Dek, aku kere…” Saya tertawa senang mendengarnya. Karena saat itu Mbak Tasniem adalah anak dari Ketua MPR, Amien Rais.

Kita sering mengobrol saat ujian. Dari situ Mbak tau saya fans berat grup musik The Moffatts. Kita bercerita mengenai pengalaman kita nonton konser The Moffatts. Saya nonton yang di Jakarta, Mbak yang di Bandung. Beberapa hari kemudian, Mbak jauh-jauh jalan dari kelas Mbak untuk mendatangi kelas saya, lalu memberikan foto-foto The Moffatts yang Mbak jepret di Bandung. Saya senang sekali. Sampai sekarang foto itu saya simpan.

Setelah Mbak sudah SMA dan saya masih SMP, saya sempat bertemu dengan Mbak di sebuah toko buku. Saat itu Mbak memakai celana baggy hijau dan kaos band berwarna hitam. Mbak terlihat tomboy dan sederhana. Dengan senyum Mbak membalas sapaan saya. Saya yakin, di toko buku itu tak ada yang tau bahwa Mbak Tasniem adalah anak seorang Ketua MPR.

Berulang kali saya ceritakan tentang sosok Mbak Tasniem yang saya kenal dan kagumi. Saya ceritakan ke ibu saya, ke teman-teman saya, ke siapapun jika sedang membicarakan anak pejabat. Karena Mbak berbeda dengan anak pejabat lainnya, saya bangga pernah mengenal Mbak Tasniem.

Namun maaf Mbak, kekaguman saya buyar setelah membaca surat terbuka Mbak untuk Jokowi, 26 Juni 2014 lalu. Karena surat itu tidak seperti surat dari Mbak Tasniem yang saya kenal humble, sederhana, dan jujur. Jika saya berpikiran dangkal, tentu saja saya akan berfikir Mbak menulis itu karena Mbak adalah anak dari Amien Rais, pendukung Prabowo. Namun saya menahan diri untuk tidak berfikir seperti itu dulu.

Oleh karena itu, saya sungguh-sungguh ingin bertanya, apakah benar Mbak Tasniem yang menulis surat itu? Tanpa desakan atau pengaruh dari orang lain? Saya juga berharap Mbak menjawab dengan hati nurani yang paling dalam, jika benar Mbak menulis surat itu, apakah Mbak yakin surat itu baik untuk bangsa ini?

Saya yakin sulit bagi Mbak Tasniem untuk menjawabnya dengan hati nurani yang paling dalam jika di sekeliling Mbak Tasniem adalah pendukung Prabowo. Apalagi mereka adalah keluarga tercinta. Oleh karena itu ijinkan saya membantu Mbak untuk merenunginya dan menjawab beberapa pertanyaan Mbak untuk Jokowi yang saya rasa tidak tepat.

Sumpah Jabatan Jokowi

Pertanyaan Mbak mengenai Jokowi yang meninggalkan Jakarta bukan pertanyaan baru. Saya sudah sering mendengar pertanyaan template ini dari para pendukung Prabowo. Mengapa Jokowi melanggar sumpah jabatannya untuk menyelesaikan Jakarta dan justru mencalonkan diri sebagai presiden? 

Sebelum menjawab terlalu jauh, ada yang harus diluruskan terlebih dahulu agar Mbak Tasniem maupun semua pembaca surat Mbak tidak salah mengerti apa isi sumpah jabatan. Berikut isi sumpah jabatan yang disebutkan Jokowi maupun Ahok di pelantikan mereka 2012 lalu.

Demi Allah saya bersumpah/saya berjanji.

Akan memenuhi kewajiban saya,

sebagai Gubernur/Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta,

dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya,

memegang teguh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,

dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya,

dengan selurus-lurusnya,

serta berbakti kepada masyarakat, nusa, dan bangsa.

Semoga Tuhan menolong saya.

Agar lebih jelas, Mbak Tasniem bisa menonton video sumpah jabatan Jokowi-Ahok disini: Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI masa periode 2012-2017.

Mendengarkan ulang pelantikan itulah yang membuat saya bertanya, apakah Mbak Tasniem betul-betul sudah membaca atau mendengar ulang isi pelantikan Jokowi dengan Ahok tersebut? Karena dalam pelantikan itu saya tidak menemukan satu katapun sumpah Jokowi harus menyelesaikan Jakarta hingga beres. Seperti yang sudah diatur, Jokowi mengucapkan ulang sumpah jabatan itu untuk menjadi Gubernur DKI yang baik, adil, lurus, sesuai UUD ’45, UU, dan peraturan, untuk berbakti kepada masyarakat, nusa, dan bangsa. Lalu dimana letak Jokowi melanggar sumpah jabatan seperti kata Mbak Tasniem?

Kalaupun kita mengalah menggunakan logika Mbak Tasniem untuk menuntut sumpah Jokowi agar membereskan Jakarta, maka semua gubernur sebelum Jokowi juga harus kita tuntut. Mereka semua juga belum membereskan Jakarta. Mengapa hanya Jokowi saja yang dituntut? Toh Jakarta “tidak beres” bukan karena Jokowi. Justru seharusnya kita menuntut mereka yang membuat Jakarta sedemikian rupa buruknya.

Saya setuju Jakarta itu penting untuk segera diperbaiki. Tetapi Jakarta tidak serta merta hancur lebur jika ditinggalkan Jokowi. Jokowi memiliki wakil sehebat Ahok. Jokowi tahu itu. Ahok pun adalah sosok yang diunggulkan Prabowo. Maka jika Jokowi bisa mempercayakan Ahok untuk menggantikannya memimpin Jakarta, mengapa Prabowo sebagai pencalon Ahok tidak bisa percaya kepadanya? Mengapa Mbak Tasniem tidak bisa percaya kepada Ahok?

Mungkin Mbak Tasniem hanya sedikit tidak teliti membaca sumpah jabatan Jokowi. Saya pahami. Itu normal terjadi. Namun Mbak, dari tuntutan Mbak tersebut, yang paling menggelisahkan adalah seakan mengingatkan Jokowi untuk menyelesaikan Jakarta itu jauh lebih penting daripada mengingatkan Prabowo untuk menyelesaikan kasus penculikan 1998. Ada 23 orang diculik, 9 mengaku disiksa, 13 belum kembali, dan 1 mati ditembak. Beberapa korban yang kembali pernah bertemu korban yang masih hilang di markas Kopassus Cijantung. Sehingga Prabowo tidak serta merta terlepas dari keterkaitan kasus korban yang masih hilang.

Mungkin Mbak Tasniem tidak tau, bahwa kasus penculikan 1998 belum selesai. Prabowo belum dinyatakan bersalah atau tidak bersalah oleh pengadilan karena pengadilan untuk kasus ini tidak kunjung dilakukan. Sejak 1998, 3 lembaga negara antara lain Dewan Kehormatan Perwira (DKP), Tim Ad Hoc Komnas HAM, dan Tim Gabungan Pencari Fakta, sudah melakukan penyelidikan dan menemukan keterlibatan Prabowo dalam kasus penculikan 1998 tersebut. Dalam penyelidikannya, tahun 2005-2006 Tim Ad Hoc Komnas HAM memanggil Prabowo untuk bersaksi, namun ia mangkir tak pernah memenuhi panggilan. Tahun 2006, dibantu DPR, Komnas HAM mengajukan pengadilan kasus ini ke Jaksa Agung. Namun hingga detik ini, pengadilan kasus ini belum juga disetujui. Jadi sekali lagi, belum ada pengadilan untuk kasus ini. Maka belum ada kejelasan hukum mengenai status Prabowo bersalah atau tidak bersalah. Untuk lebih jelasnya, saya pernah menulis disini: Rangkaian Penculikan dan Keterlibatan Prabowo.

Lalu apakah memintanya untuk segera menyelesaikan kasus ini di pengadilan tidak jauh lebih penting? Ada 13 keluarga korban yang selama 16 tahun menanti kejelasan dimana orang tercinta mereka, Mbak. 16 tahun dan belum ada keadilan. Kata seorang ibu korban yang masih hilang, “separuh usiaku untuk membesarkan anakku. Separuh jiwaku terus sepi menunggu dia kembali…”

Tidak seperti Jokowi yang bisa digantikan Ahok dalam memimpin Jakarta, penyelesaian kasus penculikan 1998 hanya bisa dimulai dari kesaksian Prabowo. Tak ada yang bisa menyelesaikan kasus ini tanpa Prabowo ke pengadilan dan membuka semua kebenaran. Termasuk menyeret semua jendral yang terlibat.

Lagipula, menurut surat rekomendasi DKP pun Prabowo direkomendasikan untuk diberhentikan dari dinas keprajuritan karena melanggar Sapta Marga dan sumpah prajurit. Salah satu sumpah prajurit adalah tidak membantah perintah atasan dan salah satu isi Sapta Marga adalah membela kejujuran, kebenaran, maupun keadilan. Prabowo melanggar sumpah prajuritnya dengan melakukan tindakan yang tidak sesuai komando atasannya. Prabowo pun melanggar Sapta Marga-nya karena tidak bersedia memberi kesaksian saat dipanggil Komnas HAM terkait kasus penculikan 1998. Walaupun kesaksiaan Prabowo penting untuk memberikan keadilan kepada korban dan keluarga korban.

Mbak Tasniem, justru inilah yang disebut melanggar sumpah jabatan. Apa yang diucap Prabowo, tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya. Lalu mengapa Mbak Tasniem lebih menggelisahkan Jakarta dan Jokowi yang ternyata tidak melanggar ucapan sumpahnya, daripada menggelisahkan nasib kakak-kakak kita yang diculik, disiksa, dibunuh, dihilangkan, dan Prabowo yang jelas melanggar ucapan sumpahnya?

Ditakut vs Disegani

Mbak Tasniem yang cantik, ingat tidak kita pernah mengidolai The Moffatts? Sampai rela berdesak-desakan untuk menonton mereka dan mengambil gambar mereka. The Moffatts adalah band asing asal Kanada. Namun apakah kita takut kepada mereka? Kita menyukai dan mengaggumi mereka, bukan takut pada mereka. Itulah yang penting dalam menjalin hubungan antar bangsa. Saling menghormati dan dihormati. Bukan saling menakuti dan ditakuti.

Menurut Mbak Tasniem founding father kita pernah berpesan untuk memiliki pemimpin yang ditakuti, dibenci, dan dicaci maki asing karena pemimpin yang seperti itulah yang akan membela kepentingan bangsa. Tapi saya rasa ini tidak tepat untuk di jaman yang lebih ramah seperti sekarang. Saya katakan ramah karena di jaman sekarang ini, segala permasalah antar negara tidak lagi diselesaikan dengan perang. Tetapi sebisa mungkin kita selesaikan dengan menggunakan cara damai kekeluargaan yaitu jalur diplomasi.

Maka untuk apa memiliki pemimpin yang ditakuti bangsa lain? Kita tidak sedang berperang. Kita sedang menjalin hubungan baik saling menguntungkan antar bangsa. Memiliki pemimpin yang ditakuti tidak akan memberi dampak yang positif bagi bangsa ini. Contohnya Korea Utara. Amerika Serikat bahkan PBB pun tak dapat ikut campur dengan apa yang sudah Kim Jong Un perbuat dengan keji kepada rakyatnya. Karena mereka takut. Lalu apakah ketakutan AS pada Kim Jong Un itu berdampak baik bagi rakyat Korea Utara? Justru tidak. Jika kita kaget dan iba menonton film jaman dahulu yang rajanya menyiksa rakyat dan memperlakukan rakyat dengan tidak adil, maka jangan kaget pula jika itu masih terjadi di Korea Utara. Hingga detik ini.

Sehingga bagi saya Mbak Tasniem, kita tidak lagi membutuhkan pemimpin yang ditakuti, namun disegani bangsa asing. Karena di jaman kita sekarang, kita tidak lagi sedang berperang, namun kita sedang bekerja sama yang saling menguntungkan. Saya mohon Mbak Tasniem, jangan lagi memandang bangsa asing sebagai musuh. Karena itu akan menghacurkan kita sendiri. Pandanglah bangsa asing sebagai teman baik untuk bekerja sama dan berkompetisi. Untuk memiliki teman baik seperti itu, maka kita harus ramah namun disegani, bukan ditakuti.

Saya percaya, bahwa Jokowi tidak akan sempurna nantinya. Namun saya pun percaya, dia bukan jenis pemimpin yang represif atau yang memaksakan perintahnya kepada rakyat. Sehingga nantinya, jika Mbak Tasniem merasa Jokowi tidak bisa membela kepentingan bangsa di atas kepentingan asing, kita bisa dengan lantang tanpa rasa takut untuk mengkritisinya.

Jokowi dan Bangsa Asing

[Gambar Sampul Depan dua edisi Majalah Fortune.

Satu edisi menampilkan foto Jokowi di sampul depan

dan edisi lainnya menampilkan Bill Clinton berada di halaman muka]

Tentu saja sosok Jokowi sudah menjadi sosok yang disegani bangsa asing. Ia berulang kali disorot media asing dengan positif. Salah satunya, seperti yang Mbak Tasniem sebutkan, Jokowi masuk dalam majalah Fortune. Tidak tanggung-tanggung ia dinobatkan sebagai salah satu dari 50 pemimpin terbaik di dunia. Ia disandingkan dengan para pemimpin hebat lainnya seperti Dalai Lama, Bill Clinton, Pope Francis, dan Aung San Suu Kyi. Mengutip majalah Fortune sebelum memperkenalkan 50 pemimpin hebat versi mereka,

In era that feels starved for leadership, we’ve found men and women who will inspire you – some famous, others little known, all of them energizing their followers and making the world better.

Membaca kutipan itu dan mengetahui bahwa ada orang Indonesia termasuk yang disebut di dalam kutipan itu, maka seharusnya Mbak Tasniem bangga, bukan khawatir. Bahwa ada calon pemimpin kita yang disegani bangsa asing sedemikian rupa. Sehingga akan membantu kita berhubungan baik saling menguntungkan dengan mereka.

Jokowi Mampu

Mbak Tasniem yang manis, sebenarnya apa yang Mbak tanyakan kepada Jokowi mengenai kemampuannya memimpin 250 juta jiwa Indonesia seharusnya ditanyakan juga kepada Prabowo. Apakah Prabowo mampu? Namun baik Jokowi maupun Prabowo tidak perlu menjawab. Hanya rekam jejak mereka yang bisa menjawab dengan jujur, apakah mereka mampu atau tidak memimpin bangsa ini?

Rekam jejak Jokowi mengatakan ia mampu. Ia telah memimpin Kota Solo dengan baik. Kalo tidak baik, mengapa rakyat Solo menyanjung dan menghormatinya hingga sekarang? Bahkan mendukungnya untuk menjadi presiden? Kalo tidak baik, mengapa sejak dahulu kita sudah mendengar nama Jokowi walaupun ia hanya seorang walikota? Saya ingat betul saya mendengar nama besar Jokowi pada tahun 2011, di acara Provocative Proactive yang dipandu teman baik saya Pandji Pragiwaksono. Acara ini adalah sebuah acara remaja yang membahas politik. Di kesempatan itu Mas Pandji menyebut Jokowi sebagai seorang walikota yang hebat. Beberapa bulan kemudian banyak sekali berita baik mengenai kinerjanya. Karena itu masyarakat memohon kepada PDIP untuk mencalonkan Jokowi agar memimpin ibukota Indonesia, Jakarta. Ia pun berangkat ke Jakarta dan terpilih. Tidak sampai disitu, ia pun melakukan berbagai perubahan berarti, seperti pembangunan MRT, penertiban Tanah Abang, penertiban topeng monyet, dsb. Kemudian masyarakat memohon kepada Megawati dan PDIP untuk mencalonkan Jokowi sebagai presiden. Termasuk saya. Termasuk keluarga saya. Termasuk teman-teman saya. Banyak. Ia mencalonkan diri sebagai presiden bukan karena paksaan Megawati, namun karena paksaan saya dan jutaan rakyat lainnya.

Sementara rekam jejak Prabowo belum menunjukkan ia mampu memimpin 250 juta jiwa Indonesia. Ia adalah mantan seorang pemimpin prajurit militer. Mbak Tasniem, prajurit militer itu berbeda dengan rakyat sipil. Dimana prajurit harus menuruti semua komando pemimpinnya, tanpa boleh protes. Berbeda dengan rakyat sipil yang justru idealnya terus mengkritisi pemerintah jika dirasa kebijakannya tidak baik. Bahkan sebagai prajurit pun Prabowo pernah diberhentikan dari ABRI 11 tahun sebelum masa pensiunnya. Disini letak perbedaannya. Jokowi sudah teruji dan dipuji saat memimpin rakyat sipil di 2 wilayah Indonesia, sementara Prabowo belum teruji dan bahkan pernah diberhentikan dari militer.

Maka dari itu Mbak Tasniem, bertanyalah pada hati yang terdalam, apakah seseorang bisa kita percaya akan menjadi pemimpin yang baik jika belum teruji dan pernah diberhentikan? Menurut rekam jejak kedua calon, siapakah yang lebih siap dan mampu memimpin 250 juta jiwa Indonesia yang mayoritas sipil itu?

Blusukan Jokowi

Saya tahu Mbak Tasniem dari keluarga muslim yang dihormati. Saya pun yakin Mbak Tasniem adalah seorang muslimah yang baik. Karena muslimah yang baik adalah mereka yang selalu berprasangka baik. Maka mari kita berprasangka baik pada blusukan Jokowi.

Blusukan Jokowi tidak begitu saja langsung diketahui media lalu disorot. Ada prosesnya. Darimana media tau Jokowi blusukan jika sebelumnya Jokowi tidak blusukan di berbagai tempat? Blusukan Jokowi dilakukannya jauh sebelum media tahu, lalu kemudian menjadi pembahasan masyarakat, lalu kemudian media tertarik dan meliput.

Namun untuk menjawab keraguan Mbak Tasniem mengenai keikhlasan Jokowi dalam blusukan dan kesederhanaannya, mungkin Mbak Tasniem perlu mengetahui cerita kesaksian dari 3 anak bangsa ini. Namanya Maya Eliza, Vicky Nidya Putri, dan Hanny Wong Kandou.

[gambar status akun media sosial Maya Eliza yang berbunyi]

“Orang mo ngomong apa kek soal Jokowi…tapi saat gw pulang lembur gwpernah lihat beliau di bendungan halimun yang dulu jebol jam 11 malamtanpa tivi dan pengawalan, tanpa mobil dinas gubernur…mobilnya innova hitam tanpa plat merah. Lalu pernah bertemu lg dng beliau saat gw mau dinas di toll bandara saat hujan deras jam 2 pagi…saat itu beliau sdg cek proses pengerukan kali karena pada hari itu hujan dari malam tidak berhenti-henti dan lagi2 tanpa tivi dan pengawalan …mo Jokowisuku apa kek, agama apa kek…yang penting beliau orang Indonesia dan beliau bekerja tanpa banyak mulut …jadi stop black campaign …biarkan masing2 calon presiden dan wakil presiden kampanye dengan cara terhormat”

[lalu gambar status akun media sosial Facebook milik Vicky Nidya Putri yang berbunyi]

“Pembantuku mit…ngefans banget sama jokowi..dah blusukan 3 kali ke kampungnya katanya.. 🙂 Pernah aku tanya juga “banyak wartawan yang foto2 kampungnya bibi dong?” Dia bilang ga ada..tp emang klo blusukan dia bilang dulu ke kepada desa setempat katanya..trus ntar disiapin suguhan singkong goreng dan jajanan pasar gitu..bukan hidangan yg mewah2 gitu..dan pasti sama jokowi dimakan katanya.. :)”

[lalu gambar status akun media sosial milik Hanny Wong Kandou yang menampilakn foto ybs. bersama Jokowi. Bunyi statusnya sebagai berikut]

“Cerita di balik foto ini: Sepulang dari Hong Kong sambil menunggu pesawat lanjutan ke Manado, sore hari itu awal bulan Januari 2013 kira-kira pukul 18:00, saya sedang duduk bersama istri saya di lounge BNI terminal 2D Soekarno-Hatta, sekelebat saya melihat bayangan yang kurus dan sederhana melintas di depan saya sambil menarik koper kecilnya, waah itu pak gubernur DKI. Saya tidak habis pikir seorang pejabat berjalan dengan santai tanpa ada pengawalan dan menarik kopernya sendiri dan di tangannya saya melihat selembar boarding pas yang sama dengan saya..kelas ekonomi kelas rakyat. Saya memberanikan diri menghampiri dan meminta dengan hormat untuk foto bersama, dia tersenyumdan berkata “boleh boleh pak, saya nggak buru-buru kok” (beliau menyebut saya Pak). Saya langsung menyerahkan HP saya ke istri saya untuk mengabadikanpertemuan saya dengan sang gubernur ini. Selesai foto dia menjabat tangan saya dan berkata “terima kasih, have a nice flight”. Dalam hati saya berpikir, ini orang yang sungguh luar biasa, dan saya tidak menyangka dia sekarang calon presiden kita. Pertemuan itulah yang membuat saya sadar bahwa kesederhanaan yang media tayangkan setiap hari bukanlah pencitraan tetapi itulah beliau, itulah JOKOWI yang cara hidupnya sama dengan KITA. Siapkah kita untuk menjadi sederhana apabila dipimpin oleh beliau nantinya? #justshare – with Fandy”

Karena kagum, baik Maya, Vicky, maupun Hanny membagikan cerita dan fotonya ke Facebook. Pengalaman mereka ini menjadi viral dibagikan oleh anak bangsa lainnya. Ini bukan cerita dari media. Ini cerita dari anak bangsa seperti kita, Mbak Tasniem.

Dana dan Kebocoran

Menanggapi pertanyaan Mbak tentang asal dana untuk program Jokowi akan sulit. Karena itu memang hanya bisa ditanggapi oleh Jokowi dan timnya sendiri. Namun kemudian Mbak Tasniem menyebutkan kebocoran kekayaan alam Indonesia yang dijelaskan Prabowo di dalam debat capres kedua.

Mbak Tasniem yang cerdas, bukankah kebocoran yang disebut Prabowo itu penuh perdebatan? Jika Prabowo mengaku mendapatkan data kebocoran itu dari Abraham Samad, maka sebenarnya maksud Abraham Samad yang bocor itu bukan dana yang sudah ada, bukan pula alam Indonesia. Maksud Abraham Samad mengenai kebocoran adalah hilangnya potensi pendapatan negara. Potensi ini hilang bukan karena dicuri, namun karena banyak pengusaha yang tidak membayar pajak atau banyaknya produk impor yang masuk.

Jika menurut Mbak Tasniem dana program Prabowo berasal dari kebocoran itu, maka ini berarti pihak Prabowo menggantungkan dana program mereka dari sesuatu yang masih bersifat potensi. Potensi yang masih mungkin berhasil didapatkan, tetapi mungkin juga tidak berhasil didapatkan. Kemungkinan potensi ini berhasil didapatkan negara adalah melalui perbaikan peraturan pajak atau ketegasan pemerintah dalam menarik pajak kepada pengusaha. Lain lagi dalam impor, potensi baru bisa berhasil didapatkan jika pemerintah mampu melindungi produk dalam negri dari impor.

Tentu saja untuk menuju keberhasilan, kedua cara ini prosesnya bersifat lama. Jika demikian, sambil menunggu proses mendapatkan dana dari potensi itu, dari mana dana untuk program-program Prabowo? Bahkan potensi dana belum tentu berhasil didapatkan. Jika tidak berhasil didapatkan kemudian pertanyaannya, dari mana dana untuk program-program Prabowo?

Bertanya Pada Hati Nurani

Sejujurnya saya kecewa dengan isi surat Mbak Tasniem. Surat Mbak Tasniem menggelisahkan untuk bangsa ini. Karena Mbak Tasniem seakan lebih mengkhawatirkan Jakarta dipimpin Ahok daripada mengkhawatirkan 13 anak bangsa yang masih hilang di bawah komando Prabowo. Seakan sumpah jabatan Jokowi itu lebih berdosa daripada Prabowo melanggar sumpah prajuritnya. Seakan blusukan Jokowi itu perlu dicurigai daripada mencurigai koalisi gemuk dan koruptor pengemplang pajak di belakang Prabowo. Seakan jaman sekarang lebih butuh pemimpin yang ditakuti karena pernah melanggar HAM daripada pemimpin yang disegani dan dipuji bangsa lain. Seakan lebih tepat meremehkan kemampuan Jokowi yang terbukti sudah mampu memimpin 2 wilayah di Indonesia daripada meremehkan Prabowo yang belum pernah memimpin sipil dan jelas diberhentikan atasannya. Seakan lebih baik memaklumi masa lalu kelam Prabowo dan orang-orang lama bermasalah di belakangnya daripada memaklumi masa lalu Jokowi yang terbukti baik.

Kita tidak sedang bertaruh seperti suporter sepak bola dengan taruhan uang pribadi. Kita sedang menentukan masa depan bangsa, yang taruhannya anak-cucu kita nanti. Memang betul kita harus selalu bertanya pada hati nurani yang paling dalam untuk keputusan kita memilih pemimpin nanti. Maka Mbak Tasniem, mohon tanyakan pada diri sendiri, apakah benar Mbak Tasniem menulis surat itu dengan hati yang paling dalam?

Surat tulus dari mantan adik kelasmu yang dulu mengaggumimu,

Jakarta, 30 Juni 2014,

Dian Paramita

PS: Surat ini tak perlu dibalas.

[2] Tasniem Fauzia. 26 Juni 2014. “Suratku untuk Yang Terhormat Bapak Jokowi”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://m.news.viva.co.id/news/read/516610-surat-terbuka-putri-amien-rais-untuk-joko-widodo

Berikut ini isi suratnya:

Jika anda, atau siapa saja yang membaca ini kenal dengan Bapak Jokowi, Mohon sampaikan surat ini kepada beliau.

Suratku untuk Yang Terhormat Bapak Jokowi,

Yang saya hormati Bapak Jokowi calon presiden Indonesia,

Dear Pak Jokowi, ini adalah surat dari salah satu anak bangsa Indonesia, yang ingin menyatakan beberapa hal kepada bapak, semoga ketika bapak membaca surat ini, bapak sedang sendiri, dan bisa menggunakan surat ini untuk perenungan bapak secara pribadi. Yang terhormat bapak Jokowi, ketika anda mengucapkan sumpah di bawah Al-Quran untuk menjadi gubernur DKI Jakarta, apakah anda masih ingat itu Pak? Mengapa bapak seolah-olah lupa dengan janji bapak kepada masyarakat dan juga janji bapak kepada Tuhan YME untuk melaksanakan tugas bapak hingga Jakarta beres?Saya hanya berharap Bapak masih ingat janji dan sumpah itu. Sebuah sumpah dan janji bukankah harus ditepati Pak…

Yang terhormat bapak Jokowi, apakah menurut bapak, menurut hati nurani bapak yang paling terdalam, bapak mampu memimpin 250juta manusia dan rakyat Indonesia? Sedangkan tanggung jawab di Jakarta saja belum terpenuhi, Bapak malah mau mencoba mengemban tanggung jawab yang lebih berat lagi? apakah anda yakin MAMPU mengemban amanat 250 juta rakyat Indonesia yang kebanyakan masih kelaparan ini bapak? Saya mohon bapak bisa menggunakan hati nurani Bapak,pikiran jernih Bapak, bertanya kepada diri sendiri “Apakah saya mampu? Apakah saya punya kapabilitas untuk menjadi pemimpin dari tugas dan amanah yang tidak main-main ini?”

Yang terhormat bapak Jokowi, saya mohon anda mau menanyakan kepada batin bersih dan batin suci bapak, untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah jika nanti anda terpilih menjadi presiden, tidak akan ada lagi pengaruh dari Ibu Megawati di mana Bapak punya keterikatan yang sangat besar dengan beliau, bahkan kita semua tahu ketika beliau menyuruh anda menjadi capres, anda pun harus nurut kepada Ibu Megawati, dan melanggar sumpah bapak ketika menjadi gubernur Jakarta?

Bapak, mohon tanyakan kepada sanubari bapak yang terdalam, dari mana anda dan team anda akan mendapatkan dana yang begitu besar untuk melakukan program-program yang nanti akan anda implementasikan jika menjadi presiden, semua program yang bapak sebutkan ketika debat beberapa waktu silam, seperti pembelian drone, program kesehatan, pendidikan, dan lainnya itu semua, butuh dana, dan dari mana asalnya selain dari menaikkan pajak Pak? Kalau dari Pak Prabowo sudah sangat jelas, akan diamankannya kekayaan alam bangsa Indonesia yang bocor yang nilainya ribuan trilyun itu per tahunnya untuk dijadikan modal program-program kebaikan pendidikan dan kesehatan. Kalau dari Bapak, dari mana Pak dananya? Sedangkan sekarang APBN kita sudah dalam kondisi defisit?

Pak Jokowi, mohon anda tanyakan ke lubuk hati anda yang paling terdalam pertanyaan ini, “Apakah saya bisa berjanji kepada diri saya sendiri dan Tuhan YME untuk membela NKRI dari penjajahan asing dalam bentuk penguasaan kekayaan alam kita, sumber daya minyak, gas, tembaga, emas,semua tambang mineral kita, kekayaan darat, laut, udara Indonesia?” dan “Apakah saya sanggup dan punya keberanian untuk melakukan renegosiasi dengan pihak asing yang mengklaim pulau-pulau Indonesia sebagai daerah wilayah mereka?Apakah saya yakin saya punya kemampuan untuk memimpin dan mempertahankan keutuhan bangsa kita ini?” Bapak Jokowi yang saya hormati, anda begitu disanjung-sanjung oleh Amerika, anda dimasukkan di majalah Fortune misalnya, dan kita tahu kebanyakan penguasa kekayaan alam di Indonesia ini adalah negara Amerika yang selalu memuji-muji anda. Apakah jika nanti anda harus duduk berdiplomasi dengan negara amerika atau negara adidaya mana pun yang telah menguasai hajat hidup kami orang banyak ini, anda bisa LEBIH mengutamakan kepentingan kami sebagai rakyat Indonesia? Pak Jokowi, ada satu hal yang Amerika lupa, Founding Father kita pernah berpesan kepada kita semua bangsa Indonesia: “Ingatlah…ingatlah…ingat pesanku lagi: Jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti, atau dicacimaki asing, karena itu yang benar. Pemimpin tersebut akan membelamu di atas kepentingan asing. Dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuja-puja asing, karna ia akan memperdayaimu”

Bapak Jokowi yang terhormat, ada satu pertanyaan yang sangat mengganjal batin kami, dalam karir Pak Jokowi beberapa tahun terakhir ini, Bapak sering blusukan ke tempat-tempat, dan sering diikuti dan diliput oleh wartawan. Pak Jokowi juga sempat masuk got dalam suatu acara, dan di situ banyak sekali wartawan meliput. Yang ingin saya tanyakan pak, dan ini mohon di jawab dengan hati nurani saja, apakah tidak terbesit sama sekali, bapak kemana-mana, sering ada wartawan yang meliput termasuk ketika masuk got ini, apakah ini ikhlas seutuhnya, atau karna di situ ada media supaya bisa jadi bahan cerita Pak? Bukankah akan lebih terpuji Pak jika blusukan-blusukan itu tidak perlu diliput dan disiarkan di semua media massa?

Bapak Jokowi yang saya hormati, kemarin di debat terakhir tentang Pertahanan bangsa, bapak bilang, “Akan kita bikin rame kalo ada yang mau ngeclaim wilayah kita jadi wilayah mereka”, dengan bapak bilang seperti ini, mohon tanyakan kepada hati bapak : “Apakah saya sanggup untuk mengorbankan jiwa dan raga saya sendiri untuk tumpah darah Indonesia seperti yang telah pak Prabowo lakukan berkali-kali dalam jejak hidupnya?”

Bapak Jokowi, semoga bapak mau merenungkan pertanyaan-pertanyaan, semoga anda berkenan menjawab surat ini dengan hati nurani bapak. Surat ini tidak perlu dibalas, surat ini hanya untuk perenungan pribadi anda sebagai bangsa Indonesia yang tentunya ingin Indonesia ini menjadi negara yang bermartabat, berdaulat, adil, makmur, dan rakyatnya tidak terjajah lagi oleh bangsa asing. Sekali lagi, tanyakan kepada diri sendiri “Apakah saya mampu?”

Surat tulus dari anak bangsa Indonesia,

Nijmegen,

26 Juni 2014

Tasniem Fauzia

[3] Sandro Gatra (ed.). 27 Juni 2014. “Dukung Prabowo, Putri Amien Rais Buat Surat Terbuka untuk Jokowi”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://nasional.kompas.com/read/2014/06/27/1141265/Dukung.Prabowo.Putri.Amien.Rais.Buat.Surat.Terbuka.untuk.Jokowi

[4] Linda Trianita. 25 Juni 2014. “Goenawan Mohamad: Media Tak Harus Netral”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://www.tempo.co/read/news/2014/06/25/078587795/Goenawan-Mohamad-Media-Tak-Harus-Netral

[5] Tri Suharman. 14 Mei 2014. “PAN Dukung Prabowo, Goenawan Mohamad Mundur”. Web. Diakses 15 September dari:

http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/05/14/269577796/

[6] Palupi Annisa Auliani (ed.). 15 Mei 2014. “Kami Tak Kehilangan Goenawan Mohamad”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/05/15/1142411/kami.tak.kehilangan.goenawan.mohamad

[7] voa-Islam.com. 7 Juli 2014. “Melawan Lupa (14): Ivan Katz, CIA, Goenawan Mohamad & Kekerasan Budaya Pasca 1965. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://m.voa-islam.com/news/liberalism/2014/07/07/31388/melawan-lupa-(14)ivan-katsciagoenawan-mohamad-kekerasan-kebudayaan-pasca-1965/

[8] Inggried Dwi Wedhaswary (ed.). 1 Juli 2014. “Lagi, Balasan Surat Terbuka untuk Putri Amien Rasi soal Jokowi“. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/07/01/1020300/lagi.balasan.surat.terbuka.untuk.putri.amien.rais.soal.jokowi

[9] Gangsar Parikesit. 24 Juni 2014. “Fadli Zon Persoalkan Kompas dan Tempo“. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/06/24/269587526/Fadli-Zon-Persoalkan-Kompas-dan-Tempo

[10] Aisha Shaidra. 24 juni 2014. “AJI: Berita Capres di Kompas dan Tempo Berimbang”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://www.tempo.co/read/news/2014/06/24/078587603/AJI-Berita-Capres-di-Tempo-dan-Kompas-Berimbang

[11] Aliansi Jurnalis Independen. “Sejarah Aliansi Jurnalis Independen”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://aji.or.id/read/sejarah.html

[12] dalam Yulistyo Pratomo. 20 Mei 2014. “Pemilik MetroTV di sisi Jokowi, tv-One-MNC Grup di sisi Prabowo”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://www.merdeka.com/politik/pemilik-metrotv-di-sisi-jokowi-tvone-mnc-grup-di-sisi-prabowo.html

[13] ibid

[14] Sandro Gatra (ed.). 22 April 2014. “Capres dan Media Sosial”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/04/22/0928513/capres.dan.media.sosial

Fans Page Prabowo Subianto

https://www.facebook.com/PrabowoSubianto

Akun Twitter Prabowo Subianto

https://twitter.com/Prabowo08

Fans Page Joko Widodo dan Fans Page Jokowi untuk kampanye Pilpres 2014

https://www.facebook.com/JKWofficial

https://www.facebook.com/IndonesiaHebatJokowi

Akun Twitter Joko Widodo

https://twitter.com/jokowi_do2

[15] Antara (Kantor Berita Indonesia). 27 April 2014. “Akun Pendukung Jokowi Giring Opini Publik” dirilis oleh Yahoo! News Indonesia. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

https://id.berita.yahoo.com/akun-pendukung-jokowi-giring-opini-publik-150146852.html

[16] Arimbi Ramadhiani (Laksono Hari Wiwoho, ed.). 22 April 2014. “Fadli Zon Sindir Akun Palsu dengan Puisi ‘Pasukan Nasi Bungkus’”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/04/22/1731507/fadli.zon.sindir.akun.palsu.dengan.puisi.pasukan.nasi.bungkus?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

[17] Adib M Asfar (ed.). 28 Mei 2014. “Fadli Zon Sebut Pasukan Nasi Bungkus, Ini Tanggapan Anies Baswedan”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://www.harianjogja.com/baca/2014/05/28/jokowi-vs-prabowo-fadli-zon-sebut-pasukan-nasi-bungkus-ini-tanggapan-anies-baswedan-510142

[18] Meidella Syahni (Heru Margianto, ed.). 25 April 2014. “Penjelasan ‘Jokowers’ Soal Panasbung”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/04/25/2028185/penjelasan.jokowers.soal.panasbung

[19] Rizki Gunawan. 22 juli 2014. “KPU Umumkan Jokowi-JK Pemenang Pilpres 2014”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://m.liputan6.com/indonesia-baru/read/2081891/kpu-umumkan-jokowi-jk-pemenang-pilpres-2014

[20] Taufik Ismail (Johnson Simanjuntak, ed.). 21 Juli 2014. “KPU: Pengumuman Rekapitulasi Tetap Diumumkan Besok”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/07/21/kpu-pengumuman-rekapitulasi-tetap-dilaksanakan-besok

[21] Achmad Zulfikar Fazli. 4 Agustus 2014. “Prabowo-Hatta Gugat Hasil Pilpres Seluruh Provinsi di Pulau Jawa”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://pemilu.metrotvnews.com/read/2014/08/04/273326/prabowo-hatta-gugat-hasil-pilpres-seluruh-provinsi-di-pulau-jawa

[22] Dian Maharani (Heru Margianto, ed.). 27 Juli 2014. “Di Berkas Gugatan, Tim Prabowo-Hatta Sebut Kecurangan Sistematis Dilakukan Pasangan Nomor Urut 1”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/07/27/17143141/di.berkas.gugatan.tim.prabowo-hatta.sebut.kecurangan.sistematis.dilakukan.pasangan.nomor.urut.1

[23] Tantii Yulianingsih. 21 Agustus 2014. “Tim Jokowi JK: MK Sudah Putuskan, Mari Bergandengan Tangan”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2094621/tim-jokowi-jk-mk-sudah-putuskan-mari-bergandengan-tangan

[24] Gil. 16 Agustus 2013. “Jokowi Masih Ogah Pikirkan Pencapresan”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://www.jpnn.com/read/2013/08/16/186507/index.php

Y Gustaman (Johnson Simanjuntak, ed.). 8 Juli 2013. “Jokowi: Jangan Panasin Saya Soal Pencapresan”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://www.tribunnews.com/nasional/2013/07/08/jokowi-jangan-panasin-saya-soal-pencapresan

[25] Luqman Rimadi. 19 Maret 2014. “Perjanjian Batu Tulis, Jokowi: Itu Urusan Partai”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2025237/perjanjian-batu-tulis-jokowi-itu-urusan-partai

[26] Hertanto Soebijoto (ed.). 22 Maret 2012. “Detik-detik Jelang Ahok Dipinang Prabowo”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/03/22/1404501/Detikdetik.Jelang.Ahok.Dipinang.Prabowo?fb_action_ids=10201353563521699&fb_action_types=og.shares&fb_source=other_multiline&action_object_map=%7B%2210201353563521699%22%3A10150601139716787%7D&action_type_map=%7B%2210201353563521699%22%3A%22og.shares%22%7D&action_ref_map=%5B%5D

[27] Bayu Galih dan Dwifantya Aquina. 8 September 2012. “Prabowo Komentari Baliho SARA yang Sudutkan Jokowi”. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://metro.news.viva.co.id/news/read/349842-prabowo-komentari-baliho-sara-yang-sudutkan-jokowi

[28] Dipa Nugraha. 3 Juli 2014. “Kesan (bukan Balasan) atas ‘Surat Terbuka untuk Tasniem Fauzia’ Karangan Dian Paramita“. Web. Diakses 15 September 2014 dari:

http://politik.kompasiana.com/2014/07/03/kesan-bukan-balasan-atas-surat-terbuka-untuk-tasniem-fauzia-karangan-dian-paramita–666041.html

Angka

Walter Sparrow menjalani kehidupan delusional. Bisa jadi beberapa dari kita juga terperangkap pada situasi yang sama. Di dalam film The Number 23[i], Sparrow yang diperankan oleh Jim Carrey percaya bahwa novel yang dibelikan istrinya sebagai hadiah ulang tahunnya mengisahkan dan menujumkan tentang kisah hidupnya. Ia, pelan namun pasti, mulai menemukan hal-hal yang berada di sekelilingnya memiliki unsur angka 23.

Bisa jadi kita juga mengalami keadaan yang mirip, menjalani keyakinan yang senada, dan hidup dengan fantasi yang serupa. Misalnya saat kita mendapat angka 13. Kita mulai meracau dan bergolak di dalam benak bahwa kita bakal mengalami nasib yang sial. Mitos tentang angka 13 sebagai angka sial tak lepas dari mitos yang terbangun sejak 1700 SM dari tidak disebutnya angka 13 di dalam Codex Hammurabi kemudian dikokohkan dengan mitos yang timbul dari kisah tragis dari Perjamuan Terakhir: Yesus (p.b.u.h) dan 12 muridnya[ii],[iii][iv].

Lebih lanjut mengenai kisah angka 13 adalah pengkhususan kepada Jumat tanggal 13 sebagaimana budaya Barat memakunya sebagai hari sial. Jumat tanggal 13 dianggap sebagai hari sial dapat dirunut pada sejarah kekristenan. Pada hari Jumat tanggal 13 bulan Oktober 1307, raja Philip IV dari Perancis yang bermufakat dengan Paus Clement V mengeluarkan perintah penahanan Knights Templar – Para Ksatria Pelindung Yerusalem. Tuduhan yang dijatuhkan kepada ratusan anggota Knights Templar adalah bermacam-macam mulai dari bidah, sodomi, hingga penyalahgunaan kewenangan[v]. Ratusan anggota Knights Templar ini disiksa dan juga sebagian mati dibakar hidup-hidup[vi].

Fobia terhadap angka 13 berlanjut hingga sekarang. Seiring dengan diseminasi hegemoni budaya Barat lewat globalisasi, mitos tentang sial angka 13 ini menyebar ke seluruh dunia. Beberapa gedung di segala penjuru dunia tidak memiliki lantai 13 karena angka ini dianggap membawa sial[vii]. Meskipun demikian, di beberapa negara nampaknya ada pengecualian mengenai sial angka 13 juga Jumat tanggal 13.

Di Indonesia seluruh ‘paket elemen budaya’ Jumat tanggal 13 tidak seluruhnya diserap. Tidak terserapnya seluruh paket ‘keyakinan’ ini mungkin dikarenakan Indonesia sudah memiliki ‘takhayul’ sendiri mengenai hari yaitu (malam) Jumat Kliwon[viii]. Di China, mitos angka 13 tidak laku. China memiliki mitos tentang angka 4 sebagai angka sial. Di dalam budaya China, uniknya angka 13 justru menjadi angka aman. Walau demikian, terdapat fenomena serupa mengenai bangunan beringkat dan mitos angka sial sebagaimana terjadi di Barat. Beberapa gedung tinggi di China tidak memiliki lantai 4 dengan alasan yang sama: mitos mendatangkan sial[ix].

Kisah mengenai fobia terhadap angka 13 dan juga Jumat tanggal 13 di budaya Barat telah menjadi sebuah studi yang serius. Donald Dossey, ahli fobia terkenal, bahkan membuat kajian di Amerika Serikat mengenai paraskevidekatriaphobia atau friggatriskaidekaphobia. Dua istilah yang membuat malas ketik ulang ini adalah fobia yang berkenaan dengan ketakutan terhadap Jumat tanggal 13. Paraskevi adalah bahasa Yunani untuk Jumat sedangkan frigga adalah sebutan bagi dewa yang merujuk pada penamaan Friday (Jumat) dan dekatria atau triskaideka adalah angka 13.

Berdasar studi Dossey, ditemukan banyak sekali orang Amerika Serikat yang memiliki fobia terhadap Jumat tanggal 13. Angkanya sungguh mencengangkan. Di jaman modern ini masih terdapat 21 juta orang Amerika Serikat yang percaya takhayul sial di hari Jumat tanggal 13. ‘Kepercayaan’ ini bahkan sampai pada kondisi ekstreme. Berdasar temuan Dossey, banyak di antara warga Amerika Serikat membolos bekerja, tidak berani keluar membeli makanan, dan seterusnya dan seterusnya jika bertemu dengan Jumat tanggal 13[x],[xi].

Studi serius tentang takhayul Jumat tanggal 13 di dalam masyarakat modern tidak hanya dilakukan di Amerikat Serikat. Fenomena fobia Jumat tanggal 13 membuat empat orang praktisi-akademisi di bidang Public Health di UK mengadakan penelitian. Hasil penelitian mereka lalu diterbitkan di dalam British Medical Journal. Scanlon dan ketiga rekannya meneliti apakah ‘keyakinan’ mengenai Jumat tanggal 13 memiliki dampak buruk bagi kesehatan dan perilaku masyarakat UK. Paper mereka ini mereka beri judul “Is Friday the 13th bad for your health?[xii]. Rekomendasi dari temuan mereka adalah sungguh menarik, atau mungkin lucu, atau mungkin keduanya: pada hari Jumat tanggal 13 disarankan bagi warga UK untuk tetap tinggal di rumah.

Perkara angka memang bisa membuat runyam. Bukan hanya membuat orang menjadi irasional, angka juga bisa membuat kisruh di dalam urusan klaim-mengklaim. Mungkin ada keyakinan semu bahwa angka bersifat netral atau objektif. Atau dalam kasus serupa yang lain, angka dapat dipakai untuk menjustifikasi keberterimaan mayoritas di dalam sebuah klaim: angka yang terbanyak adalah yang benar.

Bicara mengenai klaim dengan angka maka tidak salah apabila kita menengok buku tulisan Darrell Huff, How to Lie with Statistics[xiii]. Di dalam bukunya ini, Huff seolah-olah menandaskan bagaimana klaim kebenaran lewat angka statistik adalah sebuah permainan distorsi realitas yang bisa berbahaya. Huff tidaklah tidak menulis buku itu tanpa argumen yang sahih sebab kemudian buku itu mendapatkan kesepadanan dengan tulisan Mark Twain yang ia nisbahkan kepada ucapan Perdana Menteri Inggris Benjamin Disraeli. Twain meriwayatkan bahwa ia kerap galau jika berhadapan dengan angka-angka. Twain kemudian mengutip ucapan Disraeli mengenai adanya tiga macam kebohongan: kebohongan [kecil], kebohongan sialan [besar], dan statistik [angka][xiv].

Kasus manipulasi angka yang kontroversial adalah kisah otak-atik angka hitung statistik di dalam The China Study. The China Study adalah hasil riset T. Colin Campbell di China mengenai imbas negatif konsumsi produk ternak (susu, daging) bagi kesehatan. Campbell menyimpulkan “lewat angka-angka statistiknya” bahwa penghindaran terhadap produk ternak adalah baik bagi kesehatan manusia[xv].

Kesimpulan yang ditelurkan oleh Campbell mendapatkan banyak sanggahan. Chris Masterjohn, Denise Minger, dan Loren Cordain menunjukkan bagaimana Campbell gegabah dan cenderung manipulatif di dalam membuat kesimpulan dari angka-angka yang dia temukan di lapangan. Tuduhan yang diberikan kepada Campbell -dan memang terbuktikan- adalah adanya manipulasi angka-angka statistik. Campbell juga disindir mengenai ketidakpresisian parameter asumsi yang ia pakai di dalam mengumpulkan angka-angka yang ia butuhkan di dalam membuktikan hipotesisnya[xvi],[xvii],[xviii].

Besarnya jumlah angka dukungan yang digunakan sebagai klaim sebuah kebenaran juga bisa bikin runyam. Mengenai hal ini, patut pula misalnya merujuk kepada ucapan Tariq Ramadan di dalam diskursus mengenai cita-cita muslim dalam menanggapi isu demokrasi dan hidup bersama di masyarakat Barat. Selintas, Tariq Ramadan seakan-akan sekuler namun sejatinya ia tidaklah demikian. Sebagai pendahuluan awal, layaklah mencermati perkataan Tariq mengenai refutasinya tentang kebenaran lewat pendapat dengan angka pendukung terbanyak.

Tariq tahu bahwa politik tidak bisa dilepaskan dari etika dan etika selalu terkait dengan agama[xix]. Di dalam tradisi suara (dengan angka) terbanyak diyakini sebagai sesuatu yang mempunyai jalur legal untuk disebut sebagai kebenaran, problem dapat timbul dan memang potensial untuk selalu muncul di dalam adaptasi setiap muslim. Tariq dalam posisi firm untuk menyatakan bahwa basis yang ia perjuangkan adalah nilai dan etika yang bersandar pada apa yang tertera di dalam skriptur dan bukan serta -merta ikut mengaminkan apa yang dipegang oleh kebanyakan orang: ‘kebenaran karena angka pendukung yang besar”. Juga perlu dipahami bahwa Tariq tidak lantas memencilkan diri atau mungkin berontak kepada kesepakatan yang dimenangkan oleh ‘pendapat dengan angka pendukung terbanyak’ jikasanya berbeda atau kontradiktori dengan skriptur. Pada keadaan seperti ini, Tariq belajar beradaptasi dengannya.

Juga menarik untuk mempelajari apa yang diajukan oleh Paul Treanor di dalam tulisannya “Why Democracy is Wrong”. Tulisan Paul ini boleh juga dijadikan referensi mengenai bagaimana keputusan dan cara pandang yang ‘terlalu’ menyandarkan kepada angka (suara) terbanyak adalah tragis. Mematok sesuatu sebagai baik berdasarkan angka terbanyak pendukung kadang menjerembabkan manusia untuk melacurkan kemanusiaannya[xx]. Di dalam prolog tulisannya, Paul memberikan contoh bagaimana sebuah negara urung mengirimkan bantuan kemanusiaan gara-gara ide pengiriman bantuan tidak mendapatkan angka terbanyak.

Angka (Credit: radiolab.org)

Angka (Credit: radiolab.org)

Klaim kebenaran berdasarkan superioritas manusia lewat jalur angka dukungan terbanyak adalah sesuatu yang sahih juga bermasalah sebab ia menjadi sesuatu yang sangat labil, begitu menurut Idries de Vries[xxi]. Ide pancang kebenaran lewat angka terbanyak adalah menggelisahkan. Kejadian terkini tentang ini terjadi di dalam denominasi kristen Presbyterian pada tafsir istilah perkawinan. Voting diadakan untuk meratifikasi definisi perkawinan yang ada di dalam skriptur. Hasilnya adalah sebuah definisi baru mengenai perkawinan: asalkan dua orang, meskipun sejenis, tetaplah sah secara skriptur untuk diberkati sebagai perkawinan[xxii].

Kepercayaan kepada angka dukungan terbesar sebagai benar sejatinya menjadi catatan kegelisahan masyarakat post-secular. Mengapa bisa demikian? Sebab di dalam konteks pembenaran sesuatu dilandasi dukungan angka yang terbesar maka hal apapun yang –bahkan berseberangan dengan skriptur dan old wisdom and values– adalah menjadi sah dan legit. Hal inilah yang direnungkan oleh Jurgen Habermas di dalam menyikapi kegamangan mengenai nilai apakah yang bisa dijadikan pegangan bagi kontestasi ide dalam demokrasi yang paling sekuler sekalipun, dalam sebuah masyarakat post-secular[xxiii].

Apapun, klaim menggunakan angka bisa sangat berbahaya – jika dimanipulasi, disalahgunakan, disalahpahamkan, atau disalahyakini. Menggiring awam menggunakan angka bisa berpotensi menimbulkan kerusakan sebab tidak semua paham tentang angka dan makna di balik suatu angka: survei dan statistik. Pun, menyalahgunakan banyaknya jumlah angka pendukung sebagai modal menekan mereka yang jumlah angka pendukungnya sedikit sebagaimana terjadi pada majoritarianisme juga sesuatu yang berbahaya.

Angka memang bisa dijadikan landasan membuat keputusan namun terkadang tidaklah pas untuk menyandarkan diri hanya kepada angka di dalam membuat keputusan. Ambil contoh, tidaklah pas misalnya mencari pertolongan dari Tuhan lewat mandi di tujuh mata air atau sumur di tengah malam oleh sebab pitulungan (Jw. = pertolongan) mempunyai bunyi sama dengan pitu (Jw. = tujuh). Ujung-ujungnya malah masuk angin. Atau bisa juga berkelakar bahwa pitulungan memang datang kemudian dalam bentuk kerokan.

Ambil contoh lain, tidaklah pas semisal membuat klaim bahwa pasti Tuhan sudah memberi tanda mengenai kemenangan sepasang kandidat capres dan cawapres gara-gara angka yang keluar dari sebuah pertandingan sepakbola pada hari pemungutan suara seakan-akan meramalkan demikian.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa pemungutan suara pilpres 2014 di Indonesia barusan diselenggarakan pada tanggal 9 Juli 2014. Pada hari itu, angka hasil pertandingan Brasil melawan Jerman adalah 1-7. Beberapa orang misalnya mengaitkan dua hal tersebut sebagai sebuah tanda dari Tuhan. Ada yang menyebut bahwa angka 1-7 adalah tanda bahwa 7okow1, salah satu kandidat, akan memenangkan pilpres karena di dalam namanya ada angka 7 dan 1. Ada juga yang mengaitkannya dengan bakal menangnya kandidat nomor 1, atau Prabowo, karena diyakini bahwa presiden ke-7 Indonesia adalah yang berlabel urut 1. Juga ada yang mengaitkan angka 1-7 sebagai keniscayaan kemenangan Prabowo, salah satu kandidat, gara-gara 17 adalah tanggal kelahiran Prabowo dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Praktik yang demikian itu tidaklah tepat karena kemudian menjadikan seseorang terjerembab kepada takhayul. Bahkan semisal hasil nujuman lewat angka ini terbuktikan pun, adalah tidak pas memegangi keyakinan yang demikian. Ada drawbacks-nya.

Bagi sebagian agama, berpercaya membuat keputusan pada yang demikian adalah buruk: mencederai iman. Sejatinya ada pesan yang dalam mengenai berpantang mengikuti nujuman-nujuman seperti ini: biar bekerja dengan akal bukan mengkorelasikan sesuatu yang absurd, agar menjadi insan yang memakai akal di dalam membuat perhitungan tindakan. Menurut skriptur, bekerja keras memakai akal dalam mewujudkan sesuatu tentu tanpa melupakan doa adalah ciri khas manusia beriman. Atau dengan kata lain: tidak terjebak kepada numerologi sebagaimana kisah Walter Sparrow.

Sparrow terjebak di dalam keyakinannya mengenai angka. Saat ia mendapati bahwa satu angka kebetulan sesuai menujumkan sesuatu. Ketika Sparrow mempercayainya maka bencana pun mulai terjadi atas hidupnya. Ia hidup di dalam bayang-bayang angka 23. Kehidupan yang seperti ini sungguh bukanlah kehidupan manusia sesungguhnya. Sparrow lupa bahwa setiap angka bisa muncul kapan saja. Ia juga khilaf mendapati bahwa angka sama yang terus saja muncul dalam hidupnya adalah ‘realitas yang dibangunnya sendiri’ dengan mengesampingkan angka-angka lain yang keluar, yang berseliweran di sekitarnya dalam kehidupannya.

Lagian, balik lagi ke soal angka 13, bukankah di final Piala Dunia 2014 justru Jerman yang menampilkan pemain dengan nomor punggung 13-lah yang mengalahkan Argentina yang tidak memainkan pemain no 13-nya? Jangan lupa juga bahwa legenda Liga Inggris, pemain yang beruntung karena memiliki tendangan yang keras, kepala yang produktif, dan jumlah gol yang menjadi rekor Liga Inggris, Alan Shearer, juga seseorang yang lahir pada tanggal 13!

Demikian.

Creative Commons License Angka by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

======================

Bagian penutup tulisan mengenai hasil final Piala Dunia 2014 ditambahkan pada tanggal 2 Oktober 2014 (cf. FIFA. 13 Juli 2014. “Match Report”)

End Notes

[i] Joel Schumacher. 2007. The Number 23. USA: New Line Cinema

[ii] Julia Greenberg. 13 Januari 2012. Friday the 13th: History, Origins, Myths, and Superstitions of the Unlucky Day. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.ibtimes.com/friday-13th-history-origins-myths-superstitions-unlucky-day-395108

[iii] Claire Suddath. 13 Februari 2009. A Brief History of Friday the 13th. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://content.time.com/time/nation/article/0,8599,1879288,00.html

[iv] Ciaran O’Keeffe. 13 September 2013. Friday the 13th: Where does our fear of this ‘unlucky’ day really come from?. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.mirror.co.uk/news/weird-news/friday-13th-fear-unlucky-day-2270760

[v] Ciaran O’Keeffe, Ibid.

[vi] Stephen Howarth. 1982. The Knights Templar. New York: Barnes and Noble. hlm. 11-14, 261, 323.

[vii] Lihat endnote 3

[viii] Selintas mungkin ada kemiripan kata Jumat di dalam kedua mitos ini: mitos Barat dan mitos Indonesia. Jika kita kaji lebih jeli maka akan kita dapati perbedaan antara malam Jumat dengan hari Jumat. Pada malam Jumat, takhayul dimulai sejak Kamis malam dan berakhir pada Jumat subuh. Pada mitos Barat, konsep ‘hari sial’ dimulai pada hari Jumat dan bukan pada Kamis malam.

[ix] David Makofsky (ed. S. Forsyth). 2012. Bad Luck Numbers in China. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.brighthubeducation.com/learning-chinese/72881-superstitions-and-bad-luck-relating-to-numbers-in-china/

[x] David Emery. Why Friday the 13th Is Unlucky, Paraskevidekatriaphobia: Friday the 13th Origins, History, and Folklore. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://urbanlegends.about.com/cs/historical/a/friday_the_13th.htm [xi] lihat endnote 2

[xii] Scanlon TJ et.al. 1993. Is Friday the 13th bad for your health?. BMJ. 1993 Dec 18-25;307(6919):1584-6

[xiii] Darrell Huff. 1954. How to Lie with Statistics. New York: W.W. Norton & Company Inc.

[xiv] Mark Twain (ed. Michael J. Kiskis). 1990. Mark Twain’s Own Autobiography: The Chapters from The North American Review (Wisconsin Studies in American Autobiography). Madison, Wis: University of Wisconsin Press.

[xv] T. Colin Campbell (with Thomas M. Campbell II). 2004. The China Study: Stratling Implications for Diet, Weight Loss, and Long-term Health. Dallas: BenBella Books.

[xvi] Chris Masterjohn. n.d. The Truth about The China Study. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.cholesterol-and-health.com/China-Study.html

[xvii] Denise Minger. 7 Juli 2010. The China Study: Fact or Fallacy?. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://rawfoodsos.com/2010/07/07/the-china-study-fact-or-fallac/

[xviii] Loren Cordain (dalam Chris Kresser). n.d. Rest in peace, China Study. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://chriskresser.com/rest-in-peace-china-study

[xix] Tariq Ramadan, Yasmin Alibhai-Brown, Anas Altikriti, Alan Johnson (intv. Mehdi Hasan). 3 April 2014 (transkrip). Head to Head – Has political Islam failed?. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.aljazeera.com/programmes/headtohead/2014/03/transcript-tariq-ramadan-201432820219269232.html

[xx] Paul Treanor. 13 Mei 2006. Why Democracy is Wrong. Web. Diakses dari:

http://web.inter.nl.net/users/Paul.Treanor/democracy.html

[xxi] Idries de Vries. 27 Februari 2012. A Critique of Natural Law Theory. Web. Diakses 11 Juli 2014 dari:

http://www.newcivilisation.com/home/2358/ideas-philosophy/a-critique-of-natural-law-theory/

[xxii] Gene Veith. 20 Juni 2014. “Presbyterians (USA) vote to allow gay marriages”. Web. Diakses dari:

http://www.patheos.com/blogs/geneveith/2014/06/presbyterians-usa-vote-to-allow-gay-marriages/

[xxiii] Jurgen Habermas. 18 Juni 2008. Notes on a post-secular society Pertama terbit di Jerman dalam Blätter für deutsche und internationale Politik, April 2008 dan awalnya ditulis sebagai materi kuliah tanggal 15 Maret 2007 di the Nexus Institute of the University of Tilberg, Netherlands. Web. Diakses dari:

http://www.signandsight.com/features/1714.html