Tafsir

Teks tidak berubah namun tafsirannya bisa berubah. Perubahan tafsiran bisa terjadi karena resipien, reseptor, audience (penikmat), reader (pembaca), akseptor, responder teks berada pada konteks, situasi, keterkondisian-sebelum (presuposisi) yang berbeda. Namun perubahan tafsiran bisa sebebas-bebasnya sehingga merusak esensi teks, bisa juga menyingkap kemungkinan lain dari esensi teks yang sudah ada tanpa merusak intensi pemilik asli pesannya. Kalau berpagut pada teks yang sakral, atau skriptur, yang memang ada niatan diperbedakan dengan teks sastra maka bentuk yang pertama ditinggalkan sedangkan bentuk kedua kadang dalam keadaan tertentu dilakukan atau kadang memang dibutuhkan —tentu dilakukan oleh ahlinya dan dilakukan dengan sangat hati-hati.

Perbedaan ini misalnya bisa kita temukan pada piagam kemerdekaan Amerika Serikat yang koarnya “all men are created equal.” Senyimak, kalimat ini bagi banyak orang kini dianggap sebagai baik dan patut diteladan. Namun intensi, niatan, pesan yang ada di dalam kalimat itu adalah “semua laki-laki kecuali laki-laki budak diciptakan setara.” Hanya laki-laki? Ya, karena saat itu perempuan di dalam gerak politik dan juang Amerika Serikat abad 18 memang invisible (tak nampak, tak dianggap). Laki-laki bukan budak? Ya, karena perbudakan masih berlangsung di Amerika Serikat saat itu dan para budak tidak dianggap setara. Tapi lihatlah bagaimana teks yang sama kemudian mengalami tafsiran yang berbeda. Kalimat itu kini tidak mempunyai pengecualian; setiap manusia diciptakan setara.[1]

Tetapi pemahaman sejarah teks piagam kemerdekaan Amerika Serikat hingga memungkinkan pemahaman itu bisa dilakukan ketika teks dan sejarah teks tersedia.

Lalu bagaimana dengan skriptur? Di dalam Bible kita mengenal hermeneutika dan eksegesis. Kadang keduanya dianggap satu kadang dianggap beda. Kita semua tahu bahwa Bible tertua bukan berbahasa Aramaic. Masalahnya adalah, Yesus (pbuh) mengabarkan “berita baik” dalam bahasa Aramaic dan bukan bahasa Yunani. Belum lagi sebelum kanonisasi, teks-teks Bible yang berserakan SAAT ITU jumlahnya ada puluhan versi dan semuanya dipakai oleh berbagai macam gereja baik yang trinitarian (percaya bahwa Yesus dan Roh Kudus adalah satu Dzat dengan Bapa) maupun unitarian (meyakini Yesus adalah sebagai manusia yang diutus Bapa). Kodifikasi konsili gereja awal memilih empat versi (Bible Yohanes, Matius, Lukas, Markus) sebagian memilih lima dengan tambahan Bible Thomas. Kanonisasi dilakukan berkat kerja Athanasius dengan mensortir teks-teks yang ada dan membuang lainnya.[2] Teks yang dipilih Athanasius menjadi Bible yang terkanonkan sedangkan teks yang ditolak Athanasius ditolak, disebut apokrifa.

Dari keempat Bible berbahasa Yunani ini, penulis SEBENARNYA adalah anonim. Nama Yohanes, Matius, Lukas, dan Markus adalah nama yang diberikan oleh proses kanonisasi menjadi satu bendelan “book” membuat kebutuhan pemberian nama otoritas kepada siapa teks tersebut disandarkan sehingga kemudian teks-teks yang berserakan itu “dianggap ditulis oleh” keempat nama tersebut.[3] Karena Yesus (pbuh) hidup dalam lingkungan Yahudi-Romawi dan berbahasa Aramaic sedangkan Bible empat tersebut berbahasa Yunani dan ditulis oleh penutur cerita berlatar Yunani-Romawi sekitar dua abad setelah Yesus (pbuh) kemudian tersebar ke dunia lewat kanon berbahasa Inggris King James Version, oleh sebab itulah Profesor Tafsir Skriptur Biblikal Hanko[4] menyatakan diperlukannya hermeneutika untuk menyambungkan dua bagian dari “konteks teks” dan “konteks penutur kisah Yesus (pbuh).” Sedangkan Bornkamm[5] melengkapi kerja tafsir dari Bible yang tertua tersedianya hanya dalam bahasa Yunani dengan perubahan-perubahan DAN penambahan-penambahan redaksi skriptur yang terjadi lewat proses terjemah dan transfer konteks (kontekstualisasi) di dalam bahasa Inggris dan Eropa Barat lainnya dalam istilah yang disebut dengan Kritik (Tafsir) Redaksi.

Dari situlah kita jadi tahu “pada mulanya adalah firman” yang sering dijadikan dasar trinitas memiliki kisah terjemah-tafsir yang rumit dan tidak selalu mendukung konsep trinitas,[6] lalu kita jadi paham bagaimana “di surga ada tiga yang bersaksi, Bapa (The Father), Putra (naskah Inggrisnya The Word),[7] dan Roh Kudus (The Holy Spirit)” diyakini para akademisi skriptur Bible sebagai tambahan sebab tidak bersumber dari naskah aslinya.[8]

Sebagaimana kita kemudian mengerti bahwa “pergilah ke seluruh dunia, beritakan ini ke segala makhluk”[9] tidak terdapati di dalam teks Bible tertua sebagaimana juga ungkapan yang sering dikutip “siapa tak ada dosa boleh lempar batu pertama” yang tidak ditemukan di dalam skriptur Bible yang tua.[10] Dari situ juga kemudian kita jadi tahu tafsir kata “oinos” di dalam tindak mukjizat air menjadi “oinos” ada yang bersikeras bahwa itu “jus anggur” yang tidak memabukkan dan bukan “serupa khomer, miras (minuman keras)” yang bisa bikin kliyengan. Begitu pula ayat yang berbunyi “I can do all this through him who gives me strength (segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku)” di dalam Filipi 4:13 harusnya melihat konteks penulisan ayat pada masa di mana Paulus sedang menjadi pesakitan hukum dan juga harus ditautkan dengan ayat 11 dan 12-nya yang artinya adalah “menerima nasib jikasanya keinginan tidak tercapai, tetap bersabar jikasanya ada manusia lain yang sedang menggencet.” Ayat ini mengajari kepasrahan dari penindasan dan kurang pas dimaknai sebagai ayat yang mengajari “kekuatan dari Tuhan mengalahkan segala hambatan.” Dari banyak hal itu tadi, kita kemudian juga jadi mengerti bahwa ayat “with men this is impossible, but with God all things are possible (bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin)” di dalam Matius 19: 26 tak pantas dilepas konteksnya dari ayat-ayat sebelumnya mengenai “keselamatan di akhirat” dan bukan mengenai sesuatu keduniaan sebagaimana ayat ini sering dipakai. Begitu juga dengan ayat Yohanes 1:14 yang berbunyi “Firman itu telah menjadi manusia , dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa” memiliki perbedaan pandang mengenai terjemah dari teks sumber asli tertua berbahasa Yunani pada bagian “Anak Tunggal Bapa” sebab kata asli Yunani monogenes memiliki arti yang banyak dan menjadi perdebatan akademisi Kristen. Monogenes bisa berarti ‘one of a kind‘ atau ‘unique‘ dan tidak melulu menjurus ‘the only one.[11]

Lalu bagaimana dengan teks Quranik? Buku Muhammad Al A’zami mengenai sejarah orisinalitas teks yang dituliskan para sahabat dengan kodifikasi dan kanonisasi jaman Utsman adalah rujukan yang bagus.[12] Tafsir yang dikabarkan bukan “dilakukan” oleh para sahabat dan hadist-hadist yang ditelusur para imam hadist bersambung hingga rasulullah (pbuh) merupakan sumber yang bagus di dalam memahami teks Quranik. Dari situlah terdapati bagaimana sebuah ayat dimaknai, diterapkan, sebab turunnya, bahkan bagaimana orang-orang yang diberi “otoritas” pemahaman oleh rasulullah (pbuh) memiliki kekayaan penafsiran.[13]

Dari situlah Barthes yang bersikeras di dalam sebuah esainya bahwa teks yang lahir sudah langsung lepas dari penulisnya, bebas terbang karena singgungan teks dengan pembacaan sudah mematikan otoritas penulis sebagai pemberi makna tunggal,[14] mendapati sindiran dari Foucault bahwa konteks teks tak bisa bebas lepas dari pencipta dan penciptaan teks. Bebasnya penafsiran teks selalu terikat pada “nature,” atau jati diri teks yang tak mungkin muncul tanpa ikatan-ikatan itu.[15][16]

Namun gaya Barthes maupun terutama gaya Foucault yang terinspirasi dengan pendekatan tafsir Biblikal tak elok dipadankan dengan tafsir Quran. Bible di dalam sejarahnya memang “pelik” jika sudah menyangkut identitas, konteks, dan otoritas penafsiran teksnya. Jadi jika ada orang mengajak belajar Quran tanpa ambil pusing, tanpa perlu, membebaskan diri dari berita-berita para sahabat (Ridlo Allah atas mereka) bagaimana rasulullah sebagai seseorang yang Allah beri wahyu, teks Quran, menjelaskan maksud ayat itu dan bagaimana konteks ayat itu, … menjauhlah darinya, menjauhlah darinya, menjauhlah darinya meskipun gelar akademiknya tinggi, meskipun ia disebut kyai haji, meskipun hartanya berlimpah, meskipun khotbahnya serak-serak basah sehingga melagutkan telinga, meskipun matamu seolah melihat wajahnya cerah bercahaya, meskipun bahasa Arabnya fasih, meskipun ia bisa mejik dan sulap, meskipun ia sering nongol di TV, meskipun ia disanjung puji negara-negara Barat yang “hebat,” meskipun tulisan-tulisan “tafsir” Qurannya masuk jurnal-jurnal “Islami” Barat yang kerap mencurigai dan mereka ulang tafsir teks hanya berdasar konteks sebab turun tanpa mengindahkan penafsiran yang mendapat restu (otoritas) dari Muhammad saw. sebagai manusia penerima wahyu.

Oh ya, sejarah teks sila pertama Pancasila juga menarik. Apakah penghilangan tujuh kata darinya lantas mengebiri potensi bersyariah ataukah potensi itu tetap ada namun teks yang dihapus itu hanya perampingan saja untuk tujuan politis saat itu; sebuah kompromi; sebuah gentlemen agreement karena kondisi saat itu?

Pun kiranya kita maklum mengenai tafsir Pancasila yang konon hendak menaungi Nasakom ala Sukarno dan P4 yang hendak mengajari doktrin kepancasilaan Suharto. Sukarno punya tafsiran Pancasila yang bunyi sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa di Pancasila yang kita kenal sekarang dengan tafsir ala Nasakom-nya karena ide (asli) Sukarno mengenai Pancasila berbeda dengan yang kita kenal. Ia menempatkan nasionalisme dan internasionalisme sebagai poin satu dan dua sedangkan Ketuhanan (saja, tanpa embel-embel atas istilah ini pada sila kelima). Pengalaman bersendawa dan wedangan bareng di klinik pemikiran Cokroaminoto, Raja Jawa Tanpa Mahkota, yang mempertemukannya dengan ide-ide dan kelak-aktivis Islam, nasionalisme, sosialisme, komunisme nampaknya mempengaruhi idenya mengenai “dasar pemersatu bangsa” yang dipidatokan di dalam perumusan Pancasila.[17]

Sebab itulah ketika Nasakom dikecam karena dianggap bertentangan dengan Pancasila, Aidit dalam suatu wawancara dengan enteng menjawab, nampaknya membela payung longgar Sukarno, bahwa sila satu saja tafsirannya bisa macam-macam.[18][19]

Entah kini atau kelak, tak tahu bagaimana Pancasila dibaca dan dibancaki. Karena otoritas penafsiran nampaknya tak definitif kecuali penguasa yang terus berganti dan bersamanya tafsir Pancasila mengikut serta. Yang beginian bisa kita rujuk mengenai konon betapa khawatirnya Pater Beek dan Jusuf Wanandi ketika Sukarno jatuh dan beberapa partai-partai berbau Islam saat itu menyuarakan kembali pengembalian tujuh kata Piagam Jakarta sehingga diperlukan usaha-usaha di balik layar untuk menempatkan “penguasa” yang bisa menafsirkan Pancasila, khususnya sila kesatu, hanya sebagai “Ketuhanan Yang Maha Esa” saja dan bisa meredam mereka yang ingin konsep dasar sila pertama Piagam Jakarta kembali mengemuka.[20]

Tentu ini juga termasuk kegagapan jargon Pancasila sebagai salah satu pilar dari “empat pilar kebangsaan” sedangkan ia juga “dasar bangunan; letak berdirinya pilar-pilar itu.” Dan tentu saja selalu ada argumen untuk membuat tafsiran menjadi sah terjustifikasi.[21]

Demikian.

.

.

.

.

Endnotes

[1] Bdk. Matt Brundage. “The meaning of Thomas Jefferson’s phrase “all men are created equal”” (Last modified 23 October 2015).

[2] Biblica, The International Bible Society, “How were the books of the Bible chosen?”

[3] William M. Schniedewind, How the Bible Became a Book: The Textualization of Ancient Israel (2005)

[4] Hanko, Herman C. 30-Aug-1998. “Issues in Hermeneutics”, seri kumpulan 4 artikel dalam Protestant Reformed Theological Journals of April and November, 1990, and April and November, 1991.

[5] Günther Bornkamm, Jesus of Nazareth (1995)

[6] Edgar J. Lovelady, “The Logos Concept” (1963), Grace Theological Journal 4.2 (Spring 1963) 15-24. Bandingkan juga dengan “John 1: 1” dalam BibleHub.

[7] Lihat paragraf sebelumnya mengenai Bible King James Version yang seolah menjadi rujukan terjemahan Bible dunia (bdk. dengan Vulgate).

[8] Mark H. Newman, A Cyclopedia of Biblical Literature (1845: 138-140)

[9] Markus 16: 9-20 tidak terdapati di dalam naskah Yunani tertua. Penambahan ayat-ayat ini ke dalam Bible Perjanjian Baru meskipun tidak ada rujukan dalam naskah Bible tertua-nya disebut sebagai “bagian dari Firman Allah yang diilhamkan” kepada para penulis, penyadur, pengedit Bible (Alkitab Sabda, “Markus 16: 15”).

[10] Sarah Eekhoff Zylstra, “Is ‘Let Him Who Is Without Sin Cast the First Stone’ Biblical?” (23 April 2008).

[11] Untuk tafsir yang berkaitan dengan “oinis” silakan periksa tulisan Jeffrey W. Hamilton. 8 Maret 2016 (last modified). “New Testament Beverages”. La Vista Church of Christ (bdk. Mark H. Creech. 27 Januari 2014. “Christians and Alcohol: An Abstinent View.” Christian Post).

Untuk interpretasi atau tafsir yang berkenaan dengan Filipi 4: 13, silakan rujuk Jonathan Merritt, “Phillippians 4:13: How many Christians misuse the iconic verse” (16 Januari 2014, Religion News Service) atau buku yang ditulis oleh Eric J. Bargerhuff, The Most Misuse Verses in the Bible (2012).

Untuk tafsir yang berhubungan dengan Matius 19: 26 silakan dibaca penjelasannya dalam tulisan Tim Chaffey “Commonly misused Bible verses: Matthew 19: 26” (19 Juli 2012).

Untuk kata monogenes dari bahasa Yunani, terjemah-tafsir yang bisa menyulut perdebatan dapat dirujuk pada Bart Ehrman, The Orthodox Corruption of Scripture (Oxford University Press, 1993: 81) berbunyi sebagai ‘one of a kind‘ atau ‘unique’ dan tak senyampang ‘the only one.’ Bahkan misalnya diambil arti lain dari monogenes yang menyiratkan “satu-satunya” terdapat polemik apakah “satu-satunya” merujuk pada Tuhan, Putera Tuhan, atau “indwell Word” sebagaimana dibahas detil di dalam Jesus’ Words Only, “One and Only Issue in John 1:14” dan Shema Chapter 40 – “The Only Begotten Son or God? John 1:18.” Bandingkan juga dengan ayat yang memakai monogenes [o monogenes uios] seperti Ibrani 11:17 di mana Ishak (pbuh) diterjemahkan sebagai “anaknya yang tunggal” justru harus dipahami dalam konteks “anak yang dari istri pertama,” “anak yang lebih dikasihi” atau pengertian yang serupa itu sebab anak Abraham (pbuh) bukan Ishak (pbuh) semata.

[12] Muhammad Mustafa Al-A’zami, The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments (2003)

[13] Muhammad Mustafa Al-A’zami, Studies in Early Hadith Literature (1978)

[14] Roland Barthes, “The Death of The Author” (1967)

[15] Michel Foucault, “What is an Author” (1969)

[16] Bahasan mengenai kelindan dua tulisan tersebut menarik dibahas oleh Sean McQueen (2012) dalam “Michel Foucault’s “What is an Author?” and Adaptation.”

[17] Pancasila sebagai nama atas dasar negara memang dicetuskan oleh Sukarno di dalam rapat para Bapak Pendiri Bangsa yang menghadirkan tiga konseptor mengenai dasar negara yaitu . Namun nama “Pancasila” sebelumnya dipilih Sukarno setelah “konsultasi bahasa” dengan Muhammad Yamin dan ia kemukakan sebagai nama yang pas untuk dipilih di dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945. Di sisi lain, bunyi Pancasila yang kini dipakai sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah bukan sebagaimana ide awal Sukarno kecuali kerja dari Panitia Sembilan [terdiri dari 7 orang Haji] —salah satu anggotanya memang Sukarno— yang disepakati pada 22 Juni 1945 dan sila pertama menempatkan “Ketuhanan” plus “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

[18] Tim Historia, “Wawancara DN Aidit: “PKI menentang pemretelan terhadap Pancasila”” (18 April 2016)

[19] Dipa Nusantara Aidit, tokoh PKI, membela diri bahwa partainya yang Komunis Marxis tidak ada masalah dengan dasar negara Indonesia yang ada sila ber-“Ketuhanan Yang Maha Esa” sebab menurutnya ada juga agama [dan kepercayaan] di Indonesia yang tidak ber-Ketuhanan Yang Maha Esa saja tidak menjadi masalah bagi negara dan tidak dipermasalahkan oleh negara. Bahkan secara politis ia menentang pemretelan terhadap Pancasila. Besar kemungkinan, Sukarno di dalam Manipol Usdek yang dicetuskan Sukarno tahun 1959 yang memperkuat konsep Nasakom Sukarno yang digaungkan pada 1956 tidak bisa meninggalkan Pancasila sedangkan PKI sangat butuh Sukarno, Nasakom, dan Manipol Usdek. Dari keruwetan itulah kita bisa “sedikit” mengerti mengapa Hatta —yang juga salah satu konseptor Piagam Jakarta dan salah satu penandatangan “atas nama bangsa Indonesia” di dalam teks proklamasi— yang anti PKI bergerak menjauh secara ideologi dan politik dari Sukarno meskipun keduanya secara pribadi masih berkawan. Kisah Sukarno dan Hatta di tahun 50-an dan 60-an memang berbeda di tahun 48-an ketika Musso dengan Jalan Baru-nya mengagitasi orang-orang PKI mendirikan negara komunis berkiblat Soviet di Madiun, Sukarno begitu solid dengan Hatta dan keras terhadap Musso. Dan itu semua belum lagi ditambah bagaimana peliknya permainan Amerika Serikat dan Uni Soviet di dalam “intrik” antara NasA melawan Kom di dalam bingkai kisah Sukarno-Hatta, mulai dari tahun 48-an hingga tahun 65-an.

Berkenaan dengan tafsir Pancasila yang ke arah Sosialisme di jaman Sukarno dan di jaman Suharto Pancasila ditafsirkan ke arah antiKomunisme dan Pembangunanisme, bisa misalnya dirujuk pada tulisan Shigeo Nishimura, “The Development of Pancasila Moral Education in Indonesia,” 東南アジア研究 (1995), 33(3): 303-316. Arah sosialisme Sukarno juga dapat dirujuk kepada penafsiran “kepribadian bangsa Indonesia” ala Sukarno yang dicantumkan dalam Penetapan Presiden Republik Indonesia No 2 Tahun 1962.

[20] Salim Said, “Pater Beek, Pastor Jesuit” dalam Gestapu 1965: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto (2015)

[21] Hukum Online, “MPR: Pilar Kebangsaan Tak Ubah Kedudukan Pancasila” (17 Februari 2014).

Siapa Pemilik Sah Tanah Palestina?

Terjemah bebas dan komentar lewat catatan kaki dari tulisan Thomas Williamson berjudul “Who Really Owns the Land of Palestine?[1]” yang teks aslinya bisa diakses di:[2]

http://thomaswilliamson.net/who_owns_the_land.htm

_______________________________________

Sebuah artikel berjudul “Who Owns the Land?” yang muncul di terbitan Sword of the Lord bertanggal 30 Agustus 2002 dan juga di beberapa terbitan internasional lainnya menyuguhkan pernyataan menarik: “… the Jewish National Fund mulai mengumpulkan uang untuk membeli tanah di Palestina demi kepentingan penempatan bangsa Yahudi, besar pembelian tanah tersebut adalah 92% dari wilayah Israel sebagaimana kita lihat sekarang ini.” 

Angka 92% sendiri sungguh berbeda dari angka-angka persentase tanah terbeli yang diakui secara umum dan terdokumentasikan yang menyatakan bahwa pada saat pendirian negara Israel pada tahun 1948, Yahudi hanya membeli sekitar 6% hingga 7% luas wilayah dari negara Israel sekarang (pada masa sebelum Batas Wilayah 1967).

Saya[3] telah dua kali meminta penjelasan mengenai angka 92% Tanah Negara Israel yang diperoleh lewat pembelian kepada penulis “Who Owns the Land?” namun tidak memperoleh balasan.

Sementara itu pula, saya juga telah mengunjungi situs resmi The Jewish National Fund, www.unitedjerusalem.com, sebuah situs Yahudi, pro-Israel, dan pro-Zionist. Situs ini menyatakan bahwa The Jewish National Fund membeli [hanya] 375.000 acre tanah pada saat pendirian negara Israel pada tahun 1948. Jadi berdasar hitungan, luas tanah yang dikuasai oleh negara Israel lewat pembelian kepada bangsa Arab sebelum Batas Wilayah 1967 yang seluas 7.992 mil persegi jika dipersentasekan hanya sebesar 7.33% dan bukan 92%.

Hitungan tentang persentase tanah yang dibeli dari orang Arab berdasar sumber lain juga menyatakan bahwa besarannya sekitar 6-7%. Artikel berjudul “The Jewsih National Fund Land Purchase Methods and Priorities, 1924-1939” tulisan Kenneth W. Stein menyatakan bahwa: “hingga Mei 1948, Yahudi memiliki kurang lebih 2.000.000 dari total 26.000.000 dunam tanah yang ditinggali dan dimiliki bangsa Palestina”. Angka ini berarti sekitar 7.69%, dan bukan 92%.

Jack Bernstein di dalam “The Life of an American Jew in Racist-Marxist Israel” mengatakan bahwa “hingga 1920, bangsa Yahudi hanya memiliki 2% dari wilayah Palestina. Kemudian pada tahun 1948 saat bangsa Yahudi mendirikan negara Israel, mereka mencaplok wilayah Palestina dalam rangka memperluas wilayah yang dimilikinya, dan itupun secara persentase masih di bawah angka 6% dari total wilayah yang dimiliki bangsa Palestina.”

Disappearing Palestine - Palestina yang Menyusut dan Kian Menghilang (credit: Australian Friends of Palestine Association)

Disappearing Palestine – Palestina yang Menyusut dan Kian Menghilang (credit: Australian Friends of Palestine Association)

Booklet berjudul “Origin of the Palestine-Israel Conflict” yang diterbitkan oleh Jews for Justice in the Middle East menyatakan bahwa “di tahun 1948, saat Israel berdiri sebagai sebuah negara, hanya memiliki tanah sah sebesar 6% lebih sedikit dari seluruh wilayah Palestina.”

Robin Miller di dalam “The Expulsion of the Palestinians 1947-1948” mengatakan bahwa “sebelum 1948, bangsa Yahudi hanya memiliki 1,5 juta dari total 26 juta dunam tanah di Palestina … setelah kegiatan pencaplokan tanah dari bangsa Palestina, Israel memiliki wilayah 20 juta dunam, suatu angka yang luar biasa, dari 6% menjadi 77% dari total wilayah awal. Bangsa Yahudi benar-benar berhasil mengambil alih sebuah negara dari bangsa lain”.

Nampaknya banyak umat Kristiani yang didoktrin untuk mendukung klaim bangsa Yahudi atas tanah bangsa Palestina, berdasarkan argumen bahwa 92% tanah Israel adalah hasil pembelian dari bangsa Palestina. Angka 92% sebagaimana dikoarkan lewat tulisan “Who Owns the Land?” adalah jauh berbeda dibanding dengan angka yang dikeluarkan oleh The Jewish National Fund yaitu hanya sebesar 7.33% tanah dibeli dari bangsa Palestina pada saat pendirian negara Israel di tahun 1948.

Siapa saja yang membaca artikel ini dan lalu dapat membuktikan kevalidan angka 92% sebagai besar persentase tanah Israel yang benar-benar dibeli dari bangsa Palestina dapat memprotes saya lewat situs saya, dus dengan demikian akan juga membuktikan bahwa angka 7.33% tanah pembelian dari bangsa Palestina bersumber dari The Jewish National Fund adalah salah.

Beberapa orang mungkin akan berkata bahwa tidaklah menjadi persoalan berapa persen sebenarnya tanah bangsa Palestina yang dibeli oleh bangsa Yahudi pada saat pendirian negara Israel, sebab Tuhan sudah memberikan tanah Palestina kepada bangsa Yahudi sehingga menjadi hak bangsa Yahudi-lah untuk merampas dari tangan bangsa Arab [Palestina] bahkan tanpa harus membelinya.

Akan tetapi, tidak ada dasar di dalam skriptur akan argumen ini. Ibrahim dan Daud [p.b.u.t.], meskipun mereka Yahudi, membayar dengan harga yang adil atas tanah yang mereka beli dari Ephron the Hittite (Ktb. Kejadian 23:16) dan dari Ornan the Jebusite (2 Samuel 24:21-24, 1 Tawarikh 21:22-25).

Paulus, saat ditanya keuntungan menjadi orang Yahudi apa, ia menjawab: “Banyak, namun yang paling utama adalah, kepada bangsa Yahudi-lah diberikan perintah-perintah Tuhan,” (Roma 3:2). Paulus tidak menyebutkan perampasan tanah milik orang lain sebagai keuntungan menjadi bangsa Yahudi; justru ia mengatakan bahwa keuntungan menjadi bangsa Yahudi adalah kepada mereka-lah perintah-perintah Tuhan diberikan. Perlu dicatat bahwa salah satu perintah Tuhan adalah: “Tidak boleh mencuri dari orang lain”. Tidak ada dasar di dalam skriptur untuk menyelisihi perintah yang sudah jelas ini.

Beberapa orang mungkin akan mengatakan bahwa kita[4] diwajibkan untuk mendukung berdirinya negara Israel bagaimanapun dan apapun caranya berdasarkan rujukan kepada ayat-ayat di Perjanjian Lama yang berisi janji dan restu Tuhan terhadap negara teokratis Israel. Bahkan para pengkhotbah yang meyakini bahwa Perjanjian Lama tidak berlaku lagi, dan para pengkhotbah yang sudah tidak memakai 10 Perintah Tuhan dan kewajiban donasi untuk Tuhan dari sebagian penghasilan, secara aneh tetap memakai Perjanjian Lama ketika berbicara tentang pendirian negara Israel di dunia modern. Para pengkhotbah tersebut tidak pernah mengutip ayat-ayat di Perjanjian Baru mengenai justifikasi pembelaan pendirian negara Israel di dunia modern karena memang tidak ada ayat di Perjanjian Baru yang berbicara tentang itu.

Dapatkah kita menafsirkan pernyataan Tuhan di dalam Perjanjian Lama mengenai janji dan restu Tuhan terhadap Israel kuno, untuk diterapkan lewat tafsir yang berisi dukungan sepenuh kepada berdirinya Israel di dunia modern? Jawabannya adalah: Tidak. Kecuali kita juga secara adil memakai logika yang sama terhadap tafsir skriptur mengenai janji dan restu Tuhan kepada bangsa Arab.

Sebagai contoh, di dalam Yesaya 19:25 terdapat ayat: “Dan kepada mereka, Tuhan berkata, diberkatilah bangsa Mesir”. Berdasar ayat ini, tidakkah kita seharusnya membantu bangsa Mesir dengan sepenuh sebagaimana kita membela dan menjustifikasi tindak-tanduk bangsa Israel? Lalu di manakah kumpulan aktivis pembela bangsa Mesir yang melakukan perjalanan ke Mesir dan lalu membantu “perampasan” tanah sehingga semua dimiliki bangsa Mesir?

Kemudian di dalam Kitab Kejadian 21:18, Tuhan menjanjikan kepada Ismail sebuah bangsa yang hebat. Mengapa kita tidak membantu mewujudkan janji Tuhan itu dengan mendukung segenap tenaga kepada bangsa Palestina dan bangsa Arab lainnya yang merupakan keturunan Ismail? Mengapa kepatuhan kepada Tuhan kita lakukan dengan pilih-pilih? Mengapa mendukung Israel namun mengabaikan Mesir dan Palestina.

Jawabannya sebenarnya adalah kebijakan luar negeri kita tidaklah bersandar dari skriptur yang berisi janji kepada bangsa-bangsa di masa lampau yang sekarang sudah jauh berbeda keadaannya.

Israel Modern tidaklah sama dengan negara teokratis Israel di masa lampau yang bersandar kepada Hukum Perjanjian Lama dan pengharapan akan Messiah. Israel Modern tidak hanya menolak Messiah, namun juga menolak Hukum Perjanjian Lama.

Ambil contoh, Israel menolak perintah untuk tidak semena-mena terhadap non- Yahudi yang tinggal di wilayah Israel (Keluaran 12:49, 22:21, 23:9; Imamat 19:33-34, 25:35; Ulangan 10:18-19, 23:7, 24:17, 27:19), dan larangan menebang pohon subur-berbuah (Ulangan 20:19-20). Merupakan sebuah hal yang tidak logis ketika menggunakan Perjanjian Lama sebagai rujukan pendirian negara Israel modern sembari melakukan pengecualian terhadap bangsa Yahudi dengan kalimat: “Bangsa Yahudi tidak wajib patuh terhadap Hukum Perjanjian Lama”.

Negara Israel dikenal lewat industri seks dan pelacurannya, juga lewat parade kaum homoseksual di Tel-Aviv dan Jerusalem, dan dukungan pemerintah terhadap kegiatan aborsi. Berdasarkan The Jewish Virtual Library, terdapat 18.785 aborsi legal dan 16.000 aborsi ilegal di Israel pada tahun 1999. Kritikus Israel terhadap aborsi memperkirakan bahwa terdapat 1.000.000 janin Yahudi telah diaborsi sejak tahun 1948 hingga 1992 dan mereka melabelinya sebagai serupa Holocaust. Zionis Kristen yang mengirimkan uang ke Israel, dan melobi bantuan pemerintah Amerika kepada Israel, telah membantu mendanai bentuk aborsi kepada janin-janin Yahudi yang dilegalkan oleh pemerintah Israel.

Sebagai seorang Kristen[5], kita tidak diperkenankan menghakimi atau mengutuk Israel terhadap kesalahan yang juga terjadi dan dilakukan oleh bangsa-bangsa lainnya di dunia. Namun juga, perlu dicermati, agar kita tidak pula malah ke titik ekstrem lainnya, terlalu memuliakan pemerintah dan bangsa Israel sebagai dukungan sepenuh yang berlandaskan kepada sesuatu yang tidak tepat.

Perlu pula ditambahkan bahwa tiada yang berubah dari gerakan Zionisme sebagaimana Noel Smith pernah menulis di tahun 1957 di The Baptist Bible Tribune bahwa: “Zionisme menolak Tuhan orang Israel, Tuhan para Nabi, Tuhan pemilik tanah suci. Zionisme tidak mendasarkan klaim tanah yang dijanjikan kepada mereka berdasar perjanjian Ibrahim p.b.u.h. dengan Tuhan. Zionisme menolak untuk mengakui bahwa diaspora bangsa Yahudi adalah kerja Tuhan karena dosa bangsa Yahudi menolak Messiah yang datang. Zionisme tidak mengenal dosa sehingga tidak diperlukan Messiah untuk menebus dosa. Zionisme adalah [gerakan] atheis, sekuler, politis. … Zionisme, menolak Tuhan yang memberikan Tanah yang dijanjikan, menolak berterima kasih atas pemberian, sehingga tidak punya dasar valid untuk mengklaim tanah Palestina – sebagai suatu hak mereka lebih daripada orang Arab lainnya”.

Tuhan, di masa lalu, benar telah memberi tanah Palestina kepada bangsa Yahudi, namun pemberian ini tidaklah bentuk penafian kebolehan bangsa non-Yahudi untuk mempunyai tanah di Israel, sebagaimana terdapat di dalam kisah Ephron dan Ornan (Silakan bandingkan pula dengan Bilangan 9:14).

Janji Tuhan kepada bangsa Yahudi terhadap tanah Palestina tidak berlaku kepada bangsa Yahudi sebab janji tersebut bersyarat yaitu kepatuhan kepada Tuhan (lihat Kitab Kejadian 17:9-14; Keluaran 19:5-6, Ulangan 7:12; Yoshua 23:15-16, 1 Raja-raja 9:6-9, 2 Tawarikh 7:19-22, Yehezkiel 33:24-27). Tuhan akhirnya menggunakan bangsa Romawi untuk mengusir bangsa Yahudi dari tanah yang dijanjikan di tahun 70 S.M. sebagai bentuk hukuman terhadap pelanggaran kepatuhan akan perintah Tuhan: penolakan dan penyaliban Messiah mereka (Matius 21:33-43, 23:38).

Namun tentu saja, siapapun saja meski dia Yahudi, tetap berhak atas tanah di Palestina asalkan dia membelinya dengan adil. Sebagai seorang Kristen, kita seharusnya menjunjung tinggi kebolehan pemilikan tanah Palestina kepada semua orang Yahudi, dan juga orang Palestina selama mereka secara legal memiliki tanah tersebut. Kita bukanlah komunis – yang mengakui pemilikan tanah adalah hanya oleh negara yang boleh direbut kapan saja tanpa ganti rugi yang adil. Dan kita juga bukanlah rasis, yang mengusir orang lain dari tanahnya karena orang tersebut berasal dari etnis tertentu.

Jadi, siapakah pemilik sah tanah Palestina? Jawabnya janganlah berdasarkan argumen konyol mengenai siapa yang lebih dulu menempati tanah itu, atau bangsa yang lebih disukai Tuhan-lah yang berhak atas tanah itu. Yang berhak atas tanah Palestina adalah mereka yang memilikinya dengan cara yang adil, bukan dengan perampasan atau pengusiran namun lewat jual beli yang benar.

Yesaya pernah menubuatkan tentang suatu masa ketika bangsa Yahudi dan bangsa Arab akan diperlakukan sama di hadapan Tuhan: “Pada waktu itu Israel akan menjadi yang ketiga di samping Mesir dan di samping Asyur, suatu berkat di atas bumi, yang diberkati oleh TUHAN semesta alam dengan berfirman: “Diberkatilah Mesir, umat-Ku, dan Asyur, buatan tangan-Ku, dan Israel, milik pusaka-Ku” (Yesaya 19:25-26[6])”.

Kita sekarang ini hidup di masa sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Perjanjian Baru memberikan kita ajaran bahwa tidak ada lagi perbedaan antara Yahudi dan non-Yahudi (Kisah Rasul-rasul 15:9; Roma 10:12; Galatia 3:28). Bangsa Yahudi sudah tidak memiliki keunggulan sebagai keturunan langsung resmi dari Ibrahim p.b.u.h. (Yohanes 8:39). Israel sejati dan anak sebenar dari Ibrahim p.b.u.h. adalah mereka yang mendapat pencerahan iman (Roma 2:28-29; Galatia 3:7; cf. Galatia 6:15-16).

Semua sederajat di hadapan Tuhan (Kisah Rasul-rasul 17:26) dan hal ini berlaku kepada semua bangsa tanpa pengecualian. Oleh sebab itulah, kita seharusnya bersikap adil terhadap bangsa lain, baik Yahudi, Arab, maupun Palestina dan menjauhi bersikap dan berkeyakinan bahwa seolah-olah Tuhan memberi hak kepada suatu bangsa untuk bebas merampas hak bangsa yang lain.


[1] Hak Cipta ada pada Thomas Williamson. Jikalau ada sedikit perbedaan dari teks asli, maka hal demikian disebabkan kekurangpresisian penerjemah. Harap dimaklumi. Pendistribusian teks ini harus menyertakan nama pemilik Hak Cipta dan alamat akses teks asli. Untuk rujukan, gunakan rujukan pada teks asli. Usaha penerjemahan ini merupakan kegiatan non-profit dan tidak serta merta merupakan pandangan dari penerjemah.

[2] untuk artikel yang berkait erat dengan isu yang sama dengan pembahasan lebih ke ranah gugat tafsir clamant terhadap skriptur biblikal, baca juga tulisan Thomas Williamson yang lain berjudul “To Whom Does the Land of Palestine Belong?” yang bisa diakses di:

http://thomaswilliamson.net/palestine.htm

untuk artikel yang berkait erat dengan isu konflik Israel-Palestina di dalam ranah permainan istilah di media massa semisal istilah teroris dilekatkan kepada orang Palestina padahal jika hendak berlaku adil maka pertanyaannya adalah “siapa yang menjajah siapa?” silakan baca salah satu tulisan Edward Said berjudul “What Israel Has Done” yang bisa diakses di:

http://weekly.ahram.org.eg/2002/582/op2.htm

Tulisan Edward Said lainnya bisa diakses di:

http://www.edwardsaid.org/?q=node/1

Buku yang mengupas sangat dalam dan komprehensif tentang isu Israel-Palestina semisal The Politics of Anti-semitism (AK Press, 2003). Menurut buku ini, Zionis memanipulasi persepsi kita tentang banyak hal sehingga menguntungkan mereka.

[3] Kata “saya” di dalam terjemahan artikel ini merujuk kepada Thomas Williamson

[4] Karena penulis asli artikel ini adalah seorang pemeluk Kristen, maka kata “kita” di dalam tulisan ini merujuk kepada “umat Kristen”.

[5] Merujuk kepada penulis dan teman-teman seiman-nya.

[6] Jika merujuk kepada Alkitab terjemahan LIA (1994) maka 2 ayat yang dimaksud di sini bernomor ayat 24-25.