Ideologi, Ideologi Antiperbedaan, dan Ironi

Sampai sejauh manakah kita bisa mengklaim dengan sah, legit, bahwa sebuah ideologi tidak memberikan ruang bagi perbedaan?

Jawaban atas pertanyaan itu sulit.

Di dalam kontestasi ideologi, sebuah hegemoni atau ideologi yang dominan (baca: sedang berkuasa) meniscayakan praktik opresi saat ada ideologi lain yang berbahaya mengancam penjungkalan kekuasaan.

Misalnya saja bisa kita rujuk kepada kisah Sukarno. Konon Sukarno dulu dijungkalkan dari tampuk kepresidenan ketika gerakan antinekolimnya dianggap membuka jalan lebih lebar bagi komunisme yang sudah mulai membesar di daerah Indochina. Inggris dengan kapitalis imperialisme yang bercokol di semenanjung melayu ketar-ketir jika keterjepitannya di utara dan kelak di selatan (Indonesia) akan benar-benar membuatnya terjungkal dari semenanjung Melayu. Inggris mulai khawatir bagaimana komunisme mulai membesar di utara dan selatan daerah kekuasaannya (Malaysia dan Singapura).

Kekhawatiran itulah yang membuat tokoh seperti Norman Reddaway muncul. Dengan operasi intelijennya dan uang segepok dari MI6 serta dukungan intelijen dari CIA, konon terjadilah operasi intelijen merusak nama Sukarno di dalam negeri (Indonesia) dan pencarian kandidat rekan usaha pelemahan Sukarno dari dalam Indonesia.

Hal seperti ini mengingatkan pula kita pada film “Green Zone”. Di dalam film yang dilakoni Matt Damon ini, langkah intelijen dan kemudian militer ala negara adidaya di dalam melemahkan sebuah negara bisa kita pelajari.

Kisah ideologi yang terancam sehingga butuh langkah ekstrem juga kini konon sedang dilakukan oleh Iran. Iran dalam posisi yang berat. Berharap “mediasi” Amerika Serikat saja di dalam menjaga kisah keseimbangan Islam [Sunni] (poros Arab Saudi) – Syiah (poros Iran) – Yahudi (Israel) di Timur Tengah saja tidak mencukupi.

Bagaimana tidak? Irak sudah mulai dikuasai Sunni dan konon dari garis keras. Sunni garis keras ini menyebut diri mereka Daulah Islamiyyah atau Barat menyebutnya IS (dulu awalnya ISIL, ISIS, lalu IS). Suriah sudah ada sebagian wilayah mulai jatuh. Meskipun Sunni menyangkal ke-Sunni-an IS namun Syiah berhak merasa meradang. IS ini menggoyang pemerintahan Syiah di Irak yang sebelumnya lama dipegang Sunni lewat Saddam Hussein. Syiah lumayan banyak pemeluknya di Irak dan euforia jatuhnya Saddam Hussein lewat operasi militer Amerika Serikat menjungkalkan Saddam Hussein sehingga Syiah bisa mulai ambil kekuasaan di Irak mendadak terganggu oleh munculnya IS.

IS ini juga mulai bergerak merangsek ke utara ke sebagian wilayah Suriah. Kita tahu bersama bahwa Suriah yang mayoritas Sunni dipimpin oleh Bashar al Assad seorang Syiah Alawite minoritas yang secara ideologis-teologis merupakan sekutu dekat Iran. “Perang saudara” yang kini sedang terjadi di Suriah menghadirkan kepentingan dan menunjukkan ketakutan Iran. Kini Suriah di beberapa daerah digerogoti oleh tidak hanya pergerakan IS dari Irak ke utara -wilayah Suriah- tetapi juga mulai membesarnya gerakan separatisme di sebagian wilayah Suriah. Rezim Bashar al Assad saking jengkelnya menangani kekacauan di sebagian wilayahnya sampai nekad memakai senjata kimia untuk melawan para “pemberontak”.

Amerika Serikat sendiri di dalam posisi membingungkan untuk masalah Suriah. Secara garis besar, Amerika Serikat butuh tetap adanya perimbangan kekuatan agama Islam (Sunni) dengan agama Syiah di Timur Tengah. Di dalam melihat rezim Bashar al Assad, Amerika Serikat mempunyai dilema yang tidak dimiliki oleh Iran.

Bashar al Assad, seorang kepala negara dinasti Syiah Alawite yang lama memimpin Suriah yang mayoritas Islam, disebut oleh dunia internasional sebagai rezim yang keji sehingga Amerika Serikat tidak mungkin membelanya. Amerika Serikat tetap butuh adanya Syiah yang kuat di Timur Tengah sebagai penyeimbang Islam (Sunni) namun Amerika Serikat tidak bisa mendukung Bashar al Assad yang otoriter. Bashar al Assad boleh jatuh namun Syiah jangan jatuh di Suriah, kurang lebih begitu jika melihat kebijakan pemerintahan Amerika Serikat di Suriah. Amerika Serikat punya pandangan bahwa jika rezim Bashar al Assad misalnya harus turun maka itu urusan nanti karena prioritasnya kini adalah memukul mundur IS.

Sikap setengah-setengah Amerika Serikat ini berbeda dengan kepentingan Iran menyikapi Bashar al Assad. Iran butuh Bashar al Assad di dalam menjaga pengaruh dan kekuasaan Syiah di Suriah. Oleh sebab itulah tidaklah mengherankan jikalau Iran dan aktivis pro-Iran akan mati-matian membuat klaim mengenai ketidakterlalubersalahan dan otoriternya Bashar al Assad di dalam memimpin Suriah sebagai perang psikologis. Di dalam aspek bantuan militer, Iran jor-joran memberi bantuan kepada pemerintahan Bashar al Assad di dalam memerangi tidak hanya IS [yang ditolak ke-Sunni-annya oleh sebagian besar Sunni] namun juga pemberontak Kurdi [yang bergerak memberontak karena isu etnis kekurdian, lihat juga gerakan Kurdi di Irak utara] dan gerakan resistensi terhadap rezim Bashar al Assad yang digalang oleh kombatan Sunni [sebut misalnya kelompok Jabhat al Nusra]. Awalnya kisah Suriah adalah perlawanan melawan rezim Bashar al Assad yang lebih dimulai karena pemerintahan otoriter namun dalam perkembangannya perlawanan itu menjurus kepada perang sektarian, etnis, dan lalu melibatkan negara-negara yang berkepentingan dengan narasi klasik mengenai Timur Tengah.

Yang pasti, Amerika Serikat tak ingin Suriah jatuh ke IS atau Jabhat al Nusra yang dianggap sebagai Islam (Sunni) radikal tapi juga ragu-ragu dan berisiko untuk tetap mempercayai Bashar al Assad. Tidak bisa tetap mendukung Bassar al Assad tetapi Amerika Serikat juga tak ingin pemerintahan Suriah jatuh ke tangan Islam (Sunni) yang radikal. Pemerintahan yang jatuh, apalagi kalau jatuh ke tangan IS atau Jabhat al Nusra, tidak baik bagi mereka di dalam menjaga kisah Islam – Syiah – Yahudi di Timur Tengah. Belum lagi jika misalnya Suriah jatuh ke tangan Sunni yang anti-Amerika Serikat maka Amerika Serikat yang sudah ngos-ngosan terlalu aktif melawan Sunni yang anti-Amerika Serikat di Afghanistan, Irak, dan Yaman, akan kian buruk neraca keuangannya dan meleset perkiraan awal mengenai pencapaian pemenuhan kebutuhan minyak dari negara-negara yang mau kooperatif di Timur Tengah.

Jadi kisah perang Suriah seakan Iran bersendirian. Di negara-negara tetangga, sekutu Syiah mereka sudah mulai kedodoran dan mengharapkan main mata Amerika Serikat di dalam kisah proksi Timur Tengah tidaklah semulus dahulu. Belum lagi “ancaman” dari dalam negeri mereka. Di dalam negeri mereka, Iran pun berusaha mengurangi ancaman ideologi yang berseberangan dengan ideologi resmi teokrasi mereka. Tindakan ekstrem kemudian menjadi terpaksa dilakukan terhadap “musuh negara” yang berseberangan ideologi.

Dunia oh dunia. Kekuasaan dan hegemoni adalah kadang menjadi dasar untuk opresi atau tindakan lain yang tak bisa kita bayangkan saat kita asyik mendengar dendang berjudul “Sleeping Child” dari MLTR. Tidak ada ideologi yang terbuka dan moderat terhadap ideologi lain yang mulai muncul menguat di permukaan. Jikalau mengatakan misalnya Amerika Serikat memiliki ideologi yang benar-benar terbuka dan menerima perbedaan, mungkin saatnya kita membaca buku karya Robert P. Saldin yang berjudul War, the American State, and Politics since 1898. Amerika Serikat selama umur negaranya selalu dalam perang melawan ideologi yang bisa mengancam ideologi mereka. Di dalam bukunya, Saldin berbicara mengenai foreign wars  dan sudah menjadi rahasia umum bagaimana Amerika Serikat menjaga kepentingan negara dan ideologinya di dunia dengan cara berperang di hot wars di negara-negara lain. Jika hendak menafikan itu, mengapa Samuel Huntington sampai iseng membuat buku berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order? Ideologi saling bersaing baik terbuka maupun lewat proksi-proksi.

Tapi kalau kemudian kita menyalahkan ideologi atau agama serupa John Lennon yang mengiba ajak semua untuk membayangkan dunia tanpa agama tanpa negara yang kasarnya bisa kita bilang “dunia tanpa ideologi,” John Lennon ini mungkin alpa bahwa justru tanpa itu dunia bisa jadi kian kacau. Mengapa bisa jadi? Meminjam istilah Thomas Paine, negara adalah semacam entitas yang diperlukan meski dalam kondisi terburuk bisa malah menjadi agen penindasan dan merupakan sebuah ironi jika negara itu tidak ada. Tidak ada negara yang “betul-betul” baik. Namun jika negara tidak ada maka chaos terjadi dan yang lemah rentan tertindas. Negara memang tak bisa menjamin bahwa yang lemah selalu terjaga tapi tanpa peran negara keadaan justru bisa lebih parah.

Oleh sebab itulah John Lennon mengajak kita “membayangkan” saja. Membayangkan itu tidak harus rasional dan praktis diterapkan. Sebagaimana Marx yang seorang pemabuk dan perokok berat berseloroh serius mengenai agama serupa candu bagi masyarakat yang sering disalahartikan sebagai “opium/candu” padahal ia merujuk pada pemberi ketenangan dan impian delusional bagi pengurang pertentangan kelas. Di satu sisi ia seakan-akan “rasional”. Tapi di sisi lain, ideologi Marxisme yang muncul dari pemikirannya justru menjadi candu yang lain bagi pengikutnya.

Benar juga bahwa Marxisme yang “merasionalkan” munculnya ideologi atau agama lewat pertentangan kelas adalah populer dan inspiratif bagi para buruh untuk menyadari ‘realita dunia’ dan bersolidaritas di antara mereka namun ironis juga saat kita tahu bagaimana Marx hidup sebagai pemabuk yang kasar dan arogan, sering bermasalah dengan orang lain, dan ia juga seorang majikan yang tak peduli dengan kesejahteraan anak buahnya.

Tidak berhenti sampai di situ, beberapa negara yang mengaku mendasari cita-citanya berdasar Marxisme —konon tentu saja kecuali Kuba— justru dalam praktiknya kemudian busuk kepada para buruh walaupun sebagian akademisi Marxis melihat Marxisme konon tetap dibutuhkan sebagai oposan dari kapitalisme yang memeras para buruh (cf. Michael Burawoy, “Marxism is Dead, Long Live Marxism!”, Socialist Review 1990, 90 (2): 7-19) atau pandangan dari Russel Means, seorang tokoh pergerakan suku bangsa Indian, yang di dalam pidatonya “For America to Live, Europe Must Die” menunjukkan bahwa pemikiran Marx tak lepas dari respon kesituasian dari kehidupan di Barat pada abad 19 dan tidak membumi pada semua keadaan dan kebudayaan. Dan kegegapgempitaan untuk seakan menjadi ‘modern’ dengan berpikir ala Marx serta hal lainnya tentang Karl Marx dan Marxisme misalnya dapat kita temukan lubang dan ironinya, misal, di dalam buku karya George Fabian, Karl Marx – Prince of Darkness atau buku berjudul Intelectualls karya Paul Johnson.

Misal saja ada fakta yang menarik mengenai Marx. Bahwa ia lebih suka kumpul dengan kalangan menengah pemikir dibandingkan bergumul dengan kaum pekerja. Sesuatu yang mungkin banyak Marxis ‘tulen’ tidak ketahui.

What is even more striking is Marx’s hostility to fellow revolutionaries who had such experience-that is, working men who had become politically conscious. He met such people for the first time only in 1845, when he paid a brief visit to London, and attended a meeting of the German Workers’ Education Society. He did not like what he saw. These men were mostly skilled workers, watchmakers, printers, shoemakers; their leader was a forester. They were self-educated, disciplined, solemn, well-mannered, very anti-bohemian, anxious to transform society but moderate about the practical steps to this end. They did not share Marx’s apocalyptic visions and, above all, they did not talk his academic jargon. He  viewed them with contempt: revolutionary cannon-fodder, no more. Marx always preferred to associate with middle-class intellectuals like himself (Intellectuals, hlm. 60-61).

Ideology by Andrew Parks (Credit Pic: gamersalliance.com)

“Ideology” by Andrew Parks (Credit Pic: gamersalliance.com)

Balik kepada menahbiskan sebuah ideologi sebagai ideologi yang sangat pasifis dan toleran kepada ideologi lain, maka pernyataan ini bisa disebut ironis kalaupun ada dipilih satu klaim sebab sebuah ideologi akan mulai resisten ketika ideologi “yang lain” mulai berkembang dan kuat. Dan sejarah memang menunjukkan demikian. Bahkan, pemahaman ini memunculkan strategy game yang diciptakan oleh Andrew Parks dengan nama “Ideology”. Tertarik bermain? Apakah ideologimu?

Referen Tambahan Mengenai Kehidupan Karl Marx

  1. David Mikics. 18 Juni 2013. “Karl Marx: The Greatest Intellectual Fraud of the 19th and 20th Centuries.” tabletmag.com.
  2. Jim Eckman. 15 Oktober 2011. “The Tragedy of Karl Marx.” Issues in Perspective.
  3. Louis O. Kelso. Maret 1957. “Karl Marx: The Almost Capitalist.” American Bar Association Journal diakses dari Center for Economic and Social Justice.
  4. George Jochnowitz. Juli/Agustus 2000. “Ecuses, Excuses.” Midstream diakses dari Jochnowitz.net.
  5. Troy Jollimore. 19 September 2011. “The Private Life of Karl Marx.” Salon.com
  6. BBC Learning English – Moving Words. “Karl Marx.”
  7. Stefan Molyneux. 11 Januari 2014. “The Truth about Karl Marx.” YouTube.

Hilangnya Kemanusiaan Kita?

Sebuah terjemahan dari tulisan Joan Fleming. Joan adalah penyair dan esais dari New Zealand yang sedang menyelesaikan Ph.D.-nya dengan fokus kajian etnopoetika penduduk pribumi Australia di Monash University. Terjemahan di bawah ini berasal dari salah satu esainya yang judul aslinya adalah “Congealed in a bureau and reduced to a function” yang teks aslinya dapat dinikmati lewat link ini. Terjemahan dan penerbitan di blog ini telah mendapatkan ijin darinya.

=====================

Sudah tidak jamannya lagi di dalam kajian sastra untuk berbicara mengenai universalitas segala sesuatu. Human Nature[1], Totality[2], dan Truth[3]di dalam kajian sastra telah lama dinistakan. Namun pertanyaan yang patut diajukan adalah apakah istilah-istilah tersebut telah benar-benar mengalami pengendapan, pembongkaran, dan karenanya menjadi tidak berguna lagi? Apakah aliran post-strukturalisme[4] dan non-esensialisme[5] telah membuat kita jauh melampaui pengertian a priori[6] mengenai sifat kodrati manusia yang diterima secara umum dan universal?

Stanley Diamond menyadari bahwa antropologi sejatinya adalah pencarian untuk memulihkan apa yang hilang dari masyarakat Barat. Diamond adalah seorang penyair, antropologis yang radikal namun sangat cerdas, dan juga pionir dalam memberikan kejelasan mengenai istilah “primitif”. Di dalam esai bertahun 1968 dengan judul “The Search for the Primitive”, Diamond khawatir bahwa reduksi sejarah manusia menjadi hanya sejarah alam yang mengutamakan pada linieritas dan kemajuan sejarah akan berdampak pada pandangan mekanistis terhadap masa depan manusia: sebuah masa depan di mana laki-laki dan perempuan “dipadatkan dalam suatu unit administratif dan kemudian dinistakan hanya menuruti fungsinya saja bagi kontribusinya terhadap lancar jalannya sebuah sistem”[7]. Apa yang disebut Diamond sebagai masa depan adalah satu waktu yang sedang kita alami sekarang ini: dunia yang cenderung pragmatis, sekuler, gerak laju ditentukan oleh arah pasar, dan mulai meninggalkan hal-hal yang sifatnya magis.

Diamond merujukkan pemikirannya kepada Levi-Strauss yang mempercayai bahwa antropologi mungkin berkembang dalam rangka sebuah pencarian tentang alternatif terhadap kondisi modern sebagai suatu “ekspresi penyesalan terhadap penakhlukan ideologis dan teknis oleh dunia Barat terhadap seluruh permukaan bumi. Orang Barat di dalam dirinya bergolak hidup dalam satu budaya yang awalnya mereka gunakan sebagai alat untuk menguasai budaya lain”. Etnopoetika, bidang yang aku jadikan tema untuk riset Ph.D., digerakkan oleh dorongan yang sama: sebuah pencarian akan tradisi poetika alternatif dan kemungkinan varian lain di dalam seni sajak oral maupun ritual dari orang-orang pribumi jajahan[8].

Sudahlah jelas bahwa pencarian akan warisan poetika dalam suatu budaya yang dijajah dan terancam punah adalah sesuatu yang problematis, dan dapat saja dikatakan bermuatan politis. Riset model seperti ini dapat menimbulkan beraneka macam pertanyaan yang tidak nyaman untuk diajukan semisal: Apakah riset ini adalah cara lain orang-orang kulit putih mengambil sesuatu dari kami, penduduk pribumi, setelah mereka sebelumnya telah berhasil merampas tanah dan juga menghancurkan cara hidup kami? Apakah etika yang menjadi dasar penyair etno kulit putih dalam membuat poetika pribumi menjadi ‘suatu objek kajian’?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah penting untuk dijadikan pertimbangan di dalam risetku. Lepas dari kekhawatiran yang muncul, aku percaya bahwa penduduk pribumi tidak akan mengacaukan proyek risetku di dalam pencarian pemahaman akan khazanah alternatif tentang bagaimana melihat, mempercayai, menjadi, dan membuat sajak menurut cara mereka.

Di Australia, salah satu narasi yang sedang mencuat adalah bagaimana kebijakan pemerintah [kulit putih] dapat mengubah “masalah suku Aborigin” di bidang pendidikan, pemukiman, dan kesehatan. Banyak sekali jargon-jargon retoris yang dipakai di dalam cita-cita “menutup kesenjangan [antara kulit putih dengan suku Aborigin]” lewat pemaksaan pendidikan terhadap anak-anak suku Aborigin menurut tujuan pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah Australia.

Saat aku mengunjungi Yuendumu[9] pada tahun 2008, aku mendapat kabar bahwa kurikulum sekolah yang diambil dari daerah makmur perkotaan Adelaide dipaksaterapkan ke sekolah di Yuendumu. Kurikulum ini dipaksaterapkan tanpa adanya perubahan pada kurikulum tersebut dan juga pemahaman akan kebutuhan serta harapan komunitas Yuendumu.

Sebuah surat terbuka dari komunitas Yuendumu pada tahun 2012 memperkarakan dihapuskannya program bilingual[10] dari pembelajaran di sekolah-sekolah dan pemberlakuan denda kepada orang tua Aborigin yang tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka.

Para orang tua dari suku Aborigin ini menyatakan di dalam surat terbuka mereka bahwa “kedua bahasa baik bahasa Aborigin maupun bahasa Inggris bagi kami adalah sama pentingnya namun kami ingin agar anak-anak kami tetap dapat menjaga bahasa Warlpiri[11]dan belajar untuk dapat membaca pertama kali dalam bahasa Warlpiri dan bukan dalam bahasa Inggris. Jikalau mereka belajar segala sesuatu dengan bahasa Inggris sebagai bahasa utama maka bahasa Warlpiri akan melemah dan anak-anak kami ini akan kesulitan memahami ucapan orang-orang tua mereka yang berbicara dengan bahasa Warlpiri. Ini membuat kami sedih dan ini membuat anak-anak kami sedih dan hilang akar dan arah sejarah”. Model pemaksaan penyeragaman pendidikan yang dilakukan pemerintah Australia kepada suku-suku Aborigin seperti inilah yang masih mencerminkan pola pikir kolonialis.

Pertanyaan mengenai bagaimana membuat orang-orang dari suku Aborigin dapat menyerupai “kita”[12] selalu saja diajukan. Kebalikannya, kita – orang kulit putih – jarang sekali bertanya bagaimanakah ‘mainstream Australia’[13] dapat belajar, melihat, mewarisi, dan juga memahami komunitas-komunitas suku Aborigin yang ada di Australia.

Pekan kemarin saat aku mengunjungi tempat layanan kesehatan, wanita yang membantuku mengisi formulir mengarahkan juga membenarkanku untuk mencentang “No” pada sebuah pertanyaan di dalam formulir itu yang bunyinya: “Apakah Anda keturunan Aborigin atau penduduk asli gugus kepulauan Torres?”. Wanita tersebut nyeletuk: “kamu dilahirkan di luar negeri, sehingga jelaslah benar bahwa kamu mencentangnya pada kotak No”. Aku menimpali celetuknya dengan balik bertanya apakah dimungkinkan bagi seorang keturunan Aborigin untuk terlahir di luar negeri. Jawaban wanita tadi adalah: “tak banyak dari mereka yang terlahir di luar negeri” lalu aku mendengar ia mengatakan dengan lirih “pergi ke luar negeri adalah pergi ke tempat yang jauh dari rumah mereka”.

Menarik untuk dijadikan renungan bahwa di jaman di mana krisis lingkungan global terjadi seperti sekarang ini, kita orang kulit putih, telah berubah menjadi suatu masyarakat yang mencibir keengganan sekumpulan orang untuk meninggalkan tanah yang mereka percayai dan rasai terkait erat dengan nenek moyang dan para kerabat. Tanpa kita sadari, orang-orang seperti mereka-lah yang justru mencintai lingkungan lebih dari kita namun anehnya malah kita jadikan cibiran.

Pertanyaan utama yang diajukan oleh Diamond di dalam esainya adalah kekhawatiran yang selama ini tidak disinggung di dalam kajian akademik: Bagian manakah yang telah sirna dari kemanusiaan kita? Lalu bagaimana dan mengapa kita kehilangan bagian kemanusiaan itu? Dapatkah kita merebutnya kembali?

Aku sangat yakin bahwa kajian etnopoetika, dengan segala tikung selibat poskolonial, dapat memandu kita dalam berpikir untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

=====================

Endnotes

[1] Human nature = sifat, karakter, insting dasar atau kodrati manusia

[2] Totality atau Totalitas adalah suatu cara melihat realitas sebagai suatu keutuhan berdasar diskursus ala Friedrich Hegel. Totalitas adalah hasil dari momen-momen yang bertautan pada saat tertentu. Truth terletak pada totalitas dan bukan pada tiap momen yang ada. Tiap momen adalah hanya sebagian dari truth.

Setiap periode masa tertentu terdapat truth masing-masing. Truth yang disusun dari proposisi-proposisi tertentu pada suatu masa hanyalah memiliki kebenaran pada masa itu saja sebab perbedaan masa akan membuat perbedaan truth.

[3] Truth dengan T besar, atau Kebenaran dengan K besar, adalah tema yang menjadi sentral di dalam diskusi filsafat, sastra, dan budaya. Apakah Kebenaran itu jikalau setiap orang memiliki referen masing-masing dan juga kondisi yang berbeda-beda?

[4] Penjelasan mengenai post-strukturalisme yang paling gampang dicerna adalah sebagaimana diutarakan oleh Roger Jones, n.d., “Post Structuralism” sebagai berikut:

Pada pertengahan abad 20, terdapat beberapa teori struktural mengenai eksistensi manusia. Di dalam studi bahasa (linguistik), Ferdinand de Saussure menyatakan bahwa makna haruslah digali dari struktur padu padan yang ada di dalam seluruh kalimat dan bukan hanya menyandarkan pada analisis tiap kata yang ada dalam satu kalimat. Bagi Karl Marx, eksistensi manusia adalah dapat dipahami berdasarkan analisis pada struktur ekonomi yang berlaku di masyarakat. Sedangkan bagi Sigmund Freud, struktur kejiwaan manusia dapat dijelaskan lewat kondisi bawah sadarnya.

Pada tahun 60an, gerakan strukturalis yang bermarkas di Perancis, mencoba mensintesiskan ide dari Saussure, Marx, dan Freud tadi. Gerakan ini juga tidak sepakat dengan pandangan kaum eksistensialis yang mengemuka saat itu bahwa manusia menjadi dirinya karena dirinya sendirilah yang menentukan bagaimana ia menjadi manusia. Bagi kaum strukturalis, tiap individu dibentuk lewat struktur-struktur linguistik, sosiologis, dan psikologis di luar kendalinya namun dapat diselidiki lewat metode penelitian tertentu.

Semula disebut sebagai bagian dari kaum strukturalis, dalam perkembangan pemikirannya Michel Foucault kemudian berubah sebagai tokoh terkemuka dari gerakan post-strukturalis. Foucault sepakat dengan kaum strukturalis bahwa bahasa dan masyarakat diatur oleh sistem-sistem, aturan-aturan.

Meskipun demikian, Foucault tidak sepakat kepada kaum strukturalis pada dua hal. Pertama dia tidak sepakat mengenai struktur yang pasti untuk dapat dipakai menjelaskan kondisi manusia. Berikutnya adalah, Foucault meyakini kemustahilan berlepas diri dari sebuah wacana-wacana yang membebat seseorang peneliti dan lalu meneliti sesuatu dengan objektivitas yang puritan.

Filosof lain, Jacques Derrida, mengembangkan dekonstruksi sebagai suatu teknik menyibak kemultitafsiran suatu teks. Derrida, terkena pengaruh pemikiran Heidegger dan Nietzche, menyatakan bahwa segala macam teks mempunyai ambiguitas dan oleh karenanyalah kemungkinan menyelesaikan tafsir atas teks dan membuat tafsiran yang lengkap dari suatu teks menjadi pekerjaan yang musykil.

Kedua aliran pemikiran ini, post-strukturalisme dan dekonstruksi, dapat dianggap sebagai formulasi teoretis sebagai jawaban atas kondisi post-modern. Modernitas mencoba menjelaskan segala sesuatu-nya secara rasional, empiris, dan objektif. Modernitas mengasumsikan bahwa ada truth yang dapat disingkap dan ada suatu cara untuk memperoleh jawaban-jawaban atas kondisi manusia. Post-modernisme justru menegasikan adanya kepastian akan hal ini dan juga meragukan superioritas rasionalitas manusia. Rasionalitas dianggap hanya sebagai bentuk pemahaman yang sifatnya historis.

Bahasan di dalam post-modernisme adalah mengenai ‘ketiadaan cara yang benar-benar rasional’ untuk mengevaluasi sebuah pilihan yang berkaitan dengan penilaian akan truth, moralitas, pengalaman estetika, atau objektivitas.

Sembari kaum post-modernis membongkar hierarki pemikiran-pemikiran yang sebelumnya ada, bentuk pemikiran baru mengenai pemahaman yang muncul ke permukaan: gabungan dari pemikiran-pemikiran akan bermetamorfosis, tikung selempang, dan berkembang sebebas-bebasnya dan masa depanlah yang akan menentukan hasil dari interaksi antarpemikiran ini.

[5] Non-essensialisme atau anti-essensialisme adalah aliran pemikiran yang menolak cara pandang kaum essensialis.

Kaum essensialis berpandangan bahwa dunia mengandung jenis-jenis peng-kelas-an segala sesuatu secara alami yang kodrat (nature)-nya ditentukan pada esensi yang tidak dapat diamati (Medin 1989; Medin & Ortony 1989; Gelman, Coley, & Gottfried 1994 semua via H. Clark Barret, “On the Functional Origins of Essentialism”, Mind & Society, 3, Vol. 2, 2001, pp. 1-30).

Esensialis melihat setiap objek di dunia “memiliki esensi-esensi atau sifat kodrati yang membuatnya sebagaimana mereka mengada sebagaimana diri mereka” (Medin, 1989 via H. Clark Barret, “On the Functional Origins of Essentialism”, Mind & Society, 3, Vol. 2, 2001, pp. 1-30) dan esensialis juga memperlakukan setiap objek yang ada di dunia sebagaimana tiap objek tersebut memiliki aneka properti (atau lekatan atau atribut esensial atau karakteristik) sebagai hasil dari esensi tiap objek itu (Barret, 2001: 3).

Contoh dari pola pikir essensialis adalah sebagai berikut (Richard Twine. n.d. “What is Essentialism?”): laki-laki diyakini lebih agresif dibandingkan perempuan karena adanya perbedaan hormonal di antara kedua seks ini. Implikasi dari pandangan ini adalah ‘perilaku oleh’ dan ‘perlakuan yang berbeda atas’ kedua seks.

[6] A priori adalah pengetahuan yang tidak perlu pembuktian atau argumen empiris lagi karena bersumber dari pengetahuan umum yang sudah ada.

[7] Joan Fleming di dalam tulisannya ini mengutip frase dari Diamond: “[men and women are] congealed in a bureau and reduced to a function” atau “[laki-laki dan perempuan] dipadatkan dalam suatu unit administratif dan kemudian dinistakan hanya menuruti fungsinya saja [bagi kontribusinya terhadap lancar jalannya sebuah sistem]”. Untuk menelusuri lebih jauh gaya berpikir kaum fungsionalis, pengenalan singkat tentangnya dapat dibaca lewat tulisan Ashley Crossman.

[8] Barat = white people = kaum kolonial = kaum penjajah

[9] Yuendumu terletak di pinggir padang pasir Tanami, 300 km ke arah barat laut Alice Spring. Yuendumu yang letaknya terpencil adalah salah satu dari komunitas pemukiman suku Aborigin yang terbesar di wilayah tengah Australia.

[10] Bilingual = bahasa Aborigin dan bahasa Inggris (bahasa orang kulit putih)

[11] Warlpiri adalah salah satu bahasa dari suku Aborigin. Bahasa-bahasa lain yang dipakai suku Aborigin misalnya adalah Arrernte, Warumungu, Jaru. Komunitas Aborigin di Yuendumu memakai bahasa Warlpiri sebagai bahasa utama.

[12] Maksudnya adalah “kulit putih”

[13] Mainstream Australia = kulit putih Australia