What’s In A Name

Pagi ini ketika berkendara sepeda motor saya mendapati sebuah bus dengan tulisan “Pengenalan Lingkungan dan Akhirussanah TK …. “. Saya tersenyum sebab di dalam benak saya membayangkan istilah yang mirip dengan itu “pelepasan”, “study tour”, “piknik”, “studi banding”, atau “tamasya”.

Istilah-istilah tersebut boleh didebat memiliki arti yang sama atau juga memiliki arti yang berbeda, tergantung pembaca, kata Roland Barthes atau Stanley Fish. Namun problemnya adalah bagaimana sebuah pesan diniatkan oleh pembuat pesan. Tidak seharusnya letak pemaknaan “terserah tujuan akhir” atau “terserah resepsi pembaca”.

Berbicara terserah mungkin akan menjadi sesuatu yang menarik jika kita melihat beaneka ragam fenomena di dalam bahasa. Misalnya kata “rudal”. Penutur Bahasa Indonesia mungkin banyak yang tidak tahu (atau bahkan tidak mau pusing untuk tahu) bahwa istilah “rudal” adalah singkatan dari “peluru kendali”. Contoh yang lainnya adalah istilah “gali” yang sebenarnya singkatan dari “gerombolan anak liar”. Bisa jadi bagi mereka yang tidak tahu konteks mungkin membayangkan bahwa “gali” dekat artinya dengan “sali”. Sali di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya “kokoh”. Dus, orang yang tidak mendapati konteks awal munculnya istilah gali karena referen yang tersedia adalah, misalnya, “sali” maka akan punya potensi untuk mengaitkan “gali” dengan “sali”. Bahkan mungkin saja ketika didapatinya bahwa “gali” untuk berarti “to dig” maka pemaknaan akan istilah “gali” adalah “aktivitas yang berkaitan dengan to dig”.

Jika mempercayai apa yang dikatakan oleh Barthes tentang “terserah tujuan akhir’ dari sesuatu diterima [baca dimaknai], segala sesuatunya bisa jadi berkembang liar. Saya dapat mengatakan bahwa pemahaman dengan pemaknaan itu berbeda. Memang benar bahwa segala wacana adalah sekumpulan tebar teks yang sudah tersedia di belantara kata, sebagaimana dipertegas lewat ungkapan “rajutan mozaik teks”-nya Kristeva, namun itu menjadikan lingkaran hermeneutika menjadi sebuah teks baru dan bukanlah mem-re-produsir makna dari pencipta.

Contoh dari paparan saya di atas misalnya di dalam lagu anak-anak sebagai berikut:

Gilang sepatu gilang,

Gilang si rama-rama

Mari pulang, marilah pulang,

Bersama-sama.

Satu bait lagu yang sering didendangkan anak-anak PAUD atau TK ini mungkin menjadi kasus yang menarik dari apa yang saya utarakan. Saya dapati bahwa lagu tersebut kerap lazim diajarkan sebagai:

Gelang sipatu gelang

Gelang sirama-rama

Mari pulang, marilah pulang

Bersama-sama.

Mungkin benar bahwa kita memiliki tradisi pantun. Benar juga bahwa ada sebagian ahli menganggap dalam satu bait pantun yang terdapat empat larik, baris 1 + 2 adalah semacam pengantar rima. Jadi tidak [harus] mempunyai makna. Mereka “hanya” sebuah mantra dan konon tradisi melayu mengenal “mantra”[1]. Namun ada seorang ahli pantun dari Belanda (?[2]) melihat bahwa sepasang baris awal dari bait pantun adalah berkaitan entah secara simbolik atau memang integral-naratif.

Jika memang lagu anak-anak tersebut dalam konteks ke-melayu-an dianggap dan dipercayai sebagai serupa pantun atau secara natural berpotensi dianggap sebagai lagu main-main yang mengandung “mantra”, maka yang terjadi adalah penciptaan baru yang berbeda dari bentuk pertama. Ia menjadi sebuah teks yang mengandung “mantra”. Mantra tidaklah [harus] mengandung arti. Bahkan secara ekstreme, ia tidak harus memakai kata yang sudah ada, semacam neologisme diperbolehkan.

Namun masalahnya, apakah memang demikian bebas pemaknaan berdasar “diskursus” di dalam teks sebagaimana poin dari Frow tentang intertekstualitas? Apakah begitu longgarnya “teks-teks”, “konteks” dan “meta-teks” saling bergulat di dalam memberi makna? Jika memang diyakini adanya kebebasan yang luar biasa kepada pembaca maka yang terjadi kemudian bukankah “teks” tersebut menjadi “hilang bentuk”?[3]

Pertanyaan yang diajukan adalah: Apakah hal demikian sah-sah saja? “Gelang” adalah mantra, “sipatu” adalah mantra, dan seterusnya dan seterusnya … Bukankah meskipun pembaca memiliki hak untuk “menafsirkan” sendiri teks yang dihadapinya berdasarkan gegap semesta teks yang tersedia, jikalau bekerja secara serampangan akan menjadikan kerja “pembacaan” menjadi “keliaran penciptaan karya baru” sehingga menghancurkan teks?

Bagaimana jikalau kemudian sebenarnya lagu itu berbunyi:

“gilang, sepatu gilang” = “g[em]ilang sepatu g[em]ilang”

“gilang si rama-rama” = “g[em]ilang si rama rama [penaka kunang-kunang]”

Saya sepakat bahwa konteks “to postpone” di dalam pemaknaan adalah esensial. Namun “pemaknaan” berada di dalam tahap “menunda artikulasi makna” pada saat teks-teks yang tersedia sebagai reference memang belum ada. Ketika sudah ada, maka pemberian makna adalah merapatkan dengan intensi pencipta. Kegiatan pembacaan[4] yang lepas kontrol akan membuat bukan sebuah dekonstruksi sebuah teks namun sebagai bentuk fatalism on reading.

Jeda yang terjadi adalah temporal, saya sepakat. Ia terjadi pada saat “pendugaan makna sesuai intensi penciptaan”. Ia menjadi “mungkin” berkembang ketika teks tersebut may signify makna yang berbeda. Istilah may signify adalah bukan kemutlakan, karena itulah dipakai istilah may.

Pada kasus lagu di atas, pemaknaan lagu hanya sebagai word-per-word:

Gilang sepatu gilang,

Gilang si rama-rama

Mari pulang, marilah pulang,

Bersama-sama.

Lalu bagaimana jika ia sudah beranjak kepada beyond text? Bahwa “sekarang waktunya pulang bersama-sama sebab sepatu sudah bersih, secemerlang cahaya kunang-kunang” adalah to go beyond text. Inilah yang dimaksud oleh A. Teeuw bahwa di dalam pembacaan manusia bertingkah sebagai homo significance atau jika merujuk kepada istilah Culler bahwa pembacaan selalu merupakan hasil dari recuperation and denaturalization. Ada semacam “potensi kenakalan” atau “kewas-wasan” dari tiap manusia untuk terkadang “menjelajah melebihi teks”. Hal demikian terjadi, dan hanya bisa terjadi, karena potensi bahasa yang saya harus sepakat dengan kaum “post-strukturalisme”, untuk melahirkan arti metaforik.

Ini menjadi menguatkan pelabelan manusia sebagai homo significance yang sebenarnya bermuara kepada dua hal. “Potensi kenakalan” terjadi karena di dalam nature manusia ada semacam dorongan untuk “menjadi bersifat personal”, ego didahulukan. Kalimat interpretatif: “menurutku artinya adalah tidak se-tekstual itu” adalah bukti yang demikian. Pada kasus “kewas-wasan”, yang muncul dari interpretasi adalah “jangan-jangan artinya tidak se-tekstual itu”. Kewas-wasan pun bisa tetap terjadi ketika pencipta teks sudah memberi pemaknaan yang rigid. Kewas-wasan model ini karena ada kecurigaan bahwa pencipta teks menyembunyikan makna sebenarnya. Aktivitas menjelajahi kemungkinan “menjadi berbeda” dan atau “mungkin dapat bermakna lain” menjadikan proses pembacaan sendiri menjadi unik dan bisa sublim.

Perlu pula dicatat. Jika memang semua terserah pembaca, alangkah naifnya jikalau menaifkan pembacaan “Marly” di dalam sajak Z oleh salah seorang mahasiswa A Teew ketika tidak ada argumen terbuka untuk menaifkan pembacaan Umar Junus terhadap Bulan di atas Kuburan. Atau alangkah tidak pas ketika Andre Hardjana menyoroti pasar kembang-nya Sitor Situmorang yang ditafsirkan “terserah” Djoko Pradopo.

Tulisan ini bahkan bisa mengembara kepada salah satu kisah tentang sapi betina, ketika ego dan atau was-was muncul di dalam pembacaan perintah. Saat ego muncul, maka akan timbul polemik, sedangkan saat was-was menguasai maka akan timbul kesetenghatian. Kisah ini justru menjadikan sebuah pemarkaan bahwa “teks sastra” berbeda dengan “teks hukum”. Dus, ketika sebuah teks hukum dilarikan kepada sastra, maka hasil akhirnya adalah hancurnya makna perintah.

Kembali kepada kisah bus yang tadi pagi saya lihat, intensi penggunaan istilah “akhirrusanah” adalah berbeda dengan intensi penggunaan “pelepasan”, “study tour”, dll. Tambahan pula, meskipun mungkin istilah “akhirrusanah” dirasa mirip dengan “pelepasan yang baik” namun pesan yang hendak ditampilkan menjadi berbeda juga jikalau digunakan istilah “pelepasan yang baik”. Oleh karena itulah, selayaknyalah kita tidak memakan mentah-mentah ungkapan “what’s in a name” sebab percayalah bahwa istilah berbeda menjadikan arti yang berbeda. Sebagaimana “ini kali” dengan “kali ini” menunjukkan intensi serius si Chairil yang mengusik pembacaan kita sebagaimana A Teeuw pernah membahasnya.


[1] Dan ini pernah hendak digaungkan oleh Sutardji lewat kredo-nya namun ia akhirnya men-dekredo­-kan dirinya … karena dulu ia masih suka minum sedangkan sekarang konon ia sudah sadar. Just kidding

[2] Dahulu saya pernah membaca buku tentang pantun yang mengutip pendapat dari salah satu peneliti budaya pantun dari Belanda (?) yang punya pendapat demikian. Namun saya lupa detilnya. Jika ada yang tahu judul bu atau info sebagai referen dari catatan kaki ini, silakan hubungi saya.

[3] Pertanyaan besar kepada kaum dekonstruksi adalah “sampai sejauh mana kebebasan pembaca tidak dipengaruhi oleh intensi penciptaan?”. Jikalau kebebasan itu mutlak, sampai sejauh mana konstruksi itu justru tidak merusak esensi teks? Apakah “keberadaan” teks dapat dibebaskan dari “keadaannya”?

[4] Pembacaan = pemahaman = pemaknaan. Pembacaan “secara kodrati sebenarnya sama arti” dengan pemaknaan sebab aktivitas membaca mengarahkan pembaca secara alamiah kepada pemaknaan.

Membayangkan Sesuatu yang Hilang

Sebuah Pembicaraan terhadap Lagu “Imagine” dan “Losing My Religion”

Apa yang ada di benak kita saat mendendangkan dua lagu yang sempat menjadi hits dari John Lennon “Imagine” dan lagu dari REM yang berjudul “Losing My Religion”? Beberapa pasti bakal menganggap bahwa kedua lagu tersebut sebagai “berbahaya” namun mungkin pula ada sebagian menganggap kedua lagu tersebut sebagai “baik-baik saja”. Mereka yang mengatakan bahwa lagu “Imagine” berbahaya oleh sebab mereka merujuk pada beberapa kalimat di dalam lagu tersebut yang menyiratkan gerakan anti-agama dan serupa dengan lagu “Imagine”, lagu “Losing My Religion” juga bernada serupa. Lalu darimana sebagian yang lain mengatakan bahwa kedua lagu tersebut disebut sebagai “baik-baik saja”? Alasan mereka untuk menyebut kedua lagu tersebut sebagai “bukan berbahaya” akan tetapi “baik-baik saja” dilandasi oleh pemaknaan terhadap kedua lagu tersebut lewat prosedur pemaknaan semiotika dan bukan literal. Secara umum, sebenarnya apapun hasil pem-baca-an seorang pembaca baik literal maupun semiotik, jika ditelaah lebih lanjut selalu merupakan suatu hasil dari penandaan. Ini merupakan hal yang tidak bisa disangkal sebab bahasa sendiri adalah media yang bersifat simbol. Jadi kedua pendapat sebenarnya bermain dengan bahasa; kedua pendapat sebenarnya bermain semiotika.

Buchbinder sendiri mengatakan bahwa pem-baca-an secara niscaya adalah suatu proses memperlakukan suatu teks dengan cara-cara tertentu sehingga makna diperoleh. Makna yang diperoleh inilah dapat disebut sebagai pesan yang ada di dalam teks.

First, there are the sets of relation and distinctive features common to all utterances in the language; these are opposed in turn to an aspect that may be called poetic. As Roman Jacobson said that the poetic function is emphasize merely on for the message for its own sake (1991: 41).

kemudian ia melanjutkan bahwa:

The reading of poetic texts then must first be seen in a correct relation to the reading of more ordinary texts. Features such as rhyme, rhythm, repetitions of words, phrases or images draw the reader’s attention away from any reference to the context of reality (1991: 42.)

namun  apakah pem-baca-an semiotika meluputkan secara total sebuah karya sastra terhadap dunia sesungguhnya? Jawabannya adalah tidaklah demikian. Dunia sesungguhnya tetaplah cermin utama di dalam pemaknaan sebuah karya sastra. Problem utama dari usaha naif untuk bersikap puritan di dalam mem-baca dus memaknai sebuah karya adalah dengan memperlakukan karya lepas dari induknya, yaitu: dunia, bahasa, pengarang. Semua karya sastra memakai medium bahasa dan ketika ia terlahir ke dunia ia tentulah dibuat: 1) karena ada dunia sebagai cerminnya, dan 2) mengikuti kaidah konstruksi bahasa sebagai landasan eksistensi kebermaknaannya. Hal demikian telah pula disinggung oleh Chandler sebagai berikut: “A text is an assemblage of signs (such as words, images, sounds and/or gestures) constructed (and interpreted) with reference to the conventions associated with a genre and in a particular medium of communication(2007: 5)” dan justru aspek linguistik bahasa-lah yang kemudian menjadi tumpuan atau jangkar (anchorage) bagi pemaknaan sebuah karya sebagaimana dikatakan oleh Barthes bahwa “Linguistic elements can serve to ‘anchor’ (or constrain) the preferred readings of an image: ‘to fix the floating chain of signifieds‘” (dalam Chandler, 2007: 204).

Mengapa tadi dikatakan bahwa dunia, bahasa, pengarang ambil peranan di dalam pem-baca-an suatu karya? Apakah dengan memasukkan pengarang ke dalam sesuatu yang mencelupi pem-baca-an berarti makna yang dihasilkan berarti menjadi sesuatu yang rigid? Atau dengan kata lain, jikalau pengarang mengatakan bahwa karyanya memiliki arti A dengan demikian berarti kita mengatakan bahwa tiada penafsiran lain terhadap karya tersebut yang sah selain A? Tidaklah demikian. Sebab sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa pem-baca-an merupakan suatu keadaan aktif memberikan makna terhadap ruang-ruang kosong yang ada di dalam teks. Ia adalah keadaan aktif mengkonstruk imaji dari apa yang tertulis di dalam teks sebagaimana dikatakan oleh Iser (dalam Selden dkk., 1997: 50). Kondisi ini juga dinyatakan oleh Gadamer (dalam Selden dkk., 1997: 54) sebagai pengisian ruang kosong di dalam teks sebagai bentuk interaksi pembaca dengan maksud pengarang yang berwujud teks.

Apa yang dikatakan oleh Gadamer tidaklah sesederhana itu. Ia menambahkan bahwa interaksi ini berlangsung dalam kondisi kekinian pembaca; bahwa apa yang dilakukan pembaca di dalam membaca (atau mengisi ruang kosong) berlangsung dalam taraf pengetahuan pembaca. Tidaklah mungkin pembaca membuat tafsiran di luar pemahaman bahasa dan pengetahuan yang dimilikinya pada saat proses pemaknaan berlangsung (dalam Abulad, 2007: 17-19 dan Palmer, 2005: 290-292). Sehingga proses pembacaan adalah bisa dikatakan sebagai “pembacaan bersama teks-teks lain” dan “pemaknaan terkotori [atau terbantu?] oleh teks-teks yang dibaca sebelumnya” atau Kristeva menggunakan istilah intertekstualitas teks (dalam Chandler, 2007: 197 dan Junus, 1985: 87-88). Perlu digarisbawahi bahwa “pengetahuan tentang pengarang” oleh pembaca tidak bisa dilepaskan dari penafsiran semiotika meskipun pembacaan semiotika bukanlah pembacaan dalam rangka mencari makna yang dimaksudkan oleh pengarang. Sebab sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pemaknaan adalah bersifat kekinian pembaca (Gadamer Selden dkk., 1997: 54) dan pemaknaan telah ditakdirkan bukanlah pekerjaan untuk menyamakan makna yang kita peroleh dengan makna yang dimaksudkan pengarang (Barthes, 1977). Sebab merujuk kepada apa yang dikatakan oleh Kristeva dan juga Gadamer, pem-baca-an berlangsung bersama teks-teks lain dan pada akhirnya akan menghasilkan produk kondensasi berupa “kompromi” simbol dan makna; atau berupa fusi horizon pembaca dengan pembuat teks.

Ok, dapatlah dimahfumi hal demikian. Namun bersandar kepada apa yang telah kita bicarakan di paragraf awal tulisan ini, keadaannya tidaklah segampang itu. Bagaimana jika pembaca BAHKAN ketika sudah mendapatkan kondensasi simbol dan makna sebenarnya masih dihantui oleh sesuatu yang telah pernah ia sengaja tidak ambil? Bagaimana jika semesta simbol dan makna yang telah ia pilih ternyata masih dibayang-bayangi oleh alusi yang lain? Pemikiran demikian dimuntahkan oleh Derrida (dalam Belsey, 2001: 116) untuk menunjukkan bahwa pemaknaan adalah sebuah permainan yang tak pernah usai dimainkan. Sebenarnya Gadamer sudah menyinggung tentang hal itu. Kedinamisan bahasa dan semesta makna membuat pemaknaan yang tetap musykil terjadi. Pem-baca-an dan tafsir selalu bersifat kekinian sedangkan simbol-makna lain sebenarnya tidak pernah terhapus namun hanya tercoret saja karena “itu” masih tetap di sana; bersama dengan pemaknaan yang telah kita buat dan “itu” bisa saja secara radikal menyeruak menggugat dan lalu menggantikan makna yang sebelumnya telah jadi.

Kembali kepada dua lagu yang kita bahas di dalam tulisan ini, Imagine dan Losing My Religion memberikan “tantangan” bagi pem-baca-an serius. Jika kita baca lirik Imagine maka beberapa baris akan memberi permainan penentuan makna [sementara]. Ketika seorang pembaca berhadapan dengan dua baris pertama lagu ini,

Imagine there’s no heaven, it’s easy if you try
No hell below us, above it’s only sky

ia bisa saja mengatakan bahwa lagu ini tidaklah menggugat agama, lagu ini adalah lagu yang mengkritik bagaimana orang-orang yang beragama menyalahgunakan agama untuk mengklaim langit mendukung mereka padahal sebenarnya nafsu keserakahan ada di dalam hati mereka. Mungkin jika menyinggung ini, seorang pembaca ada kemungkinan akan membayang pikiran pada satu baris dari Counting Crows dalam lagu Big Yellow Taxi: “They paved paradise to put up a parking lot“. Bayangan pembaca bahwa lagu ini bukan tentang memusuhi agama semakin diperkuat mungkin dengan kata pertama imagine dan baris penutup bait pertama dari lagu ini adalah “imagine all the people, living for today“. Pembaca dapat saja mengatakan bahwa kata kuncinya adalah living for today. Jadi dia mendapatkan dua hal dari baris ini: 1) bahwa lagu ini hanya sebuah perumpamaan, dan 2) lagu ini menggugat keadaan terkini, saat orang-orang menggunakan agama sebagai topeng atas keserakahan.

NAMUN pembaca tersebut bisa saja di dalam pem-baca-annya merasa terbayang-bayangi oleh apa yang telah dinyatakan oleh John Lennon, penulis lagu Imagine, bahwa:

“But the song ‘Imagine,’ which says, Imagine that there was no more religion, no more country, no more politics is virtually the communist manifesto, even though I am not particularly a communist and I do not belong to any movement. You see, ‘Imagine’ was exactly the same message, but sugar-coated. Now ‘Imagine’ is a big hit almost everywhere; anti-religious, anti-nationalistic, anti-conventional, anti-capitalistic song, but because it is sugar-coated it is accepted. Now I understand what you have to do” – John Lennon

Bilamana pem-baca-an berlangsung dalam keadaan demikian [mengetahui dunia, bahasa, dan pengarang [dus intensi penciptaan suatu karya]], seorang pembaca pastilah harus mencoret salah satu bagian dari semesta simbol dan makna yang tersedia bagi pem-baca-annya dan berkata bahwa “ini” adalah makna dari teks ini. Momen seorang pembaca MENENTUKAN bahwa lagu tersebut “hanya perumpamaan” dan “sindiran terhadap penyalahgunaan agama” serta “bukan anti agama” dus “ajaran atheis-komunis” selalu terbayang-bayangi oleh kemungkinan penjungkalan radikal oleh makna lain yang tadinya dicoret bahwa “ya, lagu ini sebenarnya adalah lagu provokasi anti-agama”.

Lalu apa kaitan lagu ini dengan lagu dari REM, Losing My Religion? Meskipun lagu dengan lirik seperti ini:

Life is bigger
It’s bigger than you
And you are not me

dan kemudian di bait lain:

Losing my religion
Trying to keep up with you
And I don’t know if I can do it
Oh no I’ve said too much

dikatakan BUKAN tentang seseorang yang “sudah tidak percaya lagi akan iman” atau “hilang kepercayaan terhadap Tuhan” oleh sebab dikatakan bahwa ungkapan “losing my religion” adalah sebuah ungkapan orang Amerika Serikat daerah Selatan yang artinya: “sudah tidak percaya lagi kepada seseorang” dan bahkan band REM juga menyatakan demikian, akan tetapi generasi simbol dan makna yang ditimbulkan lirik dan video klip lagu ini dapat menegasikan pernyataan band REM bahwa lagu ini bukan tentang “hilang kepercayaan terhadap Tuhan”.

Pembaca [atau dalam konteks ini, penikmat musik] lagu Losing My Religion tidaklah bisa untuk menghapus kemungkinan pem-baca-an lain bahwa lagu ini MUNGKIN memang tentang “hilang iman” sebab arti religion memang agama. Saat seorang penikmat lagu [atau pembaca lirik] berada di dalam momen menentukan bahwa lagu ini adalah tentang “cinta bertepuk sebelah tangan atau unrequited love” ia bakal selalu dibayang-bayangi oleh simbol atau makna lain yang ia coret (namun masih kelihatan; bukan dihapus) atau ia hilangkan (meskipun bayangan itu selalu potensial untuk kembali) bahwa “ya, lagu ini sebenarnya adalah tentang hilang iman”. Jadi sampai di manakah kita? Apakah kita lantas menjadi pembaca yang tidak mau menentukan makna ataukah memang kata-simbol-makna adalah hal yang rapuh sebagaimana ungkapan dari Derrida bahwa menentukan sesuatu adalah keterpaksaan oleh keadaan saat itu yang bisa jadi terasa “inadequate yet necessary” sebab kita terus bergerak meskipun dalam bayang-bayang terdekonstruksi oleh, justru, diri kita sendiri.

Ah, pembicaraan ini mengingatkan aku pada suatu kalimat baik permohonan kepada Tuhan agar hati [pikiran] tidak membolak-balik dan takut dalam semesta makna yang selalu membayang dan garang atas pilihan yang pernah kita ambil. Apakah sudah benar pilihanku kemarin ataukah kemarin itu aku telah salah? Aku telah dan sedang mendekonstruksi diri sendiri … Oh no I’ve said too much.

REFERENSI

Abulad, Romualdo E. 2007. ”What is Hermeneutics?” dalam jurnal Kritike Vol 1 No. 2 hlm. 11 – 23. ISSN 1908-7330.

Barthes, Roland. 1977. The Death of The Author terjemahan Richard Howard diakses 11 Oktober 2011, pukul 9:37 WIB dari:

http://evans-experientialism.freewebspace.com/barthes06.htm

Belsey, C. 2001. Critical Practice 2nd ed. London: Routledge.

Buchbinder, David. 1991. Contemporary Literary Theory and the Reading of Poetry. Australia: The Company of Australia PTY. Ltd.

Chandler, Daniel. 2007. Semiotics: The Basic. New York: Rouledge.

Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia.

Palmer, Richard E. 2005. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi terjemahan oleh Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Selden, Raman; Peter Widdowson; dan Peter Brooker. 1997. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Hertfordshire: Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf.

Ucapan John Lennon diambil dari:

http://beatlesquotes.tumblr.com/post/959741891/but-the-song-imagine-which-says-imagine-that

dan

http://www.encyclopedia.com/video/o79Si_AThh0-john-lennon-imagine.aspx

Bahasan mengenai lagu Imagine  dapat disimak pula di:

http://www.songfacts.com/detail.php?id=1094

Bahasan tentang lagu Losing My Religion dan pernyataan band REM tentang lagu tersebut bisa ditengok di:

http://www.songfacts.com/detail.php?id=1256

atau di:

http://theinspirationroom.com/daily/2006/rem-losing-my-religion/

Creative Commons License
Membayangkan Sesuatu yang Hilang; Sebuah Pembicaraan terhadap Lagu “Imagine” dan “Losing My Religion” by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.
Based on a work at dipanugraha.blog.com.

Sastra dan Intertekstualitas

ditulis 18 April 2011, diedit dan dikembangkan 17 April 2012,

diedit terakhir 24 April 2012

Setiap pembaca yang berhadapan dengan teks pasti bertarung dengan proses pemaknaan. Ia di dalam kubangan untuk menentukan bagaimanakah signifikansi teks yang ia baca. Tanpa dia sadari, kode dan signifikansi yang ada di dalam teks tersebut diperoleh dari teks-teks yang pernah ia baca sebelumnya. Dus dengan demikian tanpa ia sadari pula bahwa sebenarnya tidak ada satupun teks yang benar-benar mandiri. Setiap teks yang ada selalu terkait dengan teks-teks lain untuk mendapatkan signifikansi.

Keadaan ini telah disinggung oleh Julia Kristeva (dalam Culler, 1981: 104) bahwa jumlahan pengetahuan yang dapat membuat suatu teks sehingga memiliki arti, atau intertekstualitas, merupakan hal yang tak bisa dihindari sebab setiap teks bergantung, menyerap, atau merubah rupa dari teks sebelumnya. Hal senada disampaikan oleh Laurent Jenny (dalam Culler, 1981: 104) sebagai “outside of intertextuality, the literary work would be quite simply impertceptible, in the same way as an utterance in an as yet unknown language”. Ini artinya bahwa ketika suatu teks benar-benar tidak bergantung kepada teks lain, maka teks tersebut menjadi tidak bersignifikansi. Namun masalahnya, sebagaimana dituturkan oleh Jenny (dalam Culler, 1981: 104), istilah intertekstualitas sendiri juga sulit dimarkai secara tepat sebab “… at what point can one start to speak the presence of one text in another as an instance of intertextuality?“.

Culler menekankan intertekstualitas sebagai dua hal fokus kajian (Culler, 1981: 103). Fokus pertama adalah penyadaran posisi penting prior texts (teks-teks pendahulu) yang demikian juga berarti istilah ‘otonomi sebuah teks’ adalah istilah yang tidak tepat sebab sebuah teks baru memiliki makna ketika ada teks-teks yang lebih dulu mendahuluinya, jadi tidak ada otonomi. Sedangkan fokus kedua adalah mengenai intelligibility (tingkat terpahaminya suatu teks) dan meaning (makna) yang ditentukan oleh kontribusi teks-teks pendahulu terhadap berbagai macam efek signifikansi.

Proses pembacaan dan pemaknaan kemudian dapatlah dianggap sebagai hal yang sangat kompleks. Teks sendiri merupakan sekumpulan kode-kode yang nilai signifikansinya ditentukan oleh teks-teks pendahulunya sedangkan pembaca teks juga tidak bergulat dengan teks dalam keadaan bersih. Setiap pembaca sendiri dikatakan oleh Barthes sebagai sebuah entitas yang terbentuk dari pluralitas teks-teks lain; “I is not an innocent subject that is anterior to texts … The I that approaches the text is itself already a plurality of other texts” (dalam Culler, 1981: 102).

Menurut Barthes, proses pembacaan menjadi sebuah proses signifikasi yang susah diprediksi hasilnya. Oleh sebab itulah ia mendefinisikan sastra sebagai “a messsage of the signification of things and not their meaning (by ‘signification’ I refer to the process which produces the meaning and not this meaning itself)” (dalam Selden dkk., 1997: 155-156). Ini kemudian berarti bahwa pembacaan tidak bisa lepas dari fakta bahwa sebuah teks selalu “menjadi tempat (persimpangan jalan) di mana bahasa, yang merupakan gudang kutipan, ulangan gema, dan rujukan yang tak terbatas, saling bersimpangan” sebagaimana dapat dirujukkan di dalam salah satu esai pendeknya yang berjudul “The Death of the Author” (Selden, 1991: 77). Keadaan seperti ini membuat hasil segala pembacaan, pemaknaan, tidak akan pernah bisa imun terhadap pertanyaan yang mungkin timbul dari pembacaan berikutnya. Semua wacana, semua interpretasi kritis, adalah sama-sama fiktif dan tidak bisa disebut jauh dari Kebenaran (Selden, 1991: 77 dan Selden dkk., 1997: 156).

Pemikiran Kristeva mengenai intertekstualitas dapat dijabarkan sebagai berikut (adapatasi dari Junus, 1985: 87-88):

  1. kehadiran suatu teks di dalam teks yang lain,
  2. selalu adanya petunjuk yang menunjukkan hubungan antara suatu teks dengan teks-teks pendahulu,
  3. adanya fakta bahwa penulis suatu teks telah pernah membaca teks-teks pemengaruh sehingga nampak jejak,
  4. pembaca suatu teks tidak akan pernah bisa membaca teks secara pisah dengan teks-teks lainnya. Ketika ia membaca [dalam rangka memahami] suatu teks, ia membacanya berdampingan dengan teks-teks lain.

Dari apa yang yang telah dijabarkan di atas, maka model pembacaan seperti apakah yang dapat kita lakukan di dalam konteks intertekstualitas sebuah karya? Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa dirujukkan kepada apa yang disinggung oleh Hitchon dan Jura (1997: 156) yang melihat adanya intertekstualitas di dalam film Kill Bill: Vol. 1. Tokoh utama di dalam film tersebut, The Bride, memakai pakaian berwarna kuning serupa pakaian Bruce Lee di dalam film Game of Death. Di dalam Game of Death, Bruce Lee berperan sebagai Billy Lo, seorang jagoan kungfu yang tak terkalahkan. Contoh lainnya adalah pada karya Jonathan Gray (2006) yang berjudul Watching with The Simpsons. Di dalam bukunya, Gray menekankan arti penting intertekstualitas dengan genre. Ia melihat bahwa The Simpsons yang berbentuk genre parodi merujukkan kepada dua hal yang terkait dengan intertekstualitas. Hal yang pertama adalah penciptaan situasi yang absurd karena ditampilkan secara komikal sehingga cerminan terhadap dunia menjadi aneh. Hal yang kedua adalah dalam konteks critical intertextuality; suatu keadaan di mana referen-referen intertekstualitas digunakan justru untuk mengkritik keadaan masyarakat. Sedangkan contoh yang diberikan oleh Teeuw (1983: 66-72) mengenai telaah intertekstualitas sajak Chairil Anwar dan Amir Hamzah, hal yang  kemudian agak lebih rapi dan menjurus ke intertekstualitas dilakukan oleh Ratih (dalam Jabrohim ed., 1994: 175-188) di dalam analisisnya terhadap beberapa sajak Indonesia. Teeuw dan Ratih dalam analisis intertekstualitas menggunakan paradigma Michael Riffaterre.

Riffaterre mengemukakan paradigma pembacaan sajak yang melibatkan dua tahap pembacaan (Riffaterre, 1978: 4-6). Tahap pertama pembacaan sajak adalah tahap heuristic reading. Heuristic reading adalah tahap pembacaan yang menekankan kebutuhan seorang pembaca akan kompetensi linguistik, sebab sajak tidak mengikuti tata bahasa baku, dan kompetensi kesusastraan (tidak dalam khazanah buku-buku sastra saja, pen.), sebab sajak melibatkan teks-teks lain, semesta tanda, sehingga akan dapat dimunculkannya model hypogramamatis. Sedangkan tahap kedua pembacaan adalah tahap hermeneutic reading atau dia juga memakai istilah retroactive reading. Pada tahapan ini seorang pembaca merangkai semesta tanda di dalam satu konteks keutuhan sajak. Tanda yang tidak relevan bakal untuk sementara tidak dipakai karena pada proses baca ulang kesekian kalinya bisa jadi referen yang dikesampingkan bakal dipakai dalam mewujudkan signifikansi sajak. Dan Riffaterre-lah yang menggunakan istilah hypogram, sistem tanda-tanda yang ada pada teks-teks sebelumnya, untuk mengaitkan produksi tanda yang terjadi pada sebuah sajak (Riffaterre, 1978: 23) sebagaimana dioperasionalisasikan oleh Teeuw dan Ratih. Model analisis serupa juga diberikan oleh Zulfahnur dan Sayuti Kurnia (1996: 9-12) di dalam buku Sastra Bandingan. Mereka membandingkan keterkaitan dan pengaruh sajak Amir Hamzah, Berdiri Aku, terhadap sajak Chairil Anwar, Senja di Pelabuhan Kecil. Kedua sajak menurut mereka memiliki keterkaitan di dalam aspek “tema + setting”: elang, udara, dan suasana pantai. Di dalam simpul analisis, mereka menyatakan bahwa keterkaitan di antara kedua sajak justru terletak pada kontras atau kontradiksi di antara kedua sajak. Zulfahnur dan Sayuti Kurnia menemukan bahwa sajak Amir Hamzah memberikan nuansa kesempurnaan dunia menurut si “aku” sedangkan sajak Chairil Anwar menyajikan nuansa kemuraman, kebekuan, dan sepinya dunia bagi si “aku”.

Sebagaimana telah disinggung di atas lewat analisis Zulfahnur dan Sayuti Kurnia, pembicaraan mengenai pendekatan intertekstualitas juga terjadi ketika analisis sastra menyinggung masalah “sastra bandingan” atau comparative literature. Di dalam analisis sastra bandingan menurut Robert J. Clement (dalam Reis, 2008: 4) ada 5 hal yang menjadi kajian pokok, yaitu:

  1. themes/myths
  2. types/forms
  3. movements/periods
  4. inter-relations between literature and other arts
  5. critical theoretical and practical confluences in the comparative approach to literature

Berdasarkan acuan tersebut dapatlah dikatakan bahwa analisis sastra bandingan adalah kegiatan telaah produk literature [dalam perbincangan tulisan ini berarti kita baca sebagai hanya sastra dan seni meskipun di dalam pengertian awalnya adalah literature  sebagai segala bentuk tulisan] yang saling berhubungan dalam konteks aspek tema/mitos; jenis/bentuk/teknik tulis; gerakan/trend; keterkaitan antar-karya sastra dengan karya seni yang lain; dan keterkaitan teori dan praktik kritis di dalam perbandingan berdasarkan pendekatan terhadap karya sastra.

Clement, Oscar J. Campbell (dalam Boldor, 2003: 15) mengatakan hal senada tentang analisis sastra bandingan. Ia secara definitif mengatakan bahwa sastra bandingan adalah sebagai berikut:

Comparative literature … endeavors, in the first place, to discover general laws which transcend anyone literature, such as the development of types and forms under the progressive relationships of different literatures. In the second place, it seeks to reveal relations of affinity within two or more literatures. Finally, through the discovery of similarities and differences by means of comparison, it endeavors to explain the inception and growth of individual works. That is, like all scientific studies of literature, our methods are primarily investigations of the processes by which a work has come into being and appraisals of the forces which produced this result. In other words, the methods of comparative literature do not seek to produce or enhance aesthetic delight, but rather to create new models of understanding.

Kerja sastra bandingan juga bisa dikatakan sebagai sebuah “literary activity involved in a complex network of cultural relationships” (Koelb dan Noakes (ed.) dalam Reis, 2008: 4) yang melihat bahwa sebuah karya sastra mesti dilihat dalam kompleksitas jejaring budaya yang menjadi latar kelahirannya.

DAFTAR PUSTAKA

Boldor, Alexandru. 2003. Perspectives on Comparative Literature, a thesis. Cluj: Babes-Bolyai University.

Culler, Jonathan. 1981. The Pursuit of Signs; Semiotics, Literature, Deconstruction. New York: Cornell University Press.

Gray, Jonathan. 2006. Watching with The Simpsons: Television, Parody, and Intertextuality. New York: Routledge.

Hitchon, Jacqueline dan Jerzy O. Jura. 1997. “Allegorically Speaking: Intertextuality of The Post Modern Culture and Its Impact on Print and Television Advertising” dalam Jurnal Communication Studies, Volume 48 Issue 2, hlm. 142 – 158.

Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.

Ratih, Rina. 1994. “Pendekatan Intertekstual dalam Penelitian Sastra” dalam Teori Penelitian Sastra Jabrohim ed. Yogyakarta: Masyarakat Poetika Indonesia, IKIP Muhammadiyah Yogyakarta.

Reis, José Eduardo. 2008. “Comparative Literature: A Discipline Under Construction” sebuah makalah disajikan dalam VI International Congress of the Associação Portuguesa de Literatura Comparada di Universidade do Minho, Braga, 6-8 November 2008.

Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.

Selden, Raman. 1991. Panduan Pembaca Teori Sastra Masa Kini terjemahan Rachmat Djoko Pradopo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Selden, Raman; Peter Widdowson; dan Peter Brooker. 1997. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Hertfordshire: Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf.

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra; Kumpulan Karangan. Jakarta: PT Gramedia.

Zulfahnur dan Sayuti Kurnia. 1996. Sastra Bandingan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III Tahun 1996/1997.

Creative Commons License
Sastra dan Intertekstualitas by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.