Ada Apa di Balik Jubah dan Jenggot Itu

The definition of love is elusive, which is why we write about it endlessly – Sydney Offit, February 2016, Humans of New York

Hidup bersama kenangan mereka yang sudah meninggal dapat membuat kita teringat tafsiran Umar Junus terhadap sajak Sitor Situmorang yang berjudul “Malam Lebaran.” Di dalam tafsiran Umar Junus, sajak “Malam Lebaran” mengingatkannya pada kesenangan di malam perayaan Idul Fitri yang dia tarik dari kata “Bulan” dari sajak itu yang dibersamai dengan semacam duka terhadap mereka yang sudah meninggal dan tak bisa bersama berlebaran. Ingatan kepada yang sudah meninggal diperoleh Amir Junus dari kata-kata berikutnya dalam sajak itu: “di atas kuburan.”

Kenangan yang kembali muncul pada saat-saat tertentu akan orang yang kita cintai dan atau kita kenal adalah sesuatu yang galib, umum, lazim, wajar, kata lain normal. Namun kadang kala, karena cinta yang dalam, kenangan itu tak hanya muncul di saat-saat tertentu saja. Kenangan terhadap seseorang bisa muncul seakan-akan orang yang dirindu masih berada bersama dan belum meninggal. Bahkan bau tubuh yang khas darinya masih ada terasa. Karena cinta yang dalamlah yang begitu itu bisa terjadi.

“All Kinds of Everything” yang dilantunkan oleh Dana dan menang pada kontes Eurovision di tahun 1970 dan bekas kepopulerannya di tahun 1990 terlihat di Asia lewat gim NES tanpa lisensi Nintendo “Magic Jewelry” adalah contoh dendang sentimentil yang menceritakan bagaimana seseorang yang sangat dicintai bisa membayang-bayang pada setiap hal yang ditemui dalam hidup. Begitu dalamnya cinta tersebut sehingga bayang kekasih bisa muncul zonder  hitung waktu dan tempat. Bayangan ini tak perlu muncul pada “tempat-tempat yang pernah diluangkan bersama sang kekasih” sebagaimana lazimnya kumbara kenangan orang tercinta namun ia bisa muncul bahkan pada “tempat-tempat baru” dan juga “hal-hal baru.”

Cinta yang dalam kepada manusia “asing”[1] lain seperti itu —pasangan kita, istri kita, kekasih kita— mungkin hanyalah dan sepantasnyalah bisa dikalahkan oleh kecintaan kepada penghulu semua utusan: Muhammad saw.[2][3][4]Pada bagian ini, hadist yang menceritakan bagaimana salah satu sahabat Rasulullah, Umar r.a.,[5]dikabarkan belum lengkap di dalam berislam ketika belum menempatkan Rasulullah bahkan di atas kecintaannya pada diri sendiri.[6]Dan tentu kita juga tahu tiga buah hadist yang membuat kita menjadi kian termotivasi untuk lebih mencintai Nabi: “engkau akan bersama yang engkau cintai,”[7]“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia”[8] dan hadist salah satu sebab dari tiga perkara memperoleh manisnya iman.[9]

Kalau sudah masuk ke dalam cinta yang begitu dalam, apalagi terhadap seseorang yang diteladani dan kata-katanya menjadi semangat menjalani dan mengarungi hidup padahal beliau hidup di masa yang jauh dari masa ia tinggal maka kita bisa paham bagaimana trenyuhnya dendang “Ya Rasulullah” oleh Raihan atau Bimbo dengan “Rindu Rasul.” Ada cinta dan kerinduan yang dalam di sana meski sulit untuk bertatap muka. Tahu bahwa Rasulullah sudah meninggal berabad-abad yang lalu. Yang tertinggal hanyalah jejak-jejak ajaran dan kehidupan beliau lewat Quran dan Hadist[10][11] serta keterangan-keterangan hikmah atas Quran dan Hadist dari sahabat-sahabat beliau dan ulama-ulama yang jaraknya tidak terlalu jauh kepada beliau. Dan dari situlah pelestarian semangat dan petuah-petuah beliau mempunyai pegangan.

Berkenaan dengan pelestarian semangat dan petuah-petuah seseorang yang sangat dicintai dan dirindukan meski sudah meninggal, tidak ada batasan yang jelas bagaimana seseorang hendak melakukannya. Dalam kisah seseorang yang mencintai Nabi sehingga butuh untuk melestarikan semangat dan petuah beliau, justru praktik ejawantah yang letterlijk dari ucapan-ucapan beliau dan catatan mengenai kehidupan beliau memiliki koridor sedangkan ejawantah yang bukan letterlijk kebanyakan baru bisa longgar ketika dipandu hikmah dari para sahabat dan atau ulama-ulama awal.

Karena cinta yang dalamlah hingga ada ulama seperti Zakaria bin ‘Adi bin Shalt bin Bistam, ketika beliau ditanya, “Alangkah besarnya semangatmu untuk (mempelajari dan mengamalkan) hadits (sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), (apa sebabnya?)”. Beliau menjawab, “Apakah aku tidak ingin (pada hari kiamat nanti) masuk ke dalam iring-iringan (rombongan) keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”[12]Karena cinta pulalah bahkan imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri dalam ucapannya yang terkenal pernah berkata, “Kalau kamu mampu untuk tidak menggaruk kepalamu kecuali dengan (mencontoh) sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka lakukanlah!”[13] Semangat yang seperti itu di dalam rangka “beragama mengikuti teladan” dan “rasa cinta kepada teladan.” Jika bukan karena cinta yang begitu dalam, tidakkah hal seperti “garuk kepala seperti rasul” menurut akal menjadi sesuatu yang jika dihitung-hitung adalah sesuatu yang berlebihan? Tapi kita tahu bahwa agama dan cinta, keduanya tidak pernah pantas ditakar dengan melulu akal bukan?[14]

Dus, kita bisa saja ikut tertawa dan mencemooh sebagaimana dilakukan oleh Sumanto Al Qurtuby ketika ia menyenggol mereka yang menyukai —dalam kadar yang sangat— berpakaian jubah dan memelihara jenggot. Atau, kita bukan masuk dari bagian penertawa dan pencemooh dan memilih mendudukkan sesuatu dengan lebih santun dan tidak “merasa lebih berpikiran maju atau kompatibel dengan kehidupan modern” sebagaimana juga tidak dirasa pas berkoar-koar “lebih nyunnah” dengan memakai jubah dan berjenggot kecuali dengan rujukan dalil yang jelas dan menghindari sok dalam menetapinya bukan?[15]

Mungkin kalau hendak bicara mengenai modern tidak modern, maju dengan terbelakang, dalam konteks berpakaian dan memilih gaya hidup yang merujuk pada tradisi tertentu ada baiknya untuk berkaca kepada blunder David Cameron di Inggris.

David Cameron yang “nampaknya terobsesi” hendak mengurangi radikalisme dan gelagatnya menjurus kepada muslimah yang memegang nilai-nilai tradisional Islam —identik menyasar kepada muslimah yang berjilbab[16]— sebagai perlu untuk berintegrasi dengan masyarakat Inggris yang multikultural. Ada semacam asumsi yang dimiliki Cameron, entah darimana ia mendapatkannya, bahwa muslimah kurang bisa berbaur dengan nuansa keberagaman Inggris dan rawan menghasilkan keturunan yang terdidik menjadi radikal. Dus, Cameron menyarankan muslimah untuk belajar bahasa Inggris dan ikut program yang membuat mereka bisa berbaur dengan kehidupan di Inggris.[17] Ulah David Cameron yang nyinyir main pukul serampangan berlebihan kepada muslimah dengan istilah “traditionally submissive” ini dihujat habis-habisan lewat media sosial oleh muslimah-muslimah Inggris yang berjilbab, berbaur dengan elegan di dalam masyarakat Inggris, berkontribusi terhadap masyarakat, dan berprestasi keduniaan.[18]

Kembali kepada duduk perkara jubah. Bicara jubah maka ada tulisan menarik dari Muhammad Abduh Tuasikal pengasuh situs dakwah rumaysho.com yang merujuk kepada tulisan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin mengenai gamis (sejenis jubah) bagi muslim. Adakah ia wajib? Adakah ia anjuran ataukah ada dalil tentangnya? Dan seperti biasa, karena Muhammad Abduh Tuasikal adalah seorang Ustadz, maka ia merujuk kepada dalil yang bisa dirujuk mengenai gamis. Terdapatlah sebuah hadist hasan dari Ummu Salamah r.a.[19]yang mengabarkan bahwa Nabi sangat menyukai baju gamis (semacam jubah).[20]Hadist ini tidak mengabarkan adanya perintah buat muslim untuk memakai baju gamis kecuali bahwa Nabi menyukai baju gamis. Dari situlah kita bisa temui bunyi penjelasan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang merujuk kepada pendapat Syaikh Utsaimin bahwa memakai baju gamis bukanlah sebuah perintah wajib model berpakaian sebab para sahabat tidak selalu memakai gamis. Bahkan berpakaian dengan cara yang “normal” penting menutup aurat[21] menurut tradisi suatu wilayah adalah suatu hal yang nampaknya disarankan di dalam tulisan itu agar tidak menjadi mode syuhror (berusaha tampil beda agar tampak dicap nyleneh).

Sebuah sindiran sangat layak dialamatkan kepada Sumanto al Qurtuby, seorang antropolog dan mantan sekjen sebuah ormas Islam Indonesia wilayah Amerika Serikat dan Kanada itu. Jikasanya bergamis (jubah) merupakan cara berpakaian yang tidak dianggap sebagai nyleneh di dalam suatu masyarakat sehingga bisa menimbulkan permusuhan maka mengapatah didamprat atau memprovokasi orang-orang awam untuk mulai turut mencibir penyuka gamis (jubah) seakan pemakai gamis (jubah) adalah mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan modus berbusana wilayahnya? Atau malah, memberikan perspektif yang kurang arif mengenai penyuka gamis (jubah) dan bukan malah memberikan kearifan yang menyejukkan? Bukankah jauh sebelum lontarannya lewat status di sebuah media sosial, gamis (jubah) adalah sesuatu yang sejatinya normal dan galib dipakai oleh mereka yang berangkat ke masjid? Jikalau poin kritikannya adalah mengenai mereka yang sok “lebih nyunnah,” mengapakah ia tidak melihat dari angle yang lain dari fenomena itu? Karena cinta yang sangat pada Nabi, idola, uswah mereka, misalnya.

Carlo Riley sangat mencintai Michael Jackson hingga merupakan diri mirip idolanya (credit pics: almostmj.com/)

Carlo Riley sangat mencintai Michael Jackson hingga merupakan diri mirip idolanya (credit pics: almostmj.com/)

Lalu bagaimana dengan jenggot? Mahmud Suyuti, seorang Dosen Hadis dan Mantan Kepala Laboratorium Hadis UIM Makassar, mempunyai pendapat bahwa “sangat naif bila jenggot dijadikan sebagai ukuran sunnah, karena akan terlihat bahwa yang menjalankan Islam dengan kaffah hanyalah mereka yang berjenggot sementara yang lain pengingkar sunnah” dan lalu ditambah dengan pembandingan yang ganjil mengenai “perintah menikahi empat orang perempuan (QS. al-Nisa/4:3) [yang] bukan kewajiban bagi semua kaum laki-laki sehingga perintah tersebut tidak bisa mengikat pada semua umat Islam” padahal bunyi utuh ayat yang disitirnya —dan bukan sesuatu yang bersumber dari hadist sebagai bandingan isu “ikut sunnah”— tidak seperti itu dan tidak lazim terdapat pendapat ulama —kecuali mereka yang awam dan atau bercanda— untuk berpoligami sebagai bagian dari mengikuti sunah Rasul.[22] Pendapat Mahmud Suyuti nampak sangat mirip dengan apa yang disuarakan oleh Sumanto al Qurtuby mengenai kenaifan menjadikan jenggot sebagai ukuran sunnah yang sama-sama berangkat dari sejarah di sekitar Nabi. Meskipun demikian, ada yang menggelisahkan dari tulisan Mahmud Suyuti mengenai jenggot.

Status Facebook Sumanto al Qurtuby

Status Facebook Sumanto al Qurtuby

Bagaimana bisa Mahmud Suyuti melepaskan diri dari hadist “sepuluh macam fitrah” yang berasal dari Aisyah r.a.?[23]Mengapakah muncul di dalam sepuluh fitrah itu bagian “memelihara jenggot”? Apakah kemudian ketika sepuluh fitrah tadi berdasar runut sejarah misalnya merupakan sebuah perintah dari Nabi agar memperbedakan diri dengan orang-orang di luar Islam kemudian kini semua orang yang bukan Islam mempraktikkan hal seperti itu kemudian perintah itu menjadi tidak relevan lagi dan bukan sunah lagi menurut perspektif Mahmud Suyuti?[24] Apakah misalnya dari sepuluh fitrah tadi ketika sudah dipraktikkan oleh sebagian orang pra-Nabi atau oleh orang-orang di luar Islam semasa hidup Nabi lantas menghilangkan status sunnah pemeliharaan jenggot sebagaimana diriwayatkan oleh Ibunda Aisyah r.a.?

Mahmud Suyuti di dalam tulisannya mendefinisikan hadist sebagai “perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi saw.” dan Mahmud Suyuti membedakannya dengan “ciri khas fisik Nabi.” Atau dengan kata lain, “ciri khas fisik Nabi” yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadist tidak disebut masuk dalam definisi hadist ala Mahmud Suyuti. Hal ini adalah sesuatu yang mengejutkan bagi seseorang yang punya latar belakang keilmuan hadist. Mungkin juga sebuah ironi ketika tulisan Mahmud Suyuti merupakan kritik pedas atas Ilham Kadir yang berargumen “memelihara jenggot adalah sunah [perbuatan] Nabi” sedangkan Mahmud Suyuti juga menyindir bahwa Ilham Kadir hanya berbekal latar belakang pendidikan ala guru SMP dan tidak berlatar belakang pendidikan keilmuan hadist. Atau mungkin ada salah ketik di sana? Maksudnya sunnah seolah-olah tindak memanjangkan jenggot adalah bukan termasuk di antaranya?

Well, bagaimana jika dalam pembicaraan ini angle-nya sedikit kita ubah. Tadi di awal kita sudah bicara mengenai cinta dan kerinduan. Orang yang mencintai —apalagi begitu dalamnya— tak kena jika ditelisik dengan timbangan akal. Saat cinta begitu dalam menghujam dan yang dicintai jauh dari rengkuhan maka kerinduan muncul menyergap; segala sesuatu akan mengingatkan pada sesuatu yang dicintai. Bagaimana kalau kita lebih asyik melihat pelestarian sunnah bukan hanya di dalam masalah jubah, jenggot, dan apa-apa saja yang bisa kita bayangkan untuk menghidupkan lagi “bersama dengan kekasih yang dicintai” semampunya? Dengan begitu, kita tidak akan mencemooh mereka yang begitu mencintai dan merindui dengan sekuat tenaga segala aspek dari kehidupan Nabi. Tentu mereka yang berlatar belakang kelimuan hadis akan tahu bahwa bagian poligami dan tahajud adalah salah dua dari banyak hal hal yang khusus menempel atas Nabi.

Mereka yang berusaha sekuat tenaga melestarikan segala aspek dari kehidupan Nabi haruslah kita apresiasi dan hormati. Kita tahu bahwa mereka ini sadar bahwa ada banyak bagian yang akan berbenturan dengan faktor “kekinian” mulai dari kemajuan teknologi, ketersediaan hal penyokong pelestarian gaya hidup semasa Nabi, bahkan orang-orang nyinyir. Dan kita yakin bahwa mereka yang berusaha melestarikan tradisi Nabi ini adalah karena kecintaan kepada Nabi dan tidak akan semena-mena mengkaji mana yang perintah, pelarangan, persetujuan, pendiaman, teladan di dalam konteks sunnah dan dengan hati yang gembira dan penuh ikhlas.

Sebab mereka tahu bahwa gamis (semacam jubah) mereka mengingatkan mereka akan cara berpakaiannya Nabi. Sebab jenggot[25] yang mereka biarkan tumbuh mengingatkan nasehat yang diberikan oleh Nabi zonder peduli sejarah pra-Nabi atau gaya masa kini. Sebab meskipun sehari-hari bisa meminum apapun yang halal jikalau memungkinkan mereguk minuman Al Hulwa Al Barid mereka teringat pada kekasih mereka.[26] Sebab jika sekiranya mereka ini berhasrat memiliki kuda atau sedang bermain dengan kudanya atau ingin belajar memanah, sejatinya mereka sedang beromansa mengenai tutur Nabi tentang kuda dan panah tanpa menafikan keberadaan dan menghindari kendaraan selain kuda dan senjata-senjata lainnya.[27]Sebab meskipun mereka tahu bahwa menggosok gigi dengan siwak tidak sepraktis menggunakan sikat dan odol, mereka rela untuk mencari siwak karena teringat akan Nabi kekasihnya yang dahulu memakai siwak untuk membersihkan mulutnya.[28] Sebab meski memakan makanan dengan tangan kiri tidak masuk di akal untuk dikatakan salah, mereka konsisten memakan makanan dengan tangan kanan dan kadang bersuka menjumputnya tanpa bersendok —tanpa anti dengan sendok— dan lalu menjilatnya sembari teringat bagaimana kekasihnya dulu melakukan hal serupa saat makan.[29] Sebab cintalah mereka begitu.

Tentu kita tidak boleh mengatakan bahwa mereka yang tidak menganggap bahwa romansa terhadap beberapa gaya hidup atau sebagian aspek kehidupan Nabi dan atau pelestarian perintah-anjuran yang diberikan oleh Nabi sebagai perlu dan relevan di masa kini sebagai orang-orang yang tidak mencintai Nabi. Bisa jadi mereka lebih mencintai Nabi. Bisa jadi mereka mempunyai amalan yang dalam koridor mengikuti sunnah Nabi yang tidak mereka sesumbarkan di hadapan publik sebagai bagian dari rasa cinta mereka terhadap Nabi. Sesuatu yang berbeda yang bukan lisan dan bukan zahir diunjukkan. Boleh jadi begitu.

Boleh jadi mereka ini serupa Bilal bin Rabah r.a. dengan kisah adzan yang tak kuasa dirampungkan.[30] Boleh jadi mereka justru sangat mencintai Rasulullah sehingga aktivitas napak tilas, romansa, menghidupkan nasehat dan kenangan akan laku hidup beliau bisa membuat mereka menangis dan badan limbung karena cinta yang dalam sekali pada kekasih yang sudah meninggal. Cinta yang dalam penaka kisah Bilal bin Rabbah r.a. sehingga seluruh kota Madinah tak elak pecah tangis dan rindu sebegitu rupa. Demikianlah segala hal yang mengingatkan pada Nabi justru potensial membuat mereka tersedu tersembab cinta singga terlalu melankolis, tak kuat hati, untuk kembali mengenangnya. Siapa tahu begitu.

Endnotes

[1] Yang tidak berkontakan secara fisik dan atau berjalur trah keluarga

[2] Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa disingkat dengan saw. di dalam bahasa Indonesia sebagaimana di dalam bahasa Inggris kerap digunakan pbuh (peace be upon him). Singkatan ini, merujuk kepada pendapat Syaikh Al Albani dan Syaikh As-Sakhoowi sebagaimana dituturkan oleh Ustadz Firanda, tidaklah mengapa sebagaimana juga misalnya penyingkatan salam menjadi “ass wr wb” Beliau, Ustadz Firanda di dalam melihat permasalahan penyingkatan salam menjadi “ass wr wb” menidakmengapakan dan berlepas dari kontroversi “ass” sebagai “pantat” di dalam bahasa Inggris karena singkatan “ass wr wb” merupakan singkatan salam yang dipakai di dalam lingkungan bahasa tulis singkatan bahasa Indonesia dan bukan bahasa Inggris. Tambahan pula, singkatan “ass wr wb” tidak dibaca melainkan sebagai salam lengkap sebagaimana saw. juga dibaca di dalam lingkungan tulis bahasa Indonesia sebagai Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan saw atau “melihat [dalam bentuk lampau]” di dalam bahasa Inggris. Ustadz Firanda juga menyebutkan poin mengenai bagaimana Nabi tidak ditulis oleh sebagian ahli hadist lengkap dengan sholawat atasnya di dalam ragam tulisan meskipun ketika nama beliau disebut maka sholawat diucapkan kepada beliau. Jika sholawat atas beliau tidak ditampilkan di dalam ragam tulis oleh sebagian ahli hadist lalu mengapakah singkatan sholawat atas beliau yang dituliskan sebagai pengingat untuk bersholawat justru dikritik pedas padahal justru —meskipun dalam bentuk singkatan— digunakan sebagai penanda kepada pembaca untuk bersholawat? Tentu saja, Ustadz Firanda juga memberi keterangan bahwa kecenderungan beliau untuk mengikuti kepada pendapat Syaikh Al Albani dan Syaikh As-Sukhoowi di dalam perkara ini meski berbeda dengan mayoritas ulama memiliki argumen yang kuat.

[3] Bersholawat atas Nabi saw. ketika nama beliau saw. disebut adalah sesuatu yang membuat seorang muslim lepas dari gelar “celaka” atau “bakhil.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah orang yang ketika namaku disebut, dia tidak bershalawat untukku.” (HR. Ahmad 7451, Turmudzi 3545, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dari Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bakhil adalah orang yang ketika namaku disebut, dia tidak bershalawat untukku.” (HR. Ahmad 1736 dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)

[4] Untuk seterusnya, penulisan nama dan panggilan kepada beliau saw., tanpa ditulis di tulisan ini, disebutkan sholawat atas beliau saw.

[5] Radiallahu ‘anhu, lihat endnote 2 dan 4.

[6] Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)

[7] Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Rasulullah pun shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385])

[8] Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[9] Dari Anas –radhiyallahu ’anhu- , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai saudaranya, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[10] “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al Ahzaab: 21)

[11] “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun” (HR Ibnu Majah no. 209, pada sanadnya ada kelemahan, tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, oleh karena itu syaikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab “Shahih sunan Ibnu Majah” no. 173).

[12] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/74)

[13] Dinukil oleh imam al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi” (1/216).

[14] Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

[15] Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

[16] Ciri “ketradisionalan” muslimah di dalam pandangan masyarakat Barat —atau media massa Barat— adalah ditandai paling mudah lewat narasi mengenai cara berpakaian yang menurut standar Barat dianggap sebagai segregasi yang opresif terhadap peran wanita di ranah publik. Di dalam perang narasi, tradisional selalu diidentikkan dengan keterbelakangan dan antikemajuan sedangkan yang distempel sebagai modern diidentikkan dengan kemajuan.

Di dalam kajian posmodernisme, identifikasi seperti itu merupakan hal yang kabur. Tidak ada batasan yang jelas antara tradisional dengan modern ketika berkaitan dengan budaya dan gaya hidup. Semua saling mempengaruhi dan bisa direproduksi atau dipintal campur sehingga menjadi sesuatu yang baru dan atau modern.

Bahwa hijab bagi muslimah dianggap sebagai antikemajuan (non progresif) dan secara historis melekat pada kultur di sekitaran semenanjung Arabia dan Persia di masa lalu serta representasi peminggiran wanita dapat dilihat sebagaimana sinkron disuarakan oleh Yasmin Alibhai-Brown lewat sebuah opini di The Guardian dan sebuah tulisan opini oleh Asra Q. Nomani dan Hala Arafa di The Washington Post. Kedua tulisan tersebut menunjukkan bagaimana gembor gempor narasi mengenai berjilbab sebagai pilihan tradisional di dalam berislam memang terjadi di dalam konteks kampanye gaya beragama yang “modern dan membebaskan” yang hendak dibenturkan dengan penstigmaan beragama yang “tradisional dan mengekang.”Tentu saja, ketiga penulis tadi (Yasmin Alibhai-Brown, Asra Q. Nomani, Hala Arafa), perlu ditanyai bagaimana mereka bermain-main dengan tafsir dan sejarah hijab sebagaimana disindir oleh Umm Reem (Saba Syed) lewat artikel di MuslimMatters dan juga bagaimana secara ciamik seorang aktivis Islam yang tinggal di Washington DC, Hena Zuberi, menjelaskan bagaimana tradisi hijab di dalam Islam adalah sesuatu yang memiliki fondasi di dalam tradisi Islam dan merujuk kepada ulama-ulama yang terdahulu di dalam berislam sehingga putar lidah pelintir kata dari penyanjung gaya beragama yang modern dan membebaskan, disuruh “diam” agar muslimah yang berjilbab bebas mempraktikkan apa yang mereka yakini dan lepas dari intimidasi mereka — pengusung kampanye gaya beragama yang “modern dan membebaskan”— justru telah munculkan.

[17] Laura Hughes. 17 Januari 2016. “David Cameron: More Muslim women should ‘learn English’ to help tackle extremism”. The Telegraph.

[18] Lihat misalnya:

Sam Haysom. 26 Januari 2016. “British Muslim women hit back at David Cameron by tweeting their awesome achievements”. Mashable.

Emma Wilson. 25 Januari 2016. “Traditionally submissive women say who us?” BBC Trending – BBC Blog.

[19] radhiyallahu ‘anha

[20] Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762 dan Abu Daud no. 4025. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

[21] Banyak orang di luar Islam menganggap bahwa kode berpakaian menutup aurat hanya berlaku untuk muslimah saja padahal untuk laki-laki juga ada kode untuk berpakaian.

[22] Mahmud Suyuti. 29 Agustus 2014. “Jenggot Bukan Sunnah Rasul”. Tribun Timur Makassar.

[23] Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” (HR. Muslim no. 627)

[24] Perhatikan bahwa judul artikel Mahmud Suyuti “[Memelihara? Memiliki?] Jenggot bukan Sunah Rasul” dan isi dari artikel tersebut adalah judul yang tegas menafikan tiada kaitannya perjenggotan dengan tradisi yang dibangun lewat ucapan Rasul kecuali hanya berlaku kepada “sebagian muslim di sebagian wilayah” saat itu saja.

[25] Isu bonus di dalam perkara jenggot: Memelihara jenggot ditimbang dari kacamata medis bukanlah sesuatu yang buruk. Bahkan pria yang memelihara jenggot justru memiliki keuntungan secara medis karena memiliki kondisi yang mendukung bagi perkembangan mikroba yang membunuh bakteri tertentu yang merugikan (cf. Kate Ng. 21 Januari 2016. “Beards may be more hygienic and bacteria-resistant than shaven skin, study finds.”. Independent).

Bahwa konsep kemodernan imaji laki-laki adalah sebagai laki-laki yang mencukur jenggotnya sedangkan laki-laki yang kuno adalah mereka yang memelihara jenggotnya adalah sesuatu yang kabur (lihat Endnote no. 16) kecuali karena ada diseminasi yang tak kenal henti lewat tentakel gempuran terhadap otak mengenai “laki-laki” yang modern (dan kerap juga dikaitkan macho, sporty, sukses, diinginkan oleh banyak wanita) lewat iklan produk-produk alat cukur. Begitu juga bisa kita lihat di dalam konsep berpakaian dan banyak hal lainnya.

Tulisan yang bagus mengenai jenggot oleh Mohammad Zahid pendiri inkoffaith.com bisa disimak lewat buletin daring Al Jumuah dengan judul “The Big Bad Beard.”

[26] “Sesungguhnya minuman yang paling disukai oleh Rasulullah SAW adalah Al Hulwa Al Barid.” (H.R. Tirmidzi)

[27] Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Lahwun (yang bermanfaat) itu ada tiga: engkau menjinakkan kudamu, engkau menembak panahmu, engkau bermain-main dengan keluargamu” (HR. Ishaq bin Ibrahim Al Qurrab [wafat 429H] dalam Fadhail Ar Ramyi no.13 dari sahabat Abud Darda’, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 5498 )

[28] Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau aku tidak memberatkan atas umatku maka aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat dengan wudhu dan setiap kali wudhu.” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 200)

[29] Dari ‘Umar bin Abi Salamah radhiallahu anhu dia berkata: Dulu aku adalah anak kecil yang berada di bawah pengasuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika makan, tanganku berpindah-pindah kesana kemari di atas piring. Maka beliau bersabda kepadaku: “Wahai nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika dia minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya. Karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya pula.” (HR. Muslim no. 2020)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu di antara kalian makan, maka janganlah dia bersihkan tangannya sehingga dia jilati atau dia minta orang lain untuk menjilatinya.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031)

Dari Ka’ab bin Malik dari bapaknya beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.” (HR Muslim no. 2032 dan lainnya)

Mengapa tangan kanan dan dijilati? Lihat catatan kaki 14. Hal bagus lainnya dari kepatuhan atas teladan ini adalah bonus.

[30] Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.

(disalintempel dari: “Kisah Perjuangan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘Anhu,” Biografi Ahlul Hadits, yang bersumber dari Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya lewat kisahmuslim.com)

Pakaian

[revisi dan tambah referensi 6 Juni 2017]

Perkara berpakaian adalah perkara yang bisa jadi serius, atau malah sangat serius. Tengok misalnya adanya istilah dress code di dalam acara-acara tertentu. Tidak patuh pada ketetapan di dalam dress code maka resmi sudah cap di jidat: saltum (salah kostum). Salah kostum berarti siap-siap jadi olokan di pesta dan jadi tidak nyaman.

Pakaian juga merefleksikan bagaimana seseorang hendak dipandang oleh orang lain. Mungkin itulah sebab di dalam masyarakat Jawa ada ungkapan ajining raga saka busana.[1]Dan entah mengapa kemudian ada orang bilang bahwa yang penting adalah apa yang ada di dalam diri seseorang dan bukan apa yang dipakai seseorang atau sebaliknya.[2]Nasehat dari ungkapan Jawa “dihargai seseorang karena lidah, dipandang seseorang karena penampilan” justru lebih mengena karena bicara dua aspek: sikap dan penampilan. Nasehat ini mengena karena memang merefleksikan kenyataan dan bukan sesuatu yang klise.

Tambah bingung lagi ketika ada acara kontes ratu kecantikan dan endorser-nya berkoar-koar ambigu mengenai inner beauty. Jikasanya yang dinilai dari kontes kecantikan adalah dua macam kecantikan (kecantikan luar dan dalam) mengapa tidak disebut sebagai kontes inner beauties saja? Sebab tak mungkin jadi juara kontes kecantikan jika hanya punya kecantikan dalam dan tidak cantik saat memakai dalaman, vice versa. Lain soal  jika kontes kecantikan itu memang serupa lomba cerdas cermat di mana kontestan duduk dan mencet tombol  berebut giliran jawab tanpa dinilai cara duduk dan bentuk tubuhnya.

Gara-gara pakaian seseorang bisa kena cibiran, dampratan, pisuhan, dan juga kutukan. Pangeran Harry dari Inggris dulu pernah kena getah dari yang beginian. Ia kena jepret dalam sebuah pesta dengan berpakaian seragam Nazi. Harry bisa selamat dari limpah hujatan berkelanjutan dengan pernyataan permintaan publiknya –dikatakan tidak langsung namun lewat juru bicaranya– bahwa pakaian Nazi yang dipakainya adalah ‘poor choice’.

Namun Harry, lepas dari bagaimana berbagai media mengutuk kejadian itu, mungkin sadar bahwa paman buyutnya –Raja Edward VIII– adalah pengagum dan berkawan baik dengan Hitler. Harry bisa saja hendak beromansa dengan sejarah keluarga besarnya, sejarah keluarga yang tidak anti Hitler.

Atau mungkin Harry ambil posisi skeptik terhadap kisah holocaust. Kisah holocaust bilang bahwa pada Perang Dunia II seakan-akan pembantaian ‘hanya terhadap Yahudi saja’. Bisa jadi Harry punya keyakinan sebagaimana kaum Revisionisme Historis serupa Mark Weber, Ibrahim Alloush, dan Robert John yang menolak adanya kisah seperti itu. Mungkin saja.

Pakaian, bagi mereka yang suka kajian filsafat politik ala Antonio Gramsci, bisa menjadi bahan diskusi sambil isap kopi. Walaupun yang dibahas di dalam tulisan agak-agak seram dan bikin jidat tambah berkernyit namun lumayan karena bisa jadi bahan cerita yang mengasyikkan. Nancy J. Parezo contohnya. Meski tidak nguprek-uprek pandangan Gramsci tentang hegemoni namun apa yang ditulis Parezo sepakatan dengan pandangan tentang mereka yang terkalahkan.

Parezo[4] di dalam tulisannya tentang representasi busana suku Indian menuduh bahwa suatu eksebisi di Amerika Serikat dengan nama The Indian Fashion Show sebagai praktik politis orang kulit putih Amerika Serikat di dalam membentuk perspektif yang tidak tepat tentang pakaian native Indian.[3] Model-model yang dipakai di dalam The Indian Fashion Show, yang merupakan perempuan kulit putih banget, dan bagaimana desain pakaian yang ditampilkan adalah olok-olok kultural sebab mencerminkan simplifikasi dan komodifikasi suatu budaya untuk kepentingan komersil dari suku Indian yang telah terkalahkan.

Gugatan yang beginian dari Parezo memang sebelas dua belas dengan kritik Edward Said terhadap kaum Orientalis yang urakan menggambarkan aspek budaya (mis. pakaian) dan cara hidup orang-orang Timur yang berhasil mereka tundukkan.[4]

Pakaian juga bisa menjadi urusan bernilai jutaan dolar di dalam bahasan fashion industry. Model pakaian terus menerus diciptakan ulang untuk menambah pernik kebaruan haute couture. Ensiklopedia Daring Britannica bahkan sangat serius mendedah industri fashion ini sambil kasih definisi yang sangat komplit atas istilah fashion.[5]Akan tetapi Ensiklopedia Daring Britannica mungkin agak sedikit khilaf karena tidak memasukkan faktor agama atau keyakinan juga ikut ambil peran dalam hal fashion.

Bicara pakaian dan agama adalah hal yang sesuatu banget;[6] sesuatu yang super serius. Sebelum mengobrol tentang agama dan pakaian, sedikit melebar namun penting kiranya jika membahas kata ‘agama’ dulu di dalam bahasa Indonesia.

Kata ‘agama’ di dalam bahasa Indonesia berasal dari kata dari bahasa Sanskrit gama yang artinya jalan. Di dalam bahasa Jawa, gama berubah menjadi gaman lalu ageman lantas agama (yang dipegang, yang dipakai) sebelum muncul ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai agama. Pendapat lainnya menyatakan bahwa kata ‘agama’ berasal dari bahasa Arab iqoma yang mendapati dialek Arab Yaman sebab kebudayaan Nusantara dalam sejarah bersinggungan dengan pedagang Yaman, menjadi igoma sebagaimana qamis menjadi gamisIqoma artinya secara gampang adalah tegak, lurus, tidak melenceng. Di dalam kamus ini, agama kemudian jadi memiliki definisi yang komplit yang bunyinya bla, bla, dan bla.[7]

Agama, ambil gampang, secara umum bisa diartikan sebagai “panduan jalan” dan bisa juga “sesuatu yang dipakai.” Jadi agama sama dengan pakaian (karena membungkus sikap dan perilaku) namun pakaian bukanlah agama karena agama bukanlah sesuatu yang diperjualbelikan – kecuali beberapa orang yang menjualnya dengan harga yang murah.[8]Dus, di sini kentara bahwa agama juga merupakan pakaian yang dipakai seseorang di dalam menjalani kehidupan. Dan begitulah menjadi kurang pas kiranya jika bicara pakaian dan tetek bengeknya namun melupakan bahasan agama dan pakaian.

Di dalam beberapa agama, cara berpakaian punya aturan khusus bagi penganutnya. Di Yahudi ada yang namanya frumka, tichel, mitpachat, kittel dan tallit, di Sikh ada turban dan pagree, di Korea jaman Dinasti Joseon ada ‘jilbab’ jangot, di Hindu India ada ghunghat atau jhund, di Kekristenan ada juga yang namanya wimple, di Kristen Ortodoks ada pakaian yang namanya apostolnik dan skufia, di Katolik ada yang namanya vestments, di Katolik Spanyol ada mantilla, di Katolik Timur ada juga yang namanya klobuk sedangkan di dalam Islam misalnya ada jilbab dan kemudian juga ada istilah isbal. Jilbab berkaitan dengan pakaian perempuan sedangkan istilah isbal berhubungan dengan pakaian buat laki-laki.

Jilbab bagi perempuan Islam adalah wajib. Tapi bilang ‘wajib’, kini di jaman orang main gampang bikin pendapat, bukan hal yang enteng. Banyak ocehan-ocehan di sekitar istilah wajib ini. Dulu ada tokoh nasional yang memberikan pernyataan kontroversial bahwa ada [seorang?] mufasir yang berpendapat bahwa jilbab tidaklah wajib.[9] Tafsir Quran yang dirujuk tokoh nasional tersebut kemungkinan adalah tafsir kontemporer Quran karya Muhammad Asad –yang oleh Komisi Fatwa Arab Saudi sudah difatwakan[10] bahwa tafsirnya dipenuhi oleh beberapa hal karangan akalnya sendiri– dan lalu diikuti oleh Ibrahim B. Syed.[11]

Argumen yang dibangun sehingga pada kesimpulan untuk tidak mewajibkannya memang masuk akal. Namun masuk di akal bukan berarti bersesuaian dengan Quran dan Hadist  bukan? Sebagai bandingan, coba misalnya dibaca dulu bagaimana Lobna Mulla di dalam tulisannya “Hijab: Fard (Obligation) or Fiction?”[12] dalam situs Ustad Suhaib Webb.

Lobna Mulla dalam tulisannya itu menunjukkan dengan elegan bahwa ‘akal-akalan’ di dalam menafsirkan Quran bisa juga merembet kepada tidak ada kewajiban salat ‘lima waktu’. Logikanya jelas. Di dalam Quran tidak dijelaskan dengan gamblang tentang perkara wajib lima kalinya. Itu jika hendak memakai akal saja. Masalahnya adalah, di dalam Islam ada yang namanya teladan dan petunjuk Nabi saw. yang dihapal dan dipraktikkan oleh  para sahabat dalam bentuk Hadist. Inilah pendamping pemahaman atas apa yang termaktub di dalam Quran.

Perkara jilbab di Indonesia selain ulah tokoh nasional tadi, juga memunculkan self-promoter blogger bernama dr. Abimanyu, Sp.B.[13]Dokter Abi ini main-main ke blog banyak orang dan menyalin tempel sebagian tulisannya. Tulisan yang disalin-tempelkan sebagian ini mungkin berfungsi sebagai trailer atau teaser agar blog-nya dikunjungi. Nampaknya ada semacam hasrat dalam dirinya untuk jadi blog-angelist.

Yang unik dari dokter Abi adalah bagaimana ia bermain-main dengan pembandingan penafsiran tekstual dan kontekstual, sejarah tentang pakaian, pendapat Syaikh Al Albani tentang jilbab, dan kekhawatiran punahnya tradisi lokal (pakaian daerah) jika diterapkan jilbasisasi lewat sebuah tulisan dalam blog-nya. Well, memang sepintas menarik… dan masuk akal.

Namun ada yang perlu dicatat dan dikoreksi dari tulisan dokter Abi. Saat bicara tafsir skriptur Islam apalagi teks Qur’an, bicara analisis teks simplifikatif dengan hanya mengebiri metode hanya sebagai tafsir tekstual dan kontekstual saja adalah salah akal. Bicara teks Quran bukan melulu bicara ‘teksnya terbaca bagaimana’ atau ‘sebab turun ayat’ saja. Cara yang beginian ini jadi lucu.

Metode tafsir Quran bukanlah metode biblical criticism atau misalnya analisis struktural semantik teks dan analisis biblical ala hermeneutics dan textual historicism saja sebab ada teks di sana, ada sebab turun ayat, ada naskh ayat, ada hadist, ada mutsolah hadist, ada pendapat para sahabat, pendapat generasi sesudah sahabat, juga pandangan ulama-ulama salaf.[14]

Tambah lucunya lagi, dokter Abi menyindir bahwa perintah wajibnya jilbab adalah karena metode tekstualitas ulama yang memfatwakannya namun di bagian lain dari tulisannya ia membangun argumen mengenai penerapan tafsir kontekstual Syaikh Al Albani dengan Syaikh At Tuwaijiri yang keduanya dikenal dengan olok-olok dari jamaah tertentu sebagai ‘ulama-ulama tekstual.’ Apakah dokter Abi tidak tahu tentang ini ataukah ia hanya kebetulan melewatkan sesuatu di dalam pembangunan argumennya?

Tidak berhenti sampai di situ saja. Jika diteliti benar argumen yang dibangun oleh dr. Abimanyu, Sp.B. tentang ‘budaya’ berdasarkan tulisan Syaikh Al Albani tentang jilbab maka seolah-olah ada bagian yang rancu. Ada cherry picking dan misleading informasi di dalam tulisannya. Syaikh Al Albani berbeda pendapat tentang wajibnya cadar dengan Syaikh At Tuwaijiri oleh sebab beda menentukan derajat hadist yang dipakai dalam menghukumi cadar.[15]Jadi, Syaikh Al Albani berbeda pendapat mengenai ‘wajibnya cadar’ dan bukan dalam perkara ‘wajib jilbabnya.’

Kemudian bicara hal lain dari tulisan dokter Abi ini. Marilah bicara tentang argumen yang memunculkan ketakutan hilangnya pakaian daerah (tradisional) gara-gara jilbabisasi.

Sebenarnya masalah pakaian jika hendak bermain analisis tentang perubahan cara berpakaian berdasar sejarah, dr. Abi, Sp.B. ini hampir saja cetak score. Hampir…

Tapi begini ceritanya. Kita ambil contoh pakaian tradisional Jawa. Pakaian tradisional Jawa yang sekarang lazim dipakai adalah tidak murni totok Jawa. Kalau hendak murni Jawa ya mesthi pakaian laki-lakinya bakal bledhehan tanpa kancing.

Kancing tidak asli Jawa sebab orang Jawa tidak menemukan kancing. Batik model kemeja lengan pendek-pun adalah komodifikasi dari pertemuan antara kain yang sudah lazim dipakai sebagai bahan baju oleh kebudayaan kuno di Jazirah Persia dan Arab, kancing yang lebih dulu dikenal oleh bangsa Eropa dan menjadi bagian dari aksesoris tradisi berpakaian di sana, kemeja yang pasti bukan khas Jawa, dan motif Batik yang bisa dibilang dan diakui beraroma Jawa. Jadi campur mawur kan?

Kemudian dokter Abi ini, jika bener-bener dokter, maka seharusnya sadar bahwa seragam dokter yang berwarna putih sebagai dress code profesi dokter juga bukan khas Jawa. Darimana aturan dress code itu? Mengapa ia tidak memakai pakaian yang lazim dipakai oleh tabib atau penghusada asli tradisi Jawa? Lalu mengapa ia tidak mengkhawatiri juga bagaimana laki-laki Jawa sudah kelihatan nyaman juga untuk memakai kemeja ala Eropa di dalam acara-acara khusus dan bukan pakaian adat Jawa? Mengapa ia mengkritisi jilbabisasi namun melupakan hal lainnya di dalam gugatannya semisal mengenai adab berpakaian yang bergaya Barat?

Bisa tidak, untuk luwes menyikapi ini dengan menciptakan jilbab beraroma Jawa, misal jilbab dengan motif Batik? Atau semisal seragam dokter perempuan yang berwarna putih (karena ada dress code dari Barat) divariasi dengan jilbab putih? Kreatif kan? Pernahkah dokter Abi menengok bagaimana wanita-wanita Bima begitu elegan dan luwes menggunakan kain rimpu?

Rimpu kredit nusatenggaraindonesia.com

Argumen lain dari dokter Abi bahwa jilbab adalah pakaian gaya Persia Kuno atau misalnya terkait dengan padang pasirnya Arab juga tidak pas dijadikan acuan. Sebab jika ia benar-benar mempelajari skriptur Islam, mengapa ada aturan berpakaian yang diajarkan Rasulullah saw. kepada Asma’ binti Abu Bakar?[16]Ini berarti ada pengajaran mengenai bagaimana seorang yang beriman berpakaian dan sekaligus menunjukkan bahwa pakaian yang sudah lazim di jazirah Persia dan Arab saat itu (dalam konteks ini untuk wanita) adalah tidak persis sebagaimana hujah dokter Abi.

Lepas dari itu semua, beberapa kalimat argumentatif dokter Abi ini tampaknya sangat mirip pleg dengan pendapat Ibrahim B. Syed. Mungkin dokter Abi dapat ide untuk tulisan blog-angelist-nya dari sana.

Istilah lainnya yang terkait dengan pakaian di dalam Islam adalah isbal.  Namun sebelum bicara panjang lebar mengenainya, alangkah baiknya untuk refreshing dulu. Mari kita simak sebuah cerita dari kisah-kisah kontemplatif Zen yang judulnya “Ritual Cat.”[17]Saya sudah lama sekali menyimpan kisah ini di dalam blog saya karena saya yakin suatu saat bakal jadi sisipan yang menarik.

Kisahnya begini:

Syahdan, Guru Meditasi dan para muridnya hendak memulai meditasi malam. Kala itu, kucing yang sering berseliweran di biara bikin ribut sehingga mengganggu mulainya meditasi. Guru Meditasi lalu ambil kebijakan bahwa kucing tersebut harus diikat supaya meditasi bisa segera dimulai. Tahun berlalu kemudian ketika Guru Meditasi itu sudah meninggal, kucing yang berseliweran sudah biasa untuk diikat selama meditasi dilangsungkan. Ketika kucing tersebut akhirnya juga mati, maka rahib yang masih muda-muda mencari seekor kucing pengganti yang baru untuk diikat selama berlangsungnya meditasi. Berabad-abad kemudian, penghuni penerus kerahiban tersebut kemudian mulai menuliskan bahwa pengikatan seekor kucing adalah bagian dari syarat kekhusyukan meditasi.

Kemudian patut pula merenungi apa yang Ustad Taufiq Zubaidi sampaikan di dalam tulisan beliau dengan judul “Muhaddist Bagaikan Apotik, Fuqoha’-lah Dokternya.”[18]Ustad Taufiq Zubaidi lewat tulisan tersebut hendak menunjukkan bagaimana rumitnya membaca dan menafsirkan teks skriptur terutama yang berimplikasi praktik ritual dan aturan hukum.

Dan kisah Zen serta tulisan yang bagus sekali dari Ustad Taufiq Zubaidi tersebut ditambahkan juga dengan hadist dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu mengenai kisah dua orang yang bertayyamum namun menjadi berbeda pendapat mengenai keabsahan tayyamum serta sholat yang telah dilakukan karena kemudian didapati air. Kisah berbeda pendapat di dalam menafsirkan skriptur perintah tayyamum sebagai pengganti wudu ketika tidak didapati air tidak segampang itu diselesaikan oleh dua orang yang berbeda pendapat. Ada kehati-hatian pada dua orang tersebut sebab lalu keduanya meminta verifikasi justifikatif pada pemegang otoritas: Rasulullah saw.[19]

Lalu apa kaitan ketiga narasi tersebut dengan isbal?

Begini. Kisah Zen mengajari tentang ketaklidan atau ketundukan meski didasari skriptur tanpa mempelajarinya dengan dalam. Celakanya di dalam kisah Zen itu nampaknya rahib-rahib yang belakangan kesulitan menelusur asal praktik demikian karena hanya ada sumber yang tunggal dan itupun bukan berdasarkan penuturan  mereka yang hidup bersama dengan Guru Meditasi.

Tidak hanya itu. Jikalau narator kisah tersebut tidak bercerita mengenai adanya Guru Meditasi yang mendasari permulaan adanya praktik pengikatan kucing setiap meditasi dilangsungkan maka kita (sebagai penikmat cerita yang berbeda dengan rahib-rahib belakangan di dalam cerita itu) tidak bakal tahu bahwa praktik meditasi awalnya tidak terkait dengan pengikatan kucing kecuali karena Guru Meditasi mendapati kejadian yang memaksanya harus mengikat kucing tiap kali meditasi.

Belum lagi misalnya bagaimana memverifikasi otentisitas narator di dalam berdongeng kepada kita para pembaca. Adakah cara yang sahih untuk mengecek bahwa kisah selisih niatan ikat kucing dengan tindakan ikat kucing para rahib belakangan adalah benar-benar demikian. Bisakah ditelusur bahwa narator adalah memiliki ketersambungan periwayatan dari masih hidupnya Guru Meditasi hingga keterkinian praktik para rahib belakangan. Narator tidaklah mungkin omnipresent jikalau ia adalah manusia. Oleh sebab itulah jalur periwayatan bersambung juga menjadi sesuatu yang penting di dalam validasi sebuah skriptur (juga teks apapun).

Tulisan Ustad Taufiq Zubaidi mengajarkan sesuatu yang penting. Mengetahui dan menghapal sebuah perintah di dalam teks adalah penting namun juga penting untuk mengetahui bilakah sebuah perintah ditempatkan sebagaimana mestinya. Kalaupun hendak luwes mempraktikkan sebuah perintah haruslah didasari oleh pemahaman akan nash-nash lain yang mengikat penerapan sebuah perintah.

Kemudian kisah dua orang yang berwudlu tayyamum mengajari kita sesuatu yang penting. Keduanya mendapat apresiasi terhadap apa yang mereka pahami dari sebuah perintah yang jelas rujukannya (tuntunan Rasulullah saw.). Keduanya walaupun sedikit berbeda karena dasar kondisi darurat (tiada air) dan upaya menebusnya ketika sudah longgar (sudah tersedia air) namun tetap berpancangan kepada justifikasi Rasulullah saw. ketika mereka sudah berkesempatan meminta klarifikasi kepada beliau saw.

Baik Ustad Taufiq Zubaidi[20] maupun Ustad Muhammad Abduh Tuasikal[21] di dalam berbicara mengenai perintah penghindaran isbal menunjukkan rujukan mereka pada pembacaan yang kompleks atas semua skriptur yang ada dan atau yang terkait dengan perintah itu. Isbal adalah perintah di dalam Islam untuk menghindari kain dipakai laki-laki menjulur melebihi mata kaki. Pada keduanya, baik Ustad Taufiq maupun Ustad Tuasikal, bersikap hati-hati di dalam menentukan hasil akhir dari penetapan perkara isbal. Ustad Taufiq mengenai isbal sampai pada kesimpulan ‘tidak apa-apa’ sedangkan Ustad Tuasikal berpegang pada ‘wajib menghindari berisbal’ meskipun kemudian penetapan yang diberikan oleh Ustad Tuasikal menjadi terbaca oleh para pembaca sebagai sesuatu yang ‘tidak mengapa’ bersebab tambahan informasi –yang tidak beliau bantah– dari salah satu teman beliau mengenai ini.

Bicara mengenai pakaian bisa melebar kemana-mana apalagi jika pakaian tersebut terkait dengan identitas keimanan seseorang. Ada nilai yang lebih daripada hanya mengikuti industri fashion yang tak kenal henti berinovasi. Pada pakaian yang terikat dengan keimanan atau identitas keberagamaan maka rujukannya pastilah ada di skriptur.

Menarik-narik gaya berpakaian menurut skriptur ke dalam kajian sejarah dan budaya adalah menarik namun jangan lantas meninggalkan skriptur sebab pancang ajaran di dalam agama adalah skripturnya dan bukan budayanya. Jika kemudian meletakkan tafsir skriptur lebih berat kepada pandangan akan fenomena budaya maka bisa-bisa terjerumus kepada melihat agama sebagai seperangkat set perintah dan larangan yang merupakan produk budaya. Cara berpikir ini berbahaya karena menafikan urgensi revelasi samawi dari perintah dan larangan yang ada. Cara menafsirkan skriptur dengan menitikberatkan kepada konteks budaya juga malah bisa mengimplikasikan tidak kokohnya memandang bahwa revelasi dari langit adalah nyata dan ada.

Hal lain yang hendak di-share lewat tulisan ini adalah kerumitan penafsiran teks skriptur. Tidak semua orang bisa menafsirkan skriptur dengan baik. Bahkan seorang yang paham metodologi yang tepat di dalam menafsirkan skriptur dan berusaha keras menafsirkan skriptur bisa saja mendapati dirinya kemudian belum pas atau menimbulkan kesimpulan yang berbeda. Jika berbicara kisah kewajiban jilbab bagi wanita memang ada perbedaan pendapat tentang wajib atau tidaknya cadar sebagaimana mengenai boleh atau tidaknya isbal bagi laki-laki. Meskipun demikian semua pendapat tetap berpancang kepada skriptur dan menenun argumennya secara hati-hati. Layak misalnya merujuk pada keteduhan dari kalimat yang ditambahkan oleh salah satu pembaca tulisan Ustad Tuasikal: “semoga kita diberi kelapangan hati untuk menerima dan mengakui pandangan ulama [yang tahu metodologi yang benar di dalam menafsirkan skriptur] yang berbeda dengan [pandangan ulama yang kita ikuti] dalam hal [berpakaian] ini”.[22] Ada semangat yang santun di dalam kalimat itu.

Benar, masalah pakaian memang bisa menjadi perkara yang sangat serius sebagaimana kisah jilbab dan isbal. Saya kemudian jadi teringat kisah jilbab pada sebuah cerita yang saya peroleh dari seorang bule Australia berdarah Yahudi namun dibesarkan dalam tradisi Kristen pada sebuah sesi pertukaran bahasa di sebuah kampus di Australia. Ia bernama Sam Shlansky. Bule ini masih ingat bagaimana nenek dan ibunya selalu enggan keluar kecuali harus menutup kepala mereka dengan kain setiap hendak pergi ke gereja. Ada sesuatu yang tidak untuk dicibiri dari kisah itu, begitu kata si bule. Hal seperti itu, sebagaimana mereka pernah diajarkan, adalah tidak pantas jika kemudian tidak menelusuri acuan mana yang dipakai di dalam timbul keharusan menutup kepala dengan kain. Mungkin generasi nenek dan ibu dari bule Australia itu masih menjalankan ajaran yang diperintahkan di dalam Bible (1 Kor 11: 2-16) sebagaimana wanita Amish masih bertutup kain di kepalanya hingga kini lalu wanita Majelis Tuhan Rakyat Samoa yang di dalam kebaktian masih jamak memakai penutup kepala dalam bentuk topi putih dan juga bagaimana sebagian sekte Yahudi masih memakai tutup kepala hingga kini.

Swinging Grannies (1966), (c) Jiri Jiru

Jikalau kemudian penafsiran 1 Kor 11: 2-16 kemudian dijatuhkan kepada tradisi masa lalu dus skriptur tersebut dianggap tidak relevan lagi karena budaya sekarang terbiasa bagi wanita untuk pergi ke gereja tanpa penutup kepala maka penafsir demikian mirip dengan gaya tafsir Muhammad Asad. Hanya saja pada kasus seperti ini penafsiran skripturnya merujuk pada budaya ‘yang sekarang’ bukan pada ‘latar belakang budaya’. Jika demikian lantas apa fungsi revelasi atas skriptur jikalau manipulasi dengan akal melemparkannya?

Bahkan bila menyimak pendapat ekstrem milik dokter Abi mengenai latar belakang munculnya perintah tersebut sebagai dalil tidak relevannya perintah itu kini maka adakah otoritas pada dirinya yang menjustifikasi penghapusan perintahnya? Bagaimanakah ia begitu yakin bahwa perintah tersebut sudah dihapus saat terketahui ‘latar belakangnya’?

Devian namun masih relevan dari argumen dokter Abi, perkara pencarian alasan yang menghindari pemakaian basis skriptur mengenai ‘bebasnya tidak memakai jilbab’ sebagaimana digaungkan oleh para feminis liberal sekuler yang mengklaim bukti konteks budaya patriarki terlibat di dalam perintah itu juga terlihat kepayahan di dalam menjelaskan bagaimana industri fashion yang begitu gila justru malah menenggelamkan para wanita di dalam objektifikasi para laki-laki sedangkan jilbab malah membuat para wanita berani menunjukkan identitas keimanan dan berlepas diri dari jerat industri fashion [dan kosmetik] –tentu saja kecuali pada jilbab ‘modern’ dan jilbab ‘gaul’ (jilboobs)– sebagaimana beberapa poin mengenai ini sudah secara implisit disinggung oleh Chelsea Diffendal di dalam satu tulisannya[23] dan bagaimana hal ini konsisten disuarakan serta dipraktikkan oleh politikus Asmaa Abdol-Hamid, aktivis Asosiasi Arab-Amerika Linda Sarsour, dan ustadah Yasmin Mogahed.

Being a Muslim I had expected opposition, but to be accused of advocating gender apartheid took me by surprise. Wearing a headscarf does not mean that I’m oppressed or deprived. The values on which I live my life are Islamic and not Arab. It is important to make a distinction between religion and culture. In many respects, the Arab way of thinking discriminates against women; even though I am an Arab, I don’t make my choices on a cultural basis, but in the light of my religion. Otherwise I wouldn’t have got so far as I have today. My position as Chair of a forum consisting entirely of immigrant men can be challenging to many Arab men. (Asmaa Abdol-Hamid via kvinfo.dk)

As you can see, I wear hijab. It is a choice for me to wear and cover my hair for religious observation; and I consider myself to be a feminist and someone who supports the upholding of all rights, specifically of women. … I’m very proud of my religion, and my faith, and I’m very proud of the hijab that I wear. (Linda Sarsour)

I’m not here to be on display. And my body is not for public consumption. I will not be reduced to an object, or a pair of legs to sell shoes. I’m a soul, a mind, a servant of God. My worth is defined by the beauty of my soul, my heart, my moral character. So, I won’t worship your beauty standards, and I don’t submit to your fashion sense. My submission is to something higher.

With my veil I put my faith on display – rather than my beauty. My value as a human is defined by my relationship with God, not by my looks. I cover the irrelevant. And when you look at me, you don’t see a body. You view me only for what I am: a servant of my Creator (Yasmin Mogahed, “A Letter to the Culture that Raised Me”)

Benar, pakaian adalah perkara yang sangat serius. Setidaknya bagi saya dan mungkin bagi sebagian banyak orang. Ada industri dan ideologi bertarung di sana: pada sebuah ruang diskursus berpakaian; ideologi busana.

===========================

Endnotes

[1] Lengkapnya adalah ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana (dihargai seseorang sebab jaga lidahnya, dipandangnya seseorang sebab atur busananya). Di dalam ajaran Jawa, apa yang diucapkan seseorang melambangkan kewasisan dan kewaskitaan seseorang sedangkan apa yang dipakai seseorang melambangkan bagaimana seseorang memandang posisi dirinya di dalam masyarakat.

[2] It’s not what you’ve got on that matters, it’s what you’ve got in atau what it’s important it’s what you’ve got on and not what you’ve got in

[3] Nancy J. Parezo. 2007. “The Indian Fashion Show: Manipulating Representations of Native Attire in Museum Exhibits to Fight Stereotypes in 1942 and 1998”, American Indian Culture and Research Journal, Volume 31, Number 3 / 2007, hlm. 5-48.

[4] Edward Said. 1977. Orientalism. London: Penguin.

[5] “Fashion is a complex social phenomenon, involving sometimes conflicting motives, such as creating an individual identity and being part of a group, emulating fashion leaders and rebelling against conformity.”

“The fashion system involves all the factors that are involved in the entire process of fashion change. Some factors are intrinsic to fashion, which involves variation for the sake of novelty (e.g., when hemlines have been low for a while, they will rise).”

“The fashion designer is an important factor, but so also is the individual consumer who chooses, buys, and wears clothes, as well as the language and imagery that contribute to how consumers think about fashion.”

“Some factors are intrinsic to fashion, which involves variation for the sake of novelty (e.g., when hemlines have been low for a while, they will rise). Other factors are external (e.g., major historical events such as wars, revolutions, economic booms or busts, and the feminist movement). Individual trendsetters (e.g., Madonna and Diana, princess of Wales) also play a role, as do changes in lifestyle (e.g., new sports such as skateboarding) and music (e.g., rock and roll, hip-hop).”

(Fashion industry. 2014. Encyclopædia Britannica Online. Retrieved 09 September, 2014, from:

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/1706624/fashion-industry/296479/Media-and-marketing)

[6] “sesuatu banget” di sini adalah bukan “sesuatu banget ya!” ala salah satu bintang selfie (foto puja diri) yang juga seorangi penyanyi tenar di Indonesia.

[7] Agama adalah “sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kpd Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dng pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya” (Agama. 2008. KBBI Daring, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Diakses 9 September 2014, dari:

http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php)

[8] Di dalam bahasa Qur’ani, ada sindiran mengenai salah satu keburukan adalah menjual agama (akhirat) dengan harga yang murah (dunia).

[9] Sebenarnya perkataan tokoh nasional tersebut tentang jilbab adalah ‘mengambang’. Dia [kurang lebih] mengajukan referensi bahwa mainstream ulama [salafus salih] sudah terketahui mewajibkan jilbab sedangkan ada yang tidak mewajibkannya. Dia tidak mengatakan ulama yang tidak mewajibkannya itu siapa namun ada kemungkinan bahwa ia merujuk kepada tafsir Muhammad Asad.

[10] Fatwa No. 2190.

Lebih jauh lagi ketika berbicara metodologi penafsiran Quran maka tidak sesederhana ‘mengerti’ bahasa Arab saja. Memang Muhammad Asad memiliki kontribusi kepada penerjemahan Quran sehingga mudah dipahami oleh pembaca berbahasa Inggris namun masalahnya adalah, Asad, di dalam tafsirannya kadang mengedepankan akal dan melewatkan skriptur pendamping pemahaman kajian Quran. Untuk pemahaman mengenai isu ini silakan bandingkan dengan penerjemahan Al Quran oleh Ahmad Zaki Ahmad dalam tulisan lewat tautan ini:

http://attahawi.com/2009/06/29/what-is-the-best-english-translation-of-the-meanings-of-the-quran/

Juga kajian kritis atas terjemahan Quran karya Muhammad Asad yang dapat dibaca lewat tautan ini:

http://learnquran.gov.ae/default.asp?action=article&ID=84

[11] Professor di the University of Louisville, Kentucky. Tulisannya bisa dirujuk lewat link berikut:
http://www.irfi.org/articles/articles_1_50/women_in_islam.htm

Yang agak ganjil juga dari tulisan Ibrahim B. Syed adalah bagaimana ia mempertanyakan jilbab bukan hanya berdasar rujukan yang ia peroleh dari tafsir Quran berbahasa Inggris dari seorang muallaf Yahudi modern yang mendapat label ‘berbahaya’ karena banyak yang hanyak merujuk ‘nalar SAJA’ (lih. endnotes 10) namun juga kesilapannya dalam melihat adanya jejak kewajiban perintah ‘[head] hair covering’ kepada wanita yang beriman di dalam skriptur Biblikal (1 Kor 11: 2-16). Dan sebagai tambahan, Muhammad Asad selain menghasilkan tafsir yang sudah difatwakan sebagai banyak penyimpangan (lih. Endnotes 10) juga di dalam hidupnya adalah seorang petualang politik.

[12] Lobna Mulla. 15 Oktober 2012. “Hijab: Fard (Obligation) or Fiction?”. Web. Diakses 9 September 2014 dari:

http://www.suhaibwebb.com/islam-studies/quran/hijab-fard-obligation-or-fiction/

[13] Abimanyu. Maret 2014. “Tafsir Al Ahzab 59 dan An Nur 31: Jilbab Tidak Wajib“. Web. Diakses 9 September 2014 dari:

http://dokterabimanyu.blogspot.com.au/2014/03/tafsir-al-ahzab-59-dan-nur-31-jilbab.html

[14] Lihat misalnya bagaimana pelibatan banyak ilmu di dalam ‘salah satu runtut metode’ menafsirkan sebuah teks di dalam Islam sebagaimana dipaparkan secara singkat oleh Ustad Ribut Nur Huda berikut ini:

Ilmu memiliki dua kategori: 1. Ilmu sarana. Ilmu ini mencakup beberapa ilmu seperti ilmu bahasa, nahwu-sharaf, balaghah, sastra, ilmu akal semisal mantiq , dialektika, diskusi, bicara, dan ilmu yang mengabdi kepada teks seperti mustholah al hadist, ilmu rijal, ilal, ilmu2 qur’an dan ushul fiqh. 2. Ilmu maqoshid (tujuan) seperti fiqih, aqidah, tafsir dan hadist.

Dalam bahasa Abid al Jabiri, ilmu ada dua yaitu ilmu sebagai alat dan sebagai isi. Apabila ilmu sarana itu hilang maka hilang pula ilmu maqhosid tersebut. Jika mencukupkan diri dengan ilmu sarana maka ibarat membawa wadah yang kosong tak berisi. Sehingga antara ilmu alat dan isi itu harus kita gabungkan.

[15] Untuk salah satu pandangan mengenai kewajiban jilbab tanpa cadar yang dibahas oleh Ustad M. Shiddiq al Jawi silakan turut tautan berikut ini:

http://myjilbab.wordpress.com/about/

atau dapat juga merujuk misalnya pada hasil Muktamar VIII Nahdlatul Ulama jika hendak memegang wajibnya cadar:

Pertanyaan : bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah haram atau makruh? Kalau dihukumkan haram, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi darurat, ataukah tidak? (surabaya)

Jawaban : hukumnya wanita keluar yang demikian itu haram, menurut pendapat yang mu’tamad (yang kuat dan dipegangi – penj ). Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, apabila tidak ada fitnah.

Sumber: Ahkamul Fuqaha, Solusi problematika hukum Islam, keputusan muktamar, munas, dan konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 m), halaman123-124, pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.Ma Sahal Mahfudh; lajnah ta’lif wan nasyr (ltn) NU Jatim dan Khalista, cet.iii, Februari 2007. Keputusan Masalah Diniyyah Nomor: 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933 Tentang Hukum keluarnya wanita dengan terbuka wajah dan kedua tangannya. Web. Didasarkan pada nukilan lewat:

http://muslimafiyah.com/engkau-lebih-cantik-bercadar-mengangkat-kekhawatiran-dan-belum-siapnya-wanita-untuk-memakai-cadar.html

[16] ‘Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.’ (HR. Abu Dawud).

[17] John Suler (ed.). 1997. “Ritual Cat”. Web. Diakses 9 September 2014 dari:

http://users.rider.edu/~suler/zenstory/ritualcat.html

[18] Taufiq Zubaidi. 4 September 2014. ““Muhaddist Bagaikan Apotik, Fuqoha’-lah Dokternya”. Web. Diakses 9 September 2014 dari:

https://www.facebook.com/notes/taufiq-zubaidi/muhaddits-bagaikan-apotik-fuqoha-lah-dokternya/10152659112580535

Muhaddist Bagaikan Apotik, Fuqoha’-lah Dokternya

Saat ini banyak sekali kita temukan orang yang bersemangat dalam merujuk ke Sunnah/Hadits secara tekstual langsung tanpa mengiringinya dengan pemahaman para fuqoha’ ulama’ salaf atas nash hadits yang dikutip. Begitupula banyak kita jumpai orang yang lebih memenangkan pendapat ulama’ kholaf atas ulama’ salaf. …

Gejala seperti itu menjadikan ummat semakin bingung, khususnya mereka yang tidak memahami seluk beluk ilmu alQur’an ataupun Hadits. Ditambah lagi mereka a’jami (bukan ahli bahasa arab), mengetahui hadits hanya melalui buku terjemahan, adapula yang dari mbah Google.

Di sisi lainnya dua rujukan utama dalam mempelajari Islam tersebut; yaitu alQur’an dan Hadits, tentunya tidak mungkin untuk mempelajarinya hanya melalui tulisan saja tanpa guru yang mumpuni (yaitu guru yang memiliki sanad keilmuan tasalsul sampai kepada pemilik kitab dan sampai kepada Kanjeng Nabi shollallahu alaihi wasallam). Sebab mempelajari tersebut dalam rangka memahami ajaran Islam yang sebenarnya. Mempelajari tersebut adalah utuk mengenal agama yang sejati. Bukan hanya sekedar mengenal nash belaka.

Ada nasehat yang sangat bagus dari ahlul Hadits Imam Khotib alBaghdadi. Beliau dawuh: “Banyak sekali orang yang menyampur aduk antara muhaddits dan faqih (alim), mereka menyangka bahwa orang yang banyak hafal hadits dan mengetahui jalan sanadnya adalah pemilik otoritas fatwa. Padahal tidaklah demikian, pandangan semacam itu adalah keliru. Sebab fatwa hanya berhak dipegang oleh orang yang faqih (orang yang dapat memahami nash dengan baik secara tasalsul keilmuannya dan fatwanya tidak muncul dari hawa nafsunya sendiri).”

Memperjelas nasehat Imam Khotib alBaghdadi, mari kita lihat kisah indah sebagaimana berikut: Diceritakan, ada perempuan yang hadir dalam suatu majlis, dimana dalam majlis tersebut ada Yahya bin Mu’in, Abu Khaitsamah, dan Kholaf bin Salim (Mereka semuanya adalah muhaddits pada zamannya). Dalam majlis tersebut perempuan tadi mendengarkan mereka mengucapkan: (Kanjeng Nabi shollalahu alaihi wasallam dawuh, telah diriwayatkan oleh fulan, dan tidak diceritakan hadits tersebut selain fulan), sesaat kemudian perempuan tersebut bertanya tentang orang yang sedang haid memandikan orang yang meninggal, apa orang tersebut boleh memandikan? Para muhaddits tersebut tidak ada yang menjawabnya dan hanya memandang satu sama lain.

Kemudian datanglah Abu Tsaur (seorang alim faqih), para muhaddits tersebut menyuruh kepada perempuan tadi untuk bertanya kepada Abu Tsaur. Dan menolehlah perempuan tersebut kepada Abu Tsaur seraya bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang sama. Kemudian Abu Tsaur menjawab: “Boleh memandikan mayit, sebagaimana haditsnya alQosim dari Sayyidatina A’isyah Rodliyallahu anha: Bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: (Adapun sesungguhnya haidlmu tidaklah di tanganmu), dan sebagaimana pula perkataannya beliau Rodliyallahu anha: “aku pernah memisahkan rambut Rosulullah shollallahu alaihi wasallam dengan air dan saat itu aku sedang haidl.”

Dari hadits tersebut Abu Tsaur dawuh: “Kalau beliau diperbolehkan memisahkan rambut dengan air orang yang masih hidup, maka kepada mayit tentu lebih diutamakan kebolehannya”. Kemudian para muhaddits membenarkan hal tersebut seraya berkata; “benar, hadits tersebut diriwayatkan oleh Fulan, dan Diceritakan oleh fulan, jalan riwayatnya seperti ini”. Mendengar perkataan muhaddits tersebut, perempuan tadi bertanya kepada para muhaddits: “Lantas, mengapa kalian tidak dapat menjawab seperti Abu Tsaur menjawabnya?”

Cerita tersebut memberikan pelajaran kepada kita, bahwa banyak ditemukan sebagian muhaddits hanya berpaku kepada teks, sehingga mereka tidak mampu menjawab persoalan-persoalan yang tidak ada nash-nya secara shorih (jelas).

Kisah muhaddits lainnya, Imam A’masy berkata: “Ketika aku duduk mendengarkan Sariyah memberi fatwa kepada orang, aku berada dihadapan sariyah, awalnya aku ditanya mengenai hal tersebut, namun aku tidak mengetahuinya. Pernah juga, ada seseorang datang bertanya persoalan kepadaku, disitu pula ada Abu Hanifah duduk bersama. Karena ada Abu Hanifah, maka aku memberikan otoritas kepadanya untuk menjawab persoalan: Wahai Nu’man (nama Abu Hanifah), jawablah pertanyaan tersebut. Dan menjawablah Imam Abu Hanifah. Lantas aku bertanya kepada Imam Abu Hanifah; “darimana rujukan ucapanmu tersebut?”. “Dari haditsmu yang telah engkau ceritakan kepada kami” jawab Imam Abu Hanifah. “Benarlah kamu wahai Nu’man, kami adalah apotik, dan kamu adalah dokternya.”

Dari kisah di atas dapat kita simpulkan bahwa tidak semuanya ulama’ ahlul hadits zaman dahulu adalah seorang yang faqih pula. Karena mereka menyadari hal tersebut, maka mereka lebih memberikan hak otoritas fatwa kepada fuqoha’. Walaupun mereka mengetahui matan/nash sebuah hadits mengenai persoalan tersebut sekalipun. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila sekelas Imam Ahmad bin Hanbal (pendiri madzhab Hanbali) dawuh: “Kalaulah tidak ada Imam Syafi’i, maka kami tidak akan mengerti fiqhul hadits (pemahaman hadits)”. Ditambah lagi perkataannya Imam Abu Hatim arRozi: “Kalaulah tidak ada Imam Syafi’i, maka ashabul hadits  dalam keadaan buta”. / tidak mengetahui cara beristinbath hukum dari sebuah nash dan tidak mengetahui nasikh mansukh sebuah hadits… Rodliyallahu anhum, Wallahu a’la wa a’lam.

[19] Dua orang lelaki keluar untuk safar. Kemudian tibalah waktu shalat dan tidak ada air di sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan bumi yang suci lalu keduanya shalat. Setelah itu keduanya menemukan air sedangkan saat itu masih dalam waktu yang dibolehkan shalat yang telah mereka kerjakan tadi. Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi shalat sedangkan yang lainnya tidak mengulangi shalatnya. Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan menceritakan yang mereka alami. Maka beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan kepada orang yang tidak mengulang shalatnya, “Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan kamu telah mendapatkan pahala shalatmu”. Beliau mengatakan kepada yang mengulangi shalatnya,  “Untukmu dua pahala (HR. Abu Dawud no. 338, An Nasa’i no. 433. Dinyatakan sahih oleh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 3861).

[20] Taufiq Zubaidi. 8 September 2014. “Isbal”. Web. Diakses 10 September 2014 dari:

https://www.facebook.com/notes/taufiq-zubaidi/isbal/10152665935525535

Isbal

Sering kita jumpai kelompok tertentu dalam memakai pakaian, baik celana atau jubah lebih tinggi “sekilan” di atas mata kaki. Atau bahasa gaulnya cingkrang. Dalam memandang mereka saya husnudlon kalau kelompok tersebut selain berniat untuk mengamalkan sunnah, barangkali mereka juga ingin ihtiyat “hati-hati” agar tidak termasuk kategori orang yang Isbal (Musbil) dalam berpakaian. Sebab seorang yang Isbal ancamannya sangat berat sebagaimana dalam hadits berikut ini:

Diceritakan dari Abi Dzar Rodliyallahu anhu dari Kanjeng Nabi shollallahu alaihi wasallam dawuh: “Tiga golongan yang tidak didawuhi oleh Gusti Allah Ta’ala pada hari Kiamat, tidak diperhatikan dan tidak pula dibersihkan (dosa-dosanya), bagi mereka hanyalah adzab yang pedih”. Abu Dzar mengatakan bahwa; “Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam sampai mengulangi tiga kali. Sungguh akan menyesal dan merugi mereka. siapakah mereka wahai Rasulullah?”  tanya Abu Dzar. Kanjeng Nabi Shollallahu alaihi wasallam menjawab: “Orang yang isbal, Orang yang mengungkit-ngungkit sedekah dan kebaikannya untuk mengharap imbalan (tidak ikhlas sedekahnya), dan Penjual yang suka bersumpah palsu dengan niatan orang membeli barang tersebut.”

Memang cukup mengerikan nash tersebut apabila diambil bunyi teksnya secara langsung tanpa menjelaskan maksud dari dawuhnya Kanjeng Nabi shollallahu alaihi wasallam. Sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama’ bahwa di dalam menerangkan teks itu adakalanya tidak langsung menggunakan pemahaman sendiri dengan menyimpulkan satu teks saja. Melainkan dibutuhkankan pemahaman secara menyeluruh atas sebuah teks dengan teks lainnya. Entah itu saling menguatkan, menjelaskan secara terperinci atau mengkhususkan maksud dari nash lainnya. Untuk itu dalam memahami sebuah nash tidak cukup hanya memahami satu nash dan mengesampingkan nash yang lain. Disinilah peran fungsi kealiman sang mujtahid atau mufti dalam beristinbath sebuah hukum.

Sebelum saya membaca syarah dari hadits di atas, saya sempatkan terlebih dahulu untuk membaca pandangan-pandangan melalui mbah Google. Ada yang memandangnya bahwa Isbal adalah harom mutlak tanpa penjelasan lebih detail, menghukumi bahwa Isbal adalah termasuk dosa besar. Adapula yang menjelaskannya sesuai dengan penjelasan ulama’ pensyarah hadits di atas. Setelah saya menelaah kembali hadits diatas, yaitu hadits yang cukup sering dipakai sebagai landasan untuk menghukumi bahwa Isbal adalah dosa besar dan haram mutlak, Alhamdulillah saya menemukan pencerahan dari Imam Nawawi Rodliyallahu anhu. Sengaja saya pilih pendapat beliau tidak lain adalah dikarenakan tidak diragukan lagi kealiman beliau dalam ilmu hadits selain itu kapabilitas beliau termasuk dalam Madzhab Syafi’i sebagai Mujtahid Fatwa. Sebuah maqom yang cukup tinggi dan hanya dapat diraih oleh orang-orang yang alim nan faqih saja. Terbukti selain memiliki banyak karangan kitab terkait hadits dan fiqh, beliau telah mensyarahi Kitab shohih Setelah alQur’an dan Shohih Bukhori, yaitu Shohih Muslim.

Isbal dalam Pandangan Imam Nawawi Rodliyallahu anhu 

Dalam kitab alMinhaj Syarah Shohih Muslim bin Hajjaj karya Imam Nawawi, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar tersebut diberi judul oleh beliau; “Bab menerangkan kelirunya pengharaman Isbal Izar (sarung) dan mengharap imbalan dari pemberian, penjual yang menjual barangnya dengan bersumpah, serta penjelasan ketiga golongan tersebut kelak tidak diajak berbicara oleh Gusti Allah di hari Kiamat, tidak diperhatikan, tidak dibersihkan dosa-dosa mreka dan baginya adalah adzab yang pedih)”.

Sebelum Imam Nawawi Rodliyallahu anhu menjelaskan maksud dari hadits di atas, beliau terlebih dahulu menyebutkan riwayat hadits lainnya, terkait dengan orang yang mendapatkan balasan sesuai yang telah dijelaskan dalam hadits di atas. Di antaranya adalah sebagai berikut: “alMannan (Orang yang mengungkit-ngungkit sedekah dan kebaikannya untuk mengharap imbalan, tidak ikhlas sedekahnya) tidaklah diberi imbalan kecuali dari imbalan yang ia terima di dunia, dan orang yang isbal sarungnya.” Riwayat lainnya disebutkan: “Syaikh yang berzina, Raja/pemimpin yang sering dusta/berbohong, dan Pemimpin keluarga yang takabbur” dan beberapa riwayat lainnya.

Barulah kemudian Imam Nawawi menjelaskan maksud dari hadits yang diriwayatkan oleh sayyidina Abu Dzar di atas. Pertama; Makna Penjelasan tidak didawuhi oleh Gusti Allah Ta’ala pada hari Kiamat adalah tidak di dawuhi oleh Gusti Allah sebagaimana Gusti Allah Ta’ala mendawuhi ahlil khoirot (orang-orang yang melakukan kebaikan) dimana Gusti Allah Ta’ala mendawuhinya dengan tampak penuh keRidloan. Orang-orang yang melakukan diantara ketiga laku di atas tidak akan di dawuhi oleh Gusti Allah sebagaimana orang yang melakukan kebaikan, melainkan di dawuhi dengan dawuh ahli asSukhti (ahli orang yang dibenci dan dimarahiNya). Ada juga yang berpendapat maksudnya adalah Gusti Allah Ta’ala kelak mengacuhkan mereka. Jumhur mufassirin menerangkan maksud dari tidak di dawuhi oleh Gusti Alllah adalah: Tidak didawuhi dawuh yang memberi manfa’at dan membahagiakan mereka. Ada pula yang memaknai Gusti Allah tidak mengirimkan kepada malaikat ucapan selamat kepada mereka, sebagaimana ucapan yang diberikan oleh ahli surga.

Kedua: Maksud dari Gusti Allah Ta’ala tidak melihat/memperhatikan mereka adalah; Gusti Allah mengacuhkan mereka. Sedangkan penglihatan/perhatianNya Allah Ta’ala kepada hambaNya adalah rohmat dan kasih sayang.

Ketiga: Makna dari mereka tidak dibersihkan oleh Gusti Allah Ta’ala adalah mereka tidak disucikan dari kotoran-kotoran dosa mereka. AzZujaz berpendapat; maksudnya adalah Gusti Allah Ta’ala tidak memuji mereka.

Ke empat: Makna Siksa yang Pedih adalah; Sebagaimana yang dikatakan oleh alWahidi; yaitu siksa yang sampai membuat hati mereka ikut bergetar.

Adapun maksud dari dawuhnya Kanjeng Nabi shollallahu alaihi wasallam: alMusbil Izarohu (orang yang Isbal/melebihkan sarungnya sampai melebihi mata kaki) adalah yang melakukannya dengan khuyala’. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits lain; (Gusti Allah Ta’ala tidak melihat/memperhatikan orang yang menjulurkan pakaiannya dengan niatan khuyala’). Dan makna dari khuya’al adalah takabbur/sombong. Taqyid tersebut (khuyala’) mengkhususkan keumuman orang yang isbal dalam menggunakan sarung. Makna lainnya menunjukkan bahwa maksud dari balasan adalah hanya untuk orang yang menjulurkan sarungnya dengan rasa takabbur (merasa gagah). Sebab Kanjeng Nabi shollallahu alaihi wasallam telah meringankan Isbal untuk Sayyidina Abu Bakar asShiddiq Rodliyallahu anhu dengan dawuh: “kamu bukanlah termasuk mereka (khuyala’)” karena beliau rodliyallahu anhu tidaklah bertakabbur ketika Isbal.

Di dalam Hadits lainnya disebutkan pula secara jelas nash yang menyebutkan bahwa pelarangan Isbal adalah ketika menjadikan orang tersebut khuyala’. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, anNasa’i dan Ibnu Majjah dengan sanad hasan: Kanjeng Nabi shollallahu alaihi wasallam dawuh: “Isbal dalam menggunakan Izar, Gamis, Imamah yaitu orang yang menjulurkan tersebut dalam rangka Khuyala’, maka Gusti Allah Ta’ala tidak melihatnya kelak di hari kiamat”.

Syarah tersebut barangkali sudah cukup jelas mengenai hukum Isbal, tidak lain adalah Isbal dihukumi harom ketika sampai pada munculnya sifat takabbur bagi orang yang mengenakan pakainnya. Dengan konsekwensi kelak dihari kiamat tidak akan didawuhi oleh Gusti Allah Ta’ala, tidak diperhatikan dan tidak pula dibersihkan (dosa-dosanya), selain itu baginya adalah adzab yang pedih. Namun apabila pemakai pakaian yang walaupun tampak Isbal tapi ketika tidak berniat menyombongkan diri atau dapat menghindarkan hati dari rasa takabbur, maka ia termasuk kategori orang yang isbal namun bukan termasuk Khuyala’. Sehingga baginya tidaklah harom secara mutlaq.

Daripada itu apabila kita kerucutkan lebih ringkas lagi, sebenarnya titik tekan dari pelarangan Isbal tiada lain adalah dikhawatirkannya muncul sifat kesombongan dari diri kita. Keharaman Isbal lantaran untuk melindungi kita dari sifat sombong. Mafhum mukholafahnya adalah, apabila kita Isbal namun diri kita tetap dapat menjaga hati untuk tetap bisa rendah hati, merasa diri paling hina diantara lainnya, merasa tidaklah lebih sekedar hamba yang tak patut menyombongkan diri, bahkan kesombongan yang muncul dari cara berpakaian sekalipun, maka Isbal tersebut tidaklah sampai pada hukum harom sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi di atas.

Barangkali pula dikarenakan kesombongan itu sangatlah tidak patut untuk disandang oleh seorang hamba, sampai-sampai di hadits yang lain pula Kanjeng Nabi shollallahu alaihi wasallam dawuh: “Tidaklah masuk surga seorang yang di dalam hatinya terdapat sebiji dzarroh dari kesombongan”. Jadi seorang mukmin sekalipun, harus masuk neraka terlebih dahulu untuk menghilangkan kotoran dosa kesombongannya terlebih dahulu, sampai ketika telah bersih dirinya dari kesombongan, barulah dimasukkan kedalam surgaNya. Wallahu a’la wa a’lam…

[21] Muhammad Abduh Tuasikal. 9 Februari 2010. “Hukum Celana di Bawah Mata Kaki”. Web. Diakses 10 September 2014 dari:

http://rumaysho.com/umum/hukum-celana-di-bawah-mata-kaki-2-837

Hukum Celana di bawah Mata Kaki

Mungkin sebagian orang sering menemukan di sekitarnya orang-orang yang celananya di atas mata kaki (cingkrang). Bahkan ada yang mencemoohnya dengan menggelarinya sebagai ‘celana kebanjiran’. Pembahasan kali ini –insya Allah- akan sedikit membahas mengenai cara berpakaian seperti ini apakah memang pakaian ini merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau bukan.

Penampilan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Celana Setengah Betis

Perlu diketahui bahwasanya celana di atas mata kaki adalah sunnah dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini dikhususkan bagi laki-laki, sedangkan wanita diperintahkan untuk menutup telapak kakinya. Kita dapat melihat bahwa pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki sebagaimana dalam keseharian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Al Asy’ats bin Sulaim, ia berkata: Saya pernah mendengar bibi saya menceritakan dari pamannya yang berkata, “Ketika saya sedang berjalan di kota Al Madinah, tiba-tiba seorang laki-laki di belakangku berkata, ’Angkat kainmu, karena itu akan lebih bersih.’ Ternyata orang yang berbicara itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata,Sesungguhnya yang kukenakan ini tak lebih hanyalah burdah yang bergaris-garis hitam dan putih”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah engkau tidak menjadikan aku sebagai  teladan?” Aku melihat kain sarung beliau, ternyata ujung bawahnya di pertengahan kedua betisnya.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Muhammadiyyah, hal. 69, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini shohih)

Dari Hudzaifah bin Al Yaman, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang salah satu atau kedua betisnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di sinilah letak ujung kain. Kalau engkau tidak suka, bisa lebih rendah lagi. Kalau tidak suka juga, boleh lebih rendah lagi, akan tetapi tidak dibenarkan kain tersebut menutupi mata kaki.” (Lihat Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah, hal.70, Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini shohih)

Dari dua hadits ini terlihat bahwa celana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berada di atas mata kaki sampai pertengahan betis. Boleh bagi seseorang menurunkan celananya, namun dengan syarat tidak sampai menutupi mata kaki. Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai teladan terbaik bagi kita dan bukanlah professor atau doctor atau seorang master yang dijadikan teladan.  Allah Ta’ala berfirman,“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab [60]: 21)

Menjulurkan Celana Hingga di Bawah Mata Kaki

Perhatikanlah hadits-hadits yang kami bawakan berikut ini yang sengaja kami bagi menjadi dua bagian. Hal ini sebagaimana kami ikuti dari pembagian Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’ pada Bab Satrul ‘Awrot.

Pertama: Menjulurkan celana di bawah mata kaki dengan sombong

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret pakaianya dalam keadaan sombong.” (HR. Muslim no. 5574).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 5576)

Masih banyak lafazh yang serupa dengan dua hadits di atas dalam Shohih Muslim.

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat nanti, tidak dipandang, dan tidak disucikan serta bagi mereka siksaan yang pedih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tiga kali perkataan ini. Lalu Abu Dzar berkata,“Mereka sangat celaka dan merugi. Siapa mereka, Ya Rasulullah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka adalah orang yang isbal, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no. 306). Orang yang isbal (musbil) adalah orang yang menjulurkan pakaian atau celananya di bawah mata kaki.

Kedua: Menjulurkan celana di bawah mata kaki tanpa sombong

Dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.” (HR. Bukhari no. 5787)

Dari hadits-hadits di atas terdapat dua bentuk menjulurkan celana dan masing-masing memiliki konsekuensi yang berbeda. Kasus yang pertama -sebagaimana terdapat dalam hadits Ibnu Umar di atas- yaitu menjulurkan celana di bawah mata kaki (isbal) dengan sombong. Hukuman untuk kasus pertama ini sangat berat yaitu Allah tidak akan berbicara dengannya, juga tidak akan melihatnya dan tidak akan disucikan serta baginya azab (siksaan) yang pedih. Bentuk pertama ini termasuk dosa besar.

Kasus yang kedua adalah apabila seseorang menjulurkan celananya tanpa sombong. Maka ini juga dikhawatirkan termasuk dosa besar karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam perbuatan semacam ini dengan neraka.

Perhatikan bahwasanya hukum di antara dua kasus ini berbeda. Tidak bisa kita membawa hadits muthlaq dari Abu Huroiroh pada kasus kedua ke hadits muqoyyad dari Ibnu Umar pada kasus pertama karena hukum masing-masing berbeda. Bahkan ada sebuah hadits dari Abu Sa’id Al Khudri yang menjelaskan dua kasus ini sekaligus dan membedakan hukum masing-masing. Lihatlah hadits yang dimaksud sebagai berikut.

Pakaian seorang muslim adalah hingga setengah betis. Tidaklah mengapa jika diturunkan antara setengah betis dan dua mata kaki. Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti).” (HR. Abu Daud no. 4095. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Al Jami’ Ash Shogir, 921)

Jika kita perhatikan dalam hadits ini, terlihat bahwa hukum untuk kasus pertama dan kedua berbeda.

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa jika menjulurkan celana tanpa sombong maka hukumnya makruh karena menganggap bahwa hadits Abu Huroiroh pada kasus kedua dapat dibawa ke hadits Ibnu Umar pada kasus pertama. Maka berarti yang dimaksudkan dengan menjulurkan celana di bawah mata kaki sehingga mendapat ancaman (siksaan) adalah yang menjulurkan celananya dengan sombong. Jika tidak dilakukan dengan sombong, hukumnya makruh. Hal inilah yang dipilih oleh An Nawawi dalam Syarh Muslim dan Riyadhus Shalihin, juga merupakan pendapat Imam Syafi’i serta pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Abdullah Ali Bassam di Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom -semoga Allah merahmati mereka-.

Namun, pendapat ini kurang tepat. Jika kita melihat dari hadits-hadits yang ada menunjukkan bahwa hukum masing-masing kasus berbeda. Jika hal ini dilakukan dengan sombong, hukumannya sendiri. Jika dilakukan tidak dengan sombong, maka kembali ke hadits mutlak yang menunjukkan adanya ancaman neraka. Bahkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri dibedakan hukum di antara dua kasus ini. Perhatikan  baik-baik hadits Abu Sa’id di atas: Jika pakaian tersebut berada di bawah mata kaki maka tempatnya di neraka. Dan apabila pakaian itu diseret dalam keadaan sombong, Allah tidak akan melihat kepadanya (pada hari kiamat nanti). Jadi, yang menjulurkan celana dengan sombong ataupun tidak, tetap mendapatkan hukuman. Wallahu a’lam bish showab.

Catatan: Perlu kami tambahkan bahwa para ulama yang menyatakan makruh seperti An Nawawi dan lainnya, mereka tidak pernah menyatakan bahwa hukum isbal adalah boleh kalau tidak dengan sombong. Mohon, jangan disalahpahami maksud ulama yang mengatakan demikian. Ingatlah bahwa para ulama tersebut hanya menyatakan makruh dan bukan menyatakan boleh berisbal. Ini yang banyak salah dipahami oleh sebagian orang yang mengikuti pendapat mereka. Maka hendaklah perkara makruh itu dijauhi, jika memang kita masih memilih pendapat yang lemah tersebut. Janganlah terus-menerus dalam melakukan yang makruh. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.

Jadi, masalah isbal (celana menyeret tanah) adalah perkara yang amat penting. Jika ada yang mengatakan ‘kok masalah celana saja dipermasalahkan?’ Maka cukup kisah ini sebagai jawabannya. Kita menekankan masalah ini karena salaf (shahabat) juga menekankannya. -Semoga kita dimudahkan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahu sami’un qoriibum mujibud da’awaatAlhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

[Yang menarik adalah bagaimana pendapat dari Ustad Muhammad Abduh Tuasikal mendapat masukan dari salah satu kawan beliau yang bernama Abu Zuhriy al Gharantaliy sebagai berikut ini:

Ustadz mohon DITELITI lagi “klaim” bahwa syaikh al-bassam berpendapat “makruh”… Justru yang nampak beliau berpendapat “mubah”…

simak:

قال الشيخ عبد الرحمن بن عبد الله البسام رحمه الله : ” ( إن القاعدة الأصولية هي حمل المطلق على المقيد وهي قاعدة مطردة في عموم نصوص الشريعة. والشارع الحكيم لم يقيد تحريم الإسبال – بالخيلاء – إلا لحكمة أرادها ولولا هذا لم يقيده. والأصل في اللباس الإباحة ، فلا يحرم منها إلا ما حرمه الله ورسوله صلى الله عليه وسلم . والشارع قصد من تحريم هذه اللبسة الخاصة قصد الخيلاء من الإسبال وإلا لبقيت اللبسة المذكورة على أصل الإباحة. وإذا نظرنا إلى عموم اللباس وهيئاته وأشكاله لم نجد منه شيئاً محرماً إلا وتحريمه له سبب وإلا فما معنى التحريم وما الغرض منه ، لذا فإن مفهوم الأحاديث أن من أسبل ولم يقصد بذلك الكبر والخيلاء ، فإنه غير داخل في الوعيد “.اهـ من ( توضيح الأحكام من بلوغ المرام 6/246 )

Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah al bassam berkata, “Sesungguhnya Kaidah Ushul Hamlul Muthlaq ‘alal Muqoyyad adalah kaidah umum yang terdapat pada Nash-Nash syara’. Asy-syari’ (Allah) yang Mahabijak tidak membatasi pengharaman Isbal dengan kesombongan kecuali karena hikmah yang dikehendaki. Andaikan tidak ada hikmah yang dikehendaki, tentu Dia tidak akan membatasinya. Hukum asal pakaian adalah Mubah. Tidak ada yang haram darinya kecuali bila Allah dan RasulNya mengharamkannya. As-Syari’ memaksudkan pengharaman cara berpakaian khusus ini adalah pada kesombongan pada Isbal. Jika tidak, maka cara berpakaian yang disebutkan seharusnya tetap dalam kemubahannya. Dan jika kita melihat pada umumnya pakaian serta model dan bentuknya, kita tidak menemukan adanya sesuatu yang diharamkan kecuali pengharamannya karena sebab tertentu. Jika tidak, maka apalah artinya pengharamannya dan apa tujuan pengharamannya. Oleh sebab itu, maka pemahaman terhadap hadits ini adalah barangsiapa yang Isbal dan tidak dalam rangka sombong dan angkuh, maka ia tidak masuk dalam ancaman.”(Taudhih Al-Ahkam min Bulughi Al-marom)

Dan pendapat “mubah” ini sudah ada dari ulama terdahulu….

Berkata Abu Hatim dalam mengomentari Shahiih ibnu Hibbaan:

الأمر بترك استحقار المعروف أمر قصد به الإرشاد والزجر عن إسبال الإزار زجر حتم لعلة معلومة وهي الخيلاء فمتى عدمت الخيلاء لم يكن بإسبال الإزار بأس

Abu Hatim berkata, “Perintah untuk meninggalkan menganggap remeh hal yang ma’ruf adalah perintah yang bermaksud untuk mendidik. Dan larangan untuk tidak mengIsbalkan sarung adalah larangan yang pasti karena sebab yang telah diketahui, yakni kesombongan. Oleh karena itu, jika kesombongan itu tidak ada, maka TIDAKLAH MENGAPA Isbal sarung.” (Shahih Ibnu Hibban, 2/282)

Semoga kita diberi kelapangan hati untuk menerima dan mengakui pandangan ulama yang berbeda dengan kita dalam hal ini… ]

[22] Ibid.

[23] Chelsea Diffendal. 2006. “The Modern Hijab: Tool of Agency, Tool of Oppression”. Chrestomathy: Annual Review of Undergraduate Research, School of Humanities and Social Sciences, School of Languages, Cultures, and World Affairs, College of Charleston. Volume 5, 2006: pp. 129-136.

Untuk melihat pendapat lain mengenai jilbab apakah sebagai bentuk opresi (penindasan) atau pembebasan para wanita misalnya dapat dibaca pada tulisan:

Maryam S. 4 September 2014. “Why I Don’t Need A Makeup Tutorial to Teach Me How to Wear a Hijab”. Web. Diakses 20 september 2014 dari:

http://muslimmatters.org/2014/09/04/why-i-dont-need-a-makeup-tutorial-to-teach-me-how-to-wear-a-hijab/

Nakata Khaula. tanpa tanggal. “A Japanese Woman’s Experience of Hijaab”. Web. Diakses 20 September 2014 dari:
http://www.beautifulislam.net/women/japanese_hijab.htm

Abdul Sattar Ahmed. 30 April 2012. “Hijab is not to Protect Men, but to Honor Women”. Web. Diakses 20 September 2014 dari:
http://www.suhaibwebb.com/islam-studies/islam-101/misconceptions/hijab-is-not-to-protect-men-but-to-honor-women/

Vanessa Rivera de la Fuente. 14 Maret 2013. “No Ladies, Hiyabis are not asking for It”. Web. Diakses 20 September 2014 dari:
http://ladivinafeminista.wordpress.com/2013/03/14/no-ladies-hiyabis-are-not-asking-for-it/

Helena Andrews. 8 Juni 2006. “Muslim Women Don’t See Themselves as Oppressed, Survey Finds”. The New York Times. Diakses 27 Oktober 2014 dari: http://www.nytimes.com/2006/06/08/world/middleeast/08women.html

Yasmin Mogahed. 1 Februari 2011. “A Letter to the Culture that Raised Me”. Web. Diakses 27 Oktober 2014 dari: http://www.yasminmogahed.com/2011/02/01/a-letter-to-the-culture-that-raised-me

Creative Commons License
Pakaian by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

5 Hal Konyol yang Sering Dikaitkan dengan Islam

Sebuah ringkasan dan terjemahan bebas disertai dengan komentar pada catatan kaki terhadap sebuah tulisan berjudul: “5 Ridiculous Things You Probably Believe About Islam” karya Jacopo della Quercia. Tulisan ini merupakan bentuk sindiran kepada mereka yang melihat Islam dengan phobia atau berdasar mitos. Teks asli bisa diakses di:

 http://www.cracked.com/article_18911_5-ridiculous-things-you-probably-believe-about-islam.html.

Hak cipta terpelihara dan ada pada Jacopo della Quercia. Untuk rujukan, silakan gunakan teks asli. Jika Anda mendapati ketidaktepatan terjemahan maka silakan dirujukkan langsung kepada teks asli; perlu pula diingat bahwa terjemahan ini bersifat bebas dan “hanya ringkasan”. Judul teks asli diterjemahkan sebagaimana judul ringkasan-terjemahan karena kekurangluwesan penerjemah mencari terjemahan pas dan juga enak didengar.

Seorang komentator konservatif[i] barusan menulis sebuah tulisan yang menyatakan bahwa 10% dari jumlah total muslim di dunia adalah teroris. Klaim ini sungguh berlebihan sebab jika dihitung dari jumlah total populasi muslim di dunia maka setara dengan 150 juta teroris, dan jika setiap “teroris” ini sekarang secara bersamaan membunuh 40 orang maka seluruh populasi non-muslim dunia bakal habis.

Klaim ini sungguh sangat berlebihan.

Oleh karena ada anggapan bahwa situs ini[ii] adalah “teman Islam” maka tulisan ini bakal sebagai sebuah upaya pembukti bahwa situs kami tidaklah demikian dan pula sebagai pembagi informasi kepada sidang pembaca beberapa salah-pandang mengenai Islam lewat 5 stereotip yang populer tentang Islam dan kami hitung mundur untuk Anda:

5. Jika Anda seorang wanita[iii] muslim, maka Anda pasti memakai jilbab[iv]

Saat kita berbicara tentang Islam, maka benak kita akan langsung melayang kepada gambaran tentang wanita memakai jilbab[v]. Bahkan jika sekumpulan wanita Islam berjilbab burqa dikumpulkan  di sebuah  ruangan kemudian Anda melempar bola football, maka Anda pasti akan gagal melempar ke orang yang Anda maksud karena Anda tidak tahu yang mana si A dan yang mana si B. Ha ha …

Dan tentu saja apa yang disembunyikan oleh para wanita muslim di dalam jilbab mereka pastilah hal yang sangat penting kan? Sebab jika yang ditutupi dengan jilbab bukanlah hal yang sangat penting, maka tidak mungkin bakal ada ribut-ribut masalah jilbab di Eropa kan? Ha ha …

Bahkan kita meyakini bahwa Islam membenci para wanita. Mau bukti? Bukankah Arab Saudi adalah satu-satunya negara yang masih melarang para wanita untuk menyetir mobil sendirian[vi] dan hukum rajam masih berlaku kepada pelaku zina[vii], jadi kita meyakini bahwa Islam terlalu kaku bagi wanita ….

Namun …

Punya pikiran bahwa semua wanita muslim terlihat ekstrem, teroris, atau kuno dengan jilbabnya adalah tidak pas[viii]. Mengapa demikian? Sebab bahkan di dalam tradisi Kristen dan Yahudi, hingga saat ini cara berpakaian wanita model serupa jilbab-nya Islam adalah lazim. Ketika kita melihat wanita muslim memakai jilbab, mengapa pikiran yang muncul di benak kita adalah ekstrem, teroris, atau kuno sedangkan saat melihat wanita Kristen atau Yahudi memakai “jilbab” malah benak kita muncul asosiasi yang berbeda: religius?[ix]

Bahkan ketika berbicara angka yang sebenarnya tentang jumlah wanita pemakai jilbab dibandingkan dengan mereka yang tidak memakai jilbab … maka sebagai contoh, di Perancis, negeri dengan populasi wanita muslim 3 juta orang, berdasar data kepolisian Perancis hanya 367 orang saja yang memakai burqa/niqab[x]. Angka persentase wanita muslim Perancis yang memakai burqa dengan yang tidak memakainya,  juga serupa di negara-negara Eropa lainnya.

Memang benar bahwa ada negara yang mewajibkan wanita muslim memakai jilbab, namun jika dihitung berdasarkan total populasi muslim di seluruh dunia, maka jumlahnya tidak sampai 10%.

Dan …

Justru menjadi isu yang sangat penting namun tidak pernah ditonjolkan adalah: dari 5 negara dengan jumlah muslim terbesar, 4 negara di antaranya sudah pernah memiliki kepala negara wanita.[xi]

4. Para Pendiri Negara Kita[xii] Pasti Tidak Akan Mengamini Stereotip terhadap Islam

Pasti gampang membayangkan bagaimana mimik muka para pendiri negara kita ketika melihat Amerika Serikat sekarang yang godless. Dan tentu juga bakal gampang untuk membayangkan bagaimana sikap mereka terhadap suatu agama yang benar-benar mendukung kekerasan dan terorisme sebagaimana kini distereotipkan kepada Islam. Pastilah mereka bakal mencak-mencak gak ketulungan untuk segera memberangus Islam; jika seandainya Islam benar-benar sesuai dengan “tuduhan”.

Dan sungguh hebat dan salut kepada orang-orang modern yang kini penuh semangat melihat Islam sebagai ancaman dan lalu menggembar-gemborkan dibikinnya Undang-undang pelarangan hukum atau ajaran Islam merasuki produk hukum kita … Ah, berlebihan sekali orang-orang modern ini … bahkan mereka bilang Islam adalah ancaman nyata … ha ha … Thomas Jefferson[xiii] pasti kepingkal-pingkal di dalam kuburnya, menertawakan orang-orang modern kayak gini.

Pingin tahu yang sebenarnya …

Bahwa tercatat di dalam sejarah, para Pendiri Negara Amerika Serikat adalah pengagum Islam. Thomas Jefferson malah mempelajari Quran dan juga bikin acara “buka puasa bulan Ramadan” untuk pertama kali di Gedung Putih.

John Adams, tokoh Pendiri Amerika Serikat lainnya, malah mengatakan bahwa Muhammad [p.b.u.h] sebagai salah satu penelusur kebenaran. Benjamin Rush, tokoh lainnya, yang pernah mengusulkan pengajaran Bible di seluruh sekolah di Amerika Serikat kala itu, justru tidak menafikan urgensi mempelajari ajaran Kong Hu Cu dan Muhammad. Begitu juga atas Benjamin Franklin dan George Washington yang tidak phobia terhadap orang Islam.

Bahkan …

Tahu gak mengapa para Pendiri Negara Amerika Serikat tidak membenci Islam?

Justru negarawan Islam-lah yang pertama mengakui kemerdekaan kita.[xiv] Sultan Muhammad bin Abdullah dari Maroko adalah tokoh dunia pertama yang mengakui kemerdekaan kita dari Inggris pada tahun 1777. Alasan lain mengapa para Pendiri Negara kita tidak membenci Islam adalah mereka cerdas dan tahu untuk membedakan antara terorisme dengan Islam.

3. Kita Selalu Menganggap Bahwa Islam adalah Arab

Inilah sesuatu yang sering terjadi. Ketika kita berbicara tentang Islam, maka di dalam benak kita adalah Islam = Arab. Jadi kita selalu menganggap bahwa orang yang tinggal di Timur Tengah bukan Yahudi adalah pasti muslim dan kita juga menganggap bahwa mayoritas muslim tinggal di Arab.

Namun …

Ketika berbicara tentang jumlah muslim seluruh dunia yang sebenarnya, hanya 20% saja yang tinggal di Arab (atau Afrika Utara). Dan ini justru yang aneh dari pola pikir yang aneh tentang Islam=Arab. Saat kita tahu bahwa dominasi 22% umat Kristen adalah orang Afrika, maka benak kita tidak pernah mengatakan bahwa Kristen=Afrika.

Lalu jika menganggap bahwa mayoritas muslim tinggal di Timur Tengah, maka keyakinan seperti itu  juga tidak benar. Berdasar statistik, justru 61,9% muslim tinggal di luar Timur Tengah. Justru kebanyakan muslim tinggal di wilayah Asia-Pasifik (Indonesia, Malaysia) dan di wilayah sub-benua India (Pakistan, Bangladesh).

Lalu jika Anda meyakini bahwa semua orang Arab adalah muslim, maka Anda salah lagi. Tahu gak kalau 10% dari populasi orang Arab di seluruh dunia adalah pemeluk Kristen? Dan 10% ini setara dengan 14 juta orang Arab adalah pemeluk Kristen![xv]

2. Tradisi Barat Merupakan Tradisi yang Lebih Beradab Dibandingkan Tradisi Islam yang Konon Brutal

Bahkan jauh sebelum digembar-gemborkannya istilah terorisme, di dunia Barat di masa lalu sudah distereotipkan bahwa Islam adalah ajaran brutal. Stereotip ini muncul sebab phobia akan kecepatan Islam memperluas pengaruh di dunia. Hindu butuh kurang lebih 1000 tahun untuk dapat diterima secara umum di India, ajaran Kristen butuh kurang lebih 400 tahun dari sebuah ajaran yang diuber-uber tentara Romawi menjadi agama resmi di kerajaan Romawi. Islam hanya butuh kurang lebih 100 tahun untuk menjadi ajaran yang menancap kuat di Timur Tengah, sebagian Afrika, dan di beberapa wilayah lain.

Lalu muncullah stereotip yang entah darimana sumbernya bahwa Islam memaksa orang-orang masuk menjadi pengikut Muhammad [p.b.u.h] dengan pedang. Bahkan sebelum peristiwa 9/11 pun, gambaran Islam yang bengis dan kejam sudah menjadi stereotip yang lazim.[xvi]

Namun …

Sesungguhnya adalah demikian:

Justru Muhammad-lah yang membuat aturan perang[xvii] yang membuat pejuang-pejuang Kristen saat itu beberapa di antaranya takjub. Aturan-aturan tersebut di antaranya adalah:

  • Tidak boleh membunuh wanita, anak-anak, orang yang tidak bersalah; termasuk pemimpin agama yang non-kombatan[xviii].
  • Tidak boleh membunuh dengan keji terhadap hewan.
  • Tidak boleh merusak atau membakar bangunan [penduduk].
  • Tidak boleh mencemari sumber air.

Secara ringkas, dapatlah dikatakan bahwa Muhammad p.b.u.h mengajari pasukannya untuk berperang like freaking hippies[xix] dan Muhammad p.b.u.h berhasil melakukannya. Sehingga ketika tercatat di dalam sejarah Perang Salib bagaimana para tentara Kristen mempermainkan kepala tentara Muslim yang berhasil mereka penggal saat perang, para tentara Kristen kaget mendapati bahwa tentara Muslim di bawah arahan Muhammad p.b.u.h justru memperlakukan mereka dengan terhormat ketika mereka kalah.

1.  Islam Membuat Stagnan Kemajuan Peradaban dan Pemeluknya Tidak Mengalami Kemajuan Ilmu Pengetahuan

Jikalau dicermati, terdapat 3 hal yang distereotipkan kepada Islam: 1) Islam mengekang wanita, 2) Islam mengajarkan kekerasan, 3) Islam menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan.

Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah: Apa benar demikian? Bukti apakah yang menyatakan demikian?[xx] Justru berdasar survei, pemeluk Islam-lah yang bisa menerima dengan baik konsep-konsep di dalam ilmu pengetahuan modern karena mereka mendapati bahwa kitab suci mereka, Quran, tidak bersifat kontradiktif.[xxi] Dan patut pula Anda baca buku sejarah bahwa pada masa keemasan Islam, ilmu pengetahuan juga turut berkembang pesat. Masih ingat Averoes (Ibnu Rusyd), Avicena (Ibu Sina), dan Algebra (Al-Jabar)? Dan percayakah Anda bahwa “penguasaan wilayah” oleh para Kalifah Islam juga meninggalkan jejak pendirian sekolah, perpustakaan, tempat pelayanan masyarakat, serta sistem sosial yang tidak pernah ditonjolkan oleh buku-buku sejarah mainstream?[xxii] Bahkan jikalau tentara Islam kala itu berhasil menembus gabungan kekuatan tentara-tentara kerajaan Kristen di Eropa saat Perang salib, mungkin Renaissance atau Aufklarung atau Fajar Budi tidak diperlukan di Eropa …

Jadi, masihkah Anda meyakini di dalam benak Anda mengenai “mitos” bahwa Islam adalah demikian dan demikian?


[i] Menurut telusur peringkas-penerjemah [Dipa Nugraha], yang dimaksud penulis asli artikel ini adalah Glenn Beck. Silakan verifikasi di situs ini:

http://religion.blogs.cnn.com/2010/12/12/fareed-zakaria-glenn-beck-wrong-about-10-percent-muslims-being-terrorists/

[ii] Situs tempat teks/artikel asli ini diterbitkan: http://www.cracked.com/

[iii] Digunakannya istilah “wanita” dan bukan “perempuan” di dalam teks ringkasan dan terjemah ini bukan karena peringkas+penerjemah menganggap bahwa istilah “wanita” lebih baik daripada istilah “perempuan”. Untuk kajian lebih lanjut mengenai isu feminisme, gender bias, post-feminisme, juga quo vadis feminisme, silakan Anda baca tulisan saya “Perempuan, Wanita, atau Betina?” di blog ini (dipanugraha.blog.com – sekarang pindah ke dipanugrahablog.wordpress.com). Untuk akses cepat, Anda bisa klik Home untuk mencari link ke artikel tersebut.

[iv] Subjudul sebenarnya adalah: “Jika Anda seorang wanita muslim, Anda harus memakai jilbab”. Ada sedikit perubahan tentang kata konklusif “pasti” dari teks asli “harus”. Meskipun ada beberapa aliran pemikiran Islam yang tidak mewajibkan jilbab namun menganjurkannya saja, namun berdasar apa yang diyakini oleh sebagian besar ulama Islam, jilbab adalah pakaian wajib kepada wanita muslim yang sudah dewasa. Sebenarnya salah-pandang tentang jilbab yang hanya merupakan tradisi berpakaian di dalam agama Islam merupakan hal yang aneh sebab di dalam tradisi Ibrahim, jilbab adalah pakaian yang lazim. Untuk pemahaman yang lebih lanjut, silakan kunjungi:

http://www.thewaytotruth.org/womaninislam/judeochristian.html

setelah Anda membaca artikel “The Veil in Islam and The Judeo-Christian Tradition” di situs tersebut, Anda akan mendapati bahwa semisal di dalam Bible akan didapati perintah keras untuk memakai jilbab (I Korintians 11:3-10).

Sedangkan untuk rujukan bagaimana jilbab “dikenal” di dunia Kristen-Yahudi-Islam, silakan kunjungi:

http://www.jewishledger.com/2012/02/new-photo-exhibition-examines-israels-veiled-women/

[v] Di dalam teks asli, ada penggunaan istilah burqa meski subjudul berbunyi veil. Pemakaian kedua istilah tersebut secara silih berganti agak sedikit mengganggu, sebab veil bisa merujuk kepada burqa/niqab, atau jilbab saja.

Perlu pula diketahui bahwa “cara berpakaian yang diatur” bukan tertuju kepada wanita muslim saja, namun cara berpakaian juga diatur kepada laki-laki muslim. Ketika berbicara tentang burqa/niqab/jilbab, di dalam jamaah Islam yang dikatakan paling keras sekalipun, ada perbedaan tentang wajib tidaknya “cadar” di dalam aturan berjilbab. Untuk mendalami isu ini, silakan cek perbedaan antara Al Albani dengan Utsaimin mengenai cadar.

Patut pula ditambahkan di sini bahwa ada pula anggapan bahwa jilbab adalah pakaian asli Arab. Anggapan ini tidaklah tepat sebab perintah “berjilbab dengan aturan tertentu” adalah dimulai lewat ajaran Muhammad p.b.u.h. Pada beberapa riwayat hadist, wanita-wanita Islam saat itu mendapati bahwa cara berpakaian jilbab sesuai ajaran Muhammad p.b.u.h. adalah hal yang baru bagi mereka karena mereka bertanya dan atau ditegur tentang “bagaimana”-nya jilbab itu diterapkan.

Kemudian jikalau Anda hendak membentrokkan isu jilbab dengan feminisme, maka silakan Anda mempelajari lebih dalam tentang isu-isu post-feminism. Jangan Anda mendalami feminisme lalu kemudian berteriak-teriak tentang “pembebasan wanita” kepada Islam tanpa tahu pemuliaan Islam terhadap wanita.

[vi] Saya melihat bahwa ini sudah jelas maksudnya JIKA dilihat dari perspektif Islam.

[vii] Ketika berbicara tentang hukum rajam kepada pelaku zina, maka pemahaman tentang “hukuman kepada pelaku zina menurut Islam” harus dikuasai. Rajam tidak serta merta diberlakukan kepada setiap pelaku zina. Perlu pula dicatat bahwa zina tidak sama dengan perkosaan. Untuk merujuk tentang zina dan beda hukumannya silakan baca Quran 17:32; 24:2. Kemudian untuk hukum rajam kepada pelaku Zina sendiri ada terdapat kisah justru pelaku Zina-lah sendiri yang meminta dirajam sebagai penebusan dosa di hadapan Tuhan, silakan baca tulisan di situs ini:

http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/2630/?&show_interstitial=1&u=/journal/item

Lalu apakah di dalam teologi Kristen, hukum rajam sudah dihapus? Untuk menjawab ini, silakan dimulai dengan ucapan Jesus p.b.u.h dengan tegas di Bible tentang hukum Torat (Matius 5:17-18; 23:1-3) dan kemudian silakan cek di dalam Bible: Keluaran 20:14; Ulangan 22:22, 25:11-12; Imamat 20:10, 21:9; Amsal 6:32. Sedangkan argumen penghapusan hukum rajam di dalam Yohanes 8:1-11, silakan diperhatikan kalimat: “Mereka bertanya begitu untuk menjebak Jesus, supaya mereka dapat menyalahkan Jesus” dan lalu justru yang paling penting adalah kalimat: “Sekarang pergilah, jangan berdosa lagi”. Ini artinya bahwa zina adalah perbuatan yang berkonsekuensi dosa, dan ketika sudah bertobat maka dosa terhapus asal tidak diulangi lagi (?). Bahkan ketika berbicara secara luas mengenai apakah hukum Torah benar-benar dihapus oleh Jesus p.b.u.h atau hanya digenapi? Maka perdebatan tentang itu di dalam teologi Kristen berkembang ke ranah murni “hermeneutika-apologetika”. Beberapa apologetika dirujukkan kepada tulisan-tulisan Paulus di dalam Perjanjian Baru. Pendasaran teologi pada tulisan Paulus bagi beberapa sarjana Kristen adalah hal yang lumrah karena sebagaimana pujian Michael H. Hart atas tulisan-tulisan Paulus: Kekristenan dibangun justru oleh Paulus. Konsep trinitas, tidak wajib sunat, tiada pembedaan pengajaran kepada gentile, Sabbath menjadi Minggu, dsb. dirujukkan kepada Pauline writings. Mereka yang menjustifikasi perubahan “penerapan” The Law (of Moses) atau Hukum Torat, mengatakan bahwa sekte Kristen yang mengikuti tradisi asli Jesus p.b.u.h. sebagai bentuk legalism. Untuk pemahaman lebih lanjut tentang ini, silakan baca The Problem of Paul  di situs:

http://www.jesuswordsonly.com/Recommended-Reading/problempaulallfaithsfollowingjesus.html

Atau jika langsung menuju tulisan tersebut,silakan klik:

http://www.jesuswordsonly.com/images/stories/Lessons/The%20Problem%20of%20Paul.pdf

sumber lain yang mempertanyakan otoritas Paul sebagai “rasul ke-13” yang justru meletakkan pondasi ke-Kristenan yang berbeda dengan ajaran Jesus p.b.u.h. bisa Anda kunjungi di situs ini:

http://www.problemswithpaul.com/documents/QuestionsAboutPaul.pdf

[Untuk komentar atau verifikasi, silakan kirim kepada saya, Dipa Nugraha; surel: dipa.nugraha@gmail.com].

[viii] Di dalam teks asli, ilustrasi dari argumen ini ditampilkan dengan gambar-gambar.

[ix] Di dalam teks asli, ilustrasi dari berbedanya pikiran yang muncul di benak kita diprovokasi lewat tampilan gambar sekumpulan wanita Kristen sekte tertentu yang “diwajibkan” memakai baju “aneh” ala Little House on the Prairie.

[x] Burqa/niqab lebih rapat dari jilbab.

[xi] “Wanita tidak boleh bicara di dalam gereja” merujuk kepada 1 Korintian 14:34-36, 1 Timotius 2:11-13, dan Kitab Kejadian 3:16 dianggap oleh sebagian sarjana Kristen sebagai pengganjal para wanita Kristen untuk menduduki posisi kepala negara. Terpilihnya wanita muslim di beberapa negara yang penduduknya mayoritas Islam justru menunjukkan tidak terkekangnya wanita di negara-negara tersebut dibandingkan dengan negara lainnya.

Lepas dari fakta yang sering kita abaikan tentang keleluasaan wanita muslim untuk menjadi kepala negara, jika berbicara mengenai “kepemimpinan wanita muslim”, ada ulama Islam yang melihat bahwa larangan wanita untuk menjadi kepala negara adalah ketika negara yang dipimpinnya adalah negara Islam. Kebolehan wanita muslim menjadi kepala negara terjadi ketika sebuah negara adalah negara demokrasi. Mungkin pembolehan dari salah satu ulama ini merujuk pada nature dari sistem demokrasi yang mengatakan bahwa negara dipimpin tidak hanya oleh kepala negara namun juga Yudikatif dan Parlemen. [Untuk verifikasi dan validasi, silakan kirim ke surel saya]

[xii] Kita di sini merujuk kepada negara Amerika Serikat. Penulis asli teks ini, Jacopo della Quercia, adalah warga negara Amerika Serikat.

[xiii] Salah satu Pendiri Negara Amerika Serikat. Ia termasuk tokoh yang sangat penting di dalam pendirian negara Amerika Serikat bersama George Washington.

[xiv] Negara kita di dalam konteks tulisan ini adalah Amerika Serikat. Sebagaimana kita ketahui, dulu Amerika Serikat awalnya adalah koloni Inggris.

[xv] Untuk contoh yang paling gampang tentang orang Arab yang Kristen, silakan cek jumlah umat Kristen di Lebanon, Mesir, dan Syiria.

[xvi] Peristiwa 9/11 merupakan revitalisasi dari stereotip bahwa Islam = Kekerasan = Terorisme. Padahal jika Anda mau mencari tahu dan tidak apriori terhadap fakta-fakta yang sengaja disembunyikan oleh “pihak yang berkepentingan terhadap buruknya citra Islam”, maka Anda akan mendapati bahwa peristiwa 9/11 adalah sebuah rekayasa. Meskipun perkataan bahwa 9/11 adalah rekayasa disebut oleh media massa besar sebagai hanya ilusi Teori Konspirasi namun jika Anda berkenan untuk mempelajari tulisan-tulisan (beserta bukti) serta petisi yang ditandatangani oleh ribuan orang Amerika Serikat yang ahli di bidang-bidang tertentu yang terkait dengan konstruksi bangunan, arsitektur, detonasi, kebijakan militer, manipulasi politik perang, nuklir di situs:

http://911truth.org/

yang menyatakan bahwa peristiwa 9/11 adalah akal-akalan justifikatif (casus belli) untuk menyerang negara tertentu yang menguntungkan bagi beberapa orang maka Anda akan mudah mengaitkannya dengan buku yang ditulis oleh Samuel Huntington yang berjudul Clash of Civilizations bahkan mungkin Anda juga bakal tertarik dengan kemiripan peristiwa Pearl Harbor dengan 9/11. Jika Anda tertarik, silakan kunjungi:

whatreallyhappened.com/WRHARTICLES/pearl.php.

Sebagai catatan tambahan, isu yang perlu diperhatikan selain fokus menyoal “perang [ideologi] peradaban” adalah “minyak” sebagaimana bisa Anda rujukkan lewat situs ini:

http://911truthnews.com/the-facts-speak-for-themselves/

Jikalau Anda tertarik mempelajari lebih dalam tentang segala isu tersebut dan bagaimana peran media massa mainstream mengakali dan menyembunyikan fakta-fakta, silakan pelajari tulisan Antonio Gramsci tentang hegemoni, lalu Jacques Derrida tentang dekonstruksi, kemudian tulisan-tulisan Edward Said tentang dekonstruksi narasi sejarah dunia arab, dan juga tidak ketinggalan tulisan Gayatri Spivak mengenai penghilangan narasi sub-altern.

Perlu saya tambahkan bahwa meskipun pandangan kritis Edward Said tentang bagaimana Barat memotret Timur [dalam konteks spesifik, Islam] kemudian berkembang pemikiran Orientalism in Reverse (Orientalisme Mundur atau Orientalisme Berbalik) sebuah kritik balik atas provokasi Said – namun menjadi tidak bijak ketika menafikan beberapa poin penting yang diunjukkan oleh Said. Untuk perkenalan bagaimana sebenarnya pengusung Orientalisme in Reverse salah memahami sebagian dari pandangan Edward Said dapat dirujuk kepada tulisan Joseph Massad, The Intellectual Life of Edward Said di dalam Journal  of Palestine Studies XXXIII,  no. 3 (Spring 2004), hlm. 7-22.

Yang menarik dari isu orientalisme vs. orientalisme in reverse di Indonesia adalah digaungkannya orientalisme in reverse oleh beberapa ‘tokoh’ padahal jika hendak fair menampilkan kedua ide dari pemikiran ini maka banyak hal yang dapat kita pelajari untuk kemajuan bangsa. Bersikap elusif, kalis, dan stigmatis terhadap ide orientalisme – tanpa mengulas orientalisme dengan memadai – serta menggegapgempitakan orientalisme in reverse adalah bentuk ketidaktepatan.

Joseph Massad adalah assistant professor dalam bidang modern Arab politics and intellectual history di Columbia University. Ia juga penulis buku Colonial Effects, the Making of National Identity in Jordan (Columbia University Press, 2001) dan Desiring Arabs (University of Chicago Press, 2007).

Edward Said, seorang Kristen Palestina meskipun ada yang mencatatnya sebagai agnostic, terkenal dengan istilah orientalisme. Ia adalah professor dalam English and Comparative Literature di Columbia University.

[xvii] Perang perluasan wilayah di dalam penegakan Islam adalah bukan memaksa orang masuk Islam di bawah ancaman pedang / kematian. Keyakinan ini adalah gembar-gembor yang tidak benar dan sengaja untuk menjelekkan citra Islam. Jika Anda mau mencari tahu sejarah Islam dan bagaimana Islam disebarkan, carilah buku yang ditulis ole akademisi yang disetujui oleh Islam dan non-Islam (jika Anda ogah membaca buku sejarah Islam dari penulis Islam). Jikalau Anda membaca buku sejarah Islam yang ditulis oleh mereka yang berkepentingan merusak atau memberikan stereotip buruk kepada Islam, berarti Anda tidak serius untuk bersikap adil di dalam mencari kebenaran akan sesuatu. Perluasan wilayah oleh “pejuang-pejuang Islam” di bawah komando Muhammad p.b.u.h adalah demi keleluasaan penyebaran pengaruh Islam; dan tidak ada pemaksaan masuk Islam (sebab ada ayat tentang la ikraha fiddin), tidak ada perusakan tempat ibadah (sebab di surat al Hajj 20:40 di dalam Quran menyatakan demikian), dan tidak ada pungutan yang aneh-aneh kecuali pengganti zakat teruntuk non-muslim dzimmi (sebab kepada muslim memang kena wajib zakat dari “negara Islam” sedangkan kepada non-muslim terdapat yang serupa; pemisalan mirip adalah pajak di dunia modern). Lalu bagaimana dengan perusakan gereja atau sinagog sebagaimana akhir-akhir ini terjadi? Jika Anda bijak dan adil menghakimi suatu kasus, maka Anda akan merujuk kepada surat al Hajj 20:40 dan melihat bahwa aktivitas menyimpang bisa dilakukan oleh pemeluk agama mana saja.

Bahkan jika hendak bercanda atas keyakinan salah bahwa Islam disebarkan dengan pedang dan memaksa pemeluk lain untuk masuk Islam dengan ancaman pedang, maka secara logika yang salah tersebut, tidak akan ada oang Kristen dan Yahudi masih hidup pada saat Muhammad p.b.u.h secara efektif menguasai wilayah yang membentang di seluruh semenanjung Arab dan sebagian Afrika pada saat itu. Faktanya justru tidak seperti itu bukan? Kemudian jika anda masih tertarik dengan beberapa isu yang “dituduhkan” kepada Islam (termasuk tuduhan kejahatan pemenggalan kepala kepada “seluruh” suku Yahudi), silakan baca ‘tulisan rujuk link-link’ saya di blog ini (dipanugrahablog.wordpress.com) yang berjudul “Some Questions Addressed to Islam”. Untuk pencarian artikel dengan mudah, silakan klik Home untuk mencari link artikel dimaksud.

[xviii] Non-kombatan = bukan partisipan perang lewat angkat senjata.

[xix] Saya hendak menghilangkan istilah ini, namun karena teks asli tulisan ini terdapat istilah ini yang, mungkin kurang sopan ditujukan kepada pejuang Islam, namun pesan dari teks asli mungkin akan sedikit berkurang dengan hilangnya istilah ini. Oleh karena itulah, istilah ini tetap diambil utuh dari teks aslinya.

[xx] Ketika berbicara ilmu pengetahuan dan kemajuan, jangan dirancukan dengan liberalisme. Legalisasi prostitusi, perjudian, seks bebas, aborsi, pornografi, riba keji, dan alkohol-bebas bukanlah bentuk kemajuan. Hanya Islam yang secara konsisten menentang hal-hal serupa itu. Perlu pula dicatat bahwa bisnis yang terkait dengan hal-hal itu merupakan bisnis “besar” sehingga ketika berbicara tentang “perang ideologi”, Islam merupakan musuh utama dari ideologi kapitalisme liberal karena Islam adalah buruk bagi bisnis “besar” tersebut.

[xxi] Untuk teori Penciptaan Bumi dan Manusia, umat Islam mendapati Harun Yahya atau Adnan Oktar mengajukan teori yang berbeda dengan teori Evolusi. Justru teori yang semodel dengan teori Harun Yahya, Creationism, dipakai oleh beberapa sekolah di Amerika Serikat untuk pemerkaya keilmuan para siswa tentang adanya Pencipta dari alam semesta dan bukan terjadi secara kebetulan dan juga bahan pembanding Teori Evolusi Darwin.

Layak pula untuk diketahui bahwa Harun Yahya hingga kini secara konsisten “diserang” oleh pendukung teori evolusi Darwin dan juga oleh Wikipedia. Sebagai bantahan terhadap sebuah artikel di Wikipedia mengenai “cacat” Harun Yahya, silakan kunjungi:

http://replytowikipedia.com/

[xxii] Silakan baca catatan kaki xvi mengenai tulisan siapa saja yang harus dibaca untuk memahami konsep “penghilangan” bagian-bagian tertentu dan pendistorsian hal-hal penting di dalam sejarah oleh penguasa; pemegang otoritas penulisan narasi.