Hilangnya Kemanusiaan Kita?

Sebuah terjemahan dari tulisan Joan Fleming. Joan adalah penyair dan esais dari New Zealand yang sedang menyelesaikan Ph.D.-nya dengan fokus kajian etnopoetika penduduk pribumi Australia di Monash University. Terjemahan di bawah ini berasal dari salah satu esainya yang judul aslinya adalah “Congealed in a bureau and reduced to a function” yang teks aslinya dapat dinikmati lewat link ini. Terjemahan dan penerbitan di blog ini telah mendapatkan ijin darinya.

=====================

Sudah tidak jamannya lagi di dalam kajian sastra untuk berbicara mengenai universalitas segala sesuatu. Human Nature[1], Totality[2], dan Truth[3]di dalam kajian sastra telah lama dinistakan. Namun pertanyaan yang patut diajukan adalah apakah istilah-istilah tersebut telah benar-benar mengalami pengendapan, pembongkaran, dan karenanya menjadi tidak berguna lagi? Apakah aliran post-strukturalisme[4] dan non-esensialisme[5] telah membuat kita jauh melampaui pengertian a priori[6] mengenai sifat kodrati manusia yang diterima secara umum dan universal?

Stanley Diamond menyadari bahwa antropologi sejatinya adalah pencarian untuk memulihkan apa yang hilang dari masyarakat Barat. Diamond adalah seorang penyair, antropologis yang radikal namun sangat cerdas, dan juga pionir dalam memberikan kejelasan mengenai istilah “primitif”. Di dalam esai bertahun 1968 dengan judul “The Search for the Primitive”, Diamond khawatir bahwa reduksi sejarah manusia menjadi hanya sejarah alam yang mengutamakan pada linieritas dan kemajuan sejarah akan berdampak pada pandangan mekanistis terhadap masa depan manusia: sebuah masa depan di mana laki-laki dan perempuan “dipadatkan dalam suatu unit administratif dan kemudian dinistakan hanya menuruti fungsinya saja bagi kontribusinya terhadap lancar jalannya sebuah sistem”[7]. Apa yang disebut Diamond sebagai masa depan adalah satu waktu yang sedang kita alami sekarang ini: dunia yang cenderung pragmatis, sekuler, gerak laju ditentukan oleh arah pasar, dan mulai meninggalkan hal-hal yang sifatnya magis.

Diamond merujukkan pemikirannya kepada Levi-Strauss yang mempercayai bahwa antropologi mungkin berkembang dalam rangka sebuah pencarian tentang alternatif terhadap kondisi modern sebagai suatu “ekspresi penyesalan terhadap penakhlukan ideologis dan teknis oleh dunia Barat terhadap seluruh permukaan bumi. Orang Barat di dalam dirinya bergolak hidup dalam satu budaya yang awalnya mereka gunakan sebagai alat untuk menguasai budaya lain”. Etnopoetika, bidang yang aku jadikan tema untuk riset Ph.D., digerakkan oleh dorongan yang sama: sebuah pencarian akan tradisi poetika alternatif dan kemungkinan varian lain di dalam seni sajak oral maupun ritual dari orang-orang pribumi jajahan[8].

Sudahlah jelas bahwa pencarian akan warisan poetika dalam suatu budaya yang dijajah dan terancam punah adalah sesuatu yang problematis, dan dapat saja dikatakan bermuatan politis. Riset model seperti ini dapat menimbulkan beraneka macam pertanyaan yang tidak nyaman untuk diajukan semisal: Apakah riset ini adalah cara lain orang-orang kulit putih mengambil sesuatu dari kami, penduduk pribumi, setelah mereka sebelumnya telah berhasil merampas tanah dan juga menghancurkan cara hidup kami? Apakah etika yang menjadi dasar penyair etno kulit putih dalam membuat poetika pribumi menjadi ‘suatu objek kajian’?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah penting untuk dijadikan pertimbangan di dalam risetku. Lepas dari kekhawatiran yang muncul, aku percaya bahwa penduduk pribumi tidak akan mengacaukan proyek risetku di dalam pencarian pemahaman akan khazanah alternatif tentang bagaimana melihat, mempercayai, menjadi, dan membuat sajak menurut cara mereka.

Di Australia, salah satu narasi yang sedang mencuat adalah bagaimana kebijakan pemerintah [kulit putih] dapat mengubah “masalah suku Aborigin” di bidang pendidikan, pemukiman, dan kesehatan. Banyak sekali jargon-jargon retoris yang dipakai di dalam cita-cita “menutup kesenjangan [antara kulit putih dengan suku Aborigin]” lewat pemaksaan pendidikan terhadap anak-anak suku Aborigin menurut tujuan pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah Australia.

Saat aku mengunjungi Yuendumu[9] pada tahun 2008, aku mendapat kabar bahwa kurikulum sekolah yang diambil dari daerah makmur perkotaan Adelaide dipaksaterapkan ke sekolah di Yuendumu. Kurikulum ini dipaksaterapkan tanpa adanya perubahan pada kurikulum tersebut dan juga pemahaman akan kebutuhan serta harapan komunitas Yuendumu.

Sebuah surat terbuka dari komunitas Yuendumu pada tahun 2012 memperkarakan dihapuskannya program bilingual[10] dari pembelajaran di sekolah-sekolah dan pemberlakuan denda kepada orang tua Aborigin yang tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka.

Para orang tua dari suku Aborigin ini menyatakan di dalam surat terbuka mereka bahwa “kedua bahasa baik bahasa Aborigin maupun bahasa Inggris bagi kami adalah sama pentingnya namun kami ingin agar anak-anak kami tetap dapat menjaga bahasa Warlpiri[11]dan belajar untuk dapat membaca pertama kali dalam bahasa Warlpiri dan bukan dalam bahasa Inggris. Jikalau mereka belajar segala sesuatu dengan bahasa Inggris sebagai bahasa utama maka bahasa Warlpiri akan melemah dan anak-anak kami ini akan kesulitan memahami ucapan orang-orang tua mereka yang berbicara dengan bahasa Warlpiri. Ini membuat kami sedih dan ini membuat anak-anak kami sedih dan hilang akar dan arah sejarah”. Model pemaksaan penyeragaman pendidikan yang dilakukan pemerintah Australia kepada suku-suku Aborigin seperti inilah yang masih mencerminkan pola pikir kolonialis.

Pertanyaan mengenai bagaimana membuat orang-orang dari suku Aborigin dapat menyerupai “kita”[12] selalu saja diajukan. Kebalikannya, kita – orang kulit putih – jarang sekali bertanya bagaimanakah ‘mainstream Australia’[13] dapat belajar, melihat, mewarisi, dan juga memahami komunitas-komunitas suku Aborigin yang ada di Australia.

Pekan kemarin saat aku mengunjungi tempat layanan kesehatan, wanita yang membantuku mengisi formulir mengarahkan juga membenarkanku untuk mencentang “No” pada sebuah pertanyaan di dalam formulir itu yang bunyinya: “Apakah Anda keturunan Aborigin atau penduduk asli gugus kepulauan Torres?”. Wanita tersebut nyeletuk: “kamu dilahirkan di luar negeri, sehingga jelaslah benar bahwa kamu mencentangnya pada kotak No”. Aku menimpali celetuknya dengan balik bertanya apakah dimungkinkan bagi seorang keturunan Aborigin untuk terlahir di luar negeri. Jawaban wanita tadi adalah: “tak banyak dari mereka yang terlahir di luar negeri” lalu aku mendengar ia mengatakan dengan lirih “pergi ke luar negeri adalah pergi ke tempat yang jauh dari rumah mereka”.

Menarik untuk dijadikan renungan bahwa di jaman di mana krisis lingkungan global terjadi seperti sekarang ini, kita orang kulit putih, telah berubah menjadi suatu masyarakat yang mencibir keengganan sekumpulan orang untuk meninggalkan tanah yang mereka percayai dan rasai terkait erat dengan nenek moyang dan para kerabat. Tanpa kita sadari, orang-orang seperti mereka-lah yang justru mencintai lingkungan lebih dari kita namun anehnya malah kita jadikan cibiran.

Pertanyaan utama yang diajukan oleh Diamond di dalam esainya adalah kekhawatiran yang selama ini tidak disinggung di dalam kajian akademik: Bagian manakah yang telah sirna dari kemanusiaan kita? Lalu bagaimana dan mengapa kita kehilangan bagian kemanusiaan itu? Dapatkah kita merebutnya kembali?

Aku sangat yakin bahwa kajian etnopoetika, dengan segala tikung selibat poskolonial, dapat memandu kita dalam berpikir untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

=====================

Endnotes

[1] Human nature = sifat, karakter, insting dasar atau kodrati manusia

[2] Totality atau Totalitas adalah suatu cara melihat realitas sebagai suatu keutuhan berdasar diskursus ala Friedrich Hegel. Totalitas adalah hasil dari momen-momen yang bertautan pada saat tertentu. Truth terletak pada totalitas dan bukan pada tiap momen yang ada. Tiap momen adalah hanya sebagian dari truth.

Setiap periode masa tertentu terdapat truth masing-masing. Truth yang disusun dari proposisi-proposisi tertentu pada suatu masa hanyalah memiliki kebenaran pada masa itu saja sebab perbedaan masa akan membuat perbedaan truth.

[3] Truth dengan T besar, atau Kebenaran dengan K besar, adalah tema yang menjadi sentral di dalam diskusi filsafat, sastra, dan budaya. Apakah Kebenaran itu jikalau setiap orang memiliki referen masing-masing dan juga kondisi yang berbeda-beda?

[4] Penjelasan mengenai post-strukturalisme yang paling gampang dicerna adalah sebagaimana diutarakan oleh Roger Jones, n.d., “Post Structuralism” sebagai berikut:

Pada pertengahan abad 20, terdapat beberapa teori struktural mengenai eksistensi manusia. Di dalam studi bahasa (linguistik), Ferdinand de Saussure menyatakan bahwa makna haruslah digali dari struktur padu padan yang ada di dalam seluruh kalimat dan bukan hanya menyandarkan pada analisis tiap kata yang ada dalam satu kalimat. Bagi Karl Marx, eksistensi manusia adalah dapat dipahami berdasarkan analisis pada struktur ekonomi yang berlaku di masyarakat. Sedangkan bagi Sigmund Freud, struktur kejiwaan manusia dapat dijelaskan lewat kondisi bawah sadarnya.

Pada tahun 60an, gerakan strukturalis yang bermarkas di Perancis, mencoba mensintesiskan ide dari Saussure, Marx, dan Freud tadi. Gerakan ini juga tidak sepakat dengan pandangan kaum eksistensialis yang mengemuka saat itu bahwa manusia menjadi dirinya karena dirinya sendirilah yang menentukan bagaimana ia menjadi manusia. Bagi kaum strukturalis, tiap individu dibentuk lewat struktur-struktur linguistik, sosiologis, dan psikologis di luar kendalinya namun dapat diselidiki lewat metode penelitian tertentu.

Semula disebut sebagai bagian dari kaum strukturalis, dalam perkembangan pemikirannya Michel Foucault kemudian berubah sebagai tokoh terkemuka dari gerakan post-strukturalis. Foucault sepakat dengan kaum strukturalis bahwa bahasa dan masyarakat diatur oleh sistem-sistem, aturan-aturan.

Meskipun demikian, Foucault tidak sepakat kepada kaum strukturalis pada dua hal. Pertama dia tidak sepakat mengenai struktur yang pasti untuk dapat dipakai menjelaskan kondisi manusia. Berikutnya adalah, Foucault meyakini kemustahilan berlepas diri dari sebuah wacana-wacana yang membebat seseorang peneliti dan lalu meneliti sesuatu dengan objektivitas yang puritan.

Filosof lain, Jacques Derrida, mengembangkan dekonstruksi sebagai suatu teknik menyibak kemultitafsiran suatu teks. Derrida, terkena pengaruh pemikiran Heidegger dan Nietzche, menyatakan bahwa segala macam teks mempunyai ambiguitas dan oleh karenanyalah kemungkinan menyelesaikan tafsir atas teks dan membuat tafsiran yang lengkap dari suatu teks menjadi pekerjaan yang musykil.

Kedua aliran pemikiran ini, post-strukturalisme dan dekonstruksi, dapat dianggap sebagai formulasi teoretis sebagai jawaban atas kondisi post-modern. Modernitas mencoba menjelaskan segala sesuatu-nya secara rasional, empiris, dan objektif. Modernitas mengasumsikan bahwa ada truth yang dapat disingkap dan ada suatu cara untuk memperoleh jawaban-jawaban atas kondisi manusia. Post-modernisme justru menegasikan adanya kepastian akan hal ini dan juga meragukan superioritas rasionalitas manusia. Rasionalitas dianggap hanya sebagai bentuk pemahaman yang sifatnya historis.

Bahasan di dalam post-modernisme adalah mengenai ‘ketiadaan cara yang benar-benar rasional’ untuk mengevaluasi sebuah pilihan yang berkaitan dengan penilaian akan truth, moralitas, pengalaman estetika, atau objektivitas.

Sembari kaum post-modernis membongkar hierarki pemikiran-pemikiran yang sebelumnya ada, bentuk pemikiran baru mengenai pemahaman yang muncul ke permukaan: gabungan dari pemikiran-pemikiran akan bermetamorfosis, tikung selempang, dan berkembang sebebas-bebasnya dan masa depanlah yang akan menentukan hasil dari interaksi antarpemikiran ini.

[5] Non-essensialisme atau anti-essensialisme adalah aliran pemikiran yang menolak cara pandang kaum essensialis.

Kaum essensialis berpandangan bahwa dunia mengandung jenis-jenis peng-kelas-an segala sesuatu secara alami yang kodrat (nature)-nya ditentukan pada esensi yang tidak dapat diamati (Medin 1989; Medin & Ortony 1989; Gelman, Coley, & Gottfried 1994 semua via H. Clark Barret, “On the Functional Origins of Essentialism”, Mind & Society, 3, Vol. 2, 2001, pp. 1-30).

Esensialis melihat setiap objek di dunia “memiliki esensi-esensi atau sifat kodrati yang membuatnya sebagaimana mereka mengada sebagaimana diri mereka” (Medin, 1989 via H. Clark Barret, “On the Functional Origins of Essentialism”, Mind & Society, 3, Vol. 2, 2001, pp. 1-30) dan esensialis juga memperlakukan setiap objek yang ada di dunia sebagaimana tiap objek tersebut memiliki aneka properti (atau lekatan atau atribut esensial atau karakteristik) sebagai hasil dari esensi tiap objek itu (Barret, 2001: 3).

Contoh dari pola pikir essensialis adalah sebagai berikut (Richard Twine. n.d. “What is Essentialism?”): laki-laki diyakini lebih agresif dibandingkan perempuan karena adanya perbedaan hormonal di antara kedua seks ini. Implikasi dari pandangan ini adalah ‘perilaku oleh’ dan ‘perlakuan yang berbeda atas’ kedua seks.

[6] A priori adalah pengetahuan yang tidak perlu pembuktian atau argumen empiris lagi karena bersumber dari pengetahuan umum yang sudah ada.

[7] Joan Fleming di dalam tulisannya ini mengutip frase dari Diamond: “[men and women are] congealed in a bureau and reduced to a function” atau “[laki-laki dan perempuan] dipadatkan dalam suatu unit administratif dan kemudian dinistakan hanya menuruti fungsinya saja [bagi kontribusinya terhadap lancar jalannya sebuah sistem]”. Untuk menelusuri lebih jauh gaya berpikir kaum fungsionalis, pengenalan singkat tentangnya dapat dibaca lewat tulisan Ashley Crossman.

[8] Barat = white people = kaum kolonial = kaum penjajah

[9] Yuendumu terletak di pinggir padang pasir Tanami, 300 km ke arah barat laut Alice Spring. Yuendumu yang letaknya terpencil adalah salah satu dari komunitas pemukiman suku Aborigin yang terbesar di wilayah tengah Australia.

[10] Bilingual = bahasa Aborigin dan bahasa Inggris (bahasa orang kulit putih)

[11] Warlpiri adalah salah satu bahasa dari suku Aborigin. Bahasa-bahasa lain yang dipakai suku Aborigin misalnya adalah Arrernte, Warumungu, Jaru. Komunitas Aborigin di Yuendumu memakai bahasa Warlpiri sebagai bahasa utama.

[12] Maksudnya adalah “kulit putih”

[13] Mainstream Australia = kulit putih Australia

The Problems Lie within ‘The Act of Killing’

Film, sebagaimana teks naratif lainnya, narasinya dapat dikondisikan bertutur sesuai keinginan pembuatnya. Problem yang membekap setiap narasi ini pernah dikupas oleh Paul Simpson dalam bukunya Language, Ideology, and Point of View (1994) dan sejatinya senapas dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Derrida yang menyorot kaidah penulisan narasi yang dipakai Levi-Strauss dalam paper presentasinya dengan judul Structure, Sign and Play in the Discourse of The Human Sciences (2009).

Film The Act of Killing atau Jagal memang ‘fenomenal’. Film dokumenter yang disutradarai oleh Joshua Oppenheimer ini berhasil memenangkan beberapa penghargaan semisal European Film Award untuk kategori Film Dokumenter terbaik (2013), the Asia Pacific Screen Award (2013), dan 2014 BAFTA Awards. Tidak hanya itu saja, film dokumenter ini digadang-gadang oleh kritikus film dunia semisal Schager (2013) sebagai sebuah major achievement dan juga sebuah masterpiece dari seorang sutradara debutan.

Paragraf pembuka tulisan ini yang dialamatkan kepada The Act of Killing dapat disandingkan dengan tulisan Chin (2002) tentang film Black Hawk Down. Di dalam tulisannya, Chin menunjukkan fakta-fakta sebenarnya yang dilebih-lebihkan atau malah berseberangan dengan apa yang ditampilkan di dalam film Black Hawk Down. Mirip dengan respon kritikus terhadap The Act of Killing, film Black Hawk Down mendapat review positif dari beberapa kritikus film dunia. Chin, seorang jurnalis lepas internasional, menunjukkan bahwa operasi militer yang ditampilkan di dalam film Black Hawk Down sebagai operasi militer demi alasan kemanusiaan adalah tidak benar. Operasi militer terhadap Somalia terjadi karena Amerika Serikat hendak mengamankan proyek eksploitasi minyak dan posisi strategis Somalia yang bertatap muka langsung dengan Laut Arabia. Semua itu dimulai setelah Presiden Somalia yang pro Amerika Serikat dan sudah teken kontrak dengan Amerika Serikat mengenai banyak hal yang menguntungkan, Mohamed Siad Barre, dijungkalkan oleh Mohammed Farrah Aidid yang pro kepada rakyatnya.

Mullin (dalam McGowan, 2002) pernah mengatakan bahwa ‘radio dan televisi adalah [jalur] doktrinasi perang secara psikologis’. Lebih lanjut, McGowan di dalam artikel sarkatisnya menyatakan bahwa tanpa banyak disadari oleh sebagian besar orang, narasi di media massa serta kini juga lewat film adalah corong justifikasi dan pemograman pikiran mengenai fakta yang terjadi di dunia nyata dengan fakta mitologis. Penikmat media massa serta film yang berhasil terprogram akan mendapati bahwa semua yang ditampilkan di dalam media massa maupun film adalah benar-benar terjadi di lapangan sebab mereka kalis untuk tidak meyakini sesuatu yang kerap muncul di media massa yang resmi maupun film yang berstempel “berdasar kejadian sebenarnya”. Narasi yang berada di luar media massa resmi sering malah dianggap sebagai ‘ulah slander’, ‘tidak akurat data’, atau kadang malah dicap sebagai ‘provokator keburukan’ (bdk. Nugraha, 2014; Parenti, 2001).

The Act of Killing tidak bisa tidak adalah sebuah film dokumentasi yang mencoba mereka ulang bagian dari catatan sejarah bangsa Indonesia. Film dokumentasi ini diklaim sebagai penyingkap tabir sejarah yang selama ini dipendam mengenai peristiwa di sekitar tahun 1965 saat pembantaian massal dilakukan terhadap mereka yang diduga sebagai anggota PKI atau hanya simpatisan PKI berdasarkan penuturan Anwar Congo. Meskipun film ini diberi embel-embel sebagai film dokumentasi namun beberapa hal layak kita jadikan pegangan sebagai wacana banding.

Film adalah tetap film dan ia mempunyai potensi sebagai alat propaganda. Sebagaimana juga diakui oleh Oppenheimer ketika diwawancarai oleh Ritchie (2012). Oppenheimer di dalam wawancara ini menyadari sejak semula bahwa ‘realitas’ adalah sebuah konstruksi narasi yang dioperkan lewat siklus penceritaan kepada orang lain dan generasi berikutnya serta kemungkinan gubah ulang narasi dan penambahan mitos. Jika Oppenheimer sejak semula sudah menyadari tentang potensi film sebagai alat gubah ulang narasi dan penambahan mitos maka di dalam perspektif dekonstruksi, film dokumentasi garapannya pun secara eksplisit menyimpan celah-celah mitologis.

Cribb (2013), seorang profesor di bidang kajian politik dan sejarah Asia dari Australian National University, memberi nasihat kepada penikmat film The Act of Killing agar berhati-hati di dalam mencerna ‘fakta’ yang ditampilkan di dalamnya. Cribb mewanti-wanti bahwa beberapa hal di dalam film ini bersifat misleading sebab seakan-akan menggiring kepada pemahaman khas kaum Orientalis bahwa rakyat Indonesia, dengan digerakkan oleh kekuatan angkatan darat [Soeharto], melakukan tindakan penjagalan tanpa perikemanusiaan kepada kaum komunis.

Apa yang dimaksud oleh Cribb di dalam telaah kritisnya terhadap film dokumentasi The Act of Killing mengarahkan kita agar menengok dengan serius kepada sejarah bangsa Indonesia yang bukan parsial fragmentaris hanya pada tahun 1965 mengenai rakyat Indonesia dan komunisme. Seakan-akan ia hendak mengatakan: bacalah kisah konflik di Indonesia yang disulut PKI di tahun 1948 dan konflik-konflik prolog sebelum meledak kejadian 1965. Seakan-akan sejarah pembunuhan terhadap orang-orang PKI hanya satu kejadian yang tidak memiliki latar belakang yang kompleks. Dengan film itu, ada cerita-cerita yang hendak disisihkan atau dibuang dari alur lengkap sebagai pretext seperti bagaimana PKI sebelumnya melakukan teror dan pembunuhan dalam peristiwa-peristiwa Bandar Betsy, Magetan, Kanigoro, Soco, dan tempat-tempat lain di pulau Jawa (cf. Maksum dkk, 1990; Fadli Zon & Aliuddin, 2005).

pengumuman-polit-biro-pki

Lebih lanjut, Cribb menunjukkan bahwa apa yang terjadi di sekitar tahun 1965 sebagaimana tergambar di dalam film The Act of Killing justru menampilkan beberapa penjagal yang membuat pengakuan bombastis mengenai tindakan tanpa perikemanusiaan mereka dan ini malah tidak baik. Seakan-akan film ini hendak menampilkan ketidakberdayaan dan ketidakbersalahan para korban dari sebuah kekejian yang disulut lewat trauma sejarah antara pihak yang kemudian menang  yang ‘hanya’ diwakili oleh penuturan para penjagal -jika memang hendak digunakan istilah ini- dengan mengabaikan latar belakang peristiwa yang runtut dan saling taut-menaut. Tidak berhenti begitu saja, Cribb juga mempertanyakan otentisitas seluruh pengakuan Anwar Congo dan rekan-rekannya. Memang Cribb tidak meragukan bahwa Congo dan rekan-rekannya mungkin melakukan tindakan keji sebagaimana mereka akukan di dalam film tersebut namun Cribb merasa risau dengan kesan manipulatif yang nampak di beberapa bagian dalam film ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Dadras di dalam tulisannya ‘The Act of Killing’ and How Not to Get Conned by a Charming Madman (2014). Dadras menunjukkan bahwa hasrat Oppenheimer untuk membuat film dokumentasi yang mampu menggiring penikmat film secara emosional telah tercapai dengan sempurna lewat tokoh madman yang mempesona, Anwar Congo. Secara umum, kritik Dadras terhadap film The Act of Killing terletak pada potensi rekayasa point of view antagonis dan protagonis (bdk. Simpson, 1994; Morris, 2013) dan pembuatan a good story (and tell a good lie). Congo dan teman-temannya di dalam film dokumentasi ini telah dibuat dalam posisi sebagai korban sejarah yang seakan-akan dipaksa untuk membunuh secara keji tanpa tahu alasan mereka harus melakukannya dan sebuah justifikasi keluguan akan konsep kepahlawanan (bdk. Morris, 2013).

Negara Indonesia adalah negara yang makmur dengan sumber daya alam yang luar biasa dan memiliki potensi untuk menjadi bangsa yang besar. Penciptaan kebingungan akan sejarah bangsa Indonesia, jika berbicara mengenai FUD, adalah penting karena akan mempermudah penguasaan dan divide et impera. Film yang sedang dibahas ini besar kemungkinan menjadi prolog bagi narasi-narasi berikutnya bagi lempang jalan FUD.

Sadar bahwa narasi propaganda sering dimunculkan lewat media massa dan produk pop culture sebagai bentuk pemrograman alam bawah sadar mengenai ‘realitas’ dan dalam usaha penciptaan kesibukan pikiran lewat FUD (Fear, Uncertainty, and Doubt) maka pepatah lama layak kita recall: ojo gumunan, ojo kagetan, ojo getunan. Tidak usah bingung, kaget, kecewa dan lalu lepas kontrol. Jikasanya ada laporan bahwa di tahun 1965 pembunuhan terjadi bukan hanya atas orang-orang PKI namun juga kepada mereka yang dituduh sebagai PKI meski belum terbukti di pengadilan dan mereka yang benar-benar tidak tahu-menahu tentang PKI maka memang bisa jadi benar. Akan tetapi untuk mengatakan bahwa PKI tidak memiliki masalah dalam perjalanan sejarah bangsa ini sehingga muncul kisah balas dendam di tahun 1965 adalah tidak tepat.

Soeharto, sebagai pemenang intrik dan kisruh politik serta militer di sekitaran tahun 65, memang melakukan kekeliruan sebab menisbatkan kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang-orang PKI tercurah juga kepada anak keturunan mereka. Tindakan ini adalah keliru karena dari sisi manapun adalah konyol untuk menjatuhkan hukuman kepada yang tidak bersalah; kepada anak cucu orang-orang PKI. Barangkali Soeharto begitu takutnya terhadap PKI sehingga secara irasional menjatuhkan hukuman secara membabi-buta tapi pastinya kita tidak tahu atau tidak akan pernah tahu. Sejarah tidak untuk dilupakan mengenai bagaimana PKI telah lebih dari sekali menusuk punggung Indonesia. Mungkin juga dari situlah muncul istilah ‘laten’ disematkan kepada PKI karena Soeharto tahu ketika ia sudah ambil risiko untuk keras kepada PKI -bahkan hingga dengan cara yang tidak rasional- maka ada potensi yang ia patut khawatiri dari dendam yang bisa diusung dari kemunculan kembali PKI.

Apapun kita tidak tahu persis apa yang terjadi sehingga ada pembunuhan besar-besaran di tahun 1965 jika dan hanya jika menafikan bagaimana beberapa ormas terlibat kontak fisik sebelum tahun itu. Kini ada narasi-narasi baru mengenai kisah G30S dengan didasarkan pada ‘kesaksian’ dan bukti-bukti baru yang justru makin membuat kisah konflik di sekitar tahun 1965 menjadi kian kusut.

In East Sumatra armed Bataks led by leftists attacked the rajas in March [1946], and hundreds of aristocrats were killed, including the poet Amir Hamzah. The Republican politicians opposed this violence, and by the end of April most of these social revolutionaries were arrested or hiding. …

In August the PKI leader Musso returned from the Soviet Union after twenty years of exile. Amir Sjarifuddin announced that he was a Communist, and they proposed a single party for the working class. The PKI encouraged the workers to demonstrate and take over landlords’ fields in Surakarta; but Masjumi opposed this, and strict Muslims refused to join the strikes. Communists killed 240 Muslim leaders and dumped their bodies down wells. Tan Malaka was pardoned on August 17, but he denounced Amir as an agent of the Dutch and formed his own party. In September the PKI formed a new politburo replacing Alimin and Sardjono with Musso, Amir, and others. The PKI fought the Republican army, but the Siliwangi Division drove them out of Surakarta.

On August 18 the PKI took over Madiun, killed Republican officials, and announced on radio a National Front government. Musso, Amir, and others rushed to Madiun to take charge. However, no uprising in Yogyakarta took place. The next day about 200 PKI and leftist leaders were arrested in Yogyakarta, and Sukarno denounced them as rebels on the radio. The insurgents retreated to the mountains and fought for weeks. The PKI had more than 5,000 soldiers in Madiun, but Nasution’s Siliwangi Division pushed them out of there by September 30. The Communists were killing Masjumi and PNI officials, but one of their last units was captured on October 28; Musso was killed three days later while trying to escape. Amir and 300 soldiers surrendered on December 1. About 35,000 people were arrested, and an estimated 8,000 PKI supporters had been killed (Sanderson Beck, “Indonesia and the Dutch 1800 – 1950” in South Asia 1800 -1950)

Ketika ada kawan memberi masukan mengenai penggunaan data terbaru yang nampaknya ia tautkan dengan isu G30S PKI yang kini mulai banyak terbit. Mungkin aku saat itu lupa balik bertanya padanya: merujuk pada versi milik siapakah aku sebaiknya merombak cerita ini semua? Sembari paham bahwa menjadi kewajaran bila berhati-hati pada kesaksian mereka-mereka yang memendam dendam begitu lama, para penulis (baca: peneliti) sejarah yang kadang mengusung misi dan ideologi tertentu, dan mereka yang membeberkan kisah di bawah sorot lampu kamera pula diarahkan sutradara sinema – yang terakhir ini bisa jadi tereja di film ‘The Act of Killing’.

PERTANYAAN KONTEMPLATIF

Menimbang sejarah revolusioner PKI di Indonesia sejak awal abad dua puluh baik di masa Belanda masih berkuasa hingga perang kemerdekaan.

Menimbang teladan revolusi kiri saat itu di beberapa negara.

Menimbang kondisi yang memanas di tahun 40-an hingga 60-an di beberapa bidang antara PKI dengan partai-partai lain serta ormas-ormas yang ada.

Menimbang kondisi Sukarno yang sakit-sakitan sementara Sukarno dengan gembar-gembornya di dunia Internasional mengenai Pancasila menjadi payung pemersatu perbedaan yang ada telah pada tahun-tahun kepresidenannya bisa relatif mengademkan friksi KOM dengan NASA.

Jika Sukarno kemudian meninggal, lepas dari konon adanya persaingan kekuasaan di dalam tubuh Angkatan Darat sebagai pre-teks lain juga pre-teks yang lainnya yakni blokade perluasan pengaruh komunisme yang merayap pelan tapi pasti dari utara menuju semenanjung Malaya lewat operasi intelijen CIA dan MI-6, apakah PKI yang merupakan partai empat besar di dalam ukuran massa saat itu akan melanjutkan NASAKOM? Apakah tidak akan ada revolusi sebagaimana percobaan-percobaan sebelumnya yang telah dilakukan PKI sejak masa Belanda, Sumatera, hingga kisah di Madiun, dan agitasi tahun 60-an meskipun Aidit sempat berusaha mengademkan suasana dengan jawabannya di dalam sebuah wawancara mengenai sila kesatu Pancasila, pandangannya mengenai umat Budha, dan lalu argumennya mengenai anggota PKI yang atheis dan juga ada yang Islam (cf. Tim Historia, “wawancara DN Aidit,” 2016)? (Dipa Nugraha)

Mungkin juga, bukan hendak membela Soeharto, penelusur sejarah masa kini juga harus ingat mengenai historian’s fallacy yang menjebak argumentasi objektif mereka. Mereka tidak berada di sana, ketika Soeharto ambil keputusan tentang PKI. Mereka, para penelusur sejarah, tak di sana ketika atmosfer panas terjadi. Demikian ini mengingatkan kita pada ucapan yang populer di Australia: reds under the bed. Australia juga punya trauma terhadap kebangkitan komunisme yang mungkin bukan karena pengaruh politik pasca Perang Dunia II lalu sambung Perang Dingin namun kisah-kisah semacam Pol Pot dapat membuat warga Australia tetap alert akan trauma komunisme. Itu wajar sebab ada ketakutan di sana.

REFERENSI

Beck, Sanderson. 2008. South Asia, 1800 -1950. Australia: World Peace Communications.

Chin, Larry. 3 Januari 2002. “Black Hawk Down: Hollywood Drags Bloody Corpse of Truth Across Movie Screens” dari Online Journal. Web. 28 Februari 2014. Diakses dari:

http://www.rense.com/general18/blackhawk.htm

Cribb, Robert. n.d. “Review: an Act of Manipulation?” dalam Inside Indonesia 112 edisi  April – Juni 2013. Web. 28 Februari 2014. Diakses dari:

http://www.insideindonesia.org/weekly-articles/review-an-act-of-manipulation

Derrida, Jacques. 13 Februari 2009 (updated). “Structure, Sign, and Play in the Discourse of the Human Sciences” dalam Writing and Difference, trans. Alan Bass. London: Routledge, pp 278-294. Web. 28 Februari 2014. Diakses dari:

http://hydra.humanities.uci.edu/derrida/sign-play.html

Fadli Zon & M. Halwan Aliuddin (editor). 2005. Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948. Jakarta: Komite Waspada Komunisme.

Maksum, Agus Sunyoto, A. Zainuddin. 1990. Lubang-lubang Pembantaian: Petualangan PKI di Madiun. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

McGowan, David. 20 Januari 2002. “Celluloid Heroes: Part I or You Can See All the Blood as You Walk Down Hollywood Boulevard (with Apologies to The Kinks)”. Web. 28 Februari 2014. Diakses dari:

http://www.davesweb.cnchost.com/wtc12.html

Morris, Errol. 10 Juli 2013. “The Murders of Gonzago”. Web. 28 Februari 2014. Diakses dari:

http://www.slate.com/articles/arts/history/2013/07/the_act_of_killing_essay_how_indonesia_s_mass_killings_could_have_slowed.html

Nugraha, Dipa. 17 Januari 2014. “Pemilu 2014 yang Sehat, Sebuah Utopia?”. Web. 28 Februari 2014. Diakses dari:

http://joglosemar.co/2014/01/pemilu-2014-yang-sehat-sebuah-utopia.html

Parenti, Michael. Mei 2001. “Monopoly Media Manipulation”. Web. 28 Februari 2014. Diakses dari:

http://www.michaelparenti.org/MonopolyMedia

Ritchie, Kevin. 30 Oktober 2012. “Mixing The Real and The Surreal in ‘The Act of Killing’”. Web. 28 Februari 2014. Diakses dari:

http://realscreen.com/2012/10/30/mixing-the-real-and-the-surreal-in-the-act-of-killing/

Schager, Nick. 17 Juli 2013. “The Act of Killing is a Masterpiece of Murder and the Movies”. Web. 28 Februari 2014. Diakses dari:

http://www.villagevoice.com/2013-07-17/film/the-act-of-killing/

Simpson, Paul. 1994. Language, Ideology, and Point of View. New York: Routledge.

Tim Historia. 18 April 2016. “Wawancara DN Aidit: “PKI menentang pemretelan terhadap Pancasila.” Web. 1 Mei 2016. Diakses dari:

http://historia.id/modern/wawancara-dn-aidit-pki-menentang-pemretelan-terhadap-pancasila

[modifikasi terakhir 1 Mei 2016]

Creative Commons License
The Problems Lie within ‘The Act of Killing’ by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Sastra dan Dekonstruksi

Dekonstruksi adalah suatu istilah yang kerap dikaitkan dengan Jacques Derrida meskipun Derrida sendiri agak ogah-ogahan dengan istilah tersebut (bdk. Zehfuss dalam Edkins dan Williams ed., 2010: 182) dan menyesal karena dianggap “menetapkan” takdir makna istilah dekonstruksi sebagaimana diamini orang-orang (Lawlor, 2006). Dekonstruksi sebagai suatu bentuk filosofi dianggap sesuatu yang radikal, ia menantang aliran filsafat yang sudah mapan (mis. Fenomenologi ala Husserl maupun Heidegger dan Strukturalisme ala Saussure), bikin masuk angin teolog (mis. karena tulisannya tentang Messianisme dan Abraham), buat geleng kepala namun salut sejarawan (karena tulisan sejarah selalu terbuka untuk diedit), tak ketinggalan setidaknya bikin kembung kalangan akademisi filsafat namun justru oleh sebagian orang dianggap menginspirasi gerakan sayap kiri, feminisme, skeptisme, dan poskolonialisme (cf. Sterne, 2004 dan Reynolds, 2010). Inti dari pemikiran Derrida lewat dekonstruksi adalah pengunjukan bahwa bagaimana bahasa telah memberi batasan dan kondisi bagi pikiran. Derrida mendobrak batasan tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada meaning dan hirarki di dalam bahasa yang diyakini tetap sebagai tetap melainkan terus berubah dan tidak tertentukan (undecidables) (Dorbolo, 2004).

Derrida berpendapat bahwa pemikiran Barat disusun oleh dikotomi oposisi biner dan ia menyebutnya sebagai ”metafisika kehadiran” atau dapat juga disebut sebagai “metafisika”. Dua penyusun oposisi biner ini bersifat saling berlawanan dan eksklusif satu sama lain namun ko-eksisten. Kata “siang” berlawanan dengan “malam”, kata “siang” tidak bisa menggantikan kata “malam” karena keduanya eksklusif dalam kediriannya, dan kata “siang” tidak signifikan jika tidak ada pembandingnya, yaitu kata “malam” (bdk. Lao Tzu, 1995). Lebih jauh lagi, Derrida melihat di dalam pemikiran Barat sejak jaman Plato bahwa di dalam oposisi biner tersebut ada peletakan tatanan hierarkis atasnya. Derrida melihat bahwa meskipun ko-eksisten namun salah satu istilah atau kata tersebut dianggap mempunyai derajat yang lebih tinggi dibanding lainnya; “siang” lebih bagus daripada “malam”, “kehadiran” lebih baik daripada “absen”, ”positif” lebih duluan daripada ”negatif”, dan bahwa “ujaran” lebih unggul daripada “tulisan” (Reynolds, 2010).

Perlu untuk dicatat, bahwa salah satu strategi dari dekonstruksi adalah pembalikan posisi dari hirarki oposisi biner (Reynolds, 2010). Derrida di dalam bukunya Of Grammatology mengkritisi keadaan pemikiran yang menyatakan bahwa ”ujaran” lebih baik daripada ”tulisan”. Ada dikatakan bahwa “tulisan” adalah bentuk representasi yang nilainya lebih rendah bila dibandingkan dengan “ujaran” karena apa yang dikatakan lewat “ujaran” merupakan keluaran yang langsung dari tubuh sehingga dianggap lebih dekat dengan pikiran asli (Selden dkk., 1997: 171-172) dan ”ujaran” sebagai simbolisasi realitas yang pertama menurut pemikiran strukturalis dikatakan lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan ”tulisan” yang merupakan simbolisasi dari ”ujaran” (Reynolds, 2010). Perlu diketahui bahwa pada pemikiran strukturalis, dikatakan bahwa kita hanya “mengalami realitas” namun tidak akan bisa mengetahui realitas-di-dalam-kesejatiannya. Untuk melihat realitas kita harus menggunakan simbol, kode, atau tanda. Simbol, kode, atau tanda bukanlah realitas namun “pengalaman akan realitas” terpaksa kita representasikan ke dalam bentuk simbol, kode, atau tanda agar realitas tadi menjadi diketahui. Dengan melakukan demikian maka pengertian memahami realitas adalah “mengetahui realitas lewat tanda dan sistem tanda”. Jikalau intensi representasi realitas yang harus ditransferkan muncul ”ujaran”, maka berdasar pemikiran strukturalis, ”tulisan” adalah bentuk derivasi kedua dari representasi akan realitas. Jadi urutannya adalah ”realitas” –> ”ujaran” –> ”tulisan”. Pemikiran demikian lalu menempatkan ”tulisan” jauh ketepatan dan kesesuaiannya dibandingkan ”ujaran” di dalam merepresentasikan realitas. Karena ”tulisan” merupakan simbolisasi dari simbol yang sudah lebih duluan (”ujaran”) (Lye, 1998; Reynolds, 2010). Argumen Derrida menentang pendapat tersebut. Derrida setuju hanya pada bagian bahwa baik ”ujaran” maupun ”tulisan” merupakan sistem tanda dan bukan realitas itu sendiri. Namun ia mempertanyakan pernyataan dari kaum strukturalis, khususnya tesis Saussure, yang menyatakan “the arbitrariness of the sign”. Jika tidak ada kaitan antara tanda dan yang ditandai maka ”ujaran” (yang merupakan sistem tanda) tidaklah bisa dikatakan lebih baik daripada ”tulisan”.

Derrida juga memunculkan istilah différance. Différance berasal dari bahasa Perancis yang mempunyai arti to differ (membedakan) dan to defer (menunda).  Sebagai contoh: ambil sign “mobil”. “Mobil” merepresentasikan “kehadiran” sesuatu itu di dalam “ketidakhadirannya”. Ketika sesuatu itu tidak dapat ditunjukkan, maka kita akan “menelusuri jalan memutar dari sign itu” (Derrida, 1982: 9). Kata “mobil” sebenarnya bukan mobil itu sendiri sehingga dapatlah dikatakan bahwa sign menunda “kehadiran” dan membedakan “kehadiran” dirinya dengan “kehadiran yang tidak hadir”. Ide mengenai différance mempertanyakan otorita “kehadiran” (Zehfuss, 2002: 200) sebab ketika sign dimunculkan maka timbul masalah lain. Sebuah sign di dalam suatu teks tidaklah bisa dikontrol oleh pencipta teks. Berdasar “the arbitrariness of the sign”, sebuah sign bisa merujuk kepada sesuatu yang berbeda dengan maksud dari pemuncul sign tersebut di dalam teks. Tidak ada jaminan bahwa rujukan yang sama atas sign itu bakal dimiliki oleh reseptor teks.

Ia juga menyatakan bahwa makna adalah sesuatu yang sangat labil. Pengertian-pengertian identifikasi dalam bentuk istilah-istilah semisal “perempuan” adalah sebuah fiksi yang menandai penetapan makna yang sifatnya sementara saja, parsial, dan arbitrer (Barker, 2005: 477). Dus memungkinkan pula kepada kita untuk “terus” mendeskripsikan ulang apa yang dikotakkan di dalam definisi istilah “perempuan” dalam suatu proses inversion (pembalikan posisi marjinalnya dihadapkan dengan “laki-laki”), displacement (penukaran letak pusat-nya menjadi “perempuan”), argumentasi kontra supplement (bahwa salah satu istilah dari oposisi biner adalah pelengkap dari istilah lainnya) (cf. Reynolds, 2010).

Derrida (dalam Selden dkk., 1997: 174) menunjukkan bahwa pembacaan terhadap tulisan atau teks berkisar pada tiga karakteristik:

  1. Teks adalah tanda yang dapat direproduksi di dalam ketidakhadiran tidak hanya pencipta teks di dalam konteks khusus, namun bahkan dalam ketidakhadiran referen.
  2. Teks dapat menunjukkan “konteks riil” dan dapat dibaca di dalam konteks yang berbeda meskipun berbeda dengan maksud pencipta teks. Rangkaian tanda yang ada di dalam teks dapat dibangunkan sebuah wacana di dalam konteks yang berbeda (sebagaimana terjadi di dalam kutipan).
  3. Teks menjadi sesuatu yang rentan “peruangan” dalam artian dua hal: (1) Teks telah terpisah dari teks-teks lain di dalam rangkaian yang khusus, (2) Teks terpisah dari “referen aktual” (sebab teks hanya dapat merujuk kepada sesuatu yang sebenarnya tidak hadir di dalam dirinya).

Secara umum, dekonstruksi dapat diartikan sebagai cara pembacaan teks yang “bukan metode atau alat yang bisa diterapkan pada sesuatu dari luar sana … [namun] adalah sesuatu yang  terjadi dan sedang terjadi di dalam” (Derrida dalam Caputo, 1997: 9). Dekonstruksi, sebagai pemikiran Derrida, juga kerap disebut sebagai filosofi hesitasi (Reynolds, 2010) karena setiap pilihan yang kita ambil, selalu tidak bisa kita justifikasikan (cf. Derrida, 1995: 70). Namun dekonstruksi bukanlah penghancuran makna teks dan tidak:

berlangsung melalui kecurigaan acak atau subversi manasuka, melainkan dengan cara menarik keluar dengan hati-hati kekuatan-kekuatan signifikansi yang saling berperang di dalam teks (Johson dalam Barry, 2010: 83)

serta dapat:

menuju ke suatu hubungan tertentu, yang tidak tertangkap oleh penulis, antara apa yang ia maksudkan dan apa yang tidak ia maksudkan pada pola-pola bahasa yang ia pakai … membuat yang kasatmata menjadi terlihat (Derrida dalam Barry, 2010: 83)

sebab setiap teks:

dapat dianggap mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang tampaknya ia katakan … teks dapat dianggap membawa signifikansi majemuk atau mengatakan banyak hal-hal yang berlainan, yang secara fundamental menegasi, menyangkal, atau mensubversi apa yang oleh kritik bisa disebut akan makna ‘stabil’ tunggal. … sebuah teks dapat mengkhianati dirinya sendiri (J.A. Cuddon dalam Barry, 2010: 83).

Sehingga penerapan dekonstruksi terhadap suatu teks, atau dalam konteks tulisan ini adalah teks sastra, dapatlah berorientasi sebagai berikut (Culler dalam Lye, 2008; Barry, 2010: 85):

  1. Penyingkapan ketaksadaran tekstual, bahwa makna yang diungkapkan mungkin berbeda dengan makna di permukaan. Atau dengan kata lain, membaca teks dalam rangka mencari bentuk pengkhianatan teks terhadap dirinya sendiri. Contoh pembacaan dekonstruktif ini dapat kita temukan pada karya Chairil Anwar “Aku”. Sajak “Aku” atau kadang disebut berjudul “Semangat” bukanlah bentuk sajak perjuangan yang tak kenal takut. Teks sajak “Aku” pada bagian akhir ada baris yang berkata: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Justru baris ini menjadi signifikan, karena dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa si aku menyesal telah tidak peduli akan peluru yang menembus kulitnya. Ia menyesal dan ingin hidup lebih lama lagi. Jadi sajak ini bukan bentuk kematian yang gagah berani; yang patriotik; yang sonder rajuk justru malah suatu penyesalan si aku karena telah terlalu gegabah sehingga kematian yang sebentar lagi datang membuatnya takut.
  2. Pencarian kata-kata yang sudah mati (atau sekarat) signifikansinya yang kontradiktif kemudian dikedepankan sehingga dapat membawa makna krusial bagi keseluruhan teks.
  3. Penunjukkan bahwa teks disifatkan oleh ciri ketidakpaduannya dan bukan keterpaduannya. Contoh pembacaan dekonstruktif ini dilakukan oleh Katrin Bandel (2006: 143-163) atas karya Djenar Maesa Ayu “Nayla” yang dapat dikatakan sebagai karya yang dibuat dengan benturan plot yang tidak logis dus suatu bentuk ketergopohan pencipta teks.
  4. Penunjukkan fragmen tertentu sebagai pusat analisis sehingga mustahil terjadi univokal pembacaan; yang terjadi adalah multiplisitas makna. Contoh yang bagus tentang ini adalah sajak Robert Frost “The Road Not Taken”. Pada bagian: And that has made all the difference, tidak bisa ditentukan dengan jelas apakah si traveller menyesal dengan pilihan yang telah dibuatnya atau tidak. Klaim bahwa yang benar adalah si traveller menyesalkan pilihan yang telah dibuatnya sebagai satu-satunya makna yang sah adalah labil vice versa.
  5. Pencarian pergeseran, patahan, retakan di dalam teks dan membuktikannya sebagai bentuk yang sengaja direpresi, dihapus, dilewati oleh teks.
  6. Pembuktian bahwa teks memiliki makna berbeda daripada interpretasi yang diterima sebagai benar atau primer. Contoh yang bagus adalah pembacaan dekonstruktif interpretasi primer terhadap novel karya Marah Rusli “Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)” oleh Aziz Abdul Ngashim (2010). Ngashim menunjukkan bahwa interpretasi primer selalu mengatakan bahwa Sitti Nurbaya adalah korban kawin paksa oleh orang tuanya. Di dalam tulisannya, Ngashim menggoncang interpretasi tersebut dus menyatakan bahwa justru Sitti Nurbaya mengorbankan dirinya sehingga dinikahi Datuk Meringgih agar bapaknya tidak dipenjara setelah gagal membayar utang. Ngashim lewat tulisannya juga menggugat sebuah keberterimaan umum bahwa kawin (di)paksa oleh orang tua adalah serupa kisah Sitti Nurbaya dan blunder umum tersebut berarti memfitnah ayah Sitti Nurbaya (yaitu Baginda Sulaiman) serta memelencengkan bentuk rela berkorban dan bakti orang tua sebagaimana diteladankan oleh Sitti Nurbaya.
  7. Pemfokusan bahwa sesuatu yang marjinal di dalam teks, semisal karakter non-utama, justru merupakan ‘pusat’ atau sesuatu yang ‘mengontrol’  seluruh makna teks. Contoh yang bagus adalah semisal pembacaan dekonstruktif terhadap novel “Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)”. Proposisi yang bisa dimunculkan adalah pergeseran status tokoh di dalam novel tersebut. Jika terketahui bahwa novel ini memiliki latar sosio-historis pemberontakan rakyat Padang terhadap Belanda karena kebijakan pajak. Maka pembacaan Faruk (1999: 48-49) yang menyatakan bahwa Samsul Bahri sebagai tokoh utama adalah bermasalah. Bagaimana tidak? Samsul Bahri-lah yang berada di pihak Belanda ketika terjadi pertempuran dengan rakyat Padang. Pun juga Samsul Bahri pula yang mengganggu istri Datuk Meringgih dengan berciuman di malam hari di salah satu fragmen novel tersebut. Datuk Meringgih adalah pahlawan (hero) sesungguhnya karena sokongannya kepada perjuangan melawan Belanda lepas dari cara liciknya mendapatkan Sitti Nurbaya sedangkan Samsul Bahri adalah pengkhianat negara dan perusak perkawinan orang sehingga lebih layak dia disebut sebagai penjahat (villain).

DAFTAR PUSTAKA

Bandel, Katrin. 2006.  “Nayla, Potret Sang Pengarang Perempuan sebagai Selebriti” dalam Sastra, Perempuan, dan Seks. Yogyakarta: Jalasutra.

Barker, Carlos. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktik, terjemahan Tim KUNCI Cultural Studies Center. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

Barry, Peter. 2010. Beginning Theory, Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya terjemahan Harviyah Widiawati dan Evi Setyarini. Yogyakarta: Jalasutra.

Caputo, John D. 1997. Deconstruction in a Nutshell: A Conversation with Jacques Derrida. New York: Fordham University Press.

Derrida, Jacques. 1981. Positions, terjemahan Alan Bass.  London: Athlone Press.

_____________. 1982. Margins of Philosophy, terjemahan Alan Bass.  Chicago: The University of Chicago Press.

_____________. 1995. The Gift of Death, terjemahan Wills. Chicago: University of Chicago Press.

Dorbolo, Jon. 2004. Jacques Derrida: Duality, Hierarchy, Priority. Diakses pada Kamis, 16 Juni 2011 pukul 6:59 WIB dari alamat laman:

http://oregonstate.edu/instruct/phl201/modules/Philosophers/Derrida/derrida_duality.htm

Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lawlor, Leonard. Wed 22 Nov, 2006. Jacques Derrida. Diakses pada Kamis, 16 Juni 2011 pukul 6:54 dari alamat laman:

http://plato.stanford.edu/archives/win2006/entries/derrida/

Lye, John. 30 April 2008. Deconstruction: Some Assumptions. Diakses pada Selasa, 7 Juni 2011 pukul 13:37 WIB dari alamat laman:

http://www.jeeves.brocku.ca/english/courses/4F70/deconstruction.php

Ngashim, Aziz Abdul. 2010. Jangan Fitnah Siti Nurbaya. Diakses pada Senin, 7 Juni 2011 pukul 11:45 WIB dari alamat laman:

http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/28/jangan-fitnah-siti-nurbaya/-12

Reynolds, Jack. 2010. Jacques Derrida (1930 – 2004). Diakses pada Kamis, 9 Juni 2011 pukul 16:40 WIB dari laman:

http://www.iep.utm.edu/derrida/


Selden, Raman; Peter Widdowson; dan Peter Brooker. 1997. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory Fourth Edition.  Hertfordshire: Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf.

Sterne, Jonathan. 2004. Some Simple Thoughts on Jacques Derrida (1930-2004) diakses 16 Juni 2011 pukul 6:31 WIB dari alamat laman:

http://bad.eserver.org/editors/2004/thoughts_on_jacques_derrida.html

Tzu, Lao. 20 Juli 1995. Tao Te Ching a translation by S. Mitchell. Dibaca 1 April 2011 pukul 10:30 WIB dari alamat laman:

http://academic.brooklyn.cuny.edu/core9/phalsall/texts/taote-v3.html


Zehfuss, Maja. 2002. Constructivism in International Relations: The Politics of Reality. Cambridge: Cambridge University Press.

__________. 2010. “Jacques Derrida” dalam Teori-teori Kritis Menantang Pandangan Utama Studi Politik Internasional, Edkins dan Williams ed. terjemahan Teguh Wahyu Utomo. Yogyakarta: Pustaka Baca!

Creative Commons License
Sastra dan Dekonstruksi by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.