Realitas

Di dalam film pre-sekuel trilogi Matrix yang dibuat dalam bentuk animasi, [The] Animatrix, kebedebahan atas nasib umat manusia dimulai dari langit gelap yang tak mendapat cahaya mentari.

Di dalam Animatrix, keputusan gegabah para pemimpin umat manusia itu dibuat dengan niatan memblok sinar matahari agar para andro-robot tak mendapat sumber energi. Hasilnya justru fatal. Dari situlah manusia kalah oleh rasa terlalu percaya dirinya dan malah dari situlah para andro-robot menemukan sumber energi baru: amino manusia.

Dari situlah dunia matrix muncul. Manusia yang kalah dalam perang besar terakhir melawan andro-robot dipaksa hidup dalam dunia baru yang diimplant dalam otak mereka: ‘realita’ matrix. Sementara manusia hidup dalam dunia matrix dan merasa bahwa realitas adalah apa yang mereka ‘alami’ di dalamnya, realita sebenarnya adalah tubuh mereka sedang dimanfaatkan aminonya.

Begitulah film Matrix membenturkan pengertian realitas itu. Ia mirip sebuah novel Iwan Simatupang yang berbicara manakah yang real? Waktu bangun terjaga ataukah saat kita ‘hidup’ di dunia mimpi saat kita tidur?

Reality Word Cloud by rachelbinx

credit pic: rachelbinx

Menarik juga jika bicara tentang ini kita tautkan dengan film Epic. Film animasi ini berbicara tentang dunia yang tak terlihat oleh kita bukan karena ia tidak ada namun karena keterbatasan tangkapan indera kita. Ini mengingatkan kita mengenai daifnya kita ini. Bukankah dalam kecepatan yang lebih cepat dari takar nalar normal kita dan kemampuan kita menangkap sesuatu secara inderawi, kita kerepotan mendefinisikan realita? Bayangkan jika dalam kondisi normal kita setiap saat kita melihat benda sehingga sampai ukuran molekul? Memahami kecepatan yang bisa ditangkap mata normal adalah sekelebatan kecepatan cahaya? Susah dibayangkan. Tapi bagian lain yg bisa mengaitkannya dngan film berikutnya yang akan saya sebut adalah bagaimana ‘dunia hutan dan tumbuhan’ dijaga dengan susah payah oleh ‘entitas dari dunia yang di luar’; dunia resepsi normal indera kita.

Bicara film Epic, mengingatkan kita pada film animasi tersukses dalam sejarah animasi Jepang, Princess Mononoke.

Film animasi ini tak bicara mengenai filosofi realitas. Ia plain atau lempang bicara mengenai manusia dan dunia-dunia. Mungkin kalau dalam kajian fisika kuantum dikenal dengan istilah multiple universe. Tapi konsep multiple universe lebih terkait dengan kenisbian definisi waktu dan ruang yang ditakar secara hitungan, empiris-rasionalitis. Film Epic, film buatan Barat, punya napas itu.

Film Princess Mononoke, beda dengan Epic, punya tradisi Timur. Manusia hanyalah bagian dari keseluruhan sistem dunia ‘manusia’, dunia ‘hewan’, dunia ‘tumbuhan / hutan’ dan dunia ‘alam gaib’. Kerjasama dan tidak menindihi di antara dunia-dunia ini akan melahirkan ‘dunia utuh’ yang menopang dunia-dunia yang ada. Manusia bukanlah entitas yang dominan, ia hanyalah bagian dari sebuah sistem yang besar di antara dunia-dunia itu. Sebutlah sistem ini bernama Kehidupan.

Dari Animatrix, Epic, dan Princess Mononoke, setiap orang bisa belajar bahwa manusia tak bisa merusak dunia “lain” kecuali membunuh dirinya sendiri dan rasa kemanusiaan pun akan ikut lenyap di dalam prosesnya. Demikian kiranya.

REFERENSI

Miyazaki, Hayao. (1997). Princess Mononoke”. Movie. Studio Ghibli.
Morimoto, Koji et al. (2003). “The Animatrix”.  Movie. Village Roadshow Pictures.
Wedge, Chris. (2013). “Epic”. Movie. Blue Sky Studios & 20th Century Fox Animation

Dunia Matrix

Barangkali kita memang tengah menuju kehidupan di dunia Matrix. Di dunia yang dikuasai oleh mesin – perangkat, otak-otak manusia terkoneksi pada suatu server dan pikiran manusia menjalani hidup di dunia Matrix. Sementara tubuh manusia dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh mesin, pikiran manusia ini ‘hidup’ di dalam dunia virtual – dunia artifisial. Manusia yang terkoneksi dengan dunia Matrix tidak menyadari bahwa di dunia nyata tubuhnya sedang dipasung dalam tabung dan energi panasnya diunduh sebagai sumber energi. Manusia di dunia Matrix telah lupa sejarah masa lalunya sebab mesin telah menghapus ingatan kehidupan manusia di dunia nyata. Demi efektivitas, efisiensi, dan stabilitas dunia Matrix, mesin sengaja menghapus memori itu agar tidak ada keinginan manusia kembali pada dunia asalnya.

Kisah yang dikarang oleh Laurence Wachowski dan Andrew Paul Wachowski tentang dunia Matrix menjadi referensi John Rappoport, seorang jurnalis senior Amerika yang pernah dinominasikan Pulitzer Prize, di dalam artikelnya dengan judul The Virtual World is Being Built: Refining The Matrix (2014) dalam mengingatkan kita akan bahaya teknologi yang mulai menguasai – merampas kemanusiaan kita.

Rappoport menyorot tentang perkembangan teknologi yang pesat dan mencengangkan sudah mencapai taraf yang patut dikhawatirkan. Misalnya ia menyebut bahwa riset untuk Google Glass telah menuju tahap penyempurnaan kemampuan membaca kondisi emosional lewat ekspresi mimik muka dan pola intonasi suara. Kabar ini bagi Rappoport menimbulkan implikasi yang serius bagi kemanusiaan kita. Ia percaya bahwa perkembangan ini akan membuat manusia ditakar serupa makhluk android: dikartunkan.

Bayangkan bagaimana jika kemudian penerapan teknologi ini terjadi secara massal. Tiap orang punya akses secara instan kepada keadaan emosional orang lain. Sungguh menakutkan! Mengapa demikian? Jika teknologi ini sudah dipakai secara massal maka kondisi emosional kita akan kita perturutkan kepada perangkat ini.Saat mesin berkata bahwa hari ini kita tidak bahagia karena perangkat menyatakan demikian maka kita akan menciptakan diri kita dalam ‘keadaan semu’ – berpura-pura bahagia sesuai standar yang ditentukan oleh perangkat ini – agar orang lain, yang mampu mendeteksi kondisi emosional kita lewat perangkat yang sama tidak mendapati kita sedang tidak berbahagia. Jika kelak keadaan ini terjadi, kita telah menjerumuskan diri kita di dalam kehidupan yang tidak orisinil: menjalani hidup, menilai orang lain, dan mengambil keputusan sesuai dengan takaran perangkat.

Teknisisme

Di dalam filsafat teknologi terdapat istilah technicism atau teknisisme. Teknisisme adalah sebuah pandangan untuk dapat mengontrol realitas dengan metode dan perangkat teknologi-ilmiah. Di dalam tulisannya yang berjudul Philosophical and Ethical Problems of Technicism and Genetic Engineering (1997), Schuurman menyatakan bahwa pada dasarnya teknisisme menyandarkan dirinya kepada dua hal pokok: efektivitas dan efisiensi.

Imbas dari teknisisme adalah pembentukan masyarakat yang disesuaikan dengan pemenuhan kebutuhan efektivitas dan efisiensi. Sesuatu yang tidak dalam konteks efektif dan efisien akan dikesampingkan dan standardisasi terus menerus diciptakan. Di dalam pandangan teknisisme, sebagaimana ungkap Schuurman, manusia hanyalah sebuah komponen di dalam sebuah mesin besar yang bernama masyarakat. Masyarakat yang memiliki pola pikir sama adalah masyarakat yang idealsebab mudah dikontrol. Implikasi dari pandangan ini adalah bahwa setiap manusia harus dikondisikan sebagai serupa, dapat dipertukarkan, dapat diterakan lewat parameter tertentu, dan dapat dimanipulasi. Dengan demikian manusia sudah tidak menjadi dirinya lagi namun sudah menjadi bagian yang distandarkan demi tercapainya efektivitas dan efisiensi. Dan nampaknya Schuurman memang mengelindankan ini semua dengan kapitalisme.

Contoh dari penerapan teknisisme misalnya adalah sistem pendidikan modern. Sistem pendidikan modern, disadari atau tidak, memang dibuat sedemikian rupa di dalam membentuk manusia sebagai output yang efektif dan efisien untuk rekrutmen industri. Standardisasi sengaja dibuat sebab tiada standar akan membuat ‘pemrograman pola pikir’ menjadi tidak efektif dan akan tidak efisien sebagai ‘robot’ yang siap untuk bekerja di dalam sebuah sistem yang sudah established dan  terbukti profitable.

Kapitalisme, Teknisisme, dan Ekskalasi Dependensi Teknologi

Saat sumber daya manusia dibutuhkan secara massal dan butuh tersedia dengan cara cepat maka standardisasi sistem pendidikan diciptakan. Saat labor cost dirasa semakin mahal dan atau kurang efisien, diciptakanlah mesin, perangkat, robot. Semangat mewujudkan efektivitas dan efisiensi merupakan kebutuhan sebab persaingan makin sumpek dan ketat sedangkan sebagian dari kita semakin rakus. Filosofi teknisisme dan semangat kapitalisme-lah yang menggeret kita pada keputusan-keputusan itu.

Perangkat demi perangkat terus diproduksi dan makin ditingkatkan kemampuannya sehingga dapat terlibat dan menangani porsi yang besar dari kehidupan kita – atas nama efisiensi. Lalu suatu waktu semua ini mencapai titik puncak. Akan tiba saatnya nanti ketika kita sampai pada kesimpulan bahwa kita masih kalah efisien dibandingkan perangkat yang berhasil kita ciptakan.

Penciptaan film dan pengembangan teknologi dapat kita sebut memiliki kemiripan dalam hal memprediksi mengenai kemungkinan-kemungkinan kejadian di masa depan sebagaimana Laurence Wachowski dan Andrew Paul Wachowski lewat trilogi film Matrix boleh jadi merupakan sebuah peringatan bagi kita.

Sering sebuah karya imajinatif terbukti sebagai sebuah prediksi dari apa yang terjadi di masa depan. Ambil contoh film Enemy of The State (1998) yang sudah duluan memperingatkan bahwa penyadapan masif, intrusif, dan nirbatas berpotensi penyalahgunaan jauh sebelum Edward Snowden berkoar tentang penyadapan oleh NSA di awal tahun 2013.

Serupa itu pula trilogi film Matrix mengajak kita untuk berkontemplasi mengenai diperbudaknya manusia oleh mesin di masa depan. Di dalam film Animatrix, film yang menjadi backstory dari kompleksitas dunia dalam trilogi film Matrix, manusia akhirnya diperbudak oleh mesin lewat perang yang dramatis.  Pada suatu ketika,  meski nampaknya alur cerita kita mungkin tidak sama persis dengan kisah Matrix+Animatrix itu, kita akan menyerahkan diri secara sukarela kepada mesin – demi efisiensi dan atau demi dunia yang baru.

Rappoport tahu tentang itu dan pantas khawatir. Ide pengembangan perangkat yang mampu membaca kondisi emosional dan intonasi suara memang boleh diargumenkan sebagai hal yang positif. Teknologi ini akan mampu membuat seseorang secara efisien dapat ‘memahami orang lain’ dan kemungkinan-kemungkinan potensial lain yang belum dapat terbayangkan.

Matrix (Pic Credit: The Fishbowl Network)

Matrix (Pic Credit: The Fishbowl Network)

Walaupun begitu, ada satu hal yang dapat dibayangkan dengan jelas. Ada kemungkinan di masa depan oleh sebab jemu pada dunia yang ditinggali sudah terlanjur terbentuk menjadi serba homogen, instan, monoton, tidak orisinil, semua serba mekanis dan lalu semu sehingga tidak menantang lagi untuk dijalani, kita semua secara sukarela memutuskan untuk masuk ke dalam tabung yang terkoneksi di dalam satu server dan hidup di dunia Matrix. Mulai dari nol, meninggalkan dunia nyata yang sudah tidak asyik lagi.

Dan bukan hanya Rappoport yang pantas khawatir – kita juga perlu dan pantas khawatir. Bagaimana jika memang kita, yang semakin rakus, makin giat dan kecanduan menciptakan dan mengembangkan teknologi yang bukan hanya menggantikan manusia namun membuat manusia menjadi seperti robot? Bagaimana jika nanti kita benar-benar menilai sesuatu dan seseorang sudah tergantung kepada teknologi karena sisi humane kita sudah tumpul selepas terus menerus bergantung pada teknologi serupa Google Glass atau Neurochips yang telah sedang dikembangkan oleh ilmuwan Jerman Moritz Grosse-Wentrup? Bagaimana jika nantinya kita benar-benar merasa yakin bahwa solusi keruwetan dunia adalah membuat dunia artifisial serupa dunia matrix? Bukan itu saja, bagaimana jika nanti kita tidak memiliki Zion dan akhir bahagia serupa film Matrix atau perdamaian dengan mesin serupa kisah dalam film I, Robot?

Ah, mungkin tulisan ini mengajak kepada pesimisme yang absurd. Biarpun demikian, tulisan ini benar-benar sebuah kontemplasi mengenai kita dan teknologi yang kita ciptakan.

Atau anggap pula ini sebagai sebuah derivasi dari pemaknaan tentang realitas sebagaimana didapati di dalam Ziarah karya Iwan Simatupang saat Pelukis – dan bukan Perenung – sedang mendefinisikan ulang tentang gila dengan tidak gila, real dengan yang tidak real. Atau, anggap saja ini sebagai kudapan bercorak surealisme. Bukan disebabkan karena perang dunia yang dahsyat, sebagaimana surealisme muncul karena Perang Dunia I, namun surealisme yang disulut oleh runtut narasi: kebutuhan produksi masal, efisiensi – efektivitas (kebutuhan akan teknologi), munculnya kapitalisme, kerakusan, lalu ekskalasi dependensi kita akan teknologi, dan lantas potensi robohnya kemanusiaan kita.

Ya, disangkal atau tidak, kita sedang menuju ke sana.

Creative Commons License
Dunia Matrix by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Sastra dan Psikologi

Sebenarnya, sastra dan psikologi adalah dua hal yang berbeda. Psikologi adalah ilmu tentang perilaku (Kendler, 1963: 2) dan bukan hanya studi ilmiah perilaku namun juga pikiran (Kassin, 2008: 1). Sedangkan definisi yang lebih lengkap diberikan oleh Kagan dan Haveman. Mereka mendefinisikan psikologi sebagai:

Psychology is the science that systemically studies and attempts to explain observable behavior and its relationship (1) to the unseen process, mental and physical that go on inside the organism, and (2) to external events in the environment (1976: 8).

Sebagai simpulan, psikologi adalah ilmu yang berusaha mencari jawaban atas problematika jiwa (psyche) dan atau mencari gambaran tentang bagaimana pikiran (mind, mental, attitude) manusia dapat mempengaruhi perilaku atau respon manusia.

Lalu bagaimanakah 2 hal yang berbeda, psikologi dan sastra, bisa saling bertaut?  Sudah merupakan kemahfuman bahwa sastra adalah representasi kehidupan manusia. Dan oleh sebab itulah maka psikologi, sebagai sebuah ilmu yang “menganalisis” manusia seperti telah diterangkan di atas, masuk ke dalam studi sastra.  Wellek dan Warren (1970: 81) menjabarkan tentang bagaimana psikologi dapat diterapkan di dalam studi sastra. Ada empat hal yang menjadi perhatian yaitu: studi tipe karakter psikologis seorang pengarang, studi tentang proses penciptaan suatu karya, studi mengenai tipe atau teori psikologi yang muncul di dalam karya, dan yang terakhir adalah efek suatu karya terhadap penikmatnya. Sekarang menjadi jelaslah sudah bagaimana ilmu psikologi dapat masuk di dalam studi sastra.

Sebenarnya, studi sastra dengan pendekatan psikologi disulut oleh Freud dengan pernyataan bahwa:

The artist is originally a man who turns from reality because he cannot come to terms with the demand for the renunciation of instinctual satisfaction as it is first made, and who then in phantasy-life allows full play to his erotic and ambitious wishes. But he finds a way of return from this world of phantasy back to reality; with his special gifts, he moulds his phantasies into a new kind of reality, and men concede them a justification as valuable reflection of actual life. Thus by a certain path he actually becomes the hero, king, creator, favourite he desired to be, without the circuitous path of creating real alterations in the outer world (dalam Wellek dan Warren, 1970: 82).

Dengan kata lain, Freud menyatakan bahwa setiap penyair adalah “pelamun” yang lari dari kenyataan hidup. Menurut Freud, kreativitas adalah bentuk dari pelarian terhadap apa yang dialami seorang pengarang. Jadi kesimpulan tentang kepribadian pengarang dapat diperoleh lewat studi atas beberapa karya pengarang (Hardjana, 1994: 63 – 64) karena, masih menurut Freud, “setiap karya sastra adalah sebuah museum alam bawah sadar, suatu bentuk kontemplasi dari alam bawah sadar lewat sesuatu yang mungkin diejawantahkan” (dalam Thorpe ed., 1967: 75). Dan bentuk pengejawantahan tersebut bukan melalui hal yang bersifat destruktif namun kepada sesuatu pelarian total dari represi dan bahwa keajegan pola pada karya-karya suatu pengarang merupakan proyeksi mental atau jiwa seorang pengarang. Sebagai misal, studi terhadap karya-karya Iwan Simatupang dapat atau tidak jika dikaitkan dengan bentuk escapism kematian istri tercinta dan kemudian dari studi tersebut dapatlah dibentuk suatu analisis kepribadian Iwan Simatupang. Absurditas sebagai suasana yang muncul di dalam karya-karyanya akan dapat menampilkan suatu kesimpulan tentang bagaimana keadaan jiwa Iwan Simatupang. Sedang pada kajian sastra pop, sebagai misal, lirik lagu-lagu Ahmad Dhani dapatlah dijadikan objek mengenai proyeksi jiwa Ahmad Dhani yang dipenuhi “cinta mati”, “cinta bertepuk sebelah tangan”, dan “cinta yang harus membunuh saingan”.

Ketika berbicara tentang studi terhadap proses kreatif suatu karya, perlu diingat teori psikoanalisis menyatakan secara gamblang bahwa kelahiran suatu karya tidaklah hanya melulu karena kebutuhan seseorang untuk melarikan diri dari kenyataan. Bahan yang dimiliki seseorang di alam bawah sadarnya masih membutuhkan proses kreatif; pengelolaan dan penciptaan (Crews dalam Thorpe ed., 1967: 85). Analisis terhadap proses kreatif membutuhkan pengetahuan tentang riwayat hidup dan dokumen-dokumen pribadi seorang pengarang yang relevan dengan kelahiran suatu karya. Tolok ukur studi adalah kombinasi antara pikiran sadar dan bawah sadar. Pertanyaan yang bisa dicarijawabnya adalah keadaan mental yang bagaimana yang dialami seorang pengarang dan alasan logis seperti apakah sehingga dapat muncul sebuah karya atau dapatlah dikatakan bahwa kajian ini berusaha menggambarkan persepsi pengarang terhadap realitas yang dialaminya. Analisis model ini berusaha membedah bagaimana seorang pengarang “merespon dan mentransfer” personalisasi dunia nyata ke dalam dunia fiksi[i].

Sajak “Senja di Pelabuhan Kecil”[ii] dapatlah dijadikan objek kajian psikoanalisis tentang keadaan mental dan proses kreatif Chairil Anwar pada saat sajak diciptakan. Proyeksi muram, diksi yang membuat sesak, pengetahuan akan cinta Chairil Anwar yang tertolak oleh Sri Ajati dan keadaan sekitar Chairil Anwar pada saat itu dapatlah menjadi fokus di dalam analisis sajak tersebut. Analisis model ini yang telah berhasil dilakukan dapat kita baca misalnya pada kajian Bushra Naz (2011) ketika membedah karya Franz Kafka, The Hunger Artist[iii] dan Asep Supriadi (2006)[iv] manakala menghadapi karya Habiburrahman El-Shirazy “Ayat-ayat Cinta”[v]. Buku yang bagus untuk mulai mengelindani analisis model ini adalah Proses Kreatif (1983) buah tulis Brewster Ghiselin.

Bentuk lain aplikasi teori psikologi di dalam sastra adalah studi mengenai tipe kepribadian atau teori psikologi yang muncul di dalam sebuah karya sastra dengan menggunakan karakter di dalam sebuah karya sebagai objek kajian. Dus, kajian model ini dapat dikatakan bersifat intrinsik. Teori-teori psikologi dipakai di dalam menganalisis keadaan jiwa seorang karakter. Sebagai misal, di dalam cerita pendek Edgar Allan Poe “The Fall of The House of Usher”[vi] dapatlah digunakan analisis kelainan jiwa psikoneurotik berdasar teori psikologi George W. Kisker terhadap karakter Roderick Usher seperti dilakukan Sri Rahayu (2002). Contoh lain adalah penggunaan model motivasi hirarki 6 tingkat Abraham Maslow terhadap karakter Clyde Griffiths di dalam novel masterpiece-nya Theodore Dreiser “An American Tragedy”[vii] atau bisa juga analisis karakter tersebut dilakukan dengan mengkaji konflik batin tokoh Clyde Griffiths dengan model konflik struktural batin ala Sigmund Freud; id, ego, dan superego. Teori psikologi Sigmund Freud ini juga bisa dipakai di dalam analisis kepribadian karakter-karakter yang ada di dalam karya Stephen Crane “The Open Boat”[viii]. Sedangkan contoh yang lain adalah semisal penggunaan teori mimpi Jung di dalam menganalisis mimpi Santiago di dalam “The Old Man and The Sea”[ix] sehingga dapat dibentuk gambaran mengenai kepribadian Santiago yang utuh.

Saat berbicara studi psikologi terhadap karya sastra bilamana dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap pembaca, maka operasionalisasi studi dapat dilakukan dengan analisis terhadap perubahan sikap dan atau perilaku yang terjadi setelah pembaca menikmati sebuah karya sastra. Contoh analisis model ini adalah karya Harriet Beecher Stowe “Uncle Tom’s Cabin”[x]. Novel ini mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap pembacanya sehingga sejarah Amerika mengalami perubahan (Kaufman, 2006: 18). “Uncle Tom’s Cabin” berhasil mengubah pandangan sebagian besar orang Amerika pada saat itu mengenai definisi baik dan buruk perbudakan sehingga muncul gerakan abolitionist. Contoh lain aplikasi studi psikologi pada hubungan karya sastra dengan pembacanya adalah misalnya analisis terhadap karya Habiburrahman El-Shirazy “Ayat-ayat Cinta” dengan sebuah hipotesis apakah karya ini berhasil mengubah persepsi psikologis masyarakat Indonesia mengenai poligami sebagaimana dengan kajian yang berbeda[xi] Sukirno (dalam Efendi (ed.), 2008: 265) menyimpulkan sebuah klaim mengenai kesuksesan novel “Ayat-ayat Cinta” di dalam mencelupi persepsi psikologis masyarakat dunia [dan tentu saja masyarakat Indonesia] tentang kebaikan poligami di dalam Islam dan atau kebaikan ajaran Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Crews, Frederick C.  1967. “Literature and Psychology” dalam Relations of Literary StudyEssays on Interdisciplinary Contributions. Thorpe, James (ed.).  New York: Modern Language Association of America.

Efendi, Anwar (ed.). 2008. “Karakteristik Wacana Habiburrahman El Shirazy dalam Novel Ayat-ayat Cinta: Kajian Analisis Wacana Kritis” dalam Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Perspektif. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Ghiselin, Brewster. 1983. Proses Kreatif terjemahan Wasid Soewarto dari judul asli The Creative Process. Jakarta: Penerbit Gunung Jati.

Goldmann, Lucien. 1975. “The Genetic Structuralist Method in the History of Literature” di dalamTowards a Sociology of the Novel terjemahan Alan Sheridan dari judul asli Pour une sociologie du roman. London: Tavistock Publications.

Hardjana, André. 1994. Kritik Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kagan, Jerome dan Ernest Haveman. 1976. Psychology: An Introduction third edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Kassin, Saul. 2008. “Psychology.” Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation.

Kaufman, Will. 2006. The Civil War in American Culture. UK: Edinburgh University Press.

Kendler, Howard. 1951. Basic Psychology. California: Santa Barbara University.

Naz, Bushra. 2011. “Hope of Death as The Possibility of Life: A Psychosemiotic Reading of Franz Kafka’s The Hunger Artist as the Narrative of Existence into Non Being” dalam Pakistan Journal of Social Sciences (PJSS), Vol. 31, No. 1 (June 2011), hlm. 65-77.

Rahayu, Sri. 2002. Psychoneurotic Disorder in Roderick Usher in “The Fall of The House of Usher” by Edgar Allan Poe (Psychological Analysis) sebuah Skripsi. Surakarta: FKIP Universitas Sebelas Maret.

Supriadi, Asep. 2006. Transformasi Nilai-nilai Ajaran Islam dalam “Ayat-ayat Cinta” Karya Habiburrahman El-Shirazy: Kajian Interteks, sebuah Thesis. Semarang: Universitas Diponegoro.

Wellek, René dan Austin Warren. 1970. Theory of Literature 3rd Edition. New York: Harcourt, Brace & World, Inc.


[i] Kajian model ini bertumpang tindih dengan pendekatan Strukturalisme Genetik ala Lucien Goldmann (bdk. Goldmann, 1975: 156-171).

[ii] Sajak karya Chairil Anwar yang ditulis pada tahun 1946.

[iii] Cerita pendek yang terkenal dari Franz Kafka, terbit pertama kali di Die Neue Rundschau tahun 1922. Judul asli cerpen ini adalah Ein Hungerkünstler.

[iv] Meskipun Asep Supriadi tidak menggunakan kajian psikologi di dalam analisisnya terhadap novel Ayat-ayat Cinta, namun ketika melalui pisau Intertekstualitas (Kajian Hipogramatika) Asep Supriadi menyatakan novel ini adalah hasil “resepsi aktif Habiburrahman El-Shirazy terhadap pembacaan teks-teks [Quran dan Hadist]” sehingga pandangan penulis terhadap isu poligami tercermin di dalam novelnya, maka ia bisa juga dikatakan sudah melangkah ke model analisis psikologi (cf. Supriadi, 2006: xi).

[v] Novel Ayat-ayat Cinta terbit pertama kali tahun 2004 dan diterbitkan oleh Basmala & Republika.

[vi] Cerita pendek karya Edgar Allan Poe. Terbit pertama kali September 1839 di majalah Burton’s Gentleman’s Magazine. Cerita ini kemudian terbit tahun 1840 di dalam kumpulan karya Edgar Allan Poe berjudul Tales of the Grotesque and Arabesque.

[vii] Sebuah novel, terbit pertama kali tahun 1925, penerbit: Boni & Liveright.

[viii] Cerita pendek, terbit pertama kali 1897 di Scribner’s Magazine, lalu masuk di dalam kumpulan cerita pendek karya Stephen Crane pada tahun berikutnya, 1898, berjudul The Open Boat and Other Tales of Adventure, penerbit: Doubleday & McClure.

[ix] Sebuah novella yang ditulis oleh Ernest Hemingway pada tahun 1951 dan diterbitkan oleh Charles Scribner’s Son pada tahun 1952.

[x] Terbit 1852, penerbit: John P. Jewett and Company. Novel ini diyakini oleh Will Kaufman sebagai penyulut Perang Saudara di Amerika pada tahun 1861-1865 (Kaufman, 2006: 18).

[xi] Dikatakan berbeda sebab Sukirno mengkaji novel “Ayat-ayat Cinta” dengan analisis wacana. Justru yang menjadi pertanyaan dan belum dijawab oleh Sukirno adalah mengenai tolok ukur keberhasilan wacana yang disampaikan oleh novel “Ayat-ayat Cinta” mengenai kebaikan ajaran Islam terhadap para pembacanya: Apakah berdasar jumlah cetak ulang novel tersebut dan sukses besar ketika diangkat ke layar lebar? Ataukah “hanya” karena novel tersebut sudah menepati karakteristik wacana kritis sehingga dikatakan berhasil? (bdk. Sukirno dalam Efendi, 2008).

Creative Commons License
Sastra dan Psikologi by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.