Pernik Facebook: Pilkada Jakarta dan Voter Preferences Muslim

RAKYAT TAHU SIAPA YANG BAIK DAN BENAR KERJA?

Pernyataan itu sejatinya agak susah dijawab. Salah satu faktornya adalah bagaimana kekuasaan bisa menguasai sorot lampu.

Suara-suara sumbang yang menyuarakan hal-hal negatif penguasa kerap dianggap murni politik. Bahwa mereka yang menyuarakan keburukan penguasa adalah oposan yang hendak merebut kekuasaan.

Suara-suara sumbang lainnya yang menyuarakan keburukan penguasa juga kerap kalah kanal toa, kalah intensitas penampilan, dibekap kekerapan penguasa menampilkan hal-hal yang hebat dari dirinya.

Untuk kesekian kalinya saya akan merujuk pada Noam Chomsky: “The general population doesn’t know what’s happening, and it doesn’t even know that it doesn’t know.”

Bahwa kebanyakan orang tidak tahu apa yang sedang terjadi, dan cilakanya kebanyakan orang ini tak sadar bahwa dirinya tidak tahu.

Kata kuncinya tentu saja adalah well-informed atau tidak.

Hadirnya media sosial memberikan harapan pada penyebaran informasi kepada khalayak.

Di satu sisi, benar bahwa informasi yang tersebar bisa valid tetapi bisa juga hoax (fake), dan juga bisa campuran keduanya. Dan ini membuat kebingungan khalayak, confusion, sebab memisahkan informasi valid, dengan hoax, dan juga yang campuran antara valid dengan hoax menjadi susah.

Akibatnya adalah kadang muncul “ambil gampangnya” saja; bahwa sistem berjalan dengn baik: yang jahat, yang menyeleweng, yang menyalahgunakan wewenang pasti diurus oleh sistem, oleh pihak berwajib.

Jadi saat penguasa yang dikecam suara sumbang dan kadang satu dua media massa besar turut memberitakan, dianggaplah sebagai “kurang benar” atau “melulu bermotif politis.”

Dengan adanya media sosial-lah, suara-suara sumbang yang lamat-lamat saja atau kadang rancu diwartakan oleh media massa besar mendapatkan kesempatan didengarkan, dibaca, ditimbang secara seimbang kadang langsung dari tangan pertama.

Lewat media sosial-lah, informasi-informasi yang berseliweran, tumpang tindih, saling berganti bisa dirangkaikan sebagai satu kesatuan sebagaimana saya sedang lakukan ini.

Saya tentu tidak akan bosan menyoroti Jakarta dan memang status ini akan berbicara mengenai Jakarta. Saya akan berbagi informasi yang saya yakin bukan hoax, valid dan bisa diverifikasi sumber dan kontennya, mengenai Ahok.

Dari kacamata saya sebagai Muslim, saya sangat tersinggung dengan gaya Ahok membahas satu ayat di dalam AL Quran yang mengganjal ambisi politiknya. Ia bukan hanya “mengeluh” bahwa sebagai seorang yang bukan Muslim, keyakinan sebagian besar Muslim mengenai pemilihan pemimpin yang mengutamakan persamaan keimanan bisa mengganjal ambisi politiknya. Ahok melangkah lebih jauh dari itu, ia konsisten membuat olok-olokan mengenainya.

Bagian ketersinggungan saya, sudah sekian kalinya saya bahas. Tentu dari kacamata gelut keilmuan saya (S2 saya adalah Manajemen Pemasaran, dan dulu pernah mendapat offer dari salah satu Universitas di New Zealand untuk riset PhD di bidang Pemasaran Politik), pendekatan pemasaran politik Ahok adalah kasar. Tetapi entah mengapa kekasaran terhadap Muslim di beberapa negara malah mendapat normalisasi, lihat saja misalnya di Amerika Serikat dan Belanda. Bahkan di Australia, politisi yang kasar terhadap Islam juga mulai naik daun meskipun banyak orang Australia yang saya temui di sini sangat mencibirnya.

Tulisan saya terbaru memang berharap masyarakat Jakarta bisa mengikhlaskan Ahok untuk dilupakan dari target coblosan. Mungkin harapan saya akan dicibir karena, misalnya saya seorang Muslim, atau misalnya saya bukan orang Jakarta (sehingga tidak elok bicara mengenai Jakarta).

Tetapi justru saya sebagai Muslim berharap kepada semua umat beragama di Indonesia untuk tidak menormalisasi dan menjustifikasi pendekatan pemasaran politik Ahok dengan terus-terusan membelanya sebagai “tidak bersalah” dan “sah-sah saja” seolah sebagai “minoritas yang terzalimi.” Saya sudah sampaikan di tulisan di blog saya bahwa ada banyak cara misalnya Ahok hendak berkampanye sebagai seorang minoritas.

Dia bisa bermain di dua segmen jenis voter Muslim yang sudah saya jabarkan di tulisan saya sebelumnya: Muslim Sekular dan Muslim yang membagi kekuasaan ala demokrasi menjadi beberapa bagian. Dan bahkan ia bisa juga mencuri hati voter Muslim di dalam isu “pemimpin yang amanah dan tidak khianat.”

Tentu kecuali jika Ahok menyadari bahwa ia “kurang” di dalam menampilkan argumen-argumen bahwa ia mempunyai banyak kelebihan dibandingkan kompetitor lainnya.

Isu agama akan menguntungkan dirinya sebagai minoritas ketika, maaf, yang tersulut berhasil ditampilkan media sebagai “Islam yang tidak toleran, kasar, dan merusak NKRI.”

Ia sebagai minoritas tentu akan didukung oleh minoritas dan citraan dizalimi akan membuatnya mendapat simpati dari Muslim yang masih mudah terhanyut dengan ibaan “tokoh terzalimi.”

Justru di situlah masalahnya.

Ketika Ahok kemudian mendapatkan dukungan dan kemudian menang dengan pendekatan pemasaran politik yang seperti itu di Ibu Kota negara, saya khawatir ke depannya akan menjadi teladan atau blue-print bagi pendekatan pemasaran politik dengan mengangkat isu agama secara brutal; mengolok-olok keyakinan liyan dan bisa melenggang menduduki kursi kekuasaan.

Itu buruk sekali.

Saya hendak menyampaikan bahwa koar-koar Ahok yang selalu mengklaim bahwa ia hendak mengadu program kerja dan atau prestasi miliknya, selalu ia katakan: “Mereka (para lawan dia) tidak mau adu program kerja dan pencapaian tetapi selalu bawa-bawa isu agama.”

Benarkah demikian? Coba misalnya kita semua untuk sementara lupakan hiruk pikuk isu agama yang selalu dijadikan sorot utama Ahok dan membuat kita semua (tidak hanya warga Jakarta tetapi seluruh Indonesia) terlena dan tidak mau mencari tahu bagaimana program kerja Ahok dan atau pencapaian Ahok.

Cobalah lupakan bahwa Anda mendukung Ahok karena sama agama dengan Ahok atau beragama yang minoritas. Cobalah lupakan bahwa Anda tidak mendukung Ahok karena Anda beragama kaum mayoritas (Islam) yang terbawa fokus pikiran dan perasaan (dan saya anggap wajar) terkait dengan olok-olok Ahok mengenai keyakinan pada satu ayat di dalam Al Quran.

Cobalah Anda semua fokus pada misalnya prestasi Ahok (mengenai program kerja, di mana-mana petahana bisa di atas angin jika ia berniat meneruskan program kerja sebelumnya).

Mengenai prestasi, sebelum Anda melangkah lebih jauh mencari dengan niat adil pada diri Anda sendiri di dalam menentukan pemimpin dan teladan lewat banyak situs dan opinion leader di media sosial yang pro dan kontra, ingatlah dulu bahwa seorang yang sudah pernah menjabat tentu ada bukti fisik membangun sesuatu.

Saya padankan, maaf agak ekstrem, semua pemimpin atau kepala daerah yang kemudian tersandung kasus korupsi atau penyelewengan amanah, pasti ada bukti-bukti fisik pernah membangun sesuatu, sudah “kerja nyata.” Logikanya adalah, masak seorang kepala daerah yang sudah pernah menjabat tidak pernah membangun sesuatu? Kan tidak mungkin tidur saja selama menjabat kan? Jadi hal ini juga mohon dijadikan pertimbangan untuk menentukan pilihan pada seorang petahana yang mengklaim sudah membangun sesuatu.

Baiklah Anda-anda semua saya ajak bersafari kepada beberapa hal yang semoga Anda bisa terbuka menerima “suara-suara sumbang” mengenai Ahok di kotak komentar saya di bawah ini.

Saya akan tautkan beberapa hal yang semoga Anda, sudi membaca dulu, merenung, dan kemudian menentukan sikap, apakah memang Ahok adalah pemimpin yang Anda harapkan untuk menjadi kepala daerah Anda, menjadi teladan kepemimpinan, dan menjadi model pemasaran politik yang menormalisasi tindak pemasaran politik brutal dengan isu agama sebagai fokus.

Demikian.

Dipa Nugraha

Status Facebook 11 Februari 2017

TOKOH KITA DAN MUSLIM

Mengenai Tokoh Kita, kita bisa melihat bahwa ia bisa tetap bisa mengambil suara voters Muslim.

Paling tidak, ada beberapa jenis voters Muslim.

  • 1). Yang memegang keyakinan bahwa selama ada opsi yang seiman di dalam memilih pemimpin publik, ia tidak akan memilih kecuali yang seiman.
  • 2). Yang memegang keyakinan bahwa adanya opsi seiman atau tidak adalah tidak relevan. Sebab pemimpin publik dianggap tidak ada relevansi dengan wilayah dan pengaruh keberagamaan. Jabatan pemimpin publik adalah jabatan sekuler. Atau “tidak sekuler” namun ada hal lainnya yang menjadi pertimbangan.

Model voter ini terbagi pada:
a. Benar-benar tidak relevan memilih kandidat berdasar kesamaan iman sebab kepemerintahan di negara yang bukan negara teokratis adalah tak melibatkan agama. Jadi fokusnya adalah sistemnya seperti apa.
b. Sedikit relevan namun percaya bahwa kaku untuk fokus ke kandidat seiman tidak sesuai dengan tiga pilar kepemimpinan sistem demokrasi di mana eksekutif hanya “sepertiga” dari kekuasaan dan peneluran kebijakan publik. Artinya, ketika di wilayah kuasa legislatif sudah memilih perwakilan yang Muslim maka dianggap sudah memenuhi pemberian kuasa pada kandidat seiman.
c. Model pemikiran Martin Luther (?), Bapak Pendiri Protestan, yang paling tidak nampaknya mempengaruhi sekulerisme Barat dan menginspirasi (tanpa disadari) beberapa Muslim bahwa pemimpin keduniaan harus dibedakan dengan pemimpin kesurgaan. Sehingga, model apapun wilayah atau negaranya, pejabat publik dianggap tidak sama dengan pejabat keagamaan dan kemudian masa bodoh dengan kesamaan atau tidaknya keimanannya.

  • 3). Mereka yang tidak mau berpartisipasi dalam pemilu. Pemilu adalah “haram” karena ia bukan sistem pemilihan yang Islami. Model ini akan selalu golput.
  • 4). Mereka yang tak mau terlibat dalam pemilu karena pemilu tidak Islami namun akan bergerak ikut pemilu jika ada pandangan darurat bahwa ketidakterlibatannya akan berarti membiarkan kezaliman berkuasa.
  • 5). Mereka yang melihat bahwa politik itu busuk sehingga tak mau membicarakan agama atau keterlibatan keyakinan di dalam pemilu atau politik. Mereka khawatir bahwa masuknya agama akan mendesakralisasikan agama.
  • 6). Mereka yang tergerak sesuai tokoh anutan kharismatik. Ikut apapun dawuh atau anjuran tokoh anutannya.
  • 7). Mereka yang tak peduli politik dan siapa pemimpin yang memimpin selama ia bisa melihat ada pembangunan dan tidak merugikan kehidupan pribadinya (Model ignorant yang sengaja saya bedakan dengan penganut sekularisme).
  • 8). Mereka yang memilih sesuai uang saku gerilya simpatisan pada saat operasi fajar.

Mengingat terdapat dua paslon lain yang berkompetisi dengan Tokoh Kita, dan misalnya pada voter jenis nomor 1 akan bisa terpecah pada dua paslon lain, maka Tokoh Kita justru dari mobilisasi liyan (yang saya yakin ada), malah bisa mengeruk suara dari voternya yang seiman.

Kemudian untuk mengambil suara dari voters Muslim, Tokoh Kita bisa bermain dan bermanuver di jenis voter Muslim kecuali nomer 1 dan 4.

Kalau penulis status ini model voter yang seperti nomer berapa? Silakan tebak sendiri.

Jadi bagi yang masuk pada voter nomer 1 atau 4, kerja political marketing-nya harus giat dan cerdas. Isu perbedaan keyakinan untuk memilih atau tidak memilih kandidat MESKI TETAP BISA DAN SAH dipakai karena itu menyangkut keyakinan, akan tetapi di dalam political marketing yang sukses, bahan pemenangan “pertempuran” juga harus memahami medan dan tidak terlena.

Misalnya saja setelah tahu medan yang bisa digarap, adanya jenis-jenis voters ini, walau SATU IMAN dan bisa melenakan jika dihitung berdasar angka demografik Muslim namun itu tidak cukup.

Tengoklah misalnya kemungkinan menampilkan sisi-sisi lain dari Tokoh Kita yang banyak publik belum tahu. Misal klaim pencapaian dengan faktanya, klaim prestasi dan faktanya, spin doctoring masalah rasisme, sengketa penggusuran yang MELANGGAR hukum (lebih dari satu kasus), rekam jejak politik, dan lain sebagainya.

Semua harus dilakukan dengan sebisa mungkin profesional. Kurangi atau bahkan hilangkan kebiasaan panggil yang “sah secara teologis” namun tak nyaman di telinga liyan ketika hendak mengeruk simpati tidak hanya dari voter Muslim semisal panggilan “Kafir.”

Poster, meme, status, ketik sebaik mungkin. Kurangi salah ketik, pelajari kata depan “di” dan bedanya terhadap imbuhan “di.” Misalnya. Bayangkan saja seperti membuat undangan pernikahan milik kita sendiri.

Jika diniatkan kampanye sebagai serupa “dakwah” mengapa tidak dipilih dilakukan dengan baik (ihsan), terpuji akhlaq, dan mengandung nasehat-nasehat yang “bil hikmah”? Mengapa tidak mau profesional dan umuk lena pada jumlah?

Demikian.

Dipa Nugraha

Status Facebook 15 Januari 2017

TENTANG PUSINGAN

Tidak pas jika mengatakan bahwa domain pembicaraan tafsir sebuah ayat adalah milik mufassir saja, kadang orang awam juga ngobrol dan komentar tentang suatu ayat dalam konteks yang berbeda-beda: bertanya, aplikasinya, aktualisasinya, relevansinya, baiknya tanya ke siapa, dst., dst.

Yang menjadi masalah dan ini jadi fokus agar orang “cerdik pandai” tidak membuat pusingan adalah bagaimana Ahok menyerang para pendakwah dari agama yang berbeda dan meyakini bahwa suatu ayat di dalam Quran mempunyai makna aplikatif dalam [keadaan yang ideal] untuk tidak memilih pemimpin dari golongan lain. Ia menyerang dengan kalimat: jangan mau dibohongi (merekakah para pendakwah pembohong sedangkan nasehat bersandar tafsir itu sudah ratusan tahun ada? Bahkan terjemah Quran Depag di Indonesia yang sudah berdekade menyatakan hal yang sama?), pengecut dan rasis (mengapakah menggelari demikian sedangkan beberapa agama memang ada “guidance mengenai siapa yang baiknya dipilih”?).

Bahkan jikalau ada pembelaan mengenai tiada niat “menyerang,” bukankah ia sudah bahas itu lebih dari dua kali? Coba tengok buku tulisannya, coba berapa kali ia mengeluarkan pernyataan menyindir tentang itu di beberapa kali kesempatan?

Bahkan misalnya, misal, ia kelak hendak mengaitkan dengan pilkada, maka ada dua hal yang harus digarisbawahi. Pertama adalah musim kampanye pilkada belum dimulai. Jika ia sudah bergerak duluan (di Pulau Seribu) maka ia sudah berada pada posisi yang tidak pas. Kedua, kandidat pesaing belum atau tidak memberikan ke publik pernyataan mengenai bagaimana tak usah memilih Ahok sebab ia bukan Muslim atau menggunakan ayat itu dalam kampanye mereka, yang juga belum mulai karena belum saatnya.

Justru ketika Ahok paham berdasarkan bimbingan yang ia peroleh mengenai adanya tafsiran lain dari ayat tersebut yang sama-sama kuat dan hidup dinamis di internal Muslim sebagai target voter mayoritas yang hendak ia bidik untuk “ikhlas menjadi penguasa Jakarta dan membangun hal-hal gigantis di Jakarta bagi kaum urban menengah-atas dan atas” maka perlukah ia begitu konsisten untuk menyerang satu tafsiran dari umat lain daripada secara elegan misalnya, membicarakan tafsiran lainnya demi ambisi politiknya? Bukankah endorsement lewat kerja political marketing melalui beberapa “ulama” bisa dan mungkin diterapkan di dalam kompetisi meraih kekuasaan? Mengapakah ia harus menyeberang pagar dan merusak taman yang penuh aneka bunga?

Dan, janganlah kawan, kau lihat ini sebagai minoritas dizalimi mayoritas. Janganlah ada pikiran yang teracuni media massa Barat dan takut bahwa Ahok dibawa ke pengadilan akan berimbas kepada kami, minoritas Muslim di negara lain. Adakah kau menyebut ini nanti jadi kausa primer Islamophobia yang telah sedang ada sebelumnya? Bukankah justru kau, aku, kita bisa menjelaskan kepada mereka di sini bahwa Ahok selama ini, jauh sebelum kasus ini, memang kerap kontroversial dalam ucapan? Lainnya yang perlu dicatat adalah “Islamic Movement” sinonim dengan “radikalisme dan intoleransi” sell their papers dan menguatkan industri Islamophobia bahkan ketika movementnya sangat damai dan dijamin UU sekalipun? Bukankah jadi tugas indah kita untuk dengan baik menjelaskan kepada mereka?

Dipa Nugraha

Status Facebook 13 Desember 2016

MASALAH SUARA DAN REPRESENTASI YANG DIWAKILKAN SERTA OTORITAS NARATIF

Ada sebuah paper yang berbicara mengenai sampai sejauh mana kesahihan suara yang diwakilkan menetapi suara yang terwakili.

Apakah pesan dan keluhan dari orang tertindas akan sama disuarakan oleh pembela kaum tertindas ketika menyuarakannya kepada penguasa penindas?

Paper itu menarik. Ada di komputer saya dan saya lupa judul dan penulisnya. Biasa, saya berfacebookan lebih kerap di hape layar kecil saya, seperti saat saya membuat status ini sehingga tak bisa mendudah paper itu. [Judul paper itu “The Problem of Speaking For Others” karya Linda Alcoff]

Paper itu dibuka dengan kutipan Presiden Amerika Serikat yang berpidato mengenai betapa sengsaranya rakyat di negara X dan dunia harus membebaskan mereka dari kesengsaraan yang lebih jauh.

Saya akan melompat-lompat di dalam menenun kisah satu dengan lainnya berkenaan dengan isu besar mengenai sebuah kota di negara seberang lautan.

Kemudian kita bisa mendarat pada ucapan Chomsky yang terkenal, bahwa default mayoritas awam adalah tidak tahu, dan mereka tidak tahu bahwa mereka tidak tahu.

Tentu kecuali ada yang pegang toa menyuarakan. Oposan, kontra, kaum resisten, golongan kalisan.

Kemudian kita bisa menjelajah pada kisah Foucault dengan medical gaze-nya. Bahwa pasien ditempatkan dalam keadaan untuk ditelanjangi dan diceritakan lewat otoritasi keprofesian, dari profesi di dalam struktur di masyarakat, yang bernama dokter.

Dokter mempunyai kewenangan untuk melakukan apapun, dalam batas kekuasaannya, untuk menuliskan sesuatu mengenai pasien: sehat, sakit, kurang ini, kebanyakan itu, obatnya ini, dst. dst. Pasien bisa protes, bisa ganti dokter, tetapi dokter memiliki privelege superior dibandingkan pasiennya.

Kita bisa meloncat lagi kepada kisah Sitor Situmorang yang pergi menemui dokter di dalam salah satu sajaknya.

Bahwa ia datang dalam keadaan merasa sehat, hanya berniat kontrol kondisi tubuh, hanya kemudian mendapati bahwa dokter menemukan, memberikan pandangan medis, mendiagnosis bahwa ia bermasalah organ ininya, salah bagian itunya, dan seterusnya, dan seterusnya. Ia yang semula bisa mengklaim diri merasa sehat, ternyata sebenarnya terdapat laten penyakit, potensi sakit dikarenakan ini dan itu.

Dari banyak hal melompat ke sana kemari itulah, lewat status ini, saya hendak menjawab tiga komentator di status-status saya yang bunyi pertanyaannya bernada sama: Tidak tinggal dan merasakan Jakarta tetapi menyuarakan tentang Jakarta, bagaimanakah Anda mendapatkan justifikasi dan siapa yang memberikan otorisasi?

Atau, dalam bahasa pendek: “Tak tinggal di Jakarta, tapi sok tahu tentang Jakarta!”

Semoga paragraf-paragraf meloncat-loncat di atas bisa memberikan gambaran ketidakelokan mengenai klaim: “Kami selalu lebih tahu karena kami warga kota ini.”

Klaim “selalu lebih tahu” dengan justifikasi “karena kami ada di sini dan merasakan” adalah tahbis otoritasi sahihnya suara yang sebaiknya direnungkan ulang.

Ambil contoh Bukit Duri. Apakah seorang warga Jakarta selalu bisa disebut bisa merasakan duka hilang rumah dan linang mata jika ia tinggal di menara tinggi kota?

Apakah seorang warga Jakarta selalu bisa mengklaim bahwa ia tahu duduk perkara di Bukit Duri kecuali tersampaikan padanya pelanggaran hukum lewat tulisan ahli hukum dan kemudian terbuktikan lewat keputusan di pengadilan, dan kemudian paradoks dengan menyepelekan “suara” ahli hukum yang andaikan ia bukan warga Jakarta?

Bagaimana mengklaim SELALU lebih tahu mengenai Jakarta dengan bermodalkan argumen “saya besar dan lahir di kota ini” ketika menyepelekan, mengejek, membuli, orang lain yang “bersuara” mengenai Jakarta sementara orang lain ini fokus pada beberapa aspek-aspek yang mungkin tak terasa oleh si saya, tak terkait langsung dengan si saya?

Benar bahwa menjadi sebuah keuntungan ketika seseorang memiliki latar belakang “saya berada di dalam, saya ada di lingkaran, di habitat, di komunitas ini” untuk bersuara. Itu benar.

Pasien tidak salah jika ia merasa sehat, tak ada masalah apa-apa. Tak elok menyalahkan pasien ketika ia mengklaim lebih tahu tentang tubuhnya. Tetapi menafikan atau bahkan melecehkan suara dokter, atau orang lain yang bisa jadi melengkapi pemahaman mengenai keadaan sebenarnya, juga perlu disadari bisa berbahaya. Sembari kita juga tidak menempatkan dokter selalu benar ketika dalam alam bawah sadar berpatok pada struktur sosial, menempatkan dokter pada pemegang tatapan diagnosis dan pena resep. Dokter pun bisa salah dan ada potensi salah.

Apalagi jika pembicaraan suara representatif kita geser ke arah kemajemukan, kompleksitas, ruang yang luas, daerah yang tertebar, motif ini dan itu, bukan mengenai seorang dokter dan seorang pasien saja.

Sebab berbukalah pikiran, bahwa bisa jadi apa yang sedang kamu rasakan sebagai warga kota Jakarta, kebetulan belum mendapati informasi mengenai apa yang saudara lain sesama warga kotamu rasakan.

Bisa jadi banyak hal yang kamu rasakan, hanyalah sekedar perasaan saja, dan mungkin ada hal-hal lain yang terluput dari amatan, hal-hal lain yang belum terbaca sebab belum memperkaya asupan informasi, dan bisa jadi akan terbelalak tak percaya bahwa hal-hal buruk ternyata ada di sana, menunggu singkapan dan reaksi kagetmu saja.

Bahwa Presiden Amerika Serikat bisa bicara begitu tentu ia punya informasi, walaupun sah-sah saja dicurigai sedang berpropaganda. Bahwa kaum oposan bisa bicara hal-hal yang berbeda dengan “pengetahuan” publik tentu punya dasar dan bukti. Bahwa dokter bisa bicara yang kadang berbeda dengan perasaan pasien atas tubuhnya, tentu ada dasarnya.

Demikian.

Dipa Nugraha

Status Facebook 16 Februari 2017

POLITICAL ISLAM DAN ISLAM DI SEGALA ASPEK KEHIDUPAN

Seolah-olah kedua istilah di judul tersebut sama.

Kajian mengenai Political Islam sendiri sejatinya merupakan hal yang unik. Ia menjadi bukti subjektifikasi Islam ketika ia bergerak masuk ke politik.

Padahal agama-agama lain juga “peduli” dengan politik.

Memang benar bahwa kemudian ada yang membedakannya yaitu dua hal; semangat mengenalkan syariah di dalam politik dan adanya cita-cita idealisme kekhalifahan. Dua hal ini, kadang disebut tidak bisa komplimentari dengan nilai-nilai demokrasi.

Padahal, nilai-nilai demokrasi sendiri mulai dari sejarahnya yang Eurocentric dan Habermas menyindir mengenai pengaruh tak visible dari tradisi Judeo-Kristian justru menampakkan pembicaraan mengenai absorbsi Islamic tradition dan values ke dalam sistem menjadi unik serta normalisasi keberterimaan nilai baru dan penghilangan nilai yang lama adalah dinamis dan bisa diakomodasi di dalam demokrasi.

Political Islam juga kadang dilihat sesempit respon yang muncul dari dekolonisasi negara-negara Muslim setelah sebelumnya terkolonisasi Barat yang polanya adalah White Christian tradition.

Meski tak semuanya senada dengan apa yang saya sampaikan, tulisan Edward Said berjudul “Yeats and Decolonization” menjadi menarik semenarik pengantar Ricklefs pada bab mengenai alasan sebenarnya orang Kulit Putih Belanda Kristen Borjuis “memaksa” pelaksanaan Politik Etis di wilayah Dutch East Indies yang saat dulu fokusnya adalah ekspansi pasar dan menjaga hegemoni Eurocentric kini tudungnya adalah bisa saya koarkan dalam bentuk demokratisasi.

Bagi saya, ketika bicara mengenai apa yang saya yakini mengenai partisipasi politik sebagai seorang Muslim di dalam demokrasi, saya bedakan manuver partai Islami dengan apa perkataan ulama-ulama dulu, pendapat yang jumhur dari mereka, dan bagaimana ulama non-partisan di masa kini (yang juga tak ada rekam jejak kerap nyeleneh) memberikan pendapatnya untuk dijadikan panduan.

Apakah kemudian saya meremehkan partai-partai Islami? Tidak. Meskipun tidak semua manuvernya kadang saya pahami dan atau apresiasi.

Demikian.

Dipa Nugraha

Status Facebook 15 Februari 2017

SEDIH

Sedih saat kekukuhan memilih berdasar alasan “pembangunan” dan “fasilitas yang dinikmati”

Dan tak ambil pusing, hilang tepa slira, pada orang kere yang disikat ganas,

Bahkan saat dikoarkan, dipindah orang kere ke tempat yang lebih manusiawi,

Mengapa abai fakta bahwa di tempat yang dulu, mereka mempunyai rumah sendiri, dan dekat dengan tempat mereka cari duit

Kini mereka membayar sewa dan jauh dari tempat cari duit.

“Sudahlah, kau ngomong aja, gak paham kenikmatan hidup dan fasilitas yang aku nikmati! Tetap dukung penggusuran, demi kenyamanan hidup, peduli setan dengan kere-kere!”

Sedih saat seolah-olah memilih Tokoh Kita adalah bentuk penolakan kepada Habib Rizieq dan FPI-nya.

Bagaimana cara berpikirmu, kawan?

Itu cara pelogikaan yang salah. Siapapun gubernurnya, Habib Rizieq dan FPI-nya insyaAllah akan tetap ada dan nguprek-uprek hal-hal yang justru “relatif” mengganggu kalian di bulan Ramadan, justru membantu kalian saat banjir, atau misalnya ada serupa Laskar Kelelawar Hitam mengancam kalian.

Jangan karena tak suka Habib Rizieq dan FPI-nya lantas menempatkan diri akan memilih Tokoh Kita karena seolah-olah Tokoh Kita adalah di sisi yang dimusuhi [hanya] oleh Habib Rizieq dan FPI-nya.

Sedih saat tudingan rasisme tidak dilihat secara adil hanya gara-gara pendapat menyesatkan bahwa minoritas tidak bisa menyulut isu rasisme dan bersikap rasisme.

Tidakkah diingat bahwa jauh-jauh hari sebelum bahkan kampanye pilgub kali ini, Tokoh Kita sudah menabuh gendang rasisme terhadap kaum mayoritas?

Bukankah ingatanmu bisa didudah untuk mendapati fakta-fakta itu? Tidakkah sedikit saja terlintas di benakmu bahwa justru isu itu muncul untuk membelah massa yang besar dan juga mengalihkan perhatian pada isu-isu lain yang sangat relevan untuk dipertimbangkan mengenai integritas, bersih isu hukum, dan kualitas kenegarawanan di dalam masyarakat yang majemuk?

Sedih saat, berkilah bahwa ada sebagian ulama, sebagian tirisan, yang membolehkan memilih liyan, tetapi melupakan konteks dan kompleksitas penerapan pendapat ulama-ulama yang membolehkan ini.

Bahkan tetap kukuh membela dan merasa “biasa saja” saat ia mencemooh keyakinan yang dipilih saudaranya sepersaksian, bahkan di kesempatan lain, menjadikan ayat itu sebagai olok-olokan wifi dan passwordnya.

Bukankah ia juga membuat olok-olokan kepada konsep keselamatan yang konon dipegangnya? Bukankah ia ada “masalah” di dalam dirinya?

Bisakah Saudara sepersaksian dan Kawan Liyan Sebangsa Semua beda KTP dan domisili, tetap bersikukuh pada pembelaan seperti itu, dan membuat satu orang ini, pembuat status ini, … atau mungkin banyak orang di luaran sana, …. sedih dan mengelus dada saja?

Tuhan, dalam termangu, di dinding Facebook ini, aku menyeru nama-Mu
Biar susah sungguh, …

Dipa Nugraha

Status Facebook 14 Februari 2017

CONTOH PEREKAYASAAN SOSIAL DI DALAM KERJA PEMASARAN POLITIK

Menyambung status saya sebelumnya mengenai curhat baper Pak Beye dan geser fokus publik dari isu serius mengenai mantan presiden yang bisa secara terbuka khawatir dengan kehidupan pribadinya padahal amanat undang-undang mengatakan bahwa negara (pemerintah berkuasa) wajib melindungi mantan presiden, saya dalam status ini hendak memberi contoh lain lagi bagaimana pemasaran politik bisa terlihat hasil kerjanya.

Di status sebelumnya, saya sudah menyinggung mengenai isu “dizalimi” yang menjadi barang dagangan laku di dalam meraih simpati publik di Indonesia.

Saya hendak mengajak melihat bersama fenomena Tokoh Kita.

Tak bisa dipungkiri, Tokoh Kita justru berada di atas angin ketika timnya mengedepankan isu SARA.

Kadang kita berpikir bahwa pihak yang menyerang pada suatu “hal X” dari seorang tokoh adalah mereka yang aktif di dalam menyodorkan ke publik mengenai “hal X.” Bahwa “hal X” adalah serangan murni dari pihak anti-tokoh yang diserang.

Benar, memang benar bisa begitu.

Tetapi di dalam “peperangan,” konsep gunakan kekuranganmu sebagai kekuatanmu sangat bisa diterapkan di dalam pemasaran politik.

Berapa banyak sih buku pemasaran yang menyepadankan strategi pemasaran dengan strategi perang? Ratusan! Bahkan istilah-istilah dalam penyerangan, daerah penguasaan, dan detail strategi memang mendapatkan inspirasi dari strategi jenderal-jenderal di dalam peperangan.

Oleh sebab itulah, saya melihat tim pemasaran politik Tokoh Kita justru bisa berselancar nyaman dengan isu SARA sebab ia berfungsi sebagai dua hal:
1. Konsep dizalimi sebagai minoritas mengemuka dan itu penting di dalam mendekap perasaan simpati publik.
2. Isu SARA menutup banyak hal lain yang sebenarnya buruk bagi keperluan elektabilitas Tokoh Kita. Publik justru direkayasa persepsinya untuk fokus pada isu SARA sebab isu-isu lain yang bisa digarap oleh pihak oposan bisa mengganggu rating elektabilitasnya.

Berselancar dan memanfaatkan pada isu-isu yang bisa kamu kuasai, adalah prinsip lain dari peperangan.

Isu Sumber Waras dari temuan BPK, isu disposisi reklamasi, isu Bukit Duri Kampung Nelayan, isu efektifitas manajemen, isu etika politik, isu kontrol diri adalah isu-isu yang akan membuat peperangan berjalan tidak imbang dan akan membuat Tokoh Kita kalah, oleh sebab itulah penting sekali untuk terus panas memanasi isu SARA karena pada bagian ini tim pemasaran politik Tokoh Kita mempunyai amunisi misalnya: ada ormas tertentu (yang dulu) yang bisa mendukungnya, ada perbedaan pendapat di antara voter mayoritas yang diincarnya, ada sejarah sentimen anticina, dan nilai-nilai kompetisi di dalam demokrasi.

Oleh sebab itu janganlah heran jika justru isu SARA ini akan terus dipancingkan kepada pihak oposan dan publik untuk direkayasa berterusan menggarap isu ini dan melupakan isu-isu lain yang sebenarnya bisa merugikan Tokoh Kita.

Demikian.

Dipa Nugraha

Status Facebook 8 Februari 2017

PERTARUNGAN ISU HASIL KERJA PEMASARAN POLITIK:

ANTARA CURHAT YANG BAPER, BULI KEPADA PROTES POLITIK, DAN ABAI PADA MASALAH SERIUS

Saya tidak tahu bagaimana cuitan Pak Beye menjadi begitu “aduhai” meminjam kata cerpenis Bung T Agus Khaidir.

Bisa itu terjadi karena citra Pak Beye yang dulu saat menjabat dikenal dengan “curhat”-nya di depan publik dengan istilah semisal “saya merasa prihatin” tetap melekat di benak masyarakat sebagai presiden yang sentimentil di dalam retorika politiknya.

Di dalam pemasaran politik, ingatan publik akan Pak Beye menunjukkan bahwa usaha branding beliau, usaha beliau tidak dilupakan oleh publik, telah berhasil.

Tentu saja ini bisa menjadi sesuatu yang baik tetapi bisa juga dimaknai sebagai sesuatu yang negatif, tergantung situasi politiknya.

Ia tak ubahnya dengan presiden lainnya yang dikenal dengan “gitu aja kok repot,” atau presiden lainnya lagi yang menggunakan akhiran “ken,” sebuah privelege power terekspresikan lewat bahasa sementara EYD jaman beliau mengenal bentuk akhiran baik dan benar “kan,” atau kita juga bisa ingat dengan istilah “menurut instruksi Bapak Presiden” yang menjadi sebuah ekspresi yang sifatnya “titah,” atau juga kita ingat melekat di benak “uangnya bocor” versus “uangnya ada” dan visi ekonomi berbasis sains, “akan meroket.”

Catchy phrase, tag line, ekspresi yang melekat sebagai ciri “brand” (ya, manusia atau figur adalah barang dagangan pemasar politik) bisa dibuat di dapur pemasar politik untuk dilemparkan ke publik lewat retorik politik si figur di dalam aktivitas politiknya, bisa lewat pamflet ketika berada dalam masa kampanye seperti misalnya “… adalah kita,” bisa karena si figur sendiri yang mencelotehkan demikian kemudian publik bisa mengingat kekhasan itu sebagai suatu ciri.

Judul status saya mengetengahkan tiga hal. Tentu yang pertama adalah masalah curhat yang baper, dan ini sudah saya sebutkan terkait dengan imaji “brand” Pak Beye yang melekat di benak publik yang bisa bermanfaat tetapi bisa negatif sesuai dengan konteks politiknya.

Nah, yang kedua justru menjadi menarik. Sebab ia juga menjadi bagian kerja dari pemasaran politik. Suatu aksi yang memang dimanfaatkan pihak lawan terkait dengan “brand” Pak Beye. Tentu kita semua paham bahwa kerja pemasaran bukan melulu mengusung dan meningkatkan citra positif brand yang digarapnya, tetapi kadang juga bekerja menebarkan citraan negatif pada kompetitor.

Protes politik di media sosial adalah hal yang lumrah di banyak negara demokratis yang maju; bisa dengan cara galak, sindir halus, retorik santun, retorik sarkasme, dll.

Akan tetapi, protes politik (atau kritik) ini kemudian menjadi dilabeli sebagai sesuatu yang negatif atas “brand” Pak Beye ketika pihak lawan bisa menyebutnya sebagai “tak patut” atau misalnya dengan istilah lain “curhat yang baper.”

Bagi saya, justru poin ketiga dari judul status ini yang harusnya menjadi kepedulian kita semua. Justru seharusnya menjadi kekhawatiran kita semua.

Bahwa mantan kepala negara yang sesuai undang-undang (yang seharusnya) dijaga dan dikawal oleh negara bisa SECARA TERANG-TERANGAN merasakan dirinya tidak aman kehidupan pribadinya dan seolah-olah negara abai terhadap keluhannya.

Tentu saja, mereka yang “pro” negara (baca: fans partai berkuasa, atau figur yang berkuasa) baik yang terikat secara ideologi kepartaian, atau sukarelawan bayaran, atau fanatik embuhan akan mengabaikan isu serius ini dan bersikeras bahwa itu “curhat yang baper,” atau bahkan lebih parah misalnya menuduh itu sebagai “manuver politik dizalimi” yang memang laku di republik ini.

Lihatlah misalnya bagaimana Tokoh Kita yang arogan pun juga bisa merasa dizalimi. Sebuah anomali, sebenarnya, ketika dihadapkan pada kasus Sumber Sehat, Bukito Duri, dan lain sebagainya, kecuali tim pemasaran politiknya kemudian bisa mengemas kerja pemasaran politik meraih simpati publik dengan isu “dizalimi karena SARA.” Jadi timnya berhasil menggeser mind set mengenai dizalimi dari kontes politik sebelumnya yang kata “dizalimi” merujuk pada manuver dari yang berkuasa secara politik kepada “yang oposan” sebagaimana terjadi atas Bu Mega dan Pak Beye, MENJADI “dizalimi” oleh mayoritas.

Begitulah hebatnya kerja pemasaran politik.

Jika publik kemudian gagal dicekoki sebuah imaji bahwa protes politik itu menyodorkan isu serius di dalam republik ini, atau dengan kata lain publik TIDAK melihatnya pada “curhat baper” saja, maka itu berakibat buruk pada figur penguasa (baca: pengelola negara sekarang) sebab gagal menjalankan penjagaan pada mantan presiden. Dan kesan itu tentu ingin dihindari oleh penguasa sekarang.

Dipa Nugraha

Status Facebook 7 Februari 2017

 

JANGANLAH JUGA KECINTAAN BERLEBIH MENGHALANGI BERSIKAP ADIL

Seringkali kita diberikan hujah, atau dalil, mengenai ketidaksukaan kita pada suatu kaum kemudian membuat kita tak berlaku adil.

Berbuat adil mendekatkan diri kita pada ketakwaan.

Segala sikap tidak adil kepada siapapun, takutlah kepada Allah sebab Allah Maha Mengetahui.

Jadi pesannya sungguh dalam. Orang yang percaya bahwa Allah Maha Mengetahui, percaya bahwa Allah selalu dekat, sebagai bagian dari konsep ketakwaan seorang Muslim, tidak elok bahkan dikecam jika tidak berlaku adil.

Kebetulan ayat yang menyinggung ini ada di dalam surat Al Maidah, surat yang di Indonesia menjadi fokus mengenai “auliya (wala, wali, dst.),” dan isu mengenai golongan yang menusuk dari belakang barisan kaum Muslimin ketika ada perseteruan dengan liyan; kaum munafik, atau dalam bahasa politiknya disebut sebagai the fifth column.

Lawan dari keadilan, tentu saja kezaliman. Di dalam Islam, perkara bersikap adil di dalam praktiknya adalah kurang lebih: menegakkan keadilan dalam hukum dan persaksian, menempatkan sesuatu pada tempatnya, menunaikan hak pada pemiliknya.

Dari pemahaman ini, kadang kita juga terlewat atau sengaja melewatkan bagian lain dari potensi untuk bersikap tidak adil; berlebihan mencintai.

Pesan dari rasulullah saw. mengenai terlalu mencintai sehingga abai pada banyak hal bisa menjerumuskan seseorang. Cobalah simak hadist berikut:

“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” [HR. At-Tirmidzi]

Atau hadist yang bicara khusus tentang komitmen rasa dan tindak adil berlaku kepada orang yang kita cintai adalah hadist panjang ini:

Golongan Quraisy direpotkan oleh masalah seorang perempuan Mukhzumiyah yang mencuri. Orang-orang Quraisy berembuk, “Siapakah yang akan membicarakan masalah perempuan ini kepada Rasulullah saw?
Ada yang memberi pandangan: “Siapakah yang berani menyampaikan selain Usamah bin Zaid, kesayangan Rasulullah saw.” Maka Usamah pun membicarakannya kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah bersabda, “Apakah kamu mau memintakan syafaat dalam hukum di antara hukum-hukum Allah?” Kemudian Rasulullah Saw berdiri lalu berkhutbah, sabda beliau, “Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah bahwa mereka dulu apabila orang mulia di antara mereka yang mencuri, maka mereka membiarkannya; tetapi kalau orang lemah di antara mereka yang mencuri maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.”

(Dalam sebuah riwayat disebutkan maka berubahlah wajah Rasulullah Saw lalu bersabda, “Apakah kau akan memberi syafaat dalam urusan hukum di antara hukum-hukum Allah?”
Usamah berkata, “Mintakanlah ampunan untukku, ya Rasulullah.” Kemudian Rasulullah menyuruh bawa perempuan itu, lalu dipotonglah tangannya.”) [HR. Bukhari]

Menimbang isu panas mengenai pilkada, masyarakat di negeri seberang yang terbelah pada “cinta atau benci berlebih,” tulisan ini hendak mengajak semuanya termasuk saya untuk merenung dan semoga bisa memperbaiki diri sendiri.

Kecintaan yang berlebih juga kebencian yang berlebih adalah racun bagi sikap yang adil.

Ada Muslim yang tak adil pada seseorang gara-gara seseorang berstatus Kafir. Ada juga Kafir yang tak adil gara-gara seseorang berstatus non-Kafir.

Bahkan berlaku juga sikap tak adil pada sesuatu yang sifatnya partai, ormas, suku bangsa.

Saya perluas “subjektifikasi” pembicaraan bukan atas Muslim saja. Subjektifikasi pada Muslim, di dalam pembicaraan mengenai sikap adil di suatu negara di mana isu “sikap adil” mengena kepada semuanya, tentu bagi yang belajar mengenai diskursus kekuasaan adalah bentuk lain dari ketidakadilan. Oleh sebab itulah status ini kemudian meniscayakan pembicaraan mengenai ini diperluas kepada semua warga negara.

Contoh:

1. Muslim yang melarang seorang Kafir untuk ikut berkontes dalam pemilu adalah bentuk ketidakadilan. Sebab kesepakatan antara Muslim dan liyan adalah sistem demokrasi di mana semua boleh maju di dalam kompetisi.

2. Kafir yang melarang Muslim menjalankan keyakinannya di dalam memilih pemimpin, dalam konteks pemimpin apapun selama kepemimpinan itu diyakini masuk dalam kewilayahan yang bisa mempengaruhi keberagamaan, juga tidak adil sebab tiap pemeluk keyakinan mempunyai standar dan panduan hidup masing-masing.

3. Sikap adil di dalam melihat pelaku korupsi dari agama tertentu, partai tertentu, etnis tertentu. Saat pelaku korupsi berasal dari latar belakang yang berbeda dari kita, maka caci keji luar biasa muncul dari mulut kita, status, atau cuit media sosial kita. Atau bahkan dalam pikiran kita. Atau dalam penegakan hukum kita, proses cokok dan peradilannya. Atau juga tidak adil dalam “coverage” pemberitaan kita.

4. Sikap tidak adil dalam membela tokoh-tokoh kita di dalam pengusungan dan pembelaan. Seringkali kita tidak adil saat menghajar tokoh tertentu pada “konteks yang serupa” dilakukan oleh tokoh yang tidak kita bela. Misalnya kita mengejek seorang tokoh yang melakukan politik meraih simpati dengan klaim “dizalimi” sebagai pencitraan sedangkan pada tokoh yang lain, bahkan dengan diksi yang persis, klaim “dizalimi” diyakini sebagai fakta.

5. Begitu juga sikap tidak adil bisa muncul terkait misalnya “dugaan tindak kejahatan, pelanggaran hukum.” Saat seorang tokoh yang kita bela terduga temuan penyelewengan yang merugikan negara dari lembaga resmi yang mengurusi audit, kita tak ribut. Sementara cuitan dari orang yang tak jelas mengenai tuduhan korupsi kepada seorang tokoh yang tak kita dukung, kita teriak-teriak minta pemrosesan hukum. Bahkan ketika hasil audit resmi dan audit independen sudah menyatakan tidak ada penyimpangan, kita tidak percaya dan terus-terusan menghajar ketidakbersihan tokoh yang tak kita dukung itu.

6. Sikap tidak adil lainnya contohnya adalah misalnya sangat aktif di dalam menyoroti isu kerusakan lingkungan di daerah di Jawa Tengah yang dikhawatirkan akan membuat banyak penduduk bisa kehilangan penghidupan dan harus pergi dari tempat tinggalnya, tetapi di tempat lain misalnya di ibukota, pura-pura buta kepada jerit tangis nelayan terusir dari dekat lokasi penghidupannya bahkan sudah hancur rumah tinggalnya gara-gara pelaku tindakan adigang adigungnya adalah tokoh yang ia bela. Celakanya lagi, juga mengadakan acara doa bersama atas tokoh yang membuat nelayan menangis itu, sementera secara unik, sebelumnya mengadakan doa bersama untuk petani di Jawa Tengah atas nasibnya.

7. Juga misalnya bentuk tidak adil adalah menakar seorang tokoh yang dibelanya sebagai “baik bagi kemajuan dan peradaban” sementara ia pura-pura abai pada banyak pelanggaran dan sulut kekacauan.

Saya pikir saya tak perlu menambah contoh-contoh mengenai “terlalu benci” atau “terlalu cinta” bisa membuat kita semua, baik yang Muslim maupun yang Kafir, atau yang Kafir dengan yang non-Kafir, di negeri seberang bisa menjadi tidak adil dalam bersikap dan bertindak.

Adil itu mulia. Adil itu bagian dari mendekatkan diri kepada Tuhan. Sebab dekatnya seseorang pada Tuhan adalah mempercayai bahwa Tuhan itu Maha Mengetahui.

Meyakini ke-Maha Mengetahui-annya Tuhan itu berarti mempercayai bahwa Tuhan pasti mengetahui apa-apa yang tidak hanya nampak dalam tindakan tetapi jauh menembus kepada apa yang ada di dalam benak, tersimpan di dalam hati: sebuah sikap (attitude).

Hal ini tak terkait dengan kekayaan, gelar akademik yang tinggi, atau keturunan. Subjeknya adalah setiap insan.

Adil itu juga harus dimulai dalam pikiran. Pikiran yang menggerakkan pena penulisan artikel, jempol pembuat status, jari-jari di papan ketikan, mulut dalam tuturan, dan tindakan pada liyan dalam perbuatan dan otoritas atau kewenangan.

Dalam bahasa Pramoedya, sastrawan kekiri-kirian terbaik Indonesia, yang sudah meninggal, yang baru saja berulang tahun dan dirayakan Google: “Adil [itupun] sejak dalam pikiran.”

Yang dibutuhkan dari seseorang untuk bisa adil, menurut ajaran Islam, adalah insan yang takwa. Yang percaya bahwa Tuhan selalu tahu apa yang ada di benaknya: baik ketulusan (keikhlasan) atau nafsu keduniawian.

Dipa Nugraha

Status Facebook 6 Februari 2017

BERITA DARI JAUH, SEBELUM KAPAL ANGKAT SAUH

Judul di atas adalah baris dari sajak merdu Sitor Situmorang.

Sitor memang tenggelam di balik nama besar Chairil Anwar padahal kira-kira keduanya persebayaan.

Walaupun kedua nama itu saya sukai karya-karyanya, tetapi bagi saya, justru sajak Toto Sudarto Bachtiar entah mengapa begitu dalam menyentuh saya.

Benar bahwa Chairil Anwar begitu kuat pada banyak hal, paper dari Sylvia Tiwon menjabarkannya, dan ada seorang akademisi dari Malaysia juga menceritakan (saya lupa nama beliau), akan tetapi secara personal TSB …

Judul di atas adalah baiter, di dalam dunia maya, tujuan baiter adalah memperbanyak klik dengan memancing ingin tahu orang dengan judul yang “unik.”

Di dalam dunia pemasaran politik, baiter memancing orang “sembarang share” dengan judul yang provokatif “cinta atau benci” pada seorang tokoh padahal isi berita sangat tak mbejaji dibandingkan provokasi judul.

Sedihnya adalah beberapa media massa daring juga kerap membuat judul “baiter” untuk memperbesar “klik kunjungan” entah untuk kepentingan “traffic” entah untuk “klik masukan pendapatan dari iklan.”

……….

Saya tahu ada seorang pegiat Muslim Indonesia di Australia protes keras dengan melayangkan surel kepada kanal berita Australia ini selepas dulunya melaporkan Tokoh Kita dengan mengabaikan angle-angle lain, suara-suara lain, kekompleksan dimensi kasusnya.

Kanal berita Australia ini dulunya mengklaim bahwa reportasenya sudah layak terbit, tak ada cacat rilis karena sumber informasinya jelas. Ia menyebut nama ini dan itu. Meskipun gugatan dari penulis surel itu sederhana: sudahkah reporter mencari bandingan perspektif dari ini, itu, iku, iku, dan kae?

Rilis berita terbaru bunyinya dalam melaporkan kisah Tokoh Kita sudah sedikit berbeda sebagaimana tautan status ini.

Berita ini sebenarnya telat dibandingkan surat kabar daring besar dari UK (Britania Raya, Inggris Raya), The Guardian sudah beberapa minggu yang lalu memberitakan bagaimana Tokoh Kita seharusnya mulai diberitakan melalui “suara-suara orang pinggiran yang tergusur.” Dan mereka did that.

Tentu dendang mengenai “orang tergusur” akan susah diharapkan dari Ivan Merdu. Ivan Merdu sudah tak bernyanyi “Oo ya o ya o” kecuali “Penguasa beri hambamu …”

Sedangkan pendendang lainnya yang pernah menyuarakan “orang pinggiran ho we ya we yo,” Pak Franky Sahilatua, sudah tidak ada lagi.

Oh ya, sudah mendengar kisah tunggakan dan susah hidup para penghuni “rumah apartemen murah” belum? Kalau belum, coba ditelusur. Kecuali Anda semua tetap beranggapan bahwa “memanusiakan mereka ke rumah sewa (yang konon) murah” adalah membuat kehidupan mereka menderita maka urungkan niatan telusur berita itu.

Demikian.

——

Jika tadi di awal status sebelum saya tambahi paragraf ini saya letakkan pembicaraan mengenai sajak-sajak dan kemudian sajak mana yang menurut saya menyentuh, memotret manusia lebih dalam, kemudian saya sebut nama Toto Sudarto Bachtiar, maka “baiter” itu saya rusakkan lewat edit ini.

Kisah sebuah kota yang “unfair” dengan adigang adigung Tokoh Kita-nya mengingatkan saya pada sajak: “Gadis Kecil Berkaleng Kecil.”

Penggusuran orang-orang demi kemegahan dan kemayaan riang menciptakan keadaan:

“Ah kotaku hidupnya tak lagi punya tanda.”

Dipa Nugraha

Status Facebook 5 Februari 2017

 

PERKARA IMAM DAN TOKOH KITA

Saya tak tahu darimana istilah “Imam Umat Islam Indonesia” bermula dengan seperti apakah argumennya justifikasinya.

Begitu juga saya tak tahu siapa yang memulainya.

Tetapi ijinkanlah saya, seperti biasa, berbeda mengenai itu.

Perbedaan pandangan saya, tentu bukan dalam konteks keustadzan karena saya bukan ustadz, dan bukan sesuatu yang baru kecuali mengulang saja, karena dulu ada komentar mengenai imam yang saat itu saya timpali pernyataan yang bernada sama dengan status ini.

Yang pertama tentu saja, sebelum terjadi salah paham, perlu saya tegaskan bahwa pada perkara Tokoh Kita, saya bisa sesuara dengan beliau yang disebut oleh beberapa orang sebagai “Imam Umat Islam Indonesia.”

Saya salut bagaimana beliau berani memegang toa. Saya salut bagaimana potensi penyerangan pribadi beliau, khilaf beliau, sejarah hidup beliau, kehidupan pribadi beliau, bakal terjadi, dengan segala cara oleh mereka yang mengusung Tokoh Kita.

Tentu penyerangan ini, bagi saya, adalah strategi politik, sebuah makar, atau tipu daya, jika kemudian memang ada yang tidak baik, tidak pas, tidak sesuai harapan, akan dilemparkan ke publik.

Tentu publik akan sengaja digiring pada dua hal yang berbeda dan seharusnya DIPAHAMI TIDAK RELEVAN dengan gugatan kita semua terhadap Tokoh Kita.

Bahwa Tokoh Kita menurut saya bertindak sangat tidak pas di Pulau Sebaku, juga menuliskannya di bukunya. Sebagai suatu kesatuan dari “memang sejak semula” berniat mempersoalkan itu.

Bagi saya, tulisan Tokoh Kita, baik ber-shadow writer, ber-editor jamaah atau tidak, sebagai sesuatu concern dia sebagai seorang politisi berkeyakinan minoritas. Dia melihat obstacle itu bisa menghambat karir politiknya.

Kalimat yang ada di buku itu justru tidak potensial disebut menyerang liyan. Kalimat-kalimatnya “relatif netral” dari kemungkinan penafsiran “sedang menyerang keyakinan dan atau tokoh agama liyan.”

Akan tetapi kemudian ketika di Pulau Sebaku, lewat tuturnya sendiri dengan diksi “dibohongi dengan,” bagi saya menjadi penuh masalah. Ia menyerang pemuka agama liyan dan atau keyakinan liyan secara publik dengan diksi yang buruk. Bahkan ketika ia hendak berkelit bahwa ia menunjuk itu kepada kompetitornya, masalahnya adalah ada perbedaan mengenai “yang resmi dikabarkan sebagai bagian kampanye” dengan “yang tak resmi dikabarkan sebagai poin kampanye.” Dan ini tidak bisa (atau sulit) dibuktikan apalagi misalnya, ketika kampanye belum dimulai.

Jika kasus yang pertama diterima Tokoh Kita, maka ia telah rasis. Sedangkan jika kasus yang kedua yang diterima, maka ia memang menyulut isu rasisme dengan cara yang tak elok. Apalagi jika melihat rekam jejaknya, ia dulu pernah begitu arogan, begitu songong, berkoar-koar “bangga menjadi Kafir.”

Apa-apaan ini?

Kembali kepada perkara penyerangan kepada pribadi yang disebut beberapa orang sebagai “Imam,” saya teringat kepada, maaf, jangan bosan membaca sekian kalinya saya merujuk ini, film “Enemy of the State.”

Film ini unik karena definisi “Enemy of the State,” di dalam dunianya film itu, sesuatu yang kabur. Kita sebagai penyimak film yang bukan bagian dari dunia film itu, bisa sejak awal menyebut bahwa Tokoh Baik Will Smith adalah “Hero of the State” sedangkan Tokoh Jahat nan Rakus Jon Voight sebagai “Enemy of the State”-nya. Tetapi di dalam film itu, dunia film itu, publik film itu, Enemy-nya adalah Will Smith.

Will Smith secara tak sengaja mempunyai video yang merekam Jon Voight bunuh seorang politisi yang menghambat ambisi politiknya.

Singkat cerita, Jon Voight tahu bahwa Will Smith memegang kartu truf yang bisa mengakhiri karir politiknya. Cilakanya, Jon Voight ini punya otoritas kepada perangkat dan fasilitas negara di dalam perkara sadap menyadap.

Gagal segera menangkap dan menghabisi Will Smith untuk mencegah Will Smith menyebarkan rekaman itu kepada publik, Jon Voight tidaklah putus asa.

Ada bagian di film itu yang menarik dan relevan bagi kisah Tokoh Kita.

Bahwa Jon Voight dengan segala kemampuan mengulik dan menyibak segala aspek dari kehidupan pribadi Will Smith, ia bikin makar, rencana tipu daya kepada publik.

Jon Voight menyusun rencana bagaimana agar kehidupan pribadi Will Smith rusak. Diteror rumah dan dibuat kehidupan profesionalnya rusak. Uang tabungannya dibuat tak bisa diakses.

Will Smith dibuat stres.

Langkah berikutnya adalah merusak reputasi Will Smith: dijebak melakukan affair dan pembunuhan. Tentu penjebakannya sangat canggih.

Ada sidik jari, rekaman ini itu, ada keterkaitan “bisnis,” sehingga sangat masuk akal.

Kalimat Jon Voight kurang lebih, di film itu: jika reputasi Will Smith kita buat buruk di mata publik, ucapan apapun meski benar yang ia sampaikan ke muka publik akan dianggap kebohongan.

Semisalnya, seorang pelacur meski berkata benar bahwa ia memang diperkosa, publik yang mendapati bahwa perempuan tersebut adalah “pelacur” atau “punya sejarah melacur” akan dianggap publik sebagai pembohong.

Jadi cara kerjanya begitu.

Jika memang ada pikiran bahwa melawan bukti-bukti dan argumen yang dibawa oleh Will Smith akan susah dan pasti kalah, maka seranglah kehidupan, riwayat hidup, pribadi Will Smith.

Sebutan untuk cara kerja makar (tipu daya) ini adalah “ad hominem” atau “personal attack.”

Benar bahwa kita patut berhati-hati kepada seseorang yang kita ketahui berkarakter buruk, punya rekam jejak negatif, fasik, di dalam mempercayai ucapannya. Quran mengajari itu.

Pesannya adalah berhati-hati untuk tak terburu percaya akan “esensi pesan,” untuk diklarifikasi dulu sebelum dipercayai, dan apalagi kemudian disebarkan.

TETAPI PESAN DI QURAN, sebagaimana pemahaman saya, mohon koreksi saya, saya bukan ahli tafsir, adalah “berhati-hati” dan BUKAN SERTA MERTA MENOLAK.

Kembali pada kasus Tokoh Kita, maafkan jika saya menafsirkan “akan satu-persatu dipermalukan” mendapati konteksnya pada contoh di film “Enemy of the State” terhadap Tokoh Baik (Hero) Will Smith.

Bahwa kasus yang menjerat Tokoh Kita saya punya bayangan akan muncul personal attack terhadap mereka yang mengangkat toa.

Status ini, tentu saja, bukan “pasti seperti itu.” Anggap saja “bisa jadi seperti itu.” Ada kemungkinan begitu dan baiknya tak pas dinafikan.

Terkait dengan status “Imam,” sekali lagi, jika makna “Imam” pada istilah “Imam Umat Islam Indonesia” adalah khusus pada kasusnya Tokoh Kita, maka saya kurang sepakat.

Mengapa? Karena yang mengangkat toa banyak dan misalnya kelompok pengawal fatwa beliau berada di posisi “ketua” atau “koordinator” atau bahasa lainnya “imam,” maka bagi saya hanya khusus spesifik pada “aksi massa damai saat itu,” DAN TENTU TANPA MENGABAIKAN “imam-imam” lain yang mengangkat toa, yang bersama jamaahnya ikut berpartisipasi. Atau sebutlah: “ada beberapa imam.”

Saya, maafkan saya, tentu saja tak bisa sepakat jika kemudian ada penahbisan, ada baiat, bahwa ia “diperluas” keimamannya menjadi “seluruh umat Islam Indonesia.” Siapakah yang menahbiskan? Siapa saja ulama-ulama hanif dan ‘alim yang memberi otorisasi?

Saya bukan fifth column. Sebagai catatan: perjuangan jalan terus.

Demikian.

Dipa Nugraha

Status Facebook 4 Februari 2017

HABIB RIZIEQ

Akan menarik memang melihat bagaimana tiap kita akan kelabakan jika diberikan kuis bagaimana membuktikan bahwa Habib Rizieq tidak dibidik.

Sebut saja bagaimana acara ILC yang berencana menyuguhkan tema “Habib Rizieq Dibidik” tidak bisa ditayangkan.

Belum lagi misalnya, beliau diperkarakan melalui banyak jalan.

Mulai dari isu Pancasila, sedangkan argumen dan pandangan Habib Rizieq justru didasarkan pada karya ilmiah (riset) beliau di sebuah universitas yang bukan bodong dan di luar negeri (Malaysia). Tentu riset beliau diawasi supervisor riset dan diujikan secara akademik. Artinya, Habib Rizieq tidak sembarangan punya pandangan.

Dan sanggahlah bahwa ia tidak dibidik, saat pelaporan atas dirinya begitu banyak terkait Pancasila.

Sebutlah lagi isu mengenai “bidan” dan Trinitas. Jika Anda semua benar-benar mengikuti nasehat “Ustadz” Tokoh Kita untuk tidak melihat potongan video saja namun utuh menyimaknya dari awal hingga akhir kemudian kita tambahi sedikit konteks audience-nya dan bidang garapannya, maka pelaporan atas Habib Rizieq pada perkara “bidan” adalah absurd. Akan berbeda jika kita membandingkan kondisi “Ustadz” Tokoh Kita yang berdakwah tafsir satu ayat dengan banyak rambu dilanggar. Mulai dari bukan bidangnya, curi start, kepejabatanpubliknya, audience-nya, dan pelecehan terhadap tokoh-tokoh lain atau umat liyan yang mempunyai penafsiran berbeda.

Belum lagi misalnya kita bicara santriwati gaib, Aisha Nurramdhani yang membuat tulisan daqiq mengenai trinitas kemudian menghilang ditelan bumi. Di dalam tulisan itu, ada propaganda membela “Ustadz” Tokoh Kita dan mencela Habib Rizieq.

Sanggahlah bahwa Habib Rizieq tidaklah dibidik.

Daftar bidikan tersebut bisa ditambahkan misalnya beredar tulisan-tulisan mengenai “habib” yang tidak selalu “orang baik,” tulisan bahwa banyak yang “aslinya punya darah kehabiban” namun “diklaim rendah hati tak mau mencantumkan sebutan habib atas namanya.” Seolah secara implisit hendak menyebut bahwa habib “yang itu” bukan orang baik dan “tidak termasuk rendah hati.”

Sanggahlah sekayang-kayangnya bahwa Habib Rizieq tidak dibidik.

Masih berlanjut, setelah tuduhan makar atas aksi yang digalang susah dibuktikan, kemudian isu “aliran dana” atas aksi bisa menjurus pada isu perzinaan.

Tepuklah dada sekencangnya dan cobalah jika bisa teriakkan tangkisan: Tidak, Habib Rizieq tidak dibidik.

Benar, kita tidak tahu apakah tudingan ini benar atau tidak. Saya tidak tahu. Saya kesampingkan dulu apakah itu benar atau salah akan tetapi keberuntunan isu yang ditembakkan ke Habib Rizieq akanlah wagu jika dikatakan “tidak ada yang membidik.”

Lepas dari itu, sekali lagi, itu benar terjadi atau tidak, masalah ini sungguh serius untuk direnungkan:
1. Bagaimana percakapan WhatsApp bisa beredar? Apakah ada handphone yang dicuri? (Jika memang itu benar terjadi kasus yang dituduhkan itu). Ataukah ada hacking WhatsApp? Siapa yang bisa melakukannya? (Sekali lagi jika itu benar) Siapakah penyebar pertamanya? Apakah ia “hacker” ataukah pion dari pembidik Habib Rizieq? (Jika itu benar)

2. Gaya ketikan seseorang dan bicara seseorang tak bisa berganti-ganti kecuali seseorang adalah aktor atau con-artist. Sebagaimana saya sering disindir oleh beberapa orang dekat mengenai bahasa ketik pesan dan tutur yang kurang gaul. Untuk mengubah menjadi “gaul” tidak bisa dilakukan sekali jadi dan kemudian balik lagi ke model aslinya sekali tepuk.

3. Zina adalah perkara berat. Ustadz saya, tanpa tanda kutip, Ustadz beneran, menasehati saya bahwa menuduh orang berzina adalah perkara yang serius; sangat serius. Ini adalah bagian dari adab Muslim dalam penuduhan Zina. Tentu kecuali melihat “pensil masuk ke dalam botol” dengan mata kepala sendiri. Itupun …

Oleh sebab itulah, saya tak habis pikir, ketika isu ini masih samar, mengapakah sebagian Muslim berteriak kegirangan, menyindir-nyindir, senang tidak ketulungan ketika isu ini mencuat?

Benar bahwa tiap orang ada potensi melakukan khilaf, salah kecil maupun salah besar. Itu benar.

Akan tetapi mengapakah pada perkara yang sangat berat tuduhannya, masih samar dan banyak “hole”-nya serta ada keberuntunan bertubi-tubi kasus yang dicuatkan dan ditimpakan sehingga pantas untuk “sangat berhati-hati” untuk berkomentar karena bisa jadi ini juga bagian dari peluru ditembakkan, tempik sorak dengan bangga kau tuliskan di status-status media sosialmu? Dengan enteng kamu “share” tulisan-tulisan yang bernada serupa itu?

Tidak ada yang kebetulan di dalam politik. Cobalah berpikir sederhana saja, bertubi-tubi kasus ditimpakan kepada Habib Rizieq itu dimulai dari perlawanannya kepada siapa?

Siapakah yang dilawan Habib Rizieq? Apakah yang ia lawan adalah “aset” pengaman proyek yang bernilai sekian trilyun dan proyeksi politik ke depan sekian besar?

Marilah secara jujur, baik kau secara pribadi maupun keimanan setuju atau tidak setuju dengan gaya Habib Rizieq, cobalah duduk merenung dan menguatkan benak untuk dengan mantap menyatakan: Tidak, saya tidak melihat Habib Rizieq dibidik.

Jika bisa. Jika bisa.

Dipa Nugraha

Status Facebook 31 Januari 2017

KYAI TIDAK SELALU BENAR, HABIB TIDAK SELALU BENAR, TETAPI

Kapan hari yang lalu, saya berbincang secara pribadi dengan seorang Muslim yang berpendidikan “ngaji” lama dan punya kiprah lama di bidang hukum.

Ia mengumpat-umpati Kyai dan Habib karena punya pandangan begini dan begitu dalam politik.

Selain nampaknya ia “mengutuk” keterlibatan Kyai dan Habib dalam politik, ia juga “mendamprat” pandangan mereka dalam kontes demokrasi.

Saya ngobrol banyak dengan dia. Percakapan itu masih tersimpan di Fb Messenger saya.

Saya bertanya mengapakah ia punya pendirian seperti itu. Apakah sebabnya.

Ia lalu merujuk pada pernyataan “Kyai Besar” bahwa di dalam demokrasi itu begini dan begini. Bahwa agama tak boleh dimasukkan dalam politik.

Saya kemudian bertanya kepadanya. Pertama tentu saja, bukankah “Kyai Besar” itu dulunya sebelum meninggal sangat aktif di pentas politik? Bahkan bukankah setidaknya ia mahfum bahwa “Kyai Besar” itu juga mendirikan partai; bukti semangat ia memperjuangkan umat dalam dan lewat politik? Dus, Kyai Besar pujaannya tak bisa melepaskan diri untuk nimbrung di politik.

Jadi tak tepat pernyataan jangan masukkan agama dalam politik. Tentu kecuali jika maksudnya adalah jangan sampai kontestasi politik membenturkan antaragama dalam retorika dan praktik. Tetapi bukan berarti politik itu steril dari agama.

Kurang lebih begitu, alur percakapan kami. Kurang lebih.

Lalu saya tanyakan lagi, jika sama-sama Kyai yang satu (dan Habib) disebut “salah dan ngawur” di dalam menetapkan pandangannya atas seseorang, apakah berarti Kyai yang satunya, Kyai Besar yang jadi rujukannya berpendapat, berarti (pasti) “benar”?

Ia tidak mengatakan “ya” secara eksplisit. Namun saya ajak ia ngobrol agar bisa mengarah kepada poin saya mengenai keanehan mengambil sikap pada dirinya.

Saya bertanya, apakah “Kyai Besar” yang dipujanya selalu benar di dalam kiprah politiknya?

Ia pertama enggan menjawab.

Kami berjeda kontak kira-kira dua hari. Sebelum akhirnya ia menjawab: tidak semua hal dari “Kyai Besar” itu benar menurut saya. Ia bahkan bisa memberi contoh konkret.

Contoh yang ia berikan menunjukkan bahwa ia peduli politik. Itu sisi positif dirinya. Di sisi lain, saya menimpali: Berarti “Kyai Besar” itu tidak selalu benar bukan? Keputusannya selain tidak pas juga menimbulkan hal yang tidak baik bagi banyak orang.

Ia terdiam.

Lantas saya sodorkan perspektif bahwa sikap yang diambil Kyai dan Habib yang ia serang itu, besar jadi malah benar dan bermanfaat bagi umat dan JUGA bangsa Indonesia tidak hanya sekarang namun hingga ke depan, mengapakah tidak dihormati? (atau malah diikuti).

Ia terdiam.

Kyai dan Habib bisa keliru, tetapi Kyai yang kamu rujuk juga belum tentu benar, apalagi hanya pendapat menurut rendah ilmu “kita.”

Belum misalnya jika kita tambahkan sebuah fakta bagaimana Tokoh Kita yang DULU didukung Kyai Besar itu di hadapan banyak massa, bisa jadi, jika beliau kini masih sugeng, tidak akan didukung lagi SEKARANG karena kasar dan penuh kontroversi terkait proyek berbalasan “kontrak sukarela” barang dan donasi kampanye tak terlaporkan dan gebuk kasar tutur dan kebijakan menurut sisi kemanusiaan.

Sayang, saya lupa menambahkan hal penting mengenai pandangan tokoh-tokoh religius (agama apapun) berkenaan dengan demokrasi di dalam perbincangan Fb Messenger itu.

Begini. Pendapat Martin Luther, tokoh pendiri Kristen Protestan, nampaknya mewarnai pemikiran beberapa tokoh religius.

Martin Luther memiliki pandangan bahwa pemilihan pejabat publik berbeda dengan pemilihan imam keagamaan. Tetapi bagian ini, harus juga dipahami dua poin penting: bahwa ia mengalami kisah “Gereja Katolik dan Penguasa Bangsawan yang disokong buta oleh Gereja SAAT ITU” dan model yang ditawarkan Martin Luther meretaskan jalan pada sekularisasi Barat. Meski, meskipun dalam praktiknya di politik Barat, isu agama tidak lekang dan sayap kanan hingga kini punya banyak sokongan. Malah, kini di beberapa negara Eropa kian kuat. Silakan saja telusur di internet dan rujuk pada kolumnis-kolumnis politik yang “jelas keilmuan dan atau kiprah jurnalistik politiknya”: benar demikian adanya.

Demikian.

Dipa Nugraha

Status Facebook 28 Januari 2017

HOAX DAN ALTERNATIVE FACTS

Hampir disepakati bahwa hoax (fake news) tidak terkait dengan tingkat literasi.

Nyatanya banyak negara besar dengan tingkat literasi bagus juga meresahkan beredarnya hoax di masyarakat mereka. Atau mungkin katakanlah bahwa semakin tinggi tingkat literasi sebuah masyarakat maka pembuat hoax juga semakin canggih.

Di Amerika Serikat, isu hoax begitu kuat di panggung politik. Ada kolumnis politik yang membuat klaim bahwa kekalahan Hillary Clinton dari Donald Trump karena beredarnya hoax, salah satunya mengenai kesehatan Hillary.

Di dunia politik Amerika Serikat juga kapan hari yang lalu diributkan dengan istilah “alternative facts” juga “false claim.” Banyak yang mempertanyakan mengapakah ketika para politisi di Amerika Serikat “spreading lies” hanya disebut dengan menyodorkan “alternative facts” atau “false claim” dan tidak disebut dengan “berbohong” saja.

Bagi wartawan untuk menyebut atau menulis seorang politisi melakukan kebohongan, menyebut sebagai pembohong, kadang kala berisiko. Apalagi jika politisi tersebut diusung, didukung pemilik surat kabar tempat ia bekerja. Bisa kena pecat, cari pekerjaan tidak mudah.

Itulah mengapa kini pilar keempat demokrasi: surat kabar, media massa, disebut sudah sering melempem. Kritik publik, kontrol publik terhadap pemerintah yang sedianya menjadi tugas media massa menjadi melesap bersama kepentingan pemilik media massa yang terlibat aktif dalam patronase politik.

Balik kepada hoax, alternative facts, false claim, dan kita arahkan pada politik di Indonesia, banyak yang menyatakan bahwa hoax awal di dalam politik adalah “mobil Esemka.”

Menurut saya, pernyataan ini tidak tepat. Banyak bukti menunjukkan bahwa mobil Esemka selain riil ada, juga mengalami usaha serius untuk keberlanjutannya. Mengenai belum terwujudnya sesuai harapan, banyak faktor bisa diajukan.

Menurut saya malah, hoax awal di dalam politik Indonesia adalah pernyataan: “uangnya ada, uangnya ada.”

Pernyataan ini jika merujuk pada “facts” dan “alternative facts” sebagaimana perpolitikan Amerika Serikat berpolemik mengenai hoax, fake news, false claim, mengenal dua istilah tersebut sebagai “fakta sesungguhnya” dan “bukan fakta” maka kita bisa mengatakan bahwa yang merupakan fakta adalah “uangnya bocor” dan yang berkebalikan pernyataannya, “uangnya ada, uangnya ada” adalah …

Dan mungkin dari situlah kita harus memaafkan diri kita yang membuli seseorang yang tahu dan mengatakan kondisi negara sebenarnya. Menyatakan kekhilafan kita dan menaruh hormat padanya.

Demikian.

Dipa Nugraha

Status Facebook 26 Januari 2017

KAFIR DAN TOKOH KITA

Tokoh Kita ini konsisten di dalam mengelabuhi publik lewat gaya ngotot seolah tidak bersalahnya.

Kita bisa ingat bagaimana klaim bahwa ia sudah tahu tafsir ayat dari kitab suci liyan yang kini menjeratnya, melupakan bahwa setidaknya ada tiga tafsir yang dipakai Muslim di Indonesia pada ayat yang sama.

Mengkampanyekan satu tafsir “yang menguntungkan dirinya” sebagai politisi yang bukan dari pemercaya kitab suci itu sembari menyebut pengusung tafsir yang diperanginya sebagai para pembohong adalah kurang ajar, bagi saya.

Belum lagi terbukti ketidakpahaman Tokoh Kita terhadap tafsir yang diperanginya ketika ia menuduh penyembunyian riwayat kerja saksi yang melaporkannya mengenai Fitsa Hats.

Tokoh Kita, bagi saya, kurang ajar dan ngawur. Saya tak peduli jika ada video tokoh nasional atau kyai besar mendukungnya, bagi saya Tokoh Kita memang membuat masalah dengan kebhinekaan. Bukan sebaliknya.

Tentu saja menurut kacamata hukum, saya tidak tahu. Tentu saja bagi hukum, uang, dan mega proyek bernilai trilyunan yang dipertaruhkan, saya semakin tidak tahu. Maklum, saya bukan praktisi hukum, bukan patron modal politisi, dan bukan makelar hukum.

Yang terbaru dari Tokoh Kita adalah kemarahan disebut “kafir.”

Saya masih ingat bagaimana ia pernah menyatakan di depan wartawan bagaimana ia “bangga menjadi kafir.” Ada pernyataan itu dalam tautan tulisan mengenainya di sebuah tulisan di blog saya.

Jika kemudian ia kini marah-marah tidak ketulungan disebut orang lain sebagai “kafir” di pengadilan maka saya tak tahu lagi bagaimana menyebut kepribadian Tokoh Kita ini.

Tambahan pula, penolakannya terhadap definisi “kafir” yang ditujukan baginya juga aneh. Seolah-olah ia menyamakan “kafir” dengan “atheis.” Entah apa saja istilah-istilah yang ia pahami beda dengan pemahaman umum atau berubah-ubah berbeda menurut kepentingan pragmatisnya.

Saya tak habis pikir, saya hampir-hampir kering kata.

Status saya ini bukan hendak menormalisasi pemakaian istilah “kafir” dalam kontestasi politik di ruang publik di negara Indonesia tercinta. Bukan dan jangan lakukan itu.

Hanya saja, saya menulis status ini dalam keadaan sedih karena seolah menguatkan pandangan awam saya bahwa Tokoh Kita memang berani begitu dan tanpa kapoknya kecuali jika tanpa patron yang kuat yang, paling tidak, bisa menjamin “keselamatan”-nya di dalam aktivitas publiknya sebagai politisi untuk mengumbar hal-hal mengenai sesuatu yang milik liyan dengan tafsiran sesuka hatinya.

Salut! Salut! Salut! begitu keprihatinan ini mengejakan duka tak bisa apa-apa.

Dipa Nugraha

Status Facebook 25 Januari 2017

PAGELARAN WAYANG

Walisongo konon ada perbedaan pendapat mengenai media dakwah lewat seni wayang.

Silakan simak bagaimana Sunan Ampel yang berbeda dengan Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus di dalam berdakwah lewat media budaya.

Apapun, yang beredar di masyarakat bahwa SEMUA dari Walisongo setuju dan atau berdakwah memakai media wayang adalah tidak akurat. Silakan misalnya rujuk pada buku John Renard, “Tales of God’s Friends” (2009: 356). Juga bisa ditelusur lewat pendapat Abdul Rahman, pengkaji riwayat Sunan Ampel.

Dan juga misalnya ada posibilitas modifikasi cerita agar tidak kehindu-hinduan walaupun tidak tertutup kemungkinan ada yang dakwah tetap baku dengan nuansa “India” [baca: cerita asli wayang adalah bukan Indonesia asli kecuali modifikasi Punakawan] dengan nasehat ikutannya Islami, ada yang anggap cerita “India” itu anggap saja sebagai amsalan kehidupan manusia tentu tanpa kerasukan Hinduisme India. Dan di sisi lain, wayang sendiri dalam rupa fisiknya adalah bukan rupaan 3 Dimensi dan stilistik dibuat tak persis manusia beneran, sesuatu yang tidak ada perbedaan pendapat kebolehannya dari empat mahzab tentangnya.

Oleh karena itulah tidak mengherankan jika MUI ternyata juga wayangan. Muhammadiyah juga wayangan, NU juga. PKS ternyata juga.

Misalnya ada ormas Islam lain yang tidak sepakat dengan wayang kulit, mbok ya jangan dibilang dengan julukan yang kasar. Katanya menerima perbedaan pendapat? Sunan Ampel tidak wayangan. Katanya hendak santun menasehati? Lha wayang kulit yang ditentang itu yang bagaimana juga sih?

Problem lain dari baliho atau spanduk itu adalah, siapa yang memasangnya, lokasinya di mana, bagaimana memastikan bahwa pemasangnya adalah suatu ormas (baca: ormas Islam)? Belum lagi, wayang itu biasanya “digelar,” “dipertunjukkan” dan bukan “diputar.”

Kalau mau provokasi, adu domba, umat Islam (atau anak bangsa ini) maka baliho itu sungguh lucu unyu-unyu sebab umat Islam (atau anak bangsa ini) insyaAllah tak gampang terprovokasi.

Makanya kalau mau provokasi, mbok jangan lucu unyu-unyu.

Lagian, sebenarnya yang ditolak itu semua pagelaran wayang kulit, atau “satu” wayang kulit yang akan diselenggarakan terkait materinya yang nggombali; wayang kulit politik?

Referensi

1. http://mui.or.id/…/06/09/suguhan-wayang-santri-ijtima-ulama/

2. http://www.muhammadiyah.or.id/news-137-detail-pertunjukan-w…

3. http://www.nu.or.id/…/pesantren-kaliopak-gelar-pekan-pering…

4. https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10208372280649888&set=a.1042799435511.2008388.1391342298&type=3&theater

5. https://www.merdeka.com/…/jauhi-bidah-sunan-ampel-tolak-ide…

Dipa Nugraha

Status Facebook 23 Januari 2017

TENTANG GULMA (WEED) DAN HAMA (PEST) [ARTIKEL] DI REPUBLIK[A] ITU

Arcioni (2004) dari Universitas Wollongong tak mungkin gegabah dan tak mungkin tanpa reviu ketika ia menuliskan kajiannya yang berjudul “What’s in a Name? The Changing Definition of Weeds in Australia” yang isinya mengenai perubahan definisi dan kebijakan mengenai gulma di Australia dari 1788 hingga masa modern.

Dua fokus utama yang menjadi kajian Arcioni adalah pertanyaan: “by whom are the plants unwanted and why are the plants unwanted.” (hlm. 443)

Ia mendudah sejarah perbedaan pandangan dan perubahan pendefinisian gulma mulai dari sudut pandang Aborigin, kolonial Inggris, agrikultural, dan sudut pandang lingkungan.

Arcioni di dalam paragraf awal kesimpulannya menyatakan sebagai berikut: “The way in which plants are characterised, as good or bad, deserving of protection and encouragement in their growth and spread, or requiring management, control or eradication, says much about the society which makes those choices, what that society values and why. The way in which plants are characterised in Australia and how that has changed over time reflects a change in the nature of Australian society, its values and characteristics.” (hlm. 456)

Kemudian dari pendefinisian gulma yang sifatnya mengikuti sudut pandang mana yang hendak diambil, narasi bagaimanakah yang hendak dipakai, kita kemudian bisa menuju pada istilah kedua pada judul di atas yaitu Hama (Pest).

Di dalam pendekatan akan hama, kita mengenal suatu istilah yang disebut dengan Integrated Pest Management (IPM). Pendekatan dalam IPM adalah pendekatan holistik yang tidak mengesampingkan keseimbangan ekosistem di mana “tanaman yang digarap” dengan “hama yang merugikan” kadangkala memiliki keterkaitan keberadaan dan tak bisa diganyang hingga habis kecuali dikontrol sesuai takar harapan (Hough, “The Global Politics of Pesticides,” 2013: 131).

Pendekatan modern ini mengurangi kerusakan yang tidak perlu, mengurangi kerusakan lingkungan lewat pemakaian pestisida yang berlebihan, dan yang terpenting adalah menjaga keseimbangan ekosistem. Pemakaian predator hama kadang dipakai seiring dengan pengurangan pemakaian pestisida. Namun pendekatan ini juga ada kekurangannya.

Pada beberapa kasus, terjadi misalnya predator hama yang dilepaskan untuk mengurang hama malah kemudian “memakan hewan lain di ekosistem yang bermanfaat bagi tanaman” atau malah “merusak tanaman yang digarap” (Hough, hlm. 133) dan tentu saja pelepasan predator hama butuh penelitian yang seksama serta biaya yang lebih mahal dibandingkan gampangan semprot pestisida. Salah menakar predator yang dilepaskan untuk mengganyang hama tentu saja malah menjadi bencana.

Perkembangan berikutnya di dalam manajemen hama tentu saja rekayasa genetika terhadap tanaman garapan. Jadi tanaman garapan dididik, eh maaf, direkayasa jalan berpikirnya, eh, maaf kelepasan ngetiknya, direkayasa gen-nya sehingga lebih bisa resisten terhadap hama. Mengenai rekayasa genetika ini, selain biaya risetnya besar dan butuh waktu yang agak lama, beberapa isu mengenai dampak penularan perekayasaan ini yang bisa di luar kontrol. Gen yang direkayasa bisa berimplikasi pada ekosistem secara tidak terduga dan ini yang ditakutkan oleh para ahli.

=====

Istilah gulma berkaca dari sejarah di Australia tentangnya sungguh menarik. Bahwa pandangan tiap komunitas mengenai gulma bisa berbeda-beda tergantung sudut pandangnya.

Sebagaimana hama, yang merupakan bagian dari ekosistem, cara mengontrolnya bisa dengan banyak cara. Cara yang mudah dan berpotensi merusak keseluruhan ekosistem adalah tentu saja semprot dan semprot terus dengan pestisida; hama mati, cepat beres, ekosistem dapat bonus residu kimia. Residu kimia ini bisa dikenang, eh maaf, keterucut ketik, bisa mengendap sangat lama di ekosistem. Begitu juga misalnya diambil keputusan melepaskan predator pemangsa hama, siapa bisa menjamin bahwa aksi predator bisa dikontrol dan malah tidak menularkan hal-hal yang bisa buruk kepada ekosistem di masa mendatang?

=====

Susah memang saat gelisah memegang kekuasaan, eh silap ketikan, tidak gampang memang untuk bercocok tanam.

Dipa Nugraha

Status Facebook 20 Januari 2017

JEBAKAN FOTO TOKOH KITA DAN MILEY CYRUS

Menarik sekali mendapati bagaimana aktivis-aktivis saiber Muslim dijebak dan kemudian bisa mendapatkan gelar “Onta Bodoh.”

Kasus yang terbaru adalah foto Tokoh Kita yang diedit dengan Miley Cyrus dan dikait-kaitkan dengan Alexis.

Saya mencoba menelusuri “asal” sebaran foto tersebut. Yang kemudian disambar oleh beberapa aktivis Muslim yang terlalu bersemangat, sangat bersemangat.

Mereka terkecoh sebuah akun penebar foto tersebut yang: seolah bagian dari “perjuangan” dan juga sudah dibumbui memakai “sumpah.”

Entah benar atau tidak runut balik kepada sumber foto itu, namun saya mendapati penyebarnya adalah Du** Abra***

Ia menyebarkan ke grup Anti Jo**** dan Tokoh Kita dengan sumpah potong telinga jika foto tersebut adalah editan.

Saya cek akun Du** Abra*** ini dan mendapati sekitar sepuluh posting terbaru di Facebooknya adalah “Islami” dan anti kepada Tokoh Kita. Akan tetapi jika kita scroll hingga ke bawah maka akan kita dapati bahwa pemilik akun ini “bukan seperti itu.”

Bahkan profil akunnya pun menyiratkan ia “bukan seperti itu.”

Saya tidak tahu apakah ini sebutannya. Istilah buzzer nampaknya tidak pas.

Buzzer di political marketing itu sependek paham saya biasanya dipakai untuk menyebut seseorang yang menciptakan [ilusi] keramaian orang sepakat pada suatu ide.

Buzzer bisa bertugas me-retweet (mencuit ulang) seorang opinion leader. Dulu Ust** Abu J**** tidak saya masukkan dalam kategori ini karena ia menurut saya lebih masuk kepada con artist, abuser dan satirist BUKAN HOAXER namun di sisi lain ia juga selama telah menjadi opinion leader dalam konteks abuser, atau syubhater (menebar syubhat dan hate).

Ketika ia menyatakan model gerakan baru untuk men-share tulisan dari beberapa opinion leader maka ia kemudian saya masukkan sebagai buzzer. Ya, social media buzzer!

Di dalam kerja political marketing di media sosial, pasukan saiber yang berdana besar akan memanfaatkan teknologi di dalam melakukan bots–automated political marketing.

Jadi jangan heran jika kemudian opinion leader ketika mencuit di twitter atau membuat status di Facebook, jumlah like atau retweet-nya bisa menukik naik dengan cepat.

Untuk melakukan hal itu, diperlukan software yang memang tujuannya untuk membuat keramaian political propaganda, harassment campaigns, dan hal-hal serupa itu. Yang bekerja tentu butuh koordinator profesional, bayaran yang jelas, dan tentu saja sumber dana yang banyak.

Jadi bukan satu orang menggarap banyak akun akan tetapi satu orang dengan software khusus menangani banyak akun sehingga tidak gempor dan efisien di dalam melaksanakan profesinya sebagai buzzer.

Jadi ada opinion leader, ada buzzer dengan software, ada manager political marketing yang merawat kesejahteraan dan mengkoordinir opinion leader dan buzzer. Tentu saja manager political marketing disokong dana dari sponsor politik suatu kandidat.

Dari situlah masyarakat awam akan “terdikte pikiran” pada suatu ide, kampanye, kecenderungan pada kandidat karena “banyak like” dan “banyak share” atas suatu cuit twitter atau status Facebook. Atau bisa “didikte pikiran” untuk membenci suatu kandidat.

Dari situlah jugalah awam tergiring untuk menaruh “like” atau “love” dan juga kadang kemudian “me-retweet” atau “men-share.”

Karena ada ilusi “yang retweet, love, share, atau like” banyak.

Nah, pada kasus melempar “ranjau” atau jebakan yang kemudian bisa dipungut oleh “lawan yang gegabah,” saya belum menemukan istilah yang pas untuk ini. Yang pasti ini bukan kerja buzzer. Bisakah profesi yang satu ini, melemparkan jebakan, disebut sebagai “baiter” [atau “trapper”]?

Dipa Nugraha

Status Facebook 17 Januari 2017

TAK HABIS KONTEMPLASI

Saya tak habis pikir mengapa isu pemilu dan agama mencuat justru dari seorang pemeluk agama yang agamanya berkaitan dengan hidangan sebagai salah satu tema penting dari surat itu.

Saya tak habis pikir mengapa hidangan menjadi penting dan mencuat saat meja hidangan dalam kehidupan sehari-hari kita meniscayakan “memilih dari yang terhidang.”

Saya tak habis pikir bagaimana ayat itu tidak mendapati “pemimpin” spesifik dalam bahasa Arab namun justru “auliya” dalam bentuk luasnya. Mengapa kata dalam ayat itu justru sesuatu yang luas?

Saya tak habis pikir mengapa “dengan meninggalkan” muslim dari opsi kita berauliya justru dalam, sangat dalam maknanya.

Saya tak habis pikir mengapa bahkan konteks ayat tersebut justru ketika terjadi persaingan, perselisihan, perang.

Juga saya tak habis pikir bagaimana sebelumnya ada kasus “wali pengganda uang,” dan orang-orang salih berkata: “Sebutan wali bukan sesuatu yang ditolokukurkan pada kemakmuran dunia, pencapaian duniawi!”

Saya tak habis pikir mengapa ini terus tengiang-ngiang. Kontemplasi tak sejarak saja bulanan.

Dipa Nugraha

Status Facebook 11 Januari 2017

BUZZER DAN MULA KEKACAUAN

Saya tak akan bicara tabur tuai, kecuali keknya tak ada amsal lain yang memadai.

Fenomena buzzer yang muncul dari kerja political marketing yang dimulai secara “profesional” di kampanye presiden 2014 oleh salah satu kandidat … menurut pendapat pribadi saya … justru kemudian memunculkan tradisi dan ketidaksungkanan menciptakan kondisi super fans versus super haters; chaos, kekacauan.

Saya sering mendapati hal tersebut pada dua kubu “residu” dari fans dua kandidat bersaing di 2014. Yang satu saya anggap memulai tradisi tersebut lewat pasukan saiber untuk pemasaran politik di dunia maya … yang di kubu lainnya merespon dalam semangat yang, kemudian mimikri, ngawur tak karuan.

Lihatlah di media sosial banyak sekali akun-akun yang tak jelas dan berkomentar jahat.

Atau memang kemudian kita ikut terbawa angin ini? Ataukah kemudian keluhan banyaknya hoax dan tebar ujar kebencian adalah tuaian?

Semoga kita, sebagai satu bangsa, bisa bersama-sama mentekel ini. Bukan siapa menabur kemudian kita soraki silakan menuai, namun kita bekerja sama.

Tentang ujaran kebencian, bisakah selebritis media sosial yang status-statusnya memancing komentar2 kasar diberikan tanggung jawab membersihkan kotak komentar tiap statusnya dari pengkomentar jahat? Misal.

Mari!

Dipa Nugraha

Status Facebook 31 Desember 2016

How Full-Day School Might Work in Indonesia

This article was rejected by The Jakarta Post, which previously had published a critique by Agus Mutohar on Muhadjir’s idea of Full-Day Schooling, addressing this piece “[would be something] too early to comment on the issue, because the education minister’s concept regarding full-day school remains unclear.” I was hoping that The Jakarta Post would create and accomodate a good and productive public debate on the direction on national education reform but I was wrong.

When the idea of full-day school in public schools for lower education was first introduced to public by the Minister of Education and Culture, Muhadjir Effendy, there were harsh criticisms of the idea. Actually, full-day school works like a mandatory after-school program designed to give more time for teachers to make innovations and deliver ‘casual subjects’ to improve students’ skills and knowledge and build good character. Moreover, most people did not recognize that full-day school was inspired by the Nawa Cita of Jokowi’s visionary presidency campaign.

Some parts of the full-day school idea were misinterpreted by public, such as how full-day school will work when students are already burdened with too many subjects to learn in school, dealing with too much homework on a daily basis. Additionally, they did not understand how full-day school would improve the quality of education.

Nevertheless, some aspects of full-day school do have the same goals as the critics. For example, Agus Mutohar wrote a criticism of full-day school that was published a couple of days ago in The Jakarta Post  (23/08). Agus points to the key elements in the 2013 curriculum (K13), where character building and skill developing already get a lot of attention.  Agus does not realize that what Muhadjir wants from this co-curriculum to K13 is similar to Agus’s notion “to assist students develop their skills, knowledge, and character.” Muhadjir’s says that the longer school hours will not be filled with ‘serious’ subjects but instead with adding extra skills and knowledge and building the good character of the students, thus providing what some critics want in our lower education system.

We all understand that Indonesia has many problems in lower and higher educations. Based on the latest Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) rankings, the country has a low ranking in maths and science for lower education in comparison to other South East Asian countries, such as Singapore (1st), Vietnam (12th), Thailand (47th) and Malaysia (52nd), a statistic that concerns many education practitioners and policymakers.

Referring to Agus’ observation, the problems in Indonesian education are the traditional methodologies used in education that prevent practitioners from making any innovations. The traditional methodologies demand teachers prepare their students to focus and succeed in the examinations based on rigid standardized curriculum.

Alas, the newest curriculum of 2013 (K13), which was introduced by the previous minister Muhammad Nuh and intended to change the way teachers teach  and promote active learning and character building, has not been successful in its implementation. The curriculum contains incomplete material and is inconsistent and there has been a lack of preparation from policymakers in ensuring the change from the previous curriculum to the new curriculum goes smoothly. These issues have raised concern and protests from teachers.

It is also important to note that time is needed for teachers to adopt and adapt to the new curriculum, not to mention changing the old paradigm in our education that focuses on preparing students for examinations. In addition to this, there is resistance to accepting the paradigm endorsed in the new curriculum, where teachers are to encourage their students to take part in active learning, to interpret into practice what character building really is and to manage their classes so that they are an exciting environment for learning. These points are related to the cognitive and emotional strains teachers experience with the change of curriculums.

Teachers are still used to the traditional way of teaching where, as Agus Mutohar states, “teachers tend to explain lessons abstractly, then they ask students to work on students’ worksheets.” The new curriculum, which is planned to promote critical thinking in classrooms, faces another obstacle in the teachers’ stand of unconsciously resisting changes from the old way they are used to.

In the grammar of schooling, a metaphor for the system of education coined by Tyack and Tobin (1994), there are a rigid set of rule for lecture-type sessions and clear boundaries between subjects and their examinations. This type of schooling is what is currently used in Indonesia. These structures and rules that organize instructional work in schools are used because they help teachers do their job, with their mission expected by the state, school boards, and parents to make students pass the examinations. However, this type of schooling holds back innovations in teaching and learning.

It is true that the policy on standardized national examination has changed in Anies Baswedan’s era. The way a student passes a level of their education is now not solely based on obtaining a required minimum score in the standardized national examination. However, it is undeniable that the culture in teaching has not yet shifted and most teachers prefer the lecture-type teaching style. The new curriculum, where rigid and standardized national examinations now only have a 30 per cent weight in deciding whether students’ pass to the next level, may help change the tendency of sticking to lecture-type teaching style. But the idea from the newly appointed minister, Muhadjir, about full-day school must be seen as a good idea to create an opportunity where the rigidness of schooling in the first half-day meets with the casual school activities in the next half-day with some benefits like giving more time supervising for students and giving opportunity for teachers to implement co-curriculum they design  in ‘casual subjects’ but still relevant with the idea endorsed by Muhadjir in adding skill & knowledge and building good character on students, or perhaps providing extra time to help poor students improve their study in a less formal way.

Whilst some people instantly reject Muhadjir’s idea of full-day school, it is actually not a new thing in Indonesia. Some private schools in Indonesia have implemented this type of schooling and they are doing very well.

In the United States, the very same idea was proposed by Peter Orszag in an article the Washington Post in 2012, with a focus on improving academic achievement and providing more time supervising for children, thus preventing them from getting into trouble. However,  just like what is now happening in Indonesia, the opposing voice also took place. For example, the cons said that longer school hours would give no contribution to the quality of education but the pros believed that longer hours of schooling and extensive teacher feedback with more selective teacher hiring as suggested by a Harvard research conducted by Dobbie and Fryer (2012) would elevate the quality of education. Still, implementing the transformation from half-day school to full-day school should not be done in a rush. A study by Thomas Coelen (2004) that compares the variety and implementation of full-day school with half-day school in some countries in Europe to Germany in response to the falling results of their pupils in OECD rankings in maths and science. Coelen illustrates that it is not an easy task to change nationally from a half-day school, such as is common now in Indonesia, to a full-day school system in public school. Many changes in attitude and practice are required for the adoption to be successful.

This is actually what becomes our concern now if the idea of full-day school is to be implemented. Our government still has not perfected the implementation of the K13 and teachers are still struggling with the interpretation of K13 in practice and the adaptation of its spirit with the way they teach their students and manage their classes. Full-day school is not a bad idea and it may work; nevertheless, further questions must be asked as to if it is appropriate to implement it now and whether the government will provide some incentives for teachers, as many teachers in Indonesian public schools are currently underpaid and would be required to spend extra hours learning and implementing ‘added curriculum’ from the not-yet-established K13 curriculum. Would the government provide incentives to teachers when they realize that money is too tight to mention in the revised 2016 state budget? Would the government insist on implementing this idea thus adding burden to the teachers who are already struggling with the K13 curriculum? Despite the idea begs some questions in regard to its feasibility, one thing is still hanging in the air in case the Minister has prepared the whole concept in detail and set plan to implement it soon or just to try to find out what people think about full-day school.

 

Indonesia – Singapura – Australia – Malaysia

Bertetanggalah dengan cara yang baik sebab tetangga adalah saudara terdekatmu.

Well, bagi saya, seorang warga negara Indonesia, isu yang sedang hangat dengan Singapura, Australia, dan Malaysia sungguh menggelisahkan.

1. Kasus dengan Singapura

Bagaimana jika Singapura memberi nama kapal perang atau kapal patroli yang berkeliaran di sekitar perbatasan perairan Indonesia dengan nama ‘teroris’ dalam sejarah Indonesia meskipun bagi Singapura ‘teroris’ ini adalah pahlawan?

2. Kasus dengan Australia

Bagaimana jika Australia mendapati bahwa BIN juga menyadap pejabat-pejabat Australia demi kepentingan keamanan nasional?

Bagaimana jika BIN sudah sangat tangguh dan benar-benar serius bekerja di bidang intelijen sehingga negara-negara lain tidak dengan  mudahnya menyadap pejabat-pejabat penting kita?

3. Kasus dengan Malaysia

Bagaimana jika budaya yang berakar Melayu, muncul di Sumatra dan semenanjung Malaya, kita klaim sebagai hanya milik bangsa Indonesia? Bagaimana jika kemudian budaya yang berakar Dayak, yang berasal dari pulau Kalimantan tempat 3 Negara berada, kita klaim sebagai hanya milik bangsa Indonesia? Lalu bagaimana jika kita tidak pernah mengatakan bahwa budaya Malaysia adalah serumpun dengan budaya bangsa Indonesia?

Indonesia, Singapura, Australia, dan Malaysia adalah negara-negara yang saling bersebelahan. Jadi bagaimana jika kita duduk bersama dengan kepala dingin dan tidak menggunakan isu-isu seperti itu untuk kepentingan politik domestik?

Tidak Mengucap “Selamat Natal”: Being Intolerant and Disrespecting Christians?

Terbit pertama kali pada 27 Desember 2013, revisi terakhir pada 25 Desember 2015. Tambahan di dalam endnote 9 tentang salam dan tambahan referensi pada endnote 15 tentang menyikapi perbedaan narasi dari sumber yang berlainan sebagaimana dibahas Nouman Ali Khan. Tulisan di dalam blog ini yang berkelindan dengan tulisan ini adalah “Melihat Wajah Yesus (pbuh).”

___________________________

Suasana Natal masih semerbak di lingkungan kita. Umat Kristen masih dalam suasana gembira akan datangnya Natal di rumah mereka. Bagi mereka Natal adalah saat merayakan kemenangan karena Natal adalah perayaan lahirnya juru selamat mereka. Ini adalah perayaan akan kelahiran Yesus Kristus.

PERBEDAAN PENDAPAT DI KALANGAN TEOLOG DAN SEJARAWAN KRISTEN

Perayaan Natal sendiri sebenarnya bagi para teolog dan sejarawan Kristen –bukan awam Kristen– masih jadi bahan perdebatan bilakah tepat dirayakan tiap tanggal 25 Desember. Stefon (2011) misalnya mengajukan setidaknya tiga kemungkinan darimana asal penetapan bulan Desember sebagai bulan kelahiran Yesus.

Kemungkinan pertama sebab jatuh perayaan pada tanggal 25 Desember bisa dirujukkan kepada perhitungan Sextus Julianus Africanus. Sejarawan Kristen Romawi ini menetapkan 25 Maret sebagai hari di mana Yesus dimulakan di dalam perut ibunya [yang kebetulan tanggal yang sama dianggap oleh Sextus Julianus Africanus sebagai hari pertama penciptaan dunia][1] sehingga setelah sekitar sembilan bulan, atau tepatnya 25 Desember, Yesus lahir ke dunia.

Kemungkinan kedua adalah transformasi perayaan Natali Sol Invicti oleh para penganut pagan Romawi kepada agama yang baru mereka anut. Sebelum abad ketiga masehi, kerajaan Romawi yang saat itu belum menjadikan Kristen sebagai agama resminya, merayakan kelahiran kembali Dewa Matahari Sol Invictus tiap tanggal 25 Desember. Akhir Desember ditandai dengan siang yang kembali berdurasi panjang selepas winter solstice[2] dan masyarakat pagan Romawi saat itu mengadakan perayaan Saturnalia [suatu festival yang berlangsung hingga 23 Desember] dan lalu suka cita kelahiran dewa Sol Invictus pada 25 Desember. Perayaan Saturnalia pada waktu itu ditandai dengan pesta perjamuan dan saling menukar hadiah dengan orang lain. Tanggal 25 Desember bagi sebagian kaum pagan Romawi juga diyakini sebagai hari lahir dewa Indo-Eropa Mithra: dewa cahaya dan kesetiaan.

Ketika pada abad ketiga masehi kerajaan Romawi mulai mengakui Kristen sebagai agama resmi maka hipotesis yang menyatakan bahwa perayaan Natal adalah benar-benar transformasi perayaan kelahiran kembali dewa Sol dapat menjelaskan mengapa baru pada abad inilah tercatat Natal mulai dirayakan.

Kemungkinan ketiga tentang penetapan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus mungkin dapat dikaitkan dengan usaha Kaisar Constantine. Kaisar Contantine-lah yang mencanangkan Kristen sebagai agama resmi kerajaan Romawi di sekitar tahun 366 setelah ia masuk Kristen. Di bawah pemerintahannyalah perayaan kelahiran Yesus dilakukan tiap tanggal 25 Desember. Pemilihan tanggal 25 Desember sebagai perayaan kelahiran Yesus Kritus dapat disebut sebagai “pembaptisan” perayaan paganisme oleh Constantine.

Dari ketiga pendapat di atas, dua pendapat terakhir sesuai kepada dugaan Roll (1995: 107) mengenai kristenisasi perayaan Natalis Solis Invicti dengan menyerap segala simbol yang ada di dalam perayaan 25 Desember pada masa sebelum Kristen.

Meskipun demikian, beberapa pakar sejarah Kristen tidak sepakat dengan pengaitan tradisi perayaan 25 Desember agama Pagan Romawi dengan perayaan Natal. Thomas Talley (dalam Anderson, 2008: 46) menunjukkan bahwa Pagan Romawi meski meyakini 25 Desember sebagai hari kelahiran Dewa Matahari namun tidak terdapat banyak bukti cukup kuat bahwa pada tanggal tersebut diadakan perayaan besar-besaran.

Hijmans (2009: 588) menyatakan bahwa meskipun benar bahwa 25 Desember bagi penganut Pagan Romawi dipercayai sebagai hari lahir Sol Invictus dan keyakinan ini sudah ada sebelum adanya penetapan perayaan Natal pada tanggal yang sama oleh Gereja Katolik Roma pada saat itu namun menurut Hijmans (2009: 595) southern soltice, atau tanggal 25 Desember, adalah hari simbolik secara kosmis dan layak ditetapkan sebagai hari lahir Kristus dan tidak ada kaitannya, kecuali karena kebetulan saja, dengan perayaan Pagan Romawi.

Pendapat Hijmans ini sedikit berbeda dengan manuskrip abad 12 yang ditulis oleh Jacob Bar-Salibi, seorang bishop Syiria, yang menyatakan bahwa kaum Pagan Romawi memang merayakan 25 Desember sebagai hari kelahiran [dewa] matahari (Sol Invictus) dan kaum Kristiani pada saat itu ada yang turut serta dalam keramaian perayaan ini serta menyatakan bahwa tanggal 25 Desember sewajarnyalah untuk ditetapkan sebagai hari kelahiran Yesus Kristus (dalam MacMullen, 1997: 155).

Tambahan pula terkait dengan kontroversi tanggal 25 Desember sebagai perayaan Natal, Kelemen (n.d.) memaparkan pendapat-pendapat lain. Ia memulai tulisannya dengan dua hal yang penting tentang hari kelahiran Yesus Kristus: 1) adanya mitos yang dipercayai awam massal bahwa 25 Desember adalah benar-benar sebagai hari kelahiran Yesus, dan 2) Kitab Perjanjian Baru tidak ada satupun ayat yang merujuk tanggal dan tahun kelahiran Yesus. Ini menunjukkan bahwa umat Kristen awal tidak ada kepentingan untuk mengetahui hari kelahiran Yesus [dus merayakannya]. Tidak berhenti sampai di situ, Kelemen (n.d.) juga memberikan pendapat-pendapat yang berbeda tentang kapan seharusnya Natal dirayakan. DePascha Computus, sebuah manuskrip anonim kuno yang dianggap ditulis di Afrika Utara sekitar 243 Masehi, menunjuk tanggal 28 Maret sebagai hari lahir Yesus. Clement, bishop Alexandria (hidup sekitar 215 Masehi), beranggapan bahwa Yesus lahir pada tanggal 18 November. Sedangkan Fitzmyer[3] punya perhitungan bahwa tanggal yang tepat seharusnya 11 September atau Salsman (2010) menyatakan bahwa beberapa teolog Kristen sebenarnya sudah tahu dari dulu kelahiran Yesus adalah di sekitar akhir bulan September dan bukan Desember.

Ketiadaan tanggal yang tepat untuk perayaan kelahiran Yesus Kristus inilah yang justru sekarang ini menjadikan beberapa pemeluk Kristen, misal di Amerika Serikat (Jones, 2013), mengalami perubahan lanskap religiusitas akan pentingnya perayaan Natal terhadap keimanan mereka. Jika esensinya adalah semangatnya sedangkan tidak ada ketepatan tentang bagaimana perayaan tersebut kapan dilaksanakan [atau apakah memang harus dilakukan] maka argumen urgensi perayaan Natal menjadi lemah. Beberapa sekte Kristen malah tidak mau merayakan Natal karena mereka berkeyakinan bahwa perayaan Natal adalah bentuk perayaan Pagan (Aust, 2005). Sejarah perayaan Natal sendiri yang tidak bisa lepas dari tradisi Pagan yang bertransformasi ke dalam perayaan Kristiani juga mendapatkan kritikan mengenai bagaimana ia juga berubah menjadi sesuatu yang menguntungkan kapitalisme untuk tetap diselenggarakan walau kritik atasnya kian menguat (cf. Salsman, 2010).

Lepas dari masih belum selesainya kesepakatan di antara teolog dan sejarawan Kristen mengenai kapan sejatinya Yesus Kristus dilahirkan, nampaknya bagi beberapa teolog Kristen ada semacam penyingkiran penentuan presisi tanggal kelahiran Yesus Kristus sebab bagi sebagian mereka yang terpenting adalah semangatnya bukan ketepatan tanggalnya.[4]

PERAYAAN NATAL DI SELURUH DUNIA

Natal dirayakan di seluruh dunia. Di beberapa negara, hari perayaan Natal malah sudah dijadikan hari libur nasional. Tiap negara juga memiliki tradisi unik yang berbeda-beda di dalam merayakan natal. Meskipun perayaan Natal sudah menjadi perayaan nasional di beberapa negara, akhir-akhir ini di beberapa negara serupa Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris sudah mulai ada semacam bentuk perlawanan terhadap display perayaan Natal di ruang publik. Penentang display perayaan Natal di ruang publik menganggap bahwa display seperti itu ‘mengintimidasi’ pemeluk agama lain [atau mereka yang atheis, agnostik dan atau sekuler] (Raushenbush, 2013;  Petre, 2009; Bazar, 2005; Ostling, 2005; Fox, 2002; Wakin, 2002).

Hingga saat ini di beberapa negara masih ada perdebatan mengenai tepat tidaknya display perayaan Natal di ruang publik. Gerakan yang menganggap display seperti itu tidak tepat disebut sebagai gerakan War on Christmas. Mereka yang dituding sebagai bagian dari gerakan ini mengatakan bahwa usaha mereka lebih kepada pengurangan intimidasi masif kegegapgempitaan perayaan Natal secara nasional terhadap pemeluk agama lain. Mereka juga menganggap bahwa implementasi pemisahan negara dengan gereja harusnya diwujudkan pula lewat perayaan yang tidak “terlalu intimidatif” terhadap kaum minoritas.

Di sisi lain, kelompok yang pro perayaan Natal di beberapa negara sekuler tetap bersikeras bahwa kelompok pengusung gerakan War on Christmas justru tidak menghargai kebebasan perayaan keagamaan (Keck, 2009). Apapun, di beberapa negara di Eropa maupun di Amerika, hingga hari ini perdebatan tentang perayaan Natal di ruang publik masih terjadi.

Sebenarnya selain display perayaan Natal di ruang publik, isu yang juga masih berlangsung di beberapa negara Eropa dan Amerika adalah ucapan Merry Christmas atau “Selamat Natal”. Bagi beberapa orang di dua kontinen tersebut, pengucapan Merry Christmas menjadi phoney  untuk diucapkan oleh mereka yang tidak beragama Kristen. Semula memang tidak ada isu tentang itu di beberapa negara tersebut namun seiring dengan perkembangan keberanekaragaman agama secara demografis di beberapa negara Eropa dan Amerika dan mulai kuatnya atheisme, ungkapan Merry Christmas kepada orang lain dianggap semu.

Merry Christmas vs Happy Holidays di Amerika Serikat (credit: Public Religion Research Institute)

Merry Christmas vs. Happy Holidays di Amerika Serikat (credit: Public Religion Research Institute)

Berdasarkan jajak pendapat terbaru, semisal di Amerika Serikat (Crowley, 2013), ditemukan fakta bahwa hampir separuh responden lebih suka mengucapkan Happy Holidays atau Season’s Greetings daripada mengucapkan Merry Christmas. Ucapan Happy Holidays atau Season’s Greetings dianggap lebih netral bagi siapapun karena lebih merujuk kepada salutasi atas libur nasional di musim Natal dan bukan kepada perayaan Natal-nya. Hasil survei tersebut sedikit berbeda dengan hasil survei daring yang dilakukan oleh Praetorius (2010, 2011) yang menyatakan bahwa frase Merry Christmas masih menjadi vernakuler[5] masyarakat modern yang lazim dipakai daripada frase Happy Holidays di dunia maya. Meskipun demikian, Praetorius juga menyatakan adanya peningkatan 200 persen pemakaian frase Happy Holidays di dunia maya selama dua dekade terakhir.

BOLEHKAH MENGATAKAN “TIDAK TOLERAN” ATAU “TIDAK MENGHARGAI” KEPADA MEREKA, KHUSUSNYA MUSLIM, YANG TIDAK MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL?

Toleran berasal dari kata tolerance. Makna tolerance dalam kamus Merriam Webster daring adalah kesediaan untuk menerima perasaan, kebiasaan, dan keyakinan yang berbeda dengan milik kita. Sedangkan respect berdasar kamus yang sama berarti sebagai tindakan yang menunjukkan bahwa kita sadar akan hak atau keinginan orang lain.

Pemakaian istilah “toleransi beragama” atau “menghargai keyakinan orang lain” sering muncul di dalam fenomena interaksi perbedaan agama. Di Indonesia, yang menarik dari fenomena ini adalah sikap gebyah uyah[6] terhadap bentuk praktiknya di masyarakat.

Islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas orang di Indonesia. Meski demikian, Islam juga menjadi agama yang sering disalahpahami oleh pemeluk agama lain. Ada yang menyebut bahwa Islam adalah agama yang eksklusif dan kaku. Lucunya, sebutan ini justru kerap disulut oleh ‘orang Islam yang kurang kerjaan’ atau ‘orang Islam yang butuh kerjaan’.

Karikatur tentang Ucapan

Karikatur tentang Ucapan “Selamat Natal” (credit: Mike Lester/Rome News – Tribune, PoliticalCartoons.com)

Isu yang hangat di negara ini sebenarnya bukan debat tentang display perayaan keagamaan di ruang publik karena negara kita bukan negara sekuler. Juga bukan perdebatan mengenai ucapan Merry Christmas atau Happy Holidays sebab negara ini tidak berbahasa Inggris. Debat yang kerap muncul pada saat menjelang Natal adalah boleh tidaknya seorang muslim mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat Kristen.

Sebenarnya di dalam ajaran Islam berbuat baik tidak pernah dibatasi hanya kepada orang lain yang seiman (misal. QS 2: 177; QS 3: 110; HR. Thabrani dan Daruquthni[7]). Namun perbuatan kebaikan kepada siapapun di dalam Islam[8] ada aturannya. Ambil misal ucapan salam di dalam Islam. Di negara ini memang nampak ada usaha pem-bahasaindonesia-an salam dengan ungkapan “Salam Sejahtera”. Sebenarnya secara esensi “salam sejahtera” tidak bisa melingkupi kedalaman makna ucapan assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Dan perlu pula diketahui bahwa tidak ada aturan jelas dalam menjawab ucapan “salam sejahtera”. Ucapan “salam sejahtera” bisa dan boleh dijawab sesuka hati. Beda halnya dengan ucapan assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

Ucapan assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh memiliki aturan kapan dan kepada siapa diucapkan serta bagaimana menjawabnya. Jika dianggap bahwa aturan menjawab assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh[9] sebagai bentuk eksklusivisme Islam maka hal demikian tidak tepat. Pandangan demikian seakan-akan menafikan “hal-hal baik” yang dianjurkan atau boleh dilakukan oleh orang Islam kepada orang yang berbeda keyakinan. Aturan ini tidak tepat secara dangkal diartikan bahwa Islam mengajarkan untuk “bersikap bermusuhan kepada umat lain” atau “menafikan keberadaan orang lain”. Jikalau kesimpulan yang muncul adalah demikian, maka perintah di dalam agama Islam untuk berbuat baik kepada orang lain (dan menjaga alam) di dalam Quran maupun Hadist tidaklah dilihat dengan serius oleh orang yang bersempit pikiran seperti itu.

Dalam teologi Islam, rahmatullah dan barakallah adalah doa yang hanya boleh ditujukan kepada orang yang satu iman. Kedua hal ini, rahmatullah dan barakallah, merupakan sesuatu yang ‘legal’ dimintakan kepada Tuhan untuk orang yang satu iman namun ‘illegal’ diberikan kepada orang yang berbeda iman. Mungkin bentuk yang mirip dapat dilihat dalam prosesi penghormatan kematian: takziah adalah umum namun sholat jenazah tidak diberikan kepada orang yang tidak satu iman.

Lalu bagaimanakah kebolehan ucapan “Selamat Natal” yang dilakukan oleh muslim? Jawabannya sederhana: tidak pas.[10] Salutasi “Selamat Natal” menjadikan seorang muslim tidak pas melakukan kebaikan.

Menghormati prosesi pemakaman umat lain adalah kebaikan,[11]bersedekah kepada orang lain dengan ikhlas tanpa melihat keyakinan adalah kebaikan, menjenguk orang sakit adalah kebaikan, bertetangga dengan baik kepada siapapun adalah kebaikan,[12]berjual beli kepada siapapun dengan jujur dan adil adalah kebaikan, memberikan tahniah umum (mis. selamat atas keberhasilan menduduki posisi manajer, selamat sudah bisa beli mobil baru) adalah boleh, berinteraksi secara santun dan baik kepada siapapun tanpa memandang agamanya adalah kebaikan, menebarkan kasih kepada siapapun,[13]bahkan berkoalisi dengan umat yang berbeda keyakinan di dalam keadaan tertentu serta menjamin keselamatan umat beda agama juga bukanlah sesuatu yang dilarang total[14] namun mengucapkan “Selamat [merayakan suka cita Anda akan kelahiran Anak Tuhan Yesus Kristus atau disebut] Natal” – bagi muslim – adalah tidaklah pas.

Umat Islam menghormati Yesus dengan narasi yang berbeda dengan narasi menurut keyakinan Kristen.[15] Yesus di dalam Islam adalah bagian dari lima Rasul Mulia di samping Nuh, Musa, Ibrahim, Muhammad (p.b.u.t). Muslim tidak bisa mengakui Yesus sebagai bagian dari Trinitas sebab pengakuan tersebut bakal membatalkan ketauhidan.[16] Islam menghormati Yesus dengan sangat tinggi sebagai Nabi atau Rasul dan tidak bisa lebih dari itu.

Natal, sebagaimana paparan di atas, adalah perayaan [pengakuan] suka cita kelahiran Anak Tuhan ke dunia sebagai manifestasi Trinitas.[17] Alangkah lucunya jikalau seorang muslim memberi selamat kepada perayaan yang secara teologis sangat bertentangan dengan dasar keyakinannya. Natal, tidak pernah tidak, adalah selalu tentang perayaan suka cita pembenaran keyakinan akan Trinitas. Mereka yang bersikukuh bahwa perayaan Natal hanyalah perayaan kelahiran Yesus saja dan bukan tentang perayaan peneguhan kedeitasan Yesus adalah delusional.

Jadi, tidaklah tepat jikalau bentuk “toleransi beragama” atau “menghargai keyakinan lain” diwujudkan dengan cara gebyah uyah. Pendapat yang menyatakan bahwa salah satu usaha menciptakan (atau menjaga) kerukunan adalah, misal, mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen tidaklah pas. Perbuatan itu tabu dilakukan sebab alangkah lucu-nya seseorang yang menggigit dengan geraham keyakinan Tauhid namun ber-selamat-an terhadap perayaan Trinitas.

Dalam konteks saling menghargai kebebasan beragama dan menjalankan keyakinan maka memberi ruang dan kedamaian kepada umat Kristen untuk bebas ber-Natal-an adalah tindakan yang pas. Bagaimanapun juga, umat Islam aware bahwa orang lain juga punya hak di negara ini untuk memilih apa yang diyakininya dan hal ini dijamin konstitusi. Tambahan pula dalam perspektif Islam pemberian ruang kepada umat lain adalah “bukanlah sesuatu yang dilarang”.[18]

Tidaklah bijak untuk memberikan stigma kepada muslim yang tidak mengucapkan “selamat Natal” sebagai “tidak memiliki toleransi” atau “tidak menghargai keyakinan” saudara sebangsa mereka yang berkeyakinan Kristen. Menilai sesuatu haruslah dengan prasangka yang baik dan adil. Umat Islam – yang tidak mengucapkan ‘selamat natal’ – tidaklah bisa disebut “tidak memberi toleransi” sebab bagaimanapun juga mereka ini mewujudkannya dalam bentuk ‘tidak mengganggu hak dan keinginan’ orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Perlu  ditambahkan, dalam isu-isu lain yang belum juga lekang hangatnya, bahwa bagi keyakinan lain mungkin sekedar mengucapkan ‘selamat’ tidak ada pemarkaan. Di dalam Islam, hal yang mungkin nampak sepele (mis. ‘sekedar’ memberi ucapan selamat hari raya, anekdot tentang Tuhan, para nabi,[19] atau malaikat) atau sesuatu yang tampak ‘baik secara logika’ di dalam agama lain, tidak bisa di-gebyah-uyah-kan sebagai pasti boleh dan baik menurut agama Islam kecuali memang diukur sesuai takaran Islam.[20]

Tiap agama punya aturan sendiri. Memahami perbedaan ini, dan tentu saja memberi ruang atas perbedaan ini, yang pantas kita sebut sebagai toleran; menghargai keyakinan orang lain.

Salam hangat dan penuh kasih dari seorang muslim.

REFERENSI

Anderson, Michael A. 2008. Symbols of Saints. Michigan: ProQuest LLC.

Aust, Jerold. 2 Desember 2005. “Why Some Christians Don’t Celebrate Christmas.” Diakses 21 Desember 2015 12:27 PM dari:

http://www.ucg.org/the-good-news/why-some-christians-dont-celebrate-christmas

Bazar, Emily. 1 Desember 2005. “Trimming ‘Christmas’ from trees stirs debate. Diakses 27 Desember 2013 3:54 PM WIB dari:

http://usatoday30.usatoday.com/news/nation/2005-12-01-trimming-debate_x.htm

Cooper, J. (n.d.). “Why is Christmas  Day on the 25th December?”. whychristmas.com. Diakses 27 Desember 2013, 11:30 AM WIB dari:

http://www.whychristmas.com/customs/25th.shtml

Crowley, Sharon. 19 Desember 2013. “Merry Christmas’ vs. ‘Happy holidays’. Diakses 27 Desember 2013 4:56 PM WIB dari:

http://www.myfoxny.com/story/24257346/merry-christmas-vs-happy-holidays

Fox, Mike. 21 Desember 2002. “Canada’s Christmas tree controversy. Diakses 27 Desember 2013 3:58 PM WIB dari:

http://news.bbc.co.uk/2/hi/americas/2590223.stm

Hijmans, Steven E. 2009. Sol: The Sun in the Art and Religions of Rome.  Dissertation – Rijksuniversiteit Groningen.

Jones, Robert P. 17 Desember 2013. “Do You Believe? Americans Less Likely to Believe in Historical Accuracy of Christmas Story Than a Decade Ago. Diakses 27 Desember 2013 5:02 PM WIB dari:

http://www.huffingtonpost.com/robert-p-jones-phd/a-christmas-belief…..html

Keck, Kristi. 18 Desember 2009. “Heated debate again over ‘War on Christmas’ claims. Diakses 27 Desember 2013 4:32 PM WIB dari

http://edition.cnn.com/2009/POLITICS/12/18/war.on.christmas/index.html

Kelemen, Lawrence. (n.d.). “The History of Christmas. Diakses 26 Desember 2013, 11:25 PM WIB dari

http://www.simpletoremember.com/vitals/Christmas_TheRealStory.htm

MacMullen, Ramsay. 1997. Christianity and Paganism in the Fourth to Eighth Centuries. New Haven: Yale University Press.

Ostling, Richard. 2005. “Have Yourself a Merry Little Lawsuit This Season”. Buffalo Law Journal 77 (96): 1–4.

Petre, Jonathan. 27 Desember 2009. “Bonkers’ police drop the word Christmas from poster to avoid upsetting other faiths. Diakses 27 Desember 2013, 4:02 PM WIB dari:

http://www.dailymail.co.uk/news/article-1238587/Bonkers-police-drop-word-Christmas-poster-avoid-upsetting-faiths.html

Praetorius, Dean. 24 Desember 2010, 25 Mei 2011. “Merry Christmas vs. Happy Holidays: Which Is More Popular Now?. Diakses 27 Desember 2013 5:19 PM WIB dari:

http://www.huffingtonpost.com/2010/12/24/merry-christmas-vs ….html#214886

Raushenbush, Paul B. 4 Desember 2013. “Happy Holidays vs. Merry Christmas: The Last Thing That Ever Needs To Be Said About It. Diakses 27 Desember 3:49 PM WIB dari:

http://www.huffingtonpost.com/paul-raushenbush/happy-holiday-vs…..html

Roll, Susan K.. 1995. Toward the Origin of Christmas. Kampen: Kok Pharos.

Salsman, Richard M. 23 Desember 2010. “A Well-earned Capitalist Christmas”. Diakses 25 Desember 2015, 4:30 PM dari

http://www.forbes.com/sites/richardsalsman/2010/12/23/a-well-earned-capitalist-christmas/

Stefon, M. 23 Desember 2011. “The Origin of Christmas in December. Diakses 26 Desember 2013, 10:10 PM WIB dari

http://www.britannica.com/blogs/2011/12/origin-christmas-december/

Wakin, Daniel J. 11 Desember 2002. “Lawsuit Attacks Schools’ Ban on Nativity Scenes. Diakses 27 Desember 2013, 4:15 PM WIB dari

http://www.nytimes.com/2002/12/11/nyregion/lawsuit-attacks-…..scenes.html

==============================

Endnotes

[1] Kurung kaku tanda sic

[2] Titik balik matahari musim dingin

[3] Professor Emeritus Biblical Studies pada Catholic University of America, anggota dari the Pontifical Biblical Commission, dan Mantan Presiden Catholic Biblical Association.

[4] cf. James Cooper. (n.d.). “Why is Christmas Day on the 25th of December?”. whychristmas.com. Diakses 27 Desember 2013 dari:

http://www.whychristmas.com/customs/25th.shtml

[5] bahasa keseharian; bahasa khalayak

[6] gebyah uyah (Jw.) = pukul rata tanpa melihat konteks

[7] Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda, ’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”

[8] Tiap agama mempunyai aturan sendiri yang merujuk kepada skriptur masing-masing

[9] “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Lihat pula hadist “Jika seorang ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) memberi salam pada kalian, maka balaslah dengan ucapan ‘wa’alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6258 dan Muslim no. 2163). Juga hadist berikut: “Ada seorang Yahudi melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengucapkan ‘as saamu ‘alaik’ (celaka engkau).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas membalas ‘wa ‘alaik’ (engkau yang celaka). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Apakah kalian mengetahui bahwa Yahudi tadi mengucapkan ‘assaamu ‘alaik’ (celaka engkau)?” Para sahabat lantas berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami membunuhnya saja?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan. Jika mereka mengucapkan salam pada kalian, maka ucapkanlah ‘wa ‘alaikum’.” (HR. Bukhari no. 6926).

Meski memulai ucapan salam kepada non-muslim adalah tidak pas namun khusus menjawab salam yang diberikan oleh non-muslim ada perbedaan pendapat tentangnya. Hadist jawaban “wa’alaikum” merujuk pada sebab jawabannya mengapa harus begitu dan bukan tiap salam dari non-muslim harus dijawab sebagaimana seperti itu. Pun, tidak ada kemutlakan menjawab salam sepadan dari non-muslim menurut jumhur (cf. “Membalas Salam Non Muslim”; “Menjawab Salam Orang Kafir”).

[10] Silakan rujuk perkara ini pada pandangan beberapa organisasi dan atau ulama-ulama berikut ini:

Selain pandangan yang tertuang di situs resmi Muhammadiyah tertaut itu, Muhammadiyah lewat Fatwa-fatwa Tarjih juga menyatakan bahwa:

“Umat Islam diperbolehkan untuk bekerjasama dan bergaul dengan umat-umat agama dalam masalah – masalah keduniaan serta tidak boleh mencampuradukkan agama dengan akidah dan peribadatan agama lain seperti meyakini Tuhan lebih dari satu, Tuhan mempunyai anak dan Isa Al Masih itu anaknya. Orang yang meyakininya dinyatakan kafir dan musrik.

Poin pertama mengikuti perayaan natal bersama bagi ummat islam adalah Haram hukumnya dalam konteks ini, perayaan Natal di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkara-perkara akidah tersebut di atas.

Poin Kedua mengucapkan Selamat Natal dianjurkan untuk tidak dilakukan karena merupakan bagian dari perkara kegiatan perayaan Natal, agar Umat Islam tidak terjerumus kepada perkara syubhat dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjauhkan diri dari dari hal – hal yang syubhat dan dari larangan Allah Allah Subhanahu Wata’ala serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan.” (Fatwa – Fatwa Tarjih, Cetakan VI, 2003 hal.209-210)

Bantahan bantahan Kepada Mereka

1. Jika mereka berkata :

Dalam kitab Hanabilah dikatakan :

وفي” جواز “تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم روايتان

Dan di dalam masalah memberikan selamat kepada mereka, bertaziyah pada mereka dan menjeguk mereka terdapat dua riwayat.

Ini menunjukkan bahwa masih ada khilaf di antara ulama mengenai hukum mengucapkan selamat kepada kaum kafir.

Referensi :

الكتاب : المبدع شرح المقنع للشيخ ابن مفلح ج3 ص325

وفي” جواز “تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم روايتان” كذا في “المحرر”، والأشهر وجزم به في “الوجيز”، وقدمه في “الفروع”: أنه

يحرم لأن ذلك يحصل الموالاة وتثبت المودة وهو منهي عنه للنص ولما فيه من التعظيم.

الكتاب: : الكتاب : الإنصاف للمرداوي ج4 ص169-168

وأطلقهما في الهداية والمذهب ومسبوك الذهب والمستوعب والخلاصة والكافي والمغني والشرح والمحرر والنظم وشرح ابن منجا

إحداهما : يحرم وهو المذهب صححه في التصحيح وجزم به في الوجيز وقدمه في الفروع والرواية الثانية لا يحرم فيكره وقدمه في الرعاية والحاويين في باب الجنائز ولم يذكر رواية التحريم وذكر في الرعايتين والحاويين رواية بعدم الكراهة فيباح وجزم به ابن عبدوس في تذكرته وعنه يجوز لمصلحة راجحة كرجاء إسلامه اختاره الشيخ تقي الدين ومعناه اختيار الآجري

Kami Menjawab :

Sebagaimana telah dibahas, bahwa tahniah dalam ibarot di atas adalah tahniah mengenai perkara-perkara yang umum yang tidak ada kaitannya dengan syiar keagamaan mereka.
Sedangkan mengenai tahniah atas syiar keagamaan adalah bentuk menyerupai kaum kafir yang dilarang sesuai dengan kesepakatan ulama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Muflih dan Ibnu Qoyim dari ulama Hanabilah.

Referensi :

أحكام أهل الذمة – (ج 1 / ص 69(

فصل في تهنئة أهل الذمة بزوجة أو ولد أو قدوم غائب أو عافية أو سلامة من مكروه ونحو ذلك وقد اختلفت الرواية في ذلك عن أحمد، فأباحها مرة ومنعها أخرى، والكلام فيها كالكلام في التعزية والعيادة، ولا فرق بينهما، ولكن ليحذر الوقوع فيما يقع فيه الجهال من الألفاظ التي تدل على رضاه بدينه، كما يقول أحدهم: متعك الله بدينك أو نَيحَك فيه، أو يقول له: أعزك الله أو أكرمك، إلا أن يقول: أكرمك الله بالإسلام وأعزك به ونحو ذلك. فهذا في التهنئة بالأمور المشتركة، وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم، فيقول: عيد مبارك عليك، أو تهنأ بهذا العيد ونحوه

الفروع لابن مفلح (11/ 224(

وَقَالَ فِيمَنْ فَعَلَ كَالْكُفَّارِ فِي عِيدِهِمْ : اتَّفَقُوا عَلَى إنْكَارِهِ ، وَأَوْجَبُوا عُقُوبَةَ مَنْ يَفْعَلُهُ ، قَالَ : وَالتَّعْزِيرُ عَلَى شَيْءٍ دَلِيلٌ عَلَى تَحْرِيمِهِ .

Kalaupun kita setuju bahwa yang dimaksud dalam ibaroh adalah ucapan selamat secara mutlak. Maka pendapat yang memperbolehkan dalam kitab Hanabilah adalah pendapat yang lemah. Dan seorang mufti tidak boleh berfatwa dengan pendapat yang lemah. Apalagi pendapat yang dapat menimbulkan fitnah, maka berfatwa dengan hal itu adalah haram.
referensi

كشف القناع عن متن الإقناع للعلامة البهوتي (3/131(

)و ) يكره ( التعرض لما يوجب المودة بينهما ) لعموم قوله تعالى { لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادون من حاد الله

ورسوله } الآية ) وإن شمته كافر أجابه ) ; لأن طلب الهداية جائز للخبر السابق). ويحرم تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم ) ; لأنه تعظيم لهم أشبه السلام ) وعنه تجوز العيادة ) أي : عيادة الذمي ( إن رجي إسلامه فيعرضه عليه واختاره الشيخ وغيره ) لما روى أنس { أن النبي صلى الله عليه وسلم عاد يهوديا , وعرض عليه الإسلام فأسلم فخرج وهو يقول : الحمد لله الذي أنقذه بي من النار } رواه البخاري ولأنه من مكارم الأخلاق) وقال ) الشيخ ( ويحرم شهود عيد اليهود والنصارى ) وغيرهم من الكفار ( وبيعه لهم فيه ) . وفي المنتهى : لا بيعنا لهم فيه ( ومهاداتهم لعيدهم ) لما في ذلك من تعظيمهم فيشبه بداءتهم بالسلام .

( ويحرم بيعهم ) وإجارتهم ( ما يعملونه كنيسة أو تمثالا ) أي : صنما ( ونحوه ) كالذي يعملونه صليبا ; لأنه إعانة لهم على كفرهم . وقال تعالى { ولا تعاونوا على الإثم والعدوان } ( و ) يحرم ( كل ما فيه تخصيص كعيدهم وتمييز لهم وهو من التشبه بهم , والتشبه بهم منهي عنه إجماعا ) للخبر ( وتجب عقوبة فاعله )) ا.هـ

الإنصاف – (ج 7 / ص 191(

قَوْلُهُ ( وَفِي تَهْنِئَتِهِمْ وَتَعْزِيَتِهِمْ وَعِيَادَتِهِمْ : رِوَايَتَانِ ) وَأَطْلَقَهُمَا فِي الْهِدَايَةِ ، وَالْمُذْهَبِ ، وَمَسْبُوكِ الذَّهَبِ ، وَالْمُسْتَوْعِبِ ، وَالْخُلَاصَةِ ، وَالْكَافِي ، وَالْمُغْنِي ، وَالشَّرْحِ ، وَالْمُحَرَّرِ ، وَالنَّظْمِ ، وَشَرْحِ ابْنِ مُنَجَّا .إحْدَاهُمَا : يَحْرُمُ . وَهُوَ الْمَذْهَبُ . صَحَّحَهُ فِي التَّصْحِيحِ . وَجَزَمَ بِهِ فِي الْوَجِيزِ ، وَقَدَّمَهُ فِي الْفُرُوعِ . وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ : لَا يَحْرُمُ . فَيُكْرَهُ . وَقَدَّمَهُ فِي الرِّعَايَةِ ، وَالْحَاوِيَيْنِ ، فِي بَابِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يَذْكُرْ رِوَايَةَ التَّحْرِيمِ .

المجموع – (ج 19 / ص 415(

قالت الحنابلة ويمنعون من تعلية البناء على المسلمين ويحرم القيام لهم وتصديرهم في المجالس وبداء تهم بالسلام وبكيف أصبحت أو أمسيت أو كيف أنت أو حالك وتحرم تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم، وروى حديث أبى هريرة، وما عدا السلام مما ذكر في معناه فقس عليه، وعنه تجوز عيادتهم لمصلحة راجحة كرجاء السلام اختاره الشيخ تقى الدين والآجري، وصوبه في الانصاف.

بغية المسترشدين (ص: 15)

(مسألة ش) : تجب ، على مفت ، إجابة مستفت في واقعة يترتب عليها الإثم بسبب الترك أو الفعل ، وذلك في الواجب أو المحرم على التراخي إن لم يأت وقت الحاجة وإلا فعلى الفور ، فإن لم يترتب عليها ذلك فسنة مؤكدة ، بل إن كان على سبيل مذاكرة العلم التي هي من أسباب إحيائه ففرض كفاية ، ولا ينبغي الجواب بلا أدري إلا إن كان صادقاً ، أو ترتب على الجواب محذور كإثارة فتنة ، وأما الحديث الوارد في كتم العلم فمحمول على علم واجب تعليمه ولم يمنع منه عذر كخوف على معصوم ، وذلك كمن يسأل عن الإسلام والصلاة والحلال والحرام ، ولو كان العالم بالغاً درجة الفتوى في مذهبه وعلم أمراً فأفتى به بحكم ولم يمتثل أمره ، فله الحمل عليه قهراً بنفسه أو بغيره ، إذ تجب طاعة المفتي فيما أفتى به. ونقل السمهودي عن الشافعي ومالك أن للعالم وإن لم يكن قاضياً أن يعزر بالضرب والحبس وغيرهما من رأى استحقاقه إذ يجب امتثال أمره.

بغية المسترشدين (ص: 10)

(مسألة : ي) : لا يحل لعالم أن يذكر مسألة لمن يعلم أنه يقع بمعرفتها في تساهل في الدين ووقوع في مفسدة ، إذ العلم إما نافع : كالواجبات العينية يجب ذكره لكل أحد ، أو ضار : كالحيل المسقطة للزكاة ، وكل ما يوافق الهوى ويجلب حطام الدنيا ، لا يجوز ذكره لمن يعلم أنه يعمل به ، أو يعلمه من يعمل به ، أو فيه ضرر ونفع ، فإن ترجحت منافعه ذكره وإلا فلا ، ويجب على العلماء والحكام تعليم الجهال ما لا بد منه مما يصح به الإسلام من العقائد ، وتصح به الصلاة والصوم من الأحكام الظاهرة ، وكذا الزكاة والحج حيث وجب.

الأذكار (ص: 322)

(باب ما يقوله الرجل المقتدى به) إذا فعل شيئا في ظاهره مخالفة للصواب مع أنه صواب إعلم أنه يستحب للعالم والمعلم والقاضي والمفتي والشيخ المربي وغيرهم ممن يقتدى به ويؤخذ عنه : أن يجتنب الأفعال والأقوال والتصرفات التي ظاهرها خلاف الصواب وإن كان محقا فيها ، لانه إذا فعل ذلك ترتب عليه مفاسد ، من جملتها : توهم كثير ممن يعلم ذلك منه أن هذا جائز على ظاهره بكل حال ، وأن يبقى ذلك شرعا وأمرا معمولا به أبدا ، ومنها وقوع الناس فيه بالتنقص ، واعتقادهم نقصه ، وإطلاق ألسنتهم بذلك ، ومنها أن الناس يسيئون الظن به فينفرون عنه ، وينفرون غيرهم عن أخذ العلم عنه ، وتسقط رواياته وشهادته ، ويبطل العمل بفتواه ، ويذهب ركون النفوس إلى ما يقوله من العلوم ، وهذه مفاسد ظاهرة ، فينبغي له اجتناب أفرادها ، فكيف بمجموعها ؟ فإن احتاج إلى شئ من ذلك وكان محقا في نفس الأمر لم يظهره ، فإن أظهره أو ظهر أو رأى المصلحة في إظهاره ليعلم جوازه وحكم الشرع فيه ، فينبغي أن يقول : هذا الذي فعلته ليس بحرام ، أو إنما فعلته لتعلموا أنه ليس بحرام إذا كان على هذا الوجه الذي فعلته ، وهو كذا وكذا ، ودليله كذا وكذا

2. Jika mereka berkata :

Allah SWT berfirman :

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ [الممتحنة/8[

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. ( QS Al Mumtahanah : 8)

Dalam ayat tersebut Allah tidak melarang kita untuk berbuat birr (kebaikan) kepada kaum kafir yang tidak memerangi Islam. Dan mengucapkan selamat natal adalah termasuk salah satu bentuk perbuatan baik kepada kaum kafir.

Kami menjawab :

Menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk memperbolehkan mengucapkan selamat natal adalah terlalu memaksa, karena ayat tersebut terlalu umum, dan tidak menjelaskan bentuk birr (kebaikan) apa yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang. kepada kaum kafir dzimmi.

Al Imam Qorofi dalam kitabnya “Anwarul Buruq’ mengatakan mengenai batasan birr dalam ayat tersebut :

تَعَيَّنَ عَلَيْنَا أَنْ نَبَرَّهُمْ بِكُلِّ أَمْرٍ لَا يُؤَدِّي إلَى أَحَدِ الْأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا مَا يَدُلُّ ظَاهِرُهُ عَلَى مَوَدَّاتِ الْقُلُوبِ وَثَانِيهِمَا مَا يَدُلُّ ظَاهِرُهُ عَلَى تَعْظِيمِ شَعَائِرِ الْكُفْرِ

Maka menjadi jelas bagi kami untuk berbuat baik kepada mereka dalam setiap perkara selama tidak mengarah salah satu dari dua hal

Yang pertama, sesuatu yang dzohirnya menunjukkan kepada kecintaan hati kepada mereka

Yang kedua, sesuatu yang menunjukkan dzohirnya sebagai bentuk pengagungan syiar kafir

Menjadi jelas bahwa perbuatan baik yang boleh kita lakukan kepada kaum kafir dzimmi adalah perbuatan baik secara dzohir yang dilakukan bukan atas dasar cinta kepada mereka dan tidak mengarah pada pengagungan syiar mereka.

Contoh perbuatan baik yang diperbolehkan adalah bersedekah kepada kaum faqir mereka, berkata sopan, bermuamalah yang baik dengan tetangga yang kafir dan yang semacamnya. Dan perlu diperhatikan perbuatan tersebut dilakukan bukan atas dasar cinta kepada mereka, karena mencintai mereka adalah dilarang dalam syariat.

Sedangkan contoh perbuatan yang dilarang untuk dilakukan karena terdapat unsur mengagungkan syiar mereka adalah berdiri untuk menghormati mereka, memanggil mereka dengan gelar-gelar kehormatan, begitu juga jika kita melenggangkan jalan untuk mereka dengan merelakan kita berjalan di tempat yang sempit, dll.

Dari sini, dengan mudah dapat kita ambil kesimpulan, bahwa ucapan selamat natal merupakan bentuk perbuatan yang dilarang karena perbuatan ini mengarah pada pengagungan syiar hari raya mereka.

Maka menjadikan ayat ini sebagai dalil memperbolehkan mengucapkan selamat natal sangat tidak tepat sasaran, terlebih lagi jika kita mengikuti pendapat sebagian ahli tafsir yang menyatakan bahwa ayat tersebut telah dinaskh (dihapus) dengan ayat jihad.

Referensi

أنوار البروق في أنواع الفروق – (ج 4 / ص 403-398(

( الْفَرْقُ التَّاسِعَ عَشَرَ وَالْمِائَةُ بَيْنَ قَاعِدَةِ بِرِّ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَبَيْنَ قَاعِدَةِ التَّوَدُّدِ لَهُمْ ) اعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى مَنَعَ مِنْ التَّوَدُّدِ لِأَهْلِ الذِّمَّةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنْ الْحَقِّ } الْآيَةَ فَمَنَعَ الْمُوَالَاةَ وَالتَّوَدُّدَ وَقَالَ فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى { لَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ } الْآيَةَ وَقَالَ فِي حَقِّ الْفَرِيقِ الْآخَرِ { إنَّمَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ } الْآيَةَ .وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { اسْتَوْصُوا بِأَهْلِ الذِّمَّةِ خَيْرًا } وَقَالَ فِي حَدِيثٍ آخَرَ { اسْتَوْصُوا بِالْقِبْطِ خَيْرًا } فَلَا بُدَّ مِنْ الْجَمْعِ بَيْنَ هَذِهِ النُّصُوصِ وَإِنَّ الْإِحْسَانَ لِأَهْلِ الذِّمَّةِ مَطْلُوبٌ وَأَنَّ التَّوَدُّدَ وَالْمُوَالَاةَ مَنْهِيٌّ عَنْهُمَا وَالْبَابَانِ مُلْتَبِسَانِ فَيَحْتَاجَانِ إلَى الْفَرْقِ وَسِرُّ الْفَرْقِ أَنَّ عَقْدَ الذِّمَّةِ يُوجِبُ حُقُوقًا عَلَيْنَا لَهُمْ لِأَنَّهُمْ فِي جِوَارِنَا وَفِي خَفَارَتِنَا وَذِمَّةِ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِينِ الْإِسْلَامِ فَمِنْ اعْتَدَى عَلَيْهِمْ وَلَوْ بِكَلِمَةِ سُوءٍ أَوْ غِيبَةٍ فِي عِرْضِ أَحَدِهِمْ أَوْ نَوْعٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْأَذِيَّةِ أَوْ أَعَانَ عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَيَّعَ ذِمَّةَ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةَ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذِمَّةَ دِينِ الْإِسْلَامِ . وَكَذَلِكَ حَكَى ابْنُ حَزْمٍ فِي مَرَاتِبِ الْإِجْمَاعِ لَهُ أَنَّ مَنْ كَانَ فِي الذِّمَّةِ وَجَاءَ أَهْلُ الْحَرْبِ إلَى بِلَادِنَا يَقْصِدُونَهُ وَجَبَ عَلَيْنَا أَنْ نَخْرُجَ لِقِتَالِهِمْ بِالْكُرَاعِ وَالسِّلَاحِ وَنَمُوتَ دُونَ ذَلِكَ صَوْنًا لِمَنْ هُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ تَسْلِيمَهُ دُونَ ذَلِكَ إهْمَالٌ أنوار البروق في لِعَقْدِ الذِّمَّةِ وَحَكَى فِي ذَلِكَ إجْمَاعَ الْأَمَةِ فَقَدْ يُؤَدِّي إلَى إتْلَافِ النُّفُوسِ وَالْأَمْوَالِ صَوْنًا لِمُقْتَضَاهُ عَنْ الضَّيَاعِ إنَّهُ لَعَظِيمٌ وَإِذَا كَانَ عَقْدُ الذِّمَّةِ بِهَذِهِ الْمَثَابَةِ وَتَعَيَّنَ عَلَيْنَا أَنْ نَبَرَّهُمْ بِكُلِّ أَمْرٍ لَا يَكُونُ ظَاهِرُهُ يَدُلُّ عَلَى مَوَدَّاتِ الْقُلُوبِ وَلَا تَعْظِيمِ شَعَائِرِ الْكُفْرِ فَمَتَى أَدَّى إلَى أَحَدِ هَذَيْنِ امْتَنَعَ وَصَارَ مِنْ قِبَلِ مَا نُهِيَ عَنْهُ فِي الْآيَةِ وَغَيْرِهَا وَيَتَّضِحُ ذَلِكَ بِالْمَثَلِ فَإِخْلَاءُ الْمَجَالِسِ لَهُمْ عِنْدَ قُدُومِهِمْ عَلَيْنَا وَالْقِيَامُ لَهُمْ حِينَئِذٍ وَنِدَاؤُهُمْ بِالْأَسْمَاءِ الْعَظِيمَةِ الْمُوجِبَةِ لِرَفْعِ شَأْنِ الْمُنَادَى بِهَا هَذَا كُلُّهُ حَرَامٌ وَكَذَلِكَ إذَا تَلَاقَيْنَا مَعَهُمْ فِي الطَّرِيقِ وَأَخْلَيْنَا لَهُمْ وَاسِعَهَا وَرَحْبَهَا وَالسَّهْلَ مِنْهَا وَتَرَكْنَا أَنْفُسَنَا فِي خَسِيسِهَا وَحَزَنِهَا وَضَيِّقِهَا كَمَا جَرَتْ الْعَادَةُ أَنْ يَفْعَلَ ذَلِكَ الْمَرْءُ مَعَ الرَّئِيسِ وَالْوَلَدُ مَعَ الْوَالِدِ وَالْحَقِيرُ مَعَ الشَّرِيفِ فَإِنَّ هَذَا مَمْنُوعٌ لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ شَعَائِرِ الْكُفْرِ وَتَحْقِيرِ شَعَائِرِ اللَّهِ تَعَالَى وَشَعَائِرِ دِينِهِ وَاحْتِقَارِ أَهْلِهِ .

وَمِنْ ذَلِكَ تَمْكِينُهُمْ مِنْ الْوِلَايَاتِ وَالتَّصَرُّفِ فِي الْأُمُورِ الْمُوجِبَةِ لِقَهْرِ مَنْ هِيَ عَلَيْهِ أَوْ ظُهُورِ الْعُلُوِّ وَسُلْطَانِ الْمُطَالَبَةِ فَذَلِكَ كُلُّهُ مَمْنُوعٌ وَإِنْ كَانَ فِي غَايَةِ الرِّفْقِ وَالْأَنَاةِ أَيْضًا لِأَنَّ الرِّفْقَ وَالْأَنَاةَ فِي هَذَا الْبَابِ نَوْعٌ مِنْ الرِّئَاسَةِ وَالسِّيَادَةِ وَعُلُوِّ الْمَنْزِلَةِ فِي الْمَكَارِمِ فَهِيَ دَرَجَةٌ رَفِيعَةٌ أَوْصَلْنَاهُمْ إلَيْهَا وَعَظَّمْنَاهُمْ بِسَبَبِهَا وَرَفَعْنَا قَدْرَهُمْ بِإِيثَارِهَا وَذَلِكَ كُلُّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ .

وَكَذَلِكَ لَا يَكُونُ الْمُسْلِمُ عِنْدَهُمْ خَادِمًا وَلَا أَجِيرًا يُؤْمَرُ عَلَيْهِ وَيُنْهَى وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنْهُمْ وَكِيلًا فِي الْمُحَاكَمَاتِ عَلَى الْمُسْلِمِينَ عِنْدَ وُلَاةِ الْأُمُورِ فَإِنَّ ذَلِكَ أَيْضًا إثْبَاتٌ لِسُلْطَانِهِمْ عَلَى ذَلِكَ الْمُسْلِمِ .

وَأَمَّا مَا أُمِرَ بِهِ مِنْ بِرِّهِمْ وَمِنْ غَيْرِ مَوَدَّةٍ بَاطِنِيَّةٍ فَالرِّفْقُ بِضَعِيفِهِمْ وَسَدُّ خُلَّةِ فَقِيرِهِمْ وَإِطْعَامُ جَائِعِهِمْ وَإِكْسَاءُ عَارِيهِمْ وَلِينُ الْقَوْلِ لَهُمْ عَلَى سَبِيلِ اللُّطْفِ لَهُمْ وَالرَّحْمَةِ لَا عَلَى سَبِيلِ الْخَوْفِ وَالذِّلَّةِ وَاحْتِمَالِ إذَايَتِهِمْ فِي الْجِوَارِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى إزَالَتِهِ لُطْفًا مِنَّا بِهِمْ لَا خَوْفًا وَتَعْظِيمًا وَالدُّعَاءُ لَهُمْ بِالْهِدَايَةِ وَأَنْ يُجْعَلُوا مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَنَصِيحَتُهُمْ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِمْ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَحِفْظُ غَيْبَتِهِمْ إذَا تَعَرَّضَ أَحَدٌ لِأَذِيَّتِهِمْ وَصَوْنُ أَمْوَالِهِمْ وَعِيَالِهِمْ وَأَعْرَاضِهِمْ وَجَمِيعِ حُقُوقِهِمْ وَمَصَالِحِهِمْ وَأَنْ يُعَانُوا عَلَى دَفْعِ الظُّلْمِ عَنْهُمْ وَإِيصَالُهُمْ لِجَمِيعِ حُقُوقِهِمْ وَكُلُّ خَيْرٍ يَحْسُنُ مِنْ الْأَعْلَى مَعَ الْأَسْفَلِ أَنْ يَفْعَلَهُ وَمِنْ الْعَدُوِّ أَنْ يَفْعَلَهُ مَعَ عَدُوِّهِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ فَجَمِيعُ مَا نَفْعَلُهُ مَعَهُمْ مِنْ ذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مِنْ هَذَا الْقَبِيلِ لَا عَلَى وَجْهِ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالَةِ مِنَّا وَلَا عَلَى وَجْهِ التَّعْظِيمِ لَهُمْ وَتَحْقِيرِ أَنْفُسِنَا بِذَلِكَ الصَّنِيعِ لَهُمْ وَيَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَسْتَحْضِرَ فِي قُلُوبِنَا مَا جُبِلُوا عَلَيْهِ مِنْ بُغْضِنَا وَتَكْذِيبِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُمْ لَوْ قَدَرُوا عَلَيْنَا لَاسْتَأْصَلُوا شَأْفَتَنَا وَاسْتَوْلَوْا عَلَى دِمَائِنَا وَأَمْوَالِنَا وَأَنَّهُمْ مِنْ أَشَدِّ الْعُصَاةِ لِرَبِّنَا وَمَالِكِنَا عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ نُعَامِلُهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ بِمَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ امْتِثَالًا لِأَمْرِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ وَأَمْرِ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا مَحَبَّةً فِيهِمْ وَلَا تَعْظِيمًا لَهُمْ وَلَا نُظْهِرُ آثَارَ تِلْكَ الْأُمُورِ الَّتِي نَسْتَحْضِرُهَا فِي قُلُوبِنَا مِنْ صِفَاتِهِمْ الذَّمِيمَةِ لِأَنَّ عَقْدَ الْعَهْدِ يَمْنَعُنَا مِنْ ذَلِكَ فَنَسْتَحْضِرُهَا حَتَّى يَمْنَعَنَا مِنْ الْوُدِّ الْبَاطِنِ لَهُمْ وَالْمُحَرَّمِ عَلَيْنَا خَاصَّةً وَلَمَّا أَتَى الشَّيْخُ أَبُو الْوَلِيدِ الطُّرْطُوشِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ الْخَلِيفَةَ بِمِصْرَ وَجَدَ عِنْدَهُ وَزِيرًا رَاهِبًا وَسَلَّمَ إلَيْهِ قِيَادَهُ وَأَخَذَ يَسْمَعُ رَأْيَهُ وَيُنَفِّذُ كَلِمَاتِهِ الْمَسْمُومَةَ فِي الْمُسْلِمِينَ . وَكَانَ هُوَ مِمَّنْ يَسْمَعُ قَوْلَهُ فِيهِ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ فِي صُورَةِ الْمُغْضَبِ وَالْوَزِيرُ الرَّاهِبُ بِإِزَائِهِ جَالِسٌ أَنْشَدَهُ : يَا أَيَّهَا الْمَلِكُ الَّذِي جُودُهُ يَطْلُبُهُ الْقَاصِدُ وَالرَّاغِبُ إنَّ الَّذِي شُرِّفْت مِنْ أَجْلِهِ يَزْعُمُ هَذَا أَنَّهُ كَاذِبٌ فَاشْتَدَّ غَضَبُ الْخَلِيفَةِ عِنْدَ سَمَاعِ الْأَبْيَاتِ وَأَمَرَ بِالرَّاهِبِ فَسُحِبَ وَضُرِبَ وَقُتِلَ وَأَقْبَلَ عَلَى الشَّيْخِ أَبِي الْوَلِيدِ فَأَكْرَمَهُ وَعَظَّمَهُ بَعْدَ عَزْمِهِ عَلَى إيذَائِهِ فَلَمَّا اسْتَحْضَرَ الْخَلِيفَةُ تَكْذِيبَ الرَّاهِبِ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَبَبُ شَرَفِهِ وَشَرَفِ آبَائِهِ وَأَهْلِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِينَ بَعَثَهُ ذَلِكَ عَلَى الْبُعْدِ عَنْ السُّكُونِ إلَيْهِ وَالْمَوَدَّةِ لَهُ وَأَبْعَدَهُ عَنْ مَنَازِلِ الْعِزِّ إلَى مَا يَلِيقُ بِهِ مِنْ الذُّلِّ وَالصَّغَارِ وَيُرْوَى عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي أَهْلِ الذِّمَّةِ أَهِينُوهُمْ وَلَا تَظْلِمُوهُمْ وَكَتَبَ إلَيْهِ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا نَصْرَانِيًّا بِالْبَصْرَةِ لَا يُحْسِنُ ضَبْطَ خَرَاجِهَا إلَّا هُوَ وَقَصَدَ وِلَايَتَهُ عَلَى جِبَايَةِ الْخَرَاجِ لِضَرُورَةِ تَعَذُّرِ غَيْرِهِ فَكَتَبَ إلَيْهِ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَنْهَاهُ عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ لَهُ فِي الْكِتَابِ مَاتَ النَّصْرَانِيُّ وَالسَّلَامُ أَيْ افْرِضْهُ مَاتَ مَاذَا كُنْت تَصْنَعُ حِينَئِذٍ فَاصْنَعْهُ الْآنَ وَبِالْجُمْلَةِ فَبِرُّهُمْ وَالْإِحْسَانُ إلَيْهِمْ مَأْمُورٌ بِهِ وَوُدُّهُمْ وَتَوَلِّيهِمْ مَنْهِيٌّ عَنْهُ فَهُمَا قَاعِدَتَانِ إحْدَاهُمَا مُحَرَّمَةٌ وَالْأُخْرَى مَأْمُورٌ بِهَا وَقَدْ أَوْضَحْت لَك الْفَرْقَ بَيْنَهُمَا بِالْبَيَانِ وَالْمَثَلِ فَتَأَمَّلْ ذَلِكَ . ( الْفَرْقُ التَّاسِعَ عَشَرَ وَالْمِائَةُ بَيْنَ قَاعِدَةِ بِرِّ أَهْلِ الذِّمَّةِ وَبَيْنَ قَاعِدَةِ التَّوَدُّدِ لَهُمْ ) مِنْ حَيْثُ إنَّ بِرَّهُمْ وَالْإِحْسَانَ إلَيْهِمْ مَأْمُورٌ بِهِ { لَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ } الْآيَةَ وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { اسْتَوْصُوا بِأَهْلِ الذِّمَّةِ خَيْرًا } وَقَالَ فِي حَدِيثٍ آخَرَ { اسْتَوْصُوا بِالْقِبْطِ خَيْرًا } وَوُدُّهُمْ وَتُوَلِّيهِمْ مَنْهِيٌّ عَنْهُ قَالَ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنْ الْحَقِّ } الْآيَةَ .

وَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ { إنَّمَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ } الْآيَةَ حَتَّى اُحْتِيجَ لِلْجَمْعِ بَيْنَ هَذِهِ النُّصُوصِ بِمَا هُوَ مِنْ الْفَرْقِ بَيْنَ قَاعِدَتَيْ بِرِّهِمْ وَالتَّوَدُّدِ لَهُمْ مِنْ أَنَّ عَقْدَ الذِّمَّةِ لَمَّا كَانَ عَقْدًا عَظِيمًا فَيُوجِبُ عَلَيْنَا حُقُوقًا لَهُمْ مِنْهَا مَا حَكَى ابْنُ حَزْمٍ فِي مَرَاتِبِ الْإِجْمَاعِ وَنَجْعَلُهُمْ فِي جِوَارِنَا وَفِي حَقِّ رَبِّنَا وَفِي ذِمَّةِ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذِمَّةِ دِينِ الْإِسْلَامِ ا هـ .

وَاَلَّذِي إجْمَاعُ الْأَمَةِ عَلَيْهِ أَنَّ مَنْ كَانَ فِي الذِّمَّةِ وَجَاءَ أَهْلُ الْحَرْبِ إلَى بِلَادِنَا يَقْصِدُونَهُ وَجَبَ عَلَيْنَا أَنْ نَخْرُجَ لِقِتَالِهِمْ بِالْكُرَاعِ وَالسِّلَاحِ وَنَمُوتَ دُونَ ذَلِكَ صَوْنًا لِمَنْ هُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ تَسْلِيمَهُ دُونَ ذَلِكَ إهْمَالٌ لِعَقْدِ الذِّمَّةِ وَمِنْهَا أَنَّ مَنْ اعْتَدَى عَلَيْهِمْ وَلَوْ بِكَلِمَةِ سُوءٍ أَوْ غِيبَةٍ فِي عِرْضِ أَحَدِهِمْ أَوْ نَوْعٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْأَذِيَّةِ أَوْ أَعَانَ عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ ضَيَّعَ ذِمَّةَ اللَّهِ تَعَالَى وَذِمَّةَ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذِمَّةَ دِينِ الْإِسْلَامِ تَعَيَّنَ عَلَيْنَا أَنْ نَبَرَّهُمْ بِكُلِّ أَمْرٍ لَا يُؤَدِّي إلَى أَحَدِ الْأَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا مَا يَدُلُّ ظَاهِرُهُ عَلَى مَوَدَّاتِ الْقُلُوبِ وَثَانِيهِمَا مَا يَدُلُّ ظَاهِرُهُ عَلَى تَعْظِيمِ شَعَائِرِ الْكُفْرِ وَذَلِكَ كَالرِّفْقِ بِضَعِيفِهِمْ وَسَدِّ خُلَّةِ فَقِيرِهِمْ وَإِطْعَامِ جَائِعِهِمْ وَإِكْسَاءِ عَارِيهِمْ وَلِينِ الْقَوْلِ لَهُمْ عَلَى سَبِيلِ اللُّطْفِ لَهُمْ وَالرَّحْمَةِ رِّفْقِ بِضَعِيفِهِمْ وَسَدِّ خُلَّةِ فَقِيرِهِمْ وَإِطْعَامِ جَائِعِهِمْ وَإِكْسَاءِ عَارِيهِمْ وَلِينِ الْقَوْلِ لَهُمْ عَلَى سَبِيلِ اللُّطْفِ لَهُمْ وَالرَّحْمَةِ لَا عَلَى سَبِيلِ الْخَوْفِ وَالذِّلَّةِ وَاحْتِمَالِ أَذِيَّتِهِمْ فِي الْجِوَارِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى إزَالَتِهِ لُطْفًا مِنَّا بِهِمْ لَا خَوْفًا وَتَعْظِيمًا وَالدُّعَاءِ لَهُمْ بِالْهِدَايَةِ وَأَنْ يُجْعَلُوا مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَنَصِيحَتِهِمْ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِمْ فِي دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ وَحِفْظِ غَيْبَتِهِمْ إذَا تَعَرَّضَ أَحَدٌ لِأَذِيَّتِهِمْ وَصَوْنِ أَمْوَالِهِمْ وَعِيَالِهِمْ وَأَعْرَاضِهِمْ وَجَمِيعِ حُقُوقِهِمْ وَمَصَالِحِهِمْ وَأَنْ يُعَانُوا عَلَى دَفْعِ الظُّلْمِ عَنْهُمْ وَإِيصَالِهِمْ لِجَمِيعِ حُقُوقِهِمْ وَكُلِّ خَيْرٍ يَحْسُنُ مِنْ الْأَعْلَى مَعَ الْأَسْفَلِ أَنْ يَفْعَلَهُ وَمِنْ الْعَدُوِّ أَنْ يَفْعَلَهُ مَعَ عَدُوِّهِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ .

تفسير الجلالين – (ج 11 / ص 156)

{ لاَّ ينهاكم الله عَنِ الذين لَمْ يقاتلوكم } من الكفار { فِى الدين وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مّن دياركم أَن تَبَرُّوهُمْ } بدل اشتمال من الذين { وَتُقْسِطُواْ } تفضوا { إِلَيْهِمُ } بالقسط ، أي بالعدل وهذا قبل الأمر بجهادهم [ 5 : 47 ] { إِنَّ الله يُحِبُّ المقسطين } العادلين .

تفسير الرازي – (ج 15 / ص 325)

اختلفوا في المراد من { الذين لَمْ يقاتلوكم } فالأكثرون على أنهم أهل العهد الذين عاهدوا رسول الله صلى الله عليه وسلم على ترك القتال ، والمظاهرة في العداوة ، وهم خزاعة كانوا عاهدوا الرسول على أن لا يقاتلوه ولا يخرجوه ، فأمر الرسول عليه السلام بالبر والوفاء إلى مدة أجلهم ، وهذا قول ابن عباس والمقاتلين والكلبي ، وقال مجاهد : الذين آمنوا بمكة ولم يهاجروا ، وقيل : هم النساء والصبيان ، وعن عبد الله بن الزبير : أنها نزلت في أسماء بنت أبي بكر قدمت أمها فتيلة عليها وهي مشركة بهدايا ، فلم تقبلها ولم تأذن لها بالدخول ، فأمرها النبي صلى الله عليه وسلم أن تدخلها وتقبل منها وتكرمها وتحسن إليها ، وعن ابن عباس : أنهم قوم من بني هاشم منهم العباس أخرجوا يوم بدر كرهاً ، وعن الحسن : أن المسلمين استأمروا رسول الله في أقربائهم من المشركين أن يصلوهم ، فأنزل الله تعالى هذه الآية ، وقيل الآية في المشركين ، وقال قتادة نسختها آية القتال . وقوله : { أَن تَبَرُّوهُمْ } بدل من { الذين لَمْ يقاتلوكم } وكذلك { أَن تَوَلَّوْهُمْ } بدل من { الذين قاتلوكم } والمعنى : لا ينهاكم عن مبرة هؤلاء ، وإنما ينهاكم عن تولي هؤلاء ، وهذا رحمة لهم لشدتهم في العداوة ، وقال أهل التأويل : هذه الآية تدل على جواز البر بين المشركين والمسلمين ، وإن كانت الموالاة منقطعة ، وقوله تعالى : { وَتُقْسِطُواْ إِلَيْهِمْ } قال ابن عباس يريد بالصلة وغيرها { إِنَّ الله يُحِبُّ المقسطين } يريد أهل البر والتواصل ، وقال مقاتل : أن توفوا لهم بعهدهم وتعدلوا ، ثم ذكر من الذين ينهاهم عن صلتهم فقال : { إِنَّمَا ينهاكم الله عَنِ الذين قاتلوكم فِى الدين . . . أَن تَوَلَّوْهُمْ } وفيه لطيفة : وهي أنه يؤكد قوله تعالى : { لاَّ ينهاكم الله عَنِ الذين لَمْ يقاتلوكم } .

POINT-POINT PENTING :

mengucapkan selamat (Tahni`ah) dalam urusan keduniaan kepada orang-orang kafir seperti kelahiran, pernikahan, dll masih diperselisihkan ulama, tetapi pendapat yang kuat adalah haram.
Sedangkan mengucapkan selamat (Tahni`ah) dalam syiar agama mereka adalah haram tanpa ada khilaf.

Mengucapkan salam kepada orang kafir adalah haram hukumnya, adapun pendapat yang memperbolehkan adalah pendapat yang sangat lemah / syadz, dan seorang mufti dilarang berfatwa dengan pendapat yang lemah, apalagi pendapat yang syadz. Bahkan pendapat syadz tidak boleh diamalkan untuk dirinya sendiri.
Agama Nasrani sudah ada sejak zaman Rasulullah saw. Mereka telah merayakan natal (kelahiran Yesus / Nabi Isa) sejak zaman dahulu dan zaman sebelum Rasulullah saw.

Ketika mereka merayakan hal tersebut Rasulullah tidak bersabda “Nahnu ahaqqu bi Isa” (kami lebih berhak atas Isa), sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saw ketika melihat kaum Yahudi merayakan keselamatan Nabi Musa pada tangga 10 muharrom, ketika beliau memerintahkan berpuasa di hari itu, beliau bersabda “Nahnu Ahaqqu Bi Musa” (Kami lebih berhak atas Musa).

Seandainya kaum muslim disyariatkan untuk merayakan kelahiran Nabi Isa pastinya Beliau akan menyatakan hal tersebut ketika kaum Nasrani merayakannya.

Kemudian dilanjutkan dengan tulisan dari KH Muhammad Idrus Ramli (Pengurus Lajnah wan Nasyr PWNU Jawa Timur & Sekretaris LBM NU Jember) yang dikutip FP Facebook yang sama sebagai berikut:

HUKUM UCAPAN SELAMAT NATAL

Sebelum menjelaskan hukum ucapan selamat natal, ada beberapa pertimbangan yang perlu dipikirkan;

Pertama, ucapan selamat biasanya diucapkan ketika seseorang bersuka cita atau menerima kesenangan yang dibenarkan dalam agama seperti ketika hari raya idul fitri, kelahiran anak, pernikahan dan lain-lain. Hal ini seperti kita baca dalam kitab Wushul al-Amani fi Ushul al-Tahani, karya al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi, dalam himpunan kitabnya al-Hawi lil-Fatawi juz 1.

Kedua, ucapan selamat juga diucapkan ketika seseorang bersuka cita karena menerima kenikmatan atau terhindar dari malapetaka, seperti dikemukakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar
al-‘Aqalani dalam kitabnya, Juz’ fi al-Tahni’ah bil-A’yad.

Dalam konteks ini beliau berkata:

ﻳﺴﺘﺪﻝ ﻟﻌﻤﻮﻡ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﻟﻤﺎ ﻳﺤﺪﺙ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﺍﻭ ﻳﻨﺪﻓﻊ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻘﻢ ﺳﺠﻮﺩ ﺍﻟﺸﻜﺮ ﻟﻤﻦ ﻳﻘﻮﻝ ﺑﻪﻭﻫﻮ ﺍﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻭﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ ﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺔ ﻟﻤﻦ ﺃﺻﻴﺐ ﺑﺎﻹﺧﻮﺍﻥ . )ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ، ﺟﺰﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻬﺌﺔﻓﻲ ﺍﻷﻋﻴﺎﺩ، ﺹ 46 )

“Keumuman ucapan selamat terhadap kenikmatan yang terjadi atau malapetaka yang terhindar menjadi dalil sujud syukur bagi orang yang berpendapat demikian, yaitu mayoritas ulama dan dianjurkannya bertakziyah bai orang-orang yang ditimpa malapetaka.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Juz’ fi al-Tahni’ah fil-‘Id, hal. 46).

Ketiga, para ulama menganggap hari raya non Muslim, bukan termasuk hari raya yang baik dan mendatangkan kebaikan bagi umat Islam. Dalam konteks ini al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi berkata dalam kitabnya al-Amru bil-Ittiba’ wa al-Nahyu ‘anin al-Ibtida’ sebagai berikut:

ﻭﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ﻣﺸﺎﺑﻬﺔ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻭﻣﻮﺍﻓﻘﺘﻬﻢ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻭﻣﻮﺍﺳﻤﻬﻢ ﺍﻟﻤﻠﻌﻮﻧﺔ ﻛﻤﺎﻳﻔﻌﻠﻪ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺟﻬﻠﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻦ ﻣﺸﺎﺭﻛﺔ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﻭﻣﻮﺍﻓﻘﺘﻬﻢ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻮﻧﻪ ﻓﻲ ﺧﻤﻴﺲﺍﻟﺒﻴﺾ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﺍﻛﺒﺮ ﺍﻋﻴﺎﺩ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ )ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺟﻼﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ، ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻻﺗﺒﺎﻉ ﻭﺍﻟﻨﻬﻲﻋﻦ ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﻉ ﺹ 141

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka selayaknya ucapan selamat natal dihukumi haram dan harus dihindari oleh umat Islam. Dalam konteks ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali berkata:

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺸﻌﺎﺋﺮ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﺔ ﺑﻪ ﻓﺤﺮﺍﻡ ﺑﺎﻻﺗﻔﺎﻕ ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻭﺻﻮﻣﻬﻢﻓﻴﻘﻮﻝ ﻋﻴﺪ ﻣﺒﺎﺭﻙ ﻋﻠﻴﻚ ﺃﻭ ﺗﻬﻨﺄ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻓﻬﺬﺍ ﺇﻥ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﺋﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ ﻭﻫﻮ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﺃﻥ ﻳﻬﻨﺌﻪ ﺑﺴﺠﻮﺩﻩ ﻟﻠﺼﻠﻴﺐ ﺑﻞ ﺫﻟﻚ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻘﺘﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺸﺮﺏ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﻭﻗﺘﻞ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭﺍﺭﺗﻜﺎﺏ ﺍﻟﻔﺮﺝ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻭﻧﺤﻮﻩ … ﻭﺇﻥ ﺑﻠﻲ ﺍﻟﺮﺟﻞﺑﺬﻟﻚ ﻓﺘﻌﺎﻃﺎﻩ ﺩﻓﻌﺎ ﻟﺸﺮ ﻳﺘﻮﻗﻌﻪ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻤﺸﻰ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﺇﻻ ﺧﻴﺮﺍ ﻭﺩﻋﺎ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﺘﻮﻓﻴﻖﻭﺍﻟﺘﺴﺪﻳﺪ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ. ) ﺍﺑﻦ ﻗﻴﻢ ﺍﻟﺠﻮﺯﻳﺔ، ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺬﻣﺔ 1/442 )

“Adapun ucapan selamat dengan simbol-simbol yang khusus dengan kekufuran maka adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat kepada kafir dzimmi dengan hari raya dan puasa mereka. Misalnya ia mengatakan, hari raya berkah buat Anda, atau Anda selamat dengan hari raya ini dan sesamanya. Ini jika yang mengucapkan selamat dari kekufuran, maka termasuk perbuatan haram. Ucapan tersebut sama dengan ucapan selamat dengan bersujud kepada salib. Bahkan demikian ini lebih agung dosanya menurut Allah dan lebih dimurkai daripada ucapan selamat atas minum khamr, membunuh seseorang, perbuatan zina yang haram dan sesamanya. ..

Apabila seseorang memang diuji dengan demikian, lalu melakukannya agar terhindar dari keburukan yang dikhawatirkan dari mereka, lalu ia datang kepada mereka dan tidak mengucapkan kecuali kata-kata baik dan mendoakan mereka agar memperoleh taufiq dan jalan benar, maka hal itu tidak lah apa-apa.” (Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, juz 1 hal. 442).

Pernyataan di atas menyimpulkan bahwa ucapan selamat natal, hukumnya haram dilakukan oleh seorang Muslim, karena termasuk mengagungkan simbol-simbol kekufuran menurut agamanya.
Lalu bagaimana, jika sekelompok umat Islam berpartisipasi menghadiri acara natal dengan tujuan mengamankan acara natalan??? Tentu saja, hukumnya juga haram. Al-Imam Abu
al-Qasim Hibatullah al-Thabari al-Syafi’i, seorang ulama fiqih madzhab Syafi’i berkata:

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﻫﺒﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻣﻨﺼﻮﺭ ﺍﻟﻄﺒﺮﻱ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﻀﺮﻭﺍ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻷﻧﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﻜﺮ ﻭﺯﻭﺭ ﻭﺇﺫﺍ ﺧﺎﻟﻂ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺑﻐﻴﺮ ﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻛﺎﻟﺮﺍﺿﻴﻦ ﺑﻪ ﺍﻟﻤﺆﺛﺮﻳﻦ ﻟﻪ ﻓﻨﺨﺸﻰ ﻣﻦ ﻧﺰﻭﻝ ﺳﺨﻂ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ
ﺟﻤﺎﻋﺘﻬﻢ ﻓﻴﻌﻢ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻧﻌﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺳﺨﻄﻪ

“Telah berkata Abu al-Qasim Hibatullah bin al-Hasan bin anshur al-Thabari, seorang faqih bermadzhab Syafi’i: “Kaum Muslimin tidak boleh (haram) menghadiri hari raya non Muslim, karena mereka melakukan kemunkaran dankebohongan. Apabila orang baik bercampur dengan orang yang melakukan kemungkaran, tanpa melakukan keingkaran kepada mereka, maka berarti mereka rela dan memilih (mendahulukan) kemungkaran tersebut., maka dikhawatirkan turunnya kemurkaan Allah atas jamaah mereka (non-Muslim), lalu menimpa seluruhnya, kita berlindung dari murka Allah.”

Bagaimana jika ada orang berkata, tidak apa-apa mengucapkan selamat natal, dengan tujuan selamat atas lahirnya Nabi Isa ‘alaihissalam? Ucapan orang ini perlu dipertanyakan. Kepada siapa Anda memberikan fatwa tersebut? Kepada orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya yang iducapkan di rumahnya dan bukan pada hari natal? Secara jujur saja, kepada siapa dia mengucapkan selamat natal? Apakah kepada Isa ‘alaihissalam, secara khusus, tanpa diucapkan kepada non-Muslim??? Atau selamat natal diucapkan kepada non-Muslim pada hari raya mereka???

Tulisan ini perlu disempurnakan oleh para pembaca.

Wallahu a’lam.

Kemudian juga bisa dirujuk kepada Buya Yahya lewat video di situs berbagi video YouTube berikut ini.

Juga terkabarkan kepada saya lewat Ustad Khuzaini Hasan dan juga ternukil di dalam FP yang sama, dari Muhammad Lutfi Rochman (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Yaman (PCINU) Yaman) sebagai berikut:

KUATNYA HUJJAH KEHARAMAN SELAMAT NATAL DAN [KEHARAMAN] MENJAGA GEREJA MENURUT MAZHAB SYAFI’I

Seperti beberapa tahun yang sudah berlalu menjelang akhir tahun bulan Desember selalu ramai di tanah air beberapa oknum yang mengatasnamakan NU berusaha menebar syubhat dikalangan masyarakat awam tentang ucapan selamat natal. Beberapa tokoh yang seharusnya menjadi teladan dan contoh justru mencari beragam dalih dan alasan pembenaran dengan mengkorupsi dalil untuk mengubah fakta haramnya ucapan natal menjadi “boleh” dengan alasan Islam rahmah, Islam toleran, Islam Tasamuh dsb yang sering di gembor- gemborkan kalangan liberal yang sembunyi dibalik nama besar NU. Lebih terlihat “mencari pembenaran” sebagian kalangan mencari alasan dengan kelakuan yang belum tentu syar’I dari beberapa tokoh yang “terlanjur” terkenal. Bahwa agama Islam bukanlah dibangun dengan ketokohan apalagi dizaman yang penuh fitnah ini, tetapi terbangun dengan ‘Hujjah dan Landasan’ yang kuat para ulama salaf terutama para ulama mazhab sebagaimana qonun asas dari Nahdlatul Ulama yang sudah ditetapkan oleh sang pendiri Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari Rahimahullah.

Untuk itu kami mendapat kesempatan bertanya kepada Mufti Mazhab Syafi’iyyah di Tarim Hadramaut Yaman, Salah satunya beliau As Syaikh Muhammad Ali Ba’udhon Asy Syafi’i. Berikut kurang lebih rangkuman percakapan kami tentang keharaman ucapan tahniah hari raya orang kafir.

سألت الشيخ محمد علي باعوضان : ياالشيخ هل تحريم تهنيئة لأعياد الكفار باﻹجماع أو فيه قول بجوازه ؟

فأجاب الشيخ : نعم حرام، فكيف ﻧﻬﻨﺌﻮﻥ ﺑﻌﻴﺪﻫﻢ ؟
أما قول بجوازه ففيه كلام ثاني. فتعجب الشيخ

قلنا : حتي يعتقدون بحلاله هل هم كفر؟ قال نعم

يا الشيخ بعض المسلمين في جاوى يعتادون ﺫﻟﻚ ﺑﻞ ﻳﺤﺮﺳﻮﻥ ﺍﻟﻜﻨﺎﺋﺲ ﻛﺎﻟﻌﺴﻜﺮ. لو رضيت سنرسل بعض المسائل معك إلي إندونيسيا فاشار برضاه فتعجب مرة ثانية قال نعوذ بالله من ذلك!
بل لا بد من بحث حديث من تشبه بقوم فهو منهم.

Kami bertanya kepada beliau tentang keharaman ucapan tahniah selamat perayaan hari raya kaum kuffar sudah ijma’ atau ada qoul yang membolehkan ?

As syaikh pun terkejut dan meyakinkan keharamannya dan menyatakan agar tidak memperdulikan terhadap perkataan orang yang membolehkan.

Maka kami meminta kerelaan beliau untuk mengirimkan sebagian tanya jawab kepada beliau ke tanah Jawa Indonesia karena sebagian muslimin membiasakan ucapan selamat natal dan bahkan sebagian dari mereka menjaga gereja seperti barisan laskar dengan dalih toleransi.

Maka Syaikh kembali terkejut dan mengucapkan ‘Na’uzdubillah’ dan menegaskan kepada kami agar juga memasukkan pembahasan hadits “Barangsiapa menyerupai suatu kaum (Kafir atau Musyrik) maka dia merupakan bagian dari kaum tersebut”.

Berikut ini kami lampirkan sumber dari kitab mu’tamad mazhab Syafi’I tentang keharaman tahniah hari raya kuffar bahkan para pelakunya berhak mendapat ta’zir (hukuman) dari pemerintahan Islam.

(فرع) يعزر من وافق الكفار في أعيادهم ومن يمسك الحية ومن يدخل النار ومن قال لذمي يا حاج ومن هنأه بعيده ومن يسمي زائر قبور الصالحين حاجا والساعي بالنميمة لكثرة إفسادها بين الناس الخ.

di ambil dari Bab hudud dan Ta’zir dari kitab ulama mazhab Syafi’iyyah sbb:

1. Al allamah Sayyid Alawi bin Ahmad Seggaf Asy Syafi’I dalam kitab Tarsyikh Al Mustafidin khasiyah Fathul Muin yang sangat masyhur di pesantren Indonesia (hal 88 cetakan Darul Fikr).

2. As syekh Sulaiman Al Jamal syarakh al manhaj karangan Syaikh Zakaria Al Anshori yang mendapat gelar Syaikhul Islam dalam mazhab Syafi’I.

As syekh Al Jamal menukil pendapat Imam Al Khalabi dari kitab Khasiyah syarah Al Mahalli alal minhaj kitab Imam An Nawawi dengan menyebutkan ta’zir dari sisi menyerupai orang kafir diperayaan hari raya mereka.

3. As Syekh Abdul Hamid As Syarwani As Syafi’I dalam kitab khasiyah Tukhfah Ala Minhaj karangan Ibnu Hajar Al Haitami yang pendapatnya merupakan rujukan teratas Mutaakhhirin Syafi’iyyah hingga hari ini terutama di wilayah Hijaz, Yaman, Syam, Kurdistan, Dagestan, Dan Semenanjung Asia hingga Indonesia.

4. As Syaikh Syamsuddin Muhammad Khotib As Syirbini dalam kitab Mughni Al Muhtaj. Syekh Khotib adalah murid Ar Romli Al Kabir yang masyhur mendapat gelar Al Walid. Ar Romli As Shogir putra beliau adalah pengarang Kitab Nihayatul Muhtaj yang pendapatnya merupakan rujukan mayoritas pengikut Syafi’iyyah dari Mesir hingga Haromain dan Semenanjung Afrika.

5. As Sayyid Al Bakri Satho dalam kitabnya I’anat At Tholibin Khasiyah Fathul Muin juga mengutip sebagian dari sisi menyerupai orang kafir. (Darul Ihya Turots Al ‘Arobi hal 254 juz 4).

Penutup

Sesudah kami sebutkan dasar dan hujjah yang begitu kuat oleh para ulama kibar mazhab Syafi’I, Maka kami yang faqir ini mengajak kepada kaum muslimin Indonesia yang mayoritas bermazhab Syafi’i terutama Nahdliyyin agar mulai Desember tahun ini untuk berhenti membiasakan kebiasaan haram dan memalukan dengan ikut memeriahkan perayaan hari raya kaum kuffar seperti Natal, Nyepi, Waisyak dsb.

Toleransi yang benar sesuai contoh nabi adalah dengan tidak mengganggu perayaan ibadah mereka dan tetap berpegang teguh dengan Islam dan Ajarannya yang merupakan satu- satunya Diin yang hanya mendapat Ridho Allah SWT. Wallahu Alam

Sumber FP Pondok Pesantren Al – Anshory Tulusrejo Grabag Purworejo

* Meskipun demikian, pada tahun 2009 Syaikh Yusuf Qaradhawi bersikap keras kepada muslim yang terbius dalam selebrasi Natal.

[11] Perhatikan juga kalimat retoris dalam hadist ini:

Dari Ibnu Abu Laila bahwa ketika Qais bin Saad ra. dan Sahal bin Hunaif ra. sedang berada di Qadisiyah, tiba-tiba ada iringan jenazah melewati mereka, maka keduanya berdiri. Lalu dikatakan kepada keduanya: Jenazah itu adalah termasuk penduduk setempat (yakni orang kafir). Mereka berdua berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah, lalu beliau berdiri. Ketika dikatakan: Jenazah itu Yahudi, Rasulullah saw. bersabda: Bukankah ia juga manusia? (Shahih Muslim No.1596)

[12] Dari Abu Syuraih Al Khuzai dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbuat baik pada tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia menghormati tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berbicara yang baik atau diam.” (Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 32-Bab Man Kaana Yu’minu Billahi wa Yaumil Akhir Falaa Yu’dzi Jaarohu. Muslim: 31-Kitab Al Luqotoh, hal. 14)

Dari Aisyah radliallahu ‘anha dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai saya mengira bahwa dia (Jibril) hendak memberikan warisan kepadanya.” (Bukhari: 78-Kitab Al Adab, 28-Bab Al Washoh bil Jaar. Muslim: 45-Kitab Al Birr wash Shilah wal Adab, hal. 140).

Mujahid berkata, “Saya pernah berada di sisi Abdullah ibnu ‘Amru sedangkan pembantunya sedang memotong kambing. Dia lalu berkata, ”Wahai pembantu! Jika anda telah selesai (menyembelihnya), maka bagilah dengan memulai dari tetangga Yahudi kita terlebih dahulu.” Lalu ada salah seorang yang berkata, “(Anda memberikan sesuatu) kepada Yahudi? Semoga Allah memperbaiki kondisi Anda.”Abdullah bin ’Amru lalu berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat terhadap tetangga sampai kami khawatir kalau beliau akan menetapkan hak waris kepadanya.”(Adabul Mufrod no. 95/128. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat inishahih. Lihat Al Irwa’ (891): [Abu Dawud: 40-Kitab Al Adab, 123-Fii Haqqil Jiwar. At Tirmidzi: 25-Kitab Al Birr wash Shilah, 28-Bab Maa Jaa-a fii Haqqil Jiwaar])

[13] Perhatikan QS 60:8 dan silakan pelajari pula sebab turunnya ayat ini. Juga QS 4:1 atau QS 31:15. Juga misalnya hadist:

Jubair bin Muth’im berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi (dengan kerabat).” (HR. Muslim no. 2556).

Kemudian juga misalnya

Dari Jarir bin Adillah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang terhalangi dari bersikap lemah lembut, maka dia telah terhalang dari seluruh bentuk kebaikan.” (HR. Muslim).

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Dawud, hadist Sahih).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau meriwayatkan: “al-Aqra’ bin Habis suatu ketika melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mencium al-Hasan -cucu beliau-, maka dia berkata: ‘Saya memiliki sepuluh orang anak namun saya belum pernah melakukan hal ini kepada seorang pun di antara mereka.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi.’.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafazh Muslim).

[14] Silakan rujuk kepada Kisah Muhammad (p.b.u.h) di Madinah.

Juga pelajari surat pemberian jaminan keselamatan kepada umat lain yang diberikan oleh Muhammad (p.b.u.h) serta bagaimana beliau (p.b.u.h) berinteraksi dengan umat berbeda keyakinan [Kristen] berikut ini:

Qasim Rashid. 10 Agustus 2014. “Letter to All Christians from Prophet Muhammad (pbuh)”. muslimvillage.com.  (keaslian diragukan cf. Konsultasi Syariah)

Ismail Acar. 2005. “Interactions between Prophet Muhammad and Christians”. Fountain Magazine, Issue 50, April – June 2005.

Juga misalnya bagaimana Umar bin Khattab melindungi kaum Kristen di Yerusalem.

[15] Sebenarnya, antara Kristen dengan Islam memiliki narasi-narasi yang berbeda bukan hanya tentang kedudukan Yesus (p.b.u.h).

Di dalam Bible [saya konsisten menggunakan istilah Bible dan bukan Injil atau Alkitab cf. tulisan saya ‘Sastra dan Hermeneutika’ lihat endnote nomor 1], dan ini sangat berbeda dengan narasi Quran, dinarasikan bahwa kisah jatuhnya Adam ke dunia adalah sebagai ‘kesalahan’ Hawa (Eve) yang menggoyahkan Adam sedangkan di dalam Islam tidaklah demikian.

Bandingkan juga kisah Luth (Lot) incest dengan dua anak gadisnya, juga Nuh (Noah) sebagai pemabuk berat, kemudian Daud (David) yang berzina dengan Betsyeba.

Narasi-narasi serupa ini tidak terdapati di dalam skriptur Islam. Muslim dalam keadaan tidak membenarkan maupun menyalahkan pada narasi-narasi yang berada di luar skriptur resmi Islam sebab Muslim diajari bersikap demikian. Sikap tidak membenarkan dan tidak menyalahkan bersebab beberapa nabi (p.b.u.t) di dalam skriptur Islam KADANG diceritakan HANYA beberapa episode penting di dalam hidup mereka (p.b.u.t) dan narasi-narasi di luar itu adalah samar.

Bandingkan juga dengan adanya narasi Yesus (p.b.u.h) sewaktu kecil yang memiliki –jika membandingkan narasi di dalam skriptur Kristen dengan skriptur Islam- ada setidaknya 5 narasi.

Empat narasi berdasar Bible Matius, Yohanes, Lukas, Markus (cf. Felix Just, 2013. “The four Gospels: Some Comparative Overview Charts”) dan satu narasi berdasar Al Quran. Jikalau diperhatikan secara benar bahwa keempat narasi mengenai Yesus (p.b.uh.) sewaktu kecil di dalam Bible saling berbeda satu sama lain sedangkan ada pula manuskrip lain yang tertolak (apokrifa, rejected books) di Konsili Nicea juga memiliki narasi-narasi yang mungkin berbeda satu sama lain. Dalam keadaan seperti ini, bagi muslim saat mendapati ada narasi yang sudah jelas di dalam skriptur Quran (atau dalam Hadist) maka narasi yang ada di dalam Quran (atau dalam Hadist)-lah yang dipegang. Jadi narasi masa kecil Yesus (p.b.u.h) di dalam skriptur Kristen atau Biblikal adalah tidak diyakini oleh muslim (bdk. Kisah Pemuda di dalam Gua / Ashabul Kahfi sebagaimana diyakini di dalam tradisi Kristen Jacobite sebagaimana diungkapkan oleh Nouman Ali Khan dalam “Sleepers of the Cave: Stories behind Surahs”).

Tidak berhenti sampai di situ. Kisah Yesus (p.b.u.h) yang dipercayai oleh sebagian besar umat Kristen tidak pernah menikah sepanjang hidupnya berbeda dengan narasi yang disandarkan kepada QS. Ar Ra’ad: 38 yang mengindikasikan ada kemungkinan Yesus (p.b.u.h) menikah. Kisah menikahnya Yesus (p.b.u.h) juga bersesuaian dengan skriptur fragmen papirus kuno yang baru diketemukan dan dikuak oleh Karen L. King dari Harvard Divinity School setelah sebelumnya Dr. Barbara Thiering mengambil kesimpulan yang sama dari kajiannya terhadap gulungan-gulungan kuno yang diketemukan di sekitar Laut Mati (cf. Jonathan Beasley. 10 April 2014. “Testing Indicates ‘Gospel of Jesus’s Wife’  Papyrus Fragment to be Ancient”Bart D. Ehrman & Barbara Thiering. 2006. “Scholarly Smackdown: Were Mary Magadalene and Jesus Married?”Ahmad Sarwat. 5 Desember 2011. “Nabi Isa Ternyata Telah Menikah dan Poligami”).

[16] Pahami juga mengenai pemberian label yang tidak tepat mengenai anti-Yesus (p.b.u.h.) kepada ajaran Islam. Perlu diketahui bahwa di dalam Islam Yesus (p.b.u.h) dipuji sebagai Nabi dan Rasul yang luar biasa. Muslim tidak akan bisa mengolok-olok Yesus (p.b.u.h) sebab muslim diajari untuk menghormati para Nabi dan Rasul (p.b.u.t). Mengenai pengingkaran Yesus menjadi bagian dari Trinitas sebenarnya jika umat Kristen mengkaji bagaimana Trinitas menjadi mainstream ajaran di dalam Kekristenan maka tidak akan kaget terhadap pandangan bahwa Yesus (p.b.u.h) adalah hanya Nabi atau Rasul saja.

Sebagai tambahan, sebelum Konsili Nicea (th. 325 M) memaklumatkan kredo Nicea yang dipakai oleh umat Kristen saat ini, ada dua pandangan mengenai posisi Yesus (p.b.u.h) di dalam ajaran Kristen PADA MASA-MASA AWAL MULAI MENYEBAR. Pandangan Arius dengan Athanasius saling berselisih mengenai posisi Yesus (p.b.u.h), apakah sebagai ‘manusia biasa yang suci’ ataukah ‘se-dzat dengan Bapa’. Konsili Nicea-lah yang kemudian memutuskan bahwa pandangan Arius yang menolak penyamaan Dzat Bapa dengan Yesus adalah bidah.

[17] Perhatikan bagaimana misalnya lirik lagu Christmas Carol: Joy to the world, The Lord has come …. Bagi beberapa gelintir Muslim yang menggunakan dalil pembolehan ucapan ‘Selamat Natal’ dengan dalil ‘hanya BASA-BASI mengucapi selamat kelahiran Yesus saja’ dan bukan dalam rangka menyepakati bahwa ‘Yesus (p.b.u.h) dirayakan kelahirannya ke dunia sebagai bagian dari Trinitas’ adalah problematis.

Basa-basi memberi ucapan selamat padahal sadar dan yakin ada beda narasi tentang Yesus (p.b.u.h) di dalam Quran dengan yang ada di dalam Bible SERTA perayaan Natal adalah selalu mengenai perayaan kelahiran Juru Selamat sebagai bagian dari Trinitas menjadikan pemberian ucapan menjadi absurd dan malah olok-olok. Basa-basi ini menyelisihi maksud perayaan Natal bagi umat Kristen.

Makna dari perayaan Natal atau Christmas sebagai bukan hanya perayaan kelahiran Yesus namun perayaan kelahiran juru selamat, penebus dosa, dan peneguhan deitas Yesus dapat dirujuk dari situs-situs Kristen yang terpercaya misalnya sebagai berikut:

Slick, Matt. n.d. “What is the true meaning of Christmas?”. Diakses 25 Desember 2015, 10:36 PM dari

https://carm.org/what-is-the-true-meaning-of-christmas

Grace to You (GTY). n.d. “What is the true meaning of Christmas?”. Diakses 25 Desember 2015, 10: 39 PM dari

http://www.gty.org/resources/questions/QA70/what-is-the-real-meaning-of-christmas

Warren, Rick. 19 Desember 2008. “The Purpose of Christmas”. Diakses 25 Desember 2015, 10:50 PM dari

http://www.christianitytoday.com/ct/2008/decemberweb-only/151-55.0.html

[18] Tulisan ini juga sebagai respon atas tulisan Sumanto Al Qurtuby, deputy chairman of Nahdlatul Ulama’s North America branch, yang berjudul In the Spirit of Tolerance, a Merry Christmas to My Christian Friends yang diterbitkan daring tanggal 24 Desember 2012 di The Jakarta Globe.

Ada sedikit catatan untuk tulisan Al Qurtuby. Kisah Sunan Kudus, yang dirujuk dalam tulisannya, tentang “melarang” muslim makan sapi harus dilihat dalam konteks: apakah Sunan Kudus mengeluarkan fatwa haram bagi muslim untuk memakan sapi atau hanya anjuran menghindari memakan (tentu saja juga menyembelih) sapi secara terang-terangan di hadapan umat Hindu untuk menghargai keyakinan mereka. Jika diasumsikan pendapat pertama yang bakal dipegang maka bisa gugur oleh “kisah tidak minum madu Rasul Muhammad (p.b.u.h)” bisa menjadi rujukan (cf. QS 5: 87-88) sehingga asumsi kedua-lah yang layak dipahami pernah dilakukan oleh Sunan Kudus.

[19] Visualisasi nabi atau rasul menurut mainstream Islam adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan. Visualisasi Yesus (p.b.u.h), yang di dalam Islam diyakini sebagai salah satu Rasul  dari lima Rasul termulia, adalah tetap dianggap tidak pantas untuk dilakukan meski dalam konteks lucu-lucuan semisal lewat karikatur, lawakan, maupun depiksi dalam film.

Penghindaran visualisasi ini sebenarnya mirip dengan pandangan awal Gereja mengenai visualisasi Yesus (p.b.u.h) sebagaimana termaktub di dalam canon no 36 hasil keputusan Konsili Elvira pada tahun 306.

Gambar yang beredar mengenai rupa Yesus (p.b.u.h) hingga kini masih menjadi perdebatan akurasinya di kalangan Katolik dan Kristen sebagaimana diungkap oleh Ronald Goetz (Ronald Goetz. 1984. “Finding the Face of Jesus”. Christian Century, March 21-28, hlm. 299). Goetz, Doktor di bidang teologi dan etika Kristen dari Elmhurst College Illinois, menjabarkan dalam tulisannya itu bagaimana perupaan Yesus berbeda-beda pada setiap jaman karena mengikuti imajinasi dan stilistika seniman yang membuatnya dan juga tidak ada baku rujukan penggambarannya.

Sumber rujukan lain dari visualisasi Yesus (p.b.u.h) adalah Kain Kafan Turin (The Shroud of Turin). Meskipun Kain Kafan Turin oleh umat Katolik diyakini menyimpan wajah asli Yesus (p.b.u.h) namun hingga saat ini masih terjadi perdebatan yang sengit di kalangan akademisi dan teolog biblikal. Perdebatan tersebut meliputi penentuan kesejamanan kain kafan itu dengan masa Yesus (p.b.u.h), otentisitas atau fabrikasi bayangan pada kain, dan jati diri sesungguhnya dari laki-laki yang tervisualisasikan pada kain tersebut [menarik juga untuk diketahui bahwa di dalam narasi Islam, Yesus (p.b.u.h) lolos dari tragedi penyaliban] (cf. Mati Milstein. 17 Desember 2009. “Shroud of Turin not Jesus’, Tomb Discovery Suggests”, National Geographic NewsMark Prigg. 12 Februari 2014. “Scientists claim Turin Shroud is real: Jerusalem earthquake in 33 AD after the crucifixion could have caused radioactive reaction and confused dating techniques”. Daily Mail Science & Tech; Linda Geddes. 2 April 2014. “Shroud of Turin depicts Y-shaped crucifixition”. New Scientist issue no 2963; Joe Nickell. 22 Desember 2011. “Turin ‘Shroud’ called ‘Supernatural'”, Center for Inquiry).

[20] Bagaimana dengan ke-kikuk-an penjabat pada institusi di dalam momen perayaan hari raya agama lain?

Mungkin sudah harus mulai disepakati oleh kita semua untuk toleran, legawa, dan membiasakan diri untuk tidak meminta pejabat untuk menghadiri seremoni keagamaan dan atau pemberian sambutan ketika berbeda keyakinan.

Mungkin bagi penjabat -jikasanya terpaksa tidak bisa mendelegasikan padahal diminta datang dan belum bisa menyatakan secara tegas pandangan haramnya pemberian ucapan selamat natal- ucapan seperti ini bisa menjadi jalan tengah:

“Negara mengucapkan …”

“Kantor … mengucapkan …”

“RW [dan bukan pengurus RW] mengucapkan ….”

atau dengan ucapan

“Bagaimana kabar liburan natalnya?”

Juga justru menjadi aneh ketika sebuah organisasi yang berbasis keislaman malah ikut-ikutan mengucapkan “Selamat Natal”.

Jikalau argumennya adalah karena umat lain juga (pernah dan selalu) mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri” atau “Selamat Hari Raya Idul Adha” dan pengucapan “Selamat Natal” adalah sebagai bentuk membalas kebaikan maka kisah sebab turunnya Surat Al Kafirun (cf. Muhammad Abdul Tuasikal. 2010. “Faedah Tafsir Surat Al Kafirun”) dapat dijadikan rujukan mengenai ‘saling bergantian menyembah setahun-setahun’.

Pahami juga bahwa di dalam agama lain pengucapan selamat hari raya kepada umat yang berbeda agama adalah ‘tidak bermasalah untuk dilakukan’ sehingga apakah tepat kemudian meluntur karena hendak berbalas budi lalu mengikuti kebolehannya?

Pahami juga bahwa di dalam skriptur Islam selebrasi peneguhan keyakinan trinitas sebagaimana tersirat di dalam perayaan natal adalah dianggap tidak pas. Silakan dirujuk kepada ayat di dalam Surat Maryam 88-92.

Dan juga di dalam Islam diajari bahwa meremehkan sebuah ucapan adalah perkara yang berbahaya. Peremehan sebuah ucapan tahniah sebagaimana diargumenkan oleh beberapa penyokong saling berbalas tahniah perayaan hari agama lintas pemeluk agama adalah tidak pas dilakukan jika hendak merujuk pada skriptur Islam. Kalimat yang digaungkan bahwa “itu hanya ucapan saja” justru tertolak. Silakan dirujuk pada QS An Nahl: 116 dan hadist berikut:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” (Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6477 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 2988).

Wallahu’alam.

Creative Commons License
Tidak Mengucap “Selamat Natal”: Being Intolerant and Disrespecting Christians? by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.