Languange and Beingness

Menarik memang ketika berbicara tentang bahasa. Saya tersulut lagi untuk mengupas tentang bahasa oleh suatu hal yang terjadi pagi ini. Pagi ini, ketika saya mencari obat sakit kepala di warung langganan, saya terperangah dengan celetukan seorang tua ber-etnis Jawa.

Ia berkata, kurang lebih, seperti ini: “Jangan ajari anakmu bahasa Indonesia nanti bisa-bisa anakmu tidak bisa menunduk[i]”. Seketika itu pula sebagaimana di dalam kisah-kisah Zen yang banyak menceritakan “pencerahan mendadak”[ii] atau sebagaimana Umar r.a.[iii] memeluk Islam karena sentilan pendek: “bagaimana jika kebenaran ternyata ada bukan di apa yang kamu yakini?”[iv] Ya, saya tersentil dengan kalimat seorang tua ber-etnis Jawa itu!

Bahasa memang membentuk realitas. Realitas tidak mungkin berada di luar bahasa.[v]Yang saya maksudkan realitas adalah bukan material yang terpetakan oleh indera normal kita namun adalah “persepsi kita akan realitas yang bersama kita”. Oleh sebab itulah dapatlah saya katakan bahwa beingness adalah selalu being with others[vi] yet situated by languange. Tidaklah mungkin I menjadi being kecuali tersituasikan oleh others dan bahasa.

Why Learn a Language (credit: uncp.edu)

Why Learn a Language (credit: uncp.edu)

Mengapa bisa demikian dan apa kaitannya dengan celoteh mencerahkan dari seorang tua yang saya temui di warung? Ilustrasi-nya adalah sebagai berikut[vii]: Jika seseorang dunianya dibentuk oleh bahasa Indonesia yang dipuji karena egality-nya maka perspektif I, Me,[viii] dan Others-nya akan datar. Ini niscaya berbeda jika seseorang dididik oleh bahasa Jawa yang memiliki unggah-ungguh.[ix]

Maksudnya? Ingat bahwa ada permainan unik antara self dengan kasunyatan. Masih ingatkah bagaimana saya pernah mengutip Mario Pei mengenai istilah salju yang banyak luar biasa oleh suku eskimo? Dan tahukah bahwa orang Jawa punya istilah aking, sega, beras, gabah dan bukan hanya rice saja? Mereka yang berkompetensi[x] bahasa Jawa akan bisa melihat “dirinya yang bersama dengan sekelilingnya” dengan seperangkat set rujukan yang berbeda. Pada contoh “menunduk kepada yang lebih tua” kompetensi rujukan bahwa Me harus merespon hadirnya others yang lebih tua dengan unggah-ungguh bahasa hanya dan hanya bisa terjadi pada mereka yang dididik bahasa Jawa. Pemaham dan pemakai bahasa Jawa akan melihat orang yang lebih tua dengan cara yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang berbahasa Indonesia: ada rasa penghormatan, takzim, respecting and honouring.

Isu di dalam tulisan ini bisa melebar makin jauh kepada bagaimana seseorang melihat dunia. Potensi perbedaan mengkonstruk kasunyatan oleh setiap orang niscaya muncul ketika disadari bahwa frame of references personal adalah berbeda. Menarik bukan?

Creative Commons License
Languange and Beingness by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.


[i] Menunduk = berperilaku sopan

[iii] Salah satu sahabat Muhammad saw. Khalifah kedua selepas Abu Bakar r.a. di dalam sejarah Islam.

[v] Di dalam ucapan Derrida:

“all those boundaries that form the running border of what used to be called a text, of what we once thought this word could identify, i.e. the supposed end and beginning of a work, the unity of a corpus, the title, the margins, the signatures, the referential realm outside the frame, and so forth. What has happened … is a sort of overrun that spoils all these boundaries and divisions and forces us to extend the accredited concept, the dominant notion of a ‘text’ … that is no longer a finished corpus of writing, some content enclosed in a  book or its margins, but a differential network, a fabric of traces referring endlessly to something other than itself, to other differential traces”. (Derrida, Living On/Borderlines, hlm. 81; 83-84).

“An ‘internal’ reading will always be insufficient. And moreover impossible. Question of context, as everyone knows, there is nothing but context, and therefore: there is no outside-the-text” (Derrida, Biodegradables, hlm. 873).

[vi] Istilah being with others sebenarnya merujuk kepada pemikiran Martin Heidegger. Others tidak merujuk kepada human saja namun semua yang di sekeliling I.

[vii] Tulisan ini bukan provokasi pembenturan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa. Dalam konteks tulisan ini, rujukan prolog adalah kepada konsep Hermeneutics Circle oleh Hans-Georg Gadamer. http://plato.stanford.edu/entries/hermeneutics/

[viii] Untuk terminologi I dan Me silakan baca teori George Herbert Mead.

[ix] dididik oleh dan bukan dididik dengan karena alasan yang akan terjelaskan di paragraf-paragraf  selanjutnya. Bahasa itu mengajari dan mengatur konstruk realitas.

[x] Menarik juga untuk merujuk kepada istilah Chomsky: competence vs. performance. Akan tetapi di dalam konteks tulisan ini, isu-nya menjadi bagaimana konstruksi persepsi realitas (performance) yang didasari seperangkat atribut di luar dirinya namun menjadi rujukan self (competence) berlaku.

Membayangkan Sesuatu yang Hilang

Sebuah Pembicaraan terhadap Lagu “Imagine” dan “Losing My Religion”

Apa yang ada di benak kita saat mendendangkan dua lagu yang sempat menjadi hits dari John Lennon “Imagine” dan lagu dari REM yang berjudul “Losing My Religion”? Beberapa pasti bakal menganggap bahwa kedua lagu tersebut sebagai “berbahaya” namun mungkin pula ada sebagian menganggap kedua lagu tersebut sebagai “baik-baik saja”. Mereka yang mengatakan bahwa lagu “Imagine” berbahaya oleh sebab mereka merujuk pada beberapa kalimat di dalam lagu tersebut yang menyiratkan gerakan anti-agama dan serupa dengan lagu “Imagine”, lagu “Losing My Religion” juga bernada serupa. Lalu darimana sebagian yang lain mengatakan bahwa kedua lagu tersebut disebut sebagai “baik-baik saja”? Alasan mereka untuk menyebut kedua lagu tersebut sebagai “bukan berbahaya” akan tetapi “baik-baik saja” dilandasi oleh pemaknaan terhadap kedua lagu tersebut lewat prosedur pemaknaan semiotika dan bukan literal. Secara umum, sebenarnya apapun hasil pem-baca-an seorang pembaca baik literal maupun semiotik, jika ditelaah lebih lanjut selalu merupakan suatu hasil dari penandaan. Ini merupakan hal yang tidak bisa disangkal sebab bahasa sendiri adalah media yang bersifat simbol. Jadi kedua pendapat sebenarnya bermain dengan bahasa; kedua pendapat sebenarnya bermain semiotika.

Buchbinder sendiri mengatakan bahwa pem-baca-an secara niscaya adalah suatu proses memperlakukan suatu teks dengan cara-cara tertentu sehingga makna diperoleh. Makna yang diperoleh inilah dapat disebut sebagai pesan yang ada di dalam teks.

First, there are the sets of relation and distinctive features common to all utterances in the language; these are opposed in turn to an aspect that may be called poetic. As Roman Jacobson said that the poetic function is emphasize merely on for the message for its own sake (1991: 41).

kemudian ia melanjutkan bahwa:

The reading of poetic texts then must first be seen in a correct relation to the reading of more ordinary texts. Features such as rhyme, rhythm, repetitions of words, phrases or images draw the reader’s attention away from any reference to the context of reality (1991: 42.)

namun  apakah pem-baca-an semiotika meluputkan secara total sebuah karya sastra terhadap dunia sesungguhnya? Jawabannya adalah tidaklah demikian. Dunia sesungguhnya tetaplah cermin utama di dalam pemaknaan sebuah karya sastra. Problem utama dari usaha naif untuk bersikap puritan di dalam mem-baca dus memaknai sebuah karya adalah dengan memperlakukan karya lepas dari induknya, yaitu: dunia, bahasa, pengarang. Semua karya sastra memakai medium bahasa dan ketika ia terlahir ke dunia ia tentulah dibuat: 1) karena ada dunia sebagai cerminnya, dan 2) mengikuti kaidah konstruksi bahasa sebagai landasan eksistensi kebermaknaannya. Hal demikian telah pula disinggung oleh Chandler sebagai berikut: “A text is an assemblage of signs (such as words, images, sounds and/or gestures) constructed (and interpreted) with reference to the conventions associated with a genre and in a particular medium of communication(2007: 5)” dan justru aspek linguistik bahasa-lah yang kemudian menjadi tumpuan atau jangkar (anchorage) bagi pemaknaan sebuah karya sebagaimana dikatakan oleh Barthes bahwa “Linguistic elements can serve to ‘anchor’ (or constrain) the preferred readings of an image: ‘to fix the floating chain of signifieds‘” (dalam Chandler, 2007: 204).

Mengapa tadi dikatakan bahwa dunia, bahasa, pengarang ambil peranan di dalam pem-baca-an suatu karya? Apakah dengan memasukkan pengarang ke dalam sesuatu yang mencelupi pem-baca-an berarti makna yang dihasilkan berarti menjadi sesuatu yang rigid? Atau dengan kata lain, jikalau pengarang mengatakan bahwa karyanya memiliki arti A dengan demikian berarti kita mengatakan bahwa tiada penafsiran lain terhadap karya tersebut yang sah selain A? Tidaklah demikian. Sebab sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa pem-baca-an merupakan suatu keadaan aktif memberikan makna terhadap ruang-ruang kosong yang ada di dalam teks. Ia adalah keadaan aktif mengkonstruk imaji dari apa yang tertulis di dalam teks sebagaimana dikatakan oleh Iser (dalam Selden dkk., 1997: 50). Kondisi ini juga dinyatakan oleh Gadamer (dalam Selden dkk., 1997: 54) sebagai pengisian ruang kosong di dalam teks sebagai bentuk interaksi pembaca dengan maksud pengarang yang berwujud teks.

Apa yang dikatakan oleh Gadamer tidaklah sesederhana itu. Ia menambahkan bahwa interaksi ini berlangsung dalam kondisi kekinian pembaca; bahwa apa yang dilakukan pembaca di dalam membaca (atau mengisi ruang kosong) berlangsung dalam taraf pengetahuan pembaca. Tidaklah mungkin pembaca membuat tafsiran di luar pemahaman bahasa dan pengetahuan yang dimilikinya pada saat proses pemaknaan berlangsung (dalam Abulad, 2007: 17-19 dan Palmer, 2005: 290-292). Sehingga proses pembacaan adalah bisa dikatakan sebagai “pembacaan bersama teks-teks lain” dan “pemaknaan terkotori [atau terbantu?] oleh teks-teks yang dibaca sebelumnya” atau Kristeva menggunakan istilah intertekstualitas teks (dalam Chandler, 2007: 197 dan Junus, 1985: 87-88). Perlu digarisbawahi bahwa “pengetahuan tentang pengarang” oleh pembaca tidak bisa dilepaskan dari penafsiran semiotika meskipun pembacaan semiotika bukanlah pembacaan dalam rangka mencari makna yang dimaksudkan oleh pengarang. Sebab sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pemaknaan adalah bersifat kekinian pembaca (Gadamer Selden dkk., 1997: 54) dan pemaknaan telah ditakdirkan bukanlah pekerjaan untuk menyamakan makna yang kita peroleh dengan makna yang dimaksudkan pengarang (Barthes, 1977). Sebab merujuk kepada apa yang dikatakan oleh Kristeva dan juga Gadamer, pem-baca-an berlangsung bersama teks-teks lain dan pada akhirnya akan menghasilkan produk kondensasi berupa “kompromi” simbol dan makna; atau berupa fusi horizon pembaca dengan pembuat teks.

Ok, dapatlah dimahfumi hal demikian. Namun bersandar kepada apa yang telah kita bicarakan di paragraf awal tulisan ini, keadaannya tidaklah segampang itu. Bagaimana jika pembaca BAHKAN ketika sudah mendapatkan kondensasi simbol dan makna sebenarnya masih dihantui oleh sesuatu yang telah pernah ia sengaja tidak ambil? Bagaimana jika semesta simbol dan makna yang telah ia pilih ternyata masih dibayang-bayangi oleh alusi yang lain? Pemikiran demikian dimuntahkan oleh Derrida (dalam Belsey, 2001: 116) untuk menunjukkan bahwa pemaknaan adalah sebuah permainan yang tak pernah usai dimainkan. Sebenarnya Gadamer sudah menyinggung tentang hal itu. Kedinamisan bahasa dan semesta makna membuat pemaknaan yang tetap musykil terjadi. Pem-baca-an dan tafsir selalu bersifat kekinian sedangkan simbol-makna lain sebenarnya tidak pernah terhapus namun hanya tercoret saja karena “itu” masih tetap di sana; bersama dengan pemaknaan yang telah kita buat dan “itu” bisa saja secara radikal menyeruak menggugat dan lalu menggantikan makna yang sebelumnya telah jadi.

Kembali kepada dua lagu yang kita bahas di dalam tulisan ini, Imagine dan Losing My Religion memberikan “tantangan” bagi pem-baca-an serius. Jika kita baca lirik Imagine maka beberapa baris akan memberi permainan penentuan makna [sementara]. Ketika seorang pembaca berhadapan dengan dua baris pertama lagu ini,

Imagine there’s no heaven, it’s easy if you try
No hell below us, above it’s only sky

ia bisa saja mengatakan bahwa lagu ini tidaklah menggugat agama, lagu ini adalah lagu yang mengkritik bagaimana orang-orang yang beragama menyalahgunakan agama untuk mengklaim langit mendukung mereka padahal sebenarnya nafsu keserakahan ada di dalam hati mereka. Mungkin jika menyinggung ini, seorang pembaca ada kemungkinan akan membayang pikiran pada satu baris dari Counting Crows dalam lagu Big Yellow Taxi: “They paved paradise to put up a parking lot“. Bayangan pembaca bahwa lagu ini bukan tentang memusuhi agama semakin diperkuat mungkin dengan kata pertama imagine dan baris penutup bait pertama dari lagu ini adalah “imagine all the people, living for today“. Pembaca dapat saja mengatakan bahwa kata kuncinya adalah living for today. Jadi dia mendapatkan dua hal dari baris ini: 1) bahwa lagu ini hanya sebuah perumpamaan, dan 2) lagu ini menggugat keadaan terkini, saat orang-orang menggunakan agama sebagai topeng atas keserakahan.

NAMUN pembaca tersebut bisa saja di dalam pem-baca-annya merasa terbayang-bayangi oleh apa yang telah dinyatakan oleh John Lennon, penulis lagu Imagine, bahwa:

“But the song ‘Imagine,’ which says, Imagine that there was no more religion, no more country, no more politics is virtually the communist manifesto, even though I am not particularly a communist and I do not belong to any movement. You see, ‘Imagine’ was exactly the same message, but sugar-coated. Now ‘Imagine’ is a big hit almost everywhere; anti-religious, anti-nationalistic, anti-conventional, anti-capitalistic song, but because it is sugar-coated it is accepted. Now I understand what you have to do” – John Lennon

Bilamana pem-baca-an berlangsung dalam keadaan demikian [mengetahui dunia, bahasa, dan pengarang [dus intensi penciptaan suatu karya]], seorang pembaca pastilah harus mencoret salah satu bagian dari semesta simbol dan makna yang tersedia bagi pem-baca-annya dan berkata bahwa “ini” adalah makna dari teks ini. Momen seorang pembaca MENENTUKAN bahwa lagu tersebut “hanya perumpamaan” dan “sindiran terhadap penyalahgunaan agama” serta “bukan anti agama” dus “ajaran atheis-komunis” selalu terbayang-bayangi oleh kemungkinan penjungkalan radikal oleh makna lain yang tadinya dicoret bahwa “ya, lagu ini sebenarnya adalah lagu provokasi anti-agama”.

Lalu apa kaitan lagu ini dengan lagu dari REM, Losing My Religion? Meskipun lagu dengan lirik seperti ini:

Life is bigger
It’s bigger than you
And you are not me

dan kemudian di bait lain:

Losing my religion
Trying to keep up with you
And I don’t know if I can do it
Oh no I’ve said too much

dikatakan BUKAN tentang seseorang yang “sudah tidak percaya lagi akan iman” atau “hilang kepercayaan terhadap Tuhan” oleh sebab dikatakan bahwa ungkapan “losing my religion” adalah sebuah ungkapan orang Amerika Serikat daerah Selatan yang artinya: “sudah tidak percaya lagi kepada seseorang” dan bahkan band REM juga menyatakan demikian, akan tetapi generasi simbol dan makna yang ditimbulkan lirik dan video klip lagu ini dapat menegasikan pernyataan band REM bahwa lagu ini bukan tentang “hilang kepercayaan terhadap Tuhan”.

Pembaca [atau dalam konteks ini, penikmat musik] lagu Losing My Religion tidaklah bisa untuk menghapus kemungkinan pem-baca-an lain bahwa lagu ini MUNGKIN memang tentang “hilang iman” sebab arti religion memang agama. Saat seorang penikmat lagu [atau pembaca lirik] berada di dalam momen menentukan bahwa lagu ini adalah tentang “cinta bertepuk sebelah tangan atau unrequited love” ia bakal selalu dibayang-bayangi oleh simbol atau makna lain yang ia coret (namun masih kelihatan; bukan dihapus) atau ia hilangkan (meskipun bayangan itu selalu potensial untuk kembali) bahwa “ya, lagu ini sebenarnya adalah tentang hilang iman”. Jadi sampai di manakah kita? Apakah kita lantas menjadi pembaca yang tidak mau menentukan makna ataukah memang kata-simbol-makna adalah hal yang rapuh sebagaimana ungkapan dari Derrida bahwa menentukan sesuatu adalah keterpaksaan oleh keadaan saat itu yang bisa jadi terasa “inadequate yet necessary” sebab kita terus bergerak meskipun dalam bayang-bayang terdekonstruksi oleh, justru, diri kita sendiri.

Ah, pembicaraan ini mengingatkan aku pada suatu kalimat baik permohonan kepada Tuhan agar hati [pikiran] tidak membolak-balik dan takut dalam semesta makna yang selalu membayang dan garang atas pilihan yang pernah kita ambil. Apakah sudah benar pilihanku kemarin ataukah kemarin itu aku telah salah? Aku telah dan sedang mendekonstruksi diri sendiri … Oh no I’ve said too much.

REFERENSI

Abulad, Romualdo E. 2007. ”What is Hermeneutics?” dalam jurnal Kritike Vol 1 No. 2 hlm. 11 – 23. ISSN 1908-7330.

Barthes, Roland. 1977. The Death of The Author terjemahan Richard Howard diakses 11 Oktober 2011, pukul 9:37 WIB dari:

http://evans-experientialism.freewebspace.com/barthes06.htm

Belsey, C. 2001. Critical Practice 2nd ed. London: Routledge.

Buchbinder, David. 1991. Contemporary Literary Theory and the Reading of Poetry. Australia: The Company of Australia PTY. Ltd.

Chandler, Daniel. 2007. Semiotics: The Basic. New York: Rouledge.

Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT. Gramedia.

Palmer, Richard E. 2005. Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi terjemahan oleh Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Selden, Raman; Peter Widdowson; dan Peter Brooker. 1997. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Hertfordshire: Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf.

Ucapan John Lennon diambil dari:

http://beatlesquotes.tumblr.com/post/959741891/but-the-song-imagine-which-says-imagine-that

dan

http://www.encyclopedia.com/video/o79Si_AThh0-john-lennon-imagine.aspx

Bahasan mengenai lagu Imagine  dapat disimak pula di:

http://www.songfacts.com/detail.php?id=1094

Bahasan tentang lagu Losing My Religion dan pernyataan band REM tentang lagu tersebut bisa ditengok di:

http://www.songfacts.com/detail.php?id=1256

atau di:

http://theinspirationroom.com/daily/2006/rem-losing-my-religion/

Creative Commons License
Membayangkan Sesuatu yang Hilang; Sebuah Pembicaraan terhadap Lagu “Imagine” dan “Losing My Religion” by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.
Based on a work at dipanugraha.blog.com.

Sastra dan Pembaca

Mengapa terjadi perbedaan interpretasi terhadap sebuah karya bersamaan dengan perubahan waktu sebagaimana disinggung oleh Hans Robert Jauss lewat studinya akan karya Gustave Flaubert yang berjudul Madame Bovary (Teeuw, 1984: 204-206)? Apakah lantas perbedaan tersebut menjadikan interpretasi sebelumnya salah dan yang terkemudian adalah lebih benar? Benarkah bahwa interpretasi dari pencipta suatu karya lebih benar daripada interpretasi pembaca sebagaimana perbedaan penafsiran sajak Sitor Situmorang Bulan di atas Kuburan oleh Sitor Situmorang (dalam Eneste ed., 1989: 348-349) yang berbeda dengan tafsir yang diberikan oleh Umar Junus (1981: 73)? Atau, bukan siapa yang lebih duluan menginterpretasi atau siapa yang mencipta karya adalah pemilik hak tunggal interpretasi namun apakah seseorang boleh mengklaim bahwa interpretasinya lebih benar sembari menuduh yang lain kurang kompeten sebagaimana dikoarkan oleh Michael Riffaterre ketika mencerca interpretasi Jakobson dan Levi-Strauss terhadap sajak Baudelaire yang berjudul Le Chats (dalam Selden dkk., 1997: 60-61)? Mengapa fenomena ini juga terjadi pada waktu yang sama pada persona yang berbeda seperti pada kasus Five Readers Reading sebagaimana dikemukakan oleh Norman Holland yang menunjukkan perbedaan yang terjadi di antara 5 pembaca undergraduate pada teks yang sama (Culler, 1981: 52 – 53)? Lalu mengapa perbedaan interpretasi tersebut tetap muncul ketika persona yang berbeda menggunakan konvensi prosedur interpretasi yang sama? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang muncul di dalam kajian Sastra dan Pembaca.

Hans Robert Jauss (credit: seemoz.de)

Hans Robert Jauss (credit: seemoz.de)

Wolfgang Iser (dalam Selden dkk., 1997: 50) mengatakan bahwa teks sastra selalu memiliki “daerah-daerah kosong / blanks” dan hanya pembaca sajalah yang dapat mengisinya. Tindak interpretasi selalu memaksa pembaca untuk mengisi daerah-daerah kosong tersebut. Masalah yang dihadapi teori sastra adalah selalu mengenai benarkah teks itu sendiri yang menyulut tindak interpretasi pembaca, ataukah strategi pembacalah di dalam interpretasi yang mendorong kepada solusi-solusi mengenai beberapa hal yang ditampilkan suatu teks. Masih menurutnya (dalam Selden dkk., 1997: 56), teori sastra bukanlah kegiatan yang menjelaskan teks sebagai sebuah objek namun harus difokuskan kepada efek yang ditimbulkannya terhadap pembaca. Ia juga mengajukan istilah implied reader yaitu jenis pembaca yang melebihi batasan-batasan superreader (istilah Riffaterre), informed reader (istilah Stanley Fish), dan intended reader (istilah  Erwin Wolff) (dalam Fish, 1999: 1). Jika superreader adalah pembaca yang memiliki beragam kompetensi di dalam mengurai dan menafsir kaitan kode-kode yang ada di dalam teks sehingga muncul makna suatu karya, jika informed reader adalah pembaca yang mempunyai kompetensi sastra dan bahasa; pengetahuan sosial, historis, dan semantis untuk menafsirkan teks dan juga menyadari posisinya sebagai pembaca teks dan lalu dengan kesadarannya itu ia mulai menggali makna teks, atau dengan kata lain pembacaan adalah proses evolusi makna dan transformasi kesadaran seorang pembaca, jika intended reader adalah pembaca yang mampu merekonstruksi apa yang ada di pikiran pencipta teks sebagai usaha penyingkapan jenis kultur seperti apa yang dituju oleh pencipta teks, Iser menyodorkan istilah implied reader. Implied reader adalah pembaca yang memperoleh makna suatu teks lewat “efek yang ditimbulkan oleh struktur teks”. Pertemuan antara pembaca dan teks sebenarnya berlangsung di dalam aktivitas ideational dan menjadi pengalaman personal sehingga penafsiran mungkin menjadi berbeda-beda pada setiap orang.

Wolfgang Iser (credit: Leonardo Aversa)

Wolfgang Iser (credit: Leonardo Aversa)

Berdasar apa yang dikemukakan oleh Hans-Georg Gadamer di dalam karyanya Truth and Method bahwa memang harus diakui bahwa karya sastra tidaklah muncul ke hadapan pembaca sebagai sebuah bongkok makna yang utuh dan rapi, namun karya sastra muncul sebagai entitas yang, meminjam istilah Iser, memiliki daerah-daerah kosong yang pengisian oleh pembaca tergantung dari pengalaman yang pembaca miliki (dalam Selden dkk., 1997: 53). Gadamer juga melihat berubah-ubahnya interpretasi yang ada karena pembaca hanya bisa mengisi daerah-daerah kosong tersebut dan juga mempertanyakan hal-hal yang berkait dengannya hanya dalam konteks pengetahuan kini yang ia miliki. Sedangkan menurut Gadamer (dalam Selden dkk., 1997: 54) perspektif kini yang dimiliki seorang pembaca selalu mempunyai kaitan erat dengan masa lalu, sedangkan ironisnya, masa lalu hanya dapat ia pahami berdasar keterbatasan perspektif masa kini. Jikalau perspektif kini dapat mencakup segala hal yang berkait dengan masa lalu tanpa tereduksi, maka bentuk-bentuk perbedaan yang muncul di dalam penafsiran bakal mudah teridentifikasi. Oleh karenanyalah, Hans Robert Jauss menyodorkan istilah horizon of expectations. Istilah horizon of expectations sendiri melatarbelakangi pencakupan dimensi historis ke dalam kajian kritik yang berorientasi kepada pembaca. Horizon of expectations adalah kriterai-kriteria yang dipakai para pembaca di dalam menilai karya sastra berdasarkan periode tertentu. Tidaklah bisa dikatakan benar jika ada anggapan bahwa sebuah karya bersifat universal, dan maknanya sudah tetap tak mungkin berubah. Karya sastra selalu terbuka kepada penafsiran-penafsiran baru dengan horizon of expectations yang berubah. Ia mengatakan bahwa: “A literary work is not an object which stands by itself and which offers the same face to each reader in each period. It is not a monument which reveals its timeless essence in monologue” (dalam Selden dkk., 1997: 54) atau dengan istilah lain; nilai dan tafsiran sebuah karya  muncul pada saat karya tersebut hadir di hadapan pembaca dan tentunya dengan gudang kriteria yang berubah. Masih menurut Jauss (dalam Pradopo, 1995: 207-209), karya sastra akan selalu menampilkan wajah yang berbeda kepada masing-masing pembaca pada setiap periode karena sebagaimana telah diulas, perbedaan periode dan atau pembaca bakal memulakan ekspektasi yang berbeda mengenai konsep apa itu sastra dan bagaimana cara membacanya senada sebagaimana disampaikan oleh Roman Ingarden (dalam Meerzon,  hlm. 1) bahwa kualitas dan kuantitas konkretisasi “nilai estetik” sebuah karya sastra lewat pembacaan seorang pembaca selalu menampilkan hasil yang tidak bisa diduga tergantung tingkat intelegensia dan emosional tiap pembaca dan juga pendapat Felix Vodicka (dalam Meerzon, hlm. 1) bahwa konkretisasi nilai estetik karya sastra sendiri niscaya selalu berubah sebab tiap perubahan periode kerap pula memberikan perubahan standar estetitas pula ditambah pula perbedaan keadaan setiap pembaca.

Berdasarkan paparan di atas, jika semua jurusan di dalam pemaknaan setiap pembaca “diakui” valid dan selalu labil,   lalu mengapa diperlukan teori sastra? Memang benar bahwa setiap pembaca mempunyai hak dan potensi untuk memberi makna, namun sebuah  teori pembacaan yang “which would account for the possibilities of interpretation, … which do not permit the work to be given just any meaning” (Culler, 1975: 119) tetaplah diperlukan. Oleh sebab itulah teori sastra tetaplah dibutuhkan agar meskipun penafsiran dan respon secara kodrat bukanlah objek yang dapat dikumpulkan dan dianalisis menjadi simplifikasi yang mudah namun dengan adanya teori sastra seseorang dapat mempelajari pemberian makna pada sebuah karya dengan kejelasan prosedur pemaknaan yang bertanggungjawab atas penafsiran yang dibuat  meskipun tak bisa dipungkiri bahwa hal ini tetap mengandung risiko akan adanya distorsi yang masif dari pemakaian prosedur tersebut (bdk. Culler, 1981: 49). Sebagai penutup, pemunculan argumen bahwa pembaca turut berkontribusi terhadap pemaknaan sebuah teks merupakan sebuah tantangan bagi kaum formalisme yang hanya berorientasi pada teks di dalam mencari makna dan kaum romantik-humanis yang menekankan makna yang digenerasi lewat pengetahuan akan kehidupan dan pikiran pencipta karya.

DAFTAR PUSTAKA

Culler, Jonathan. 1975. Structuralist Poetics, Stucturalism, Linguistics and the Study of Literature. London: Routledge & Kegan Paul.

_____________. 1981. The Pursuit of Signs: Semiotics, Literature, Deconstruction. New York: Cornell University Press.

Eneste, Pamusuk (ed.). 1989. Sitor Situmorang; Bunga di Atas Batu (Si Anak Hilang) – Pilihan Sajak 1948-1988. Jakarta: PT Gramedia.

Fish, Thomas E. 1999. A Critical Summary of  Iser, Wolfgang. “Readers and the Concept of the Implied Reader.” The Act of Reading: A Theory of Aesthetic Response. Johns Hopkins UP, 1978. 27-38. Rpt. in Contexts for Criticism. Ed. Donald Keesey. 3rd ed. Mountain View, CA: Mayfield, 1998. 158-65. Diakses 25 April 2011 pukul 18:30 WIB lewat alamat laman: http://english.ucumberlands.edu/litcritweb/theory/iser.htm

Junus, Umar. 1981. Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Meerzon, Yana. Theatre versus Identity; On The Problem of Aesthetic Perception of The Emigré Theatre Audience. Diakses 26 April 2011 pukul 06:43 WIB lewat alamat laman: http://www.utoronto.ca/tsq/01/theatervsidentity.shtml

Pradopo, Rachmat D. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Selden, Raman; Peter Widdowson; dan Peter Brooker. 1997. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Hertfordshire: Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Creative Commons License
Sastra dan Pembaca by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.