Nerd, Saut, Ahok, dan di Sekitar Makian dan Bukan Makian Itu

Tersebutlah di dalam dunia gaming retro seorang tokoh bernama Nerd. Nerd adalah karakter fiktif yang diciptakan oleh James Duncan Rolfe. Tidak seperti karakter fiktif Ustad Abu Janda al Boliwudi yang diciptakan oleh Permadi Arya yang niat awalnya membuat lelucon mengenai ISIS dan kemudian berterusan membuat pseudo-khotbah dunia maya (Facebook) dengan dalil-dalil yang dicomot serampangan namun populer di kalangan Facebooker karena terlihat logis tak peduli benar tidaknya tafsir ulama sebenar atau bagi sebagian orang Abu Janda al Boliwudi ini bisa membuat tertawa terpingkal-pingkal lewat meme-meme dengan logika jungkir balik, James membuat karakter fiktif Nerd di dalam mengekspresikan pengalaman masa kecilnya pada Nintendo dan traumanya kepada developer game tertentu. Baik Permadi maupun James memulai “proyek” mereka lewat cara yang sama: keisengan. Hanya bedanya, tidak bisa dibedakan lagi karakter fiktif Ustad Abu Janda al Boliwudi dengan Permadi Arya sebagai “pseudo-ustadz” sedangkan karakter gila pengumpat Nerd bisa dibedakan dengan James sang creator-nya yang cool di dalam kanal yang sama.

Lewat Nerd ciptaan James-lah, romansa masa kecil mereka yang lahir dan besar di masa awal kebangkitan lagi industri permainan video bisa dikunjungi lagi. James-lah yang kemudian membuat kanal Cinemassacre di YouTube menjadikan game retro menjadi layak dikunjungi dan dimainkan lagi. Nerd adalah karakter yang mengajak kita yang sudah “tua” untuk mengenang kembali masa-masa Nintendo NES akrab dengan kita. Ia mengajak kita mengunjungi dan memainkan lagi permainan video yang ada di Nintendo NES.

Lewat Nerd-lah kita bisa menyibak dan lebih tahu sejarah permainan video. Kita tahu bahwa berkat Nintendo NES-lah industri permainan video bisa terselamatkan dan bangkit lagi dari luluh lantak. Dari Nerd jugalah kita bisa tahu bahwa beberapa game (permainan) yang hebat menurut gamer Amerika berbeda dengan gamer Asia, khususnya Indonesia.

Perbedaan ini dapat dimaklumi terjadi. Paparan iklan komersial, kompetisi, endorser-endorser baik lewat film maupun majalah game, membuat selera permainan video Amerika —berdasar ulasan-ulasan Nerd dan James— dengan mereka yang berada di Indonesia —berdasar kenangan masa kecil kita— bisa berbeda. Begitu juga misalnya kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Eropa —berdasar review Kim Justice.

Di Amerika, para gamer sangat menyukai empat game “besar dan klasik” yang kurang begitu populer di masa jaya Nintendo NES di Indonesia. Mereka di sana sangat akrab dan lekat dengan “Metroid,” “The Legend of Zelda,” “Castlevania,” dan “Metal Gear.” Keempat game ini kurang populer di Indonesia pada masa jaya Nintendo NES karena beda paparan aktivitas komersial sebagaimana di Amerika. Fenomena ini sebenarnya menguatkan pandangan bahwa selera massa bisa direkayasa. Kesukaan massa pada sesuatu, pada seseorang bisa diciptakan.

James sebagai Nerd di dalam video review terhadap game menampilkan dirinya serupa pelajar atau sarjana yang “berpakaian terlalu formal.” Dari situlah label “nerd” yang artinya bisa dirujuk kepada dua hal: seorang yang tidak pintar bersosialisasi karena  keseringan terlalu akademik atau seseorang yang tak gemar bersosialisasi karena lebih suka dengan belajar dan membaca, bisa menemukan tempatnya.

Dengan pakaian kemeja kantor warna putih dan empat borupeng di kantong kemejanya, ia babat habis game-game jelek dan ia sanjung game-game baik. Cara mengkritik ala Nerd sangatlah keras dan jauh dari kata elegan. Dan dari sinilah kata “angry” sebagai sebutan atas “nerd” (Angry Nerd) memperoleh pijakan. Dan karena itulah, anak-anak tak elok menonton kanal Cinemassacre. Mungkin James memang sengaja selain untuk lucu-lucuan sebagaimana pernah dia ungkapkan, tidak pernah berniat membuat kanalnya ramah buat anak kecil; “adik-adik.” Ia mungkin menyasar mereka yang kini berusia 30-50 tahun. Ya, Nerd memang menyasar romansa gamer di era 80-90-an.

Bahkan bagi mereka yang kini sudah dewasa pun namun tak kuat mendengar sumpah serapah setinggi burj khalifa akan jengah dan hindar dari menonton kanal Cinemassacre. Nerd selalu kasar, melontarkan F-word, M-word, Sh-word, jorok, pedas, tak sopan, temperamental anarkis, dan bangga dengan keranjingan minum bir Rollin Rock. Dan, tentu saja Nerd sebagai karakter yang diciptakan dan diperankan James harus dilihat berbeda dengan James Rolfe, seorang sarjana sastra beranak seorang puteri yang masih kecil.

Ya, Nerd dalam Cinemassacre menjadi sesuatu yang besar. Nerd yang sebelumnya hanya mengulas permainan video dari Nintendo NES saja berkembang menjadi pengulas; kritikus kejam untuk game-game apapun baik segala konsol, handheld, board, PC (bahkan kini merembet hingga ulasan tentang film), dan bahkan kemudian membuat film. Dalam perjalanan karakter Nerd yang sebelumnya bernama Angry Nintendo Nerd, dengan makin luasnya coverage review yang dilakukan maka ia berubah “nama” menjadi Angry Video Game Nerd.

Kanal itu juga kemudian berkembang dengan acara-acara lain yang diperankan oleh James sebagai James, Mike Matei sebagai dirinya, Bootsy, dan juga kadang ada bintang tamu lain yang “main” di kanal legendaris ini. Ada misalnya Pat the NES Punk, ada Alpha Omega Sin, dll. Sekali lagi, kanal ini tetap bukanlah kanal yang secara normatif korektif nyaman untuk ditonton terutama jika sudah menampilkan karakter Nerd. Tapi kanal ini kelihatannya justru menjadi inspirasi bagi kanal lain dan juga diulas oleh kanal lain yang bicara mengenai permainan video baik retro maupun permainan video yang terkini. Tengoklah misalnya ada kanal LJN Defender yang berusaha membantah keseringannya Nerd membantai permainan video karya LJN dan simaklah juga kanal Game Theory menganalisis karakter Nerd. Ini semua tambah gempita dengan munculnya pereview game yang dituduh oleh beberapa orang —tentu dengan beberapa lainnya menyanggah— telah mengimitasi karakter Nerd sebagaimana dilakukan oleh The Irate Gamer.

….

Nerd, sebutlah ia seorang jagoan yang tak takut menyuarakan kebenaran, tak peduli kritik yang dialamatkan kepadanya semisal satu dua poin tak tersepakati pengunjung kanal Cinemassacre. Justru, karena kekonsistenannya untuk tak peduli pada kritik pedas pada dirinya selama ia bisa mengajukan bukti-bukti dan argumen yang jelas tentang suatu hal, baik itu baik atau jelek, telah membuatnya menjadi legenda. Kanalnya di tahun ini sudah bertahan dan berkembang selama kurun waktu sepuluh tahun. Pelanggannya sudah lebih dari dua juta dan kebosanan tak nampak di antara pelanggannya. Selalu ada yang me-view video rilisannya dan juga selalu ada yang berkomentar. Tentu, beberapa tetap tak sepakat dengan “sumpah serapah,” “tampilan kekerasan,” dan “tenggak bir tanpa aturan.” Nerd tetap konsisten dengan karakterisasi itu. Ia tidak berubah selama sepuluh tahun sejak karakter itu muncul lewat kanal Cinemassacre.

Membandingkan Nerd sebagai karakter fiktif yang diciptakan sebagai pereview game yang pemarah dan suka mengekspresikan kemarahannya dengan terang-terangan dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia sangatlah menarik.

Tersebutlah nama Saut Situmorang di dalam sastra Indonesia kontemporer dan Ahok, atau Zhong Wanxue, atau Basuki Tjahaya Purnama, di dalam dunia politik Indonesia. Berbeda dengan Nerd yang menyuarakan kekecewaan pada masa kecil akan game-game tertentu,[1] Saut menyuarakan perlawanan terhadap adanya manipulasi ini dan itu di dalam dunia sastra Indonesia dan Ahok menampilkan kegagahannya di dalam berpolitik.

Saut Situmorang, penyair anak Medan, yang kini berdomisili di Yogyakarta terkenal dengan kritikannya yang pedas dan cadas terhadap segala bentuk manipulasi di dalam sastra Indonesia ini sedang terkena masalah dengan Fatin Hamama, seorang sastrawati Padang yang konon menjadi endorser kehebatan Denny Januar Ali di dalam karier barunya di dalam sastra Indonesia. Suatu ketika saat Saut berdebat dengan Fatin Hamama di media sosial meluncurlah celetukan bajingan. Gara-gara “bajingan” inilah Saut diperkarakan ke meja hijau dengan gugatan “pencemaran nama baik” dan “perbuatan tidak menyenangkan.” Namun pemberkasan gugatan ini, jika info yang saya peroleh benar, sejatinya di dalam komunitas sastra sangat bisa masuk daerah abu-abu. Apalagi misalnya kalau mau eyel-eyelan juga tidak jelas ungkapan itu ditujukan kepada situasi, konten, atau Fatin Hamama-nya.

Merujuk kepada ilmu linguistik dari teori-nya Halliday mengenai register yang secara metafungsi terkelindan dengan field, tenor, dan mode. Pendek kata, bahasa dan ungkapan bahasa berubah menuruti konteks situasinya: apa yang sedang berlangsung, siapa yang terlibat di dalamnya, di dalam peran seperti apakah bahasa (jalur ekspresi dan retorikanya) tersebut dilangsungkan. Dus, di dalam debat sesama sastrawan, jika memang keduanya kita sepakati sebagai sastrawan, yang paham bagaimana bahasa di dalam lingkar mereka berlangsung, maka daerah abu-abu itu malah mendominasi kevalidan gugatan. Atau bagaimana sebenarnya ahli bahasa, ahli budaya folklore, ahli sastra, ahli hukum harus didudukkan untuk menganalisis apakah register pada kasus “bajingan” itu sangat layak diabaikan di dalam gugatan absurd itu atau tidak.

Perlu dicatat bahwa disertasi Mychelle H. Smith yang membahas profanitas dan ungkapan jorok di dalam sastra, kritik, dan pembelajaran sastra bisa menjadi referensi yang menarik tentang ini.[2] Sedang kalau berkaitan apakah sumpah serapah bisa longgar dipakai di dalam karya sastra nonfiksi bisalah mengacu kepada fenomena buku Adam Mansbach yang berjudul Go the Fuck to Sleep yang ode atas “fuck” ditulis dalam fitur Kathryn Schulz.[3] Bahkan beberapa karya sastra memang mengandung sumpah serapah sebagai bagian dari cermin dunia di luarnya sebagaimana pembicaraan dan komentar apresiatif di dalam dunia sastra —bisa dipadankan dengan kasus Saut Situmorang— sangat “normal” terceletukkan dan terceploskan ujaran-ujaran “tak normal” sebagaimana salah satu media massa di Inggris, The Guardian, pernah mengulas di halaman daringnya.[4]

Perkara bajingan ini malah tiba-tiba saya teringat kepada varian darinya. Bajingan menurut KBBI Daring mempunyai fungsi sebagai adjektiva kasar (kata makian) yang memiliki arti: “kurang ajar.” Namun pemberian label kasar atau tidak kasar sendiri juga kadang relatif tergantung register-nya. Di tulisan saya yang lain,[5] kata asu (dengan variannya su, hasuk) di dalam bahasa Jawa memang bisa diartikan yang tidak mungkin terdapati di dalam percakapan formal kecuali sebagai pisuhan (makian; kata kasar).  Meski demikian kerap terdapati di Jogjakarta, Solo, Semarang (Joglosemar) sebagai tabik keakraban sesama teman lama sebagaimana jancuk di Jawa Timur.

Perlu dicatat juga bahwa meskipun kata “bajingan” tidak mungkin terdapati di dalam percakapan formal kecuali sebagai makian, di dalam percakapan vernakular sebagaimana terdapati di beberapa daerah di Jawa, diartikan sebagai ungkapan “kesal yang bukan ofensif” tentu jika dinotasikan dengan nada yang tidak nyaring tinggi marah namun tentu tetap diperhatikan juga register-nya. Yang seperti ini bisa dirujukkan pada guru ngaji saya yang kadang suka mengucap “bajigur” sebagaimana ada teman kuliah saya aktivis dakwah kadang kalau kesal sambil tersenyum ia berkata juga “bajigur.” “Bajigur, bajirut, bajingsenghajingan, hajingseng” sebagai variasi dari “bajingan” tidak bisa serta merta dinilai sebagai makian. Ia tidak bisa keluar dalam percakapan formal karena menjadi asosiatif dengan ketidaksopanan namun di dalam situasi yang informal, tergantung pada register, maka ia menjadi bukan atau katakanlah tidak murni pisuhan.

Mudah ditemui di Clayton, Melbourne, Australia, "bajigur" bisa merujuk pada "minuman penghangat" percakapan. (Credit pics: Bajigur Hanjuang by Chandra Marsono)

Mudah ditemui di Clayton, Melbourne, Australia, “bajigur” bisa merujuk pada “minuman penghangat” percakapan. (Credit pics: Bajigur Hanjuang by Chandra Marsono)

Teringat register-nya Halliday di dalam membahas makian, bisa membawa kita pada peribahasa, “di situ bumi dipijak, di situ langit dijunjung” atau “when in Rome, do as Romans” atau di dalam bahasa Cina “入乡随俗 rù xiāng suí sú” yang artinya kurang lebih “jika memasuki suatu kampung, ikutilah adat-istiadatnya.”[6] Setiap tempat ada aturannya baik di dalam perkara apakah makian itu boleh dinilai sebagai makian ataukah justru dianggap sebagai tabik keakraban ataukah sejak kapankah sebuah ekspresi dianggap sebagai kasar atau tidak. Oleh sebab itulah muncul sebuah buku yang mengumpulkan sejarah makian dari beberapa latar budaya masyarakat yang berbahasa Inggris dalam sebuah risalah ensiklopedia sebagaimana dilakukan oleh Geoffrey Hughes[7] atau Melissa Mohr.[8]

Berbeda memang jika kita bicara makian atau “foul language” di ruas jalan dan angkutan publik di beberapa negara bagian di Australia atau beberapa daerah di Inggris. Semua dianggap sama sebagai makian. Tentu bukan hasuk-hasuk-an karena bahasa resmi mereka adalah bahasa Inggris sehingga hasuk tidak dipahami oleh publik di sana. Cobalah bicara agak keras di ruang publik di sana: “Shit,” Fuck,”“Dammit,” atau “Damned” atau variannya maka siaplah mendapatkan denda lumayan besar. Meskipun juga banyak pro-kontra di dalam pembelakuannya namun aturan itu tetap diterapkan.[9]

Lepas dari itu, terkadang sesuatu yang tidak pas diperkarakan bisa menjadi masalah jika argumennya sebagaimana argumen dari para pemangku kebijakan ini di kota kecil di Inggris, Barnsley, yang bunyinya:[10]

“There is nothing wrong with swearing, I do it everyday, but it is when it is targeted at somebody.”

“It is important to note that some people feel upset and intimidated from hearing swearing.

“Therefore, it has been agreed that those found to be swearing in the town centre will be dealt with appropriately, by either advice or enforcement.”

Sebagaimana apakah misalnya kita bisa menganggap bahwa Ahok, atau Zhong Wanxue atau Basuki Tjahaya Purnama,[11] penjabat Gubernur DKI Jakarta yang lumayan bisa bahasa Mandarin dan lumayan bisa berbahasa Inggris ini, suka melemparkan ejekan atau makian secara tepat kepada mereka yang ia anggap seakan sebagai lawan politiknya atau ujaran-ujaran serupa itu kepada rakyatnya. Kalau serangan ujaran pedas di dalam dunia politik dengan retorika atau dengan cara terang-terangan, kita bisa menengoknya di dalam negara demokrasi lainnya seperti di Inggris.[12] Apakah misalnya bisa di dalam sebuah wawancara [formal] yang ditayangkan di televisi, Ahok sebagai seorang pejabat bisa kita abaikan ujaran “taik”-nya saat diwawancari Aiman Witjaksono sehingga teguran Komisi Penyiaran Indonesia pada sebuah acara di Kompas TV,[13] yang nampaknya memaksa Ahok meminta maaf di hadapan publik akan “bahasa toiletnya,”[14] menjadi berlebihan? Ataukah juga misalnya berlebihankah untuk meributkan jika Ahok menyebut salah satu rakyatnya yang melakukan kesalahan dengan teriakan “maling” di depan umum dan terekam juru liput media massa?[15] Apakah kemudian dengan bangkitnya Ahok di dalam dunia persilatan lidah politik Indonesia dengan “taik,”[16] “otak maling” kepada DPRD Jakarta,[17] “pikun” kepada Amien Rais,[18] “Mbahmu” kepada Yusril,[19] “Ngaco” kepada yang bukan Tuhan,[20] kerjaan BPK sebagai “ngaco,”[21] akan mengubah tradisi politik dan preferensi publik kepada seorang politikus yang menjadi inspirasi kecerdikan beretorika dan keteladanan bertutur di muka publik di Indonesia? Apakah tradisi negeri yang berbahasa Western Malayo-Polynesian seperti Indonesia dengan “shame (malu, sungkan, rendah hati)”-nya[22] akan berubah karena Ahok?

Apakah bentuk ignorance (kecuekan, ketakpedulian, pengabaian) Ahok di dalam laku tutur politik —bukan melulu kesantunan politik (political correctness)— bisa diabaikan, dianggap normal, dibenarkan, dan kelak malah menjadi teladan di dalam berpolitik? Bagaimana misalnya menafsirkan kalimat dari Ahok yang seperti ini:

“Banyak orang mengklaim, ‘Saya tinggal di sini sejak pertama Kali Ciliwung ada kehidupan’. Ini nenek moyangnya tinggal di sini, nih. Saya bilang, nenek moyang kita tidak goblok. Kok kamu menghina banget sama nenek moyang kita,” … “Mana ada nenek moyang bikin rumah di bantaran sungai.”[23]

Bukankah Ahok menggoblok-goblokkan nenek moyang orang lain, rakyatnya, yang memang tinggal di bantaran sungai?

Kita nampaknya penuh dengan kegalauan mengenai bagaimana menemukan figur pemimpin yang patut didaku dan diteladani. Apakah tutur kata menjadi tidak menjadi sebuah tolok ukur mengenai kebagusan kepribadian seseorang ataukah beberapa kata sudah berubah menjadi “ternormalkan” di dalam wicara publik? Apapun bisa terjadi. Entahlah.

Bersama itu, entah mengapa samar-samar lagu tema Nerd, Angry Video Game Nerd, AVGN, pada dendang pembuka acaranya yang berisi kejengkelan dan sumpah serapah berdenging. Berdenging dan memberikan pertanyaan: “Mengapakah Kura-kura Ninja [yang kura-kura dan juga sudah piawai dengan ilmu ninja] justru tidak bisa berenang?”

Bisakah Ahok bisa menepis serangan atas dirinya sebagai bukan asli Betawi dengan gayanya yang tidak butuh retorika santun sebagai bagian dari keeleganan dan konstruk penguat elektabilitas ketika memasuki “kampung” baru sebagaimana Ahok yang kini berhasil relatif kokoh di Jakarta sementara di sisi lain ia berkonflik dengan beberapa “orang Betawi”? Terjustifikasikah politisi yang sudah malang melintang dari daerah ke Jakarta, dari wakil rakyat menjadi pejabat gubernur, melompat dari satu partai satu ke partai lainnya sebagai langkah taktis tindak oportunis politis; bisa nyaman abai pada adat-istiadat “kampung” di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung?  Lewat fenomena beberapa kaum muda di Jakarta yang memuja Ahok setinggi gunung, benarkah lanskap mengenai bagaimana bertutur politik di publik dan imaji pemimpin ideal, bagi warga Ibukota, bagi sebagian anak mudanya, telah berubah?

[modifikasi minor, 19 Mei 2016]

Endnotes

[1] Sekarang berkembang juga ke game pada konsol-konsol terbaru, board game, serta film.

Karakter Nerd memang spektakuler. Dari karakter Nerd, terjadilah semacam normalisasi ujaran “filthy mouth” semacam: “Shit pickle,” “Cowa fucking piece of dog shit!” sebagai ganti “cowabunga”-nya Kura-kura Ninja, “I shit you not” sebagai ganti “I kid you not,” kemudian gabungan dari serapah menjadi satu seperti “What a Shitload of Motherfucking Bullfuck,“”It’s a pile of fucking shit,” dan “Cowa-fucking-piece-of-dog-shit! I’d rather watch crap oozing out of a buffalo’s asshole. I’d rather fucking puke diarrhea up my dick. It fucking sucks so much fucking suck, it fucks. It fucking sucks so much cocksucker motherfucker bullfuck.”

Nerd sendiri menjadi fenomena YouTube yang diulas oleh The Guardian (Luke Langlands, 28 Februari 2014. “Video games and nostalgia: Angry Video Game Nerd’s YouTube Empire”) dan juga menginspirasi rilis game pada Nintendo 3DS sebagaimana diwartakan oleh International Business Times (Nicolo Josef V. Parungo. 6 September 2015. “Angry Video Game Nerd Adventure Comes to Nintendo 3DS”). Selain menginspirasi munculnya beberapa game, Angry Video Game Nerd juga memberi inspirasi pada munculnya Happy Video Game Nerd.

[2] Mychelle H. Smith. 2015. Profanity, Disgust, and Dangerous Literature: A Hermeneutical Analysis of “The Catcher in the Rye” and “The Chocolate War.” Texas A&M University.

[3] Kathryn Schulz. 5 Juni 2011. “Ode to Four-Letter Word.” New York Magazine – New York Book. Diakses dari: http://nymag.com/arts/books/features/adam-mansbach-2011-6/

[4] Guardian readers. 8 Mei 2014. “Swearing in Literature: share examples of bad language in good books.” The Guardian – Books Blog. Diakses dari: http://www.theguardian.com/books/booksblog/2014/may/08/swearing-in-literature-share-examples-of-bad-language-in-good-books

[5] https://dipanugraha.org/2015/01/24/telaah-su-shit/

[6] Shawn Powrie. 11 Mei 2014. “Chinese four character idiom入乡随俗 (Rù xiāng suí sú).” shawnpowrie.com. Diakses dari: http://shawnpowrie.com/chinese/ru-xiang-sui-su/

[7] Geoffrey Hughes. 2015. An Encyclopedia of Swearing: The Social History of Oaths, Profanity, Foul Language, and Ethnic Slurs in the English-speaking World. New York: Routlegde.

[8] Melissa Mohr. 2016. Holy Sh*t: A Brief History of Swearing. Oxford: Oxford University Press.

[9] Karl Quinn. 1 Juni 2011. “The curse of foul-language law.” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/it-pro/the-curse-of-the-foullanguage-law-20110531-1fepo.html

Andy Bloxham. 30 Mei 2011. “£80 fine for swearing in public.”The Telegraph. Diakses dari: http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/law-and-order/8546253/80-fine-for-swearing-in-public.html

[10] Ibid

[11] Singkawang Entertainment. 29 Agustus 2015. “AHOK mendapat liputan di stasiun TV CCTV 4 di CINA.” YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=mriWah9KXHE

[12] Martin Chilton (compiler). 29 April 2016. “The best British political insults.” The Telegraph. Diakses dari: http://www.telegraph.co.uk/books/authors/the-best-british-political-insults-rows-and-putdowns/

[13] Abu Faza. 24 Maret 2015. “Tayangkan Wawancara Ahok yang Jorok, Kompas TV Kena Sanksi.” Suara Islam. Diakses dari: http://www.suara-islam.com/read/index/13635/-Tayangkan-Wawancara-Ahok-yang-Jorok–Kompas-TV-Kena-Sanksi

[14] TyoJB (pengunggah). 20 Maret 2015. “Bicara ‘TAIK’ Saat Wawancara Live Kompas, Basuki TP (Ahok) Minta Maaf,” YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=qsqw2-khX5g

[15] Nafiysul Qodar. 17 Desember 2015. “Alasan Ahok sebut ibu muda ini maling saat ditanya KJP.” Liputan 6. Diakses dari: http://news.liputan6.com/read/2392264/alasan-ahok-sebut-ibu-muda-ini-maling-saat-ditanya-kjp

[16] Jika kita melihat entri “tahi” di dalam KBBI maka terdapat banyak varian dari pemakaian kata “tahi,” sekitar dua puluh variasi.

Misal kita dapati:

“tahi minyak” yang artinya adalah “ampas minyak yang mengambang di atas kuah dan membikin gurih makanan.”

“tahi kuku” yakni “kotoran pada kuku.”

“tahi gigi” yaitu “kotoran yang menyelip di gigi” dan bukan “adanya tahi di gigi.”

“tahi angin” artinya “gerimis kecil.”

Kata “tahi” sendiri berdasar entri resmi di dalam KBBI terdapat satu makna yang artinya “omong kosong” dan ini dimasukkan ke dalam ragam bahasa tidak baku. “Tahi” ini nampaknya sepadan dengan “shit“-nya bahasa Inggris yang artinya adalah “offensive” yang salah satu maknanya memang “non-sense.” Arti entri “tahi” di dalam KBBI kelihatannya hanya memaknai “tahi” hanya dari satu kemungkinan penggunaan kata “tahi” di dalam tindak tutur offensive. Di dalam kamus Cambrigde, dua makna dari banyak makna “shit” di dalam penggunaan yang sifatnya offensive selain “omong kosong atau non-sense” adalah “gelaran [makian] kepada seseorang yang berlaku buruk” dan “perlakuan tidak adil.” Sekali lagi, konteks pemakaiannya adalah sesuatu yang sifatnya offensive.

Mengenai bentuk “taik” adalah varian dari “tahi” dan varian ini dianggap sebagai sesuatu yang jauh lebih kasar dari “tahi,” ada tulisan yang menarik tentang “taik,” yang menurut saya di bagian pembukaan tulisannya terlengkapi dengan endnote ini, yang ditulis oleh Suryadi dan terbit di Batam PosMinggu, 20 Maret 2016 dengan judul “Bahasa Taik.”

[17] Fauzan Wirawan (pengunggah). 16 Maret 2015. “Berita KompasTv – AHOK Soal Ahok Center, DPRD otaknya kalau maling CSR kayak gitu!!!” YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=ctb_BBkVBck

[18] Jessi Carlina. 25 April 2016. “Ahok: Kamu Ingatkan Amien Rais soal Ini, Mungkin Dia Sudah Pikun.” Kompas. Diakses dari: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/25/10354791/Ahok.Kamu.Ingatkan.Amien.Rais.soal.Ini.Mungkin.Dia.Sudah.Pikun

[19] E-Dols (pengunggah). 8 April 2016. “Semprot Yusril, Ahok: Sertifikat Mbah Mu ! Mana Ada Sertifikat Di Laut !”. YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=qQleWvl_pR4

[20] PortalRIM Channel (pengunggah). 18 Maret 2016. “Kalo Tuhan Ngaco gue lawan.” YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=H0sDbltbnQ8

[21] Berita kriminal terbaru (pengunggah). 12 April 2016. “Diperiksa KPK, Ahok Sebut Audit BPK Ngaco.” YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=6S8UapU7HXs

[22] Elizabeth Fuller Collins & Ernaldi Bahar. 2000. “To Know Shame.” Crossroads: An Interdisciplinary Journal of Southeast Asian Studies, 14(1): 35-69.

[23] Alsadad Rudi. 18 Mei 2016. “Ahok: Nenek moyang kita tak goblok, tak mungkin tinggal di bantaran sungai.” Kompas. Diakses dari: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/05/18/14145091/ahok.nenek.moyang.kita.tak.goblok.tak.mungkin.tinggal.di.bantaran.sungai 

Posisi Puisi, Posisi Esai

“Posisi Puisi, Posisi Esai” adalah tulisan Maman S Mahayana yang pernah dimuat dalam Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, pada halaman 20. Maman S. Mahayana selain dikenal sebagai kritikus sastra Indonesia, ia juga memiliki profesi sebagai dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia. Karya-karyanya di antaranya adalah Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia (Gramedia Widiasarana, 1992), Kesusastraan Malaysia Modern (Pustaka Jaya, 1995), Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia (Indonesia Tera, 2001) dan Bermain dengan CerpenApresiasi dan Kritik Cerpen Indonesia (Gramedia Pustaka Utama, 2006). Tulisan yang dikopi-tempelkan di blog ini dengan berpayung pada kondak ‘fair use‘ ini bersumber dari inspirasi.co: Denny JA’s Public Library.

______________________________

Ketika jurnalistik berhadapan dengan tembok kekuasaan, sastra dapat digunakan sebagai saluran”. Begitu pesan Seno Gumira Ajidarma dalam buku antologi esainya, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (1997). Pesan itu juga sebagai bentuk pertanggungjawaban estetik atas sejumlah cerpennya yang berkisah tentang berbagai peristiwa aktual dan faktual. Secara cerdas, Seno menunjukkan posisi sastra yang bisa begitu lentur dalam menyampaikan kritik sosialnya. Maka, peristiwa sosial politik tentang petrus (Penembak Misterius, 1993) dan tragedi di Dili (Saksi Mata, 1994) yang tabu diberitakan sebagai laporan jurnalistik, dikemassajikan dalam bentuk cerpen yang asyik.

Begitulah, ketika kekuasaan melakukan pembungkaman atas kebenaran, sastra dengan caranya sendiri justru leluasa menyampaikannya, meski di sana bahasa denotatif disulap jadi konotatif. Tentu saja Ajidarma tak sendirian. Rendra, Taufiq Ismail, Pramoedya, dan sejumlah sastrawan lain adalah para pewarta yang memilih sastra sebagai medium ekspresi perlawanannya pada kebrengsekan. Fakta-fiksi dalam sastra seperti cuma dibatasi garis tipis. Itulah wilayah permainan sastrawan. Kini Denny JA, ilmuwan sosial dan penulis esai prolifik, menawarkan konsep puisi-esai, sebagaimana diniatkan dalam antologi Atas Nama Cinta (2012): sebuah judul yang sama dengan naskah drama Agus R Sarjono (2004). Di manakah konsepsi puisi-esai itu hendak ditempatkan?

Dalam pengantarnya, Denny menyebutkan kriteria puisi esai: (1) mengeksplor sisi batin, psikologi, dan sisi human interest pelaku; (2) dituangkan dalam larik dan bahasa yang diikhtiarkan puitik dan mudah dipahami; (3) tak hanya memotret pengalaman batin individu, tetapi juga konteks fakta sosialnya. Kehadiran catatan kaki dalam karangan menjadi sentral; dan (4) diupayakan tak hanya menyentuh hati pembaca/pemirsa, tetapi juga dicoba menyajikan data dan fakta sosial. Bagi sastra (yang baik) kriteria itu sudah seharusnya begitu; take for granted, meski data dan fakta menjadi fiksional, otonom, dan hanya berlaku dalam karya itu.

Ada lima peristiwa yang diangkat Denny, yaitu tragedi Mei (”Sapu Tangan Fang Yin”), musibah Ahmadiyah (”Romi dan Yuli”), petaka TKW (”Minah Tetap Dipancung”), perkawinan sejenis (”Cinta Terlarang”), dan kasih tak sampai karena perbedaan agama (”Bunga Kering Perpisahan”). Di sana ada 39 catatan kaki. Mencermati puisi-puisi itu, segera dapat dipahami kriteria yang diajukan Denny. Ada usaha sangat serius mengangkat fakta jadi puisi, meski dua puisi terakhir dalam sastra Indonesia bukanlah tema baru, seperti pernah diangkat Riantiarno (Cermin Merah, 2004) dan Ramadhan KH (Keluarga Permana, 1978).

Apanya yang esai jika puisi-puisi itu tidak berbeda dengan prosa liris Pengakuan Pariyem (1979) Linus Suryadi yang fenomenal? Jika kehadiran catatan kaki menjadi sentral, mengapa cuma 39 catatan kaki dari lima tema besar itu? Bahkan, enam catatan kaki pada ”Bunga Kering Perpisahan” terkesan laksana minyak dengan air; tak menyatu. Boleh jadi lantaran peristiwa Dewi-Albert tidak seheboh tiga peristiwa yang ditempatkan di awal. Jika Atas Nama Cinta termasuk puisi naratif, kita mudah saja menemukannya pada puisi-puisi Ajip Rosidi, Ramadhan KH, Rendra, Taufiq Ismail, atau Ridwan Saidi (Lagu Pesisiran, 2008) yang di sana-sini sengaja pula menyertakan catatan kaki.

Dalam khazanah sastra Sunda, pantun Lutung Kasarung atau Ciung Wanara dan sejumlah besar syair Melayu pada dasarnya adalah puisi naratif. Bahkan, pada 1890 Tan Teng Kie pernah membuat semacam laporan jurnalistik lewat tiga syair panjangnya. Salah satunya, peristiwa pembangunan jalan kereta api dari Cikarang-Kedung Gede, Karawang, berjudul Syair Djalanan Kreta Api (Bataviasche Oosterspoorweg dengan Personellnja bij gelegenheid van opening der lijn Tjikarang-Kedoeng Gede Bezongen oleh Tan Teng Kie). Di sana disertakan juga jadwal keberangkatan kereta api ”Djoeroesan Batawi Kedoeng Gede”. Jika Denny merasa langkahnya merupakan sesuatu yang baru dalam sastra Indonesia, oleh karena itu sangat mungkin menjadi genre atau paradigma baru, maka tawaran itu kesorean: sudah lama terjadi dalam tradisi perpuisian Indonesia. Mari kita coba tengok ke belakang.

Sastra dan seni niscaya selalu berada dalam ketegangan konvensi dan inovasi. Tarik-menarik tradisi dan eksperimentasi sebagai gerakan pembaruan yang menyangkut bentuk dan isi tiada henti timbul-tenggelam menandai perjalanannya. Ingat saja Muhammad Yamin yang menawarkan soneta untuk menolak syair dan pantun. Dengan semangat yang sama, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) dan para penyair Pujangga Baru mengusung konsep Puisi Baru. Meski mereka berhasil meneguhkan isi dan bentuk baru dalam puisinya, jejak pantun dan syair masih sangat kentara. Pertanggungjawaban estetik yang dirumuskan STA dan esai-esai penyair Pujangga Baru gagal dilesapkan dalam puisi-puisi mereka lantaran spirit pantun dan syair tidak mudah begitu saja dibenamkan.

Konsep puisi baru penyair Pujangga Baru justru baru berhasil pada Chairil Anwar, meski ia tak merumuskan konsep estetiknya. Chairil lebih menekankan pada spirit, semangat, seperti disampaikan dalam esainya, ”Hopplaa!” Dikatakan, ”Pujangga Baru sebenarnya tidak membawa apa-apa dalam arti penetapan-penetapan kebudayaan. Sekarang: Hopplaa! Lompatan yang sejauhnya. Sesudah masa mendurhaka pada Kata kita lupa bahwa Kata adalah yang menjalar mengurat, hidup dari masa ke masa, terisi pada dengan penghargaan, Mimpi Pengharapan, Cinta dan Dendam manusia. Kata ialah Kebenaran!!! Bahwa kata tidak membudak pada dua majikan, bahwa Kata ialah These sendiri!!…

Kredo Sutardji Calzoum Bachri pada dasarnya merupakan pertanggungjawaban estetik atas spiritnya mengembalikan kata pada mantra. Dikatakan Ignas Kleden, sebagai ”rencana kerja seorang penyair; sebagai suatu program, desain, dan bahkan tekad”. Langkah para sastrawan yang disebutkan tadi adalah fakta sejarah. Mereka selalu tergoda berada dalam ketegangan konvensi-inovasi. Tentu saja ketergodaan itu tak hadir seketika. Ada proses panjang kegelisahan untuk membangun saluran, estetika, dan paradigma baru. Dalam hal ini, tak berarti para sastrawan itu melalaikan fakta, menutup mata pada semangat zaman, atau abai pada gejolak kehidupan sosial politik. Segalanya justru berangkat dari fakta sosial dan sastra sekadar medium yang dipilihnya.

Tak ada karya sastra yang lahir dari ketiadaan. Mustahil pula sastra tanpa fakta. Sastra tak diturunkan malaikat dari langit, begitu Sapardi Djoko Damono berfatwa. Hakikat sastra yang fiksional tidak serta-merta merupakan kedustaan atau sekadar kebohongan. Ada kebenaran faktual. Lewat kreativitas fakta menjelma fiksi. Maka novel Wagahai wa Neko de Aru—Natsume Soseki(1905, I’m a Cat, 1972), Animal Farm—George Orwell (1945), Tikus Rahmat—Hassan Ibrahim (1963), dan Angin Musim—Mahbub Djunaedi (1986) adalah kisah para binatang yang merepresentasikan kehidupan sosial yang brengsek pada zamannya.

Puisi pamflet atau puisi gelap yang jumpalitan sekalipun berangkat dari fakta. Tetapi, ada fakta yang disembunyikan dalam lorong gelap, ada yang terang benderang, ada pula yang sekadar memberi sinyal untuk memasuki ruang puisi. Puisi-puisi dalam Atas Nama Cinta, hakikatnya puisi terang benderang. Maka, ada atau tidak ada catatan kaki, tak mengubah puisi itu jadi esai, bahkan tidak juga membuat pembaca mengalami kesulitan memahami isinya. Catatan kaki sekadar tambahan informasi dan tidak menjelma menjadi esai tersendiri.

Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi-esai? Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi. Bahkan, tiga alinea terakhir catatan Sutardji menegaskan toleransinya pada siapa pun yang punya niat baik menyemarakkan khazanah perpuisian Indonesia. Dalam konteks itu, sastra Indonesia perlu memberi apresiasi atas sumbangan yang ditawarkan Denny JA.

Mempersoalkan Legitimasi Puisi-Esai

Berasal dari rubrik “Oase” dari Kompas.com yang terbit pada Senin, 14 Januari 2013, tulisan ini disalin-tempelkan pada blog ini dengan mematuhi aturan ‘fair use‘. Penulis artikel ini adalah Leon Agusta, penyair dan penulis fiksi kelahiran Sumatera Barat yang kini tinggal di Jakarta. Leon Agusta, atau Ridwan Ilyas, dikenal dengan karya-karyanya serupa buku kumpulan sajak Catatan Putih (Puisi Indonesia, 1975), novel Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (Selecta Group, 1978), buku kumpulan puisi Hukla: Nyanyian yang Kembali; Puisi-puisi Kamar dan Puisi-puisi Auditorium (Puisi Indonesia, 1979), dan buku kumpulan cerpen Hedona dan Masochi (Karya Unipress, 1984).

______________________________

Tak ada yang baru di bawah langit. Begitu sering kita dengar banyak orang mengatakan. Namun, selalu ada cara pandang yang baru tentang apa atau bagaimana adanya sesuatu di bawah langit. Selalu pula ada cara pendekatan baru terhadap sesuatu yang sudah berlalu—terhadap sesuatu—misalnya karya dari masa silam. Dari segala sesuatu yang ada sebagian elemen sudah dieksplorasi, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak mungkin ada elemen lain yang dapat dieksplorasi.

Setiap generasi baru dalam seni selalu melihat atau menyiasati apa yang sudah dilakukan oleh seniman generasi sebelumnya dengan cara pandang yang berbeda. Perbedaan konteks dan pengalaman akan melahirkan berbagai pertanyaan baru dengan fokus pada elemen-elemen tertentu. Semuanya ini mendorong mereka untuk melahirkan sesuatu yang baru di luar paradigma dan wacana lama. Hasilnya, adakalanya melahirkan paradigma baru yang pada gilirannya akan menghasilkan karya yang baru pula.

Dari eksplorasi semacam ini, lahirlah karya Denny JA, Atas Nama Cinta, yang disebutnya sebagai puisi-esai. Lalu, dari sebutan puisi-esai muncul pertanyaan: bagaimana mendefinisikan esai untuk membedakannya dengan puisi? Apakah perbedaannya terletak pada isi, bentuk, persepsi, atau perspektif? Kemudian muncul sebuah pertanyaan lagi: apakah puisi dapat berfungsi sebagai pemicu pemikiran rasional untuk menggerakkan lahirnya sebuah puisi-esai?

Jurnalisme dan statistik serta analisis mampu menghadirkan fakta atau kenyataan dari suatu situasi dan kondisi suatu kehidupan masyarakat di suatu waktu dan tempat tertentu. Hal ini tecermin pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai esai. Adapun estetika memiliki potensi untuk mengungkapkan sensitivitas kemanusiaan, kedalaman perasaan, intuisi, dan imajinasi sehingga menghadirkan kesan mendalam terhadap pembaca bagaimana wajah nasib dan penderitaan manusia ke dalam rasionalitas melalui empati pada bentuk tulisan yang didefinisikan sebagai puisi. Jadi, apakah mungkin puisi-esai dapat mengantarkan pembaca pada penghayatan dengan warna perasaan yang kaya nuansa?

Dalam konteks di atas, puisi esai Denny JA berakar pada realitas masyarakat berupa kejadian dan peristiwa dalam berbagai kategori analisis dengan fokus tunggal pada problematik diskriminasi di Indonesia. Sejak awal, bentuk, konteks, dan isi karya Denny JA adalah esai dalam format puisi.

Bukan baru 

Sebenarnya, dalam sejarah sastra Indonesia, upaya mempertemukan atau menggabungkan bentuk-bentuk tulisan yang berbeda dalam satu karya bukan sesuatu yang baru. Dalam hal ini mungkin sebaiknya ada sedikit perbandingan dengan karya Rendra. ”Si Burung Merak” ini menulis puisinya, seperti diakuinya sendiri, dalam bahasa pamflet. Ini dilakukannya untuk merespons kenyataan sosial politik pada waktu itu. Ungkapan-ungkapannya lugas, sama sekali tidak rumit. Begitu mendengar, maksudnya langsung bisa ditangkap. Pesan politiknya tampak lebih diutamakan ketimbang estetika puisi.

Denny menggali sumber kekuatan estetik jauh lebih dalam pada buku puisi-esainya Atas Nama Cinta yang merupakan gugatan terhadap isu sosial dalam bingkai diskriminasi. Dalam konteks ini, kekuatan estetika dalam narasi akan merupakan jembatan emas untuk menyampaikan pengalaman emosional, sedangkan catatan kaki memperkuatnya dengan pengalaman intelektual. Dengan demikian, ditemukan satu titik temu untuk mencapai keseimbangan antara penghayatan dan pengertian.

Dalam hal ini, pendekatan puisi-esai Denny, yang merupakan upaya menyatukan pengalaman emosional dan rasional dalam sebuah karya, mungkin bisa dikatakan lebih dekat dengan teknik penyair Toeti Heraty dalam Calon Arang (Yayasan Obor Indonesia Tahun 2000).

Seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam pengantar buku ini, yang disebut karya ”prosa lirik” oleh penulisnya sendiri, tak pelak lagi, ini adalah karya seorang pejuang feminisme. Di awal pengantarnya Seno menulis, ”…setidaknya terdapat dua jalan menuju buku ini. Jalan pertama adalah tradisi Calon Arang. Jalan kedua, tentu kedudukan perempuan dalam puisipuisi Toeti Heraty.”

Jadi, prosa lirik Calon Arang karya Toeti Heraty dapat dimasuki melalui pintu dunia kepenyairan Toeti Heraty sendiri yang sikap dan pandangannya sudah diungkapkan, misalnya pada kumpulan puisi Sajak-Sajak 33 and Mimpi dan Pretensi.

Dalam buku Calon Arang, Toeti Heraty tidak memakai catatan kaki dalam memunculkan unsur rasional untuk mengimbangi narasi emosional. Dia lebih memilih mengarahkan kesadaran pembaca melalui anak judul ”Kisah Perempuan Korban Patriarki” dan mendedikasikan karyanya kepada ”setiap perempuan yang meredam kemarahan”. Dengan demikian Toeti Heraty menerapkan bingkai yang kuat dan ketat untuk menjaga agar fokus pembacaan sesuai dengan teks.

Dalam buku Atas Nama Cinta, Denny JA juga memberi petunjuk mengenai isi intelektualnya dengan anak judul ”Sebuah Puisi Esai: Isu Diskriminasi dalam Untaian Kisah Cinta yang Menggetarkan Hati”. Dengan demikian, isu sentral yang diajukan melalui lima kisah cinta pada buku ini disampaikan sekaligus dengan kriteria puisi esai.

Pemahaman tentang pendekatan dan alasan seorang penyair menulis puisi pamflet, puisi esai, prosa lirik, atau apa pun namanya, memang diperlukan. Pemahaman tentang keanekaragaman alasan para penyair dalam menulis puisi dapat membantu kita dalam upaya memahami keberagaman karya yang dihasilkan para penyair dari masa ke masa. Dengan ini, jika ada perbincangan, kita akan berada dalam jalur yang mengasyikkan. Konteks zamannya terjaga. Begitu pula dengan otentisitas masing-masing penyair.

Jika terjadi pencampuradukan dalam membandingkan, misalnya karena mengabaikan konteks zamannya atau otentisitas seorang penyair tak diindahkan, perbincangan takkan mengasyikkan lagi.

Penamaan puisi-esai, menurut Denny JA, adalah karena kebutuhan ekspresi kisah-kisahnya. Wujudnya adalah puisi dengan cita rasa esai, esai tentang isu sosial yang diungkapkan secara puitis.

Cita rasa

Untuk lebih mengesankan cita rasa esai, Denny JA juga secara sadar membutuhkan pencantuman catatan kaki, di antaranya ada yang sangat mengejutkan. Misalnya, catatan kaki (4) halaman 164 mengenai ”Tafsir Baru atas Nikah Beda Agama” tentang pernikahan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat dengan perempuan yang bukan p[e]nganut agama Islam (http//icrp-online.org/o82008/post-17.htmi). Ada banyak informasi ataupun pengetahuan berharga dari catatan kaki yang dapat mengantarkan pembaca pada pemahaman lebih mendalam tentang puisi esai. Catatan kaki ini berperan bagaikan paru-paru bagi kisah-kisah yang disajikan sehingga puisi esai hidup dan bernapas bukan hanya sebatas lingkungan masyarakat sastra, melainkan menerobos ke tengah masyarakat luas.

Semua topik yang disajikan Atas Nama Cinta jelas sekali lebih merupakan bahan baku untuk penulisan esai, yakni isu-isu sosial yang relevan dan aktual. Denny JA ingin menyajikannya dalam format sebuah esai yang lazim untuk mengisi otak. Dia juga memiliki dorongan kuat untuk memanfaatkan estetika bahasa yang mampu membuat pembacanya masuk ke dunia nyata melalui penghayatan seni.

Dengan demikian, Denny JA mempunyai pengalaman dan pandangan yang khas terhadap kehidupan sosial, terutama sastra. Mungkin ia merasa terhina jika dikatakan menjadi sekadar peniru atau seorang murid penurut terhadap fatwa-fatwa para guru. Penulis yakin, Denny JA sama sekali tidak merasa terlalu penting untuk dibandingkan kehadirannya dengan para penyair terdahulu.

Dengan puisi esai yang disajikannya, Denny JA sudah membuka jendela baru bagi masyarakat sastra Indonesia untuk melihat kenyataan sejarah peradaban dengan cara yang baru pula, kemudian mengungkapkannya dengan pendekatan yang juga baru. Masalah kemanusiaan dan ketidakadilan membelenggu masyarakat kita di mana-mana. Kreativitas seni berupaya membebaskan belenggu itu dengan memberikan pencerahan kesadaran terhadap kompleksitas kondisi zamannya. Di sinilah peranan puisi esai yang dilahirkan Denny JA.

Dalam konteks ini, tampaknya Maman S Mahayana (MSM) tidak terkesan dengan kehadiran puisi esai Atas Nama Cinta.

Kritik MSM dalam artikel ”Posisi Puisi, Posisi Esai” (Kompas, Minggu, 30 Desember 2012, halaman 20) ada satu pertanyaan menarik seputar perbincangan puisi esai Denny JA: ”Lalu bagaimana dengan catatan Ignas Kleden, Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri dalam antologi itu? Apakah itu sebagai stempel legitimasi tentang konsep puisi esai?”

Pertanyaan ini langsung dijawabnya sendiri berupa kesimpulan dengan nada yang terkesan merendahkan: ”Catatan mereka adalah bentuk apresiasi yang tentu saja berbeda dengan legitimasi”.

Penulis jadi bertanya-tanya: apakah kehadiran puisi esai harus dilegitimasi? Apakah puisi esai mengganggu dunia kelangenan para penyair yang secara kultural harus memelihara tatanan, hierarki, ketertiban, dan kepatuhan?

Sekarang pertanyaan yang perlu ditambahkan adalah: legitimasi dari siapa? Siapa sesungguhnya yang berhak memberikan ”stempel legitimasi” terhadap konsep puisi esai atau konsep puisi penyair mana pun? Dari mana seseorang mendapatkan hak sedemikian? Apakah Denny JA memerlukan legitimasi seperti yang dipahamkan MSM? Sejauh pengenalan saya tentang cara berpikir dan sepak terjang Denny JA dalam dunia perpuisian yang dibangunnya, cara berpikir, pertanyaan, dan kesimpulan MSM sepertinya sudah jauh ketinggalan zaman.

Pertanyaan dan kesimpulan MSM itu membuat penulis terkenang pada satu komentar penyair yang menetap di Padang, Rusli Marzuki Saria (75), dalam satu perbincangan santai di sela-sela Pertemuan Sastrawan Indonesia 2012 di Makassar, akhir November lalu. Ia mensinyalir adanya ”budaya feodalisme yang menguasai dunia sastra kita”.

Legitimasi Sastra: Perspektif Bourdieuian (Fenomena Terbitnya Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”)

Tulisan yang pernah dimuat di kolom “Pujangga” pada harian pagi Jambi Ekspres, 12 Januari 2014 ini adalah karya Ricky A. Manik. Tulisan yang disalin-tempel di blog ini bersumber dari rilisan tanggal 13 Januari 2014 dari situs Forum Komunikasi Penulis Jambi, pelanta.org dengan mengikuti kaidah ‘fair use‘. Selain tercatat sebagai peneliti di Creole Institute, Research and Cultural Relationship (cf. situs pelanta.org), Ricky A. Manik  juga tercatat sebagai seorang penulis cerpen dengan karya semisal Negeri Rampok.

_______________________________

Di mana tempat terjadinya pergulatan sastra? Koran, majalah, media massa lainnya, atau penerbitan (karya yang ditebitkan seperti buku)? Apakah seseorang yang karyanya terbit di media massa sudah dilegitimasi sebagai sastrawan? Atau seseorang yang karyanya telah diterbitkan menjadi buku juga disebut sebagai penyair, sastrawan, kritikus sastra, atau dramawan? Apa standar dan kriteria tertentu yang dapat melegitimasi identitas seseorang (sastrawan)? Jika identitas itu memiliki standar dan kriteria tertentu, Lacan seorang filsuf psikoanalisis Perancis tentu akan menjawabnya “Is never enough!” Standar dan kriteria itu tidak akan pernah muat untuk melegitimasi identitas itu. Ia akan selalu tergelincir (slip) dan meninggalkan celah/lobang di dalam identitas tersebut. Akan tetapi, dalam esai ini saya tidak melihatnya dari perspektif Lacanian karena saya sedang tidak ingin menemukan motivasi pengarang untuk memilik identitas dirinya sebagai sastrawan. Dalam hal ini saya akan melihatnya melalui perspektif sosiologis Pierre Bourdieu saja karena dalam perspektif ini legitimasi sastra lebih mempersoalkan pada ranah pertarungan untuk mendapatkan legitimasi dominannya di tengah masyarakat.
Beberapa hari belakangan sampai hari ini pun dunia sastra kita masih dihebohkan dengan penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terutama di media-media sosial. Pemilihan 33 tokoh ini dilegitimasi oleh tim yang terdiri dari kritikus, sastrawan, akademisi, dan pengamat sastra ini seolah memiliki kegelisahan bersama tentang peran sastra yang terabaikan dalam membangun peradaban bangsa. Dengan melegitimasi 33 tokoh ini, mereka (baca: Tim 8) mengira telah melakukan langkah awal penyelamatan dunia (ranah) sastra dari kelupaan/kealpaan dalam memberi pengaruhnya terhadap kebudayaan bangsa Indonesia.
Dari hasil pemilihan tokoh sastra oleh Tim 8 ini yang kemudian menjadi kontroversi dan polemik adalah kemunculan nama Denny JA yang dianggap sebagai tokoh sastra yang berpengaruh di Indonesia. Nama Denny JA dianggap layak bersanding dengan tokoh-tokoh sekelas Pramoedya, Hamka, Sapardi Djoko Damono, Putu Wijaya, Rendra, Iwan Simatupang, dan lain sebagainya karena (dianggap) memperkenalkan genre baru puisi-esai. Melalui genre sastra puisi-esai ini, ia menerima rekor MURI karena pertama membawa sastra ke era sosial media. Tapi dalam hal ini saya tidak akan membahas alasan-alasan apa yan membuat Tim 8 ini memilih sosok Denny JA yang lebih dikenal sebagai seorang enterpreneurship dan konsultan politik dengan mendirikan beberapa lembaga seperti LSI (Lingkaran Survey Indonesia). Saya juga tak menguji kebenaran-kebenaran alasan yang diusung oleh Tim 8 ini sebab apapun alasan, kriteria, dan standard pemilihan itu akan ada kebolongan dan kekurangannya. Saya hanya ingin mencoba melihat persoalan ini hanya dari perspektif Bourdieuian, yakni mencoba melihat bagaimana agen sosial ini bertaruh dalam ranah  memperebutkan eksistensi dirinya dengan berbagai modal yang dimilikinya terutama sosok Denny JA yang kemunculan namanya menjadi perbincangan hangat saat ini.
Sebelum melihat persoalan buku 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh ini, mari kita berkenalan dulu dengan perspektif Bourdieuian. Pierre Bourdieu adalah seorang pemikir Perancis yang mencoba memahami struktur sosial masyarakat baik perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalamnya. Dalam analisis sosiologisnya, Bourdieu membagi beberapa konsep di dalamnya, salah satunya apa yang di awal esai ini disebutkan, yaitu tentang pergulatan, yang disebutnya sebagai arena (field). Bourdieu menyebut arena sebagai suatu jaringan atau konfigurasi dari relasi-relasi objektif antara posisi yang secara objektif didefenisikan, dalam eksistensi mereka dan determinasi yang mereka terapkan pada penganut, manusia atau institusi mereka… dalam struktur distribusi kekuasaan (modal) yang penguasaannya mengarahkan akses kepada keuntungan spesifik yang dipertaruhkan di arena, maupun oleh relasi objektif mereka dengan posisi lain.
Bagi Bourdieu, arena sastra adalah ruang pergulatan agen-agen dengan masing-masing posisi yang menempati arena tersebut. Agen-agen seperti seniman, kritikus, wartawan, dosen, mahasiswa, penerbit, editor yang terlibat di dalam arena tersebut memiliki posisi dan fungsi yang berbeda. Hasil produksi dari agen-agen sastra ini adalah ajang kontestasi untuk mendapatkan apa yang disebut oleh Bourdieu sebagai legitimasi sastra. Untuk mendapatkan legitimasi di dalam arena sastra tersebut, agen-agen menerapkan strategi-strategi tertentu demi meraih posisi dan modal-modal yang dibutuhkan.
Konsep arena adalah persaingan perebutan posisi-posisi tertentu sehingga struktur sosial adalah sesuatu yang dinamis yang mana seorang agen bisa berpindah dari satu posisi ke posisi yang lain. Strategi-strategi ini dapat kita lihat pada sosok Denny JA. Diakuinya sendiri bahwa dirinya adalah seorang “pejalan budaya” seperti yang terdapat di dalam tulisannya yang berjudul Menjadi Tokoh Sastra Berpengaruh.
“Saya lebih menganggap diri saya sebagai seorang “pejalan budaya.” Tak pernah menetap dan menjadi tuan rumah di satu wilayah budaya. Saya hanya datang berkunjung, belajar sesuatu di sana dan juga menyumbangkan sesuatu. Kini yang saya kunjungi adalah wilayah sastra. Saya belajar banyak dari sastra dan berikhtiar meninggalkan sesuatu juga di dunia sastra itu. Di era ini yang saya sumbangkan adalah puisi esai… Pada waktunya mungkin saya pergi lagi dari wilayah sastra, masuk ke wilayah lain. Mungkin saya akan berkelana ke wilayah dunia bisnis, dunia politik praktis ataupun dunia spiritual. Dan terus saya berjalan sampai ke liang kubur.” ([Denny JA, 5 Januari 2014, “Menjadi Tokoh Sastra Berpengaruh”] http://infosastra.com/2014/01/05/menjadi-tokoh-sastra-berpengaruh/)
Perjuangan perpindahan posisi seperti yang dilakukan oleh Denny JA pada gilirannya membutuhkan serangkaian tindakan atau praktik yang didasarkan pada, dan dipengaruhi oleh, apa yang dimiliki Denny termasuk sejarah hidupnya, yang karenanya Denny merancang strategi-strategi tertentu. Penulisan puisi esai yang dianggap oleh Tim 8 sebagai genre baru di dalam sastra merupakan strategi Denny dalam kontestasi dirinya untuk meraih sesuatu yang diperebutkan dalam arena tersebut. Selain penulisan puisi esai, Denny juga memperkenalkan gaya penulisan puisi esainya ini dengan mengadakan sayembara penulisan puisi esai dengan hadiah yang cukup besar. Jadi, dengan modal-modal yang dimiliki oleh Denny, maka ia dapat mendistribusikan dirinya untuk mendapatkan legitimasi identitas dirinya dalam arena tertentu. Sebab arena itu bersifat cair (bisa berubah dan diubah), bukan sesuatu yang tetap dan konstan, maka strategi Denny memunculkan dan memperkenalkan bentuk puisi esai dianggap membawa suatu pengaruh atau barangkali perubahan (?) dalam ranah kesusastraan Indonesia. Barangkali inilah yang dilihat oleh Tim 8 terhadap sosok Denny JA.
Jika penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh adalah atas pembiayaan Denny dan yang rencananya akan diluncurkan disaat ulang tahunnya, maka buku ini juga menjadi bagian dari strategi Denny untuk menempati posisi-posisi agen (sastrawan) yang dominan di dalam arena sastra tersebut. Inilah yang disebut oleh Bourdieu sebagai trajektori agen dalam ruang sosial dan arena yang tidak dapat terlepas dari strategi sebagai cara memposisikan diri sekaligus mendistribusikan modal-modal yang ia miliki. Kita tahu bahwa Denny adalah konsultan politik dan memiliki modal-modal ekonomi yang cukup kuat, jadi bukan perkara yang sulit bagi dirinya untuk mencoba mendapatkan posisi-posisi tertentu atau legitimasi tertentu.
Kemunculan nama Denny JA dalam buku tersebut dan kehebohan jagad sastra Indonesia atasnya malah memenangkan strategi Denny untuk mendapatkan legitimasi sastra atas dirinya. Menurut Bourdieu bahwa pertaruhan utama di dalam arena sastra adalah memonopoli legitimasi, yakni dengan memonopoli kekuasaan untuk mengatakan berdasarkan otoritas siapa yang berhak menyebut dirinya sebagai tokoh sastra. Status atau legitimasi kesastrawanan seorang agen yang bertaruh dalam arena tersebut menjadi hal yang krusial karena melalui defenisi itulah seorang agen mendapatkan konsekrasi atau derajat pengakuan yang memberinya peluang untuk meraih posisi tertentu di arena sastra tersebut. Dalam bahasa Bourdieu hal itu disebut sebagai tiket masuk yang sifatnya kurang lebih absolut.
Jadi, apa yang dilakukan oleh Denny JA untuk mendapatkan legitimasi tokoh sastra merupakan satu dari berbagai pertanyaan di awal esai ini dan dari beberapa agen-agen sastra yang terus bertaruh guna memenangkan tempat bagi dirinya dalam sebuah arena sastra.

Denny JA dan Potensi Keterjungkirbalikkan Sejarah

Ditulis oleh T Agus Khaidir, tulisan ini pernah dimuat di Harian Analisa, hlm. 7, tanggal 16 Februari 2014. T Agus Khaidir adalah wartawan Harian Tribun Medan dan seorang cepenis yang karya-karyanya telah terbit di beberapa media massa lokal maupun nasional seperti dua di antaranya adalah “Ziarah Lebaran” (Media Indonesia, 27 Juli 2014) dan “Mawar Hitam dan Pendendang Buta” (Harian Waspada, 21 September 2014). Terbit ulang dengan sedikit adaptasi ini telah mendapat ijin darinya. Versi tulisan ini adalah versi yang disalin-tempel dari blog milik T Agus Khaidir, Sekeranjang Tulisan Sekeranjang Ide.

_________________________________

Pascahantaman “tsunami” caci maki, anggota Tim 8 “tiarap”. Tim ini, terdiri dari Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Gaus, Bertold Damhuser, Jamal D Rahman, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, dan Lilis Nenden Aisyah, sebelumnya telah memancing kehebohan.

kredit T Agus Khaidir

via T Agus Khaidir

BERDASARKAN enam kriteria, yaitu: (1) seberapa penting karya dan/atau pemikirannya; (2) karya dan/atau pemikirannya memberikan inspirasi bagi sastrawan berikutnya; (3) karya dan/atau pemikirannya berdampak luas, berskala nasional, sehingga melahirkan semacam gerakan, baik yang berkaitan dengan sastra maupun dengan kehidupan sosial budaya yang lebih luas; (4) karya dan/atau pemikirannya membuka jalan bagi munculnya tema, gaya, pengucapan baru yang jejaknya dapat dikembalikan pada tokoh tersebut; (5) karya dan/atau pemikirannya menjadi semacam monumen; dan (6) karya dan/atau pemikirannya menjadi semacam pemicu lahirnya pemikiran tentang kebudayaan, kemasyarakatan, bahkan kebangsaan; mereka memilih 33 nama dan menyebutnya sebagai “Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia”.

Kehebohan mencuat, karena di antara ke-33 nama ini, mencuat empat nama yang jadi perdebatan. Mereka adalah Denny JA, Wowok Hesti Prabowo, Ayu Utami, dan Helvy Tiana Rosa. Namun dibanding silang pendapat terkait tiga nama terakhir (di mana banyak yang menggugat tapi tidak sedikit yang membela), riuh-rendah perihal keberadaan Denny JA dalam daftar itu jauh lebih dahsyat. Boleh dikata, “pembela” Denny hanya Tim 8. Itu pun cuma Ahmad Gaus -dan belakangan Jamal D Rahman.

Pembelaan Gaus cukup militan dan mengharukan. Tak cukup berperang kata di Twitter dan Facebook, Gaus menuliskan puncak pembelaannya lewat satu tulisan panjang. Tapi alih-alih meredam suara sumbang, tulisan berjudul “Seputar Heboh Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh: Siapa Yang Mendanai Program Ini?” yang dimuat di blog pribadinya http://ahmadgaus.wordpress.com, justru membuat ia dan Denny JA kian tersudut.

Tulisan ini dimulai dengan kalimat yang seolah-olah mengesankan kebenaran. “Tentang pertanyaan mengapa nama Denny JA masuk ke dalam daftar itu, jawaban saya adalah, justru aneh kalau nama dia tidak masuk. Sebab, dialah yang paling fenomenal dengan puisi esainya sekarang ini. Denny JA adalah wakil kontemporer dari dinamika sastra dalam 3 tahun terakhir.”

Puisi yang ditulis Denny JA, disebutnya puisi esai, dipuji Gaus sebagai terobosan baru dalam sastra Indonesia. Genre baru puisi yang lahir atas dasar pemikiran bahwa puisi-puisi Indonesia mutakhir makin sukar dipahami dan membuatnya jadi berjarak dengan masyarakat. Maka dibuatlah puisi-puisi renyah dengan catatan kaki yang mengular.

Lalu esainya di mana? Apakah karena adanya catatan kaki itu? Jika ditilik lebih jauh, keberadaan catatan-catatan kaki ini sesungguhnya tidak banyak berguna. Hanya genit-genitan mengesankan kesokpintaran, sebab sekiranya pun dihapus, tak akan membawa dampak apa-apa pada pembacaan puisi-puisi itu.

Paling menggelikan adalah ocehannya perihal popularitas. Gaus membandingkan hit blog puisi esai (http://www.puisi-esai.com) dengan viewer “Matahariku”, lagu Agnes Monica yang tayang di laman http://www.youtube.com. Dan menurut Gaus, hit (dalam hal blog disebut “trafik”) terhadap puisi Denny, lebih besar dari lagu Agnes. Trafik pada blog Denny menyentuh angka 7 juta hanya dalam kurun waktu setahun (tepatnya 7.502.981 pada tahun 2012), sedangkan angka 7.030.607 juta view untuk video lagu Agnes, baru tercapai setelah dipampangkan di laman tersebut selama 5 tahun (video ini diposting sejak 15 Mei 2008).

Data ini mutlak. Tapi saya pikir sama sekali tak membuat argumentasi Gaus jadi meyakinkan. Kenapa? Perkara memperbandingkan hit hemat saya sangatlah nisbiah. Parameter pembandingannya rancu. Puisi dan lagu. Aih, kenapa Gaus tidak membandingkannya dengan video gol Zlatan Ibrahimovich sekalian? Hingga pekan pertama Februari 2014, video gol Ibra ke gawang Tim Nasional Inggris pada laga persahabatan internasional yang terpilih sebagai FIFA Puskas Award 2013 sebagai goal of the year  ini “baru” menghasilkan 2,148,992 viewer.

Pertanyaan penting lain, mengapa orang membuka blog Denny dan apa alasan menonton Agnes di Youtube? Saya akan jawab pertanyaan mengenai Agnes lebih dahulu. Setidaknya ada dua sebab: (1) menyukai Agnes, dan (2) membenci Agnes. Namun yang menyukai maupun membenci, sama sama bermaksud mencermati lagu tersebut. Penyuka untuk menikmati, sedangkan pembenci mencari kelemahan lagu, lalu mencacinya.

Mengapa blog Denny JA dibuka? Banyak kemungkinan yang saya duga tak semuanya benar-benar bertujuan untuk mencermati puisi puisi itu. Barangkali untuk melihat syarat lomba (beberapa waktu lalu Denny menyelenggarakan lomba menulis puisi esai berhadiah cukup besar). Atau memang semata demi meningkatkan hit dan trafik. Metode yang juga dipakai dalam mendapatkan angka tinggi yang menunjukkan popularitas dalam survei. Siapa tahu?

Ada sejumlah kejanggalan data pula dari blog ini. Secara teoretis teknis, blog dengan trafik tinggi akan memiliki pagerank tinggi pula. Dengan trafik 7.502.981 pada tahun 2012, 4.173.741 tahun 2013 dan 563.363 akhir Januari 2014, akan membuat pagerank situs blog Denny JA berada di jajaran 100 besar di Indonesia. Kenyataannya tidak demikian. Pada mesin pelacak pagerank, http://www.prchecker.info/ dan http://www.mypagerank.net/, situs http://www.puisi-esai.com sama-sama menghasilkan 1/10. Sebagai pembanding, http://www.kompas.com dan http://www.detik.com memperoleh 6/10, sedangkan http://www.facebook.com 9/10 dan http://www.twitter.com 10/10.

Pun halnya di mesin pelacak peringkat, http://www.alexa.com. Hingga pekan kedua Februari 2014, blog milik Denny JA ini masih berada pada peringkat 18.491 di Indonesia dan 1,489,569 di dunia. Bandingkan, misalnya, dengan situs web Harian Analisa, http://www.analisadaily.com yang  menempati peringkat 2.697 di Indonesia dan 133.645 di dunia. Padahal trafik [Harian] Analisa tidak sedahsyat http://www.puisi-esai.com.

Jika saya tidak keliru, semakin besar angka, semakin tinggi popularitas situs tersebut. Sebaliknya semakin rendah, semakin buruk posisinya di dunia maya. Di Alexa, pendekatannya terbalik. Semakin kecil angka, semakin populer.

Lalu pertanyaannya, dari mana datangnya trafik besar yang akan ternyata tak nyambung dengan pagerank dan pemeringkatan ini? Apakah Ahmad Gaus bisa memberi penjelasan?

Kini lebih satu bulan polemik berkecamuk. Di samping berbagai kecaman di laman-laman pertemanan sosial, baik lewat kritik cerdas maupun yang nyinyir membongkar dugaan kecurangan Tim 8 (terutama Ahmad Gaus dan Jamal D Rahman), reaksi juga mencuat dalam berbagai bentuk []. Ada yang berdemonstrasi. Ada yang berencana membuat buku tandingan. Ada yang membuat pengakuan. Ahmadun Yosi Herfanda, Sihar Ramses Simatupang, Chavcay Syaifullah, dan Kurnia Effendi, empat sastrawan yang pernah menulis puisi esai, menyebut latar belakang penulisan itu adalah semata pesanan Denny JA melalui telangkai kelas beratnya, Fatin Hamama. Konon, atas permintaan khusus, Ahmadun dibayar Rp 10 juta.

Ada juga yang membuat petisi. Ditandatangani Saut Situmorang, Dwicipta, Eimond Esya, Faruk HT, Nuruddin Asyhadie, dan Wahyu Adi Putra Ginting, isi petisi ini adalah “mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk mengambil langkah tegas pada buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh hingga ke bentuk pelarangan edar secara permanen, sesuai mekanisme dan prosedur yang ada, termasuk hukum, apabila hasil pengujian menunjukkan adanya kesalahan fatal metode pemilihan dan isi buku tersebut.”

Seorang kawan menuliskan pendapatnya di salah satu status yang jadi diskusi di linimasa akun Facebook saya. Intinya, dia menganggap buku ini sampah belaka. Menurut dia, Umbu Landu Paranggi, Wiji Thukul, dan Seno Gumira Ajidarma, tiga tokoh besar sastra Indonesia yang dipinggirkan Tim 8 dari daftar itu, sudah mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Dia benar. Tapi perlu digarisbawahi. Masyarakat yang mana? Pertama tentu masyarakat sastra, yakni mereka yang paham sastra atau setidak-tidaknya pernah membaca karya sastra. Kedua, masyarakat sekarang. Bagaimana dengan masyarakat generasi kemudian? Buku merupakan dokumentasi dan alangkah celaka jika 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh mereka baca. Di sekolah-sekolah pula. Dan sejarah akan terjungkirbalikkan. Saya membayangkan anak-anak dan cucu kita tidak tahu lagi siapa Umbu, siapa Thukul, siapa Kho Ping Hoo, siapa Seno Gumira, siapa Kuntowijoyo, Umar Kayam, Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti, Martin Aleida, terlebih-lebih para sastrawan yang sejak lama (dengan berbagai cara) memang sengaja dipinggirkan dan coba dilupakan macam Agam Wispi, Hr. Bandaharo, dan Putu Oka Sukanta. Mereka hanya akan mengenal Denny JA. Aduh!