Kemajuan Sainstek dan Kelindan Agama Mengikut Giring Logika Sumir Provokatif Denny J.A.

Anggota Parlemen India, Sashi Tharoor, membuat beringsut klaim kebesaran Inggris yang membuat India menjadi negara yang demokratis. Tharoor berargumen bahwa Inggris harusnya berterima kasih dan meminta maaf kepada India karena dengan penjajahan terhadap negeri di Asia Selatan itulah Revolusi Industri di Inggris bisa berlangsung dengan gegap gempita. Ia menunjukkan fakta bahwa sebelum penjajahan Inggris, India memiliki keterlibatan kepada perekonomian dunia sebesar 23% dan berubah menjadi hanya 4% saat Inggris angkat kaki dari tanah India. Ia berseloroh mengenai mustahilnya Revolusi Industri tanpa bahan baku mentah yang dikeruk Inggris dari tanah jajahan serupa India.

Tharoor, yang saat itu diundang memberikan ceramah di Oxford University, menyindir bagaimana salahnya mengklaim demokrasi di India adalah jasa besar Inggris sementara kisah sebenarnya adalah penjajahan, pembunuhan, dan perampokan sumber daya alam selama 200 tahun –dari 1757 hingga 1947– dan demokratisasi di India tak elok untuk diagungkan sebagai jasa besar Inggris.[i]

Tharoor tidak berhenti sampai di situ saja. Klaim lainnya bahwa sebagian infrastruktur di India khususnya jalur kereta api dan jalan raya yang terwariskan hingga sekarang adalah jasa lain Inggris kepada tanah Hindustan itu juga dibabat tanpa ampun oleh Tharoor. Ia mengatakan bahwa infrastruktur yang dibangun oleh Inggris, jika mau fair, niatan pembangunannya adalah untuk kepentingan Inggris bukan untuk pribumi. Inggris butuh infrastruktur untuk mengontrol jajahan, memobilisasi sumber daya alam, atau hasil produksi oleh sebab itulah dibangun tetek bengek itu.[ii]

Kisah penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa Barat sebenarnya jika ditarik ke belakang disebabkan oleh penguasaan jalur perdagangan dari dunia timur lewat jalur konstatinopel dikuasai oleh Ottoman.[iii]Kesultanan Ottoman begitu kuatnya menjaga jalur perdagangan ini bukan hanya dalam kaitannya penguasaan dunia perdagangan saja namun juga penjagaan wilayah yang waktu itu aroma Perang Salib masih terasa kuat. Hal inilah yang salah satunya membuat bangsa Eropa Barat yang butuh komoditas dari dunia timur secara bebas dan tidak banyak aturan terpaksa mencari jalan ke dunia timur lewat laut.

Usaha yang disebut sebagai terobosan eksplorasi pencarian jalur ke timur lewat laut adalah sampai dengan selamatnya Vasco da Gama di Tanjung Harapan. Keberhasilan Vasco da Gama disebut sebagai katalis rentetan perubahan besar terhadap dunia Eropa.[iv] Keberhasilan ini menyulut eksplorasi lebih banyak lagi menuju dunia timur demi komoditas yang mereka butuhkan dan hanya bisa diperoleh dari dunia timur.

Keadaan Eropa secara umum di hingga pertengahan abad 13 memang kepayahan. Interaksi dengan peradaban[v] Muslim dari Timur menunjukkan bahwa mereka kalah pada banyak hal. Dunia timur saat itu yang interaksinya terwakili oleh peradaban Muslim menunjukkan kekurangan mereka pada banyak bidang. Secara militer mereka kalah dan ini terbukti lewat rentetan Perang Salib yang dimenangkan oleh kaum Muslim. Abad kegelapan yang menguasai Eropa pada saat itu kian menunjukkan bahwa tidak hanya mereka kalah dari Turki Ottoman di bidang militer namun juga di bidang sains dan teknologi.[vi]

Dunia muslim bisa disebut lebih maju dalam bidang medis, sains, dan teknologi saat itu dari rentang waktu tahun 800 – 1450 dibandingkan dengan Eropa.[vii]Banyak argumen yang bisa dinisbatkan kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia muslim saat itu. Yang jelas adalah dunia muslim saat itu, ketika Eropa masih berkubang pada rigiditas dan cengkeraman Gereja berkenaan dengan akses pada literatur dan bagaimana melihat dunia, dengan sangat longgar dan bersemangat mempelajari warisan ilmu pengetahuan dari Yunani kuno,[viii]Syiriac, Pahlavi, dan Sanskrit. Bahkan tidak disangkal bahwa universitas tertua yang masih beroperasi hingga sekarang muncul di masa keemasan peradaban Islam[ix] yakni Perpustakaan, Pusat Penerjemahan, dan Penelitian yang megah Baitul Hikmah di Baghdad yang didirikan di sekitar 830 M,[x] Perpustakaan Besar Darul Hikmah yang didirikan di Kairo pada tahun 1004 M,[xi] Universitas al-Qarawiyyin (University of Karueein) yang berdiri pada tahun 859 M di Maroko[xii]dan sekolah kedokteran modern Kulliye yang berdiri pada tahun 1488 M[xiii] bisa membuat cemburu beberapa negara Eropa pada saat itu.

Yang membuat kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Islam saat itu selain bergairahnya muslim mempelajari ilmu pengetahuan dari peradaban-peradaban sebelumnya untuk kemudian dikembangkan, donasi wakaf untuk ilmu pengetahuan begitu digalakkan, dan juga bisa disebutkan interaksi dunia Islam dengan China yang menguasai pembuatan kertas.[xiv] Dengan banyak hal yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan kemampuan mendiseminasikan ilmu pengetahuan yang cepat lewat universitas-universitas yang begitu marak didirikan[xv] dan penguasaan teknik pembuatan kertas maka peradaban Islam begitu unggul jika dibandingkan dengan abad kegelapan Eropa saat itu.[xvi]

Kebutuhan pencarian komoditas tertentu (rempah-rempah) dari Timur yang lebih banyak dan murah,[xvii]tugas suci semisal royal patronage,[xviii]dan interaksi dengan peradaban Islam lewat Perang Salib yang menunjukkan bahwa peradaban di luar Kristendom bisa lebih maju dan beradab[xix] telah menyulut imajinasi bangsa Eropa untuk berani mengarungi lautan luas menuju dunia Timur. Hal lain yang membuat ada perubahan radikal di Eropa adalah wibawa gereja yang menurun, gairah mempelajari literatur sains dan filosofi Yunani, Romawi serta dunia Timur lainnya meningkat berkat sambung kembangan peradaban Islam,[xx] serta ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg[xxi] yang semuanya terjadi di tahun 1400-an. Dari sinilah muncullah zaman Fajar Budi (Renaissance) di daratan Eropa.

Dari semangat untuk menjelajahi dunia dan mencapai kejayaan maka muncullah negara-negara di Eropa yang melakukan ekspedisi ke dunia Timur. Sebutlah negara-negara seperti Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda, dan Perancis. Sebuah working paper yang bagus membahas kemakmuran negara-negara di Eropa Barat bersebab adanya ekplorasi dan perdagangan kepada peradaban lain yang sangat masif dimulai sejak abad ke-15 dan lalu berujung kepada kolonialisme ditulis oleh akademisi dari MIT dan University of California dengan judul “The Rise of Europe: Atlantic Trade, Institutional Change, and Economic Growth”.[xxii]Ini mengingatkan kita pada ucapan Tharoor di atas bahwa kemajuan banyak hal negara-negara Eropa sejatinya memiliki sejarah kelam pada perampokan sumber daya alam dari negara-negara yang kini merangkak untuk menjadi negara yang makmur selepas kehancuran yang diperbuat oleh aksi kolonialisme Eropa.

Ketika Eropa berhasil mempertahankan dan mengembangkan kemajuan peradabannya yang dimulai di abad 15 dengan dukungan kolonialisme, peradaban Islam yang berhenti ekspansif mengalami stagnansi. Memang argumen kemajuan sebuah peradaban diperoleh lewat penjajahan kepada bangsa lain terasa miris tapi sejarah peradaban menunjukkan demikian. Kemajuan sebuah peradaban [baca: negara] memang membutuhkan dukungan dari pemerintah dan kecepatan diseminasi sains namun ekonomi yang kuat juga diperlukan. Bisakah misalnya revolusi industri di Inggris bisa gegap gempita jikasanya tidak adanya kolonialisme yang dilakukan oleh kerajaan Inggris terhadap bangsa-bangsa lain di dunia?

Bicara era kini saat Amerika Serikat menguasai berbagai macam bidang, bisakah misalnya kedigdayaan Amerika Serikat disimpulkan sebagai akibat dari beberapa rentetan sejarah sebagaimana berikut ini: tidak luluh lantaknya mereka dari Perang Dunia II sehingga memberi jalan imperialisme halus kepada Eropa Barat lewat Marshal Plan,[xxiii]pembajakan ilmuwan-ilmuwan kelas wahid semisal lewat Operation Paperclip,[xxiv] keseriusan pemerintah Amerika Serikat kepada pendidikan dan riset lewat pendanaan yang luar biasa,[xxv] peran Amerika Serikat di dalam Perang Dingin serta akhir dari Perang Dingin dengan aksi “covert warfare and government destabilisation”-nya,[xxvi] penjajahan Amerika Serikat di dalam dunia keuangan dan moneter dunia lewat manuver Bretton Woods System,[xxvii] kemudian berlanjut kepada petualangan Amerika Serikat selepas 11 September sehingga membuat Amerika Serikat hingga kini bertahan pengaruh kuatnya secara global.[xxviii][xxix][xxx]

Alur logika di atas seakan-akan mengarahkan pada kesimpulan bahwa kemajuan peradaban atau kemajuan sebuah negara ditentukan oleh intensivitasnya di dalam peperangan dan penakhlukan. Dan alur logika seperti itu pasti akan mudah disanggah dengan kasus China[xxxi] dan Mongol. Keduanya unik sebagai contoh bagaimana China yang ngubrek-nguplek hanya daratan China saja bisa bertahan, berkembang dan maju sedangkan Mongolia yang pernah agresif namun kemudian menjadi sebuah negara kecil yang kini kurang diperhitungkan di kancah politik ekonomi dan sainstek dunia. Meskipun demikian, menafikan peran peperangan dan penakhlukan daerah lain yang kaya sumber daya alam terhadap kemakmuran dan kemajuan saisntek sebuah negara[xxxii]adalah tidak tepat. Perang dan semangat penakhlukan menjadikan sebuah bangsa ingin berterusan menjadi unggul dan mengungguli bangsa lain, tentu saja sekali lagi, ini bukan faktor satu-satunya.

Peperangan kerap mempercepat laju kemajuan teknologi sebagaimana bisa disaksikan dari perjalanan sejarah umat manusia.[xxxiii] Lewat peperangan atau keadaan perang atau bagaimana menjaga ketundukan negara takhlukan [baca: menjaga hegemoni], funding kepada riset dan pengembangan yang terkait sainstek juga meningkat. Dari situlah ungkapan politisasi sainstek menjadi muncul. Sainstek menurut John De la Mothe di dalam bukunya Science, Technology, and Governance menjadi sesuatu yang tak terelakkan dengan warfare.[xxxiv] Mothe tidak bicara kemajuan sainstek hanya melulu dengan kebutuhan yang terkait dengan warfare saja namun juga bagaimana kemakmuran ekonomi juga kontributif terhadap kemajuan sainstek.[xxxv]

Yang menjadi pertanyaan penting kemudian adalah peradaban Islam, peradaban bukan Islam, kemajuan sainstek, dan bagaimana keterkaitannya dengan agama [baca: agama Islam] sebagaimana disulut oleh Denny Januar Ali lewat status Facebooknya. Denny Januar Ali dengan gaya khasnya bermain dengan survei melempar sebuah gambar dan memberi penjelasan sesuai gambar. Beberapa bagian memang seolah-olah penafsiran dari gambar yang ia lemparkan namun beberapa kalimat adalah tidak terdapat pada gambar. Kalimat mengenai halal-haram dan berjibaku siapa yang sesat adalah tidak terdapat di dalam gambar dan merupakan kalimat dari Denny Januar Ali sendiri.[xxxvi]

Menanggapi status Facebook Denny Januar Ali tersebut, pertanyaan mengenai kemajuan sainstek sudah bisa sedikit terjawab lewat pemaparan di atas. Masuknya Turki Ottoman ke dalam Perang Dunia I adalah langkah awal kehancuran imperium tersebut. Babak bunyak persenjataan dan pasukan selepas terlibat Perang Balkan, Imperium Turki Ottoman malah tetap nekad masuk ke dalam kancah Perang Dunia I.[xxxvii] Sedangkan melejitnya Eropa [yang terdiri dari banyak negara] sejak akhir abad 16 dengan faktor-faktor yang telah disebutkan di atas jika dibandingkan dengan satu negara Turki Ottoman adalah kurang pas. Keadaan sainstek Imperium Turki Ottoman sendiri –kecuali di bidang persenjataan– adalah tidak bisa dikatakan mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan negara-negara Eropa saat itu.[xxxviii]Walaupun demikian, Imperium Turki Ottoman memang mengalami stagnansi di dalam diseminasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dengan salah satu hal yang menjadi penyebabnya, menurut sebagian sejarawan, adalah telatnya pemakaian mesin cetak di dalam penerbitan buku. Baru pada tahun 1729 Imperium Turki Ottoman memakai mesin cetak di dalam penerbitan buku berbahasa Arab dan kelambatan menangkap peluang penyebaran ilmu pengetahuan dengan mesin cetak oleh Imperium Turki Ottoman ini disayangkan oleh beberapa sejarawan.[xxxix]Keadaan lain yang membuat Imperium Turki Ottoman adalah kondisi ekonomi yang buruk yang sudah terjadi sebelum mereka masuk ke kancah Perang Dunia I.[xl]

Perang Dunia I membuat Imperium Turki Ottoman sempoyongan. Perjanjian rahasia antara pihak Inggris dan Perancis yang dikenal dengan Sykes-Picot Agreement pada 19 Mei 1916 membagi wilayah Imperium Turki Ottoman yang sangat luas saat itu menjadi beberapa wilayah sebagai konsekuensi kekalahan Turki Ottoman di dalam Perang Dunia I.[xli] Wilayah hasil pecahan inilah yang kemudian menjadi negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara saat ini.[xlii]Bagaimanapun juga jika melihat jalannya sejarah persaingan Eropa dengan Timur [baca: peradaban Muslim], tidaklah bisa hanya dikatakan kecuali merupakan akumulasi dari interaksi kedua peradaban sejak Perang Salib. Kekalahan Turki Ottoman pada Perang Dunia I mewujudkan cita-cita lama menghancurkan ‘musuh lama’ sebagaimana kemudian Perjanjian Sevres menunjukkan bagaimana Turki Ottoman benar-benar diluluhlantakkan wilayah dan harga dirinya.[xliii]

Jadi misalnya hendak disebut ketertinggalannya dunia Muslim sekarang ini dengan dunia Barat[xliv] ada baiknya ditakar sejak munculnya negara-negara Islam [pecahan Imperium Turki Ottoman] adalah kurang pas dan “norak” jika dibandingkan dengan titik mulai abad kegelapan Eropa.

Jika pembandingan dilakukan dengan gaya seperti itu maka bisa saja dengan cara serupa kita membandingkan kejayaan Yunani lalu Romawi-nya Eropa yang berlangsung beberapa ratus tahun dengan kejayaan peradaban Islam yang berlangsung 600-an tahun dan bertahan hingga 400-an tahun sesudahnya pada saat Imperium Turki Ottoman ambruk. Gaya pembandingan seperti ini sebenarnya ada teorinya di dalam kajian sosiologi dengan nama teori Social Cycle Theory. Menurut teori ini, kemajuan dan kemunduran peradaban hanyalah seperti sebuah siklus saja yang saling berulang bergantian.[xlv] Well, kurang lebih begitu dan yang beginian malah jadi mbulet-mbulet seperti pertanyaan ayam dengan telur mana yang duluan.

Melihat ketertinggalan dunia Muslim dengan Barat yang misalnya saja diwakili dengan hegemoni Amerika Serikat dan Inggris dengan titik mulai diukur dari berakhirnya Perang Dunia II adalah lebih pas. Perang Dunia II memunculkan negara-negara Islam baru pecahan Turki Ottoman dan negara-negara Islam[xlvi] merdeka yang penduduk mayoritasnya Islam di Asia Tenggara. Juga selepas Perang Dunia II kemudian masih berlanjut dengan Perang Dingin berakhirnya menahbiskan Amerika Serikat dan Inggris sebagai pemegang dominasi banyak hal di dunia kini. Perang Dunia II juga memunculkan Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations) dengan Big Five-nya. Jadi memang selayaknya akhir dari Perang Dunia II dijadikan titik mulai perbandingan. Dari pergumulan Big-Five ini, negara-negara lain yang kecil atau baru belajar menjadi negara kemudian menjadi “cerminan” atau kadang proksinya saja dalam banyak hal. Dus, kemajuan negara-negara Islam yang baru saja merdeka dan hendak disebut sebagai peradaban kaum Muslim sebenarnya lebih tepat dihitung mulai lagi dari puing debu hancurnya Turki Ottoman dan bukan sejak mula kelahiran nabi Muhammad saw.

Lalu jika ditanyakan apakah sudah menuju ke arah yang melegakan atau bahkan menggembirakan? Belum bersatunya negara-negara Islam atau katakanlah belum nampak ada indikasi bahwa negara-negara Islam ini bersedia bersatu menjadi satu suara[xlvii]di bidang politik dan militer. Dan kuatnya pengaruh Big Five kepada mereka menjadikan mereka terpolarisasi pada kutub-kutub sisa Perang Dingin.

Kemudian mengenai gambar tersebut. Apakah benar gambar tersebut mendapatkan justifikasi mengenai kemajuan sainstek ketika masyarakat sudah tidak peduli lagi kepada agama?[xlviii] Tidak, hal ini tidak benar.

Mari kita tengok tahun-tahun pada gambar itu dan kemudian kita analisis ringan.

Gambar dan Status Facebook Denny J.A.

Gambar dan Status Facebook Denny J.A.

Apa yang terjadi pada tahun 1896? Pada tanggal 4 Juni 1896, Henry Ford merampungkan mobil ciptaannya yang ia beri nama ‘Quadricycle’ di negara Amerika Serikat lewat usaha Ford sendiri.  Apa yang terjadi pada tahun 1903? Pada tanggal 17 Desember 1903, Wilbur Wright and Orville Wright dengan usaha mandiri berhasil menerbangkan pesawat buatan mereka selama 59 detik dan menempuh jarak 259,7 meter. Sementara itu kerajaan Turki Ottoman sedang sibuk dan bersusah payah menumpas pemberontakan Armenia yang disulut lewat kejadian Perlawanan Bashkale, Pemberontakan Sassoun, Pemberontakan Van, dan baru berakhir pada tahun 1896 di Zeytun. Kemudian Turki Ottoman menghadapi pemberontakan di Macedonia yang terjadi pada tahun 1903. Keadaan di Turki Ottoman saat itu sangat buruk. Selain pemberontakan terjadi di mana-mana, kondisi keuangan negara juga sedang memburuk dan kian memburuk hingga akhirnya Empirium Turki Ottoman menjadi cerai berai. Amerika Serikat pada tahun 1893 mengalami depresi ekonomi yang luar biasa namun pada tahun 1896-1897 keadaan ekonomi Amerika Serikat membaik dan bahkan di tahun-tahun itu Amerika Serikat begitu progresif di dalam kebijakan luar negerinya.[xlix]Jadi layaklah jika keadaan di Amerika Serikat dapat mendorong kreativitas dan inovasi warga negaranya dibandingkan kekacauan yang terjadi di Emperium Turki Ottoman. Bisakah membandingkan orang sakit dengan orang sehat dan penuh gairah?

Apa yang terjadi pada tahun 1961? Pada tanggal 12 April 1961, kosmonot Soviet menjadi orang pertama yang bisa berada di luar angkasa. Vostok 1, begitu nama pesawat luar angkasa tersebut, berhasil mengorbit selama 108 menit. Sementara itu Empirium Turki Ottoman sudah hancur dan pecahan-pecahannya sedang belajar menjadi negara mandiri. Perang Dingin saat itu sedang terjadi antara kampiun sisa Perang Dunia II: Amerika Serikat dan Uni Soviet. Amerika Serikat begitu cerdik bermain di sektor perminyakan dan bantuan militer kepada negara-negara Timur Tengah yang baru mandiri, masih lemah secara militer, dan kaya minyak.[l] Bersaing dengan Uni Soviet, Amerika Serikat mati-matian ingin mengalahkan Uni Soviet di dalam perlombaan penguasaan penjelajahan ke luar angkasa. Bisakah membandingkan bayi dengan orang dewasa?

Apa yang terjadi pada tahun 2013? Dari gambar yang diberikan memang kurang jelas pada apa yang terjadi pada tahun 2013 sebagaimana dimaksudkan pada gambar. Pada tahun itu, Jepang,[li] India, China, Amerika Serikat, Russia, Kazakhstan[lii] meluncurkan satelit ke luar angkasa.[liii]Bisa jadi meme tersebut diciptakan pada tahun 2013 sehingga gambar yang terakhir adalah bertahun 2013.

Jika kita tadi telah membandingkan dua peradaban, Islam dengan Barat yang diwakili Amerika Serikat, tanpa standar yang jelas hanya pilihan tertentu pada aspek tertentu di tahun yang acak kemudian kita bandingkan lagi dua peradaban, Islam dengan Barat yang diwakili Uni Soviet tanpa standar yang jelas hanya pilihan tertentu pada aspek tertentu di tahun yang acak maka kini coba kita bandingkan keadaan Amerika Serikat di tahun-tahun 1890-an, 1900-an, 1960-an kemudian 2010-an di dalam keributan perkara agama. Benarkah pada empat periode yang berbeda tersebut, masyarakat Amerika Serikat yang mengakui keberadaan agama sudah tidak ada keributan yang berkisar masalah agama? Jawabannya tidak benar. Perlukah membandingkannya dengan keadaan di Uni Soviet? Tidak perlu karena di Uni Soviet agama ditekan begitu kuatnya.

Lalu bagaimanakah keadaan Amerika Serikat terkait dengan agama pada tahun-tahun tersebut? Jawabnya sederhana. Periksa saja sejarah Amerika Serikat pada tahun-tahun itu.[liv]

Lagian jika Denny J.A. “lurus,” biarlah perkara sainstek dibahas teknokrat dan ilmuwan sedangkan halal dan haram, sesat akidah atau tidak, biarkan dibahas ulama. Membludaknya teknokrat dan ilmuwan serta kokohnya tradisi keilmuan di negara-negara dengan karakteristik yang berbeda yang diambil sebagai bandingan dengan satu peradaban monolit yang disebut sebagai peradaban Islam padahal kini ia terdiri dari banyak negara yang baru muncul selepas Perang Dunia II yang bisa disebut dengan baru belajar banyak hal adalah “menceng“. Bukankah jika ia merecoki yang begini jelas malah seolah menunjukkan bahwa ia kurang kerjaan dan sengaja menyulut kerancuan?

Pun jika misalnya kemajuan peradaban disepakati sebagai hasil dari interaksi antarperadaban yang sifatnya komulatif dan struktur yang sederhana dari peradaban kecil kemudian menjadi peradaban yang kompleks, atau dalam konteks ini dunia yang kemudian menjadi seakan satu peradaban, maka difusi antarperadaban menggiring kepada sistem yang menampilkan kontrol (hegemonik), pengontrol, dan yang dikontrol. Jadi laju peradaban dunia semenjak Perang Dunia II selama belum ada perubahan yang radikal akan secara alami mengalirkan evolusi peradaban yang dimulai dari pusat. Dan kita tahu dimanakah pusat ekonomi dan militer dunia sejak perang itu berakhir bersama laju kapitalisme dan rasionalisasi.[lv]

.

.

.

.

=================

Endnotes

[i] Rishi Iyengar. 23 Juli 2015. “Watch This Indian Lawmaker Briliantly Explains Why the U.K. Owes Reparations for Colonial Rule”. Time. Diakses 21 Agustus 2015 dari: http://time.com/3969097/shashi-tharoor-oxford-union-debate-reparations-india-britain/

[ii] Ibid

[iii] Emrah Safa Gurkan. 2012. “The Efficacy of Ottoman Counter-intelligence in the 16th Century”. Acta Orientalia Academiae Scientiarum Hung. Volume 65 (1), 1-38 (2012).

[iv] Shane Winser. 17 Februari 2011. “Vasco da Gama”. BBC. Diakses 21 Agustus 2015 dari: http://www.bbc.co.uk/history/british/tudors/vasco_da_gama_01.shtml

[v] Sebenarnya istilah peradaban, kebudayaan, dan [kekuatan] ekonomi [dan sainstek serta militer] bisa saling tumpang tindih dikontestasikan sebagaimana misal perdebatan tentang ini dikupas oleh Kunihiko Kumai ketika menyorot thesis benturan antarperadaban (Kunihiko Kumai. 2006. “Culture, Civilization, or Economy? Test of the Clash of Civilizations Thesis”. International Journal on World Peace. Vol. 23 No. 3, hlm. 3-32).

[vi] Azeem Majeed. 2005. “How Islam Changed Medicine: Arab Physicians and Scholars Laid the Basis for Medical Practice in Europe”. British Medical Journal. 2005 Dec 24; 331(7531): 1486–1487.

[vii] Prince of Wales, op cit.

[viii] Sering yang dikoarkan beberapa pengusung kehebatan Barat [baca: Eropa] hanya mengatakan mengenai dunia Muslim yang mempelajari warisan ilmu pengetahuan Yunani kuno saja padahal tidak.

[ix] Peradaban Islam di sini bukanlah peradaban yang ilmuwan dan teknokratnya hanya berisi orang-orang Islam. Ini adalah anggapan yang keliru. Yang dimaksud dengan peradaban Islam di dalam tulisan ini adalah peradaban yang dibangun di bawah kontrol orang-orang Islam.

[x] Eduscapes.com. “Early Libraries: 800s CE”. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://eduscapes.com/history/early/800.htm

[xi] Nancy Spiegel. 14 April 2011. “Library History and Architecture: Medieval Islamic Libraries”. The University of Chicago Library News. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://news.lib.uchicago.edu/blog/2011/04/14/library-history-and-architecture-medieval-islamic-libraries/

[xii] Guiness World Record. “The Oldest University”. Diakses 21 Agustus 2015 dari: http://www.guinnessworldrecords.com/world-records/oldest-university

[xiii] Nurettin Heybeli. 2009. “Sultan Bayezid II Kulliyesi: One of the Earliest Medical Schools – Founded in 1488”. Clinical Orthopaedics and Related Research. 2009 Sep; 467(9): 2457–2463.

[xiv] Eduscapes.com. “Early Libraries: 800s CE”. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://eduscapes.com/history/early/800.htm

[xv] Di tahun 1100-an, tercatat ada 75 Madrasah (sepadan dengan Universitas kini) di Kairo, 51 buah di Damaskus, dan 44 buah di Aleppo yang memiliki kurikulum dan memberikan ijazah (degree).

Rujukan: Firas Alkhateeb. 8 Desember 2012. “Education in Islamic History”. Lost Islamic History. Diakses 22 Agustuys 2015 dari: http://lostislamichistory.com/education/

[xvi] Sebuah film dokumenter yang bisa memberikan gambaran keunggulan peradaban Islam saat itu dibandingkan dengan Eropa adalah “Science and Islam” by Jim Al Khalili, 2009, BBC Documentary.

[xvii] Buku Paul Freedman meskipun mendapatkan kritikan namun layak dibaca sebagai rujukan tentang ini. (Paul Freedman. 2008. Out of the East: Spices and the Medieval Imagination. Yale University Press).

[xviii] Don Fanning. 2009. “Roman Catholic Era Medieval Period.” History of Global Mission. Paper 4. http://digitalcommons.liberty.edu/cgm_hist/4

[xix] Masoumeh Banitalebi dkk. 2012. “The Impact of Islmic Civilization and Culture in Europe during the Crusades”. World Journal of Islamic History and Civilization, 2 (3): 182-187, 2012

[xx] Di tahun 1469, seorang pedagang kaya bernama Cosimo de Medici baru mendirikan Platonic Academy di Florence (cf. Paul Kuritz. 1988. The Making of Theatre History. Prentice Hall College Div. hlm. 136) yang bisa disebut mulai tumbuhnya tradisi akademis lepas dari kungkungan doktrin gerejawi.

Hal lain yang perlu dicatat adalah, literatur sains dan filsafat Yunani dan Romawi serta peradaban kuno lainnya telah dilestarikan, berkembang, dan menulari literatur yang kemudian dipakai oleh akademisi Eropa di dalam melepaskan diri dari doktrin gereja saat itu. Peradaban Eropa tidak pernah muncul tiba-tiba ketika mulai bangkit dari abad kegelapan.

[xxi] Berkat penemuan mesin cetak, terjadi revolusi penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan di Eropa. Di tahun 1500an terdapat tidak kurang sembilan juta buku dan pamflet di Eropa (cf. Paul Kuritz. 1988. The Making of Theatre History. Prentice Hall College Div. hlm. 138)

[xxii] Daron Acemoglu, Simon H. Johnson, & James A. Robinson. 25 November 2002. “The Rise of Europe: Atlantic Trade, Institutional Change, and Economic Growth”. Social Science Research Network Electronic Paper Collection.

[xxiii] John Provan. n.d. “The Marshall Plan and Its Consequences”. George Marshall Society. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.george-marshall-society.org/george-c-marshall/the-marshall-plan-and-its-consequences/

[xxiv] Annie Jacobson. 2014. Operation Paperclip: The Secret Intelligence Program to Bring Nazi Scientists to America. Little, Brown & Company.

[xxv] Wachiro Kigotho. 14 November 2014. “China Heads for top world in R & D Spending – OECD”. University World News. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.universityworldnews.com/article.php?story=20141114112226407

Bandingkan juga dengan data dari Investopedia “What country spends the most on research and development” yang dapat diakses lewat:

http://www.investopedia.com/ask/answers/021715/what-country-spends-most-research-and-development.asp

Amerika Serikat juga menarik bagi peneliti-peneliti dari seluruh dunia untuk bekerja di sana dengan jaminan kemakmuran dan fasilitas riset yang luar biasa. Semua kembali pada kekuatan ‘dolar’. Beberapa poin mengenai ini bisa disimak lewat penjelasan ahli pendidikan Pasi Sahlberg lewat tautan berikut ini:

http://pasisahlberg.com/what-makes-united-states-and-finland-so-great/

[xxvi] Doug Stokes. 2003. “Why the end of the Cold War doesn’t matter: the US war of terror in Colombia”. Review of International Studies (2003), 29, 569–585 Copyright © British International Studies Association.

[xxvii] Corbridge S, 1994, “Bretton Woods revisited: hegemony, stability, and territory” Environment and Planning A 26(12) 1829 – 1859

[xxviii] Mark Beeson. 2004. “US Hegemony” dalam O’Hara, Phillip (ed.), Encyclopaedia of Public Policy: Governance in a Global Age. London: Routledge.

[xxix] Catherine Austin Fitts. 2004. “Mapping The Real Deal; Cui Bono 9/11”. Scoop Independent News. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.scoop.co.nz/stories/HL0406/S00046.htm

[xxx] “The Fifth Estate – The Lies that Led the War”. CBC 2007.

[xxxi] Bandingkan juga kisah China yang berdagang tidak bernafsu menganeksasi wilayah dengan Eropa yang berdagang dan berhasrat mencaplok wilayah (cf. Matthias Tomczak. 19 Desember 2008. “Science during the Renaissance; exploration, maps, the new view of the world”. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.es.flinders.edu.au/~mattom/science+society/lecture17.html)

[xxxii] Sejak awal pemakaian ‘negara’ dengan ‘peradaban’ saling bertukaran meskipun secara definitif keduanya berbeda namun dalam konteks tulisan ini kelentukan pemakaian kedua istilah terjadi. (Bandingkan dengan endnote nomor 5).

[xxxiii] Dengan angle yang sedikit berbeda misalnya bisa dibandingkan dengan artikel berjudul “War and Technology: A Critical Investigation” (Shunzo Majima. 2008. berjudul “War and Technology: A Critical Investigation.” Journal of the Graduate School of Letters, Hokkaido University Vol.3;pp.87-98, March 2008)

[xxxiv] John De la Mothe. 2001. Science, Technology, and Governance. Psychology Press.

[xxxv] Sekali lagi dengan angle yang berbeda mengenai kemajuan sainstek dan optimalisasi manfaat yang lebih terdapat pada negara-negara yang secara ekonomi makmur disebutkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh RAND Corporation (cf. AFP. 2006. “Rich countries gain most from technology”. ABC Science. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.abc.net.au/science/articles/2006/06/02/1653593.htm

Hal lain yang juga patut diperhatikan selain kekuatan ekonomi yang merupakan hasil dari kolonialisme, imperialisme halus maupun imperialisme kasar yang menghasilkan pengerukan sumber daya alam, penguasaan sumber daya ekonomis, dan terbukanya pasar, patut pula misalnya dilihat bagaimana keseriusan pemerintah di dalam riset dan pengembangan teknologi, kontribusi penghargaan dan proteksionisme kemajuan ilmu pengetahuan lewat sistem paten, dan migrasi orang-orang cerdas ke negara-negara makmur yang melihat urgensi merekrut sumber daya manusia unggul atau bisa juga karena orang-orang ini mencari penghidupan dan kehidupan yang lebih baik.

Untuk tiga hal tersebut misalnya dapat dirujuk pada:

“Government can advance innovation” interview with Vinod K. Aggarwal, © International Trade Centre, International Trade Forum – Issue 3/2003.

Clement Tisdell. 2012. Science and Technology Policy: Priorities of Governments. Springer Science & Business Media.

Dianne Nicol & John Liddicoat. 21 Februari 2012. “Do patents promote innovation?”. The Conversation. Diakses dari 24 Agustus 2015 dari: http://theconversation.com/do-patents-promote-innovation-5443

Kacey N Douglas. 2015. “International Knowledge Flows and Technological Advance: The Role of Migration.” IZA Journal of Migration 20154:13  doi:10.1186/s40176-015-0037-8.

[xxxvi] Yang menarik adalah belum begitu lama, Musdah Mulia juga menyalintempelkan sebuah status yang mengusik urgensi pendidikan agama di sekolah. Status salin-tempel tersebut memang bukan status yang muncul lewat kalimat yang dibuat oleh Musdah Mulia. Walaupun demikian, salintempel status tanpa penjelasan pro atau kontra terhadap isu yang diusung justru, menurut saya, bisa menyesatkan jika isinya adalah pembuat syubhat terhadap cara berpikir awam. Hal seperti ini ndrawasi apabila yang membawakan isu adalah seorang public figure dan atau opinion leader.

[xxxvii] ‘Weapons of the Ottoman Army’, URL: http://www.nzhistory.net.nz/war/ottoman-empire/weapons-of-the-ottoman-empire, (Ministry for Culture and Heritage), updated 30-Jul-2014.

[xxxviii] Ekmeleddin Ihsanoglu. 2004. Science, Technology, and Learning in the Ottoman Empire: Western Influence, Local Institutions, and the Transfer of Knowledge. Ashgate/Variorum.

[xxxix] Metin M. Cosgel dkk. March 2009. “Guns and Books: Legitimacy, Revolt, and Technological Change in the Ottoman Empire”. University of Connecticut – Department of Economics Working Paper Series.

[xl] Erkut Duranoglu dand Guzide Okutucu. 2009. Economic Reasons Behind the Decline of the Ottoman Empire (Thesis). Norges Handelshøyskole.

[xli] “Britain and France conclude Sykes-Picot Agreement”. History.com. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.history.com/this-day-in-history/britain-and-france-conclude-sykes-picot-agreement

[xlii] Model pemecahan wilayah seperti ini mirip terjadi pada kisah Republik Indonesia Serikat. Dengan pemecahan wilayah maka bangsa yang disatukan oleh semangat (-ism) yang sama dibuat terpecah atau mengkonfigurasikan ulang persamaan identitas dan identitas kebersamaannya.

[xliii] Nick Danforth. 10 Agustus 2015. “Forget Sykes-Picot. It’s the Treaty of Sevres that Explains the Modern Middle East”. Foreign Policy. Diakses 22 Agustus 2015 dari: https://foreignpolicy.com/2015/08/10/sykes-picot-treaty-of-sevres-modern-turkey-middle-east-borders-turkey/

[xliv] Lihat Endnote nomor 5 dan rujukkan juga dengan betapa lentuknya istilah ini di dalam diskursus ‘civilization’ ala Samuel Huntington.

[xlv] Simak misalnya buku The Downfall of the West karya Oswald Spengler (1926) atau buku karya Ravi Batra, The Downfall of Capitalism and Communism: a New Study of History (1978).

[xlvi] Definisi Islamic Countries mengikut pada definisi longgar yang dipakai di dalam riset pertama mengenai Islamicity yang menyebut negara dengan mayoritas penduduknya muslim zonder peduli bentuk negara atau hukum yang dipakai sebagai negara Islam.

[xlvii] Organisasi Konferensi Islam (The Organisation of Islamic Conference) lewat ISESCO memang belum bertaring namun layak untuk diperhatikan bagaimana misalnya Uni Emirate Arab mencapai perkembangan yang menggembirakan di dalam kemajuan sainstek penerbangan luar angkasa-nya.

[xlviii] Kelihatannya arah argumen Denny Januar Ali adalah masyarakat Muslim agar lebih maju di bidang sainstek harus merelakan menjadi masyarakat yang sekuler atau bisa juga ditafsirkan bahwa kemajuan sainstek bagi masyarakat Muslim akan dicapai jika sudah abai pada perkara halal dan haram.

[xlix] “The Progressive Movement and US Foreign Policy, 890-1920s”. U.S. Department of State. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://2001-2009.state.gov/r/pa/ho/time/ip/108646.htm

[l] Michale Quentin Morton. 2011. “Narrowing the Gulf: Anglo-American Relations and Arabian Oil 1928–1974”. Liwa-  Journal of the National Center for Documentation & Research. Volume 3, Number 6, December 2011, hlm. 39-54.

[li] Jepang adalah contoh lain dari kemajuan yang timbul dari semangat mencaplok wilayah lain meski kemudian selepas kalah perang dari sekutu (Amerika Serikat), Jepang tidak fokus lagi mengembangkan hal yang berbau militer. Walaupun demikian, Jepang malah kemudian menjadi sekutu dekat Amerika Serikat dan mendapatkan perlindungan militer dari Amerika Serikat hingga kini.

[lii] Bisakah Kazakhstan disebut sebagai negara yang mewakili masyarakat Muslim meskipun proyek satelitnya adalah di bawah kendali Russia? Sebaiknya tidak dianggap seperti itu. Tetaplah kita sebut itu kerjanya Russia dan bukan Kazakhstan.

[liii] “2013 – Launches to Orbit and Beyond”. Zarya.info. Diakses 22 Agustus 2015 dari: http://www.zarya.info/Diaries/Launches/Launches.php?year=2013

[liv] Untuk periode 1890-1920 silakan dirujuk pada disertasi Sarah K. Nytroe (Sarah K. Nytroe. 2009. Religion and Memory in American Public Culture, 1890-1920. (Dissertation). Boston College Electronic Thesis or Dissertation, 2009). Kemudian untuk periode 1960-an yang mempengaruhi politik Amerika Serikat saat itu bisa dirujuk pada paper karya Jeff Manza dan Clem Brooks (1997). “The Religious Factor in U.S. Presidential Elections, 1960–1992”. American Journal of Sociology, Volume 103 Number 1 (July 1997): 38–81. Sedangkan untuk masa 2010-an silakan ditelusuri bagaimana Mitt Romney mengalami kegagalan dan menjadi polemik nasional untuk menjadi calon presiden yang patut dijagokan karena ia seorang penganut sekte Kristen Mormonisme.

Tulisan Dr. Mary Segers mengenai agama dan pemilihan presiden di Amerika Serikat dengan judul “The Role of Religion in the U.S. Presidential Election” juga patut dibaca.

[lv] Buku yang menarik jika bicara perubahan peradaban adalah Sociocultural Systems: Principles of Structure and Change karya Frank W. Elwell yang buku digitalnya bisa diunduh secara gratis. Bab empat adalah bab yang menarik terkait dengan isu mengenai perubahan sosial dan kemajuan teknologi yang dalam konteks peradaban dunia saya analogikan dengan berintegrasinya peradaban yang ada, yang majemuk, menjadi kian mengerucut sebagai sebuah kesatuan dan bagaimana kemudian kemajuan teknologi bisa tersentralkan.

Rasionalisasi di sini bukan dimaksudkan kecuali dalam konteks rasionalisasi society ala Weber.

33 Tokoh Sastra Indonesia dengan Tim 8 dan 6 Bahaya

Tulisan yang terbit 16 Januari 2014 pada blog pribadi Jurnal Sunardian berikut ini ditulis oleh Sunardian Wirodono dan telah mendapat ijin beliau untuk diterbitkan ulang di blog ini. Sunardian pada tahun 1994-1997 bekerja sebagai designer program dan script-writer di PT INDOSIAR VISUAL MANDIRI, Jakarta. Tahun 2000 menjadi script editor di PRIMA ENTERTAINMENT, Jakarta. Tak lama kemudian, memilih kembali menjadi penulis freelance, dan bersama teman-temannya, mendirikan XMAL SINDIKASI Jakarta, rumah produksi untuk televisi program. Tapi ditinggalkan pada tutup tahun 2003, dan bersama teman-teman yang lain, mendirikan Equapro (Equality Production, 2003-2004) Jakarta, Direktur Operasional Kakipena Communications (Kinacom) Jakarta, dan terakhir Direktur Program Equality Communications Yogyakarta.

Sebelumnya bekerja sebagai: Redaktur Harian BERITA NASIONAL, Yogyakarta (1979-1980), Redaktur Artistik Majalah Berita Mingguan FOKUS, Jakarta (1980), Redaktur Majalah Perbukuan dan Pengetahuan OPTIMIS, Jakarta (1980-1984), Staf Peneliti pada Departemen Pengembangan Minat Baca Masyarakat, LEPPENAS/Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional, Jakarta (1981-1984), Reporter Budaya Harian SINAR HARAPAN, Jakarta (1983-1986), Redaksi Majalah Kebudayaan CITRA YOGYA, Dewan Kesenian Yogyakarta (1987-1988), Pemimpin Redaksi Tabloid PELUANG, Yogyakarta (1990), Wartawan Freelance (1990-1993), belajar Media Planning di Rotterdam, Belanda (1994). Pewawancara dalam acara Dialog Seni dan Kita, UNISI FM dan Yayasan Seni Cemethi, Yogyakarta (1999-2000).

Pekerjaan utama, menulis skenario sinetron dan beberapa acara non-drama, yang sebagian besar telah ditayangkan di hampir seluruh stasiun televisi, seperti Indosiar, RCTI, ANTV, TPI, SCTV, TV7, dan TVRI. Script dan sutradara “Rujak Cingur Asmuni” (SCTV, 1996), Script dan sutradara Video Biografi Djoko Pekik (TVRI Sta. Yogyakarta, 1999), Script Tabungan Sehat (ANTV, 2002), Script dan sutradara Komedi Metropolitan (ANTV, 2003), Script dan sutradara Mahkota Anda (ANTV, 2003), Script dan pengarah laku Es Campur Es (TV-7, 2003), Seorang Anak yang Marah pada Televisi (Equacom, 2005), Nurani Qurani (Jogja TV, 2007), dan Profil Sri Sultan HB IX (Jogja Library Center, Perpusda DIY, 2007).

Beberapa buku yang sudah ditulisnya: Lanskap Kota (Kumpulan Puisi, Karta Pustaka, 1980), Jakarta ‘kan Tenggelam Sebentar Lagi” (Kumpulan Puisi, Wiwara, 1984), Sri Sultan HB IX, Pemimpin Demokrat Indonesia (Yayasan Wiwara, Yogyakarta, 1988), Gerakan Politik Indonesia 1993 (Puspa Swara, Jakarta, 1994), Gerakan Politik Indonesia 1994 (Puspa Swara, Jakarta, 1995), Kanjeng Ratu Kidul; Biografi Politik (manuscript, 1996), Menemu Dunia (Semesta, Yogyakarta, 1999), Militerisme di Indonesia (LpiST, Jakarta, 2000), Menggugat Harmoni Gender (Bunga Rampai, Rifka Annissa, Yogyakarta, 2000), Pemukiman Layak untuk Rakyat (LpiST, Jakarta, 2000), Anonim, My Hero! (novel politik, Galang Press, 2004), Matikan TV-mu! (Resist Book, 2005), Menuju Bantul (novel, 2006 dicetak ulang 2008), Syair Panjang Aceh (Diva Press, novel, 2009), Restorasi Bukan Reformasi (Merti Nusantara, Biografi Budaya Sri Sultan HB X, 2009), Centhini : 40 Malam Mengintip Sang Pengantin (Diva Press, novel, 2009).

Ia juga sempat menjadi editor untuk buku: Getar Gender I; Perempuan Indonesia dalam Perspektif Sosial, Politik, Ekonomi, Hukum dan HAM (IndonesiaTera, 2004), Getar Gender II; Perempuan Indonesia dalam Perspektif Agama, Budaya, dan Keluarga (IndonesiaTera, 2004) dan membuat skenario untuk film Syahie Panyang Aceh (Depbudpar, 2006) serta memiliki aktivitas lain, yaitu sebagai penggerak Matayogya (Masyarakat Televisi Alternasi Yogyakarta).

_______________________________________________

Kontroversi penerbitan buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” tampak begitu marak di dunia internet akhir-akhir ini. Sontak menenggelamkan kehebohan sebelumnya, yang banyak dihiasi dengan pembicaraan tokoh sastra bernama Sitok Srengenge, berkait kasus pelaporan kekerasan seksual atas mahasiswa sastra Jerman, FIB, UI. Dua keriuhan itu, tetap saja bertumpu pada tokoh sastra, bukan karya sastra. Tulisan ini, ingin mendorong Tim 8, pemrakarsa terbitnya buku kontroversial itu, agar masyarakat pembaca pun bisa diajak serta, dan menjadikan sastra bukan hanya milik kaum sastrawan yang meributkannya.
Karenanya, tulisan ini juga hanya ingin berkonsentrasi pada penilaian atas buku itu, bukan pada hal-hal lainnya. Setidaknya, menurut hemat penulis, ada enam hal berbahaya yang harus dijelaskan pada publik sastra di Indonesia, berkait dengan buku itu. 

Enam Bahaya Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpangaruh” 


(1) Metodologi pemerian 33 tokoh sastra Indonesia dan proses penerbitan buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”, sangat berbahaya. Prosesnya yang tidak transparan dan unfairness (lihat complain Maman S. Mahayana yang kemudian menolak masuknya nama Denny JA dan bagaimana ceritanya tiket pesawat dari Korea Selatan akan diganti panitia, dll, serta pengakuan Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, yang mengatakan lembaganya tidak punya inisiatif atas hal itu). Antara kerja intelektual dan kerja tipu-tipu di sana (dalam istilah para penyair) berkelindan.
(2) Istilah ‘tokoh sastra’ dengan berbagai kriterianya, dan kemudian munculnya istilah ‘paling berpengaruh’ mengindikasikan ini sebagai proyek yang tendensius (terkait dengan point 1). Sesuatu yang sangat berbahaya, karena istilah yang superlatif itu, dalam pengantar pertanggungjawaban Tim 8 diuraikan secara inkonsisten, utamanya berkait 4 kriteria mereka sendiri tentang kepantasan ‘tokoh’. Apalagi mengingat masing-masing dari Tim 8 itu menulis dan memilih tokoh-tokoh pilihannya sendiri, kemudian disunting oleh satu dari delapan orang itu yang semua merupakan kegiatan terpisah, kecuali diskusi yang hanya dua hari meski dikatakan sampai berdarah-darah. Di sisi lain, istilah ‘tokoh sastra’ itu sendiri, agaknya dirancang sengaja untuk mereduksi kontroversi (yang toh tetap muncul, karena kita memang juga lebih suka ngomongin ‘tokoh sastra’ daripada ‘karya sastra’, dan akan menjadi debat kusir dengan memunculkan ranah ego dan etik).
(3) Penerbitan oleh Gramedia dan PDS HB Jassin, juga harus dilihat sebagai proyek yang tidak bertumpu pada ukuran sastra (atau apa pun) secara akademik. Senyatanya, PDS HB Jassin menyatakan merasa tidak dilibatkan. Dalam pengakuan PDS HB Jassin dinyatakan lembaganya tidak pernah memberikan penghargaan sedemikian besar kepada ke-33 tokoh sastra (yang termaktub dalam buku itu). “Kegiatan ini sama seperti kegiatan peluncuran buku pada umumnya. Kami hanya fasilitator tempat kegiatan dan buku-buku yang dibutuhkan oleh tim 8 sebagai bahan riset/penelitian,” seperti dikatakan Aryani Isnamurti. Sementara, masyarakat awam juga harus sadar, bahwa banyak buku dengan label diterbitkan oleh Gramedia (atau penerbit berkelas lainnya) tapi belum tentu berdasar seleksi redaktur mereka. Ada kepentingan bisnis komersial masuk ke sana. Sekarang ini, lazim penerbit bisa dibeli oleh penaja (sponsor) yang punya kepentingan. Praktik ini banyak dilakukan di Indonesia. Banyak buku biografi tokoh yang ‘membeli’ penerbit berkelas. Gramedia juga tak tabu melakukan hal itu. Ini berbahaya, karena siapa punya uang bisa membeli ‘pride’.
(4) Dalam pengantar dan juga promosinya, dikatakan bahwa buku “33 Tokoh Indonesia Paling Berpenaruh” juga di-endors sebagai buku teks sejarah sastra paling sahih sepanjang 100 tahun, adalah menunjukkan tendensi sebenarnya. Dan ini berbahaya bagi dunia sastra Indoesia itu sendiri di masa kini dan mendatang. Tampaknya, oknum-oknum yang berada di balik proyek penerbitan buku ini, punya ancas atau tujuan lain, yakni memakai sastra sebagai proyek ekonomi (mereka), semata dengan menumpang ‘nilai-nilai sastra’, yang juga akan mereka pakai sebagai lobi-lobi ke Kemendiknas sebagai buku wajib sekolahan, bahkan ke festival buku internasional (salah satunya di Munchen tahun depan). Berbahaya bukan hanya untuk dunia sastra, tetapi pada generasi mendatang dan peradaban Indonesia itu sendiri tentunya.
(5) Dua dari 33 tokoh itu (Goenawan Mohamad dan Remy Sylado) menyatakan keberatan, dengan gaya masing-masing. Hal itu menunjukkan persoalan superlatif yang hendak dipaksakan. Maman S. Mahayana yang tetep tidak setuju dengan terpilihnya Denny JA masuk dalam 33 tokoh sastra, juga masuk dalam kriteria ini. Dissenting opinion Maman S. Mahayana, bisa sebagai pintu masuk membongkar skandal proyek “33 Tokoh Sastra,…” itu.
(6) Secara keseluruhan, proyek penerbitan buku ini sangat berbahaya, karena dengan proses yang unfair (munculnya TIM 8 itu mewakili siapa, atas dasar seleksi seperti apa, siapa yang memposisikan mereka). Jika mereka memakai nilai kepantasan yang netral, maka ketika masuk ke ranah publik pun dengan sikap yang mestinya netral juga. Ketika kemudian mereka masuk ke ranah publik dengan istilah-istilah yang penetratif, seperti “paling berpengaruh” dan “paling sahih”, maka di sana akan muncul bahaya permanen, yakni pembodohan publik. Publik diberi doktrin, dogma, tetapi bukan sebuah uraian yang netral, sebagaimana kerja akademis yang mesti berimbang, fair, tidak berpihak, kecuali pada kedalaman analisis dan kejujuran akademis atau intelektualitas. Disamping 33 Tokoh sastra itu, disebut tokoh-tokoh lainnya, tetapi Tim 8 mengatakan “pengaruhnya tidak sebesar” 33 tokoh terpilih. Berarti ada pemeringkatan. Siapa nilai pengaruhnya yang paling kuat? Nomer satu, dua, tiga, dst? Apa pengaruh Ayu Utami di Indonesia, dalam bidang apa, seberapa, terus kemudian dibanding pengaruh Seno Gumira Ajidarma lebih besar siapa, atas ukuran apa, kenapa? Apakah pengaruhnya permanen lintas generasi, atau hanya pada jamannya? Apa saja pengaruhnya, bukti empiriknya, dan apakah referensi serta riset mereka meyakinkan? Sementara dalam pengantar buku itu kemudian di-endors (untuk kepentingan-kepentingan berikutnya dalam hal distribusi, penjualan) dengan mengatakan ini buku teks sejarah sastra paling sahih. Atas dasar apa? Mengapa tidak sekalian menyebar pooling ke publik dengan pertanyaan: “Siapa di antara tokoh sastra ini yang paling berpengaruh?” 

Perdebatan Dunia Maya dan Monolog Masing-masing Blog


Jika Tim 8 bisa menjelaskan 6 bahaya di atas, saya kira penerbitan buku ini akan melahirkan diskusi yang lebih produktif. Tentu saja dalam sebuah forum yang terhormat, entah dalam bentuk debat atau diskusi terbuka, atau berani membuat forum sebagaimana “Pengadilan Puisi” di Bandung 1974 dulu. Daripada hanya ribut dalam cyber-war (ini lebih sebagai himbauan untuk Tim 8), yang bisa berkembang kemana-mana. Misal, menurut berita terbaru Cecep Syamsul Hari, redaktur sastra Horison, mulai 16 Januari ini resmi mengundurkan diri berkait kasus buku “33 Tokoh Sastra Indonesia,..”. Apa hubungannya coba? Sementara keriuhan di dunia internet, dengan pembaca beragam, bisa memunculkan fanatisme-fanatisme baru yang sama-sama rapuh (mohon kalimat ini dimengerti dalam konteks sistem kerja pola rating/pemeringkatan top issue yang computerized dan updating secara otomatis berdasar volume netting di dunia internet,isadari). Riuh rendah di dunia internet itu, seolah menguatkan pendapat bahwa kehadiran seorang tokoh, bisa ditengarai dari begitu berjibunnya netting tentang hal itu di dunia maya. Karena memang itulah yang dipakai untuk ukuran, atau sistem pemeringkatan, pengguna media cyber. Sementara kita mati-matian membela bahwa dunia sastra lebih menggeluti nilai daripada jumlah. Sedang tak banyak yang mengetahu perbedaan antara nilai dengan jumlah. Dalam konteks ini, tidak ada maksud penulis untuk mengatakan apa yang riuh berlangsung di dunia internet (dunia maya) tidak layak diperhatikan, namun bagaimana menyelesaikan kasus ini, jika hal itu memang dipandang sebagai kasus atau persoalan? 
Apa yang dilakukan dalam Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir 1974 di Bandung, meski terasa sebagai ‘konyol-konyolan’, toh tak kurang HB Jassin sendiri (sebagai tertuduh dalam peristiwa sastra di Bandung itu) mengatakan bahwa pengadilan itu merupakan perangsang untuk menimbulkan kesungguhan dalam mencari kebenaran material.
Bahkan dalam tanggapan acara di Bandung, muncul beberapa makalah penanggap dari MS Hutagalung (Puisi Kita Dewasa Ini), Sapardi Djoko Damono (Catatan Atas Pengadilan Puisi dan Tuntutan Slamet Sukirnanto), dan pemikiran-pemikiran lain, yang kemudian semuanya itu dibukukan oleh Pamusuk Eneste dalam “Pengadilan Puisi”. Sapardi menganggap keputusan pengadilan puisi tidak dapat diterima, karena keberadaan majalah Horison tidak ditentukan oleh Slamet Sukirnanto. Baginya, Slamet Sukirnanto adalah korban kekocakan Darmanto Jatman. Dan adalah kaitannya langsung, dua bulan setelah peristiwa itu, majalah sastra Horison membuat teks lengkap Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachrie.

Banyaknya pembicaraan dan netting buku kontroversial ini di internet, justeru bisa dipakai sebagai bukti standar internasional mengenai top ranking issues itu. Bisa membola-liar dan membola-salju. Apalagi pertengkaran di dunia maya itu toh lebih merupakan soliloqui, karena hanya berbalas pantun dalam blog masing-masing. Bandingkan dengan Pengadilan Puisi yang kemudian mengantar pada fase itu, bagaimana majalah sastra Horison mengalami guncangan dan melakukan sedikit perubahan secara tidak langsung. Diskusi pada masing-masing blog, dengan masing-masing followernya, tentu saja tidak cukup sehat. Dan hal itu bisa kontra-produktif, karena siapa yang menengahi kalau masing-masing bicara sendiri-sendiri, tanpa mediasi? 
Apresiasi sastra kita, semestinya bukan hanya menjadi urusan kaum sastrawan saja. Intinya, ganyang pembodohan masyarakat dari buku-buku bodoh, yang diterbitkan atas dasar nafsu yang juga bodoh. Baik yang pro dan yang kontra, bertemulah, dan carilah bersama sumber material kebenaran itu.
Pertanyaan terpenting saya cuma: Berapa duit dihabiskan untuk proyek penerbitan buku ini, untuk apa saja, dan darimana duitnya. Namun mendapatkan jawaban atau tidak atas pertanyaan itu: saya tetap menunggu, bagaimana polisi menangani kasus pelaporan kekerasan seksual atas mahasiswa sastra Jerman UI bernama RW, 29 November 2013 lalu, yang sampai kini senyap. Meski pun kalau tokoh sastra mengotori, saya juga belum bisa berharap polisi membersihkannya, apalagi dengan pasal pecemaran nama baik. Ta(b)ik!

Denny JA, King Maker yang Tak Pernah Salah

Tulisan ini adalah salin-tempel dari tulisan Irwan Bajang yang terbit pada 6 Januari 2014 di blog pribadi Irwan Bajang, irwanbajang.com. Irwan Bajang adalah seorang penulis, blogger, dan Pemimpin Redaksi Indie Book Corner, Yogyakarta. Terbit ulang di blog ini telah mendapat ijin darinya.

=====================

Seno Gumira Ajidarma adalah seorang cerpenis dan jurnalis. Ia pernah menerbitkan buku Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara.  Di buku itu, Seno sedang ingin memberi sebuah solusi, bahwa sastra bisa menjadi cara ungkap akan fakta yang ada, fakta yang tabu disampaikan secara jurnalistik di era Orde Baru. Orde Baru menekan jurnalis dan media dengan represi. Jika mengancam, tangkap jurnalisnya, bubarkan medianya. Maka selain menampung kegelisahan para jurnalis, Seno ingin bilang bahwa sastra bisa menjadi solusi yang aman, sebab sastra—dengan caranya sendiri—lebih bisa menyentuh dan memperingati. Atau dengan alasan yang gampang, jika Suharto marah, seorang bisa berlindung dengan berujar, ini kan fiksi, Jendral.

Tentu saja maksud saya tak sesederhana itu. Ada banyak dimensi lain dalam dunia sastra yang bisa dipakai untuk membuat sebuah kritik. Memuat sebuah keluh kesah dan protes sekaligus. Jurus yang ditawarkan Seno tak semuanya terbukti aman. Dengan menulis fiksi satire, meskipun fiksi, seorang sastrawan bisa tetap diciduk, dibuang dan dipenjarakan. Sastra adalah cara lain berbicara tentang fakta. Di antara garis batas fakta dan fiksi itulah sastra bermain dengan cara yang unik. Dengan cara sastra.

Meskipun menulis cerpen dan lebih banyak berangkat dari temuan kerja jurnalistiknya di lapangan, cerpen Seno tetap tidak bisa disebut “Cerpen Jurnalistik”. Kumpulan cerpen Saksi Mata, Penembak Misterius tetaplah kumpulan cerpen, bukan kumpulan cerpen jurnalistik. Jurnalistik tetaplah jurnalistik dan cerpen tetaplah cerpen. Setahu saya, belum ada juga kritikus yang melakukan percobaan kritik dan menghasilkan sebuah genre “sastra baru” dari dua obyek tulisan tersebut. Dan saya rasa memang tak perlu ada. Karena Seno adalah cerpenis ketika menulis cerpen, dan ia adalah jurnalis ketika membuat tulisan jurnalistik. Kedua identitas itu berbeda dan tak bisa disatukan.

Hal ini senada dengan kemunculan dan populernya jurnalisme sastrawi. Jurnalisme ini tak bisa disebut sastra, meskipun ia mengkombinasikan tulisan jurnalistik dengan gaya penulisan sastra. Dua hal ini tidak sama. Kecuali kita membuat generalisasi ngawur tentang jurnalisme campur sastra, seperti kita mencampur bensin dengan oli, lalu memberi label baru “bensin oplosan”.

Penjelasan ini bagi saya cukup untuk menjelaskan di mana letak perbedaan karya nonsastra dan sastra. Termasuk esai dan puisi. Esai berjalan dengan caranya sendiri, ditulis dengan standar dan kaidah esai. Begitu pula dengan puisi. Menggabungkan puisi dan esai bisa saja dilakukan. Namun esai adalah esai, dan puisi adalah puisi.

Dalam karya sastra terdapat unsur fakta yang dibicarakan dengan cara fiksi, ini adalah kelebihan yang dimiliki sastra, sekaligus kekurangannya. Bagaimanapun sastra tak bisa dijadikan rujukan sahih atas sebuah fakta yang terjadi. Berbeda dengan karya jurnalistik, berbeda juga dengan karya esai yang cenderung beropini dengan menghadirkan rujukan referensi. Sekali lagi, puisi adalah puisi dan esai tetaplah esai. Fiksi sebagai landasan utama karya sastra tak lantas membuatnya hanya berisi imaji kosong yang datang tanpa alasan. Bukankah mustahil sebuah fiksi tak mungkin muncul begitu saja tanpa ada persentuhan si penulis dengan fakta di sekelilingnya?

Sutardji Calzoum Bachri memuji Denny JA dalam satu tulisannya yang berjudul Satu Tulisan Pendek atas Lima Puisi Panjang.  Tulisan ini ia alamatkan pada buku Atas Nama Cinta yang menghimpun 5 “Puisi Esai” karya Denny JA . Bagi saya, puisi esai adalah puisi pintar. Yang dengan berbagai data, fakta, argumentasi, bisa memberikan kepintaran bagi pembacanya untuk memahami dan menghayati persoalan-personal yang terkait dengan masalah atau konflik sosial.”

Bukan hanya Sutardji yang membahas puisi esai dengan catatan yang panjang dan serius. Ada puluhan sastrawan—yang kalau bisa atau mau disebut senior—menulis untuk mengapresiasi tulisan Denny JA. Puluhan nama lain bisa kita temukan di lomba resensi yang digelar untuk buku ini. Beberapa tulisan tersebut juga dimuat di Jurnal Sajak yang terbit setiap setiap bulan, diasuh oleh para penyair Indonesia. Juga tentu saja banyak puisi esai ditulis di sana oleh penyair. Semua tulisan tersebut muncul dalam waktu yang sangat pendek. Tak lebih dari setahun.

Sapardi bahkan menulis, Dalam kelima sajak yang dimuat dalam buku ini, Denny mengklasifikasikan semua itu dalam masalah diskriminasi. Setidaknya, itulah yang menjadikan gagasan dan karangan yang diberinya label Puisi Esai penting untuk dicatat dalam perkembangan puisi kita.”  Sebuah pujian yang mengharukan sekaligus bombastis. Penggalan akhir kalimat ini terpampang di sampul depan buku Atas Nama Cinta. Dan dalam waktu yang singkat, dengan caranya, Denny sudah berhasil menjadi sorotan—setidaknya bagi yang mau menyorotnya—dan bukunya menjadi ramai dibicarakan.

Denny JA bukan penyair, bukan juga sastrawan yang lama berproses dan dikenal di wilayah sastra. Tapi respons yang muncul atas karyanya lahir begitu deras dari para ‘begawan’ sastra Indonesia. Denny JA adalah sebuah fenomena sastra.

Tidak alamiah. Oh, tentu saja.

Saya ingat, sekitar tahun 2009, ada seorang penulis muda yang menerbitkan buku dan dia ngotot ingin mendapat endorsement dari Sapardi dan Sujiwo Tejo. Hanya endorsement  singkat. Mungkin satu dua kalimat pujian yang bisa ia taruh di sampul belakang puisinya sebagai alat promosi. Saya sudah bilang, mereka pasti sibuk dan tidak ada waktu untuk membaca puisi tersebut. Tapi karena kawan saya ini ngotot dan saya diminta membantu, maka saya harus memenuhinya. Sekaligus saya ingin membuktikan omongan saya. Saya penuhi permintaan  kawan saya ini. Saya kirim pesan di Facebook untuk Sapardi dan pesan singkat dari ponsel saya ke Sujiwo. Diawali dengan perkenalan diri dan menawarkan puisi kawan saya itu, saya meminta kesediaan Sapardi untuk membaca dan memberi komentar. Tebakan saya tidak meleset: maaf saya sedang sibuk banyak sekali pekerjaan. Sujiwo Tedjo? Tidak menjawab. Baiklah, terima kasih.

Dalam perkembangan sastra terbaru, setiap hari muncul banyak penulis baru, penulis yang bahkan sangat punya potensi untuk dibicarakan. Tapi fenomena sehat itu tak pernah terjadi. Dalam dunia puisi misalnya, ada Indrian Koto, Thendra BP, Ragil Sukriwul, Dea Anugrah, Rozi Kembara, Halim Bahriz,  Mario Lawi (dan beberapa deret nama yang saya tahu lainnya). Mereka menulis dengan ciri dan gaya masing-masing dan punya kecenderungan kuat. Kenapa karya mereka tidak diulas sedemikian rupa? Tidak diperhatikan banyak orang seperti memperhatikan Denny JA yang baru saja muncul? Sehebat apa tulisan Denny JA ini, tiba-tiba muncul dan mendapat tempat, dibicarakan dan bahkan mendapat legitimasi genre baru sastra Indonesia dari banyak pihak?

Dalam kariernya, Denny JA populer karena seringkali berhasil memprediksi kemenangan calon pemimpin dalam pilkada atau atau pemilu, sejak 2004. Ia adalah orang yang berani mengiklankan prediksinya di media nasional, bahkan 10 hari menjelang pencoblosan.  Denny JA diberi label King Maker oleh banyak media. Ia membantu kemenangan presiden dua kali (2004, 2009), 23 gubernur dari 33 propinsi seluruh Indonesia dan 51 bupati/walikota.  Ia memenangkan semua pemilu presiden langsung yang pernah ada di Indonesia ini. Ia memenangkan lebih dari 60% gubernur seluruh Indonesia. Melalui enterpreneurship-nya, ia membuat pekerjaan “konsultan politik” menjadi profesi baru yang sangat berpengaruh bagi politik nasional. Dengan prestasi prestisiusnya ini, hampir semua partai politik besar memakai jasa survei opini publik untuk hasil pemilihan yang maksimal.

Untuk apa Denny JA masuk ke ranah sastra? Kenapa Denny tidak hanya menjadi orang yang—misalnya—membuat penghargaan sastra, bikin perhelatan sastra yang besar dan acara lain yang bisa membuat banyak orang sastra berterimakasih padanya? Bukankah Denny adalah entrepreneur sukses selain juga adalah pesohor politik? Kekayaannya tidak akan habis hanya gara-gara mendanai acara semacam itu.  Jaringan politisi dan bisnisnya tentu juga akan banyak mendukung kegiatan itu jika Denny mau.

Kenapa Denny JA harus masuk di ranah penciptaan? Penciptaan sebuah karya. Apa pentingnya? Untuk apa Denny menjadi penyair, masih kurangkah jumlah penyair di Indonesia? Mungkin Denny sedang bermain di wilayah bisnis dan politik. Mungkin sastra hanyalah jalan. Dalam karier dan bargaining position  di dunia politik plus entrepreneurship, hal ini sangat penting bagi Denny JA.

Denny JA seperti pengakuannya dalam sebuah tulisan di Jurnal Sajak—di mana Acep Zamzam Noor menjadi Editornya—ia sedang melakukan branding. Membuat sebuah alamat bagi karyanya. Ia mengadakan survei terhadap puisi-puisi yang tayang di koran nasional, sample penelitianya adalah orang-orang yang diminta membaca dan menilai puisi Indonesia. Hasilnya, puisi Indonesia susah dipahami, terlalu tinggi di awang-awang. Lalu Denny membuat genre baru, persis di dunia bisnis; mencari diferensiasi produk, promosi dan marketing adalah ujung tombaknya. Ia memilih banyak nama yang bisa memacu majunya sebuah brand yang ia luncurkan. Produk barunya adalah Puisi Esai.

Jika iklan sampo antiketombe dibintangi oleh gadis terkenal di TV, cantik dan berambut indah, maka iklan rokok diwakilkan pada lelaki petualang yang perkasa. Karena Denny JA memiliki produk puisi/sastra, maka ia juga harus mencari artis-artis yang tepat; penyair terkenal, dramawan, sutradara, penyair, kritikus. Merekalah yang harus dijadikan simbol dan brand ambassador.Tak lupa juga alih media menuju film, teater, lukisan, dan tentu saja dengan artis yang berbeda. Ini adalah cara bisnis dan promosi produk yang tepat.

Hasilnya? Tentu saja sangat memuaskan. Denny adalah businessman yang tangguh. Sepuluh bulan sejak 7 Januari 2013, sejak diluncurkannya, http://www.puisi-esai.com telah diklik lebih dari 7 juta kali. Tentu saja ini bisa menjadi catatan “kuantitatif”—meminjam bahasa survei dan penelitian—berapa jumlah manusia yang berkunjung dan datang membaca sajaknya. Tidak alamiah? Tentu saja! Dengan membeli sebuah akun sajak dengan follower lebih dari satu juta, Denny JA mendekatkan karyanya kepada generasi paling terbaru, dengan cara yang sangat baru. Ia memperkenalkan karyanya lewat twitter, langsung dari genggaman tangan hampir semua manusia dan remaja kelas menengah Indonesia. Kemudahan akses untuk membaca puisi itu melalui jaringan twitter, ponsel pintar, dan internet adalah langkah pengenalan produk yang paling banyak dipakai para pengusaha di dunia.

Didukung popularitas seperti itu, tak heran jika banyak orang berlomba mengikuti sayembara yang dia adakan. Honor 50 juta adalah angka yang mencengangkan.

Seorang peresensi buku di koran membutuhkan lebih dari 100 kali dimuat untuk memperoleh honor sebesar hadiah lomba itu. Artinya, si tukang resensi tersebut harus membaca dan menulis lebih dari 100 buku dan dimuat lebih dari dua tahun tanpa bolong di rubrik resensi sebuah koran. Itupun kalau dimuat dan tidak ada saingan yang berarti. Itupun kalau koran tidak sedang punya berita atau iklan penting lain dan tidak menggusur rubriknya. Seperti nasib puisi, cerpen yang bisa tiba-tiba kosong karena digusur konten lain secara mendesak.  50 juta adalah angka yang menggiurkan bagi para peresensi. Maka ramailah hajatan itu.

Selain itu, karya Denny JA dibuat dalam bentuk film, puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta juga dibuatkan video pembacaan puisi, video klip yang melibatkan para sastrawan—dan budayawan—Putu Wijaya , Sutardji Calzoum Bachri, Niniek L Karim , Sujiwo Tejo, dan Fatin Hamama. Luar biasa. Tidak alamiah? Tentu saja. Mana ada dalah sejarah sastra Indonesia sebuah karya diapresiasi segegapgempita begini. Pernahkah karya Chairil Anwar, penyair paling populer di Indonesia diapresiasi sehebat dan sesemarak ini? Tidak mungkin. Untuk hajatan besar semacam ini, dibutuhkan banyak sekali dana. Tak ada orang yang mau gratis untuk membuat hajatan besar apresiasi seorang tokoh. Pun jika tokoh itu adalah tokoh pujaannya.

Kemunculan Buku 33 Tokoh Paling Sastra Berpengaruh di Indonesia dalam buku karya Jamal D Rahman dkk., ini menuai ribut dan polemik baru awal tahun. Denny JA melalui pengaruh Puisi Esainya masuk dan sejajar dengan nama-nama seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, Taufiq Ismail dan nama lainnya. Jika salah satu kriterianya adalah berpengaruh—yang diartikan juga pada bagaimana respons publik akan sebuah karya/nama—maka Denny JA tentu bukan nama yang salah. Paparan kegiatan yang diadakan untuk karya Denny ini sudah lebih dari sebuah kata berpengaruh. Denny JA sangat berpengaruh bahkan melebihi semua sastrawan yang pernah ada di Indonesia, jika tolok ukur ini dilihat dari jumlah buku yang terbit, ulasan, resensi dan kritik yang timbul karenanya. Pengaruhnya sangat besar sehingga membuat nama-nama di atas menyiapkan panggung, memberi ulasan dan dibaptis memilik sebuah genre khusus dalam dunia sastra paling kontemporrer; Puisi Esai. Ini baru namanya pencapaian!

Denny JA sebagai entrepreneur telah berhasil dan sukses memperkenalkan produknya. Maka mari kita ingat dan kembalikan, di mata Denny JA, sastra bukan lagi hal suci seperti yang dibayangkan oleh banyak sastrawan yang bergiat di dalamnya. Bukan tempat para pemikir berhati lembut yang peka situasi sosial lalu menulisnya dengan cerpen, puisi, atau novel yang layak didiskusikan. Sastra juga bukan pula jurnalis yang tak bisa menulis berbeda dengan ideologi media tempat ia bekerja. Bukan. Sama sekali bukan. Sastra bukan cara yang paling pas untuk membedah karut-marut kondisi sosial negeri ini. Bukan, bukan sama sekali.  Sastra bagi Denny JA adalah panggung hiburan, meja bisnis. Siapa saja bisa ia minta jadi brand ambassador produk Puisi Esai yang ia luncurkan. Ia bisa memilih siapa saja, mendepak kapan saja, seperti kapan saja iklan provider seluler bisa mengganti artisnya dengan yang paling populer.

Denny tidak sedang menjual apapun. Tidak pula [ia] berbisnis di dunia perbukuan yang kasihan dan kacau. Ia tidak mengharapkan uang dari jualan bukunya, bahkan Denny tak punya targetan mega best seller, biaya promosi yang ia keluarkan sudah sangat berlebihan. Tidak mungkin mengejar break even point dalam satu atau dua tahun. Denny mempromosikan buku puisi, bukan tutorial lolos UAN atau ujian STAN. Belum ada sejarah buku puisi melampaui buku-buku populer tersebut. Saya tahu Denny JA juga paham akan hal itu. Ia tidak berjualan buku. Ia sedang berjualan produk lain di balik bingkai Puisi Esainya.

Denny sedang membuat image pada rekan bisnis dan klien perusahaan konsultan politiknya. Mungkin ia hanya ingin bilang pada mereka: Hei, lihat, dunia sastra, kebudayaan, film dan puisi aja udah bisa kumasukin dalam waktu sekejap. Masih ragu bekerja sama dengan saya?

Kenapa ramai orang menyalahkan Denny JA? Ia hanyalah seorang yang sedang berbisnis. Itu haknya. Ia businessman, ia konsultan politik dan produknya adalah jualanan jasa. Mari kita anggap para punggawa sastra kita tak lebih dari sekadar artis iklan minuman kesehatan. Denny JA punya produk yang menjanjikan dan artis [sastrawan] kita mungkin sedang butuh uang.

Peran Polisi dalam Sastra Indonesia

Terbit di Harian Analisa pada tanggal 2 November 2014 di halaman 7, tulisan ini disalin-tempel mengikuti norma bagi-serupa dari blog pribadi T Agus Khaidir, aguskhaidir – Sekeranjang Tulisan Sekeranjang Ide yang dirilis pada hari yang sama dengan terbitan di Harian Analisa.

====================================

Polemik mengenai buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh ternyata belum selesai. Sempat sebentar mereda riuh-rendah karnaval opini menyoal “tersangkutnya” nama Denny Januar Adil (JA) ke dalam buku itu, yang oleh para pengeritik dianggap sungguh tak pantas berada di sana, polemik berkembang ke arah yang sama sekali tak diduga.

FOTO: FACEBOOK | SAUT SITUMORANG PENYAIR Saut Situmorang membacakan puisi pada acara Panggung Parade Seni dan Sastra bertajuk “Denny JA Bajingan! Stop Penipuan Sejarah Sastra”, di Bundaran UGM, Jogjakarta.

FOTO: FACEBOOK | SAUT SITUMORANG PENYAIR Saut Situmorang membacakan puisi pada acara Panggung Parade Seni dan Sastra bertajuk “Denny JA Bajingan! Stop Penipuan Sejarah Sastra”, di Bundaran UGM, Jogjakarta.

DUA pengeritik buku tersebut, yakni Iwan Soekri Munaf dan Saut Situmorang, diseret ke ranah hukum. Mereka dilaporkan oleh Fatin Hamama atas tudingan melakukan pencemaran nama baik. Iwan Soekri dilaporkan karena menyebut Fatin penipu, sedangkan Saut lantaran menambahinya dengan kata bajingan. Baik penipu maupun bajingan, sebenarnya, tidak pernah dilontarkan secara langsung kepada Fatin. Melainkan ditulis sebagai komentar dalam “diskusi” di laman sosial,Facebook dan Twitter. Bukan cuma pasal karet pencemaran nama baik, kata penipu dan bajingan juga dikaitpautkan dengan Pasal 27 ayat (1) dan (3) dalam UU ITE yang serba absurd itu.

Perkembangan mencengangkan ini mencuatkan satu tanda tanya besar. Sudah begitu gawatkah polemik berlangsung sehingga polisi perlu dibawa-bawa untuk turut campur tangan dalam menyelesaikan masalah sastra?

Sejak awal arah polemik ini sudah sangat jelas. Sama sekali tidak ada ideologi besar yang dipertaruhkan seperti halnya Lekra versus Manikebu. Persoalannya sederhana belaka. Yakni sekadar Deny JA. Mengapa namanya bisa disejajarkan dengan ke 32 sastrawan lain? Apakah satu buku puisi esainya sudah cukup layak untuk menggugurkan pengaruh Umbu Landu Paranggi atau Seno Gumira Ajidarma, misalnya? Sehebat apakah puisi-puisi esai Denny JA itu menghadirkan pengaruh hingga dapat memapas eksistensi para cerpenis legendaris macam Umar Kayam atau Hamsad Rangkuti?

Para pengeritik bukan asal melontar kritik. Sebaliknya mereka terlebih dahulu melakukan telaah-telaah mendalam terhadap puisi-puisi Denny JA. Dan hasilnya, menggunakan pisau teori apapun puisi dibedah, tetap saja tak ditemukan keistimewaannya. Tidak ada kedalaman makna lewat kecanggihan berbahasa seperti pada puisi-puisi Afrizal Malna. Tidak ada kejutan-kejutan yang menyenangkan dalam bingkai kesederhanaan rangkaian kata seperti pada puisi-puisi Joko Pinurbo. Puisi-puisi esai itu dinilai tak lebih dari sekumpulan kalimat yang diindah-indahkan, persis puisi remaja pecinta kelas teri yang dituliskan di lembaran buku diary. Bedanya, tentu saja, puisi-puisi Denny JA tersebut memiliki catatan kaki.

Maka para pengeritik pun mencurigai adanya konspirasi antara Denny JA dengan tim juri yang berjumlah delapan orang itu. Plus Fatin Hamama sebagai telangkai dan panglima talam, yakni “agen” yang menghubungkan konsultan politik itu dengan dunia sastra. Dan di antara para pengeritik, Iwan dan Saut memang terbilang yang paling keras bersuara. Terutama Saut. Penyair berambut gimbal ini menyebut buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh ini tiada lebih dari sekadar proyek sampah untuk menuntaskan hasrat megalomaniak seorang Denny JA.

Penyeretan Iwan dan Saut ke hadapan polisi membuat substansi pokok polemik ini jadi terjungkirbalikkan. Dari awalnya bersifat edukatif dan relatif intelek menjadi tindak kriminal kelas dua. Pelapor secara dramatis membesar-besarkan “efek samping”, yakni letup emosi pengeritik.

Sampai di sini, kecurigaan awal justru bertambah besar. Fatin Hamama, setidaknya dari sejumlah literatur dan pemberitaan, disebut sebagai penyair. Ia menulis dan membaca puisi dan lumayan sering hadir dalam festival sastra maupun pertemuan-pertemuan sastrawan. Jika “curriculum vitae” ini tak keliru, tentunya Fatin paham bahwa polemik dalam sastra tidak melulu berisi debat yang bersopan-sopan dengan kalimat-kalimat serba manis atau penuh metafor. Sering pula yang justru muncul adalah perang tohokan bernada sarkastis.

Dari masa yang paling lampau, tersebutlah polemik antara dua tokoh besar (dan memang sebenar-benarnya berpengaruh) dalam sastra di negeri terkasih ini, Chairil Anwar dan HB Jassin. Begitu getol dan sengit mereka berpolemik, konon Jassin pernah memukul Chairil Anwar. Tapi, toh, mereka tetap berkawan karib.

Di era polemik Lekra–Manikebu, Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis adalah musuh besar. Pemikiran, prinsip, dan ideologi mereka berseberangan satu sama lain. Tak terhitung banyaknya tulisan Pramoedya yang menghantam dan menyudutkan Mochtar Lubis, demikian sebaliknya. Namun hal ini tidak lantas membuat mereka saling benci secara pribadi. Seperti disebut politisi Panda Nababan dalam artikelnya saat masih menjadi wartawan Sinar Harapan, saat ia berkesempatan mengunjungi Pramoedya di Pulau Buru, orang pertama yang ditanyakan Pramoedya kabarnya adalah Mochtar Lubis. Begitu juga Mochtar Lubis, saat mengetahui Panda akan ke Pulau Buru, ia menitipkan beberapa pak rokok kesukaan Pramoedya.

Saut Situmorang sendiri bertahun-tahun “berperang” dengan Goenawan Mohamad. Ia membentuk Boemipoetra untuk melawan hagemoni elitis Komunitas Utan Kayu. Ia pun menyerang semua orang yang “dekat” dengan Goenawan. Mulai dari Hasif Amini, Nirwan Dewanto, Ayu Utami, sampai Sitok Srengenge. Namun bertahun-tahun “perang” -yang kadang-kadang menjurus brutal- ini berlangsung tanpa melibatkan polisi di dalamnya.

Belum lama juga pecah polemik lain terkait pemilihan buku sastra terbaik dalam Khatulistiwa Literary Award. Polemik melibatkan banyak orang, dengan lima pemain utamanya adalah Linda Christanty, Richard Oh, Damhuri Muhamad, Leila S Chudori, dan AS Laksana. Seperti juga Saut kontra Goenawan, polemik berkesudahan tanpa kehadiran polisi. Padahal aksi saling serang dalam polemik sengit ini juga melesatkan kata-kata yang jauh lebih tajam dan lebih kejam dari sekadar kata ‘penipu’ dan ‘bajingan’.

Fatin barangkali memahami hal ini. Tapi mungkin ia harus memaklumi Denny JA yang tidak mengerti. Dan mereka berdua agaknya sangat tahu bahwa polisi memang awam sastra dan akan memandang dan memperlakukan perkara ini serupa pengaduan pencemaran nama baik lainnya.

Di luar perkara yang menggelikan sekaligus menyesakkan ini, kiranya kita patut bersyukur Jokowi tidak mengangkat Denny JA jadi Menteri Pendidikan. Sebab jika demikian, bukan tak mungkin pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, selain tentu saja puisi-puisi esainya, akan ada bab khusus yang membahas tentang peran polisi dalam sastra. Dan kesimpulan dari bab ini adalah dilarang berpolemik karena hal itu bisa membawamu ke balik jeruji penjara.

Dimuat Harian Analisa
Minggu, 2 November 2014
Halaman 7

Catatan:
Dua baris pertama pada paragraf terakhir dalam tulisan yang dipampangkan di blog ini telah saya modifikasi sedemikian rupa, berbeda dengan tulisan versi awal yang dimuat di Analisa. Perubahan semata-mata untuk pertimbangan kebaruan. Tulisan ini dikirimkan ke redaksi Analisa sebelum Presiden RI Joko Widodo mengumumkan susunan kabinetnya.
Dalam versi awal saya menuliskan: “Di luar perkara yang menggelikan sekaligus menyesakkan ini, kiranya satu harapan layak diapungkan pada presiden kita yang baru. Semoga Jokowi tidak mengangkat Denny JA jadi Menteri Pendidikan.”
Saya ubah menjadi “Di luar perkara yang menggelikan sekaligus menyesakkan ini, kiranya kita patut bersyukur Jokowi tidak mengangkat Denny JA jadi Menteri Pendidikan.”

Liputan Acara Diskusi Sastra Menolak Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”

Video berikut ditaut dari kanal berbagi video YouTube yang diunggah oleh Andri Ketiw. Video ini adalah liputan dari diskusi sastra “Otonomi Sastra dalam Kuasa Modal” yang diadakan pada 26 Februari 2014 di Gedung Kesenian Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung. Acara diskusi sastra ini diinisiasi oleh UKM Pers Daun Jati Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung dengan pembicara Saut Situmorang, Nurudin Ashadie serta dimoderatori oleh Semi Ikra Anggara.

====================================

Tentang Penggiringan Opini Publik dalam Skandal Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

Berikut ini adalah tulisan Katrin Bandel, akademisi dan kritikus sastra Indonesia yang kini menetap di Yogyakarta. Tulisan ini disalin-tempel dengan kaidah bagi-serupa dari Jurnal Sastra Bawah Tanah Daring Boemipoetra. Versi yang diambil dari jurnal ini terbit pada tanggal 20 November 2014 yang merupakan naskah yang sebelumnya sudah dipresentasikan oleh Katrin Bandel di acara diskusi akademik “Denny JA dan Penipuan Sejarah Sastra Indonesia” yang diselenggarakan pada hari Rabu, 19 November 2014 di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada.

========================================

Perdebatan dan perselisihan adalah hal yang wajar dan sudah seharusnya di dunia intelektual, termasuk sastra. Namun kasus buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh sungguh di luar kebiasaan. Bukan saja kasus itu sendiri, khususnya penobatan Denny JA sebagai salah satu “tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh”, bersifat cukup ekstrim. Tapi ada hal yang sangat aneh dan tidak lazim terjadi dalam perdebatan di dunia sastra, yaitu diskusi intelekual antar sastrawan dan pegiat sastra seputar buku tersebut mendadak dibawa ke ranah hukum, serta disosialisasikan lewat media massa di luar konteks dunia sastra. Tindakan tersebut cukup memprihatinkan, sebab dalam sosialisasi lewat media massa tersebut terjadi usaha penggiringan opini publik yang cukup mencolok. Perhatian dialihkan dari substansi kritik terhadap buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh pada lontaran berupa kata “bajingan” dan “penipu” yang berusaha dilepaskan dari konteks perdebatannya, dan fokus digeser dari Denny JA pada Fatin Hamama. Maka dalam pembahasan ini saya akan berfokus pada permasalahan penggiringan opini tersebut.

Dua tuduhan utama terhadap Iwan Soekri dan Saut Situmorang adalah “pencemaran nama baik” dan “pelecehan seksual verbal”, yang kedua-duanya bukan dikemukakan di forum-forum yang terkait untuk didiskusikan, tapi diproses secara hukum. Tuduhan pertama dilaporkan ke polisi, sedangkan yang kedua diadukan pada Komnas Perempuan. Tindakan pengaduan secara formal semacam itu dapat dikatakan sangat tidak lazim, lebih-lebih karena dilakukan sama sekali tanpa lebih dulu berusaha mengungkapkannya lewat diskusi atau debat intelektual, entah secara langsung di forum di mana kata-kata yang dirasakan “mencemarkan” dan “melecehkan” itu dilontarkan, atau lewat medium lain, misalnya tulisan di koran atau di situs internet. Dengan demikian, kasus ini langsung dibawa ke ranah publik, keluar dari ranah perdebatan di kalangan pegiat sastra di mana bentrokan antara Fatin Hamama dengan Iwan dan Saut berawal.

Dengan melepaskan kasus itu dari konteksnya, penggiringan opini menjadi jauh lebih mungkin. Kalangan awam yang tidak mengikuti kritik terhadap buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh hanya akan melihat adanya kata-kata yang oleh banyak orang dirasakan kurang sopan, yang dilontarkan kepada seorang perempuan yang, dalam berbagai laporan di media maupun dalam pembelaannya sendiri, digambarkan sebagai orang baik-baik. Belakangan bahkan ditekankan statusnya sebagai istri dan ibu. Dalam berita atau tulisan lain tentang kasus itu, khususnya yang memihak pada Fatin Hamama, berbagai jenis tuduhan dicampur-adukkan: masalah kesopanan bahasa begitu saja disandingkan dengan istilah “pencemaran nama baik”, “penistaan”, dan “pelecehan seksual”, tanpa mendefinisikan apa yang dimaksudkan, dan tanpa membedakan satu sama lain. Dengan demikian, reaksi emosional spontan yang mudah timbul ketika orang membaca kata seperti “bajingan”, yaitu kesan bahwa kata seperti itu bersifat kasar dan tidak sopan, berusaha dimanfaatkan untuk menggiring pembaca sekaligus mengamini tuduhan pencemaran nama baik dan pelecehan seksual.

Berikut saya akan membicarakan kedua tuduhan utama yang dilontarkan, yaitu pencemaran nama baik dan pelecehan seksual verbal: apakah yang terjadi antara Iwan, Saut dan Fatin memang dapat disebut “pencemaran nama baik” atau “pelecehan seksual verbal”? Namun sebelum membahas kedua tuduhan utama itu, saya akan lebih dahulu membicarakan argumentasi yang mendasari kedua tuduhan itu, yaitu bahwa Fatin Hamama sejatinya tidak terlibat dalam kasus buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang kontroversial itu, sehingga penyerangan terhadapnya bersifat ngawur dan murni penghinaan pribadi. Hanya dengan dasar tersebut ungkapan yang dilontarkan Saut dan Iwan dapat diinterpretasikan sebagai pencemaran atau pelecehan: konon kata-kata “kasar” itu bukan dilontarkan sebagai bagian dari sebuah debat interlektual tentang sesuatu yang secara nyata dikerjakan Fatin di dunia sastra, tapi dihamburkan begitu saja tanpa alasan.

Apakah Fatin Hamama terlibat?

Fatin berkali-kali menekankan bahwa baginya kritik alias “penistaan”, “pencemaran”, atau “pelecehan” yang dialaminya sangat tidak berdasar dan tidak bisa ditoleransi, sebab dirinya sama sekali tidak terlibat dalam pembuatan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Dirinya konon dimaki bukan dalam fungsi tertentu atas karena kinerja tertentu, tapi murni sebagai penghinaan terhadap dirinya secara pribadi. Dengan demikian usaha kelompok yang sedang membela Iwan Soekri dan Saut Situmorang untuk mengembalikan permasalahannya pada perdebatan tentang buku tersebut dapat dikatakan bersifat manipulatif dan sengaja berusaha menyesatkan publik.

“Keterlibatan” yang dimaksud di sini bentuknya apa? Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat tergantung pada versi sejarah penyusunan dan penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang kita anut. Menurut versi yang ingin dipertahankan pihak Denny JA serta tim penyusun buku itu sendiri, yang terjadi adalah kira-kira seperti berikut: Sebagai kontribusi unik dan orisinalnya terhadap dunia sastra Indonesia, Denny JA memperkenalkan “genre” baru yang disebutnya “puisi esai”. Sastrawan-sastrawan lain terinspirasi olehnya, dan ikut menulis “puisi esai”. Maka atas dasar kontribusinya tersebut, Denny JA dimasukkan sebagai salah satu “tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh” ke dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Dan karena buku itu penting dan menarik, maka kemudian diresensi dan dikomentari orang. Memang, berbagai kegiatan itu – penulisan “puisi esai”, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, resensinya – didukung oleh pendanaan dari Denny JA. Tapi apa masalahnya? Bukankah pantas disyukuri bahwa ada orang kaya yang berbaik hati berkontribusi terhadap dunia sastra Indonesia?

Namun menurut versi yang lebih kritis, yang antara lain dikemukakan oleh Aliansi Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, tentu saja dalam rangkaian peristiwa itu banyak masalahnya. Kelewat lugu sekali kalau pendanaan tidak dipersoalkan, dan kalau kita tidak mempertanyakan asal usul perayaan terhadap “pengaruh” Denny JA yang demikian tiba-tiba. Bukankah tampak sekali betapa “pengaruh” itu diciptakan dengan sengaja lewat lomba berhadiah menggiurkan, dan dengan menawarkan honor dalam jumlah yang cukup tinggi untuk ukuran dunia sastra di Indonesia pada sejumlah sastrawan ternama agar mereka menulis “puisi esai”? Dengan kata lain, cukup jelas bahwa rangkaian peristiwa itu tidak terjadi “kebetulan” begitu saja, tapi ada skenarionya.

Keterlibatan Fatin akan tampak berbeda tergantung pada versi yang kita percayai. Menurut versi pertama, Fatin memang dapat dikatakan tidak terlibat. Alasannya sederhana: Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh disusun oleh Tim 8, dan Fatin Hamama bukan bagian dari tim itu. Fatin terlibat dalam mengurus proyek penulisan “puisi esai”, dan dalam pengadaan resensi atas buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (menghubungi penulis-penulis tertentu, termasuk Saut Situmorang yang menolaknya mentah-mentah, dalam rangka sengaja meminta mereka menulis resensi), namun menurut versi pertama ini, semua itu tidak ada hubungan langsungnya dengan buku kontroversial itu sendiri.

Namun menurut versi kedua, status Fatin sebagai editor buku-buku “puisi esai” yang, antara lain, bertugas untuk berurusan dengan para penulis yang sengaja dibayar untuk mempopulerkan “genre baru” tersebut, serta perannnya saat meminta resensi, jelas-jelas merupakan sebuah keterlibatan. Bukankah semua kegiatan itu saling berkaitan? Maka tanpa perlu berstatus sebagai penyusun atau editor buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, Fatin tentu saja bisa disebut terlibat.

Dengan demikian, tampak bahwa lewat argumen bahwa Fatin Hamama “tidak terlibat”, sebetulnya opini publik berusaha digiring sekaligus berkaitan dengan dua hal, yaitu 1., diyakinkan bahwa ada “ketidakadilan” yang dialami Fatin, dan 2., diajak mempercayai versi Denny JA/Tim 8 tentang status dan sejarah buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Bukankah menarik bahwa Fatin sama sekali tidak menyangkal keterlibatannya sebagai editor buku “puisi esai”, termasuk misalnya dalam kaitan dengan kasus pengembalian honor dengan alasan penulis menyadari betapa karyanya dimanfaatkan sebagai legitimasi penobatan Denny JA sebagai tokoh berpengaruh? Fatin juga tidak menyangkal bahwa dirinya giat menghubungi penulis-penulis yang diminta membuat resensi. Namun bersamaan dengan itu, dia bersikeras bahwa dirinya “tidak terlibat” dengan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Dengan demikian, secara implisit ditegaskan bahwa memang tidak ada hubungan antara kegiatan mempopulerkan “puisi esai”, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, dan penulisan resensi.

Maka jelas bahwa argumen tentang “tidak terlibat”nya Fatin Hamama mesti dipandang secara sangat kritis. Dari perspektif Saut Situmorang dan Iwan Soekri yang merupakan bagian dari Aliansi Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, Fatin jelas-jelas terlibat dalam kasus buku tersebut. Dengan demikian apa yang mereka utarakan terkait dengan Fatin, baik berupa kata makian atau tidak, merupakan bagian dari perdebatan intelektual seputar kasus buku tersebut, bukan penghinaan pribadi.

Apakah yang dilakukan Iwan dan Saut merupakan pencemaran nama baik?

Apa arti “pencemaran nama baik”? Sepemahaman saya, pencemaran nama baik umumnya berkaitan dengan fitnah. Cerita-cerita bohong (cerita yang tidak bisa dibuktikan) tentang seseorang disebarkan di ruang publik, sehingga reputasi (nama baik) orang tersebut tercoreng. Masuk akal kalau kasus semacam itu dibawa ke pengadilan, sebab keputusan pengadilan diharapkan menjadi bukti bahwa apa yang sudah telanjur menyebar tidaklah benar, sehingga reputasi korban pencemaran dapat dipulihkan.

Dalam kasus yang menimpa Saut dan Iwan, apakah ada cerita bohong atau tak terbuktikan yang disebarkan? Tampaknya tidak ada. Kasus yang dibicarakan sangat jelas, yaitu kasus buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, khususnya dalam kaitan dengan peran Denny JA dan Fatin Hamama. Protes lantang disampaikan oleh sangat banyak sastrawan, dengan argumen-argumen yang jelas, berdasarkan fakta seputar buku tersebut. Artinya, yang sedang terjadi ada sebuah perdebatan antara dua pihak, yaitu antara yang membuat dan mendukung buku tersebut di satu pihak, dan yang mengkritiknya di pihak lain. Kondisi ini tentu tidak bisa dibandingkan dengan kasus di mana secara sepihak cerita buruk tentang seseorang disebarkan, sehingga namanya tercemarkan.

Kata-kata “kasar” yang dipersoalkan, yaitu “penipu” dan “bajingan”, perlu dipandang dalam konteks tersebut. Kata itu tidak berdiri sendiri, tapi digunakan dalam konteks perdebatan yang sedang terjadi. Ketika kata “bajingan” dan “penipu” disebut, maka kata itu merujuk pada perdebatan yang sedang berlangsung secara keseluruhan, khususnya pada ungkapan sastrawan yang sama di tempat lain maupun lewat ungkapan kritis lain terhadap buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Ungkapan-ungkapan lain tersebut berupa penjelasan yang tegas dan eksplisit mengenai keberatan mereka dalam kaitan dengan kasus buku tersebut, dan dengan demikian bukanlah fitnah. Maka ”kekasaran” kata tersebut bukanlah tanda terjadinya fitnah, tapi sekadar merupakan bagian dari gaya ungkap tertentu.

Mengapa gaya ungkapnya seperti itu? Perlukah sesuatu disampaikan dengan kata yang, bagi sebagian orang, terasa kasar dan kurang sopan? Ini pertanyaan menarik yang memang tidak jarang muncul di dunia sastra Indonesia. Pertama, perlu ditegaskan bahwa gaya ungkap seperti itu sangat lazim dijumpai di dunia sastra, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, dan baik di dalam karya sastra maupun dalam pergaulan dan polemik-polemik antar sastrawan. Seandainya semua penggunaan kata “kasar” di dunia sastra Indonesia mau diperkarakan, sepertinya kepolisian dan pengadilan perlu menambah staf baru terlebih dahulu, saking membludaknya kasus yang akan perlu ditangani. Namun kedua, memang tidak semua orang di dunia sastra Indonesia menyukai penggunaan gaya ungkap seperti itu. Kritik terhadap gaya ungkap “kasar” tidak jarang disampaikan, dengan alasan utama bahwa gaya ungkap tersebut dirasakan kurang sopan. Dengan kata lain, sastrawan memiliki pandangan yang beragam mengenai penggunaan bahasa berkaitan dengan akhlak dan kesopanan.

Saya pikir, ini adalah persoalan yang sangat penting dalam kasus yang sedang dituduhkan pada Saut dan Iwan. Masalah akhlak harus dibedakan dari persoalan fitnah dan pencemaran nama baik. Sah-sah saja kalau ada yang berpendapat bahwa penggunaan kata “bajingan” menandakan akhlak kurang baik. Namun sejauh saya pahami, akhlak buruk bukanlah tindakan kriminal, sehingga tidak ada urusan dengan kepolisian.

Nama seseorang tidak tercemarkan hanya karena gaya ungkap yang dipakai untuk menyampaikan sesuatu tentang atau padanya, namun karena apa yang disampaikan itu sendiri. Maka kalau Fatin Hamama merasa namanya dicemarkan, seharusnya dia menunjukkan bahwa dalam kritik sastrawan-sastrawan yang keberatan pada buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terdapat fitnah, bukan malah berkonsentrasi pada penggunaan kata-kata tertentu yang kemudian diekspos di luar konteks.

Apakah terjadi pelecehan seksual verbal terhadap Fatin Hamama?

Apa itu “pelecehan seksual verbal”? Pelecehan seksual dapat didefinisikan sebagai tindakan yang menempatkan korban (seringkali, tapi tidak selalu, perempuan) sebagai objek seksual, dan membuatnya merasa dihina dan direndahkan. Bentuk verbalnya dapat berupa komentar seksis atau kasar tentang tubuh atau seksualitas seseorang, atau ajakan bernada seksual yang tidak diinginkan dan diutarakan tidak pada tempatnya. Sebagai sebuah tindakan kriminal, pelecehan seksual seringkali diperkarakan dalam konteks lingkungan kerja: Di wilayah di mana seseorang seharusnya dinilai berdasarkan kinerjanya dalam melakukan tugas-tugas profesionalnya, dirinya dipandang justru murni sebagai tubuh seksual.

Berangkat dari definisi tersebut, tuduhan Fatin (dan tanggapan positif dari Komnas Perempuan) terkesan sangat ganjil. Ungkapan mana yang menempatkannya sebagai objek seksual? Justru, seperti yang sudah saya bicarakan di atas, Fatin dikritik murni atas dasar kinerjanya, yaitu keterlibatannya dengan kasus buku kontroversial 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, di mana dia berperan sebagai editor buku “puisi esai” dan terlibat dalam usaha meminta orang lain meresensi buku kontroversial itu. Perdebatan seputar buku itu terjadi dengan melibatkan banyak penulis, baik laki-laki maupun perempuan. Persoalan gender sama sekali tidak berperan dalam hal ini, termasuk dalam hal kritik terhadap Fatin Hamama. Tidak ada unsur pelecehan seksual, seksisme, atau penghinaan padanya khusus sebagai perempuan. Seandainya yang ada di tempat Fatin kebetulan bukan seorang perempuan, tapi seorang laki-laki, apakah kritiknya akan berbeda? Saya yakin tidak.

Dalam pernyataannya seputar kasus tersebut di bulan Februari 2014 (di situs merdeka.com), Fatin Hamama memposisikan diri sebagai penyair yang memang terlibat sebagai editor dalam penerbitan “puisi esai”, namun menolak disebut perantara Denny JA. Terlepas dari setuju atau tidaknya kita dengan pembelaan dirinya tersebut, pemosisian diri itu sesuai dengan sifat awal perdebatan tersebut, yaitu diskusi antar sastrawan, di mana masing-masing dinilai atas dasar kinerjanya di dunia sastra. Maka sangat ganjil bahwa dalam pernyataannya yang lebih baru, yaitu tanggal 23 Oktober 2014, Fatin mendadak memposisikan diri sebagai korban kekerasan terhadap perempuan. Mengapa kata “penipu” dan “bajingan” yang dipakai Iwan dan Saut tiba-tiba dikaitkan dengan gender lawan debat mereka? Apa relevansi keperempuanan Fatin di sini? Dalam pernyataannya yang cukup panjang, saya sama sekali tidak menemukan penjelasan atas hal itu. Fatin marah dirinya dimaki. Namun bukankah dirinya dimaki atas dasar kinerjanya, bukan atas dasar gendernya atau seksualitasnya?

Apakah kata kasar dianggap otomatis menjadi pelecehan seksual ketika diarahkan pada seorang perempuan? Dan kata yang mana tepatnya yang dimaksudkan? Di samping kata “bajingan”, kata “mucikari” juga sempat dipersoalkan. Namun dalam konteks tersebut, sangat jelas bahwa kata itu dimaksudkan sebagai metafor, bukan sebagai penghinaan bernada seksual terhadap Fatin. Yang dikritik adalah pekerjaan Fatin yang mau-maunya ditugaskan sebagai editor puisi esai yang mesti merayu penulis lain agar bersedia menulis dengan genre aneh ciptaan Denny JA tersebut, dengan iming-iming honor yang termasuk relatif tinggi. Dengan kata lain, Fatin pada mulanya sepenuhnya dipersepsi dan ditanggapi berdasarkan kinerjanya di bidang di mana dia melibatkan diri, namun kemudian justru dirinya sendiri mendadak mengedepankan identitas gendernya, dan minta dipandang sebagai korban pelecehan seksual, ketimbang menjawab tuduhan yang diajukan padanya di wilayah intelektual.

Lalu bagaimana kita mesti menilai kata bajingan?

Pendapat mengenai penggunaan kata makian pasti beragam. Bagi sebagian orang, kata “bajingan” bersifat kelewat kasar dan tidak sopan untuk digunakan dalam sebuah perdebatan publik. Bagi sebagian orang yang lain, kata-kata makian seperti itu wajar-wajar saja digunakan. Bagi saya, kedua pendapat itu sama-sama sah, dan saya sama sekali tidak ingin mempersoalkannya. Niat utama saya dalam pembahasan di atas adalah memilah dengan jelas antara persoalan kesopanan bahasa dengan pencemaran nama baik dan pelecehan seksual. Seperti yang sudah saja paparkan di atas, ketiga hal itu sama sekali tidak sama, tapi harus dibedakan satu sama lain. Gaya ungkap Saut Situmorang, Iwan Soekri dan sejumlah kawan mereka memang kasar, namun yang mereka lakukan tidak dapat disebut tindakan kriminal berupa “pencemaran nama baik” atau “pelecehan seksual verbal.”

Sastra yang Mengundang Polemik

Berita ini disalin-tempel dari Koran Jakarta yang terbit pada tanggal 12 Januari 2014 hasil laporan Frans Ekodhanto.

=================================

Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia yang Paling Berpengaruh menuai kontroversi. Selain kriterianya dipertanyakan, munculnya nama seorang konsultan politik dalam buku ini juga dipertanyakan.

Tidak lama setelah kabar tindak asusila yang dilakukan oleh pelaku sastra berinisial “S”, kali ini, jagat sastra Indonesia kembali digegerkan dengan munculnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Buku setebal 734 halaman tersebut disusun oleh Tim 8 yang terdiri dari para sastrawan, yakni Jamal D Rahman (ketua tim), Agus R Sarjono, Ahmad Gaus, Acep Zam-zam Noor, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, Berthold Damshauser, dan Nenden Lilis Aisyah. Buku yang diluncurkan pada 3 Januari 2014 di Pusat Dukumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta Pusat, itu lantas mengundang pro dan kontra. Mereka umumnya mempertanyakankriteria pemilihan para tokoh sastra tersebut. Apalagi, dari ke-33 nama tersebut, terselip nama Denny JA yang selama ini lebih dikenal sebagai pengelola sebuah lembaga survei politik, sedangkan nama-nama lainnya memang merupakan sastrawan terkenal seperti Kwee Tek Hoay, Marah Rusli, Muhammad Yamin, Hamka, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, Achdiat Kartamihardja, Amir Hamzah, Trisno Sumardjo, HB Jassin, Idrus, Mochtar Lubis, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, dan Iwan Simatupang.

Menurut Damhuri Muhammad, terminologi buku paling berpengaruh tidak jelas ukurannya. Menurut dia, seorang sastrawan bisa saja dulu berpengaruh, tapi belum tentu sekarang. Dalam artian, pengaruhnya harus jelas, apakah untuk umum atau untuk penulisnya. “Kalau begini kan membuat nama 33 itu menjadi heroik. Kalau tidak menggunakan terminologi paling berpengaruh maka buku itu sah. Misalkan, 33 tokoh sastra yang produktif. Dengan demikian, tidak ada makna yang superlatif,” jelas cerpenis tersebut.

Damhuri juga menambahkan bahwa tim penyusun seharusnya punya metodologi dalam menentukan angka 33, apa dasarnya. Apakah mau menunjukkan kepahlawanan atau menunjukkan orang-orang yang berjasa di bidang sastra. “Menurutku, yang paling bermasalah ketika ada nama Denny JA. Dia memang pernah menerbitkan buku puisi esai, beberapa tahun lalu, akan tetapi puisi esai itu masih dalam perdebatan. Sesuatu yang masih dalam perdebatan, belum dikaji oleh peneliti, belum patut masuk dalam daftar itu,” tegasnya.

Kecaman juga datang dari Zen Hae. Menurut penulis buku Paus Merah dan Rumah Kawin tersebut, tim 8 telah melakukan semacam upaya kanonisasi sastra sebagai panduan menuju sastra Indonesia modern. Akan tetapi, dia tidak paham bagaimana mekanismenya, apakah dilakukan semacam survei kepada khalayak umum, seperti pelaku dan pengamat sastra, pembaca, pelajar, mahasiswa, dan lain-lain. “Artinya, komposisi/keterwakilan harus diperhatikan, demikian juga dengan idiologi, gender, dan aspek-aspek lainnya. Jadi membuat kanon itu harus banyak yang dipertimbangkan,” ujarnya.

Berdasarkan catatan pengantar Tim 8 yang termaktub dalam buku 33 tokoh tersebut dikatakan kemunculan nama-nama itu didasarkan atas beberapa pertimbangan, Pertama, karya dan/atau pemikiran sang tokoh. Yang dimaksud di sini adalah karya sastra (puisi, cerpen, novel, dan drama) dan pemikiran sang tokoh, baik pemikiran itu dikemukakan dalam karya sastra atau esai dan sejenisnya. Kedua, kiprah dan kegiatan sang tokoh. Ketiga, muara dari dua pertimbangan tersebut—yang dapat diperinci melalui sejumlah pertanyaan—adalah sejauh mana pengaruh sang tokoh khususnya bagi kehidupan sastra, dan umumnya bagi kehidupan sosial, budaya, dan politik di Tanah Air. (hlm xii-xxxiii)

Siapa Memilih Siapa

Ketika dikonfirmasi soal ini, salah satu tim penyusun buku tersebut, Maman S Mahayana, menjelaskan kronologi terbentuknya tim dan kronologi pembuatan buku. Dosen sastra Universitas Indonesia itu menjelaskan bahwa pada bulan Februari 2013, dirinya dihubungi Jamal D Rahman (juga Agus R Sarjono). Jamal menyampaikan bahwa PDS HB Jassin memintanya untuk menulis buku tentang sastrawan Indonesia (yang fenomenal atau tokoh sastra yang berpengaruh pada kehidupan bangsa). Tentu saja Maman menyambut baik ajakan itu.

Di sini, ada tiga hal yang tak dapat ditolaknya: (1) buku tentang tokoh sastra, (2) sahabat Jamal D Rahman, (3) PDS HB Jassin, lembaga yang sangat dihormatinya, seperti dirinya menghormati gurunya, Pak Jassin. Kemudian mereka bertiga berkumpul membincangkan hal umum tentang pentingnya buku itu. “Saya diminta membuat draf dasar pemikiran, kriteria, dan senarai 40-50 nama sastrawan penting untuk didiskusikan. Sebagai proyek PDS HB Jassin, saya berpikir segalanya akan lebih mudah karena bahan-bahan sudah tersedia,” tutur Maman.

Pada pertengahan Februari, Maman kembali ke Seoul, Korea. Diskusi dilakukan lewat e-mail. Jamal dan Agus juga mengirimkan senarai nama sastrawan menurut pilihannya. Pada 26 Februari, Jamal mengirim e-mail dan meminta dirinya berkumpul di Cisarua. Disebutkan dalam e-mail, “Kegiatan ini secara formal dilaksanakan oleh PDS HB Jassin. PDS HB Jassin telah memberikan mandat kepada Jamal D. Rahman untuk mengoordinasi kegiatan dimaksud.” Dikatakan pula, tiket Seoul-Jakarta-Seoul, akan diganti Panitia.“Wow keren, PDS HB Jassin bikin kejutan!” ungkap Maman dalam hati. Pada 1 Maret, dirinya dijemput Jamal di Bogor. Jamal bersama Ahmad Gaus. Menurut pengakuan Maman, itulah awal dirinya mengenal Gaus. Di Cisarua, sudah ada Berthold Damshäuserdan Agus R Sarjono, tetapi dirinya tak jumpa teman-teman dari PDS HB Jassin. Malamnya, penulis lain datang. Lengkaplah delapan orang. Diskusi dimulai dengan pembahasan dasar pemikiran dan kriteria. Segalanya berjalan lancar. “Kemudian memasuki pemilihan nama-nama, dari rencananya 25 nama, membengkak lagi jadi 30, lalu ada lagi tambahan hingga sampailah ke angka 33,” katakritikus sastra Indonesia itu.

Mengenai alasan mengapa 33 tokoh dan latar belakangnya, Maman menyampaikan bahwa memilih sastrawan-sastrawan penting dalam rentang waktu yang panjang memang sangat sulit. Dari rencana awal 25 membengkak 30 sampai 33 menunjukkan proses yang tak mudah. Setiap nama yang dimunculkan diikuti argumen dan berbagai hal sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. Nama-nama seperti Yamin, Alisjahbana, Chairil Anwar, Iwan Simatupang, Jassin, Pramoedya, Sutardji, dan beberapa nama lain, seketika mendapat aklamasi. Ada juga nama yang disepakati melalui proses perdebatan seperti Trisno Sumardjo, Idrus, Arief Budiman, Emha, dan beberapa nama lain. Tetapi ada dua nama disepakati melalui prinsip mayoritas. Kedua nama itu, Wowok Hesti Prabowo dan Denny JA.

Menurut Maman, dia satu-satunya yang menolak nama Denny JA. “Meski saya menolak konsep estetik yang ditawarkannya seperti yang pernah saya tulis di di salah satu media massa nasional, penolakan saya pada nama Denny JA bukan pada konsep estetik, melainkan pada pengaruhnya yang belum menunjukkan sesuatu yang signifikan bagi perkembangan sastra Indonesia serta kiprah dan kontribusinya yang masih harus kita lihat dalam tahun-tahun ke depan dan kepantasannya jika dibandingkan sastrawan lain,” ungkapnya.

Ketika ditanya kenapa tidak keluar saja dari tim buku tersebut? Maman berkilah, “Tentu langkah itu akan mencederai persahabatan,toh saya sudah terbiasa berbeda pandangan dengan teman, sahabat, bahkan dengan guru saya sendiri. Adapun angka 33 pada dasarnya pilihan,” ujarnya.

Maman menjelaskan berapa pun selalu akan ada pertanyaan yang sama. Misal, memilih 30 nama, mengapa 30 dan tidak 40 atau 50? Meski begitu, idealnya 10, tetapi jelas akan sangat sulit karena diperlukan data kualitatif-kuantitatif. Memilih 33 nama itu pun sebenarnya perlu data kuantitatif yang bisa dilakukan melalui pendekatan resepsi atau frekuensi kemunculan nama itu dalam sejumlah majalah atau surat kabar, atau bahkan juga bisa melalui angket. “Memilih 100 nama dengan data kualitatif sebenarnya lebih aman, tetapi akan menjadi buku yang sangat tebal dan perlu tambahan penulis lain,” ujarnya.

Yang menarik, ternyata penerbitan buku ini bukan gagasan dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Ariany Isnamurti, Kepala Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, secara tegas menyampaikan bahwa dirinya ataupun H.B Jassin tidak pernah memberikan penghargaan sedemikian besar kepada ke-33 orang tersebut. “Kegiatan ini sama seperti kegiatan peluncuran buku pada umumnya. Kami hanya fasilitator tempat kegiatan dan buku-buku yang dibutuhkan oleh tim 8 sebagai bahan riset/penelitian,” tuturnya.

Perempuan yang akrab disapa Bu Rini itu menjelaskan bahwa awal tahun 2013 dirinya dan ketua tim 8, Jamal D Rahman, memang sempat berbincang mengenai hal ini. “Kalau tidak salah pada bulan Maret 2013. Setelah perbincangan itu, saya dan Jamal tidak pernah lagi berbicara soal penerbitan buku itu. Lalu, pada November 2013, saya diminta untuk memberikan sambutan tertulis. Hanya itu, tidak lebih,” ungkapnya.

Terkait pelaksanaan acara dan pembicara, Ibu Rini mengaku dirinya diberikan dana oleh Jamal D Rahman, yaitu dana untuk mengurus konsumsi peluncuran, dana untuk honor pemateri, dan honorarium bagi dirinya sebagai penyelenggara serta para pekerja/pegawai HB Jassin.