Sastra dan Dekonstruksi

Dekonstruksi adalah suatu istilah yang kerap dikaitkan dengan Jacques Derrida meskipun Derrida sendiri agak ogah-ogahan dengan istilah tersebut (bdk. Zehfuss dalam Edkins dan Williams ed., 2010: 182) dan menyesal karena dianggap “menetapkan” takdir makna istilah dekonstruksi sebagaimana diamini orang-orang (Lawlor, 2006). Dekonstruksi sebagai suatu bentuk filosofi dianggap sesuatu yang radikal, ia menantang aliran filsafat yang sudah mapan (mis. Fenomenologi ala Husserl maupun Heidegger dan Strukturalisme ala Saussure), bikin masuk angin teolog (mis. karena tulisannya tentang Messianisme dan Abraham), buat geleng kepala namun salut sejarawan (karena tulisan sejarah selalu terbuka untuk diedit), tak ketinggalan setidaknya bikin kembung kalangan akademisi filsafat namun justru oleh sebagian orang dianggap menginspirasi gerakan sayap kiri, feminisme, skeptisme, dan poskolonialisme (cf. Sterne, 2004 dan Reynolds, 2010). Inti dari pemikiran Derrida lewat dekonstruksi adalah pengunjukan bahwa bagaimana bahasa telah memberi batasan dan kondisi bagi pikiran. Derrida mendobrak batasan tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada meaning dan hirarki di dalam bahasa yang diyakini tetap sebagai tetap melainkan terus berubah dan tidak tertentukan (undecidables) (Dorbolo, 2004).

Derrida berpendapat bahwa pemikiran Barat disusun oleh dikotomi oposisi biner dan ia menyebutnya sebagai ”metafisika kehadiran” atau dapat juga disebut sebagai “metafisika”. Dua penyusun oposisi biner ini bersifat saling berlawanan dan eksklusif satu sama lain namun ko-eksisten. Kata “siang” berlawanan dengan “malam”, kata “siang” tidak bisa menggantikan kata “malam” karena keduanya eksklusif dalam kediriannya, dan kata “siang” tidak signifikan jika tidak ada pembandingnya, yaitu kata “malam” (bdk. Lao Tzu, 1995). Lebih jauh lagi, Derrida melihat di dalam pemikiran Barat sejak jaman Plato bahwa di dalam oposisi biner tersebut ada peletakan tatanan hierarkis atasnya. Derrida melihat bahwa meskipun ko-eksisten namun salah satu istilah atau kata tersebut dianggap mempunyai derajat yang lebih tinggi dibanding lainnya; “siang” lebih bagus daripada “malam”, “kehadiran” lebih baik daripada “absen”, ”positif” lebih duluan daripada ”negatif”, dan bahwa “ujaran” lebih unggul daripada “tulisan” (Reynolds, 2010).

Perlu untuk dicatat, bahwa salah satu strategi dari dekonstruksi adalah pembalikan posisi dari hirarki oposisi biner (Reynolds, 2010). Derrida di dalam bukunya Of Grammatology mengkritisi keadaan pemikiran yang menyatakan bahwa ”ujaran” lebih baik daripada ”tulisan”. Ada dikatakan bahwa “tulisan” adalah bentuk representasi yang nilainya lebih rendah bila dibandingkan dengan “ujaran” karena apa yang dikatakan lewat “ujaran” merupakan keluaran yang langsung dari tubuh sehingga dianggap lebih dekat dengan pikiran asli (Selden dkk., 1997: 171-172) dan ”ujaran” sebagai simbolisasi realitas yang pertama menurut pemikiran strukturalis dikatakan lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan ”tulisan” yang merupakan simbolisasi dari ”ujaran” (Reynolds, 2010). Perlu diketahui bahwa pada pemikiran strukturalis, dikatakan bahwa kita hanya “mengalami realitas” namun tidak akan bisa mengetahui realitas-di-dalam-kesejatiannya. Untuk melihat realitas kita harus menggunakan simbol, kode, atau tanda. Simbol, kode, atau tanda bukanlah realitas namun “pengalaman akan realitas” terpaksa kita representasikan ke dalam bentuk simbol, kode, atau tanda agar realitas tadi menjadi diketahui. Dengan melakukan demikian maka pengertian memahami realitas adalah “mengetahui realitas lewat tanda dan sistem tanda”. Jikalau intensi representasi realitas yang harus ditransferkan muncul ”ujaran”, maka berdasar pemikiran strukturalis, ”tulisan” adalah bentuk derivasi kedua dari representasi akan realitas. Jadi urutannya adalah ”realitas” –> ”ujaran” –> ”tulisan”. Pemikiran demikian lalu menempatkan ”tulisan” jauh ketepatan dan kesesuaiannya dibandingkan ”ujaran” di dalam merepresentasikan realitas. Karena ”tulisan” merupakan simbolisasi dari simbol yang sudah lebih duluan (”ujaran”) (Lye, 1998; Reynolds, 2010). Argumen Derrida menentang pendapat tersebut. Derrida setuju hanya pada bagian bahwa baik ”ujaran” maupun ”tulisan” merupakan sistem tanda dan bukan realitas itu sendiri. Namun ia mempertanyakan pernyataan dari kaum strukturalis, khususnya tesis Saussure, yang menyatakan “the arbitrariness of the sign”. Jika tidak ada kaitan antara tanda dan yang ditandai maka ”ujaran” (yang merupakan sistem tanda) tidaklah bisa dikatakan lebih baik daripada ”tulisan”.

Derrida juga memunculkan istilah différance. Différance berasal dari bahasa Perancis yang mempunyai arti to differ (membedakan) dan to defer (menunda).  Sebagai contoh: ambil sign “mobil”. “Mobil” merepresentasikan “kehadiran” sesuatu itu di dalam “ketidakhadirannya”. Ketika sesuatu itu tidak dapat ditunjukkan, maka kita akan “menelusuri jalan memutar dari sign itu” (Derrida, 1982: 9). Kata “mobil” sebenarnya bukan mobil itu sendiri sehingga dapatlah dikatakan bahwa sign menunda “kehadiran” dan membedakan “kehadiran” dirinya dengan “kehadiran yang tidak hadir”. Ide mengenai différance mempertanyakan otorita “kehadiran” (Zehfuss, 2002: 200) sebab ketika sign dimunculkan maka timbul masalah lain. Sebuah sign di dalam suatu teks tidaklah bisa dikontrol oleh pencipta teks. Berdasar “the arbitrariness of the sign”, sebuah sign bisa merujuk kepada sesuatu yang berbeda dengan maksud dari pemuncul sign tersebut di dalam teks. Tidak ada jaminan bahwa rujukan yang sama atas sign itu bakal dimiliki oleh reseptor teks.

Ia juga menyatakan bahwa makna adalah sesuatu yang sangat labil. Pengertian-pengertian identifikasi dalam bentuk istilah-istilah semisal “perempuan” adalah sebuah fiksi yang menandai penetapan makna yang sifatnya sementara saja, parsial, dan arbitrer (Barker, 2005: 477). Dus memungkinkan pula kepada kita untuk “terus” mendeskripsikan ulang apa yang dikotakkan di dalam definisi istilah “perempuan” dalam suatu proses inversion (pembalikan posisi marjinalnya dihadapkan dengan “laki-laki”), displacement (penukaran letak pusat-nya menjadi “perempuan”), argumentasi kontra supplement (bahwa salah satu istilah dari oposisi biner adalah pelengkap dari istilah lainnya) (cf. Reynolds, 2010).

Derrida (dalam Selden dkk., 1997: 174) menunjukkan bahwa pembacaan terhadap tulisan atau teks berkisar pada tiga karakteristik:

  1. Teks adalah tanda yang dapat direproduksi di dalam ketidakhadiran tidak hanya pencipta teks di dalam konteks khusus, namun bahkan dalam ketidakhadiran referen.
  2. Teks dapat menunjukkan “konteks riil” dan dapat dibaca di dalam konteks yang berbeda meskipun berbeda dengan maksud pencipta teks. Rangkaian tanda yang ada di dalam teks dapat dibangunkan sebuah wacana di dalam konteks yang berbeda (sebagaimana terjadi di dalam kutipan).
  3. Teks menjadi sesuatu yang rentan “peruangan” dalam artian dua hal: (1) Teks telah terpisah dari teks-teks lain di dalam rangkaian yang khusus, (2) Teks terpisah dari “referen aktual” (sebab teks hanya dapat merujuk kepada sesuatu yang sebenarnya tidak hadir di dalam dirinya).

Secara umum, dekonstruksi dapat diartikan sebagai cara pembacaan teks yang “bukan metode atau alat yang bisa diterapkan pada sesuatu dari luar sana … [namun] adalah sesuatu yang  terjadi dan sedang terjadi di dalam” (Derrida dalam Caputo, 1997: 9). Dekonstruksi, sebagai pemikiran Derrida, juga kerap disebut sebagai filosofi hesitasi (Reynolds, 2010) karena setiap pilihan yang kita ambil, selalu tidak bisa kita justifikasikan (cf. Derrida, 1995: 70). Namun dekonstruksi bukanlah penghancuran makna teks dan tidak:

berlangsung melalui kecurigaan acak atau subversi manasuka, melainkan dengan cara menarik keluar dengan hati-hati kekuatan-kekuatan signifikansi yang saling berperang di dalam teks (Johson dalam Barry, 2010: 83)

serta dapat:

menuju ke suatu hubungan tertentu, yang tidak tertangkap oleh penulis, antara apa yang ia maksudkan dan apa yang tidak ia maksudkan pada pola-pola bahasa yang ia pakai … membuat yang kasatmata menjadi terlihat (Derrida dalam Barry, 2010: 83)

sebab setiap teks:

dapat dianggap mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang tampaknya ia katakan … teks dapat dianggap membawa signifikansi majemuk atau mengatakan banyak hal-hal yang berlainan, yang secara fundamental menegasi, menyangkal, atau mensubversi apa yang oleh kritik bisa disebut akan makna ‘stabil’ tunggal. … sebuah teks dapat mengkhianati dirinya sendiri (J.A. Cuddon dalam Barry, 2010: 83).

Sehingga penerapan dekonstruksi terhadap suatu teks, atau dalam konteks tulisan ini adalah teks sastra, dapatlah berorientasi sebagai berikut (Culler dalam Lye, 2008; Barry, 2010: 85):

  1. Penyingkapan ketaksadaran tekstual, bahwa makna yang diungkapkan mungkin berbeda dengan makna di permukaan. Atau dengan kata lain, membaca teks dalam rangka mencari bentuk pengkhianatan teks terhadap dirinya sendiri. Contoh pembacaan dekonstruktif ini dapat kita temukan pada karya Chairil Anwar “Aku”. Sajak “Aku” atau kadang disebut berjudul “Semangat” bukanlah bentuk sajak perjuangan yang tak kenal takut. Teks sajak “Aku” pada bagian akhir ada baris yang berkata: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Justru baris ini menjadi signifikan, karena dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa si aku menyesal telah tidak peduli akan peluru yang menembus kulitnya. Ia menyesal dan ingin hidup lebih lama lagi. Jadi sajak ini bukan bentuk kematian yang gagah berani; yang patriotik; yang sonder rajuk justru malah suatu penyesalan si aku karena telah terlalu gegabah sehingga kematian yang sebentar lagi datang membuatnya takut.
  2. Pencarian kata-kata yang sudah mati (atau sekarat) signifikansinya yang kontradiktif kemudian dikedepankan sehingga dapat membawa makna krusial bagi keseluruhan teks.
  3. Penunjukkan bahwa teks disifatkan oleh ciri ketidakpaduannya dan bukan keterpaduannya. Contoh pembacaan dekonstruktif ini dilakukan oleh Katrin Bandel (2006: 143-163) atas karya Djenar Maesa Ayu “Nayla” yang dapat dikatakan sebagai karya yang dibuat dengan benturan plot yang tidak logis dus suatu bentuk ketergopohan pencipta teks.
  4. Penunjukkan fragmen tertentu sebagai pusat analisis sehingga mustahil terjadi univokal pembacaan; yang terjadi adalah multiplisitas makna. Contoh yang bagus tentang ini adalah sajak Robert Frost “The Road Not Taken”. Pada bagian: And that has made all the difference, tidak bisa ditentukan dengan jelas apakah si traveller menyesal dengan pilihan yang telah dibuatnya atau tidak. Klaim bahwa yang benar adalah si traveller menyesalkan pilihan yang telah dibuatnya sebagai satu-satunya makna yang sah adalah labil vice versa.
  5. Pencarian pergeseran, patahan, retakan di dalam teks dan membuktikannya sebagai bentuk yang sengaja direpresi, dihapus, dilewati oleh teks.
  6. Pembuktian bahwa teks memiliki makna berbeda daripada interpretasi yang diterima sebagai benar atau primer. Contoh yang bagus adalah pembacaan dekonstruktif interpretasi primer terhadap novel karya Marah Rusli “Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)” oleh Aziz Abdul Ngashim (2010). Ngashim menunjukkan bahwa interpretasi primer selalu mengatakan bahwa Sitti Nurbaya adalah korban kawin paksa oleh orang tuanya. Di dalam tulisannya, Ngashim menggoncang interpretasi tersebut dus menyatakan bahwa justru Sitti Nurbaya mengorbankan dirinya sehingga dinikahi Datuk Meringgih agar bapaknya tidak dipenjara setelah gagal membayar utang. Ngashim lewat tulisannya juga menggugat sebuah keberterimaan umum bahwa kawin (di)paksa oleh orang tua adalah serupa kisah Sitti Nurbaya dan blunder umum tersebut berarti memfitnah ayah Sitti Nurbaya (yaitu Baginda Sulaiman) serta memelencengkan bentuk rela berkorban dan bakti orang tua sebagaimana diteladankan oleh Sitti Nurbaya.
  7. Pemfokusan bahwa sesuatu yang marjinal di dalam teks, semisal karakter non-utama, justru merupakan ‘pusat’ atau sesuatu yang ‘mengontrol’  seluruh makna teks. Contoh yang bagus adalah semisal pembacaan dekonstruktif terhadap novel “Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)”. Proposisi yang bisa dimunculkan adalah pergeseran status tokoh di dalam novel tersebut. Jika terketahui bahwa novel ini memiliki latar sosio-historis pemberontakan rakyat Padang terhadap Belanda karena kebijakan pajak. Maka pembacaan Faruk (1999: 48-49) yang menyatakan bahwa Samsul Bahri sebagai tokoh utama adalah bermasalah. Bagaimana tidak? Samsul Bahri-lah yang berada di pihak Belanda ketika terjadi pertempuran dengan rakyat Padang. Pun juga Samsul Bahri pula yang mengganggu istri Datuk Meringgih dengan berciuman di malam hari di salah satu fragmen novel tersebut. Datuk Meringgih adalah pahlawan (hero) sesungguhnya karena sokongannya kepada perjuangan melawan Belanda lepas dari cara liciknya mendapatkan Sitti Nurbaya sedangkan Samsul Bahri adalah pengkhianat negara dan perusak perkawinan orang sehingga lebih layak dia disebut sebagai penjahat (villain).

DAFTAR PUSTAKA

Bandel, Katrin. 2006.  “Nayla, Potret Sang Pengarang Perempuan sebagai Selebriti” dalam Sastra, Perempuan, dan Seks. Yogyakarta: Jalasutra.

Barker, Carlos. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktik, terjemahan Tim KUNCI Cultural Studies Center. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

Barry, Peter. 2010. Beginning Theory, Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya terjemahan Harviyah Widiawati dan Evi Setyarini. Yogyakarta: Jalasutra.

Caputo, John D. 1997. Deconstruction in a Nutshell: A Conversation with Jacques Derrida. New York: Fordham University Press.

Derrida, Jacques. 1981. Positions, terjemahan Alan Bass.  London: Athlone Press.

_____________. 1982. Margins of Philosophy, terjemahan Alan Bass.  Chicago: The University of Chicago Press.

_____________. 1995. The Gift of Death, terjemahan Wills. Chicago: University of Chicago Press.

Dorbolo, Jon. 2004. Jacques Derrida: Duality, Hierarchy, Priority. Diakses pada Kamis, 16 Juni 2011 pukul 6:59 WIB dari alamat laman:

http://oregonstate.edu/instruct/phl201/modules/Philosophers/Derrida/derrida_duality.htm

Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lawlor, Leonard. Wed 22 Nov, 2006. Jacques Derrida. Diakses pada Kamis, 16 Juni 2011 pukul 6:54 dari alamat laman:

http://plato.stanford.edu/archives/win2006/entries/derrida/

Lye, John. 30 April 2008. Deconstruction: Some Assumptions. Diakses pada Selasa, 7 Juni 2011 pukul 13:37 WIB dari alamat laman:

http://www.jeeves.brocku.ca/english/courses/4F70/deconstruction.php

Ngashim, Aziz Abdul. 2010. Jangan Fitnah Siti Nurbaya. Diakses pada Senin, 7 Juni 2011 pukul 11:45 WIB dari alamat laman:

http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/28/jangan-fitnah-siti-nurbaya/-12

Reynolds, Jack. 2010. Jacques Derrida (1930 – 2004). Diakses pada Kamis, 9 Juni 2011 pukul 16:40 WIB dari laman:

http://www.iep.utm.edu/derrida/


Selden, Raman; Peter Widdowson; dan Peter Brooker. 1997. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory Fourth Edition.  Hertfordshire: Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf.

Sterne, Jonathan. 2004. Some Simple Thoughts on Jacques Derrida (1930-2004) diakses 16 Juni 2011 pukul 6:31 WIB dari alamat laman:

http://bad.eserver.org/editors/2004/thoughts_on_jacques_derrida.html

Tzu, Lao. 20 Juli 1995. Tao Te Ching a translation by S. Mitchell. Dibaca 1 April 2011 pukul 10:30 WIB dari alamat laman:

http://academic.brooklyn.cuny.edu/core9/phalsall/texts/taote-v3.html


Zehfuss, Maja. 2002. Constructivism in International Relations: The Politics of Reality. Cambridge: Cambridge University Press.

__________. 2010. “Jacques Derrida” dalam Teori-teori Kritis Menantang Pandangan Utama Studi Politik Internasional, Edkins dan Williams ed. terjemahan Teguh Wahyu Utomo. Yogyakarta: Pustaka Baca!

Creative Commons License
Sastra dan Dekonstruksi by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Hypogramatic Reading on Tao Te Ching, Bible, and Koran

redeveloped 16 June 2012

The concept of hypogramatic reading was coined by Riffaterre in his book Semiotics of Poetry (1978). Hypogramatic reading is a reading which involves the propositional structure of the matrix of a text. The matrix itself “has an intertextual phrase—which the reader must discover—capable of generating one or more other texts. On the level of the whole text, this “intertext” plays the role of the object sign, relative to the subject sign of the matricial phrase of the primary text” (Hopkins, n.d.: 1).

This writing is going to propose the intertextuality between Tao Te Ching, Bible, Koran, and Derrida. I am writing this to follow what Barthes says as “I” that is actually a being constructed from texts (in Culler, 1981: 102) and what Bakhtin says as “I” is here rewriting itself (in Jay dan Rothstein, 1991: 20). There is nothing new but other texts that “I” has not read.

Talking about a re-new interpretation as the operation that this article is going to do cannot be separated from the concept of intertext possible absence in every interpretation. According to Riffaterre, a new interpretation may always be possible to happen when a reader gets the same text exposed or revealed by the presence of the new intertext. A new interpretation comes when a reader finds out that different prior texts he has not read give contribution to the new significance of the text that he previously read and decoded (cf. Legget, 2002: 223).

When talking about writing process, no man will be able to write without knowing what to write. He knows what to write and will write only what he knows. What he knows, ironically, comes from what he has read or taught before.  What he knows teaches him how to see things as we may call it as reality. Reality is not the thing as the way it is, but it is the thing that we see as we were taught (cf. Bardzell, 2009).

Let us start this journey with a quotation from Tao Te Ching about binary opposition:

When people see some things as beautiful,
other things become ugly.
When people see some things as good,
other things become bad.

Chapter 2

Binary opposition by nature will create reality as it has been stated by Lao Tzu:

Naming is the origin
of all particular things.

Chapter 1

Reality is made by our recognition of things. When a man recognizes a thing, he must have identified the opposite in the process. As deconstructionists say, the binary opposition becomes the real accepted picture of reality. This reality is different from the reality. Reality is constructed and institutionalized by language. It affects the way we see things.

Here is an example:

If there is a man, then what is not a man must be named as not-man –> woman.

If there is a positive, then there must be negative.

If there is yang, there must be yin.

This process never stops and affects us on how we see these binaries. Man is not woman, and woman is not man. This teaching is culminated from generation to generation.

Here is another example:

  1. If someone gives you two vertical lines, you will identify them as two vertical lines.
  2. But if someone gives you two vertical lines side by side, and on the top and the bottom of the lines are given two ellipses, you will see a picture of a cylinder.
  3. The question is; why don’t we see the picture as just simply two vertical lines and two ellipses? Why do we naturally see the picture as cylinder?

What we see from every thing is actually not the thing itself but rather the projection of prior texts that teach us how to see things. This is exactly the same point to what Barthes (1971, From Work to Text), Derrida (in Holcombe, 2007: 1), and Foucalt (in Barker, 2005: 105 – 106)  have already pointed out.

If we want to write something, we would write from those constructs of perception. When we write, we are using language. Ironically, language is never neutral and so is our perception. Language and perception, as the two examples above, are built from binary opposition and billion construct of definitions. We cannot use something outside the language to describe something and we cannot make our own definition when we see something. It happens to everyone who writes! So we can say that every writer is just a man who writes what he knows. What he knows is what he sees. What he sees is actually a projection to what he was taught about how to interpret things. If what the writer writes is just a projection, so to use Riffaterre’s argument (1978: 2), there must be predecessor texts that taught him. These predecessor texts give the writer the material and knowledge to his writing.  Or in other words, every text has its predecessor. A writer cannot make but reproduce the prior texts.

When a text’s significance is driven by other texts, we can say that there is intertextuality. Intertextuality happens because a text always depends on prior texts to get its significance. This is the nature of every text. Again as it has been explained in the previous paragraphs, intertextuality is truly the nature of every text and no text can escape from intertext (Porter, 1986: 34). The writer needs prior texts to make a new text. Thus every text needs  prior texts to gain its significance as one reads it (cf. Riffaterre, 1978: 7). The process to clarify the relationship between texts is  hypogramatic reading (Riffaterre, 1978: 2-7). Therefore, we have an assumption: If sacred books were inspired by God, while the means to manifest God’s teaching was language (because this teaching had to be written), so the interpretation itself will drive us into hypogramatic reading a.k.a intertextuality revealing.

Intertextuality does happen also in Tao Te Ching, Bible, and Koran(1). Their intertextuality is actually reproduced by deconstructionists (for this “idea” cf. Vargova, 2007) (2).

Let us first compare the first chapter of Tao Te Ching:

The unnamable is the eternally real.
Naming is the origin
of all particular things.

to the Bible, John 1: 1,

[in the beginning was the Word],

the word was with the God [= the Father],

and the word was a divine being

the translation is taken from McKenzie, p. 317(3)

and to the Koran 2: 29-33,

(29) It is He who created for you all of that which is on the earth. Then He directed Himself to the heaven, [His being above all creation], and made them seven heavens, and He is Knowing of all things.

(30) And [mention, O Muhammad], when your Lord said to the angels, “Indeed, I will make upon the earth a successive authority.” They said, “Will You place upon it one who causes corruption therein and sheds blood, while we declare Your praise and sanctify You?” Allah said, “Indeed, I know that which you do not know.”

(31) And He taught Adam the names – all of them. Then He showed them to the angels and said, “Inform Me of the names of these, if you are truthful.”

(32) They said, “Exalted are You; we have no knowledge except what You have taught us. Indeed, it is You who is the Knowing, the Wise.”

(33) He said, “O Adam, inform them of their names.” And when he had informed them of their names, He said, “Did I not tell you that I know the unseen [aspects] of the heavens and the earth? And I know what you reveal and what you have concealed.”

the translation is taken from http://quran.com/2

By comparing three versions of the construction of reality from the hypogramatic reading of Tao Te Ching, Bible, and Koran, we can conclude that there is intertextuality between those texts; the intertextuality of the concept of creation, of reality.

Tao Te Ching teaches that in the beginning there was: Tao the Great Mother (Ch. 6) and it gives birth to infinite worlds (Ch. 6). The characteristics of Tao itself are defined as follows:

Since before time and space were,
the Tao is.
It is beyond is and is not.

Chapter 21

The Tao is great.


The universe follows the Tao.
The Tao follows only itself.

Chapter 25

The great Tao flows everywhere.
All things are born from it,
yet it doesn’t create them.

Chapter 34

While in the Bible, in the beginning there was Word (John 1: 1). In Tao Te Ching, in the beginning was Tao. The name “Tao” itself is not the real name of such being. It is called as Tao to simplify the calling. In Tao Te Ching, the Power to Create, which is naming things, is also called as Tao. Tao gives birth to infinite worlds. World or reality from the first place was created by binary opposition naming; the process itself will give birth to infinite worlds. The world will always be recreated and the result of creation is the infinite worlds. The infinite worlds signify the concept of reality as coined by deconstructionists.

This will be the answer that has been a controversy from the translation of the Bible’s John 1:1 over centuries until now. If we take the translation from McKenzie as it has been quoted above, then the significance of John 1:1 is revealed quite easily by now.

By comparing three holy books regading the construction of reality; Tao Te Ching, Bible, and Koran, we can make a conclusion:

  1. Taking Tao Te Ching as the earliest text, then we can draw an interpretation.
  2. Yes, in the beginning there was The One or God or Father or Tao or Allah (we read from three books). The name of the first being itself was urgent because it was originally without name (as we read from Tao Te Ching).
  3. Then the first man was created, as we read from Koran.
  4. The first man was taught to identify things  (as we read from Koran) or the first man learned to differentiate things (binary opposition naming, as we read from Tao Te Ching). The power to name things needs Word or Logos or Tao. Word or Logos is not God as explained by Tao Te Ching that Tao (The mother of all things) is not Tao (The First Being).
  5. This power, naming things or differentiating things, will create infinite worlds (as we read from Tao Te Ching or Koran) and this power can be said as divine (as we read from Bible, John 1: 1) because it creates infinite worlds. The power that man has to create infinite worlds, for some points, is as similar as God’s.
  6. By taking this matrix, we will interpret that John 1:1 does not talk about Jesus = the Word = Logos. It simply declares the same thing to what the earlier text (Tao Te Ching) has said about the world and the worlds. The same idea is repeated by Bible (John 1: 1) and Koran (2:29-33). There is no Jesus in John 1:1!
  7. This matrix does not claim that there was no God. It claims that there was God in the beginning of the creation and God made Word or Logos. Word or Logos are divine. This also clarifies that John 1: 1 is not what as has already been interpreted or translated by most biblical scholars.
  8. This conclusion will be in coherence with other Bible verses such as: Matthew 27: 46, Matthew 24: 36, Matthew 26: 36, Mark 12: 28-29, Mark 16: 19, John 11: 41-42, John 14: 28, Luke 6: 12, Luke 10: 21, etc. and solve the puzzle.
  9. This conclusion is in accordance with the logical thinking in math that:

the first was X

X with Y

X is not Y

That is why Derrida says there is nothing outside the text [created by the language] (1967: 158-159). Our existence depends on words; language. Thats why Adam was taught how to differentiate things –> naming –> involving words after the creation of him. It also refers to Tao Te Ching; naming is the source of all things because naming implies differing. If you read the first stanza from Gospel of John, you will understand that actually The Word is not God but divine as some reputable biblical scholars interpret it. It is said as divine because naming needs words; the first word as the anchor, the other as the peripheral. These two words are needed to make distinction between ‘this’ and ‘thing which is not this’. They are co existence, as Yin and Yang. If you try to remove Yang, you will not see Yin there; vice versa.


Footnotes:

(1) As we all know, the oldest or the earliest book from these three books (Tao Te Ching, Bible, and Koran) is Tao Te Ching. The second is Bible, and the third is Koran. This kind of information can be obtained from these websites:

http://www.taoistic.com/

http://carm.org/when-was-bible-written-and-who-wrote-it

http://www.wsu.edu/~dee/ISLAM/QURAN.HTM

(2) the terms binary opposition, language creates reality can be traced back from Tao Te Ching, Bible, and Koran.

(3) multiple translations (or interpretations ?) of this verse can be compared on:

http://en.wikipedia.org/wiki/John_1:1,

http://simplebibletruths.net/70-John-1-1-Truths.htm,

Jesus as Θεός: Scriptural Fact or Scribal Fantasy?, and

But What About John 1:1?

Bibliography

Bardzell, Jeffrey. (2009). Two Takes on the Hermeneutic Circle. Accessed on Saturday, 16 June 2012 at 22:16 (GMT+7) from:

http://interactionculture.wordpress.com/2009/03/09/two-takes-on-the-hermeneutic-circle/

Barker, Chris. (2005). Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

Barthes, Roland. (1971). From Work to Text a translation by Stephen Heath © 1977.

Clayton, Jay dan Eric Rothstein (ed.). (1991). Influence and Intertextuality in Literary History. Wisconsin: The University of Wisconsin Press.

Culler, Jonathan. (1981). The Pursuit of Signs: Semiotics, Literature, Deconstruction. New York: Cornell University Press.

Derrida, Jacques. (1967). Of Grammatology. Paris: Les Éditions de Minuit.

Holcombe, C. John.  (2007). Jacques Derrida. Accessed on Monday, 9 May 2011 at 15:46 (GMT+7) from:

http://www.textetc.com/theory/derrida.html

Hopkins, John A. F. (n.d.). Michael Riffaterre Biography – (1924–2006), Semiotics of Poetry, significance, semiosis. Accessed on Monday, 9 May 2011 at 11:29 (GMT+7) from:

http://psychology.jrank.org/pages/2154/Michael-Riffaterre.html

Legget, B.J. (2002). “A Point of Reference for the Artist: Stevens and Flaubert”, Comparative Literature Studies, Vol. 39, No. 3, pp. 223-239.

McKenzie, John L. (1965). Dictionary of the Bible. New York: Macmillan Publishing Company.

Porter, J.E. (1986). “Intertextuality and the Discourse Community”, Rhetoric Review, Vol. 5, No. 1, Autumn 1986, pp. 34-47.

Riffaterre, Michael. (1978). Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.

Tzu, Lao. (20 July 1995). Tao Te Ching a translation by S. Mitchell. Accessed on Monday, 9 May 2011 at 11:46 (GMT+7) from:

http://academic.brooklyn.cuny.edu/core9/phalsall/texts/taote-v3.html

Vargova, Mariela. (2007). “Dialogue, Pluralism, and Change: The Intertextual Constitution of Bakhtin, Kristeva, and Derrida”, Res Publica (2007) 13: 415-440. DOI: 10.1007/s11158-007-9042-y © Springer.

Creative Commons License
Hypogramatic Reading on Tao Te Ching, Bible, and Koran by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.