Modus Cara Menutur dan Motif Penuturan: Pelotot, Potelot, dan Pelotot

Siapapun bisa dituturkan, diceritakan, dituliskan, dipotelotkan sebagai “orang baik” ketika pelototan sengaja diarahkan kepada “hal-hal baik”-nya saja dan dipilih sedikit “hal-hal buruk”-nya dalam rangka memanipulasi pembaca melalui ilusi struktur konvensional keobjektifan sebuah tuturan, tulisan.

Bagi kita yang dilatih untuk mem-perceive segala sesuatu secara objektif sebab dari situlah konon tolok ukur keberadaban sebagai manusia, hal-hal yang sifatnya deceptive di dalam kreativitas penuturan, penulisan dengan mengarahkan pelototan sebagaimana tersebut sebelumnya menjadi kajian yang menarik di dalam bagaimana teks-teks naratif dibangun dan dikokohkan di dalam narasi mainstream sebagai bagian dari proses sosiologis relasi kuasa ala Bordeauian atau bagaimana kuasa di-exercise-kan melalui teks ala Foucault.

Lepas dari objektivitas sebuah teks yang bisa dibangun atas kesadaran subjektif, keberterimaan teks juga tak bisa lepas dari kesubjektifan objektivitas. Dari situlah post-truth dan post-facts menari-nari dan bersaing di dalam semesta realitas yang terepresentasikan, dan terpaksa hanya bisa dimanifestasikan, melalui teks.

Saya tidak sedang berbicara dengan mengkhususkan mengenai gubernur sebuah provinsi di Indonesia yang bermasalah sejak awal mendapat durian runtuh hingga yang terbaru tentang bagaimana pihak yang berwajib “mengamankan” (silakan dibaca kata “mengamankan” dalam konteks bermakna ambigu) yang bersangkutan.

Saya juga tidak sedang bicara bagaimana media massa mainstream menenun narasi bahwa si gubernur seolah-olah hanya bermasalah dengan “kelompok agama tertentu yang intoleran, radikal, penuh dengan hate speech.” Tidak perlu disebut misalnya masalahnya sudah si gubernur pupuk sedari durian runtuh pertama ia nikmati. Tidak perlu disebut misalnya ada kelompok-kelompok lain dari “ideologi” lain atau bahkan dari kelompok agama yang disebut-sebut tersebut yang sangat moderat dan toleran namun melihat bahwa si gubernur sudah keseringan adigang, adigung.

Yang begituan biarlah yang mengurusi dan peduli politik untuk mencerapi.

Poin saya adalah narasi bisa ditenun dan “nature” dari narasi, text, adalah textus, tenunan. Tentu saja penenun narasi bisa mengusahakan tampil keobjektifan teks-nya, narasi-nya. Ia butuh menyelimuti teks-nya dalam mode kestandaran objektif supaya pembaca yang dibayangkannya; audience yang ditargetnya tidak melihat teksnya utuh sebagai sebuah modus propaganda. Di dalam penenunannya, tentu saja harus kita bayangkan bahwa ia tak bisa terhindarkan untuk mengolah bagaimana pelototan diarahkan ketika potelot ia mainkan dan bagaimana narasi buatannya kelak ia bayangkan hendak dipelototkan di dalam sumuk sesak narasi-narasi lainnya.

Paham mengenai ini membuat kita menyadari bahwa seorang perompak bajingan bisa saja saya potelotkan sebagai seorang ksatria berbaju zirah putih yang baik hati. Saya bisa kurangi bagian keburukan-keburukan di dalam potelotan saya dan saya kuatkan bagian-bagian yang membuat perompak bajingan yang saya potelotkan tampak seperti santo saya berikan porsi segede gaban.

Every single empire in its official discourse has said that it is not like all the others, that its circumstances are special, that it has a mission to enlighten, civilise, bring order and democracy, and that it uses force only as a last resort. And, sadder still, there always is a chorus of willing intellectuals to say calming words about benign or altruistic empires.

Edward Said, “A Window on the World” (2003)

Begitu juga jangan heran misalnya pelotot, potelot dan pelotot naratif mengenai proyek besar imperialisme modern dan kapitalisme yang butuh perluasan dan pengembangan pasar dengan tudung demokratisasi menuansakan pembebasan dan kebaikan-kebaikan sedangkan pihak yang dijadikan subjek kuasaan disituasikan di dalam narasi sebagai penuh borok dan butuh disembuhkan. Narasi tersebut mengarahkan pelototan pada bagian-bagian yang dipilihkan untuk mengkonstruk sebuah frame sementara mengaburkan bagian-bagian lain —pada beberapa kasus malah ditelusupkan laporan dan atau data palsu di dalam narasi— di dalam lentuk lincah hasil goresan potelot kemudian dipelototkan kepada publik sembari lewat kuasa jaringan, relasi kuasa, secara rapi meminggirkan narasi yang tidak menguntungkan.

Demikian.

Languange and Beingness

Menarik memang ketika berbicara tentang bahasa. Saya tersulut lagi untuk mengupas tentang bahasa oleh suatu hal yang terjadi pagi ini. Pagi ini, ketika saya mencari obat sakit kepala di warung langganan, saya terperangah dengan celetukan seorang tua ber-etnis Jawa.

Ia berkata, kurang lebih, seperti ini: “Jangan ajari anakmu bahasa Indonesia nanti bisa-bisa anakmu tidak bisa menunduk[i]”. Seketika itu pula sebagaimana di dalam kisah-kisah Zen yang banyak menceritakan “pencerahan mendadak”[ii] atau sebagaimana Umar r.a.[iii] memeluk Islam karena sentilan pendek: “bagaimana jika kebenaran ternyata ada bukan di apa yang kamu yakini?”[iv] Ya, saya tersentil dengan kalimat seorang tua ber-etnis Jawa itu!

Bahasa memang membentuk realitas. Realitas tidak mungkin berada di luar bahasa.[v]Yang saya maksudkan realitas adalah bukan material yang terpetakan oleh indera normal kita namun adalah “persepsi kita akan realitas yang bersama kita”. Oleh sebab itulah dapatlah saya katakan bahwa beingness adalah selalu being with others[vi] yet situated by languange. Tidaklah mungkin I menjadi being kecuali tersituasikan oleh others dan bahasa.

Why Learn a Language (credit: uncp.edu)

Why Learn a Language (credit: uncp.edu)

Mengapa bisa demikian dan apa kaitannya dengan celoteh mencerahkan dari seorang tua yang saya temui di warung? Ilustrasi-nya adalah sebagai berikut[vii]: Jika seseorang dunianya dibentuk oleh bahasa Indonesia yang dipuji karena egality-nya maka perspektif I, Me,[viii] dan Others-nya akan datar. Ini niscaya berbeda jika seseorang dididik oleh bahasa Jawa yang memiliki unggah-ungguh.[ix]

Maksudnya? Ingat bahwa ada permainan unik antara self dengan kasunyatan. Masih ingatkah bagaimana saya pernah mengutip Mario Pei mengenai istilah salju yang banyak luar biasa oleh suku eskimo? Dan tahukah bahwa orang Jawa punya istilah aking, sega, beras, gabah dan bukan hanya rice saja? Mereka yang berkompetensi[x] bahasa Jawa akan bisa melihat “dirinya yang bersama dengan sekelilingnya” dengan seperangkat set rujukan yang berbeda. Pada contoh “menunduk kepada yang lebih tua” kompetensi rujukan bahwa Me harus merespon hadirnya others yang lebih tua dengan unggah-ungguh bahasa hanya dan hanya bisa terjadi pada mereka yang dididik bahasa Jawa. Pemaham dan pemakai bahasa Jawa akan melihat orang yang lebih tua dengan cara yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang berbahasa Indonesia: ada rasa penghormatan, takzim, respecting and honouring.

Isu di dalam tulisan ini bisa melebar makin jauh kepada bagaimana seseorang melihat dunia. Potensi perbedaan mengkonstruk kasunyatan oleh setiap orang niscaya muncul ketika disadari bahwa frame of references personal adalah berbeda. Menarik bukan?

Creative Commons License
Languange and Beingness by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.


[i] Menunduk = berperilaku sopan

[iii] Salah satu sahabat Muhammad saw. Khalifah kedua selepas Abu Bakar r.a. di dalam sejarah Islam.

[v] Di dalam ucapan Derrida:

“all those boundaries that form the running border of what used to be called a text, of what we once thought this word could identify, i.e. the supposed end and beginning of a work, the unity of a corpus, the title, the margins, the signatures, the referential realm outside the frame, and so forth. What has happened … is a sort of overrun that spoils all these boundaries and divisions and forces us to extend the accredited concept, the dominant notion of a ‘text’ … that is no longer a finished corpus of writing, some content enclosed in a  book or its margins, but a differential network, a fabric of traces referring endlessly to something other than itself, to other differential traces”. (Derrida, Living On/Borderlines, hlm. 81; 83-84).

“An ‘internal’ reading will always be insufficient. And moreover impossible. Question of context, as everyone knows, there is nothing but context, and therefore: there is no outside-the-text” (Derrida, Biodegradables, hlm. 873).

[vi] Istilah being with others sebenarnya merujuk kepada pemikiran Martin Heidegger. Others tidak merujuk kepada human saja namun semua yang di sekeliling I.

[vii] Tulisan ini bukan provokasi pembenturan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa. Dalam konteks tulisan ini, rujukan prolog adalah kepada konsep Hermeneutics Circle oleh Hans-Georg Gadamer. http://plato.stanford.edu/entries/hermeneutics/

[viii] Untuk terminologi I dan Me silakan baca teori George Herbert Mead.

[ix] dididik oleh dan bukan dididik dengan karena alasan yang akan terjelaskan di paragraf-paragraf  selanjutnya. Bahasa itu mengajari dan mengatur konstruk realitas.

[x] Menarik juga untuk merujuk kepada istilah Chomsky: competence vs. performance. Akan tetapi di dalam konteks tulisan ini, isu-nya menjadi bagaimana konstruksi persepsi realitas (performance) yang didasari seperangkat atribut di luar dirinya namun menjadi rujukan self (competence) berlaku.