Mari Merujuk: Hujah dan Ishlah

Syahdan rasulullah (saw. demikian salutasi seterusnya diberikan dalam tulisan ini kepada beliau) tertawa mendengar argumen Amru bin Ash. Karena udara sangat dingin maka Amru bin Ash yang saat itu mendapat junub tidak melakukan mandi besar namun hanya bertayamum. Tidak hanya itu saja, Amru bin Ash bertayamum untuk mengimami sholat subuh[1]. Amru bin Ash dibenarkan oleh rasul karena ia merujuk kepada salah satu ayat di dalam Quran.

Kisah serupa ini bisa kita dapatkan pula pada beda pendapat di antara dua orang yang bareng berpergian dan lalu berbeda pandangan mengenai pengulangan shalat disebabkan sudah diketemukannya air selepas keduanya sebelumnya shalat dengan bertayamum[2]. Pada kisah dua orang tayamum ini, rasul menenangkan mereka bahwa keduanya meski berkesimpulan berbeda namun tetaplah keduanya mendapat balas kebaikan dari Tuhan.

Kisah perbedaan pendapat serupa dua cerita tersebut di atas terjadi pula pada kisah rombongan yang menuju ke perkampungan Bani Quraizhah,[3]kisah Ibnu Mas’ud dengan seseorang yang berbeda cara membacanya Quran,[4]dan kisah Amirul Mukminin Umar bin Khaththab yang hendak meneruskan perjalanan ke Syam atau hendak kembali ke Madinah.[5] Serupa kisah-kisah tersebut dapat dilanjutkan kepada kisah Imam Ahmad dengan Imam Syafi’i juga Imam Ahmad dengan ‘Ali bin Madini pada perbedaan di antara keduanya dalam suatu hal.[6]

Perbedaan pendapat kerap terjadi, atau katakanlah kadang terjadi. Perbedaan pendapat ini asal bukan karena didorong hasrat untuk harus menang namun dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan maka akan menghasilkan penyelesaian yang sama-sama diterima. Sama-sama ikhlas,  berkepala dingin, maka akanlah sampai pada penyelesaian yang menyejukkan.

Di dalam konteks beragama, perbedaan pendapat mungkin tidaklah pas disebut sebagai rahmat.[7] Memang perbedaan pendapat adalah potensial terjadi sebab setiap orang memiliki rujukan yang berbeda: beda keilmuan, beda latar belakang, beda pengalaman, dan beda pemahaman. Namun perbedaan yang ada ketika memang dimulai dengan bukan keinginan -nafsu- untuk selalu menang dan selama kemudian dikembalikan kepada Quran dan Sunnah maka yang muncul adalah kearifan. Semua disebutkan menjadi pemenang di hadapan Tuhan sebagaimana kisah dua orang tayamum.

Perkara jadi ruwet saat perbedaan pendapat di dalam beragama kemudian dijadikan ajang kepintaran dan kepopuleran. Bukankah Imam Syafi’i yang terkenal dengan keilmuannya dan banyak jumlah pengikutnya tidak mau berpegang teguh kepada pendapatnya ketika pendapatnya menyelisihi hadist yang sahih?[8]Tidakkah kita terpesona pada kisah betapa geramnya Imam Syafi’i yang hendak dibenturkan pendapatnya pada suatu hadist kecuali untuk dirinya tidak menyelisihi hadist yang sahih?[9]Bahkan beliau juga berpesan untuk meralat segala pendapatnya ketika menyelisihi hadist sahih baik semasa beliau hidup atau ketika beliau sudah meninggal.[10]

Memang selepas kekhalifahan tiada lagi -semenjak Turki berhasil disekulerkan Kemal Attaturk dengan alasan modernisasi dan juga kemajuan- perbedaan pendapat di dalam menafsirkan dan menerapkan suatu hukum dari skriptur menjadi semakin banyak. Tidak ada pelegitimasi ke-mainstream-an suatu tafsir. Ini mengejawantahkan apa yang dikatakan oleh rasulullah saw. mengenai jumlah yang banyak namun tersebar dan terombang-ambing seperti buih di lautan.[11]Sebagian besar orang seakan-akan bisa dan boleh berbeda pendapat. Entah karena meyakini ‘menjadi berbeda’ sebagai rahmat atau sudah tekooptasi pikiran mengenai kebebasan berpikir. Konon yang demikian disebut sebagai pencerahan, bukan kejumudan, transgresi pemikiran, kontekstualisasi, atau penafsiran ulang. Semua menjadi berhak memiliki penafsiran skriptur versinya masing-masing. Atau entah karena godaan menjadi abadi begitu memukau: dikenal banyak orang dan nama menjadi terpatri bersekian generasi.

Perdebatan dan perselisihan demi kemenangan serta kebutuhan membarukan pada sesuatu yang sudah jelas hujahnya menjadi wabah mencandukan. Keketatan, atau kadang digunakan istilah puritanisme,[12]di dalam bentuk ritual yang merujuk misalnya pada surat Al Bayyinah kemudian menjadi perdebatan sampai sejauh manakah suatu kegiatan peribadatan dianggap sebagai hanya ritual. Perselisihan bahkan hingga meluas pada sesuatu yang memang pernah diwanti-wantikan oleh rasulullah mengenai bid’ah di dalam beribadah karena tidak ada kesepahaman mengenai istilah bid’ah.[13]Adakah memang bid’ah hasanah mencakup segala hal yang dianggap baik di mata manusia? Adakah memang urf yang tersepakati baik kemudian berhak dilabelkan sebagai sesuatu yang sah dan tidak tertolak ataukah urf hanya berhenti kepada hukum saja dan bukan masuk ke dalam ritual?[14]Ataukah bid’ah yang diperbolehkan adalah mentradisikan (atau mungkin revivalisasi) sesuatu ritual yang ada landasan dalilnya saja?[15]Apakah ‘Umar pada kisah sholat tarawih berjamaah boleh disebut membiaskan istilah bid’ah padahal ia (juga beberapa sahabat) telah mendapat pujian dari Allah[16]dan juga semacam restu dari rasulullah bukan hanya sekali saja?[17]

Apapun, memang tidak pas juga untuk menyingkiri adanya istilah bid’ah yang diperingatkan oleh rasulullah kepada umat ini.[18]Pun juga perlu dipahami untuk memahamkan bahwa bid’ah itu merujuk kepada ritual dan bukan pada selain itu. Sebab bolehlah kita merujuk ucapan rasulullah ‘kalian lebih tahu urusan dunia kalian.’[19]Cukupkah pula perkataan Imam Syafi’i, Ibnu Rajab Al Hambali, dan imam serta ulama-ulama lain mengenai bid’ah sehingga meleraikan perbedaan pendapat mengenai bid’ah ini?[20]

Apapun, tidak tepat juga jika kemudian mereka yang enggan melakukan suatu ritual yang ia tidak dapati dalilnya kemudian disingkiri lantas kemudian dicap sebagai ekstremis – membuatnya menjadi ghuroba; semacam dipaksa menjadi reklusif. Padahal dan padahal, istilah bid’ah kepada ritual yang tidak berdalil adalah memang bagian dari ajaran Islam. Lantas mengapa resisten, kalis, dan derogatori pada istilah ini?

Benarlah bahwa duka bagi yang beriman salah satunya adalah meninggalnya rasulullah. Meninggalnya beliau berarti menjadi tiadanya lagi justifikator penafsiran skriptur kecuali ulama yang masih memegang dengan ikhlas Quran dan Sunnah serta merujuk kepada para sahabat juga salafush salih sebagaimana Abdullah Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu pernah nasehatkan.[21]Barangkali yang kini sedang terjadi adalah mewujudnya perselisihan yang rasulullah sudah pernah ucapkan dahulu atas umat ini: menjadi 73 golongan.[22]

Kita jadi mengerti mengapa Fatimah menangis,[23]Abu Bakar menangis sehari semalam, dan alasan mengapa kemudian para sahabat begitu kelam hati ketika kabar bakal mangkatnya rasulullah itu tersampaikan.[24]Mereka tahu bahwa mereka akan kehilangan suri tauladan,[25]hakim di bumi,[26]dan pemberita kabar dari langit:[27] duka besar bahwa akan terjadi banyak fitnah sesudah itu.

Tidak hanya itu saja. Mereka sedih luar biasa sebab mereka tahu bahwa mereka akan kehilangan seorang insan yang tak bosan bersyukur[28]dan beristighfar[29]meskipun maksum dan telah dijamin surga,[30]insan yang pemaaf[31]dan pemurah[32]sehingga orang menjadi terpesona kepada ada yang dibawanya, figur ayah yang mengajari bagaimana menjadi seorang yang penuh kesabaran,[33]seorang kakek yang teduh dan penyayang kepada cucunya,[34]seorang suami yang telaten[35]dan bisa bercanda mesra,[36]seorang pemimpin yang mau menikahi janda tua yang tidak memiliki pelindung dan atau untuk menebarkan dakwah,[37]seorang sahabat yang dapat menenangkan hati mereka saat ketakutan terjadi,[38]pemberi kabar pemerkuat keyakinan mereka saat goncang,[39]pemberi rasa optimisme atas kasih sayang Tuhan,[40]ikut berperang dan terluka bersama mereka,[41]bersama bekerja saat bekerja bakti,[42]pemimpin yang hidupnya sangat sederhana,[43]pemimpin yang bisa bergembira dan bercanda bersama mereka,[44]pemimpin yang bisa tegas di saat dibutuhkan ketegasan[45] namun juga seorang pemimpin yang bisa lembut[46]ketika memang dibutuhkan kelembutan.

Dan mereka, juga kita sekarang ini tahu, bahwa kita telah kehilangan penjelas mengenai perselisihan yang masih terus saja terjadi di antara kita: kecuali dua warisan saja.[47]Perselisihan di antara saudara-saudara yang mengadakan persaksian yang sama, mengaku memegang kitab yang sama, dan merujuk kepada hikmah yang sama adalah niscaya sebagaimana rasulullah telah wasiatkan.[48]Dan mungkin akan tiba nanti saatnya justru mereka yang hendak ikhlas merujuk[49] kepada Quran dan Sunnah akan diolok-olok sebagai kaku dan ketinggalan jaman: menjadi ghuroba.[50]Dan orang-orang yang terpinggirkan ini akan selalu teringat pelipur hati mereka bahwa mengejar dunia adalah penyia-nyia sesuatu yang lebih kekal.[51]Mungkin.

Atau sebelum mewabah kian tambah parah, mungkin perselisihan juga pemencilan ini dapat kita redam dengan mengetahui dan memegang batasan yang pernah diberikan oleh rasulullah. Sebuah marka kesantunan bahwa mereka yang mengadakan persaksian yang sama adalah bersaudara,[52]tidak memanjangkan debat,[53] tidak baik dengan gegabah mengatakan bahwa salah satu tidak mencintai Allah dan rasul-Nya,[54]tidak lupa untuk tetap menunaikan hak-hak mereka[55]serta tidak enggan untuk mendoakan mereka.[56]

Demikian banyak hal ringkas dikisah maka mari rujuklah.

Creative Commons License
Mari Merujuk: Hujah dan Ishlah by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
===========================

End notes

[1] Dari Amru bin Ash ra bahwa ketika beliau diutus pada perang Dzatus Salasil berkata,”Aku mimpi basah pada malam yang sangat dingin. Aku yakin sekali bila mandi pastilah celaka. Maka aku bertayammum dan shalat shubuh mengimami teman-temanku. Ketika kami tiba kepada Rasulullah saw., mereka menanyakan hal itu kepada beliau. Lalu beliau bertanya,”Wahai Amr, Apakah kamu mengimami shalat dalam keadaan junub ?”. Aku menjawab,”Aku ingat firman Allah [Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih kepadamu], maka aku tayammum dan shalat”. (Mendengar itu) Rasulullah Saw tertawa dan tidak berkata apa-apa. (HR. Ahmad, Al-hakim, Ibnu Hibban dan Daruquthuni).

[2] Dari Atha’ bin Yasar dari Abi Said al-Khudhri ra berkata bahwa ada dua orang bepergian dan mendapatkan waktu shalat tapi tidak mendapatkan air. Maka keduanya bertayammum dengan tanah yang suci dan shalat. Selesai shalat keduanya menemukan air. Maka seorang diantaranya berwudhu dan mengulangi shalat, sedangkan yang satunya tidak. Kemudian keduanya datang kepada Rasulullah Saw dan menceritakan masalah mereka. Maka Rasulullah SAW berkata kepada yang tidak mengulangi shalat,”Kamu sudah sesuai dengan sunnah dan shalatmu telah memberimu pahala”. Dan kepada yang mengulangi shalat,”Untukmu dua pahala”. (HR. Abu Daud dan an-Nasa`i)

[3] Setelah Nabi SAW dan para sahabat kembali dari Perang Khandaq, Malaikat Jibril datang menemuinya dan menyampaikan perintah Allah SWT agar beliau dan pasukannya menuju perkampungan Bani Quraidhah. Beliau pun berangkat ke sana. Sebelum keberangkatan, Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk tidak melaksanakan shalat Ashar sebelum sampai di perkampungan tersebut. “Janganlah ada seorang pun melakukan shalat Ashar kecuali setelah sampai di Bani Quraidhah” (HR. Bukhari & Muslim). Di tengah perjalanan, tibalah waktu shalat Ashar. Para sahabat berbeda pendapat atas perintah Nabi SAW tersebut. Sebagian dari mereka “mengabaikan” perintah tersebut. Menurut mereka, “Sesungguhnya beliau menghendaki kita mempercepat perjalanan dan bukannya mengundurkan waktu shalat”. Sebagian yang lain tetap berpegang pada nash (teks) yang terucap oleh Nabi (memahaminya secara harfiyah). Mereka tidak melakukan shalat. “Kami tidak akan shalat sehingga kami sampai di sana,” kata mereka. Terjadinya perbedaan pendapat tersebut kemudian dilaporkan kepada Nabi. Ternyata, beliau mendiamkan hal itu, tidak mengecam ataupun menegur salah seorang pun di antara mereka.

[4] Dari Ibnu Mas’ud ra ia berkata, “Saya mendengar seseorang membaca suatu ayat dan saya mendengar Nabi SAW membaca ayat itu berbeda dengan bacaannya. Maka, saya membawa orang itu kepada Nabi SAW dan memberitahukan kepadanya. Saya melihat rasa tidak senang di wajah Nabi SAW dan Beliau bersabda, ‘Kamu berdua benar (dalam hal bacaan ayat) dan janganlah berselisih karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu selalu berselisih sehingga mereka binasa.’” (HR Bukhari).

[5] Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu, setelah Palestina di kuasai kaum muslimin, Khalifah Umar radliyallaahu ‘anhu melakukan perjalanan menuju Palestina bersama satu rombongan dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Ketika di tengah perjalanan, terdengarlah kabar bahwa di negeri Syam tengah dilanda wabah yang sangat berbahaya serta telah banyak menelan korban jiwa. Mendengar berita itu, Umar radliyallaahu ‘anhu menahan perjalanan dan bermusyawarah dengan para pembesar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Terjadilah perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah, apakah mereka meneruskan perjalanan atau kembali ke Madinah? Yang berpendapat untuk kembali ke Madinah memberikan argumentasi bahwa masuknya mereka ke kota itu akan membawa mereka kepada kematian, karena wabah itu sangat berbahaya. Sedangkan pendapat kedua memberikan hujjah bahwa semua yang terjadi tidak pernah terlepas dari qadla dan qadar Allah ta’ala. Semua itu telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Pada saat itulah Abdurrahman bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhu datang dan berkata : “Sesungguhnya saya mempunyai pengetahuan tentang hal ini, saya pernah mendengar Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian mendengar berita tentangnya (penyakit tha’un) di suatu negeri, maka janganlah kamu memasukinya. Dan ketika wabah penyakit itu tengah terjadi, sedang kamu berada di sana, maka janganlah keluar (pergi meninggalkan negeri itu) karena lari dari penyakit tersebut.” Setelah mendengar hadits tersebut, semuanya tunduk dan patuh terhadap sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan kembali ke kota Madinah.

[6] Juga diriwayatkan bahwa Ahmad bin Hambal juga pernah berdebat dengan guru beliau Imam Syaf’i dalam masalah hukum meninggalkan shalat, maka berkata kepada dia Imam Syafi’i: “Wahai Ahmad, apakah engkau mengatakan dia (yang meninggalkan shalat) kafir?” Ahmad menjawab: “Iya.” Imam Syafi’i lantas bertanya: ”Jika sudah kafir bagaimana cara untuk berislam?” Imam Ahmad menjawab: “Dengan mengatakan La ilaha ila Allah.” Dijawab Syafi’i; “Dia masih memegang kata itu dan tidak meninggalkannya (syahadat).”Ahmad berkata lagi: “Dengan menyerahkan diri untuk mau mengerjakan shalat.” Syafi’i menjawab; “Shalat orang kafir tidak sah, dan tidak dihukumi sebagai Muslim dengan hanya shalat.” Maka Ahmad berhenti berbicara dan diam.” (Thabaqat As Syafi’iyah, hal. 61, vol.2).*(lihat tambahan berjeda satu paragraf berikut)

Juga diriwayatkan oleh Al Hafidz Abu ‘Umar bin ‘Abdul Barr, dalam Jami’ Bayan Al ‘Ilmi, dalam bab Itsbat Al Munadharah Wal Mujadalah Wa Iqamati Al Hujjah, dari Muhamad Bin ‘Attab bin Al Murba’, dia berkata, aku mendengar Al ‘Abbas bin Abdi Al Al Adzim Al Ambari mengabarkan kepadaku:  “Aku bersama Ahmad bin Hambal dan datanglah ‘Ali bin Madini dengan mengendarai tunggangan, lalu keduanya berdebat dalam masalah syahadah, hingga meninggi suara keduanya, sampai aku takut terjadi apa-apa di antara keduanya. Ahmad berpendapat adanya syahadah sedangakan ‘Ali menolak dan menyanggah, akan tetapi ketika Ali hendak meninggalkan tempat tersebut Ahmad bangkit dan menaiki kendaraan bersamanya.” (Jami’ Bayan Al ‘Ilmi hal. 968, vol.2).

*Abdullah bin Mubarak, Ahmad, Ishaq, dan Ibnu Hubaib dari kalangan Malikiyyah berpendapat kafirlah orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja walaupun ia tidak menentang kewajiban shalat. Pendapat ini diriwayatkan pula dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan Al-Hakam bin ‘Uyainah radhiyallahu ‘anhum. Sebagian pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu juga berpendapat demikian4. (Al-Majmu’ 3/19, Al-Minhaj 2/257, Nailul Authar, 2/403).

Hadits Buraidah ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan shalat berarti ia kafir.” (HR. Ahmad 5/346, At-Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan selainnya. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 574 dan juga dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib hal. 299) [Lihat Tharhut Tatsrib, 1/323]

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam, tiangnya (penopangnya) adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dengan sanad sahih dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu)

[7] Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Nashirudin al-Albani mengatakan: ”hadits ini tidak ada asal usulnya. Sungguh para ulama pakar hadits telah berupaya untuk mendapatkan sanad hadits ini, namun mereka tidak mendapatkannya, sampai as-Suyuthi–rahimahullah- mengatakan: ”Mungkin hadits ini diriwayatkan dalam kitab para ulama yang [kitab tersebut] hilang sehingga tidak sampai ke tangan kita”.

Menurut pendapatku [Fadhilatus Syaikh Albani], pernyataan ini jauh dari kebenaran, karena konsekuensi dari ucapan ini adalah justifikasi atas lenyapnya hadits-hadits Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasallam-, tentunya sangat tidak layak bagi seorang muslim untuk meyakini pernyataan ini.

Al-Munawi –rahimahullah- menukil pernyataan Tajuddin as-Subki –rahimahullah-, bahwa beliau mengatakan: ”hadits ini tidak dikenal di kalangan para ahli hadits, dan saya belum mendapatkan sanadnya, baik yang derajatnya shahih, hasan, maupun yang derajatnya palsu”. Fadhilatus Syaikh Zakariya al-Anshari –rahimahullah- menyepakati pernyataan tersebut dalam komentarnya atas tafsir al-Baidhawi.

Adapun kritikan dari sisi makna hadits, maka sesungguhnya makna yang terkandung dalam hadits ini telah diingkari oleh para ulama peneliti, Ibnu Hazm ad-Dhahiri –rahimahullah- mengatakan dalam kitabnya “al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam”, setelah beliau mentarjih bahwa riwayat di atas [perbedaan diantara umatku adalah rahmat] bukanlah hadits Nabi: ”pernyataan ini sangat rusak, sebab jika kita terima bahwa perselisihan di antara umatku adalah rahmat maka konsekuensinya adalah kesepakatan umat adalah kebencian [Allah], dan seorang muslim tentu tidak akan mengucapkan perkataan ini, karena hanya ada dua opsi, kesepakatan atau perselisihan, maka hasilnya-pun salah satu diantara dua hal, rahmat atau kebencian [Allah]. Dan di halaman lain dari kitabnya beliau mengatakan:”hadits ini batil dan palsu”.

Di antara dampak negatif dari hadits ini adalah tenggelamnya para penganut empat madzhab dalam perselisihan dan perpecahan, dan nampaknya tidak ada upaya untuk merujuk kepada al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih [untuk mentarjih perselisihan tersebut], sebagaimana yang dianjurkan oleh para imam mereka –radhiyallahu ‘anhum-, bahkan mereka mengumpamakan madzhab-madzhab yang beragam bak syariat yang beragam, mereka mengatakan pernyataan ini, padahal mereka mengetahui bahwa sebagian perselisihan dan kontradiksi tidak bisa ditarjih kecuali setelah merujuk kepada dalil, dan menolak pendapat yang menyelisihi dalil serta menerima pendapat yang lebih dekat kepada dalil, namun mereka tidak melaksanakan hal tersebut, maka dengan ini seakan mereka menisbatkan kepada agama ini [kepada kenyamanan ber-] kontradiksi.

….

Ringkasnya, perselisihan merupakan hal tercela dalam […] Islam, olehnya kewajiban kita adalah menjauhinya sesuai kemampuan, sebab hal itu merupakan faktor pelemah umat, sebagaimana firman Allah: “Janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan kekuatan kalian menjadi lenyap”(al-Anfal 46). Adapun sikap ridha terhadap perselisihan, bahkan menyifatinya dengan rahmat, maka hal ini menyelisihi ayat-ayat al-qur’an yang mencelanya, dan ungkapan tersebut tidak berpijak pada dalil kecuali hadits  yang tidak memiliki asal usul ini.

… mungkin akan terbetik dalam sanubari kita sebuah pertanyaan besar, sesungguhnya para sahabat berselisih dengan sahabat yang lain, apakah mereka tercakup pula dalam celaan yang kita bahas tadi?

Jawaban dari pertanyaan ini datang dari Ibnu Hazm –rahimahullah-, beliau berkata: ”sekali-kali tidak, sesungguhnya para sahabat tidak tercakup dalam celaan diatas, sebab setiap dari mereka berupaya untuk menapaki jalan Allah, apabila mereka terjatuh pada kesalahan maka satu pahala tercatat untuk mereka atas niat terpuji dalam hati mereka berupa upaya untuk mendapatkan kebaikan, dan tidak tercatat atas kesalahan tersebut sebagai dosa karena terjatuhnya mereka ke dalam kesalahan bukan disebabkan unsur kesengajaan dan kelalaian dalam menuntut kebenaran, dan apabila pendapat mereka benar maka dua pahala tercatat untuk mereka, hal ini berlaku pula bagi seluruh kaum muslimin yang samar bagi mereka kebenaran dan belum sampai kepada mereka dalil. Adapun celaan yang tercantum dalam nash-nash al-qur’an dan sunnah, berlaku bagi orang yang meninggalkan dalil al-qur’an dan assunnah setelah sampainya dalil dan hujjah kepadanya, dan bergantung kepada pendapat si fulan dan si fulan, lebih mengutamakan taklid buta dan bermaksud untuk berselisih, mengajak pada fanatisme golongan dan seruan jahiliyah, sengaja untuk berpecah belah, menolak dalil dari al-qur’an dan assunnah, apabila dalil sesuai dengan nafsunya maka dia akan mengambilnya, namun jika dalil tersebut berkontradiksi dengan nafsunya, maka dalilpun akan dicampakkan. Wallahu Musta’an.

(Terjemahan oleh Abu Shafa Luqmanul Hakim dari artikel dalam kitab “ Silsilah Ahadits ad-Dhaifah wal Maudhu’ah Wa Atsaruha as-Sayyi’ Fil Ummah, karya Fadhilatus Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani –rahimahullah-)

[8] Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” (Majmu’ Al Fatawa, 20: 211).

[9] Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, “Lalu bagaimana pendapatmu?”, maka gemetar dan beranglah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya,Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!? (Hilyatul Auliya’, 9: 107).

[10] Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku.” (Hilyatul Auliya’, 9: 107).

Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.” (I’lamul Muwaqi’in, 2: 282).

Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63).

Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.(Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35).

[11] “’Telah berkumpul umat-umat untuk menghadapi kalian, sebagaimana orang-orang yang makan berkumpul menghadapi piringnya’. Mereka berkata: Apakah pada saat itu kami sedikit wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: ‘Tidak, pada saat itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan, dan Allah akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh kalian kepada kalian, dan Allah akan menimpakan pada hati kalian penyakit Al-Wahn’. Mereka berkata: Apakah penyakit Al-Wahn itu wahai Rasulullah?. Beliau menjawab :’Cinta dunia dan takut akan mati”. [Haadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud (4297), Ahmad (5/287), dari hadits Tsaubah Radhiyallahu anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dengan dua jalannya tersebut dalam As-Shahihah (958)]

[12] Istilah puritanisme atau saklek atau kekakuan atau ‘terlalu tekstual’ kadang justru dipakai sebagai istilah olok-olok.

[13] Kuwasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati pemimpin kalian meski ia seorang budak habsyi (kulit hitam). Karena siapa yang hidup sepeninggalku nanti, pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib baginya berpegang teguh dengan Sunnah (ajaran)-ku dan Sunnahnya Khulafa’ur Rasyidin sepeninggalku. Peganglah sunnah tadi erat-erat dan gigitlah dengan taringmu. Dan waspadailah setiap muhdatsaatul umuur (hal-hal baru yang dimunculkan oleh pengikut hawa nafsu), karena itu semua adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. (H.R Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan juga Ad Darimi; ini adalah lafazh Abu Dawud dan sahih).

[14] Anas Burhanudin. 5 Februari 2014. “Pedoman Penggunaan Urf dalam Menetapkan Hukum Syar’i”. Web. Diakses 20 Juli 2014 dari:

http://almanhaj.or.id/content/3834/slash/0/pedoman-penggunaan-urf-dalam-menetapkan-hukum-syari/

[15] Dari Abdurrahman bin Abdil Qaary katanya; aku keluar bersama Umar bin Khatthab di bulan Ramadhan menuju masjid (Nabawi). Sesampainya di sana, ternyata orang-orang sedang shalat secara terpencar; ada orang yang shalat sendirian dan ada pula yang menjadi imam bagi sejumlah orang. Maka Umar berkata: “Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih baik…” maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya di malam yang lain, dan ketika itu orang-orang sedang shalat bersama imam mereka, maka Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini, akan tetapi saat dimana mereka tidur lebih baik dari pada saat dimana mereka shalat”, maksudnya akhir malam lebih baik untuk shalat karena saat itu mereka shalatnya di awal malam. (H.R. Malik dalam Al Muwaththa’).

[16] QS. Al Fath: 29, Attaubah: 100

[17] Dari Hudzaifah  katanya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Jadikanlah dua orang sepeninggalku sebagai qudwah (panutan/teladan) kalian: Abu Bakar dan Umar” (H.R. Tirmidzi, hadist hasan).

Sebaik-baik manusia ialah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, dan kemudian zaman berikutnya. Lalu akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpah, dan sumpahnya mendahului persaksian. (HR al-Bukhâri, 3651, dan Muslim, 2533).

Abu Naajih ‘Irbadh bin Saariyah radhiyallahu’anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran. Maka kamipun mengatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah. Seolah-olah ini merupakan nasihat dari orang yang hendak berpisah. Maka sudilah kiranya anda memberikan wasiat kepada kami”. Beliau pun bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian supaya senantiasa bertakwa kepada Allah. Dan tetaplah mendengar dan taat (kepada pemimpin). Meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sesudahku niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka berpeganglah dengan Sunnahku, dan Sunnah para khalifah yang lurus dan berpetunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham. Serta jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (di dalam agama). Karena semua bid’ah (perkara yang diada-adakan dalam agama) adalah sesat.” 

Imam Nawawi mengatakan: (hadits ini) diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Beliau (Tirmidzi) menilainya ‘Hadits hasan shahih’. Pen-takhrij Ad Durrah As Salafiyah menyebutkan bahwa derajat hadits ini: shahih. Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (4/126), Abu Dawud (4607), Tirmidzi (2676), Al Haakim (1/174), Ibnu Hibaan (1/179) serta dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ hadits no. 2549 (lihat Ad Durrah As Salafiyyah Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, cet. Markaz Fajr lith Thab’ah hal. 199, Lihat juga Lau Kaana Khairan, hal. 164).

Dalam hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Siapakah sebaik-baik manusia?’ Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘(Yaitu) kurun, yang aku hidup saat ini, kemudian kurun berikutnya, kemudian kurun berikutnya’.”( HR Muslim, 2536).

“Barang siapa yang mencela sahabatku, maka atasnya laknat Allah, laknat malaikat dan laknat seluruh umat manusia”. (Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul-Kabi (XII/142), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (II/483), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (VII/103) dan dihasankan oleh al-Albâni dalam ash-Shahîhah (2340)).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Rasulullah bersabda: “Janganlah mencela sahabatku! Janganlah mencela sahabatku! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, meskipun kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan dapat menyamai satu mud sedekah mereka; tidak juga separuhnya”. (HR Muslim 2540).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya bintang-bintang itu adalah pengaman bagi langit. Jika bintang-bintang itu lenyap maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas langit. Aku adalah pengaman bagi sahabatku, jika aku telah pergi maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas sahabatku. Dan sahabatku adalah pengaman bagi umatku, jika sahabatku telah pergi maka akan datang apa yang telah dijanjikan atas umatku” (HR Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu).

[18] “Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.”(HR. Ahmad, hadits hasan).

Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat (HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. hadits ini shahih). Dan pada riwayat sahih dari Nasa’i (Hadist no 1578) terdapat tambahan kalimat: “Setiap kesesatan tempatnya di neraka.”

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”(HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718).

[19] Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan ‘Amru An Naqid seluruhnya dari Al Aswad bin ‘Amir; Abu Bakr berkata; Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah dan dari Tsabit dari Anas bahwa: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda:Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik.”Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya:Ada apa dengan pohon kurma kalian?”. Mereka menjawab;Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu?” Beliau lalu bersabda:Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”(HR Muslim No 4358, sahih).

[20] “Yang dimaksud dengan bid’ah adalah sesuatu yang baru yang tidak memiliki landasan (atau dalil) dalam syari’at sebagai pendukung. Adapun jika didukung oleh dalil syar’i, maka itu bukanlah bid’ah menurut istilah syar’i, namun bid’ah secara bahasa.” (Ibnu Rajab al Hambali dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 127).

“Sesuatu yang memiliki landasan dalil dalam syari’at, maka itu bukanlah bid’ah. Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela berbeda dengan pengertian bahasa karena bid’ah secara bahasa adalah segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya baik terpuji maupun tercela.” (Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i dalam Fathul Bari, 13: 253).

“Bid’ah itu ada dua: terpuji dan tercela. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah berarti terpuji, sedangkan yang menyelisihinya berarti tercela” (Imam Syafi’i dalam Fathul Baari Syarh Shahihil Bukhari, penjelasan hadits no 7277).

“Setiap masalah yang di sana ada hadits shahihnya menurut para ahli hadits, lalu hadits tersebut bertentangan dengan pendapatku, maka aku menyatakan rujuk (meralat) dari pendapatku tadi baik semasa hidupku maupun sesudah matiku” (Imam Syafi’i dalamHilyatul Auliya’ 9/107).

“Aku hanya manusia biasa yang mana pendapat aku mungkin benar dan mungkin salah. Maka telitilah pendapat yang aku kemukakan. Semua pendapat yang selaras dengan al-Qur’an dan al-Sunnah maka ambillah ia manakala yang tidak selaras dengan al-Qur’an dan al-Sunnah, tinggalkanlah”. (Kata-kata oleh Malik Bin anas Rahimahullah, Riwayat Ibn ‘Abd al-Barr di dalam Jami’ Bayan al-Ilm).

“Apabila aku mengeluarkan sesuatu pendapat yang bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah, maka tinggalkanlah pendapat aku itu”. (Kata-kata oleh Abu Hanifah, Riwayat Salih al-Fulani di dalam Iqaz al-Himam).

Tidak ada perkataan sesiapapun melainkan boleh diterima perkataannya atau ditolak kecuali perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (Kata-kata Imam Ahmad menurut riwayat Abu Daud di dalam Masa’il al-Imam Ahmad).

Juga renungkan ini:

Dari Sa’id bin Musayyab Radhiyallahu anhu, bahwa ia melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab:”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah” (HR Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra II/466, Khatib Al Baghdadi dalam Al Faqih wal mutafaqqih I/147, Ad Darimi I/116. Sahih).

[21] Dan dari Abu Al Ahwash berkata: Saya mendengar Abdullah Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya urusan itu dikembalikan kepada penghujungnya, dan sesungguhnya amalan yang paling berhak itu adalah penutupnya, dan sesungguhnya kalian itu tergantung penutup amalan, ingatlah jangan sekali-kali orang diantara kalian mengekorkan agamanya kepada seseorang yang bila dia beriman maka ia beriman dan bila dia kafir maka ia kafir, dan bila kalian mesti melakukan maka ikutilah kepada sebagian orang yang sudah mati, karena sesungguhnya orang yang hidup itu tidak aman dari fitnah (penyimpangan)”. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud).

[22] “Ketahuilah, sesungguhnya Ahli Kitab sebelum kalian telah terpecah-belah menjadi 72 golongan. Dan sesungguhnya umat ini juga akan terpecah menjadi 73 golongan. Tujuh 72 di antaranya masuk neraka, dan satu golongan di dalam surga, yakni golongan yang mengikuti pedoman yang aku dan para sahabatku berada di atasnya” (HR Abu Dawud dan lainnya dari banyak jalur dari sejumlah sahabat nabi. Sahih).

[23] Ketika beranjak waktu Dhuha, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Fathimah radhiyallahu ‘anha, kemudian membisikkan kepadanya sesuatu, dan ia pun menangis.Kemudian memanggilnya lagi dan membisikkan sesuatu yang lainnya, ia pun tertawa. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,’Kami menanyakan (kepada Fathimah) tentang hal itu, yakni pada hari-hari berikutnya, dan Fathimah radhiyallahu ‘anha menjawab:”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membisikkan keapadaku bahwa bwliau akan meninggal dunia pada sakit yang beliau derita [pada saat itu, sehingga aku menangis, dan membisikkan kepadaku bahwa aku yang pertama kali dari keluarganya yang mengikutinya (meninggal) sehingga aku tertawa.”(HR. Bukhari II/638).

[24] Shafiyurrahman al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah (terjemahan Indonesia). Pustaka al-Sofwa, hal. 642-645

[25] QS. Al Ahzaab: 21

[26] QS At Taghabun: 12, Al Ahzaab: 36, An Nisaa’: 80.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,“Barangsiapa mentaatiku, maka ia berarti mentaati Allah. Barangsiapa yang  tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaati Allah. Barangsiapa yang taat pada pemimpin berarti ia mentaatiku. Barangsiapa yang tidak mentaatiku berarti ia tidak mentaatiku.” (HR. Bukhari no. 7137 dan Muslim no. 1835).

[27] QS At Taghabun: 12

[28] “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat sehingga kakinya pecah-pecah. Kemudian aku mengatakan kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini padahal engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur. (HR. Muslim no. 7304).

[29] Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali. (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani di Silsilah Ash Shohihah no. 1600).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim).

[30] “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,” (QS. Al Fath : 1-2).

Hadist dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun dari tidur sambil tersenyum.‘Apa yang membuat anda tertawa, wahai Rasulullah?’ tanya kami.“Baru saja turun kepadaku satu surat.” kemudian Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam membaca surat al-Kautsar hingga selesai.”Tahukah kalian, apa itu al-Kautsar?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu.” Jawab kami. Kemudian beliau bersabda,“Itu adalah sungai, Allah janjikan untuk diberikan kepadaku di Surga. Jumlah gayungnya sebanyak bintang..” (HR. Muslim 400, Ahmad 11996, Nasai 904, Abu Daud 784, dan yang lainnya).

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda“Tidak ada seorangpun yang dimasukan surga oleh amalnya.”Para sahabat bertanya, “Termasuk anda, wahai Rasulullah?”“Termasuk saya, hanya saja Allah meliputiku dengan ampunan dan rahmat-Nya.” (HR. Bukhari 6467, Ahmad 15236).

[31] QS. Al A’raf: 200.

Dari Aisyah RA, bahwasanya ia berkata kepada Nabi SAW, “Adakah satu hari yang lebih berat menimpamu dari pada beratnya Perang Uhud?” Beliau menjawab, “Sungguh, aku mendapatkan penderitaan dari kaummu. Adapun yang paling berat adalah pada hari `Aqabah. Tatkala aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abi Yalil bin Kulal, ia tidak menjawab tawaranku sebagaimana harapanku. Lalu aku pergi dengan keadaan sedih di raut mukaku. Sesampainya di Qarn ats-Tsa`alib aku sadar dan meng­angkat kepalaku. Saat itu aku dinaungi awan. Kemudian aku melihatnya dan padanya ada Jibril AS. Ia menyeruku dan berkata, ‘Sesung guhnya Allah Ta`ala telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan me reka tidak mempedulikanmu. Sesungguhnya telah diutus kepadamu malaikat penunggu gunung untuk engkau suruh dia apa saja yang kamu kehendaki untuk membalas mereka.’ Kemudian malaikat penjaga gunung itu mengucap salam dan berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah Ta`ala telah men­dengar perkataan kaummu kepadamu dan aku adalah malaikat penjaga gunung. Tuhanku telah mengutusku kepadamu agar engkau suruh aku dengan perin tah mu, apakah yang engkau kehendaki? Jika engkau mau, aku hancurkan dua gu nung itu atas mereka.’ Maka Nabi SAW berkata, ‘Sungguh aku masih berharap, semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi (keturunan) mereka orang-orang yang kelak beribadah kepada Allah satu-satunya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (Muttafaq ‘Alaih).

Rasulullah SAW sangat pemaaf. Pernah Beliau berhutang kepada seorang Yahudi bernama Sa’ad bin Sya’nah. Jatuh tempo pembayarannya masih tiga hari lagi. Tetapi Sa’ad menagih sebelum jatuh tempo. la mencari Rasulullah dan bertemu di jalan. Sa’ad langsung memegang selendang Rasulullah SAW dengan keras seraya berkata, “Kamu hai Bani Abdul Muthallib telah lalai membayar hutang”. Melihat kejadian itu, Umar langsung bangkit, ingin menghardik Sa’ad. Rasulullah mencegah Umar, sambil tersenyum Beliau berkata kepada Umar, “Saya memang mempunyai hutang kepada Sa’ad. Sikap kamu yang lebih tepat wahai Umar adalah menyuruhku untuk membayar hutang dan menyuruh dia menagih hutang dengan cara yang baik. Sebenarnya, jatuh tempo hutang masih tiga hari lagi. Tapi baiklah, tolong bayarkan utang itu dan tambahkan 20 sha’ agar hilang kemarahannya”. (HR. Al-Baihaqi, Ibnu Hibban dan Thabrani).

[32] Dari Anas ra., ia berkata, “Aku pernah berjalan bersama Rasulullah SAW. Saat itu beliau membawa selimut Najran yang tebal pinggirannya. Lalu (kami) bertemu seorang Arab Badwi yang kemudian se konyong-konyong menarik-narik selen dang beliau dengan kuat. Aku lihat di leher beliau terdapat guratan luka akibat kuatnya tarikan selendang beliau (oleh si Badwi itu). Kemudian si Badwi ini berkata, ‘Hai Muhammad, berikanlah harta Allah yang ada padamu!’ Beliau menoleh kepada orang Badwi itu lalu tertawa. Lalu beliau menyuruh untuk memberikan per mintaan orang Badwi itu.” (Muttafaq `Alaih).

[33] “Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata. ‘Tetaplah di tempatmu’. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata. ‘Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu”. (Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu Dawud hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy 7/293)

[34]Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husein adalah kesayanganku dari dunia”. (HR. Bukhari dengan Fathul juz VII, hal. 464, hadits 3753 dan Tirmidzi, Ahmad dari Ibnu Umar).

“Al-Hasan dan Al-Husein adalah sayyid (penghulu) para pemuda ahlul jannah” (HR. Tirmidzi, Hakim, Thabrani, Ahmad dan lain-lain dari Abi Sa’id al-Khudri; sahih menurut Al-Albani dalam silsilah hadist sahih, hal 423, hadist no. 796 dan beliau berkata bahwa hadist ini diriwayatkan pula dari 10 sahabat).

Dari Barra’ bin ‘Azib, dia berkata: Aku melihat Al-Hasan bin Ali di atas pundak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda: “Ya Allah sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia.” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari, VII, hal. 464, hadits no. 3749 dan Muslim dengan Syarah Nawawi, juz XV, hal 189, hadits no. 6208).

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Al-Hasan dengan lafadz:Ya Allah sesungguhnya aku mencintai dia, maka cintailah dia serta cintailah siapa yang mencin­tainya” (HR. Muslim dengan Syarah Nawawi,  juz XV, hal. 188, hadits no. 6206).

Al Hasan dan Al Husain memanjat punggung Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika beliau sedang sujud. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun memperlama sujudnya. Beliau berkata (setelah shalat): ‘Aku enggan bangun dari sujud, sampai mereka puas menaiki punggungku” (HR. Ahmad, An Nasa-i, Ibnu Abi Syaibah, Al Hakim dari sahabat Syaddad bin Al Haad Radhiallahu’anhu, sahih).

Nabi Shallallahu’alahi wasallam pernah shalat sambil menggendong Umamah bintu Zainab. Ketika berdiri, Nabi menggendongnya. Ketika sujud, Nabi meletakkannya“.(HR. Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Qatadah Radhiallahu’anhu. sahih)

[35] ‘Aisyah Radhiallahu anhum, pernah ditanya: “Apakah yang dilakukan Rasulullah di dalam rumah?” ‘Aisyah menjawab: “Beliau adalah seorang manusia biasa, ia menambal pakaian sendiri, memeras susu dan melayani dirinya sendiri.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?”, Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban). “…dan memerah susu kambingnya” (Tambahan pada riwayat At Tirmidzi).

Aisyah r.a. pernah ditanya seorang lelaki yang bernama al Aswad bin Yazid tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw ketika dalam rumahnya? Maka Aisyah menjawab: Rasulullah SAW sentiasa membantu ahli keluarganya dalam kerja rumah. Dan apabila sudah tiba masuk waktu solat, Baginda keluar untuk sholat. (HR Bukhari Muslim).

Suatu hari orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Aisyah, “Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?” Aisyah menjawab, “Iya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.” Lalu ia mengatakan, “Di antara perkataan mereka tatkala itu adalah, ‘Abul Qasim adalah seorang yang baik’.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Ia menjawab: “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah.” Maka beliau pun tetap berdiri. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Namun, Aisyah tetap menjawab, “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aisyah mengatakan, “Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya.” (HR. An-Nasa’i (5/307), lihat Ash Shahihah (3277)).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bersabda; “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik akhlaknya adalah orang yang paling baik terhadap isterinya” (Riwayat At-Tirmidzi).

Dari Aisyah ra, ia berkata: “Rasulullah berada di tempatku bersama Saudah, lalu aku membuat jenang. Aku bawa (jenang itu) kepada beliau, kemudian aku berkata pada Saudah: Makanlah ! Akan tetapi, ia menjawab:

Saya tidak menyukainya. Aku pun berkata: Demi Allah, kamu makan atau aku oleskan ke wajahmu ? Ia berkata: Saya tidak berselera memakannya (Kata Aisyah): Lalu aku ambil sedikit, kemudian aku oleskan ke wajahnya, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ketika itu duduk di tengah-tengah antara aku dan dia. Kemudian beliau merintangi dengan lututnya supaya dia dapat membalasku, lalu ia mengambil jenang dari piring tersebut, kemudian dia (saudah) membalas mengoleskannya kepadaku dan Rasulullah tertawa (HR. Ibnu Najjar).

Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bertanya kepada Aisyah: Apa ini? Aisyah menjawab: Anak-anak perempuan (boneka perempuan) ku. Beliau bertanya lagi : Apakah yang ditengah ini? Aisyah menjawab: Kuda. Beliau bertanya lagi: Dan apa yang ada di atasnya ini ? Aisyah menjawab: Itu dua sayapnya. Beliau bertanya lagi: Kuda yang mempunyai dua sayap? Aisyah menjawab dengan nada tanya: Apakah engkau tidak mendengar bahwa Sulaiman bin Dawud mempunyai kuda yang memiliki beberapa sayap? Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tertawa hingga tampak gigi serinya (HR. Abu Dawud).

[36] Salah seorang istri beliau Shafiyyah binti Huyay menuturkan, “Suatu ketika Rasulullah sedang beri’tikaf. Kemudian aku mendatangi dan menjenguknya pada malam hari, dan berbincang-bincang dengan beliau. Ketika aku berdiri hendak kembali, beliau berdiri bersamaku untuk mengantarku (sampai pintu), sembari berkata, ‘Jangan terburu-buru hingga aku mengantarmu’”(HR Bukhari, no. 2033 dan HR Muslim, no. 2175).

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu’.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 23/47), lihat Al-Misykah (2.238)).

[37] Saudah binti Zum’ah (r.a.), Ummu Salamah binti Abu Umayyah (r.a.), Juwairiyyah binti Al-Harits Al-Khuzaiyyah (r.a), dan Maimunah binti Al-Harits (r.a)

[38] QS At Taubah: 40

[39] QS Al Baqarah: 214

[40] Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw., ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku melakukan dosa, apakah ia akan dituliskan atasku?”..”Ya tertulis,” jawab Beliau. Orang itu kembali bertanya, “Bagaimana jika aku bertobat?” Beliau menjawab, “Dosa itu akan dihapus.” Kemudian ia bertanya lagi, “Bagaimana jika aku melakukannya kembali?”..”Akan dituliskan lagi,” jawab beliau. “Bagaimana jika aku bertobat?” tanya orang itu. Beliau menjawab, “Akan dihapuskan.”..”Bagaimana kalau aku kembali melakukannya?” tanyanya lagi. Beliau menjawab, “Akan dituliskan.”..”Bagaimana kalau bertobat?”..”Akan dihapuskan,” jawab Nabi Saw. Kemudian ada seorang Arab Badui yang bertanya, “Sampai kapan ia dihapuskan?..Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak akan jemu untuk memberikan ampunan sebelum kalian jemu meminta ampunan,” (HR Baihaqi).

[41] Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui orang yg telah mengobati luka Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam, orang yg menuangkan air, & dgn apa beliau diobati. Dia melanjutkan, Fatimah, putri Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam lah yg telah mencuci (luka beliau), sementara Ali bin Abu Thalib menuangkan air dgn menggunakan perisai, ketika Fatimah melihat darah semakin mengalir deras, dia langsung mengambil potongan tikar & membakarnya, setelah itu dia menempelkan (bekas pembakaran tersebut) pada luka beliau hingga darahnya terhenti, pada waktu itu gigi seri beliau tanggal, wajah beliau terluka & topi baja beliau pecah. (HR. Bukhari No.3767).

[42] dari Barra’ RA, ia berkata: ”Pada waktu perang Ahzab (khandaq), saya melihat Rasul saw menggali parit dan mengusung tanah galian sampai-sampai saya tidak melihat dada beliau yang berbulu lebat karena tebalnya tanah yang melumurinya” (HR. Bukhari).

[43] Zaid bin Tsabit bertutur, “Anas bin Malik pelayan Rasulullah pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah yang terbuat dari kayu yang keras dan di patri dengan besi. Kemudian Anas berkata kepadaku, ‘Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah. Dengan gelas kayu inilah Rasulullah minum air, perasan kurma, madu dan susu.’” (HR Tirmidzi).

Hafshah saat ditanya, “Apa yang menjadi tempat tidur Rasulullah SAW?” Ia menjawab, “Kain dari bulu yang kami lipat dua. Di atas itulah  Rasulullah SAW tidur. Pernah suatu malam aku berkata (dalam hati): sekiranya kain itu aku lipat menjadi empat lapis, tentu akan lebih empuk baginya. Maka kain itu kulipat empat lapis.” Ketika waktu subuh, cerita Hafsah, Rasulullah SAW mengatakan, “Apa yang engkau hamparkan sebagai tempat tidurku semalam?” Aku menjawab, itu adalah alas tidur yang biasanya Nabi pakai, hanya saja aku lipat empat. Aku kira akan lebih empuk.” Rasulullah SAW membalas, “Kembalikan kepada asalnya! Sungguh, disebabkan empuknya, aku terhalang dari shalat di malam hari.” (HR At-Tirmidzi).

Amru bin Harits meriwayatkan, Rasulullah SAW ketika wafat tidak meninggalkan dinar, dirham, hamba sahaya lelaki atau perempuan, dan hanya meninggalkan keledai putih yang biasa dikendarainya dan sebidang tanah yang disedekahkan untuk kepentingan orang rantau (HR. Bukhari).

Suatu hari ‘Umar bin Khaththab r.a. menemui Rasulullah SAW di kamar beliau, lalu ‘Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah lapuk. Jejak tikar itu membekas di belikat beliau, sebuah bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau, dan jalur kulit samakan membekas di kepala beliau. Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang. Di bawah dinding terdapat qarzh (semacam tumbuhan untuk menyamak kulit).Air mata ‘Umar bin Khaththab r.a. meleleh. Ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi pimpinan tertinggi umat Islam itu. Rasulullah SAW melihat air mata ‘Umar r.a. yang berjatuhan, lalu bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, Ibnu Khaththab?”‘Umar r.a. menjawab dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata dan perasaannya yang terbakar,“Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda, sedangkan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan Kaisar duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia pilihan Allah!”Lalu Rasulullah SAW menjawab dengan senyuman di bibir beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?”‘Umar menjawab, “Aku rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad).

[44] Seseorang sahabat mendatangi Rasulullah saw., dan dia meminta agar Rasulullah saw. membantunya mencari unta untuk memindahkan barang-barangnya. Rasulullah berkata:“Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di seberang sana”.Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak unta dapat memikul beban yang berat. “Ya Rasulullah, apakah tidak ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?”Rasulullah menjawab, “Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain unta” Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah. (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sahih)

Aisyah r.a. berkata : “Rasulullah masuk (rumah)ku, dan di sisiku ada dua anak wanita (dari gadis Anshar, dan dalam satu riwayat lain dua orang biduanita), pada hari Mina.  Lalu keduanya memukul rebana. Mereka menyanyi dengan nyanyian (dalam satu riwayat : dengan apa yang diucapkan oleh wanita-wanita Anshar pada hari Perang Bu’ats sedang keduanya bukan penyanyi). Beliau (Rasulullah) kemudian berbaring di atas hamparan dan memalingkan wajah beliau. Abu Bakar (kemudian) masuk, sedang Nabi menutup wajah dengan pakaian beliau. Lalu Abu Bakar menghardik saya (dan dalam satu riwayat: menghardik mereka) dan mengatakan : “Seruling setan (dalam satu riwayat: Pantaskah ada seruling setan) di rumah Rasulullah ?”.Dia mengucapkannya dua kali. Lalu Nabi menghadap kepada Abu Bakar (dalam satu riwayat: lalu Nabi membuka wajahnya) lantas bersabda : “Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar. Karena tiap-tiap kaum mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita”. Maka, ketika beliau (sudah) lupa, saya mengisyaratkan kepada kedua anak wanita itu, lalu keduanya keluar”. (HR Muttafaq Alaihi).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, bahwa Umar (ibnu Khattab) radliyallaahu ‘anhu melewati Hassan (cucu baginda Rasul. pen) yang sedang bernyanyi di dalam masjid, lalu ia (Umar) memandangnya. Maka berkatalah Hassan: “Aku juga pernah bernyanyi (di dalam masjid), dan didalamnya ada orang yang lebih mulia daripada engkau (maksudnya Rasulullah)” (HR Muttafaq Alaihi).

Hadits dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, ia pernah mengantar mempelai wanita ke tempat mempelai pria dari kalangan Anshar. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai ‘Aisyah, apakah ada hiburan yang me-nyertai kalian? Sebab, orang-orang Anshar suka kepada hiburan.” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5162), al-Hakim (II/183-184), al-Baihaqi (VII/288) dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 2267).

Dalam riwayat yang lain, beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mengirimkan bersamanya seorang gadis (yang masih kecil -pen) untuk memukul rebana dan menyanyi?” ‘Aisyah bertanya, “Apa yang dia nyanyikan?” Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Dia mengucapkan: Kami datang kepada kalian, kami datang kepada kalian. Hormatilah kami, maka kami hormati kalian. Seandainya bukan karena emas merah. Niscaya kampung kalian tidaklah mempesona. Seandainya bukan gandum berwarna coklat. Niscaya gadis kalian tidaklah menjadi gemuk. (Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 1900), Ahmad (III/391), al-Baihaqi (VII/289), dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma).

[45] Rujuk pada sirah mengenai pengkhianatan Bani Quraizah

[46] Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata, Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami. (HR. Bukhari no. 221 dan Muslim no. 284).

[47] Sesungguhnya aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang kepada keduanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnahku.”(HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi. sahih)

[48] Lihat endnote no 22

[49] QS. Al An’am: 162

[50] “Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat  kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing (HR. Muslim).

“Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat  kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing”. Seseorang bertanya:“Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah? “Mereka yang memencil dari kaumnya”, jawab Rasulullah (HR. Ibnu Majah, Ahmad & Ad Darimi. Sahih). 

“Sesungguhnya Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti saat  kemunculannya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing”. Seseorang bertanya: “Siapakah orang-orang yang asing itu ya Rasulullah? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (melakukan ishlah) di saat manusia merusak sunnah-sunnahku”, jawab Rasulullah (HR. At Tirmidzi. hasan sahih).

“Beruntunglah orang-orang yang terasing”. Seseorang bertanya: “Siapakah orang-orang yang terasing itu ya Rasulullah? “Orang-orang shalih yang berada di antara orang-orang jahat yang jumlahnya banyak sekali. Yang menentang mereka lebih banyak dibandingkan yang mengikuti ”, jawab Rasulullah (HR. Ahmad, hasan). 

“Siapakah orang-orang yang terasing itu ya Rasulullah ? “Orang-orang yang selalu memperbaiki (amar ma’rur dan nahi munkar) di saat manusia dalam keadaan rusak”, jawab Rasulullah (HR. Thabrani. sahih). 

[51] QS. Al Mu’min: 39, QS. Al An’aam: 32, QS Al A’laa: 17; QS. Al Hadiid: 20; QS. Ar Ra’d: 26.

Dari Ibnu Umar ra berkata : bahwa Nabi Saw memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “ (HR Bukhari)

[52] “Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari-Muslim dari Anas ra).

“Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim lainya, tidak boleh menganiayanya dan menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa membebaskan kesukaran seorang muslim, Allah akan membebaskan darinya satu kesukaran dari antara kesukaran-kesukaran pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi (cacat)nya akan ditutup aibnya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dari Abu Hurairah juga ia berkata, Rasulullah saw bersabda:”Janganlah saling hasud menghasud, saling benci membenci dan saling berpaling, serta janganlah seseorang diantara kamu menjual atas penjualan kawannya, tapi jadilah kamu sekalian bersaudara, hai hamba Allah. Seorang muslim itu saduara bagi muslim lainnya, tidak boleh menzaliminya, dan tidak boleh membiarkannya dalam keadaan terhina dan tidak boleh merendahkannya. Taqwa itu disini (sambil menunjuk ke arah dadanya sebanyak tiga kali). Cukup dinilai bertindak jahat, siapa yang merendahkan kawan muslimnya yang lain. Setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram (terhormat) darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim).

[53] dari ‘Abdullah bin ‘Amr:“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar sedangkan mereka (sebagian shahabat-pent.) sedang berselisih tentang taqdir, maka memerahlah wajah beliau bagaikan merahnya buah rumman karena marah, maka beliau bersabda: “Apakah dengan ini kalian diperintah?! Atau untuk inikah kalian diciptakan?! Kalian membenturkan sebagian Al-Qur’an dengan sebagiannya!! Karena inilah umat-umat sebelum kalian binasa” (HR. Muslim. Sahih).

hadits Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat, kemudian beliau membaca (ayat) “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja””. (Sunan At-Tirmidzy dan Ibnu Majah).

Namun juga renungkan kisah di dalam Quran mengenai boleh membantah dengan cara yang baik. (QS. An Nahl: 125, QS Hud: 32, QS. Al ‘Ankabut: 46).

[54] QS. Hujuurat: 11-12.

Dari ‘Itban bin Malik, ia berkata, “Pada sebuah kunjungan, beliau mengerjakan shalat di rumah kami. Seusai shalat beliau bertanya, “Dimana gerangan Malik bin ad-Dukhsyum? Ada seorang yang menyahut, “Dia adalah seorang munafik, tidak mencintai Allah dan Rasulnya!” Rasulullah segera menegur seraya berkata: “Jangan ucapkan demikian, bukankah kamu mengetahui dia telah mengucapkan kalimat syahadat La ilaha illallah? Semata-mata mengharapkan pahala melihat ‘wajah’ Allah? Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah semata-mata mengharapkan pahala melihat ‘wajah’ Allah.” (Muttafaq’ alaih)

[55] “Hak muslim terhadap sesamanya ada enam, Rasulullah ditanya,”Apa saja itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Apabila kamu bertemu dengannya ucapkanlah salam, apabila dia mengundangmu penuhilah undangan tersebut, apabila dia meminta nasihat, berikanlah, apabila dia bersin lalu mengucapkan hamdalah jawablah, apabila dia sakit jenguklah, dan apabila dia meninggal dunia, antarkanlah.” (HR. Muslim).

[56] QS. Al Hasyr: 10. Bahkan juga di dalam QS. Al Imran: 159.

Pembodohan yang Atraktif

Published on 24 January 2014, Latest Revision on 4 February 2015 as issues on ISIS getting bigger.

Malam itu saya mengikuti sebuah pengajian yang sering ditayangkan di sebuah televisi lokal. Hal yang menarik dari pengajian tersebut adalah pembodohan yang terus berulang kepada awam dan dikemas dengan cara yang atraktif. Yang tipikal dari pengajian ini adalah modus serupa ini: candaan dilemparkan, musik tradisional Jawa dimainkan, sholawat didendangkan, ayat-ayat Qur’an dikutip, hadist disitir, kisah-kisah diceritakan, sedikit bahasa Inggris ini dan itu ditampilkan. Memukau bagi awam!

Pengajian Bergending Itu

Dan malam itu, seperti biasa, sekali lagi saya mengikuti tayangan pengajian yang memukau bagi awam tersebut.

Pengajian dibuka dengan kritik terhadap fatwa MUI tentang doa bersama. Sangat khas, kritik dilakukan bukan dengan kalimat menyalahkan sehingga awam tidak mendapat kesan bahwa pengajian ini suka menyalah-nyalahkan. Kritik tersebut dilakukan dengan mengutip kisah Iblis yang berdoa (memohon) kepada Allah untuk diberi kelonggaran waktu menjalani hukuman sebagaimana termaktub di dalam Qur’an. Iblis dikabulkan doanya. Sang penceramah berkoar-koar atraktif dan menyebut contoh ini sebagai justifikasi bahwa Iblis-pun doanya dikabulkan oleh Allah padahal Iblis telah jelas-jelas dinyatakan terkutuk.

Sang penceramah lalu menunjukkan bahwa banyak orang yang berbeda keyakinan mendapat kemuliaan dunia berkat doa-doa mereka. Lalu pernyataan provokatif dilemparkan: Jika Allah hanya mengabulkan doa orang yang sama keyakinan dengan kita, mengapa justru terdapat banyak bukti bahwa orang-orang yang tidak sama keyakinan juga mendapatkan kemuliaan dunia? Bukankah ini berarti doa-doa mereka juga dikabulkan oleh Allah? Lihatlah Iblis. Iblis saja doanya dikabulkan oleh Allah. Jadi jika ada orang yang berbeda keyakinan atau orang yang serupa Iblis sedang berdoa maka tidak ada salahnya untuk mengaminkan doa mereka. Sang Penceramah berkata bahwa bisa jadi doa yang dilontarkan oleh mereka ini kebetulan ‘pas dikabulkan’ oleh Allah jadi yang penting aminkan saja. Lalu dikatakan bahwa mereka yang tidak paham ini berarti kurang mendalami agama Islam.

Awam hadirin pengajian itu terpukau seperti biasanya. Lalu ada yang ikut menertawakan MUI.

Ada yang ganjil dengan gaya berpikir seperti itu. Untuk kasus Iblis, jika kita cermat membaca kisahnya kita akan mendapati bahwa Iblis berdoa kepada Allah. Iblis, meskipun sudah dicap sebagai pengingkar perintah, tidak bisa disamakan dengan kasus umat yang berkeyakinan lain dalam hal doa. Umat lain berdoa bukan kepada Allah atau ada juga yang berdoa kepada Allah beserta apa yang mereka persekutukan dengan Allah. Jadi berbeda, sangat berbeda (cf. sanggahan Keith E. Johnson atas John Hick dalam terjemahan saya ‘Hipotesis Pluralistik John Hick …’).

Lalu bagaimana dengan terkabulnya doa? Sebuah ilustrasi: Bagaimana jikalau hanya orang yang beriman yang benar saja yang dikabulkan doanya? Jawabannya: semua orang akan beriman pada keimanan yang benar itu. Lalu jika ini terjadi, orang beriman tidak akan mendapatkan ujiannya. Iman menjadi tidak bernilai istimewa sebab tidak beriman kepada iman yang benar itu akan menjadi tidak relevan. Semua orang tentunya akan berbondong-bondong memeluk sebuah agama yang semua doanya tiap kali berdoa dikabulkan. Dus, mempunyai pikiran bahwa benarnya sebuah agama adalah dengan terkabulnya semua doa (di dunia) adalah keluguan. Bayangkan betapa kacaunya dunia jika setiap berdoa tidak ada yang tidak dikabulkan.

Sang penceramah melanjutkan khotbahnya. Ia berkata bahwa banyak orang salah memahami Islam dengan cara selalu mengekor pada budaya Arab.[1] Ia membenturkan budaya Jawa dengan budaya Arab dengan menceritakan, kurang lebih, bahwa budaya Arab adalah budaya padang pasir [yang keras] sedangkan budaya Jawa adalah budaya lempung [yang lentuk]. Kemudian ia menyindir mereka yang bersikap keras – melakukan kekerasan – di dalam berdakwah. Kekerasan bukan khas Jawa. Islam itu datang dalam ajakan kedamaian dan keselamatan dan bukan untuk mengadakan kekacauan.

Awam hadirin pengajian itu terpukau seperti biasanya.

Ada yang aneh dengan pembandingan model seperti itu. Sebagaimana pernah saya singgung dalam endnote pada terjemahan saya ‘Hipokrisi dalam Profesi Kependidikan‘ mengenai Islam dan Arab, ada kerancuan mengenai penyamaan Islam dengan Arab. Inilah cara pikir yang salah. Perlu diketahui bahwa jazirah Arab secara umum berhasil di-islam-kan sehingga seakan-akan semua yang berasal dari Arab adalah pasti Islam.

Tidak semua yang berasal dari Arab adalah Islam dan begitu juga jangan dikatakan bahwa semua yang merupakan ajaran dari Islam adalah budaya Arab. Budaya di jazirah Arab bukanlah budaya yang monoton seratus persen islami karena di jazirah Arab terdapat banyak negara, etnis, varian bahasa, dan agama (mis. Kristen Ortodox Syiria, Kristen Lebanon, Yahudi, Syiah, Zoroastrian).

Cara pikir bahwa semua ajaran Islam adalah sejatinya khas budaya Arab adalah tidak pas. Sebagai contoh lain, tidak pas ketika mengatakan bahwa ajaran menutup aurat dikatakan sebagai budaya Arab karena Arab berpadang pasir sehingga ada kebutuhan menutup diri dari debu dan atau panas. Jika cara melihatnya adalah serupa ini maka secara sederhana seharusnya dapat dijelaskan juga mengapa kewajiban menutup aurat antara pria dan wanita di dalam Islam berbeda padahal baik pria maupun wanita Arab mengalami lingkungan yang sama. Tambahan pula, mengapa juga ada hadist yang menjelaskan bagaimana cara menutup aurat yang ternyata tidak sama dengan apa yang sudah lazim dipakai orang Arab sebelum perintah menutup aurat diperintahkan? Dan jika ingin cermat – bukan kaku – bukankah perintahnya bukan agar berpakaian ala Arab namun ‘menutup aurat’? Dengan demikian pemahaman menutup aurat hendak dipraktikkan dengan gaya busana penutup aurat model apapun – asal pantas dan tidak berlebihan – adalah ketepatan memahami perintah ini.

Kecerobohan dan Kesembronoan

Lebih jauh lagi – meski tidak disinggung di dalam ngaji bersama yang saya tonton itu – beberapa gelintir orang di dalam pengajian serupa pengajian yang saya tonton ini malah pernah saya dengar melempar guyonan rasis bahwa perintah itu adalah karena laki-laki bangsa Arab libidonya besar sehingga kaum wanitanya butuh dilindungi dengan pakaian tertutup. Duh, jika argumen ini dijadikan rujukan maka argumen tersebut dapat pula dipatahkan dengan fakta bahwa tidak semua laki-laki Arab menikah di usia muda, menikah dengan banyak wanita, dan seterusnya yang membuktikan bahwa tidak semua laki-laki bangsa Arab libidonya besar. Tuduhan atau klaim berdasarkan ‘kasus-kasus tertentu’ kemudian digeneralisasi adalah sebuah kesembronoan.

Contoh lain di dalam kesembronoan berpendapat misalnya pada isu kemuliaan bangsa Yahudi. Pendapat yang mengatakan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang mulia sehingga ‘selalu benar apapun tindak-tanduknya’ adalah berbahaya. Sudah mahfum diketahui bahwa ‘mulia’-nya bangsa Yahudi adalah dalam konteks mereka beruntung karena banyak nabi yang dimunculkan dari kalangan mereka. Dan bagi believers, derajat kemuliaan seseorang adalah kedekatannya kepada Tuhan: melakukan perintah dan menjauhi larangan. Bila sebuah bangsa, bangsa apapun, tidak melakukan perintah dan menjauhi larangan Tuhan maka bangsa tersebut bukan bangsa yang mulia. Dus, makna mulia yang pertama dengan yang kedua adalah berbeda (cf. terjemahan dari tulisan seorang Kristen mengenai sikap berlebihan di dalam ‘memuliakan’ bangsa Yahudi: Siapakah Pemilik Sah Tanah Palestina? dapat dijadikan pembanding).

Dahulu sekali, saya juga pernah terperanjat dengan semacam ajaran yang ditularkan word-of-mouth dari sebuah jamaah yang sampai kepada saya mengenai tingkatan sholat di dalam Islam. Di dalam ajaran yang aneh itu diceritakan bahwa tingkat sholat tertinggi adalah sudah tidak dengan gerakan namun sudah menyatu dengan tiap napas. Menurut ajaran ini, saat sholat sudah menyatu dengan napas maka sudah tidak relevan lagi – sudah tidak level lagi – untuk menetapi sholat yang ‘konvensional’; sholat dengan gerakan. Duh, ajaran ini sungguh aneh. Jika merujuk kepada banyak hadist, Muhammad saw. justru mengecam peninggal sholat [wajib, 5 waktu, dengan gerakan dari takbir hingga salam]. Bahkan sudah terkabarkan pula bahwa Rasul saw. bukan hanya sholat wajib namun juga menghidupkan malamnya dengan sholat tahajud hingga kaki beliau bengkak. Di dalam riwayat muttafaqun ‘alaih disebutkan bahwa Rasul ‘membebani diri’ dengan sholat tahajud. Sholat tahajud yang beliau lakukan bukan hanya sekedar dilakukan namun beliau saw. konsisten sebagai pengunjuk hamba yang pandai bersyukur.  Bukankah asal perintah sholat [wajib] di dalam Islam diberikan langsung kepada Muhammad saw. (cf. HR Muslim no 162) dengan gerakan yang diperintahkan diikuti sesuai apa yang beliau saw. contohkan?  Lalu darimana dasar kesembronoan ajaran ‘sholat tanpa gerakan’ yang menyelisihi teladan nabi yang mengajarkan Islam dan juga sholat?

Hendak disangkal atau hendak direnungkan, kerap ada yang salah dengan bagaimana kita membuat hujjah. Contoh lainnya adalah mengenai kejawaaan kita. Kita selalu mengatakan bahwa yang khas dari orang Jawa adalah lemah lembut dan tata laku-nya. Imbas praktikal dari klaim ini adalah orang Jawa – yang tidak boleh hilang kejawaannya – selalu diajari untuk selalu lemah lembut dalam bertutur kata dan berperilaku sesuai adat Jawa pada hal apapun.

Pertanyaan yang penting justru timbul: Sejauh manakah lemah lembut teguh dipraktikkan kepada sesuatu yang buruk? Bukankah di dalam sejarah tanah Jawa kita telah belajar bahwa kekerasan kadang diperlukan demi kebaikan? Bukankah kita sama-sama sepakat bahwa Walisongo melakukan ‘kekerasan’ kepada Syeh Siti Jenar karena mengajarkan pantheisme dan atau monisme, sesuatu yang berbeda dengan ajaran Muhammad saw.? Bukankah Pangeran Diponegoro, yang sangat teguh memegang kejawaannya dan sikap halus orang Jawa, berani bergerak keras terhadap Belanda (cf. Peter Carey)?

Kadang Kekerasan Dibutuhkan

Kekerasan itu kadang diperlukan asal tepat keadaan, adil, tidak melupakan berbuat kasih sebab ada adab bahkan di dalam tindak kekerasan, dan tak pernah lupa menyediakan ruang pemaafan. Bila saja hendak adil melihat semua fenomena yang ada maka di dalam konteks penegakan demokrasi dan HAM tidak dapat disangkal bahwa kekerasan juga sering dilakukan – tentu saja dengan jargon spesial klasik yang hanya boleh dipakai untuk kekerasan atas nama demokrasi: ‘membebaskan’.

Salah kaprah yang sering terjadi adalah pemberian label bahwa semua kekerasan [kecuali yang didukung media massa] adalah selalu buruk. Dalam konteks ‘main label’ mana kekerasan yang baik dan mana kekerasan yang buruk maka jihad tergambarkan sebagai kekerasan yang buruk. Jihad sekarang ini selalu sengaja diarahkan definisinya dengan hanya kekerasan. Muncul istilah olok-olok serupa kelompok jihadis zonder timbang bagaimana konteks gerakan resistance atau perlawanan tersebut berawal. Intinya jika ada orang Islam melakukan pembelaan diri atau perlawanan terhadap penindasan di sebuah negara yang diinvasi adalah sudah otomatis disebut sebagai bagian dari grup jihadis.

Kebanyakan orang mengamini hal ini tanpa memahami kedalaman dan keluasan makna jihad. Apa yang diyakini oleh kebanyakan awam tentang jihad saat ini adalah distorsi pemaknaan. Argumen beserta fakta-fakta ditampilkan untuk meyakinkan publik awam bahwa jihad adalah memang benar-benar ‘tindakan kekerasan [terhadap orang yang berkeyakinan lain] dalam rangka menegakkan kalimat Allah’ tanpa ditampilkan kepada publik betapa kompleksnya fenomena ‘kekerasan’ (jika memang tidak ada kata lain untuk menunjuk pada kontak fisik) yang dilakukan oleh orang Islam.

Labeling untuk Melemahkan Lawan

Merujuk kepada apa yang pernah diletupkan oleh Huntington (1996) bahwa ideologi “yang tersisa” selepas perang dingin yang memiliki potensi untuk berkonflik di masa mendatang adalah Western dan Islamic. Kisah embargo minyak oleh negara-negara Islam di tahun 70-an dan trauma lama kekalahan bertubi-tubi dalam Crusade menghasilkan persepsi bahwa Islam adalah kompetitor yang alot. Penakhlukan Islam, sebagaimana sebelumnya telah berhasil dilakukan terhadap sosialis-komunis, tidak bisa dilakukan kecuali dengan pembuatan narasi di belakang tirai. Kapitalisme Barat sudah belajar dari pengalaman mereka bahwa berhadapan frontal dengan Islam kerap menghasilkan kekalahan.

Strategi pelemahan lawan lewat penciptaan narasi yang menguntungkan penguasa jalur informasi mainstream ini telah dikupas oleh Spivak di dalam Can The Subaltern Speak? (1988) ketika ia menunjukkan bagaimana sati ditampilkan terus-menerus oleh kolonial Inggris di dalam teks-teks sebagai bentuk budaya yang opresif terhadap perempuan dan buruk. Penampilan berulang-ulang sebuah narasi ‘cangkokan’ mengenai tidak beradabnya ritual sati ini menyingkirkan narasi asli sati yaitu pembuktian loyalitas kepada pasangan dan momen sakral kehinduan. Saat orang-orang India sudah teracuni narasi ‘keburukan’ sati dan melupakan nilai sakral sati maka mereka juga ‘mulai lambat laun percaya’ bahwa budaya mereka inferior [‘buruk’] dibandingkan superioritas [atau ‘kebaikan’] budaya Barat.

Pembentukan narasi yang telah sedang berlangsung sekarang dalam konteks benturan antarperadaban, sebuah istilah yang digaungkan oleh Samuel Huntington dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996) dan mengundang polemik, adalah tengah terjadi terhadap Islam.

Edward Said-lah yang menunjukkan di dalam kajian dan tulisan-tulisannya mengenai pembentukan narasi bahwa Islam itu ‘tidak toleran’, ‘kasar’, dan ‘jahat’. Edward Said adalah seorang cendekiawan Palestina yang concern terhadap apa yang tengah terjadi kepada Islam. Edward Said di dalam bukunya Covering Islam: How the Media and the Experts Determine How We See the Rest of the World (1997) menunjukkan bahwa narasi tentang Islam sengaja dibuat dalam rangka membentuk wajah Islam sebagai: suka kekerasan, buruk, kolot terhadap perubahan dan kemodernan serta selalu menolak apa yang dibawa oleh Barat.

Foto Edward Said di tahun 2003, tahun ia meninggal (Credit: Jean-Christian Bourcart/Getty Images)

Foto Edward Said di tahun 2003, tahun ia meninggal (Credit: Jean-Christian Bourcart/Getty Images)

6 Poin Hipotesis Penenunan Isu-isu dalam ‘Menyerang dan Melemahkan’ Islam secara Halus

Sebagaimana Said kemukakan, ideologi yang masih alot dan kurang begitu compatible dengan kapitalisme Barat adalah Islam. Diperlukan suatu cara agar orang-orang Islam terpecah dan sebagian dari mereka lalu ‘terpaksa’ mendefinisikan ulang ajaran agama mereka agar lebih compatible sehingga mudah dikuasai. Isu takfir, kafir, bid’ah, terorisme, bom bunuh diri, dan jihad sengaja ditenun menjadi sebuah narasi besar – beserta sekumpulan identifikator tematik – untuk mencapai tujuan hegemoni ideologi. Berikut ini adalah hipotesis penenunan isu-isu tersebut:

  1. Dibuat sebuah keyakinan lewat pembuatan narasi secara masif dan kolosal bahwa orang beragama Islam ada yang moderat dan ada yang fundamentalis.
  2. Dibuat sebuah momen besar yang membuat kaum moderat memisah dari kaum fundamentalis. Kejadian 9/11 memulai sebuah mega proyek War on Terror dapat terjadi. War on Terror, disangkal atau tidak, telah membuat batasan yang jelas: “bersama kami atau bersama mereka”.

Umat Islam kemudian terpecah karena pilihannya hanya ada dua: moderat atau fundamentalis. Yang moderat berarti compatible dengan apa-apa yang ditawarkan pemimpin mega proyek tersebut sedangkan yang fundamentalis tidak compatible dengan apa yang digaungkan.

Untuk wacana pembanding mengenai kejadian 9/11 apakah merupakan kejadian yang dilakukan oleh orang Islam ‘yang fundamentalis’ atau tidak, dapat dirujuk salah satunya pada laman ini, ini, dan juga ini.

Secara umum mega proyek War on Terror yang dimulai dengan kejadian 11 September, menurut banyak cendekiawan, ilmuwan persenjataan, analis militer dan politik, perkumpulan arsitek (yang memahami karakteristik bangunan WTC), saksi di tempat kejadian, keluarga korban WTC, dan beberapa politisi Amerika Serikat sebagaimana terkumpul di dalam gerakan 9/11truth dan ReThink911, adalah penuh keanehan jika dirujukkan kepada versi yang dinarasikan oleh pemerintah Amerika Serikat dan dituturkan ke seluruh dunia.[2]

Gerakan 9/11truth, ae911truth, dan ReThink911 merujuk kepada pertanyaan-pertanyaan dan dugaan dengan dasar yang kuat seputar:

1). keganjilan-keganjilan kronologi tindakan pemerintah Amerika Serikat sekitar kejadian 9/11,

2). Tiga bangunan gedung pencakar langit (Menara kembar WTC + Building 7) yang runtuh oleh tabrakan dua pesawat (cf. David Hooper, Anatomy of a Great Deception),

3). konstruksi gedung WTC yang memang sudah didesain untuk kuat terhadap tabrakan pesawat sejenis Boeing namun hancur dengan tabrakan pesawat yang sejenis,

4). Video-video pengakuan Osama bin Ladin atas tindakan ‘kekerasannya’ yang berbeda-beda wajah dan insiden pemakaman dihilangkan di laut sehingga pembuktian DNA tidak mungkin dilakukan,

5). Pesawat yang dinarasikan sebagai pesawat terbang komersial dan dibajak berdasar bukti-bukti video diragukan sebagai benar-benar pesawat terbang komersial,

6). Debris bangunan WTC secepat kilat sudah langsung ‘ditangani’ sehingga investigasi insiden dari lokasi kejadian sudah tidak dapat sempurna dilakukan,

7). Debris menara WTC yang sangat panas – besi rangka menara meleleh – dan berdasar banyak ahli, sangat tidak masuk akal jika dihasilkan dari hasil bakaran solar pesawat,

8). Beberapa perusahaan yang berkantor di WTC secara massal pindah dari WTC sebelum kejadian,

9). Kegelisahan urgensi kebutuhan sumber energi, khususnya minyak, yang harus segera dicarikan solusi untuk menghindari kolapsnya ekonomi Amerika Serikat yang dilontarkan oleh pejabat tinggi Amerika Serikat beberapa bulan sebelum peristiwa 9/11. Dugaan bahwa insiden 9/11 merupakan casus belli untuk menginvasi negara kaya sumber energi yang kurang kooperatif dan belum kuat lindung pengaruh China dan Rusia,

10). Sebelum peristiwa 9/11 yang dianggap banyak orang sebagai pelecut utama Amerika Serikat menyerang Irak dan Afghanistan terjadi, sebenarnya pemerintah Amerika Serikat sudah jauh-jauh hari mempersiapkan angkatan perangnya untuk serangan penuh ke Irak dan Afghanistan. Hingga kini alasan persiapan pasukan di sekitar Irak dan Afghanistan tidak begitu jelas namun 9/11 menjadi alasan justifikatif dimulainya operasi militer ke Irak dan Afghanistan,

11). Ketika invasi sudah terjadi maka secara logis mulai timbul perlawanan. Abrakadabra, gerakan perlawanan ini sudah langsung gampang dilabeli oleh media massa dan analis ‘pilihan’ sebagai grup radikal jihadis yang terkait dengan serangan 9/11. Awam dibuat kabur mana yang muncul lebih duluan di dalam ‘perang melawan teror’. Perhatikan bagaimana narasi mengenai kejahatan Irak (pembantaian yang dilakukan Saddam Hussein, Pengembangan Senjata Pemusnah Masal (WMD) Kimia dan Niklir, keterkaitan dengan Al Qaida) hanyalah rajutan dari ‘penggalan-penggalan’ fakta usang atau malah kadang palsu (cf. CBC – The Fifth Estate – The Lies that Led to War) juga perhatikan bagaimana Afghanistan yang dikait-kaitkan dengan Al Qaida dan pusat radikalisme Islam juga merupakan narasi manipulatif (cf. Syaikh Abdussalam, Community Showcase, Cage Africa; David Ray Griffin, 2010. “Did 9/11 Justify the War in Afghanistan?”; Michel Chossudovsky, 2010. “The War is Worth Waging: Afghanistan’s Vast Reserves of Minerals and Natural Gas”).

12). Saat usaha melawan narasi-narasi penyebar syubhat lewat hipotesis kuat mengenai latar belakang terjadinya peristiwa 9/11 maka dimunculkan pula narasi-narasi yang dipaparkan oleh orang-orang di luar ‘struktur resmi negara’ sehingga muncullah FUD (Fear, Uncertainty, Doubt) mengenai apa yang sedang terjadi dan bagian manakah dari sekumpulan narasi-narasi yang beredar hendak diterima kebenarannya. Bahkan Senator Paul Wellstone meninggal dalam kecelakaan pesawat yang diyakini oleh beberapa orang terkait dengan kerasnya ia bersuara tentang keganjilan kisah 9/11.

13). Usaha-usaha lewat jalur resmi konstitusional di dalam meminta penyelidikan ulang akan keganjilan jatuhnya gedung 7 oleh rakyat Amerika Serikat karena dapat ‘paling tidak’ menguak lubang atau ketidakkonsistenan cerita resmi mengenai serangan terorisme pada peristiwa 9/11 pun seakan-akan mendapat hambatan sebagaimana terjadi atas gerakan NYC CAN.

Meluas dari subjek perang mencari minyak bumi, dugaan perluasan market dan diseminasi ide demokrasi liberal yang memudahkan jalan bagi integrasi negara-negara yang ditakhlukkan menjadi berbasis demokrasi [liberal] kapitalisme dapat dirujuk kepada tulisan hipotesis Huntington di dalam benturan antarperadaban [antar-ideologi] dan Edward Said di dalam evilisasi Islam.

14). Dan ketika justifikasi perang lewat kisah WTC sudah mulai kacau maka dimunculkanlah ISIS sebagai bagian dari penciptaan keadaan: “ada musuh di sana”.

  1. Umat Islam yang fundamentalis ini dilabeli mitos sebagai sekumpulan orang yang mengartikan dan mempraktikkan Islam itu sebagai aksi kekerasan jihad [khusus yang sudah bergerak kontak fisik bukan beradu wacana lagi sudah spesifik disebut dengan label jihadis], pemberangusan bid’ah, aksi angkat senjata, terorisme, menolak patuh pada ‘semua’ hukum buatan manusia, tidak memberi ruang hidup kepada pemeluk agama lain, memusuhi kafir secara mutlak, dan mengakomodasi tindak bom bunuh diri sedangkan umat Islam yang moderat dibuat identifikator mitologis sebagai orang yang tidak kaku dalam beragama, menjadi rahmat bagi semesta alam, penuh kasih sayang, memberi ruang kepada umat lain, dan mengutuk segala tindak kekerasan.
  1. Ciri-ciri kelompok fundamentalis kadang dibuat di dalam satu paket narasi sebagai:

a). penolak doa bersama (didistorsikan sebagai bukti bahwa mereka ini membenci dan punya niatan untuk membunuh kafir serta tidak suka kedamaian); b). penolak pengadaan ritual tradisional yang baik dan sudah turun temurun (didistorsikan sebagai bukti bahwa mereka tidak mencintai budaya asli mereka. Mereka ini dilukiskan sebagai terlalu berkiblat pada Arab. Mereka dituding sebagai berbahaya bagi kearifan lokal); c). penganjur pada kemurnian peribadatan dan penasihat bahaya bid’ah (didistorsikan sebagai penolak segala kemodernan dan kemajuan zaman)*

  1. Perpecahan terjadi dan kemudian ‘memang muncul’ dua muka Islam: moderat dan fundamentalis. Pada fase ini umat Islam telah berhasil dipecah. Yang moderat akan punya kecenderungan untuk terus meng-compatible-kan diri dengan pencetus War on Terror sedangkan yang fundamentalis akan punya kecenderungan semakin menjaga jarak dengan ‘mereka’.

Pemilahan umat Islam menjadi dua kelompok yaitu kaum moderat dengan fundamentalis sebenarnya sebuah cara agar di dalam umat Islam terjadi saling tuding dan lalu terpecah belah. Separasi ini mengakibatkan umat Islam dibuat sibuk dengan saling membedakan mana yang se-aliran (moderat atau fundamentalis) serta di sisi lain membuat pembuktian-pembuktian bahwa Islam bukan agama yang sembarangan melakukan kekerasan kepada umat lain. Sudah menjadi sifat alami manusia yang cenderung mudah terprovokasi untuk membantah tudingan bahwa ia buruk.

Konsep moderat dan fundamentalis dalam beragama yang didoktrinkan secara halus kepada umat Islam adalah diniatkan sebagai provokasi untuk membuat umat Islam terpecah belah, sibuk menyanggah dan membantah tudingan pancingan, serta memaksa diri sebagian umat Islam untuk membuka keran permissivism selebar-lebarnya.

  1. Dunia, bukan hanya dunia Islam, bersamaan dengan peluncuran poin 1 hingga 4 dari hipotesis ini disuguhi oleh dua hal di dalam pop culture: 1). Film-film dan karya fiksi ilmiah yang menampilkan proyeksi jenis Islam yang melakukan kekerasan. Sebuah proyeksi evilisasi Islam dalam upaya membentuk keyakinan bawah sadar kolektif bahwa ‘Islam yang jahat’ memang benar-benar ada dan tidak layak dianggap sebagai saudara trans-negara yang layak dibantu oleh saudara Islam lainnya, 2). Film-film dan karya fiksi ilmiah yang menampilkan ketakutan akan akhir dunia dan hanya dapat dicegah oleh kekuatan teknologi yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Tujuan dari cangkok pikiran ini jelas, meyakinkan bahwa Amerika Serikat adalah superior dan juga menjadi satu-satunya harapan keberlangsungan bumi dan manusia sehingga tidak pas untuk tidak didukung.
Screenshot Laman Muka SItus Architects and Engineers for 9/11 Truth (Credit: ae911truth.org)

Screenshot Laman Muka SItus Architects and Engineers for 9/11 Truth (Credit: ae911truth.org)

Bagian dari Adu Domba: Penciptaan Mitos tentang Nasihat Bid’ah adalah sama dengan Takfir dan Makin Disokongkuatkannya Moderat Islam dengan Warna Lokal

Berdasar pengertian yang sederhana, takfir adalah menggelari seorang muslim sebagai keluar dari Islam karena ucapan dan atau perilakunya yang secara terang-terangan dan konsisten berseberangan dengan apa yang Al-Kitab (untuk istilah ‘Al-Kitab’ silakan rujuk ke tulisan saya yang berjudul ‘Sastra dan Hermeneutika‘ pada bagian endnote nomor 1) dan As-Sunnah ajarkan. Takfir adalah perkara yang berat dan bukan perkara yang ringan. Penggelaran takfir kepada seseorang pun harus bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah bukan dengan asal-asalan.

Telah terjadi salah kaprah yang fatal di dalam merujuk perbuatan takfir. Yang sering terjadi adalah saat seseorang menegur saudaranya yang seiman mengenai praktik bid’ah sering disalahsangkakan sebagai bentuk takfir. Ada kerancuan mengenai nasihat tentang bid’ah dengan pentakfiran. Agama adalah nasihat. Perilaku saling menasihati dalam takwa dan kebaikan adalah nature seorang muslim kepada saudaranya. Oleh sebab itulah ketika saudara kita menasihati tentang ibadah bid’ah tidak selalu dapat langsung disangkakan bahwa ia mengkafirkan kita.

Ada semacam mitos mengenai keterkaitan antara takfir, nasihat mengenai bid’ah, dan kekerasan. Nasihat mengenai bahaya bid’ah sejatinya dilakukan oleh ulama atau saudara-saudara kita dalam rangka kasih sayang dan nature untuk saling menasihati dalam kebaikan. Nasihat tentang bid’ah dalam agama memang kadang terdengar keras dan kurang mengenakkan telinga karena perkara bid’ah adalah bukan perkara yang sepele. Adakah kita pernah merenung barang sebentar saja mengapa mereka ini terkesan begitu sangar di dalam nasihat tentang bid’ah? Bukankah Muhammad saw. sudah memberikan peringatan keras mengenai bid’ah? Mereka yang menasihati tentang bahaya bid’ah sering disalahsangkakan sebagai bentuk kekakuan memahami agama. Mereka yang berbicara tentang bid’ah selalu dikaitkan dengan cerita bahwa mereka ini punya potensi untuk melakukan kekerasan. Well, tidak ada ruginya pandangan tidak pas ini dirujukkan kepada kisah Ibrahim as. dengan kapaknya.

Bid’ah adalah istilah yang ada di dalam Islam. Istilah bid’ah bukanlah istilah baru dalam Islam sebab memang jelas tersebut di dalam beberapa hadist. Bahkan Muhammad saw. kerap mengulang-ulang nasihat untuk menghindari bid’ah di dalam khotbah beliau (cf. HR Muslim No 867).

Bid’ah secara umum dapat diartikan sebagai membuat perkara baru dalam agama (cf. HR Muslim No 867, HR Bukhari No 5063, HR Muslim No 1847, HR Tirmidzi No 2677). Ketika seorang muslim mengadakan amalan baru di dalam beragama dengan dalih apapun, dapat disebut sebagai menambah perkara yang baru di dalam agama. Islam bagi orang Islam adalah agama yang lengkap. Segala amalan telah diajarkan oleh Muhammad saw. tanpa ada yang ditutup-tutupi. Bukankah amalan yang diajarkan Muhammad saw. sudah sangat banyak untuk tiap kita dapat melakukan semua amalan tersebut? Mengapa merasa lebih pintar di dalam beribadah kepada Allah dengan menambah amalan baru?

Yang lucu dari penyebar ‘kebohongan’ tentang isu bid’ah biasanya lari kepada dua hal: 1). merancukan awam antara bid’ah di dalam beribadah dengan ‘perkara baru di dalam kehidupan’, atau 2). merancukan awam dengan penafsiran liar.

Pada kasus pertama penyebar kebohongan biasanya merujuk kepada kalimat yang kurang lebih berbunyi: Apa-apa yang tidak ada di jaman nabi saw. disebut bid’ah lalu naik sepeda motor, memakai listrik, menikmati dan mensyukuri kemajuan teknologi berarti tidak boleh?

Perlu diketahui bahwa apa yang Muhammad saw. nasihatkan tentang bid’ah adalah perkara baru di dalam beragama dan bukan dalam semua hal. Jadi jikalau seorang muadzin menggunakan pengeras suara sebagai pengganti keharusan ia bersuara lantang tiap adzan maka tidaklah dapat disebut sebagai bid’ah sebagaimana kebolehan manakala kita pergi ke masjid hendak memakai motor dan bukan berjalan kaki karena rumah yang terlalu jauh untuk berjalan kaki. Namun menjadi tidak tepat, sebuah bid’ah, ketika misalnya ber-adzan dengan lafaz yang dibuat sendiri meskipun diargumenkan sebagai baik.

Implikasi dari perancuan di atas adalah penyimpulan bahwa Islam seakan-akan menolak kemajuan dan modernisasi.

Pada kasus kedua dirancukannya awam dengan penafsiran liar dari hadist tentang bid’ah hasanah. Sebenarnya pembahasan tentang bid’ah yang lebih pas dapat dirujuk kepada laman ini atau ini.

Isu bid’ah adalah isu yang menarik di dalam makin kuatnya fenomena terpecahnya umat Islam menjadi bukan hanya moderat vs. fundamentalis saja namun ‘moderat dengan warna lokal’; atau kadang distempel sebagai pembumian Islam yang disesuaikan dengan budaya setempat. Di Indonesia, isu Yasinan adalah isu utama yang menjadi penanda ‘moderat dengan warna lokal’.

Bahasan khusus tentang Yasinan, sebagai salah satu isu yang kerap menciptakan konflik frontal horizontal, argumen-argumen yang lebih lengkap dapat dirujuk pada laman ini atau ini. Di dalam isu Yasinan, secara singkat, awam dibuat rancu antara 1). Sampainya doa dan amalan sedekah kepada orang yang sudah meninggal yang seakan-akan terjustifikasi manifestasinya hanya lewat Yasinan. Cara lain yang bukan lewat ‘institusi’ Yasinan menjadi seperti ‘kurang lazim’, 2). Perintah membaca Quran yang dikait-kaitkan dengan pemilihan ‘hanya’ surah Yasin padahal tidak ada dalil yang kuat dengan pengkhususan selalu membaca surah Yasin, 3). Tidak ada dalil pengkhususan hari-hari dengan bilangan tertentu. Dalil yang disandarkan pada pendapat Jalaludin Abdurrahman As-Suyuthi beratsar ma’lul lagi dhoif,[3]  4). Larangan berkumpul-kumpul setelah pemakaman yang dibenturkan dengan argumen menghibur keluarga yang berduka, 5). Klaim ritual warisan Walisongo yang patut dipertanyakan: a. Apakah benar Walisongo mengajari demikian? b. Benarkah Walisongo mengajari demikian untuk tetap diteruskan ataukah hanya sementara dipakai sebagai sarana untuk kemudian dihilangkan secara pelan-pelan? c. Jikalau memang ada bukti-bukti kuat bahwa Walisongo mengajari demikian, apakah ide kembali kepada As-sunnah di dalam menyikapi kematian hendak dinafikan? 6). Alasan berkumpul dalam kebaikan dan sebagai sarana dakwah yang juga menyelisihi poin nomor empat, 7). Tradisi ritual khas Jawa yang patut dilestarikan versus permurnian ritual ibadah, dan 8). Isu kekakuan dalam beribadah dengan memegang As-Sunnah.

Penciptaan Mitos mengenai Istilah Kafir yang Deviatif dari Skriptur Islam

Isu lainnya adalah mengenai pemakaian istilah kafir. Kafir secara bahasa dapat dirujukkan kepada ‘ingkar, menolak, menutup’. Tidak dipahami oleh kebanyakan orang – bahkan orang Islam awam – bahwa di dalam Islam orang kafir dapat dibagi menjadi tiga golongan: kafir harbi, kafir ahlu al-‘ahd, kafir dzimmi (cf. Ibnu Qayyim). Ketiga golongan kafir ini di dalam kacamata Islam memiliki kedudukan yang berbeda-beda. Selama ini mitos yang selalu diajarkan, dan tidak fair di dalam mengutip sumber dari literatur dan sejarah Islam, adalah bahwa orang Islam diajari untuk ‘memusuhi, berperilaku ramah yang hipokrit, tidak berlaku adil, berbuat jahat, bahkan membunuhi’ orang-orang kafir.

Modus yang dipakai di dalam membuat dan mengukuhkan mitos ini adalah dengan memotong sebuah ayat dari ayat yang lain, dari konteks sebab turunnya, dari hadist yang menerangkan maknanya, dan bagaimana Muhammad saw. dan para sahabat awal – semoga rahmat Allah atas mereka – mempraktikkannya. Modus lain yang kadang dipakai di dalam pengukuhan mitos ini adalah mengutip kisah sejarah dengan membuat distorsi tentangnya. Repotnya, praktik-praktik ini dilakukan dengan kalimat-kalimat yang santun dan atau mengesankan keilmiahan sehingga kerap memukau.

Saat kita fair melongok hubungan antara umat Islam dengan umat yang bukan Islam (atau disebut dengan istilah sebagai kafir) akan kita dapati bahwa kebanyakan cerita yang beredar tentang kekejaman Islam terhadap kafir adalah mitos. Dampak fatal dari mitos ini adalah ada semacam fobia manifestasi kekerasan di dalam penggunaan istilah kafir untuk menyebut orang yang bukan Islam: mereka yang Islam sungkan memakai istilah kafir kepada non-muslim sedangkan yang non-muslim merasa terancam dengan istilah kafir.

Istilah kafir di dalam Islam merujuk kepada mereka yang bukan muslim, non-muslim. Di dalam sejarah Islam di zaman Muhammad saw. dan para sahabatnya, rahmat Allah atas mereka, muslim hidup berdampingan dengan kafir. Tidak ada yang salah dengan istilah kafir. Istilah kafir dari etimologi maupun di dalam teologi Islam merujuk kepada mereka yang menolak Islam sebagai keyakinan yang hak. Mitos yang berkembang bahwa kafir adalah sebutan orang Islam terhadap orang di luar mereka ‘yang harus dibunuh’, ‘tidak layak diperlakukan adil’, ‘serupa hewan’, ‘sudah pasti masuk neraka,’[4] dan ‘tidak memiliki hak hidup’ adalah tidak berdasar pada sumber otentik Islam (cf. tulisan Umm Zakiyyah yang berjudul ‘Kaafir, the New F-word’ memiliki perspektif yang mirip dengan apa yang saya sampaikan).

Penyematan Kesepadanan Istilah antara Jihad, Terorisme, dan Bom Bunuh Diri

Isu lain yang dilekatkan dengan Islam ‘yang buruk’ – Islam fundamentalis – adalah jihad, terorisme, dan bom bunuh diri.[5] Sudah jelas bahwa jihad adalah bagian penting dari Islam sedangkan terorisme bukan ajaran Islam jikalau kita benar-benar mempelajari ajaran Islam. Tidaklah adil untuk menganggap bahwa terorisme adalah ajaran Islam karena kebetulan ‘ada orang Islam yang melakukan terorisme’ [Bahkan secara ekstrem, temuan Trevor Aaronson bisa memberikan gambaran bagaimana national security theater yang merujuk pada ‘Muslim Terrorist Attack on American Soil’ adalah proyek internal pemerintahan Amerika Serikat yang dapat kita baca pada tulisan yang berlandaskan banyak data dengan judul “How the FBI Created A Terrorist”].**

Sama halnya juga tidak tepat jika diterapkan di dalam menuduh bahwa demokrasi mengajarkan ‘terorisme oleh negara’ karena ada beberapa negara pengusung demokrasi yang menginvasi dan atau membuat teror politik dan ekonomi terhadap negara lain karena ‘berbeda pendapat’ tentang bentuk pemerintahan yang ideal (baca: tidak memakai demokrasi sebagai sistem bernegaranya). Begitu juga merupakan hal yang ceroboh saat kita menuduh agama-agama di daerah tertentu di belahan dunia ini sebagai pengajar terorisme oleh sebab kebetulan ‘ada pemeluk agama tersebut yang melakukan terorisme’.

Kasus bom bunuh diri adalah kasus yang menarik. Ia menarik karena dari kajian bentur kebudayaan, Gayatri Spivak menyebut di dalam salah satu pidatonya sebagai perilaku sub-altern yang kian tersedak karena tidak memiliki sedikit pun kesempatan untuk berbicara mengenai ketertindasannya sedang narasi yang bertebaran malah justru menjustifikasi ‘kebenaran’ dan pembenaran pihak penindas.

Di dalam dunia Islam mayoritas ulama menyatakan pendapat bahwa bom bunuh diri di dalam melawan penindasan sebagai perbuatan yang terlarang. Perjuangan melawan penjajah, penindas, atau pembuat kejahatan harus dilakukan secara proporsional; bukan dalam konteks keputusasaan dan gegabah serta memahami mana daerah damai dan mana daerah di mana peperangan terjadi.

Patut pula ditambahkan bahwa bom bunuh diri merupakan fenomena yang tidak hanya terjadi di dunia Islam. Di beberapa negara, bom bunuh diri juga dilakukan oleh pemeluk agama lain, juga sebagai cermin dari keputusasaan. Berdasar hal-hal ini maka mengatakan bahwa bom bunuh diri adalah ciri khas ajaran Islam adalah blunder pembuatan kesimpulan.

Penyempitan Definisi Jihad – Perancuan Makna Jihad

Awam sering dibuat bingung dengan istilah jihad. Kebingungan disebarkan dengan membedakan bahwa Islam yang baik adalah yang tahu bahwa jihad hanyalah melawan hawa nafsu sedangkan Islam yang salah –yang radikal– adalah yang memaknai jihad sebagai mengangkat senjata ketika ditindas.[6] Beberapa endorser inferioritas jihad sebagai suatu istilah yang melingkupi angkat senjata berperang membela penindasan dirancukan lewat penggaungan terus menerus sebuah penyempitan makna jihad hanya sebagai melawan hawa nafsu.

Di sisi lain, karena istilah jihad disempitkan maknanya menjadi perang melawan hawa nafsu saja lewat endorser-endorser terpilih maka jihad yang termasuk membela diri dengan mengangkat senjata menjadi sesuatu yang tabu untuk diceritakan ke publik awam. Endorser-endorser mau ikut mengkampanyekan narasi itu bisa karena uang dan atau bisa karena dicekoki dengan ketakutan bahwa jikalau istilah jihad ditautkan juga dengan aktivitas mengangkat senjata maka Islam akan disamakan dengan mengajarkan kekerasan.

Narasi model ini yang diceritakan terus-menerus lewat media massa akan membuat umat Islam awam meredefinisi istilah jihad. Mereka memberi arti baru –yang sempit- bahwa mengangkat senjata ketika ditindas bukanlah sesuatu yang terkait dengan jihad. Ini terbentuk oleh dua hal: endorser-endorser narasi yang merupakan ulama yang su‘ atau ulama baik yang terlalu moderat seolah-olah yang mengajarkan suatu definisi bahwa jihad tidak bisa dilakukan dengan angkat senjata meskipun dalam kondisi tertindas. Indoktrinasi bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu yang telah membuat umat Islam merasa sudah ‘benar’ karena mendahulukan jihad yang paling besar: melawan hawa nafsu dan merasa ‘salah’ jika ada pikiran bahwa membela diri dengan mengangkat senjata adalah jihad.

Ketakutan menampilkan definisi jihad secara utuh adalah fenomena yang relevan dengan bahasan Gayatri Spivak mengenai bagaimana sati di dalam budaya Hindu India menjadi nampak buruk dan akhirnya menghilang dari praktik ritual. Umat Islam bisa suatu ketika pada titik nadir kehilangan kepastian definisi istilah jihad, konteks aplikasinya, dan urgensinya di dalam kelindannya terhadap pengakuan keimanan.

Upacara sati yang merupakan salah satu praktik ritual di dalam agama Hindu India, saat itu dalam bedah Spivak, disebut-sebut kolonial Inggris sebagai tidak beradab. Sati diajarkan kepada rakyat pribumi saat itu oleh pemerintah kolonial Inggris sebagai sesuatu yang harus dihindari karena mengejarkan kekerasan, kebrutalan. Pelabelan ini dilakukan secara besar-besaran dan berkelanjutan sehingga menciptakan keyakinan pada masayarakat Hindu India bahwa sati adalah benar-benar buruk dan kemudian meninggalkan praktik ritual tersebut.

Sebenarnya jika ditelisik lebih dalam, sati adalah identitas kehinduan India. Praktik ritual ini adalah salah satu bagian dari Hindu India sehingga indoktrinasi –yang kemudian berhasil– bahwa sati adalah sesuatu yang buruk. Saat itulah timbul rasa inferioritas budaya dalam diri orang Hindu India terhadap budaya kolonial Inggris. Rasa inferioritas ini menyebabkan makin mudahlah kolonial Inggris mencekoki ajaran mengenai keunggulan budaya Inggris. Dan dari situlah Inggris berhasil menjajah India secara lama.

Jihad secara istilah sebenarnya berarti “bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan”.[7] Jihad tidak pernah diartikan bahwa yang paling utama adalah ‘menahan hawa nafsu’. Pernyataan ‘jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu’ ini seakan-akan kadang meremehkan bentuk jihad lain yaitu mengangkat senjata ketika penindasan dilakukan atas orang beriman.[8]

Perlu diketahui bahwa hadist yang dipakai untuk membuat kesimpulan bahwa ‘jihad melawan hawa nafsu sebagai jihad terbesar‘ sebenarnya bersandar pada hadist lemah.[9] Hadist ini lemah oleh sebab terdapat perawi yang bernama Yahya bin Ya’la Al-Aslami Al-Kufi dan Laith bin Abi Sulaim. Pun meski demikian, informasi ini jangan diartikan bahwa ‘melawan hawa nafsu’ bukan bagian dari jihad sebab ada hadist lain yang menyatakan bahwa melawan hawa nafsu juga bagian dari jihad.[10] Yang menjadi kurang pas adalah bila meyakini jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu dan jihad dalam bentuk lain kalah utama dari melawan hawa nafsu.

Ada yang salah jika terjebak dengan keyakinan bahwa jihad adalah hanya melawan hawa nafsu dan menghindari pemakaian istilah jihad ketika berjuang dengan angkat senjata di dalam membela diri dan agama yang diyakini. Usaha mengerucutkan jihad kepada urusan hawa nafsu saja sehingga kemudian timbul ‘keyakinan’ di dalam pikiran awam mengenai definisi itu adalah bagian dari memencilkan suatu ajaran yang jelas ada dasarnya di dalam skriptur dan membuat awam menafikan ajaran yang resmi ada di dalam agama yang diyakininya. Kalau sudah demikian bolehlah disebut sudah merasa inferior dengan istilah ‘jihad’ dan mungkin bisa merembet kepada istilah-istilah lain. Perasaan inferior pada praktik keberagamaan lewat pembingungan istilah dan ajaran adalah jalan bagi mudahnya dipecah-belah dan ditakhlukkan, serupa kisah sati.

Kontemplasi

Malam itu, seperti biasa, saya mendapati televisi – saat dilakukan secara masif dan kolosal – potensial untuk dapat mencekoki awam dengan pemikiran atau keyakinan apapun.

Bagaimana jika televisi sebagai alat dakwah kapitalisme terus menerus dipakai dan berhasil mendikte awam mengenai ‘cara yang benar’ dalam memahami dan menjalankan perintah agama lewat ulama-ulama su’? Jika demikian terjadi bukankah ancaman tercabutnya ilmu agama pelan-pelan menjadi nyata?

Ah, mungkin memang benar. Ulama-ulama yang baik dan tinggi ilmunya kurang laku di televisi karena tidak pandai membuat senda gurau dan main-main, tidak pandai bernyanyi, tidak mengajarkan ‘semua’ pelestarian ritual budaya, tidak bisa joget, tidak fasih berbahasa Inggris, tidak memakai gadget canggih, tidak berpenampilan gaul, dan tidak dapat melakukan hipnotis. Mereka tidak suka bermain-main dalam menyampaikan sesuatu. Mereka kurang memiliki nilai jual, kurang atraktif.

Ataukah bukan itu saja?

Bercermin dari apa yang telah tersampaikan di atas, ulama-ulama yang baik dan tinggi ilmunya ini tidak  laku di televisi karena tidak menguntungkan  bagi teror penciptaan perasaan inferior – tidak kooperatif, tidak bisa mengikuti narasi redefinisi Islam, tidak dapat membuat Islam yang mampu berintegrasi dengan kapitalisme dan budaya Barat yang ‘superior’, tidak dapat meng-compatible-kan Islam dengan kebutuhan permisif pada semua hal. Dengan kata lain, mereka memang tidak ‘berguna’ bagi usaha penancapan hegemoni ideologi dalam doktrinasi massal awam lewat televisi.

Lalu bagaimana jika kita, karena terbiasa terpapar televisi, menjadi terlena kepada pembodohan yang dikemas secara atraktif dan lalu menyingkiri kebenaran yang membuat panas telinga?

Apakah kemudian ulama-ulama yang baik dan tinggi ilmunya akan makin memencil, teralienasi, menjadi al-ghuroba’, menjadi sub-altern that cannot speak sehingga kita tidak mempunyai lagi akses kepada mereka dan kita juga tidak memiliki lagi saluran yang mampu mendistribusikan, mewartakan, membagikan nasihat dan pemikiran mereka? Bukankah pada keadaan seperti ini umat Islam seperti dibodohi dengan buaian atraksi permainan narasi dan lelucon-lelucon yang membuat kita ikut tertawa atas kebodohan yang tidak mau segera disadari?

================================

Endnotes

[1] Si Penceramah benar hanya pada bagian “salah karena mengekor budaya Arab”. Mempraktikkan Islam bukanlah mempraktikkan semua hal yang ada di Arab. Jikapun banyak hal di kawasan Arab sudah terislamisasikan bukan berarti semua hal yang ada di Arab adalah bagian dari Islam. Silakan bandingkan dengan salah kaprah mengenai Islam dianggap sama dengan Arab di dalam tulisan ini.

[2] Tidak hanya banyak kejanggalan di dalam versi resmi (official story) peristiwa tersebut namun juga jargon-jargon War on Terror malah menjadi alat justifikasi menindas [negara-negara] muslim.

Mengenai gugatan ini silakan misalnya baca tulisan dari Junaid Rana (Associate Professor dalam Kajian Asian American dari Universitas Illinois, Urbana Champaign) yang berjudul “Palestine, Blackness, and the Complexity of Racism” lewat link berikut ini untuk menambah pemahaman mengenai bagaimana jargon War on Terror adalah propaganda terselubung di dalam menekan Islam: http://www.theislamicmonthly.com/the-challenge-of-decolonization/

[3] Justru yang menarik dari fenomena Yasinan adalah mengenai darimana angka-angka jumlah hari di dalam suasana duka keluarga yang ditinggalkan dirujuk. Jika dugaan beberapa orang bahwa angka-angka hari yang dipakai sebagai patokan berkumpul para tetangga di rumah keluarga yang berduka adalah dari tradisi Hindu maka bisa jadi benar. Perlu diingat bahwa sebelum Islam masuk ke tanah Jawa, budaya Hindu sudah sangat kuat berakar.

Prosesi ritual duka di dalam tradisi Hindu (cf. Sourabh Gupta. 20 Mei 2009. “Hindu Death Rituals”Hinduism Today. Januari/Februari/Maret 2007. “Death and Dying”; Vasudha Narayanan. Februari 2003. “Hindu Rituals for Death and Grief”) dapat disarikan beberapa hal yang masih terdapati jejak tradisi Hindu di penduduk Jawa ketika menghadapi kematian adalah sebagai berikut:

  1. Keluarga duka tidak boleh memasak makanan kecuali jenazah sudah selesai dikremasi (dikubur)
  2. Tempat di mana yang bersangkutan meninggal, dipasangi lampu teplok / lilin untuk memberi penerangan pemandu perjalanan arwah dan juga disediakan semangkok air untuk memberi kesegaran bagi perjalanan arwah.
  3. Semua cermin di dalam rumah duka ditangkupkan atau ditutupi.
  4. Pada hari ke-3, 5, 7, 9 dan setahun setelah kematian diadakan acara berkumpul makan dan mengenang orang yang meninggal di rumah keluarga duka.

Pada tradisi Islam, tulisan Abu Al-Jauzaa’ yang berjudul “Atsar Thaawuus tentang Anjuran Tahlilan 7 Hari Berturut-turut” dapat menambah referensi terkait duduk perkara ini.

[4] Di dalam Islam, masuk surga atau nerakanya seseorang adalah hak mutlak Allah. Sebagaimana tersebut di dalam hadist berikut ini:

Dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud radiallahu’anhu, beliau berkata: Kami diberitahu oleh Rasulullah dan beliau adalah orang yang juur lagi terpercaya – Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya telah disempurnakan penciptaan salah seorang dari kalian dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk sperma, kemudian dia menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus kepadanya malaikat, kemudian ditiupkan ruh kepadanya, lalu malaikat tersebut diperintahkan untuk menulis empat perkara; untuk menulis rizkinya, ajalnya dan amalannya dan nasibnya (setelah mati) apakah dia celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Dia. Sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli surga, sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya satu hasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, sehingga dia memasukinya. Dan salah seorang di antara kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli neraka, hingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya sehasta, lalu dia didahului oleh catatan takdirnya, sehingga dia beramal dengan amalan ahli surga hingga dia memasukinya. (HR Bukhari dan Muslim. Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam [Bid’ul Khalqi/3208/Fath]. Muslim di dalam [Al Qadar/2463/Abdul Baqi]).

[5] Perjuangan melawan musuh dan atau penindasan dengan bom bunuh diri secara jumhur (mayoritas ulama) adalah haram (dilarang). Fenomena bom bunuh diri sebagai perlawanan melawan penindasan sendiri juga terjadi pada beberapa perjuangan yang dilakukan oleh pihak yang persenjataannya kalah jauh melawan musuh yang persenjataannya lengkap dan canggih DAN tidak selalu melulu terkait dengan ‘keyakinan seseorang bakal masuk surga jika demikian dilakukan’.

Simplifikasi pandangan bahwa semua motif bom bunuh diri adalah ‘dilandasi keyakinan yang diajarkan di dalam agama tertentu dengan ganjaran dunia akhirat yang demikian dan demikian’ justru melupakan banyak faktor lainnya sebagai pendorong dan faktor lainnya sebagai penyanggah.

Faktor pendorong adalah misalnya keputusasaan dalam perjuangan melawan penindasan atau bisa juga karena dendam personal. Faktor penyanggah adanya keterkaitan bom bunuh diri yang seolah-olah selalu dikaitkan dengan ajaran suatau agama –dalam konteks ini adalah Islam– adalah misalnya bagaimana secara mayoritas pendapat ulama Islam bahwa bom bunuh diri adalah terlarang.

Sebagai tambahan, aksi bunuh diri di dalam perjuangan juga dilakukan oleh ‘individu yang beragama selain Islam.’ Sehingga menjadi salah kaprah jika sudah teracuni narasi media massa bahwa aksi bom bunuh diri adalah identik dengan [ajaran] Islam.

[6] Mengangkat senjata ketika ditindas bisa dibaca sebagai berjuang dengan harta, jiwa (fisik), lisan (tegur, nasehat) di dalam menegakkan kalimat tauhid.

[7] Ibnu Taimiyah dalam Kholid Syamhudi. 21 Juli 2010. “Memahami Arti Jihad”. Web. Diakses 18 September dari:

http://muslim.or.id/manhaj/memahami-arti-jihad.html

[8] Ibid.

[9] Abu Umair. Tanpa tanggal. “02-020 : Hadis Sebaik-baik Jihad Ialah Jihad Nafsu”. Web. Diakses 18 September 2014 dari:

http://abuumair.com/soal-jawab/al-quran-dan-hadis/02-020/

Dalam hadis Jabir, sekumpulan sahabat pulang dari satu peperangan, lalu Nabi SAW bersabada: Kamu pulang dari jihad kecil kepada jihad yg lebih besar, iaitu: Mujahadah seseorang hamba terhadap nafsunya (HR: Dailami, dan dinilai DHAIF oleh muhadditheen dan muhaqqiqeen. Silsilah Dhaifah 5/478).

[10] Ibid. “Orang yang berjihad ialah orang yang melawan nafsunya” HR Tirmizi (no: 1621). Hadis Hasan Sahih.

* Untuk diskusi (debat) mengenai ini silakan rujuk pada video di YouTube ini dan tulisan Ustad Firanda Andirja.

** Untuk presentasi Trevor Aaronson, dapat disimak pada video Ted berikut ini.

Creative Commons License
Pembodohan yang Atraktif by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.