Tafsir

Teks tidak berubah namun tafsirannya bisa berubah. Perubahan tafsiran bisa terjadi karena resipien, reseptor, audience (penikmat), reader (pembaca), akseptor, responder teks berada pada konteks, situasi, keterkondisian-sebelum (presuposisi) yang berbeda. Namun perubahan tafsiran bisa sebebas-bebasnya sehingga merusak esensi teks, bisa juga menyingkap kemungkinan lain dari esensi teks yang sudah ada tanpa merusak intensi pemilik asli pesannya. Kalau berpagut pada teks yang sakral, atau skriptur, yang memang ada niatan diperbedakan dengan teks sastra maka bentuk yang pertama ditinggalkan sedangkan bentuk kedua kadang dalam keadaan tertentu dilakukan atau kadang memang dibutuhkan —tentu dilakukan oleh ahlinya dan dilakukan dengan sangat hati-hati.

Perbedaan ini misalnya bisa kita temukan pada piagam kemerdekaan Amerika Serikat yang koarnya “all men are created equal.” Senyimak, kalimat ini bagi banyak orang kini dianggap sebagai baik dan patut diteladan. Namun intensi, niatan, pesan yang ada di dalam kalimat itu adalah “semua laki-laki kecuali laki-laki budak diciptakan setara.” Hanya laki-laki? Ya, karena saat itu perempuan di dalam gerak politik dan juang Amerika Serikat abad 18 memang invisible (tak nampak, tak dianggap). Laki-laki bukan budak? Ya, karena perbudakan masih berlangsung di Amerika Serikat saat itu dan para budak tidak dianggap setara. Tapi lihatlah bagaimana teks yang sama kemudian mengalami tafsiran yang berbeda. Kalimat itu kini tidak mempunyai pengecualian; setiap manusia diciptakan setara.[1]

Tetapi pemahaman sejarah teks piagam kemerdekaan Amerika Serikat hingga memungkinkan pemahaman itu bisa dilakukan ketika teks dan sejarah teks tersedia.

Lalu bagaimana dengan skriptur? Di dalam Bible kita mengenal hermeneutika dan eksegesis. Kadang keduanya dianggap satu kadang dianggap beda. Kita semua tahu bahwa Bible tertua bukan berbahasa Aramaic. Masalahnya adalah, Yesus (pbuh) mengabarkan “berita baik” dalam bahasa Aramaic dan bukan bahasa Yunani. Belum lagi sebelum kanonisasi, teks-teks Bible yang berserakan SAAT ITU jumlahnya ada puluhan versi dan semuanya dipakai oleh berbagai macam gereja baik yang trinitarian (percaya bahwa Yesus dan Roh Kudus adalah satu Dzat dengan Bapa) maupun unitarian (meyakini Yesus adalah sebagai manusia yang diutus Bapa). Kodifikasi konsili gereja awal memilih empat versi (Bible Yohanes, Matius, Lukas, Markus) sebagian memilih lima dengan tambahan Bible Thomas. Kanonisasi dilakukan berkat kerja Athanasius dengan mensortir teks-teks yang ada dan membuang lainnya.[2] Teks yang dipilih Athanasius menjadi Bible yang terkanonkan sedangkan teks yang ditolak Athanasius ditolak, disebut apokrifa.

Dari keempat Bible berbahasa Yunani ini, penulis SEBENARNYA adalah anonim. Nama Yohanes, Matius, Lukas, dan Markus adalah nama yang diberikan oleh proses kanonisasi menjadi satu bendelan “book” membuat kebutuhan pemberian nama otoritas kepada siapa teks tersebut disandarkan sehingga kemudian teks-teks yang berserakan itu “dianggap ditulis oleh” keempat nama tersebut.[3] Karena Yesus (pbuh) hidup dalam lingkungan Yahudi-Romawi dan berbahasa Aramaic sedangkan Bible empat tersebut berbahasa Yunani dan ditulis oleh penutur cerita berlatar Yunani-Romawi sekitar dua abad setelah Yesus (pbuh) kemudian tersebar ke dunia lewat kanon berbahasa Inggris King James Version, oleh sebab itulah Profesor Tafsir Skriptur Biblikal Hanko[4] menyatakan diperlukannya hermeneutika untuk menyambungkan dua bagian dari “konteks teks” dan “konteks penutur kisah Yesus (pbuh).” Sedangkan Bornkamm[5] melengkapi kerja tafsir dari Bible yang tertua tersedianya hanya dalam bahasa Yunani dengan perubahan-perubahan DAN penambahan-penambahan redaksi skriptur yang terjadi lewat proses terjemah dan transfer konteks (kontekstualisasi) di dalam bahasa Inggris dan Eropa Barat lainnya dalam istilah yang disebut dengan Kritik (Tafsir) Redaksi.

Dari situlah kita jadi tahu “pada mulanya adalah firman” yang sering dijadikan dasar trinitas memiliki kisah terjemah-tafsir yang rumit dan tidak selalu mendukung konsep trinitas,[6] lalu kita jadi paham bagaimana “di surga ada tiga yang bersaksi, Bapa (The Father), Putra (naskah Inggrisnya The Word),[7] dan Roh Kudus (The Holy Spirit)” diyakini para akademisi skriptur Bible sebagai tambahan sebab tidak bersumber dari naskah aslinya.[8]

Sebagaimana kita kemudian mengerti bahwa “pergilah ke seluruh dunia, beritakan ini ke segala makhluk”[9] tidak terdapati di dalam teks Bible tertua sebagaimana juga ungkapan yang sering dikutip “siapa tak ada dosa boleh lempar batu pertama” yang tidak ditemukan di dalam skriptur Bible yang tua.[10] Dari situ juga kemudian kita jadi tahu tafsir kata “oinos” di dalam tindak mukjizat air menjadi “oinos” ada yang bersikeras bahwa itu “jus anggur” yang tidak memabukkan dan bukan “serupa khomer, miras (minuman keras)” yang bisa bikin kliyengan. Begitu pula ayat yang berbunyi “I can do all this through him who gives me strength (segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku)” di dalam Filipi 4:13 harusnya melihat konteks penulisan ayat pada masa di mana Paulus sedang menjadi pesakitan hukum dan juga harus ditautkan dengan ayat 11 dan 12-nya yang artinya adalah “menerima nasib jikasanya keinginan tidak tercapai, tetap bersabar jikasanya ada manusia lain yang sedang menggencet.” Ayat ini mengajari kepasrahan dari penindasan dan kurang pas dimaknai sebagai ayat yang mengajari “kekuatan dari Tuhan mengalahkan segala hambatan.” Dari banyak hal itu tadi, kita kemudian juga jadi mengerti bahwa ayat “with men this is impossible, but with God all things are possible (bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin)” di dalam Matius 19: 26 tak pantas dilepas konteksnya dari ayat-ayat sebelumnya mengenai “keselamatan di akhirat” dan bukan mengenai sesuatu keduniaan sebagaimana ayat ini sering dipakai. Begitu juga dengan ayat Yohanes 1:14 yang berbunyi “Firman itu telah menjadi manusia , dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa” memiliki perbedaan pandang mengenai terjemah dari teks sumber asli tertua berbahasa Yunani pada bagian “Anak Tunggal Bapa” sebab kata asli Yunani monogenes memiliki arti yang banyak dan menjadi perdebatan akademisi Kristen. Monogenes bisa berarti ‘one of a kind‘ atau ‘unique‘ dan tidak melulu menjurus ‘the only one.[11]

Lalu bagaimana dengan teks Quranik? Buku Muhammad Al A’zami mengenai sejarah orisinalitas teks yang dituliskan para sahabat dengan kodifikasi dan kanonisasi jaman Utsman adalah rujukan yang bagus.[12] Tafsir yang dikabarkan bukan “dilakukan” oleh para sahabat dan hadist-hadist yang ditelusur para imam hadist bersambung hingga rasulullah (pbuh) merupakan sumber yang bagus di dalam memahami teks Quranik. Dari situlah terdapati bagaimana sebuah ayat dimaknai, diterapkan, sebab turunnya, bahkan bagaimana orang-orang yang diberi “otoritas” pemahaman oleh rasulullah (pbuh) memiliki kekayaan penafsiran.[13]

Dari situlah Barthes yang bersikeras di dalam sebuah esainya bahwa teks yang lahir sudah langsung lepas dari penulisnya, bebas terbang karena singgungan teks dengan pembacaan sudah mematikan otoritas penulis sebagai pemberi makna tunggal,[14] mendapati sindiran dari Foucault bahwa konteks teks tak bisa bebas lepas dari pencipta dan penciptaan teks. Bebasnya penafsiran teks selalu terikat pada “nature,” atau jati diri teks yang tak mungkin muncul tanpa ikatan-ikatan itu.[15][16]

Namun gaya Barthes maupun terutama gaya Foucault yang terinspirasi dengan pendekatan tafsir Biblikal tak elok dipadankan dengan tafsir Quran. Bible di dalam sejarahnya memang “pelik” jika sudah menyangkut identitas, konteks, dan otoritas penafsiran teksnya. Jadi jika ada orang mengajak belajar Quran tanpa ambil pusing, tanpa perlu, membebaskan diri dari berita-berita para sahabat (Ridlo Allah atas mereka) bagaimana rasulullah sebagai seseorang yang Allah beri wahyu, teks Quran, menjelaskan maksud ayat itu dan bagaimana konteks ayat itu, … menjauhlah darinya, menjauhlah darinya, menjauhlah darinya meskipun gelar akademiknya tinggi, meskipun ia disebut kyai haji, meskipun hartanya berlimpah, meskipun khotbahnya serak-serak basah sehingga melagutkan telinga, meskipun matamu seolah melihat wajahnya cerah bercahaya, meskipun bahasa Arabnya fasih, meskipun ia bisa mejik dan sulap, meskipun ia sering nongol di TV, meskipun ia disanjung puji negara-negara Barat yang “hebat,” meskipun tulisan-tulisan “tafsir” Qurannya masuk jurnal-jurnal “Islami” Barat yang kerap mencurigai dan mereka ulang tafsir teks hanya berdasar konteks sebab turun tanpa mengindahkan penafsiran yang mendapat restu (otoritas) dari Muhammad saw. sebagai manusia penerima wahyu.

Oh ya, sejarah teks sila pertama Pancasila juga menarik. Apakah penghilangan tujuh kata darinya lantas mengebiri potensi bersyariah ataukah potensi itu tetap ada namun teks yang dihapus itu hanya perampingan saja untuk tujuan politis saat itu; sebuah kompromi; sebuah gentlemen agreement karena kondisi saat itu?

Pun kiranya kita maklum mengenai tafsir Pancasila yang konon hendak menaungi Nasakom ala Sukarno dan P4 yang hendak mengajari doktrin kepancasilaan Suharto. Sukarno punya tafsiran Pancasila yang bunyi sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa di Pancasila yang kita kenal sekarang dengan tafsir ala Nasakom-nya karena ide (asli) Sukarno mengenai Pancasila berbeda dengan yang kita kenal. Ia menempatkan nasionalisme dan internasionalisme sebagai poin satu dan dua sedangkan Ketuhanan (saja, tanpa embel-embel atas istilah ini pada sila kelima). Pengalaman bersendawa dan wedangan bareng di klinik pemikiran Cokroaminoto, Raja Jawa Tanpa Mahkota, yang mempertemukannya dengan ide-ide dan kelak-aktivis Islam, nasionalisme, sosialisme, komunisme nampaknya mempengaruhi idenya mengenai “dasar pemersatu bangsa” yang dipidatokan di dalam perumusan Pancasila.[17]

Sebab itulah ketika Nasakom dikecam karena dianggap bertentangan dengan Pancasila, Aidit dalam suatu wawancara dengan enteng menjawab, nampaknya membela payung longgar Sukarno, bahwa sila satu saja tafsirannya bisa macam-macam.[18][19]

Entah kini atau kelak, tak tahu bagaimana Pancasila dibaca dan dibancaki. Karena otoritas penafsiran nampaknya tak definitif kecuali penguasa yang terus berganti dan bersamanya tafsir Pancasila mengikut serta. Yang beginian bisa kita rujuk mengenai konon betapa khawatirnya Pater Beek dan Jusuf Wanandi ketika Sukarno jatuh dan beberapa partai-partai berbau Islam saat itu menyuarakan kembali pengembalian tujuh kata Piagam Jakarta sehingga diperlukan usaha-usaha di balik layar untuk menempatkan “penguasa” yang bisa menafsirkan Pancasila, khususnya sila kesatu, hanya sebagai “Ketuhanan Yang Maha Esa” saja dan bisa meredam mereka yang ingin konsep dasar sila pertama Piagam Jakarta kembali mengemuka.[20]

Tentu ini juga termasuk kegagapan jargon Pancasila sebagai salah satu pilar dari “empat pilar kebangsaan” sedangkan ia juga “dasar bangunan; letak berdirinya pilar-pilar itu.” Dan tentu saja selalu ada argumen untuk membuat tafsiran menjadi sah terjustifikasi.[21]

Demikian.

.

.

.

.

Endnotes

[1] Bdk. Matt Brundage. “The meaning of Thomas Jefferson’s phrase “all men are created equal”” (Last modified 23 October 2015).

[2] Biblica, The International Bible Society, “How were the books of the Bible chosen?”

[3] William M. Schniedewind, How the Bible Became a Book: The Textualization of Ancient Israel (2005)

[4] Hanko, Herman C. 30-Aug-1998. “Issues in Hermeneutics”, seri kumpulan 4 artikel dalam Protestant Reformed Theological Journals of April and November, 1990, and April and November, 1991.

[5] Günther Bornkamm, Jesus of Nazareth (1995)

[6] Edgar J. Lovelady, “The Logos Concept” (1963), Grace Theological Journal 4.2 (Spring 1963) 15-24. Bandingkan juga dengan “John 1: 1” dalam BibleHub.

[7] Lihat paragraf sebelumnya mengenai Bible King James Version yang seolah menjadi rujukan terjemahan Bible dunia (bdk. dengan Vulgate).

[8] Mark H. Newman, A Cyclopedia of Biblical Literature (1845: 138-140)

[9] Markus 16: 9-20 tidak terdapati di dalam naskah Yunani tertua. Penambahan ayat-ayat ini ke dalam Bible Perjanjian Baru meskipun tidak ada rujukan dalam naskah Bible tertua-nya disebut sebagai “bagian dari Firman Allah yang diilhamkan” kepada para penulis, penyadur, pengedit Bible (Alkitab Sabda, “Markus 16: 15”).

[10] Sarah Eekhoff Zylstra, “Is ‘Let Him Who Is Without Sin Cast the First Stone’ Biblical?” (23 April 2008).

[11] Untuk tafsir yang berkaitan dengan “oinis” silakan periksa tulisan Jeffrey W. Hamilton. 8 Maret 2016 (last modified). “New Testament Beverages”. La Vista Church of Christ (bdk. Mark H. Creech. 27 Januari 2014. “Christians and Alcohol: An Abstinent View.” Christian Post).

Untuk interpretasi atau tafsir yang berkenaan dengan Filipi 4: 13, silakan rujuk Jonathan Merritt, “Phillippians 4:13: How many Christians misuse the iconic verse” (16 Januari 2014, Religion News Service) atau buku yang ditulis oleh Eric J. Bargerhuff, The Most Misuse Verses in the Bible (2012).

Untuk tafsir yang berhubungan dengan Matius 19: 26 silakan dibaca penjelasannya dalam tulisan Tim Chaffey “Commonly misused Bible verses: Matthew 19: 26” (19 Juli 2012).

Untuk kata monogenes dari bahasa Yunani, terjemah-tafsir yang bisa menyulut perdebatan dapat dirujuk pada Bart Ehrman, The Orthodox Corruption of Scripture (Oxford University Press, 1993: 81) berbunyi sebagai ‘one of a kind‘ atau ‘unique’ dan tak senyampang ‘the only one.’ Bahkan misalnya diambil arti lain dari monogenes yang menyiratkan “satu-satunya” terdapat polemik apakah “satu-satunya” merujuk pada Tuhan, Putera Tuhan, atau “indwell Word” sebagaimana dibahas detil di dalam Jesus’ Words Only, “One and Only Issue in John 1:14” dan Shema Chapter 40 – “The Only Begotten Son or God? John 1:18.” Bandingkan juga dengan ayat yang memakai monogenes [o monogenes uios] seperti Ibrani 11:17 di mana Ishak (pbuh) diterjemahkan sebagai “anaknya yang tunggal” justru harus dipahami dalam konteks “anak yang dari istri pertama,” “anak yang lebih dikasihi” atau pengertian yang serupa itu sebab anak Abraham (pbuh) bukan Ishak (pbuh) semata.

[12] Muhammad Mustafa Al-A’zami, The History of the Qur’anic Text from Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments (2003)

[13] Muhammad Mustafa Al-A’zami, Studies in Early Hadith Literature (1978)

[14] Roland Barthes, “The Death of The Author” (1967)

[15] Michel Foucault, “What is an Author” (1969)

[16] Bahasan mengenai kelindan dua tulisan tersebut menarik dibahas oleh Sean McQueen (2012) dalam “Michel Foucault’s “What is an Author?” and Adaptation.”

[17] Pancasila sebagai nama atas dasar negara memang dicetuskan oleh Sukarno di dalam rapat para Bapak Pendiri Bangsa yang menghadirkan tiga konseptor mengenai dasar negara yaitu . Namun nama “Pancasila” sebelumnya dipilih Sukarno setelah “konsultasi bahasa” dengan Muhammad Yamin dan ia kemukakan sebagai nama yang pas untuk dipilih di dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945. Di sisi lain, bunyi Pancasila yang kini dipakai sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah bukan sebagaimana ide awal Sukarno kecuali kerja dari Panitia Sembilan [terdiri dari 7 orang Haji] —salah satu anggotanya memang Sukarno— yang disepakati pada 22 Juni 1945 dan sila pertama menempatkan “Ketuhanan” plus “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

[18] Tim Historia, “Wawancara DN Aidit: “PKI menentang pemretelan terhadap Pancasila”” (18 April 2016)

[19] Dipa Nusantara Aidit, tokoh PKI, membela diri bahwa partainya yang Komunis Marxis tidak ada masalah dengan dasar negara Indonesia yang ada sila ber-“Ketuhanan Yang Maha Esa” sebab menurutnya ada juga agama [dan kepercayaan] di Indonesia yang tidak ber-Ketuhanan Yang Maha Esa saja tidak menjadi masalah bagi negara dan tidak dipermasalahkan oleh negara. Bahkan secara politis ia menentang pemretelan terhadap Pancasila. Besar kemungkinan, Sukarno di dalam Manipol Usdek yang dicetuskan Sukarno tahun 1959 yang memperkuat konsep Nasakom Sukarno yang digaungkan pada 1956 tidak bisa meninggalkan Pancasila sedangkan PKI sangat butuh Sukarno, Nasakom, dan Manipol Usdek. Dari keruwetan itulah kita bisa “sedikit” mengerti mengapa Hatta —yang juga salah satu konseptor Piagam Jakarta dan salah satu penandatangan “atas nama bangsa Indonesia” di dalam teks proklamasi— yang anti PKI bergerak menjauh secara ideologi dan politik dari Sukarno meskipun keduanya secara pribadi masih berkawan. Kisah Sukarno dan Hatta di tahun 50-an dan 60-an memang berbeda di tahun 48-an ketika Musso dengan Jalan Baru-nya mengagitasi orang-orang PKI mendirikan negara komunis berkiblat Soviet di Madiun, Sukarno begitu solid dengan Hatta dan keras terhadap Musso. Dan itu semua belum lagi ditambah bagaimana peliknya permainan Amerika Serikat dan Uni Soviet di dalam “intrik” antara NasA melawan Kom di dalam bingkai kisah Sukarno-Hatta, mulai dari tahun 48-an hingga tahun 65-an.

Berkenaan dengan tafsir Pancasila yang ke arah Sosialisme di jaman Sukarno dan di jaman Suharto Pancasila ditafsirkan ke arah antiKomunisme dan Pembangunanisme, bisa misalnya dirujuk pada tulisan Shigeo Nishimura, “The Development of Pancasila Moral Education in Indonesia,” 東南アジア研究 (1995), 33(3): 303-316. Arah sosialisme Sukarno juga dapat dirujuk kepada penafsiran “kepribadian bangsa Indonesia” ala Sukarno yang dicantumkan dalam Penetapan Presiden Republik Indonesia No 2 Tahun 1962.

[20] Salim Said, “Pater Beek, Pastor Jesuit” dalam Gestapu 1965: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto (2015)

[21] Hukum Online, “MPR: Pilar Kebangsaan Tak Ubah Kedudukan Pancasila” (17 Februari 2014).

Pragmatika Kicau Menag, Meme, dan Logika Warung

Sekali lagi selalu menarik memang jika kita berbicara mengenai bahasa. Banyak filsuf yang mengkaji bahasa karena mereka meyakini bahwa bahasa membentuk realitas. Dari bahasa-lah sesuatu bisa ada. Oleh sebab itulah filsuf besar dunia kuno Barat, Plato, dan filsuf besar dunia kuno Timur, Lao Tzu tidak bisa terhindar dari berbicara mengenai bahasa. Bicara bahasa juga berlanjut bahkan hingga filsuf modern Barat seperti dilakukan oleh Saussure mengenai sinkronis-diakronis dan struktur langue-parole; C.S. Pierce mengenai semiotik tanda, penanda, petanda; metafisika kehadiran dan oposisi biner Derrida; dan tak lupa sebelumnya ada juga J.L. Austin yang bicara tindak tutur dan bagaimana tuturan bisa menentukan status dan nilai (bdk. dengan ‘nilai’ ala Karl Marx).

Bahasa menjadi alat bagaimana seseorang memahami dan menyampaikan sesuatu. Bahasa bukanlah kasunyatan namun kasunyatan hanya dapat disampaikan atau diekspresikan melalui bahasa. Begitu kompleksnya bahasa sehingga kajian bahasa adalah kajian yang sangat serius. Dari situlah kita bisa memahami bagaimana di dalam skriptur Islam hal pertama yang diajarkan kepada Adam a.s. adalah bahasa – pemberian nama.

Benar. Fungsi bahasa adalah memberikan penanda beda yang satu dengan yang lainnya. Ia memberi nama kasunyatan. Bahasa adalah wingit. Hal ini juga kita dapati di dalam Tao Te Ching. Eksistensi sesuatu tertandai ketika ia diberikan nama. Munculnya nama pada sesuatu koeksisten dengan ‘yang lain’ yang tidak diberi nama sama; yang tidak sama ditandai. Narasi tentang kewingitan bahasa juga dapat kita temui misalnya pada teks Biblikal Yohanes 1: 1.

Kaum Kristen Unitarian menafsirkan logos di dalam ayat itu bukan sebagai Kristus atau Logos (dengan ‘l’ kapital) atau Word (dengan ‘w’ kapital) namun logos dengan huruf kecil. Perlu diketahui bahwa Kristen Trinitarian menggunakan ayat Yohanes 1: 1 sebagai hujah keyakinan Trinitas. Bagi Kristen Unitarian, argumen mereka untuk menyangkal ini dirujukkan kepada skriptur asli rujukan Bible yang berbahasa Yunani ada terdapat ratusan pemakaian istilah logos yang definisinya macam-macam dan huruf l kapital (dalam translasi terkemudian) atau huruf w kapital (pada penerjemahan ke bahasa Inggris sebagai Word) adalah tidak dikenal di masa awal kekristenan. Jika yang dipakai adalah tafsiran Kristen Unitarian maka ‘kekuatan’ dari ‘kata’ adalah divine karena ‘menciptakan realita [meski bukan kasunyatan]’ mendapatkan tempatnya di dalam tulisan ini.

Kajian bahasa adalah kajian yang serius bahkan sangat serius. Kalau tidak serius, bagaimana mungkin tradisi pemikiran dari jaman dulu hingga sekarang mengkaji tentangnya? Lihatlah semua cabang ilmu juga tidak bisa menghindar dari bahasa yang wujudnya dalam hal-hal pembahasaan (pengekspresian ilmu itu sendiri) maupun nomenklatur. Tidak ada yang bisa lolos dari jeratan bahasa. Bahkan secara ekstrem, ada filsuf yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang berada di luar teks. Dan teks kembalinya adalah kepada bahasa.

Menjelang bulan Ramadan ini muslim [dan yang bukan muslim] di Indonesia disuguhi bagaimana bahasa adalah sesuatu yang unik dan selalu menarik untuk dikaji. Semua dimulai dari kicauan Menag mengenai buka tutup warung.

Kicau Menag @lukmansaifuddin

Kicau Menag @lukmansaifuddin

yang kemudian mendapat respon berupa meme sebagai berikut

Meme Tantangan kepada Menag (credit: tasbihnews)

Meme Tantangan kepada Menag (credit: tasbihnews)

Tidak lama kemudian muncul tulisan lewat status Facebook oleh Dina Y. Sulaeman yang kemudian ia salin tempel ke blog pribadinya bundakiranareza.wordpress.com dengan judul “Logika Warung”. Status Facebook Dina ini mendapatkan tanggapan yang beragam. Ada yang bersepakat dengannya namun ada juga yang menyerangnya. Dina menyertakan kritik-kritik atas tulisannya itu dan sanggahan atas kritikan yang dialamatkan atas tulisannya ia tampilkan di dalam terbitan yang ada di blog-nya itu.

Secara umum, kisruh yang dibahas detil oleh Dina Y. Sulaeman ini dapatlah diringkas sebagai berikut:

MENAG

  1. WARUNG-WARUNG TAK PERLU DIPAKSA [DITUTUP, DISWEEPING?]
  2. KITA [MUSLIM] JUGA HARUS HORMATI JUGA HAK MEREKA [YANG BUKAN MUSLIM BAHKAN HAK MUSLIM DALAM KEADAAN TERTENTU] YANG TAK BERKEWAJIBAN DAN TAK SEDANG BERPUASA.

MEME

  1. BANDARA DI BALI TAK PERLU [DIPAKSA] DITUTUP.
  2. KITA [HINDU] HARUS HORMATI JUGA HAK MEREKA [YANG BUKAN HINDU] YANG TIDAK WAJIB NYEPI.
  1. CEMARA DI MALL TAK PERLU DIPASANG
  2. KITA [UMAT KRISTEN] HARUS HORMATI JUGA HAK MEREKA YANG TIDAK WAJIB NATAL

KRITIK DINA Y. SULAEMAN HINGGA KEMUDIAN SAMPAI PADA KESIMPULAN BAHWA MEME YANG BEREDAR TIDAKLAH LOGIS

  1. MANUSIA DEWASA HARUS MALU JIKA TIDAK BISA BERENANG
  2. IKAN SEJAK LAHIR SUDAH MAHIR BERENANG

IKAN HIDUP DI AIR JIKA TIDAK HIDUP DI AIR MAKA IA MATI.

MANUSIA TIDAK HIDUP DI AIR SEHINGGA IA TIDAK BUTUH HIDUP DI AIR UNTUK BISA HIDUP.

  1. WARUNG TAK PERLU DIPAKSA DITUTUP.
  2. JIKA WARUNG BUKA PUN MUSLIM TIDAK BATAL IBADAH PUASA.
  3. BAHKAN MUSLIM BERKEADAAN TERTENTU TIDAK WAJIB PUASA DAN MUNGKIN BUTUH WARUNG.
  1. BANDARA DI BALI JUSTRU PERLU DITUTUP SAAT NYEPI.
  2. ADA ASUMSI BAHWA BANYAK KARYAWAN BANDARA DI BALI ADALAH UMAT HINDU.
  3. BEKERJA SAAT NYEPI ADALAH MEMBATALKAN IBADAH NYEPI
  1. POHON NATAL DIPASANG DI MALL BERTUJUAN MERAMAIKAN NATAL
  2. IBADAH NATAL TIDAK BATAL DENGAN ADA ATAU TIDAKNYA POHON NATAL

Benar bahwa kicauan Menag telah dipelintir menjadi sesuatu yang buruk. Mungkin karena sisa debu Pilpres, mungkin juga karena sebelumnya ada insiden langgam Jawa di dalam tilawah Quran.

Ucapan Menag sejatinya tidak bermasalah. Memang tidak pas untuk memaksa sesuatu yang tidak membatalkan ibadah puasa (usaha warung) ketika puasa tiba, sebagaimana Dina Y. Sulaeman menyinggungnya.

Walaupun demikian, kicauan Menag yang muncul sehabis insiden langgam Jawa di dalam tilawah Quran bisa ditafsirkan sedikit berbeda oleh sebagian orang. Kicau Menag seakan-akan sengaja dibuat khusus untuk menyerang balik salah satu penentang (dari banyak sekali penentang) langgam Jawa di dalam tilawah Quran. Mereka ini distigma sebagai jamaah yang suka memaksa warung tutup. Konon, sekali lagi konon beberapa orang menganggap mereka bertindak seperti itu saat Ramadan: sweeping kepada semua warung zonder ‘jenis warung’ sedangkan kicau Menag bertepatan dengan momen Ramadan.

Bisa jadi ada prasangka bahwa kicauan Menag itu ditafsirkan sebagai usaha Menag memukul balik para pengkritik keras ‘kebijakan’ Menag mengenai langgam Jawa dalam tilawah Quran. Maka munculnya meme bisa ditafsirkan sebagai reaksi atas prasangka itu.

Pada kalimat yang bisa diparafrasekan sebagai berikut: “Mereka yang beribadah juga harus menghormati hak mereka yang tidak sedang beribadah”, tafsirannya bisa macam-macam, bisa saja mereka yang sedang disulut insiden sebelumnya dan merasa tersenggol dengan bahasa kicau Menag yang seakan mengarah pada aksi sweeping kebiasaan mereka bakal menafsirkannya sebagai: “orang beribadah kok malah disuruh menghormati yang tidak sedang beribadah”.

Nah, yang beginian ini masuknya bukan ke dalam semantika bahasa. Kritik Dina Y. Sulaeman atas meme yang beredar adalah benar. Kritik tersebut logis di dalam salah satu aspek bahasa; semantika. Ia mengoreksi salahnya logika semantika di dalam meme itu. Walaupun logika warung ala Dina Y. Sulaeman bisa mendapatkan tempatnya di semantika bahasa namun ia tidak berlaku di dalam kajian pragmatika bahasa.

Secara pragmatika, meme itu bisa dianggap ‘nyambung’. Karena konteksnya bukan masalah batalnya ibadah Nyepi atau tidak sahnya perayaan Natal jika bandara tetap dibuka atau pohon Natal dijulangkan namun bagaimana umat Hindu dan umat Kristiani diminta “menghormati mereka yang sedang tidak menjalankan Nyepi atau Natal” dengan harus tetap membuka bandara dan tidak menampilkan aksesoris perayaan Natal. Juga karena konteks lainnya adalah sudah ada gesekan sebelumnya mengenai kemungkinan pernyataan dan atau kebijakan Menag bagi sebagian orang untuk cenderung ditafsirkan secara negatif.

Demikian.

Tuhan

Artikel ini ditulis oleh Hamid Fahmy Zarkasyi yang terbit pada 7 November 2012 di situs http://hamidfahmy.com/tuhan/. Penerbitan ulang di blog ini telah mendapat ijin dari perwakilan beliau. Penerbitan ulang di blog ini diedit sedikit dan dilengkapi dengan catatan kaki dengan tidak mengurangi pokok besar tulisan asli.

Hamid Fahmy Zarkasyi adalah putra ke-9 dari KH Imam Zarkasyi, pendiri Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Riwayat pendidikan beliau adalah sebagai berikut: Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Gontor (1977), Fakultas Tarbiyah, Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Pondok Modern Gontor (1982) untuk Sarjana. Kemudian gelar MA.Ed diperoleh dari Institute of Education and Research (IER), University of the Punjab, Lahore Pakistan (1986). Kemudian ia melanjutkan studi di Faculty of Art, Dept. Theology University of Birmingham, United Kingdom, 1996-1998 untuk gelar M.Phil-nya. Gelar Ph.D. di bidang Islamic Thought beliau dapatkan dari International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC-IIUM) Kuala Lumpur, Malaysia (2006). Beliau saat ini adalah Direktur INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization).

 =============================================

Pada suatu hari saya naik bus dari Aston ke Universitas Birmingham Inggris. Disamping saya duduk seorang bule yang agak kusut. Ia melirik buku teologi yang sedang saya baca. Dan tiba-tiba: Hi Mate![1] Ia menyapa dengan aksen khas Birmingham sambil senyum. Kemudian ia bertanya: Bisakah Tuhan menciptakan sesuatu yang Ia tidak dapat mengangkatnya?

Saya tahu konsekuensi jawabannya. Baik jawaban positif maupun negatif hasilnya sama yaitu “Tuhan tidak berkuasa”. Ini pasti pertanyaan seorang sekuler atau atheis, pikir saya.

Ia bertanya dan tidak perlu jawaban.[2] Untuk tidak memberi jawaban panjang kepadanya, saya melontarkan pertanyaan balik “Could you tell me what do you mean by God?” Benar saja sebelum menjawab pertanyaan saya dia sudah turun dari bus sambil meringis.

Pertanyaan apakah Tuhan bisa membuat lebih baik dari yang ada ini. pernah diajukan Peter Abelard.[3] Dia sendiri bingung menjawabnya. Pertanyaan Bule itu mungkin hasil adopsi dari Peter. Tapi yang jelas bukan dari pikirannya sendiri. Apa makna Tuhan baginya kabur. Bertanya tanpa ilmu akhirnya menjadi seperti guyonan atau bahkan plesetan.

Di Barat diskursus tentang Tuhan memang marak dan terkadang mirip guyonan. Presedennya karena teologi bukan bagian dari tsawabit (permanen) tapi mutaghayyirat (berubah). Layaknya wacana furu’[uddin][4] dalam Fiqih.[5] Ijtihad[6] tentang Tuhan terbuka lebar untuk semua.

Siapa saja boleh bertanya apa saja. Akibatnya, para teolog pun kuwalahan. Pertanyaan-pertanyaan rasional dan protes-protes teologis gagal dijawab. Teolog kemudian digeser oleh doktrin Sola Scriptura.[7] Kitab suci bisa dipahami tanpa otoritas teolog.

Sosiolog, psikolog, sejarawan, filosof, saintis dan bahkan orang awam pun berhak bicara tentang Tuhan. Hadis Nabi Idza wussida al-amru ila ghayri ahlihi fantadzir al-sa’ah, (Jika suatu perkara diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah waktu (kehancurannya) terbukti. Katholik pun terpolarisasi menjadi Protestan. Protestan menjadi Liberal[8] dan dari situ barangkali menjadi lahir apa yang disebut dengan modern atheism.

Apa kata Michael Buckley dalam At The Origin of Modern Atheism meneguhkan sabda Nabi. Atheisme murni di awal era modern timbul karena otoritas teolog diambil alih oleh filosof dan saintis. Pemikir-pemikir yang ia juluki “Para pembela iman Kristiani baru yang rasionalistis” seperti Lessius,[9] Mersenne,[10] Descartes,[11] Malebranche,[12] Newton[13] dan Clarke,[14] itu justru melupakan realitas Yesus Kristus.

Dalam hal ini Newton tidak mau disalahkan, Trinitas telah merusak agama murni Yesus, katanya.  Descartes hanya percaya Tuhan filsafat, bukan Tuhan teolog, Lalu siapa yang bermasalah? Bisa kedua-duanya.

Ini membingungkan. Pernyataan eksplisit bahwa Yesus itu Tuhan memang absen dari Bible. Ia dipahami hanya dari implikasi, sebab bahasa Bible itu susah, kata Duane A. Priebe.[15] Konsep Tuhan akhirnya harus dicari dengan hermeneutik dan kritik terhadap teks Bible.

Akan tetapi malangnya kritik terhadap Bible (Biblical Criticism), bukan tanpa konsekuensi. Biblical Criticism, kata Buckley, justru melahirkan atheisme modern. Alasannya lugas dan logis. Ketika orang ragu akan teks Bible ia juga ragu akan isinya, akan kebenaran hakikat Tuhan dan tentang kebenaran eksistensi Tuhan itu sendiri. Hasil akhirnya adalah atheisme. Bukan hanya Biblenya yang problematik, tapi perangkat teologisnya tidak siap. Inilah masalah teologi.

Tapi atheisme modern bukan mengkufuri Tuhan, tapi Tuhan para teolog tuhan agama-agama. Yang problematik, kata Voltaire[16] bukan Tuhan tapi doktrin-doktrin tentang Tuhan. Tuhan Yahudi dan Kristen, kata Newton[17] problematik karena itu ia ditolak sains.

Bahkan bagi Hegel Tuhan Yahudi itu tiran dan Tuhan Kristen itu barbar dan lalim. Tuhan, akhirnya harus dibunuh. Nietzche[18] pada tahun 1882 mendeklarasikan bahwa Tuhan sudah mati. Tapi ia tidak sendiri. Bagi Feuerbach,[19] Karl Marx,[20] Charles Darwin,[21] Sigmund Freud,[22] jika Tuhan belum mati, tugas manusia rasional untuk membunuhNya. Tapi Voltaire (1694-1778) tidak setuju Tuhan dibunuh. Tuhan harus ada, seandainya Tuhan tidak ada kita wajib menciptakannya. Hanya saja Tuhan tidak boleh bertentangan dengan standar akal. Suatu guyonan yang menggelitik.

Belakangan Sartre[23] (1905-1980) seorang filosof eksistensialis mencoba menetralisir, Tuhan bukan tidak hidup lagi atau tidak ada, Tuhan ada tapi tidak bersama manusia. “Tuhan telah berbicara pada kita tapi kini Ia diam”. Sartre lalu menuai kritik dari Martin Buber[24] (1878-1965) seorang teolog Yahudi. Anggapan Sartre itu hanyalah kilah seorang eksistensialis. Tuhan tidak diam, kata Buber, tapi di zaman ini manusia memang jarang mendengar. Manusia terlalu banyak bicara dan sangat sedikit merasa. Filsafat hanya bermain dengan image dan metafora sehingga gagal mengenal Tuhan, katanya.

Itulah akibat memahami Tuhan tanpa pengetahuan agama, tulisnya geram. Filosof berkomunikasi dengan Tuhan hanya dengan pikiran, tapi tanpa rasa keimanan. Martin lalu menggambarkan “nasib” Tuhan di Barat melalui bukunya berjudul Eclipse of God. Saat Blaise Pascal[25] (1623-1662) ilmuwan muda brilian dari Perancis meninggal, di balik jaketnya ditemukan tulisan “Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan.” Kesimpulan yang sangat cerdas. Inilah masalah bagi para filosof itu.

Begitulah, Barat akhirnya menjadi peradaban yang “maju” tanpa teks (kitab suci), tanpa otoritas teolog, dan last but not least tanpa Tuhan. Barat adalah peradaban yang meninggalkan Tuhan dari wacana keilmuan, wacana filsafat, wacana peradaban bahkan dari kehidupan publik. Tuhan, kata Diderot, tidak bisa jadi pengalaman subjektif.[26] Meskipun bisa bagi Kant[27] (1724-1804) juga tidak menjadikan Tuhan “ada”. Berpikir dan beriman pada tuhan hasilnya sama. Kant gagal menemukan Tuhan. Kant mengaku sering ke gereja, tapi tidak masuk. Ia seumur-umur hanya dua kali masuk gereja: waktu dibaptis dan saat menikah. Maka dari itu Tuhan tidak bisa hadir dalam alam pikiran filsafatnya.

Muridnya, Hermann Cohen[28] pun berpikir sama. “Tuhan hanya sekedar ide”, katanya. Tuhan hanya nampak dalam bentuk mitos yang tidak pernah wujud. Tapi anehnya ia mengaku mencintai Tuhan. Lebih aneh lagi ia bilang “Kalau saya mencintai Tuhan”, katanya, “maka saya tidak memikirkanNya lagi.” Hatinya ke kanan pikirannya ke kiri. Pikirannya tidak membimbing hatinya, dan cintanya tidak melibatkan pikirannya.

Tuhan dalam perhelatan peradaban Barat memang problematik. Sejak awal era modern Francis Bacon[29] (1561-1626) menggambarkan mindset manusia Barat begini: Theology is known by faith but philosophy should depend only upon reason. Maknanya, teologi di Barat tidak masuk akal dan berfilsafat tidak bisa melibatkan keimanan pada Tuhan.

Filsafat dan sains di Barat memang area non-teologis alias bebas Tuhan. Tuhan tidak lagi berkaitan dengan ilmu, dunia empiris. Tuhan menjadi seperti mitologi dalam khayalan. Akhirnya Barat kini, dalam bahasa Nietzche, sedang “menempuh ketiadaan yang tanpa batas”.

Tapi anehnya, kita tiba-tiba mendengar mahasiswa Muslim “mengusir” Tuhan dari kampusnya dan membuat plesetan tentang Allah gaya-gaya filosof Barat. Ini guyonan yang tidak lucu, dan wacana intelektual yang wagu. Seperti santri sarungan tapi di kepalanya topi cowboy Alaska yang kedodoran. Tidak bisa sujud tapi juga tidak bisa lari. Bagaikan parodi dalam drama kolosal yang berunsur western-tainment.

Konsep Tuhan dalam tradisi intelektual Islam tidak begitu. Konsep itu telah sempurna sejak selesainya tanzil.[30] Bagi seorang pluralis ini jelas supremacy claim. Tapi faktanya Kalam[31] dan falsafah tidak pernah lepas dari Tuhan. Mutakallim[32] dan faylosof juga tidak mencari Tuhan baru, tapi sekedar menjelaskan. Penjelasan al-Qu’ran dan Hadis cukup untuk membangun peradaban.

Ketika Islam berhadapan dengan peradaban dunia saat itu, konsep Tuhan, dan teks al-Qur’an sudah sangat jelas dan[33] tidak bermasalah. Hermeneutika allegoris Plato[34] maupun literal Aristoteles[35] pun tidak diperlukan. Hujatan terhadap teks dan pelucutan otoritas teolog juga tidak terjadi. Justru kekuatan konsep-konsepnya secara sistemik membentuk suatu pandangan hidup (worldview).

Islam tidak ditinggalkan oleh peradaban yang dibangunnya sendiri. Itulah sebabnya ia berkembang menjadi peradaban yang tangguh. Roger Garaudy[36] yang juga bule itu paham, Islam adalah pandangan terhadap Tuhan, terhadap alam dan terhadap manusia yang membentuk sains, seni, individu dan masyarakat. Islam membentuk dunia yang bersifat ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus. Jika peradaban Islam dibangun dengan gaya-gaya Barat menghujat Tuhan itu berarti mencampur yang alhaq dengan yang albatil alias sunt bona mixtra malis. 

 ============

Endnotes

[1] Di dalam teks aslinya terketik “Hai Mike!”

[2] Lepas dari ber-husnudzon, terkadang memang ada penanya yang ‘hanya bermain-main saja’ bukan dalam konteks serius mencari jawaban. Silakan lihat ketika ia ditanya balik apa definisi ‘God’ dari pertanyaannya, ia tidak mau meneruskan percakapan. Ataukah sudah waktunya ia turun dari bus atau memang ia memang hanya iseng bertanya. Wallahu’alam.

[3] Peter Abelard salah satu peletak dasar adverbial theory of thought dan ada yang memasukkan dia dalam filosof aliran nominalism. Menurut nominalisme Abelard, memahami sebuah objek adalah menangkap objek tersebut sebagai sebuah mental image di dalam repositori pikiran. Lebih lanjut menurut Abelard, ‘sebuah kata’ tidaklah menandakan keterikatan dengan sebuah mental image atau sebuah konsep. Meskipun mental image bisa ditransferkan kepada orang lain sebagai sebuah pemahaman lewat ‘sebuah kata’ namun ‘sebuah kata’ tidaklah memiliki fitur universal yang sama pada setiap orang. ‘Sebuah kata’ hanya diniatkan sebagai media penuju pemahaman pada mental image dan bukan meniscayakan kepada materi yang sama. Sejatinya, materi-materi yang dirujuk dengan ‘sebuah kata’ hanyalah berbagi fitur saja namun berbeda secara riilnya. Jika demikian maka ke-ada-an sesuatu secara mutlak tidaklah pernah ada kecuali diwakili oleh ‘sebuah kata’. Di dalam pandangannya akan nominalisme inilah ia terlibat di dalam perdebatan penalaran mengenai ajaran Trinitas di dalam ajaran Kristen. Salah satu tulisannya membahas tentang makna Yesus sebagai Anak Tuhan, Yesus sebagai Anak Manusia, dan Yesus sebagai Firman.

Di dalam Khatolik dia pernah didakwa sebagai penyebar bidah karena pikiran-pikirannya mengarah kepada Pelagianisme, Arianisme, dan Nestorianisme.

Rujukan:

http://www.abelard.org/abelard/abelard2.htm#charges-against-abelard2

http://plato.stanford.edu/entries/abelard/

http://www.iep.utm.edu/abelard/

[4] Furu’uddin adalah masalah cabang-cabang di dalam perkara syari’at (bukan perkara akidah).

Rujukan: http://www.konsultasisyariah.com/menyikapi-perbedaan-pendapat-ulama/

Syari’at adalah semua aturan yang Allah turunkan untuk para hamba-Nya, baik terkait masalah aqidah, ibadah, muamalah, adab, maupun akhlak. Baik terkait hubungan makhluk dengan Allah, maupun hubungan antar-sesama makhluk. (Tarikh Tasyri’ Al-Islami, Manna’ Qathan, hlm. 13).

Rujukan: http://www.konsultasisyariah.com/apa-itu-syariah/

[5] Fiqih adalah hukum-hukum syari’at

Rujukan: http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-islam.html

[6] Ijtihad artinya kurang lebih pengambilan pendapat berkenaan dengan fiqih dikarenakan dalil persisnya tidak didapati dari Quran maupun Hadist.

Rujukan:

http://muslim.or.id/manhaj/kegagalan-islam-liberal-dalam-memahami-ijtihad.html

http://almanhaj.or.id/content/3058/slash/0/orang-awam-antara-taklid-dan-ijtihad/

http://abumundzir.wordpress.com/2009/04/19/perselisihan-adalah-rahmat/

[7] Pandangan bahwa keselamatan dirujuk hanya pada apa yang tertera di dalam skriptur Bible. Jikalau tidak ada di dalam skriptur Bible maka tidak mengikat kepada seorang pemeluk keyakinan Kristiani. Berbeda dengan keimanan Kristen Protestan, di dalam teologi Katholik pandangan ini dianggap tidak tepat karena keselamatan tidak hanya karena menurut pada apa yang ada di dalam skriptur Bible saja namun juga pada apa yang difatwakan Gereja [lewat para teolog yang diberi otoritas].

Rujukan: http://www.theopedia.com/Scripture_alone

[8] Kalimat di dalam teks asli tulisan ini: “dan al-Syiah itu barangkali lahirnya apa yang disebut dengan modern atheism” saya ubah sedikit menjadi “dan dari situ barangkali menjadi lahir apa yang disebut dengan modern atheism”.

[9] Leonardus Lessius adalah salah satu teolog Jesuit yang pernah terlibat di dalam perdebatan mengenai predestinasi di dalam teologi Kristen. Kontribusinya di dalam pemikiran Kristen lebih banyak kepada bidang ekonomi, terutama di dalam tulisannya mengenai ‘just price’. Pemikiran darinya yang populer misalnya bahwa kitab apapun yang ditulis tanpa panduan Roh Kudus dapat menjadi Kitab yang Sakral di dalam pengajaran Kristen asalkan kitab tersebut terbuktikan kemudian tidak terselisihi oleh Roh Kudus [inspirasi ke-Kudus-an dapat muncul terkemudian]. Pengaruh lainnya di dalam kajian teologi Kristen adalah ia menyeret pemikiran atheis dari ranah teologis ke dalam kajian filosofis.

Rujukan:

http://www.newadvent.org/cathen/09192a.htm

http://pubman.mpdl.mpg.de/pubman/item/escidoc:1773305:1/component/escidoc:1773304/scholia%20JMM.pdf

http://sacredpage.wordpress.com/2012/01/26/review-at-the-origins-of-modern-atheism-by-michael-buckley/

[10] Marin Marsenne adalah matematikawan yang juga terlibat di dalam debat teologi Kristen. Marsenne ambil posisi membela keyakinan Ortodoks dengan membedakan ke-hakikat-an benda yang hanya diketahui oleh Tuhan dan fitur faktawi benda yang bisa ditangkap oleh manusia. Dunia bisa dipahami dengan logika namun ke-hakikat-annya tidak bisa terdedah seluruhnya oleh akal. Pemahaman dunia lewat akal dengan eksperimen dan observasi adalah perlu demi kemajuan manusia.

Rujukan: http://www.britannica.com/EBchecked/topic/376410/Marin-Mersenne

[11] Rene Descartes atau Renatus Cartesius adalah peletak cara berpikir yang dimulai dengan keraguan (methodic doubt) terhadap segala sesuatu untuk mencapai pengetahuan. Ia terkenal dengan ungkapannya cogito, ergo sum (aku berpikir, sebab itulah aku mewujud). Apa yang dimaksud oleh Descartes adalah membangun filosofi mengenai dunia dari meragukan semua yang telah ada meskipun sudah diyakini dan disepakati secara turun temurun. Gaya berpikirnya, yang kemudian disebut gaya Cartesian, dapat diringkas sebagai berikut: 1. meragukan ajaran yang baku karena sesuatu yang disepakati ahli kemudian bisa terbukti keliru, 2. meragukan pengetahuan empiris karena pengetahuan yang disandarkan pada pengalaman empiris bisa salah karena tercemari ilusi inderawi, mimpi, juga halusinasi, 3. Pengetahuan berdasarkan hitungan matematis tidak selalu benar karena sering orang ternyata salah menghitung angka-angka di dalam mengambil kesimpulan.

Gaya berpikir ala Descartes seperti itu menyulut manusia untuk melepaskan diri dari doktrin Gereja supaya menjadi pribadi yang mendefinisikan baik-tidaknya sesuatu dengan berpikir sendiri. Lepas dari itu, Descartes percaya sesuatu yang di dalam proses berpikir manusia adalah pengecoh. Pengecohan adalah bukan sempurna dan ketidaksempurnaan itu digeret oleh setan. Dus, Tuhan itu ada karena jika jika ada tonggak penanda sempurna sesuatu maka berarti ada pemancang tonggak kesempurnaan itu.

Rujukan:

http://plato.stanford.edu/entries/descartes/#TheConPasDea

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/158787/Rene-Descartes/43354/Meditations

http://www.rep.routledge.com/article/DA026SECT5

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/378410/methodic-doubt

[12] Nicolas Malenbranche dikenal dengan pemikirannya yang memadukan pandangan teologis Thomas Aquinas dan Rene Descartes. Ia berpandangan bahwa jika hakikat objek tidak bisa tersepakati (terketahui?) oleh manusia yang membicarakan pengalamannya bersama objek itu maka manusia melihat objek di luar dirinya bukan karena ke-hakikat-an objek itu namun karena ada perantaraannya agar terpahami sebagai pengetahuan bersama. Menurut Malenbranche, ini terjadi lewat perantaraan ide yang diberikan oleh Tuhan.

Rujukan:

http://plato.stanford.edu/entries/malebranche/

http://oregonstate.edu/instruct/phl302/philosophers/malbranche.html

[13] Isaac Newton adalah seorang matematikawan dan fisikawan yang menentang ajaran Trinitas di dalam doktrin Gereja namun tidak pernah secara terang-terangan. Newton berpendapat bahwa Tuhan itu Esa dan sekaligus ada di mana-mana. Kehadiran Tuhan di mana-mana bukan hanya secara virtual namun juga secara substansial sebab, masih menurut Newton, kekuasaan Tuhan tidak bakal ada jika hadirnya tanpa substansi. Newton juga berpandangan bahwa hal-hal yang bisa dijelaskan prinsip kerjanya secara teknis-mekanis di alam semesta ini adalah terletak pada kuasa Tuhan bukan berarti bahwa kuasa Tuhan bergantung pada teknik-mekanis itu. Ia berpandangan bahwa fenomena yang terjadi di alam semesta yang bisa dijelaskan teknik-mekanisnya bukan berarti tidak adanya Tuhan namun karena Tuhan memang berkuasa demikian.

Rujukan:

http://plato.stanford.edu/entries/newton-philosophy/

http://isaacnewtonstheology.files.wordpress.com/2013/06/heretic.pdf

[14] Adam Clarke, seorang teolog Methodist, dikenal dalam pandangannya yang dianggap bidah mengenai kedudukan sejak semulanya Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan sebagaimana ada di dalam konsep Trinitas. Clarke berpendapat bahwa tidak ada satu pun ia temui dukungan skriptural di dalam Bible mengenai posisi Anak Tuhan kecuali keadaan diciptakan kemudian oleh Bapa.

Rujukan:

http://www.ccel.org/ccel/clarke

http://acc.roberts.edu/NEmployees/Hamilton_Barry/40-2%20Hamilton.htm

http://www.theopedia.com/Adam_Clarke

[15] Duane A. Priebe adalah salah satu teolog Kristen Lutheran. Salah satu pemikirannya adalah menjadi pengikut Yesus bukanlah berarti harus menjadi murid Yesus sebab pengikut Kristen di abad pertama tidak dinamai sebagai murid Yesus namun disebut sebagai pengikut Yesus. Priebe juga mengikut doktrin teologis Athanasius.

Rujukan:

http://www.wartburgseminary.edu/template_CampusCommunity.asp?id=211

http://erikullestad.blogspot.com.au/2009/06/great-commission.html

[16] Francois-Marie Arouet, atau dikenal dengan nama pena Voltaire, adalah salah satu filsuf yang bermain-main dengan doktrin Trinitas. Kalimatnya: ‘Anak Tuhan disebut sama dengan anak manusia, anak manusia sama dengan Anak Tuhan. Tuhan, atau disebut Bapa, dikatakan sama dengan Yesus Kristus, Si Anak; Si Anak disebut sama dengan Tuhan, Bapa-nya. Bagi mereka yang tidak percaya, ajaran ini memang membingungkan namun tidak demikian bagi orang Kristen yang percaya tanpa mempertanyakannya’. Lebih jauh, Voltaire juga menyindir ketidakjelasan prosedur pemeriksaan teks Skriptur untuk disepakati sebagai bagian Bible yang diterima atau Bible yang tertolak (apokrifa) di dalam Konsili Nicea.

Rujukan: http://www.positiveatheism.org/hist/quotes/voltaire.htm

[17] Newton meski dibesarkan di dalam lingkup Katolik Anglikan yang ketat namun kemudian ia dikenal sebagai pemeluk Unitarian.

[18] Friedrich Nietzche adalah filsuf yang dikenal dengan ungkapannya: God is Dead (Tuhan Mati). Sejatinya apa yang diajarkan Nietzche adalah nihilisme bentuk lain. Ia melihat bahwa bermacam-macam pendekatan yang dimunculkan di dalam mencari truth menjadikan kekaburan nilai kehidupan. Nietzche menolak kehadiran Tuhan karena ke-ada-an Tuhan menjadikan pendekatan pencarian truth mereferensikan Tuhan sebagai pancang penghakiman benar tidaknya suatu pendekatan. Nietzche bukanlah filsuf yang percaya Tuhan itu ada, kalimatnya God is Dead adalah sejak semula ia dalam pemikirannya itu memang tidak mengakui adanya Tuhan dan bukan diartikan bahwa Tuhan itu ada lalu Nietzche bunuh. Pernyataannya God is Dead adalah juga semacam ejekan kepada filsuf-filsuf sejamannya yang saling ribut mencari truth dengan merujuk kepada pendekatan pandangan yang dianggap berkenan bagi Tuhan.

Rujukan:

http://www.richmond-philosophy.net/rjp/back_issues/rjp14_samuel.pdf

http://plato.stanford.edu/entries/nietzsche/

http://www.theguardian.com/commentisfree/belief/2012/feb/07/political-message-nietzsche-god-is-dead

[19] Ludwig Andreas Feuerbach selain mengkritisi bagaimana agama menjadikan Tuhan menjadi ada sekaligus abstrak karena ke-ada-annya seakan-akan termanifeskan hanya benar menuruti tiap agama mendefinisikannya, ia juga penentang keras doktrin Trinitas. Bagi Feuerbach, ajaran Trinitas merupakan kebingungan antara konsep politeisme dan monoteisme yang menjadikan delusi pemikiran teologis.

Rujukan: http://www.marxists.org/reference/archive/feuerbach/works/essence/ec24.htm

[20] Karl Marx adalah peletak sejati dari atheisme. Bagi Marx, agama adalah fenomena dan bukan realitas. Agama bagi Marx adalah sebuah bentuk ekspresi dari kegagalan manusia di dalam mencapai kehebatannya. Marx berkata bahwa agama adalah opium bagi manusia.Di dalam masyarakat yang tidak mengenal mata uang kertas, maka pengunjukkan uang kertas sebagai alat tukar bernilai tertentu adalah tertolak. Di dalam masyarakat yang tidak mengakui Tuhan, menurut Marx, maka subjektivitas seseorang di dalam merepresentasikan Tuhan adalah tertolak. Oleh sebab itulah hanya apa yang riil secara material –dan bukan sesuatu yang abstrak- adalah yang riil menurut cara berpikir Marx.

Rujukan: http://www.ewtn.com/library/Theology/ATHEMARX.HTM

[21] Charles Darwin sering dianggap banyak orang sebagai salah satu peletak dasar atheisme. Sejatinya tidak begitu tepat demikian adanya. Darwin memang meragukan juga kebenaran agama Kristen dan Bible sebagaimana ia juga dalam keadaan bingung menafsirkan adanya berbagai macam agama. Benar juga bahwa Darwin mengajukan sebuah hipotesis yang berusaha menjelaskan adanya variasi makhluk hidup yang ada. Akan tetapi, banyak yang tidak mengira bahwa sejatinya Darwin adalah seorang Agnostik. Darwin terus mencari jawaban mengapa ada asal muasal keanekaragaman makhluk hidup sebagaimana ia temukan di dalam perjalanannya.

Rujukan:

http://www.update.uu.se/~fbendz/library/cd_relig.htm

http://www.darwinproject.ac.uk/entry-8837

[22] Sigmund Freud adalah seorang peletak atheisme dan dianggap awam sebagai peletak dasar psikoanalisis. Freud sejatinya penuh kontroversi karena hipotesisnya tentang analisis kejiwaan berlandaskan pada asumsi-asumsi yang dibangunnya sendiri. Freud meyakini bahwa konsep Tuhan adalah pemenuh kebutuhan ketidakmampuan manusia di dalam menghadapi alam. Tuhan, menurut Freud, adalah ilusi yang dibuat sendiri oleh manusia. Yang unik dari hipotesis-hipotesis yang diajukan Freud mengenai bagaimana memahami pikiran manusia adalah bagaimana Freud sering berubah-ubah di dalam merumuskan satu hipotesis ke hipotesis lainnya. Selain itu, yang ironis dari mitos tentang kehebatan Freud adalah bagaimana Freud bukanlah seorang psikolog yang selalu berhasil menyembuhkan gangguan kejiwaan pasien.

Rujukan:

http://www.iep.utm.edu/freud/

Nova: Season 14, Episode 15 – Freud Under Analysis (17 Februari 1987)

http://www.jcrt.org/archives/03.2/metcalf.shtml

[23] Jean-Paul Sartre dianggap sebagai peletak dasar filsafat eksistensialis. Menurut Sartre, manusia adalah menjadi dirinya sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Manusia tidak terikat apapun dan punya kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Bagi Sartre, jika Tuhan ada dan kemudian menciptakan manusia yang selalu bergantung padaNya secara total pada setiap saat maka manusia tidaklah bisa dianggap menjadi bagian yang terpisah dari Tuhan. Dengan demikian ia menolak ide adanya Tuhan.

Rujukan:

http://epublications.marquette.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1154&context=phil_fac

http://www.esjrr.org/2014/02/stergiou-sartre-concept-of-god.html

[24] Martin Buber adalah seorang Yahudi yang merupakan penyumbang pemikiran eksistensialis-yang-bukan-atheis dan ia juga ambil peranan di dalam pergerakan pemikiran Zionis. Bagi Buber, Tuhan itu ada dan cara mendekati Tuhan yang dibuat dalam perspektif Tuhan yang dianggap satu denga manusia-lah yang membuat cara memahami Tuhan menjadi rumit. Manusia menjadi berbeda-beda memahami Tuhan karena perjalanan tiap manusia di dalam mengalami pengalaman personal dengan Tuhan juga berbeda-beda.

Rujukan: http://www.iep.utm.edu/buber/#SH3b

[25] Blaise Pascal mengajukan kepercayaan Tuhan menurut kacamata pragmatis. Bagi Pascal, bahkan jikalau diasumsikan bahwa Tuhan adalah sulit dibuktikan namun kepercayaan kepada adanya Tuhan memiliki keuntungan yang lebih banyak dan berguna di dalam kehidupan dibandingkan mengambil risiko menyesal kemudian.

Rujukan: http://www.iep.utm.edu/pasc-wag/

[26] Di dalam teks asli terketik: sobyektif

[27] Emmanuel Kant berpandangan bahwa tidak adanya metode yang bisa disepakati bersama untuk membuktikan keberadaan Tuhan maka keyakinan akan keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang sifatnya subjektif. Keyakinan akan adanya Tuhan dibutuhkan untuk mewujudkan Kebaikan Hakiki. Posisi Kant mengenai Tuhan tidak begitu jelas namun secara umum Kant tidak menutup diri terhadap posibilitas Keilahian sebagaimana tersirat di dalam karya-karyanya.

Rujukan: http://plato.stanford.edu/entries/kant-religion/

[28] Cohen berpandangan bahwa kekuatan utama manusia adalah akal. Bagi Cohen, Tuhan yang masuk akal adalah Tuhan yang bisa diterima oleh akal oleh manusia di belahan bumi manapun. Oleh sebab itulah ia beranggapan bahwa ajaran Yahudi mengenai monotestik-lah yang merupakan ajaran yang benar. Masih menurut Cohen, kecintaan kepada filsafat adalah bagian dari kecintaan kepada Tuhan sebagaimana tradisi Yahudi.

Rujukan:

http://plato.stanford.edu/entries/cohen/

http://www.bu.edu/mzank/Michael_Zank/mjth.html

[29] Seorang filsuf yang mempercayai bahwa Tuhan itu ada dan ke-ada-an Tuhan tidaklah bisa disingkap oleh akal manusia kecuali hanya pada apa yang diberitahukan Tuhan lewat Skriptur. Skriptur adalah apa yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk mengetahui Tuhannya. Bacon juga percaya bahwa kajian filsafat tidak boleh dicampur dengan kajian ketuhanan karena akan menghancurkan manusia sendiri.

Rujukan:

http://sydney.edu.au/science/hps/early_modern_science/publications_and_preprints/Gascoigne_The_Religious_Thought_of_Francis_Bacon.pdf

http://plato.stanford.edu/entries/francis-bacon/

[30] wahyu diturunkan

[31] Pemikiran di dalam perkembangan Islam yang berbicara mengenai prinsip teologi yang dicari lewat argumen, diskursus, dan debat. Ilmu Kalam dianggap dimulakan oleh kaum Mu’tazilah.

Rujukan: http://almanhaj.or.id/content/3429/slash/0/pengertian-aqidah-ahlus-sunnah-wal-jamaah/

[32] Para pengagung ilmu kalam.

[33] Tambahan dari saya = “sudah sangat jelas dan”

[34] Plato yang gaya berpikirnya kemudian disebut dengan Platonisme memiliki pengaruh yang luar biasa kepada teolog-teolog Kristen awal terutama misalnya Santo Agustinus. Di antara banyak pemikiran Plato adalah pendapat Plato bahwa Yang Real memiliki banyak tingkatan tergantung bagaimana tiap manusia melihat The Real sesuai dengan pengetahuannya. Pemikiran Plato mengenai dualisme ‘dianggap’ juga mempengaruhi pemikiran di dalam teologi Kristen bahwa roh itu baik namun daging itu jahat.

Rujukan:

http://www.ccel.org/s/schaff/encyc/encyc09/htm/ii.cxxxiii.htm

http://www.epm.org/blog/2013/Jun/12/christoplatonism

http://www.iep.utm.edu/pla-thei/

http://www.anselm.edu/homepage/dbanach/platform.htm

[35] Aristoteles [atau Aristotle sebagaimana terketik di teks aslinya] adalah filsuf Yunani selain Plato yang mempunyai pengaruh begitu besar kepada perkembangan teologi Kristen di masa-masa awal. Pemikiran Aristoteles salah satunya adalah mengenai eudaimonia. Eudimonia manusia dapat tercapai ketika manusia mampu menyadari siapa dirinya dan mengaktualisasikan kapasitas kemanusiaannya.

Rujukan: http://plato.stanford.edu/entries/aristotle/

[36] Roger Garaudy besar di dalam lingkungan Katolik. Ketika dewasa, ia hendak menggabungkan pemikiran Marx dengan Katolik namun gagal. Di dalam perjalanan waktu ia mengaku telah masuk Islam karena ia melihat Islam adalah agama yang lebih baik. Meskipun demikian, yang dimaksud Garaudy dengan Islam dalam sebuah wawancara adalah Islam yang menggabungkan agama Kristen dan Yahudi menjadi bagian yang integral. Garaudy mungkin masih ingin saja, meskipun sudah melihat opsi yang tersisa bagi kenyamanan panjang lelah pencariannya, untuk tidak meninggalkan Kristen dan Yahudi. Masih ada yang menggantung di sana.

Rujukan:

http://www.ihr.org/jhr/v18/v18n4p31_Okeefe.html

http://www.independent.co.uk/news/obituaries/roger-garaudy-veteran-of-the-resistance-who-later-became-a-holocaust-denier-7879645.html

http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?languagename=en&BookID=14&View=Page&PageNo=1&PageID=1208

Doktrin Trinitas; Sebuah Kongruensi Biblikal

Sebuah terjemah dan ringkasan dari tulisan yang terdapat di dalam http://www.heaven.net.nz/writings/trinity.htm atau http://heavennet.net/ dengan judul “The Trinity Doctrine … ” .[1]

  • Trinitas[2] adalah bagian yang paling fundamental dari kekristenan. Tulisan ini[3] mencoba mengupas doktrin ini dengan merujuk kepada ayat-ayat di dalam Bible[4] maupun naskah-naskah kuno serta tulisan-tulisan sebelum konsili Nicea[5]. Tujuan tulisan ini adalah memberikan pondasi pemahaman yang tepat tentang apa yang ada di dalam ajaran Kristen.
  • Perlu diingat bahwa tujuan tulisan ini juga agar kita tidak tertipu dengan ajaran yang tidak tepat (lih. Kisah Para Rasul 17: 11).
  • Perlu pula diingat bahwa tujuan tulisan ini adalah juga untuk menunjukkan bahwa fungsi Bible adalah sebagai panduan, pengajaran, dan mengoreksi doktrin dan praktik hidup yang benar (lihat 2 Timothy 3: 16). Mereka yang bijak adalah yang rendah hati di dalam menerima kebenaran kitab suci dan bergembira manakala apa yang tertulis di dalam kitab suci berhasil mengoreksi kesalahan mereka. Hal demikian sebab mereka yang bergembira dengan petunjuk di dalam kitab suci adalah mereka yang memiliki kebenaran sejati (lihat 1 Peter 3: 15).
  • Selama ini, setiap orang Kristen jikalau memberi penjelasan tentang Trinitas, jawabannya selalu: “Tuhan adalah misteri dan di luar pemahaman logika kita”. Memang benar bahwa Tuhan di luar logika kita, akan tetapi jikalau Tuhan menampilkan diri-Nya di dalam kitab suci, tentunya agar kita mengetahui dzat Tuhan sebagaimana keterangan yang diberikan-Nya bukan? Oleh sebab itulah, jika memang Tuhan mengajarkan bahwa diri-Nya adalah Trinitas, tentunya di dalam kitab suci juga tertulis serupa itu bukan?
  • Sebagaimana ajaran Trinitas, dikatakan bahwa Tuhan itu satu, namun dengan keterangan:

Bahwa Bapa adalah Tuhan

Bahwa Anak adalah Tuhan

Bahwa Roh Kudus adalah Tuhan

Sehingga dapatlah dikatakan bahwa ada Tuhan Bapa, Tuhan Anak, Tuhan Roh Kudus.

Ketiganya merupakan Tuhan, namun tiap entitas tersebut bukanlah 1/3 Tuhan.

Dapatlah diilustrasikan apa yang tersebut di atas sebagai berikut:

Diagram Trinitas (Credit: heavennet.net)

  • Pernahkah Anda dibingungkan oleh ayat di dalam Bible yang bunyinya seperti ini?[6]

1 Yohanes 4:12

Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah.

1 Timotius 1: 17

Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.

1 Timotius 6: 15 -16

yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.

Ayat-ayat tersebut di atas seakan-akan bertentangan dengan doktrin Trinitas, namun sebenarnya Tuhan yang dimaksud di dalam ayat-ayat tersebut di atas adalah Tuhan Bapa dan bukan Tuhan Yesus sebagaimana ayat berikut ini akan memberi kejelasan:

Yohanes 6: 46

Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.

Kemudian bisa dicek juga di Yohanes 1: 18 dan Yohanes 5: 37.

Jadi jelaslah bahwa tiada seorang manusia pun bisa melihat Tuhan namun sesuai bukti yang ada di kitab suci bahwa Yesus adalah entitas yang bisa dilihat.

  • Kemudian berikut ini adalah ayat-ayat yang sering diabaikan karena bertentangan dengan doktrin Trinitas.

1 Korintian 8: 5-6

5. Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga, maupun di bumi–dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian—

6. namun bagi kita hanya ada satu Allah[7] saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan[8] saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

Ayat tersebut secara gamblang menunjukkan kepada mereka yang percaya bahwa hanya ada satu God yaitu Bapa sedangkan Yesus adalah Lord.

Tidaklah mungkin untuk mengartikan ayat ini dengan interpretasi yang lain dan sejatinya Bible penuh dengan ayat-ayat yang menunjukkan dengan sangat jelas bahwa hanyalah Bapa yang merupakan God sesungguhnya dan tiada yang lainnya.

Yakobus 2: 19

Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah[9] saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

Yohanes 17: 3

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Kedua ayat tersebut di atas sangat jelas  menunjukkan bahwa:

      1. Yesus bukanlah “the only true God”
      2. Hanya Bapa-lah yang merupakan “the only true God”
      3. Bapa-lah yang mengutus Yesus ke dunia.

Perlu pula untuk dicermati bahwa Yohanes mengatakan dengan kalimat “inilah hidup yang kekal itu” yang menunjukkan keseriusan dari kalimat tersebut.

  • Bahkan jikalau kita cermati di ayat-ayat lain di dalam Bible, maka kita akan menemukan bahwa:

Allah atau Bapa[10] adalah sumber dari [ajaran] atau pemberi otoritas[11] kepada Yesus (lih. 1 Kor 11: 3 “ … Kepala dari Kristus adalah Allah”.)

Bahwa Bapa adalah sumber dari semuanya, bahkan Ia adalah sumber dari Yesus (lih. 1 Kor 3: 23 “Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah”.)

Bahwa Bapa lebih tinggi dari semuanya, Ia adalah God[12] bagi semuanya. Bahwa Bapa melebihi Lord[13] (lih. Efesus 4: 5-6 “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua”.)

Bahwa Bapa adalah lebih berkuasa daripada Anak (lih. Yohanes 15: 1-2).

Bahwa Yesus mempunyai satu Bapa sebagaimana kita juga mempunyai satu Bapa yang sama (lih. Yohanes 20: 17, Roma 15: 6, 2 Kor 1: 3, 2 Kor 11: 3 Efesus 1: 3, Kolose 1: 3, 1 Peter 1: 3, Efesus 1: 17).

  • Lalu benarkah bahwa argumen mengenai pijakan Trinitas bisa dirujukkan kepada ayat-ayat berikut ini yang di dalamnya menyebutkan tiga pribadi (Bapa, Anak, dan Roh)?:

1 Kor 12: 4-6

2 Kor 13: 14

Galatia 4: 4-6

Efesus 4: 4-6

1 Peter 1: 2

Jikalau kita hendak mengemukakan argumen berdasar pijakan ayat-ayat tersebut maka mau tidak mau kita juga bakal menganggap bahwa Peter, Yakobus, dan Yohanes sebagai sebuah trinitas sesuai dengan Lukas 9: 28 karena ketiganya disebutkan dengan cara yang sama sebagaimana ayat-ayat tersebut di atas. Bahkan kita juga akan menganggap bahwa Bapa, Yesus, dan Malaikat-malaikat Pilihan Bapa sebagai trinitas (lih. 1 Timotius 5: 21 “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya kupesankan dengan sungguh kepadamu: camkanlah petunjuk ini tanpa prasangka dan bertindaklah dalam segala sesuatu tanpa memihak.”) sedangkan kita tahu bahwa Malaikat-malaikat Pilihan Bapa bukanlah bagian dari Trinitas.

  • Kemudian perlu pula kita cermati bahwa Yesus berbeda dengan Bapa karena di dalam 1 Kor  15: 24-28 nampak dengan sangat jelas bahwa Bapa menyerahkan semua kepada Yesus, dan kelak Yesus akan menyerahkan kembali kepada Bapa sehingga semua [termasuk Yesus], akan tunduk di bawah kuasa Bapa.  Bunyi ayat lengkapnya adalah sebagai berikut:

“24. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. 25. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. 26. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. 27. Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa “segala sesuatu telah ditaklukkan”, maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. 28. Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua”.

  • Jika Yesus adalah mediator antara Bapa dengan manusia, bagaimana mungkin Yesus adalah Bapa? (lih. 1 Timotius 2: 5) Bahkan Yesus sendiri menerangkan bahwa ia adalah dari Bapa dan bukan Bapa sendiri. (lih. Yohanes 16: 27).
  • Jikalau kita benar-benar mengikuti apa yang dikatakan Bapa di dalam Bible, kita akan mendapati bahwa Bapa yang berbicara di dalam Bible bukanlah Trinitas. Istilah Trinitas baru diperkenalkan di dalam kekristenan beberapa abad setelah kisah hidup Yesus. Jika kita hendak berpegangan kepada Bible maka ajaran Trinitas tidak ada  di dalam Bible. Jika yang dicari adalah kebenaran, lalu mengapa kita tidak merujuk kepada apa yang benar-benar diajarkan Bible?[14] Untuk tambahan referensi ayat-ayat mana saja yang menunjukkan bahwa God (Bapa atau Allah) adalah Dzat yang berbeda dengan Lord (Yesus Kristus) sebagian di antaranya adalah sebagai berikut:

Kisah Para Rasul 2: 33

Kisah Para Rasul 3: 15

1 Korintian 1: 3

2 Korintian 1: 2-3

2 Korintian 13: 14

Efesus 1: 2

Efesus 6: 23

Filipi 1: 2

Filipi 4: 19-20

Kolose 1: 2-3

1 Thessalonian 1: 1

2 Thessalonian 1: 1-2

1 Timotius 1: 2

Titus 1: 4

Filemon 1: 3

2 Yohanes 1: 3

Yudas 1: 1

  • Kemudian mungkin muncullah pertanyaan dari kita: Apabila Trinitas bukan ajaran Yesus, lalu mengapa mayoritas umat Kristen dan kebanyakan denominasi Kristen menjadikan Trinitas sebagai doktrin fundamental ajaran Kristen?

Jawabannya sebenarnya cukup mudah jikalau kita mau benar-benar mempelajari sejarah gereja. Misalkan sebelum adanya reformasi gereja, di doktrinase Kristen yang lampau terdapat ajaran bahwa keselamatan terjadi hanya dengan iman saja. Namun ketika reformasi terjadi dan orang-orang sudah mulai disadarkan bahwa keselamatan adalah lewat gabungan antara iman dan amal, maka “kepercayaan yang tidak tepat – yaitu keselamatan hanya lewat iman saja” menjadi ditinggalkan.

[Kemudian jikalau kita mempelajari kedudukan Bunda Maria di dalam Gereja Katholik yang ditahbiskan sebagai mother of God sedangkan tidak ada satupun bagian dari Bible yang mengajarkan hal yang demikian.

Contoh lain yang sangat ekstrem dan teryakini oleh banyak dari kita adalah “kebenaran” teori evolusi. Dasar dari teori evolusi adalah ateisme yang justru menjadi aneh ketika banyak orang meyakininya.[15]]

Pertanyaan justru berbalik kepada kita, apakah kita akan tetap mempercayai sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh Yesus dan juga tidak ada di dalam Bible sebagai dasar keimanan lepas dari banyaknya orang yang “meyakininya” dan atau menceritakan “mukjizat-mukjizat”[16] yang terjadi dari keyakinan itu? Ataukah kita hanya akan berpangku tangan dan merasa tidak perlu membuktikan kebenaran keyakinan yang kita anut sesuai ajaran skriptur?

Ingatkah kita akan sebuah ayat yang berbunyi:

Lukas 11: 9-10 “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”

Bukankah Yesus telah memberi peringatan kepada kita mengenai ajaran yang menyimpang?

Kisah Para Rasul 20: 29-31

29. Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. 30. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. 31. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata.

  • Kemudian apakah Yesus lalu adalah co-equal dengan Bapa ketika kita membaca Yohanes 1: 1? Atau apakah Yesus adalah co-equal dengan Bapa ketika dikatakan “ego eimi[17] di dalam Keluaran 3: 13-14 dibandingkan dengan Yohanes 13: 19 dan juga ayat-ayat yang lain? Lalu bisakah kemudian Yohannes 8: 48-59 dijadikan rujukan bahwa Yesus adalah Bapa?

Tidak, tidaklah demikian.

Yohanes 1: 1 memiliki “permasalahan” terjemahan Logos-Theos dari bahasa Yunani[18]. Bahkan beberapa penerjemah Bible lebih suka menerjemahkan ayat ini dengan bunyi sebagai berikut:

In the beginning the Word existed. The Word was with God, and the Word was divine.”[19]

atau

The Logos (word) existed in the very beginning, and the Logos was with God, the Logos was divine[20]

Sehingga Logos bukanlah Allah namun hanya memiliki sifat ke-Ilahi-an.

Kemudian ungkapan “ego eimi” sebenarnya juga dipakai oleh Jibril misalnya di dalam Lukas 1: 19, juga dipakai oleh orang yang sembuh dari kebutaan seperti di dalam Yohanes 9: 9. Bahkan Petrus di dalam Kisah Para Rasul 10: 21 juga memakai “ego eimi”. Di dalam Bible, Yesus memakai ungkapan “ego eimi” setidaknya dua puluh kali. Ungkapan ini adalah kalimat yang lazim untuk mengatakan bahwa yang dimaksud di dalam pembicaraan adalah “aku” ketika kita benar-benar memperhatikan setiap konteks percakapan yang ada di Bible. Jadi ketika seseorang mengatakan “ego eimi” lalu dikatakan sama dengan Bapa adalah merupakan imajinasi yang tidak tepat.

Kemudian mengenai ungkapan yang dikatakan Yesus di dalam Yohanes 8: 58, jikalau kita memperhatikan konteks keseluruhan percakapan Yesus dengan beberapa orang Yahudi di dalam teks Bible King James Version maka bunyi ayatnya “sebenarnya” adalah sebagai berikut:

Jesus said unto them, Verily, verily, I say unto you, Before Abraham was, I am.

Bandingkan dengan terjemahan di dalam Bahasa Indonesia[21] yang menjadi agak berbeda

Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”

  • Kemudian bagaimana dengan 1 Yohanes 5: 7?

Perlu diketahui oleh kita semua bahwa ayat ini adalah ayat sisipan yang BUKAN merupakan ayat yang ada terdapat di skriptur Bible tertua. Erasmus, sebagai penerjemah TIDAK pernah menemukan ayat ini di dalam manuskrip yang ia teliti dan lalu ia terjemahkan di edisi 1 dan 2 terjemahannya. Namun seorang pendeta Irlandia memalsukan sebuah manuskrip dengan menyertakan ayat 1 Yohanes 5: 7 sehingga membuat Erasmus “terpaksa” memasukkan ayat 1 Yohanes 5: 7 ke dalam terjemahan edisi 3, 4, dan 5-nya meskipun Erasmus sendiri meragukan manuskrip dari pendeta Irlandia tersebut.

Baru sekarang diketahui bahwa 1 Yohanes 5: 7 adalah sisipan dan bukan ayat yang asli. Beberapa penerbitan Bible menghapus ayat ini dari Bible karena terbukti palsu[22] meskipun beberapa penerbitan masih mempertahankan ayat ini di dalam cetakan Bible.

Apapun, kita seharusnya mengikuti perkataan Yesus bahwa Bapa adalah Allah-nya Yesus dan kita semua sebagaimana dapat kita rujuk Yohanes 20: 17.

Perlu kita benar-benar perhatikan bahwa satu-satunya Allah yang benar hanyalah Bapa (Yohanes 17: 3) dan Yesus bukanlah Bapa sebab Yesus diutus oleh Bapa (Yohanes 17: 3, Yohanes 8: 42).

  • Lalu bagaimana dengan Yohanes 10: 27-36?

Ketika kita memperhatikan kalimat “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10: 30) maka kita harusnya juga memperhatikan kalimat di dalam Yohanes 17: 21. Lalu bagaimanakah dengan ucapan Yesus di Yohanes 10: 36 yang berbunyi “masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?”. Sesungguhnya apa yang dikatakan Yesus adalah sesuai dengan Mazmur 82: 6 yang bunyinya adalah sebagai berikut: “Aku sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian.[23]

  • Tahukah Anda bahwa penulis-penulis Kristen sebelum masa Konsili Nicea mengatakan bahwa Bapa adalah Tuhan-nya Yesus dan kita semua? Bahwa Clement (85 A.D.), Hermas (100 A.D.), Ignatius dari Antioch (110 A.D.), Polycarp, Papias (110-130 A.D.), Aristides (125 A.D.), Justin Martyr (150 A.D.), Tatian (165 A.D.), Athenagoras (175 A.D.), Theophilus dari Antioch (175 A.D.), Irenaeus(185 A.D.), Clement dari Alexandria (200), Origen, Tertullian (awal 200), dan Hippolytus (230 A.D.) menyuarakan suara yang sama bahwa “Father is the true God”.[24]
  • Kemudian untuk penjelasan lebih Biblikal, luas, dan mendalam mengenai kalis ajaran Trinitas, silakan kunjungi:

http://www.heaven.net.nz/writings/trinity-05.htm

untuk membaca dengan cermat bahwa ada 100 ayat di dalam Bible yang menunjukkan bahwa Bapa berbeda dengan Yesus, silakan kunjungi laman ini:

http://www.heaven.net.nz/writings/trinity-11.htm

  • Seharusnya Anda mulai bertanya mengenai ajaran Yesus sesungguhnya. Apakah benar bahwa ajaran Trinitas adalah apa yang diajarkan oleh Yesus? Apakah benar bahwa ajaran Trinitas benar-benar sebagaimana yang dirujukkan kepada Bible? Apakah Trinitas adalah ajaran Kristen sejak semula pertama kali diajarkan ke orang-orang?

Apakah perkataan Yesus di dalam Markus 12: 29 tidak kita resapi secara mendalam?

Bapa kita akan selalu menjadi Bapa kita dan ketika kita menuruti Bapa maka Yesus akan memanggil kita sebagai saudaranya (Ibrani 2: 11).

Sadarkah kita bahwa pemercaya doktrin Trinitas selalu memulai dengan “[pokoknya] percaya pada Trinitas” lalu kemudian mereka mencari-cari sumber rujukan di dalam Bible untuk memperkuat klaim tersebut. Apakah ada kiranya mereka benar-benar mencari di dalam Bible, membaca tanpa bias lalu kemudian mengikut apa yang diajarkan Bible? Pondasi apakah yang hendak dibangun oleh mereka yang tidak merujuk kepada ajaran Yesus? (lih. Matius 16: 13-18, Galatia 1: 8).


[1] Tulisan ini diperoleh dari sebuah website Kristen [Unitarian?]. Tambahan oleh penerjemah dan peringkas ditandai dengan tanda kurung sic  [ … ]

[2] atau Tritunggal

[3] Yang dimaksud tulisan ini adalah tulisan “The Trinity Doctrine”. Perlu ditekankan sekali lagi bahwa postingan ini adalah bersumber dari “The Trinity Doctrine”. Hak cipta ada pada http://heavennet.net/ dan dilindungi hukum. Postingan ini tidak dimaksudkan untuk tujuan komersil kecuali untuk tujuan akademik-edukasi. Jikalau ada bagian yang tidak sesuai dengan tulisan asli, maka silakan hubungi saya untuk koreksi. Penerjemah-peringkas berusaha membuat intisari dari tulisan “The Trinity Doctrine” seefisien dan setepat mungkin.

[4] Penggunaan istilah Bible lebih disukai oleh penerjemah daripada Alkitab maupun Injil yang artinya bisa bias. Untuk penjelasan tentang ini, bisa dibaca di dalam tulisan karya penerjemah di blog ini dengan judul “Sastra dan Hermeneutika”.

[5] Bagi mereka yang belajar sejarah kekristenan pasti sudah mahfum bahwa konsili Nicea adalah pondasi awal “pengokoh” pembentukan dogma Kristen yang berlaku hingga sekarang.

[6] Terjemahan Bible dikutip dari http://bible.cc/ edisi Bahasa Indonesia dengan pemegang hak cipta Lembaga Alkitab Indonesia (LAI atau The Indonesian Bible Society).

[7] Di teks yang berbahasa Inggris, kata Allah di sini adalah God

[8] Di teks yang berbahasa Inggris, kata Tuhan di sini adalah Lord

[9] Jika kita perhatikan, di dalam terjemah bahasa Indonesia oleh Lembaga Alkitab Indonesia, kelihatan sekali bahwa kata God diterjemahkan menjadi Allah dan bukan Tuhan sedangkan kata Lord diterjemahkan menjadi Tuhan. Namun ketika menuju konsep Trinitas menjadi ada istilah Tuhan Bapa (Allah), Tuhan Anak (Yesus), dan Tuhan Roh Kudus dan ketiga entitas ini sebagai co-equal Tuhan. Padahal jika kita cermati bahwa God di dalam Bible adalah Dzat di mana tempat berbakti ditujukan. (lih. mis.Yohanes 17: 3). Terjemahan istilah God = Allah namun bukan sama dengan Tuhan kemudian untuk istilah Lord = Tuhan (perhatikan 1 Korintian: 5-6), lalu kemudian “bisa” muncul istilah di dalam Trinitas penggunaan terma Tuhan Allah atau Tuhan Bapa menjadi sesuatu yang ganjil bagi mereka yang serius mencermati.

[10] Bapa di sini tidak dituliskan Tuhan Bapa karena sebagaimana telah diulas di catatan kaki nomor sebelumnya (9) bahwa telah nampak akan adanya kerancuan [atau ke-bias-an?] penerjemahan istilah God dengan Lord.

[11] Atau di dalam teks Bible yang asli dipergunakan istilah kephale.

[12] Perhatikan bahwa God itu bukan Lord.

[13] Ketika di dalam Bible edisi Bahasa Indonesia kita menemukan kata Tuhan maka kata ini merupakan terjemahan dari Lord sedangkan kata Bapa atau Allah adalah terjemahan dari kata God (bdk. Catatan kaki 9-10).

[14] Ingatlah bahwa mukjizat bukan tolok ukur kebenaran ajaran. Semua “kepercayaan” mempunyai kisah-kisah mukjizat. Apabila kita menjadikan “mukjizat” sebagai tolok ukur kebenaran, maka Anda akan berada di posisi akan membenarkan semua ajaran agama. Kejadian “di luar nalar orang yang mengalami kejadian” bisa terjadi pada kasus-kasus tertentu semisal yang populer adalah saat seseorang mengalami hipoksia. Kadang pada beberapa kasus, daya sugestif mampu membuat seseorang mengalami kekuatan di luar logika. Penjelasan-penjelasan lain tentang ini memang sangat kompleks, namun perlu pula kita cermati apa yang pernah dikatakan Yesus di dalam Matius 7: 21-23 dan Lukas 6: 46. Perhatikan pula “perbedaan” antara Bapa = God dengan Tuhan = Lord di dalam terjemahan Bahasa Indonesia sebagaimana telah dibahas di catatan kaki sebelumnya.

[15] Mungkin sebagian dari pembaca belum pernah mendengar nama Adnan Oktar atau lebih dikenal dengan nama pena Harun Yahya. Harun Yahya adalah ilmuwan Turki yang menentang Teori Evolusi Darwin dengan argumen dan pembuktian yang lebih kuat dibandingkan hipotesis yang pernah diajukan Darwin yang kemudian berkembang menjadi Teori Evolusi. Karya Harun Yahya yang berjudul Atlas Penciptaan merupakan salah satu karya Harun Yahya yang bisa kita jadikan rujukan di dalam memahami letak ketidakberesan Teori Evolusi. Meskipun beberapa pendukung Darwinisme menyerang Harun Yahya dengan berbagai macam tuduhan sebagaimana misal dilakukan oleh Wikipedia, namun Harun Yahya menjawab tuduhan tersebut dengan elegan. Anda dapat mengunjungi situs http://id.harunyahya.com/ untuk mengenal lebih jauh tentang Harun Yahya dan karya-karyanya. Sedangkan untuk menyelami sanggahan terhadap serangan atas Harun Yahya, Anda dapat mengunjungi situs http://www.replytowikipedia.com/. Namun apapun, menarik mengutip ucapan Dr. Cal Lightman, karakter utama di dalam mini-seri Lie to Me, bahwa “You can believe whatever you want, it’s what everybody else does”. Jika “ketidaktepatan” adalah sesuatu yang ingin Anda percayai, maka tidak ada yang memaksa Anda untuk mempercayai the truth.

[16] Lihat catatan kaki nomor 14.

[17] Aku adalah aku

[18] Perlu diketahui bahwa skriptur Bible tertua adalah berbahasa Yunani, tidaklah ada skriptur yang lebih tua dari skriptur berbahasa Yunani. Skriptur inilah yang dijadikan rujukan untuk semua Bible yang terterima bukan apokrifa.

[19] An American Translation, Edgar Goodspeed dan J.M. Powis Smith, The University of Chicago Press, hlm. 173.

[20] Dr. James Moffatt

[21] http://tb.scripturetext.com/john/8.htm terjemahan Bible di dalam Bahasa Indonesia oleh LAI (Lembaga Alkitab Indonesia)

[22] Untuk kronologi lengkapnya silakan kunjungi:

http://www.heaven.net.nz/writings/trinity-05.htm

[23] Teks berbahasa Inggris (KJV) bunyinya sebagai berikut: “I have said, Ye are gods; and all of you are children of the most High.”

[24] Silakan baca dengan sepenuh tentang ini lewat laman:

http://www.heaven.net.nz/writings/trinity-06.htm

Hypogramatic Reading on Tao Te Ching, Bible, and Koran

redeveloped 16 June 2012

The concept of hypogramatic reading was coined by Riffaterre in his book Semiotics of Poetry (1978). Hypogramatic reading is a reading which involves the propositional structure of the matrix of a text. The matrix itself “has an intertextual phrase—which the reader must discover—capable of generating one or more other texts. On the level of the whole text, this “intertext” plays the role of the object sign, relative to the subject sign of the matricial phrase of the primary text” (Hopkins, n.d.: 1).

This writing is going to propose the intertextuality between Tao Te Ching, Bible, Koran, and Derrida. I am writing this to follow what Barthes says as “I” that is actually a being constructed from texts (in Culler, 1981: 102) and what Bakhtin says as “I” is here rewriting itself (in Jay dan Rothstein, 1991: 20). There is nothing new but other texts that “I” has not read.

Talking about a re-new interpretation as the operation that this article is going to do cannot be separated from the concept of intertext possible absence in every interpretation. According to Riffaterre, a new interpretation may always be possible to happen when a reader gets the same text exposed or revealed by the presence of the new intertext. A new interpretation comes when a reader finds out that different prior texts he has not read give contribution to the new significance of the text that he previously read and decoded (cf. Legget, 2002: 223).

When talking about writing process, no man will be able to write without knowing what to write. He knows what to write and will write only what he knows. What he knows, ironically, comes from what he has read or taught before.  What he knows teaches him how to see things as we may call it as reality. Reality is not the thing as the way it is, but it is the thing that we see as we were taught (cf. Bardzell, 2009).

Let us start this journey with a quotation from Tao Te Ching about binary opposition:

When people see some things as beautiful,
other things become ugly.
When people see some things as good,
other things become bad.

Chapter 2

Binary opposition by nature will create reality as it has been stated by Lao Tzu:

Naming is the origin
of all particular things.

Chapter 1

Reality is made by our recognition of things. When a man recognizes a thing, he must have identified the opposite in the process. As deconstructionists say, the binary opposition becomes the real accepted picture of reality. This reality is different from the reality. Reality is constructed and institutionalized by language. It affects the way we see things.

Here is an example:

If there is a man, then what is not a man must be named as not-man –> woman.

If there is a positive, then there must be negative.

If there is yang, there must be yin.

This process never stops and affects us on how we see these binaries. Man is not woman, and woman is not man. This teaching is culminated from generation to generation.

Here is another example:

  1. If someone gives you two vertical lines, you will identify them as two vertical lines.
  2. But if someone gives you two vertical lines side by side, and on the top and the bottom of the lines are given two ellipses, you will see a picture of a cylinder.
  3. The question is; why don’t we see the picture as just simply two vertical lines and two ellipses? Why do we naturally see the picture as cylinder?

What we see from every thing is actually not the thing itself but rather the projection of prior texts that teach us how to see things. This is exactly the same point to what Barthes (1971, From Work to Text), Derrida (in Holcombe, 2007: 1), and Foucalt (in Barker, 2005: 105 – 106)  have already pointed out.

If we want to write something, we would write from those constructs of perception. When we write, we are using language. Ironically, language is never neutral and so is our perception. Language and perception, as the two examples above, are built from binary opposition and billion construct of definitions. We cannot use something outside the language to describe something and we cannot make our own definition when we see something. It happens to everyone who writes! So we can say that every writer is just a man who writes what he knows. What he knows is what he sees. What he sees is actually a projection to what he was taught about how to interpret things. If what the writer writes is just a projection, so to use Riffaterre’s argument (1978: 2), there must be predecessor texts that taught him. These predecessor texts give the writer the material and knowledge to his writing.  Or in other words, every text has its predecessor. A writer cannot make but reproduce the prior texts.

When a text’s significance is driven by other texts, we can say that there is intertextuality. Intertextuality happens because a text always depends on prior texts to get its significance. This is the nature of every text. Again as it has been explained in the previous paragraphs, intertextuality is truly the nature of every text and no text can escape from intertext (Porter, 1986: 34). The writer needs prior texts to make a new text. Thus every text needs  prior texts to gain its significance as one reads it (cf. Riffaterre, 1978: 7). The process to clarify the relationship between texts is  hypogramatic reading (Riffaterre, 1978: 2-7). Therefore, we have an assumption: If sacred books were inspired by God, while the means to manifest God’s teaching was language (because this teaching had to be written), so the interpretation itself will drive us into hypogramatic reading a.k.a intertextuality revealing.

Intertextuality does happen also in Tao Te Ching, Bible, and Koran(1). Their intertextuality is actually reproduced by deconstructionists (for this “idea” cf. Vargova, 2007) (2).

Let us first compare the first chapter of Tao Te Ching:

The unnamable is the eternally real.
Naming is the origin
of all particular things.

to the Bible, John 1: 1,

[in the beginning was the Word],

the word was with the God [= the Father],

and the word was a divine being

the translation is taken from McKenzie, p. 317(3)

and to the Koran 2: 29-33,

(29) It is He who created for you all of that which is on the earth. Then He directed Himself to the heaven, [His being above all creation], and made them seven heavens, and He is Knowing of all things.

(30) And [mention, O Muhammad], when your Lord said to the angels, “Indeed, I will make upon the earth a successive authority.” They said, “Will You place upon it one who causes corruption therein and sheds blood, while we declare Your praise and sanctify You?” Allah said, “Indeed, I know that which you do not know.”

(31) And He taught Adam the names – all of them. Then He showed them to the angels and said, “Inform Me of the names of these, if you are truthful.”

(32) They said, “Exalted are You; we have no knowledge except what You have taught us. Indeed, it is You who is the Knowing, the Wise.”

(33) He said, “O Adam, inform them of their names.” And when he had informed them of their names, He said, “Did I not tell you that I know the unseen [aspects] of the heavens and the earth? And I know what you reveal and what you have concealed.”

the translation is taken from http://quran.com/2

By comparing three versions of the construction of reality from the hypogramatic reading of Tao Te Ching, Bible, and Koran, we can conclude that there is intertextuality between those texts; the intertextuality of the concept of creation, of reality.

Tao Te Ching teaches that in the beginning there was: Tao the Great Mother (Ch. 6) and it gives birth to infinite worlds (Ch. 6). The characteristics of Tao itself are defined as follows:

Since before time and space were,
the Tao is.
It is beyond is and is not.

Chapter 21

The Tao is great.


The universe follows the Tao.
The Tao follows only itself.

Chapter 25

The great Tao flows everywhere.
All things are born from it,
yet it doesn’t create them.

Chapter 34

While in the Bible, in the beginning there was Word (John 1: 1). In Tao Te Ching, in the beginning was Tao. The name “Tao” itself is not the real name of such being. It is called as Tao to simplify the calling. In Tao Te Ching, the Power to Create, which is naming things, is also called as Tao. Tao gives birth to infinite worlds. World or reality from the first place was created by binary opposition naming; the process itself will give birth to infinite worlds. The world will always be recreated and the result of creation is the infinite worlds. The infinite worlds signify the concept of reality as coined by deconstructionists.

This will be the answer that has been a controversy from the translation of the Bible’s John 1:1 over centuries until now. If we take the translation from McKenzie as it has been quoted above, then the significance of John 1:1 is revealed quite easily by now.

By comparing three holy books regading the construction of reality; Tao Te Ching, Bible, and Koran, we can make a conclusion:

  1. Taking Tao Te Ching as the earliest text, then we can draw an interpretation.
  2. Yes, in the beginning there was The One or God or Father or Tao or Allah (we read from three books). The name of the first being itself was urgent because it was originally without name (as we read from Tao Te Ching).
  3. Then the first man was created, as we read from Koran.
  4. The first man was taught to identify things  (as we read from Koran) or the first man learned to differentiate things (binary opposition naming, as we read from Tao Te Ching). The power to name things needs Word or Logos or Tao. Word or Logos is not God as explained by Tao Te Ching that Tao (The mother of all things) is not Tao (The First Being).
  5. This power, naming things or differentiating things, will create infinite worlds (as we read from Tao Te Ching or Koran) and this power can be said as divine (as we read from Bible, John 1: 1) because it creates infinite worlds. The power that man has to create infinite worlds, for some points, is as similar as God’s.
  6. By taking this matrix, we will interpret that John 1:1 does not talk about Jesus = the Word = Logos. It simply declares the same thing to what the earlier text (Tao Te Ching) has said about the world and the worlds. The same idea is repeated by Bible (John 1: 1) and Koran (2:29-33). There is no Jesus in John 1:1!
  7. This matrix does not claim that there was no God. It claims that there was God in the beginning of the creation and God made Word or Logos. Word or Logos are divine. This also clarifies that John 1: 1 is not what as has already been interpreted or translated by most biblical scholars.
  8. This conclusion will be in coherence with other Bible verses such as: Matthew 27: 46, Matthew 24: 36, Matthew 26: 36, Mark 12: 28-29, Mark 16: 19, John 11: 41-42, John 14: 28, Luke 6: 12, Luke 10: 21, etc. and solve the puzzle.
  9. This conclusion is in accordance with the logical thinking in math that:

the first was X

X with Y

X is not Y

That is why Derrida says there is nothing outside the text [created by the language] (1967: 158-159). Our existence depends on words; language. Thats why Adam was taught how to differentiate things –> naming –> involving words after the creation of him. It also refers to Tao Te Ching; naming is the source of all things because naming implies differing. If you read the first stanza from Gospel of John, you will understand that actually The Word is not God but divine as some reputable biblical scholars interpret it. It is said as divine because naming needs words; the first word as the anchor, the other as the peripheral. These two words are needed to make distinction between ‘this’ and ‘thing which is not this’. They are co existence, as Yin and Yang. If you try to remove Yang, you will not see Yin there; vice versa.


Footnotes:

(1) As we all know, the oldest or the earliest book from these three books (Tao Te Ching, Bible, and Koran) is Tao Te Ching. The second is Bible, and the third is Koran. This kind of information can be obtained from these websites:

http://www.taoistic.com/

http://carm.org/when-was-bible-written-and-who-wrote-it

http://www.wsu.edu/~dee/ISLAM/QURAN.HTM

(2) the terms binary opposition, language creates reality can be traced back from Tao Te Ching, Bible, and Koran.

(3) multiple translations (or interpretations ?) of this verse can be compared on:

http://en.wikipedia.org/wiki/John_1:1,

http://simplebibletruths.net/70-John-1-1-Truths.htm,

Jesus as Θεός: Scriptural Fact or Scribal Fantasy?, and

But What About John 1:1?

Bibliography

Bardzell, Jeffrey. (2009). Two Takes on the Hermeneutic Circle. Accessed on Saturday, 16 June 2012 at 22:16 (GMT+7) from:

http://interactionculture.wordpress.com/2009/03/09/two-takes-on-the-hermeneutic-circle/

Barker, Chris. (2005). Cultural Studies: Teori dan Praktik. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

Barthes, Roland. (1971). From Work to Text a translation by Stephen Heath © 1977.

Clayton, Jay dan Eric Rothstein (ed.). (1991). Influence and Intertextuality in Literary History. Wisconsin: The University of Wisconsin Press.

Culler, Jonathan. (1981). The Pursuit of Signs: Semiotics, Literature, Deconstruction. New York: Cornell University Press.

Derrida, Jacques. (1967). Of Grammatology. Paris: Les Éditions de Minuit.

Holcombe, C. John.  (2007). Jacques Derrida. Accessed on Monday, 9 May 2011 at 15:46 (GMT+7) from:

http://www.textetc.com/theory/derrida.html

Hopkins, John A. F. (n.d.). Michael Riffaterre Biography – (1924–2006), Semiotics of Poetry, significance, semiosis. Accessed on Monday, 9 May 2011 at 11:29 (GMT+7) from:

http://psychology.jrank.org/pages/2154/Michael-Riffaterre.html

Legget, B.J. (2002). “A Point of Reference for the Artist: Stevens and Flaubert”, Comparative Literature Studies, Vol. 39, No. 3, pp. 223-239.

McKenzie, John L. (1965). Dictionary of the Bible. New York: Macmillan Publishing Company.

Porter, J.E. (1986). “Intertextuality and the Discourse Community”, Rhetoric Review, Vol. 5, No. 1, Autumn 1986, pp. 34-47.

Riffaterre, Michael. (1978). Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.

Tzu, Lao. (20 July 1995). Tao Te Ching a translation by S. Mitchell. Accessed on Monday, 9 May 2011 at 11:46 (GMT+7) from:

http://academic.brooklyn.cuny.edu/core9/phalsall/texts/taote-v3.html

Vargova, Mariela. (2007). “Dialogue, Pluralism, and Change: The Intertextual Constitution of Bakhtin, Kristeva, and Derrida”, Res Publica (2007) 13: 415-440. DOI: 10.1007/s11158-007-9042-y © Springer.

Creative Commons License
Hypogramatic Reading on Tao Te Ching, Bible, and Koran by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.