Kepokilan dan Wabah

Tulisan ini merupakan terjemah bebas dari status Facebook penulis Muslim kontributor MuslimMatters.org, Daniel Haqiqatjou, yang disiarkan pada tanggal 28 Mei 2016 disertai beberapa penambahan minor sebagai pembantu pemahaman konteks. Dirilis di dalam blog ini dalam payung fair use dan for education.

=====================

Swiss memberlakukan denda kepada siswa laki-laki Muslim jika mereka menolak untuk berjabat tangan dengan guru perempuan mereka.[1]

Apakah ini bukan semacam pelecehan seksual – untuk memaksa seseorang melakukan kontak fisik di luar kemauannya? Manakah mereka yang suka berteriak lantang, para feminis sekuler, yang koarnya melulu tentang integritas tubuh dan segala tindak harus melewati ikhlas persetujuan (consent)? Oh ya, ternyata kebelaguan itu menjadi suara sepi jika ini terjadi atas pria Muslim. Jika seorang pria Muslim menolak untuk memberikan jabat tangan, ini lalu boleh dengan lantang ditafsirkan berarti dia mencoba untuk menindas para perempuan seperti yang selalu dikatakan tentang laki-laki muslim terhadap semua anggota perempuan dari keluarganya, kan?

Ini mengingatkan kita pada perempuan yang merasa tidak dihargai jika laki-laki muslim menurunkan pandangannya (gadhul bashar) dan tidak menatap mata mereka dan tersenyum dan tertawa. Mengapa penurunan pandangan oleh para laki-laki Muslim bisa dianggap sebagai bentuk tidak menghormati? Hanya karena tidak sesuai dengan apa yang Anda digunakan dalam hal adat sosial tidak berarti bisa semena-mena dilabeli sebagai tindak tidak hormat. Bukankah negara-negara Barat kerap mengklaim sebagai toleran budaya dan terbuka untuk keragaman dan tak henti-hentinya menuduh masyarakat Muslim sebagai masyarakat intoleran? Ataukah makna “toleransi” menurut mereka hanyalah kebiasaan makan makanan dari budaya lain dan berdandan kostum suku bangsa-budaya lain untuk acara Halloween?

Dan argumen yang menolak untuk berjabat tangan kemudian diarahkan kepada diskursus bahwa praktik itu memperkuat pelembagaan peran gender dan pemisahan gender. Justru itulah pangkal semua perkara! Jika Anda yakin hal-hal yang diajarkan di dalam Islam itu tak baik menurut Anda yang bukan orang Islam, okelah. Kan kecuekan kalian pada prinsip yang dipraktikkan oleh orang Islam tak bisa diguyur dengan pemaksaan pemahaman. Dan jika Anda ingin memaksa umat Islam untuk melanggar prinsip-prinsip mereka dalam hal ini, udah sana lakukan saja. Tetapi abai pada peraturan ini yang diterapkan di Arab atau Iran atau Afghanistan dan absen dari mengatakannya sebagai peraturan yang tak adil justru menunjukkan isu-isu berkutat praktik ini menjadi tidak konsisten. Negara-negara itu punya aturan sendiri dan berhak menerapkan tanpa seharusnya Anda di Barat nyinyiri sebagaimana sering Anda lakukan, padahal Anda di Barat merasa aturan Anda mengikat mereka yang ada di wilayah negara Anda dan Anda tak mau dinyinyiri di dalam penerapannya.

Kita buka kartu saja, jika Barat ingin memaksa umat Islam untuk melanggar norma-norma ini, itu hanya akan menjadi bukti bagaimana netralitas sekularisme adalah fatamorgana. Tidak ada netralitas – itu hanya norma-norma budaya Barat yang mendasari dan menginformasikan segala sesuatu dan dipaksakan kepada semua yang ada di kolong langit. Itu sebabnya saya tidak pernah menarik kepada mantra sakti menyesatkan “kebebasan beragama” dalam argumen saya. Karena, apa yang atau tidak “religius” seringkali didefinisikan secara kultural. Jika budaya mengalami pergeseran, Anda di Barat dapat berkoar dan membuat klaim untuk meyakinkan orang-orang dan memberitahu mereka itu konsisten dengan kebebasan beragama.

Lihatlah “homoseksualitas.” Pada awalnya, itu sesuatu yang universal dikutuk. Kemudian budaya bergeser sedikit dan itu kemudian digembar-gemborkan sebagai masalah yang muncul karena adanya doktrin agama – beberapa agama merubah “doktrinnya,” yang lainnya tidak – dan itu kemudian dikanonkan di dalam domain kebebasan beragama dan “setuju untuk tidak setuju.”

Kemudian pergeseran budaya muncul lebih hebat mengenai isu homoseksualitas dan sekarang “kebolehan homoseksualitas” secara universal dirayakan dan mereka yang menolak untuk bergabung dalam kegembiraan dan persetujuan akan praktik homoseksualitas dianggap sebagai orang ekstreme, orang kolot, orang kuno dan dianggap tidak merefleksikan pribadi yang beriman pada “[modifikasi doktrin] agama yang dapat diterima.”

Mereka yang kukuh memegang “keyakinan lama” [baik yang Muslim maupun yang Kristen] kemudian disebut dengan pelaku penyebar ajaran bigotry (kebencian berkait SARA dari kolotnya pikiran), hate (kebencian), prejudice (prasangka buruk pada liyan tanpa dasar “benar”) dan itu sesuatu yang harus diatur supaya tidak menyebar dan kini di Barat, Anda harus mau menerima oderan Tart Perkawinan untuk pernikahan gay, Anda kalau jadi petugas di kantor catatan sipil di negara-negara Barat, KINI harus mau menerima dan merestui tanpa boleh banyak cincong terhadap pernikahan pasangan homoseksual, walaupun misalnya itu bertentangan dengan keyakinan mereka. Menolak menerima itu, bisa kena buli, dipecat dari kerja, denda, bahkan dapat kamar gratis di penjara. Jangan kaget misalnya petugas pencatatan sipil di Kentucky, Amerika Serikat yang bernama Kim Davis diseret ke penjara karena bersikukuh menolak pencatatan perkawinan pasangan homoseksual karena Kim Davis memegang teguh keyakinan Kristen-nya yang menolak mengakui pernikahan sejenis.[2] Atau misalnya perusahaan juru foto perkawinan, Elane Photography, terpaksa harus berurusan dengan pembuat undang-undang untuk melindungi hak para fotografernya sekiranya hendak menolak orderan pernikahan pasangan homoseksual meskipun akhirnya mendapati kenyataan bahwa “petisi”-nya dilihat pun tidak oleh para penentu kebijakan.[3] Atau denda dan paksaan untuk mendukung diberlakukan kepada sebuah toko pembuat kue pernikahan bahkan ketika misalnya punya argumen “we’re not anti-gay, we’re just anti-gay-marriage” digunakan di pengadilan, tetaplah dikalahkan oleh para hakim.[4]

Muslim telah lama mampu hidup di Barat dan mempraktikkan agama mereka dalam konteks “toleransi” yang memuaskan bukan karena mengikut model toleransi [mutlak] beragama dan kebebasan dan sekularisme bla bla bla. Benar-benar tidak. Tolong, tolong berhenti percaya omong kosong yang pokil ini. Kebetulan bahwa kebudayaan Barat, yang beberapa di antaranya berakar dalam tradisi Abrahamik [Kristen] cukup dekat dengan Islam sehingga umat Islam sejatinya sudah lama bisa menjalani hidup di masyarakat Barat. Dan muslim di Barat mensyukurinya, alhamdulillah. Tapi itu bisa berubah setiap saat.

Namun kini Barat bergerak menjauh dari pengaruh akar Ibrahim dan terus mengadopsi ideologi “paganistik dan setan,” mungkin akan tiba masa di mana muslim di Barat akan kesulitan bahkan tidak bisa melaksanakan apa-apa yang menjadi prinsip keyakinannya. Dan hukum-hukum “yang baru itu” akan digembar-gemborkan sebagai sangat konsisten dengan kebebasan beragama. Bahkan, doktrin yang dicekokkan mengatakan bahwa kebebasan beragama adalah apa yang SESUAI dengan hukum yang diatur konstitusi sedangkan berselisih dari konstitusi dianggap melawan hukum. Kalau sejarah tata konstitusi homoseksualitas bisa berbalik arah dan justru menggencet mereka yang meyakini bahwa homoseksualitas adalah sesuatu yang dibenci Tuhan, tinggal berapa langkah lagi segala argumen yang dipakai pendukung homoseksualitas akan menjadi inspirasi bagi para pendukung pedofilia,[5]nekrofilia, dan incest[6]sebagaimana kini marak terjadi di sebagian negara Barat?

Dan kemudian akan ada beberapa Muslim yang terus minum Kool-Aid [percaya pada doktrin yang justru menjauhkan mereka dari agama; ajaran yang disebarkan para musang berbulu domba] dan percaya bahwa mereka dapat hidup bebas sebagai Muslim, kecuali pada saat itu apa yang mereka pikirkan adalah “Islam” akan ada seperti apa yang kita tahu dari “Islam yang sudah dipermak” dan Islam yang seperti itu malah diagung-agungkan sebagai Islam yang benar, yang moderat, yang sesuai kemanusiaan.

Dan Muslim lainnya, orang-orang Muslim yang tetap memegang agamanya, akan memiliki banyak cobaan dan kesengsaraan. Bagi mereka ini akan terasa memegang bara panas untuk kokoh beragama dan sementara berusaha mati-matian menggigit keimanan dengan gigi geraham. Ini mungkin tidak terjadi dalam hidup kita. Atau mungkin itu akan segera terjadi. Tetapi jika hal-hal di atas terus berlanjut seperti telah terjadi selama satu dekade terakhir di Amerika dan Eropa, semua itu tinggal masalah waktu saja. Wallahu ta`ala `alam.

Juga, saya tidak bermaksud untuk menjadi terlalu pesimis. Tapi saya pikir kita harus memberikan banyak kredit untuk tetangga kita non-Muslim yang tulus mentolerir kita (dengan toleransi yang nyata dan tidak dangkal) dan bahkan pada apa-apa yang mereka lihat pada kita sebagai keanehan. Keyakinan saya adalah bahwa praktik toleran sebagian orang-orang di Barat memiliki akar dari memori budaya yang mendalam pada hari-hari ketika Barat adalah masyarakat didominasi oleh Kristen tradisional. Toleransi dalam arti yang sesungguhnya itu sendiri adalah nilai Ibrahim, dan bukanlah ajaran liberal sekuler.

Tugas kita semua di masa-masa seperti ini adalah untuk menjadi tetangga yang baik dan tulus sebagaimana diajarkan di dalam keimanan kita sehingga mereka ini dapat melihat bahwa ada beberapa orang yang tersisa di muka bumi yang menyembah Allah sebagaimana Allah telah disembah di waktu wahyu masih turun, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah. Mereka yang tulus toleran kepada kita pantas kita tunjukkan itu.

Kita justru akan mengecewakan mereka dan membuat diri kita sendiri gagal sebagai orang beriman yang baik ketika meninggalkan himma “kesungguhan di dalam iman untuk menghadap masalah yang terjadi sembari mengharap pertolongan Allah” dan istiqamah “konsisten di dalam bertindak baik berdasar iman.”

.

.

.

.

Endnotes

[1] “Swiss school board rules Muslim boys must shake female teachers’ hands,” 25 Mei 2016, The Telegraph.

[2] Arian Campo-Flores, 3 September 2015, “Defiant Kentucky Clerk Jailed for Refusing to Issue Same-Sex Marriage Licenses,” The Wall Street Journal.

[3] Robert Barnes. 7 April 2014. “Supreme Court declines case of photographer who denied service to gay couple”. The Washington Post

[4] Michael McCough. 17 Agustus 2015. “The sleeper issue in the ‘gay wedding cake’ controversy,” Los Angeles Times.

[5] Jack Minor. 18 Juli 2013. “’Gay’ laws set stage for pedophilia ‘rights,’” World Net Daily.

[6] Lizzie Dearden & Elsa Vulliamy. 25 Februari 2016. “Incest and necrophilia ‘should be legal’ according to youth branch of Swedish Liberal People’s Party,” Independent.

Sastra dan Kajian Poskolonial

Sebelum eksplorasi isu sastra dan kajian poskolonial dimulai, ada baiknya dipahami dulu penyulut isu kajian poskolonial di dalam sastra dan pemikiran modern. Pemahaman ini akan lebih memudahkan kita untuk memahami duduk perkara sebenarnya dan bagaimana mengaplikasikannya di dalam ranah sastra.

Kajian poskolonialisme dapatlah dianggap dimulai ketika terjadi fajar budi di tiga benua (Afrika, Asia, dan Amerika Latin) sebagai bentuk kulminasi pengalaman akan penindasan dan perjuangan terhadap kolonialisme (Young, 2001: 383-426). Kajian poskolonialisme bukanlah suatu bentuk genderang perang terhadap apa yang terjadi di masa lalu, namun suatu bentuk perjuangan terhadap realitas kekinian yang masih terjajah oleh bentuk neo-kolonialisme selepas kemerdekaan dicapai (Rukundwa dan Aarde, 2007: 1175).

Bentuk perlawanan terhadap kolonialisme tidaklah berhenti setelah kemerdekaan dicapai namun juga harus tetap diteruskan ketika disadari bahwa kolonialisme tidak hanya “telah” menjajah secara fisik, namun imbas penjajahan sebenarnya juga sudah merasuk ke dalam pikiran bawah sadar (Nandy, 1983: 63) dan ini yang diabaikan oleh negara-negara yang telah merdeka. Justru yang sering terjadi adalah bagaimana penduduk dari negara-negara yang telah merdeka melupakan identitas mereka dan juga menganggap diri mereka sebagai inferior di hadapan bekas penjajah. Masalah inferioritas muncul karena di dalam alam pikiran bawah sadar negara bekas terjajah masih tersimpan ingatan kekalahan terhadap negara bekas penjajah dan kegamangan akan identitas diri yang belum tertemukan. Penduduk dari negara-negara yang telah merdeka lupa menyadari bahwa inferioritas yang mereka alami dapat disembuhkan lewat proses reidentifikasi.

Proses reidentifikasi diri memerlukan suatu proses pencarian identitas. Yang kemudian menjadi masalah adalah bahwa isu nasionalisme yang kerap dikedepankan di dalam pencarian identitas menjadi sesuatu yang absurd ketika disadari bahwa nasionalisme yang disemai dari batas wilayah kebangsaan adalah  merupakan konstruk struktur buah karya bekas penjajah (bdk. Young, 2001: 59 dengan Rukundwa dan Aarde, 2007: 1189). Ada kecanggungan yang kentara ketika usaha pencarian identitas dalam rangka reidentifikasi diri terbentur oleh kenyataan sejarah bahwa identitas negara yang merdeka berbeda dengan identitas suku yang tergabung di dalamnya. Masalah menjadi bertambah ketika disadari bahwa nasionalisme di dalam beberapa aspek sungguh berbeda dengan tribalisme.

Istilah poskolonialisme menjadi suatu bentuk kajian sastra yang serius muncul pertama kali ketika Bill Ashcroft dkk. di dalam buku, The Empire Writes Back: Theory and Practice in Post-Colonial Literatures (1989), menggunakan istilah tersebut untuk menggantikan istilah sebelumnya untuk merujuk sastra di negara bekas jajahan eropa: sastra third world atau sastra daerah commonwealth (Bahri, 1996). Namun meskipun demikian, sebenarnya kajian poskolonialisme sebagai sebuah studi yang serius dapatlah dikatakan mulai hangat ketika Edward Said menerbitkan buku yang berjudul Orientalism di tahun 1978 (Bahri, 1996).

Sebagai sebuah istilah, poskolonialisme adalah “a collection of theoretical and critical strategies used to examine the culture (literature, politics, history, and so forth) of former colonies of the European empires, and their relation to the rest of the world” (Makaryk, 1993: 155). Meskipun demikian, jika istilah kajian poskolonialisme untuk merujuk kepada usaha perlawanan terhadap neokolonialisme digunakan istilah yang Edward Said sebut sebagai orientalisme maka justru akan lebih jelas definisinya. Said mengatakan bahwa orientalisme adalah “fundamentally a political doctrine willed over the Orient because the Orient was weaker than the West, which elided the Orient’s difference with its weakness….As a cultural apparatus Orientalism is all aggression, activity, judgment, will-to-truth, and knowledge” (1978: 204).

Contoh yang diberikan oleh Edward Said lewat tulisannya Devil Theory of Islam (2000) mengenai penciptaan imaji “keburukan Islam” oleh Judith Miller adalah salah satu bentuk kerja orientalisme di dalam melabeli sesuatu yang datang dari Timur sebagai buruk dan jahat dus mengarahkan orang-orang bekas terjajah, atau orang-orang Timur, untuk mempercayai pola pikir yang dijejalkan tersebut. Edward Said (2000) mengkritik tulisan Judith Miller yang memanipulasi cara berpikir kepada negara-negara bekas terjajah mengenai “keburukan Islam” lewat demonisasi dan dehumanisasi. Menurut Said, tindakan demikian justru malah akan membuat orang-orang Timur pemeluk Islam sebagai objek pesakitan yang posisinya menjadi tidak sepadan untuk diajak dialog untuk perdamaian. Said juga menunjukkan bahwa pelabelan ini justru membuat orang-orang Timur terpecah di dalam diskursus pembelaan akan Islam, dan bagi sebagian orang-orang Timur lainnya, diskursus deradikalisasi Islam. Pengkondisian demikian, yang memang disengaja, akan membuat negara-negara bekas terjajah (yang memiliki warga negara pemeluk Islam) menjadi stagnan kemajuan karena sibuk dengan diskursus yang disulut oleh tulisan orientalis dan ini merupakan bentuk neokolonialisme baru.

Tokoh lain yang terkenal di dalam gerakan poskolonialisme selain Edward Said adalah Gayatri Spivak. Gayatri Spivak memperoleh ketenaran di kancah kajian poskolonial lewat esainya Can the Subaltern Speak? (Maggio, 2007: 419). Di dalam esainya tersebut, Spivak mempertanyakan definisi “subjek” sebagai Colonial (atau Barat) dan budaya lain sebagai “the other” (bdk. Maggio, 2007). Spivak memakai strategi Marx dan Derrida di dalam gugatannya tentang definisi “subjek-the other” (Maggio, 2007: 421). Spivak, menurut Maggio (Maggio, 2007: 424), dapat dikatakan berapi-api menuding namun pesimis mengenai proyek perlawanan poskolonial karena Barat sudah [terlanjur] terdefinisi sebagai sesuatu yang sudah jadi, ada di sana, ketika dibenturkan dengan The Other. Contoh yang diberikan Spivak adalah mengenai ritual sati India. Ia mengajukan pertanyaan: “What did sati say?” (dalam Maggio, 2007: 424).  Spivak merujuk sebuah “kenyataan yang dijejalkan” kepada masyarakat “primitif” India oleh penjajah “beradab” Inggris bahwa sati adalah ritual yang dikaitkan dengan crime atau kejahatan dan bukan sebagaimana seharusnya ditafsirkan: sebuah bentuk martirdom di dalam ajaran Hindu (Maggio, 2007: 425).

Lalu jika hendak mengaitkan sastra dengan kajian poskolonialisme, apa sajakah isu-isu yang dapat dimunculkan ke permukaan? Sebagaimana Bahri (1996) menjabarkan beberapa isu yang dapat dikaji di dalam kajian poskolonialisme sebagaimana berikut ini:

  • Bagaimana pengalaman kolonisasi (atau penjajahan) memiliki pengaruh terhadap orang-orang terjajah dan juga kepada para penjajah (colonizer)?
  • Bagaimana para penjajah dapat menguasai negara yang terjajah? Dengan cara apakah para penjajah melakukannya?
  • Jejak atau bukti apakah yang dapat ditemukan di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang berbau kolonial yang masih tersisa atau nampak di negara atau masyarakat poskolonial (bekas terjajah)?
  • Bagaimanakah efek jejak kolonialisme berpengaruh di dalam pembangunan dan modernisasi negara poskolonial?
  • Apa sajakah bentuk perlawanan terhadap pengaruh atau kontrol kolonial?
  • Bagaimanakah pendidikan dan bahasa kolonial berpengaruh terhadap budaya dan identitas negara atau masyarakat terjajah?
  • Bagaimanakah ilmu pengetahuan, teknologi, dan ilmu medis Barat mempengaruhi sistem ilmu pengetahuan yang ada? [atau Bagaimanakah ilmu pengetahuan, teknologi, dan ilmu medis Barat mempengaruhi sistem ilmu pengetahuan yang sudah ada?]
  • Bagaimanakah manifestasi identitas poskolonial setelah para penjajah berhasil terusir?
  • Sampai sejauh manakah dekolonisasi (sebuah rekonstruksi yang bebas dari pengaruh kolonial) sudah bisa terwujud?
  • Apakah doktrinasi Barat mengenai isu hibriditas di dalam masyarakat poskolonial cukup berhasil?
  • Apakah masyarakat poskolonial memandang sebuah urgensi bahwa isu psokolonialisme adalah mengembalikan keadaan ke masa pra-kolonial?
  • Bagaimanakah jender, ras, dan kelas sosial berfungsi atau memainkan perannya di dalam wacana kolonial dan poskolonial?
  • Apakah bentuk baru imperialisme menggantikan kolonialisme lama di suatu negara atau masyarakat poskolonial? Bagaimana bentuk dan cara kerjanya?

maka penerapannya di dalam analisis karya sastra adalah dengan menganalisis suatu karya menggunakan isu-isu tersebut. Bahri (1996) sendiri menambahkan beberapa isu tambahan yang bisa diikatkan langsung di dalam analisis karya sastra sebagaimana berikut ini:

  • Apakah ada sebuah urgensi bagi penulis untuk menggunakan bahasa kolonial agar dapat mencapai pembaca yang lebih luas ataukah ia hanya “boleh” memakai bahasa asli masyarakat poskolonial (colonial language vs. native language)
  • Penulis atau pengarang yang mana sajakah yang dapat dikategorikan ke dalam kanon poskolonial?
  • Bagaimanakah teks yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa non kolonial akan dapat memperkaya isu poskolonial?
  • Sudahkah “banjir” novel poskolonial mengarahkan kepada genre baru yang lain dari genre yang sudah mapan di dalam suatu masyarakat poskolonial?

serta dapat juga ditambahkan bahwa kajian poskolonialisme di dalam sastra dapat berfokus kepada tiga hal: hibriditas[i], sinkretisasi[ii], dan pastiche[iii] (bdk. Bahri, 1996) atau malah suatu bentuk kajian karya kolonialis (penjajah)[iv] (Lye, 2008).

REFERENSI

Bahri, Deepika. 1996. Introduction to Postcolonial Studies. Diakses 24 Mei 2012, pukul 10:00 a.m. (GMT +7) dari:

http://www.english.emory.edu/Bahri/Intro.html

Lye, John. 30 April 2008. Some Issues in Postcolonial Theory (©1998; 1997). Diakses 24 Mei 2012, pukul 12:07 p.m. (GMT +7) dari:

http://www.brocku.ca/english/courses/4F70/postcol.php

Maggio, J. 2007. ““Can the Subaltern Be Heard?”: Political Theory, Translation, Representation, and Gayatri Chakravorty Spivak”, Alternatives 32 (2007), 419-443.

Makaryk, I.R. (ed.). 1993. Encyclopedia of Contemporary Literary Theory: Approaches, Scholars, Terms. Toronto: University of Toronto Press.

Nandy, A. 1983. Intimate Enemy: Loss and Recovery of Self Under Colonialism. Delhi: Oxford University Press.

Rukundwa, L.S. dan Andries G. van Aarde. 2007. “The Formation of Postcolonial Theory”, Hervormde Teologiese Studies, 63(3). hlm. 1171-1194.

Said, Edward. 1978. Orientalism. New York: Vintage Books.

Said, Edward. 25 Juli 2000 (12 Agustus 1996). A Devil Theory of Islam. Diakses tanggal 24 Mei 2012 pukul 11:01 a.m. (GMT+7) dari:

http://www.thenation.com/article/devil-theory-islam

Young, R.J.C. 2001. Postcolonialism: A Historical Introduction. London: Blackwell.

 

Creative Commons License
Sastra dan Kajian Poskolonial by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.


[i] Suatu konsep yang penting di dalam kajian poskolonial, merujuk kepada intregasi simbol dan praktik kultural yang dimiliki penjajah dengan yang dijajah. Hibriditas dapat disebut sebagai bentuk dinamisme budaya yang memperkaya kedua budaya yang terlibat namun juga dapat dilihat sebagai bentuk opresivitas budaya penjajah (Lye, 2008).

[ii] Suatu bentuk pencampuran budaya, praktik, gaya dan atau tema karya sastra bekas penjajah dengan bekas jajahan.

[iii] Suatu bentuk usaha meniru karya penjajah oleh bekas jajahan.

[iv] colonialist literature: karya sastra yang ditulis oleh seorang penjajah dan ditulisnya pada saat ia berada di daerah jajahan dengan menggunakan home country sebagai rujukan standar dan kadang kala juga sebagai audience dari karyanya (Lye, 2008)