Belajar Lewat Salep, Silit, Keringet

Di Turki, ada minuman kesehatan tradisional kemasan berlabel “Salep.”[1] Di Amerika Serikat, ada alat masak punya merek “Silit.”[2] Di Kenya, ada air minum botolan punya nama “Keringet.”[3]

Kita tahu bahwa di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “salep” artinya “obat luar yg terbuat dr campuran obat dng zat yg berkonsistensi, spt mentega, untuk dioleskan pd kulit (untuk kudis, luka, borok, dsb).” Sedangkan silit adalah bahasa Jawa untuk “lubang dubur.” Tentu saja kata “keringet” kita semua tahu bahwa kata ini di dalam bahasa Indonesia diucapkan oleh beberapa penutur bahasa Indonesia sebagai “keringet” dan juga memiliki padan kata dengan “keringet” dalam bahasa Jawa.

Bahasa memang unik. Tiap bahasa punya kata dan atau ekspresi terhadap “sesuatu” yang berbeda. Jikasanya ditemui sama, kadang terjadi karena pinjaman, karena adanya pengaruh. Misalnya “kantoor” dari bahasa Belanda dan “markaz” dari bahasa Turki untuk merujuk bangunan yang sama sama dengan “kantor” dan “markas” dalam bahasa Indonesia. Kesamaan istilah untuk sesuatu yang sama terjadi karena pinjaman istilah.

Ya, kadang pinjam kata untuk diadopsi diperlukan entah karena ketiadaan istilah pada sesuatu yang baru dikenal di dalam suatu bahasa, entah karena tindak politis bahasa, atau bisa muncul karena perulangan di dalam budaya pop vernakular sehingga bisa menyusup ke dalam kamus baku bahasa.

Nama adalah penting. Dulu saya masih ingat bagaimana sebuah mobil pernah jeblok penjualan karena nama yang dipakai untuk pasar di sebuah negara di Amerika Selatan memiliki arti yang buruk. Orang jadi ogah membeli mobil itu karena masalah yang tidak sepele.[4] Jadi jangan heran misalnya beberapa perusahaan bisa memberikan brand name yang berbeda untuk produk yang sama karena hendak menghindari “penamaan yang buruk” sebagaimana mobil tadi di dalam bahasa lokal, tapi kadang terjadi karena perkara lidah. Ya, lidah tiap bangsa yang berbeda bisa kasih pengaruh pada produk yang dijual massal. Ada bayangan bakal repot kalau lidah calon pembeli petah mengujarkannya. Tentu ada juga misalnya alasan lainnya seperti masalah legalitas nama —karena sudah adanya pemakai nama itu— atau kadang hendak memberikan rasa lokal, semacam kedekatan dengan calon pembelinya lewat nama yang sekiranya lebih “nasionalis.”[5]

Nama, penamaan, atau gelaran adalah kadang bisa saja dikatakan tidak penting. Tetapi semua kembali kepada konteks dan kehati-hatian di dalam menautkannya dengan konteks justru menjadi perkara yang penting. Benar bahwa nama tidak penting dalam konteks tertentu namun dalam keadaan yang lain justru sangat penting. “Mawar”-nya Shakespeare tetaplah mawar, yang indah, yang mempesona, jika misalnya ada orang lain kasih gelaran buruk atau tidak mengakui keindahannya. Jadi ungkapan apalah arti sebuah nama dalam tutur Shakespeare memiliki konteks pengikatnya.[6]

Begitu juga ketika kita menggunakan istilah, nama, label, seumpama “kafir.” Istilah ini menjadi istilah yang bisa dipakai dalam konteks yang “biasa saja” namun bisa juga dipakai dalam rangka mendenigrasi, menyerang, orang lain. Dulu istilah ini dipakai sebagai sumbu pemantik daya juang melawan Belanda oleh pribumi, oleh bumiputera. Lihat saja misalnya di dalam novel Sitti Nurbaja.[7] Kemudian kita Belanda sudah angkat kaki, istilah “kafir” yang asalnya merujuk kepada mereka yang bukan muslim digantikan dengan istilah non-muslim.

Bahasa memang unik. Istilah “kafir” dan “non-muslim” seolah berbeda. Tentu perbedaan ini terikat pada sejarah pemakaian istilah dan ubal-ubal pemakai bahasa mengenai istilah itu. Jadi juga jangan heran kalau kiranya juga istilah “kafir” yang diucapkan dengan lantang di dalam orasi umum bisa dimaknai sebagai agitasi, sedangkan ketika dibacakan dan dibicarakan di pengajian, istilah ini “netral” saja. Mungkin ini terkait dengan orasi para tetua dan ulama bangsa kita dulu yang berjuang melawan penindasan, melawan ketidakadilan, melawan Belanda dengan teriakan “kafir Belanda” dan Belanda bukanlah bagian dari “kita.”

Nah, salep, silit, keringet kalau misalnya mau nekat masuk Indonesia, besar kemungkinan harus ganti nama. Susah jika ketiganya kukuh dengan “nama kebanggaan, nama asli” mereka. Begitu juga ide-ide Orientalis dan Liberalis juga butuh menyaru agar bisa menyatu dengan kepolosan kita. Kalau tidak begitu, bagaimana mereka bisa menyusup dan merasa yakin memenangkan peperangan di balik tirai berjelaga?

.

.

.

.

Endnotes

[1] Salep adalah minuman penghangat khas Turki. Salah satu artikel yang membahas tentang minuman ini dapat dibaca lewat http://www.nurweb.biz/what-is-salep-drink/ yang dibuka dengan sebuah kalimat: “Have you ever drink cup of salep?”

[2] Situs resmi Silit menampilkan tagline: “The finest cookware in the world!”

[3] Website resmi minuman Keringet (http://keringet.co.ke/our-water/) memberikan paragraf pembuka laman sebagai berikut: “Keringet Still was East Africa’s first Pure Natural Mineral Water. Bottled at 8,000 feet above sea level, our mineral water has been voted ‘best tasting water’ for four independent years at the International BBI Awards”

[4] Mobil yang dimaksud adalah Ford Pinto. Di dalam bahasa slang Brazil, pinto adalah alat kelamin laki-laki. Kisah Chevy Nova yang konon tidak laku di negara berbahasa Spanyol sebagaimana dikutip oleh sebuah buku manajemen pemasaran karena No Va adalah artinya No Go adalah kisah yang tidak benar sebagaimana disanggah oleh David Mikkelson lewat tulisan berjudul “Don’t Go Here” dalam snopes.com. Dongeng No Va tidak laku karena artinya adalah No Go mirip dengan lelucon di bidang pemasaran di sebagian daerah di Jawa mengenai Acer yang dikatakan sebagai akronim dari Angger Cepet Rusak. Perlu dicatat bahwa masyarakat Jawa suka membuat permainan dari sebuah nama atau istilah sebagaimana di tulisan saya yang lain di blog ini telah saya bahas berkenaan “wanita” menjadi “wani ditata.”

[5] Tulisan Erik Devaney berjudul “What’s in a name? What 6 popular brands are called across the globe” menarik untuk dibaca berkaitan dengan brand name.

[6] Kalimat Shakespeare yang sering dikutip dan kadang serampangan dimaknai adalah “What’s in a name?” padahal kalimat milik Juliet dari drama “Romeo and Juliet” ini versi paragraf lengkapnya adalah sebagai berikut:

‘Tis but thy name that is my enemy;
Thou art thyself, though not a Montague.
What’s Montague? It is nor hand, nor foot,
Nor arm, nor face, nor any other part
Belonging to a man. O, be some other name!
What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;
So Romeo would, were he not Romeo call’d,
Retain that dear perfection which he owes
Without that title. Romeo, doff thy name,
And for that name which is no part of thee
Take all myself.

[7] “Kalau dibawah perintah bangsa kapir; selamanja kita hendak dianiaja sadja” (Sitti Nurbaja, cet. 1960, hlm. 290). Pada halaman sebelumnya (hlm. 276), pribumi yang mendukung Belanda diteriaki sebagai “Kafir hitam.”

Nyanyi Bisu Bahasa Melayu

“Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang ma’rifat.
Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.”

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Untaian pada syair pertama merupakan sebagian “Pasal Pertama” Gurindam 12 karya Raja Ali Haji yang amat tersohor. Beliau lahir pada 1808 di Pulau Penyengat (Kepulauan Riau, Indonesia, kini) dan wafat di negeri yang sama pada 1873.

Syair berikutnya datang dari Sapardi Djoko Damono yang bertajuk “Aku Ingin”. Beliau lahir pada 20 Maret 1940 di Surakarta (Jawa Tengah, Indonesia, kini). Di zaman ini, Sapardi merupakan salah satu penyair terkemuka di Indonesia.

Dari kedua syair tersebut, siapakah yang tak dapat mengerti kata demi katanya, kalimat demi kalimatnya? Meski Raja Ali Haji dan Sapardi bertaut 132 tahun, rasanya takkan ada sesiapapun yang membantah bahwa keduanya sedang menggunakan bahasa yang sama.

Akan tetapi, meski bahasanya sama, rupanya nama dari bahasa tersebut berbeda. Yang pertama disebut berbahasa Melayu dan yang kedua berbahasa Indonesia. Bagaimana mungkin?

Perbedaan nama bahasa ini mau tak mau mengharuskan kita untuk menyusuri sungai dari arus yang berkebalikan, ke arah hulu. Bukan untuk menyusuri muasal bahasa Melayu, tapi mengapa namanya diganti.

Anak Sekolah Mengganti Nama Bahasa
Diubahnya nama bahasa ini bukan barang baru bagi masyarakat. Masyarakat umum biasanya sontak merujukkan hal ini pada 1928, tahun yang dipopulerkan sebagai hasil dari Kongres Pemuda Indonesia Kedua, yang kelak diplintir sebagai Sumpah Pemuda.

Begini bunyi sebagian dari putusan kongres itu:

POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA

Kerapatan Pemoeda-Pemoeda Indonesia jang diadakan oleh perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan, dengan namanja: Jong Java, Jong Sumatranen Bond (Pemoeda Soematera), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen Pasoendan, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia;
membuka rapat pada tanggal 27 dan 28 October tahoen 1928 dinegeri Djakarta;

sesoedahnja mendengar pidato-pidato dan pembitjaraan jang diadakan dalam kerapatan tadi;

sesoedahnja menimbang segala isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini;

kerapatan laloe mengambil poetoesan:

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH-DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

KETIGA
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Sebelum kongres ini dibuat, ia didahului oleh kongres pertama yang berlangsung pada awal Mei 1926. Di situ disebutkan bahwa nama bahasanya adalah bahasa Melayu. Yang merumuskannya adalah Muhammad Yamin dari Sumatera Barat.

Akan tetapi, ketua panitia, Mohammad Tabrani Soerjowitjitro dari Madura, menolak rumusan Yamin soal bahasa Melayu. Menurut Tabrani, bahasa persatuan jangan lagi pakai nama bahasa daerah. Namanya semestinya bahasa Indonesia. Tapi Yamin menjawab bahwa tak ada bahasa Indonesia, yang ada bahasa Melayu.

Pertemuan pertama itu tak menghasilkan apa-apa. Baru pada pertemuan kedua itulah, sebagaimana telah dikutip di atas, dihasilkan suatu putusan yang menegaskan nama bahasa persatuan itu adalah bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu. Yamin menerima hal ini. Bahkan, dalam Kongres Bahasa Indonesia kedua di Medan, 1954, Yamin sudah mengatakan bahwa bahasa Indonesia telah digunakan sejak zaman purbalaka.

Kelak, Harimurti Kridalaksana, profesor linguistik dari Universitas Indonesia, Depok, menulis di koran Jakarta, Kompas, bahwa jika tidak ada Tabrani, nama bahasa persatuan adalah bahasa daerah. Penyebutan istilah “daerah” ini memiliki nuansa sebagai sesuatu yang tidak patut, tidak “kelas”, tidak luas.

“2 Mei 1926, adalah hari terciptanya bahasa Indonesia dan penciptanya adalah M Tabrani. Kalau tidak ada gagasan itu, nama bahasa persatuan kita ialah bahasa daerah bahasa Melayu. Jadi, 2 Mei Hari Kelahiran bahasa Indonesia, sedangkan 28 Oktober hari penerimaan dan pengakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa bangsa Indonesia,” begitu tulis Harimurti di Kompas, 26 April 2013.

Akan tetapi, Taufik Abdullah, sejarawan asal Sumatera Barat, menguraikan watak dari pertemuan pemuda-pemuda itu. Menurutnya, mereka yang menggelar kongres-kongres itu sebetulnya hanyalah anak-anak sekolah dan tak memiliki arti apa-apa.

“Jangan lupa, Sumpah Pemuda hanya peristiwa (yang diikuti oleh) paling-paling 300 anak sekolah itu, di Jakarta. Enggak ada arti. (Punya arti) apa? Waktu itu penduduk (di kawasan yang kini disebut) Indonesia sudah kurang lebih 60 juta (jiwa). Enggak usah cerita Ternate, di Jakarta saja banyak yang enggak tahu… Jadi sebagai kongres, tidak ada arti apa-apa. Anak-anak sekolah (saja itu). Sukarno saja enggak ikut. Sukarno sudah insinyur pada waktu itu,” ujar Taufik dalam “Dialog Kebangsaan Indonesia” yang diselenggarakan dan disiarkan oleh TVRI, Jakarta, 30 Juni 2011.

Jauh di kemudian hari, pertemuan anak-anak sekolah itu dibuat menjadi semacam satu titik yang menjadi bagian dari satu garis. Mereka yang ada di masa depanlah yang memposisikan pertemuan di masa silam itu sebagai suatu fase permulaan.

“Sejarah tak hanya berkisah tentang masa lalu, tapi juga membuat monumen. Nah, dalam tinjauan ke belakang, ‘haa… iya, ini suatu monumen ini’. Karena ini dianggap sebagai awal dari sesuatu,” kata Taufik.

Dengan mendudukkan sebagai anak-anak sekolah belaka, yang tentu sedang dalam fase perkembangan intelektual, barangkali mereka tidak dapat dituding sebagai penyebab kebingungan terhadap nama bahasa ini. Mereka barangkali belum mempelajari benar mengenai ilmu bangsa, ilmu keturunan manusia, ilmu sejarah, ilmu kebudayaan, ilmu masyarakat, atau pandangan dunia (world-view) masyarakat penuturnya. Mereka tak menyadari peran penting bahasa dalam peradaban Melayu.

Mohammad Tabrani Soerjowitjitro barangkali bisa dijadikan contoh. Dia berasal dari Madura, namun tak diketahui latarbelakang macam apa yang membentuknya hingga gusar dengan bahasa Melayu. Madura adalah muslim, dan nyaris tiada muslim di Kepulauan Melayu ini yang tak bisa berbahasa Melayu. Sebab, bahasa Melayu adalah bahasa pengantar utama selain bahasa Arab untuk masuk ke dalam kosmologi ketuhanan dalam Islam di wilayah kepulauan ini.

Surat berbahasa Melayu dan beraksara Arab-Melayu yang dikirimkan oleh Pangeran Nata Negara, atau Panembahan Nata Kusuma II, atau Sultan Paku Nata Ningrat dari Sumenep, Madura, kepada Residen Sumenep, James Clark. Surat ini bertarikh 19 Jumadilawal 1230 H atau 29 April 1815 M. Sumber: www.britishlibrary.typepad.co.uk.

Surat berbahasa Melayu dan beraksara Arab-Melayu yang dikirimkan oleh Pangeran Nata Negara, atau Panembahan Nata Kusuma II, atau Sultan Paku Nata Ningrat dari Sumenep, Madura, kepada Residen Sumenep, James Clark. Surat ini bertarikh 19 Jumadilawal 1230 H atau 29 April 1815 M. Sumber: http://www.britishlibrary.typepad.co.uk.

Kebiasaan orang terpelajar dalam menggunakan bahasa ini nampak pada surat-surat yang keluar dari negeri Tabrani sendiri, Madura. Jauh sebelum Tabrani lahir, pada 29 April 1815, atau 19 Jumadilawal 1230 H, Thalib al-da’i al-Pangeran Nata Negara al-amir atau Panembahan Nata Kusuma II, yang kemudian menjadi Sultan Paku Nata Ningrat dari Sumenep (1812 – 1854), sudah bersurat-suratan dengan menggunakan bahasa Melayu. Di antara surat berbahasa Melayu dan beraksara Arab-Melayu itu beliau tujukan kepada Resident Sumenep, James Clark. Surat yang didokumentasikan oleh British Library tersebut berbunyi:

“Qawluhu al-Haqq (artinya Kalimatnya adalah kebenaran. Pola kepala surat macam ini disebutkan umum adanya dalam surat-surat berbahasa Melayu, yang juga dapat ditemukan dalam surat-surat yang berasal dari Bengkulu pada periode 1700-an-red).

Bahwa warkat al-ikhlas yang termaktub di dalamnya beberapa tabik dan hormat yang beserta selamat al-khair selama-lamanya datang mengadap ke hadapan majlis sahudara saya Tuan Kaptin Jims Klarq Residint di dalam negeri Sumeneb adanya. Wa-baadahu maka adalah saya melayangkan nubdhah yang sedharrah ini ke hadapan majlis sahudara akan seperti saya sendiri bertemu dengan sahudara, lain tiada hanya saya hendak kasih kepada sahudara satu pertanda daripada saya yang saya sudah dapat pusaka daripada sahudara [sic] punya bapa Panembahan yang sudah meninggal, iaitu satu keris cara Melayu lagi satu tempat bara api, keduanya itu dahulu Panembahan punya pakaian, melainkan saya harab sahudara terima tiada dengan sepertinya hanya cuma pertanda sahabat, demikian adanya.

Tersurat kepada 19 hari bulan Jumadilawal sanat 1230.”

Dengan memakai kacamata Taufik, maka mereka yang menarik kesimpulan atas apa yang dilakukan anak-anak muda yang sedang sekolah itulah yang lebih patut untuk dimintai pertanggungjawaban secara intelektual.

Peran Jepang yang Hilang
Dalam kurun masa yang relatif lama, bahasa ini memang terombang ambing oleh berbagai macam kepentingan sektoral. Dan di sini, Jepang adalah satu pihak utama yang harus disebut, setelah sekian lama ia dihilangkan atau menghilangkan diri dari pembicaraan mengenai bahasa ini.

Pada masa Jepang menguasai Asia, mereka nyatanya telah melakukan serangkaian rekayasa. Di antaranya, menurut Gusti Asnan dalam bukunya Kapal-Kapal Jepang di Indonesia (2011), menciptakan rekayasa-rekayasa yang menyebutkan bahwa nenek moyang bangsa Melayu, juga Minahasa, adalah bangsa Jepang.

Hal serupa juga juga mereka lakukan pada bahasa, sesuatu yang amat vital bagi suatu kebudayaan dan peradaban. Di berbagai media massa yang mereka dirikan atau pengaruhi, nampaklah upaya itu.

Di Borneo Shimboen (Bandjermasin), 26 Januari 1944, misalnya, mereka terlebih dahulu mencoba mendudukkan secara sejajar antara bahasa Melayu dan apa yang disebut bahasa Indonesia melalui sebuah badan penyelidik. Hal ini dimunculkan dalam sebuah berita dengan judul “Kepoetoesan badan penjelidik bahasa Melajoe dan bahasa Indonesia”.

Pada tanggal 23 itjigatsoe jg lampau para anggota badan penjelidik bahasa Melajoe dan bahasa Indonesia, jang terdiri dari wakil2 Semenandjoeng dan Soematera mengadakan pertemoean dengan bertempat dikota Sjonan (Singapura-red). Sidang itoe telah memoetoeskan akan melakoekan penjelidikan bahasa daerah di Semenandjoeng dan di Indonesia, jg kira-2 terdiri dari 60 bahasa. Berdasarkan atas hasil2 penjelidikan itoe akan diboeat bahasa persatoean. Perloe diterangkan, bahwa bagian penjelidik terseboet didirikan dalam tahoen jg laloe dan kewadjibannya ialah akan mempelajari dan menjelidiki bahasa2 jang terdapat di Semenandjoeng dan dikepoelaoean Indonesia.”

Menurut Joyce C. Lebra dalam bukunya Tentara Gemblengan Jepang (1988), ketika itu Jepang memang sedang menjajaki berbagai kemungkinan penyatuan sejumlah wilayah. Satu di antara yang sedang dicobakan adalah Sumatera dan Semenanjung.

Lalu, di Sumatora Sinbun, 19 Juli 1944, Jepang mencoba memisahkan bahasa Melayu dengan bahasa orang putih. Dan pada saat yang sama, mencoba mendekatkan bahasa Melayu dengan bahasa Jepang.

Sumatra Sinbun, 19 Juli 1944

Sumatra Sinbun, 19 Juli 1944

“Pada masa sekarang di Tanah Asia Timoer kita ini, apa goenanja kita bertjakap bahasa Inggris jang wasitah semangat orang poetih… didalam pertjakapan Nippon oleh orang2 Nippon, selaloe orang Melajoe merasa didalamnja mereka itoe bertjakap perkataan2 Melajoe. Perasaan ini dibilangkan ada joega pada pihak orang Nippon, karena kita orang Nippon poen terkadang2 terkedjoet mendengar perkataan2 Melajoe jang sama boenjinja dengan perkataan2 Nippon.”

Di berita yang sama, mereka menginventarisasi mana-mana kosa kata Jepang yang mirip Melayu. Meski terasa banyak juga yang bunyinya jauh dari serupa, namun mereka mengatakan bahwa itu mirip. Di antaranya adalah ‘Suki – Soeka’, ‘Kataru – Kata’, ‘Masaka – Masakan’, ‘Sunda – Soedah’, ‘Maniru – Meniroe’, ‘Sukkari – Sekail’, dan seterusnya.

Di media lain, yang juga diciptakan atau dipengaruhi Jepang, Minami, dilakukan pula upaya identifikasi bahasa Melayu dengan varian-variannya di Sumatera. Dalam edisi 1 April 1943, majalah bulanan yang diterbitkan di Medan itu memunculkan sebuah tulisan berjudul “Si Raoet alias Si Rawik” dalam rubrik “Taman Bahasa”.

Minami, 1 April 1943

Minami, 1 April 1943

“Bahasa Melajoe Riau: laoet. Bahasa Melajoe Minangkabau: lawik.
Bahasa Melajoe Riau: bertaoet. Bahasa Melajoe Minangkabau: batawik.
Bahasa Melajoe Riau: sangkoet paoet. Bahasa Melajoe Minangkabau: sangkoeik pawik.”

Akan tetapi, di luar wilayah berpenutur bahasa Melayu, Jepang mengatakan hal berbeda. Di Surabaya, Pulau Jawa, melalui koran Soeara Asia, mereka mengatakan nama bahasa ini sudah berganti menjadi bahasa Indonesia. Di koran tersebut, pada 2 Juni 1942, mereka mendesakkan pemakaiannya kepada siapa saja. Dan sesiapa yang tak berkenan dengan bahasa ini dilabelkan sebagai upaya pecah belah.

Soeara Asia, 2 Juni 1942.

Soeara Asia, 2 Juni 1942.

“Bahasa ini, sekalipoen kadang – kadang masih dioesik dan diganggoe oleh beberapa golongan ketjil jang masih hendak mengemoekakan bahasa – bahasa daerahnja sendiri, oleh mereka jang terseret perasaan dan pandangan sedaerah – daerah tempatnja, begitoe poela dari boeah oesaha politiek memetjah belah, – soedahlah ditetapkan oemoem. Sedjak itoe orang ramai menetapkan, bahwa bahasa Melajoe mendjadi bahasa Indonesia.

Ketika Jepang kian menggengam banyak wilayah di Asia, sebagai pemerintah berkuasa, mereka menegaskan nama bahasa ini secara resmi.

Pada koran Tjahaya yang terbit di Bandung pada 29 April 1945, misalnya, Jepang membuat enam tindakan pada hari Tentyoosetu. Satu di antaranya adalah:

Tjahaja, 29 April 1945

Tjahaja, 29 April 1945

1 – Tentang perkataan “Indonesia”

a. Terdjemahan perkataan “To-Indo” dari bahasa Nippon kedalam bahasa Indonesia ditetapkan dengan perkataan “Indonesia”.
b. Perkataan “Bahasa Melajoe” diganti dengan perkataan “Bahasa Indonesia”.
c. Perkataan “Genzyuumin” (bumiputera-red) dalam bahasa Nippon diganti dengan perkataan “Indonesia Zin” (orang Indonesia-red).

Keputusan di hari Tentyoosetu oleh pemerintah berkuasa juga digemakan oleh koran Indonesia Merdekayang diterbitkan oleh Jawa Hookoo Kai (Himpunan Kebaktian Rakyat Jawa) pada 10 Mei 1945.

“Satoe diantara tindakan-tindakan Pemerintah pada hari Tentyoo Setu baroe-baroe ini ialah…..: Perkataan “Bahasa Melajoe” diganti dengan perkataan “Bahasa Indonesia”… Amat djanggallah, djika misalnja Tanah Air dan bangsa bertjap Indonesia, sedang bahasanja bahasa Melajoe atau bahasa Djawa.”

Di tahun dimana Jepang kian berpengaruh itu, seruan penggantian nama bahasa juga diluaskan ke Kalimantan/Borneo. Dalam Borneo Shimboen (Balikpapan), 18 Agustus 1945, muncul berita dengan judul “Boekan Bahasa Melajoe, Tetapi Bahasa Indonesia”.

Borneo Shimboen (Balikpapan), 18 Agustus 1945.

Borneo Shimboen (Balikpapan), 18 Agustus 1945.

“Selaras dengan Kemerdekaan Indonesia jg. kini makin dekat berkat pengoerbanan loehoer Pemerintah Keradjaan (Jepang-red) oentoek mengangkat daradjat bangsa kita agar dapat sedjadjar sebagai bangsa jg. berharga, bahasa Indonesia poen meningkat poela setingkat. Oleh sebab itoe dari sekarang hendaklah oemoem menghapoeskan perkataan “bahasa Melajoe” dan sebagai gantinja “bahasa Indonesia” dan demikianlah seteroesnja.”

Sejumlah pemberitaan ini adalah contoh dari bekerjanya propaganda Jepang, yang menurut Gusti Asnan (2011) sudah berada di kepulauan ini sejak 1906. Dan jika ditilik dari periode tahun dan wilayah propaganda Jepang, nampak ada perbedaan dalam isi propaganda mengenai penamaan bahasa antara Sumatera, Semenanjung, dan Borneo dengan Jawa.

Di Pulau Sumatera, Semenanjung, atau Borneo, mereka tetap menyebutnya bahasa Melayu. Dan di dalam bahasa Melayu itu Jepang berusaha meraih simpati bangsa Melayu dengan berbagai teknik. Sementara di luar wilayah berpenutur bahasa Melayu, di sebagian Pulau Jawa, entah dengan maksud mengisolasi atau menipu, mereka menyebut bahasa Melayu itu dengan bahasa Indonesia.

Akan tetapi, ketika situasi politik dan peperangan berubah pada 1945, Jepang melakukan generalisasi atas penamaan bahasa Melayu ke Borneo-Balikpapan. Seperti halnya di Jawa, dorongan mengganti nama bahasa Melayu ke bahasa Indonesia sudah bukan lagi persuasif, tetapi instruksional. Karena instruksional, maka bisa jadi ada sanksi bagi yang melanggarnya. Dan besar kemungkinan penduduk yang ketakutan lantas menyesuaikan diri.

Jepang Menciptakan Gelombang
Tak dapat dipungkiri bahwa apa yang dilakukan Jepang secara massif dan mendalam itu menimbulkan efek di kemudian hari. Propagandanya terhadap penamaan bahasa, jika tak hendak dikatakan merusak tepat di jantung peradaban suatu masyarakat, laksana angin yang menghempaskan air laut hingga menimbulkan gelombang demi gelombang.

Apa yang terjadi berikutnya, yang dapat dilihat dari macam-macam pemberitaan dari berbagai media yang diterbitkan di Pulau Jawa, sebetulnya hanya pengulangan atau penggemaan saja dari yang sudah dilakukan dan ditanamkan Jepang.

Persatoen: Soerat Kabar Oemoem yang terbit pada 6 April 1946, misalnya. Jika sebelumnya Jepang merusakkan nama bahasa Melayu, kini penerusnya mulai mengarahkan pengerusakan pada penutur asli bahasa Melayu itu sendiri. Upaya memecah antara penutur asli dengan bahasanya mulai dilakukan tanpa memandang atau mengetahui sedikitpun ilmu-ilmu yang terkait dengan bahasa, masyarakat, dan peradaban.

“… selama nama bahasa Melajoe itoe masih terpakai, maka tentoe orang Melajoe merasa bahwa dialah jang lebih berhak atasnja dan golongan-golongan lain diantara bangsa kita wadjib mengikoeti dan toendoek pada mereka itoe dalam pahamnja terhadap bahasa itoe. Sebaliknya, golongan-golongan lain dikalangan bangsa kita, orang Soenda, orang Djawa, dan lain-lainnja tidak dapat merasai, bahwa bahasa itoe bahasanja sendiri djoega…. Lain halnja kalau ia diseboet bahasa Indonesia, karena ia menoenjoek kepada seloeroeh Tanah Air kita, hingga karena itoe bisa dirasai tiap poetera Indonesia sebagai bahasanja. Sebagai hak milik dan tanggoengan seloeroeh poetera Indonesia, baik jang ditanah Melajoe ataupoen jang di-Djawa ataupoen poelaoe lainnja. Hal-hal jang mengenai bahasa Indonesia itoe dalam hakekatnja memang tidak boleh ditetapkan oleh orang Melajoe sadja, tetapi djoega orang Soenda, orang Djawa, orang Madura, orang Bali, orang Bugis, pendeknja oleh seloeroeh golongan Indonesia.”

Kemudian, lihat juga Petikan Penjoeloeh, 1 Oktober 1945. Jika dahulu Jepang mengindentifikasi orang (Surabaya) yang tak mengindahkan bahasa ini sebagai pemecah belah, maka kini derajat penutur bahasa Melayu diposisikan sebagai orang yang ketinggalan zaman. Dikatakan pula bahwa bahwa bahasa Melayu sudah tamat.

Petikan Penjoeloeh, 1 Oktober 1945.

Petikan Penjoeloeh, 1 Oktober 1945.

“Bahasa jang kita goenakan ialah bahasa Indonesia. Ia boekan bahasa Melajoe, dan ia memang berbeda dengan bahasa Melajoe. Bahasa Indonesia adalah bahasa jg toemboeh dari bahasa Melajoe. Ia adalah bahasa baroe “bahasa tjampoeran”…. Jang disebut bahasa Indonesia sekarang, ialah bahasa Indonesia dalam soeatoe tingkat dari pada sedjarahnja. Artinja, ia masih moeda, ia masih teroes toemboeh, ia masih teroes madjoe. Lambat laoen ia akan sedemikian tinggi kemadjuannja, sehingga ia dapat dipakai sebagai bahasa ilmoe (wetenschap)… Djadi, bahasa Melajoe soedah masoek kedalam peti-wasiat, soedah oesang, soedah ta’ sesoeai lagi dipakai didalam pergaoelan hidoep Indonesa jang telah sebegitoe tinggi kemadjoeannja…. Barang siapa jang sekarang masih mengadjarkan atau mengembangkan bahasa Melajoe, barang siapa jang sekarang masih mengeloearkan boekoe-boekoe atau soerat-soerat kabar atau pertjitakan-pertjitakan lainnja dengan memakai bahasa Melajoe, ia adalah tidak mengikoeti dan tidak mengenal perdjalanan kemadjoean zaman.“

Berpuluh-puluh tahun kemudian, upaya mengombang-ambingkan bahasa ini tak selesai pada masa Jepang dan beberapa tahun setelahnya. Setelah Indonesia relatif stabil sebagai sebuah negara, Ajip Rosidi, yang dikenal sebagai sastrawan Sunda juga pengajar bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia di Universitas Osaka, Jepang, nyatanya masih bersikap seperti Jepang, yakni melantangkan pandangan bahwa bahasa Indonesia bukanlah bahasa Melayu.

Denni H.R. Pinontoan, dalam esai “Bahasa Melayu Manado, Ditukar dan Dibisukan”, mengutip pandangan Ajip yang mengatakan pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia memiliki penemuan dan sejarahnya sendiri, yang berbeda dengan bahasa Melayu.

Yang menarik, persis seperti puluhan tahun silam dari koran-koran yang memasukkan bahasa Melayu ke dalam peti-wasiat, Ajip juga mengatakan bahwa “Bahasa Melayu berakhir pada tahun 1928 untuk bertukar nama dengan bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia”. Perkataan ini beliau kutip dari Umar Junus yang menulis artikel di majalah Medan Ilmu Pengetahuan (1960).

Selanjutnya, Ajip, masih seperti Jepang, mengotak atik bahasa ini pada suatu perumpamaan-perumpamaan imajinatif yang bersifat politis. Dia meletakkan suatu produk kebudayaan dibawah hasrat politik.

“Pada pendapat saya, kesadaran kebangsaan itulah yang menjadi bapak yang sah dari kelahiran bahasa Indonesia yang beribukan bahasa Melayu itu. Kesadaraan kebangsaan yang saya maksudkan ialah kesadaran kebangsaan Indonesia, karena itu bahasa Melayu yang tumbuh serta berasal dari bahasa Melayu yang sama tapi tidak berbapakkan (kita teruskan saja perumpaan ini) kesadaran kebangsaan Indonesia, bukanlah bahasa Indonesia.”

Atas seluruh hasrat politik yang menundukkan suatu kebudayaan ini, pada orang-orang semacam Ajip, rasanya patut untuk ditanyakan, memakai bahasa apakah saat mereka berpikir, bermimpi, marah, atau sedih? Apakah saat berpikir atau bermimpi itu, mereka menggunakan bahasa Inggris, Jepang, Spanyol, Arab, Rusia, Jawa, atau Sunda?

Jawaban jujur atas pertanyaan dari sesuatu yang bersifat privat, intim, dan hangat itu agaknya dapat menjawab media Persatoen: Soerat Kabar Oemoem, 6 April 1946, yang patut untuk dikutip ulang sekali lagi:

“… selama nama bahasa Melajoe itoe masih terpakai, maka tentoe orang Melajoe merasa bahwa dialah jang lebih berhak atasnja… Sebaliknya, golongan-golongan lain dikalangan bangsa kita, orang Soenda, orang Djawa, dan lain-lainnja tidak dapat merasai, bahwa bahasa itoe bahasanja sendiri djoega….”

Jikapun kongres anak-anak sekolah itu hendak dijadikan pijakan, maka pandangan-pandangan macam di atas sebetulnya justru sedang menjauhkan diri dari prinsip-prinsip ‘bahasa persatuan’. Bahasa persatuan menyiratkan adanya bahasa-bahasa lain, yang tetap tegak, tak digusur oleh bahasa non-ibunya. Bahasa persatuan seharusnya hanya digunakan untuk kepentingan-kepentingan strategis, itupun jika yang bersangkutan mau dan memerlukannya.

Dengan kata lain, mereka sesungguhnya tak saja sedang merusakkan bahasa Melayu, tetapi menghancurkan seluruh bahasa yang ada.

Sekilas Pandang tentang Penyebaran Bahasa Melayu

Sebaran bahasa Melayu. Sumber: www.britishlibrary.typepad.co.uk yang mengutip dari Malay-English Dictionary (1701) karya Thomas Bowrey.

Sebaran bahasa Melayu. Sumber: http://www.britishlibrary.typepad.co.uk yang mengutip dari Malay-English Dictionary (1701) karya Thomas Bowrey.

Pada masa pra Jepang, penulis-penulis Cina dan Eropa, untuk sekadar menyebut penulis non-Melayu, sudah banyak mencatat perihal bahasa ini. Di dalam catatan-catatan dari masa yang teramat jauh, disebutkan bahwa bahasa Melayu sudah menjadi lingua franca untuk kawasan yang disebut Asia Tenggara.

Fa-Hsien dan I-Tsing, pengembara Cina yang berkeliling ke wilayah Kepulauan Melayu atau India Timur pada abad ke-5 dan ke-6 Masehi, misalnya, menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan sebagai lingua franca bukanlah Sansekerta, tetapi bahasa Melayu. Sejumlah prasasti dan macam-macam bukti lain mengenai perkembangan dan penyebaran bahasa ini relatif sudah teramat banyak dan mudah untuk diakses.

Jan Huygen van Linschoten, seorang penjelajah, penulis, dan sejarawan Belanda, pada contoh yang lain, mengatakan di akhir abad ke-16 bahwa bahasa Melayu telah sedemikian masyhurnya di kawasan ini. Yang tidak berbahasa Melayu di Hindia-Belanda, kata Linschoten, tak bisa turut serta seperti “bahasa Perancis untuk kita”.

A. Teeuw, dalam bukunya Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan (1994) juga mengatakan bahwa sesiapa yang ingin ikut serta dalam kehidupan antarbangsa di kawasan ini, mutlak memerlukan pengetahuan terhadap bahasa Melayu.

Maman Mahayana, pensyarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam esainya “Perjalanan Pengajaran Bahasa Melayu” mengutip pendeta Francois Valentijn yang bertugas di Ambon. Pendeta itu mengatakan:

“Bahasa mereka disebut bahasa Melayu… Bahasa ini tidak hanya dipergunakan di daerah mereka, tetapi juga dipergunakan di mana-mana untuk bisa saling mengerti dan untuk dipakai di mana pun di seluruh Hindia, dan di semua negara di Timur, seperti halnya dengan bahasa Perancis atau Latin di Eropa… orang yang bisa bahasa itu tidak akan kebingungan karena bahasa ini dikenal sampai dimengerti. Orang yang tidak bisa berbicara bahasa ini akan dianggap sebagai orang Timur yang kurang pendidikan.”

Pandangan mengenai bahasa Melayu juga diungkapkan oleh James T. Collins. Dalam bukunya yang terkenal, Bahasa Melayu Bahasa Dunia (2011), Collins menyebutkan bahwa bahasa yang menurutnya berasal usul dari Kalimantan Barat ini sebetulnya memenangkan pengaruh selama sekitar empat ratus tahun dengan bahasa Inggris dan Belanda. Dua bahasa terakhir nyatanya tak mampu menjadi bahasa utama di wilayah ini.

Dan seluruh data ini jelas bertolak belakang dengan seluruh propaganda tentang bahasa Melayu. Hanya saja, dengan wajah bahasa Melayu kini, nampaknya ia sedang mengalami kekalahan. Ia terdiam bukan karena berhadapan dengan bahasa asing, tetapi karena dibusukkan dari dalam.

Sekilas Pandang tentang Bahasa Melayu
Sejumlah orang, jika tak mengatakan ramai, meyakini bahwa perbedaan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia terletak pada penyerapannya. Berbeda dengan bahasa Melayu, maka bahasa Indonesia disebut merupakan bahasa yang kepadanya diserap berbagai bahasa.

Akan tetapi, pandangan ini terlalu gegabah. Ia memposisikan adanya suatu bahasa murni, original, dan tak bersentuhan dengan bahasa-bahasa dunia. Sebagai bahasa yang normal, bahasa Melayu tentu saja juga menyerap, sekaligus memberikan pengaruh terhadap, bahasa-bahasa di luar dirinya melalui sepuhan masa.

John Crawfurd, dalam bukunya A Grammar and Dictionary of the Malay Language (1852), sudah mengidentifikasi apa saja unsur-unsur dari bahasa Melayu itu. Dan dia menyebutkan 17 unsur, yakni Arabic, Malay of Batavia, Malay of Bencoolen, Malay of Bugis, Chinese, Dutch, English, European, Hindi, Javanese, Lampung, Persian, Portuguese, Rejang, Sanskrit, Sunda, dan Telinga.

Tengku Amir Hamzah, pangeran sekaligus penyair dari negeri Langkat, juga pernah membahas ihwal penyerapan dalam bahasa Melayu. Menurutnya, tiap bahasa yang dikutip dari bahasa asing haruslah masak terlebih dahulu di dalam batin sehingga layak untuk dijadikan penunjang bahasa Melayu.

“… Hanya pada diri saya, saya ikatkan sengkang, jangan terlalu lekas melompat dari sebuah tempat ke tempat yang lain, dan jangan memakai sebuah kata yang belum resap – sampai artinya ke dalam tulang sungsum saya,” tulis Amir dalam surat kepada sahabatnya, Armijn Pane, pada November 1932.

Seperti yang tersirat dari surat Amir, resapnya sebuah kata dari luar bukanlah sesuatu yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Penyerapan kata adalah sebuah peristiwa budaya yang membutuhkan masa.

Dalam prosesnya, ketika orang Melayu melakukan perjumpaan lalu jatuh hati hingga “menikah” dengan Islam, yang nampak pada adagium “adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah”, kosmologi Melayu mulai diperkaya dengan kosa kata Arab. Berbagai kata (atau konsepsi), seperti ‘adab’, ‘akhlak’, ‘ilmu’, ‘adil’, ‘insan’, ‘alam’, ‘wujud’, atau ‘makhluk’, masuk ke dalam nuansa batin orang Melayu (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Peradaban Melayu, 1990).

Islam mengenalkan pada orang Melayu istilah yang tak sekedar bunyi, seperti ‘aql, qalb, nafs, fahm, ‘ilm, yaqin, jahl, sabab, musabbab, ‘aqibah, ruh, atau sadr. Dari kata itulah lahir istilah ‘akal’, ‘kalbu’, ‘nafas’, ‘faham’, ‘ilmu’, ‘yakin’, ‘jahil’, ‘sebab’, ‘musabab’, ‘akibat’, ‘roh’, atau ‘sadar’ (Hamid Fahmy Zarkasyi, Jurnal ISLAMIA Republika, Kamis, 24 Oktober, 2013).

“Kata-kata ‘ada’ yang berarti menjadi, meng-ada atau sesuatu yang ada, sebelum Islam datang hanya menunjukkan sesuatu yang material, atau fisik yang meruang dan mewaktu. Setelah Islam datang, kata-kata ‘ada’ berubah secara radikal karena mendapatkan makna baru dari kata-kata ‘wujud’ dari Islam. Kata-kata bahasa Arab ‘wujud’, yang menunjukkan makna suatu konsep yang abstrak yang sekaligus juga suatu realitas Being atau sesuatu yang ‘ada’ (being), tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Bahasa Melayu ‘ada’ akhirnya menjadi kaya arti, yaitu mengejawantah secara zahir tapi juga tersembunyi secara batin. Karena kata-kata baru itu bukan sekedar kata, tapi mengandung makna dan bahkan konsep, maka Islam telah mengubah cara pandang bangsa Melayu dalam berbagai hal melalui bahasa,” tulis Hamid.

Kuatnya nuansa agama pada bahasa Melayu agaknya bukanlah sesuatu yang khas. Dalam bahasa Jawa, ada juga istilah-istilah Hindu yang menyerap ke dalam batin dan menjadi world-view orang Jawa. Sebut saja ‘Sengkuni’, ‘Mahabarata’, ‘Wayang’, ‘Baratayuda’ dan semacamnya.

Dari segi ekspresi berpikir, sejumlah ahli juga menyatakan adanya kecocokan antara Al-Qur’an dengan cara berpikir orang Melayu. Orang Melayu diketahui punya kecenderungan memandang suatu fenomena melalui kedalaman batinnya, lalu mengungkapkan hasil pikiran, penghayatan, dan angan hatinya itu secara metaforik, yakni perlambangan dan kiasan.

Pada saat yang sama, Al-Qur’an sendiri memuat banyak keterangan yang bersifat metaforik, yang penuh dengan berbagai makna yang perlu dipikirkan. Al-Quran pun dengan ayat-ayatnya jelas mengisahkan perlambangan dan kiasan yang multitafsir. Dalam Al-Qur’an Surat Al Imran ayat 7 disebutkan bahwa ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas) dan mustasyabihat yang perlu ditafsirkan maknanya.

Dengan bahasa Melayu, konsepsi ketuhanan yang pelik dan rumit ini kemudian dapat diantarkan dan dijelaskan dengan lebih terang benderang. Ia pun menjadi bahasa yang digunakan orang untuk berdoa, mengantarkannya ke dalam suatu renungan filosofis yang mendalam, dan membantu untuk mengekspresikannya kembali melalui sastra.

Alhasil, Islam dan bahasanya yang bermuatan lambang dan kiasan (metaforik) itu laksana cermin hidup orang Melayu. Dalam “Pasal Kelima” Gurindam 12 karangan Raja Ali Haji dikatakan bahwa “Jika hendak mengenal orang yang berbangsa, lihat kepada budi bahasa” (Irwanto Rawi Al Mudin, “Kesetaraan, Perspektif Islam dan Melayu” dalam Toleransi dan Perkauman – Keberagaman dalam Perspektif Agama-Agama dan Etnis-Etnis, 2014).

Meski demikian, Melayu tak hanya berposisi sebagai penyerap. Pada kesempatan lain, ia menciptakan suatu aksara yang dikenal sebagai aksara Arab-Melayu atau Jawi. Dalam aksara ini, Melayu menambahkan lima huruf yang tak ada dalam fonologi orang Arab. Lima huruf tersebut adalah ‘ca’ (چ), ‘nga’ (غ), ‘pa’ (ف), ‘ga’ (ک), dan ‘nya’ (ن) (al-Attas, 1990).

Dan sejarah membuktikan bahwa Islam, bahasa Melayu, dan aksara Arab-Melayu ini telah merangsang suatu gairah intelektual yang, menurut al-Attas, tak ada padanannya di masa silam. Selain mulai berbaju, muncul geliat intelektual secara besar-besaran dalam berbagai bentuk penulisan atau terjemahan. Sebut saja di bidang kesenian/kesusasteraan (zapin/jepen, pantun, syair, hikayat, gurindam), ilmu tasawuf, sufistik, ilmu fiqih, ilmu kemasyarakatan, ilmu pemerintahan/negara, ilmu hukum, ilmu kesehatan, sains/perbintangan, dan seterusnya.

Ledakan spirit intelektual yang beralaskan Islam, berbahasa Melayu, dan beraksara Arab-Melayu ini kemudian menyebar luas. Di tanah Bugis-Makassar, Sulawesi, misalnya, muncul usaha-usaha penerjemahan naskah keislaman dan karya-karya sastra dari bahasa Melayu ke bahasa Bugis-Makassar. Di antaranya adalah Hikayat Rabiatul Adawiah, Hikayat Isma Yatim, Hikayat Nabi Bercukur, atau Laila Ma’jannung.

Salah satu yang utama dari gairah baru ini adalah penulisan ulang Sureg I Lagaligo, sebuah karya sastra terbesar dari khazanah kesusasteraan Bugis pada 1860. Epos ini disebut lebih tua dan lebih panjang ketimbang kisah Mahabharata dari India. Dalam sejumlah literatur, penulisan ulang tersebut dilakukan oleh seorang bangsawan Bugis dari Tanate bernama Collipujie Arung Pancana Toa Datu Tanate.

Dan Mukhlis PaEni, Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) asal Bugis, dalam artikelnya “Melayu-Bugis-Melayu dalam Arus Balik Sejarah” (2008), mencatat bahwa nama sebetulnya dari Collipujie adalah Ratna Kencana. Beliau beribukan Siti Jauhar Manikan, putri Inche Ali Abdullah Datu Pabean, Syahbandar Makassar abad ke-19 Masehi, yang merupakan orang keturunan Melayu Johor berdarah campuran Makassar-Bugis.

Gairah intelektual ini juga mengarah pada kehidupan sosial bernegara. Islam yang membawakan prinsip kesetaraan, keadilan, dan hidup berlembaga/bersistem kemudian menghapuskan pengkastaan pada masyarakat, menghapus klenik/mitos, dan memperbaharui adat/bernegara/pemerintahan.

Sebelum Islam masuk, orang Melayu mengenal adagium ‘pantang mendurhaka’ dalam urusan pemerintahan/kenegaraan. Namun, kedatangan Islam membuat prinsip itu berubah. Ia tak lagi menjadikan sultan atau pimpinan sebagai sesuatu yang tak tersentuh. Dengan Islam, adagium lama berubah menjadi ‘raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah’ (Hussin Mutalib, Islam dan Etnisitas, 1996).

Bahasa Tanpa Penutur Asli
Selain itu, ada juga pandangan lain mengenai bahasa Melayu ini, tepatnya mengapa ia yang dijadikan bahasa nasional dan bukan yang lain. Salah satu alasan tersebut, sebagaimana dikatakan juga oleh M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008), adalah karena ia bukan bahasa Jawa, yang dapat memiliki implikasi pada dominasi Jawa.

Alasan semacam ini mengingatkan orang pada pepatah ‘usul menunjukkan asal’. Pernyataan itu tentu berasal dari suatu puak yang tak menerima adanya bahasa di luar bahasa kaumnya yang menjadi lingua franca. Selalu dipropagandakan bahwa kaum-kaum lain tidak akan terima. Sebagai jalan tengah, yang nampak sebagai tindakan pemaksaan oleh kaum yang tak menerima kenyataan itu, maka ditukarlah nama bahasanya.

Padahal, jika puak yang bersangkutan sudah lama bersentuhan dengan Islam, tentu memiliki pemahaman dimana letak bahasa Melayu dalam dunia ini. Walaupun mereka, baik anak-anak sekolah itu, Jepang, atau para penerusnya, mendakwa diri atau didakwa orang sebagai cerdik pandai, sesungguhnya mereka sama sekali tak memahami sejarah, kebudayaan, sistem sosial, dan geopolitik Dunia Melayu (Malay-World) yang sudah teramat panjang.

Dan dalam perspektif Islam inilah Dr. Adian Husaini, Ketua Program Studi Pendidikan Islam – Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun, Bogor, Jawa Barat, melihat alasan mengapa bahasa Melayu mendapat penolakan. Dalam artikelnya “Bahasa Melayu dan Penyatuan Nusantara” (2011), Adian menyebutkan penolakan itu dilandasai oleh sentimen keagamaan yang dibawakan Islam.

“Sejarah menunjukkan, penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa Persatuan sempat ditolak oleh kaum Kristen. J.D. Wolterbeek dalam bukunya, Babad Zending di Pulau Jawa, mengatakan: “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.” Senada dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith menyatakan: “Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalam bukunya Orang-Orang Katolik di Indonesia. Lihat juga buku Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia (2009)”, tulis Adian.

Akan tetapi, Denni H.R. Pinontoan, dalam esainya “Bahasa Melayu Manado, Ditukar dan Dibisukan”, menunjukkan bahwa penolakan bahasa Melayu berdasarkan sentimen keagamaan itu tak terjadi di Minahasa. Bahasa Melayu justru dipilih untuk digunakan karena wataknya yang sudah lama menjadilingua franca sekaligus sebagai strategi dalam menghadapi Belanda.

Denni menulis, di Minahasa pada abad ke-19, terdapat persoalan bahasa yang dialami oleh para zendeling dalam menyebarkan agama Kristen. Persoalan ini dia rujukkan pada disertasi Geraldine Ivonne Jane Manoppo-Watupongoh (1983), dosen Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Sulawesi Utara.

Waktu itu mereka harus memilih satu dari tiga bahasa yang akan digunakan untuk penginjilan: bahasa Minahasa, bahasa Belanda, atau bahasa Melayu. Memilih bahasa Minahasa agak sulit mengingat keberagaman dialek dan ragam di masing-masing subetnis. Sedangkan memilih bahasa Belanda juga tidak mungkin. Pilihan akhirnya jatuh pada bahasa Melayu, yang sudah lama menjadi lingua franca di sebagian besar wilayah Asia Tenggara.

“Sebagai pertimbangan psikologis politis, Belanda berpendapat bahwa hubungan antara Belanda dan Minahasa yang berbeda kedudukan dan bahasa, lebih menguntungkan bila digunakan bahasa yang ketiga yang tidak dikuasai oleh kedua belah pihak oleh karena dalam berbahasa daerah, Belanda dapat membuat kesalahan, sedangkan di pihak Minahasa, dengan berbahasa daerah, ia akan menutup diri bagi Belanda,” demikian tulis Denni yang mengutip Watupongoh.

Meski demikian, pukulan terhadap bahasa Melayu yang didasarkan atas sentimen terhadap Islam juga dirasakan oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang populer disebut Hamka. Dalam bukunya Kenang-Kenangan Hidup (1979), Hamka mengatakan bahwa pada masanya, bahasa Melayu selalu mencari atau mendahulukan padanan kata pada bahasa Arab, seperti ‘iqtishad’ untuk ekonomi, ‘siasat’ untuk politik, ‘tahniah’ untuk selamat, atau ‘ta’ziah’ untuk melayat kematian.

Pada masanya, bahasa Melayu selalu mencari atau mendahulukan padanan kata pada bahasa Arab, seperti ‘iqtishad’ untuk ekonomi, ‘siasat’ untuk politik, ‘tahniah’ untuk selamat, atau ‘ta’ziah’ untuk melayat kematian – Hamka

Namun, kemudian hari ada usaha halus untuk mengganti bahasa Melayu yang bernuansakan Islam ke bahasa Jawa. Hamka mencontohkan kata ‘turis’ dari bahasa Inggris yang dalam bahasa Melayunya adalah ‘pelancong’ dan bahasa Arabnya ‘tamasya’, kemudian diganti menjadi ‘pariwisata’.

Dalam buku tersebut, Hamka juga sempat membandingkan antara bahasa di Indonesia dan Malaysia. Dan dia menyatakan tiada perbedaan di antara keduanya.

“Kita harus awas memperhatikan ekspansi kultur, serta serbuan kebudayaan dari segi bahasa, yang tujuannya terakhir tidak lain ialah hendak memperlemah agama kita. Bertahun-tahun lamanya kedua negara, Indonesia dan Malaysia memperdekat persepahaman pemakaian bahasa Melayu ini, yang di Indonesia dinamai Bahasa Persatuan, dan di Malaysia dinamakan Bahasa Kebangsaan. Karena terjadi persimpangan sejarah, air gedang batu bersibak, kadang-kadang dirasakan sebagai dua bahasa, padahal bukan” tulis Hamka.

Upaya penukaran nama bahasa Melayu menjadi bahasa yang lain sebetulnya dapat juga disebut sebagai ‘Pidgin-Melayu’. Di sini, tata bahasanya, urat nadinya, kulturnya, adabnya, peruntukannya, dan seluruh kosmologinya telah dilepaskan dari bumi tempat ia berpijak dan dari batin penuturnya. Ia telah dicampur-adukkan dengan suatu bahasa yang punya karakter berpunggungan. Ia menjadi suatu bahasa yang dipakai untuk menangis sejadi-jadinya, mengumpat sekasar-kasarnya, dan tak lagi dikenali sebagai bahasa yang senyawa dengan syair, kesusastraan, tukar pikiran, dan spiritual.

Pidgin adalah istilah yang berada dalam domain sosiolinguistik. Ia bermakna suatu bahasa yang tak memiliki penutur asli dan hanya digunakan untuk berkomunikasi dalam kepentingan-kepentingan jangka pendek dari bahasa-bahasa yang berbeda. Karena sifatnya yang demikian itulah suatu bahasa kerap disederhanakan, jika tak hendak mengatakan dimiskinkan atau diubah-ubah.

Sejumlah literatur mencatat bahwa proses terbentuknya bahasa pidgin setidaknya dimulai dari tiga bahasa yang eksis secara bersamaan. Satu dari bahasa itu menjadi dominan dan superior, dan dua yang lain menjadi kalah atau inferior. Bahasa yang kalah ini harus berjumpa dengan dua hal: bahasa pemenang dan bahasa yang sama-sama kalah. Di sinilah bahasa inferior menggerogoti bahasa superior untuk menyederhanakan komunikasi, baik kepada bahasa superior maupun bahasa yang sama-sama inferior.

Karena sifatnya yang demikian, maka bahasa pidgin kerap disebut juga sebagai bahasa budak. Di sejumlah wilayah, ia terkenal dalam frase ‘Pidgin-English’.

Pemiskinan makna bahasa Melayu juga terasa dalam pergaulan sehari-hari, terutama yang dipancarluaskan oleh media massa. Yusmar Yusuf, pakar bahasa Melayu, mengatakan bahwa sejak dijadikan atau ditukar namanya menjadi bahasa Indonesia, bahasa Melayu mengalami degradasi. Dari yang semula sebagai bahasa ekspresif, ia berubah menjadi sekadar bahasa deskriptif.

“… dampaknya Bahasa Melayu menjadi kehilangan “rasa” dan makin menuju pada kedangkalan bahasa, terutama dalam “knowldege content”… Dia menjadi kering. Mereka yang merasa kekeringan itu adalah penutur bahasa Melayu yang asli…,” ujar Yusmar yang juga Guru Besar Kajian Masyarakat Melayu Universitas Riau, seperti dilaporkan oleh Antara News, 4 Juli 2012.

Yusmar memberikan sejumlah contoh dari kata-kata yang mengalami degradasi. Di antaranya adalah kata ‘seronok’. Dalam bahasa Melayu, kata ini bermakna positif, yakni menyenangkan, enak, sedap, lezat. Tapi, ia berubah makna menjadi sesuatu yang negatif, semacam wakil dari erotisme dan sensualitas.

Wajah Bahasa Hari ini
Sebetulnya, di bumi ini tiada orang beradab yang menukar-nukar nama bahasa suatu kaum atau bangsa, apalagi jika ia sudah mengalami perjalanannya yang panjang dan tercatat dalam sejarah dunia. Australia dan Amerika Serikat yang lahir lebih dulu tak mengubah nama bahasa Inggris menjadi bahasa Australia atau bahasa Amerika Serikat. Pun demikian halnya Irak atau Kuwait, mereka tak menukar nama bahasa Arab menjadi bahasa bahasa Kuwait atau bahasa Irak. Dan demikianlah dunia menghormati suatu kebudayaan. Di dalam bahasa ada world-view, ada spirit, ada nuansa yang tak bisa diterjemahkan atau ditukar begitu saja.

Pada saat yang sama, dunia hari ini adalah dunia teknologi. Transportasi untuk bepergian kemanapun sudah begitu mudah untuk digunakan. Komunikasi pun dapat dilakukan dengan siapa saja dan kapan saja tanpa batas wilayah.

Dalam situasi demikian, pengubahan nama bahasa ini sebetulnya mengundang pertanyaan generasi muda yang berusia 20-an atau 30-an tahun. Mereka adalah anak-anak muda yang memiliki jaringan global, biasa berkomunikasi dengan siapa saja, atau berpergian ke sana kemari.

Pada saat berpergian, atau berkomunikasi melalui teknologi, mereka akan menjumpai orang-orang dan bacaan-bacaan dari negeri-negeri lain. Dan faktanya, mereka dapat berkomunikasi dengan baik. Dalam perjumpaan-perjumpaan itu, orang sebetulnya nyaris tak mengalami kendala bahasa. Kendala yang mungkin muncul hanya pada logat. Jika dalam perjumpaan fisik atau pelisanan penduduk tempatan bicaranya cepat-cepat, biasanya memang sulit dipahami oleh pendatang. Tapi jika bicaranya dilambatkan, sulit untuk tidak dipahami oleh sesiapapun.

Hal sepadan barangkali bisa dirujukkan kepada sinetron-sinetron atau musik-musik yang ditampilkan di televisi. Tak semua orang paham mereka bicara atau menyanyi apa karena bicaranya yang cepat. Tapi jika dilambatkan, niscaya sesiapapun dapat memahaminya.

Akan tetapi, ketika perjumpaan-perjumpaan itu terjadi, mengapa mereka dapat menggunakan bahasa yang sama? Dan, ketika bahasanya sama atau mirip, mengapa nama bahasanya berbeda?

Dalam pengalaman penulis di Siren, Nusa Tenggara Barat, penulis sempat menanyakan apa nama bahasa yang sedang kita cakapkan ini kepada seorang penjaga makam raja-raja Siren. Beliau menjawab bahasa Indonesia. Karena penasaran, saya tanya lagi mengenai nama bahasa ini di Siren. Dan dia menjawab bahasa Melayu.

Seketika, bahasa Melayu, dan para penuturnya, nampak sedang berada di dalam sebuah peti, persis seperti seruan yang dilakukan oleh Jepang. Ia hanya tinggal di dalam ingatan orang tua-tua di kampung-kampung, seperti nyanyian seorang bisu. Karenanya, sesungguhnya tak ada yang bisa menyatakan telah menyumbangkan bahasanya, sebab memang tak ada ijab qabul. Yang ada adalah sebuah fakta bahwa telah terjadi penukaran nama sebuah bahasa dari suatu bangsa untuk kepentingan politik suatu kaum.

.

.

.

Ditulis oleh TM. Dhani Iqbal

Disalin tempel dari Lentera Timur

Keberagaman Bahasa Melayu di Balik Keseragaman Bahasa Indonesia

James T. Collins adalah ahli linguistik kelahiran Chicago, Amerika Serikat. Dia dikenal sebagai seorang linguis yang memfokuskan diri pada bidang linguistik komparatif, leksikografi, dan sosiolinguistik. Secara lebih khusus, Collins adalah tokoh yang begitu intens meneliti dalam bidang kajian bahasa Melayu. Karenanya, dia adalah nama yang melekat pada kajian sejarah bahasa Melayu.

Dalam mengurut tali bahasa Melayu, dia melakukan penelitian mengenai dialek-dialek bahasa di banyak tempat di Kepulauan Melayu, seperti Semenanjung, Sumatera, Borneo, Sulawesi, dan Maluku. Beberapa karya ilmiahnya pun menyejarah dan menjadi buku wajib bagi sesiapa yang memiliki minat pada alam bahasa Melayu. Di antara karyanya adalah Malay, World Language: A Short History (1996) yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu/Indonesia menjadi Bahasa Melayu Bahasa Dunia (2011). Selain itu, Collins juga menulis Asilulu-English Dictionary (2007), Borneo and The Homeland of the Malays: Four Essays (2006), dan Bahasa Sanskerta dan Bahasa Melayu(2009).

Dalam dunia akademik, cerdik pandai ini telah menjadi guru besar di banyak kampus, di antaranya di University of Chicago, Northern Illinois University, Leiden University, Goethe University, dan kini di Universiti Kebangsaan Malaysia. Kini Collins menjadi peneliti utama pada Institut Kajian Etnik, Universiti Kebangsaan Malaysia.

Pada Rabu (5/11), Collins datang ke Jakarta. Dia menjadi pembicara dalam forum Seminar Internasional “Pendidikan Berbasis Keragaman Budaya: Sumbangan Bahasa dan Sastra Indonesia” yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Saat itu, dia membawakan makalah berjudul “Keragaman Bahasa dan Kesepakatan Masyarakat: Pluralitas dan Komunikasi”.

Dalam kesempatan itu, Collins melontarkan banyak pemikiran. Di antaranya adalah kritik terhadap adanya wacana yang menyatakan bahasa Indonesia memiliki dua ragam, yakni ragam bahasa Indonesia formal dan ragam bahasa Indonesia non-formal. Pembelahan dua ragam ini sudah terjadi sejak lama dan disebutkan kembali pada 2013, yakni saat diadakannya Kongres Bahasa Indonesia yang kesepuluh di Jakarta.

“Pada tahun 1993, pada Kongres Bahasa Indonesia yang keenam, saya sudah mendengar wacana tentang dua ragam itu juga. Bayangkan, dua puluh tahun berlalu, tetapi masih saja hanya dua ragam itu yang disebutkan. Penutur bahasa Indonesia ada 250 juta orang tetapi hanya cuma dua ragam. Formal dan non-formal. Begitu terus, disebut berulang-ulang, bertahun-tahun. Ini dikotomi imajiner yang sungguh aneh. Alangkah cacatnya,” kritik guru besar berusia 68 tahun ini sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Usai memberikan ceramah, Ken Miryam Vivekananda dari LenteraTimur.com berbincang-bincang dengan Collins seputar sejarah perjalanan bahasa Melayu, kaitannya dengan keislaman, sifatnya yang kosmopolit, dan nasib yang menimpanya kini setelah namanya ditukar menjadi bahasa Indonesia. Berikut cuplikan wawancara tersebut.

Profesor Collins, hari ini ada bahasa Indonesia dan ada bahasa Melayu. Apakah Anda melihat ini sebagai dua hal yang berbeda?
Kalau pada abad ke-17 dan ke-18, nama bahasa yang mempersatukan kepulauan ini adalah bahasa Melayu, sekarang namanya berubah menjadi bahasa Indonesia. Dari segi citra sosial, kedua bahasa itu sama.

Tadi Anda mengkritik pembagian ragam bahasa Indonesia. Bisa dijelaskan?
Bahasa pemersatu ini muncul dalam berbagai varian sesuai dengan ruang geografi atau lokasi, maupun ruang sosial atau etnisitas. Jadi, sebetulnya bahasa ini tidaklah sederhana sehingga hanya terbagi menjadi dua ragam, formal dan non formal saja. Bahasa ini sangat-sangat kompleks.

Bayangkan, mungkinkah bahasa sehari-hari yang tidak formal di Makassar, misalnya, sama dengan bahasa yang tidak formal di Jakarta? Adakah khotbah di Masjid Bukittinggi yang disampaikan dalam bahasa Indonesia yang formal sama dengan bahasa Indonesia formal yang digunakan dalam khotbah di gereja di Manado? Tentu saja berbeda.

Jadi, dikotomi yang dikhayalkan itu, yang konon hanya dua ragam itu, sangat simplistik. Itu dikotomi palsu. Harus disadari betul bahwa bahasa pemersatu memiliki varian yang begitu beragam.

Ada kecenderungan di Indonesia untuk mengatakan varian bahasa Melayu lokal sebagai bahasa Indonesia juga. Saya rasa, dari ilmu linguistik, sebetulnya itu kurang tepat. Kebanyakan varian Melayu lokal jelas berusia jauh lebih tua dari bahasa Indonesia yang baru disebut pada tahun 1928. Jadi varian Melayu lokal itu tidak diturunkan dari bahasa Indonesia. Walaupun sekarang ia dipengaruhi oleh bahasa Indonesia, tapi ia tidak diturunkan.

Hanya saja di sini memang ada faktor nasionalisme. Ada hasrat untuk menamakan semua bahasa yang beragam itu sebagai bahasa Indonesia. Ya, saya rasa itu tentu mengelirukan secara linguistik.

Penggantian nama bahasa berdasarkan faktor nasionalisme semacam itu apakah merupakah hal yang etis dan wajar?
Penggantian nama ini bisa terjadi atas petunjuk pemerintah, bisa juga atas hasrat nasionalisme penuturnya. Keduanya wajar-wajar saja terjadi, tergantung oleh apa yang dirasakan oleh penuturnya sendiri. Namun saya tidak bisa mengatakan soal etis atau tidak etis.

Yang jelas, ada pengembangan, diversifikasi, dan penyebaran bahasa Melayu selama berabad-abad. Dan, sekarang bahasa Melayu telah disepakati sebagai bahasa nasional, walaupun disebut dengan nama lain yang melambangkan negara Indonesia.

Jika penuturnya menganggap bahwa penggantian nama itu adalah hal yang wajar, maka tidak masalah.

Di Amerika pernah ada gerakan untuk mengganti nama bahasa Inggris menjadi bahasa Amerika. Tapi gerakan ini gagal. Mengapa? Karena orang secara psikologis telah terbiasa menyebut bahasa yang mereka gunakan dengan nama bahasa Inggris. Mereka dekat dengan karya-karya sastra Inggris, mereka masih membacanya sampai sekarang. Jadi, ketika ada upaya mau mengganti nama bahasa atas nama nasionalisme, penuturnya sendiri yang berkeberatan. Jadi semua persoalan nama bahasa ini harus dikembalikan pada kondisi psikologis penuturnya.

Buya Hamka dan juga Naquib al-Attas mengatakan bahasa Melayu sudah begitu senyawa dengan Islam. Dan, proses penggantian bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia ini terkait dengan nuansa Islam tersebut. Apa pendapat Anda mengenai ini?
Saya bukan ahli politik yang khusus meneliti soal itu. Tapi, bahwa bahasa Melayu bernuansakan Islam, itu hal yang amat jelas.

Sejak awal abad keenam belas, bahasa Melayu digunakan dengan meluas, jauh dari lokasi penemuan prasasti tertua di Sumatera Selatan. Bahasa Melayu tampil sebagai wahana yang utama, bahasa multietnik, dan mutifungsional di kepulauan ini. Namun, pada waktu yang sama, bahasa Melayu dikenal juga sebagai bahasa komunitas Islam yang membanggakan keberaksaraannya dalam ortografi Arab.

Jadi, dapat dikatakan bahwa sejak lima ratus tahun lalu, pemahaman tentang penutur bahasa Melayu sudah memperlihatkan sebuah dikotomi. Pada satu pihak, bahasa Melayu dipandang sebagai bahasa komunikasi antaretnik yang luas sekali distribusinya, tapi pada pihak lain, bahasa Melayu dilihat sebagai bahasa khusus komunitas Muslim yang memiliki sistem dan tradisi tulisan tersendiri.

Saya bukan ahli politik yang khusus meneliti soal itu. Tapi, bahwa bahasa Melayu bernuansakan Islam, itu hal yang amat jelas. – Collins

Sebetulnya, seberapa jauh kemelekatan bahasa Melayu digunakan dalam keislaman?
Pada abad ketujuh belas, banyak dokumen yang tersimpan dalam arsip dan perpustakaan Eropa mengenai ini. Sebagian memang tulisan yang berkaitan dengan agama Islam karena ortografi Arab rapat hubungannya dengan agama Islam dan identitas Melayu. Umpamanya, Hikayat Nabi Yusuf, sebuah karangan Islamiah yang popular sekali. Dokumen ini disalin di Aceh pada tahun 1604.

Namun, pada abad ketujuh belas itu juga, tulisan Arab Melayu bukan hanya menjadi medium sastra Islam saja; fungsinya lebih luas dan lebih beragam. Hikayat Sri Rama yang ditulis sebelum tahun 1633 menampilkan legenda Hindu tetapi dalam tulisan Arab dengan tambahan beberapa referensi Islamiah sehingga buku ini juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang membaca bahasa Melayu yang berhuruf Arab.

Selain itu, fungsi bahasa Melayu juga menjadi tidak terbatas pada tulisan agama dan sastra saja. Misalnya, pada tahun 1602, dikeluarkan surat izin berdagang kepada kapal Inggris yang berlayar di wilayah kesultanan Aceh tentunya ditulis dalam ortografi Arab. Memang pada abad ketujuh belas, bahasa Melayu bertugas sebagai bahasa bisnis internasional dan sekaligus sebagai bahasa pemerintahan. Selaku bahasa pemerintahan, bahasa Melayu yang bertuliskan Arab juga digunakan dalam surat dan dokumen antarnegara.

Jadi, kemelekatan bahasa Melayu dengan Islam ini memang perlahan-lahan sudah lepas dengan sendirinya sejak abad ketujuh belas. Dengan kata lain, bahasa Melayu seakan-akan mulai tercabut dari keislaman di abad itu.

Apakah penggunaan aksara Latin juga menjadi faktor lepasnya ikatan bahasa Melayu dan keislaman itu?
Pada masa yang sama ketika banyak dokumen ditulis dalam bahasa Melayu yang berortografi Arab, bermunculan juga dokumen-dokumen bahasa Melayu yang ditulis dalam huruf Latin. Dua ortografi itu, Arab dan Latin, melambangkan dua identitas berbeda yang mulai hadir. Keduanya menggunakan bahasa Melayu, namun melambangkan identitas dua komunitas berbeda dan menyokong dua sistem keberaksaraannya masing-masing.

Ada komunitas dengan identitas yang dikatakan oleh Reid sebagai komunitas Melayu karena mereka berbahasa Melayu dan beragama Islam. Ada juga identitas berbeda, yakni komunitas yang juga berbahasa Melayu tapi beragama Kristen Protestan.

Bahasa Melayu memang mulai dipilih sebagai bahasa usaha misionaris Katolik pada awal abad keenam belas. Selanjutnya, setelah benteng dan jajahan Portugis di Maluku diserahkan kepada pihak Belanda pada awal ketujuh belas, semua pribumi Katolik dijadikan penganut Protestan. Akhirnya, bahasa Melayu pun diangkat juga oleh pendeta Belanda untuk segala terbitan agama Protestan.

Difusi dan diversitas bahasa Melayu yang hanya samar-samar pada abad keenam belas ini mulai memperlihatkan citra yang lebih tegas dan profil yang jelas pada abad ketujuh belas.

Pada tahun 1611, di Amsterdam, seorang pedagang Belanda Protestan yang alim, A.C. Ruyll menerbitkan buku pelajaran ABC, judulnya “Sourat ABC akan mengaydjer anack boudack” (ejaan dari judul buku tersebut ada di makalah Collins-red). Buku ini digunakan di Betawi. Buku ini merupakan pedoman pertama tentang ejaan bahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Latin. Namun, buku ini bukan saja bertujuan mengajar baca-tulis, tetapi juga menyampaikan beberapa doa Kristen.

Lalu, selanjutnya, pada abad ke-17, Danckaerts dan pendeta-pendeta Belanda lain di Banda, Ambon, dan Batavia juga mulai menerbitkan berbagai buku pelajaran agama, koleksi khotbah Protestan, dan terutama terjemahan kitab-kitab agama Kristen.

Apakah hal semacam itu yang menandakan sifat kosmopolit bahasa Melayu?
Bisa dikatakan begitu. Dapat ditelusuri pula berbagai variasi bahasa Melayu yang lain, yakni yang sesuai dengan ruang geografi. Misalnya, terjemahan pelajaran agama Kristen di Ambon dan terjemahan dari teks asal yang sama di Batavia dengan varian Melayu lain. Atau bisa juga varian itu terjadi sesuai dengan ruang sosial, misalnya antara bentuk bahasa Melayu dalam surat perjanjian antarnegara dan bahasa Melayu dalam karya sastra Islam.

Jadi diversitas bahasa Melayu tak hanya melambangkan jurang sosial dan jarak spasial di kepulauan ini, tetapi juga menandakan dinamika bahasa Melayu yang berstatus kosmopolitan di wilayah itu.

Sifat kosmopolit inikah yang membuat bahasa Melayu dianggap sebagai bahasa pemersatu?
Kalau pembahasan sejarah bahasa Melayu dilanjutkan abad demi abad, profil bahasa Melayu akan tampak sebagai suatu fenomenon sosial yang kompleks sekali. Tapi, ternyata justru karena adanya kompleksitas itu, bahasa Melayu berperan sebagai lambang persatuan di kepulauan ini. Bahasa Melayu menjadi simbol dan agen persatuan.

Dalam buku saya, Wibawa Bahasa, saya sebutkan bahwa bahasa Melayu saat ini tetap masih bisa dianggap sebagai bahasa dunia. Dilihat dari jumlah penutur, jumlah negara yang menggunakannya sebagai bahasa nasional, dan jumlah negara di luar alam Melayu yang institusi pendidikannya mengajarkan bahasa Melayu, maka saya berpendapat sampai sekarang pun bahasa Melayu tetap menjadi bahasa dunia.

Menurut saya, hanya bahasa Melayu yang layak diangkat menjadi bahasa Indonesia karena sudah disepakati ratusan tahun sebelumnya.

Terkait dengan penukaran nama bahasa ini, bukankah orang di kepulauan ini lebih mengenal bahasa Melayu dalam batinnya ketimbang bahasa Indonesia?
Dalam keseharian, mereka memang menggunakan bahasa Melayu lokal yang tadi saya sebutkan. Tapi saya juga menemukan bahwa mereka menyadari ada perbedaan antara bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu yang mereka gunakan. Mereka menyadari keberadaan bahasa Indonesia itu. Dan, sekali lagi, buat mereka yang sudah terbiasa dengan nasionalisme, akan lebih nyaman menyebutnya sebagai bahasa Indonesia, bukan bahasa Melayu.

Sebagian penutur bahasa Melayu varian lokal, menganggap bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang “kering”. Bagaimana pendapat Anda?
Ya, memang. Bahasa Indonesia kini pada umumnya digunakan untuk bahasa sekolah. Bahasa sekolah ini pasti jauh dari hati orang. Itu yang membuat kering. Kalau mau dekat dengan hati, orang akan gunakan bahasa yang sehari-hari dia gunakan, yakni bahasa daerahnya.

.

.

.

.

Sumber Salin Tempel: Lentera Timur

Istilah dalam Bahasa, Kebakuan, dan Kuasa Perupaannya

Tak pernah tak bisa dikatakan tidak menarik dan juga kadang jenaka jika mengikuti status-status Facebook wartawan kawakan Rusdi Mathari. Status-statusnya mempunyai ciri khas dengan judul masuk menjadi kata pertama dari paragraf pertama dan diketik dengan huruf besar. Selain itu, khusus hari Selasa dan Jumat jikalau sedang beruntung, penikmat status Cak Rus, begitu kadang sebagian memanggil Rusdi Mathari, disuguhi Selasa Bahasa dan materi khotbah di hari Jumat [bukan materi khotbah sholat Jumat(an)].

Beberapa hari yang lalu Cak Rus membahas mengenai penggunaan istilah “gawai” dan “gajet” sebagai padan kata bahasa Inggris “gadget.” Mengikut ulasan Cak Rus, sidang pembaca seakan dimahfumkan bahwa istilah “gajet” lebih, katakanlah, pas dipakai di dalam pembahasaindonesiaan kata “gadget” dibandingkan “gawai.” Selanjutnya Cak Rus memberikan contoh, kalau saya tidak salah artikan, bagaimana bahasa Malaysia mempunyai kelentukan luar biasa di dalam mengadopsi kata-kata asing khususnya kata dari bahasa Inggris. Kata-kata dari bahasa Inggris dimasukkan ke dalam bahasa Malaysia sesuai bunyi bacanya.

Pada contoh “gadget” menjadi “gawai,” Cak Rus tampaknya kurang begitu suka dengannya. Ia melebihsukai “gadget” dibahasaindonesiakan menjadi “gajet.” Alasannya, kalau saya tidak salah cerna, adalah makna semula kata “gawai” di dalam bahasa Indonesia sebelum dijadikan padanan atas kata “gadget.” Entri “gawai” di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki arti: (1) pekerjaan; kerja, dan (2) alat; perkakas. Seolah terdengar ganjil jikalau “gawai” dipakai untuk “gadget.” Sehingga Cak Rus melihat pengadopsian “gadget” sesuai bunyi bacanya ke dalam bahasa Indonesia sebagaimana dilakukan di dalam bahasa Malaysia dirasa lebih enak dan pas.

Kita semua tahu bahwa bahasa meski manasuka adalah perkara konsensus penuturnya. Tetapi jangan pernah dilupakan bahwa pengertian konsensus atau konvensi para penuturnya tidak bisa dinisbatkan kepada kaum awam non-literawan. Konsensus ini terkait erat dengan pengaruh kebijakan penguasa, dunia pers dan dunia penerbitan. Memang benar bahwa dunia pers dan dunia penerbitan itu kadang terjadi di sebuah negara berada di bawah ketiak penguasa yang kaku dan hanya menjadi corong kekuasaan namun di dalam ketiak penguasa yang kaku-pun, keduanya turut menentukan arah bahasa. Massa akan memakai bahasa yang secara “normal atau lazim” dipakai di dalam dunia pemberitaan (pers) dan perbukuan (penerbitan) arus utama di mana suara-suara baik yang pro, kontra, atau netral diejawantahkan dalam bentuk terlihat (teks cetak), ada besar potensi untuk dikutip dan ditularkan, dan dari situlah sesuatu menjadi “lestari.” Tapi tentu sesuatu yang lestari tetap butuh kanonisasi istilah yang tak bisa tidak dilakukan kecuali melibatkan “penguasa” lewat badan negara.

Karya sastra kerap disebut juga memiliki pengaruh yang luar biasa kepada perkembangan dan perubahan bahasa. Shakespeare adalah satu contoh bagaimana bahasa Inggris diperkaya kosa katanya hingga puluhan ribu kata baru lewat karya-karya Shakespeare. Di dalam karya-karyanya terdapat hibrida bahasa Latin, Spanyol, dan Jerman. Dan dari Shakespeare-lah konon terdapat lebih dari 1500 istilah disumbangkan ke dalam bahasa Inggris. Tapi pengaruh Shakespeare, dan ini kerap tidak dibicarakan terang-terangan, karena kanon yang tersedia buat Shakespeare sangatlah kaya.[1]Tetapi sastrawan yang mempunyai pengaruh terhadap bahasa suatu negara jumlahnya tidak begitu banyak. Kalau bicara bahasa Indonesia, kita lewat dawuh Andries Teeuw bisa menyebut nama Chairil Anwar.[2]Ya tentu saja Teeuw yang punya ping back dengan tradisi koneksi Leiden bisa kita curigai juga dengan bombardir sanjungan seorang penyair yang kental sekali dengan tradisi sajak Belanda dan Barat.[3] Jangan lupa bahwa dari akademisi-akademisi Leiden-lah politik etis yang salah satu sendinya adalah perasaan dan mata dunia yang asosiatif dengan Belanda berasal.

Penguasa sebuah negara memiliki peran yang menentukan dalam perupaan bahasa. Kalau berbicara bahasa Indonesia, semenjak Abendanon dan kawan-kawan ethici-nya[4] melihat kemungkinan dan keuntungan diseminasi bahasa Indonesia sebagai bahasa administratif penjajahan di Hindia Belanda, maka provokasi terhadap pemuda Indonesia golongan menengah ke atas dan atau terdidik dalam bahasa Belanda untuk menggunakan bahasa Melayu mulai digempitakan. Tengoklah bagaimana jurnal Bintang Hindia garapan duet Belanda dan Pribumi Clockener Brousson dan Abdul Rivai memuluskan kebijakan kebudayaan berkenaan dengan penyebarluasan bahasa Melayu ala Riau-Lingga kepada pembacanya di awal abad 20 (1904-1905) tentu dengan argumen di sebuah tulisan bahwa bangsa Indonesia layak memiliki bahasa sendiri.[5] Dari situlah kita kemudian bisa dengan latah namun sangat lantang berbicara bahwa kisah Sumpah Pemuda 1928 —lebih tepatnya Keputusan Rapat Kongres Pemuda II— yang menyatukan ini dan itu, yang tiga poinnya itu dikonsepkan oleh Muhammad Yamin, dan kelindan dengan tulisan ini, bahasanya, tanpa sadar akan adanya campur tangan kebutuhan Belanda di dalam keperluan administratif atas jajahan Hindia Belanda-nya.

Tapi perkara diseminasi bahasa Melayu Riau-Lingga sebagai bahasa-nya inlander bukan mentok karena kebutuhan adiministrasi daerah jajahan saja. Lihat saja bagaimana Jones[6] memaparkan bagaimana cultural policy atau kebijakan kebudayaan Belanda kepada Hindia Belanda memang didesain sedemikian rupa supaya Hindia Belanda bisa terdidik untuk kepentingan ekonomi dan kemajuan Hindia Belanda —tentu saja buahnya akan kembali ke keuntungan Belanda— tanpa harus menjadi setara dengan Belanda. Tentu saja langkah ini pintu gerbangnya adalah inlander mempunyai bahasa sendiri dan bukan inlander yang menguasai bahasa tuannya (baca: bahasa Belanda).

Dan menarik benang merah dari kebijakan ini, Balai Pustaka merupakan alat lain dari kebutuhan akan pemulusan kebijakan. Kita ingat bagaimana Balai Pustaka menerbitkan buku bacaan yang penting bagi normalisasi bawah sadar kepada inlander akan kebijakan ini. Bukankah selain buku panduan praktis, terbitan awal Balai Pustaka adalah misalnya Habis Gelap Terbitlah Terang yang pro Belanda dan cita-cita perempuan pribumi untuk berubah menjadi perempuan yang sebebas perempuan-perempuan Barat sembari menggugat kejumudan adat untuk merubah tradisi niremansipasi perempuan pribumi di dalam konsep kemajuan yang dibutuhkan Belanda di dalam perang kebudayaan dan pengaruh yang terjadi di Eropa antara Belanda dengan Inggris?[7][8][9] Tidakkah misalnya Sitti Nurbaja, salah satu novel terbitan awal Balai Pustaka, memberikan pahlawan yang asosiatif dengan Belanda dan penjahat jahat dari kalangan inlander yang patuh adat dan membiayai perlawanan kepada Belanda?[10] Bukankah Salah Asuhan memberikan gambaran bahwa pemuda cerdas pribumi yang hendak menyeberang menjadi setara dengan bangsa Eropa adalah salah jalan sebagai sebuah didikan bahwa inlander tetaplah menjadi inlander? Karena Balai Pustaka merupakan satu paket dari sejarah pengindonesiaan Indonesia lewat peran besar Belanda dalam proyek politik etis dan proyek ini think tank-nya adalah akademisi Leiden maka janganlah heran apabila diskursus keindonesiaan post­-Ducth East Indies butuh dikaitkan selalu dengan Balai Pustaka sebagaimana Teeuw —juga seorang akademisi Leiden— tak jemu suarakan.[11]

Dari kebijakan kultural itulah Belanda menciptakan elite pribumi baru yang berada di bawah kulit putihnya Belanda namun diposisikan berada di atas aristokrat sistem feudalistik tradisional pribumi dan ulama-ulama. Bahwa naiknya status seorang pribumi bisa lewat pendidikan dan tidak lagi melalui jalur feudalistik. Bukti dari naiknya status itu tentu saja tercerminkan dari ketersediaan panggung dengan saluran bahasa Melayu Riau-Lingga.

Dengan pengkondisian seperti itu, rujuk benar-salah [dalam berbahasa] adalah pusat (baca: Batavia). Imbas terselubung dari praktik ini adalah kebenaran sentralistis lewat bahasa menjadi eksis. Dari situlah operasionalisasi kekuasaan Foucauldian menemukan singgungannya dan dari situlah Ariel Heryanto mengiris praktik Politik Bahasa ala Orde Baru yang dulu kuat dengan jargon berbahasa yang baik dan benar.

Kembali kepada gadget. Jikasanya Pusat Bahasa menentukan bahwa padan kata gadget adalah “gawai” berdasar entri di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “gawai” yang mengandung arti “alat” atau “perkakas” maka itulah padan kata yang benar dan bukan “gajet.” Namun berbicara “benar” atau “salah” di dalam berbahasa bisa membuat kita merujuk kepada Ariel Heryanto —yang getol ngonceki Orde Baru— mengenai operasionalisasi kekuasaan sentralistis lewat bahasa.[12]Padahal bahasa sering dikatakan tidak mengenal benar dan salah kecuali hanya kepada nilai guna praktisnya: alat berkomunikasi. Kalau pendapat ini yang dipakai, bentuk “gajet” bisa mempunyai keberterimaan dan sangat saru untuk disalahkan.

Namun jika kita kemudian serewel namun selogis George Orwell, pemakaian bahasa yang tidak bertele-tele[13] dan standar diperlukan di dalam transfer pemikiran. Dengan kata lain, ketiadaan standarisasi bisa membuat sebuah bahasa mengalami dekadensi.[14]Justru lewat standarisasi bahasa-lah unifikasi perbedaan dan pembentukan persamaan identitas bisa terjadi sehingga kemunduran bahasa sebagai alat transfer pemikiran bisa dicegah sebaik mungkin. Dan dari kebutuhan konvensional di dalam saling mengekspresikan gagasan dan juga menyatukan identitas, dari situlah konsep “satuan komunitas yang diangankan” ala Benedict Anderson sebagai bahan bakar ideologi nasionalisme bisa dimunculkan.[15]Belanda menstandarkan Melayu Riau-Lingga menjadi bahasa ajar utama di sekolah-sekolah kepada pribumi dan bahasa resmi administratif Hindia Belanda yang didesain untuk berbeda dengan negara induk Belanda dan berbeda dengan Melayu-nya Inggris memang dalam rangka membangun identitas Hindia Belanda dan kemudian kita sebut sebagai “Indonesia” sekarang ini. Pemaduan identitas yang dilakukan oleh kebijakan kultural Belanda atas Hindia Belanda itu berlanjut dengan proyek Politik Bahasa Nasional di masa Orde Baru.

Bahasa pemersatu haruslah tetap dijaga peran sentralnya di dalam bernegara. Kemurniannya dan perbedaannya dengan bahasa lain menjadikannya sebagai pengikat kesatuan. Dengan pemahaman seperti inilah maka janganlah heran apabila ada kekhawatiran yang luar biasa terhadap usaha-usaha penomorduaan bahasa nasional di dalam pendidikan sebagai kemarin pernah muncul di dalam polemik RSBI/SBI. Atas nama nasionalisme, bahasa Indonesia tidak boleh dinomorduakan (baca: hilang dalam pemakaian) di sekolah.[16]Misalnya saja ada bahasa lain yang terpaksa diajarkan karena kebutuhan Internasional,[17] faktor keagamaan,[18] dan kesadaran akan akar identitas lokal dan kekayaan,[19] bahasa yang dijadikan bahasa utama tetaplah bahasa nasional. Negara yang waras tidak akan sembrono di dalam mempertimbangkan pemakaian bahasa kedua di dalam praktik berkenegaraan kecuali ada tuntutan yang tidak bisa dielakkan lagi.[20]

Istri dan Anak Laki-lakiku. Istriku sedang belajar pembagusan baca teks skriptur Arab sedangkan anak laki-lakiku sedang belajar membaca skriptur dalam bahasa yang sama dalam rangka beribadah.

Istri dan Anak Laki-lakiku. Istriku sedang belajar pembagusan baca teks skriptur Arab sedangkan anak laki-lakiku sedang belajar membaca skriptur dalam bahasa yang sama dalam rangka “beribadah sesuai keyakinan” dan bukan dalam rangka kearab-araban sebagaimana mereka butuh menguasai bahasa Inggris bukan dalam semangat keinggris-inggrisan.

Salah dan benar, baku dan tidak baku di dalam pemakaian bahasa tidak pernah bisa lepas dari kebutuhan akan standarisasi bahasa di sebuah negara. Negara yang waras butuh itu meskipun penuturnya tak ambil pusing mengenai standar atau tidaknya selama komunikan saling paham satu sama lain. Standardisasi bahasa nasional sejatinya juag mempunyai aspek lain yang tidak melulu terkait dengan ideologi nasionalisme. Ia dibutuhkan sebagai acuan untuk pembelajaran, pengembangan, dan penyebarluasan.[21] Tiadanya pembakuan akan menyulitkan sebuah bahasa untuk melakukan tiga hal itu.

Lalu di manakah menempatkan kelebihsukaan Cak Rus pada “gajet” yang tidak baku dibandingkan dengan “gawai” yang merupakan padanan baku untuk istilah bahasa Inggris “gadget”? Well,[22]prinsip penting di dalam pemakaian bahasa adalah tergantung konteksnya. Jika Cak Rus konsisten memakai “gajet” di dalam tulisannya sebagaimana ada indikasi keinginan dan preferensi personal dirinya untuk itu maka ia bisa menjadi kekhasan diksi di dalam tulisannya. Tentu saja Cak Rus sadar diri bahwa istilah “gajet” adalah sesuatu yang tidak baku sehingga Cak Rus akan arif menyikapi bila di dalam tulisan akademik —jika ia berkehendak membuat sebuah— “gajet”-nya akan disunting oleh orang lain menjadi “gawai.” Namun ada hal lainnya yang perlu pula dicatat bahwa bahasa terus berkembang dan bisa menerima kemungkinan-kemungkinan baru sebagaimana bisa jadi kelak “gajet” diterima sebagai bentuk yang baku dari pengindonesiaan “gadget” beriringan dengan “gawai.” Tapi kemungkinan ini agak sulit sebab jika Cak Rus merujuknya pada apa yang terjadi di dalam bahasa Malaysia, kaidah pengadopsian, penyerapan, dan atau pembentukan istilah baru di dalam bahasa Indonesia tidak sama dengan bahasa Malaysia. Ingat, bahasa Indonesia yang “dikembangkan” Belanda lewat kebijakan kulturalnya yang berpusat di Batavia memang sedari mula didesain untuk berkembang berbeda dengan bahasa Melayu yang berpusat di tanah Melayu.[23]

Kasus yang diajukan oleh Cak Rus mengenai pembahasaindonesiaan “gadget” menjadi “gawai” dengan pemisalan kemungkinan gaya adopsi dan pembentukan istilah seperti yang terjadi di dalam bahasa Malaysia, Arab, dan Jepang untuk terbuka pada keberterimaan “gajet” di dalam istilah baku bahasa Indonesia sejatinya juga harus dilihat lebih teliti. Sekilas bahasa Malaysia jika dibandingkan dengan bahasa Indonesia memang lebih lentuk di dalam ‘menculik’ istilah atau kata dari bahasa Inggris.

Contoh-contoh yang diberikan Cak Rus di dalam status Facebook-nya itu memang ‘seakan bisa’ memberikan gambaran bagaimana bahasa Malaysia [baku] sangat lentuk. Benar bahwa kata-kata di dalam bahasa Inggris “towel” diserap menjadi “tuala,” “bag” jadi “beg,” “size” jadi “saiz,” “brag” jadi “borak,” “bicycle” jadi “basikal,” “cube” jadi “kiub,” “summons” jadi “saman.”

Preferensi Cak Rus untuk memilih “gajet” seakan mendapatkan justifikasinya pada beberapa contoh pembahasamalaysiaan beberapa istilah. Seakan benar jika contohnya hanya berhenti pada beberapa kata atau istilah yang ia berikan. Tetapi perlu juga dicermati kata atau istilah baku di dalam bahasa Malaysia yang merupakan usaha pemadanan dari sebuah kata atau istilah dari bahasa Inggris. Bahkan pada istilah “gadget”! Ya, janganlah heran bilamana istilah baku dari “gadget” di dalam bahasa Malaysia bukanlah “gajet” sebagaimana bayangan yang bisa muncul dari tulisan Cak Rus itu. Padan kata baku “gadget,” asal tahu saja dan jangan kaget, di dalam bahasa Malaysia adalah “alat” atau “alatan.”[24]

Demikian.

Buat Dee dan Tole Lanang  yang setia menemaniku menulis ini.

Endnotes

[1] Lihat mis. Holger Syme. “Shakespearean Mythbusting I: The Fantasy of the Unsurpassed Vocabulary” (2011)

[2] Lihat mis. A. Teeuw. Modern Indonesian Literature (1967) atau Tergantung pada Kata (1980)

[3] Bicara tingkah polah Koneksi Leiden di dalam pengindonesiaan Indonesia dari tradisi Melayu, bisa dirujuk kepada buku yang disunting oleh Willem Otterspeer, Leiden Oriental Connections 1850-1940 (1989).

[4] Pendukung politik etis

[5] Lihat dalam Michael Francis Laffan. Islamic Nationhood and Colonial Indonesia (2003).

Dari sumber lainnya:

Bahasa Melayu Riau-Lingga dipakai sebagai standar dari bahasa Melayu bisa disebut karena jasa Raja Ali Haji. Raja Ali Haji membuat buku tata bahasa Melayu yang dipakai Belanda (dan bangsa lainnya) dalam mempelajari bahasa Melayu. Kerajaan Riau-Lingga saat itu mempunyai pengaruh yang besar di wilayah nusantara. Oleh karena “tertata sistemis” itulah bahasa Melayu Riau-Lingga disebut sebagai bahasa Melayu Tinggi (cf. “Sejarah Kerajaan Riau-Lingga Kepulauan Riau,” Balai Pelestarian Nilai Budaya Tanjung Pinang).

Bahasa Melayu inilah yang tersebar ke seluruh “nusantara (makna nusantara di sini merujuk pada usulan Douwes Dekker dan bukan nusantara ala Majapahit)” dan mengalami kreolisasi dan variasi lainnya.

[6] Tod Jones. Culture, Power, and Authoritarianism in the Indonesian State (2013)

[7] Bahasan ini bisa dibaca di dalam buku Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja (1962).

[8] Kartini memang manjur menjadi tokoh yang dibutuhkan Belanda di dalam proyek pemajuan perempuan pribumi serta usaha pencibiran adat dan agama [Islam]. Namun di dalam perkembangannya Kartini sebelum meninggal justru menjadi seseorang yang lebih mendalami Islam (lihat di dalam Frances Gouda, Dutch Culture Overseas (2008).

[9] Menarik juga bagaimana diskursus Melayu dan Jawa di dalam munculnya kebangsaan Indonesia yang bermula dari Majapahit kemudian berterusan dengan persaingan Inggris di semenanjung Melayu dan Belanda di Batavia. Bahasa Melayu yang memang sudah menjadi lingua franca semenjak Sriwijaya lalu masih tetap kuat di jaman Majapahit (lihat mis. Riwanto Tirtosudarmo, “The Orang Melayu and Orang Jawa in the ‘Land below the Wind’” (2005)) berlanjut fungsinya di dalam kebijakan ethici Belanda tentu dengan pergeseran kemelayuan yang berpusat di semenanjung Melayu menjadi kebahasaindonesiaan yang berpusat di Jakarta (lihat mis. Ajip Rosidi, “Puisi Indonesia dalam Masa Duapuluhan”, Masalah Angkatan dan Periodisasi Sedjarah Sastra Indonesia (1970)).

[10] Syamsul Bahri sebagai pahlawan dan Datuk Maringgih sebagai penjahat.

[11] Lihatlah bagaimana Teeuw konsisten menyanjung Balai Pustaka (“The Impact of Balai Pustaka on Modern Indonesian Literature” (1972)) dan bermasabodoh terhadap karya-karya di luar Balai Pustaka yang memiliki pengaruh di dalam radikalisme para pemuda pra-Indonesia di dalam membayangkan keindonesiaan.

[12] Dalam Mulyo Sunyoto, “Modernisasi Bahasa Indonesia lewat Negara” (2009).

[13] Saya belum pandai mempraktikkannya

[14] George Orwell. “Politics and the English Language” (1968).

[15] Benedict Anderson. Imagined Communities  (1991)

[16] Reni Permatasari. “SBI dan Politik Bahasa Nasional” (2010)

[17] Tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa Inggris menjadi satu-satunya bahasa internasional yang bisa mengalahkan lima bahasa internasional lain (Arab, China, Perancis, Rusia, Spanyol) yang dipakai dan diakui oleh PBB. Tiga alasan sederhana mengapa bahasa Inggris “bisa mengalahkan” lima bahasa lain yang diakui oleh PBB yaitu: 1.) peran dominan Amerika Serikat —yang berbahasa Inggris— selepas Perang Dunia II di dalam politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan dunia menggantikan bahasa Perancis dan Jerman yang sebelumnya menggantikan bahasa Latin-Arab yang sebelumnya bahasa Yunani; 2.) Pendidikan Tinggi (Higher Education) yang masih terkait dengan poin nomer 1 menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dan ini juga diperkuat dengan kenyataan bagaimana pemerankingan disandarkan dan kolaborasi ilmiah terpaksa harus dilakukan dengan standar “kebahasainggrisan” dan bukan bahasa lainnya sehingga memperkuat titel bahasa Inggris sebagai bahasa utama ilmu pengetahuan; 3.) Perdagangan dunia di era dunia terhubung sehingga Barat dan Timur kian merapat menggunakan bahasa Inggris sebagai “bahasa utama perdagangan internasional” bahkan di negara-negara yang bahasanya diakui sebagai bahasa internasional.

Oleh sebab itulah sangat kurang titis apabila Sumanto al Qurtuby, yang justru seorang akademisi antropologi, membuat status di sebuah media sosial bahwa orang-orang Arab di dalam praktiknya kini seakan terlihat menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa satu-satunya yang layak dikejar sedangkan bahasa Arab [tinggi] sepi gairah dipelajari. Analisis Sumanto bisa dijelaskan secara sederhana lewat tiga hal tersebut di atas. Bahasa Arab tinggi kurang begitu menimbulkan gairah untuk dipelajari karena bahasa model ini hanya dipakai di dalam skriptur, teks kuno, dan sastra. Berbeda dengan bahasa Arab pasaran yang dipakai oleh orang Arab di dalam aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, wajarlah jika orang-orang Arab tidak begitu bersemangat mempelajarinya kecuali mereka sedang memperdalam agama, belajar teks kuno, atau tertarik dengan sastra.

Juga bagian dari klaimnya bahwa kefasihan berbahasainggrisnya orang Arab akan membuat dirinya lebih bermartabat dibandingkan dengan mereka yang fasih di dalam bahasa Arab tinggi —bahasa yang tidak dipakai sehari-hari berlawanan dengan bahasa Arab pasaran— juga bisa dijawab dengan poin nomer dua. Bahwa di belahan dunia manapun, penguasaan bahasa Inggris pada diri seseorang yang bukan dari negara berbahasa Inggris dianggap sebagai kelebihan di dalam akses ilmu pengetahuan [dunia] dan seringkali disepadankan dengan status bahwa yang bersangkutan memiliki status sosial yang di atas rata-rata; baik karena kebisaan berbahasainggrisnya maupun karena asumsi umum bahwa penguasaan bahasa Inggris terdapati pada mereka yang berstatus sosial tinggi.

Dinamika penempatan bahasa Inggris yang kian dominan di berbagai sektor tidak hanya terjadi di dunia Arab sebagaimana tonjok tendensius antropolog Indonesia yang bekerja di salah satu negara Arab namun terlalu rajin membuat status di media sosial yang mengkritisi negara-negara Arab. Jika ia hendak fair, cabang keilmuan yang dikuasainya akan memudahkan dirinya untuk membandingkan apa yang terjadi di dunia Arab dengan misalnya —satu contoh saja— pada apa yang terjadi dengan bahasa Perancis dengan sejarahnya yang dulu pernah gagah di berbagai bidang di dunia internasional. Dan kisah bahasa Inggris di negara-negara Arab, ambil contoh Qatar sebagaimana disinggung oleh antropolog Indonesia itu, sejatinya bisa dijelaskan dengan tiga poin yang sudah tersebut di atas dan gairah pemerintah Qatar di dalam akselerasi kebutuhan keduniawian mereka tanpa mereka melupakan bahwa bahasa Arab tetaplah penting sebagai bahasa utama dan penanda identitas mereka.

Keterpaksaan untuk berintegrasi dalam komunitas global yang mengkondisikan bahasa Inggris kini sebagai bahasa utamalah yang membuat banyak negara dan persona yang berkecimpung di pergaulan internasional untuk bisa berbahasa Inggris. Walaupun demikian, bersamaan dengan pelan namun pastinya kekuatan ekonomi dunia bergeser ke Cina maka tidaklah mengherankan jikasanya Amerika Serikat, Australia, dan Inggris justru menggalakkan pembelajaran bahasa Cina.

Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, menargetkan pada tahun 2020 sekitar satu juta warga Amerika Serikat sudah bisa berbahasa Cina lewat program The One Million Strong Initiative. Bahkan Obama selama kurun waktu empat tahun menargetkan 100.000 orang pelajar untuk belajar bahasa dan budaya Cina secara langsung di Cina.

Pengaruh ekonomi Cina yang kian kuat juga membuat munculnya usulan bagi pemerintah Australia untuk memaksa diri merubah kurikulum pendidikan supaya dapat mengakomodasi pembelajaran bahasa dan budaya Cina.

David Cameron, Perdana Menteri Inggris, malah menganjurkan agar para pelajar untuk belajar bahasa Mandarin (Cina) sembari mengatakan bahwa bahasa Mandarin adalah bahasa yang jadi “kunci keberhasilan perjanjian bisnis di masa depan.” Menteri Pendidikan Inggris, Elizabeth Truss, juga memproyeksikan bahwa pada tahun 2020 jumlah tenaga pengajar dan pelajar bahasa Mandarin di Inggris sudah meningkat pesat lewat kebijakan pemerintah. Yang unik dari pembelajaran bahasa di Inggris adalah ada perbedaan penekanan pembelajaran bahasa yang diingini pemerintah dengan yang diminati warga untuk dipelajari. British Council —sebuah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan— melihat tren berdasar data dan minat warga Inggris justru menempatkan bahasa Spanyol dan Arab sebagai bahasa asing yang dipelajari warga dibanding bahasa Perancis dan Mandarin zonder kebijakan pemerintah atas urgensi pembelajaran bahasa Mandarin.

Dari paparan di atas, kegalauan yang dimiliki oleh Sumanto al Qurtuby dan ia tularkan kepada banyak orang mengenai motivasi belajar bahasa khususnya bahasa Arab [tinggi] harus dilihat dari motifnya. Orang Arab bersemangat belajar bahasa Inggris karena kebutuhan komunikasi perdagangan internasional kekinian memaksa mereka untuk belajar bahasa Inggris. Bisa jadi kelak mereka akan memaksa diri belajar bahasa Mandarin, dengan alasan serupa, demi kelancaran di dalam aktivitas perdagangan internasional sebagaimana Amerika Serikat, Australia, dan Inggris menempatkan bahasa Mandarin sebagai bahasa yang mulai dianggap penting di dalam konteks perdagangan internasional terkait dengan mulai kuatnya Cina di dalam perdagangan internasional. Fenomena ini sangat tidak tepat jika disebut misalnya orang Arab sudah mulai keinggris-inggrisan sebagaimana juga tidak tepat dikatakan bahwa orang Amerika Serikat sudah mulai kecina-cinaan.

Bicara tentang alasan dan perjuangan warga Saudi Arabia belajar bahasa Inggris, sebuah paper yang ditulis oleh Radhika Jaidev dengan judul “Investing in Learning English” bisa memberi gambaran dan jawaban atas kegalauan Sumanto al Qurtuby. Sebagai tambahan informasi, King Abdullah Scholarship Program yang menyasar pemuda potensial untuk belajar di negara-negara berbahasa Inggris sebagai bentuk investasi pemerintah di bidang sumber daya manusia memang menunjukkan bahwa bagi pemerintah Arab Saudi bahasa Inggris merupakan bahasa nomor dua untuk dikuasai oleh generasi muda mereka. Begitu juga misalnya kita berbicara mengenai Qatar, lanskap demografis ketenagakerjaan negara itu yang didominasi oleh tenaga kerja dari India dan Pakistan serta kian kuatnya hubungan dan perdagangan internasional dengan negara-negara berbahasa Inggris bisa memberikan alasan mengapa bahasa Inggris menjadi bahasa yang diminati untuk dipelajari. Kisah bahasa Inggris di negara Arab lainnya seperti Kuwait bisa dibaca lewat disertasi doktoral Reem Al-Rubaie di Universitas Exeter dengan judul “Future Teachers, Future Perspectives The Story of English in Kuwait.” Di dalam disertasi itu, peran globalisasi yang membuat bahasa Inggris menjadi bahasa yang penting di kawasan Arab membuat pembelajaran bahasa Inggris menjadi niscaya.

Lalu bagaimanakah melihat fenomena ekspansi brand-brand, hotel, dan supermarket internasional di negara-negara (baca: pasar) Arab maka sejatinya ini adalah fenomena biasa. Kita semua sepakat bahwa kebanyakan negara-negara Arab adalah negara yang makmur. Kemakmuran ini berimbas kepada keinginan beberapa brand dan perusahaan internasional untuk “berdagang” dan tentu harus beradaptasi dengan pasar dan juga bertahan —dan nampaknya berhasil— dari adanya gerakan anti brand dari Barat. Tidaklah mengherankan bila brand-brand dan perusahaan-perusahaan internasional berlomba-lomba masuk ke pasar menggiurkan ini. Tidak hanya di bidang perdagangan barang dan jasa, bahkan bisnis infrastruktur juga dilakoni oleh perusahaan-perusahaan asing (mis. Inggris) dan negara-negara sesama kawasan Arab. Perdagangan internasional tidak bisa dielakkan oleh setiap negara untuk mencukupi kebutuhan domestiknya dan memperoleh pendapatan demi kemakmuran negara dan rakyat. Ini merupakan sesuatu yang lumrah.

Di sisi lain, milyader-milyader Arab juga berdagang dan aktif berinvestasi di negara-negara Barat. Kita misalnya tahu bagaimana Qatar getol berinvestasi di Amerika Serikat dan dengan angka investasi yang sangat besar. Kita juga paham bagaimana investasi antara Amerika Serikat dan Arab Saudi juga saling terjadi. Kita juga tahu bahwa perusahaan minyak asal Arab Saudi, Saudi Aramco, tidak alergi berinvestasi di Cina. Sebagaimana bukan hal yang aneh jika negara-negara Arab berinvestasi sangat besar di bidang pangan, agrikultura, dan infrastruktur di Australia. Perdagangan dan investasi antarnegara memang terjadi dan tidak bisa dihindarkan bahkan pada negara yang berseberangan ideologinya atau bahkan sedang “saling berperang.”

Lalu bagaimanakah dengan konsumerisme yang kini melanda dunia Arab? Satu hal yang pasti, tanpa melihat bangsa, manusia punya kecenderungan terjangkit konsumerisme ketika kondisi ekonomi berkelimpahan dan lingkungan sekitarnya memberikan tawaran dan godaan tiada henti. Benar bahwa konsumerisme, sebagai dampak kemakmuran ekonomi beberapa negara Arab dan ekspansi “pedagang-pedanga” dari luar yang melihat potensi pasar yang bisa digarap, sudah lama merebak di dunia Arab. Ada riset yang menunjuk ini akibat bujuk rayu e-marketing yang agresif dan pengaruh media massa yang sudah sedikit longgar dibandingkan tahun-tahun yang dulu di dalam mempersuasi konsumen di pasar Arab. Di dalam riset yang lain juga dinyatakan bahwa konsumerisme di negara Arab —dalam riset ini Arab Saudi— bisa dijelaskan dalam kacamata yang kompleks berkenaan dengan keterkaitan antara faktor global dan lokal. Meskipun demikian, bunyi kesimpulan riset sosial dan dinamika temuan sosial selalu terbuka untuk didebat tergantung dari angle mana sebuah fenomena hendak diteropong dan dijelaskan.

Banyak orang yang melupakan bahwa konsumerisme bisa terjadi pada siapa saja, bangsa apa saja, dan tidak eksklusif dengan keyakinan [atau perubahan keyakinan] tertentu. Hal lain yang juga harus dipahami bahwa konsumerisme merupakan dampak dari globalisasi dan ekspansi yang nggegirisi dari perusahaan multinasional dan ia tidak mengenal Barat atau Timur. Pelabelan konsumerisme dengan “hidup kebarat-baratan” adalah hal yang kurang pas dalam konteks dunia menjadi satu desa yang saling terhubung. Baik masyarakat Barat maupun Timur, bersamaan dengan kondisi yang memungkinkan bagi perusahaan multinasional untuk menancapkan kakinya dan bujuk rayunya maka konsumerisme bisa muncul sebagaimana Steven Miles lewat Consumerism: As A Way of Life (1998) bisa bicara panjang lebar tentangnya. Termasuk di manakah konsumerisme pertama bermula dan bagaimanakah keadaan masyarakat yang memulakannya saat itu; revolusi industri dan perubahan perilaku konsumen sebagai imbasnya pada abad 18 di Inggris.

[18] Poin ini juga menjawab urgensi setiap muslim untuk paling tidak ada niat di dalam hati untuk paling tidak menyanjung atau lebih mantap lagi untuk belajar bahasa Arab. Penyanjungan pada bahasa Arab bagi muslim adalah sesuatu yang wajar karena bahasa identitas persatuan, bahasa yang dipakai di dalam peribadatan, dan bahasa skriptur yang dipilih Tuhan —sebagaimana keyakinan muslim— adalah bahasa Arab dan bukan bahasa lainnya. Sedikit berbeda namun sedikit relevan dengan pembicaraan bahasa dan agama, kita bisa memahami bagaimana bahasa Latin dan Yunani begitu sentral di dalam teologi Kristen meskipun keduanya tidak secara praktis dipakai oleh umat Kristen awam. Bahasa Yunani penting karena skriptur Bible tertua yang didapati bukan di dalam bahasa Aramaik sebagaimana bahasanya Yesus (a.s.) namun berbahasa Yunani. Bahasa Latin menjadi penting di dalam studi teologi Kristen karena terjemahan dan penafsiran Bible secara masif dilakukan oleh teolog-teolog Kristen awal di dalam bahasa Latin. Baru kemudian kalau hendak melangkah lebih dalam, bahasa Aramaik menjadi penting untuk dipelajari dan dirujuk berkenaan dengan studi Talmudik dan sejarah ke belakang dari masa pra-Yesus (a.s.).

[19] Pembelajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah di Indonesia masuk dalam kategori ini.

[20] Kisah pembelajaran bahasa Aborigin di sekolah-sekolah Australia adalah sebuah contoh bagaimana perjalanan panjang indegenous Australia menuntut haknya. Di tengah deru dominasi bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam hampir semua aspek keseharian dan terlalu lamanya pemarjinalan bahasa Aborigin dan berkurangnya nilai praktis penguasaannya bahkan pembelajaran bahasa Aborigin di sekolah-sekolah akan tak mudah membendung laju kepunahannya (bdk. Jane Simpson, “Indegenous languages won’t survive if kids are learning only English” (2014)) bahkan ketika ada pandangan dan harapan positif tentangnya.

Kasus yang bisa dijadikan teladan dari perubahan bahasa utama sebuah negara lewat kebijakan yang diniatkan di dalam penjagaan kohesi bangsa adalah Singapura. Meskipun bahasa nasional Singapura adalah Melayu namun dalam perkembangannya, bahasa Inggris kini dapat dikatakan menjadi bahasa utama karena kebijakan dan visi Lee Kuan Yew atas Singapura (lihat mis. Yunita Ong. “Lee Kuan Yew’s Legacy for Singapore: A Language Policy for A Globalized World” (2015)).

[21] Kisah bahasa Inuktut di Kanada dapat dijadikan rujukan mengapa standardisasi menjadi esensial (cf. Jeela Palluq-Cloutier, “The need for standardization” (2012)). Sebuah kumpulan makalah mengenai standardisasi bahasa nasional yang dipresentasikan di sebuah simposium yang diadakan oleh kerjasama Universitas Hamburg dan Unesco yang berjudul Standardization of National Languages (1991, eds. Utta von Gleich dan Ekkehard Wolff) adalah rujukan yang lebih memadai mengenai isu ini.

[22] Maafkan gado-gado bahasa dan ketidakbakuan di dalam tulisan ini

[23] Lihatlah bagaimana persatuan guru bahasa Melayu protes di tahun 1933 mengenai “rusaknya” bahasa dan tradisi sastra Melayu karena Pujangga Baru, sebuah jurnal sastra tahun 1930-an yang dikelola eksponen Balai Pustaka, memasukkan beberapa istilah-istilah baru dan abai pada istilah-istilah yang sudah ada di dalam bahasa Melayu (Hans Bague Jassin, Pujangga Baru: Prosa dan Puisi, (1987:8-9)).

[24] Bentuk “gawai” di dalam bahasa Indonesia yang aslinya pada entri kedua KBBI berarti “alat” yang Cak Rus anggap bisa merancukan dengan “gawai” yang berarti “pegawai” sebenarnya bisa disejajarkan dengan istilah di dalam bahasa Inggris yang pengindonesiaannya adalah “perangkat” yang kerap dipakai di dalam istilah “perangkat desa.” Tentu saja bisa saja pendapat ini ditolak karena “perangkat” mempunyai arti tunggal sebagai “alat kelengkapan” dan “perangkat desa” tidak mengandung kerancuan. Akan tetapi, “gawai” yang diputuskan sebagai istilah baku dari “gadget” semisal dianggap berpotensi rancu dengan “gawai” yang merujuk “pegawai” tetap memiliki pijakan di dalam bahasa sebagai fenomena adanya homonim.

Beberapa contoh pembanding bagaimana istilah-istilah di dalam bahasa Inggris dibahasamalaysiakan dan dibahasaindonesiakan adalah sebagai berikut: “keyboard” menjadi “papan kekunci” (MAS) dan “papan ketik” (INA); “mouse” menjadi “tetikus” (MAS, INA); “code” menjadi “kod” (MAS) dan “kode” (INA); “device” menjadi “peranti” (MAS) dan “perangkat” (INA); “software” menjadi “perisian” (MAS) dan “perangkat lunak” (INA); “hardware” menjadi “perkakasan” (MAS) dan “perangkat keras” (INA); “web browser” menjadi “pelayar web” (MAS) dan “peramban web” atau “penjelajah web” (INA); “search engine” menjadi “enjin gelintar” (MAS) dan “mesin pencari” (INA); “e-mail” menjadi “e-mel” atau “surat elektronik” atau “mel elektronik” (MAS) dan “surat elektronik” atau “surel” (INA); “update” menjadi “pengemaskinian” (MAS) dan “pembaruan” (INA); “timeline” menjadi “garis masa” (MAS) dan “linimasa” (INA); “tweet” menjadi “ciak” atau “ciap” (MAS) dan “kicau” atau bisa dimungkinkan pemakaian “oceh” (INA); “mention” menjadi “sebut” (MAS, INA); “thread” menjadi “urutan” (MAS) dan “utas” (INA); “link” menjadi “pautan” (MAS) dan “tautan” (INA). Contoh-contoh pembanding tersebut hendak menunjukkan bahwa bahasa Malaysia sebagaimana bahasa Indonesia, lepas dari persepsi kita mengenai kelentukkannya, sebenarnya lumayan pelik juga di dalam memasukkan atau mencari padanan sebuah istilah dari bahasa asing.

Perhatikan juga bagaimana bahasa Indonesia bisa memasukkan “boulevard” menjadi “bulevar” yang disepadankan dengan “adimarga” sementara bahasa Malaysia memilih bentuk hanya “lebuh hias.” Baik bahasa Indonesia dengan bahasa Malaysia sama-sama memakai bentuk “fail” sebagai padanan istilah bahasa Inggris “file” berdasarkan cara pembunyian kata “file” dalam bahasa Inggris namun berbeda mengadopsi “station,” “stesen” (MAS) dan “stasiun” (INA). Untuk istilah “download” dan “upload,” bahasa Indonesia justru memilih “unduh” dan “unggah” sementara bahasa Malaysia memilih “muat turun” dan “muat naik.” Beda pula dengan istilah dalam bahasa Inggris untuk “online” yang mendapatkan padanan di dalam bahasa Indonesia dengan “dalam jaringan” yang kemudian bersingkatan menjadi kata baru “da(lam-ja)ring(an)” atau “daring” sementara bahasa Malaysia menggunakan “dalam talian.” Bentuk “daring” sebagai kata baru yang merupakan pemendekan dari bentuk awal “dalam jaringan” mendapatkan contohnya dari bentuk-bentuk sebelumnya di dalam bahasa Indonesia semisal “(pelu)ru (ken)dal(i)” dan “ga(bungan anak) li(ar).”

Berkenaan dengan istilah dari bahasa Inggris yang merupakan gabungan dari dua kata seperti “real estate,” bahasa Indonesia memilih “realestat” dan bukan “real estat” sebagaimana bentuk “kudeta” dan “prodeo” yang diambil dari istilah bahasa Perancis dan Latin “coup d’etat” dan “pro Deo.” Istilah “kudeta” memiliki arti yang sama dengan istilah asalnya sedangkan “prodeo” meluas maknanya jika dibandingkan dari makna istilah asalnya menjadi bukan hanya “karena Tuhan atau untuk Tuhan” namun juga “gratis; cuma-cuma.” Untuk “realestat,” bahasa Indonesia juga memiliki padanan lain “layan yasan” sementara bahasa Malaysia hanya mengenal “harta tanah.” Sementara untuk istilah “developer” (ENG), bahasa Indonesia memiliki padanan “pengembang” sedangkan bahasa Malaysia menggunakan “pemaju.”

Languange and Beingness

Menarik memang ketika berbicara tentang bahasa. Saya tersulut lagi untuk mengupas tentang bahasa oleh suatu hal yang terjadi pagi ini. Pagi ini, ketika saya mencari obat sakit kepala di warung langganan, saya terperangah dengan celetukan seorang tua ber-etnis Jawa.

Ia berkata, kurang lebih, seperti ini: “Jangan ajari anakmu bahasa Indonesia nanti bisa-bisa anakmu tidak bisa menunduk[i]”. Seketika itu pula sebagaimana di dalam kisah-kisah Zen yang banyak menceritakan “pencerahan mendadak”[ii] atau sebagaimana Umar r.a.[iii] memeluk Islam karena sentilan pendek: “bagaimana jika kebenaran ternyata ada bukan di apa yang kamu yakini?”[iv] Ya, saya tersentil dengan kalimat seorang tua ber-etnis Jawa itu!

Bahasa memang membentuk realitas. Realitas tidak mungkin berada di luar bahasa.[v]Yang saya maksudkan realitas adalah bukan material yang terpetakan oleh indera normal kita namun adalah “persepsi kita akan realitas yang bersama kita”. Oleh sebab itulah dapatlah saya katakan bahwa beingness adalah selalu being with others[vi] yet situated by languange. Tidaklah mungkin I menjadi being kecuali tersituasikan oleh others dan bahasa.

Why Learn a Language (credit: uncp.edu)

Why Learn a Language (credit: uncp.edu)

Mengapa bisa demikian dan apa kaitannya dengan celoteh mencerahkan dari seorang tua yang saya temui di warung? Ilustrasi-nya adalah sebagai berikut[vii]: Jika seseorang dunianya dibentuk oleh bahasa Indonesia yang dipuji karena egality-nya maka perspektif I, Me,[viii] dan Others-nya akan datar. Ini niscaya berbeda jika seseorang dididik oleh bahasa Jawa yang memiliki unggah-ungguh.[ix]

Maksudnya? Ingat bahwa ada permainan unik antara self dengan kasunyatan. Masih ingatkah bagaimana saya pernah mengutip Mario Pei mengenai istilah salju yang banyak luar biasa oleh suku eskimo? Dan tahukah bahwa orang Jawa punya istilah aking, sega, beras, gabah dan bukan hanya rice saja? Mereka yang berkompetensi[x] bahasa Jawa akan bisa melihat “dirinya yang bersama dengan sekelilingnya” dengan seperangkat set rujukan yang berbeda. Pada contoh “menunduk kepada yang lebih tua” kompetensi rujukan bahwa Me harus merespon hadirnya others yang lebih tua dengan unggah-ungguh bahasa hanya dan hanya bisa terjadi pada mereka yang dididik bahasa Jawa. Pemaham dan pemakai bahasa Jawa akan melihat orang yang lebih tua dengan cara yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang berbahasa Indonesia: ada rasa penghormatan, takzim, respecting and honouring.

Isu di dalam tulisan ini bisa melebar makin jauh kepada bagaimana seseorang melihat dunia. Potensi perbedaan mengkonstruk kasunyatan oleh setiap orang niscaya muncul ketika disadari bahwa frame of references personal adalah berbeda. Menarik bukan?

Creative Commons License
Languange and Beingness by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.


[i] Menunduk = berperilaku sopan

[iii] Salah satu sahabat Muhammad saw. Khalifah kedua selepas Abu Bakar r.a. di dalam sejarah Islam.

[v] Di dalam ucapan Derrida:

“all those boundaries that form the running border of what used to be called a text, of what we once thought this word could identify, i.e. the supposed end and beginning of a work, the unity of a corpus, the title, the margins, the signatures, the referential realm outside the frame, and so forth. What has happened … is a sort of overrun that spoils all these boundaries and divisions and forces us to extend the accredited concept, the dominant notion of a ‘text’ … that is no longer a finished corpus of writing, some content enclosed in a  book or its margins, but a differential network, a fabric of traces referring endlessly to something other than itself, to other differential traces”. (Derrida, Living On/Borderlines, hlm. 81; 83-84).

“An ‘internal’ reading will always be insufficient. And moreover impossible. Question of context, as everyone knows, there is nothing but context, and therefore: there is no outside-the-text” (Derrida, Biodegradables, hlm. 873).

[vi] Istilah being with others sebenarnya merujuk kepada pemikiran Martin Heidegger. Others tidak merujuk kepada human saja namun semua yang di sekeliling I.

[vii] Tulisan ini bukan provokasi pembenturan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Jawa. Dalam konteks tulisan ini, rujukan prolog adalah kepada konsep Hermeneutics Circle oleh Hans-Georg Gadamer. http://plato.stanford.edu/entries/hermeneutics/

[viii] Untuk terminologi I dan Me silakan baca teori George Herbert Mead.

[ix] dididik oleh dan bukan dididik dengan karena alasan yang akan terjelaskan di paragraf-paragraf  selanjutnya. Bahasa itu mengajari dan mengatur konstruk realitas.

[x] Menarik juga untuk merujuk kepada istilah Chomsky: competence vs. performance. Akan tetapi di dalam konteks tulisan ini, isu-nya menjadi bagaimana konstruksi persepsi realitas (performance) yang didasari seperangkat atribut di luar dirinya namun menjadi rujukan self (competence) berlaku.

The Use of Some Pronouns in Bahasa

If we compare pronouns in Bahasa and English, we will find some differences.  The first difference is that in Bahasa, pronouns are used with considering the context of politeness while English doesn’t have this rule. In Bahasa, the context of politeness is important. Violating the context of usage will cause a blasphemy. We can see in the use of these pronouns:

Ka(m)u – Engkau – Anda – Bapak – Ibu – Saudara – Saudari

In English, those pronouns have no such issue. However in Bahasa, you will see that the use of those pronouns is quite difficult. I will give examples. Let me give you two sentences in English:

(i) You are kind  –> We address “you” in this sentence as:

  • the 2nd person singular
  • older than us and or higher rank than us

(ii) You are kind  –> We address “you” in this sentence as:

  • the 2nd person singular
  • as equal as us and or lower than us

Those two sentences are correct and do not have politeness issue in English. In Bahasa, the sentences will be different. Let’s see those sentences in Bahasa.

The First Sentence (i)

The context:

“You” is used to address to an addressee who is:

  • older than us and or higher rank than us
  • the 2nd person singular

The sentence itself can be translated as, (and some notes I add to explain the issue we are discussing here):

  • Ka(m)u baik or Engkau baik –> these sentences are total blasphemies to be given to the addressee.
  • Anda baik –> this sentence is a total blasphemy to the addressee. We cannot use this sentence because this pronoun “anda” is only used in the context where the addressee is equal and or younger than us. It is also used when the addressee has lower rank than ours. Which one comes first; age or rank? Rank comes first before age.
  • Bapak baik –> the polite form to be given to an older or higher rank man. We can use this pronoun “bapak”  to give praise to a man at higher rank or older age.
  • Ibu baik –> the polite form to be given to an older or higher rank woman. We can use this pronoun “ibu”  to give praise to a woman at higher rank or older age.
  • Saudara baik or Saudari baik –> “saudara” is to address a man, while “saudari” is used to address a woman. We cannot use these pronouns, saudara or saudari, to address people older than us and or at higher ranks.

The Second Sentence (ii)

The context:

“You” is used to address to an addressee who is:

  • as equal as us and or lower than  us; rank or age.
  • the 2nd person singular

  • Ka(m)u baik  or Engkau baik –> these sentences are correct to be given to the addressee.
  • Anda baik –> this sentence is the most polite form to be given to the same addressee.
  • Bapak baik –> We can use this pronoun “bapak”  to respect to a man who is older than us  and or a married man though he has lower rank. But we cannot use it to a lower rank man who is younger and or unmarried. If we do that, It’ll sound funny.
  • Ibu baik –> We can use this pronoun “ibu”  to respect to a woman who is older than us  and or a married woman though she has lower rank. But we cannot use it to a lower rank woman who is younger and or unmarried. If we do that, It’ll sound funny.
  • Saudara baik or Saudari baik –> “saudara” is to address a man, while “saudari” is used to address a woman. We cannot use these pronouns, saudara or saudari, to address people older than us. In the context of formal letter, these two pronouns may be used to younger or lower ranker. Another context in which these pronouns may be used freely without any age or rank consideration is when they are used in the law or legal context. However, the use of “bapak or “ibu” in the context of business letter, formal letter, and job application letter to respect others is preferable to “saudara” or “saudari”.

The second difference between English and Bahasa is the pronouns to address the 2nd person plural. In English, we have only “we” to address both:

  1. the listener is included, or
  2. the listener is exclude

while in Bahasa, we have to determine which context is fit. In Bahasa we have two pronouns which have the same meaning with “we” in English. They are “kita” and “kami”.

If the listener is included, we use “kita”.

If the listener isn’t included, we use “kami”.

When we talk about daily usage of Bahasa, we sometimes hear some Indonesian people don’t differentiate the use between “kita” dan “kami”. However, it is now acceptable but in academic Bahasa.

In  addition, “kita” and “kami” in Bahasa, as used in English, may indicate 1st person plural. It happens when someone speaks as a representation of an institution, a group, a country, or a nation.

The third difference is that English has only “I” to address 1st person singular, while Bahasa has “saya” and “aku”.

In the context of politeness, Indonesian will use “saya” not “aku”. It happens also in the context of formal situation. Indonesian use “aku” to address 1st person singular only when they talk to people at the same age and or rank. “Aku” is also used to younger or lower rank.

Creative Commons License
The Use of Some Pronouns in Bahasa by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.