Menakar Baiknya, Buruknya Negara Ita-Itu

Suatu ketika dalam pengajiannya Buya Hamka ditanya oleh seorang muridnya, “Saya pernah pergi haji ke Mekkah, ternyata disana ada pelacur. Saya heran, bagaimana mungkin di Mekkah yang suci ada pelacur.”

Lalu apa jawab Buya Hamka? Dengan kalemnya ia berkata, “Saya pernah beberapa kali berkunjung ke California. Tetapi disana saya tidak menemui satu pelacur pun”.[1]

Di manapun juga, kita bisa menemui apapun sebagaimana kita ingin mencarinya.

Begitu pula terjadi pada seorang Profesor bidang antropologi asal Indonesia yang giat sekali mengisi linimasa akun media sosialnya dengan status mengenai negara-negara Arab dan dekadensi moral yang terjadi di sana. Beberapa kali, tokoh kita, Profesor itu, mengabarkan kepada jamaahnya betapa banyaknya fenomena “korup, rusak, menyimpang” di negara-negara Arab yang ia kunjungi dan atau ia tempati.

Kisah yang dituturkannya, beberapa poin mirip dengan cerita yang diumbar oleh dosen perempuan feminis yang terkenal mendapat dana sangat besar dari F*** Foundation dan A*** Foundation di dalam membuat semacam draft [reformasi] hukum Islam. Ibu dosen Doktor ini masyhur dengan umbar ceritanya mengenai kejadian yang ia jumpai di negara Arab.

Bagi sebagian orang, mereka berdua tidaklah bisa “disebut salah”[2] karena mereka menyampaikan apa yang benar-benar mereka temukan. Namun bagi sebagian yang lain, mereka berdua ini bermasalah sebab umbar kisah mengenai perilaku “korup, rusak, menyimpang” pada orang-orang Arab terbingkai pada kerangka kampanye yang menjurus:

  1. Penampilan imaji hipokrit pada SELURUH orang-orang Arab dan atau negara-negara Arab. Selanjutnya kita jadi “merendahkan” SEMUA yang “Arab” karena teracuni imaji keliru bahwa mereka hipokrit SEMUA
  2. Sebuah argumen bahwa jika yang di Arab saja pada begitu menjadi absurd bagi kita untuk mencontoh mereka. Beragama jika mengikuti orang-orang, ulama, negara Arab maka sebetulnya culun karena di Arab saja SEMUANYA di sana hanyalah hipokrit. Dus, kita “di sini” baiknya bikin sesuatu yang HARUS beda dengan yang di sana.

Sekali lagi, tidaklah yang mereka umbar di media sosial maupun forum-forum publik itu tidak benar kecuali kenyataannya memang demikian. Tapi menceritakan sesuatu yang benar pun juga harus ditelisik motifnya.

Kalau sudah menyangkut motif, motif memang sesuatu yang ada di benak dan tersimpan di hati. Tidak pantas buat seseorang menerkanya. Akan tetapi, seseorang bisa diduga memiliki motif tertentu jika dicermati kebiasaannya, sepak terjangnya, dan afiliasinya. Dari situlah bisa dibaca arah pembicaraannya. Dari situlah bisa diraba frame pikirannya.

Oleh sebab itulah mereka yang hendak mencari keburukan di tanah suci-pun, akan bisa menemukannya sebagaimana kisah masyhur dari Hamka tadi. Sebagaimana jika seseorang tidak berniat mencari keburukan di negeri Amerika Serikat, maka ia tidak akan menemukannya. Kalaupun ia menemukannya, ia tidak akan “fokus” mengoreknya dan berterusan mengumbarnya. Misal saja ia menemukan yang buruk di tanah Amerika Serikat pun,[3] karena niat awalnya memang tidak berusaha mencari yang buruk di sana, tidak berniat bertandang ke Amerika Serikat kecuali sebagai pelancong berhati selamat yang bila menemukan “keburukan” di sana maka ia hanya melihatnya sebagai “kebetulan ada oknum.”

Hal senada bisa ditemui di dalam status-status Facebookku mengenai Australia.

Tidak semua hal mengenai negeri kafir ini, eit jangan sensi dengan K-word,[4] oke deh, saya gunakan non-Word. Tidak semua hal mengenai negeri [yang mayoritasnya] non-muslim ini buruk. Banyak hal-hal baik yang bisa kita contoh. Keteraturannya, kebersihannya, kemodernan infrastrukturnya memang memukau.

Ambil contoh bidang pendidikan. Pendidikan di Australia memang baik, khususnya pendidikan tinggi, meskipun pendidikan rendahnya selama lima tahun terakhir ini kalah dengan beberapa negara Asia semisal Singapura, Korea Selatan, dan Hongkong.[5] Di Australia juga ada korupsi yang terjadi di dunia pendidikan.[6] Belum lagi ada beberapa problem yang menggelayuti sistem pendidikan di Australia.[7] Tapi secara umum memang pendidikannya lebih baik JIKA HANYA dibandingkan dengan Indonesia. Masalah banding-membandingkan, menakar satu negara dengan negara lainnya, model tebang pilih bandingan bisa membuat suatu negara bisa lebih hebat dibandingkan dengan negara lain. Tinggal apa dulu yang “sengaja dipilih untuk dibandingkan,” “tinggal negara mana dulu yang sengaja dipilih untuk dijadikan pembanding.”

Jika misalnya ada orang berargumen bahwa negeri Australia ini demokratis banget, kalau mau ambil semua kasus, ya ndak begitu banget. Isu Palestina di sini adalah isu sensitif. Meskipun demo pro-Palestina diperbolehkan namun pada beberapa kasus, aktivitas yang mendukung keadilan untuk Palestina dan menyuarakan BDS untuk Israel oleh beberapa orang bisa disembur dengan gerakan rasis antisemit[8]dan suara mayoritas di dalam politik Australia adalah pro-Israel.[9][10]

Australia memang multikultural. Itu benar. Tetapi mereka punya masalah dengan kisah pilu Aborigin HINGGA sekarang meski keadaan sudah sangat mendingan semenjak minta maaf nasional.[11]

Kejadian perijinan pendirian masjid, tempat ibadah minoritas, atau Islamic Center di Australia tidak selalu mulus. Ada beberapa yang memang keusilan komunitas muslim yang abai pada peraturan yang berlaku mengenai pendirian ini dan itu dan berharap dengan rengekan MINORITAS dapat membuat peraturan boleh dilanggar. Namun ada juga yang terganjal karena penolakan warga akan berdirinya masjid serupa di Bendigo beberapa saat yang lalu.[12]

Melbourne[13] yang didaulat beruntun lebih dari 5 tahun berturut-turut sebagai the most liveable city in the world[14] pun kalau mau dicari “tidak liveable“-nya juga bisa. Saya kasih beberapa contoh. Kejadian kekerasan terhadap hijaber, satu dua kali pernah terjadi baru saja di dekat perpustakaan negara bagian Victoria[15] sebagaimana di beberapa negara bagian lain di seluruh Australia terjadi hal yang serupa.[16] Penjambretan terhadap perempuan di ruas jalan tertentu juga ada.[17] Bahkan penjabretan terhadap orang cacat juga terjadi.[18] Tindak pelecehan terhadap perempuan yang berjoging ria pun juga pernah terjadi secara maraton.[19]

Bahkan isu geng motor yang bikin onar juga ada. Tawuran? Jangan kaget. Ini juga ada. Bahkan yang terbaru malah terjadi pekan kemarin dan kepolisian kewalahan menanganinya.[20] Ada kok di kanal berita Australia. Bahkan geng motor yang urakan dan brutal juga ada.[21]

Mau apa lagi? Vandalisme? Di Melbourne juga ada. Coba jikalau Anda sempat main ke Melbourne dan memakai public transport, perhatikanlah kaca bus shelter (halte bus) dan kaca-kaca di dalam bus atau kereta. Ada goretan (gores coretan) dengan koin oleh tangan-tangan usil bahkan kadang juga ada cat semprot usil mengotorinya. Di beberapa suburb, perusakan terhadap parking machine juga barusan terjadi; dan kejadian ini sering terjadi. Bahkan kalau masalah biaya hidup, kota Melbourne menempati kota termahal nomor enam sedunia.[22]

Penipuan? Di sini penipuan dan pelanggaran (sepele) juga ada. Tak perlu menyebut “kejahatan yang serius” kan?

Jika Anda berpikir bahwa SEMUA orang BULE Australia “patuh dan tertib” hukum; atau kalau makai bahasa gaul yang aneh: “mereka (lebih) Islami (dari kita),” ini juga tidak benar.

Penipuan, rip off trading, di dalam jual beli biasa maupun daring atau online juga terjadi di sini.[23] Menyeberang jalan tidak pada tempatnya juga jamak. Merokok di tempat merokok dilarang juga ada. Buang sampah sembarangan juga terlihat. Kencing di bukan tempatnya pernah saya lihat. Jasa service bengkel atau elektronik yang dodgy. Semua ada. Saya pernah mengalami langsung, saya pernah melihatnya.

Inti dari cerita-cerita Profesor dan Doktor itu akan jadi baik jikasanya diniatkan bukan untuk membuat orang menyepelekan “sesuatu yang dari Arab,””orang Arab,” dan “tradisi skriptural yang sebagiannya asosiatif dengan Arab.” Namun jika melihat rima tendensinya, wajarkah saya berharap demikian?

Sebagaimana ketika saya yang daifa dan masih harus banyak belajar ini bercerita tentang Australia, tujuannya agar kita tak rendah diri dan silau dengan narasi atau juru usung mimpi indah dan yang sangat sempurna di negara “maju” seperti Australia. Atau mungkin misalnya jika kita menyebut negara-negara sepantarannya.

Eh, kampanye politik “demokrasi yang hebat itu” nyerempet isu agama? Di Australia juga ada.[24] Jangan pula tanya apa yang telah dan sedang terjadi di Amerika Serikat.[25] Dulu ada kandidat di Amerika Serikat jadi gugur karena ia anggota LDS, Mormon.[26] Obama juga butuh “clearance” bahwa ia JELAS bukan muslim sehingga bisa melenggang untuk jadi presiden.[27] Donald Trump? Ia adalah contoh kuat rasisme yang kini aktual sedang terjadi dan bisa mendapat dukungan yang luar biasa dari masyarakat Amerika Serikat di dalam kampanye menuju pencalonan dirinya menjadi presiden.[28] Ini semua nyata terjadi di Amerika Serikat dan semuanya di abad 21 ini.

Poinnya adalah, tidak semua di suatu tempat ada keburukan lantas kita bisa menyimpulkan bahwa “sistemnya” salah atau “semua orangnya” bermasalah. Semua tergantung cara kita memelototinya dan perkara mengumbar cerita, tergantung apa niatan kita menceritakannya.

Kalau memelototinya dengan tidak adil maka isinya akan sepet[29] semua.

Kalau tokoh-tokoh kita yang saya sorot di dalam tulisan ini bercerita hendak mengukuhkan bahwa NEGARA SPONSOR AKTIVITAS MEREKA SELALU “BAIK DAN SEMPURNA” sebagai acuan dan ini juga sebagai pembuktian keloyalan pada pemberi sponsor; agar tetap disokong; agar tetap diberi panggung dan fasilitasi publikasi dan lain-lain, sudah sejak awal memang niatannya tendensius tidak adil, ya kita akan bisa melihatnya dari cara berterusannya menceritakan keburukan negara X dan hanya kebaikan yang ada pada negara sponsor mereka.

Seharusnya kita tidak terprovokasi dengan akademisi endorser bayaran model seperti itu. Tidak melulu yang dari X selalu baik sebagaimana tidak melulu dari Y selalu buruk. Sikap kita seharusnya yang buruk bukan untuk dicontoh sedangkan yang baik maka bisa diambil untuk dikaji untuk dicontoh jika “sesuai.”

Perlu diingat bahwa tulisan ini tak pernah diniatkan untuk menciptakan stigma bahwa semua BULE Australia buruk atau Australia tidak ada yang baik untuk dicontoh. Tidak. Itu tak pernah jadi niatan saya untuk menggiring pemikiran pembaca untuk berkesimpulan demikian. Banyak orang Bule yang baik bahkan sangat baik di sini di Australia dan mereka ini menjalani hidup sesuai hukum yang berlaku dan keyakinan hidup mereka.

Kenapa bicara Australia seakan bicara Bule Australia saja? Bukankah Australia tidak didiami Bule saja? Nah, kalau itu hubungannya dengan kelaziman pembicaraan tentang Australia tak bisa jauh dari “visibilitas kuasa dan mayoritas”; sesuatu yang jamak di Australia adalah bule-nya.

Demikian.

Endnotes

[1] Riwayat yang sangat masyhur namun sumber rujukan resminya belum saya dapati

[2] Dalam tanda kutip

[3] “Keburukan-keburukan” di Amerika Serikat kalau mau iseng dicari misalnya dapat dibaca di dalam buku karya Laura Ingraham dan Raymon Arroyo dengan judul Of Thee I Zing. Gambaran mengenai apa yang terjadi di bidang kesehatan di Amerika Serikat lewat film misalnya bisa ditonton lewat “Sicko” (2007) karya Michael Moore. Artikel yang bisa menggambarkan masalah-masalah yang terjadi di Amerika misalnya bisa disimak lewat laporan  Catherine E. Shoichet dalam kanal berita CNN, 25 November 2015, “Is racism on the rise?”. Kisah bsinis prostitusi di Amerika Serikat misalnya bisa dibaca lewat laporan Carina Kolodny dalam kanal berita Huffington Post, 15 Maret 2014, “9 things you didn’t know about American prostitution.” Perdebatan mengenai sejarah genosida terhadap bangsa Indian di Amerika Serikat dan pemarjinalannya misalnya bisa ditelusuri lewat situs “United to End Genoside” (endgenocide.org).

[4] Perdebatan mengenai pemakaian istilah “kafir” sebagai labeling terhadap “liyan yang harus diperangi” atau “liyan yang rendah dan harus dinistakan” ataukah istilah ini yang intrinsik di dalam teologi Islam boleh dipakai dengan hati-hati merupakan bahasan yang menarik. Simak misalnya dua tulisan berikut:

Umm Zakiyyah. 17 Januari 2014. “Kaafir, the New F-Word,” Muslim Matters. Diakses dari: http://muslimmatters.org/2014/01/17/kaafir-new-f-word/

David Beresford. 29 November 2006. “What about the K word?” The Guardian – Opinion. Diakses dari: http://www.theguardian.com/commentisfree/2006/nov/28/whataboutthekword

[5] Colleen Ricci. 31 Mei 2015. “OECD education rankings show Australia slipping, Asian countries in the lead.” The Sydney Morning Herald. Diakses dari: http://www.smh.com.au/national/education/oecd-education-rankings-show-australia-slipping-asian-countries-in-the-lead-20150525-gh94eu.html

Baca juga Sean Coughlan. 13 Mei 2015. “Asia tops biggest global school rankings,” BBC News – Business. Diakses dari: http://www.bbc.com/news/business-32608772

[6] Henry Grossek. 21 Juni 2015. “Victorian Education Corruption Scandal: Our Children Deserve Much Better,” Save Our Schools. Diakses dari: http://www.saveourschools.com.au/national-issues/victorian-education-corruption-scandal-our-children-deserve-much-better

[7] Rachel Wilson, Bronwen Dalton, & Chris Baumann. 16 Maret 2015. “Six ways Australia’s education system is failing our kids,” The Conversation. Diakses dari: https://theconversation.com/six-ways-australias-education-system-is-failing-our-kids-32958

[8] Misalnya yang terjadi pada Professor Ghassan Hage, seorang profesor pada Universitas Melbourne di bidang Antropologi dan Teori Sosial dan beliau sampaikan di akun Facebook-nya pada 19 April 2016.

[9] Glen Falkelstein. 21 November 2014. “There’s no place for BDS within Australia,” ABC – Opinion. Diakses dari: http://www.abc.net.au/news/2014-11-21/falkenstein-theres-no-place-for-bds-within-australia/5909160

[10] Peter Manning. 26 Juni 2009. “Australia’s pro-Israel policies, pro-Palestine public,” Electronic Intifada. Diakses dari: https://electronicintifada.net/content/australias-pro-israel-policies-pro-palestine-public/8315

[11] Dipa Nugraha. 29 April 2016. “Maaf-maafan Nasional,” dipanugraha.org. Diakses dari: https://dipanugraha.org/2016/04/29/maaf-maafan-nasional/

[12] Cameron Stewart. 26 September 2015. “How an anti-mosque campaign in Bendigo became a battle ground,” The Australian. Diakses dari: http://www.theaustralian.com.au/life/weekend-australian-magazine/how-an-antimosque-campaign-in-bendigo-became-a-battle-ground/news-story/56ab194b1371acd5d1b97103a6286fd8?nk=27d574678363797d54dabcb6100cbb8d-1462022871

[13] Meskipun kelihatannya yang didaulat adalah Melbourne CBD-nya namun dalam konteks Melbournian maka suburb sekitarnya masuk pada pembicaraan kota Melbourne. Contoh-contoh yang ditampilkan di sini tidak melulu terjadi di CBD.

[14] Clay Lucas. 19 Agustus 2015. “Melbourne named world’s most liveable city, for fifth year running,” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/victoria/melbourne-named-worlds-most-liveable-city-for-fifth-year-running-20150818-gj1he8.html

[15] Steve Lillebuen, Chloe Booker, & Liam Mannix. 30 Oktober 2015. “Muslim woman ‘viciously attacked’ on Swanston Street in Melbourne,” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/victoria/muslim-woman-viciously-attacked-outside-state-library-of-victoria-in-melbourne-20151029-gkmeu4.html

[16] Lucy Battersby. 2 Desember 2015. “Veil lifts on daily abuse faced by Australian Muslims,” The Sydney Morning Herald. Diakses dari: http://www.smh.com.au/national/people/veil-lifts-on-daily-abuse-faced-by-australian-muslims-20151130-glc4yt.html

[17] Troels Sommerville. 7 Desember 2015. “Man stalks then steals $2000 meant for surgery from senior at Bentleigh RSL,” Leader Community News. Diakses dari: http://www.heraldsun.com.au/leader/inner-south/man-stalks-then-steals-2000-meant-for-surgery-from-senior-at-bentleigh-rsl/news-story/4efec8a8670a4d7bcd75736e9fa56e88?nk=27d574678363797d54dabcb6100cbb8d-1462023779

[18] Greg Roberts. 31 Juli 2015. “Woman pretends to help man in wheelchair before stealing wallet in Melbourne,” Herald Sun. Diakses dari: http://www.heraldsun.com.au/leader/north/woman-pretends-to-help-man-in-wheelchair-before-stealing-wallet-in-melbourne/news-story/e68575a8bb25ced3d8cc9078ad22ed1e?nk=27d574678363797d54dabcb6100cbb8d-1462023405

[19] Steve Lillebuen. 30 Mei 2014. “Sex attacks on joggers linked to western suburbs incidents,” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/victoria/sex-attacks-on-joggers-linked-to-western-suburbs-incidents-20140529-397wh.html

[20] Marissa Calligeros. 13 Maret 2016. “Violence erupts in Melbourne’s CBD as gangs clash in Federation Square and Swanston Street,” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/victoria/violence-erupts-in-melbournes-cbd-as-gangs-clash-in-federation-square-and-swanston-street-20160312-gnhksv.html

[21] ABC. 15 Desember 2015. “Police raid Finks bikie gang clubhouse in Melbourne, 20 arrested, drugs, cash seized,” diakses dari: http://www.abc.net.au/news/2015-12-15/bikie-raids-ringwood-finks-motorcycle/7030028

[22] Bus Australia. Juni 2012. “Vandalism of Bus Shelters.” Diakses dari: http://www.busaustralia.com/forum/viewtopic.php?f=4&t=68182

Liam Quinn. 3 September 2015. “That’s one way to avoid a fine! Newly-introduced parking meters are being destroyed by vandals opposed to paying – with the damage bill topping $40,000,” Daily Mail Australia. Diakses dari: http://www.dailymail.co.uk/news/article-3220698/That-s-one-way-avoid-fine-Newly-introduced-parking-meters-destroyed-vandals-apposed-paying-damage-bill-topping-40-000.html

Marissa Calligeros. 4 Maret 2015. “Melbourne: the world’s sixth most expensive city.” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/victoria/melbourne-the-worlds-sixth-most-expensive-city-20150303-13uilq.html

[23] Oleh sebab itulah di Australia ada Komisi yang mengurusi kerugian pada konsumen pada hal-hal seperti ini. Silakan jenguk www.scamwatch.gov.au

[24] Mariam Veiszadeh. 25 Februari 2015. “Religion and Racial Discrimination Act: Don’t Muslims Also Deserve Protection?” ABC Religion and Ethics. Diakses dari: http://www.abc.net.au/religion/articles/2015/02/25/4186872.htm

[25] Alana Massey. 27 Mei 2015. “The White Protestant Roots of American Racism,” New Republic. Diakses dari: https://newrepublic.com/article/121901/white-protestant-roots-american-racism

[26] Mitchell Landsberg. 12 Januari 2012. “Mormons feel rooted and happy, but marginalized, poll finds,” Los Angeles Times. Diakses dari: http://articles.latimes.com/2012/jan/12/nation/la-na-mormon-poll-20120113

[27] Campbell Brown. 13 Oktober 2008. “Commentary: so what if Obama were Muslim or an Arab?” CNN. Diakses dari: http://edition.cnn.com/2008/POLITICS/10/13/campbell.brown.obama/

[28] Lydia O’Connor & Daniel Marans. 29 Februari 2015. “Here Are 9 Examples Of Donald Trump Being Racist,” The Huffington Post Australia. Diakses dari: http://www.huffingtonpost.com.au/entry/donald-trump-racist-examples_us_56d47177e4b03260bf777e83?section=australia

[29] Bahasa Jawa yang artinya “tidak enak dipandang mata.”

Maaf-maafan Nasional

Maafan Nasional Australia[1] diadakan pertama kali pada 26 Mei 1998, setahun selepas laporan berjudul “Bringing Them Home” menjadi konsumsi parlemen. Laporan tersebut merupakan hasil penyidikan semacam Komnasham berkenaan dengan sejarah pengambilan paksa anak Aborigin dan penduduk Torres Strait Island dari keluarganya untuk “diperadabkan.”

Pada 26 Agustus 1999, Perdana Menteri Howard mengungkapkan Motion of Reconciliation, yang berbicara mengenai “deep and sincere regret that indigenous Australians suffered injustices under the practices of past generations, and for the hurt and trauma that many indigenous people continue to feel as a consequence of those practices”.

Tahun 2008, tanggal 13 Februari, Kevin Rudd, Perdana Menteri Australia menyampaikan permintaan maaf nasional kepada Aborigin dan Penduduk Torres Strait Island.[2]

Apakah sesudah itu semua baik-baik saja? Tidak. Karena isu Australia dengan Aborigin dan penduduk Torres Strait Island tidak sederhana kayak gitu dan tidak sedepa waktu saja. Pelik dan panjang ceritanya. Isu mengenai bagaimana pemerintah Australia “dianggap” tidak adil dan kadang sewenang-wenang kepada Aborigin masih terus bergulir.[3] Tidak hanya mengenai bagaimana (oknum) kepolisian memperlakukan Aborigin yang kadang sedikit berlebihan namun juga mengenai isu-isu di dalam perundang-undangan dan hak adat Aborigin. Lihat misalnya salah perlakuan terhadap pemabuk non-Aborigin yang konon diperbedakan dengan mereka yang Aborigin serta konflik “penguasaan dan pengelolaan” bukit suci Uluru.

Tapi ada juga yang menarik mengenai maaf-maafan ini dengan apa yang sedang mengemuka di negeri seberangnya, terkait dengan tulisan cucu Pahlawan Revolusi, Mayjen Anumerta Sutoyo, yang nampaknya sedang menggalakkan maaf-maafan dan juga pro-kontra di panel-panel lain[4] tentu tanpa merujuk langsung pada semangat kakeknya seandainya beliau masih hidup. Ya, sang cucu hidup pada jaman yang berbeda, arus mainstream matadunia yang juga berbeda.

John Howard, mantan Perdana Menteri Australia yang pernah menjabat selama 11 tahun, menyatakan bahwa aksi maaf nasional Kevin Rudd tidaklah pas. Ia menyatakan bahwa:

“I do not believe as a matter of principle that one generation can accept responsibility for the acts of earlier generation. … I think we persevered for too long with the notion of separate development. I think the only way the indigenous people of Australia can get what we call a ‘fair go’ is for them to become part of the mainstream of the community and get the benefits and opportunities available from mainstream Australian society, whilst recognising … the particular and special place of the indigenous culture in the life of the country.”[5]

Kontroversial memang pernyataan Howard. Namun itulah yang tercatat pada debat yang membebat negeri yang (menganggap diri pantas) “mengajari” Indonesia mengenai banyak hal.

Sebuah catatan juga bahwa rekonsiliasi nasional kerap memperadukan banyak kepentingan dan banyak perspektif. Apalagi jika bahan rekonsiliasi dirasa tidak menjelaskan sebab-akibat, pra-teks, konteks, dan inginnya hitam putih saja. Tidak di sana, tidak di sini.

Lain daripada itu, adalah menarik bagaimana pop culture bisa mempengaruhi apa yang akan atau sedang hangat di negeri di seberang sana. Tercatat bagaimana “Anoman Obong” melahirkan ksatria berupa kera membakar sebuah kerajaan yang kokoh berlangsung 32 tahun. Juga bagaimana Klingande dengan “Jubel”-nya mempopulerkan tagar “saveKPK.” Lalu kini saat Bieber memperoleh penengok video Vevo sebanyak 1,3 milyar dengan “Sorry”-nya, entah mengapa isu apologi kemudian kuat mengemuka dengan dentang dentumnya serta goyang tak senonoh bagi pemeluk teguh. Adakah produk pop culture yang sedang tren menjadi semacam mantra semacam doa dari sesuatu yang tak terduga?

Endnotes

[1] Dua situs resmi Australia yang bisa dibaca mengenai momen National Sorry Day adalah situs “National Sorry Day Committee” dan sebuah laman di bawah situs resmi “Australian Government.”

[2] Tren maaf nasional kepada “First Nations” juga menggejala di Kanada dan Amerika Serikat. Di Kanada, suku-suku asli mengalami pengambilan paksa anak-anaknya untuk “dikristenkan dan diperadabkan” sebagaimana permintaan maaf “pemerintah [kulit putih]” sudah dilakukan pada tahun 11 Juni 2008 kepada mereka. Di Amerika Serikat, Barrack Obama melakukan hal yang sama kepada bangsa Indian lewat penandatangan resolusi permintaan maaf nasional pada 19 Desember 2010. Dari tren ini, sependek tahu saya, kesejahteraan dan pengembalian keberdayaan bangsa-bangsa asli di negara-negara tersebut hingga kini belum tercapai dan pemarjinalan masih saja terjadi hingga kini meskipun tidak seburuk sebelumnya.

Artikel yang menarik mengenai Apologi Nasional di Kanada bisa disimak lewat goresan Lisa Balk King, 12 Maret 2011. “Does a silent apology really say we’re sorry?,” Indian Country Media Network. Diakses dari: http://indiancountrytodaymedianetwork.com/2011/12/03/does-silent-apology-really-say-were-sorry 

Sedangkan mengenai permintaan maaf nasional di Amerika Serikat, bisa disimak lewat tulisan Rob Capriccioso, 13 Januari 2010. “A Sorry Saga,” Indian Law Resource Center. Diakses dari: http://indianlaw.org/node/529

[3] Fans Page di media sosial Facebook dengan nama “Sovereign Union” bis dijadikan rujukan mengenai banyak sekali masalah yang terbengkalai selepas maaf nasional.

[4] Puri Lestari, 20 April 2016. “Ini kan buku komunis? Kisah cucu pahlawan revolusi,” Medium.com, diakses dari: https://medium.com/ingat-65/ini-kan-buku-komunis-d39a72da473f#.y1ycbykip

[5] Anne Davies, 12 Maret 2008. “Apology was a mistake, says feisty Howard”, The Age, diakses dari: http://www.theage.com.au/articles/2008/03/11/1205125911264.html

Hilangnya Kemanusiaan Kita?

Sebuah terjemahan dari tulisan Joan Fleming. Joan adalah penyair dan esais dari New Zealand yang sedang menyelesaikan Ph.D.-nya dengan fokus kajian etnopoetika penduduk pribumi Australia di Monash University. Terjemahan di bawah ini berasal dari salah satu esainya yang judul aslinya adalah “Congealed in a bureau and reduced to a function” yang teks aslinya dapat dinikmati lewat link ini. Terjemahan dan penerbitan di blog ini telah mendapatkan ijin darinya.

=====================

Sudah tidak jamannya lagi di dalam kajian sastra untuk berbicara mengenai universalitas segala sesuatu. Human Nature[1], Totality[2], dan Truth[3]di dalam kajian sastra telah lama dinistakan. Namun pertanyaan yang patut diajukan adalah apakah istilah-istilah tersebut telah benar-benar mengalami pengendapan, pembongkaran, dan karenanya menjadi tidak berguna lagi? Apakah aliran post-strukturalisme[4] dan non-esensialisme[5] telah membuat kita jauh melampaui pengertian a priori[6] mengenai sifat kodrati manusia yang diterima secara umum dan universal?

Stanley Diamond menyadari bahwa antropologi sejatinya adalah pencarian untuk memulihkan apa yang hilang dari masyarakat Barat. Diamond adalah seorang penyair, antropologis yang radikal namun sangat cerdas, dan juga pionir dalam memberikan kejelasan mengenai istilah “primitif”. Di dalam esai bertahun 1968 dengan judul “The Search for the Primitive”, Diamond khawatir bahwa reduksi sejarah manusia menjadi hanya sejarah alam yang mengutamakan pada linieritas dan kemajuan sejarah akan berdampak pada pandangan mekanistis terhadap masa depan manusia: sebuah masa depan di mana laki-laki dan perempuan “dipadatkan dalam suatu unit administratif dan kemudian dinistakan hanya menuruti fungsinya saja bagi kontribusinya terhadap lancar jalannya sebuah sistem”[7]. Apa yang disebut Diamond sebagai masa depan adalah satu waktu yang sedang kita alami sekarang ini: dunia yang cenderung pragmatis, sekuler, gerak laju ditentukan oleh arah pasar, dan mulai meninggalkan hal-hal yang sifatnya magis.

Diamond merujukkan pemikirannya kepada Levi-Strauss yang mempercayai bahwa antropologi mungkin berkembang dalam rangka sebuah pencarian tentang alternatif terhadap kondisi modern sebagai suatu “ekspresi penyesalan terhadap penakhlukan ideologis dan teknis oleh dunia Barat terhadap seluruh permukaan bumi. Orang Barat di dalam dirinya bergolak hidup dalam satu budaya yang awalnya mereka gunakan sebagai alat untuk menguasai budaya lain”. Etnopoetika, bidang yang aku jadikan tema untuk riset Ph.D., digerakkan oleh dorongan yang sama: sebuah pencarian akan tradisi poetika alternatif dan kemungkinan varian lain di dalam seni sajak oral maupun ritual dari orang-orang pribumi jajahan[8].

Sudahlah jelas bahwa pencarian akan warisan poetika dalam suatu budaya yang dijajah dan terancam punah adalah sesuatu yang problematis, dan dapat saja dikatakan bermuatan politis. Riset model seperti ini dapat menimbulkan beraneka macam pertanyaan yang tidak nyaman untuk diajukan semisal: Apakah riset ini adalah cara lain orang-orang kulit putih mengambil sesuatu dari kami, penduduk pribumi, setelah mereka sebelumnya telah berhasil merampas tanah dan juga menghancurkan cara hidup kami? Apakah etika yang menjadi dasar penyair etno kulit putih dalam membuat poetika pribumi menjadi ‘suatu objek kajian’?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu adalah penting untuk dijadikan pertimbangan di dalam risetku. Lepas dari kekhawatiran yang muncul, aku percaya bahwa penduduk pribumi tidak akan mengacaukan proyek risetku di dalam pencarian pemahaman akan khazanah alternatif tentang bagaimana melihat, mempercayai, menjadi, dan membuat sajak menurut cara mereka.

Di Australia, salah satu narasi yang sedang mencuat adalah bagaimana kebijakan pemerintah [kulit putih] dapat mengubah “masalah suku Aborigin” di bidang pendidikan, pemukiman, dan kesehatan. Banyak sekali jargon-jargon retoris yang dipakai di dalam cita-cita “menutup kesenjangan [antara kulit putih dengan suku Aborigin]” lewat pemaksaan pendidikan terhadap anak-anak suku Aborigin menurut tujuan pendidikan yang dicanangkan oleh pemerintah Australia.

Saat aku mengunjungi Yuendumu[9] pada tahun 2008, aku mendapat kabar bahwa kurikulum sekolah yang diambil dari daerah makmur perkotaan Adelaide dipaksaterapkan ke sekolah di Yuendumu. Kurikulum ini dipaksaterapkan tanpa adanya perubahan pada kurikulum tersebut dan juga pemahaman akan kebutuhan serta harapan komunitas Yuendumu.

Sebuah surat terbuka dari komunitas Yuendumu pada tahun 2012 memperkarakan dihapuskannya program bilingual[10] dari pembelajaran di sekolah-sekolah dan pemberlakuan denda kepada orang tua Aborigin yang tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka.

Para orang tua dari suku Aborigin ini menyatakan di dalam surat terbuka mereka bahwa “kedua bahasa baik bahasa Aborigin maupun bahasa Inggris bagi kami adalah sama pentingnya namun kami ingin agar anak-anak kami tetap dapat menjaga bahasa Warlpiri[11]dan belajar untuk dapat membaca pertama kali dalam bahasa Warlpiri dan bukan dalam bahasa Inggris. Jikalau mereka belajar segala sesuatu dengan bahasa Inggris sebagai bahasa utama maka bahasa Warlpiri akan melemah dan anak-anak kami ini akan kesulitan memahami ucapan orang-orang tua mereka yang berbicara dengan bahasa Warlpiri. Ini membuat kami sedih dan ini membuat anak-anak kami sedih dan hilang akar dan arah sejarah”. Model pemaksaan penyeragaman pendidikan yang dilakukan pemerintah Australia kepada suku-suku Aborigin seperti inilah yang masih mencerminkan pola pikir kolonialis.

Pertanyaan mengenai bagaimana membuat orang-orang dari suku Aborigin dapat menyerupai “kita”[12] selalu saja diajukan. Kebalikannya, kita – orang kulit putih – jarang sekali bertanya bagaimanakah ‘mainstream Australia’[13] dapat belajar, melihat, mewarisi, dan juga memahami komunitas-komunitas suku Aborigin yang ada di Australia.

Pekan kemarin saat aku mengunjungi tempat layanan kesehatan, wanita yang membantuku mengisi formulir mengarahkan juga membenarkanku untuk mencentang “No” pada sebuah pertanyaan di dalam formulir itu yang bunyinya: “Apakah Anda keturunan Aborigin atau penduduk asli gugus kepulauan Torres?”. Wanita tersebut nyeletuk: “kamu dilahirkan di luar negeri, sehingga jelaslah benar bahwa kamu mencentangnya pada kotak No”. Aku menimpali celetuknya dengan balik bertanya apakah dimungkinkan bagi seorang keturunan Aborigin untuk terlahir di luar negeri. Jawaban wanita tadi adalah: “tak banyak dari mereka yang terlahir di luar negeri” lalu aku mendengar ia mengatakan dengan lirih “pergi ke luar negeri adalah pergi ke tempat yang jauh dari rumah mereka”.

Menarik untuk dijadikan renungan bahwa di jaman di mana krisis lingkungan global terjadi seperti sekarang ini, kita orang kulit putih, telah berubah menjadi suatu masyarakat yang mencibir keengganan sekumpulan orang untuk meninggalkan tanah yang mereka percayai dan rasai terkait erat dengan nenek moyang dan para kerabat. Tanpa kita sadari, orang-orang seperti mereka-lah yang justru mencintai lingkungan lebih dari kita namun anehnya malah kita jadikan cibiran.

Pertanyaan utama yang diajukan oleh Diamond di dalam esainya adalah kekhawatiran yang selama ini tidak disinggung di dalam kajian akademik: Bagian manakah yang telah sirna dari kemanusiaan kita? Lalu bagaimana dan mengapa kita kehilangan bagian kemanusiaan itu? Dapatkah kita merebutnya kembali?

Aku sangat yakin bahwa kajian etnopoetika, dengan segala tikung selibat poskolonial, dapat memandu kita dalam berpikir untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

=====================

Endnotes

[1] Human nature = sifat, karakter, insting dasar atau kodrati manusia

[2] Totality atau Totalitas adalah suatu cara melihat realitas sebagai suatu keutuhan berdasar diskursus ala Friedrich Hegel. Totalitas adalah hasil dari momen-momen yang bertautan pada saat tertentu. Truth terletak pada totalitas dan bukan pada tiap momen yang ada. Tiap momen adalah hanya sebagian dari truth.

Setiap periode masa tertentu terdapat truth masing-masing. Truth yang disusun dari proposisi-proposisi tertentu pada suatu masa hanyalah memiliki kebenaran pada masa itu saja sebab perbedaan masa akan membuat perbedaan truth.

[3] Truth dengan T besar, atau Kebenaran dengan K besar, adalah tema yang menjadi sentral di dalam diskusi filsafat, sastra, dan budaya. Apakah Kebenaran itu jikalau setiap orang memiliki referen masing-masing dan juga kondisi yang berbeda-beda?

[4] Penjelasan mengenai post-strukturalisme yang paling gampang dicerna adalah sebagaimana diutarakan oleh Roger Jones, n.d., “Post Structuralism” sebagai berikut:

Pada pertengahan abad 20, terdapat beberapa teori struktural mengenai eksistensi manusia. Di dalam studi bahasa (linguistik), Ferdinand de Saussure menyatakan bahwa makna haruslah digali dari struktur padu padan yang ada di dalam seluruh kalimat dan bukan hanya menyandarkan pada analisis tiap kata yang ada dalam satu kalimat. Bagi Karl Marx, eksistensi manusia adalah dapat dipahami berdasarkan analisis pada struktur ekonomi yang berlaku di masyarakat. Sedangkan bagi Sigmund Freud, struktur kejiwaan manusia dapat dijelaskan lewat kondisi bawah sadarnya.

Pada tahun 60an, gerakan strukturalis yang bermarkas di Perancis, mencoba mensintesiskan ide dari Saussure, Marx, dan Freud tadi. Gerakan ini juga tidak sepakat dengan pandangan kaum eksistensialis yang mengemuka saat itu bahwa manusia menjadi dirinya karena dirinya sendirilah yang menentukan bagaimana ia menjadi manusia. Bagi kaum strukturalis, tiap individu dibentuk lewat struktur-struktur linguistik, sosiologis, dan psikologis di luar kendalinya namun dapat diselidiki lewat metode penelitian tertentu.

Semula disebut sebagai bagian dari kaum strukturalis, dalam perkembangan pemikirannya Michel Foucault kemudian berubah sebagai tokoh terkemuka dari gerakan post-strukturalis. Foucault sepakat dengan kaum strukturalis bahwa bahasa dan masyarakat diatur oleh sistem-sistem, aturan-aturan.

Meskipun demikian, Foucault tidak sepakat kepada kaum strukturalis pada dua hal. Pertama dia tidak sepakat mengenai struktur yang pasti untuk dapat dipakai menjelaskan kondisi manusia. Berikutnya adalah, Foucault meyakini kemustahilan berlepas diri dari sebuah wacana-wacana yang membebat seseorang peneliti dan lalu meneliti sesuatu dengan objektivitas yang puritan.

Filosof lain, Jacques Derrida, mengembangkan dekonstruksi sebagai suatu teknik menyibak kemultitafsiran suatu teks. Derrida, terkena pengaruh pemikiran Heidegger dan Nietzche, menyatakan bahwa segala macam teks mempunyai ambiguitas dan oleh karenanyalah kemungkinan menyelesaikan tafsir atas teks dan membuat tafsiran yang lengkap dari suatu teks menjadi pekerjaan yang musykil.

Kedua aliran pemikiran ini, post-strukturalisme dan dekonstruksi, dapat dianggap sebagai formulasi teoretis sebagai jawaban atas kondisi post-modern. Modernitas mencoba menjelaskan segala sesuatu-nya secara rasional, empiris, dan objektif. Modernitas mengasumsikan bahwa ada truth yang dapat disingkap dan ada suatu cara untuk memperoleh jawaban-jawaban atas kondisi manusia. Post-modernisme justru menegasikan adanya kepastian akan hal ini dan juga meragukan superioritas rasionalitas manusia. Rasionalitas dianggap hanya sebagai bentuk pemahaman yang sifatnya historis.

Bahasan di dalam post-modernisme adalah mengenai ‘ketiadaan cara yang benar-benar rasional’ untuk mengevaluasi sebuah pilihan yang berkaitan dengan penilaian akan truth, moralitas, pengalaman estetika, atau objektivitas.

Sembari kaum post-modernis membongkar hierarki pemikiran-pemikiran yang sebelumnya ada, bentuk pemikiran baru mengenai pemahaman yang muncul ke permukaan: gabungan dari pemikiran-pemikiran akan bermetamorfosis, tikung selempang, dan berkembang sebebas-bebasnya dan masa depanlah yang akan menentukan hasil dari interaksi antarpemikiran ini.

[5] Non-essensialisme atau anti-essensialisme adalah aliran pemikiran yang menolak cara pandang kaum essensialis.

Kaum essensialis berpandangan bahwa dunia mengandung jenis-jenis peng-kelas-an segala sesuatu secara alami yang kodrat (nature)-nya ditentukan pada esensi yang tidak dapat diamati (Medin 1989; Medin & Ortony 1989; Gelman, Coley, & Gottfried 1994 semua via H. Clark Barret, “On the Functional Origins of Essentialism”, Mind & Society, 3, Vol. 2, 2001, pp. 1-30).

Esensialis melihat setiap objek di dunia “memiliki esensi-esensi atau sifat kodrati yang membuatnya sebagaimana mereka mengada sebagaimana diri mereka” (Medin, 1989 via H. Clark Barret, “On the Functional Origins of Essentialism”, Mind & Society, 3, Vol. 2, 2001, pp. 1-30) dan esensialis juga memperlakukan setiap objek yang ada di dunia sebagaimana tiap objek tersebut memiliki aneka properti (atau lekatan atau atribut esensial atau karakteristik) sebagai hasil dari esensi tiap objek itu (Barret, 2001: 3).

Contoh dari pola pikir essensialis adalah sebagai berikut (Richard Twine. n.d. “What is Essentialism?”): laki-laki diyakini lebih agresif dibandingkan perempuan karena adanya perbedaan hormonal di antara kedua seks ini. Implikasi dari pandangan ini adalah ‘perilaku oleh’ dan ‘perlakuan yang berbeda atas’ kedua seks.

[6] A priori adalah pengetahuan yang tidak perlu pembuktian atau argumen empiris lagi karena bersumber dari pengetahuan umum yang sudah ada.

[7] Joan Fleming di dalam tulisannya ini mengutip frase dari Diamond: “[men and women are] congealed in a bureau and reduced to a function” atau “[laki-laki dan perempuan] dipadatkan dalam suatu unit administratif dan kemudian dinistakan hanya menuruti fungsinya saja [bagi kontribusinya terhadap lancar jalannya sebuah sistem]”. Untuk menelusuri lebih jauh gaya berpikir kaum fungsionalis, pengenalan singkat tentangnya dapat dibaca lewat tulisan Ashley Crossman.

[8] Barat = white people = kaum kolonial = kaum penjajah

[9] Yuendumu terletak di pinggir padang pasir Tanami, 300 km ke arah barat laut Alice Spring. Yuendumu yang letaknya terpencil adalah salah satu dari komunitas pemukiman suku Aborigin yang terbesar di wilayah tengah Australia.

[10] Bilingual = bahasa Aborigin dan bahasa Inggris (bahasa orang kulit putih)

[11] Warlpiri adalah salah satu bahasa dari suku Aborigin. Bahasa-bahasa lain yang dipakai suku Aborigin misalnya adalah Arrernte, Warumungu, Jaru. Komunitas Aborigin di Yuendumu memakai bahasa Warlpiri sebagai bahasa utama.

[12] Maksudnya adalah “kulit putih”

[13] Mainstream Australia = kulit putih Australia

Indonesia – Singapura – Australia – Malaysia

Bertetanggalah dengan cara yang baik sebab tetangga adalah saudara terdekatmu.

Well, bagi saya, seorang warga negara Indonesia, isu yang sedang hangat dengan Singapura, Australia, dan Malaysia sungguh menggelisahkan.

1. Kasus dengan Singapura

Bagaimana jika Singapura memberi nama kapal perang atau kapal patroli yang berkeliaran di sekitar perbatasan perairan Indonesia dengan nama ‘teroris’ dalam sejarah Indonesia meskipun bagi Singapura ‘teroris’ ini adalah pahlawan?

2. Kasus dengan Australia

Bagaimana jika Australia mendapati bahwa BIN juga menyadap pejabat-pejabat Australia demi kepentingan keamanan nasional?

Bagaimana jika BIN sudah sangat tangguh dan benar-benar serius bekerja di bidang intelijen sehingga negara-negara lain tidak dengan  mudahnya menyadap pejabat-pejabat penting kita?

3. Kasus dengan Malaysia

Bagaimana jika budaya yang berakar Melayu, muncul di Sumatra dan semenanjung Malaya, kita klaim sebagai hanya milik bangsa Indonesia? Bagaimana jika kemudian budaya yang berakar Dayak, yang berasal dari pulau Kalimantan tempat 3 Negara berada, kita klaim sebagai hanya milik bangsa Indonesia? Lalu bagaimana jika kita tidak pernah mengatakan bahwa budaya Malaysia adalah serumpun dengan budaya bangsa Indonesia?

Indonesia, Singapura, Australia, dan Malaysia adalah negara-negara yang saling bersebelahan. Jadi bagaimana jika kita duduk bersama dengan kepala dingin dan tidak menggunakan isu-isu seperti itu untuk kepentingan politik domestik?