Siapa yang Berhak Bersuara di Dalam Industri Sepakbola?

Tulisan ini terbit di panditfootball pada 24 Februari 2017. Akses pada situs termaksud bisa dirambah lewat tautan ini.


Siapa yang paling berhak mewakili suara liyan adalah pertanyaan yang dikupas dengan sangat padat di dalam tulisan Linda Alcoff berjudul “The Problem of Speaking for Others.” Siapakah yang mempunyai otoritas lebih tinggi membicarakan suatu kelompok, suatu komunitas, apakah seorang ahli yang melakukan riset dan punya data ataukah orang-orang yang menjadi bagian dari komunitas itu?

Pertanyaan itu juga muncul menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tulisan Multatuli yang berjudul Max Havelaar, apakah ia tulus dan memiliki otoritas yang valid untuk menyuarakan ketertindasan pribumi ataukah Multatuli hanya memperjuangkan dirinya sendiri dan salah di dalam menafsirkan penderitaan pribumi? Itulah yang dibongkar Nieuwenhuys dan juga sejarawan Belanda Wesseling meski van der Bergh membela pengaruh Max Havelaar terhadap pupusnya kolonialisme di Indonesia.

Hal yang sama juga terjadi di Liga Inggris. Keributan baru saja terjadi antara pandit sepakbola Gary Neville dengan para kontributor ArsenalFanTV.

Pertanyaannya adalah, jika Arsenal dan masa depan Arsenal harus membicarakan masih perlu tidaknya peran Arsene Wenger maka suara siapakah yang lebih layak dipertimbangkan? Suara siapakah yang lebih layak didengar? Apakah seorang pandit sepakbola yang tahu permainan sepakbola dan punya beragam data tetapi tidak memiliki keterikatan emosional, pengorbanan uang dan waktu untuk membeli tiket dan menonton pertandingan seperti Gary Neville lebih punya otoritas dibandingkan para suporter di ArsenalFanTV yang menyuarakan pergantian manajer Arsenal?

Masalahnya dimulai ketika Gary Neville menyebut para suporter Arsenal di ArsenalFanTV sebagai embarassing (memalukan) karena meminta Wenger out sementara Wenger sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa selama 20 tahun menukangi Arsenal.

Robbie Lyle, pendiri dan pembawa acara ArsenalFanTV, sebuah kanal fans Arsenal di YouTube yang berdiri sejak November 2012, menyatakan bahwa apa yang dinyatakan oleh Gary Neville adalah seolah meremehkan suara suporter dari pertandingan sepakbola. Di dalam sebuah acara yang disiarkan oleh Ball Street Network, sebuah jaringan pemberi kanal bagi suporter sepakbola untuk menyuarakan diri mereka yang tidak melulu didikte oleh media massa arus utama, Robbie menekankan bahwa suara dari suporter harus mulai dipertimbangkan. Suporterlah yang menghidupkan pertandingan sepakbola dan membuat sebuah klub dapat terus hidup.

Beberapa media massa besar di Inggris (The Telegraph, Independent, The Guardian, The Evening Standard, Daily Mail) membicarakan polemik ini dan pembicaraan menjurus pada fenomena fan media atau fan TV ini muncul dengan berbagai perspektif.

Ada yang pesimis mengenai kelestarian kanal penyambung lidah fans seperti ArsenalFanTV ini tetapi juga ada yang melihatnya secara optimis bahwa tradisi baru di dalam pewartaan sepakbola kini telah berubah bukan hanya domain media massa besar, para pandit sepakbola, atau mantan pesepakbola saja. Suporter (sudah) mulai didengar, dan suara mereka yang dulu tidak muncul di khalayak ramai, terpisah-pisah, sepi, kini bisa didengar lebih luas dan tersatukan dalam emosi, keinginan, bahkan tuntutan yang sama.

Benar bahwa polemik yang muncul dari pernyataan Gary Neville terhadap ArsenalFanTV akhirnya terlerai setelah Garry Neville bertemu dan berbagi pandangan dengan para fan kontributor ArsenalFanTV. Benar bahwa Arsene Wenger tampaknya masih belum goyah juga padahal sudah dibombardir dengan teriakan dari kontributor ArsenalFanTV agar ia keluar; suara para suporter Arsenal seolah-olah tidak memberikan dampak berarti.

Tetapi munculnya polemik yang berawal dari komentar seorang pandit sepakbola yang cukup disegani di sebuah acara TV seperti Gary Neville mengenai suara-suara fan di kanal ArsenalFanTV dan coverage dari media massa utama di Inggris justru menjadi bukti bahwa otoritas suara media massa besar dan para pandit sepakbola kini tidak menjadi monopoli mereka semenjak fan media mulai pelan tetapi pasti masuk ke dalam pelibat diskursus mengenai bagaimana industri sepakbola dijalankan dan bagaimana sepakbola harus dimainkan.

Seperti penjelasan Alcoff di dalam tulisannya bahwa tidak jadi soal siapa yang harus menyuarakan sesuatu asalkan perubahan yang baik bagi semua pihak dapat terjadi. Hal inilah yang dilihat sebagai hal yang positif oleh Lawrence Tallis, seorang pengamat media sepakbola, mengenai fan media. Bahwa revolusi di dalam industri sepakbola di Inggris bisa diklaim sedang terjadi dan suara suporter lewat fan media kini menjadi bagian vital di dalamnya.

Bahwa perubahan yang baik di dalam industri sepakbola di Inggris kini tidaklah melulu berasal dari suara yang berasal dari media massa arus utama dan para pandit sebab suara para suporter bisa saja memberikan perubahan yang baik bagi industri sepakbola dan bagi sebuah klub.

Tentu saja untuk kasus Arsenal, belum tentu konsistensi yang dibela oleh Gary Neville, seorang pandit sepakbola, atas Arsene Wenger adalah baik bagi Arsenal. Bisa jadi suara para suporterlah yang menginginkan Arsene Wenger keluar dari Arsenal dan digantikan oleh manajer lainnya yang justru akan membawa Arsenal kepada jalan kejayaan.

Derby London Utara; Pertaruhan Terakhir Wenger?

Jose Mourinho di bulan September tahun kemarin  pernah mengatakan bahwa hanya ada satu manajer di Liga Primer Inggris yang paling enak di dalam bekerja karena “tidak pernah mendapatkan tekanan” meski gagal berulang-ulang. Ia menambahkan sindirannya bahwa manajer ini sudah gagal berulang-ulang mewujudkan target tiap musimnya namun ia tetap bercokol sebagai “raja” tanpa pernah ada ancaman mengenai pemecatan. Tidak hanya itu saja, Mourinho juga mengejek kepada pembedaan perlakuan terhadap manajer itu oleh otoritas sepakbola Inggris saat mengomentari wasit. Manajer yang disindir Mourinho itu ia gambarkan terlalu sering mengkritik wasit namun tidak pernah diberi sanksi sebagaimana terjadi pada dirinya.

Sindiran Mourinho saat itu tampaknya dialamatkan ke Arsene Wenger. Semua pandit sepakbola Inggris tahu bahwa Mourinho memang tidak suka kepada Wenger dan sindiran Mourinho, saat itu, dianggap sebagai bentuk kefrustasian yang dialami olehnya di dalam menukangi Chelsea. Apa yang dikatakan Mourinho saat itu bisa dianggap sebagai bentuk frustasi atas kian buruknya kinerja Chelsea sedangkan musuh bebuyutannya dan tim yang dibesutnya, Arsene Wenger dan Arsenal, dalam kondisi yang baik. Meskipun di dalam konferensi pers-nya itu ia hendak memberikan garis tebal atas pernyataannya bahwa ia hanya menyampaikan fakta saja dan bukan dikarenakan iri: “So, clearly, the facts are there. I don’t envy.”

Itu tahun kemarin saat Mourinho masih bercokol sebagai manajer Chelsea dan saat Arsenal masih trengginas. Ekspektasi yang tinggi dari fans Arsenal bahwa musim ini adalah tahun yang diharapkan jadi tahun bagi Arsenal untuk mengangkat trofi Liga Primer Inggris sedangkan hingga pertandingan ke 28 dan sepuluh pertandingan tersisa justru ketrengginasan Arsenal tiba-tiba lenyap telah membuat fans begitu marah kepada Wenger.

Semua dimulai dari kekalahan Arsenal terhadap Manchester United yang kala itu diisi oleh pemain-pemain yang masih muda dan pemain bintang yang bisa disebut berkelas di dalam line-up hanyalah Mata dan Carrick. Kekalahan itu menimbulkan kemarahan bagi kebanyakan fans. Di twitter, banyak fans Arsenal menyatakan kemarahannya. Mulai dari taktik yang salah, tidak nampaknya ambisi untuk memenangkan pertandingan, hingga tetap dipertahankannya Walcott yang sangat tidak efektif selama 63 menit pertandingan dan Ramsey yang berulangkali kehilangan bola tidak diganti hingga akhir pertandingan, membuat fans Arsenal dan pandit sepakbola mempertanyakan apakah Arsene Wenger masih pantas menukangi Arsenal.

Keadaan diperparah dengan kekalahan Arsenal di kandang sendiri oleh tim semenjana, Swansea City, dengan skor 1-2. Walcott yang dalam pertandingan melawan Manchester United diolok-olok oleh fans dengan sentuhan bola hanya 17 kali selama 63 menit, meskipun masuk sebagai pengganti Sanchez, sekali lagi menunjukkan kinerja yang buruk. Joel Campbell yang sangat enerjik, penuh hasrat bertarung, menyumbangkan satu gol, dan merepotkan pertahanan Swansea justru ditarik keluar oleh Wenger sementara Giroud yang telah melakoni 10 laga tanpa gol dan hanya sekali membahayakan pertahanan Swansea justru dimainkan hingga akhir pertandingan. Lebih konyolnya lagi, Ramsey yang berulang kali salah umpan di dalam pertandingan itu malah tetap berada di lapangan hingga peluit akhir pertandingan.

Bukan hanya cemooh dari fans Arsenal saja yang Wenger peroleh ketika menarik keluar Joel Campbell pada pertandingan itu namun juga seakan diperparah dengan pernyataan Alexis Sanchez pasca pertandingan mengenai kompatriotnya yang “lack self-belief; lack a certain hunger.

Menambah garam pada perih luka Wenger, kritikan pedas bermunculan dari empat penjuru mata angin kepada Wenger. Kekalahan atas Swansea membuat Paul Scholes mendamprat pasukan Wenger yang selalu mengecewakan jika tensi pertandingan begitu tinggi. Sesuatu yang khas Wenger. Bahkan ketika Wenger memiliki skuat yang mumpuni, ia tidak bisa memberikan tekanan kepada skuatnya untuk berbuat lebih. Hal ini juga diamini oleh mantan pemain tengah Arsenal yang kini menjadi pandit sepakbola, Stewart Robson.

Robson menganggap gaya manajerial Wenger yang tidak suka berkonfrontasi dengan para pemainnya dan sering menutupi kesalahan para pemainnya justru membuat Arsenal tidak bisa kompetitif sebagai klub besar selama hampir satu dekade terakhir. Gaya manajerial yang dipertontonkan Wenger telah membuat para pemain Arsenal menjadi kurang motivasi untuk berjuang mati-matian pada setiap pertandingan. Apa yang diungkapkan oleh Robson sebenarnya merupakan sesuatu yang sesuai dengan pengakuan Wenger pada suatu wawancara di tahun 2015, sesuatu hal yang kontradiktif dengan gaya manajerial Ferguson dengan hairdryer treatment-nya. Dan tentu saja gaya manajerial Ferguson tentunya dengan attitude para pemain dari kedua klub pada tiap pertandingan dan setiap musim mungkin bisa menjustifikasi sindiran Robson atas Wenger.

Wenger memang selalu melindungi para pemainnya. Kekalahan yang tidak perlu atas Swansea misalnya, diklaim oleh Wenger sebagai “ketidakberuntungan” saja dan bukan karena lemahnya semangat juang para pemainnya sembari pula menepis keluhan Alexis Sanchez akan lemahnya semangat juang skuat Arsenal, dan masih juga sempat memberi pembenaran atas keputusan salahnya menggantikan Joel Campbell pada pertandingan melawan Swansea.

Pernyataan mantan anak emas Arsene Wenger yang kini menukangi tim Arsenal U-19, Thierry Henry, bahwa seumur-umur dia bermain buat Arsenal belum pernah ia melihat bagaimana para pendukung sangat marah dan kecewa dengan gaya bermain Arsenal saat mereka kalah atas Swansea di kandang  pada sebuah kolom sepakbola di surat kabar Sun pun juga ditanggapi dengan enteng oleh Wenger.

Suara-suara negatif yang menyuarakan pergantian atas Wenger justru kian kencang. Lihat saja bagaimana baru saja Stan Collymore, mantan pemain legendaris Liverpool yang kini rajin mengisi kolom sepakbola Boylesports, menyatakan bahwa Wenger dengan gayanya yang monoton perlu diganti manajer yang berorientasi pada kemenangan dan pencapaian untuk sebuah klub sepakbola yang kaya seperti Arsenal. Ia dengan blak-blakan menyebut nama Diego Simeone sebagai pengganti yang pas. Usulan senada juga disuarakan oleh pandit sepakbola Mark Brus dari media daring Inggris Metro.

Bahkan Paul Merson, mantan pemain Arsenal dan juga pemain timnas Inggris, berharap agar Leicester City atau Tottenham Hotspur bisa memenangkan trofi juara Liga Primer Inggris musim ini. Merson yakin jika yang menjadi juara musim ini Manchester City, Wenger bisa punya seribu satu alasan untuk membuat pemakluman atas kegagalannya bersaing. Wenger memang juga dikenal sering membuat pemakluman yang membosankan atas kegagalannya bersaing di dalam perebutan trofi kompetisi besar dan gelar liga utama. Ia selalu menunjuk bahwa timnya tidak melakukan pembelian besar-besaran sebagaimana tim-tim juara lainnya. Merson yakin jika Leicester atau Tottenham menjadi juara Liga Primer Inggris, Wenger tidak bisa menggunakan alasan yang sama atas kegagalannya.

Fans sudah sangat jengah dengan kegagalan Wenger dan dalih-dalih yang kian membuat jengkel. Lihat saja bagaimana misalnya salah satu fans terkenal Arsenal yang juga merupakan selebriti di Inggris, Piers Morgan, lewat akun twitter-nya sudah terang-terangan meneriakkan pemecatan Wenger dan juga mengkritik fans yang masih saja dengan mantra “in Wenger we trust” dengan berterusan berkicau dengan tagar “WengerOut.” Saksikan juga bagaimana para fans yang menyuarakan kecamannya atas Wenger dan menginginkan pergantian manajer di Arsenal lewat kanal bagi video, You Tube, untuk para fans Arsenal ArsenalFanTV. Bahkan Heavy D., seorang pendukung Arsenal yang dikenal dengan lagu dukungan untuk Arsenal pun sudah terlalu marah dengan Wenger saat diwawancarai oleh ArsenalFanTV.

Lihat pula bagaimana Graeme Souness, pandit sepakbola terkenal di Inggris, begitu marahnya dengan performa Arsenal beberapa waktu yang lalu yang dilabelinya sebagai “so insipid, so weak and pussyfooted” ([bermental] lembek selembek-lembeknya) dan menyerang Wenger yang selalu koar-koar di depan media bahwa anak asuhnya memiliki mental yang tangguh. Mentalitas yang buruk yang terus menerus dipertontonkan oleh skuat Arsenal dalam pertandingan besar atau penting, kontradiktif dengan klaim Wenger. Jason Burt, seorang koresponden The Telegraph sebuah koran terkemuka di Inggris, percaya bahwa mentalitas pemain Arsenal yang lemah adalah bukti kegagalan manajerial tim sepakbola di bawah asuhan Wenger dan hanya bisa diobati dengan pergantian manajer.

Musim ini merupakan musim yang menciptakan atmosfer yang kejam bagi Wenger. Ekspektasi harus jadi juara pada musim ini sangat tinggi dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya saat Manchester United, Chelsea, dan Manchester City masih dalam kondisi stabil dan solid. Manchester United musim ini sedang memulai era baru dengan manajer baru dan pemain-pemain yang masih muda. Chelsea musim ini, di pertengahan musim, juga dalam keadaan pincang gegara ada konflik internal antara Mourinho dengan dokter skuatnya Eva Carniero dan merembet kepada pemain lainnya sehingga membuat Mourinho akhirnya didepak. Manchester City mengalami krisis pemain depan yang terlalu bertumpu pada Aguero dan terlalu bergantungnya pertahanan mereka pada pemain yang rentan cedera, Vincent Kompany. Ini belum ditambah dengan gonjang-ganjing kedatangan Pep Guardiola sebagai pengganti Pellegrini yang tidak mungkin tidak ada pengaruh terhadap konsentrasi keseluruhan tim. Semua pasang ekspektasi yang tinggi musim ini bahwa Arsenal harus juara dan tidak mengulang kebiasaan sangat nyaris juara seperti pada musim 1998/99, 2000/01, 2002/03, 2007/2008, dan 2013/14 dan kerap kali menjadi bayangan kehebatan Ferguson, yang kini telah pensiun, dan selalu kewalahan oleh disrupsi kehadiran Mourinho, yang kini sudah dipecat. Jika musim ini Arsenal gagal menjadi juara Liga Primer Inggris, Wenger logikanya tidak pantas lagi mengajukan excuse.

Dan malam ini [harusnya] merupakan malam yang menegangkan bagi Wenger. Malam ini bisa menjadi klimaks dari selalu tersedianya pemaafan oleh direksi Arsenal dan fans fanatik Wenger atas keringnya prestasi Wenger selama hampir satu dekade terakhir. Sudah mulai banyak pandit sepakbola terang-terangan menyuarakan perlunya penyegaran manajer di tubuh Arsenal dan tentu saja jangan lupakan bahwa fans Arsenal kini semakin banyak yang tidak fanatik lagi kepada Wenger. Masa keemasan Wenger [mungkin] sudah lama lewat. Masa penungguan paceklik gelar sudah terlalu lama berlangsung.

Partai tandang di White Hart Lane melawan musuh bebuyutan Tottenham Hotspur disepakati oleh banyak pandit sepakbola sebagai partai yang menentukan apakah Arsenal bisa juara Liga Primer musim ini – dan tentu juga nasib dinasti Wenger di Arsenal. Wenger tahu bahwa kemenangan atas Tottenham krusial bagi fans yang masih mempercayainya. Bayangkan saja jika nanti malam tim yang dibesut Wenger kalah maka kans menjadi juara Liga Primer Inggris bisa dikatakan tertutup dan hiburan warga London Utara yang menjadi pendukung fans Arsenal lewat perayaan St. Totteringham’s Day, hari di mana kemenangan atas Tottenham Hotspur selalu diantisipasi dan tradisi yang telah berlangsung selama 20 tahun untuk finish pada klasemen Liga Primer Inggris di atas Tottenham Hotspur dirayakan dengan penuh kebanggaan, justru bakal menjadi hari kelabu. Sebuah celaka dua belas bagi Wenger dan mungkin lahirnya sebuah era manajerial baru bagi Arsenal.

(Terbit pada hari yang sama di PanditFootball Indonesia)

Were I Arsene Wenger

Were I Arsene Wenger,

  1. I would realize that football has changed so fast, the club need to spend some money to buy some quality players.
  2. I would sell:
    1. Almunia, because the club have had Szczesny dan Fabiansky.
    2. Denilson, because he has lost his speed for EPL.
    3. Diaby, because he is a moody player and we don’t need one.
    4. Squillaci, because he doesn’t have the quality for EPL’s fast play.
    5. Koscielny, because this young man makes a lot of mistakes in handling the ball in the air. However, we might give him time to see whether he is improving or not.
    6. Van Persie, because he wastes lots of chances in the box and doesn’t have the ability to hold the ball near the box.
    7. Rosicky, because he doesn’t belong to EPL anymore when talking about the spirit of kick and rush.
    8. Gibbs, because he is truly a bad fullback.
    9. Walcott, because many times he plays with no brain. He takes the ball into the box but then he passes to no one.
    10. Bendtner, because I have ignored his talent and now he looks like a player with no motivation.
  3. I would listen to my fanatic fans like Homey, B.S. Thom, Adam Kemp, and Arsenal Legend; Ian Wright.
  4. I would “splash the cash” for some quality players while not ignoring to create new stars from my own soccer schools.
  5. I wouldn’t lie to myself or be naive not to blame myself and my players when things go wrong.
  6. I wouldn’t make any excuse no more to blame the refs, and or the opponent’s tactic.
  7. I would find one or two true leader(s) for my team. He must be the one who has a great fighting spirit.
  8. I would pray a lot to keep Arsenal supporters support me along the way.
  9. I would not live in dreamland anymore.

Unfortunately, I am not Arsene Wenger. I am just an ordinary fan who wants changes in my favorite club.

I just read what others feel on Operation Wenger Must Go. Boldly, we want him to leave. It’s that simple.

Arsenal, Where Are You Gunning Now?

It wouldn’t be wise as a fan if I condemn Arsenal’s recent condition on my blog. However, I am sick to see my favorite football club acting as beautiful losers1 till now. Looking at Arsenal’s history, this club is still one of the greatest clubs in England football. This club have won 13 first division championship cups (the third highest after Liverpool and Man United) and 10 FA cups (second highest after Man United), and have the best average league finishing position for the period 1900-19992. What makes most fans wonder is that with this kind of record in English football, Arsenal have not won any title again since 2005.

What’s wrong with Arsenal then?  If we see this case objectively we can draw many reasons why this club become like this. I did conduct some serious research towards this matter on the internet and also got the ‘data’ by my observation from watching Arsenal’s matches on TV.

1. Issue on the manager

This is the main problem Arsenal have. Wenger is not good enough as he was, I think. Recently, he isn’t quite good to set up the squad. Most fans don’t understand why Wenger keeps players like Denilson and Diaby in the squad. Though some agree with Wenger, but frankly we can’t defend these players by observing Arsenal’s  game when they play. Yes, they are improving but it is not enough when we talk about EPL and Champions League. Many times we see Denilson and Diaby are so lazy. EPL and Champions League are places for great players not just average and lazy players. I don’t say that they are average players, but I just say that they are lazy. Winners don’t show good techniques only but they work extremely hard to gain great achievements. What I don’t understand is that Wenger keeps his faith on these players.

Probably we ever heard Ferguson’s famous Hair-Dryer Treatment. Yes, this treatment consistently makes Man United players play well throughout the seasons. We need this kind of treatment for Arsenal from Wenger. If Wenger is able to manage his encouragement to his players, I strongly believe that Arsenal will be better than now.

One philosophy used by Wenger is to play football game beautifully. But weirdly, Wenger keeps complaining when the result of the game doesn’t go on his way. The problem he must understand from the very beginning is that play beautifully is not the same with play to win the game. Wenger should change his bizarre philosophy from now. Winning is the essence of the game. I don’t provoke a harsh or dishonest way to win a game, but I put emphasis that winning is the essence. Wenger doesn’t have to be ashamed if he wants to park the bus, defend only and counter attack, or cattenacio as long as it is needed why doesn’t he? We are aware that even Mou, Fergie, and Ancelotti sometimes use that kind of tactics.

Overall, we need a new manager for Arsenal or Wenger himself changes his philosophy. However, some fans still think that Wenger is the bestest manager in Arsenal’s history thus it needs no changing upon Wenger’s ‘supremacy’3.

2. Issue on the skipper

Fabregas is really a great and very talented player, no one will ever doubt that. However, making Fabregas as a skipper is not a good idea. He is still young and doesn’t have typical charisma needed as a skipper. In addition, we see many times he plays with no motivation. We need a ‘strong’ personality as a skipper. The pressure is always high and you can’t make a low motivational player as a skipper at these levels.

3. Issue on the finishing touch

We surely need a good striker. A striker who knows how to cheat offside trap. A striker who can keep the ball well. A striker who doesn’t hesitate to rush at any defender. And we do need a solution for our players to hit the target and make crosses accurately. It keeps me wondering, what did Wenger train to his squad? Where are outside the box shots like we had before?

Arsène Wenger (credit: Getty Images)

Arsène Wenger (credit: Getty Images)

4. Issue on the defenders and goalie.

The same issue that has been around for years in Arsenal since Keown, Adams, and Seaman left the squad. Yaik! Come on Wenger, buy good defenders and goalies!

5. Issue on the fans.

Some fans are still claiming that this team have bad luck only. I don’t agree with that. It’s been running for 6 years so we can’t blame the x factor a.k.a. luck. We must unify to change the condition. Please don’t argue that silverware isn’t that important because it is. Or, like some fans, keep thinking that ‘Lord’ Wenger will do better next season without any changing4.

I do hope that the future is bright for Arsenal. However, I’d be pessimistic if there is no changing in Arsenal regarding 5 points I pointed out above. Or, are you satisfied to see this team as “beautiful losers” eternally? Let’s make a move as fans; write and write so we can change the situation. Together, we will deconstruct these accepted blunders: a thought that see nothing’s wrong with Arsenal and a thought that everything will be better next season without any changing in the philosophy of playing and the members of the squad. Till then, the question remains; Arsenal, where are you gunning now?5

Footnotes

  1. to take a novel’s title written by Leonard Cohen. This term, beautiful losers, then was used by Duleep Allirajah in 2008 in his good article “Arsenal: the ‘beautiful losers’ of football“. Allirajah in 2009 used this term again to address the way Arsenal play compared to jogo bonito in his article “Arsenal: pretty, but no good in a fight“.
  2. this statistics is taken from Wikipedia.
  3. to see different opinion read this.
  4. a writing proposing such thinking is this article.
  5. Quo Vadis – Where Are You Going?

Gunners – Gunning –> Where Are You Gunning?  or Where Are You Running? ha ha It’s a funny word play.