Sastra dan Dekonstruksi

Dekonstruksi adalah suatu istilah yang kerap dikaitkan dengan Jacques Derrida meskipun Derrida sendiri agak ogah-ogahan dengan istilah tersebut (bdk. Zehfuss dalam Edkins dan Williams ed., 2010: 182) dan menyesal karena dianggap “menetapkan” takdir makna istilah dekonstruksi sebagaimana diamini orang-orang (Lawlor, 2006). Dekonstruksi sebagai suatu bentuk filosofi dianggap sesuatu yang radikal, ia menantang aliran filsafat yang sudah mapan (mis. Fenomenologi ala Husserl maupun Heidegger dan Strukturalisme ala Saussure), bikin masuk angin teolog (mis. karena tulisannya tentang Messianisme dan Abraham), buat geleng kepala namun salut sejarawan (karena tulisan sejarah selalu terbuka untuk diedit), tak ketinggalan setidaknya bikin kembung kalangan akademisi filsafat namun justru oleh sebagian orang dianggap menginspirasi gerakan sayap kiri, feminisme, skeptisme, dan poskolonialisme (cf. Sterne, 2004 dan Reynolds, 2010). Inti dari pemikiran Derrida lewat dekonstruksi adalah pengunjukan bahwa bagaimana bahasa telah memberi batasan dan kondisi bagi pikiran. Derrida mendobrak batasan tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada meaning dan hirarki di dalam bahasa yang diyakini tetap sebagai tetap melainkan terus berubah dan tidak tertentukan (undecidables) (Dorbolo, 2004).

Derrida berpendapat bahwa pemikiran Barat disusun oleh dikotomi oposisi biner dan ia menyebutnya sebagai ”metafisika kehadiran” atau dapat juga disebut sebagai “metafisika”. Dua penyusun oposisi biner ini bersifat saling berlawanan dan eksklusif satu sama lain namun ko-eksisten. Kata “siang” berlawanan dengan “malam”, kata “siang” tidak bisa menggantikan kata “malam” karena keduanya eksklusif dalam kediriannya, dan kata “siang” tidak signifikan jika tidak ada pembandingnya, yaitu kata “malam” (bdk. Lao Tzu, 1995). Lebih jauh lagi, Derrida melihat di dalam pemikiran Barat sejak jaman Plato bahwa di dalam oposisi biner tersebut ada peletakan tatanan hierarkis atasnya. Derrida melihat bahwa meskipun ko-eksisten namun salah satu istilah atau kata tersebut dianggap mempunyai derajat yang lebih tinggi dibanding lainnya; “siang” lebih bagus daripada “malam”, “kehadiran” lebih baik daripada “absen”, ”positif” lebih duluan daripada ”negatif”, dan bahwa “ujaran” lebih unggul daripada “tulisan” (Reynolds, 2010).

Perlu untuk dicatat, bahwa salah satu strategi dari dekonstruksi adalah pembalikan posisi dari hirarki oposisi biner (Reynolds, 2010). Derrida di dalam bukunya Of Grammatology mengkritisi keadaan pemikiran yang menyatakan bahwa ”ujaran” lebih baik daripada ”tulisan”. Ada dikatakan bahwa “tulisan” adalah bentuk representasi yang nilainya lebih rendah bila dibandingkan dengan “ujaran” karena apa yang dikatakan lewat “ujaran” merupakan keluaran yang langsung dari tubuh sehingga dianggap lebih dekat dengan pikiran asli (Selden dkk., 1997: 171-172) dan ”ujaran” sebagai simbolisasi realitas yang pertama menurut pemikiran strukturalis dikatakan lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan ”tulisan” yang merupakan simbolisasi dari ”ujaran” (Reynolds, 2010). Perlu diketahui bahwa pada pemikiran strukturalis, dikatakan bahwa kita hanya “mengalami realitas” namun tidak akan bisa mengetahui realitas-di-dalam-kesejatiannya. Untuk melihat realitas kita harus menggunakan simbol, kode, atau tanda. Simbol, kode, atau tanda bukanlah realitas namun “pengalaman akan realitas” terpaksa kita representasikan ke dalam bentuk simbol, kode, atau tanda agar realitas tadi menjadi diketahui. Dengan melakukan demikian maka pengertian memahami realitas adalah “mengetahui realitas lewat tanda dan sistem tanda”. Jikalau intensi representasi realitas yang harus ditransferkan muncul ”ujaran”, maka berdasar pemikiran strukturalis, ”tulisan” adalah bentuk derivasi kedua dari representasi akan realitas. Jadi urutannya adalah ”realitas” –> ”ujaran” –> ”tulisan”. Pemikiran demikian lalu menempatkan ”tulisan” jauh ketepatan dan kesesuaiannya dibandingkan ”ujaran” di dalam merepresentasikan realitas. Karena ”tulisan” merupakan simbolisasi dari simbol yang sudah lebih duluan (”ujaran”) (Lye, 1998; Reynolds, 2010). Argumen Derrida menentang pendapat tersebut. Derrida setuju hanya pada bagian bahwa baik ”ujaran” maupun ”tulisan” merupakan sistem tanda dan bukan realitas itu sendiri. Namun ia mempertanyakan pernyataan dari kaum strukturalis, khususnya tesis Saussure, yang menyatakan “the arbitrariness of the sign”. Jika tidak ada kaitan antara tanda dan yang ditandai maka ”ujaran” (yang merupakan sistem tanda) tidaklah bisa dikatakan lebih baik daripada ”tulisan”.

Derrida juga memunculkan istilah différance. Différance berasal dari bahasa Perancis yang mempunyai arti to differ (membedakan) dan to defer (menunda).  Sebagai contoh: ambil sign “mobil”. “Mobil” merepresentasikan “kehadiran” sesuatu itu di dalam “ketidakhadirannya”. Ketika sesuatu itu tidak dapat ditunjukkan, maka kita akan “menelusuri jalan memutar dari sign itu” (Derrida, 1982: 9). Kata “mobil” sebenarnya bukan mobil itu sendiri sehingga dapatlah dikatakan bahwa sign menunda “kehadiran” dan membedakan “kehadiran” dirinya dengan “kehadiran yang tidak hadir”. Ide mengenai différance mempertanyakan otorita “kehadiran” (Zehfuss, 2002: 200) sebab ketika sign dimunculkan maka timbul masalah lain. Sebuah sign di dalam suatu teks tidaklah bisa dikontrol oleh pencipta teks. Berdasar “the arbitrariness of the sign”, sebuah sign bisa merujuk kepada sesuatu yang berbeda dengan maksud dari pemuncul sign tersebut di dalam teks. Tidak ada jaminan bahwa rujukan yang sama atas sign itu bakal dimiliki oleh reseptor teks.

Ia juga menyatakan bahwa makna adalah sesuatu yang sangat labil. Pengertian-pengertian identifikasi dalam bentuk istilah-istilah semisal “perempuan” adalah sebuah fiksi yang menandai penetapan makna yang sifatnya sementara saja, parsial, dan arbitrer (Barker, 2005: 477). Dus memungkinkan pula kepada kita untuk “terus” mendeskripsikan ulang apa yang dikotakkan di dalam definisi istilah “perempuan” dalam suatu proses inversion (pembalikan posisi marjinalnya dihadapkan dengan “laki-laki”), displacement (penukaran letak pusat-nya menjadi “perempuan”), argumentasi kontra supplement (bahwa salah satu istilah dari oposisi biner adalah pelengkap dari istilah lainnya) (cf. Reynolds, 2010).

Derrida (dalam Selden dkk., 1997: 174) menunjukkan bahwa pembacaan terhadap tulisan atau teks berkisar pada tiga karakteristik:

  1. Teks adalah tanda yang dapat direproduksi di dalam ketidakhadiran tidak hanya pencipta teks di dalam konteks khusus, namun bahkan dalam ketidakhadiran referen.
  2. Teks dapat menunjukkan “konteks riil” dan dapat dibaca di dalam konteks yang berbeda meskipun berbeda dengan maksud pencipta teks. Rangkaian tanda yang ada di dalam teks dapat dibangunkan sebuah wacana di dalam konteks yang berbeda (sebagaimana terjadi di dalam kutipan).
  3. Teks menjadi sesuatu yang rentan “peruangan” dalam artian dua hal: (1) Teks telah terpisah dari teks-teks lain di dalam rangkaian yang khusus, (2) Teks terpisah dari “referen aktual” (sebab teks hanya dapat merujuk kepada sesuatu yang sebenarnya tidak hadir di dalam dirinya).

Secara umum, dekonstruksi dapat diartikan sebagai cara pembacaan teks yang “bukan metode atau alat yang bisa diterapkan pada sesuatu dari luar sana … [namun] adalah sesuatu yang  terjadi dan sedang terjadi di dalam” (Derrida dalam Caputo, 1997: 9). Dekonstruksi, sebagai pemikiran Derrida, juga kerap disebut sebagai filosofi hesitasi (Reynolds, 2010) karena setiap pilihan yang kita ambil, selalu tidak bisa kita justifikasikan (cf. Derrida, 1995: 70). Namun dekonstruksi bukanlah penghancuran makna teks dan tidak:

berlangsung melalui kecurigaan acak atau subversi manasuka, melainkan dengan cara menarik keluar dengan hati-hati kekuatan-kekuatan signifikansi yang saling berperang di dalam teks (Johson dalam Barry, 2010: 83)

serta dapat:

menuju ke suatu hubungan tertentu, yang tidak tertangkap oleh penulis, antara apa yang ia maksudkan dan apa yang tidak ia maksudkan pada pola-pola bahasa yang ia pakai … membuat yang kasatmata menjadi terlihat (Derrida dalam Barry, 2010: 83)

sebab setiap teks:

dapat dianggap mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang tampaknya ia katakan … teks dapat dianggap membawa signifikansi majemuk atau mengatakan banyak hal-hal yang berlainan, yang secara fundamental menegasi, menyangkal, atau mensubversi apa yang oleh kritik bisa disebut akan makna ‘stabil’ tunggal. … sebuah teks dapat mengkhianati dirinya sendiri (J.A. Cuddon dalam Barry, 2010: 83).

Sehingga penerapan dekonstruksi terhadap suatu teks, atau dalam konteks tulisan ini adalah teks sastra, dapatlah berorientasi sebagai berikut (Culler dalam Lye, 2008; Barry, 2010: 85):

  1. Penyingkapan ketaksadaran tekstual, bahwa makna yang diungkapkan mungkin berbeda dengan makna di permukaan. Atau dengan kata lain, membaca teks dalam rangka mencari bentuk pengkhianatan teks terhadap dirinya sendiri. Contoh pembacaan dekonstruktif ini dapat kita temukan pada karya Chairil Anwar “Aku”. Sajak “Aku” atau kadang disebut berjudul “Semangat” bukanlah bentuk sajak perjuangan yang tak kenal takut. Teks sajak “Aku” pada bagian akhir ada baris yang berkata: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Justru baris ini menjadi signifikan, karena dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa si aku menyesal telah tidak peduli akan peluru yang menembus kulitnya. Ia menyesal dan ingin hidup lebih lama lagi. Jadi sajak ini bukan bentuk kematian yang gagah berani; yang patriotik; yang sonder rajuk justru malah suatu penyesalan si aku karena telah terlalu gegabah sehingga kematian yang sebentar lagi datang membuatnya takut.
  2. Pencarian kata-kata yang sudah mati (atau sekarat) signifikansinya yang kontradiktif kemudian dikedepankan sehingga dapat membawa makna krusial bagi keseluruhan teks.
  3. Penunjukkan bahwa teks disifatkan oleh ciri ketidakpaduannya dan bukan keterpaduannya. Contoh pembacaan dekonstruktif ini dilakukan oleh Katrin Bandel (2006: 143-163) atas karya Djenar Maesa Ayu “Nayla” yang dapat dikatakan sebagai karya yang dibuat dengan benturan plot yang tidak logis dus suatu bentuk ketergopohan pencipta teks.
  4. Penunjukkan fragmen tertentu sebagai pusat analisis sehingga mustahil terjadi univokal pembacaan; yang terjadi adalah multiplisitas makna. Contoh yang bagus tentang ini adalah sajak Robert Frost “The Road Not Taken”. Pada bagian: And that has made all the difference, tidak bisa ditentukan dengan jelas apakah si traveller menyesal dengan pilihan yang telah dibuatnya atau tidak. Klaim bahwa yang benar adalah si traveller menyesalkan pilihan yang telah dibuatnya sebagai satu-satunya makna yang sah adalah labil vice versa.
  5. Pencarian pergeseran, patahan, retakan di dalam teks dan membuktikannya sebagai bentuk yang sengaja direpresi, dihapus, dilewati oleh teks.
  6. Pembuktian bahwa teks memiliki makna berbeda daripada interpretasi yang diterima sebagai benar atau primer. Contoh yang bagus adalah pembacaan dekonstruktif interpretasi primer terhadap novel karya Marah Rusli “Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)” oleh Aziz Abdul Ngashim (2010). Ngashim menunjukkan bahwa interpretasi primer selalu mengatakan bahwa Sitti Nurbaya adalah korban kawin paksa oleh orang tuanya. Di dalam tulisannya, Ngashim menggoncang interpretasi tersebut dus menyatakan bahwa justru Sitti Nurbaya mengorbankan dirinya sehingga dinikahi Datuk Meringgih agar bapaknya tidak dipenjara setelah gagal membayar utang. Ngashim lewat tulisannya juga menggugat sebuah keberterimaan umum bahwa kawin (di)paksa oleh orang tua adalah serupa kisah Sitti Nurbaya dan blunder umum tersebut berarti memfitnah ayah Sitti Nurbaya (yaitu Baginda Sulaiman) serta memelencengkan bentuk rela berkorban dan bakti orang tua sebagaimana diteladankan oleh Sitti Nurbaya.
  7. Pemfokusan bahwa sesuatu yang marjinal di dalam teks, semisal karakter non-utama, justru merupakan ‘pusat’ atau sesuatu yang ‘mengontrol’  seluruh makna teks. Contoh yang bagus adalah semisal pembacaan dekonstruktif terhadap novel “Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai)”. Proposisi yang bisa dimunculkan adalah pergeseran status tokoh di dalam novel tersebut. Jika terketahui bahwa novel ini memiliki latar sosio-historis pemberontakan rakyat Padang terhadap Belanda karena kebijakan pajak. Maka pembacaan Faruk (1999: 48-49) yang menyatakan bahwa Samsul Bahri sebagai tokoh utama adalah bermasalah. Bagaimana tidak? Samsul Bahri-lah yang berada di pihak Belanda ketika terjadi pertempuran dengan rakyat Padang. Pun juga Samsul Bahri pula yang mengganggu istri Datuk Meringgih dengan berciuman di malam hari di salah satu fragmen novel tersebut. Datuk Meringgih adalah pahlawan (hero) sesungguhnya karena sokongannya kepada perjuangan melawan Belanda lepas dari cara liciknya mendapatkan Sitti Nurbaya sedangkan Samsul Bahri adalah pengkhianat negara dan perusak perkawinan orang sehingga lebih layak dia disebut sebagai penjahat (villain).

DAFTAR PUSTAKA

Bandel, Katrin. 2006.  “Nayla, Potret Sang Pengarang Perempuan sebagai Selebriti” dalam Sastra, Perempuan, dan Seks. Yogyakarta: Jalasutra.

Barker, Carlos. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktik, terjemahan Tim KUNCI Cultural Studies Center. Yogyakarta: PT Bentang Pustaka.

Barry, Peter. 2010. Beginning Theory, Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya terjemahan Harviyah Widiawati dan Evi Setyarini. Yogyakarta: Jalasutra.

Caputo, John D. 1997. Deconstruction in a Nutshell: A Conversation with Jacques Derrida. New York: Fordham University Press.

Derrida, Jacques. 1981. Positions, terjemahan Alan Bass.  London: Athlone Press.

_____________. 1982. Margins of Philosophy, terjemahan Alan Bass.  Chicago: The University of Chicago Press.

_____________. 1995. The Gift of Death, terjemahan Wills. Chicago: University of Chicago Press.

Dorbolo, Jon. 2004. Jacques Derrida: Duality, Hierarchy, Priority. Diakses pada Kamis, 16 Juni 2011 pukul 6:59 WIB dari alamat laman:

http://oregonstate.edu/instruct/phl201/modules/Philosophers/Derrida/derrida_duality.htm

Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lawlor, Leonard. Wed 22 Nov, 2006. Jacques Derrida. Diakses pada Kamis, 16 Juni 2011 pukul 6:54 dari alamat laman:

http://plato.stanford.edu/archives/win2006/entries/derrida/

Lye, John. 30 April 2008. Deconstruction: Some Assumptions. Diakses pada Selasa, 7 Juni 2011 pukul 13:37 WIB dari alamat laman:

http://www.jeeves.brocku.ca/english/courses/4F70/deconstruction.php

Ngashim, Aziz Abdul. 2010. Jangan Fitnah Siti Nurbaya. Diakses pada Senin, 7 Juni 2011 pukul 11:45 WIB dari alamat laman:

http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/28/jangan-fitnah-siti-nurbaya/-12

Reynolds, Jack. 2010. Jacques Derrida (1930 – 2004). Diakses pada Kamis, 9 Juni 2011 pukul 16:40 WIB dari laman:

http://www.iep.utm.edu/derrida/


Selden, Raman; Peter Widdowson; dan Peter Brooker. 1997. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory Fourth Edition.  Hertfordshire: Prentice Hall/Harvester Wheatsheaf.

Sterne, Jonathan. 2004. Some Simple Thoughts on Jacques Derrida (1930-2004) diakses 16 Juni 2011 pukul 6:31 WIB dari alamat laman:

http://bad.eserver.org/editors/2004/thoughts_on_jacques_derrida.html

Tzu, Lao. 20 Juli 1995. Tao Te Ching a translation by S. Mitchell. Dibaca 1 April 2011 pukul 10:30 WIB dari alamat laman:

http://academic.brooklyn.cuny.edu/core9/phalsall/texts/taote-v3.html


Zehfuss, Maja. 2002. Constructivism in International Relations: The Politics of Reality. Cambridge: Cambridge University Press.

__________. 2010. “Jacques Derrida” dalam Teori-teori Kritis Menantang Pandangan Utama Studi Politik Internasional, Edkins dan Williams ed. terjemahan Teguh Wahyu Utomo. Yogyakarta: Pustaka Baca!

Creative Commons License
Sastra dan Dekonstruksi by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Revisiting Chairil Anwar part 2

Chairil Anwar and His Cold Gaze (Credit: en.wikipedia.org)

Chairil Anwar and His Cold Gaze (Credit: en.wikipedia.org)

If I had to choose four best poems of Chairil Anwar, I would pick these four poems: Nisan, Aku, Derai-derai Cemara, and Yang Terempas dan Yang Putus. The reasons are quite obvious as I will expose them below:

1. These poems depict the psychological stance of Anwar before  death.

Let’s compare these four Anwar’s poems with Donne’s Death, Be Not Proud. From the reading over Anwar’s four poems and Donne’s Holy Sonnet, we may depict the same issue here; human vs death. However, Anwar was different from Donne in contemplating death. Donne made death as something that “not so mighty and dreadful” and “nor yet canst thou kill me” while Anwar took unstable opposition facing death. For Anwar, he called death as “bukan kematian benar menusuk kalbu; something that didn’t really make him sad”, “keridlaanmu menerima segala tiba; death itself was a test from God for him”, “tak kutahu setinggi itu atas debu/ dan duka; he didn’t understand why God gave debu (death) and duka (sorrow) to show His Greatness (maha tuan bertahta)” as in Nisan, later he put himself in a paradoxical statement: death as “something that he wasn’t afraid of  when it came to him kalau sampai waktuku, ku mau tak seorang kan merayu” but it was also something he didn’t care about “Dan aku akan lebih tidak peduli”. Death was something he believed could not come in the near future because of his vitality as he wanted to live for another thousand years “Aku mau hidup seribu tahun lagi” as in Aku.

The tension between Anwar and death then continued. In his last two poems, Derai-derai Cemara and Yang Terempas dan Yang Putus, Anwar realized that he could not run. He knew that death would come, and it did. He, ironically, could not escape. In Derai-derai Cemara he said:

Aku sekarang orangnya bisa tahan Me myself now can see
sudah berapa waktu bukan kanak lagi It’s been so long, I am now a child not
tapi dulu memang ada suatu bahan Though I had some objection
yang bukan dasar perhitungan kini but now I have to accept it
Hidup hanya menunda kekalahan Life is just a game to hold defeat
tambah terasing dari cinta sekolah rendah by time we comprehend can’t no longer play hide and seek
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan and do understand, some things are still left unspoken
sebelum pada akhirnya kita menyerah ’till we finally surrender.

While in Yang Terempas dan Yang Putus he added:

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang I’m tidying my room, making myself ready in case you visit
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; that I will tell you another story;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang but now I have only a fist of pure emotion
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku motionless and I’m alone, the stories and events seem rigid.

Though he was waiting for a friend to come “I’m tidying my room, making myself ready in case you visit/ that I will tell you another story”, but death made the visit instead. He realized this time not a friend but death was coming “motionless and I’m alone, the stories and events seem rigid”.

2. The unique composition of these four poems at that time in Indonesia.

When we talk Nisan and compare it to other poems at the same period in Indonesian literary world, we will find this poem as different and difficult. It was different because it talked about sorrow and death but also asked an explanation why God had to show His Greatness through them. Previous poems in Indonesian literary world had never come into this kind of question. For instance, Amir Hamzah made some poems about God’s Greatness and His punishment, but Hamzah would never ask  “why” upon God’s decision in a bold manner. This poem can be called as an introduction for other Anwar’s poems. It was also difficult because the composition of the poem took pantun rhyme (a-b-a-b) while proposing an enjambement to catch the rhyme “tak kutahu setinggi itu atas debu/dan duka, something which was odd for pantun, within it.

Aku was a poem that skyrocketed Anwar beyond other poets. The poem itself had its moment. Around 40’s in Indonesia was war time. Though some said that Aku (or Semangat) was not intended as motivational poem but a rather a protest addressed to his father, but actually It did boost the spirit of Indonesians to gain their independence. Some points can be drawn from Aku are:

  1. It uses bold words like: aku (me; a word which now still sounds impolite to use in Sumatera [Anwar was born in Medan] and Indonesia for some people if one’s using it to address himself in front of older or respectful one) and binatang jalang (bitch; bastard). This was the poem that broke the culture of Indonesian literary world. it opened the new horizon of Indonesian literary world regarding diction.
  2. It has some sentences which may imply a portray of a “near death moment” in a battle: kalau sampai waktuku (when my time comes)/ku mau tak seorang kan merayu (I want no one weeps) …/ Biar peluru menembus kulitku (I care not even if bullet finds a way into my skin) /Aku tetap meradang menerjang (I will strike still, I won’t stop). This is why this poem made such an impact upon Indonesian at that time who fight for their independence.
  3. The arrangement of this poem was not familiar to that time. This poem consists of some verses which have a single sentence.

When we talk about Derai-derai Cemara, we talk about existentialism. This poem states clearly the reason for life based upon Anwar reading on Marsman, Nietzche, and Slauerhoff.

Hidup hanya menunda kekalahan

Life is just a game to hold defeat

dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

and do understand, some things are still left unspoken

sebelum pada akhirnya kita menyerah

’till we finally surrender

What most noted from Yang Terempas dan Yang Putus is actually Anwar’s vision on his coming death; a lonely and sorrowful death. This is a poem where the coming death is described beautifully. In the first verse, it tells about Anwar’s expectation on his friend to accompany him. The second verse gives a shock to the readers, Anwart wrote: di Karet (daerahku y.a.d.) “in Karet (the place where I will be)”. This man felt that it was coming to him; the death. In the third verse, he said: tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang “but now I have only a fist of pure emotion”. Does this mean that Anwar was angry to his not coming friend so he raised his fist of pure emotion or Anwar was running out of time  because death came first before his friend so raising his hand was his last movement? Then it ends with this line:
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

motionless and I’m alone, the stories and events seem rigid.

motionless and I’m alone = my dead body; alone

He was truly a genius poet. This poem, the death of a man in a room, is so touching yet beautiful. This poem gave different atmosphere into Indonesian literary world. As I recall, there was no poem that pictured a fragment of one’s death so beautiful as this poem.

By these four poems Anwar gave Indonesian literary world some recognizable impacts. He gave Indonesian poems a new direction. He showed others how to put “impolite” words within their appropriate context (a rebellion and or a never give-up spirit context, for examples as in Aku), modify the old style (as in Nisan), show contemplations and critical thoughts (existentialism and religiosity as in Nisan and Derai-derai Cemara), or just art-for-art [and a vision] (as in Yang Terempas dan Yang Putus).

Hidup hanya menunda kekalahan

Life is just a game to hold defeat

dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

and do understand, some things are still left unspoken

sebelum pada akhirnya kita menyerah

sebelum pada akhirnya kita menyerah

Creative Commons License
Revisiting Chairil Anwar part 2 by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.
Based on a work at dipanugraha.blog.com.