Pemilu yang Sehat, Sebuah Utopia?

Artikel Dipa Nugraha

Pindai tulisan opini saya yang dimuat di Harian Joglosemar. Publikasi daring (online) artikel tersebut dapat diakses lewat link berikut ini:

Pemilu 2014 yang Sehat, Sebuah Utopia?

Berikut ini adalah sebagian teks aslinya (bahasan tentang Said dan Spivak dikeluarkan) sebelum dipangkas sebab ruang yang tersedia hanya cukup untuk 7500 characters with spaces dan saya memakluminya – bukti saya kurang conciseness (?).

All in all, terima kasih kepada Joglosemar.

_________________________________________________

PEMILU YANG SEHAT, SEBUAH UTOPIA?

 

Menarik memang ketika membaca kisah ‘tertangkapnya’ Walang dan Sa’aran oleh petugas Suku Dinas Sosial Jakarta di perempatan Pancoran beberapa waktu yang lalu. Berdasarkan penuturan media massa, kedua pengemis dari Subang ini menjalankan aktivitasnya hanya pada malam hari dan berhasil mendapatkan lebih dari 25 juta dalam waktu 15 hari. Bahkan cerita justru semakin menarik ketika dinarasikan oleh media massa bahwa Walang mengemis untuk mencicil ONH dan membeli mobil.

Sikap Pembaca terhadap Teks

Kisah Walang dan Sa’aran di media massa sedikit banyak relevan dengan eksperimen yang dilakukan Culler (Structuralist Poetics, 1975). Culler menggubah ulang baris-baris dari novel Dickens menjadi sebuah sajak. Teeuw (Membaca dan Menilai Sastra, 1983) juga melakukan eksperimen yang mirip kepada mahasiswanya dengan menyodorkan gubah ulang berita dari sebuah surat kabar menjadi berbentuk berbait seperti puisi.

Reaksi sebagian besar pembaca dalam eksperimen tersebut adalah sama. Para pembaca dalam eksperimen Culler memperlakukan teks yang disodorkan sebagaimana sebuah puisi dan bukan sebuah novel sebagaimana juga para pembaca dalam eksperimen Teeuw memperlakukan teks yang disodorkan sebagai sebuah puisi dan bukan berita surat kabar. Hasil dari kedua eksperimen ini penting sebab menunjukkan bahwa operasionalisasi pembacaan akan mengikuti bentuk suatu teks ditampilkan. Culler, dan juga Teeuw, menunjukkan bahwa pembaca memiliki kecenderungan merespons teks sesuai tampilannya. Atau dengan kata lain,  modus penafsiran terhadap teks mengikut tampilan teks.

Kebebasan Penafsiran oleh Pembaca

Ketika seorang pembaca berhadapan dengan teks maka interaksi yang terjadi adalah proses ilustrasi. Pembaca di dalam proses ini menyepadankan apa yang tertulis di dalam teks dengan reka ulang imajinatif di dalam pikirannya sesuai dengan realitas dunia. Wolfgang Iser di dalam bukunya The Act of Reading (1978) menggunakan istilah ilustrasi karena apa yang ditampilkan oleh sebuah teks selalu memiliki ruang kosong. Ruang kosong ini niscaya ada sebab teks tidak sama dengan realitas. Pembaca selalu mengisi ruang kosong ini sesuai dengan repositori referensi subjektif yang dimilikinya.

Iser mengedepankan perspektif mengenai pembacaan ini dalam konteks pembacaan karya sastra. Namun apabila merujuk kepada percobaan yang pernah dilakukan oleh Culler dan Teeuw maka kebebasan pembaca untuk mengisi ruang kosong, sebagai bentuk kekurangan teks menampilkan realitas yang utuh, bagaimanapun juga akan tetap dibatasi oleh bagaimana teks tersebut ditampilkan.

Narasi Walang dan Sa’aran di Media Massa

Marilah kita kembali kepada kisah Walang dan Sa’aran. Seperti telah ditampilkan di atas bahwa kisah mereka menarik karenaberita awal yang muncul mengenai petualangan mereka di Jakarta menjadi pengemis disajikan begitu rupa sehingga pembaca akan menafsirkan bahwa Walang dan Sa’aran ‘memang’ menghasilkan 25 juta dengan cara mengemis selama 15 hari di Jakarta. Kisah ini menjadi semakin spektakuler ketika beberapa sosiolog memberikan komentar akademik mengenai fenomena Walang dan Sa’aran.

Cerita mereka ini menarik karena sejatinya, yang tidak terlalu intens diulas oleh banyak media massa kemudian, bahwa uang yang dibawa Walang dan Sa’aran sebanyak lebih dari 25 juta bukanlah melulu hasil dari aktivitas mengemis selama 15 hari di Jakarta. Ketika ditelisik lebih jauh oleh petugas Sudin Sosial Jakarta ternyata Walang memang terbiasa membawa semua uang yang ia miliki ke manapun ia pergi.

Berdasar penuturan Walang, uang 25 juta tersebut sebanyak 21 juta merupakan uang hasil jual beli sapi dan olah sawah sewa yang selama ini merupakan aktivitasnya di kampung. Walang selalu membawa uangnya sebab ia tidak terbiasa dengan kerumitan penyimpanan uang di bank dan jikalau ditinggal di rumahnya ia khawatir anak tirinya akan mengambil uang tersebut.

Jadi uang 25 juta Walang dan Sa’aran bukanlah melulu dari hasil mengemis selama 15 hari. Deviasi dari kenyataannya, apa yang telah disampaikan oleh beberapa media massa seakan-akan mengarahkan sebuah persepsi bahwa mengemis di Jakarta sungguh menggiurkan hasilnya. Buktinya: Walang dan Sa’aran!

Problem Narasi di Media Massa

Ada semacam dilema penampilan sebuah teks oleh media massa. Dilema yang dihadapi adalah keterbatasan ruang penyampaian dan kebutuhan untuk selalu menampilkan berita-berita lain sehingga kesan ‘terkini’ selalu terjaga. Tambahan pula, begitu banyak berita ‘terkini’ selalu sedang menunggu giliran untuk segera disajikan.

Ada semacam implikasi pragmatis dari keadaan ini. Kisah Walang dan Sa’aran pada mulanya ditampilkan ‘tidak cukup lengkap’ oleh surat kabar dan televisi sebab dilema ruang dan waktu terjadi. Para jurnalis ‘kadang’ tidak cukup waktu untuk melakukan investigasi mendalam karena dikejar deadline atau karena proses investigasi memang tidak secepat kebutuhan tampilnya berita. Saat ‘berita yang belum utuh’ ini mendapat respons tinggi di masyarakat, baru timbullah kebutuhan untuk mengulas berita tersebut secara utuh yang sifatnya opsional.

Mengapa opsional? Sebab semisal dari hasil investigasi lanjutan ditemui bahwa sensasi gempar yang telah terjadi di masyarakat bakal redup oleh pemberitaan lengkap dan menyeluruh: bahwa sebagian besar uang 25 juta Walang dan Sa’aran ternyata bukan melulu dari hasil mengemis, ada dua opsi yang mungkin dipilih: 1). memberitakan secara utuh berdasarkan investigasi lanjutan sehingga masyarakat kemudian reda kegemparannya atau 2). menampilkan berita-berita lain yang sudah menunggu diterbitkan sebab lebih menguntungkan bagi citra ‘terkini’.

Sudah menjadi kemahfuman bahwa publik menyukai berita sensasional. Di sisi lain, penyaji berita tidak bisa dikatakan melakukan kesalahan sebab yang mereka sampaikan, sampai kadar tertentu, memang mengandung fakta-fakta hasil investigasi. Di sisi lain tidak ada kewajiban bagi mereka untuk menyampaikan semua fakta yang mereka temukan. (Sebagian) fakta sudah disampaikan zonder peduli apakah publik tergiring kepada penafsiran yang tepat atau tidak; berita-berita (sensasional) lain sudah menunggu ditampilkan.

Pembaca Menghadapi Narasi Media Massa

Sebuah renungan patut muncul dari apa yang tersampaikan di atas. Perlu bagi kita untuk khawatir dengan berita yang kita peroleh dari media massa menjelang pemilu tahun depan. Kita, para penikmat media massa – meminjam istilah Iser – adalah konsumen narasi media massa. Kita mengkonsumsi teks yang disajikan oleh media massa sebagaimana adanya. Penafsiran kita atas sebuah kejadian selalu terikat kepada fakta-fakta yang diberikan media massa: apakah lengkap, belum lengkap, hanya sebagian, atau tersortir demi kepentingan sebuah narasi.

Buku pengakuan karya Ryan Holiday mengenai aktivitasnya di dalam menggubah narasi demi kepentingan klien yang menyewanya di beberapa media seperti the Huffington Post, Gawker, Business Insider, TechCrunch, Mashable dll. (Credit: barnesandnoble.com)

Buku pengakuan karya Ryan Holiday mengenai aktivitasnya di dalam menggubah narasi demi kepentingan klien yang menyewanya di beberapa media seperti the Huffington Post, Gawker, Business Insider, TechCrunch, Mashable dll. (Credit: barnesandnoble.com)

Secara bawah sadar, kita merespon teks media massa dengan cara kaku sebab kita selalu percaya bahwa media massa akan “selalu independen, akurat, runtut, dan lengkap”. Pertanyaan menggelisahkan justru timbul ketika kita bercermin kepada kisah Walang dan Sa’aran: bahwa ‘kisah 15 hari dan 25 juta’ mereka adalah tidak sebagaimana berita awal disampaikan kepada kita. Ada dua kemungkinan dapat diajukan: mungkin karena sudah banyak antrian berita (sensasional) lainnya atau mungkin sudah terlanjur menjadi sensasi publik sedangkan kelanjutan kisah mereka sudah tidak ekonomis – atau meminjam istilah Parenti (2001), newsworthy – lagi untuk ditampilkan.

Teks dan Narasi

Narasi yang tidak lengkap atau belum lengkap dapat mengarahkan seseorang kepada kesimpulan yang tidak pas. Serupa dengan seorang hakim yang menentukan hukuman seorang terdakwa, pembaca di dalam membaca teks bakal menentukan penafsiran sebuah teks. Hakim menyandarkan keputusannya berdasarkan fakta-fakta yang ‘tersedia’ di persidangan sebagaimana pembaca menafsirkan sebuah teks berdasar fakta-fakta yang ‘ada’ di dalam sebuah teks. Begitu pula penikmat berita dari media massa. Penikmat media massa akan menafsirkan suatu kejadian berdasarkan fakta-fakta yang ‘disediakan’ oleh penyaji berita.

Kegiatan menafsirkan teks sehingga terbentuk sebuah narasi mengenai suatu hal, serupa dengan yang dikatakan oleh Barthes di dalam The Death of The Author (1967). Dalam konteks tulisan ini, narasi yang ditampilkan oleh media massa bakal bertemu dengan hakimnya: para penikmat media massa.

Meskipun seakan-akan Barthes menafikan keberadaan penggubah narasi di dalam proses pemaknaan namun sebenarnya ia tidak mengatakan bahwa teks tidak ada penggubahnya. Ia menekankan bahwa sebuah teks ketika sudah diselesaikan oleh penggubahnya untuk kemudian dilempar ke sidang pembaca maka nasib pemaknaan terletak kepada para pembacanya dan tidak bisa ditentukan oleh penggubahnya. Kompromi atas pendapat Barthes serta berkaca pada eksperimen Culler, Teeuw, dan apa yang diungkapkan oleh Iser maka operasionalisasi penafsiran, tidak bisa dibantah, selalu ‘dibimbing’ oleh teks – dan teks sudah didesain bentuknya oleh penggubah.

Hal senada juga disorot oleh Michael Parenti di dalam esai-nya Monopoly Media Manipulation (2001) [Mediterranean Quarterly, 2002, Volume 13, Number 2: 56-66. ed. 2016]. Parenti menunjukkan bahwa pewartaan yang berimbang di dalam penampilan sebuah berita cenderung tidak pernah terjadi sebab ‘tidak menguntungkan’ penguasa media massa; para kapitalis atau pemerintah. Terjadilah apa yang disebut dengan follow-up avoidance (mis. Kasus Walang dan Sa’aran), framing, labeling, dan false balancing. Follow-up avoidance merupakan bentuk penampilan sesuatu sengaja tidak lengkap sehingga berpotensi menimbulkan distorsi penafsiran sedang framing merujuk kepada bagaimana sebuah kejadian ditampilkan sehingga menggiring penafsiran tertentu sesuai keinginan penggubah teks.

Labeling juga disebut Parenti sebagai bentuk kesengajaan penciptaan narasi sesuai keinginan pihak tertentu. Contoh labeling misalnya tindakan reaksioner sebuah organisasi massa ketika pihak yang berwenang ‘membiarkan’ pelanggaran yang terjadi. Tindakan ini sebenarnya dipicu oleh tidak segera bergeraknya pihak berwenang padahal sudah ada laporan resmi berulang kali tentang pelanggaran tersebut. Ketika sebuah media massa hendak melakukan labelling terhadap sebuah organisasi massa maka bagian di mana ‘ada laporan resmi berulang kali’ sengaja tidak ditampilkan. Berita yang disajikan menampilkan hanya tindakan reaksioner organisasi massa tersebut dengan ditambahi  label sebagai: anarkis, tidak tahu hukum, garis keras dsb.

Penggubahan Narasi dan Pemilu 2014

Pemilu 2014 sudah di ambang pintu. Merujuk kepada peran bombardir teks di dalam mengarahkan dan membentuk persepsi, perlu muncul kekhawatiran komunal dalam diri kita sebagai konsumen media massa menuju pemilu 2014. Di dalam pemilu, permainan persepsi itu penting sebagaimana secara implisit dinyatakan dalam temuan Marzuki Alie (2010) lewat disertasi doktoralnya dan apa yang diungkap Parenti (2001) di dalam esai-nya patut kita cermati.

Kita secara sadar melihat bahwa akhir-akhir ini beberapa kandidat pasangan capres dan cawapres pemilik media massa secara gencar menampilkan diri mereka maupun partai mereka lewat media massa yang mereka miliki. Mengenai fenomena ini, KPID DKI Jakarta lewat risetnya yang bekerja sama dengan 6 perguruan tinggi sejatinya juga telah memberikan lampu kuning kepada kita bahwa “ada kecenderungan pemberitaan dan iklan [di media massa] pun sudah disusupi kampanye [politik]” sebagaimana penuturan Hamdani Masil, Minggu (29/12, merdeka.com).

Terkait dengan esai [tulisan, ed. 2016] Parenti, sebenarnya yang berbahaya bagi sehatnya demokrasi kita bukan iklan politik yang bagi publik awam pun akan gampang dimaknai sebagai ajakan politis. Hal yang berbahaya bagi demokrasi kita adalah potensi penyajian berita yang digubah sedemikian rupa sehingga tercipta persepsi yang baik bagi suatu partai dan kandidat pasangan capres- cawapres tertentu dan persepsi yang buruk bagi partai dan pasangan lainnya lewat ‘penyortiran’ berita – ‘pemolesan’ berita: sebuah bentuk false balancing.

Bagaimana jika kelak pilihan partai dan pasangan presiden-wapres kita di pemilu 2014 merupakan bentuk akumulasi atas penggiringan oleh narasi media massa dari “hal-hal baik” saja yang dimiliki oleh kandidat-kandidat pemilik media massa dan kekalisan kita akan “hal-hal yang tidak begitu baik” yang sengaja sering ditampakkan ada pada partai serta kandidat-kandidat lain yang tidak memiliki media massa?

Ada semacam anekdot ironis dari apa yang sering dilontarkan oleh Sutan Bhatoegana “katakan semua yang benar, namun jangan semua yang benar dikatakan”. Bagaimana jika berita-berita yang dimunculkan memang narasinya digubah dengan tujuan membentuk sebuah keyakinan bawah sadar kita; sebuah persepsi tentang baik tidaknya sebuah partai atau pasangan kandidat presiden-cawapres. Dan penampil berita tidak bisa disalahkan sebab adagium Bhatoegana berlaku: tidak semua hal yang benar dan baik dari sebuah partai ditampilkan sedangkan partai yang ‘dimiliki’ oleh pemilik media massa akan ditampilkan semua kebaikannya (dan berulang-ulang). Kemudian kita tidak punya daya untuk adil menilai kepada semua kandidat dalam pemilu sebab fakta-fakta ‘yang ada’ mengenai kelebihan suatu partai atau pasangan kandidat capres – cawapres hanya tersedia sebagaimana supplier fakta sajikan kepada kita: tidak berimbang. Fair-kah hal demikian bagi sehatnya demokrasi kita jika tidak ada peregulasian? Dus, layakkah kita melabeli sehatnya pemilu 2014 sebagai sebuah utopia?

What’s In A Name

Pagi ini ketika berkendara sepeda motor saya mendapati sebuah bus dengan tulisan “Pengenalan Lingkungan dan Akhirussanah TK …. “. Saya tersenyum sebab di dalam benak saya membayangkan istilah yang mirip dengan itu “pelepasan”, “study tour”, “piknik”, “studi banding”, atau “tamasya”.

Istilah-istilah tersebut boleh didebat memiliki arti yang sama atau juga memiliki arti yang berbeda, tergantung pembaca, kata Roland Barthes atau Stanley Fish. Namun problemnya adalah bagaimana sebuah pesan diniatkan oleh pembuat pesan. Tidak seharusnya letak pemaknaan “terserah tujuan akhir” atau “terserah resepsi pembaca”.

Berbicara terserah mungkin akan menjadi sesuatu yang menarik jika kita melihat beaneka ragam fenomena di dalam bahasa. Misalnya kata “rudal”. Penutur Bahasa Indonesia mungkin banyak yang tidak tahu (atau bahkan tidak mau pusing untuk tahu) bahwa istilah “rudal” adalah singkatan dari “peluru kendali”. Contoh yang lainnya adalah istilah “gali” yang sebenarnya singkatan dari “gerombolan anak liar”. Bisa jadi bagi mereka yang tidak tahu konteks mungkin membayangkan bahwa “gali” dekat artinya dengan “sali”. Sali di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya “kokoh”. Dus, orang yang tidak mendapati konteks awal munculnya istilah gali karena referen yang tersedia adalah, misalnya, “sali” maka akan punya potensi untuk mengaitkan “gali” dengan “sali”. Bahkan mungkin saja ketika didapatinya bahwa “gali” untuk berarti “to dig” maka pemaknaan akan istilah “gali” adalah “aktivitas yang berkaitan dengan to dig”.

Jika mempercayai apa yang dikatakan oleh Barthes tentang “terserah tujuan akhir’ dari sesuatu diterima [baca dimaknai], segala sesuatunya bisa jadi berkembang liar. Saya dapat mengatakan bahwa pemahaman dengan pemaknaan itu berbeda. Memang benar bahwa segala wacana adalah sekumpulan tebar teks yang sudah tersedia di belantara kata, sebagaimana dipertegas lewat ungkapan “rajutan mozaik teks”-nya Kristeva, namun itu menjadikan lingkaran hermeneutika menjadi sebuah teks baru dan bukanlah mem-re-produsir makna dari pencipta.

Contoh dari paparan saya di atas misalnya di dalam lagu anak-anak sebagai berikut:

Gilang sepatu gilang,

Gilang si rama-rama

Mari pulang, marilah pulang,

Bersama-sama.

Satu bait lagu yang sering didendangkan anak-anak PAUD atau TK ini mungkin menjadi kasus yang menarik dari apa yang saya utarakan. Saya dapati bahwa lagu tersebut kerap lazim diajarkan sebagai:

Gelang sipatu gelang

Gelang sirama-rama

Mari pulang, marilah pulang

Bersama-sama.

Mungkin benar bahwa kita memiliki tradisi pantun. Benar juga bahwa ada sebagian ahli menganggap dalam satu bait pantun yang terdapat empat larik, baris 1 + 2 adalah semacam pengantar rima. Jadi tidak [harus] mempunyai makna. Mereka “hanya” sebuah mantra dan konon tradisi melayu mengenal “mantra”[1]. Namun ada seorang ahli pantun dari Belanda (?[2]) melihat bahwa sepasang baris awal dari bait pantun adalah berkaitan entah secara simbolik atau memang integral-naratif.

Jika memang lagu anak-anak tersebut dalam konteks ke-melayu-an dianggap dan dipercayai sebagai serupa pantun atau secara natural berpotensi dianggap sebagai lagu main-main yang mengandung “mantra”, maka yang terjadi adalah penciptaan baru yang berbeda dari bentuk pertama. Ia menjadi sebuah teks yang mengandung “mantra”. Mantra tidaklah [harus] mengandung arti. Bahkan secara ekstreme, ia tidak harus memakai kata yang sudah ada, semacam neologisme diperbolehkan.

Namun masalahnya, apakah memang demikian bebas pemaknaan berdasar “diskursus” di dalam teks sebagaimana poin dari Frow tentang intertekstualitas? Apakah begitu longgarnya “teks-teks”, “konteks” dan “meta-teks” saling bergulat di dalam memberi makna? Jika memang diyakini adanya kebebasan yang luar biasa kepada pembaca maka yang terjadi kemudian bukankah “teks” tersebut menjadi “hilang bentuk”?[3]

Pertanyaan yang diajukan adalah: Apakah hal demikian sah-sah saja? “Gelang” adalah mantra, “sipatu” adalah mantra, dan seterusnya dan seterusnya … Bukankah meskipun pembaca memiliki hak untuk “menafsirkan” sendiri teks yang dihadapinya berdasarkan gegap semesta teks yang tersedia, jikalau bekerja secara serampangan akan menjadikan kerja “pembacaan” menjadi “keliaran penciptaan karya baru” sehingga menghancurkan teks?

Bagaimana jikalau kemudian sebenarnya lagu itu berbunyi:

“gilang, sepatu gilang” = “g[em]ilang sepatu g[em]ilang”

“gilang si rama-rama” = “g[em]ilang si rama rama [penaka kunang-kunang]”

Saya sepakat bahwa konteks “to postpone” di dalam pemaknaan adalah esensial. Namun “pemaknaan” berada di dalam tahap “menunda artikulasi makna” pada saat teks-teks yang tersedia sebagai reference memang belum ada. Ketika sudah ada, maka pemberian makna adalah merapatkan dengan intensi pencipta. Kegiatan pembacaan[4] yang lepas kontrol akan membuat bukan sebuah dekonstruksi sebuah teks namun sebagai bentuk fatalism on reading.

Jeda yang terjadi adalah temporal, saya sepakat. Ia terjadi pada saat “pendugaan makna sesuai intensi penciptaan”. Ia menjadi “mungkin” berkembang ketika teks tersebut may signify makna yang berbeda. Istilah may signify adalah bukan kemutlakan, karena itulah dipakai istilah may.

Pada kasus lagu di atas, pemaknaan lagu hanya sebagai word-per-word:

Gilang sepatu gilang,

Gilang si rama-rama

Mari pulang, marilah pulang,

Bersama-sama.

Lalu bagaimana jika ia sudah beranjak kepada beyond text? Bahwa “sekarang waktunya pulang bersama-sama sebab sepatu sudah bersih, secemerlang cahaya kunang-kunang” adalah to go beyond text. Inilah yang dimaksud oleh A. Teeuw bahwa di dalam pembacaan manusia bertingkah sebagai homo significance atau jika merujuk kepada istilah Culler bahwa pembacaan selalu merupakan hasil dari recuperation and denaturalization. Ada semacam “potensi kenakalan” atau “kewas-wasan” dari tiap manusia untuk terkadang “menjelajah melebihi teks”. Hal demikian terjadi, dan hanya bisa terjadi, karena potensi bahasa yang saya harus sepakat dengan kaum “post-strukturalisme”, untuk melahirkan arti metaforik.

Ini menjadi menguatkan pelabelan manusia sebagai homo significance yang sebenarnya bermuara kepada dua hal. “Potensi kenakalan” terjadi karena di dalam nature manusia ada semacam dorongan untuk “menjadi bersifat personal”, ego didahulukan. Kalimat interpretatif: “menurutku artinya adalah tidak se-tekstual itu” adalah bukti yang demikian. Pada kasus “kewas-wasan”, yang muncul dari interpretasi adalah “jangan-jangan artinya tidak se-tekstual itu”. Kewas-wasan pun bisa tetap terjadi ketika pencipta teks sudah memberi pemaknaan yang rigid. Kewas-wasan model ini karena ada kecurigaan bahwa pencipta teks menyembunyikan makna sebenarnya. Aktivitas menjelajahi kemungkinan “menjadi berbeda” dan atau “mungkin dapat bermakna lain” menjadikan proses pembacaan sendiri menjadi unik dan bisa sublim.

Perlu pula dicatat. Jika memang semua terserah pembaca, alangkah naifnya jikalau menaifkan pembacaan “Marly” di dalam sajak Z oleh salah seorang mahasiswa A Teew ketika tidak ada argumen terbuka untuk menaifkan pembacaan Umar Junus terhadap Bulan di atas Kuburan. Atau alangkah tidak pas ketika Andre Hardjana menyoroti pasar kembang-nya Sitor Situmorang yang ditafsirkan “terserah” Djoko Pradopo.

Tulisan ini bahkan bisa mengembara kepada salah satu kisah tentang sapi betina, ketika ego dan atau was-was muncul di dalam pembacaan perintah. Saat ego muncul, maka akan timbul polemik, sedangkan saat was-was menguasai maka akan timbul kesetenghatian. Kisah ini justru menjadikan sebuah pemarkaan bahwa “teks sastra” berbeda dengan “teks hukum”. Dus, ketika sebuah teks hukum dilarikan kepada sastra, maka hasil akhirnya adalah hancurnya makna perintah.

Kembali kepada kisah bus yang tadi pagi saya lihat, intensi penggunaan istilah “akhirrusanah” adalah berbeda dengan intensi penggunaan “pelepasan”, “study tour”, dll. Tambahan pula, meskipun mungkin istilah “akhirrusanah” dirasa mirip dengan “pelepasan yang baik” namun pesan yang hendak ditampilkan menjadi berbeda juga jikalau digunakan istilah “pelepasan yang baik”. Oleh karena itulah, selayaknyalah kita tidak memakan mentah-mentah ungkapan “what’s in a name” sebab percayalah bahwa istilah berbeda menjadikan arti yang berbeda. Sebagaimana “ini kali” dengan “kali ini” menunjukkan intensi serius si Chairil yang mengusik pembacaan kita sebagaimana A Teeuw pernah membahasnya.


[1] Dan ini pernah hendak digaungkan oleh Sutardji lewat kredo-nya namun ia akhirnya men-dekredo­-kan dirinya … karena dulu ia masih suka minum sedangkan sekarang konon ia sudah sadar. Just kidding

[2] Dahulu saya pernah membaca buku tentang pantun yang mengutip pendapat dari salah satu peneliti budaya pantun dari Belanda (?) yang punya pendapat demikian. Namun saya lupa detilnya. Jika ada yang tahu judul bu atau info sebagai referen dari catatan kaki ini, silakan hubungi saya.

[3] Pertanyaan besar kepada kaum dekonstruksi adalah “sampai sejauh mana kebebasan pembaca tidak dipengaruhi oleh intensi penciptaan?”. Jikalau kebebasan itu mutlak, sampai sejauh mana konstruksi itu justru tidak merusak esensi teks? Apakah “keberadaan” teks dapat dibebaskan dari “keadaannya”?

[4] Pembacaan = pemahaman = pemaknaan. Pembacaan “secara kodrati sebenarnya sama arti” dengan pemaknaan sebab aktivitas membaca mengarahkan pembaca secara alamiah kepada pemaknaan.