Berkemudian

 

Tidak ada yang tak rindu rumah,
pada kenangan masa kanak,
dan gerak begitu lincah.

Tidak ada yang tak rindu rumah,
pada polah petingkah masa kanak,
dan catatan buku belum sah.

Tidak ada yang tak kembali ke rumah,
di perjalanan, sendiri berkemudian.

 

29-30 January 2017

Melbourne

Sejarah dan Historical Revisionism

Teks sejarah adalah buatan manusia yang dituliskan, bisa oleh laki-laki bisa juga oleh perempuan [istilah ini untuk membabat debat berbasis gender atas kuasa patriarki mengenai “HIS-story”), dan bisa ditulis ulang.

Kisah 212 kemarin adalah kisah (ber)sejarah. Ia memiliki [ber-] nilai sejarah.

Meski demikian, belajar dari Edward Said, Michael Parenti, N Chomsky, bahkan pelebaran dari Foucault dan Bordeuau maka permainan teks yang merekam kejadian dan “membuatnya abadi” sebagai kutipan yang tersedia untuk dikutip menurut marka penyebaran dan produksi ilmu pengetahuan bisa dilakukan dan perlu dilakukan oleh pemegang kuasa.

Tidak bisa dipungkiri buku kontroversial Huntington mengenai bentur peradaban dan ideologi bisa, walaupun debatable, dijadikan rujukan.

Bahwa setelah Komunisme bangkrut sebagai ideologi, ideologi yang potensial menjadi kompetitor adalah Islam. Ya, benar bahwa dulu Islam diakrabi oleh Kapitalisme untuk menggebuk Komunisme. Lihat di banyak negara. Itu dulu sebelum Komunisme sebagai ideologi bernegara bangkrut.

Kini keadaan berubah. Peta menuju tatanan dunia yang baru berubah. Ideologi selalu membuka jalan menuju kehegemonian dan itu wajar. Justru saat ia tidak menemukan jalan untuk berkompetisi lagi, ia menjadi ideologi yang lapuk. Tentu saja ideologi yang seperti ini bicara mengenai konsep kekuasaan dan kenegaraan.

Nah.

Akan terasa mokal kalau mengatakan bahwa Islam tidak sedang butuh dijinakkan karena berbahaya bagi kehegemonian. Lihatlah bagaimana Edward Said bicara itu di “Covering Islam” dan Michael Parenti juga relevan dalam papernya “Monopoly Media Manipulation.”

411 adalah fenomena bersejarah namun ia butuh di-divert-kan dokumentasinya. Ia butuh digaduhkan dan disimpangsiurkan dokumentasinya. Tentu agar ia sebagai suatu kejadian yang diabadikan lewat semesta teks kelak timpang kekokohan.

Bermainkanlah dengan simpang siur angka. Bermainkanlah dengan penunggang dan siapa yang ditangkap. Bermainkanlah siapa pahlawan dan siapa bermain uang. Bermainkanlah kelak akan ada “kesaksian-kesaksian” pendukung kegaduhan.

Yang beginian membuat kita teringat industri yang muncul salah satunya lewat memoar Anne Frank yang ditulis dengan bolpen!

 

 

 

Draft

Kalau orang Jawa jengkel atau marah, celetukan kasarnya berkisar pada sesuatu yang fisik. Sebut misalnya: ndasmu, matamu, utekmu, cangkemmu, dengkulmu.

Yang menarik dari ujaran kasar ini adalah ia tidak mengenal bentuk bahasa kromo. Sehingga seolah-olah bahasa kromo memang tidak mempunyai kosa kata umpatan. Dus, semacam wejangan bahwa manusia yang unggul, yang tinggi, yang kromo, tidak misuh, tidak mengumpat.

Bentuk umpatan karena jengkel atau marah yang saya sebutkan di atas adalah bentuk bahasa Jawa ngoko. Kepala dalam bahasa Jawa Kromo (Jawa Halus, Tinggi) disebut sebagai “mustaka” sedangkan dalam bahasa Jawa Ngoko (Jawa Rendah) disebut dengan “ndas.” Jadi tidak ada umpatan berbunyi “mustakamu!” dan yang ada hanya “ndasmu!”

Bahasa memang menunjukkan budaya dan pandangan, filosofi hidup, dan juga cara pandang terhadap dunia dan Kasunyatan. Ada tulisan saya yang lain, masih di dalam blog ini, juga membandingkan bagaimana bahasa Jawa dengan filosofi yang terekspresikan lewat kelas bahasanya memang berbeda dengan bahasa lainnya.

Nah, bicara mengenai umpatan, saya tertarik membahasnya ketika beberapa media massa melaporkan “hate speech” atau ujaran kebencian di dalam demonstrasi menggugat Ahok.

Marilah kita mulai dengan …

 

Bersambung …

Trump, demo antiTrump.

Hanson di Australia …

Bush di masa kampanye penjajahan ke Irak …

Privelege kulit putih dalam retorika politik dan karikatur …

Bahasa dan kekuasaan …

 

Paling Tidak

Paling tidak, khotbah garang mengenai menghargai perbedaan penafsiran, marilah diejawantahkan di dalam mendukung saudaramu sepersaksian atas tafsir yang diyakininya dibuat cemoohan liyan, Kawan.

Paling tidak, jika kita ingat khotbah demokratis mengenai suara rakyat banyak adalah cermin suara langit, marilah diejawantahkan dalam pemakluman tanpa intimidasi dan hadangan, Tuan.

Paling tidak, jika kebesaran topimu atas adil reportase, coba katakan lewat penamu, Tawan.

Paling tidak, biarkan hatimu bicara bukan ego tinggi hatimu, lihatlah orang itu sepanjang gaya-gaya dan kicauannya di muka publik, lihatlah diskresi reklamasi, gusur bukit duri, janggal sumber waras, lihatlah dengan hati bahwa badan bukit es di muka lautan yang selama ini kau cemooh, di bawahnya ada anteseden yang besar dan mungkin hatimu baiknya mulai merenungnya.

Paling tidak hatimu yang putih-putih itu pada keadigangan tak bantu kudus kuasakan.

Paling tidak.

 

 

Pangkon

Di dalam filosofi Jawa, ada istilah “yen dipangku mati”. Saya kembali ingat pada filosofi ini ketika kawan lempar komentar di sebuah media sosial Abu Furqon Hardi Witono menyentil lewat status Facebooknya dengan meme yang ia buat dengan Microsoft Paint, dengan aksara Jawa: PANGKON.

Selugu-lugunya orang Jawa yang berpolitik, filosofi ini pasti diketahui. Filosofi ini diambilkan dari piwulang atau pengajaran yang termaktub dari aksara Jawa. Bahwa setiap aksara Jawa yang mendapatkan pangkon maka akan mati. Hal yang sama juga di dapati di dalam huruf Arab. Di dalam huruf hijaiyah, setiap huruf konsonan yang mendapat sukun akan mati.

Di dalam aksara jawa, aksara “pa” ketika dipangku (diberi pangkon) akan dibaca “p” dan bukan “pa” lagi. Vokal-nya akan hilang. Hilang suaranya. Ia mati.

Pangkon (credit: corjong.net)

Pangkon (credit: corjong.net)

Belajar dari filosofi inilah maka kita bisa mendapati bahwa sangat jarang seseorang yang memiliki sense of Javaneseness sejati akan terang-terangan menyatakan penakhlukan atau intimidatif kepada lawannya atau siapapun yang potensial menjadi lawan.

Me-pangku tidak bisa hanya dimaknai memberikan paha untuk sandaran duduk (lihat bentuk “pangkon” di atas) namun juga ngudhang atau memuji; meng-umbulke (meninggikan, membuat senang hati), meng-uja (memberi kenikmatan) adalah strategi orang Jawa di dalam bernegosiasi dan memenangkan konflik dengan membuat potensi bahaya menjadi terlena. Jadi jangan juga heran mengapa pejuang kemerdekaan kita yang nJawani atau sense of Javaneseness-nya tinggi, tidak terlalu frontal menentang Belanda atau Jepang. Kalau frontal-pun, habis itu ya kooperatif. Tarik ulur seelegan mungkin. Beda kisahnya dengan pejuang-pejuang dari kultur budaya lain. Sukarno beda dengan Sutan Syahrir, misalnya. Menarik bukan, betapa indahnya Indonesia itu?

Nah, pangkon inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Belanda di dalam meringkus Diponegoro. Diponegoro adalah pejuang tanah Jawa (Tengah dan Timur + Yogyakarta) yang menentang Belanda di dalam perang 5 tahun dan bikin Belanda banyak keluar biaya. Tanam Paksa timbul karena Belanda tekor gara-gara Perang Jawa. Uang harus masuk kas yang defisit, begitu niat dari kebijakan ini.

Belanda mengundang Diponegoro dengan bujuk rayu yang memikat. Dipuji sebagai pemimpin rakyat yang dihormati dan Belanda gak perlu lagi untuk musuh-musuhan dengan Pangeran Jawa yang dipuji Chairil Anwar ini, pada saat hari raya Idul Fitri, suasana lebaran, Diponegoro diajak ramah tamah; dipangku; dijamu ngobrol dan mungkin makan-makan. Karena Diponegoro adalah Jawa banget, ya, Diponegoro mah orangnya kayak gitu, ia terima ajakan makan-makan rekonsiliasi ini. Dan dari situlah duka Diponegoro dimulai. Perang Jawa LEBAR; SELESAI. Mungkin dari sinilah istilah LEBARAN mendapatkan kisah mulanya. Idul Fitri adalah momen LEBAR-nya, SELESAI-nya perang orkestrasi keberanian Pangeran Jawa melawan Belanda.

Dari kisah pangkon dan Diponegoro ini, ada beberapa hal yang menarik. Secara filosofis makna dari “Pangkon” adalah meletakkan gerombolan yang sebelumnya berpotensi vokal, berbahaya … menjadi hilang kevokalannya. Diponegoro bisa jadi kena jebak gegara pangkon ini. Ia lupa bahwa Belanda sudah selalu belajar filosofi lokal untuk bikin kuasa kuat. Dan filosofi khas Jawa, pangkon ini, berbeda dengan Mein Kampf ala Hitler yang gak ambil pusing dengan bagaimana menakhlukkan lawan atau Machiavelli yang secara pragmatis lebih suka pemimpin yang ditakuti; karena lebih efektif menerapkan kebijakan, ketimbang pemimpin yang disayangi. Juga orang Jawa tidak bermufakat dengan gaya Nero yang urakan karena dikit-dikit ia undang makan dan suruh Locusta kasih racun ke hidangan. Tidak perlu. Filosofi Jawa itu mengajari “halus di dalam menekuk hati; meredakan potensi vokal.” Oleh sebab itulah negosiasi orang [baca: politikus] Jawa itu “tidak mengenal kekerasan namun justru bisa sangat efektif di dalam membuat lawan loyo”. Tentu dikecualikan jika lawan sudah paham filosofi ini sejak awal.

Liebster Challenge

liebsterawardlogo

First of all, because it seems that any blogger who accepts Liebster Challenge always puts the magic words “I don’t know”. So this is also my confession, or a pattern I should follow in responding this challenge: I don’t know “babar blast” about this Liebster thing. Since I got this challenge from my good friend and not from anonymous person who asks me for a date or a business plan :p  therefore it’s my honor to accept it.  🙂

The one who gave me this challenge was Mas Galih / Brother Maximillian / Ukhti Aisyah Baraja. Thanks Mate for getting me involved into this! :-&

Here’s the rule of the game ( I copy this from his / her blog ):

  1. Acknowledge and accept the Liebster Award by leaving a comment on the blog, that nominated you.
  2. Copy and paste the Liebster logo onto your blog.
  3. Link back to the blogger who nominated you.
  4. Answer the 11 questions put to you by the person who nominated you.
  5. List 11 random facts about yourself.
  6. Nominate and link to 3—11 other blogs you enjoy that have less than 3000 followers.
  7. List 11 questions for your Liebster Award nominees on your blog.
  8. Inform your nominees by leaving a comment on their blog.

The questions given and my answers are these:

  1. Bruce Wayne the Batman, or Tony Stark the Iron Man?
    • I choose Bruce Wayne the Batman. Batman is cool. Iron Man? Yaik, you can’t stand the smell of his chest right? The battery thing ….
  2. Believe the non existence of God or the God doesn’t care mankind’s belief?
    • I believe the existence of God and I do believe that God cares mankind’s belief that’s why God sent the prophets. This is what I believe.  O:)
  3. Joining the crowd of religious non spiritualist, or alone as spiritualist unreligious?
    • Again, I modify the options given from the question. My answer is: I love to join the crowd of religious spiritualists.
  4. Being nice as common sense moral standard, or behaving nice as adaptive behavior? ( human interaction)
    • For this question, the two options given are acceptable.
  5. Espresso with sugar or Cappu[c]cino no sugar?
    • Tho I am a coffee lover, the options given are not reflecting my faves. But if I have to choose between two kind of coffee I love; Kapal Api Special or Coffee Latte both with sugar, I choose Kapal Api Special with sugar. It tastes better than Coffee Latte.
  6. Human genocide by mass poisoning or nuclear bombing?
    • It’s a hard question. I don’t like killing. I don’t like unnecessary killing. Tho I do believe that in some cases war and capital punishment are necessary. Genocide? I don’t like the question so I won’t answer it. :p
  7. Land Rover Defender or Jeep Wrangler?
    • Both are okay. But to be honest, I really love small cars from Mercedes-Benz.
  8. Christina Hendricks or Gwynet[h] Paltrow?
    • Well, …
  9. German Shepherd canine or Thoroughbred horse?
    • German Shepherds are okay, any kind of horse is lovely. Both, I should say.
  10. Reducing earth human population or finding another livable planet?
    • I shall say finding another planet to live is better to try than reducing  the population of human on earth as some lunatics have always wanted.
  11. Dan Brown’s or Nassem Nicholas Taleb’s?
    • It’s gotta to be Dan Brown’s. He writes about new perspectives (or facts) on the history of religion and does not talk about randomness and probability.

Here are 11 random facts about myself:

  1. I love Allah. I love Muhammad pbuh. I love my mom and dad. I love my family. I love people.
  2. Bad things in the past. I was a heavy smoker. I used to smoke Dji Sam Soe, Djarum 76, or Gudang Garam Surya. Trying to stop smoking was not easy. I managed to quit smoking totally 3 years ago. I used to drink beers; used to. I also used to gamble pretty much: domino kiu-kiu and PES.
  3. I have a hyperhidrosis. It’s a medical condition where one cannot control his body temperature and has hyperactive sweat glands.
  4. I love science and history of mankind.
  5. I love gaming on consoles. I really cheer the golden era of NES. The born of NES changed the history of mankind, I believe so. And so did the introduction of PlayStation with its Winning Eleven – Pro Evolution Soccer Series.
  6. My favorite food are Mie Ayam (Javanese-style Chicken Noodle; Street Food), Mie Bangka, Mie Goreng Jawa, Mie Godok Demak, Indomie Goreng, Nasi Bungkus HIK (Solo-Jogja-Klaten-Karanganyar-Sukoharjo-Boyolali-Sragen-Wonogiri), Bakso Arema Malang, Batagor, Nasi Goreng Pedas, Tongseng, Soto Solo, Soto Koya, Soto Surabaya, Tunuman (Garang Asem-like; Demak’s style), Nasi Brongkos (Sukorejo, Weleri, Kendal), Botok Solo, Garang Asem Solo-Jogja, Timlo Solo.
  7. My favorite drinks besides Kapal Api Special are Javanese Tea, Malaysian Teh Tarik, and warm milk with no sugar added.
  8. I am not really fond of Durian, Pete (Parkia Speciosa; Bitter Bean), Prawn, and Jengkol (Dogfruit) although I can eat Pete in Nasi Goreng , Tunuman, or Botok and really love prawn when it is deep fried or in Gimbal Semarang, Rempeyek Udang, Botok, Tunuman, and Garang Asem.
  9. I love Javanese massage and Javanese Kerokan (or Javanese-style Gua Sha). I can do kerokan also, d’ya wanna try?
  10. I love petrichor, the smell of soil after rain.
  11. I love Indonesia.

Next, I have to choose 3- 11 blogger with less than 3000 followers. I would love to pick blogs by Rusdi Mathari, Tarli Nugroho, Zen RS, and Juman Rofarif.

  1. Rusdi’s blog is awesome. I love the way he writes. He also has a good sense of humor. Some people try to be funny in their writings but most of them fail. Rusdi’s tone in his writing is mature yet sometimes funny that I love reading every piece from him. Let’s not forget that Rusdi can write almost anything and about everything.
  2. A blog from Tarli Nugroho, Melanjutkan Indonesia, is also worth a visit. Tarli writes about Indonesian culture, economy, history, and politics.
  3. Zen RS writes mostly about social phenomena. I like some of his writings although I don’t always agree with his point of view. :p
  4. Juman’s blog is contemplating. Juman writes about Islam and moslem. Kinda like it. He gives me different perspective yet enriching about Islam.

Here are the 11 questions need to be answered by the nominees:

  1. Tan Malaka, Soekarno, Syahrir, Hatta, or Soeharto?
  2. How do you find Indomie Goreng, too spicy or too salty?
  3. How do you feel about circumcision, an inevitable-must or a must-for-pleasure?
  4. Blogging or walking?
  5. From these movies, Fight Club, Life is Beautiful, Harry Potter, The Lord of the Ring, Ju-On, and Ada Apa dengan Cinta, which one is the best?
  6. Zainuddin MZ, Aa Gym, or Felix Siauw?
  7. Mandela, Gandhi, Dalai Lama, Malcolm-X, or Martin Luther King Jr.?
  8. Koes Plus, Ebiet G. Ade, or Bimbo?
  9. Has nothin’ to do whether you are (were) smoker or not, which one you prefer, smoker or non-smoker?
  10. Dine In (Have Here, Ngiras) or Take Away (Mbungkus)?
  11. Have breakfast or brunch?

Be waiting for your answers, Mate!