Ketika

 

Ketika kau menagih sajak
Tantang aku tak pernah bikin satu
Maka relakan kalimat pendek ini
Merangkum segala sajak yang mungkin kubuat untukmu
Dalam suka dan duka, dalam tangis maupun tertawa.
Saat intensitas kasih terasa, atau bahkan saat bosan membuat tidur susah tahan jaga.

Dee, semoga Allah selalu merahmati dan menjagamu.

Itu.

War is kind (Perang itu baik)

Do not weep, maiden, for war is kind.

Usah sengguk, Nona, sebab perang itu tak buruk

Because your lover threw wild hands toward the sky

Karena kekasihmu mengepal tangan ke angkasa

And the affrighted steed ran on alone,

Dan kuda perangnya lari lintang pukang sendiri ketakutan,

Do not weep.

Usah sengguk.

War is kind.

Perang tak buruk.

Hoarse, booming drums of the regiment,

Pekik, deru gendang tabuh pasukan,

Little souls who thirst for fight,

Jiwa-jiwa kerdil haus pertempuran,

These men were born to drill and die.

Mereka ini lahir buat berlatih bedil dan belati, membunuh dan mati.

The unexplained glory flies above them,

Kejayaan tak untuk dipahami semayam di dalam diri,*

Great is the battle-god, great, and his kingdom —

Terpujilah dewa perang, kuasamu, dan kerajaanmu — **

A field where a thousand corpses lie.

Hampar beribu mayat bergeletakan

Do not weep, babe, for war is kind.

Usah sengguk, Nak, sebab perang itu tak buruk.

Because your father tumbled in the yellow trenches,

Bilasanya bapakmu tersungkur dalam parit becek berlumpur,

Raged at his breast, gulped and died,

Dada dibuncah amarah, tersedak, lalu mati,

Do not weep.

Usah sengguk.

War is kind.

Perang itu tak buruk.

Swift blazing flag of the regiment,

Kebyar-kebyar gemilau panji pasukan,

Eagle with crest of red and gold,

Elang berperisai merah dan emas,***

These men were born to drill and die.

Mereka ini lahir buat berlatih membunuh dan mati.

Point for them the virtue of slaughter,

Mereka muliakan rasa bangga dapat membantai,

Make plain to them the excellence of killing

Yang jelas mereka pahami adalah bagaimana musuh sempurna disatai

And a field where a thousand corpses lie.

Dan hampar beribu mayat bergeletakan.

Mother whose heart hung humble as a button

Ibu yang hatinya luka penaka hiasan

On the bright splendid shroud of your son,

pada gilap kafan anak mati kerna perang,

Do not weep.

Usah sengguk.

War is kind.

Perang itu tak buruk.

“War is kind” by Stephen Crane, terjemahan © Dipa Nugraha

Catatan

* Kejayaan yang dikejar dari kemenangan lewat pembunuhan besar-besaran dalam perang tidak bisa dijelaskan dengan mudah

** bdk. Doa Bapa Kami atau Pater Noster di dalam tradisi Katolik – Kristen

*** Logo pada panji perang yang serupa ini

Byzantine Eagle (credit: DIREKTOR, Wikimedia Commons)

Byzantine Eagle (credit: DIREKTOR, Wikimedia Commons)

Gadis Peminta-minta (The Poor Lil’ Beggar)

Toto Sudarto Bachtiar (credit: bimbingan.org)

Toto Sudarto Bachtiar (credit: bimbingan.org)

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil

Everytime we meet, lil’ gal wi’ lil’ can

Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka

Your smile is too eternal to know sorrow

Tengadah padaku, pada bulan merah jambu

Look me in the eye, look up to the gloomy moon

Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

But for this city has lost its affinity.

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil

I want to follow you, lil’ gal wi’ lil’ can

Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok

coming home to your nest; under the city bridge reflecting silhouette

Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan

of people’s lives in their glittering dreams

Gembira dari kemayaan riang

delusional euphoria and delight as they seem

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral

for your world is higher than cathedral towers

Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal

walk on dirty waters, of the city you know very well

Jiwa begitu murni, terlalu murni

your soul is pure, so pure

Untuk bisa membagi dukaku

to understand my sorrow, a soul needs cure

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil

If you die,  poor lil’ beggar wi’ lil’ can

Bulan di atas itu, tak ada yang punya

The moon above, no one would ever enjoy it again

Dan kotaku, ah kotaku

And my city, oh my city

Hidupnya tak lagi punya tanda

Its life would lose a true story

Toto Sudarto Bachtiar (Suara, 1956) – Adapted & Translated © Dipa Nugraha

Ka-u

 

laki-laki segelas kopi
adam memandang hawa
direguknya dan sepi
tak juga ia pergi
masih Ia tak nampak di sana
sepi, sepi yang ngeri sekali
laki-laki dan gelas yang kosong
kosong, ng!

bukan ini, Ka-u aku ingini

tidakkah ia seperti kopi
kian diteguk sepi
yang terkenal itu menyeringai?
terjaga, kian jauh [t]rasadari-Mu
taukah ketiganya adalah Kau-Nya diri-Mu?
aku kopi; adam hawa
laki-laki di sana berkata:
La Ilaaha Illa Anta
Subhanaka Inni Kuntu Minadh dholimin.
La Ilaaha Illa Anta, La Ilaaha Illa Anta

jadi kopi, kini ijinkanlah
aku hangatkan dirimu
buat aku terjaga
abai pada sepi
aku seduh kau
pada keMahaSuci-anNya

Monash Clayton, 1 Maret 15

Sajak