Home » Academic » Kalang & Kalangannya

Kalang & Kalangannya

Jika Valli dari The Four Seasons bilang “walk like a man” dan ada yang bersikeras bahwa konstruksi sosial pembentuk stereotip gender harus didobrak, bagaimana menafsirkan “walk like a man” jika batasannya dikaburkan?

Two women bisa diargumenkan bisa menjadi orang tua yang hebat, tetapi bagaimanakah mendefinisikan “good father” di dalam perikatan itu? Bisakah “mother” di-fatherkan? Siapakah yang bisa memenuhi hak anak akan kelengkapan?[1][2]

Bagaimana seorang “trans” perempuan, misalnya, bisa mengalami kesejatian keperempuan sedangkan dulu kau pernah menggaungkan bahwa laki-laki tidak bisa menuliskan biologis hormonal, pengalaman serta privelege dalam konstruk dunia patriarkis, dan psikis keperempuanan?[3][4][5][6][7]

Jika dalam kajian gender argumen mengenai heteroseksualitas dialamatkan pada konstruksi sosial dan menelurkan pada istilah preferensi seksusal mengapakah justifikasi untuk yang selain heteroseksual dinisbatkan kepada “born this way”?[8]

Juga, bukankah ada perbedaan, jika di masa lalu ditemukan “ada kasus” yang tidak dinormalisasi kemudian saat dikoarkan di dalam konteks kekinian usungannya adalah “normalisasi” bahkan legitimasi dan kemudian masuk ke dalam bagian ketidaksepakatan bisa memiliki hak sewenang untuk menstempel bigot? Quo vadis ilmu yang pertama dan utama? Dan di manakah kelak ulama yang disebut sebagai ‘takut pada Tuhan’ dan bukan hanya pintar saja?

Rapid pace and yet chaotic discourse. Menarik bagi pengkaji diskursus ini apalagi ketika memakai world view yang berbeda; yang theistik.

========================

[1] Schumm WR. (2016). “A Review and Critique of Research on Same-Sex Parenting and Adoption,” Psychological Reports. 2016 Dec;119(3):641-760. Epub 2016 Sep 12.

[2] Lihat juga misalnya kampanye Katy Faust lewat blog pribadinya, “askthebigot.” Kanal kampanye lain yang berkelindan dengan isu ini adalah massresistance.org

[3] Akademisi dan penulis kelahiran Australia, Germaine Greer, pada 24 Oktober 2015 ketika diwawancarai Kirsty Wark dalam acara BBC Newsnight menyatakan bahwa perempuan transgender bukanlah perempuan. Sebab perempuan transgender tidak “look like, sound like, or behave like women.”

[4] Dame Jenni Murray, presenter kanal BBC Radio 4 selama lebih dari 30 tahun, menyatakan bahwa perempuan transgender tidak bisa disebut sebagai seorang perempuna karena: perempuan transgender memodelkan perempuan berdasarkan bagaimana laki-laki melihat perempuan dan “enjoying the privileged position in our society generally accorded to a man” (Rozina Sabur. 5 Maret 2017. “Jenni Murray: Transgender women are not ‘real women’,” The Telegraph, News, UK.). Murray menuliskan pandangannya di dalam sebuah artikel yang terbit di The Sunday Times yang terbit 5 Maret 2017 dengan judul “Jenni Murray: Be trans, be proud — but don’t call yourself a real woman” meskipun dimulai dengan kalimat pembuka: “Can someone who has lived as a man, with all the privilege that entails, really lay claim to womanhood? It takes more than a sex change and make-up. Let me make something absolutely clear at the outset. I am not transphobic or anti-trans. Not a Terf in other words. That’s trans-exclusionary radical feminist, to use one of the often-confusing expressions that have entered the language in this age of gender revolution.”

[5] Baik Greer maupun Murray walaupun memiliki pandangan terhadap perempuan transgender seperti itu dan oleh sebagian pengkampanye LGBTQ dianggap sebagai reductive (Stonewall) akan tetapi Murray berkata bahwa perempuan trangender ”should be treated with respect and protected from the bullying and violence” (dalam Tom Parry. 6 Maret 2017. “BBC presenter under fire for claiming transgender women ‘aren’t real women’” Mirror, UK) dan Greer pun memberikan pernyataan bahwa ia bersedia memakai pronoun perempuan kepada perempuan transgender sebagai “courtesy” (lih. Endnote no 3).

[6] Penulis dan pegiat feminisme kelahiran Nigeria, Chimamanda Ngozi Adichie, juga memiliki pandangan bahwa “It’s not about how we wear our hair or whether we have a vagina or a penis. … It’s about the way the world treats us, and I think if you’ve lived in the world as a man with the privileges that the world accords to men and then sort of change gender, it’s difficult for me to accept that then we can equate your experience with the experience of a woman who has lived from the beginning as a woman and who has not been accorded those privileges that men are.” (Maya Oppenheim. 12 Maret 2017. “Chimamanda Ngozi Adichie faces backlash for suggesting transgender women are not real women” Independent, UK). Ketika ia dibombardir dengan serangan karena seolah memencilkan perempuan transgender dan bahkan transphobia, is kemudian menulis di akun Facebooknya “Chimamanda Ngozi Adichie” pada tanggal 11 Maret 2017: “Gender matters because of socialization. And our socialization shapes how we occupy our space in the world. To say this is not to exclude trans women from Feminism or to suggest that trans issues are not feminist issues or to diminish the violence they experience – a violence that is pure misogyny. But simply to say that acknowledging differences and being supportive are not mutually exclusive. And that there is space in feminism for different experiences.”

[7] Penulis dari Sydney, Allison Gallagher, menanggapi pendapat Murray dan Adichie dengan argumen bahwa perempuan trangender tidak merasakan privelege kelaki-lakian dalam tulisannya berjudul “No, transgender women like me did not grow up with ‘male privilege’” (Sydney Morning Herald, 14 Maret 2017).

[8] Silakan rujuk pada tulisan Simon Copland, “Born this way? Society, sexuality and the search for the ‘gay gene’” dalam The Guardian, 11 Juli 2015.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s