Home » Selected Contemplation » Sikap atas Celana Cingkrang dan Jenggot Lebat: Jejak Inferioritas Bangsa Dekolonisasian

Sikap atas Celana Cingkrang dan Jenggot Lebat: Jejak Inferioritas Bangsa Dekolonisasian

Dulu ada masa di tahun 60-an di dunia Barat bahwa pakaian formal laki-laki adalah celana di atas mata kaki.

Jika Anda sudah gaek dan tercelup budaya Pop Barat, tentu akan tahu misalnya The Beach Boys tampak trendi dengan celana model cingkrang dalam dendang “Dont Worry Baby” yang keluar di tahun 60-an (bdk. Jack Doyle, “Early Beach Boys,1962-1966,”PopHistoryDig.com, June 14, 2010). Kita di masa kini menyebut celana model ini sebagai celana “high water.” Kini, model celana ini kembali populer di dunia mode Barat baik untuk celana laki-laki maupun untuk celana perempuan. Lihatlah bagaimana misalnya model celana ini diulas di Wall Street Journal oleh Ray A. Smith dalam artikel pendek berjudul “A Short Story: The Rise of ‘Floods'” (2008).

Beach Boys, Don't Worry Baby (United Western Recorders, Hollywood, 1964)

The Beach Boys, “Don’t Worry Baby” (United Western Recorders, Hollywood, 1964)

1953:  Actor Marlon Brando is seen in the movie The Wild One in 1953. Brando's attorney announced July 2, 2004 that the 80 year-old actor died in a Los Angeles, California hospital.  (Photo by Getty Images)

Aktor Hollywood, Marlon Brando, termasuk di tahun 50-an sudah memperkenalkan gaya cingkrang model “rolled-up pants” di film The Wild One (1953). Credit Photo: Getty Images

Mengenai jenggot lebat, dulu di masa-masa awal hangatnya gerakan sosialisme Barat, entah merujuk kepada masa awal masa modern Inggris, jenggot begitu dipuja dan dianggap sebagai bentuk ekspresi manhood. Lihatlah foto-foto laki-laki revolusioner di masa-masa itu yang nampak gagah dan bangga dengan jenggot mereka.

Bahkan ada buku khusus yang membahas jenggot di masa awal modern Inggris dengan judul Beard Fetish in Early Modern England (2013). Atau misalnya ulasan renyah dan pendek mengenai kebangkitan pelihara jenggot lebat bagi laki-laki di Eropa di abad ini dapat dibaca lewat tulisan Tom Bailey berjudul “Beards make good business, even after peak beard” (2016) dan bagaimana imaji mengenai jenggot lebat nan rapi menjadi simbol baru dari maskulinitas yang perlente di Eropa yang bisa disimak lewat tulisan berjudul “Metrosexuals be gone: Europe is agog for beards” (2014) oleh Vanessa Gera. Atau sebuah buku karya Victoria Williams berjudul Celebrating Life Customs around the World (2016) memberikan bagian khusus yang berbicara mengenai kembalinya tren pelihara jenggot oleh sebagian laki-laki metroseksual di masa kini.

Saya berbicara dua hal ini, celana cingkrang dan jenggot, dalam konteks cara memandang diri sebagai rendah oleh bangsa bekas kolonisasi saat melihat bekas Tuannya (atau penjajahnya dulu) tidak melakukannya.

Sebagaimana sebelumnya saya sudah memperkenalkan #HanafiComplex dan #pelotot_potelot_pelotot, status saya ini menegaskan hal yang sama.

Bahwa ketidaktrenan (lagi) celana cingkrang dan lebat jenggot di dunia mantan penjajahnya, dianggap sebagai bentuk “tidak modern.”

Manakala bekas tuannya melihat sesuatu sebagai baik atau menjadikan sesuatu (kembali) tren maka cara pandangnya mengikut bekas tuannya di masa koloni (baca: Kulit Putih Barat).

Masalah inferioritas ini memang terikat erat dengan harga diri yang hilang sebab penjajahan, dan kebetulan penjajahan itu dilakukan oleh bangsa-bangsa Barat. Tulisan Homi Bhabha, “Of Mimicry and Man” bisa sedikit menjelaskan bagaimana alam bawah sadar ini terkonstruk dan kemudian menjadi sesuatu yang melekat di bawah sadar. Terus mengejar dan meniru meski sejatinya sadar selalu dengan dilema: selalu disebut sebagai “hampir seperti” dan “tidak pernah bisa sama.” Justru bangsa bekas koloni ini kemudian menjadi kian memposisikan diri sebagai subordinat bekas tuannya.

Lihatlah bagaimana jika praktik bercelana cingkrang dan berjenggot dilakukan oleh orang “pribumi” maka saat kedua hal ini tidak lazim di dunia Barat, akan disebut sebagai “kuno” atau “out of date.” Seolah-olah teladan modernitas, kemajuan, superioritas selalu dirujukkan pada sesuatu yang normal di dunia Barat.

Tapi tahu tidak, dari semua itu ada yang paling brengsek? Ya, saya menyebutnya kebrengsekan.

Adalah ketika seorang Muslim mengolok saudaranya yang menetapi celana cingkrang dan jenggot dengan gelaran yang jelek, dianggap kuno, dianggap tidak bisa modern, tidak bisa menyesuaikan dengan “kemajuan.”

Padahal motivasi saudaranya yang Muslim yang menetapi itu adalah untuk melakukan sunnah, beromansa dengan manusia teladan dan menetapi dawuh-dawuhnya beliau saw.

Akan berbeda misalnya, ketika menetapi bahwa celana cingkrang ada perbedaan pendapat mengenainya dan tidak ada pikiran buruk kepada saudaranya yang bercelana cingkrang: tidak merendahkan dan mengolok-olok. Begitu juga dengan menetapi peliharaan jenggot.

Sebagaimana sebaliknya. Bagi yang menetapinya dalam konteks menetapi dawuh Nabi saw. juga tidak kasar menuding yang tidak (atau belum) melaksanakannya sebagai “bukan bagian persaudaraan sepersaksian.”

Sama-sama enak, sama-sama saling hormat.

Tentu saja, saya akan menyebut seseorang sebagai brengsek, meskipun ia seorang Doktor atau Profesor sekalipun, mengajar di luar negeri atau mendapat puja-puji dari negara-negara mantan penjajahnya, ketika ia adalah (mengaku) Muslim namun komentarnya mengenai celana cingkrang dan jenggot begitu buruk dan melecehkan bahkan menolaknya sebagai bentuk (interpretasi) sunah Nabi saw.

Juga, khusus untuk jenggot lebat malah menunjukkan, dengan kasus jenggot Inggris dan Eropa (“non-Arab”), tidak pas disebut kearab-araban atau khas budaya Arab. Lagian jelas ada dawuh dari beliau saw.

Apalagi akan menjadi ironis jika yang model beginian selalu menggaungkan: terimalah perbedaan penafsiran.

Kita tak mau ikut-ikutan brengsek kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s