Home » Academic Article » Legende dan Realiteit Sekitar Proklamasi 17 Agustus ‘45

Legende dan Realiteit Sekitar Proklamasi 17 Agustus ‘45

Tiap-tiap kejadian yang bersejarah sering diikuti oleh dongeng dan legende. Legende itu ada yang keluar dari fantasi belaka karena ingin mendapat kenang-kenangan yang lebih bagus dari yang sebenarnya. Sering pula gambaran fantasi itu bertambah kocak dalam perkembangannya dari orang-seorang atau lingkungan kecil sampai kepada orang banyak. Ada pula legende itu dihidupkan dan dipupuk oleh sesuatu golongan yang berkepentingan, maupun untuk keperluan politik mereka atau pun untuk kebesaran bangsa yang membuat sejarahnya.

Dalam tiap-tiap gambaran daripada masa yang lalu, apa lagi jika ditulis dalam waktu yang amat banyak dekat dan pergolakannya belum lagi selesai, banyak bercampur “Dichtung und Wahrheit”. Gambaran itu lebih banyak memakai warna cita-cita pengarangnya daripada menyerupai kejadian-kejadian yang sebenamya. Dan di sinilah terletak kewajiban daripada ilmu sejarah untuk memisahkan Wahrheit dari Dichtung.

Cerita yang didengar tentang berbagai bukti yang terjadi jang tidak terjadi dikumpulkan dan diperbandingkan, diuji dengan logika yang tajam dan peninjauan yang kritis, dan diperiksa apakah benar duduknya menurut hukum kausal, y.i. perhubungan sebab dan akibat. Pendapat sejarah tadi menjadi dasar bagi penyelidikan selanjutnya. Penyelidikan sejarah tentang suatu masalah yang telah dikupas tidak habis, sebab bahan-bahan yang terdapat kemudian menambah sempurnanya pengetahuan dan gambaran dan kebenaran tentang masa yang lalu. Maksud sejarah bukanlah memberikan gambaran yang lengkap tentang masa yang lalu, yang tidak pernah akan tercapai, melainkan memberikan bentuk daripada masa yang lalu, supaya roman masa yang lalu itu jelas terpancang di muka kita. Semangkin banyak “Wahrheit” yang diperoleh dan semangkin sedikit “Dichtung” yang tinggal pada bahan yang terkumpul, semangkin dekat bentuk masa yang lalu diperbuat itu pada kebenaran.

Proklamasi 17 Agustus adalah suatu Kejadian Besar yang menentukan jalan sejarah Indonesia. Dan sebagai suatu kejadian yang bersejarah sudah tentu ia diikuti pula oleh berbagai dongeng dan legende, yang jika diperhatikan betul satu sama lain ada yang tidak sesuai dan bertentangan. Salah satu dari legende itu ialah bahwa Sukarno dan Hatta hanya bersedia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia setelah dipaksa oleh pemuda.

Menurut legende itu, karena Sukarno dan Hatta tidak mau menyetujui desakan pemuda untuk memproklamirkan Indonesia Merdeka, maka pada tanggal 16 Agustus pagi mereka dibawa ke Rengasdengklok dan di sana dipaksa menandatangani Proklamasi Kemerdekaan itu yang esok harinya dibacakan di Pegangsaan Timur 56 pukul 10 pagi.

Pengaruh daripada legende ini kita jumpai dalam buku Muhammad Dimyati “Sejarah perjuangan Indonesia”. Pada halaman 90 kita dapati uraian seperti berikut:

“Pada tanggal 16 Agustus jam 4.30 pagi berangkatlah Bung Karno-Hatta keluar dari kota Jakarta, dengan mobil, diantarkan oleh Sukarni dan J. Kunto menuju ke tangsi Rengasdengklok, karena dikuatirkan kedua pemimpin itu akan diperalatkan oleh Jepang kalau tetap tinggal di rumahnya. Tangsi Rengasdengklok pada waktu itu sudah dikuasai oleh pemuda-pemuda Indonesia[1] yang akan memberontak kepada Jepang. Di sana diadakan perundingan untuk segera memproklamirkan Indonesia Merdeka. Karena belum tercapai kata sepakat dan kebulatan tekad, kemudian pada malam tanggal 17 Agustus jam 12 perundingan diteruskan di sebuah gedung di Nassauboulevard-straat kota Jakarta. Di situlah berkumpul segenap pemimpin-pemimpin Indonesia dan anggota panitia persiapan kemerdekaan Indonesia yang tadinya dilantik oleh Jepang tapi sejak waktu itu telah memutuskan hubungan dengan Jepang. Dalam perundingan itu Sukarni menyorongkan teks Proklamasi Indonesia Merdeka di mana di bawahnya memakai kalimat: ‘Bahwa dengan ini rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Segala badan-badan yang ada harus direbut dari orang asing yang masih mempertahankannya.’

Susunan kalimat serupa itu tidak mendapat persetujuan dari hadirin; minta dirobah yang agak halus. Akhimya Sajuti Melik (M.I. Sajuti) dapat memecahkan kesulitan itu dengan mengemukakan susunan: ‘Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lainnya diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” ‘

Di sini dongeng telah berobah. Sukamo dan Hatta yang dilarikan ke Rengasdengklok “karena dikuatirkan kedua pemimpin itu akan diperalatkan oleh Jepang kalau tetap tinggal di rumahnya”, dibawa kembali ke Jakarta untuk meneruskan perundingan yang tidak selesai di Rengasdengklok. Dalam uraian yang beberapa kalimat saja sudah ada jalan pikiran yang bertentangan. Dikuatirkan kedua pemimpin akan diperalatkan oleh Jepang kalau tetap tinggal di rumahnya di Jakarta, tetapi mereka dibawa Kembali ke Jakarta. Logika?[2]

Dalam legende baru ini muncul Sajuti Melik sebagai seorang yang memberikan kata yang penghabisan tentang isi Proklamasi. Dokumen yang asli membuktikan bahwa Proklamasi itu ditulis dengan tangan Bung Karno sendiri, sedangkan patokan kalimatnya dan gaya bahasanya sarna sekali tak sesuai dengan “stijl” Sajuti Melik!

Sekian Legende sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Bagaimana realiteitnya?

Berlainan dengan cerita Mohammad Dimyati, sebenamya tidak ada perbedaan paham tentang memproklamirkan Indonesia Merdeka. Perbedaan terdapat tentang caranya.

Seperti diketahui, Sukarno, Hatta dan Dr. Radjiman Wedijodiningrat diundang oleh Panglima Tertinggi tentera Jepang di Asia Tenggara ke Dalat (Indochina) untuk menerima putusan Pemerintah Jepang tentang Indonesia Merdeka. Dalam pertemuan resmi tanggal 12 Agustus, Jenderal Terauchi berkata: “Terserah kepada tuan-tuan akan menetapkan, kapan Indonesia akan merdeka.”

Waktu kembali dari Dalat utusan yang tiga tadi bertemu di Singapore dengan Mr. Teuku Hassan, Dr. Amir dan Mr. Abbas, y.i. anggota-anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dari Sumatra, yang akan bertolak bersama-sama ke Jakarta. Juga mereka mendengar kabar bahwa Rusia telah mengumumkan perang kepada Jepang dan sudah menyerbu ke Mansyuria.

Setelah bertukar pikiran kami semuanya mendapat keyakinan, bahwa tiwasnya Jepang tidak akan berbilang bulan, melainkan berbilang minggu. Sebab itu pernyataan Indonesia Merdeka harus terjadi selekas-lekasnya.

Setelah kembali ke Jakarta tanggal 14 Agustus, masih di lapangan terbang Kemayoran Bung Kamo berpidato di muka khalayak ramai yang datang menyambut “Kalau dahulu saya berkata, sebelum jagung berbuah Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga.”

Sorenya tanggal 14 Agustus itu juga Sjahrir datang memberi tahukan kepada saya bahwa Jepang telah minta damai kepada Sekutu, dan bertanya: bagaimana soal kemerdekaan kita? Jawab saya, soal kemerdekaan kita adalah semata-mata di tangan kita.

Menurut pendapat Sjahrir pernyataan kemerdekaan Indonesia janganlah dilakukan oleh Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia, sebab Indonesia Merdeka yang lahir semacam itu akan dicap oleh Sekutu sebagai Indonesia buatan Jepang. Sebaik-baiknya Bung Karno sendiri saja menyatakan sebagai pemimpin rakyat atas nama rakyat dengan perantaraan corong radio.

Bung Karno tidak setuju dengan usul Sjahrir, karena sebagai ketua Badan Persiapan tidak bisa ia bertindak sendiri dengan meliwati saja badan itu. Selanjutnya ia ingin mendapat keterangan dulu dari Gunseikanbu tentang berita Jepang menyerah itu.

Setelah keesokan harinya, tanggal 15 Agustus ternyata bahwa Jepang memang minta berdamai, maka kami putuskan mengundang Panitia Persiapan berapat tgl. 16 Agustus pukul 10 pagi di kantor Dewan Sanyo Pejambon 2. Pernyataan Indonesia Merdeka harus dilakukan selekas-lekasnya, Undang-Undang Dasar harus dimufakati dengan tiada banyak berdebat dan susunan pemerintahan Indonesia di pusat dan daerah harus dapat diselenggarakan dalam beberapa hari saja. Anggota-anggota Panitia Persiapan dari luar Jawa harus kembali selekas-lekasnya ke daerah masing-masing dengan membawa instruksi yang lengkap dari pemerintah Indonesia Merdeka. Waktu itu tidak boleh terbuang karena kalau mereka terlambat pulang, mungkin mereka dihalang-halangi berangkat oleh Jepang yang sejak menyerah kedudukannya di Indonesia hanya sebagai juru kuasa Sekutu saja lagi. Sungguhpun Jepang telah menyetujui kemerdekaan Indonesia, tentera Jepang di Indonesia boleh diperintah oleh Sekutu untuk menindas dan melikwidir Indonesia Merdeka. Kami harus memperhitungkan bahwa Sekutu akan mencoba mengembalikan Indonesia ke bawah pemerintah Hindia Be1anda. Revolusi yang diorganisir harus ada, barulah kemerdekaan dapat dipertahankan dengan perjoangan yang dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia.

Berdasar atas keyakinan inilah maka saya menolak teori merebut kekuasaan oleh pemuda, peta dan rakyat, yang dianjurkan kepada saya sore hari itu oleh almarhum Subianto dan Subadio, anggota Parlemen sekarang. Perebutan kekuasaan itu harus didahului oleh pernyataan kemerdekaan oleh Bung Kamo dengan perantaraan corong radio. Kepada kedua pemuda itu saya tegaskan bahwa saya suka revolusi, akan tetapi menolak putsch. Keterangan ini tidak memuaskan mereka, hanya menimbulkan kekecewaan mereka pada saya. Beberapa waktu Subianto, yang sejak zaman Jepang rapat hubungannya dengan saya seperti anak sama bapak, menjauhi saya. Tetapi kemudian ia kembali pada saya mengatakan bahwa pendirian sayalah yang benar. Sejak itu Subianto menerima tugas yang penting-penting dari saya yang diselenggarakannya dengan baik, sampai ia tiwas di Serpong.

Pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 10 pagi hadirlah segala anggota Badan Persiapan dan beberapa orang terkemuka serta pers yang diundang di gedung Pejambon 2.

Tetapi yang tidak hadir ialah ………………….. yang mengundang, yaitu Sukarno dan Hatta, yang pagi itu pukul 4 dilarikan oleh Sukarni c.s. ke Rengasdengklok. Alasan yang dikemukakan Sukarni untuk membawa kami ialah begini. Oleh karena Bung Karno tidak mau menyatakan kemerdekaan Indonesia sebagaimana mereka kehendaki, maka pemuda dan peta dan rakyat akan bertindak sendiri. Di Jakarta akan ada revolusi merebut kekuasaan dari Jepang. Bung Karno dan kami perlu disingkirkan ke Rengasdengklok untuk meneruskan pemerintahan Indonesia Merdeka dari sana.

Mendengar alasan ini tergambarlah di muka saya bencana yang akan menimpa Indonesia. Tindakan gila-gilaan dari pemuda ini pasti gagal. Putsch ini akan membunuh Revolusi Indonesia.

Hari itu juga ternyata, bahwa pemuda-pemuda yang berdarah panas ini tidak dapat merealisir teori mereka sendiri. Putsch tidak jadi terjadi, di luar Jakarta tidak ada persiapan sama sekali. Hanya Jepang yang telah siap dengan niatnya yang masih lengkap untuk menyambut segala kemungkinan.

Di Rengasdengklok tidak ada perundingan suatu pun. Di sana kami menganggur satu hari lamanya, seolah-olah mempersaksikan dari jauh gagalnya suatu cita-cita yang tidak berdasarkan realiteit. Tetapi, kalau ada satu tempat di Indonesia di mana betul-betul ada perampasan kekuasaan, tempat itu ialah Rengasdengklok. Atas anjuran Sukarni atau dari Jakarta, pasukan Peta di sana menangkap dan menawan Wedana yang berkuasa di sana beserta dua atau tiga orang Jepang “Sakura” yang mengurus hal beras. Kebetulan pula hari itu Sutardjo Kartohadikusumo, yang pada waktu itu menjadi Shuchokan Jakarta, singgah di Rengasdengklok untuk memeriksa keadaan persediaan beras, dan ia ikut ditawan. “Coup d’etat” ini terjadi dalam keadaan aman dan tenteram, sehingga tak banyak orang yang mengetahui. Mungkin seorang yuris yang tajam pandangannya akan bertanya: Untuk siapa dan atas nama siapa Peta itu merebut kekuasaan setempat? Untuk dan atas nama Indonesia Merdeka? Indonesia Merdeka pada hari itu belum lahir. Pemerintah revolusioner pun belum ada!

Waktu sore datang Mr. Subardjo sebagai utusan Gunseikanbu menjemput kami. Sukarni tidak menentang. Demikianlah malam itu kami kembali ke Jakarta disertai juga oleh Sutardjo dan Sukarni sendiri. Satu-satunya soal yuridis yang timbul ialah pertanyaan kepada pasukan Peta di sana: “Apa yang akan diperbuat dengan Wedana yang ditawan?” Kami jawab lepaskan saja ia. Dari mulai malam itu juga pimpinan Revolusi, yang akan bermula, jatuh kembali ke tangan Sukarno-Hatta.

Liwat tengah malam setelah mengadakan perundingan lengan Sumobucho di mana ternyata Jepang telah mengambil sikap sebagai juru kuasa yang menerima perintah dari Sekutu, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh segala anggota Badan Persiapan, wakil-wakil pemuda dan wakil-wakil beberapa golongan dalam masyarakat. Dalam sidang ini atas anjuran golongan pemuda ditetapkan dengan suara bulat, bahwa Proklamasi Indonesia Merdeka hanya ditandatangani oleh Sukarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi (waktu Indonesia) isi Proklamasi itu dimaklumkan kepada khalayak, disusul dengan menaikkan bendera “Sang Merah Putih”.

Pemuda, mahasiswa, pegawai Indonesia pada jabatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu ke seluruh daerah. Dan wartawan Indonesia yang bekerja pada Domei menyiarkan Proklamasi Indonesia Merdeka ke luar negeri.

Maka Revolusi mulai berjalan!

Keesokan harinya Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang telah ditambah anggotanya dengan putusan sendiri mulailah bekerja menyusun sendi pemerintahan negara.

Ditinjau dari bukti-bukti yang nyata, pernyataan kemerdekaan Indonesia tidak menjadi soal. Yang menjadi soal itu ialah caranya.

Golongan pemuda di Jakarta yang bemama Angkatan Pemuda Indonesia (Api), mahasiswa dari Sekolah Tinggi Kedokteran beserta golongan Sjahrir berpendapat setelah diketahui Jepang menyerah, bahwa Proklamasi Indonesia Merdeka dilakukan “secara revolusioner”, y.i. lepas dari segala yang berbau buatan Jepang. Indonesia buatan Jepang pasti dibasmi oleh Sekutu. Bukan Panitia Persiapan Kemerdekaan yang harus melakukannya, akan tetapi Bung Kamo sendiri seebagai pemimpin rakyat menyatakan dari muka corong radio ke seluruh dunia bahwa Indonesia merebut kemerdekaan dari kekuasaan Jepang.

Menurut pendapat kami, Proklamasi Indonesia Merdeka harus ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, karena mereka dianggap mewakili seluruh Indonesia. Jika perIu ditambah dengan beberapa anggota lainnya yang mewakili berbagai golongan dalam masyarakat. Sekalipun utusan-utusan dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil, dan Maluku itu diangkat oleh Jepang, suara yang mereka perdengarkan untuk menyatakan Indonesia Merdeka adalah suara dan cita-cita rakyat. Dengan ikutnya mereka terdapatlah simbol persatuan seluruh Indonesia. Rasa persatuan ke dalam itu lebih penting daripada pertimbangan yuridis dari luar apakah badan ini diangkat oleh Jepang atau tidak.

Soal masa datang yang harus dihadapi bukanlah soal terhadap Jepang yang tidak berkuasa lagi, melainkan sikap terhadap Sekutu yang akan mengembalikan kekuasaan Belanda atas Indonesia. Sebab itu persiapan revolusi bukanlah seharusnya ditujukan kepada Jepang yang sudah masuk zaman yang lampau, melainkan terhadap Belanda yang akan kembali menjajah.

Demikianlah perbedaan pendapat yang principieel antara golongan Sukamo-Hatta yang dianggap menempuh jalan legal dan golongan Api-Mahasiswa-Sjahrir yang menganggap jalan mereka revolusioner.

Dipandang dari jurusan yuridis-formeel, memang sikap yang kemudian ini “revolusioner” kelihatannya, Indonesia Merdeka adalah hasil tindakan sendiri dan bukan buatan Jepang.

Akan tetapi ditinjau dari keadaan nyata, alasan yuridis-formeel itu tidak benar artinya. Revolusi tidak berhitung dengan soal yuridis-formeel, melainkan dengan tenaga dan kekuatan yang ada. Orang Belanda yang mau mengembalikan kekuasaannya ke Indonesia tidak menimbang-nimbang apakah kemerdekaan itu buatan Jepang atau buatan Indonesia sendiri. Bagi mereka tiap-tiap revolusi yang akan melenyapkan kekuasaannya adalah antigezag dan harus dibasmi.

Suatu bukti nyata, yang tidak dapat ditiadakan dengan alasan yuridis-formeel, ialah bahwa persiapan untuk Indonesia Merdeka sudah bermula di dalam zaman Jepang.

Undang-Undang Dasar yang berlaku lima tahun dalam Republik Indonesia diperbuat dalam zaman Jepang oleh Panitia Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia, Panitia Persiapan yang bersidang sesudahnya Proklamasi Agustus 1945 hanya mengadakan beberapa perobahan saja yang tidak mengenai pokok.

Dan apabila benar orang menghendaki tindakan yang betul-betul revolusioner, lepas dari perhubungan dengan masa yang lampau, maka seharusnya proklamasi dilakukan oleh orang-orang baru sama sekali yang namanya tidak tersangkut dengan kerja-sama dengan Jepang. Setidak-tidaknya bukan oleh Sukarno-Hatta. Akan tetapi dalam hal ini kombinasi Api-Mahasiswa-Sjahrir tak sanggup. Mereka tidak opgewassen menghadapi situasi revolusioner yang mereka ciptakan sendiri. Inilah kelemahan mereka dalam batinnya. Mereka terpaksa juga bergantung kepada Sukarno-Hatta untuk mencapai suatu tindakan revolusioner memproklamirkan Indonesia Merdeka. Atau, sebagaimana sikap Sjahrir kemudian, ia memisahkan diri, tidak ikut proklamasi dan tidak aktif dalam politik sesudah Proklamasi, menolak keangkatannya menjadi Komite Nasional, mengambil sikap menunggu waktu yang baik. Sikap ini bukanlah sikap yang dapat disebut menyelenggarakan revolusi, karena untuk revolusi tak boleh waktu terbuang.

Kelemahan batin kombinasi-tiga tadi, yang merasa mampu menyelenggarakan sendiri suatu tindakan mereka ciptakan, menetapkan dari semulanya kegagalan segala tindakan mereka yang berikut. Golongan Api yang dipimpin oleh Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik dan Wikana yang disertai juga oleh Dr. Muwardi sonder barisan bantengnya, mau memaksa Bung Kamo jadi boneka untuk melakukan segala kemauan mereka. Taktik mereka ialah gertak dan intimidasi. Di sini mereka membuktikan tidak mengerti hukum revolusi, bahwa revolusi tidak dapat dipimpin oleh seorang boneka. Maunya langsung dipimpin sendiri, dengan tanggung jawab penuh. Revolusi hanya berhasil jika dikemudikan oleh pemimpin yang tahu apa maunya, pandai memperbuat perhitungan yang tepat dan pandai mengukur tenaganya sendiri terhadap tenaga lawannya.

Kelemahannya pula ialah bahwa kombinasi-tiga ini tidak tahu satu dalam tujuannya dan dalam semangatnya. Golongan Sjahrir yang kemudian berpendapat tindakan Sukarni c.s. itu menuju khaos dan anarkhi, melepaskan diri dari tindakan bersama tadi dan — seperti disebut di atas — mengambil sikap menanti. Golongan mahasiswa pun insaf kemudian, bahwa mereka diperalatkan saja oleh Sukarni c.s. dan ditipu dengan gambaran yang tidak benar tentang keadaan politik dan tenaga perjoangan rakyat. Hati pemuda yang revolusioner-romantik dan perwira dipikat oleh Sukarni dengan keterangan, bahwa tanggal 16 Agustus pukul 12 tengah hari 15000 rakyat akan menyerbu ke kota dan itulah saat yang baik bagi Peta dan pemuda untuk beserta merubuhkan pemerintahan Jepang. Pelajar-pelajar ini mengira, bahwa Peta seluruh Jawa telah siap untuk mengadakan coup d’ etat yang direncanakan, bahwa pemuda seluruh Jawa berdiri di belakang Api. Akan tetapi keadaan yang sebenamya ada lain. Pada saat yang ditentukan itu tidak ada yang terjadi, di Jakarta maupun di luamya. Tak ada 15000 rakyat yang bergerak ke kota, tak ada Peta yang bertindak, gerakan pemuda di tempat-tempat lain tak tahu apa yang direncanakan oleh Api. Mahasiswa yang kecewa tadi berbalik membelakangi Sukami c.s. Dalam pembentukan Komite Nasional Pusat tanggal 19 Agustus, ketuanya menyatakan dengan resmi, bahwa golongan mahasiswa berdiri di belakang Sukarno – Hatta.

Jauh daripada suatu kemenangan dari pemuda, penculikan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok dan kembalinya hari itu juga ke Jakarta adalah suatu pembuktian kepada sejarah daripada bangkrutnya suatu politik dengan tiada perhitungan, yang semata-mata berdasar pada sentimen. Pernyataan pula daripada politik-tidak-mampu! Karena penculikan itulah maka Proklamasi Indonesia Merdeka, yang mulanya kami tetapkan tanggal 16 Agustus, jadi terlambat satu hari.

Dengan kupasan di atas kami tidak bermaksud mengecilkan jasa pemuda dalam perjoangan kemerdekaan Indonesia. Jasa pemuda kita besar sekali. Juga mereka, yang tindakannya tidak selalu saya setujui dan bertentangan dengan pendirian kami, dapat saya hargai jasanya menurut nilainya. Sikap mereka yang mau benar sendiri dan segera curiga kepada pendirian yang berlainan, banyak menyulitkan jalannya perjoangan. Akan tetapi apabila semangat mereka tidak begitu meluap-luap pada permulaan Revolusi Nasional kita, maka sukarlah kiranya menghidupkan perjoangan rakyat yang begitu hebat, hingga sanggup menderita bertahun-tahun lamanya.

Kegiatan pemuda bertindak dan mendesak menjadi pendorong bagi pemimpin-pemimpin untuk sadar akan tanggung jawabnya dan mengundurkan diri kalau ia tak mampu. Tidak dapat disangkal, bahwa pemuda dan rakyat beserta alat-alat negara Republik Indonesia adalah motor daripada Revolusi Nasional kita. Gambaran bahwa hanya pemuda yang memegang obor Revolusi adalah gambaran yang salah.

Ada golongan pemuda yang berkehendak dari semulanya, supaya pimpinan revolusi di tangan mereka. Tetapi apabila pimpinan itu tidak diperoleh, janganlah disalahkan pada orang lain. Carilah keterangannya pada diri sendiri dan pada hukum sejarah yang berdasarkan atas keadaan yang nyata, menempatkan tiap-tiap golongan pada tempat yang seukuran dengan kesanggupannya dan sesuai dengan mentaliteitnya.

Pimpinan dalam revolusi tidak dapat dituntut, melainkan diperoleh atas kepercayaan rakyat kepada pimpinannya. Pilihan rakyat mungkin salah, tetapi selama rakyat percaya pada pimpinannya, selama itu Revolusi dijunjungnya. Hanya kepercayaan rakyat akan kemenanganlah yang membawa kemenangan bagi Revolusi.

Bung Hatta

Sumber : Mimbar Indonesia, 17 Agustus 1951 , No. 32/33

[1] Yang sebenarnya tangsi Rengasdengklok adalah ashrama Peta. Pasukan Jepang tak ada di sana.

[2] Dimyati menulis bahwa uraiannya tentang perjoangan Proklamasi diambil dari buku “Riwayat Proklamasi 17 Agustus 1945” karangan Adam Malik. Jika diperhatikan dengan teliti, Muhammad Dimyati baru menulis cerita dalam bukunya, belum menulis sejarah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s