Home » Selected Contemplation » Pelecehan Verbal dalam Aksi 212 dan Markaan Intelektualisme

Pelecehan Verbal dalam Aksi 212 dan Markaan Intelektualisme

Benar beberapa netizen melaporkan adanya insiden pelecehan verbal oleh oknum peserta aksi 212. Tapi tunggu dulu. Tunggu dulu jika arah pembicaraanmu dan pelototanmu mengarah ke situ.

Dengan jumlah peserta diestimasikan lewat Google Earth dari 2 juta hingga 7 juta dan menjadikan aksi 212 sebagai aksi demonstrasi di bawah payung gaya ekspresi demokrasi paling damai terbesar di dunia (?), aksi 212 adalah aksi yang paradoksial. Citra yang dibangun media massa dalam proyek “covering Islam gaya phobia warisan crusade” sebagaimana disindirkan oleh Edward Said dan beberapa poin bisa juga ditautkan pada tulisan akademik akademisi Amerika Serikat Michael Parenti lewat “Monopoly Media Manipulation” menemukan keganjilannya.

Aksi 212 memang terlalu paradoksial bagi konstruk citraan yang sudah dibangun media massa selama ini bahwa Islam ketika masuk ke politik adalah jahat dan merusak nilai-nilai demokrasi. Lihatlah bagaimana istilah “creeping sharia” begitu kuat di dalam public discourse di beberapa negara. Islam sebagai world view memang wantek berkompetisi dengan so-called [Western] Capitalism.

Huntington bisa jadi benar bahwa Islam memang laten di dalam proyek trans-nasional globalisasi dan kapitalisme. Demokratisasi sebagai tudung pembukaan bagi globalisasi dan kapitalisme, butuh meredam atau paling tidak meletakkan Islam menjadi laten yang loyo. Laten yang loyo hanya bisa diciptakan jika Islam berada pada posisi “buruk, jahat” atau tidak relevan dengan “keduniaan” sehingga potensial ditinggalkan orang potensinya dan atau beberapa “orang dalam” merasa butuh mengubah Islam mengikuti kebutuhan hegemoni Kapitalisme dengan cara membuat Islam mengikuti standar “baik, tidak jahat, sesuai nilai-nilai” demokrasi yang merupakan tudung Kapitalisme.

Begitu.

Nah, aksi 212 kemarin menciptakan paradoks dari Islam yang sudah secara naratif dikonstruk sebagai ideologi yang selalu resisten atau kalis terhadap “so-called nilai-nilai demokrasi” jebulnya bisa mendemonstrasikan secara masif keberadaban ala standar demokrasi. Ia menjungkirbalikkan imaji yang sudah mapan dan menjadi justifikasi bagi segala policy memarjinalkan Islam.

Lepas dari itu, menarik juga bagaimana aksi 212 juga menimbulkan respon negatif dari beberapa akademisi yang memang berselancar di dalam proyek-proyek “orang-orang dalam” yang mendapat puk-puk kepala dari pemegang hegemoni di dalam mengkompatibelkan Islam dan menjinakkan orang-orang Islam dari gerak resistensi dan kritis terhadap tabuh genderang tipuan.

Nah, sebagaiman seri tulisan saya di blog ini dan akun media sosial saya mengenai pelotot, potelot, dan pelotot, maka aksi 212 tentu bisa diceritakan keburukannya.

Pengambilan angle (pelototan) yang ditulis (dipotelotkan) dan dilemparkan berulang-ulang ke publik dengan bersikukuh (pelototkan) bisa diatur sesuai motif penuturan. Aksi 212 yang paradoksal dengan konstruk narasi selama ini yang sudah mapan mengenai hal-hal negatif mengenai Islam dan orang Islam butuh “diluruskan kembali.”

Fokus pada delapan orang yang ditangkap dengan dugaan makar (meski salah satunya sebenarnya ditangkap karena menghina Pak Presiden bukan karena dugaan makar) perlu dipelotot, potelot, dan dipelototkan ke publik. Tidak perlu misalnya disebutkan bahwa kalaupun ada dugaan makar pun, tidak perlu publik tahu bahwa secara logika, jika benar pun, adalah menunggangi aksi 212 dan justru tidak relevan dengan suara mayoritas yang berseliweran dan menggerakkan peserta aksi 212. Kisah delapan orang butuh digembar-gemborkan.

Begitu juga besaran peserta aksi dikecilkan. Begitu juga keanekaragaman peserta aksi butuh tidak dijadikan salah satu fokus pelototan.

Begitu juga misalnya pada insiden pelecehan verbal, pada aksi 212 yang dihadiri peserta lebih dari 2 juta orang dan beranekaragam latar sosial dan pendidikannya, bukan dalam konteks apologia sebab pelecehan verbal tersebut muncul dari pelanggaran prinsip Islami godhul bashar, butuh digembar-gemborkan. Ya itu (bisa dan mungkin) terjadi dan menjadi introspeksi ke depan demi kebaikan namun gaya pelototan, potelot, dan pemelototan ke ruang publik adalah intensional.

Dari situlah kita bisa memberikan markaan intelektualisme memotret perbedaan ideologi dan kepentingan dalam menceritakan dan membersamai fenomena di dalam geliat Islam. Seperti terlihat pada beberapa peselancar geliat Islam yang pada tulisan saya di blog ini sebelumnya kita bisa pahami menolak disebut murtad meski seringkali melemparkan pernyataan yang “bisa mengeluarkannya dari Islam” namun mereka sadar bahwa penerimaan label murtad akan membuatnya tidak bisa mendapatkan akses kepada tuanan sebagai “suara dari dalam” yang dibutuhkan, kita akan juga bisa memahami bagaimana orang-orang “Islam” namun world view-nya berbau Marxis akan memetakan segala geliat Islam dalam kerangka kekuasaan dan materi saja.

Berkutat mengenai itu, saya jadi teringat bagaimana Russel Means, tokoh Indian Amerika Serikat, membuat pidato yang layak dijadikan kontemplasi bahwa Kapitalisme memang Western minded sebagaimana Komunisme sehingga permainan dua ideologi ini secara latah telah tidak pas digandrungi sebagai “realita dunia dan world view” dan ini merupakan keterjebakan metafisika pada Eurosentris.

Jika sudah pada konteks “European must die” untuk kita di periferal bisa bangkit maka ada ideologi yang berada mepet tipis dengan periferal dan selama ini menjadi kawan-lawan di dalam menggebuk satu sama lain di dalam menguasai dunia adalah Islam. Tentu “Islam” sebagai spirit perubahan akan kurang tegak jikalau orientasi world view-nya terlalu jauh terkooptasi oleh Kapitalisme, atau Komunisme.

Yang begituan itu, Eurocentric minded tanpa sadar, mengesampingkan ke-ikhlas-an yang dipersembahkan pada Allah, Ustadz saya bisa bercanda mangkel kasar gaya orang Jawa: “ndasmu!

Demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s