Home » Selected Contemplation » Ulama-ulama Penjaga NKRI dan Gombal Mukiyo

Ulama-ulama Penjaga NKRI dan Gombal Mukiyo

Boleh saja tiap orang, tidak harus ulama besar, mengklaim bahwa ia mencintai tanah air.

Konon, saya tak tahu ada hadistnya tidak dan bagaimana kadar hadistnya, dikoar-koarkan seumpama iklan pasta gigi bahwa cinta tanah air adalah bagian dari kebaikan yang diajarkan Islam.

Tanah air di dalam diskursus ini bisa “dibaca” sebagai dua atau mungkin lebih. Dua paling tidak adalah pengakuan akan adanya benih “bela negeri atau kampung halaman dari penyerang” dan yang kedua jika tanah air diartikan sebagai “negara” sejak konsep negara baik model lama atau baru didefinisikan maka jejalan tafsiran ini mengakui secara eksplisit bahwa ideologi, world view, Islam mengenal konsep kewilayahan dan kenegaraan.

Tinggal bacanya seperti apa. Dus, mereka yang suka mengangkat-angkat isu nasionalisme bagian dari Islam dan menyandarkan pada spirit ini secara tidak langsung sudah terjebak pada konsep nomor dua.

Namun arah tulisan ini bukan membahas itu lebih dalam. Sebab mungkin teman-teman yang dilabeli Barat dengan Islamis atau pegiat Islam Siyasi atau aktivis Islam Politis mempunyai cerita yang panjang dan lebar sehingga dari perkaliannya bisa ketemu luas samudera diskursus. Ya, mereka saudara-saudara kita dan ya, Barat butuh melabeli mereka untuk memetakan medan dan kita sering terjebak dalam perangkap kuasa lewat bahasa untuk kemudian hanyut menjaga jarak dengan saudara sendiri. Atau, kita juga punya kebiasaan membutuhkan pembedaan dari perbedaan yang ada melalui istilah-istilah yang tak terhindarkan dibuat seperti Mu’tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, Syiah sebab memang mereka bukan bagian dari kita?

Well, yang begituan menjadi bahasan dari pasal-pasal awal di dalam kitab Tao Te Ching sedangkan tulisan ini tidak hendak bicara mengenainya.

Dari judul tulisan ini, seakan ada kontras yang tak terkait satu sama lain: Ulama Penjaga NKRI dengan Gombal Mukiyo. Istilah kedua, Gombal Mukiyo, bagi sebagian orang Jawa di Tengah adalah istilah yang cukup familiar. Gombal adalah kain lap kotor. Gombal Mukiyo, dan bukan Mukidi, adalah gedebusan, dobolan, apus-apusan, bohong-bohongan, kadal-kadalan.

Entah mengapa bisa ada nama Mukiyo. Kadal? Ya, kadal. Entah mengapa pula kita bisa bicara mengenai kadal. Dulu yang memakai istilah Cicak versus Buaya dan bukan Kadal disandingkan versus dengan Buaya mungkin sudah memilih dengan cermat untuk tidak memilih kata “Kadal.” Atau spontan saja? Sebab di dalam Bahasa Indonesia, Kadal dan Buaya berkonotasi negatif. Cicak sejatinya juga berimaji negatif di dalam lagu “makhluk yang diam-diam merayap lalu hap menangkap mangsa;” small, tricky but deadly. Entah mengapa hewan reptilia yang lain seperti Bunglon juga ada konotasi negatif. (Ya, ya, Buaya masuk amphibia namun secara awam ia kadang dimasukkan pada reptilia, ciimw)

Nah, mbalik lagi kepada Gombal Mukiyo dan judulnya. Gombal Mukiyo mengapakah disandingkan dengan Ulama-ulama Penjaga NKRI?

Ulama-ulama Penjaga NKRI ini sejatinya bisa kita sandingkan dengan Ulama-ulama Penjaja NKRI dan Penjaja NKRI inilah yang sepakuan dengan Gombal Mukiyo.

Coba bersama-sama kita mulai merekam beberapa ulama-ulama yang selalu mengklaim diri sebagai pengusung keutuhan NKRI. Lihatlah dan catat bagaimana kelak mereka nanti saat menghadapi isu yang disuarakan negara-negara seperti Amerika Serikat dan Australia semisal referendum Papua untuk melepaskan diri dari NKRI atau pemotretan imaji Islam di NKRI secara kurang pas. Apakah ia akan bergegas lantang misalnya menolak isu referendum sebab itu melucuti konsep wilayah Sabang Merauke NKRI? Akankah ia lantang? Ataukah ia diam saja takut bersuara? Apakah ia misalnya mendapati betapa aksi doa bersama, Jumatan bersama, kumpul damai bersama lintas suku, etnis, dan juga agama yang mempersoalkan ketidaksegeraan proses penegakan hukum dugaan atas blasfemi oleh seseorang pada aksi 212, yang sebelumnya juga sukses damai pada 411 (silakan baca laporan BBC Indonesia dan laporan resmi polisi mengenai kisruh selepas maghrib pada 411 yang bukan bagian dari aksi sedangkan insiden kecil gas air mata terjadi karena sedikit salah paham saja) justru digaung-gaungkan sebagai buruk. Bukankah manfaatnya sangat besar bagi umat muslim di Indonesia, martabat muslim dan keterlibatan teladan demokrasi di NKRI oleh muslim Indonesia, dan juga memenggal narasi buruk stigmatis mengenai Islam dan muslim yang suka main kasar?

Jika ulama-ulama yang beginian hanya bersuara menuruti angin yang sesuai dengan kebutuhan pengokohan konstruk narasi yang kian memperburuk muslim di NKRI dan adem-adem saja ketika anasir-anasir pelucut konsep keutuhan NKRI diusungkan oleh negara-negara tuanan dan puanan, bukankah ada hak, misalnya dengan cara lugu, untuk menyebut mereka ini, maaf, bisa jadi atau boleh jadi Penjaja NKRI? Gombal Mukiyo?

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s