Home » Uncategorized » Sejarah dan Historical Revisionism

Sejarah dan Historical Revisionism

Teks sejarah adalah buatan manusia yang dituliskan, bisa oleh laki-laki bisa juga oleh perempuan [istilah ini untuk membabat debat berbasis gender atas kuasa patriarki mengenai “HIS-story”), dan bisa ditulis ulang.

Kisah 212 kemarin adalah kisah (ber)sejarah. Ia memiliki [ber-] nilai sejarah.

Meski demikian, belajar dari Edward Said, Michael Parenti, N Chomsky, bahkan pelebaran dari Foucault dan Bordeuau maka permainan teks yang merekam kejadian dan “membuatnya abadi” sebagai kutipan yang tersedia untuk dikutip menurut marka penyebaran dan produksi ilmu pengetahuan bisa dilakukan dan perlu dilakukan oleh pemegang kuasa.

Tidak bisa dipungkiri buku kontroversial Huntington mengenai bentur peradaban dan ideologi bisa, walaupun debatable, dijadikan rujukan.

Bahwa setelah Komunisme bangkrut sebagai ideologi, ideologi yang potensial menjadi kompetitor adalah Islam. Ya, benar bahwa dulu Islam diakrabi oleh Kapitalisme untuk menggebuk Komunisme. Lihat di banyak negara. Itu dulu sebelum Komunisme sebagai ideologi bernegara bangkrut.

Kini keadaan berubah. Peta menuju tatanan dunia yang baru berubah. Ideologi selalu membuka jalan menuju kehegemonian dan itu wajar. Justru saat ia tidak menemukan jalan untuk berkompetisi lagi, ia menjadi ideologi yang lapuk. Tentu saja ideologi yang seperti ini bicara mengenai konsep kekuasaan dan kenegaraan.

Nah.

Akan terasa mokal kalau mengatakan bahwa Islam tidak sedang butuh dijinakkan karena berbahaya bagi kehegemonian. Lihatlah bagaimana Edward Said bicara itu di “Covering Islam” dan Michael Parenti juga relevan dalam papernya “Monopoly Media Manipulation.”

411 adalah fenomena bersejarah namun ia butuh di-divert-kan dokumentasinya. Ia butuh digaduhkan dan disimpangsiurkan dokumentasinya. Tentu agar ia sebagai suatu kejadian yang diabadikan lewat semesta teks kelak timpang kekokohan.

Bermainkanlah dengan simpang siur angka. Bermainkanlah dengan penunggang dan siapa yang ditangkap. Bermainkanlah siapa pahlawan dan siapa bermain uang. Bermainkanlah kelak akan ada “kesaksian-kesaksian” pendukung kegaduhan.

Yang beginian membuat kita teringat industri yang muncul salah satunya lewat memoar Anne Frank yang ditulis dengan bolpen!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s