Home » Selected Contemplation » Menunggangi Agama untuk Kepentingan Pribadi

Menunggangi Agama untuk Kepentingan Pribadi

Judul tersebut membuat saya bingung menulis. Tapi entah mengapa kudu dituliskan.

Kalau ada kyai tanpa afiliasi partai manapun misalnya berbicara bahwa agama tak bisa dilepaskan dari politik, apakah ia bisa kita cemooh dengan tinggi hati dan busung dada bahwa kyai tersebut menggunakan agama untuk kepentingan pribadi?

Kalau misalnya ada [yang disebut sebagian orang sebagai] Kyai atau misalnya akademisi [yang mengaku] muslim namun ucapannya, bercandanya, tulisannya melemahkan umat dan membaturkan diri kepada liyan, keranjingan mengkritik umat dalam rangka mengekor cara beragamanya dan ber-worldview-nya liyan, meremehkan nabi dan rasul, penuh semangat menyebarkan syubhat di dalam umat, dan perkataannya bisa dikatakan membuat dirinya bisa legit dikatakan murtad, sudah bukan bagian dari kaum muslimin, apakah yang beginian bukan menunggangi Islam untuk kepentingan kemakmuran duniawinya sendiri? Mengapakah kemudian misalnya yang beginian sangat meradang dikatakan sebagai murtad? Apakah status ketidakmurtadannya harus ia jaga mati-matian agar ia bisa punya hujah untuk terus menunggangi Islam?

Ya Allah lindungi kami dan anak cucu kami dari keburukan-keburukan. Amin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s