Home » Selected Contemplation » Buih-buih Amsal Buih

Buih-buih Amsal Buih

Ada dua tuan besar, entah mengapa, menggaungkan kata “buih” dalam tarian penaka gendang kedigdayaan dalam rengkuhan.

Tuan besar pertama bercerita mengenai buih dengan gaya berputar-putar. Entah mengapa pada dua paragraf awal seolah “buih” yang diamsalkan adalah sebagai lambang kebatilan. “Buih” ini yang kini sedang suka menggalang aksi, sedang mengukuhkan ketidakarifan. Entah benar tidak bacaan ini. Buih-buih ini lambang kebatilan.

Tuan besar kedua bercanda mengenai mereka yang penaka buih. Bahwa mereka yang turut hadir di dalam aksi adalah”buih-buih” yang minim kualitas. Hati siapa tidak tercengang mencerna pernyataan ini?

Entah. Entah mengapa Tuan-tuan besar ini begitu gempitanya menyuarakan pembelaan kepada “dia yang sudah jelas tidak terbukti bersalah meski jelas tedas mencemooh tafsiran saudara sepersaksian.”

Entah mengapa aku justru teringat dan terpukau pada setia hidupnya Mbah Bambang penjual nasi murah langganan di kampung dan si muda Yusuf yang dulu sebelum mati berangan kelak hidup sederhana dengan menjual susu segar. Entah mengapa tuan-tuan besar itu tidak memukauku.

Entah mengapa.

One thought on “Buih-buih Amsal Buih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s