Home » Selected Contemplation » Pemimpin-pemimpin Umat dan Ulama-ulama Terpatuk Wahn

Pemimpin-pemimpin Umat dan Ulama-ulama Terpatuk Wahn

Benarlah apa yang pernah dinubuahkan orang yang paling mulia, Nabi saw., bahwa mula ketidakberdayaan umat Islam adalah mewabahnya wahn justru ketika, seperti kini, jumlahnya justru sudah luar biasa banyak.

Dilly Hussain, aktivis sunni kelas nasional di UK (Britania Raya) menyentil dan mengajak kita merenung bagaimana wahn ini sudah mewabah lewat sebuah status di akun facebook-nya.

Dilly mengajak kita melihat bagaimana di Timur Tengah negara Palestina dibuat mainan oleh negara Israel sedangkan saudara setubuh di negara-negara tetangga sebagian pemimpin-pemimpin dan ulamanya masih saja bersikap pragmatis diplomatis.

Lihatlah juga Kashmir bagi negara di dekatnya Pakistan, Rohingya bagi negara di dekatnya Bangladesh, dan negara sekawasan seperti Indonesia dan Malaysia. Lihatlah Aleppo.

Lihatlah kondisi umat ini.

Lihatlah betapa banyak pemimpin, ulama (baik yang kyai maupun akademisi) yang sayup atau bahkan takut mengkritik tingkah polah negara besar opresor. Bahkan menyentil sedikit pun tidak. Lihatlah mereka terus menerus mengajak umah untuk berubah, beradaptasi, tunduk, dan patuh pada angkara murka serakah.

Bukankah mereka tahu (ataukah tidak sadar?) bahwa pilihan sikap untuk membuat umat jinak dan menunduk sejatinya sudah disindirkan oleh orang “kafir” semisal Edward Said yang berbicara mengenai pilihan sikap menyenangkan dan butuh merasa diterima oleh metropole sebagai bagian dari fenomena inferioritas dan bentuk membatur? Bukankah yang begituan sudah juga disindir oleh Voltaire bahwa untuk tahu siapa yang menguasaimu dan kamu sudah loyo tak ada niatan melawan adalah bagaimana kamu sudah tidak bisa sejajar mengkritiknya? Berapa banyak pemimpin, ulama, akademisi muslim yang masih berani tegak melawan jejal narasi kebohongan-kebohongan negara-negara besar? Bukankah mereka ini, sebagian, malah sibuk “mengoreksi” umat yang tidak patuh-patuh sementara pura-pura abai akan angkara murka di depan mata, takut mengkritik bahkan menyindir, takut hilang dukungan tetap berkuasa, takut hilang dari panggung, khawatir tak mendapat kucuran dana, cemas tersingkir dari sorot kamera, dan was-was minim kans tulisan terpublikasi?

Bukankah orang “kafir” lainnya semisal Foucault sudah menggariskan bahwa pelakon-pelakon besar yang takut dibicarakan tingkah polahnya oleh pemimpin, ulama, dan akademisi muslim justru menunjukkan hegemoni kuasa yang najis dibicarakan dalam diskursus? Bukankah film “kafir” Harry Potter mengajarkan ketakutan pada persona membuat “namanya tak boleh disebut” meskipun lewat bisik-bisik?

Dilly Hussain mengena pada concern-nya atas umat ini. Siapatah yang lantang menyangkal bahwa wahn benar sudah mewabah atas umat ini? Siapatah yang bisa jujur pada dirinya sendiri dan menyangkal singkapan yang dituangkan lewat concern Dilly Hussain ini?

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s