Home » Selected Contemplation » Permainan Kutipan Kristeva: Penabur Ferioksida pada Struktur Bangunan Islam

Permainan Kutipan Kristeva: Penabur Ferioksida pada Struktur Bangunan Islam

Sempat beredar ajakan, yang disebut sebagian orang sebagai gerakan radikal, pemindahan uang dari beberapa bank yang dianggap sebagai pilar arus uang grup konglomerat tertentu kepada bank-bank yang disebut sebagai mempribumi di salah satu WhatsApp yang kebetulan saya ikuti.

Bagi saya ada tiga hal yang menarik mengenai sulut gerakan ini. Tentu saja mengenai sebutan “radikal,” “isu pribumi,” dan “WhatsApp.”

Mungkin yang bisa saya mulai duluan adalah mengenai “WhatsApp.” WhatsApp adalah penyeranta sosial (social messaging) yang menggilas predesesornya BBM (BlackBerry Messenger) dan masih belum bisa disaingi oleh Line, KakaoTalk atau bahkan Telegram yang sempat berkoar mengenai keunggulan keamanan enkripsinya. WhatsApp yang proyeknya dimulai pada tahun 2009 oleh duo mantan pegawai Yahoo!, Brian Acton dan Jan Koum, sejak Februari 2014 dicaplok oleh Facebook lewat pembelian sebesar 19,3 milyar dollar. WhatsApp kini merupakan penyeranta sosial terbesar di dunia.

Jadi kita semua secara “sosial di dunia maya” selain sudah dimahfumi telah terjerat oleh Facebook sehingga jempol kanan kita setiap hari bisa melakukan marathon sekian kilometer dari kesibukan scrolling status-status yang bertindihan di lini masa akun Facebook kita dan bagaimana kedua jempol kita aktif dan tentu saja sehat karena melakukan ratusan squat jump di layar sentuh telepon seluler masing-masing termasuk tempa kesabaran ekstra bagi mereka yang memiliki masalah dengan palmar hiperhidrosis sehingga papan ketik pada layar sentuh keseringan salah memencet huruf yang dimaui, juga terpasung pada aplikasi milik perusahaan Facebook yang lain yakni WhatsApp.

Tentu saja bagi sebagian orang akan dikhotbahkan bahwa kehebatan Facebook sebagai bukti bahwa Mark Zuckerberg benarlah salah satu contoh saja akan “bangsa pilihan Tuhan” ala biblikal. Namun yang beginian bisa saja dijawab dengan runtut penjelasan biblikal dari Thomas Williamson mengenai siapa sebenarnya bangsa pilihan Tuhan itu. Sebagian yang lain tentu saja akan bisa menambahi cerita dengan bagaimana Mark Zuckerberg berencana mendonasikan 99 persen kekayaannya dan bagaimana kita bisa meneladaninya. Akan tetapi altruisme, aksi sosial, yang bombastis seperti ini sejatinya bisa dijelaskan lewat banyak tulisan yang valid mengapakah Mark Zuckerberg memang sengaja melakukan itu di dalam “mengakali” sistem perpajakan Amerika Serikat dalam rangka mengamankan kekayaannya. Baca saja misalnya tulisan Jesse Eisinger di New York Times atau reportase Davey Alba di Wired Business. Pun, Mark Zuckerberg punya pembelaan terhadap tuduhan yang tidak enak akan rencana aksi donasi kekayaannya itu.

Zonder kepo pada benar tidaknya altruisme itu akal-akalan terhadap sistem pajak yang rumit dan berat membebani atau tidak, WhatsApp musykil diabaikan di dalam kajian perubahan sosial. Yang sebelumnya kita mendapati bagaimana media sosial seperti Facebook  telah menjadi kajian serius di dalam perubahan sosial maka penyeranta sosial seperti WhatsApp sudah sewajarnya mulai ikut dikaji. Lihatlah bagaimana polemik demonstrasi 411 kemarin terhadap isu dugaan penistaan tafsir salah satu ayat Quran oleh Ahok secara sekilas, misalnya, Noor Huda Ismail menyebut-nyebut mengenai pesan di salah satu grup WhatsApp mengenai tolok ukur kadar keimanan seorang muslim yang ditakar berdasar model keterlibatannya di dalam aksi demonstrasi 411. Tentu saja saya meyakini bahwa takaran keterlibatan di dalam aksi menegakkan kebaikan di dalam diskursus Islam yang memang menyebutkan ada tiga parameter (bergerak lewat aksi, menegur dengan lisan, dan hanya gerah dalam hati) telah diketahui oleh Noor Huda Ismail meskipun sayangnya tidak ia sampaikan di dalam tulisannya di The Conversation. Contoh bagaimana secara tolok ukur ini secara ekspresif dan eksplanatif disampaikan kepada publik bisa dibaca lewat akun media sosial Instagram Ustadz Yusuf Mansur. Sebuah pernyataan menarik mengenai “tidak ikut bergerak di dalam aksi” namun menyumbang logistik aksi.

bersambung ….

  • Membela perbedaan penafsiran … dan mengutamakan pembelaan terhadap saudaranya yang memiliki beda penafsiran dari “cemoohan liyan.”
  • Media massa Barat hanya menggambarkan aksi demonstrasi 411 dilakukan oleh grup muslim “radikal”
  • Radikal, istilah radikal, permainan labeling, Michael Parenti, transnasional, kapitalisme dan globalisasi juga gerakan transnasional, kapitalisme yang butuh demokratisasi dan globalisasi …
  • Film Armageddon, Film Fight Club …
  • Istilah pribumi, di Indonesia, bumiputera di Malaysia, perjuangan bangsa Indonesia serta istilah pribumi, beda dengan Aborigin dengan Australia … dst.
  • Bagaimana “ulama jinak” bermain dengan semesta kutipan literatur di dalam diskursus Islam.
  • Bla, bla, bla ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s