Home » Selected Contemplation » Kepada Siapa Hormat Diberikan

Kepada Siapa Hormat Diberikan

Memberi hormat kepada alim adalah sebuah kemahfuman. Sebab dari merekalah ilmu diunduh dan dipahamkan.

Tapi memberi hormat tidak serta merta diberikan kepada setiap alim. Kalau pemberian hormat diberikan kepada setiap alim zonder pandang takar, tentulah setan yang mengajari pembacaan ayat kursyi bisa saja diberikan hormat. Bukankah darinya tersibak bagaimana ayat kursyi diamalkan bacaannya?

Akan tetapi hormat kepada setan tentulah bentuk hormat yang tak elok. Bagaimanatah mungkin memberi hormat kepada “musuh nyata” kita? Tentu istilah yang dipakai bukanlah “hormat.” Atau kalaulah “setan yang itu;” setan yang mengajari bagaimana pengamalan pembacaan kursyi hendak disebut sebagai berkontribusi pada sesuatu yang “baik” dan jika terpaksa kata semisal “hormat atau salut” diberikan pada satu dua kasus kebaikan tentulah ada tambahan “akan tetapi.”

Itu.

Beberapa saat yang lalu kebetulan saya mendapat kesempatan menyulut diskusi Social Research Forum Monash University mengenai “Islamisme.”

Sejatinya saya tidak suka dengan istilah “Islamisme.” Namun istilah ini dipakai oleh liyanan Islam di dalam memetakan Islam yang meneguhkan identitasnya di peta persaingan ideologi. Tentu saja mereka yang mempunyai pemikiran dan pandangan yang moderat dan berusaha membuat dirinya kompatibel dengan kehegemonian kuasa “mereka” dengan sebutan Islam saja.

Jadi penaka ada dua: Islam dan Islamisme; Islam yang dipolitikkan; Islam yang diideologikan. Hal ini mirip dengan penyebutan Islam Radikal (kadang dipakai istilah Islam Fundamentalis, Islam Siyasi, atau Islam Intoleran) dengan “Islam saja.” Dan yang disebut sebagai “Islam saja” ini kerap ditautkan dengan istilah “moderat, ramah, toleran, dan atau rahmat bagi semesta alam.”

Problematika yang tidak disadari oleh mereka yang diberi nama atau diberi label adalah usaha pemetaan dari pemilik kuasa. Penenunan narasi bahwa Islam yang dipolitikkan misalnya adalah bermula seolah sebagai respon dari kolonialisme, modernisme, dan globalisasi kalau disadari sejatinya malah mengerdilkan Islam sebagai suatu paket yang lengkap ….

Peran alim yang jinak serta kompatibel dengan exercising power dan alim yang diperangi …

Hormat kepada alim yang bagaimana? Berpikir logis di dalam kompetisi ideologi …

Relevankah Huntington? Bagaimana misalnya Perang Irak dan narasi yang berkuasa menceritakan Demokratisasi dan Islam Radikal? (lihat Edward Said, 2003, “Window of the World.”)

Hungronje politik asosiasi – lihat Laffan dan beberapa buku seperti …

Foucault … Subject and Power …

Edward Said … Covering Islam

Kalau sekiranya kealiman saja membuat kita mesti takjud dan membungkuk hormat tanpa reserve, tentulah kita akan memuja-muja Snouck Hungronje … Tapi kan tidak serta merta begitu bukan?

bersambung …

Buat Yusuf; Penjual Susu Segar(a)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s