Home » Selected Contemplation » Belajar Lewat Salep, Silit, Keringet

Belajar Lewat Salep, Silit, Keringet

Di Turki, ada minuman kesehatan tradisional kemasan berlabel “Salep.”[1] Di Amerika Serikat, ada alat masak punya merek “Silit.”[2] Di Kenya, ada air minum botolan punya nama “Keringet.”[3]

Kita tahu bahwa di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “salep” artinya “obat luar yg terbuat dr campuran obat dng zat yg berkonsistensi, spt mentega, untuk dioleskan pd kulit (untuk kudis, luka, borok, dsb).” Sedangkan silit adalah bahasa Jawa untuk “lubang dubur.” Tentu saja kata “keringet” kita semua tahu bahwa kata ini di dalam bahasa Indonesia diucapkan oleh beberapa penutur bahasa Indonesia sebagai “keringet” dan juga memiliki padan kata dengan “keringet” dalam bahasa Jawa.

Bahasa memang unik. Tiap bahasa punya kata dan atau ekspresi terhadap “sesuatu” yang berbeda. Jikasanya ditemui sama, kadang terjadi karena pinjaman, karena adanya pengaruh. Misalnya “kantoor” dari bahasa Belanda dan “markaz” dari bahasa Turki untuk merujuk bangunan yang sama sama dengan “kantor” dan “markas” dalam bahasa Indonesia. Kesamaan istilah untuk sesuatu yang sama terjadi karena pinjaman istilah.

Ya, kadang pinjam kata untuk diadopsi diperlukan entah karena ketiadaan istilah pada sesuatu yang baru dikenal di dalam suatu bahasa, entah karena tindak politis bahasa, atau bisa muncul karena perulangan di dalam budaya pop vernakular sehingga bisa menyusup ke dalam kamus baku bahasa.

Nama adalah penting. Dulu saya masih ingat bagaimana sebuah mobil pernah jeblok penjualan karena nama yang dipakai untuk pasar di sebuah negara di Amerika Selatan memiliki arti yang buruk. Orang jadi ogah membeli mobil itu karena masalah yang tidak sepele.[4] Jadi jangan heran misalnya beberapa perusahaan bisa memberikan brand name yang berbeda untuk produk yang sama karena hendak menghindari “penamaan yang buruk” sebagaimana mobil tadi di dalam bahasa lokal, tapi kadang terjadi karena perkara lidah. Ya, lidah tiap bangsa yang berbeda bisa kasih pengaruh pada produk yang dijual massal. Ada bayangan bakal repot kalau lidah calon pembeli petah mengujarkannya. Tentu ada juga misalnya alasan lainnya seperti masalah legalitas nama —karena sudah adanya pemakai nama itu— atau kadang hendak memberikan rasa lokal, semacam kedekatan dengan calon pembelinya lewat nama yang sekiranya lebih “nasionalis.”[5]

Nama, penamaan, atau gelaran adalah kadang bisa saja dikatakan tidak penting. Tetapi semua kembali kepada konteks dan kehati-hatian di dalam menautkannya dengan konteks justru menjadi perkara yang penting. Benar bahwa nama tidak penting dalam konteks tertentu namun dalam keadaan yang lain justru sangat penting. “Mawar”-nya Shakespeare tetaplah mawar, yang indah, yang mempesona, jika misalnya ada orang lain kasih gelaran buruk atau tidak mengakui keindahannya. Jadi ungkapan apalah arti sebuah nama dalam tutur Shakespeare memiliki konteks pengikatnya.[6]

Begitu juga ketika kita menggunakan istilah, nama, label, seumpama “kafir.” Istilah ini menjadi istilah yang bisa dipakai dalam konteks yang “biasa saja” namun bisa juga dipakai dalam rangka mendenigrasi, menyerang, orang lain. Dulu istilah ini dipakai sebagai sumbu pemantik daya juang melawan Belanda oleh pribumi, oleh bumiputera. Lihat saja misalnya di dalam novel Sitti Nurbaja.[7] Kemudian kita Belanda sudah angkat kaki, istilah “kafir” yang asalnya merujuk kepada mereka yang bukan muslim digantikan dengan istilah non-muslim.

Bahasa memang unik. Istilah “kafir” dan “non-muslim” seolah berbeda. Tentu perbedaan ini terikat pada sejarah pemakaian istilah dan ubal-ubal pemakai bahasa mengenai istilah itu. Jadi juga jangan heran kalau kiranya juga istilah “kafir” yang diucapkan dengan lantang di dalam orasi umum bisa dimaknai sebagai agitasi, sedangkan ketika dibacakan dan dibicarakan di pengajian, istilah ini “netral” saja. Mungkin ini terkait dengan orasi para tetua dan ulama bangsa kita dulu yang berjuang melawan penindasan, melawan ketidakadilan, melawan Belanda dengan teriakan “kafir Belanda” dan Belanda bukanlah bagian dari “kita.”

Nah, salep, silit, keringet kalau misalnya mau nekat masuk Indonesia, besar kemungkinan harus ganti nama. Susah jika ketiganya kukuh dengan “nama kebanggaan, nama asli” mereka. Begitu juga ide-ide Orientalis dan Liberalis juga butuh menyaru agar bisa menyatu dengan kepolosan kita. Kalau tidak begitu, bagaimana mereka bisa menyusup dan merasa yakin memenangkan peperangan di balik tirai berjelaga?

.

.

.

.

Endnotes

[1] Salep adalah minuman penghangat khas Turki. Salah satu artikel yang membahas tentang minuman ini dapat dibaca lewat http://www.nurweb.biz/what-is-salep-drink/ yang dibuka dengan sebuah kalimat: “Have you ever drink cup of salep?”

[2] Situs resmi Silit menampilkan tagline: “The finest cookware in the world!”

[3] Website resmi minuman Keringet (http://keringet.co.ke/our-water/) memberikan paragraf pembuka laman sebagai berikut: “Keringet Still was East Africa’s first Pure Natural Mineral Water. Bottled at 8,000 feet above sea level, our mineral water has been voted ‘best tasting water’ for four independent years at the International BBI Awards”

[4] Mobil yang dimaksud adalah Ford Pinto. Di dalam bahasa slang Brazil, pinto adalah alat kelamin laki-laki. Kisah Chevy Nova yang konon tidak laku di negara berbahasa Spanyol sebagaimana dikutip oleh sebuah buku manajemen pemasaran karena No Va adalah artinya No Go adalah kisah yang tidak benar sebagaimana disanggah oleh David Mikkelson lewat tulisan berjudul “Don’t Go Here” dalam snopes.com. Dongeng No Va tidak laku karena artinya adalah No Go mirip dengan lelucon di bidang pemasaran di sebagian daerah di Jawa mengenai Acer yang dikatakan sebagai akronim dari Angger Cepet Rusak. Perlu dicatat bahwa masyarakat Jawa suka membuat permainan dari sebuah nama atau istilah sebagaimana di tulisan saya yang lain di blog ini telah saya bahas berkenaan “wanita” menjadi “wani ditata.”

[5] Tulisan Erik Devaney berjudul “What’s in a name? What 6 popular brands are called across the globe” menarik untuk dibaca berkaitan dengan brand name.

[6] Kalimat Shakespeare yang sering dikutip dan kadang serampangan dimaknai adalah “What’s in a name?” padahal kalimat milik Juliet dari drama “Romeo and Juliet” ini versi paragraf lengkapnya adalah sebagai berikut:

‘Tis but thy name that is my enemy;
Thou art thyself, though not a Montague.
What’s Montague? It is nor hand, nor foot,
Nor arm, nor face, nor any other part
Belonging to a man. O, be some other name!
What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;
So Romeo would, were he not Romeo call’d,
Retain that dear perfection which he owes
Without that title. Romeo, doff thy name,
And for that name which is no part of thee
Take all myself.

[7] “Kalau dibawah perintah bangsa kapir; selamanja kita hendak dianiaja sadja” (Sitti Nurbaja, cet. 1960, hlm. 290). Pada halaman sebelumnya (hlm. 276), pribumi yang mendukung Belanda diteriaki sebagai “Kafir hitam.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s