Home » Selected Contemplation » Kepokilan dan Wabah

Kepokilan dan Wabah

Tulisan ini merupakan terjemah bebas dari status Facebook penulis Muslim kontributor MuslimMatters.org, Daniel Haqiqatjou, yang disiarkan pada tanggal 28 Mei 2016 disertai beberapa penambahan minor sebagai pembantu pemahaman konteks. Dirilis di dalam blog ini dalam payung fair use dan for education.

=====================

Swiss memberlakukan denda kepada siswa laki-laki Muslim jika mereka menolak untuk berjabat tangan dengan guru perempuan mereka.[1]

Apakah ini bukan semacam pelecehan seksual – untuk memaksa seseorang melakukan kontak fisik di luar kemauannya? Manakah mereka yang suka berteriak lantang, para feminis sekuler, yang koarnya melulu tentang integritas tubuh dan segala tindak harus melewati ikhlas persetujuan (consent)? Oh ya, ternyata kebelaguan itu menjadi suara sepi jika ini terjadi atas pria Muslim. Jika seorang pria Muslim menolak untuk memberikan jabat tangan, ini lalu boleh dengan lantang ditafsirkan berarti dia mencoba untuk menindas para perempuan seperti yang selalu dikatakan tentang laki-laki muslim terhadap semua anggota perempuan dari keluarganya, kan?

Ini mengingatkan kita pada perempuan yang merasa tidak dihargai jika laki-laki muslim menurunkan pandangannya (gadhul bashar) dan tidak menatap mata mereka dan tersenyum dan tertawa. Mengapa penurunan pandangan oleh para laki-laki Muslim bisa dianggap sebagai bentuk tidak menghormati? Hanya karena tidak sesuai dengan apa yang Anda digunakan dalam hal adat sosial tidak berarti bisa semena-mena dilabeli sebagai tindak tidak hormat. Bukankah negara-negara Barat kerap mengklaim sebagai toleran budaya dan terbuka untuk keragaman dan tak henti-hentinya menuduh masyarakat Muslim sebagai masyarakat intoleran? Ataukah makna “toleransi” menurut mereka hanyalah kebiasaan makan makanan dari budaya lain dan berdandan kostum suku bangsa-budaya lain untuk acara Halloween?

Dan argumen yang menolak untuk berjabat tangan kemudian diarahkan kepada diskursus bahwa praktik itu memperkuat pelembagaan peran gender dan pemisahan gender. Justru itulah pangkal semua perkara! Jika Anda yakin hal-hal yang diajarkan di dalam Islam itu tak baik menurut Anda yang bukan orang Islam, okelah. Kan kecuekan kalian pada prinsip yang dipraktikkan oleh orang Islam tak bisa diguyur dengan pemaksaan pemahaman. Dan jika Anda ingin memaksa umat Islam untuk melanggar prinsip-prinsip mereka dalam hal ini, udah sana lakukan saja. Tetapi abai pada peraturan ini yang diterapkan di Arab atau Iran atau Afghanistan dan absen dari mengatakannya sebagai peraturan yang tak adil justru menunjukkan isu-isu berkutat praktik ini menjadi tidak konsisten. Negara-negara itu punya aturan sendiri dan berhak menerapkan tanpa seharusnya Anda di Barat nyinyiri sebagaimana sering Anda lakukan, padahal Anda di Barat merasa aturan Anda mengikat mereka yang ada di wilayah negara Anda dan Anda tak mau dinyinyiri di dalam penerapannya.

Kita buka kartu saja, jika Barat ingin memaksa umat Islam untuk melanggar norma-norma ini, itu hanya akan menjadi bukti bagaimana netralitas sekularisme adalah fatamorgana. Tidak ada netralitas – itu hanya norma-norma budaya Barat yang mendasari dan menginformasikan segala sesuatu dan dipaksakan kepada semua yang ada di kolong langit. Itu sebabnya saya tidak pernah menarik kepada mantra sakti menyesatkan “kebebasan beragama” dalam argumen saya. Karena, apa yang atau tidak “religius” seringkali didefinisikan secara kultural. Jika budaya mengalami pergeseran, Anda di Barat dapat berkoar dan membuat klaim untuk meyakinkan orang-orang dan memberitahu mereka itu konsisten dengan kebebasan beragama.

Lihatlah “homoseksualitas.” Pada awalnya, itu sesuatu yang universal dikutuk. Kemudian budaya bergeser sedikit dan itu kemudian digembar-gemborkan sebagai masalah yang muncul karena adanya doktrin agama – beberapa agama merubah “doktrinnya,” yang lainnya tidak – dan itu kemudian dikanonkan di dalam domain kebebasan beragama dan “setuju untuk tidak setuju.”

Kemudian pergeseran budaya muncul lebih hebat mengenai isu homoseksualitas dan sekarang “kebolehan homoseksualitas” secara universal dirayakan dan mereka yang menolak untuk bergabung dalam kegembiraan dan persetujuan akan praktik homoseksualitas dianggap sebagai orang ekstreme, orang kolot, orang kuno dan dianggap tidak merefleksikan pribadi yang beriman pada “[modifikasi doktrin] agama yang dapat diterima.”

Mereka yang kukuh memegang “keyakinan lama” [baik yang Muslim maupun yang Kristen] kemudian disebut dengan pelaku penyebar ajaran bigotry (kebencian berkait SARA dari kolotnya pikiran), hate (kebencian), prejudice (prasangka buruk pada liyan tanpa dasar “benar”) dan itu sesuatu yang harus diatur supaya tidak menyebar dan kini di Barat, Anda harus mau menerima oderan Tart Perkawinan untuk pernikahan gay, Anda kalau jadi petugas di kantor catatan sipil di negara-negara Barat, KINI harus mau menerima dan merestui tanpa boleh banyak cincong terhadap pernikahan pasangan homoseksual, walaupun misalnya itu bertentangan dengan keyakinan mereka. Menolak menerima itu, bisa kena buli, dipecat dari kerja, denda, bahkan dapat kamar gratis di penjara. Jangan kaget misalnya petugas pencatatan sipil di Kentucky, Amerika Serikat yang bernama Kim Davis diseret ke penjara karena bersikukuh menolak pencatatan perkawinan pasangan homoseksual karena Kim Davis memegang teguh keyakinan Kristen-nya yang menolak mengakui pernikahan sejenis.[2] Atau misalnya perusahaan juru foto perkawinan, Elane Photography, terpaksa harus berurusan dengan pembuat undang-undang untuk melindungi hak para fotografernya sekiranya hendak menolak orderan pernikahan pasangan homoseksual meskipun akhirnya mendapati kenyataan bahwa “petisi”-nya dilihat pun tidak oleh para penentu kebijakan.[3] Atau denda dan paksaan untuk mendukung diberlakukan kepada sebuah toko pembuat kue pernikahan bahkan ketika misalnya punya argumen “we’re not anti-gay, we’re just anti-gay-marriage” digunakan di pengadilan, tetaplah dikalahkan oleh para hakim.[4]

Muslim telah lama mampu hidup di Barat dan mempraktikkan agama mereka dalam konteks “toleransi” yang memuaskan bukan karena mengikut model toleransi [mutlak] beragama dan kebebasan dan sekularisme bla bla bla. Benar-benar tidak. Tolong, tolong berhenti percaya omong kosong yang pokil ini. Kebetulan bahwa kebudayaan Barat, yang beberapa di antaranya berakar dalam tradisi Abrahamik [Kristen] cukup dekat dengan Islam sehingga umat Islam sejatinya sudah lama bisa menjalani hidup di masyarakat Barat. Dan muslim di Barat mensyukurinya, alhamdulillah. Tapi itu bisa berubah setiap saat.

Namun kini Barat bergerak menjauh dari pengaruh akar Ibrahim dan terus mengadopsi ideologi “paganistik dan setan,” mungkin akan tiba masa di mana muslim di Barat akan kesulitan bahkan tidak bisa melaksanakan apa-apa yang menjadi prinsip keyakinannya. Dan hukum-hukum “yang baru itu” akan digembar-gemborkan sebagai sangat konsisten dengan kebebasan beragama. Bahkan, doktrin yang dicekokkan mengatakan bahwa kebebasan beragama adalah apa yang SESUAI dengan hukum yang diatur konstitusi sedangkan berselisih dari konstitusi dianggap melawan hukum. Kalau sejarah tata konstitusi homoseksualitas bisa berbalik arah dan justru menggencet mereka yang meyakini bahwa homoseksualitas adalah sesuatu yang dibenci Tuhan, tinggal berapa langkah lagi segala argumen yang dipakai pendukung homoseksualitas akan menjadi inspirasi bagi para pendukung pedofilia,[5]nekrofilia, dan incest[6]sebagaimana kini marak terjadi di sebagian negara Barat?

Dan kemudian akan ada beberapa Muslim yang terus minum Kool-Aid [percaya pada doktrin yang justru menjauhkan mereka dari agama; ajaran yang disebarkan para musang berbulu domba] dan percaya bahwa mereka dapat hidup bebas sebagai Muslim, kecuali pada saat itu apa yang mereka pikirkan adalah “Islam” akan ada seperti apa yang kita tahu dari “Islam yang sudah dipermak” dan Islam yang seperti itu malah diagung-agungkan sebagai Islam yang benar, yang moderat, yang sesuai kemanusiaan.

Dan Muslim lainnya, orang-orang Muslim yang tetap memegang agamanya, akan memiliki banyak cobaan dan kesengsaraan. Bagi mereka ini akan terasa memegang bara panas untuk kokoh beragama dan sementara berusaha mati-matian menggigit keimanan dengan gigi geraham. Ini mungkin tidak terjadi dalam hidup kita. Atau mungkin itu akan segera terjadi. Tetapi jika hal-hal di atas terus berlanjut seperti telah terjadi selama satu dekade terakhir di Amerika dan Eropa, semua itu tinggal masalah waktu saja. Wallahu ta`ala `alam.

Juga, saya tidak bermaksud untuk menjadi terlalu pesimis. Tapi saya pikir kita harus memberikan banyak kredit untuk tetangga kita non-Muslim yang tulus mentolerir kita (dengan toleransi yang nyata dan tidak dangkal) dan bahkan pada apa-apa yang mereka lihat pada kita sebagai keanehan. Keyakinan saya adalah bahwa praktik toleran sebagian orang-orang di Barat memiliki akar dari memori budaya yang mendalam pada hari-hari ketika Barat adalah masyarakat didominasi oleh Kristen tradisional. Toleransi dalam arti yang sesungguhnya itu sendiri adalah nilai Ibrahim, dan bukanlah ajaran liberal sekuler.

Tugas kita semua di masa-masa seperti ini adalah untuk menjadi tetangga yang baik dan tulus sebagaimana diajarkan di dalam keimanan kita sehingga mereka ini dapat melihat bahwa ada beberapa orang yang tersisa di muka bumi yang menyembah Allah sebagaimana Allah telah disembah di waktu wahyu masih turun, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah. Mereka yang tulus toleran kepada kita pantas kita tunjukkan itu.

Kita justru akan mengecewakan mereka dan membuat diri kita sendiri gagal sebagai orang beriman yang baik ketika meninggalkan himma “kesungguhan di dalam iman untuk menghadap masalah yang terjadi sembari mengharap pertolongan Allah” dan istiqamah “konsisten di dalam bertindak baik berdasar iman.”

.

.

.

.

Endnotes

[1] “Swiss school board rules Muslim boys must shake female teachers’ hands,” 25 Mei 2016, The Telegraph.

[2] Arian Campo-Flores, 3 September 2015, “Defiant Kentucky Clerk Jailed for Refusing to Issue Same-Sex Marriage Licenses,” The Wall Street Journal.

[3] Robert Barnes. 7 April 2014. “Supreme Court declines case of photographer who denied service to gay couple”. The Washington Post

[4] Michael McCough. 17 Agustus 2015. “The sleeper issue in the ‘gay wedding cake’ controversy,” Los Angeles Times.

[5] Jack Minor. 18 Juli 2013. “’Gay’ laws set stage for pedophilia ‘rights,’” World Net Daily.

[6] Lizzie Dearden & Elsa Vulliamy. 25 Februari 2016. “Incest and necrophilia ‘should be legal’ according to youth branch of Swedish Liberal People’s Party,” Independent.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s