Home » Selected Contemplation » Nerd, Saut, Ahok, dan di Sekitar Makian dan Bukan Makian Itu

Nerd, Saut, Ahok, dan di Sekitar Makian dan Bukan Makian Itu

Tersebutlah di dalam dunia gaming retro seorang tokoh bernama Nerd. Nerd adalah karakter fiktif yang diciptakan oleh James Duncan Rolfe. Tidak seperti karakter fiktif Ustad Abu Janda al Boliwudi yang diciptakan oleh Permadi Arya yang niat awalnya membuat lelucon mengenai ISIS dan kemudian berterusan membuat pseudo-khotbah dunia maya (Facebook) dengan dalil-dalil yang dicomot serampangan namun populer di kalangan Facebooker karena terlihat logis tak peduli benar tidaknya tafsir ulama sebenar atau bagi sebagian orang Abu Janda al Boliwudi ini bisa membuat tertawa terpingkal-pingkal lewat meme-meme dengan logika jungkir balik, James membuat karakter fiktif Nerd di dalam mengekspresikan pengalaman masa kecilnya pada Nintendo dan traumanya kepada developer game tertentu. Baik Permadi maupun James memulai “proyek” mereka lewat cara yang sama: keisengan. Hanya bedanya, tidak bisa dibedakan lagi karakter fiktif Ustad Abu Janda al Boliwudi dengan Permadi Arya sebagai “pseudo-ustadz” sedangkan karakter gila pengumpat Nerd bisa dibedakan dengan James sang creator-nya yang cool di dalam kanal yang sama.

Lewat Nerd ciptaan James-lah, romansa masa kecil mereka yang lahir dan besar di masa awal kebangkitan lagi industri permainan video bisa dikunjungi lagi. James-lah yang kemudian membuat kanal Cinemassacre di YouTube menjadikan game retro menjadi layak dikunjungi dan dimainkan lagi. Nerd adalah karakter yang mengajak kita yang sudah “tua” untuk mengenang kembali masa-masa Nintendo NES akrab dengan kita. Ia mengajak kita mengunjungi dan memainkan lagi permainan video yang ada di Nintendo NES.

Lewat Nerd-lah kita bisa menyibak dan lebih tahu sejarah permainan video. Kita tahu bahwa berkat Nintendo NES-lah industri permainan video bisa terselamatkan dan bangkit lagi dari luluh lantak. Dari Nerd jugalah kita bisa tahu bahwa beberapa game (permainan) yang hebat menurut gamer Amerika berbeda dengan gamer Asia, khususnya Indonesia.

Perbedaan ini dapat dimaklumi terjadi. Paparan iklan komersial, kompetisi, endorser-endorser baik lewat film maupun majalah game, membuat selera permainan video Amerika —berdasar ulasan-ulasan Nerd dan James— dengan mereka yang berada di Indonesia —berdasar kenangan masa kecil kita— bisa berbeda. Begitu juga misalnya kita bandingkan dengan apa yang terjadi di Eropa —berdasar review Kim Justice.

Di Amerika, para gamer sangat menyukai empat game “besar dan klasik” yang kurang begitu populer di masa jaya Nintendo NES di Indonesia. Mereka di sana sangat akrab dan lekat dengan “Metroid,” “The Legend of Zelda,” “Castlevania,” dan “Metal Gear.” Keempat game ini kurang populer di Indonesia pada masa jaya Nintendo NES karena beda paparan aktivitas komersial sebagaimana di Amerika. Fenomena ini sebenarnya menguatkan pandangan bahwa selera massa bisa direkayasa. Kesukaan massa pada sesuatu, pada seseorang bisa diciptakan.

James sebagai Nerd di dalam video review terhadap game menampilkan dirinya serupa pelajar atau sarjana yang “berpakaian terlalu formal.” Dari situlah label “nerd” yang artinya bisa dirujuk kepada dua hal: seorang yang tidak pintar bersosialisasi karena  keseringan terlalu akademik atau seseorang yang tak gemar bersosialisasi karena lebih suka dengan belajar dan membaca, bisa menemukan tempatnya.

Dengan pakaian kemeja kantor warna putih dan empat borupeng di kantong kemejanya, ia babat habis game-game jelek dan ia sanjung game-game baik. Cara mengkritik ala Nerd sangatlah keras dan jauh dari kata elegan. Dan dari sinilah kata “angry” sebagai sebutan atas “nerd” (Angry Nerd) memperoleh pijakan. Dan karena itulah, anak-anak tak elok menonton kanal Cinemassacre. Mungkin James memang sengaja selain untuk lucu-lucuan sebagaimana pernah dia ungkapkan, tidak pernah berniat membuat kanalnya ramah buat anak kecil; “adik-adik.” Ia mungkin menyasar mereka yang kini berusia 30-50 tahun. Ya, Nerd memang menyasar romansa gamer di era 80-90-an.

Bahkan bagi mereka yang kini sudah dewasa pun namun tak kuat mendengar sumpah serapah setinggi burj khalifa akan jengah dan hindar dari menonton kanal Cinemassacre. Nerd selalu kasar, melontarkan F-word, M-word, Sh-word, jorok, pedas, tak sopan, temperamental anarkis, dan bangga dengan keranjingan minum bir Rollin Rock. Dan, tentu saja Nerd sebagai karakter yang diciptakan dan diperankan James harus dilihat berbeda dengan James Rolfe, seorang sarjana sastra beranak seorang puteri yang masih kecil.

Ya, Nerd dalam Cinemassacre menjadi sesuatu yang besar. Nerd yang sebelumnya hanya mengulas permainan video dari Nintendo NES saja berkembang menjadi pengulas; kritikus kejam untuk game-game apapun baik segala konsol, handheld, board, PC (bahkan kini merembet hingga ulasan tentang film), dan bahkan kemudian membuat film. Dalam perjalanan karakter Nerd yang sebelumnya bernama Angry Nintendo Nerd, dengan makin luasnya coverage review yang dilakukan maka ia berubah “nama” menjadi Angry Video Game Nerd.

Kanal itu juga kemudian berkembang dengan acara-acara lain yang diperankan oleh James sebagai James, Mike Matei sebagai dirinya, Bootsy, dan juga kadang ada bintang tamu lain yang “main” di kanal legendaris ini. Ada misalnya Pat the NES Punk, ada Alpha Omega Sin, dll. Sekali lagi, kanal ini tetap bukanlah kanal yang secara normatif korektif nyaman untuk ditonton terutama jika sudah menampilkan karakter Nerd. Tapi kanal ini kelihatannya justru menjadi inspirasi bagi kanal lain dan juga diulas oleh kanal lain yang bicara mengenai permainan video baik retro maupun permainan video yang terkini. Tengoklah misalnya ada kanal LJN Defender yang berusaha membantah keseringannya Nerd membantai permainan video karya LJN dan simaklah juga kanal Game Theory menganalisis karakter Nerd. Ini semua tambah gempita dengan munculnya pereview game yang dituduh oleh beberapa orang —tentu dengan beberapa lainnya menyanggah— telah mengimitasi karakter Nerd sebagaimana dilakukan oleh The Irate Gamer.

….

Nerd, sebutlah ia seorang jagoan yang tak takut menyuarakan kebenaran, tak peduli kritik yang dialamatkan kepadanya semisal satu dua poin tak tersepakati pengunjung kanal Cinemassacre. Justru, karena kekonsistenannya untuk tak peduli pada kritik pedas pada dirinya selama ia bisa mengajukan bukti-bukti dan argumen yang jelas tentang suatu hal, baik itu baik atau jelek, telah membuatnya menjadi legenda. Kanalnya di tahun ini sudah bertahan dan berkembang selama kurun waktu sepuluh tahun. Pelanggannya sudah lebih dari dua juta dan kebosanan tak nampak di antara pelanggannya. Selalu ada yang me-view video rilisannya dan juga selalu ada yang berkomentar. Tentu, beberapa tetap tak sepakat dengan “sumpah serapah,” “tampilan kekerasan,” dan “tenggak bir tanpa aturan.” Nerd tetap konsisten dengan karakterisasi itu. Ia tidak berubah selama sepuluh tahun sejak karakter itu muncul lewat kanal Cinemassacre.

Membandingkan Nerd sebagai karakter fiktif yang diciptakan sebagai pereview game yang pemarah dan suka mengekspresikan kemarahannya dengan terang-terangan dengan apa yang sedang terjadi di Indonesia sangatlah menarik.

Tersebutlah nama Saut Situmorang di dalam sastra Indonesia kontemporer dan Ahok, atau Zhong Wanxue, atau Basuki Tjahaya Purnama, di dalam dunia politik Indonesia. Berbeda dengan Nerd yang menyuarakan kekecewaan pada masa kecil akan game-game tertentu,[1] Saut menyuarakan perlawanan terhadap adanya manipulasi ini dan itu di dalam dunia sastra Indonesia dan Ahok menampilkan kegagahannya di dalam berpolitik.

Saut Situmorang, penyair anak Medan, yang kini berdomisili di Yogyakarta terkenal dengan kritikannya yang pedas dan cadas terhadap segala bentuk manipulasi di dalam sastra Indonesia ini sedang terkena masalah dengan Fatin Hamama, seorang sastrawati Padang yang konon menjadi endorser kehebatan Denny Januar Ali di dalam karier barunya di dalam sastra Indonesia. Suatu ketika saat Saut berdebat dengan Fatin Hamama di media sosial meluncurlah celetukan bajingan. Gara-gara “bajingan” inilah Saut diperkarakan ke meja hijau dengan gugatan “pencemaran nama baik” dan “perbuatan tidak menyenangkan.” Namun pemberkasan gugatan ini, jika info yang saya peroleh benar, sejatinya di dalam komunitas sastra sangat bisa masuk daerah abu-abu. Apalagi misalnya kalau mau eyel-eyelan juga tidak jelas ungkapan itu ditujukan kepada situasi, konten, atau Fatin Hamama-nya.

Merujuk kepada ilmu linguistik dari teori-nya Halliday mengenai register yang secara metafungsi terkelindan dengan field, tenor, dan mode. Pendek kata, bahasa dan ungkapan bahasa berubah menuruti konteks situasinya: apa yang sedang berlangsung, siapa yang terlibat di dalamnya, di dalam peran seperti apakah bahasa (jalur ekspresi dan retorikanya) tersebut dilangsungkan. Dus, di dalam debat sesama sastrawan, jika memang keduanya kita sepakati sebagai sastrawan, yang paham bagaimana bahasa di dalam lingkar mereka berlangsung, maka daerah abu-abu itu malah mendominasi kevalidan gugatan. Atau bagaimana sebenarnya ahli bahasa, ahli budaya folklore, ahli sastra, ahli hukum harus didudukkan untuk menganalisis apakah register pada kasus “bajingan” itu sangat layak diabaikan di dalam gugatan absurd itu atau tidak.

Perlu dicatat bahwa disertasi Mychelle H. Smith yang membahas profanitas dan ungkapan jorok di dalam sastra, kritik, dan pembelajaran sastra bisa menjadi referensi yang menarik tentang ini.[2] Sedang kalau berkaitan apakah sumpah serapah bisa longgar dipakai di dalam karya sastra nonfiksi bisalah mengacu kepada fenomena buku Adam Mansbach yang berjudul Go the Fuck to Sleep yang ode atas “fuck” ditulis dalam fitur Kathryn Schulz.[3] Bahkan beberapa karya sastra memang mengandung sumpah serapah sebagai bagian dari cermin dunia di luarnya sebagaimana pembicaraan dan komentar apresiatif di dalam dunia sastra —bisa dipadankan dengan kasus Saut Situmorang— sangat “normal” terceletukkan dan terceploskan ujaran-ujaran “tak normal” sebagaimana salah satu media massa di Inggris, The Guardian, pernah mengulas di halaman daringnya.[4]

Perkara bajingan ini malah tiba-tiba saya teringat kepada varian darinya. Bajingan menurut KBBI Daring mempunyai fungsi sebagai adjektiva kasar (kata makian) yang memiliki arti: “kurang ajar.” Namun pemberian label kasar atau tidak kasar sendiri juga kadang relatif tergantung register-nya. Di tulisan saya yang lain,[5] kata asu (dengan variannya su, hasuk) di dalam bahasa Jawa memang bisa diartikan yang tidak mungkin terdapati di dalam percakapan formal kecuali sebagai pisuhan (makian; kata kasar).  Meski demikian kerap terdapati di Jogjakarta, Solo, Semarang (Joglosemar) sebagai tabik keakraban sesama teman lama sebagaimana jancuk di Jawa Timur.

Perlu dicatat juga bahwa meskipun kata “bajingan” tidak mungkin terdapati di dalam percakapan formal kecuali sebagai makian, di dalam percakapan vernakular sebagaimana terdapati di beberapa daerah di Jawa, diartikan sebagai ungkapan “kesal yang bukan ofensif” tentu jika dinotasikan dengan nada yang tidak nyaring tinggi marah namun tentu tetap diperhatikan juga register-nya. Yang seperti ini bisa dirujukkan pada guru ngaji saya yang kadang suka mengucap “bajigur” sebagaimana ada teman kuliah saya aktivis dakwah kadang kalau kesal sambil tersenyum ia berkata juga “bajigur.” “Bajigur, bajirut, bajingsenghajingan, hajingseng” sebagai variasi dari “bajingan” tidak bisa serta merta dinilai sebagai makian. Ia tidak bisa keluar dalam percakapan formal karena menjadi asosiatif dengan ketidaksopanan namun di dalam situasi yang informal, tergantung pada register, maka ia menjadi bukan atau katakanlah tidak murni pisuhan.

Mudah ditemui di Clayton, Melbourne, Australia, "bajigur" bisa merujuk pada "minuman penghangat" percakapan. (Credit pics: Bajigur Hanjuang by Chandra Marsono)

Mudah ditemui di Clayton, Melbourne, Australia, “bajigur” bisa merujuk pada “minuman penghangat” percakapan. (Credit pics: Bajigur Hanjuang by Chandra Marsono)

Teringat register-nya Halliday di dalam membahas makian, bisa membawa kita pada peribahasa, “di situ bumi dipijak, di situ langit dijunjung” atau “when in Rome, do as Romans” atau di dalam bahasa Cina “入乡随俗 rù xiāng suí sú” yang artinya kurang lebih “jika memasuki suatu kampung, ikutilah adat-istiadatnya.”[6] Setiap tempat ada aturannya baik di dalam perkara apakah makian itu boleh dinilai sebagai makian ataukah justru dianggap sebagai tabik keakraban ataukah sejak kapankah sebuah ekspresi dianggap sebagai kasar atau tidak. Oleh sebab itulah muncul sebuah buku yang mengumpulkan sejarah makian dari beberapa latar budaya masyarakat yang berbahasa Inggris dalam sebuah risalah ensiklopedia sebagaimana dilakukan oleh Geoffrey Hughes[7] atau Melissa Mohr.[8]

Berbeda memang jika kita bicara makian atau “foul language” di ruas jalan dan angkutan publik di beberapa negara bagian di Australia atau beberapa daerah di Inggris. Semua dianggap sama sebagai makian. Tentu bukan hasuk-hasuk-an karena bahasa resmi mereka adalah bahasa Inggris sehingga hasuk tidak dipahami oleh publik di sana. Cobalah bicara agak keras di ruang publik di sana: “Shit,” Fuck,”“Dammit,” atau “Damned” atau variannya maka siaplah mendapatkan denda lumayan besar. Meskipun juga banyak pro-kontra di dalam pembelakuannya namun aturan itu tetap diterapkan.[9]

Lepas dari itu, terkadang sesuatu yang tidak pas diperkarakan bisa menjadi masalah jika argumennya sebagaimana argumen dari para pemangku kebijakan ini di kota kecil di Inggris, Barnsley, yang bunyinya:[10]

“There is nothing wrong with swearing, I do it everyday, but it is

when it is targeted at somebody.”

“It is important to note that some people feel upset and intimidated from hearing swearing.

“Therefore, it has been agreed that those found to be swearing in the town centre will be dealt with appropriately, by either advice or enforcement.”

Sebagaimana apakah misalnya kita bisa menganggap bahwa Ahok, atau Zhong Wanxue atau Basuki Tjahaya Purnama,[11] penjabat Gubernur DKI Jakarta yang lumayan bisa bahasa Mandarin dan lumayan bisa berbahasa Inggris ini, suka melemparkan ejekan atau makian secara tepat kepada mereka yang ia anggap seakan sebagai lawan politiknya atau ujaran-ujaran serupa itu kepada rakyatnya. Kalau serangan ujaran pedas di dalam dunia politik dengan retorika atau dengan cara terang-terangan, kita bisa menengoknya di dalam negara demokrasi lainnya seperti di Inggris.[12] Apakah misalnya bisa di dalam sebuah wawancara [formal] yang ditayangkan di televisi, Ahok sebagai seorang pejabat bisa kita abaikan ujaran “taik”-nya saat diwawancari Aiman Witjaksono sehingga teguran Komisi Penyiaran Indonesia pada sebuah acara di Kompas TV,[13] yang nampaknya memaksa Ahok meminta maaf di hadapan publik akan “bahasa toiletnya,”[14] menjadi berlebihan? Ataukah juga misalnya berlebihankah untuk meributkan jika Ahok menyebut salah satu rakyatnya yang melakukan kesalahan dengan teriakan “maling” di depan umum dan terekam juru liput media massa?[15] Apakah kemudian dengan bangkitnya Ahok di dalam dunia persilatan lidah politik Indonesia dengan “taik,”[16] “otak maling” kepada DPRD Jakarta,[17] “pikun” kepada Amien Rais,[18] “Mbahmu” kepada Yusril,[19] “Ngaco” kepada yang bukan Tuhan,[20] kerjaan BPK sebagai “ngaco,”[21] akan mengubah tradisi politik dan preferensi publik kepada seorang politikus yang menjadi inspirasi kecerdikan beretorika dan keteladanan bertutur di muka publik di Indonesia? Apakah tradisi negeri yang berbahasa Western Malayo-Polynesian seperti Indonesia dengan “shame (malu, sungkan, rendah hati)”-nya[22] akan berubah karena Ahok?

Apakah bentuk ignorance (kecuekan, ketakpedulian, pengabaian) Ahok di dalam laku tutur politik —bukan melulu kesantunan politik (political correctness)— bisa diabaikan, dianggap normal, dibenarkan, dan kelak malah menjadi teladan di dalam berpolitik? Bagaimana misalnya menafsirkan kalimat dari Ahok yang seperti ini:

“Banyak orang mengklaim, ‘Saya tinggal di sini sejak pertama Kali Ciliwung ada kehidupan’. Ini nenek moyangnya tinggal di sini, nih. Saya bilang, nenek moyang kita tidak goblok. Kok kamu menghina banget sama nenek moyang kita,” … “Mana ada nenek moyang bikin rumah di bantaran sungai.”[23]

Bukankah Ahok menggoblok-goblokkan nenek moyang orang lain, rakyatnya, yang memang tinggal di bantaran sungai?

Kita nampaknya penuh dengan kegalauan mengenai bagaimana menemukan figur pemimpin yang patut didaku dan diteladani. Apakah tutur kata menjadi tidak menjadi sebuah tolok ukur mengenai kebagusan kepribadian seseorang ataukah beberapa kata sudah berubah menjadi “ternormalkan” di dalam wicara publik? Apapun bisa terjadi. Entahlah.

Bersama itu, entah mengapa samar-samar lagu tema Nerd, Angry Video Game Nerd, AVGN, pada dendang pembuka acaranya yang berisi kejengkelan dan sumpah serapah berdenging. Berdenging dan memberikan pertanyaan: “Mengapakah Kura-kura Ninja [yang kura-kura dan juga sudah piawai dengan ilmu ninja] justru tidak bisa berenang?”

Bisakah Ahok bisa menepis serangan atas dirinya sebagai bukan asli Betawi dengan gayanya yang tidak butuh retorika santun sebagai bagian dari keeleganan dan konstruk penguat elektabilitas ketika memasuki “kampung” baru sebagaimana Ahok yang kini berhasil relatif kokoh di Jakarta sementara di sisi lain ia berkonflik dengan beberapa “orang Betawi”? Terjustifikasikah politisi yang sudah malang melintang dari daerah ke Jakarta, dari wakil rakyat menjadi pejabat gubernur, melompat dari satu partai satu ke partai lainnya sebagai langkah taktis tindak oportunis politis; bisa nyaman abai pada adat-istiadat “kampung” di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung?  Lewat fenomena beberapa kaum muda di Jakarta yang memuja Ahok setinggi gunung, benarkah lanskap mengenai bagaimana bertutur politik di publik dan imaji pemimpin ideal, bagi warga Ibukota, bagi sebagian anak mudanya, telah berubah?

[modifikasi minor, 19 Mei 2016]

Endnotes

[1] Sekarang berkembang juga ke game pada konsol-konsol terbaru, board game, serta film.

Karakter Nerd memang spektakuler. Dari karakter Nerd, terjadilah semacam normalisasi ujaran “filthy mouth” semacam: “Shit pickle,” “Cowa fucking piece of dog shit!” sebagai ganti “cowabunga”-nya Kura-kura Ninja, “I shit you not” sebagai ganti “I kid you not,” kemudian gabungan dari serapah menjadi satu seperti “What a Shitload of Motherfucking Bullfuck,“”It’s a pile of fucking shit,” dan “Cowa-fucking-piece-of-dog-shit! I’d rather watch crap oozing out of a buffalo’s asshole. I’d rather fucking puke diarrhea up my dick. It fucking sucks so much fucking suck, it fucks. It fucking sucks so much cocksucker motherfucker bullfuck.”

Nerd sendiri menjadi fenomena YouTube yang diulas oleh The Guardian (Luke Langlands, 28 Februari 2014. “Video games and nostalgia: Angry Video Game Nerd’s YouTube Empire”) dan juga menginspirasi rilis game pada Nintendo 3DS sebagaimana diwartakan oleh International Business Times (Nicolo Josef V. Parungo. 6 September 2015. “Angry Video Game Nerd Adventure Comes to Nintendo 3DS”). Selain menginspirasi munculnya beberapa game, Angry Video Game Nerd juga memberi inspirasi pada munculnya Happy Video Game Nerd.

[2] Mychelle H. Smith. 2015. Profanity, Disgust, and Dangerous Literature: A Hermeneutical Analysis of “The Catcher in the Rye” and “The Chocolate War.” Texas A&M University.

[3] Kathryn Schulz. 5 Juni 2011. “Ode to Four-Letter Word.” New York Magazine – New York Book. Diakses dari: http://nymag.com/arts/books/features/adam-mansbach-2011-6/

[4] Guardian readers. 8 Mei 2014. “Swearing in Literature: share examples of bad language in good books.” The Guardian – Books Blog. Diakses dari: http://www.theguardian.com/books/booksblog/2014/may/08/swearing-in-literature-share-examples-of-bad-language-in-good-books

[5] https://dipanugraha.org/2015/01/24/telaah-su-shit/

[6] Shawn Powrie. 11 Mei 2014. “Chinese four character idiom入乡随俗 (Rù xiāng suí sú).” shawnpowrie.com. Diakses dari: http://shawnpowrie.com/chinese/ru-xiang-sui-su/

[7] Geoffrey Hughes. 2015. An Encyclopedia of Swearing: The Social History of Oaths, Profanity, Foul Language, and Ethnic Slurs in the English-speaking World. New York: Routlegde.

[8] Melissa Mohr. 2016. Holy Sh*t: A Brief History of Swearing. Oxford: Oxford University Press.

[9] Karl Quinn. 1 Juni 2011. “The curse of foul-language law.” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/it-pro/the-curse-of-the-foullanguage-law-20110531-1fepo.html

Andy Bloxham. 30 Mei 2011. “£80 fine for swearing in public.”The Telegraph. Diakses dari: http://www.telegraph.co.uk/news/uknews/law-and-order/8546253/80-fine-for-swearing-in-public.html

[10] Ibid

[11] Singkawang Entertainment. 29 Agustus 2015. “AHOK mendapat liputan di stasiun TV CCTV 4 di CINA.” YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=mriWah9KXHE

[12] Martin Chilton (compiler). 29 April 2016. “The best British political insults.” The Telegraph. Diakses dari: http://www.telegraph.co.uk/books/authors/the-best-british-political-insults-rows-and-putdowns/

[13] Abu Faza. 24 Maret 2015. “Tayangkan Wawancara Ahok yang Jorok, Kompas TV Kena Sanksi.” Suara Islam. Diakses dari: http://www.suara-islam.com/read/index/13635/-Tayangkan-Wawancara-Ahok-yang-Jorok–Kompas-TV-Kena-Sanksi

[14] TyoJB (pengunggah). 20 Maret 2015. “Bicara ‘TAIK’ Saat Wawancara Live Kompas, Basuki TP (Ahok) Minta Maaf,” YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=qsqw2-khX5g

[15] Nafiysul Qodar. 17 Desember 2015. “Alasan Ahok sebut ibu muda ini maling saat ditanya KJP.” Liputan 6. Diakses dari: http://news.liputan6.com/read/2392264/alasan-ahok-sebut-ibu-muda-ini-maling-saat-ditanya-kjp

[16] Jika kita melihat entri “tahi” di dalam KBBI maka terdapat banyak varian dari pemakaian kata “tahi,” sekitar dua puluh variasi.

Misal kita dapati:

“tahi minyak” yang artinya adalah “ampas minyak yang mengambang di atas kuah dan membikin gurih makanan.”

“tahi kuku” yakni “kotoran pada kuku.”

“tahi gigi” yaitu “kotoran yang menyelip di gigi” dan bukan “adanya tahi di gigi.”

“tahi angin” artinya “gerimis kecil.”

Kata “tahi” sendiri berdasar entri resmi di dalam KBBI terdapat satu makna yang artinya “omong kosong” dan ini dimasukkan ke dalam ragam bahasa tidak baku. “Tahi” ini nampaknya sepadan dengan “shit“-nya bahasa Inggris yang artinya adalah “offensive” yang salah satu maknanya memang “non-sense.” Arti entri “tahi” di dalam KBBI kelihatannya hanya memaknai “tahi” hanya dari satu kemungkinan penggunaan kata “tahi” di dalam tindak tutur offensive. Di dalam kamus Cambrigde, dua makna dari banyak makna “shit” di dalam penggunaan yang sifatnya offensive selain “omong kosong atau non-sense” adalah “gelaran [makian] kepada seseorang yang berlaku buruk” dan “perlakuan tidak adil.” Sekali lagi, konteks pemakaiannya adalah sesuatu yang sifatnya offensive.

Mengenai bentuk “taik” adalah varian dari “tahi” dan varian ini dianggap sebagai sesuatu yang jauh lebih kasar dari “tahi,” ada tulisan yang menarik tentang “taik,” yang menurut saya di bagian pembukaan tulisannya terlengkapi dengan endnote ini, yang ditulis oleh Suryadi dan terbit di Batam PosMinggu, 20 Maret 2016 dengan judul “Bahasa Taik.”

[17] Fauzan Wirawan (pengunggah). 16 Maret 2015. “Berita KompasTv – AHOK Soal Ahok Center, DPRD otaknya kalau maling CSR kayak gitu!!!” YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=ctb_BBkVBck

[18] Jessi Carlina. 25 April 2016. “Ahok: Kamu Ingatkan Amien Rais soal Ini, Mungkin Dia Sudah Pikun.” Kompas. Diakses dari: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/25/10354791/Ahok.Kamu.Ingatkan.Amien.Rais.soal.Ini.Mungkin.Dia.Sudah.Pikun

[19] E-Dols (pengunggah). 8 April 2016. “Semprot Yusril, Ahok: Sertifikat Mbah Mu ! Mana Ada Sertifikat Di Laut !”. YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=qQleWvl_pR4

[20] PortalRIM Channel (pengunggah). 18 Maret 2016. “Kalo Tuhan Ngaco gue lawan.” YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=H0sDbltbnQ8

[21] Berita kriminal terbaru (pengunggah). 12 April 2016. “Diperiksa KPK, Ahok Sebut Audit BPK Ngaco.” YouTube. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=6S8UapU7HXs

[22] Elizabeth Fuller Collins & Ernaldi Bahar. 2000. “To Know Shame.” Crossroads: An Interdisciplinary Journal of Southeast Asian Studies, 14(1): 35-69.

[23] Alsadad Rudi. 18 Mei 2016. “Ahok: Nenek moyang kita tak goblok, tak mungkin tinggal di bantaran sungai.” Kompas. Diakses dari: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/05/18/14145091/ahok.nenek.moyang.kita.tak.goblok.tak.mungkin.tinggal.di.bantaran.sungai 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s