Home » Selected Contemplation » Menakar Baiknya, Buruknya Negara Ita-Itu

Menakar Baiknya, Buruknya Negara Ita-Itu

Suatu ketika dalam pengajiannya Buya Hamka ditanya oleh seorang muridnya, “Saya pernah pergi haji ke Mekkah, ternyata disana ada pelacur. Saya heran, bagaimana mungkin di Mekkah yang suci ada pelacur.”

Lalu apa jawab Buya Hamka? Dengan kalemnya ia berkata, “Saya pernah beberapa kali berkunjung ke California. Tetapi disana saya tidak menemui satu pelacur pun”.[1]

Di manapun juga, kita bisa menemui apapun sebagaimana kita ingin mencarinya.

Begitu pula terjadi pada seorang Profesor bidang antropologi asal Indonesia yang giat sekali mengisi linimasa akun media sosialnya dengan status mengenai negara-negara Arab dan dekadensi moral yang terjadi di sana. Beberapa kali, tokoh kita, Profesor itu, mengabarkan kepada jamaahnya betapa banyaknya fenomena “korup, rusak, menyimpang” di negara-negara Arab yang ia kunjungi dan atau ia tempati.

Kisah yang dituturkannya, beberapa poin mirip dengan cerita yang diumbar oleh dosen perempuan feminis yang terkenal mendapat dana sangat besar dari F*** Foundation dan A*** Foundation di dalam membuat semacam draft [reformasi] hukum Islam. Ibu dosen Doktor ini masyhur dengan umbar ceritanya mengenai kejadian yang ia jumpai di negara Arab.

Bagi sebagian orang, mereka berdua tidaklah bisa “disebut salah”[2] karena mereka menyampaikan apa yang benar-benar mereka temukan. Namun bagi sebagian yang lain, mereka berdua ini bermasalah sebab umbar kisah mengenai perilaku “korup, rusak, menyimpang” pada orang-orang Arab terbingkai pada kerangka kampanye yang menjurus:

  1. Penampilan imaji hipokrit pada SELURUH orang-orang Arab dan atau negara-negara Arab. Selanjutnya kita jadi “merendahkan” SEMUA yang “Arab” karena teracuni imaji keliru bahwa mereka hipokrit SEMUA
  2. Sebuah argumen bahwa jika yang di Arab saja pada begitu menjadi absurd bagi kita untuk mencontoh mereka. Beragama jika mengikuti orang-orang, ulama, negara Arab maka sebetulnya culun karena di Arab saja SEMUANYA di sana hanyalah hipokrit. Dus, kita “di sini” baiknya bikin sesuatu yang HARUS beda dengan yang di sana.

Sekali lagi, tidaklah yang mereka umbar di media sosial maupun forum-forum publik itu tidak benar kecuali kenyataannya memang demikian. Tapi menceritakan sesuatu yang benar pun juga harus ditelisik motifnya.

Kalau sudah menyangkut motif, motif memang sesuatu yang ada di benak dan tersimpan di hati. Tidak pantas buat seseorang menerkanya. Akan tetapi, seseorang bisa diduga memiliki motif tertentu jika dicermati kebiasaannya, sepak terjangnya, dan afiliasinya. Dari situlah bisa dibaca arah pembicaraannya. Dari situlah bisa diraba frame pikirannya.

Oleh sebab itulah mereka yang hendak mencari keburukan di tanah suci-pun, akan bisa menemukannya sebagaimana kisah masyhur dari Hamka tadi. Sebagaimana jika seseorang tidak berniat mencari keburukan di negeri Amerika Serikat, maka ia tidak akan menemukannya. Kalaupun ia menemukannya, ia tidak akan “fokus” mengoreknya dan berterusan mengumbarnya. Misal saja ia menemukan yang buruk di tanah Amerika Serikat pun,[3] karena niat awalnya memang tidak berusaha mencari yang buruk di sana, tidak berniat bertandang ke Amerika Serikat kecuali sebagai pelancong berhati selamat yang bila menemukan “keburukan” di sana maka ia hanya melihatnya sebagai “kebetulan ada oknum.”

Hal senada bisa ditemui di dalam status-status Facebookku mengenai Australia.

Tidak semua hal mengenai negeri kafir ini, eit jangan sensi dengan K-word,[4] oke deh, saya gunakan non-Word. Tidak semua hal mengenai negeri [yang mayoritasnya] non-muslim ini buruk. Banyak hal-hal baik yang bisa kita contoh. Keteraturannya, kebersihannya, kemodernan infrastrukturnya memang memukau.

Ambil contoh bidang pendidikan. Pendidikan di Australia memang baik, khususnya pendidikan tinggi, meskipun pendidikan rendahnya selama lima tahun terakhir ini kalah dengan beberapa negara Asia semisal Singapura, Korea Selatan, dan Hongkong.[5] Di Australia juga ada korupsi yang terjadi di dunia pendidikan.[6] Belum lagi ada beberapa problem yang menggelayuti sistem pendidikan di Australia.[7] Tapi secara umum memang pendidikannya lebih baik JIKA HANYA dibandingkan dengan Indonesia. Masalah banding-membandingkan, menakar satu negara dengan negara lainnya, model tebang pilih bandingan bisa membuat suatu negara bisa lebih hebat dibandingkan dengan negara lain. Tinggal apa dulu yang “sengaja dipilih untuk dibandingkan,” “tinggal negara mana dulu yang sengaja dipilih untuk dijadikan pembanding.”

Jika misalnya ada orang berargumen bahwa negeri Australia ini demokratis banget, kalau mau ambil semua kasus, ya ndak begitu banget. Isu Palestina di sini adalah isu sensitif. Meskipun demo pro-Palestina diperbolehkan namun pada beberapa kasus, aktivitas yang mendukung keadilan untuk Palestina dan menyuarakan BDS untuk Israel oleh beberapa orang bisa disembur dengan gerakan rasis antisemit[8]dan suara mayoritas di dalam politik Australia adalah pro-Israel.[9][10]

Australia memang multikultural. Itu benar. Tetapi mereka punya masalah dengan kisah pilu Aborigin HINGGA sekarang meski keadaan sudah sangat mendingan semenjak minta maaf nasional.[11]

Kejadian perijinan pendirian masjid, tempat ibadah minoritas, atau Islamic Center di Australia tidak selalu mulus. Ada beberapa yang memang keusilan komunitas muslim yang abai pada peraturan yang berlaku mengenai pendirian ini dan itu dan berharap dengan rengekan MINORITAS dapat membuat peraturan boleh dilanggar. Namun ada juga yang terganjal karena penolakan warga akan berdirinya masjid serupa di Bendigo beberapa saat yang lalu.[12]

Melbourne[13] yang didaulat beruntun lebih dari 5 tahun berturut-turut sebagai the most liveable city in the world[14] pun kalau mau dicari “tidak liveable“-nya juga bisa. Saya kasih beberapa contoh. Kejadian kekerasan terhadap hijaber, satu dua kali pernah terjadi baru saja di dekat perpustakaan negara bagian Victoria[15] sebagaimana di beberapa negara bagian lain di seluruh Australia terjadi hal yang serupa.[16] Penjambretan terhadap perempuan di ruas jalan tertentu juga ada.[17] Bahkan penjabretan terhadap orang cacat juga terjadi.[18] Tindak pelecehan terhadap perempuan yang berjoging ria pun juga pernah terjadi secara maraton.[19]

Bahkan isu geng motor yang bikin onar juga ada. Tawuran? Jangan kaget. Ini juga ada. Bahkan yang terbaru malah terjadi pekan kemarin dan kepolisian kewalahan menanganinya.[20] Ada kok di kanal berita Australia. Bahkan geng motor yang urakan dan brutal juga ada.[21]

Mau apa lagi? Vandalisme? Di Melbourne juga ada. Coba jikalau Anda sempat main ke Melbourne dan memakai public transport, perhatikanlah kaca bus shelter (halte bus) dan kaca-kaca di dalam bus atau kereta. Ada goretan (gores coretan) dengan koin oleh tangan-tangan usil bahkan kadang juga ada cat semprot usil mengotorinya. Di beberapa suburb, perusakan terhadap parking machine juga barusan terjadi; dan kejadian ini sering terjadi. Bahkan kalau masalah biaya hidup, kota Melbourne menempati kota termahal nomor enam sedunia.[22]

Penipuan? Di sini penipuan dan pelanggaran (sepele) juga ada. Tak perlu menyebut “kejahatan yang serius” kan?

Jika Anda berpikir bahwa SEMUA orang BULE Australia “patuh dan tertib” hukum; atau kalau makai bahasa gaul yang aneh: “mereka (lebih) Islami (dari kita),” ini juga tidak benar.

Penipuan, rip off trading, di dalam jual beli biasa maupun daring atau online juga terjadi di sini.[23] Menyeberang jalan tidak pada tempatnya juga jamak. Merokok di tempat merokok dilarang juga ada. Buang sampah sembarangan juga terlihat. Kencing di bukan tempatnya pernah saya lihat. Jasa service bengkel atau elektronik yang dodgy. Semua ada. Saya pernah mengalami langsung, saya pernah melihatnya.

Inti dari cerita-cerita Profesor dan Doktor itu akan jadi baik jikasanya diniatkan bukan untuk membuat orang menyepelekan “sesuatu yang dari Arab,””orang Arab,” dan “tradisi skriptural yang sebagiannya asosiatif dengan Arab.” Namun jika melihat rima tendensinya, wajarkah saya berharap demikian?

Sebagaimana ketika saya yang daifa dan masih harus banyak belajar ini bercerita tentang Australia, tujuannya agar kita tak rendah diri dan silau dengan narasi atau juru usung mimpi indah dan yang sangat sempurna di negara “maju” seperti Australia. Atau mungkin misalnya jika kita menyebut negara-negara sepantarannya.

Eh, kampanye politik “demokrasi yang hebat itu” nyerempet isu agama? Di Australia juga ada.[24] Jangan pula tanya apa yang telah dan sedang terjadi di Amerika Serikat.[25] Dulu ada kandidat di Amerika Serikat jadi gugur karena ia anggota LDS, Mormon.[26] Obama juga butuh “clearance” bahwa ia JELAS bukan muslim sehingga bisa melenggang untuk jadi presiden.[27] Donald Trump? Ia adalah contoh kuat rasisme yang kini aktual sedang terjadi dan bisa mendapat dukungan yang luar biasa dari masyarakat Amerika Serikat di dalam kampanye menuju pencalonan dirinya menjadi presiden.[28] Ini semua nyata terjadi di Amerika Serikat dan semuanya di abad 21 ini.

Poinnya adalah, tidak semua di suatu tempat ada keburukan lantas kita bisa menyimpulkan bahwa “sistemnya” salah atau “semua orangnya” bermasalah. Semua tergantung cara kita memelototinya dan perkara mengumbar cerita, tergantung apa niatan kita menceritakannya.

Kalau memelototinya dengan tidak adil maka isinya akan sepet[29] semua.

Kalau tokoh-tokoh kita yang saya sorot di dalam tulisan ini bercerita hendak mengukuhkan bahwa NEGARA SPONSOR AKTIVITAS MEREKA SELALU “BAIK DAN SEMPURNA” sebagai acuan dan ini juga sebagai pembuktian keloyalan pada pemberi sponsor; agar tetap disokong; agar tetap diberi panggung dan fasilitasi publikasi dan lain-lain, sudah sejak awal memang niatannya tendensius tidak adil, ya kita akan bisa melihatnya dari cara berterusannya menceritakan keburukan negara X dan hanya kebaikan yang ada pada negara sponsor mereka.

Seharusnya kita tidak terprovokasi dengan akademisi endorser bayaran model seperti itu. Tidak melulu yang dari X selalu baik sebagaimana tidak melulu dari Y selalu buruk. Sikap kita seharusnya yang buruk bukan untuk dicontoh sedangkan yang baik maka bisa diambil untuk dikaji untuk dicontoh jika “sesuai.”

Perlu diingat bahwa tulisan ini tak pernah diniatkan untuk menciptakan stigma bahwa semua BULE Australia buruk atau Australia tidak ada yang baik untuk dicontoh. Tidak. Itu tak pernah jadi niatan saya untuk menggiring pemikiran pembaca untuk berkesimpulan demikian. Banyak orang Bule yang baik bahkan sangat baik di sini di Australia dan mereka ini menjalani hidup sesuai hukum yang berlaku dan keyakinan hidup mereka.

Kenapa bicara Australia seakan bicara Bule Australia saja? Bukankah Australia tidak didiami Bule saja? Nah, kalau itu hubungannya dengan kelaziman pembicaraan tentang Australia tak bisa jauh dari “visibilitas kuasa dan mayoritas”; sesuatu yang jamak di Australia adalah bule-nya.

Demikian.

Endnotes

[1] Riwayat yang sangat masyhur namun sumber rujukan resminya belum saya dapati

[2] Dalam tanda kutip

[3] “Keburukan-keburukan” di Amerika Serikat kalau mau iseng dicari misalnya dapat dibaca di dalam buku karya Laura Ingraham dan Raymon Arroyo dengan judul Of Thee I Zing. Gambaran mengenai apa yang terjadi di bidang kesehatan di Amerika Serikat lewat film misalnya bisa ditonton lewat “Sicko” (2007) karya Michael Moore. Artikel yang bisa menggambarkan masalah-masalah yang terjadi di Amerika misalnya bisa disimak lewat laporan  Catherine E. Shoichet dalam kanal berita CNN, 25 November 2015, “Is racism on the rise?”. Kisah bsinis prostitusi di Amerika Serikat misalnya bisa dibaca lewat laporan Carina Kolodny dalam kanal berita Huffington Post, 15 Maret 2014, “9 things you didn’t know about American prostitution.” Perdebatan mengenai sejarah genosida terhadap bangsa Indian di Amerika Serikat dan pemarjinalannya misalnya bisa ditelusuri lewat situs “United to End Genoside” (endgenocide.org).

[4] Perdebatan mengenai pemakaian istilah “kafir” sebagai labeling terhadap “liyan yang harus diperangi” atau “liyan yang rendah dan harus dinistakan” ataukah istilah ini yang intrinsik di dalam teologi Islam boleh dipakai dengan hati-hati merupakan bahasan yang menarik. Simak misalnya dua tulisan berikut:

Umm Zakiyyah. 17 Januari 2014. “Kaafir, the New F-Word,” Muslim Matters. Diakses dari: http://muslimmatters.org/2014/01/17/kaafir-new-f-word/

David Beresford. 29 November 2006. “What about the K word?” The Guardian – Opinion. Diakses dari: http://www.theguardian.com/commentisfree/2006/nov/28/whataboutthekword

[5] Colleen Ricci. 31 Mei 2015. “OECD education rankings show Australia slipping, Asian countries in the lead.” The Sydney Morning Herald. Diakses dari: http://www.smh.com.au/national/education/oecd-education-rankings-show-australia-slipping-asian-countries-in-the-lead-20150525-gh94eu.html

Baca juga Sean Coughlan. 13 Mei 2015. “Asia tops biggest global school rankings,” BBC News – Business. Diakses dari: http://www.bbc.com/news/business-32608772

[6] Henry Grossek. 21 Juni 2015. “Victorian Education Corruption Scandal: Our Children Deserve Much Better,” Save Our Schools. Diakses dari: http://www.saveourschools.com.au/national-issues/victorian-education-corruption-scandal-our-children-deserve-much-better

[7] Rachel Wilson, Bronwen Dalton, & Chris Baumann. 16 Maret 2015. “Six ways Australia’s education system is failing our kids,” The Conversation. Diakses dari: https://theconversation.com/six-ways-australias-education-system-is-failing-our-kids-32958

[8] Misalnya yang terjadi pada Professor Ghassan Hage, seorang profesor pada Universitas Melbourne di bidang Antropologi dan Teori Sosial dan beliau sampaikan di akun Facebook-nya pada 19 April 2016.

[9] Glen Falkelstein. 21 November 2014. “There’s no place for BDS within Australia,” ABC – Opinion. Diakses dari: http://www.abc.net.au/news/2014-11-21/falkenstein-theres-no-place-for-bds-within-australia/5909160

[10] Peter Manning. 26 Juni 2009. “Australia’s pro-Israel policies, pro-Palestine public,” Electronic Intifada. Diakses dari: https://electronicintifada.net/content/australias-pro-israel-policies-pro-palestine-public/8315

[11] Dipa Nugraha. 29 April 2016. “Maaf-maafan Nasional,” dipanugraha.org. Diakses dari: https://dipanugraha.org/2016/04/29/maaf-maafan-nasional/

[12] Cameron Stewart. 26 September 2015. “How an anti-mosque campaign in Bendigo became a battle ground,” The Australian. Diakses dari: http://www.theaustralian.com.au/life/weekend-australian-magazine/how-an-antimosque-campaign-in-bendigo-became-a-battle-ground/news-story/56ab194b1371acd5d1b97103a6286fd8?nk=27d574678363797d54dabcb6100cbb8d-1462022871

[13] Meskipun kelihatannya yang didaulat adalah Melbourne CBD-nya namun dalam konteks Melbournian maka suburb sekitarnya masuk pada pembicaraan kota Melbourne. Contoh-contoh yang ditampilkan di sini tidak melulu terjadi di CBD.

[14] Clay Lucas. 19 Agustus 2015. “Melbourne named world’s most liveable city, for fifth year running,” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/victoria/melbourne-named-worlds-most-liveable-city-for-fifth-year-running-20150818-gj1he8.html

[15] Steve Lillebuen, Chloe Booker, & Liam Mannix. 30 Oktober 2015. “Muslim woman ‘viciously attacked’ on Swanston Street in Melbourne,” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/victoria/muslim-woman-viciously-attacked-outside-state-library-of-victoria-in-melbourne-20151029-gkmeu4.html

[16] Lucy Battersby. 2 Desember 2015. “Veil lifts on daily abuse faced by Australian Muslims,” The Sydney Morning Herald. Diakses dari: http://www.smh.com.au/national/people/veil-lifts-on-daily-abuse-faced-by-australian-muslims-20151130-glc4yt.html

[17] Troels Sommerville. 7 Desember 2015. “Man stalks then steals $2000 meant for surgery from senior at Bentleigh RSL,” Leader Community News. Diakses dari: http://www.heraldsun.com.au/leader/inner-south/man-stalks-then-steals-2000-meant-for-surgery-from-senior-at-bentleigh-rsl/news-story/4efec8a8670a4d7bcd75736e9fa56e88?nk=27d574678363797d54dabcb6100cbb8d-1462023779

[18] Greg Roberts. 31 Juli 2015. “Woman pretends to help man in wheelchair before stealing wallet in Melbourne,” Herald Sun. Diakses dari: http://www.heraldsun.com.au/leader/north/woman-pretends-to-help-man-in-wheelchair-before-stealing-wallet-in-melbourne/news-story/e68575a8bb25ced3d8cc9078ad22ed1e?nk=27d574678363797d54dabcb6100cbb8d-1462023405

[19] Steve Lillebuen. 30 Mei 2014. “Sex attacks on joggers linked to western suburbs incidents,” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/victoria/sex-attacks-on-joggers-linked-to-western-suburbs-incidents-20140529-397wh.html

[20] Marissa Calligeros. 13 Maret 2016. “Violence erupts in Melbourne’s CBD as gangs clash in Federation Square and Swanston Street,” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/victoria/violence-erupts-in-melbournes-cbd-as-gangs-clash-in-federation-square-and-swanston-street-20160312-gnhksv.html

[21] ABC. 15 Desember 2015. “Police raid Finks bikie gang clubhouse in Melbourne, 20 arrested, drugs, cash seized,” diakses dari: http://www.abc.net.au/news/2015-12-15/bikie-raids-ringwood-finks-motorcycle/7030028

[22] Bus Australia. Juni 2012. “Vandalism of Bus Shelters.” Diakses dari: http://www.busaustralia.com/forum/viewtopic.php?f=4&t=68182

Liam Quinn. 3 September 2015. “That’s one way to avoid a fine! Newly-introduced parking meters are being destroyed by vandals opposed to paying – with the damage bill topping $40,000,” Daily Mail Australia. Diakses dari: http://www.dailymail.co.uk/news/article-3220698/That-s-one-way-avoid-fine-Newly-introduced-parking-meters-destroyed-vandals-apposed-paying-damage-bill-topping-40-000.html

Marissa Calligeros. 4 Maret 2015. “Melbourne: the world’s sixth most expensive city.” The Age. Diakses dari: http://www.theage.com.au/victoria/melbourne-the-worlds-sixth-most-expensive-city-20150303-13uilq.html

[23] Oleh sebab itulah di Australia ada Komisi yang mengurusi kerugian pada konsumen pada hal-hal seperti ini. Silakan jenguk www.scamwatch.gov.au

[24] Mariam Veiszadeh. 25 Februari 2015. “Religion and Racial Discrimination Act: Don’t Muslims Also Deserve Protection?” ABC Religion and Ethics. Diakses dari: http://www.abc.net.au/religion/articles/2015/02/25/4186872.htm

[25] Alana Massey. 27 Mei 2015. “The White Protestant Roots of American Racism,” New Republic. Diakses dari: https://newrepublic.com/article/121901/white-protestant-roots-american-racism

[26] Mitchell Landsberg. 12 Januari 2012. “Mormons feel rooted and happy, but marginalized, poll finds,” Los Angeles Times. Diakses dari: http://articles.latimes.com/2012/jan/12/nation/la-na-mormon-poll-20120113

[27] Campbell Brown. 13 Oktober 2008. “Commentary: so what if Obama were Muslim or an Arab?” CNN. Diakses dari: http://edition.cnn.com/2008/POLITICS/10/13/campbell.brown.obama/

[28] Lydia O’Connor & Daniel Marans. 29 Februari 2015. “Here Are 9 Examples Of Donald Trump Being Racist,” The Huffington Post Australia. Diakses dari: http://www.huffingtonpost.com.au/entry/donald-trump-racist-examples_us_56d47177e4b03260bf777e83?section=australia

[29] Bahasa Jawa yang artinya “tidak enak dipandang mata.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s