Home » Selected Contemplation » Sertifikasi Halal dan Kesewotan Orang-orang Iseng

Sertifikasi Halal dan Kesewotan Orang-orang Iseng

Bicara sertifikasi memang bisa bicara “proyek” di dalamnya. Tengoklah bagaimana sertifikasi profesi bisa membuat “beberapa” orang yang memiliki otoritas pelulusan sertifikasi dan orang yang butuh sertifikasi sebagai pelegalan dan pengakuan atas keprofesiannya bisa saling menari pada gendang yang ditabuh setan. Terjadilah kolusi karena konon kerakusan bisa menyerang siapa saja. Kalau ini kasuistik, ya diusut, namun tak pas dijadikan alasan ketidakperluan sertifikasi bukan?[1]

Bicara mengenai sertifikasi halal, beberapa orang bisa sangat sewot tentangnya. Bahkan kesewotan tersebut kadang muncul dari orang-orang yang seharusnya merasa bahwa merajalelanya syubhat pada produk-produk yang tersedia di pasaran adalah sesuatu yang meniscayakan kebutuhan label halal.

Dan kalau kita berbicara mengenai label halal suatu produk sebagai salah satu pembeda dengan produk lainnya maka urgensi label halal adalah sesuatu yang tak elok ditemehkan. Lihatlah bagaimana industri makanan yang berkembang pesat di Thailand dan diekspor ke banyak negara dengan label halal-nya.[2]

Dengan label halal, ceruk pasar bisa lebih luas dikuasai. Muslim maupun nonmuslim (Kafir, maaf istilah ini jangan maknanya dipeyorasikan ke arah politis kecuali terma teologis yang ada dan sah) bisa menikmatinya. Tentu saja produk halal bisa kehilangan potensi terjual pada konsumen yang Islamophobe yang sering latah pokoknya anti sesuatu yang berbau Islam atau orang-orang kafir yang asal ikut gerakan boikot produk halal dengan pikiran bahwa makanan halal berbahaya bagi mereka bahkan pernah berseliweran kampanye bahwa sertifikasi halal dijadikan sumber pemasukan untuk tindakan terorisme. Duh.

Lain cerita dari itu, pelabelan halal, sertifikasi halal, dianggap oleh sebagian orang sebagai tindakan berlebihan. Tapi tunggu dulu, klaim ini bisa diperbenarkan bila dan hanya jika produk-produk yang beredar di pasaran tidak ada sedikit kesyubhatan. Bisakah ada jaminan bahwa komposisi atau bahan baku sebuah produk yang dicantumkan adalah “halal”? Bagaimana kita misalnya tahu sebuah komponen atau bahan baku yang dicantumkan tidak mengandungi sesuatu yang haram? Apalagi jika sudah memakai istilah-istilah ilmiah, istilah kimia … duh! Ini belum lagi jika semua bahan dicantumkan secara jelas melo-melo.[3]

Logo atau label halal pada sebuah produk yang bisa dicek lewat situs sertifikator halal, membuat muslim yang menetapi kebutuhan akan sesuatu yang halal bisa lebih tenang bertransaksi (membeli) dan memakai atau mengkonsumsi sebuah produk.

Lalu bagaimanakah dengan usulan untuk ambil gampang namun menyesatkan kalau misalnya yang digalakkan adalah label “haram”? Pertanyaannya justru, adakah produsen yang memakai bahan baku “haram” dengan sukarela menyerahkan produknya untuk diberi label itu sehingga cekung pasar muslim tidak bisa digaetnya? Mereka pastinya tidak mau, kecuali mereka memang tidak berniat menyasar “konsumen” yang luas, yang besar, atau hanya hendak bermain di lokal saja. Ingat, secara demografis, muslim adalah salah satu “konsumen” yang besar di dunia. Mereka yang tahu bahwa produknya mengandung barang haram akan berusaha tidak ketahuan kandungan “haram”-nya atau bermain syubhat saja alias “tanpa perlu label apapun.”

Kini, label halal juga merembet pada pandangan yang menurut saya bagus. Bahwa tidak hanya mencakupi makanan dan minuman saja yang butuh label halal. Sebagai muslim, kita tahu bahwa pemrosesan sebuah produk dan bahan baku produk yang tidak harus dikonsumsi masuk mulut, juga bisa mengandungi sesuatu yang tidak halal.

Dan kini, pandangan mengenai pelabelan halal juga hendak dikembangkan kepada bahan pakaian dan lain-lain. Di Malaysia sudah berkembang percakapan ini.[4] Tentu demi kebaikan dan ketenangan hati muslim dalam membeli produk -dan juga bisa juga menenangkan hati mereka yang di luar Islam. Lho kenapa? Karena barang yang akan disertfikasi halal akan menyangkut bagaimana bahan baku diperoleh dan diproses. Misal, tidak mengobrak-abrik lingkungan dan tidak illegal diperolehnya.[5]

Mirip konsep pemasaran produk Barat yang “no animal testing” dan “eco-friendly” [ingat bukan ecko-friendly lho ya!] ya yang beberapa dari kita sepi dari sewotnya. Ya ya ya, dalih itu kan beda bisa dipakai tergantung sudut pandangnya. Agak mirip namun yang ini ada nuansa yang lebih dari itu. Lagian, produk makanan yang terlabeli halal sendiri juga menenangkan hati, bukan hanya bagi muslim saja namun juga bagi pemeluk Yahudi dan Kristen yang sebagian denominasi atau sekte-nya juga mengharamkan alkohol dan babi. Bukankah tak elok sewot begitu?

Endnotes

[1] Diskusi mengenai apa itu makanan hala dan bagaimana cara kerja sertifikasi halal juga mengemuka di Australia. Sebuah artikel yang ditulis oleh James Wong dan Julian Millie dari Monash University bisa dijadikan rujukan mengenai urgensi sertifikasi halal.

James Wong & Julian Millie. 12 Februari 2015. “Explainer: what is halal, and how does certification work?”. The Conversation. Diakses dari: https://theconversation.com/explainer-what-is-halal-and-how-does-certification-work-36300

[2] Negara Thailand meskipun mayoritasnya adalah pemeluk Buddhis namun di sebelah selatan negara itu yang banyak pemeluk muslimnya merupakan daerah yang geliat industri halal-nya diperhatikan dan disokong pemerintah untuk kepentingan ekspor. Sebagai info tambahan, di Australia, tempat saya tinggal kini, produk-produk halal Thailand sangat berlimpah. Silakan rujuk pada dua artikel berikut:

Manisa Phromsiripranee. No Date. “Thailand targets Halal trade.” Horizon Thailand – Thailand Official Trade Newsletter. Diakses dari: http://www.thailandhorizon.com/index.php/en/tradeshows/253-thailand-targets-halal-trade

Royal Thai Embassy. No Date. “Thailand’s Industry Ministry Increasing Halal Production, Marketing Standards For Export”. Royal Thai Embassy – Singapore. Diakses dari: http://www.thaiembassy.sg/press_media/news-highlights/thailands-industry-ministry-increasing-halal-production-marketing-standa

[3]melo-melo” istilah di dalam bahasa Jawa yang artinya “tanpa keraguan”

[4] Steve Chan dan Hong Kong Trade Development Council (HKTDC). 26 Juni 2014. “Halal in Malaysia: beyond food and drink sector”. HKTDC Research. Diakses dari: http://economists-pick-research.hktdc.com/business-news/article/Research-Articles/Halal-in-Malaysia-beyond-food-and-drink-sector/rp/en/1/1X000000/1X09Y7JW.htm

[5] Persatuan global di dalam standardisasi sertifikasi halal secara internasional dan bisa dijadikan penambah informasi mengenai beberapa hal yang dijadikan concern di dalam pelabelan suatu produk sebagai halal dapat dikunjungi lewat situs “World Halal Council.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s