Home » Selected Contemplation » Maaf-maafan Nasional

Maaf-maafan Nasional

Maafan Nasional Australia[1] diadakan pertama kali pada 26 Mei 1998, setahun selepas laporan berjudul “Bringing Them Home” menjadi konsumsi parlemen. Laporan tersebut merupakan hasil penyidikan semacam Komnasham berkenaan dengan sejarah pengambilan paksa anak Aborigin dan penduduk Torres Strait Island dari keluarganya untuk “diperadabkan.”

Pada 26 Agustus 1999, Perdana Menteri Howard mengungkapkan Motion of Reconciliation, yang berbicara mengenai “deep and sincere regret that indigenous Australians suffered injustices under the practices of past generations, and for the hurt and trauma that many indigenous people continue to feel as a consequence of those practices”.

Tahun 2008, tanggal 13 Februari, Kevin Rudd, Perdana Menteri Australia menyampaikan permintaan maaf nasional kepada Aborigin dan Penduduk Torres Strait Island.[2]

Apakah sesudah itu semua baik-baik saja? Tidak. Karena isu Australia dengan Aborigin dan penduduk Torres Strait Island tidak sederhana kayak gitu dan tidak sedepa waktu saja. Pelik dan panjang ceritanya. Isu mengenai bagaimana pemerintah Australia “dianggap” tidak adil dan kadang sewenang-wenang kepada Aborigin masih terus bergulir.[3] Tidak hanya mengenai bagaimana (oknum) kepolisian memperlakukan Aborigin yang kadang sedikit berlebihan namun juga mengenai isu-isu di dalam perundang-undangan dan hak adat Aborigin. Lihat misalnya salah perlakuan terhadap pemabuk non-Aborigin yang konon diperbedakan dengan mereka yang Aborigin serta konflik “penguasaan dan pengelolaan” bukit suci Uluru.

Tapi ada juga yang menarik mengenai maaf-maafan ini dengan apa yang sedang mengemuka di negeri seberangnya, terkait dengan tulisan cucu Pahlawan Revolusi, Mayjen Anumerta Sutoyo, yang nampaknya sedang menggalakkan maaf-maafan dan juga pro-kontra di panel-panel lain[4] tentu tanpa merujuk langsung pada semangat kakeknya seandainya beliau masih hidup. Ya, sang cucu hidup pada jaman yang berbeda, arus mainstream matadunia yang juga berbeda.

John Howard, mantan Perdana Menteri Australia yang pernah menjabat selama 11 tahun, menyatakan bahwa aksi maaf nasional Kevin Rudd tidaklah pas. Ia menyatakan bahwa:

“I do not believe as a matter of principle that one generation can accept responsibility for the acts of earlier generation. … I think we persevered for too long with the notion of separate development. I think the only way the indigenous people of Australia can get what we call a ‘fair go’ is for them to become part of the mainstream of the community and get the benefits and opportunities available from mainstream Australian society, whilst recognising … the particular and special place of the indigenous culture in the life of the country.”[5]

Kontroversial memang pernyataan Howard. Namun itulah yang tercatat pada debat yang membebat negeri yang (menganggap diri pantas) “mengajari” Indonesia mengenai banyak hal.

Sebuah catatan juga bahwa rekonsiliasi nasional kerap memperadukan banyak kepentingan dan banyak perspektif. Apalagi jika bahan rekonsiliasi dirasa tidak menjelaskan sebab-akibat, pra-teks, konteks, dan inginnya hitam putih saja. Tidak di sana, tidak di sini.

Lain daripada itu, adalah menarik bagaimana pop culture bisa mempengaruhi apa yang akan atau sedang hangat di negeri di seberang sana. Tercatat bagaimana “Anoman Obong” melahirkan ksatria berupa kera membakar sebuah kerajaan yang kokoh berlangsung 32 tahun. Juga bagaimana Klingande dengan “Jubel”-nya mempopulerkan tagar “saveKPK.” Lalu kini saat Bieber memperoleh penengok video Vevo sebanyak 1,3 milyar dengan “Sorry”-nya, entah mengapa isu apologi kemudian kuat mengemuka dengan dentang dentumnya serta goyang tak senonoh bagi pemeluk teguh. Adakah produk pop culture yang sedang tren menjadi semacam mantra semacam doa dari sesuatu yang tak terduga?

Endnotes

[1] Dua situs resmi Australia yang bisa dibaca mengenai momen National Sorry Day adalah situs “National Sorry Day Committee” dan sebuah laman di bawah situs resmi “Australian Government.”

[2] Tren maaf nasional kepada “First Nations” juga menggejala di Kanada dan Amerika Serikat. Di Kanada, suku-suku asli mengalami pengambilan paksa anak-anaknya untuk “dikristenkan dan diperadabkan” sebagaimana permintaan maaf “pemerintah [kulit putih]” sudah dilakukan pada tahun 11 Juni 2008 kepada mereka. Di Amerika Serikat, Barrack Obama melakukan hal yang sama kepada bangsa Indian lewat penandatangan resolusi permintaan maaf nasional pada 19 Desember 2010. Dari tren ini, sependek tahu saya, kesejahteraan dan pengembalian keberdayaan bangsa-bangsa asli di negara-negara tersebut hingga kini belum tercapai dan pemarjinalan masih saja terjadi hingga kini meskipun tidak seburuk sebelumnya.

Artikel yang menarik mengenai Apologi Nasional di Kanada bisa disimak lewat goresan Lisa Balk King, 12 Maret 2011. “Does a silent apology really say we’re sorry?,” Indian Country Media Network. Diakses dari: http://indiancountrytodaymedianetwork.com/2011/12/03/does-silent-apology-really-say-were-sorry 

Sedangkan mengenai permintaan maaf nasional di Amerika Serikat, bisa disimak lewat tulisan Rob Capriccioso, 13 Januari 2010. “A Sorry Saga,” Indian Law Resource Center. Diakses dari: http://indianlaw.org/node/529

[3] Fans Page di media sosial Facebook dengan nama “Sovereign Union” bis dijadikan rujukan mengenai banyak sekali masalah yang terbengkalai selepas maaf nasional.

[4] Puri Lestari, 20 April 2016. “Ini kan buku komunis? Kisah cucu pahlawan revolusi,” Medium.com, diakses dari: https://medium.com/ingat-65/ini-kan-buku-komunis-d39a72da473f#.y1ycbykip

[5] Anne Davies, 12 Maret 2008. “Apology was a mistake, says feisty Howard”, The Age, diakses dari: http://www.theage.com.au/articles/2008/03/11/1205125911264.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s