Home » Selected Contemplation » Enigma, Amis, Oinos

Enigma, Amis, Oinos

Enigma pernah kena kasus hukum karena dendangnya yang bercerita kepada siapa saja untuk menjadi diri sendiri, menampilkan kesejatian yang lugu dan bukan hipokrit adalah anjuran, mengambil sampel dari dendangnya suku Amis di Formosa Taiwan yang dicengkokkan oleh Difang Duana.

Meskipun dalih awal Enigma bahwa mereka tak tahu atribusi kepada siapa harusnya disebutkan sejak awal, kemudian berkembang pada pembelaan bahwa dendang tradisional tak boleh didaku kecuali merupakan properti publik, namun sampel Difang Duana adalah khas Difang Duana dan kesalahannya adalah keabsenan atribusi atasnya.

Kasus itu reda, begitu jalan ceritanya setelah Difang Duana dikasih tempat, dia dicatet dan jadi bagian dari pendendang Return to Innocence. Sejumlah ganti rugi dalam bentuk uang diberikan namun jumlahnya menjadi rahasia bagi publik.

Apa yang didendangkan Difang Duana adalah sesuatu yang konon didendangkan suku Amis di dalam menemani acara minum.[1] Tema lagu itu konon, entah bagaimana titisnya, adalah ekspresi kangen pada saudara di jauh mata dan undangan datang kala sempat ke rumah dan minum bergembira bersama.

Return to Innocence milik Enigma yang bicara pelipuran bagi mereka yang masih ragu untuk mensejatikan diri seakan secara unik dilengkapi dengan “sampling” dendang tentang undangan kepada saudara jauh untuk minum bersama milik Difang Duana.

Secara unik bisa dikatakan sebagai komplemen. Bahwa boleh saja interpretasi perseptif mengambil dendang Difang sebagai titik mula dan lirik Enigma melengkapi kisah itu: Datanglah Saudara-ku yang jauh di mata! Adakah hidupmu jauh di sana, di kota, membuatmu hidup sepenuh dirimu ataukah mengajarkan kehidupan penuh topeng? Sudahlah! Hiduplah apa adanya saja! Baliklah ke desa kita! Kunjungilah Saudaramu ini yang di desa dan mari minum bersama!

Bagi saya, silaturahim adalah kebaikan. Mengunjungi saudara yang lama tak bersua muka adalah kebaikan. Bagian minum-minum itu, bagi saya, menurut yang saya yakini, adalah berdosa untuk dilakukan. Kalau membahas dosa dan tidak berdosa, tidak mungkin tidak merujuk kepada skriptur. Istilah dosa merupakan istilah yang khas skriptural. Itulah sebabnya kudu juga perlu dipahami bagaimana minum-minum di skriptur lain bisa tidak disebut sebagai tindak pelanggaran, tindakan dosa.

Di dalam tradisi Kristen misalnya, minum-minum yang secara spesifik dalam tulisan ini terkait dengan minum alkohol, secara umum di dalam mayoritas sekte yang ada, denominasi yang ada, disebut bukan sebagai perbuatan bermasalah selama tidak bikin onar, selama tidak berlebihan.

Tentu saja, ada beberapa sekte yang kadang disindir sebagai sekte ‘tidak sah,’ ‘cult,’ ‘bukan mainstream’ yang sangat ketat dalam melihat minuman alkohol. Sekte LDS (Mormons),[2] Methodis,[3] dan Bala Keselamatan[4] adalah contoh tiga sekte yang sepanjang tahu saya bersikap sedikit keras mengenai minuman beralkohol. Bahkan jamaknya, sependek rengkuh pemahaman saya, bersikap mengharamkannya.

Mereka beranggapan dari pemahaman bahwa oinos, atau anggur yang diubah dari air tersebut di dalam skriptur sebagai bagian dari kisah biblikal mukjizatnya Yesus (pbuh) di dalam New Testament (Perjanjian Baru) adalah bukan ‘wine’ namun serupa jus anggur saja. Tentu saja ada yang mengkritik bahwa tafsiran ini tak pas karena di dalam Ephesian, bagian lain dari skriptur, kata ‘oinos’ nampaknya tidak pas dimaknai sebagai ‘jus anggur.’[5][6]

Intinya, ada perbedaan pengyakinan mengenai minum-minum di dalam tradisi kekristenan.[7] Meski semua sepakat bahwa minum-minum yang membuat onar, swearing (mengumpat tidak karuan), dan menjurus juga pada potensi melakukan p(k)erusakan disebut sebagai keburukan. Tidak di suku Amis, tidak di dalam tradisi Biblikal, tetapi bahkan di dalam masyarakat modern yang sekuler pun ada regulasi yang relatif ketat mengenai minum-minum.[8]

Dan konon, sikap moderasi terhadap minum-minum tersebut konon bisa berbeda oleh tiap denominasi di daerah-daerah atau negara yang pemeluk keyakinan mayoritas liyannya mempunyai pandangan keras terhadap minum-minum. Itu konon.

Di sini di Australia, sependek tahu saya, minuman beralkohol tak bisa dibeli kecuali pada usia tertentu dan tak bisa dikonsumsi kecuali pada tempat yang diijinkan.[9]

Di beberapa ruas jalan, objek wisata, transportasi publik, dan event publik di Australia, prohibisi konsumsi minuman alkohol dilakukan dengan ancaman denda minimum 200 dollar. Besaran denda ini termasuk besar. Dan menjadi agak ‘unik’ juga ketika kebebasan yang menjadi ciri yang kerap ditonjolkan di dalam perbincangan peneladanan kepada negara ‘maju’ ternyata beberapa hal tetaplah diberi aturan yang tegas. Potensi ketergangguan publik atas kegiatan minum-minum atau potensi adanya kekacauan oleh orang yang mabuk menjadi pembenar dan landasan mengapa aturan ketat itu diberlakukan.

mynewtown.com.au

Tanda larangan konsumsi minuman beralkohol (Liquor, Beer, Wine) di suatu tempat di Australia (credit pic: mynewtown.com.au)

Nah kalau ditanya apakah mereka yang meyakini bahwa minum-minum tidaklah mengapa selama tidak berlebihan (sikap tafsir moderat) kemudian juga oke-oke saja ketika menjadikannya sebagai bagian dari jamuan di dalam rapat informal, saya tidak tahu apakah argumen ini mendapatkan justifikasinya bahwa “kalau meyakini minuman alkohol boleh ditenggak dalam kadar moderat maka di dalam rapat atau acara formal model apapun maka sah-sah saja untuk menenggak minuman beralkohol.”

Tapi misalnya ada norma keumuman masyarakat yang melihat minuman beralkohol tidak pas pada sesuatu yang sifatnya khidmat serupa rapat, dan bagaimana jika itu kelak disuguhkan di acara rapat serius, formal, yang dilakukan para pejabat birokrat atau misalnya, kita kasih contoh pemisalan iseng lain, rapatnya para akademisi, apakah justifikasi tersebut merupakan bentuk arogansi ataukah menemukan apologinya dalam bentuk “kebebasan menjalankan kepercayaan masing-masing”?

Endnotes

 

[1] Scott Ezell. 2015. A Far Corner: Life and Art with the Open Circle Tribe. Nebraska: U of Nebraska Press. (hlm. 199)

[2] Mormon Australia. “Why don’t Mormons drink coffee, tea, or alcohol?”. Diakses dari: https://www.mormon.org.au/faq/law-of-health

[3] The United Methodist Publishing House. “Social Principles: The Social Community.” The People of the United Methodist Church. Diakses dari: http://www.umc.org/what-we-believe/the-social-community#alcohol-drugs

[4] Waterbeach & Soham Salvation Army Community Church. “Why don’t Salvationists drink, smoke, or gamble?”. Diakses dari: http://www.waterbeachsalvationarmy.org.uk/what-to-know-more/why-dont-salvationists-drink-smoke-or-gamble/

[5] Kenneth L. Gentry. “Does Scripture Permit Us to Drink Alcoholic Beverages?“ Diakses dari: http://chalcedon.edu/research/articles/does-scripture-permit-us-to-drink-alcoholic-beverages/

[6] Pendapat yang keras menentang alkohol bahkan di dalam perjamuan kudus bisa disimak lewat tiga artikel yang argumentatif berikut ini:

  1. Jeffrey W. Hamilton. 24 Januari 2016 (last modified). “Question and Answer regarding alcohol”. La Vista Church of Christ. Diakses dari: http://lavistachurchofchrist.org/LVanswers/2008/04-10b.html
  2. Jeffrey W. Hamilton. 8 Maret 2016 (last modified). “New Testament Beverages”. La Vista Church of Christ. Diakses dari: http://lavistachurchofchrist.org/LVarticles/NewTestamentBeverages.htm
  3. Mark H. Creech. 27 Januari 2014. “Christians and Alcohol: An Abstinent View.” Christian Post. Diakses dari: http://www.christianpost.com/news/christians-and-alcohol-an-abstinent-view-113253/

[7] Cermati tulisan Greg L. Price yang menyatakan bahwa di dalam Kekristenan ada tiga pendapat yang sama-sama kokoh pijakannya di dalam “kefiqihan” mereka mengenai alkohol; prohibitionist, absentionist, dan moderationist. (Greg L. Price. 2015. “The Bible And Alcoholic Beverages”. Diakses dari: http://www.reformedpresbytery.org/books/alcoholb/alcoholb.htm)

[8] Kisah alkohol dan pelarangannya kemudian pelonggaran atas pelarangannya yang berkaitan dengan tradisi kekristenan di Amerika Serikat sebagai contoh “masyarakat modern sekuler” dapat dibaca misalnya lewat buku Abolish The Drinking Age: The Conservative Case Against Alcohol Regulation (Wayland Ellis, 2016, Lulu Publishing).

[9] Peraturan ketat mengenai konsumsi minuman alkohol (dan merokok) di Australia dapat secara singkat dirujuk pada situs: http://www.ioi2013.org/info/regulations/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s