Home » Selected Contemplation » Ada Apa di Balik Jubah dan Jenggot Itu

Ada Apa di Balik Jubah dan Jenggot Itu

The definition of love is elusive, which is why we write about it endlessly – Sydney Offit, February 2016, Humans of New York

Hidup bersama kenangan mereka yang sudah meninggal dapat membuat kita teringat tafsiran Umar Junus terhadap sajak Sitor Situmorang yang berjudul “Malam Lebaran.” Di dalam tafsiran Umar Junus, sajak “Malam Lebaran” mengingatkannya pada kesenangan di malam perayaan Idul Fitri yang dia tarik dari kata “Bulan” dari sajak itu yang dibersamai dengan semacam duka terhadap mereka yang sudah meninggal dan tak bisa bersama berlebaran. Ingatan kepada yang sudah meninggal diperoleh Amir Junus dari kata-kata berikutnya dalam sajak itu: “di atas kuburan.”

Kenangan yang kembali muncul pada saat-saat tertentu akan orang yang kita cintai dan atau kita kenal adalah sesuatu yang galib, umum, lazim, wajar, kata lain normal. Namun kadang kala, karena cinta yang dalam, kenangan itu tak hanya muncul di saat-saat tertentu saja. Kenangan terhadap seseorang bisa muncul seakan-akan orang yang dirindu masih berada bersama dan belum meninggal. Bahkan bau tubuh yang khas darinya masih ada terasa. Karena cinta yang dalamlah yang begitu itu bisa terjadi.

“All Kinds of Everything” yang dilantunkan oleh Dana dan menang pada kontes Eurovision di tahun 1970 dan bekas kepopulerannya di tahun 1990 terlihat di Asia lewat gim NES tanpa lisensi Nintendo “Magic Jewelry” adalah contoh dendang sentimentil yang menceritakan bagaimana seseorang yang sangat dicintai bisa membayang-bayang pada setiap hal yang ditemui dalam hidup. Begitu dalamnya cinta tersebut sehingga bayang kekasih bisa muncul zonder  hitung waktu dan tempat. Bayangan ini tak perlu muncul pada “tempat-tempat yang pernah diluangkan bersama sang kekasih” sebagaimana lazimnya kumbara kenangan orang tercinta namun ia bisa muncul bahkan pada “tempat-tempat baru” dan juga “hal-hal baru.”

Cinta yang dalam kepada manusia “asing”[1] lain seperti itu —pasangan kita, istri kita, kekasih kita— mungkin hanyalah dan sepantasnyalah bisa dikalahkan oleh kecintaan kepada penghulu semua utusan: Muhammad saw.[2][3][4]Pada bagian ini, hadist yang menceritakan bagaimana salah satu sahabat Rasulullah, Umar r.a.,[5]dikabarkan belum lengkap di dalam berislam ketika belum menempatkan Rasulullah bahkan di atas kecintaannya pada diri sendiri.[6]Dan tentu kita juga tahu tiga buah hadist yang membuat kita menjadi kian termotivasi untuk lebih mencintai Nabi: “engkau akan bersama yang engkau cintai,”[7]“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia”[8] dan hadist salah satu sebab dari tiga perkara memperoleh manisnya iman.[9]

Kalau sudah masuk ke dalam cinta yang begitu dalam, apalagi terhadap seseorang yang diteladani dan kata-katanya menjadi semangat menjalani dan mengarungi hidup padahal beliau hidup di masa yang jauh dari masa ia tinggal maka kita bisa paham bagaimana trenyuhnya dendang “Ya Rasulullah” oleh Raihan atau Bimbo dengan “Rindu Rasul.” Ada cinta dan kerinduan yang dalam di sana meski sulit untuk bertatap muka. Tahu bahwa Rasulullah sudah meninggal berabad-abad yang lalu. Yang tertinggal hanyalah jejak-jejak ajaran dan kehidupan beliau lewat Quran dan Hadist[10][11] serta keterangan-keterangan hikmah atas Quran dan Hadist dari sahabat-sahabat beliau dan ulama-ulama yang jaraknya tidak terlalu jauh kepada beliau. Dan dari situlah pelestarian semangat dan petuah-petuah beliau mempunyai pegangan.

Berkenaan dengan pelestarian semangat dan petuah-petuah seseorang yang sangat dicintai dan dirindukan meski sudah meninggal, tidak ada batasan yang jelas bagaimana seseorang hendak melakukannya. Dalam kisah seseorang yang mencintai Nabi sehingga butuh untuk melestarikan semangat dan petuah beliau, justru praktik ejawantah yang letterlijk dari ucapan-ucapan beliau dan catatan mengenai kehidupan beliau memiliki koridor sedangkan ejawantah yang bukan letterlijk kebanyakan baru bisa longgar ketika dipandu hikmah dari para sahabat dan atau ulama-ulama awal.

Karena cinta yang dalamlah hingga ada ulama seperti Zakaria bin ‘Adi bin Shalt bin Bistam, ketika beliau ditanya, “Alangkah besarnya semangatmu untuk (mempelajari dan mengamalkan) hadits (sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), (apa sebabnya?)”. Beliau menjawab, “Apakah aku tidak ingin (pada hari kiamat nanti) masuk ke dalam iring-iringan (rombongan) keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”[12]Karena cinta pulalah bahkan imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri dalam ucapannya yang terkenal pernah berkata, “Kalau kamu mampu untuk tidak menggaruk kepalamu kecuali dengan (mencontoh) sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka lakukanlah!”[13] Semangat yang seperti itu di dalam rangka “beragama mengikuti teladan” dan “rasa cinta kepada teladan.” Jika bukan karena cinta yang begitu dalam, tidakkah hal seperti “garuk kepala seperti rasul” menurut akal menjadi sesuatu yang jika dihitung-hitung adalah sesuatu yang berlebihan? Tapi kita tahu bahwa agama dan cinta, keduanya tidak pernah pantas ditakar dengan melulu akal bukan?[14]

Dus, kita bisa saja ikut tertawa dan mencemooh sebagaimana dilakukan oleh Sumanto Al Qurtuby ketika ia menyenggol mereka yang menyukai —dalam kadar yang sangat— berpakaian jubah dan memelihara jenggot. Atau, kita bukan masuk dari bagian penertawa dan pencemooh dan memilih mendudukkan sesuatu dengan lebih santun dan tidak “merasa lebih berpikiran maju atau kompatibel dengan kehidupan modern” sebagaimana juga tidak dirasa pas berkoar-koar “lebih nyunnah” dengan memakai jubah dan berjenggot kecuali dengan rujukan dalil yang jelas dan menghindari sok dalam menetapinya bukan?[15]

Mungkin kalau hendak bicara mengenai modern tidak modern, maju dengan terbelakang, dalam konteks berpakaian dan memilih gaya hidup yang merujuk pada tradisi tertentu ada baiknya untuk berkaca kepada blunder David Cameron di Inggris.

David Cameron yang “nampaknya terobsesi” hendak mengurangi radikalisme dan gelagatnya menjurus kepada muslimah yang memegang nilai-nilai tradisional Islam —identik menyasar kepada muslimah yang berjilbab[16]— sebagai perlu untuk berintegrasi dengan masyarakat Inggris yang multikultural. Ada semacam asumsi yang dimiliki Cameron, entah darimana ia mendapatkannya, bahwa muslimah kurang bisa berbaur dengan nuansa keberagaman Inggris dan rawan menghasilkan keturunan yang terdidik menjadi radikal. Dus, Cameron menyarankan muslimah untuk belajar bahasa Inggris dan ikut program yang membuat mereka bisa berbaur dengan kehidupan di Inggris.[17] Ulah David Cameron yang nyinyir main pukul serampangan berlebihan kepada muslimah dengan istilah “traditionally submissive” ini dihujat habis-habisan lewat media sosial oleh muslimah-muslimah Inggris yang berjilbab, berbaur dengan elegan di dalam masyarakat Inggris, berkontribusi terhadap masyarakat, dan berprestasi keduniaan.[18]

Kembali kepada duduk perkara jubah. Bicara jubah maka ada tulisan menarik dari Muhammad Abduh Tuasikal pengasuh situs dakwah rumaysho.com yang merujuk kepada tulisan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin mengenai gamis (sejenis jubah) bagi muslim. Adakah ia wajib? Adakah ia anjuran ataukah ada dalil tentangnya? Dan seperti biasa, karena Muhammad Abduh Tuasikal adalah seorang Ustadz, maka ia merujuk kepada dalil yang bisa dirujuk mengenai gamis. Terdapatlah sebuah hadist hasan dari Ummu Salamah r.a.[19]yang mengabarkan bahwa Nabi sangat menyukai baju gamis (semacam jubah).[20]Hadist ini tidak mengabarkan adanya perintah buat muslim untuk memakai baju gamis kecuali bahwa Nabi menyukai baju gamis. Dari situlah kita bisa temui bunyi penjelasan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang merujuk kepada pendapat Syaikh Utsaimin bahwa memakai baju gamis bukanlah sebuah perintah wajib model berpakaian sebab para sahabat tidak selalu memakai gamis. Bahkan berpakaian dengan cara yang “normal” penting menutup aurat[21] menurut tradisi suatu wilayah adalah suatu hal yang nampaknya disarankan di dalam tulisan itu agar tidak menjadi mode syuhror (berusaha tampil beda agar tampak dicap nyleneh).

Sebuah sindiran sangat layak dialamatkan kepada Sumanto al Qurtuby, seorang antropolog dan mantan sekjen sebuah ormas Islam Indonesia wilayah Amerika Serikat dan Kanada itu. Jikasanya bergamis (jubah) merupakan cara berpakaian yang tidak dianggap sebagai nyleneh di dalam suatu masyarakat sehingga bisa menimbulkan permusuhan maka mengapatah didamprat atau memprovokasi orang-orang awam untuk mulai turut mencibir penyuka gamis (jubah) seakan pemakai gamis (jubah) adalah mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan modus berbusana wilayahnya? Atau malah, memberikan perspektif yang kurang arif mengenai penyuka gamis (jubah) dan bukan malah memberikan kearifan yang menyejukkan? Bukankah jauh sebelum lontarannya lewat status di sebuah media sosial, gamis (jubah) adalah sesuatu yang sejatinya normal dan galib dipakai oleh mereka yang berangkat ke masjid? Jikalau poin kritikannya adalah mengenai mereka yang sok “lebih nyunnah,” mengapakah ia tidak melihat dari angle yang lain dari fenomena itu? Karena cinta yang sangat pada Nabi, idola, uswah mereka, misalnya.

Carlo Riley sangat mencintai Michael Jackson hingga merupakan diri mirip idolanya (credit pics: almostmj.com/)

Carlo Riley sangat mencintai Michael Jackson hingga merupakan diri mirip idolanya (credit pics: almostmj.com/)

Lalu bagaimana dengan jenggot? Mahmud Suyuti, seorang Dosen Hadis dan Mantan Kepala Laboratorium Hadis UIM Makassar, mempunyai pendapat bahwa “sangat naif bila jenggot dijadikan sebagai ukuran sunnah, karena akan terlihat bahwa yang menjalankan Islam dengan kaffah hanyalah mereka yang berjenggot sementara yang lain pengingkar sunnah” dan lalu ditambah dengan pembandingan yang ganjil mengenai “perintah menikahi empat orang perempuan (QS. al-Nisa/4:3) [yang] bukan kewajiban bagi semua kaum laki-laki sehingga perintah tersebut tidak bisa mengikat pada semua umat Islam” padahal bunyi utuh ayat yang disitirnya —dan bukan sesuatu yang bersumber dari hadist sebagai bandingan isu “ikut sunnah”— tidak seperti itu dan tidak lazim terdapat pendapat ulama —kecuali mereka yang awam dan atau bercanda— untuk berpoligami sebagai bagian dari mengikuti sunah Rasul.[22] Pendapat Mahmud Suyuti nampak sangat mirip dengan apa yang disuarakan oleh Sumanto al Qurtuby mengenai kenaifan menjadikan jenggot sebagai ukuran sunnah yang sama-sama berangkat dari sejarah di sekitar Nabi. Meskipun demikian, ada yang menggelisahkan dari tulisan Mahmud Suyuti mengenai jenggot.

Status Facebook Sumanto al Qurtuby

Status Facebook Sumanto al Qurtuby

Bagaimana bisa Mahmud Suyuti melepaskan diri dari hadist “sepuluh macam fitrah” yang berasal dari Aisyah r.a.?[23]Mengapakah muncul di dalam sepuluh fitrah itu bagian “memelihara jenggot”? Apakah kemudian ketika sepuluh fitrah tadi berdasar runut sejarah misalnya merupakan sebuah perintah dari Nabi agar memperbedakan diri dengan orang-orang di luar Islam kemudian kini semua orang yang bukan Islam mempraktikkan hal seperti itu kemudian perintah itu menjadi tidak relevan lagi dan bukan sunah lagi menurut perspektif Mahmud Suyuti?[24] Apakah misalnya dari sepuluh fitrah tadi ketika sudah dipraktikkan oleh sebagian orang pra-Nabi atau oleh orang-orang di luar Islam semasa hidup Nabi lantas menghilangkan status sunnah pemeliharaan jenggot sebagaimana diriwayatkan oleh Ibunda Aisyah r.a.?

Mahmud Suyuti di dalam tulisannya mendefinisikan hadist sebagai “perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi saw.” dan Mahmud Suyuti membedakannya dengan “ciri khas fisik Nabi.” Atau dengan kata lain, “ciri khas fisik Nabi” yang diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadist tidak disebut masuk dalam definisi hadist ala Mahmud Suyuti. Hal ini adalah sesuatu yang mengejutkan bagi seseorang yang punya latar belakang keilmuan hadist. Mungkin juga sebuah ironi ketika tulisan Mahmud Suyuti merupakan kritik pedas atas Ilham Kadir yang berargumen “memelihara jenggot adalah sunah [perbuatan] Nabi” sedangkan Mahmud Suyuti juga menyindir bahwa Ilham Kadir hanya berbekal latar belakang pendidikan ala guru SMP dan tidak berlatar belakang pendidikan keilmuan hadist. Atau mungkin ada salah ketik di sana? Maksudnya sunnah seolah-olah tindak memanjangkan jenggot adalah bukan termasuk di antaranya?

Well, bagaimana jika dalam pembicaraan ini angle-nya sedikit kita ubah. Tadi di awal kita sudah bicara mengenai cinta dan kerinduan. Orang yang mencintai —apalagi begitu dalamnya— tak kena jika ditelisik dengan timbangan akal. Saat cinta begitu dalam menghujam dan yang dicintai jauh dari rengkuhan maka kerinduan muncul menyergap; segala sesuatu akan mengingatkan pada sesuatu yang dicintai. Bagaimana kalau kita lebih asyik melihat pelestarian sunnah bukan hanya di dalam masalah jubah, jenggot, dan apa-apa saja yang bisa kita bayangkan untuk menghidupkan lagi “bersama dengan kekasih yang dicintai” semampunya? Dengan begitu, kita tidak akan mencemooh mereka yang begitu mencintai dan merindui dengan sekuat tenaga segala aspek dari kehidupan Nabi. Tentu mereka yang berlatar belakang kelimuan hadis akan tahu bahwa bagian poligami dan tahajud adalah salah dua dari banyak hal hal yang khusus menempel atas Nabi.

Mereka yang berusaha sekuat tenaga melestarikan segala aspek dari kehidupan Nabi haruslah kita apresiasi dan hormati. Kita tahu bahwa mereka ini sadar bahwa ada banyak bagian yang akan berbenturan dengan faktor “kekinian” mulai dari kemajuan teknologi, ketersediaan hal penyokong pelestarian gaya hidup semasa Nabi, bahkan orang-orang nyinyir. Dan kita yakin bahwa mereka yang berusaha melestarikan tradisi Nabi ini adalah karena kecintaan kepada Nabi dan tidak akan semena-mena mengkaji mana yang perintah, pelarangan, persetujuan, pendiaman, teladan di dalam konteks sunnah dan dengan hati yang gembira dan penuh ikhlas.

Sebab mereka tahu bahwa gamis (semacam jubah) mereka mengingatkan mereka akan cara berpakaiannya Nabi. Sebab jenggot[25] yang mereka biarkan tumbuh mengingatkan nasehat yang diberikan oleh Nabi zonder peduli sejarah pra-Nabi atau gaya masa kini. Sebab meskipun sehari-hari bisa meminum apapun yang halal jikalau memungkinkan mereguk minuman Al Hulwa Al Barid mereka teringat pada kekasih mereka.[26] Sebab jika sekiranya mereka ini berhasrat memiliki kuda atau sedang bermain dengan kudanya atau ingin belajar memanah, sejatinya mereka sedang beromansa mengenai tutur Nabi tentang kuda dan panah tanpa menafikan keberadaan dan menghindari kendaraan selain kuda dan senjata-senjata lainnya.[27]Sebab meskipun mereka tahu bahwa menggosok gigi dengan siwak tidak sepraktis menggunakan sikat dan odol, mereka rela untuk mencari siwak karena teringat akan Nabi kekasihnya yang dahulu memakai siwak untuk membersihkan mulutnya.[28] Sebab meski memakan makanan dengan tangan kiri tidak masuk di akal untuk dikatakan salah, mereka konsisten memakan makanan dengan tangan kanan dan kadang bersuka menjumputnya tanpa bersendok —tanpa anti dengan sendok— dan lalu menjilatnya sembari teringat bagaimana kekasihnya dulu melakukan hal serupa saat makan.[29] Sebab cintalah mereka begitu.

Tentu kita tidak boleh mengatakan bahwa mereka yang tidak menganggap bahwa romansa terhadap beberapa gaya hidup atau sebagian aspek kehidupan Nabi dan atau pelestarian perintah-anjuran yang diberikan oleh Nabi sebagai perlu dan relevan di masa kini sebagai orang-orang yang tidak mencintai Nabi. Bisa jadi mereka lebih mencintai Nabi. Bisa jadi mereka mempunyai amalan yang dalam koridor mengikuti sunnah Nabi yang tidak mereka sesumbarkan di hadapan publik sebagai bagian dari rasa cinta mereka terhadap Nabi. Sesuatu yang berbeda yang bukan lisan dan bukan zahir diunjukkan. Boleh jadi begitu.

Boleh jadi mereka ini serupa Bilal bin Rabah r.a. dengan kisah adzan yang tak kuasa dirampungkan.[30] Boleh jadi mereka justru sangat mencintai Rasulullah sehingga aktivitas napak tilas, romansa, menghidupkan nasehat dan kenangan akan laku hidup beliau bisa membuat mereka menangis dan badan limbung karena cinta yang dalam sekali pada kekasih yang sudah meninggal. Cinta yang dalam penaka kisah Bilal bin Rabbah r.a. sehingga seluruh kota Madinah tak elak pecah tangis dan rindu sebegitu rupa. Demikianlah segala hal yang mengingatkan pada Nabi justru potensial membuat mereka tersedu tersembab cinta singga terlalu melankolis, tak kuat hati, untuk kembali mengenangnya. Siapa tahu begitu.

Endnotes

[1] Yang tidak berkontakan secara fisik dan atau berjalur trah keluarga

[2] Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa disingkat dengan saw. di dalam bahasa Indonesia sebagaimana di dalam bahasa Inggris kerap digunakan pbuh (peace be upon him). Singkatan ini, merujuk kepada pendapat Syaikh Al Albani dan Syaikh As-Sakhoowi sebagaimana dituturkan oleh Ustadz Firanda, tidaklah mengapa sebagaimana juga misalnya penyingkatan salam menjadi “ass wr wb” Beliau, Ustadz Firanda di dalam melihat permasalahan penyingkatan salam menjadi “ass wr wb” menidakmengapakan dan berlepas dari kontroversi “ass” sebagai “pantat” di dalam bahasa Inggris karena singkatan “ass wr wb” merupakan singkatan salam yang dipakai di dalam lingkungan bahasa tulis singkatan bahasa Indonesia dan bukan bahasa Inggris. Tambahan pula, singkatan “ass wr wb” tidak dibaca melainkan sebagai salam lengkap sebagaimana saw. juga dibaca di dalam lingkungan tulis bahasa Indonesia sebagai Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bukan saw atau “melihat [dalam bentuk lampau]” di dalam bahasa Inggris. Ustadz Firanda juga menyebutkan poin mengenai bagaimana Nabi tidak ditulis oleh sebagian ahli hadist lengkap dengan sholawat atasnya di dalam ragam tulisan meskipun ketika nama beliau disebut maka sholawat diucapkan kepada beliau. Jika sholawat atas beliau tidak ditampilkan di dalam ragam tulis oleh sebagian ahli hadist lalu mengapakah singkatan sholawat atas beliau yang dituliskan sebagai pengingat untuk bersholawat justru dikritik pedas padahal justru —meskipun dalam bentuk singkatan— digunakan sebagai penanda kepada pembaca untuk bersholawat? Tentu saja, Ustadz Firanda juga memberi keterangan bahwa kecenderungan beliau untuk mengikuti kepada pendapat Syaikh Al Albani dan Syaikh As-Sukhoowi di dalam perkara ini meski berbeda dengan mayoritas ulama memiliki argumen yang kuat.

[3] Bersholawat atas Nabi saw. ketika nama beliau saw. disebut adalah sesuatu yang membuat seorang muslim lepas dari gelar “celaka” atau “bakhil.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah orang yang ketika namaku disebut, dia tidak bershalawat untukku.” (HR. Ahmad 7451, Turmudzi 3545, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dari Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bakhil adalah orang yang ketika namaku disebut, dia tidak bershalawat untukku.” (HR. Ahmad 1736 dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)

[4] Untuk seterusnya, penulisan nama dan panggilan kepada beliau saw., tanpa ditulis di tulisan ini, disebutkan sholawat atas beliau saw.

[5] Radiallahu ‘anhu, lihat endnote 2 dan 4.

[6] Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)

[7] Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Rasulullah pun shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385])

[8] Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[9] Dari Anas –radhiyallahu ’anhu- , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya, dia mencintai saudaranya, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dilemparkan dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[10] “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al Ahzaab: 21)

[11] “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun” (HR Ibnu Majah no. 209, pada sanadnya ada kelemahan, tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, oleh karena itu syaikh al-Albani menshahihkannya dalam kitab “Shahih sunan Ibnu Majah” no. 173).

[12] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/74)

[13] Dinukil oleh imam al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi” (1/216).

[14] Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

[15] Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

[16] Ciri “ketradisionalan” muslimah di dalam pandangan masyarakat Barat —atau media massa Barat— adalah ditandai paling mudah lewat narasi mengenai cara berpakaian yang menurut standar Barat dianggap sebagai segregasi yang opresif terhadap peran wanita di ranah publik. Di dalam perang narasi, tradisional selalu diidentikkan dengan keterbelakangan dan antikemajuan sedangkan yang distempel sebagai modern diidentikkan dengan kemajuan.

Di dalam kajian posmodernisme, identifikasi seperti itu merupakan hal yang kabur. Tidak ada batasan yang jelas antara tradisional dengan modern ketika berkaitan dengan budaya dan gaya hidup. Semua saling mempengaruhi dan bisa direproduksi atau dipintal campur sehingga menjadi sesuatu yang baru dan atau modern.

Bahwa hijab bagi muslimah dianggap sebagai antikemajuan (non progresif) dan secara historis melekat pada kultur di sekitaran semenanjung Arabia dan Persia di masa lalu serta representasi peminggiran wanita dapat dilihat sebagaimana sinkron disuarakan oleh Yasmin Alibhai-Brown lewat sebuah opini di The Guardian dan sebuah tulisan opini oleh Asra Q. Nomani dan Hala Arafa di The Washington Post. Kedua tulisan tersebut menunjukkan bagaimana gembor gempor narasi mengenai berjilbab sebagai pilihan tradisional di dalam berislam memang terjadi di dalam konteks kampanye gaya beragama yang “modern dan membebaskan” yang hendak dibenturkan dengan penstigmaan beragama yang “tradisional dan mengekang.”Tentu saja, ketiga penulis tadi (Yasmin Alibhai-Brown, Asra Q. Nomani, Hala Arafa), perlu ditanyai bagaimana mereka bermain-main dengan tafsir dan sejarah hijab sebagaimana disindir oleh Umm Reem (Saba Syed) lewat artikel di MuslimMatters dan juga bagaimana secara ciamik seorang aktivis Islam yang tinggal di Washington DC, Hena Zuberi, menjelaskan bagaimana tradisi hijab di dalam Islam adalah sesuatu yang memiliki fondasi di dalam tradisi Islam dan merujuk kepada ulama-ulama yang terdahulu di dalam berislam sehingga putar lidah pelintir kata dari penyanjung gaya beragama yang modern dan membebaskan, disuruh “diam” agar muslimah yang berjilbab bebas mempraktikkan apa yang mereka yakini dan lepas dari intimidasi mereka — pengusung kampanye gaya beragama yang “modern dan membebaskan”— justru telah munculkan.

[17] Laura Hughes. 17 Januari 2016. “David Cameron: More Muslim women should ‘learn English’ to help tackle extremism”. The Telegraph.

[18] Lihat misalnya:

Sam Haysom. 26 Januari 2016. “British Muslim women hit back at David Cameron by tweeting their awesome achievements”. Mashable.

Emma Wilson. 25 Januari 2016. “Traditionally submissive women say who us?” BBC Trending – BBC Blog.

[19] radhiyallahu ‘anha

[20] Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762 dan Abu Daud no. 4025. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

[21] Banyak orang di luar Islam menganggap bahwa kode berpakaian menutup aurat hanya berlaku untuk muslimah saja padahal untuk laki-laki juga ada kode untuk berpakaian.

[22] Mahmud Suyuti. 29 Agustus 2014. “Jenggot Bukan Sunnah Rasul”. Tribun Timur Makassar.

[23] Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” (HR. Muslim no. 627)

[24] Perhatikan bahwa judul artikel Mahmud Suyuti “[Memelihara? Memiliki?] Jenggot bukan Sunah Rasul” dan isi dari artikel tersebut adalah judul yang tegas menafikan tiada kaitannya perjenggotan dengan tradisi yang dibangun lewat ucapan Rasul kecuali hanya berlaku kepada “sebagian muslim di sebagian wilayah” saat itu saja.

[25] Isu bonus di dalam perkara jenggot: Memelihara jenggot ditimbang dari kacamata medis bukanlah sesuatu yang buruk. Bahkan pria yang memelihara jenggot justru memiliki keuntungan secara medis karena memiliki kondisi yang mendukung bagi perkembangan mikroba yang membunuh bakteri tertentu yang merugikan (cf. Kate Ng. 21 Januari 2016. “Beards may be more hygienic and bacteria-resistant than shaven skin, study finds.”. Independent).

Bahwa konsep kemodernan imaji laki-laki adalah sebagai laki-laki yang mencukur jenggotnya sedangkan laki-laki yang kuno adalah mereka yang memelihara jenggotnya adalah sesuatu yang kabur (lihat Endnote no. 16) kecuali karena ada diseminasi yang tak kenal henti lewat tentakel gempuran terhadap otak mengenai “laki-laki” yang modern (dan kerap juga dikaitkan macho, sporty, sukses, diinginkan oleh banyak wanita) lewat iklan produk-produk alat cukur. Begitu juga bisa kita lihat di dalam konsep berpakaian dan banyak hal lainnya.

Tulisan yang bagus mengenai jenggot oleh Mohammad Zahid pendiri inkoffaith.com bisa disimak lewat buletin daring Al Jumuah dengan judul “The Big Bad Beard.”

[26] “Sesungguhnya minuman yang paling disukai oleh Rasulullah SAW adalah Al Hulwa Al Barid.” (H.R. Tirmidzi)

[27] Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Lahwun (yang bermanfaat) itu ada tiga: engkau menjinakkan kudamu, engkau menembak panahmu, engkau bermain-main dengan keluargamu” (HR. Ishaq bin Ibrahim Al Qurrab [wafat 429H] dalam Fadhail Ar Ramyi no.13 dari sahabat Abud Darda’, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ 5498 )

[28] Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jikalau aku tidak memberatkan atas umatku maka aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat dengan wudhu dan setiap kali wudhu.” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 200)

[29] Dari ‘Umar bin Abi Salamah radhiallahu anhu dia berkata: Dulu aku adalah anak kecil yang berada di bawah pengasuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika makan, tanganku berpindah-pindah kesana kemari di atas piring. Maka beliau bersabda kepadaku: “Wahai nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika dia minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya. Karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya pula.” (HR. Muslim no. 2020)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu di antara kalian makan, maka janganlah dia bersihkan tangannya sehingga dia jilati atau dia minta orang lain untuk menjilatinya.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031)

Dari Ka’ab bin Malik dari bapaknya beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.” (HR Muslim no. 2032 dan lainnya)

Mengapa tangan kanan dan dijilati? Lihat catatan kaki 14. Hal bagus lainnya dari kepatuhan atas teladan ini adalah bonus.

[30] Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Radhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.

(disalintempel dari: “Kisah Perjuangan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘Anhu,” Biografi Ahlul Hadits, yang bersumber dari Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya lewat kisahmuslim.com)

2 thoughts on “Ada Apa di Balik Jubah dan Jenggot Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s