Home » Selected Contemplation » Kegalauan dan Kenirtempatan serta The Curious Case of The So-called Jihad Selfie Phenomenon

Kegalauan dan Kenirtempatan serta The Curious Case of The So-called Jihad Selfie Phenomenon

Edit terakhir dan sedikit revisi judul  pada 31 Agustus 2016

Bisa juga tulisan ini dimulai dengan dendang Marmalade yang berjudul “Reflections of My Life.” Dendang ini berkisah mengenai perubahan yang terjadi sepanjang waktu berjalan. Tak ada yang tetap pada titik semula. Hidup terus berjalan dan tiap orang -sebagaimana aku liris- menemu masalah di dalam hidupnya. Masa indah saat kanak berganti menjadi masa remaja yang penuh kegirangan dan lalu menjadi masa dewasa saat tanggung jawab dipikulkan besar ke pundak masing-masing.

Rumah yang ada dulu, rumah yang benar-benar memberikan zona bebas beban, bukanlah rumah yang ditinggali sekarang. Rumah yang dulu adalah saat orang tua ada di sana untuk mengasihi dan mencukupi. Rumah sekarang, menurut si aku liris dalam dendang ini, tak bisa memberikan tempat bagi ketidakpedulian. Semua dihitung dan kudu mendapatkan pilihan tanpa tombol coba-ulang. Dan lalu waktu terus saja berjalan sementara di ujung ada bayang kematian begitu menakutkan. Oleh sebab itulah Dean Ford dan Junior Campbell mengamsalkan bergulirnya matahari dari “sunlight” menuju “moonlight.” Cahaya mulai temaram, gemerlap seruak semangat pelan-pelan pudar.

Bisa saja tulisan ini dimulakan dari kegalauan sepanjang pendek hidup Chairil Anwar. Sehidup “semangat” untuk “hidup seribu tahun lagi” dan “tidak peduli lagi” pada segala hal. Ya, sajak yang bunyinya begitu berjudul “Aku” dan berubah menjadi “Semangat” karena konon menyesuaikan dengan ‘suasana’ penerbitan saat itu dan kemudian sajak ini kini dikenal berjudul “Aku.”

Sajak ini bisa dikatakan merupakan refleksi dari kehidupan remaja Chairil yang keras. Kepedihan yang timbul dari perceraian orang tuanya lalu berpulangnya nenek tercinta diperparah kondisi keuangannya yang buruk selepas pernah menjalani kehidupan sebagai anak orang kaya membuatnya lebih luwes lagi di dalam mengartikulasikan nada sajak muram dan “arogan.”

Hidupnya yang hidup ala bohemian menyulitkannya menjaga Hapsah sehingga Hapsah butuh bercerai. Ketidakpeduliannya pada liyan memberikan bersit kontemplatif pada sajak penuh kegalauan, merasa tak tahu siapa lagi siapa dipantulkan di kaca yang banyak luka dan “mengucur darah” namun bukan sebagai pengorbanan kepada orang lain tak seperti narasi Isa (pbuh) [yang disalib menurut Kristen]. Waktu terus berjalan dan tahu “sudah berapa waktu bukan kanak lagi,” Chairil justru kian paham tentang “suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini.” Ia mengaku menyerah kalah pada keadaan, hidup, dan kematian; namun begitu ia masih menyebut nama Tuhan.

Mungkin saja apa yang dialami dan ditulis oleh Chairil bisa mengalir melewati ladang semai kegalauan Alphaville yang berteriak hendak ingin hidup muda selalu. Dunia begitu penuh kenikmatan dan dendang-tarian perayaan kegembiraan sedangkan kemudaan tak bisa selamanya digenggam. Ada ketakutan akan menua di sana. Seperti Marmalade yang berpilu untuk sekedar mengatakan “I don’t wanna die,” Alphaville punya lolongan serupa: “I don’t want to perish like a fading horse,” tapi semuanya bahkan Chairil pun tahu di ujung sana kematian tak bisa dikalahkan dan lantun tentang keabadian, atau hidup abadi dan selalu bersuka, hanyalah kegiatan bermimpi yang sia-sia. Bahwa kemudian semua bersepakat bicara lamunan mengenai masa lalu [kanak] yang penuh kenangan, hidup yang ternyata pendek, dan lalu kematian yang tak terhindarkan.

Kenangan masa kanak tampaknya bisa menghibur, atau mungkin, kalaulah boleh, sebut saja menghantui di usia dewasa dan senja. Ia abadi dalam kenangan namun ia tak bisa direngkuh lagi di dunia nyata. Orang-orang yang dulu kita kenal saat kanak, “they don’t stay young” seperti kata Alphaville. Nuansa rumah dan pertetanggaan masa kita kanak, sudah berubah bukan seperti “my own home” seperti yang direkam dalam benak Marmalade. Tak ada yang kuat ajeg, semua berubah.

Dari kerisauan, kegalauan, kegelisahan akan keadaan susah yang sedang dijalani itulah kenangan pada rumah yang nyaman atau tempat berlabuh yang indah bisa memunculkan kisah “rindu ingin pulang pada kampung halaman.” Kampung halaman yang hendak jadi tujuan pulang ini seolah tiada cacat dan tak berubah. Kampung halaman ini seakan hanya mengenal keteraturan dan kedamaian.

Dendang rindu kampung halaman yang terekam berabad-abad bisa didapati di dalam kitab Mazmur (Psalm).[i] Tersebutlah dahulu suatu tempat yang bernama Zion, negeri makmur dan teratur di bawah naung kuasa Daud. Zion sekarang ini menjadi sebuah kenangan kolektif bangsa Yahudi akan impian tentang sebuah negeri yang makmur dan semua berjalan baik sempurna. Ia kemudian ditafsirkan secara bebas sebagai negeri elok yang dijanjikan di bumi bagi mereka yang punya iman. Secara spesifik, sebagian Yahudi dan Kristen Zionis merujuknya kepada Mount Zion di Yerusalem yang diberikan unconditional dan eksklusif kepada mereka.[ii]

Konsep tanah yang dijanjikan adalah bersifat unconditional dan ekslusif menjadi persoalan. Thomas Williamson punya argumen yang solid bahwa kovenan itu bersifat conditional dan tidak eksklusifSebagian orang Yahudi dan Kristen Zionis, menurut rujukan Bible yang diusung oleh Williamson, seharusnya sangat mahfum bahwa tanah yang dijanjikan itu menuntut kondisi-kondisi tertentu yang ironisnya sangat diabaikan. Ini belum lagi pemberian hak yang adil kepada liyan. Jadi rumah yang didaku sebagai rumah pribadi dan diratap sebagai tempat satu-satunya di bumi yang diberkati dan harus eksklusif ditempati, sebuah tanah di dekat Kana’an, negara Israel, menjadi tempat “yang bermasalah.” Ia dirindukan dan diinginkan namun ia tidak menjadi sah untuk ditempati kecuali resah muncul tak terperi sebab didaku hanya dan hanya milik sendiri. Dus, ia rumah utopia, rumah yang mempunyai satu warna saja di dalamnya dan diilustrasikan semua berlangsung tertata tanpa cela.

Tapi rumah utopia sendiri memang menjadi problem klasik manusia sepanjang jaman semenjak tahun kuda. Lihatlah bagaimana kerajaan jatuh bangun dengan impian menegakkan sebuah kerajaan yang gemah ripah loh jinawi; tanpa cacat tanpa cela. Lihatlah negara ambruk dan muncul dengan ideologi-ideologi baru atau muncul dengan ideologi yang di-refurbish dengan impian bahwa semua yang dilingkupinya akan hidup selalu bahagia dan tak ada tangisan di sana. Adakah yang sudah berhasil menegakkannya? Adakah dunia seperti Scatman’s World; tak ada bosan, selalu memberikan pengalaman baru, dan semua orang diterima dengan terbuka?

Jikasanya panggilan Scatman John kepada sebuah dunia yang disebut sebagai Scatman’s World bisa disepadankan dengan American Dream, atau Australian Dream, konsep negara Zion, atau bahkan konsep negara ISIS, lalu mengapakah orang masih saja mengeluh akan kehidupan yang jauh dari harapan dan fantasi? Mengapakah orang-orang yang pernah menjalani kehidupan di Amerika Serikat sendiri, seperti Sheela Raman, merasa muak dengan utopia mengenai American Dream dan menganggapnya hanya konsep yang bagus di kertas saja; bagus hanya sebagai konsep saja? Mengapakah juga misalnya konsep Australian Dream juga disebut belum juga sempurna untuk menyediakan rumah yang adil dan nyaman bagi berupa-rupa ras dan agamaMengapakah negara Zion menyimpan potensi pemarjinalan dan ketidakadilan sebagaimana diungkap oleh Zvi Bar’elMengapakah ada orang yang merasa harus pergi meninggalkan negara ISIS selepas sebelumnya begitu bergairah untuk “hijrah” menuju ke sana?

Tentang gairah menuju negara ISIS ini, sebagai intermezzo, mengajak kita kepada pertanyaan mengapakah ada orang-orang yang berbondong ke sana. Saya sempat terkejut ketika ada akademisi Indonesia teman diskusi saya, Noor Huda Ismail, yang berkelindan melintang dengan isu “terorisme dan deradikalisasi” memunculkan sebuah istilah baru: “Jihad Selfie.” 

Istilah yang muncul ini sendiri nampaknya mungkin terinspirasi oleh sebuah artikel yang ditulis oleh Khaleed Diab mengenai “jihadist selfie.” Khaleed ini bercerita bagaimana imaji “holy war” atau “jihad” mengalami perubahan citra menjadi sesuatu yang elegan dan modern, tidak seperti depiksi jihadis afghanistan di tahun 80-an yang malu dengan kamera. Kesan elegan dan modern seperti poster film atau video game yang menampilkan kegagahan dan kemenangan, menurut Khaleed, sengaja dimunculkan “mungkin” sengaja sebagai alat perekrutan, pemantik ketertarikan, kepada mereka yang belum bergabung dengan ISIS. Inilah yang kemudian, tampaknya, membuat Noor Huda mempopulerkan istilah “Jihad Selfie.” Hal senada nampaknya juga diekor oleh Muhammad Syauqillah, peneliti dari Setara Institute, dan Al Chaidar, pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh di Aceh.

Walaupun sekilas istilah yang dipakai oleh Noor Huda Ismail dan juga diamini oleh Syauqillah dan Al Chaidar ini keren namun istilah ini sangat bermasalah. Khaleed sendiri memang mengarahkan dengan kalimat satir yang sembrono bahwa “perhaps they believe that the ‘greater jihad’ is the jihad of the selfie.”[iii] Baik Noor Huda Ismail, Syauqillah, dan Al Chaidar sejatinya paham bahwa istilah “jihad” menjadi penyimpangan oleh para “teroris” dan permainan penyalahkaprahan oleh akademisi Barat sebagaimana diulas oleh Adjunct Professor Abed Awad yang ahli di bidang hukum Islam dari Rutgers Law School, New Jersey, Amerika Serikat dan Professor di bidang tafsir, Sadi Eren dari Turki. Sebagaimana lafadz “Allahu Akbar” juga dipakai oleh siapa saja dalam konteks yang tidak tepat dan lalu menimbulkan stigma yang buruk; baik karena didesain narasi pemburukan dan atau pengalaman komunal yang buruk akan lafadz ini.

Tidak cantik jikalau Noor Huda Ismail, Syauqillah, dan Al Chaidar malah nimbrung membuat keruh sengkarut pemakaian istilah “jihad.” Mengapa mereka tidak memakai istilah semisal “terrorist selfie” [ini kalau hendak menempatkan ISISer dalam terma “teroris”] atau “ISISer selfie” atau “selfie (mereka)” saja? Mengapa justru “jihad selfie“? Dan, ini bagian terpenting dari urgensi hipotesis mengenai selfie yang dilakukan oleh jihadis, mengapakah harus mendiskrepansikan foto macak mandiri pada fighter ini dengan foto macak mandiri yang lain dan lalu secara iseng diberi nama khusus yang berembelan “jihad”? Mengapakah para “pejuang Islam” lewat jalur akademis dan jejaring yang luas ini tidak mendiseminasikan usaha “reclaim” makna mulia dan tujuan jihad? Misal, membela diri dari invasi militer negara lain, misal mengangkat senjata dari penindasan penguasa yang zalim. 

IGNORANCE: SELFIE PORA ATAU SELFIE PO RA?

Zakia Belkhiri, muslimah Belgia, melakukan selfie di antara demonstran antiIslam.

Apa yang dilakukan Zakia ini, ingat bukan Zakiya-nya Bang Haji Roma, merupakan bentuk ignorance model baru.

Tidak bermaksud seksis, ia merupakan perempuan muslimah berjilbab yang melawan gerakan antiIslam dengan cara penaka ignorance.

Ia berbeda dengan gerak tagar (hashtag): kami tidak takut sebagaimana reaksi berjamaah atas teror bom Sarinah. Apresiasi terhadap tagar “Kami Tidak Takut” tetap mendapat tempat, tetap dicatat. Namun tagar dan selfie pora tersebut dilakukan bukan saat ada terorisnya masih bedagilan.

Zakia melakukan selfie pora ini pada saat corong toa masih digemakan dan betis kaki demonstran antiIslam masih hangat dari konvoi.

Inilah yang menurut saya lebih tepat dalam semangat bukan dalam kaidah mungkin bisa dikatakan sebagai “mujahidah selfie.” Istilah “mujahidah selfie” lebih enak dan pas dipakai dan bukan “jihad selfie” karena “pelakunya yang berselfie” sedangkan “jihad” merujuk pada aktivitasnya. Istilah ini serupa dengan istilah yang sudah lama dituliskan oleh seorang wartawan Mesir, Khaled Diab, dengan “jihadist selfie”-nya. Ya, jihad itu luas. Ia tidak melulu berperang. Ia bisa dalam bentuk perkataan namun juga bisa dalam bentuk aksi yang menunjukkan kesungguhan (jahada) di dalam menebarkan kebaikan Islam; menegakkan Islam. Dan ini juga bisa dalam bentuk membela Islam dari gencetan.

Kalau sudah bicara pembelaan diri, siapa bilang perlawanan, resistensi, harus selalu lewat kekerasan? Kadang bukan dengan bom, bedil, pentungan, suara keras bisa lebih keras menggebuk dan memberikan kesadaran baru yang mencerahkan. Kadang. Kita bisa merujuk ini pada gerak ahimsa-nya Gandhi. Ingat, hanya ahimsa-nya saja bukan laku seksual kontroversial Gandhi.

Zakia ini melawan aksi konvoi antiIslam ini dengan menetapkan hati berselfie di hadapan peserta konvoi. Ia mengambil risiko itu. Ia berselfie pada keadaan yang mungkin akan membuat seseorang akan menjauh dari lokasi. Ia mengguncang mereka dengan aksi yang seakan “ignorant”; cuek bebek pada plakat yang diunjuk tinggi-tinggi dan seruan antiIslam. Ya, dengan aksi seakan “ignorant” ia melawan!

Untung saja ada salah satu pemrotes yang ramah pada Zakia. Untung saja. Ia yang menyambut aksi Zakia. Ya, Mbak berjaket pink itu menyambut aksi Zakia dengan ramah meski kawan-kawan pemrotes lainnya berteriak: “No Halal”, “No Islam”, “No [Islamic] Headscarves”! Dari interaksi ala ahimsa seperti itulah maka situasi tegang di Antwerp, Belgia itu luluh lumer. Demonstrasi menjadi tidak menegangkan dan Zakia layak dicatat. Ia bukanlah selfie melepas penat di medan perang yang jauh dari kerabat. Ia bukan selfie dalam kisah pembuatan album pribadi di media sosial untuk bercerita kepada lain orang: “I’ve been there!.”

Jadi Mbak Zakia ini bukan selfie pora (taking a series of selfie for the sake of others’ impression; pesta pora — selfie pora). Ia bukan dalam konteks aksi berselfie yang kita layak bertanya: meh selfie po ra [Jw; mau selfie atau tidak]? Sebab kita tahu bahwa dengan mantap kita menjawabnya: Ora [Jw; Tidak]! Dia mengadakan perlawanan!

—Saya bukan pendukung selfie pora,

edit posting status Facebook Dipa Nugraha, 19 Mei 2016 —

Lepas dari itu, apa yang disorot oleh Khaleed dan Noor Huda, dalam konteks dan pemakaian istilah yang lebih selektif, bisa saja sih dipahami sebagai —katakanlah— modus ISIS di dalam menarik simpati —atau dalam istilah propaganda “ISIS adalah bad guys“— perekrutan terorisme. Namun adalah lebih fair dan jeli juga manakala fenomena ini, yang dilakukan oleh individu-individu di medan perang di tempat yang jauh, dilihat dalam konteks yang umum. Istilah yang digaungkan Noor Huda, Syauqillah, dan Al Chaidar ini nampaknya hendak melihat fenomena seakan sebagai sebuah modus yang sejatinya manusiawi dengan tafsir kespesifikan. Seharusnya tidak, tidaklah layak atau titis untuk ditafsirkan seperti itu.

Sersan Austina Knotek ber-selfie dengan Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat Jenderal Ray Odierno di Kabul, Afghanistan, 7 Februari 2014. Credit: Nate Allen

Tentara Amerika Serikat-pun Juga Butuh dan Suka Ber-selfie. Sersan Austina Knotek ber-selfie dengan Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat Jenderal Ray Odierno di Kabul, Afghanistan, 7 Februari 2014. Credit: Nate Allen

Semarak pemakaian media sosial sebagai tempat berbagi cerita dan pengalaman beserta fasilitas unggah foto gratis dengan kebutuhan akses data unggah yang tidak terlalu besar-lah yang membuat pembagian kisah dengan gambar marak terjadi. Jihadis, atau lebih “aman” secara teologis kita sebut fighter (pejuang) ideologis, sebagaimana manusia biasa lainnya, tidak mungkin tidak butuh untuk berbagi cerita dan kisah. Ada sepi di dalam kebisuan masing-masing dan hasrat berbagi kisah-lah yang memupus sepi itu. Padankan dengan manusia-manusia lainnya yang berbagi kisah hidup mereka. Tak ada kespesifikan niatan bahwa seseorang yang dibagi cerita diharapkan mengikuti jejak langkah kisah itu. Manusia tetaplah manusia. Ia adalah makhluk yang butuh bertutur.[iv] Kalau tidak percaya bahwa bukan hanya fighter ideologis saja yang suka dan atau butuh ber-selfie (foto macak mandiri), silakan ketik di Google “US army selfie” untuk melihat banyak foto macak mandiri para tentara Amerika Serikat. Jika belum puas, silakan saja kunjungi akun Flickr “The U.S. Army” untuk tambahan pengayaan isu ini, atau lihat saja foto macak mandiri tentara Israel lewat akun Klear milik Gabriel Helou, seorang pengacara yang juga aktivis kemanusiaan di wilayah pendudukan Israel. 

Terkait dengan bahasan ini, buku yang berjudul Digital Militarism: Israel’s Occupation in the Social Media Age (2015) menyebut fenomena macak mandiri-nya para tentara sebagai “selfie-militarism” (hlm. 77). Penulis buku Digital Militarism, Adi Kuntsman dan Rebecca L. Stein, mengaitkan foto macak mandiri ini dengan tradisi yang panjang foto kenang-kenangan para tentara mengenai petualangannya di medan yang jauh dari rumah (hlm. 77). Oleh sebab itulah alangkah elok dan tepat jika isu yang dibicarakan oleh Noor Huda, Syauqillah, dan Al Chaidar jika ditempatkan dalam konteks yang serupa bahwa aktivitas mereka adalah “social media storytelling.” Atau jika mau lebih melebarkan lagi cakupannya, genre “travel literature” bisa dibekap. Mereka ini —para petualang— yang secara manusiawi hendak mengabadikan sesuatu yang mungkin tidak bisa dua kali mereka temui dan kelak hendak mereka tuturkan kepada liyan atau sebagai album kenangan perjalanan saat sepi datang menggerayangi.

Jadi alangkah bijaknya bilasanya melihat foto macak mandiri para fighter dan tentara ini dalam atmosfer yang serupa: manusia yang sedang mengalami petualangan dan komunikasi dengan liyan dengan “teks” dan “gambar (baca: foto dokumentasi)” terpenuhi dengan foto macak mandiri yang diunggah lewat media sosial. Tentu saja pada beberapa foto macak mandiri mereka ini, dalam suasana perang, pengunjukkan kegagahan, kemenangan, pamer aksi, bahkan pelecehan kepada pihak seberang, kadang muncul. Siapapun yang berada di medan konflik bisa seperti itu. Kalau tidak percaya, lihat saja foto macak mandiri tentara Israel yang ditahbis dalam konteks “disturbing dan chilling” di dalam aksi-aksi mereka di wilayah pendudukan Palestina lewat tulisan Ali Abunimah dalam Electronic Intifada atau misalnya foto tentara Amerika Serikat di samping korbannya seorang Afghanistan bernama Gul Mudin pada 15 Januari 2010 di desa La Mohammed Kalay.

Tentara Israel sedang Berselfie Ketika Terjadi Bentrokan dengan Rakyat Sipil Palestina (credit: @GabrielHelou / Klear)

Tentara Israel sedang Berselfie Ketika Terjadi Bentrokan dengan Rakyat Sipil Palestina (credit: @GabrielHelou / Klear)

Memang bisa sebagian kecil angle dari Noor Huda, Syauqillah, atau Al Chaidar pada poin foto-foto macak mandiri dianggap benar, sebagaimana suara yang dikemukakan oleh Jacob Siegel dan J.M Berger sejak 2014 lewat dua artikel terpisah, bahwa media sosial telah dipakai oleh ISIS di dalam memberitakan kemenangan-kemenangan mereka lewat website atau akun resmi —dengan foto-foto tentunya. Pengunjukkan kemenangan ini tidak hanya dalam bentuk cerita (teks) saja namun juga foto-foto atau terkadang video. Teks saja, kini, tidaklah cukup. Penikmat cerita masa kini butuh membaca cerita yang ada bukti gambar atau video sehingga lebih mudah percaya. Media sosial kasih jalan itu: cerita apapun bisa bertebaran dan kadang susah ditampik sebab dilengkapi bukti video atau gambar. 

Sebab bicara perang dan dukungan maka tak bisa tidak berbicara mengenai propaganda. Propaganda memberikan difusi mengenai siapa yang berada di pihak yang benar dan siapa yang berada di pihak yang salah. Dus, propaganda memberikan argumen bahwa “kamilah yang berlaku adil, berniat memberikan kemakmuran, dan harapan.” ISIS punya beberapa keuntungan di dalam mengagitasi khalayak akan sebuah rumah besar yang berada dalam kontrol kekuatan mereka di bumi Syam; sebuah negara. Foto-foto jenis ini memang diniatkan oleh ISIS sebagai semacam display atas flyer sebuah narasi bahwa bumi Syam sudah dikuasai secara penuh oleh orang-orang berpanji hitam serta siap untuk dihijrahi. 

Atau misalnya daerah yang dikuasai ISIS masih rawan dari gerogotan dan lepas dari penguasaan, maka Noor Huda Ismail dan kawan-kawannya bisa juga sih mempunyai rujukan bahwa foto-foto macak diri itu dipakai oleh ISIS untuk menjaga semangat juang para fighter-nya. Kalaupun foto-foto macak mandiri itu dianggap sebagai sarana perekrutan fighter-fighter baru, bahwa orang lain kemudian tertarik gabung ISIS gara-gara melihat foto-foto macak mandiri, argumen tersebut tidaklah kuat kecuali adanya stimulan dari narasi mengenai nubuah mengenai bumi Syam. Teladan dari penafian sekaligus kompromi atas argumen Noor Huda Ismail dan kawan-kawan ini bisa diperoleh dari foto-foto macak mandiri yang dipakai oleh Viet Cong semasa perang melawan SVA (AVRN) yang dibantu tentara Amerika Serikat saat perang Vietnam berkecamuk di tahun 1965-1975.

Foto-foto macak diri ini, sebagai alat propaganda, telah muncul dan lazim dipakai dalam konteks yang bersinambung dengan tradisi foto macak mandiri dengan gawai di masa modern dan juga penamaan khusus: selfie (foto macak mandiri). Di dalam perang Vietnam, fotografer Viet Cong menyebarkan foto-foto macak [bedakan dengan “foto macak mandiri”] para tentara Viet Cong kepada tentara-tentara Viet Cong lain yang sedang berjuang bertaruh nyawa dengan istilah tag yang dipakai oleh Alex Q. Arbuckle —seorang kurator fotografi perang Vietnam— sebagai “to inspire resistence.” Tapi narasi penginspirasi lanjutnya perjuangan tidaklah bisa kokoh dan terjustifikasi yang tidak hanya menampilkan secara visual sebagaimana foto-foto macak mandiri berlaku kecuali ada narasi yang memberikan ide —konsep, ideologi, alasan, atau apapun yang semakna— bahwa perang dan keikutsertaan adalah sah, legit, tak elok dihindari, dan menjadi sebuah kewajiban yang mempesona seperti yang diungkapkan oleh salah satu fotografer Viet Cong, Vu Ba: “to convey a message of patriotism in the face of foreign invasion.”

Foto Macak Diri Janda 2 Kali Berusia 24 Tahun Pejuang Viet Cong (Credit Image: Le Minh Truong/Another Vietnam/National Geographic Books)

Foto Macak Diri Janda 2 Kali Berusia 24 Tahun Pejuang Viet Cong (Credit Image: Le Minh Truong/Another Vietnam/National Geographic Books)

Melongok teladan yang ada di dalam dunia propaganda perang, nubuah mengenai bumi Syam-lah oleh ISIS penaka ide patriotisme terhadap penjajahan asing Viet Cong yang pantas disebut sebagai stimulan itu. Foto macak mandiri hanyalah pemanis narasi sebab semua orang tahu bagaimana “tidak nyamannya” keadaan perang apalagi bayangan untuk terjun ke daerah perang kecuali ada perangsang gairah yang kuat.

Jikalau kemudian ini menjadi viral bersebab simpatisan ISIS membuatnya viral, hal yang sama berlaku kepada apapun dan siapapun. Bedanya adalah, simpatisan ISIS kini sedang berada di dalam euphoria memanggil datang kepada siapa saja —tentu jangan lupakan kemudahan berbagi lewat media sosial. J.M. Berger menyebut euphoria simpatisan ISIS di dalam mengkampanyekan negeri baru yang berada di bumi Syam dengan agak sedikit berlebihan meski faktual: “expertly.” Argumen Berger sendiri bisa juga ditempelkan kepada Belieber sebab fans Justin Bieber mengkampanyekan ajakan bersuka terhadap Bieber tidak mungkin tidak terjadi jika tiada media sosial. Fanatisme, euphoria, gairah yang meledak-ledak, utopia yang diyakini nyata mudah disebarkan dan kini media sosial membuatnya kian mudah terjadi.

Selamat Datang ke Amerika dengan Foto Patung Liberti - Sebuah "Flyer" akan Kebebasan dan American Dream yang Hanya Ada di Amerika Serikat (credit: US Citizenship and Immigration Services)

Serupa Sebuah Undangan Berhijrah. Foto Patung Liberty – Penawaran akan Kebebasan dan Mitos American Dream ala Amerika Serikat (credit: US Citizenship and Immigration Services)

Kembali kepada ISIS. ISIS menawarkan “rumah besar” yang disandarkan pada nubuah tentang akhir jaman dan berkah bumi Syam. ISIS menyuarakan impian itu sebagaimana mungkin kita bisa melihat negara-negara lain melakukan hal yang mirip dengan konsep impian yang berbeda. “Rumah besar” ini dapat dibayangkan seperti kisah yang tertera pada nubuah: ada perang dulu namun kemudian semua sejahtera berkat kepemimpinan yang adil. Pada bagian ini, ISIS paham benar bahwa setiap orang ingin kebahagiaan, ingin rumah yang nyaman, tetangga yang baik, dan —ini yang membedakan dirinya dengan negara lain— konsep bernegara yang penuh berkah sebagaimana kisah pada nubuah. Bagian yang terakhir, negeri —atau negara— yang berkah menurut konsep yang digaungkan oleh ISIS adalah sebuah negara di mana tidak ada hukum berlaku kecuali hukum yang berlandaskan skriptur. Inilah yang disuarakan oleh ISIS meskipun kekakuan, ketidaktepatan, dan realisasi oleh ISIS mendapat banyak kritikan dari beberapa banyak scholars Islam.[v]

Negara berkah tak bisa ditakar lewat keadaan yang aman, kaya dan sejahtera saja. Keberkahan yang utuh di akhir jaman, dan ini dikampanyekan oleh ISIS, baru diperoleh jika menjadi warga negara sebuah negara, rumah besar yang menampung rumah-rumah warga negara, yang memakai hukum skriptural di bawah satu kekhalifahan terakhir di bumi Syam. Dus, rumah besar bernama negara ini, bagi pemegang keyakinan ini, menjadi sesuatu yang wajib dirindukan dan lalu jika mampu untuk dihijrahi.

Rumah besar ini bagai “own home” ala dendang Marmalade: tempat semua kegundahan tidak ada. Rumah besar ini menjadi sesuatu  semacam Kristendom bagi Kristen, Zion bagi Yahudi, atau Negara Tanpa Kelas sebagaimana Sosialis Komunis punya agenda ambisius. Cuman bedanya, umat Kristen kebanyakan sudah tidak peduli mengenai Kristendom, Zion bagi Yahudi sudah resmi diakui oleh negara lain dalam bentuk negara Israel modern, sedangkan Sosialis Komunis bolehlah terus bermimpi dalam lautan konsep dan utopia. Utopia Sosialis Komunis di poster-poster dan propaganda mengenai negeri yang tak mengenal kelas dan tidak meminggirkan seseorang berdasar ras atau kelas tertentu yang malah dalam praktiknya —merujuk Uni Soviet— malah memunculkan semacam opresi.

Gambaran mengenai keutuhan berkah inilah yang justru membuat sebagian orang tertarik menuju ke sana. Kristendom sudah hancur berkeping baik konsep maupun gairah namun masih dirindukan oleh sebagian orang sebagaimana ajakan penegakan lagi oleh Sandlin. Zion menjadi sesuatu yang mendasari Zionisme untuk terus bergerak hingga kini zonder tabrak abai kovenan. Marxis masih saja berbuih-buih dan “Imagine”-nya John Lennon masih disepakati sebagai anthem yang relevan meskipun orang Sosial Komunis sendiri melihatnya sangat utopis. Bukankah ISIS juga dapat dikatakan menawarkan hal yang sama? Bukankah, apa yang diawang di dalam benak sebagai rumah besar yang penuh berkah selalu dirindui? Sebenarnya, laiknya “Promised Land (Tanah yang Dijanjikan)” sebagaimana Zionisme menumpukan ideologi dan gerakannya, ISIS bisa tegak dan menarik simpati bukan karena iming-iming wanita yang “disediakan” di negara ISIS sebagaimana dikabarkan beberapa kanal berita atau uang yang melimpah [meski ini konon info rilis dari BIN] kecuali karena ada nubuah mengenai Bumi Syam yang diberkahi dan dijanjikan bagi mereka yang percaya.[vi]

Namun kisah bergambar atau bervideo yang muncul sebagai rilis resmi sebuah gerakan serupa ISIS laiknya dibedakan dengan sesuatu yang disebut dengan “selfie.” Kembali pada foto selfie para jihadis —sekali lagi, istilah “Jihad Selfie” adalah kesangattidaktepatan dalam pemilihan istilah— adalah sesuatu manusiawi saja. Ia begitu manusiawi penaka manusiawinya kita berfoto sebagai sebuah monumen kenangan tempat kita bisa kembali lagi mengenang dan juga sarana berbagi cerita “aku berada di sini atau aku pernah berada di sana” kepada orang lain. Manusia butuh cerita. Cerita bisa mengusir kesepian dari kehidupan memasing. Ia mengundang orang untuk saling berbagi kebanggaan, kenangan, dan interest.

Simaklah bagaimana Manuel Avilés-Santiago menggambarkan dengan lebih tepat tentang bagaimana setiap pejuang, tentara, fighter, kombatan memakai media sosial untuk berbagi cerita dan unggah gambar dalam napas: “mereka itu juga manusia biasa yang sedang mengabarkan kepada kampung halaman bahwa mereka baik-baik saja di rantau.” Atau dalam bahasa Avilés-Santiago: “it is a way to connect with their homeland and to demonstrate to their families that they’re alive and proudly serving. The connection to home was really important.” Pada bagian ini kemudian kita sadar bahwa mereka yang sedang berperang di bumi Syam, dari front manapun, negara manapun, disebut sebagai teroris atau tentara dari negara-teroris, kebanyakan adalah foreign. Bumi Syam adalah tanah asing bagi mereka bahkan bagi pejuang ideologis ISIS yang berangkat dalam semangat menjadi keluarga di “rumah besar yang baru.” Percayalah, semua yang berperang di sana butuh ber-foto macak mandiri dan mungkin mengunggahnya pada saat real-time sejenak selepas pengambilan gambar. Kecuali tentu saja mereka-mereka —tidak harus dari ISIS— yang mengetahui risiko berbagi cerita dan mengunggah foto atau video secara real-time di lokasi perang dalam posisi stagnan bisa membuat mereka dihantam rudal.

Jikasanya yang beginian disebut sebagai “modus perekrutan”-pun, lha wong nature manusia itu memang butuh bercerita kok. Sekali lagi, Avilés-Santiago memotretnya lebih manusiawi. Lagi pula, menjadi misleading juga sekiranya ada pemahaman publik bahwa “Jihad Selfie,” sebagaimana istilah yang sembrono dibuat untuk membuat narasi perekrutan teroris oleh ISIS, membuat orang menjadi “jihadis” atau kombatan atau fighter atau ekstreme lagi: “suicide-bomber.” Perlu dicatat dan dipegang erat, tidak semua yang bergabung dengan ISIS menjadi fighter atau ingin ikut berperang. Sebagian dari mereka bergabung dengan ISIS karena ingin “hijrah” kepada sebuah negeri yang diyakini penuh berkah; “sebuah rumah besar untuk semuanya.” Sekali lagi, tentu saja, bagi mereka yang punya kerinduan akan rumah besar dan keyakinan bahwa nubuah rumah besar di bumi Syam itu kini sedang muncul di sana.

Tentu bagi saya pribadi, istilah Jihad Selfie membutuhkan kejelasan definisi. Ketika saya tanya secara langsung kepada Noor Huda Ismail mengapakah istilah yang ia pakai adalah Jihad Selfie, terus terang saya tidak mendapatkan jawaban yang jelas kecuali kurang lebih pemunculan istilah yang keren terdengar adalah bagian dari marketing. Dari beberapa konsep yang muncul dari diskursus awal mengenai selfie para jihadis ini ada beberapa catatan dari saya:

  1. Aktivitas selfie yang masuk dalam kategori jihad yang telah digunakan sebagai pemantik hasrat bergabung dengan ISIS karena Huda memakai istilah “Jihad Selfie” dan bukan Mujahid Selfie atau Selfie Jihadis. Kalaupun misalnya diniatkan hendak menampilkan “suara dari dalam” sebagai representasi muslim mengenai “jihad” yang secara sempit dimaknai umum sebagai hanya “perjuangan lewat perang,” justru istilah ini juga rentan dengan penyempitan makna dan pengerucutan pada ISIS dan atau teroris [Islamis] saja. Huda juga, jika memang ending dari film-nya tetap sebagaimana pra-finalisasi film yang dipertontonkan kepada saya dan kawan-kawan di sebuah acara diskusi di Monash University, maka justru akan melewatkan bagian penting untuk menampilkan pesan mengenai keurungan berangkat tokoh utama dalam film-nya yang merupakan bagian dari jihad: berbakti kepada orang tua (birrul walidain) dan menebarkan ilmu mengenai Islam yang ia peroleh semasa studi (dakwah islamiyyah). Pelewatan kesempatan ini, jika memang akhirnya benar-benar terjadi, justru mengukuhkan kesalahkaprahan akan penyempitan makna “jihad” sebagaimana narasi Barat dan justru bertentangan dengan apa yang Noor Huda Ismail katakan mengenai usahanya untuk menampilkan “suara dari dalam” yang bukan representasi dari suara dari luar; sesuatu yang ia kait-kaitkan namun justru berkebalikan niatan dengan diskursus yang dimulakan Edward Said mengenai orientalis-oksiden. Lihatlah media massa dan akademisi Barat beramai-ramai mengunyah-unyahnya.
  2. Aktivitas selfie para jihadis yang merubah imaji mengenai heroisme sebagaimana konsep awalnya bermula dari tulisan Khaleed Diab
    • Merupakan praktik sengaja untuk perekrutan secara sistematis sebagaimana pamflet propaganda yang menampilkan kegagahan, rebel, dan resistansi oleh ISIS
    • Merupakan praktik reportase lapangan pada tiap kemenangan yang tujuannya sebagai propaganda yang menteror mental lawan
    • Merupakan praktik story telling personal sebagaimana manusia lainnya yang berbagi foto mengenai petualangannya dan kisah yang dijalaninya
  3. Jika Noor Huda Ismail sengaja mencari efek laku dari istilah yang marketable dengan pemilihan istilah “Jihad Selfie” dengan asumsi narasi Barat dan Islamophobis mendapatkan terma baru akan pemahaman yang sudah salah kaprah mengenai “Jihad” sebagai bagian dari ajaran Islam dan “Terorisme” yang bukan bagian dari Islam serta “Selfie” sebagai fenomena yang menarik di era booming media sosial, apakah tidak membuat rancu mengenai pengukuhan salah kaprah bahwa semua foto macak diri yang dibuat oleh Muslim yang berperang SELALU merupakan upaya sistematis yang dirancang untuk menarik simpati (merekrut) anggota baru untuk berperang sebagai bagian dari anggota “teroris” padahal belum tentu:
    • Mereka ini bagian dari ISIS namun bagian dari kelompok Islamic fighters lainnya yang hendak mengusir penjajahan dan atau mempertahankan diri dari konflik sektarian yang muncul dari perusakan sebuah negara karena invasi ilegal
    • Sesuatu yang sistematis dan atau bagian dari sesuatu yang besar sebab fenomena ini adalah praktik story telling personal, sebuah diary sebagaimana tiap manusia mempraktikkannya di dalam dan lewat media sosial masing-masing
    • Sebuah kesengajaan sistematis sebagaimana “tentara”-pun sebagaimana contoh di atas, seperti manusia pada umumnya, memang lazim berfoto macak diri sebagai sumber rujuk pengenangan pribadi bahwa “mereka pernah di sana.” Pengunggahan dan penyimpanan lewat media sosial adalah salah satu kebiasaan praktis dan seketika di dalam pembuatan album “pernah berada di sana.”

“Saya lihat teman saya ikut ISIS, berfoto pakai AK-47, kok macho sekali? Banyak yang like itu fotonya di Facebook, dikomentari ukhti-ukhti. Saya tertarik ikut,” ujar Akbar saat ditemui di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Senin (22/8) (CNN Indonesia, “Film Jihad Selfie, Mengungkap Alasan ‘Remeh’ WNI Gabung ISIS”)

Melongok penuturan Teuku Akbar Maulana, tokoh utama di dalam film ‘Jihad Selfie,’ mereka yang terbiasa dengan diskursus peribadahan menurut tradisi Islam pasti akan mengetahui bahwa hadist pertama di dalam kitab kumpulan hadist Imam Nawawi berbicara mengenai ‘niatan beribadah karena mengejar like perempuan’ sudah akan bisa mengetahui bahwa Teuku Akbar Maulana pasti sudah sedari awal menyadari bahwa dirinya tak mungkin akan ikut mempertaruhkan nyawa di medan perang. Kecuali jika Teuku Akbar Maulana seorang yang awam di dalam beragama, besar bukan dalam lingkungan keluarga yang kurang peduli pada pembelajaran agama, tidak pernah sekolah di sekolah Islami. Oleh sebab itulah fenomena Teuku Akbar Maulana menjadi sesuatu yang unik jika dianggap sebagai fenomena calon jihadis yang ada niatan berangkat ke medan perang. Malah, ini membenarkan apa yang menjadi temuan Noor Huda Ismail —lepas dari tidaknya dia mendiseminasikan sesuatu yang lebih ‘suara dari dalam‘ mengenai Jihad dan upaya menentang stigma negatif— mengenai alasan yang remeh dari sebagian anak muda yang seolah hendak ikut angkat senjata membantu saudaranya di dalam peperangan namun juntrungnya sudah bisa ditebak tidak pernah benar-benar berangkat jika keadaan sekitar lebih bisa memberikan kenyamanan duniawi.

Teuku Akbar Maulana dengan kegamangan orientasi like dan comment di media sosial meniscayakan sejak awal tak akan benar-benar karep (Jw. “serius niat”) berangkat meski sudah dipanjer uang saku. Ujaran mengenai maskulinitas dan kemachoan bisa dipadankan di dalam kajian gender sebagai pilihan dari kemungkinan model maskulinitas yang bermacam-macam tersedia sejak awal baginya.

“Saya juga ingin terlihat maskulin. Di video-video ISIS itu banyak dibilang bahwa ini tanah lelaki. Seakan kalau kita tidak di sana, berarti kita bukan lelaki. Saya pikir, keren juga. Saya semakin ingin membantu jihad,” kata Akbar (CNN Indonesia, “Film Jihad Selfie, Mengungkap Alasan ‘Remeh’ WNI Gabung ISIS”).

Sedangkan pada kasus Teuku Akbar Maulana, ia sempat terlintas hendak ingin model Macho Masculine meski akhirnya memang mengukuhkan dirinya kini kepada model Metrosexual Masculinity (cf. Parker & Lyle, 2005). Ini kalau hendak membawa-bawa istilah maskulinitas —menjadi lelaki seperti apa— dan bukan dalam konteks yang lebih luas mengenai jihad dan hadist tentang niat dalam Kitab Arbain. Kini profil akun media sosial Teuku Akbar Maulana secara eksplisit menampilkan depiksi dirinya sebagai anggota “modelling.” Keinginan menjadi “laki-laki sejati”-nya nampaknya sudah sejak semula mengarah kepada sesuatu yang tak laras kelindan dengan esensi jihad sebagaimana terlontar pada pernyataannya akan like dan comment ukhti-ukhti.

Facebook Profile Teuku Akbar Maulana

Baiknya marilah kita kembali kepada pencarian diri, rumah, dan kerinduan akan tempat yang selalu sempurna dan membuat bahagia di dunia. Bercermin kepada kisah Abu Ibrahim, ketika sudah berbicara mengenai manusia, di manapun tempatnya, orang-orang punya potensi untuk mengeluh. Bahkan di rumah besar yang sudah diimpikan pun terkadang orang masih bisa saja mengeluh. Bukankah Abu Ibrahim konon rindu pulang kepada “rumah kecil” dan tak mau kembali lagi kepada “rumah besar”? Abu Ibrahim tidak menemukan “rumah besar” sebagaimana imajinya tentangnya. Pun, bisa jadi ada orang yang bisa nyaman dan bahagia dengan “rumah besar” yang ditemuinya pada ISIS. Tentu kita tidak akan meluputkan kisah meninggalnya Bahrumsyah berkenaan dengan “impian dan bayangan” akan ISIS dengan kenyataan yang ia temui selepas ia bergabung di sana. Manusia bisa saja membayangkan begini dan kenyataan kadang bisa begitu itu. Abu Ibrahim dan Bahrumsyah mengalami kenirtempatan, placenessness, dan kemudian kegalauan menerpa. Mereka tidak merasa bisa ada kehidupan yang sesuai dengan bayangan kehidupan dan tempat rindu segala dicurahkan. Kosong.

Foto Macak Diri Dipa Nugraha dengan Noor Huda Ismail pada suatu ketika saat sama berpetualang

Foto Macak Diri Dipa Nugraha dengan Noor Huda Ismail pada suatu ketika saat sama berpetualang

Kisah pengejaran impian kebahagiaan yang beginian mengingatkan kita pada si tua Barman dalam Khotbah di atas Bukit yang bertanya berterusan “Berbahagiakah engkau?” Pertanyaan yang ia ajukan kepada orang-orang yang ditemuinya nampaknya salah ditafsirkan sebagai “Berbahagiakah engkau? [Jika tidak, aku punya resep untuk berbahagia]” padahal sebenarnya ia justru mencari-cari adakah orang yang “yang benar-benar bahagia” sehingga bisa ia turuti lakunya. Bagi orang lain, keadaan dan penampilan Barman yang tidak menampakkan kemeranaan dan kemiskinan membuat Barman bisa dipahami dengan cara yang berbeda. Barman tidak salah dengan pencarian kebahagiannya kecuali ia membuat orang lain salah menafsirkan bahwa ia sudah mencapai kebahagiaan itu. 

Bicara kepada bagaimana tulisan ini berawal, apakah ada jaminan ketika manusia digaransi “masa hidup seribu tahun [lagi],””forever young,” mendapatkan utopianya, memperoleh cita-cita dalam fantasinya, hidup di “Dream” ini atau itu, atau sudah “berwarganegara dalam rumah besar” lantas tidak mengeluh lagi dan selalu bisa merasakan kepuasan menjalani hidup? Adakah jaminan itu ketika “so many adventures [in the past, when we were kids without burden and obligations] couldn’t happen today, so many songs we forgot to play, so many dreams swinging out of the blue”? Bagaimanakah jarak Barat dan Timur yang kian dekat dan silang telikung petualangan, pengalaman, hiburan, dan impian yang terlalu banyak justru membuat nafsu merengkuh “aku ingin begini dan aku ingin begitu” seperti lirik lagu tema bahasa Indonesia film kartun Doraemon kian menjadi-jadi? 

Kemudian menjadi semacam “wahn.” Sadar tiada pernah ada tempat yang sempurna untuk dihidupi di dunia ini apapun kondisinya. Selalu ada celah untuk kecewa dan mengeluh. Keluhan dan terus menerus gelisah, galau, merasa ada yang kurang dan belum juga bahagia. Bahkan kepada rumah yang nyaman dan tenteram menurut takaran umum pun, tak ada jaminan untuk tidak mengeluh. Bahkan manakala ada peluang untuk merubah yang buruk terjadi di masa lalu-pun sebagaimana setan selalu berbisik kepada telinga-telinga untuk berkata: “I wish …” atau “If only I could turn back time.” Kenirtempatan, perasaan merasa tidak “bener” di masa sekarang dan timbul hasrat kembali ke masa lalu, memang menjadi tempikan sorai setan di tiap telinga. Bayangkan kondisi itu seperti Nobita dalam “Doraemon” atau Marty McFly dalam “Back to The Future,” selalu ada yang dirasa kurang. Dunia semakin dikejar dan dijadikan perikatan justru kian menjauh dan kian liar susah terengkuh.

Kecuali yang qana’ah, yang pandai bersyukur. Mereka yang hatinya tenteram dan jiwanya tenang. Atau seperti anak kecil yang “belum mengenal dunia” atau tidak terikat dengan dunia; tidak kenal wahn. Seperti di dalam Zen seumpama nasehat Bankei Yotaku di dalam Song of the Original Mind (Honshin no uta) dikatakan bahwa keterikatan dengan dunia-lah yang membuat kegelisahan muncul tak karuan. Tapi yang beginian tidaklah mudah.

Oleh sebab itulah kadang kita bisa teringat satu larik mengena berkenaan kegelisahan dan rasa hidup. Toto Sudarto bilang: “[sungguh] alangkah besar rasanya hidup, bila hatiku tidak gelisah.” Adakah kita menjadi teringat mengenai nature kita sebagai makhluk yang suka mengeluh (Al Ma’arij, 19) dan kedamaian sebenarnya terdapati pada jiwa-jiwa yang tenang yang nanti kembali pada rumah yang sejati?

Bergembiralah hati yang selamat, bergembiralah bersama hati yang selamat. Kepada mereka terdapat alamat: hidup di bumi hanyalah sebentar. Kenirtempatan dunia fana menjadi niscaya sebab ia bukan tujuan. Tak ada ikatan, placenessness yang bukan sebuah perasaan hampa, pernyataan hati dan pikiran bahwa “tempat sejati” dicari ke manapun tetaplah bukan di bumi. Merasa di negeri bernama Indonesia tidak mbeneri lantas berharap terlalu banyak kepada negeri lain “yang belum begitu jelas juntrungnya”[vii] atau malahan sebuah negeri yang pesonanya dibumbui oleh kisah mengenai kesempurnaan tanpa cela. Bukan, tempat yang tanpa cela sedikitpun seperti itu tidak terdengar sebagai suatu tempat di bumi. 

Justru pada puncak religiusitas, sadar tempat bernama dunia ini hanyalah fase mampir sebentar dan tak mungkin bertemu sempurna yang paripurna, jadilah galib jika hati lebih tenang mantap menatap akhirat. Lalu jika sudah sadar hingga titik ini, pertanyaan ironis justru muncul: Ataukah memang kegalauan mencari rumah yang nyaman tanpa sedikitpun cela di bumi sebelum mati itu —meski tahu musykil ada— membuat kita justru menjadikan kita manusiawi?[viii] 

Oh ya, apa yang tertulis di atas yang pada beberapa poin menggauli terorisme tentu saja akan lebih kaya jika kemudian di waktu longgar kita bisa menyempatkan diri membaca tulisan Georg Maisser (2007) mengenai persepsi akan terorisme dan urgensi penggunaan kekerasan.[ix] 

 

Endnotes

[i] Simak misalnya Boney M. mendendangkan dengan nada trenyuh lewat humming-nya “Rivers of Babylon” yang merupakan olah ulang dari dendang yang kurang meratap oleh The Melodians di tahun 1970.

[ii] Berbeda dengan Mormonism yang tidak menspesifikkannya pada suatu tempat di sekitaran Yerusalem sehingga [New] Yerusalem bisa ditegakkan di mana saja di bumi (cf. William D. Davies, 1978, “Israel, The Mormon, and the Land”).

[iii] Lelucon dari hadist lemah berkenaan dengan “jihad terbesar.”

[iv] Simak misalnya Stan Koki, seorang ahli di Pacific Resources for Education and Learning, menyatakan bahwa “All people have a basic need to share stories. Stories organize experiences and record important happenings.” Juga di tempat lain, Jag Bhalla —seorang kontributor di Scientific American— percaya bahwa “We are adapted to physiologically interact with stories. They are a key way in which our ruly culture configures our nature.”

Berkenaan dengan gelora bercerita di media sosial, seorang ahli di bidang pemasaran, Trey Pennington, punya pendapat bahwa media sosial memberikan fasilitas pemenuhan kebutuhan manusia untuk “didengar, dipahami, diperhitungkan.” (cf. Jim Ducharme, “Feeding what humans hunger for with social media”, 2011). Sedangkan keterpautan antara nature manusia untuk bercerita, meledaknya pemakaian media sosial, dan bagaimana orang-orang bisa saluh aruh mempengaruhi untuk bergabung pada sesuatu dapat disimak paradigma “letting them in” (cf. Brandon Telg, Jaron Jones, dan Ricky Telg).

Kajian mengenai selfie atau foto macak diri —tentu yang terkerek bersamaan dengan gelegar pemakaian media sosial— sekarang ini menjadi kajian yang cukup serius dan melibatkan dari berbagai latar belakang bidang ilmu dan dari berbagai negara. Selancari saja misalnya situs selfieresearcher.com.

[v] Khusus mengenai pemberlakuan hukum yang berlandaskan skriptur sebagai sesuatu yang mutlak diberlakukan zonder situasi dan kondisi suatu wilayah, bandingkan dengan konsep moratorium bagi masyarakat muslim di Eropa sebagaimana diusung oleh Tariq Ramadan dan bandingkan juga dengan penjelasan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma kepada kaum khawarij berkenaan dengan “hukum skriptur” dan “penetapan hukum oleh manusia.”

[vi] Berdasarkan wawancara langsung dengan dua pendukung ISIS. Satu orang berinisial RH, seorang perempuan, sudah berangkat ke wilayah ISIS. Satu orang bernama JK, seorang remaja laki-laki, sedang mengumpulkan uang untuk dapat berangkat ke wilayah ISIS. Dari narasumber tangan kedua, saya juga mendapati info bahwa beberapa simpatisan ISIS bekerja apa saja asal halal dan bukan “merampok” orang lain atau “memalak” orang tua dalam rangka mengumpulkan uang agar dapat berangkat ke wilayah ISIS.

Ada pencampuradukan tendensius dan sedikit misleading mengenai jamaah NII (Negara Islam Indonesia) yang menggunakan modus “palak” dan “curi” di dalam mengumpulkan uang (cf. Zulhidayat Siregar, Republika Online) dengan simpatisan ISIS (atau ISIL dan kini menjadi IS (Islamic State) atau Daulah Islamiyah) yang tidak memakai cara serupa itu. Pembuatan cerita heboh mengenai ISIS merupakan hal yang wajar di dalam perang propaganda (cf. narasumber RH dan JK).

Berkenaan dengan iming-iming kemakmuran ekonomi di negara ISIS, dari dua narasumber yang saya miliki disebutkan bahwa kemakmuran tersebut adalah karena mereka meyakini kemakmuran datang pada negeri yang diberkahi. Hijrahnya mereka ke bumi Syam di bawah panji ISIS mereka anggap sebagai penjemputan keberkahan dan ini sifatnya lebih teologis-emosional dan nuansanya sedikit berbeda dengan berita yang dirilis sebuah surat kabar daring dengan narasumber BIN. Walaupun demikian, patut pula disebutkan di sini bahwa hasil dari industri minyak yang dikelola ISIS dikabarkan digunakan untuk penggajian untuk para fighter dan komandan para fighter. Sekali lagi, yang digaji adalah para fighter dan komandannya (bdk. Waleed Aly).

Jikalau kita menyimak alasan dari kedua narasumber saya mengapa mereka berhijrah maka alasan menjemput nubuah mengenai negeri yang diberkahi di akhir zaman yang berada di bumi Syam-lah yang menjadi penggerak mereka. Kedua narasumber saya berniat bukan untuk menjadi fighter atau komandan fighter kecuali hanya ingin menjadi warga negara Daulah Islam yang ditegakkan oleh ISIS. Tambahan pula, sebagaimana sumber-sumber informasi yang saya miliki menunjukkan bahwa untuk hijrah menuju bumi Syam membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan menempuh risiko luar biasa —semisal ancaman dicabut kewarganegaraannya sebagaimana digaungkan oleh pejabat di pemerintahan Indonesia atau dicap sebagai bagian dari gerakan teroris— sehingga pernyataan bahwa mereka yang hijrah ke bumi Syam adalah karena iming-iming ekonomi dapat dikatakan tidaklah begitu tepat.

Additional Note:

Laporan Zulhidayat Siregar dalam Republika Online yang memakai atribut NII Kartosuwiryo sebagai ilustrasi pewarnaan berita, menurut saya tidak tepat. Sepanjang pendek tahu saya, NII Kartosuwiryo dengan NII yang termuat di dalam pelaporan beritanya “berbeda” meskipun sama-sama memakai singkatan NII. NII dalam reportase itu nampaknya berciri NII KW 9 dan bukan NII yang senapas dengan NII Kartosuwiryo atau kadang disebut dengan DI/TII.

Sepanjang kita tahu, simpatisan ISIS jikapun melakukan aksi “palak” atau “curi” atau “serangan,” di daerah yang bukan daerah perang terbuka, ditujukan hanya kepada kepolisian [karena dianggap sepayung dengan densus 88 yang memusuhi mereka] atau simbol kapitalisme Barat —bank atau supermarket— bahkan kadang memakai serangan “bunuh diri” dan belum pernah ditujukan aksi tersebut kepada rakyat sipil atau kerabat kecuali collateral.

NII KW 9 tidak pernah mengenal serangan frontal fisik kepada lembaga negara kecuali serangan secara naratif yang disebarkan secara internal dan belum pernah tercatat kisah “serangan bunuh diri.” NII KW 9 juga sangat kecil mendukung ISIS karena model ideologi-nya berbeda. Ada yang menyebut NII KW 9 lebih afiliatif terhadap kepentingan pendulangan suara di dalam pemilu oleh partai yang membutuhkannya. Ini berbeda dengan NII Kartosuwiryo (DI/TII) yang cita-cita berdirinya negara dengan hukum skriptural memiliki kesamaan napas dengan ISIS. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jikalau beberapa anak keturunan simpatisan NII Kartosuwiryo (DI/TII) bersemangat mendukung dan berangkat menjadi warga negara ISIS.

Kisah NII Kartosuwiryo atau DI/TII yang disebut sebagai “sebuah pemberontakan” bisa dinikmati lewat sebuah buku apik tulisan Cornelis Van Dijk yang diterbitkan oleh Koninklijk Instituut voor taal Land en Volkenkunde yang terjemahan ke dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Grafiti Pers pada tahun 1983 dengan judul Darul Islam Sebuah Pemberontakan.

Secara singkat, Kartosuwiryo melihat bahwa perjanjian Renville telah membuat vakum kekuasaan di wilayah Jawa Barat. Vakum kekuasaan ini dimanfaatkan oleh Kartosuwiryo untuk mendirikan sebuah negara yang diidamkannya yang berbeda dengan konsep negara yang dikomandoi Sukarno dengan nama Darul Islam.

Gerakan lain yang kadang dikaitkan dengan penegakan hukum skriptur yang berjalan dengan sistem kekhalifahan (bentuk pemerintahan di mana pemimpin negara ditunjuk oleh sekumpulan alim ulama) tidak lewat jalur demokrasi sehingga gerakan kadang dianggap ekstremis (tentu atribut ini muncul karena narasi besar dan dominan dunia adalah demokrasi) adalah Hizbut Tahrir (HT).

Sepanjang pendek tahu saya, karakteristik HT di tiap negara berbeda dan juga kebijakan tiap negara terhadapnya juga berbeda. HT di Rusia, Cina, dan Mesir yang dianggap terlalu keras dan dilarang, di UK dianggap keras namun tidak di-banned [tentu juga berkat sumbangsih retorika pemimpin flamboyannya], sedangkan di Indonesia HT meskipun tampak garang namun tidak di-banned. Nampaknya kebijakan pelarangan tiap negara terhadap HT yang berbeda selain mencerminkan kondisi politik dalam negeri suatu negara terhadap gerakan sayap kanan dan atau potensi oposan terhadap pemerintah tirani yang berkuasa juga kadang dipengaruhi kadar islamophobia terhadap isu semisal “creeping sharia.”

[vii] Sebagai muslim, saya percaya nubuah bumi Syam namun dalam konteks ISIS saya cenderung menahan atau bisa dikatakan menolak bersebab ketidakjelasan muasal dan juntrungnya. 

[viii] Disclaimer, bagian tulisan ini yang berkenaan dengan ISIS tidak dalam posisi menilai ISIS —baik mendukung atau menolak— kecuali berusaha netral mendudukkannya dalam konteks yang penulis sedikit ketahui mengenai kisruh di Syam.

Pandangan mengenai ISIS di kalangan mayoritas umat Islam di Indonesia bisa dirujuk kepada pernyataan sikap FU-MUI yang dapat diakses lewat situs MUI.

Mengingat faksi yang terlibat perang di Suriah (dan Irak) sangat banyak dan ISIS (atau IS atau ISIL atau Daulah Islamiyah atau Daesh) hanyalah satu di antara faksi maka perlu dipahami bahwa “orang yang pergi ke Suriah” atau “alumni Suriah / pulang dari Suriah” sangatlah tidak bijak —dan ini “sengaja” dilakukan media massa dan beberapa “pakar teroris”— untuk dicap sebagai bagian dari ISIS atau simpatisan ISIS atau anggota cell ISIS.

  • Ada yang berangkat ke Suriah karena meyakini “rumah besar” yang dinubuahkan sudah datang sehingga mengharuskan diri untuk “hijrah.” Ini bisa menjawab lontaran tanda tanya Sydney Jones (“pakar teroris” Australia) mengapa ada perempuan dan anak-anak dari negara-negara tertentu berangkat ke Suriah dan bergabung menjadi warga negara —dan bukan melulu sebagai fighter-nya— ISIS.
  • Ada yang berangkat ke Suriah dalam rangka misi kemanusiaan. Entah murni kemanusiaan tanpa memandang Sunni atau Syiah, entah misi kemanusiaan ber-banner salah satu dari Sunni atau Syiah. Kisah perang Suriah jangan pernah dilupakan, bukanlah melulu mengenai ISIS namun juga ada peperangan antar Sunni-Syiah, antara pelawan rezim Bassar al Assad dengan tentara rezim Bassar al Assad, peperangan antara kepentingan proksi Amerika Serikat-Arab Saudi dengan Suriah-Iran-Russia. Tiap faksi ini memiliki agenda sendiri-sendiri.Bahkan faksi-faksi ini berselisih pandangan dan visi dengan ISISMenstempel semua fighter di Suriah yang bukan tentara dari negara proksi Amerika Serikat-Arab Saudi dan Suriah-Iran-Russia sebagai bagian dari ISIS adalah tindakan gegabah. Bagi sebagian muslim, fighter-fighter yang berada di Suriah melawan Bashar al Assad dan bukan bagian dari ISIS [beberapa malah sangat anti terhadap ISIS] dianggap perwakilan dari “fardu kifayah”-nya umat Islam seluruh dunia kepada kekisruhan yang membuat korban sipil umat Islam Suriah berjatuhan.
  • Faksi-faksi dari para fighter-fighter di Suriah yang anti-ISIS memandang bahwa ISIS sering gegabah terhadap saudaranya Muslim [Sunni] dan juga mempertanyakan mengapakah ISIS tidak membuka konflik frontal dengan Iran dan Israel atau ada juga yang punya pendapat bahwa ISIS adalah memang bentukan Amerika Serikat dan Abu Bakar al Baghdady adalah seseorang yang bernama Simon ElliotBahkan ada yang mempertanyakan keabsahan pengangkatan Abu Bakar al Baghdady menjadi khilafah. Lainnya, semisal Mufti Menk, melihat bahwa ISIS sangat “terrible” dan “tidak mengikuti teladan Rasulullah saw.”

  • Ada juga yang berangkat ke Suriah dalam rangka meniatkan diri menjadi fighter di salah satu faksi yang bukan ISIS. Sepanjang telusuran saya, mereka yang berangkat ke Suriah untuk menjadi fighter —apapun faksi yang dibelanya— menyempatkan diri untuk berfoto pacak diri (selfie) ketika sampai di tanah asing tujuan mereka. Manuel Avilés-Santiago mempunyai angle yang lebih tepat dalam perkara foto macak diri para fighter yang berjuang di tanah asing ini. Avilés-Santiago yang merupakan Assistant Professor of Communication and Culture in the College of Letters and Sciences di Arizona State University, USA di dalam bukunya yang berjudul Puerto Rican Soldiers and Second-Class Citizenship: Representations in Media (2014) menunjukkan bahwa representasi para fighter —dalam risetnya adalah “tentara”— di media massa konvensional dan unggahan foto macak diri mereka lewat media sosial menunjukkan hal yang berbeda. Tentara, fighter, pejuang ideologis, atau apapun dan siapapun yang berperang di tanah jauh tetap punya rindu pada tanah kerabat yang jauh sebab mereka juga manusia. Foto macak diri oleh mereka yang diunggah lewat media sosial adalah salah satu cara berkomunikasi kepada tanah kerabat yang jauh.
  • ISIS konon mengenal definisi “jihad thalabi” yang sangat berbeda dengan faksi-faksi fighter yang ada di Suriah sehingga mengaitkan “orang yang bertaut” dengan Suriah selalu sama dengan ISIS dan atau aksi-aksi yang dikhawatirkan timbul dari duga pertalian dengan ISIS adalah “sangat misleading.”
  • Alasan lain berkenaan “pergi atau pulang dari Suriah” yang harus dibedakan dengan “bergabung atau mendukung ISIS” adalah:
    1. Wilayah Suriah berbeda dengan wilayah ISIS. Jadi pergi atau pulangnya seseorang ke atau dari Suriah harus ditelisik dengan jeli karena “wilayah Suriah” tidak selalu sama dengan “wilayah yang dikuasai ISIS.” Suriah adalah sebuah negara yang dipimpin oleh Bashar al Assad. Bashar al Assad ini oleh banyak negara disebut sebagai rezim yang kejam meskipun Bashar al Assad menolak alasan-alasan yang menuding dirinya layak disebut sebagai seorang presiden yang kejam di dalam sebuah wawancara dengan BBC. Wilayah ISIS adalah wilayah yang dikuasai oleh fighter ideologis di bawah pimpinan Abu Bakar al Baghdadi yang membentang di sebagian “wilayah yang dicaplok dari sebagian wilayah negara Suriah dan Irak.”
    2. Terkait dengan warga negara Indonesia, bahkan hingga kini masih ada beberapa warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di Suriah. WNI ini bekerja laiknya sebagai pekerja Indonesia lain yang mencari nafkah di negeri orang. Mereka ini tidak boleh serampangan disebut sebagai pendukung dan atau terkait dengan ISIS.

Di dalam perkembangan mengenai ISIS, laporan dari berbagai sumber semisal Vice News dan The Guardian menampilkan ISIS sebagai “bukan lagi sekumpulan teroris” namun secara pelan dan terencana berkembang menjadi sebuah negara yang fungsional. Di dalam film dokumenter yang dibuat oleh Medyan Dairieh, wartawan kelahiran Palestina, ISIS diperlihatkan sudah menguasai beberapa wilayah di sebagian Suriah dan Irak serta “mulai” mendirikan negara dengan struktur pemerintahan yang fungsional.

Pemerintahan —kalau boleh disebut sebagai negara yang mulai fungsional— ISIS selain sudah mempunyai struktur pemerintahan yang fungsional, mereka juga sudah mulai membangun infrastruktur, mengatur keperluan warga sehari-hari seperti listrik, air, transportasi umum, dan sekolah, dan menggerakkan industri minyak. Dukungan terhadap pemerintahan ISIS oleh warga sipil [sunni] yang berada di wilayah dikuasai ISIS juga mulai meningkat bersebab mungkin tidak ada pilihan yang lebih baik bagi mereka atau mungkin juga karena pajak yang ditarik ISIS —dalam konteks kewarganegaraan— jauh lebih sedikit dibanding besaran pajak dari pemerintahan sebelumnya. Waleed Aly, seorang pengajar di Monash University yang mempunyai ketertarikan kepada isu Timur Tengah, menggambarkan warga sipil [sunni] di wilayah yang dikuasai oleh ISIS sebagai “trapped.” Mereka tak mau kembali ke kuasa Bashar al Assad yang Syiah atau pemerintahan Irak sekarang yang memojokkan Sunni, sedangkan di sisi lain mereka tidak percaya kepada Amerika Serikat yang bersejarah buruk terhadap kisah-kisah sebelumnya di negara-negara konflik Timur Tengah.

Film dokumenter dari Vice News

Laporan dari The Guardian

The Isis Papers: Leaked Documents Show How ISIS is Building Its State

Klarifikasi dari Medyan Dairieh mengenai film dokumenter yang dibuatnya mengenai ISIS di dalam sebuah wawancara di dalam sebuah acara yang ditayangkan oleh jaringan media Al Jazeera

Dus, menjadi menarik apabila ISIS memang benar-benar berdiri sebagai sebuah negara teokrasi yang diakui oleh negara-negara lain. Apakah konsep “jihad thalabi” mereka akan berubah? Dalam perjalanan itu, juga akan menarik apabila membandingkan dukungan kepada negara Israel dimiripkan dengan dukungan terhadap negara ISIS karena baik Israel —dalam konteks tertentu— dikaitkan dengan negara yang muncul lewat aksi “terorisme” sebagaimana diceritakan Bruce Hoffman dalam Anonymous Soldiers: The Struggle for Israel, 1917-1947 (2015) dan dalam perjalanan waktu bahkan ketika sudah disebut sebagai negara yang dicap oleh beberapa orang, semisal Presiden Bolivia Evo Morales, meski sudah berdiri sebagai sebuah negara, melakukan tindakan terorisme.

Jika hal seperti ini dibenarkan, maksud saya pemiripan dukungan kepada negara Israel boleh dan sah disamamodelkan dengan dukungan terhadap negara ISIS merujuk kepada data dan fakta yang dibeberkan oleh Bruce Hoffman dan tudingan Evo Morales, maka saya bisa membayangkan beberapa tokoh Indonesia akan lebih berhati-hati di dalam memposisikan dalam pembicaraan dukungan bukan hanya terhadap ISIS namun juga harusnya juga terhadap Israel. Tentu saja pilihannya tinggal dua: menentang atau netral terhadap kedua negara tersebut. Sebab menimbang kemiripan keduanya —Israel dan ISIS— dalam konteks cap “terorisme” maka dukungan kepada salah satu di antara keduanya dan penistaan atas lainnya adalah sebuah lelucon yang serius. Tentu kecuali jika hendak parsial dan atau memang punya dasar justifikatif pembedaan pilihan di antara dua negara tersebut.

[ix]Maisser, Georg. 2007. “Terrorism. On the Perception and Justification of Violence.” in Indecent Exposures, ed. V. Walker, Vienna: IWM Junior Visiting Fellows’ Conferences, Vol. 22.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s