Home » Essay » Perkara Cipta Ulang Kreatif, Adaptasi, dan Inspirasi

Perkara Cipta Ulang Kreatif, Adaptasi, dan Inspirasi

Vladimir Yakovlevic Propp lewat The Morphology of the Folktale (Morfologiya skazki, 1928) tidak begitu mendapat respon yang positif di negara tempat asalnya. Baru kemudian terjemahan sederhana dari bukunya ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1958 dan lalu terjemahan yang lebih memadai pada tahun 1968 membuatnya terkenal ke seluruh dunia. Studi Propp yang tertuang di dalam bukunya itu menyingkap bahwa narasi yang ada di dalam tradisi folktale (tutur cerita rakyat) Rusia memiliki keidentikan functionFunction ini kurang lebih semacam subset plot yang membentuk struktur keseluruhan narasi. Folktale Rusia di dalam kajian Propp dimulai dengan absentation (hero yang sedang meninggalkan keluarganya atau kampungnya atau kerajaannya), villain masuk ke dalam narasi, dan seterusnya dan seterusnya, dan diakhiri dengan villain yang berhasil dikalahkan berlanjut kepada hero yang mendapatkan reward (menjadi raja, atau menikah, atau naik posisi).

Studi Propp begitu penting karena mengukuhkan potensi kajian strukturalisme di dalam kajian sastra. Yang sebelumnya kegairahan terhadap keidentikan narasi hanya bisa didapati pada studi sejarah (teks) agama (mis. variasi narasi Yesus (pbuh)) atau yang kini dikembangkan dan dijadikan pegangan kaum creationist di dalam berbicara mengenai origin (mis. Kisah Banjir Besar), dengan temuan Propp gairah terhadap studi terhadap folklore dari negara atau kebudayaan lain menjadi muncul. Temuan-temuan dari studi yang disulut oleh karya Propp menunjukkan bahwa folklorefolklore yang ada di dalam suatu budaya struktur narasinya cenderung identik meskipun personage-nya berbeda-beda. Jadi bisa dikatakan ada cipta ulang kreatif di antara folklore yang ada.

Cipta ulang kreatif bisa juga terjadi pada genre lain dan dengan model modus yang lain. Perkara cipta ulang kreatif yang jenius dalam sajak, tolehlah Chairil Anwar. Di dalam karir persajakannya, bisa saja dikatakan bahwa Chairil adalah pencipta ulang dan pengadaptasi yang ulung. Buku HB Jassin yang membicarakan (dan membela) karya Chairil Anwar dengan judul Chairil Anwar, Pelopor Angkatan ’45 yang terbit pertama kali pada tahun 1956 oleh Penerbit Gunung Agung Jakarta menunjukkan bagaimana sajak semisal “Karawang-Bekasi” merupakan cipta ulang kreatif dari sajak Archibald Macleish yang punya judul “The Young Dead Soldiers Do Not Speak.”

KARAWANG-BEKASI THE YOUNG DEAD SOLDIERS DO NOT SPEAK
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, Nevertheless they are heard in the still houses: who has not heard them?
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

They have a silence that speaks for them at night and when the clock counts.
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.

They say, We were young. We have died. Remember us.
Kami sudah coba apa yang kami bisa They say, We have done what we could but until it is finished it is not done.
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa They say, We have given our lives but until it is finished no one can know what our lives gave.
Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

They say, Our deaths are not ours: they are yours: they will mean what you make them.
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan

atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

They say, Whether our lives and our deaths were for peace and a new hope or for nothing we cannot say: it is you who must say this.
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta

menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat

Berikan kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

They say, We leave you our deaths: give them their meaning: give them an end to the war and a true peace: give them a victory that ends the war and a peace afterwards: give them their meaning.
Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu We were young, they say. We have died. Remember us.
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Walaupun demikian, Jassin membela praktik persajakan Chairil tidak dengan istilah plagiarisme —karena tidak membubuhkan nama penyair aslinya— namun sebagai kreasi saduran atau adaptasi (hlm. 36).  Meskipun, aneh juga bahwa pada halaman sebelumnya Jassin menyiratkan bahwa Chairil bisa disebut melakukan plagiarisme (hlm. 10) lewat sajak-sajak saduran di antaranya dalam “Rumahku,” “Kepada Peminta-minta,” dan “Orang Berdua (Dengan Mirat)” (hlm. 31) namun Jassin bersikeras bahwa sajak-sajak “saduran” yang didaku Chairil Anwar ini terdapat “dunia-nja sendiri.”

“[Sajak-sajak ini] bukan hanja terdjemahan. Sadjak Chairil mempunjai dunianja sendiri. … Dalam penjaduran Chairil ada pemikiran, pendalaman, penggodokan dalam situasi penjair sendiri” (hlm. 24)

Ambillah contoh sajaknya MacLeish. Memang jika dicermati, Macleish di dalam sajaknya “The Young Dead Soldiers Do Not Speak” berbicara mengenai prajurit-prajurit muda, perang, dan bagaimana perdamaian berharga semahal nyawa prajurit-prajurit muda, sajak Chairil berbicara mengenai prajurit (yang kebetulan mati dalam usia muda), ajakan untuk terus berjaga di dalam mengukuhkan keloyalan dan melanjutkan impian kemerdekaan lewat perjuangan melawan penjajahan, dan kespesifikan tempat (Karawang-Bekasi). Kreasi adaptatif ala Chairil terhadap sajak Macleish ini —dengan label “saduran”— bisa dibandingkan juga dengan sajak Chairil “Catetan Tahun 1946” yang memindah-mindah larik dari sajak Donald Bain yang berjudul “War Poet” yang terkumpulkan di dalam antologi puisi Poems from New Writing 1936-1946 karya John Lehmann.

Benar bahwa inspirasi —atau istilah yang berulangkali dipakai Jassin di dalam membela Chairil: pengaruh— bisa datang dari mana saja. Sengaja maupun tidak sengaja, disadari atau tidak disadari, diakui ataupun sengaja disembunyikan, interaksi dengan orang lain, budaya lain lewat apa yang seseorang baca atau dengar membuat ide kreatif seseorang tidak bisa dikatakan seratus persen murni. Selalu ada karya atau teks atau ide-sebelum sebelum karya atau teks atau ide kita muncul. Jejalin struktur ini silang kelindan taut mentaut kait mengkait, ada interseksi, tumpang tindih, dan pengutipan tak beraturan [dari sumber-sumber inspirasi-sebelumnya] di dalam membentuk format atau struktur baru.

Teladan yang kompleks dalam hal silang kelindan tersebut misalnya bagaimana Kate Bush mengartikulasikan kisah di dalam karya Emily Brontë Wuthering Heights (1847) lewat dendang bertitel sama yang dirilis tahun 1978. Dendang Kate Bush sendiri ber-content novel Wuthering Heights sedangkan form-nya besar jadi kena pengaruh dari “Brandy”-nya Scott English yang keluar tahun 1971. Kate Bush sendiri di dalam sebuah acara gelar wicara mengakui bahwa ia mendapat inspirasi buat “Wuthering Heights”-nya dari salah satu adegan di dalam film “Wuthering Heights” saat Cathy berdinginan di luar rumah melongok lewat jendela. Dari situlah Bush kemudian butuh membaca novel Wuthering Heights dan lahirlah dendang pop yang menyelisihi tren saat itu dengan judul yang sama … dan sukses.

“Brandy,” yang diyakini sebagian orang sebagai sumber form dari “Wuthering Heights”-nya Kate Bush, ini juga unik karena pernah menjadi hits di tahun 1971 namun butuh menjadi “Mandy” cuman gara-gara Barry Manilow di tahun 1974 tak mau pendengar dendangnya tercampur gambaran ‘wanita hebat yang disia-siakan si aku lirik’ yang hendak dia dendangkan ulang dengan “Brandy” ‘wanita fine yang tidak tercampakkan kecuali tahu risiko untuk tetap mencintai seorang pelaut’ yang didendangkan oleh Looking Glass di tahun 1972. Dan yang utama adalah, Brandy-nya Scott English bercerita tentang aku-si-lirik yang bukan pelaut.

Atraksi pada kisah Brandy justru menimbulkan pertanyaan menarik. Adakah Brandy yang dibayangkan oleh Scott English kemudian berubah manakala Brandy ‘yang dicampakkan’ diubah menjadi Mandy ‘yang dicampakkan’ pun dengan dalih penghindaran rancu imaji dengan Brandy ‘pencinta seorang pelaut’? Toh misalnya disebut kalau nama tidaklah terlalu penting sebagaimana Shakespeare punya pendapat, mengapakah dendang Van Morrison mengenai seorang kekasih bermata cokelat —anggap ini sebagai penamaan— yang muncul belakangan bersebab rasa yang dapat diterima pasar sejatinya sungguh berbeda nuansa, abstraksi, visualisasi-nya dengan kekasih berkulit cokelat yang merupakan sumber ide awal seperti ada di dalam “Brown Eyed Girl”? Bukankah perhatian akan implikasi imaji akan gadis bermata cokelat sungguh berbeda dengan gadis berkulit cokelat terhadap Van Morrison, seorang kulit putih Eropa, di tahun-tahun itu membuat gadis ‘yang bernama x’ bukan menjadi gadis ‘yang bernama x’ lagi?

Wuthering Heights - Kate Bush

Teladan mengenai imaji seseorang dalam dendang Van Morrison bolehlah disandingkan dengan apa yang yang terjadi pada “You’re so Vain”-nya Carly Simon yang muncul di tahun 1972. Bagaimanakah membayangkan imaji seorang laki-laki pada ketunggalan pemakaian kata ganti you sedangkan dendang ini tidak berbicara kecuali hanya pada bait kedua saja berbicara mengenai seorang laki-laki yang bernama Warren Beatty sedangkan bait-bait lainnya berbicara mengenai laki-laki lain dalam hidup Carly?

Perkara cipta ulang kreatif, adaptasi, dan inspirasi tidak pernah tidak menarik. Lihatlah bagaimana teladan lain serupa pada “If You Could Read My Mind” buatan Gordon Lightfoot yang bicara mengenai kepedihan dan pesimisme di tubir perceraian ada yang bilang malah menginspirasi “The Greatest Love of All” yang menyuarakan cinta dan optimisme gubahan Linda Creed yang saat itu sedang bergulat dengan kanker payudara atau bagaimana dialog bapak-anak milik Yusuf Islam yang berisi tentang nasehat untuk berhati-hati di dalam menjalani hidup dan menentukan pilihan saat masih muda telah memberikan inspirasi kepada Eros di dalam dendangnya mengenai seorang kekasih yang mampu memberikan nasehat di dalam menjalani kehidupan dalam “Anugerah Terindah yang Pernah Ku Miliki.” Yang pasti adalah, pesimisme Lightfoot tidak menular namun justru optimisme menyeruak pada gubahan Linda Creed dan pujian atas figur bapak di dalam memberi ancangan hidup seperti yang disuarakan oleh Yusuf Islam bergeser kepada pujian akan jasa seorang kekasih ala Eros.

Jangan lupa juga bagaimana calamity dan appraisal yang Johann Sebastian Bach suguhkan kepada patronnya Prince Leopold of Anhalt dalam “Air on a G String” tidak menular kecuali hanya beberapa chordal element-nya kepada Procol Harum di dalam dendang seronok seks, konsumsi alkohol, dan penuh kegelisahan “Whiter Shade of Pale” yang juga berbeda dengan calamity bercampur kegalauan yang muncul dari dendang SweetBox “Everything’s Gonna be Alright.”

Atau kita ambil contoh lain misalnya “Soleado” yang digubah oleh Ciro Dammico dan dirilis di tahun 1972 sebagai musik instrumentalia bisa berubah menjadi lagu bercintaan sepasang kekasih yang berbeda-beda tema dalam bahasa yang berbeda-beda dan kemudian berubah menjadi lagu tentang Natal ketika komposisi ini diberi lirik mengenai kelahiran seorang anak (Yesus) dari Johnny Mathis di tahun 1976. Versi Johnny Mathis inilah yang besar jadi beri inspirasi buat Pance F. Pondaag untuk bikin lagu nelangsa cinta “Tak Ingin Sendiri” yang dinyanyikan oleh Dian Piesesha pada tahun 1984 lewat rilis kaset terbitan JK Records.

Jikasanya aruh mempengaruhi berlangsung lurus tanpa interseksi, tumpang tindih, ketakberaturan maka contoh-contoh tersebut tidak mungkin terjadi. Cipta ulang kreatif, adaptasi, dan keterinspirasian memungkinkan adanya folklore dengan variasi personage, kebaruan-yang-reduplikatif, dan semua menjadi tidak monoton.

Dari situ jugalah sesuatu yang tak menarik menjadi menarik vice versa. Ambil kisah mata kelainan kelenjar tiroid Grave’s Disease milik Bette Davies yang tidak menarik dan tetap tidak menarik ketika Jackie DeShannon mendendangkannya dengan ogah-ogahan lewat cengkok R&B meskipun sebenarnya berlirik pujian namun menjadi marka keseksian saat Bill Cuomo mengobrak-abrik chord-nya untuk didendangkan oleh Kim Carnes dalam “Bette Davies’ Eyes.”

Minda bisa menari-nari di dalam jungsi semesta tumpang tindih kutipan-kutipan dengan segala kemungkinan sehingga tidak ada yang baru kecuali yang sudah dan tak ada yang sudah kecuali ia berterusan terbarui. Dari situ pulalah kebaruan dan kesegaran selalu bisa muncul. Demikian sekiranya.

Creative Commons License
Perkara Cipta Ulang Kreatif, Adaptasi, dan Inspirasi by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s