Home » Essay » Hujan yang Terkenal Itu

Hujan yang Terkenal Itu

Beberapa hari yang lalu di sini, di Melbourne, hujan datang kepayahan. Siang yang panas selama beberapa hari membuat hujan tak dinyana bakal datang. Siang itu, dengan sedikit awan gelap, terjadilah hujan yang kita kenal itu.

Aku sedang dalam perjalanan pulang dari mengantar ibu dari anakku. Panas hari-hari berturutan, siang itu tiba-tiba terkoyak oleh hujan. Hujan yang menimpa tanah yang panas memberikan bau yang khas: petrikor. Hujan yang barusan turun dengan petrikornya kuyakini selalu memberikan efek sedatif; ketenangan yang membujuk pada lamunan.

Dari hujan itulah sepanjang perjalanan pulang, benakku mengembara tentang hujan. Hujan yang terkenal itu. Hujan memang terkenal di dalam dendang dan sajak. Siapa yang tidak ingat Chrisye dengan “r(d)esah rintik hujan yang tak henti menemani”? Baris ini bisa ditafsirkan dengan sangat indah.

  • Aku resah karena rintik hujan menemani yang tak juga berhenti. Hujan rintik memberikan keresahan pada si-aku-lirik. Ada sesuatu rencana, kegiatan, atau apapun yang hendak dilakukan si-aku-lirik yang terganggu karena hujan rintik datang.
  • Hujan rintik turun dengan resah di musim yang tidak pas atau hujan rintik turun dengan tidak sepenuh hati. Hujan dipersonifikasi dan kalimat itu menggambarkan hujan sebagai entitas lain dalam situasi yang dialami si-aku-lirik.
  • Aku yang resah ditemani rintik hujan yang tak kunjung berhenti. Tafsiran ini dilengkapkan dalam parafrase lirik: (Ada aku yang) resah. Rintik hujan menemani. Hujan rintik tidak memberikan efek apapun kecuali depiksi situasi saat itu.

Pada tafsiran yang pertama kegelisahan si aku muncul karena datangnya rintik hujan di malam yang sunyi. Pada tafsiran yang kedua hujan yang turun rintik menyalahi ketepatan musim sehingga menggelisahkan di malam yang sunyi atau hujan rintik turun sedangkan angin yang kencang menyeharuskan hujan tidak turun rintik (hujan yang rintik turun separuh hati). Sedangkan untuk tafsiran yang ketiga, si aku yang sudah resah (karena memikirkan suatu hal) tanpa diharap justru ditemani datangnya hujan rintik di malam yang sunyi yang tak segera berhenti.

Hujan juga bisa menjadi tempat lemparan kesalahan sebagaimana dendang Milli Vanilli memberi opsi itu namun Rendra melihat hujan adalah sebagai rahmat. Sajak “Kakawin kawin” milik Rendra bisa jadi, lewat cara tertentu, telah memberikan inspirasi bagi dendang milik Chrisye. Tentu saja, sajak milik Rendra mengatakan hujan dengan cara yang berbeda meskipun sama-sama bercerita hujan dan desah. Di dalam dendang Chrisye, hujan-lah yang resah dan mendesah sedangkan Rendra menyebutnya dengan berbeda bahwa kala itu hujan gerimis turun bersama desah dan keluh angin.

Biarpun demikian, hujannya Rendra bukan hujan gerimis yang turun di saat gelisah atau hujan yang menggelisahkan. Hujan milik Rendra adalah hujan yang penuh rahmat bagi percintaan suci (“hujan adalah rahmat / dan rahmat adalah bagi pengantin”), hujan yang tak membuat urung malaikat untuk turun memberkati sebuah acara (“selusin malaikat telah turun”), hujan yang turun adalah metafor sumber kehidupan yang kuat (“semangat kehidupan yang kuat / bagai berjuta-juta jarum alit / menusuki kulit langit:/ kantong rejeki dan restu wingit”), dan hujan juga penting karena “membersihkan jalanan.” Rendra melihat hujan bukan dalam sesuatu yang membuat risau, anginlah yang mendesah, “garang,” “dingin” yang seakan-akan membuat hujan tidak begitu asyik oleh permainan angin.

Hujan punya arti yang berbeda bagi Saut Situmorang. Saut meskipun ada yang menyebut boleh jadi kena pengaruh Pablo Neruda atau ada napas Li Tao-po (Li Bai) di dalam sajak melankoli tentang diri dan alam, selurusnya meneruskan tradisi Rendra.

Ambil teladan misalnya dalam sajak “Karena Laut, Sungai Lupa Jalan Pulang.” Di dalam sajak itu Saut bicara tentang gerimis, basah, dan laut sebagaimana Rendra bicara di dalam Empat Kumpulan Sajak (1961) mengenai hujan gerimis, basah, dan laut. Hujan juga bisa membuat langit iri dan bocah asyik bermain dengannya sebagaimana Rendra berbicara mengenai langit yang iri saat gerimis dan dua bocah menikmati permainan di selokan, Saut melangkah agak lebih jauh dengan imajinasi nakalnya di dalam “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan.”

Hujan adalah mistis. Bukan hanya Rendra atau Saut yang nampaknya berbicara demikian. Hujan tak hanya menjaga keseimbangan alam dan kemurnian air namun ia kerap disebut juga memiliki daya kuratif. Bukankah Material Girl pun berdendang tentang hujan yang “wash away my sorrow, take away my pain,” bahwa ia adalah rahmat yang dinanti? Sesuatu yang dirindukan oleh keringnya keadaan seperti Everything About The Girl bercerita mengenai rindu penaka rindu gurun pada hujan turun?

Hujan adalah mistis sehingga ia pun bisa ditafsirkan bukan sebagai rahmat yang dinantikan saja namun tempa uji yang harus tahan dilalui. Lihat saja bagaimana Buddy Holly bisa mendendangkan “raining in my heart” dengan sangat lembut melankolis. Hujan dimetaforkan sebagai sedu dalam hati yang berlawanan dengan indah cuaca di luar. Atau bagaimana kesuksesan materi dan kepopuleran tidak selalu memberikan keharmonisan dan ketenangan hati sebagaimana hujan ditampilkan sebagai sesuatu yang kurang pas pada saat “coming down on a sunny day” persis seperti CCR berkoar tentangnya.

Hujan yang sedikit berbeda bisa didapati dalam “hujan di hatiku” dari Utara. Hujan di dalam dendang ini apatah merupakan “hujan di hatiku” ala Buddy Holly ataukah ia hujan seperti hujan yang “wash away my sorrow” ala Material Girl? Bagaimana ia ditafsirkan dengan tepat sementara dendang kepiluan menyiratkan “hujan di hatiku” sebagai kesedihan, ujian, yang sedang dialami hati sebagaimana judulnya mengatakan demikian sedangkan pada chorusnya justru dinyatakan bahwa hujan itulah yang akan menyembuhkan? Ataukah ambiguitas ini merupakan sarkasme di dalam menikmati dera luka hujan sebagaimana Garbage yang bersuka cita pada datangnya derita lewat “Only Happy when It Rains”? Benarkah Utara menikmati “hujan di hatinya” sebab kelak justru “hujan itu” bisa menjadi purifikasi atau semacam penebusan akan kisah cinta yang miserable?

credit: wikimedia commons

Hujan (credit: wikimedia commons)

Dan dari segala hujan yang ada, potret tentang hujan yang begitu magis bisa diperoleh lewat baris sajak Chairil Anwar. Chairil bilang: “Gerimis mempercepat kelam./ Ada juga kelepak elang // menyinggung muram.”

Dua kalimat ini begitu magis. Chairil tidak memilih “hujan” saja atau “hujan deras (berangin dan atau berpetir).” Ia butuh “gerimis” untuk menjelaskan keadaan saat itu. Ia bisa merupakan potret dari keadaan yang “memang gerimis” namun ia bisa sebagai sebuah metafora dari keadaan saat itu dan tentu saja yang beginian membuka pemaknaan dari gabungan keduanya.

Sajak ini, “Senja di Pelabuhan Kecil,” memang magis. Ia seperti sebuah sajak lukisan, atau malah, sajak sinematis. Hujan yang “gerimis” memberi kesempatan bagi “kelepak elang” untuk terdengar orang yang sedang bersendirian dan pengap harap. Keadaan yang sendiri dan pengap harap hanyalah keadaan yang bisa membuat seseorang di pelabuhan bisa merekam hal-hal yang bisa ia catat untuk dikutuk dalam sajak yang muram. Hujan yang “tidak gerimis” akan merusak lukisan dari fokus akan laki-laki yang sedang berjalan itu. Gerimis harus ada di sana untuk memberikan kemuraman, kedinginan, kesedihan, dan cuaca yang sedang tidak bersahabat. “Hujan yang deras” akan memusykilkan keterdengaran “kelepak elang.” Dan, “kelepak elang” inilah yang juga turut menyinggung muramnya suasana saat itu: sendiri dan mess-up. Gerimis juga signifikan di dalam memberikan efek pada cepatnya kelam jika dibandingkan dengan tiadanya hujan sama sekali. Dan tentu saja “senja [yang seperti itu] di pelabuhan yang kecil” justru secara sinematis maupun metaforis kian menambah kemuraman dan kesepian jika hendak dibandingkan dengan hanya “senja saja di sebuah pelabuhan [biasa/besar].”

Ya, tiba-tiba saja aku teringat pada baris sajak itu, “Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang” dalam perjalanan aku pulang ke rumah. Hujan memang bisa membawa pikiranmu ke mana saja. Mungkin karena ia adalah sesuatu yang disruptif pada keadaan yang sedang kita hadapi atau bisa jadi petrikor yang sedatif meningkatkan kadar serotonin di otak hingga muncul ngelangut, yang bukan bengong, namun idle yang serupa ekstase.

Hujan, ya hujan yang terkenal itu, muncul di luar perkiraan di musim panasnya Melbourne. Dan bagaimanapun hendak hujan hadir dan atau diberi makna kehadirannya, ketika kita ingat akan sebuah nasehat tentangnya, mulut bisa berbisik penuh harap: “Pemilik Semesta Alam, jadikan hujan yang turun ini membawa manfaat dan kebaikan.”

Rowville – Clayton (via Wellington Road), Melby, Desember 2015.

Creative Commons License
Hujan yang Terkenal Itu by Dipa Nugraha is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s