Home » Selected Contemplation » Perubahan

Perubahan

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Kecuali waktu tak bergeming, jarum jam tidak beranjak, maka tak ada perubahan terjadi. Dus, perubahan tak bisa dihindari.

Perubahan bisa menakutkan namun bisa juga menyenangkan dan atau mencerahkan. Jikasanya perubahan selalu berarti menyenangkan dan atau mencerahkan pastilah tidak ada yang ribut akannya.

Saat perubahan telah dipahami dengan proses yang terikat dengan bergeraknya waktu maka perubahan adalah proses menuju keadaan di masa mendatang. Syahdan, terdapatlah ucapan yang penuh hikmah bahwa keadaan di masa mendatang yang lebih baik disebutlah keadaan tersebut sebagai sebuah keberuntungan. Sebaliknya, keadaan di masa mendatang yang berkurang kebaikan disebutlah sebagai kerugian. Benarlah isi dari perkataan ini. Oleh sebab perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan melibatkan banyak faktor karena itulah dipakai istilah keberuntungan bagi keadaan di masa mendatang yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.

pic credit: inceif.org

Perubahan (pic credit: inceif.org)

Walaupun semua tahu bahwa perubahan adalah sebuah hal yang niscaya, beberapa orang kalis dengan perubahan. Kekalisan terhadap perubahan bisa dikarenakan ia berada dalam posisi yang nyaman; tidak ada beban dan konflik. Pada beberapa orang lainnya, kekalisan terhadap perubahan bisa terjadi karena ia tidak pernah melihat hidup atau berusaha melihat hidup penuh dengan hikmah kebijaksanaan.

Mari kita tengok kisah Bruce Hornsby. Bruce saat menulis “The Way It Is” sebenarnya sudah melihat ketimpangan yang ada di sekitarnya. Ia melihat dan menuliskannya dalam sebuah dendang yang melankolis. Masalahnya adalah ia bukan berasal dari kelompok marjinal. Ia kulit putih dan berasal dari keluarga kaya. Bapaknya seorang jaksa dan juga pengembang lahan yasan. Benar bahwa Bruce kecil dididik di dalam keluarga relijius sehingga ia lebih bisa merasakan ketimpangan namun sebagaimana Kartini melihat ketimpangan yang ada sebagai perlunya kebijakan yang lebih baik oleh Belanda di dalam “mengurus” pribumi saja dan bukan perlunya Belanda sebagai biang kesengsaraan dan harus segera angkat kaki, Bruce dengan ragu-ragu dan suara lamat-lamat menyuarakan perlunya perubahan demi kemanusiaan dan perbaikan hidup kelompok marjinal. Bukankah Kartini yang sejak kakeknya sudah mendapatkan peluk mesra dan keistimewaan dari Belanda juga tidak terlalu radikal di dalam menyuarakan perubahan? Mungkin semua akan berbeda jika Bruce atau Kartini berasal dan besar dalam keluarga dan kehidupan yang marjinal.

Meskipun demikian, bukan berarti Bruce dan Kartini tidak kemudian disebut tidak kasih inspirasi bagi perubahan yang lebih besar. Kadang, atau malah sering, suara lamat-lamat bisa menginspirasi perubahan yang lebih radikal. Dendangnya Bruce dipakai oleh 2Pac Shakur untuk membuat dendang yang lebih ganas dan trengginas lewat “Changes” sepenaka konon Kartini berubah menjadi ikon perempuan yang radikal [dan bukan lamat bersuara] ketika imajinya dipoles dengan propaganda oleh Gerwani di tahun 50-an atau kalau kini direka ulang oleh kaum feminis liberal. Bicara perekayasaan imaji sebuah tokoh menjadi lunak, moderat, radikal, murah hati, atau keji maka siapapun bisa bicara mengenai bagian mana dari semua pernyataan atau fragmen hidup dari sebuah tokoh hendak dicuplik untuk dibuatkan narasi yang khusus. Yang beginian memang terkait dengan agenda dan sifatnya politis.

Si Fulan yang memimpin penumpasan gerombolan pemberontak bisa saja disebut sebagai seseorang yang pahlawan namun bisa saja disebut sebagai penjahat kemanusiaan. Semua tergantung bagaimana narasi mengenai si Fulan ini dianyam. Penganyaman narasi tidak pernah tidak netral. Sebuah cerita yang baik, sebuah narasi, membutuhkan pahlawan dan penjahat bukan? Jika penganyam narasi meletakkan semua menjadi pahlawan, lalu bagaimana jalan cerita menjadi plausible dan enak diceritakan? Jika tidak ada pahlawan untuk dihurakan dan diperingati dan penjahat untuk dikutuksumpahi, bagaimana dongeng sebelum tidur bisa memberikan propaganda kepada bocah-bocah yang bakal meneruskan kehidupan dan impian situa-tua akan keadaan di masa depan atau mungkin membalaskan dendam atas kekalahan para pecundang?

Ah, kalau yang beginian, kita akan teringat kepada Rashomon! Ya, Rashomon mengajari kita bagaimana sebuah peristiwa bisa diceritakan sesuai “kebutuhan” penganyam cerita atau penyebar cerita. Tentu, semua memiliki argumen masing-masing atas versi cerita yang mereka buat atau sebarkan.

Piye Kabare Le (pic credit ModDB Community)

Piye Kabare? Bukan salah dan bodoh sopir truk jika ia mempunyai versi sendiri mengenai kebaikan dan kemajuan di masa pemerintahan Soeharto dibandingkan keadaan di masa pemerintahan Jokowi (pic credit ModDB Community)

Kembali kepada 2Pac. 2Pac tahu bagaimana hidup dan kehidupan kelompok marjinal. Ia mengalami kehidupan yang sangat keras dan solid serta gilanya persaudaraan thug. Itu jika kita sempat mentrenyuhi “Life Goes On.” Bukankah ia begitu radikal sehingga bisa memimpikan surga bagi kaumnya; marjinal dan thug?

Perubahan adalah niscaya; entah berjalan dengan pelan atau cepat atau berjalan dengan moderat atau radikal. Lepas dari itu, saat mengatakan perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari sedang di sisi lain ia berada di masa akan datang, cara setiap orang melihat perubahan atau menginginkan bagaimana perubahan dilakoni berbeda-beda tergantung pada keadaan masing-masing. Kisah Bruce dengan 2Pac adalah sebuah contoh bagaimana keinginan perubahan pada fenomena yang sama; pada tragedi yang sama, diniatkan berjalan dengan cara berbeda. Atau dalam konteks yang lebih umum, perubahan yang tak terelakkan kerap diinginkan dengan cara yang berbeda tergantung keadaan masing-masing.

Lain lagi dengan perubahan bagi mereka yang hidup dengan tidak arif melihat dan menyikapinya. Bagi yang bijak melihat bagaimana perubahan bisa dan memang diinginkan berbeda sesuai dengan keadaan masing-masing, mereka akan meraih jalur kompromi. Jalur kompromi bisa mengakomodasi perubahan yang dinginkan secara berbeda tiap orang sehingga minim kekalisan dan konflik. Mereka yang tidak arif menginginkan bagaimana perubahan terjadi, biasanya karena terlalu bernafsu, egois, dan atau delusional. Yang muncul dari keinginan yang seperti ini biasanya chaos atau penindasan baik di dalam proses maupun di dalam “hasil sementara” dari titik yang hendak dicapai dan disebut sebagai keadaan yang berubah itu.

Ah, mereka yang rakus, gelap mata, dan atau delusional!

Dan perubahan karena melibatkan begitu banyak faktor di dalam perjalanannya, membuat ia menjadi sesuatu yang tidak pasti. Sesuatu yang tidak pasti, konon membuat manusia menjadi takut, cautious, khawatir, atau ketar-ketir. Di satu sisi hal ini baik karena ketidakpastian membuat manusia menjadi lebih matang dan berhati-hati membuat langkah dan terkondisikan merancang cita-cita namun di sisi lain -bagi yang religius- kian mengukuhkan betapa lemahnya manusia di dalam kompleksnya kehidupan dan betapa Tuhan hanyalah satu-satunya tempat bersandar atas segala ketidakpastian.

Dan takut, dan takut memang manusiawi. Itu mengingatkan kita pada kisah Stevie Nicks saat ia berada pada cabang penentu langkah besar di dalam hidupnya. Ia berada pada pilihan serupa Robert Frost yang terpaku sejenak berkontemplasi adakah ia hendak meneruskan usaha perkebunan milik bapaknya atau ke kota menjadi penyair dan mungkin bisa berkecukupan dan terkenal. Dua pilihan yang berat. Ia merasa tak punya hasrat berjamahan dengan pohon perkebunan dan lebih bersuka dengan sajak-sajak mengenai alam. Robert adalah pribadi imajinatif dan bukan seseorang yang bekerja di kebun yang mungkin membosankan. Ia bukan Saleh-nya Ratna di Layar Terkembang. Ia adalah si Robert! Maka muncullah The Road Not Taken.

Ya, Stevie muda berada pada keadaan itu. Saat itu ia dalam keadaan bimbang apakah akan meneruskan cita cintanya akan dendang kelu ataukah akan berubah haluan. Bapaknya memberikan dia pilihan akankah berterusan seperti itu atau lebih baik kuliah. Ia berkontemplasi dan muncullah Landslide. Stevie menetapi hati bahwa ia harus berani menerima perubahan. Benar, segala perubahan adalah menakutkan namun ia tak bisa ditolak. Waktu berjalan dan usia bertambah, begitulah bagaimana perubahan tak bisa dicegah.

Saat seperti itulah ketika sebuah kisah Zen bisa meneduhkan hati yang sedang galau akan perubahan. Alkisah, seorang ksatria tertangkap oleh musuh dan dimasukkan ke dalam jeruji penjara. Ia tak bisa tidur dan gelisah karena yang ada di dalam pikirannya adalah bahwa esok pagi ia akan disiksa dan lalu dibunuh. Seorang guru Zen melihat itu dan bertanya padanya mengapakah ia terlihat gelisah. Ksatria tadi menceritakan sumber kegelisahannya. Ia gelisah sebab ia tidak tahu apa yang bakal terjadi esok hari: apakah ia akan disiksa dan lalu dimatikan ataukah ia akan diampuni dan hanya dipenjara sebagai alat tukar tawanan kelak ataukah … Guru Zen menenangkan ksatria tadi dengan mengatakan bahwa “besok adalah ilusi, yang real adalah waktu kini”. Mendengar nasehat itu, ksatria tadi hilang gelisah dan bisa tidur pulas.

Bukan kemudian kisah Zen yang berjudul “The Present Moment” tadi membuat kita menganggap besok itu adalah ilusi yang tidak penting. Bukan itu pesan dari kisah Zen itu. Mempersiapkan segala sesuatu buat besok hari adalah penting namun terlalu gelisah dengan apa yang terjadi pada besok hari justru bisa merusak apa yang sedang kita hadapi. Justru yang sedang kita hadapi adalah yang nyata. Ia menjadi bagian dari keadaan yang bakal terjadi masa mendatang oleh sebab itu jangan gelisah akan masa datang merusak sesuatu yang kini. Sangat tidak lucu jikalau seorang ksatria menghadapi siksaan atau hukuman mati dalam keadaan kurang tidur dan otot kaku karena begadang penuh ketegangan. Toh, belum tentu ia dimatikan besok bukan? Kurang lebih seperti itu.

Jadi, sampai dimana kita tadi? Oh, di sini. Benar begitu, di sini kita nikmati kini dan rencanakan sesuatu yang nanti.

Rujukan

2Pac Shakur. 1996. “Life Goes On.” All Eyez on Me music album. Death Row, Interscope. CAn-Am Studio, LA

2Pac Shakur. 1998. “Changes.” Greatest Hits music album. Death Row, Interscope, Amaru.

Akira Kurosawa. 1950. “Rashomon”. movie. Daiei Film Co. Ltd.

Bruce Hornsby. 1986. “The Way It Is”. The Way It Is music album. RCA – Studio D, Sausalito, CA.

Robert Frost. 1916. “The Road Not Taken.” Mountain Interval. New York: Henry Holt and Co.

Stevie Nicks. 1975. “Landslide.” Fleetwood Mac music album. Reprise Records.

Sutan Takdir Alisjahbana. 1936. Layar Terkembang. Jakarta: Balai Pustaka.

“The Present Moment.” comp. by John Suler. Zen Stories to Tell Your Neighbours. http://users.rider.edu/~suler/zenstory/present.html

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s